{JinHaeXy} When I Fall ~Part 5~

”Sudah tau itu 2PM dan SNSD, masih saja kau disitu! Heran aku padamu, lama-lama matamu kucongkel juga nih!”

Aku menangis, dan memeluk Seulong, yang entah kenapa tiba-tiba sudah berada di hadapanku sekarang, bukannya dia di Singapura? Tapi aku tidak peduli, memang yang aku butuhkan pada saat ini adalah dirinya, meskipun dia ngomel  seperti orang tua, aku memeluknya, dan menangis tersedu-sedu di dadanya, sementara dia masih terus ngomel.

”Katanya sudah mau melupakan, sudah mau melupakan, lama-lama kau yang kulupakan, baru tau rasa!”

Aku terus menangis, dan dia menyeretku duduk di sebuah kursi panjang di ruang latihan kosong, aku menarik napas, dan berusaha menenangkan diriku. ”Molla~ sakit saja melihatnya.”

”Kadang-kadang kupikir kau terlalu bodoh, sudah tau disitu ada dia, masih saja kau nekat kesana!” hardik Seulong padaku.

”Aku juga tidak tau, rasanya kakiku yang membawaku kesana~”

”Kakimu membawamu kesana, karena otakmu yang tidak beres itu yang memerintahkannya!” seru Seulong. ”Jauh-jauh aku dari Singapura sengaja kesini, mau memberimu semangat, ketemu dirimu yang bajir lagi… banjir lagi!”

”Mianhae…” ujarku merasa tidak enak, aku memang sudah berjanji pada sahabat-sahabatku untuk melupakan Taecyeon, tapi nyatanya, aku tetap menangis, dan menyusahkan lagi, membuat khawatir lagi.

Seulong mendesah keras. ”Awas kau ya, berani begini lagi, dia yang kubunuh, baru kau!”

”Ongie-ya, kau berlebihan!”

”Sudah, hapus air matamu!”

Aku menurut, dan menghapus air mataku cepat-cepat, kepalaku pusing lagi, memang itulah efek habis menangis, rasanya aku memang harus segera menyembuhkan rasa sakit hatiku ini, tapi bagaimana caranya? Dimulut bisa, tapi begitu melihatnya lagi, air mataku turun begitu saja.

”Ngomong-ngomong, kau kan di Singapura, kenapa ada disini?”

”Sudah pulang tadi subuh,” sahut Seulong sambil bersandar. ”Aku ada pekerjaan dengan 2PM sebentar, dan kudengar kau sedang ada disini juga, berlatih bersama Super Junior, tapi begitu kucari ke ruangan latihanmu, kau tidak ada, dan kata Leeteuk Hyung kau lama sekali ke kamar mandi… entah kenapa firasatku tidak enak, langsung kususul ke ruang latihan 2PM dan SNSD, dan benar saja!”

Aku menunduk.

”Tapi rekor, tumben sebentar saja kau sudah diam setelah menangis…”

Aku melirik Seulong jengkel, ”Tadi kau benci melihatmu menangis, sekarang aku berhenti menangis, kenapa kau protes lagi?!” seruku. ”Ongie-ya, kurasa kau memang benar, Sunye Onnie, YeEun Onnie, Kyorin, dan Chihoon juga benar, aku harusnya berhenti mengharapkan pria itu.”

”Ah, kau bolak-balik bicara begitu, mana buktinya?”

”Aku juga mau melupakannya, tapi tidak secepat itu…”

”Secepat?! Apa maksudmu dengan tidak secepat itu? Haejin-ah, kau dan dia sudah berpisah dari tahun 2008, dan sekarang sudah 2010! Kalian sudah berpisah selama dua tahun, Haejin-ah, apanya lagi yang tidak secepat itu?!”

Aku mengembuskan napasku berat. ”Ne, kau benar…”

”Aku memang benar!”

Aku menjitaknya, orang lagi sedih, malah seperti ini! Tapi, meski enggan, harus kuakui apa yang dikatakan Seulong benar. Sudah dua tahun, dan sampai kapan aku mau terus begini? Seseorang, bawalah aku keluar dari lubang hitam ini, aku melirik langit-langit.

”Kau disini?!”

Aku dan Seulong menoleh ke pintu, kaget mendapati Shindong Sunbae, Eunhyuk Sunbae, dan Leeteuk Sunbae di depan pintu, mereka nampak terkejut, dan mata mereka melebar melihat aku yang duduk bersama Seulong.

”Ya ampun, Haejin, kami mencarimu kemana-mana…” Eunhyuk Sunbae berkata, sambil melirik Leeteuk Hyung yang nampak tercengang. Oh, jangan bilang mereka salah paham!

Aku paling benci kalau ada yang mengira aku dan Ongie ada hubungan khusus, dan herannya banyak sekali yang bilang begitu. Aku berdiri dan membungkuk saja, ”Mianhaeyo, Sunbaedeul…”

”Ayo, kita latihan saja, Seulong-ah, kenapa kau tidak bilang kalau kami mencarinya?” tanya Shindong Sunbae.

”Mianhaeyo, Hyung…”

Aku menggigit bibir, dan menarik Seulong keluar ruang latihan kosong itu, sementara Shindong Sunbae, Leeteuk Sunbae, dan Eunhyuk Sunbae memandangi kami, baru kusadari ada Donghae Sunbae juga diluar, sedang bersandar di dinding, wajahnya nampak tidak peduli apa-apa, ah, mereka semua pastilah marah dan salah paham.

Akhirnya kami berlatih lagi, tapi entah ini perasaanku saja, latihan berjalan hambar sekali, Donghae Sunbae terlihat tidak konsentrasi, dan itu menggangguku yang menari berpasangan dengannya, aku tidak bisa menari dengan baik, karena moodnya yang tidak baik, dan sepertinya Leeteuk Sunbae menyadarinya.

”Oke, istirahat lagi deh! Donghae-ya, konsentrasi dong!” tegurnya agak galak.

Donghae Sunbae mengangguk, tapi tidak bilang apa-apa, Eunhyuk Sunbae menghela napas, geleng-geleng sambil melirik Donghae Sunbae, yang keluar dari dalam ruangan dengan langkah gontai.

”Donghae Sunbae…” kataku pelan pada Sunbaedeul yang lain. ”Lagi ada masalah ya?”

”Kau tau?” Shindong Sunbae mengangkat alis.

”Kelihatan sih…” aku mengangguk. ”Walaupun koreografinya benar, tapi aneh saja rasanya, nggak dapet feelnya…”

Leeteuk Sunbae menunduk dan menepuk dahinya.

”Felidis, Super Junior! Gladikotor sekarang!” perintah salah seorang staff SM Entertainment sambil melongok ke dalam ruang latihan kami. Waduh, sudah gladi kotor saja, padahal Donghae Sunbae dan aku tariannya masih belum sempurna sama sekali.

”Aduuuuh, aku kan belum latihan Sorry Sorry!” pekikku dalam perjalanan menuju ruangan gladikotor.

”Waduh, belum hapal, gimana dong?” tanya Eunhyuk Sunbae padaku.

Aku menggigit bibir, lalu tersenyum, ”Gladikotor, tenang saja, Sunbae… nanti akan kulatih lagi.”

”Butuh bantuan? Kami ajarkan yuk,” tawar Leeteuk Sunbae.

”Gwenchana, sekarang gladikotor dulu aja, Sunbae.” Kataku.

”Sorry Sorry lho, Haejin…” kata Shindong prihatin menatapku, ”Kau belum berlatih sama sekali, lho.”

Tapi kami sudah keburu tiba di ruangan gladikotor, disitu sudah ramai anak-anak 2PM, SNSD, Super Junior, dan Chihoon serta Kyorin, dan ada Seulong juga, yang duduk bersama anak-anak 2PM, aku berusaha fokus dan konsentrasi, agar tidak memandang 2PM, tapi aku baru ingat kalau nanti gladikotor, aku pasti melihat mereka berdua lagi.

Aku ada ide, daripada melihat 2PM dan SNSD gladikotor bareng, dan membuatku menangis… aku melirik anak-anak Super Junior yang sudah berkumpul bersama, apakah bisa caraku ini? Lalu melirik 2PM dan SNSD yang mendengarkan instruksi dari staff, aku harus bertindak cepat, atau pemandangan laknat itu akan kembali lagi menghantuiku.

”Sunbaedeul…” aku menghampiri Super Junior.

Mereka semua menoleh dan menatapku, di tatap sepuluh pasang mata berbeda, membuat nyaliku jadi ciut, aku menelan ludah, dan mencoba tersenyum. ”Boleh aku meminta bantuan kalian?”

Leeteuk dan Heechul Sunbae bertukar pandang, lalu Leeteuk tersenyum padaku. ”Keurom. Ada apa?”

”Mianhaeyo, Sunbaedeul… karena aku baru keluar dari rumah sakit,” aku mengelu-arkan alasan yang random di kepalaku. ”Aku harus berlatih koreografi Sorry Sorry, dan aku sama sekali belum pernah berlatih, lagipula Kyorin dan Chihoon juga belum lancar…”

Mereka mengangguk-angguk.

”Bolehkah, sekali… saja, Sunbaedeul menarikannya di depan kami secara live dan mengoreksi penampilan kami dulu, sebelum kami mulai gladikotor…?” mohonku dengan puppy eyes dan aegyo yang kupunyai. ”Kami kan tidak mau penampilan kami justru memalukan Sunbaedeul, ini kan lagu Sunbaedeul…” aku mengeluarkan bujukan dan diplomasiku.

Semua saling lirik.

”Chullie-ya, otte?”

Heechul mengangkat bahu, ”Terserah kau, Teuk.”

”Hyuk?” tanya Leeteuk Sunbae, pada Eunhyuk Sunbae yang nyengir jail, dan manggut-manggut.

”Ya sudah, kalau begitu, biar 2PM dan SNSD gladikotor duluan, toh memang di rundown kita tampil belakangan, ayo ke ruang latihan sebelah!” ajak Leeteuk, dan aku bersorak girang di dalam hati.

Gomawo, Super Junior, maafkan aku telah menjadikan kalian alasan untuk melarikan diri dari sakit hatiku, lalu aku mengajak serta kedua dongsengku yang kebingungan, dan membawa tas mereka keluar, 2PM, SNSD, dan Seulong menatap kami, akhirnya Seulong ikut Junjin Oppa ke ruang latihan sebelah.

Super Junior mulai melemaskan kaki dan tangan mereka, sementara kami bertiga duduk bersila menghadap mereka, dan kurasakan Seulong duduk di sebelahku, lalu berbisik.

”Kau melarikan diri, Tante!”

”Aku hanya antisipasi,” balasku berbisik. ”Kau mau tanggung jawab kalau aku menangis?!”

Seulong geleng-geleng. ”Kau memanfaatkan Super Junior.”

”Sambil menyelam, minum air, tangkap ikan,” ujarku keras kepala. Apa pun akan kulakukan sekarang demi menghindari pemandangan laknat tersebut, apa pun akan kulakukan!

Aku menoleh memandang Kyorin dan Chihoon, ”Kemarin koreografernya siapa?”

”Kami cuma coba-coba sendiri,” sahut Kyorin.

”Oke, kita lihat bagaimana Sunbaedeul, dan kemudian kita aplikasikan dengan hanya kita bertiga yang membawakannya, perhatikan baik-baik ya,” aku berkata pada kedua dongsengku, sementara Chihoon sudah garuk-garuk kepala. Aku tahu dia gusar, dia paling benci kalau harus menghapal gerakan dalam waktu singkat.

”Musik!” perintah Leeteuk Sunbae, sementara semuanya sudah bersiap dalam posisi, otakku langsung kupaksa bekerja, meski pikiranku melayang-layang ke arah lain, dan intro Sorry Sorry mulai terdengar. Mataku memerhatikan satu persatu gerakan tari mereka, dari awal dimulai.

Sebenarnya, aku yakin aku sudah hapal gerakan ini, karena sekitar tiga kali aku menonton video mereka, dan selama tahun 2009 kemarin, aku sering satu acara Music Bank, Inkigayo, dan Music Core bersama Super Junior, tapi aku belum pernah mencoba menarikannya secara serius. Cukup rumit, tapi semakin rumit suatu tarian, semakin aku suka.

Lagu selesai, aku, Chihoon, dan Kyorin bertepuk tangan, Seulong juga, yang entah kenapa mau-maunya terdampar disini, padahal teman-temannya di ruang latihan sebelah.

”Gomapsumnida, Sunbaedeul.” Aku berdiri. ”Sunbaedeul, apakah Sunbaedeul tidak keberatan melihat kami berlatih?” tanyaku lagi. ”Kami perlu koreksi, secara Sunbaedeul yang berpengalaman… itu kalau Sunbaedeul tidak keberatan.”

”Tidak, kami tidak keberatan kok…” koor mereka semua.

”Silakan saja, kami justru senang…”

”Ah, kami mau melihat kau menari, Haejin-ah,”

Aku menoleh pada Kyorin dan Chihoon, ”Ya sudah, ayo kita ke tengah, nanti Sunbaedeul akan mengoreksi gerakan kita kalau kita salah,” ajakku.

”Yakin? Onnie kan belum pernah latihan sama sekali…” kata Chihoon. ”Memang Onnie bisa?”

”Jangan bawel! Oppa, nyalakan musiknya, siap posisi! Five, six, seven, eight…” aku langsung berdiri di tengah, formasi dance Felidis yang memang sudah berurat akar. Padahal aku paling mungil dibandingkan dua dongsengku, tapi berhubung aku main and lead dancer, aku selalu jadi centre jika menari. Sementara Kyorin dan Chihoon di kanan-kiriku.

Lagu Sorry Sorry dimulai, dan dengan lincah dan senyum freshku, wajah sumringah Kyorin, dan aegyo Chihoon, kami mulai menari, dengan aku di posisi paling depan, namun begitu di line lagu mulai, aku menyingkir ke kiri seolah sudah bisa menebak koreografi selanjutnya, karena Kyorin maju, dan lipsync, sebagai Siwon Sunbae. Aku masih yakin ini bukan giliranku, karena memang Chihoon yang maju, gantikan suara Kyuhyun Oppa, aku bisa melihat Super Junior Sunbaedeul cekikikan semua.

Aku sedikit mundur kebelakang masih dengan formasi segitiga, karena line Sungmin Sunbae dipakai oleh Chihoon, dan line Ryeowook Sunbae dipakai oleh Kyorin, keduanya sahut menyahut hingga bagian reff, barulah aku maju ke depan, karena aku yakin aku menggantikan posisi para main dancer Super Junior. Aku suka sekali bagian ttan ttan ttan taran ttan tarantan, aku senyum-senyum sendiri waktu memeragakan adegannya.

Tapi wajahku merengut, begitu reff sudah mau habis, dan aku mengirimkan sinyal agar Junjin Oppa mematikan lagunya, lagu langsung mati, dan Super Junior Sunbaedeul menatapku heran, termasuk Kyorin dan Chihoon.

”Kenapa? Belum ada yang salah kok,” kata Eunhyuk Sunbae.

”Iya, Haejin daebak! Kau kan baru lihat kami live sekali, dan narimu langsung lancar, benar-benar Electric Leader deh!” puji Shindong Sunbae.

Aku tersenyum. ”Ah, gomawoyo Sunbaedeul.” Aku membungkuk. ”Aku mau tanya habis ini line siapa?” tanyaku polos, dan anak-anak Super Junior menatapku dengan padangan Lee-Haejin-kau-memang-benar-benar! ”Maksudnya bukan begitu!” ujarku panik. ”Aku tahu ini part Donghae Sunbae…” karena takut mereka tersinggung, dan semua menatapku nanar. ”Cuma aku takut salah aja… makanya aku stop, sumpah, aku tau ini part Donghae Sunbae,” cicitku, nanti aku dibilang nggak ngenalin dia lagi, aduuuuuh, serba salah!

”Ya giliranmu lah, Onnie! Kau kan tidak nyanyi dari tadi, nari doang… Donghae Oppa kan main dancer juga, masa kau lupa?” tanya Chihoon.

Aku mengangguk, ”Ah, oke, oke… Junjin Oppa, mulai lagi dari awal!”

Super Junior langsung geleng-geleng, dan beberapa cekikikan, tapi mereka menatap kami dengan bangga, hahahaha, setidaknya tarianku tidak salah, sampai pada part Donghae Sunbae, barulah aku maju dan mengganti kata Girl girl girl girl, menjadi boy boy boy boy, dengan menghentakkan pelvic ke depan, a la Donghae Sunbae di Sorry Sorry, dan gerakan telunjuk ke depan, barulah aku mundur lagi ke balakang dn Kyorin maju menggantikan line Kangin Sunbae, dan kembali ke reff.

Akhirnya ke bagian paling susah, menurutku, yaitu ketika Let’s dance… dan tangan kita harus melakukan gerakan rumit, memelintir ke kanan dan kekiri, lalu ada saatnya ketika aku solo dance seperti Eunhyuk Sunbae, dan kemudian gerakan memelintir dua tangan kami, aku melakukannya tanpa berpikir sama sekali, hanya mengikuti perasaan, dan kulihat Eunhyuk Sunbae, Donghae Sunbae, Shindong Sunbae, dan Leeteuk Sunbae mangap!

Aku melirik Kyorin, sedikit salah tapi tak apa-apalah, tapi Chihoon, gerakan tangannya, hancur! Aku memberi isyarat lagi pada Junjin Oppa, yang langsung mematikan kembali musik.

”Lancarkan tangan dulu,” kataku pada mereka berdua.

”Lee Haejin! Kau hebat sekali!” teriak Eunhyuk Sunbae sementara yang lain masih melongo parah.

Aku nyengir. ”Kamsahamnida, Sunbae, tapi kalau Sunbaedeul tidak keberatan, tolong ajari kami lagi dong yang tangan-tangan itu…”

”Kau sudah perfect! Kami saja waktu belajar butuh waktu berminggu-minggu baru bisa!” seru Siwon Sunbae agak shock. ”Dan kau, hanya dengan sekali lihat… astaga… astaga!”

”Tidak sekali lihat, sering nonton di TV.” Ujarku malu, aku memang bukan baru sekali lihat kok, semakin sering melihat, meski tanpa latihan, hampir semua gerakan tari, pasti aku langsung hapal, entahlah, mungkin bawaan sejak kecil menari ballet, dan bagi kedua dongsengku, dan banya anak JYP sudah biasa dengan yaaah sedikit kelebihanku ini.

”Haejin Onnie memang begitu, Sunbaedeul, kadang-kadang saking gampangnya koreografi, hanya sekali lihat sudah bisa dia, apalagi Super Junior.” Lirik Kyorin sambil tersenyum padaku.

Woah, kenapa jadi dipuji begini?

”Jadi maksudnya kau sering menonton video kami?” tanya Yesung Sunbae menatapku takjub. Semua langsung melirikku, waduh!

”Ya, dia punya MV Super Junior, hanya Super Junior, tanpa sub grup-nya,” Chihoon memutar matanya. Wajahku memerah, ini bisa membuat salah paham lagi, ingin kubur diri rasanya. ”Itu juga yang Onnie tonton cuma Sorry Sorry sama Seoul Song!”

”Ya!” teriakku pada Chihoon.

Chihoon cekikikan, senang dia, dasar maknae sarap! Dan sekarang Super Junior Sunbaedeul mulai menatapku dengan tatapan, bagaimana-mungkin-ada-yang-tidak-suka-kami?

”Ah, bukan begitu…” aku geleng-geleng panik. ”Belum sempat saja menonton semuanya, Sunbaedeul! Lagipula kalian tampan sekali di Sorry Sorry dan Seoul Song…”

”Siapa paling tampan?” celetuk Heechul tiba-tiba. ”Aku kan cuma lewat sekilas di Sorry Sorry, di Seoul Song aku tak ada malahan! Darimana kau bisa sebut aku tampan disitu, kau harus tonton Rokuggo, disitu aku tampan sekali…” katanya narsis.

Rokuggo? Lagu apa itu… pikirku, tapi aku manggut-manggut saja, dan semua mendesakku dengan pertanyaan siapa paling tampan sekarang. ”Err… Leeteuk Sunbae?!”

”MWORAGO?!” teriak semuanya, kecuali Leeteuk Sunbae, Siwon Sunbae, dan Donghae Sunbae yang sepertinya nyawanya melayang setengah dari tadi, nggak ada gairah hidup!

”Leeteuk Hyung kau bilang tampan?”

”Tampan darimana?!”

”Kalian tega sekali!” seru Leeteuk Sunbae. ”Itu membuktikan kalau aku memang tampan!” dan sekarang aku melihat secara langsung adegan penganiayaan sang leader oleh dongseng-dongsengnya secara live.

Aku menghela napas, lalu melirik Kyorin dan Chihoon yang nampak menikmati pemandangan Leeteuk Sunbae dianiaya itu, dan berkata. ”Aku saja yang ajari gerakan tangannya, ya?”

”TIDAK MAU!” jerit Chihoon. ”Onnie galak kalau ngajarin nari! Aku mau… Sungmin Oppa, ajari aku ya?” Chihoon tiba-tiba menarik Sungmin Sunbae dengan pandangan memohon dan puppy eyes yang selalu dikeluarkannya, Kyorin menepuk dahinya malu dengan kelakukuan maknaenya.

”Iya, Hyung, kita kan mau ajari mereka…” kata Sungmin Sunbae.

”Ah, bahta! Haejin mah udah lancar, gak usah diajarin lagi!” seru Leeteuk Sunbae. ”Kyorin-ah mau diajarin juga?”

Aku bingung ditengah ruangan, lalu aku ngapain dong?

”Ini, tangannya pertama pelintir begini… lalu begini…” Sungmin Sunbae mengajar-kan Chihoon, tapi Chihoon cuma memandanginya sambil melongo, aku mendesah, anak itu! Suara boleh paling bagus, tapi kalau urusan koreografi pasti panjang banget sama dia! Akhirnya Eunhyuk Sunbae dan Shindong Sunbae turun tangan ikut bantuin ngajarin, sementara Leeteuk Sunbae mengajari Kyorin, toh Kyorin tidak terlalu kesulitan, tiga kali diulang, gerakan tangannya sudah sempurna, member lain semua menonton yang latihan.

Aku nggak enak sendiri, melihat Shindong Sunbae, Eunhyuk Sunbae, dan Sungmin Sunbae yang sudah nyaris frustasi, akhirnya aku menghampiri mereka, aku membungkuk bolak-balik. ”Mianhaeyo, Sunbaedeul, jadi menyusahkan, maafkan aku yang tidak bisa mengajari dongsengku dengan baik.”

”Aniyo…” geleng mereka bareng.

”Nggak apa-apa, Haejin-ah, nggak semua orang bisa menangkap gerakan dengan cepat kok,” Sungmin Sunbae mengelus kepala Chihoon, Chihoon pasang tampang aegyo, membuatku gemas mau menjitak kepalanya.

”Tapi acaranya tinggal besok, dan kalau dia tidak serius, bisa-bisa nanti malam aku tidak tidur ngajarin dia.” Aku memelototi Chihoon.

”Ayo latihan lagi yuk,” ajak Eunhyuk Sunbae. ”Kasihan kalau Haejin sakit lagi, nanti ada yang nggak pulang-pulang.” Selorohnya, sementara Shindong Sunbae menyikut dirinya sambil keduanya cekikikan, tinggal aku dan Chihoon yang tidak mengerti, karena Sungmin Sunbae mendesis, ”Sssttt! Sssttt!”

”Sudah, Haejin disana saja, duduk dulu istirahat,” kata Shindong Sunbae padaku. ”Urusan tangan Chihoon serahkan pada kami.”

Aku membungkuk, ”Kamsahamnida, Sunbaedeul,” aku berbalik dan mencari Seulong yang duduk bersama Donghae Sunbae dan Siwon Sunbae, aku langsung mendekati mereka, dan duduk di sebelah Seulong, sambil tersenyum pada kedua Sunbaeku.

”Udah, jangan capek-capek, Haejin-ah, adik-adikmu biar main dancer kami yang tangani, istirahat saja.” Kata Siwon Sunbae sambil tersenyum padaku.

”Ne, Sunbae, gomawoyo…” aku membungkuk, dan kemudian Siwon Sunbae ngobrol lagi dengan Seulong, aku bersandar di dinding kaca yang memantulkan bayangan Kyorin yang dilatih Leeteuk Sunbae, dan Chihoon yang dikerubungi main dancer Super Junior.

Saat diam, pikiranku malah melamun melayang kemana-mana, apakah diruangan sebelah, adegan laknat itu sedang dilakukan? Apakah adegan laknat itu sudah selesai di lakukan? Aku mengembuskan napas berat, memikirkan apa yang akan kukatakan nanti saat kami recording? Aku harus mencari cara untuk menghindar juga, karena dalam acara-acara seperti ini, pastinya akan dipancing-pancing skandal. Dan skandal mereka sedang empuk-empuknya dibicarakan oleh masyarakat, aku mengembuskan napas berat, pelipisku berdenyut karena berpikir, yang jelas aku harus cari cara agar aku tidak melihat mereka!

Gladikotor sih mungkin, tapi ketika live recording? Mana mungkin aku menghilang sepanjang recording kalau bukan aku yang tampil? Aku geleng-geleng lagi, menoleh ke samping, Seulong asyik sekali ngobrol dengan Siwon Sunbae, sementara Donghae Sunbae sama sepertiku, bersandar di kaca, menatap kosong ke lampu di langit-langit ruangan.

”Daripada ngelamun, Haejin-ah, ayo coba nari Sorry Sorry yang bagian akhir setelah gerakan tangan yang ribet itu, bagaimana?!” seru Yesung Sunbae.

Aku menoleh padanya, ”Boleh…”

”Nanti dulu, nanti dulu! Aku juga mau kalau nari sama Haejin!” teriak Eunhyuk Sunbae.

”Gini aja, coba main dancer Super Junior sama Haejin deh,” saran Leeteuk Sunbae. ”Kita nari Sorry Sorry yang bagian let’s dance ke belakang?”

”Boleh! Aku mau kalau nari sama Haejin!” seru Shindong Sunbae ikutan.

”Ayo mana lagi nih? Yesungie, kau nanti saja, main dancer dulu!” seru Leeteuk Sunbae pada Yesung Sunbae yang ikutan maju, semua member Super Junior tertawa, melihat wajah ditekuk Yesung Sunbae, yang kembali duduk. Kyorin dan Chihoon duduk dekat Seulong dan memandang kami penuh antusias.

Leeteuk Sunbae menghitung main dancer yang berdiri, ”Eunhyuk, Shindong, Sungmin, aku… Donghae-ya? Kau dimana? Ayo maju sini, jangan duduk saja disitu! Hyung, tolong rekam ya…”

”Curang, kami kan mau ikutan~” rajuk Yesung Sunbae.

”Jangan bawel, Haejin di tengah ya…”

Aku mengangguk, dan musik di putar, aku menggatikan posisi Hankyung Sunbae yang miring ke kanan sebelum lagu di mulai, dan kami mulai menari diiringi suporter-suporter heboh yang menonton kami, dan beberapa kamera ponsel mulai keluar dan mengabadikan gerakan kami.

Tiba-tiba JLEB! Lampu mati, aku bisa mendengar Chihoon dan Kyorin berteriak, nyaris bersamaan dengan saat aku berteriak, saat kami yang sedang menari di bagian ttan ttan ttan tarantan tarantan, sedikit menjulurkan tubuh ke belakang, karena aku kaget, aku limbung, tapi sepasang tangan kokoh sudah menahan tubuhku, dan aku buru-buru memegangnya.

Ruangan rasanya seperti di mute, padahal rasanya Leeteuk Sunbae berteriak bertanya kenapa lampu di SM bisa mati, dan Siwon Sunbae meminta Chihoon dan Kyorin tenang, lalu yang lain heboh ledek-ledekan, tapi aku seolah tidak mendengar itu, aku kaget dengan tangan yang menahanku, aku buru-buru menggenggam tangannya.

Rasanya sama… sama seperti orang yang datang di tengah malam, aku berharap lampu ini takkan segera menyala, tapi aku bisa merasakan napasnya mendekat, dia merangkulku, tangannya terus menggenggam tanganku. Tapi kesadaranku langsung kembali, aku yakin ini tangan yang sama seperti yang menggenggam tanganku di rumah sakit, aku tahu orang ini orang yang sama, yang menjengukku di rumah sakit, dan aku dihadapkan pada satu kenyataan.

DIA MEMBER SUPER JUNIOR!

Perlahan dia melepaskan tanganku, aku menarik tangannya, aku menggeleng, aku tahu dia tidak bisa melihatku, tapi sumpah, aku mau tahu, siapa yang begitu baik hati padaku? Dia membelai pipiku, dan berusaha melepaskan tanganku lagi, tenaganya cukup kuat, tapi aku meraih sesuatu, di tangannya, gelang? Dan tiba-tiba lampu menyala kembali.

Semua pandangan kesilauan setelah sempat beradaptasi dengan ruangan gelap gulita tadi, tapi pandanganku jatuh pada gelang yang ada di tanganku, dan semua orang yang menatapku, karena aku tetap di tengah ruangan, sementara semua yang tadinya di tengah ruangan, hanya aku sisanya, masih menatap gelang itu.

”Haejin-ah, kau ngapain megang gelangnya Donghae?” tanya Yesung Sunbae.

Donghae Sunbae melirikku, dia maju dan mengambil gelangnya, ”Makasih…” katanya pelan.

Suaranya, suara yang sama. Astaga! Kenapa aku baru sadar sekarang?!

TBC

 

 

106 thoughts on “{JinHaeXy} When I Fall ~Part 5~

  1. Whoooaaa, donghae oppa manisnya kelewatan. Ya ampunnnn, trharu banget sm perlakuan donghae oppa k haejin :’)

  2. Wuih part ini keren nih, alurnya ngaliiiiir kkk~~
    ngakak pas adegan dari Haejin ngindarin Taec sampe sebelum Haejin disuruh istirahat, itu lucu, woww banget deh😉 daebakk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s