[EXO FIC] Once In A Lifetime ~Part 1~

once in a lifetime

Title : Once In A Lifetime

Author : @fishprincess / suhofocus on twitter / jinhaexy.wordpress.com

Cast : Kim Joonmyun / Suho || Oh Jaehee (OC) || Others

Genre : Alternative Universe, Marriage Life, Romance, Family, Drama

Rate : PG15 (For Adultery talks, acts, and Marriage Thoughts)

Disclaimer : Seluruh isi cerita dan jalan cerita murni dari aku

© suhofocus

– – –

Terkadang, apa yang kita inginkan tidak pernah sesuai dengan apa yang terjadi di depan mata…

. Joonmyun berubah menjadi laki-laki yang tidak lagi Jaehee kenali, dan Joonmyun harus segera berbalik dan melihat.

Atau perlahan, ia akan kehilangan Jaehee selama-lamanya.

– – –

Part 1

 

KRIIIING.

Di mata Oh Jaehee, suaminya, Kim Joonmyun itu sangat sempurna. Dan kekurangan Joonmyun yang justru membuatnya semakin mencintainya adalah bahwa pria tampan yang sedikit perfeksionis ini tidak bisa bangun pagi, betapa pun Jaehee sudah berusaha membangunkannya dari cara manis, kasar, hingga sensual sekalipun!

Tak apa terlambat di hari lain, tapi jelas tidak bisa hari ini. Joonmyun sudah bilang padanya semalam kalau hari ini ayahnya hendak mengumumkan sesuatu di rapat pemegang saham, dan jelas kata ayah dan rapat pemegang saham sudah menjadi faktor penting untuk Joonmyun tidak terlambat.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Joonmyun di harapkan tiba di kantor pukul delapan, meski jam kerja dimulai pukul setengah sembilan. Dan sampai sekarang yang bersangkutan masih bergelung manis di dalam selimut meski jam beker sudah menjerit-jerit nyaring membuat Jaehee yang tengah menyiapkan sarapan tergopoh-gopoh kembali ke dalam kamar sambil berkacak pinggang.

Oh, harusnya sebagai istri Joonmyun selama dua tahun, Jaehee sudah kebal terhadap ’oh-betapa-polosnya-Joonmyun-ketika-tidur-pulas’, tetapi tidak. Selama dua tahun ini, Jaehee tetap selalu dan selalu terpesona akan ketampanan Joonmyun yang baginya tiada tara.

Sebagai remaja, dulu, Jaehee pernah mengidolakan So Ji Sub, aktor terkenal pada saat ia masih remaja dulu, dan sebetulnya sampai sekarang ia sudah menikah pun, So Ji Sub masih tetap tampan. Tapi, So Ji Sub tetap tidak bisa menyaingi betapa tampannya wajah suami tercintanya. Apalagi jika tengah tidur pulas begini. Wanita mana yang tega membangunkan kenyenyakan yang mengalahkan bayi pada umumnya.

Tetapi, harus. Dan Jaehee tidak bisa melulu lembek pada kepolosan Joonmyun saat tertidur.

”Sayang, ayo bangun~” Jaehee menarik napas dalam-dalam sebelum berkacak pinggang, di tepi pintu. Pancake-nya sedang dalam pertaruhan di bawah sana, karena ia harus membangunkan Joonmyun. Ia harap Joonmyun bisa segera bangun dan ia bisa melanjutkan memasak sarapan mereka. Ia paling benci jika Joonmyun berangkat ke kantor tanpa sarapan, dan tanpa membawa bekal untuk makan siang. Karena Joonmyun juga tidak suka makan diluar, ia lebih suka memamerkan hasil masakan istrinya pada rekan kerjanya, bahkan pada ayahnya, yang merupakan CEO perusahaan tempatnya bekerja.

Dan Joonmyun tidak bergeming, tolong.

”Sayang… ayolah ini sudah jam tujuh lho, kau bilang kan ada rapat pemegang saham. Kau mau terlambat?”

Tetap, Kim Joonmyun tidak bergeming.

”Ugh!” entah sugesti atau apa, Jaehee bisa membaui loyang terbakar. ”Kim Joonmyun bangun sekarang!!!” jeritnya.

Dan akhirnya Joonmyun sedikit bergerak, menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Dengan satu mata terbuka, dua tangan masih memeluk guling bersarung biru laut, dan hanya bahu telanjangnya yang mengintip dari balik selimut. Oh, astaga.

Tapi ia tidak bergerak.

Fine! Kalau kau terlambat dan Aboji marah padamu, jangan pernah salahkan aku, karena aku akan telepon Aboji sekarang untuk bilang kau tidak bisa dibangunkan! Aku tidak peduli!”

Menghentak-hentak, seperti gadis kecil, Jaehee dengan berisik menuruni tangga kembali ke dapur dan benar saja, wajannya sudah mulai berasap. Buru-buru ia berlari dan mematikan kompornya.

”Ah, sial…” keluh Jaehee sambil membawa wajannya ke tempat cuci piring dan membuka krannya untuk membasahi adonan pancake yang kini sudah menghitam. Semua gara-gara Joonmyun. ”Ini wajan kelima dalam dua bulan ini… kalau begini terus lama-lama peralatan masak di rumah ini habis semua.” Dan ia mulai menyikat wajan itu, berharap wajan kali ini bisa diselamatkan.

Dua puluh menit kemudian, Jaehee berhasil menggosok bersih wajannya hingga kembali mengkilat dan kini pancake pertama untuk hari ini berhasil ia hidangkan tanpa cela. Tapi tetap saja, sosok Joonmyun belum terlihat. Ia melirik jam dindingnya, dan sudah pukul setengah delapan. Kalau Joonmyun tidak berangkat sekarang, ia bisa terlambat.

Makan siang Joonmyun sudah rapi dan terletak di konter dapur, sementara Jaehee menuangkan sirup maple banyak-banyak pada pancake Joonmyun, karena ia hapal, Joonmyun suka manis.

Tiba-tiba saja sepasang lengan kokoh dan kekar memeluk pinggang kecil Jaehee dari belakang, dan sebuah ciuman melayang pada pipinya, meninggalkan bekas basah pada pipi yang hanya disapukan pelembab pagi. ”Selamat pagi, Baby.” Sapa Joonmyun.

Jaehee masih bisa membaui aroma mint segar dari mouthwash Joonmyun dan ada wangi aftershave-nya juga. Ajaib, dua puluh menit tadi ternyata Joonmyun gunakan untuk mandi, dan bukannya tidur lagi.

”Hmm, jadi kau akhirnya memutuskan untuk bangun, Sleeping Beauty?” tanya Jaehee dengan nada jengkel, tapi setengah mengejek.

”Aaah~ aku dengar kau sepertinya marah tadi.” Joonmyun melepaskan pelukannya dan membawa tubuh Jaehee berhadapan dengannya, kemudian kembali melingkarkan kedua tangannya pada pinggul istrinya. ”Kau kan tahu aku tidak bisa tidur kalau kau sedang marah~”

Jaehee terkekeh, tapi berdecak. ”Haruskah aku marah setiap membangunkanmu?”

”Ah, sireo!” seru Joonmyun, sedikit cemberut. Usianya sudah tiga puluh tahun, tapi sikapnya masih mencerminkan masa remaja, Jaehee hanya memutar matanya. Ia selalu menyukai setiap sisi lain suaminya, meski sisi kekanakan. ”Aku akan berusaha bangun pagi demi istriku yang cantik.”

”Sekarang, daripada kau merayu-rayu kacangan di pagi hari… duduk dan makan, karena kau bilang ada pertemuan penting.”

Ne~”

Akhirnya pukul delapan kurang lima belas menit, Joonmyun berangkat setelah menghabiskan sarapan berupa pancake dengan sirup maple buatan Jaehee tanpa sisa. Seperti biasa ia mencium Jaehee penuh-penuh pada bibirnya, dengan dalih bahwa ciuman Jaehee adalah vitaminnya untuk bertahan bekerja selama satu hari nanti, dan meminta Jaehee agar merindukannya.

Kini, begitu Joonmyun sudah pergi, Jaehee melakukan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Mencuci piring, kemudian merapikan rumah, mencuci pakaian, dan terakhir barulah ia merapikan tempat tidurnya. Setelah selesai hampir makan siang, Jaehee melakukan pekerjaan sampingannya selain ibu rumah tangga, yaitu konsultan tata rias online.

 

* * *

Joonmyun menginjak pedal rem SUV-nya dan mematikan mesinnya setelah tiba di pelataran parkir Kim Enterprise. Melepas sabuk pengaman, tak lupa ia ambil tas kecil berisi bekal yang selalu istrinya siapkan untuknya, dan ia siap memulai harinya di kantor hari ini.

Ayahnya bilang bahwa hari ini akan ada pengumuman penting yang akan ia sampaikan, baik padanya, juga pada seluruh pemegang saham di rapat pukul sembilan nanti. Joonmyun diminta menyampaikan peta target dan program kerja untuk Kim Enterprise untuk tahun ini, dan untuk itu ia tidak ingin terlambat. Untung saja Jaehee tadi melancarkan aksi ’ngambek’ atau mungkin ia tidak akan terbangun tepat pada waktunya dan ia akan melewatkan hari penting ini.

Berjalan memasuki kantor, dimana seluruh pegawai membungkuk melihatnya, ia membalas membungkuk dan membalas sapaan hangat para pegawai, hingga mencapai elevator yang akan membawanya ke lantai teratas gedung. Ruangannya bekerja, juga ruangan ayahnya, dan ruang rapat.

”Pagi, Nak~”

”Pagi, Appa…” sapa Joonmyun dan menghampiri ayahnya, memeluknya hangat, sementara sang ayah menepuk bahunya. ”Aku hampir tidak terbangun lagi hari ini.”

Ayahnya mengangkat alisnya tinggi.

”Jika bukan karena Jaehee pura-pura marah, mungkin aku tidak akan terbangun, Appa. Jeongmal…”

Dan ayahnya tertawa. Tahu betul kebiasaan jelek putra semata wayangnya itu, dan bersyukur bahwa menantunya adalah satu-satunya orang yang bisa mengatasi kebiasaan jeleknya tersebut. Dulu ketika Joonmyun masih duduk di bangku sekolah, ia dan istrinya sampai harus mengguyur wajah putra mereka itu dengan segayung air agar ia bisa bangun. Tapi, semenjak berkencan dengan Jaehee, tugas itu berpindah tangan.

CEO Kim masih ingat betul, ketika Joonmyun begadang karena menonton pertandingan sepak bola bersama teman-temannya sementara esok harinya adalah hari ia harus berkampanye agar terpilih sebagai ketua OSIS. Bisa di tebak, di pagi harinya, Joonmyun tidak bisa terbangun.

Tetapi sebagai pacar, Jaehee yang tahu betul tabiat kekasihnya, datang buru-buru ke rumah keluarga Kim dan berusaha membangunkan Joonmyun dengan segala cara. Dari yang baik-baik, hingga akhirnya Jaehee menjerit tidak peduli dan menghentak-hentak di tangga.

CEO Kim dan istrinya nyaris takjub saat melihat Joonmyun buru-buru bangun, dan lari ke kamar mandi. Dalam waktu dua puluh menit, ia sudah rapi dan lari pontang-panting, dengan niatan mengejar kekasihnya yang ia kira ngambek itu.

Rupanya, kekasihnya sudah siap menunggunya dengan blazer, kaus kaki, sepatu, bahkan bekal makanan buatan Nyonya Kim. Yang Joonmyun harus lakukan hanya memakai sepatu dan blazer, dan ia siap berangkat.

”Entahlah, Joonmyun-ah, apa yang terjadi kalau istrimu itu tidak jadi istrimu…”

”Ah, aku bisa mati~”

”Ck, anak muda… penuh cinta…” ayahnya geleng-geleng. ”Dan kapan kalian akan memberiku cucu, hah? Kalian kira usia kalian belum cukup atau bagaimana? Kalian sudah menikah dua tahun, dan masih belum mau memberiku cucu.”

Joonmyun hanya terbahak, ”Nantilah, Appa… cucu bisa dibuat kapan saja dan dimana saja, sementara masa bulan madu kami tidak bisa diulang begitu kami sudah punya anak. Jadi biarkan kami berpacaran dulu sampai puas, barulah cucumu hadir, oke?”

Ayahnya hanya geleng-geleng. Ia tahu putranya benar-benar takluk pada pesona menantunya semenjak ia melihat bahwa menantunya adalah satu-satunya orang yang bisa membangunkannya di pagi hari. Tapi ia tidak menyangka bahwa putranya yang bodoh ini benar-benar bisa bodoh dan polos begitu berhadapan dengan cinta sejatinya.

Begitu merencanakan pernikahan dulu, Joonmyun berkonsultasi dengannya soal alat kontrasepsi. Bayangkan! Menikah tapi ingin menggunakan alat kontrasepsi? Dan yang ia ingat, Joonmyun berkata: ”Aku belum mau punya anak, Appa. Aku dan Jaehee mau melanjutkan kencan kami di atas janji pernikahan. Aku mau hubungan kami sah saja.”

”Yah, Nak… tapi kan tujuan menikah itu agar mendapatkan keturunan. Jaehee sudah duapuluh tujuh tahun, sudah mau duapuluh delapan. Agak riskan untuk memiliki anak diatas usia tigapuluh.” Pesan ibunya pada Joonmyun begitu Joonmyun menanyakan soal kontrasepsi ini.

Joonmyun hanya menggeleng. ”Eomma, aku dan Jaehee berkencan sudah sangat lama. Tidak munafik, hubungan diantara laki-laki dan perempuan melahirkan keinginan untuk melakukan hubungan cinta. Tapi kami belum menikah, Jaehee wanita modern tapi konservatif, dan aku menghargainya akan keputusannya. Karena aku pun ingin kami melakukan semuanya dalam ikatan janji suci. Tapi, aku mau Jaehee untukku sendiri terlebih dulu.”

CEO Kim dan istrinya bisa dibilang sangat terkejut dengan jawaban jujurnya itu. Anak itu benar-benar mencintai Jaehee dan ingin Jaehee untuknya sepenuhnya dulu, baru berbagi untuk anaknya. Alasan bodoh yang manis. Akhirnya tepat setelah menikah, Jaehee memasang alat kontrasepsi berbentuk spiral untuk mencegahnya hamil selama dua tahun terlebih dahulu.

Seharusnya Jaehee kontrol tahun ini untuk melepas spiralnya, dan sebetulnya CEO Kim beserta istri, juga orangtua Jaehee sudah sangat berharap Joonmyun dan Jaehee mau segera memiliki momongan, karena usia mereka sudah semakin menua. Mereka ingin segera mendapatkan cucu.

Tapi sepertinya, Joonmyun masih betah berlama-lama dalam fase bulan madunya dengan Jaehee.

Ya, semoga pengumuman hari ini akan membuat Joonmyun berubah pikiran setelah mendengar apa yang akan ia umumkan hari ini.

 

* * *

1 Video Call Request

My Baby

Jaehee baru saja menyelesaikan makan siangnya begitu melihat ada notifikasi panggilan video melalui notifikasi Skype-nya. Dua mata Jaehee langsung berbinar-binar melihat siapa yang mengajaknya mengobrol melalui Skype. Buru-buru diterimanya undangan tersebut.

Noona~”

”Halo, Hunnie…” sapa Jaehee pada wajah adiknya yang berbinar-binar di layar MacBook-nya. ”Ada kehormatan apa aku dapat panggilan dari adikku yang begitu sibuk setelah menikah sebulan lalu?”

Sehun terbahak-bahak. Dan Jaehee begitu bahagia melihat pancaran kebahagiaan yang begitu kentara terpasang di wajah adik satu-satunya itu. Sehun mirip sekali ibu mereka, bermata sipit, tulang pipi tirus, dan tentu menarik. Satu yang Jaehee irikan dari Sehun adalah ia selalu mewarisi gen terbaik dari kedua orangtua mereka, semua yang terbaik dari ibunya, dan tinggi badan ayahnya. Sementara Jaehee? Mewarisi kegempalan ayahnya, tapi tinggi badan ibunya.

Tapi, Joonmyun bilang kalau dia tidak suka gadis yang terlalu kurus seperti model-model bikini Victora’s Secret. Hanya membesarkan bagian tertentu tapi tubuh seperti papan cucian, menurut Joonmyun.

Entah karena hanya menghiburnya, atau memang begitu yang ia rasakan. Entahlah~

Aku bukannya sibuk, Noona… aku hanya berbulan madu. Ah, rekomendasimu memang tepat. Maldive memang menawan. Cocok untuk bulan madu, tadinya aku mau ke Caledonia. Tapi tidak jadi.” Kata Sehun lagi.

Jaehee memutar matanya. Sudah bulan madu satu bulan penuh, masih mau tambah? Dasar laki-laki. Tapi Sehun punya usahanya sendiri, dan seperti dirinya, ia bisa menjalankan usahanya melalui laptop dan jaringan internet saja. Dan usaha yang dimiliki adiknya itu sudah tergolong maju, sehingga mengajak istrinya bulan madu berbulan-bulan adalah hal kecil baginya.

Lalu, kalau bukan karena uang, kenapa Sehun dan Kyungmi tidak jadi melanjutkan bulan madu?

”Hmm, tapi kenapa tidak jadi? Memang uangmu sudah habis untuk ke Maldive? Jangan pelit, Oh Sehun… aku tahu kau punya banyak deposito di Bank, heol! Tidak boleh pelit!”

Adiknya tergelak. ”No! Bukan karena pelit… aish, Noona kau harusnya bersyukur aku dan Kyungmi bisa pulang ke rumah. Atau kami tertahan di Maldives sampai dua bulan baru kami boleh pulang!”

”Lho, kenapa memangnya?” tanya Jaehee penasaran. ”Visamu habis? Paspormu habis?”

Sehun menggeleng.

”Lalu kenapa, Oh Sehun?” tanya Jaehee tak sabar.

Sehun menggosok-gosok tengkuknya, wajahnya bersemu-semu malu. ”Kyungmi… err, sudah isi dua bulan…”

WHAT!?” jerit Jaehee. Adik iparnya sudah hamil?! ”Daebak, Oh Sehun!!! Bulan madu langsung… ehhhhhh,” Jaehee menghitung ulang. Sehun menikah kan baru satu bulan, kenapa Kyungmi hamil dua… ”YA! OH SEHUN! KENAPA KYUNGMI BISA HAMIL DUA BULAN, HAH?!”

Sehun menutup telinganya, bahkan meski hanya pembicaran melalui Skype, kakak semata wayangnya tetap bisa mengeluarkan lengkingan yang menyaingi lumba-lumba. ”ADUH, NOONA!”

”JANGAN ADUH ADUH KAU, OH SEHUN! KAU APAKAN KYUNGMI HAH?”

Kenapa jadi aku yang disalahkan? Dia kan istriku, kalau dia hamil wajar…”

”KALIAN BARU MENIKAH SATU BULAN, OH SEHUN!”

Ya ampun, Noona… aku hanya salah perhitungan satu kali…”

Dan Jaehee rasanya ingin mengguyur MacBook-nya dengan kuah kimchi jiggae yang ia masak tadi. Sebetulnya yang ia inginkan adalah mengguyur wajah menyebalkan Sehun yang nampak begitu bangga, tapi dia ingat ini MacBook suaminya, dan meski Joonmyun jarang marah, ia tidak mau ambil risiko.

”Sekarang katakan padaku, Oh Sehun, lalu kenapa kau tidak bisa pulang kalau Kyungmi hamil? Sebentar, apa Eomma dan Appa tahu Kyungmi sudah hamil dua bulan?”

Sehun menggeleng. ”Ani, mereka hanya tahu Kyungmi hamil, tapi aku tidak berniat memberitahu lebih lanjut kalau Kyungmi hamil dua bulan jalan tiga bulan.” Dan ia terbahak-bahak melihat Jaehee memijat-mijat pelipisnya. ”Dan kau kan tahu Noona, kalau orang hamil tidak boleh sembarangan naik pesawat, karena guncangannya bisa membuat keguguran. Dan, Kyungmi terpaksa diberi obat penguat kandungan agar kami bisa kembali ke Seoul. Begitu sampai disini aku dan Kyungmi langsung ke Dokter Song. Eh, Noona kau masih pasang KB, hah?

”Memangnya kenapa?” tanya Jaehee sinis.

Sehun memutar matanya. ”Mau sampai kapan kalian bulan madu melulu, hah? Mana ada orang menikah pakai KB, kurasa hanya kalian.”

”Diam kau! Harusnya kau yang kemarin-kemarin pakai KB!”

Sehun terkekeh, ”Kan aku bilang aku hanya salah perhitungan satu kali, Noona… aku lupa bawa kondom waktu itu…”

”DIAM KAU! Memangnya aku tanya cerita lengkapnya?!”

Ahahahaha, pantas Joonmyun Hyung paling senang tapi takut kalau kau marah… kau memang wanita paling menggemaskan jika sedang marah, Noona.”

”Aku bersumpah akan menjambakmu kalau kita bertemu nanti, Oh Sehun Sayang.”

Aww, aku dipanggil sayang… semenjak menikah dengan Joonmyun Hyung, uri Noona sudah jarang memanggilku sayang dan Baby lagi.”

Jaehee terkekeh.

Ah iya, ngomong-ngomong… aku menghubungi lewat Skype bukan hanya karena hendak memberitahumu berita bahagia ini saja. Kyungmi takut pakai make up semenjak hamil, karena katanya sembarangan make up bisa berpengaruh pada bayi.” Lanjut Sehun lagi, kali ini benar-benar serius. ”Noona bisa rekomendasikan make up apa yang cocok untuk ibu hamil?”

Jaehee tertawa tapi kemudian mengangguk. ”Dia mau tetap pakai make up meski sedang hamil, Sehun-ah?” Sehun mengangguk. ”Bisa-bisa anakmu perempuan tuh nanti…”

Ahh jinjja?” Sehun menjerit senang.

”Oh,” Jaehee mengangguk, ikut antusias. ”Kata orang, kalau wanita hamil sedang berdandan atau bersolek, bisa jadi bayi yang dikandung itu perempuan. Tapi kalau dia mendadak tomboi, anaknya laki-laki. Kau pastikan saja nanti setelah usia empat bulan.”

Sehun mengangguk-angguk penuh semangat. ”Kami sudah tak sabar untuk tahu jenis kelaminnya. Kyungmi sudah bersiap belanja kebutuhan bayi, ah… Noona, punya anak itu menambah kebahagiaan dan kemesraan kami. Harusnya kau dan Joonmyun Hyung juga cepat punya anak, bukan malah menundanya.”

”Iya, iya… nanti kalau sudah waktunya aku juga akan hamil, Oh Sehun.”

Buka spiralmu tanpa Hyung tahu, Noona… dan bam! Kejutkan dia dengan kau hamil dua bulan…”

Jaehee memutar matanya. ”Yang penting kami sudah menikah, jadi kalau aku hamil dua bulan Joonmyun tidak akan kaget.”

Cish~ aku juga tidak kaget-kaget amat waktu Kyungmi bilang hamil…”

”Dasar kau mesum!”

Aku berhak mesum pada istriku, Noona~” seloroh Sehun.

Jaehee buru-buru menggelengkan kepalanya. Dia memang tahu adiknya sangat mencintai adik iparnya itu, tapi ia tidak pernah menyangka, bayi kecilnya, yang sebetulnya hanya berbeda tiga tahun dengannya itu, bisa berubah menjadi pria dewasa begitu bertemu Seo Kyungmi, istrinya.

Ia ingat betul betapa cengengnya Sehun ketika kecil, yang selalu menangis jika teman-temannya mengganggunya. Bagaimana dulu ia yang harus berdiri di hadapan Sehun untuk melindunginya dari semua godaan teman-temannya pada Sehun.

Dan semakin Sehun beranjak dewasa, sisi cengeng Sehun perlahan menghilang, digantikan dengan Oh Sehun yang pemberani, dan tentu saja tampan luar biasa. Kadang, sebelum kenal dengan Joonmyun tentunya, jika banyak pria yang suka mengganggunya, Jaehee lebih suka mengajak Sehun jalan-jalan, agar pria-pria itu tidak mengganggunya. Beruntung, meski bersaudara rupa mereka tak sama. Sehun juga merupakan adik bertanggung jawab, yang sangat perhatian pada Jaehee.

Jaehee ingat bagaimana Joonmyun nyaris tidak boleh mendekatinya ketika dia masih duduk di bangku SMA dulu. Untung saja reputasi Joonmyun bagus, dan memang Joonmyun merupakan murid terpintar, dan keharuman nama Joonmyun sampai ke sekolah Sehun, yang masih duduk di bangku SMP.

Jaehee masih ingat, dulu ketika Joonmyun datang ke rumahnya, dan berkunjung ke dalam kamarnya, Sehun sering sekali bolak-balik masuk ke dalam kamar, hanya sekedar berbasa-basi, padahal Jaehee tahu ia mau mengawasi Joonmyun. Tapi, memangnya Jaehee bodoh mau melakukan hal seperti itu di rumah? -____- hanya orang bodoh yang begitu.

Akui saja, Jaehee dan Joonmyun memang konservatif, tapi mereka tetap modern. Tidak munafik, kecupan dan sentuhan telah mereka lakukan semasa pacaran. Tapi hanya sebatas itu, tidak pernah lebih. Bukan hanya karena Sehun yang lebih seperti ibu dibanding ibunya sendiri, tapi karena mereka berdua memang menjunjung nilai-nilai seperti itu. Pernah sekali, keduanya hampir kelepasan, dan disitulah keduanya memutuskan untuk segera saja mengakhiri masa pacaran mereka dengan mengikat diri mereka dalam janji suci pernikahan.

Maka, melihat sikap Sehun yang sangat protektif kepadanya dulu, Jaehee yakin Sehun sama konservatifnya dengan dirinya. Tapi, dasar laki-laki! Jaehee dulu sebetulnya bersyukur ketika Joonmyun akhirnya melamarnya, meski sebagian alasan mereka menikah karena hormon, tetapi setidaknya Joonmyun adalah laki-laki normal, pikir Jaehee. Dia nyaris tidak percaya diri karena bertahun-tahun berkencan tapi Joonmyun tak kunjung melamarnya.

Tapi, Oh Sehun, ya ampun~

Noona jangan bengong~”

Jaehee kembali ke dunia nyata setelah otaknya sibuk bernostalgia, ”Ya, Oh Sehun, apa yang akan Eomma dan Appa katakan begitu belum sembilan bulan istrimu sudah melahirkan, hah?”

Itu urusan belakangan, Noona… toh mereka akan punya cucu, mereka akan lupa marah padaku, Noona.”

”Cish~” desis Jaehee.

Noona, bagaimana make up-nya?”

”Iya nanti kucarikan, kukirimkan daftarnya segera, kalau bisa sore ini, oke?” janji Jaehee.

Dan senyum Sehun semakin sumringah. ”Baiklah, Noona… gomawo-yong… saranghae noona muah muah… aku mau kembali ke kantor dulu, lalu aku dan Kyungmi mau mendaftar di parental yoga.”

Ne, ne… selamat ya, sampaikan juga pada Kyungmi. Hati-hati jaga kehamilannya, trimester pertama itu rawan, Oh Sehun. Dan kapan kita akan bertemu? Kau tidak membawakanku oleh-oleh?” Jaehee cemberut.

Sehun terbahak-bahak lagi. Mood anak ini benar-benar bagus setelah istrinya hamil. Usia Sehun padahal baru menginjak dua puluh tujuh tahun, dan ia sudah begitu bersemangat dengan momongan.

Tentu bawa, Noonaku sayang… kapan kau bebas? Jangan lupa ajak Hyung, nanti Noona beritahu aku saja. Akan kuatur makan malam oke? Aku harus pergi… daaah Noona, aku cinta kau.”

”Ne, aku juga cinta kau, Sehunnie.” Dan sambungan Skype itu putus. Meski demikian, senyum itu tetap berhenti merekah dari wajah Jaehee. Dia ikut berbahagia atas berita bahwa adik iparnya kini tengah mengandung dua bulan, jalan tiga bulan, dan Jaehee memutar matanya mengingat usia kehamilan yang sangat selisih dengan usia pernikahan. ”Pabo Sehun,” tapi toh Jaehee langsung mencarikan data-data yang dibutuhkan Kyungmi.

 

* * *

Kim Enterprise

 

”Jadi, setelah kita meluncurkan produk musim semi di bulan Februari, barulah kita langsung melebarkan promosi di Asia Timur, Asia Tenggara… dan seluruh Asia. Saya bisa menargetkan dalam dua bulan saja produk kita akan balik modal, bahkan untung besar… untuk itu, kita akan langsung luncurkan produk di seluruh dunia…” Joonmyun menekan pen-nya dan Power Point langsung menampilkan peta dunia dengan titik-titik merah di hampir seluruh permukaan.

Tepat dengan berakhirnya persentasi dari Joonmyun, para pemegang saham bertepuk tangan. Joonmyun tersenyum seraya menghela napas lega, karena persentasinya berjalan dengan lancar. Ia membungkuk kepada seluruh pemegang saham, sebelum kembali duduk di tempatnya.

”Baiklah, itu tadi dari Kim Joonmyun-ssi, Manajer Pemasaran Kim Enterprise. Terima kasih atas program kerja untuk tahun ini, Kim Joonmyun-ssi, saya harap kita benar-benar dapat melaksanakannya.” Ayahnya, Kim Yongha, tersenyum kecil, yang dibalas Joonmyun dengan senyum profesional. ”Kemudian, seperti yang sudah saya sampaikan kemarin, bahwa saya sebagai CEO dari Kim Enterprise akan membuat pengumuman.”

Dan seluruh pemegang saham mendengarkan dengan seksama.

”Seperti yang kalian ketahui, usia saya, Kim Yongha, sudah tidak lagi muda… dan sudah tidak lagi terlalu efisien dalam menjalankan perusahaan kita ini. Dan seperti yang kalian semua tahu, bahwa putra saya disini, Kim Joonmyun, sudah bekerja selama delapan tahun di Kim Enterprise. Dan ide-ide serta gagasannya dalam mengembangkan Kim Enterprise sangat membanggakan.” Pernyataan CEO Kim ditanggapi dengan banyak anggukan. ”Maka, dengan senang dan berat hati, saya menyerahkan posisi saya sebagai CEO Kim Enterprise ini kepada putra saya Kim Joonmyun, beserta seluruh saham yang saya miliki.”

Joonmyun tidak mempercayai pendengarannya. Ayahnya, menyerahkan seluruh saham yang ia miliki, sekitar enam puluh persen. Dan digabungkan dengan saham milik Joonmyun sendiri yang sekitar sepuluh persen, tentu saja ia otomatis menjadi pemimpin tertinggi perusahaan.

”Tunggu sebentar, Kim Sajangnim…” potong Joonmyun, ”Ini terlalu mendadak, Anda tidak bisa…”

CEO Kim memotongnya. ”Keputusan ini, sudah saya pikirkan masak-masak selama satu tahun terakhir. Saya ingin menikmati masa tua saya, bersama keluarga, dan cucu,” ia menekankan kata cucu pada Joonmyun, yang nampaknya masih kaget, untuk menyadari kata cucu yang ditekankan kepadanya. ”Saya tidak mau menghabiskan masa tua saya bersama peta pekerjaan.” Dan para pemegang saham tertawa.

”Untuk itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua yang telah membantu saya dalam menjalankan perusahaan ini selama tiga puluh tahun. Benar-benar tiga puluh tahun yang sangat berharga untuk saya.” CEO Kim tersenyum. ”Dan, mohon bantuan bimbingannya pada putra saya, Kim Joonmyun.”

 

* * *

Appa, Appa sama sekali tidak pernah bilang padaku soal ini. Aku tidak tahu apa-apa dan tidak punya kemampuan seperti Appa dalam mengelola perusahaan.” Kata Joonmyun sedih. ”Bagaimana kalau perusahaan justru memburuk jika berada pada tanganku, aku tidak mau Appa. Ini perusahaanmu…”

Ayahnya tersenyum geli, duduk di balik meja direkturnya, pada kursi hitam kulit yang nyaman. Kim Yongha hendak menikmati saat-saat terakhir a duduk di kursi tersebut, dan putranya mengeluh, meragukan kinerjanya sendiri.

”Lalu, harus Appa serahkan pada siapa kalau Appa hendak pensiun, Nak? Kau kira Appa ini robot? Lihat, rambut Appa sudah mirip idola-idola di televisi, warnanya putih dan abu-abu. Appa-mu ini sudah tua… lalu warisan Appa harus Appa berikan pada siapa?”

Joonmyun menghela napas dan duduk di kursi, tepat di hadapan ayahnya, setelah tadi sibuk mondar-mandir. ”Semua ini memang Appa yang membangun.” Tiba-tiba ayahnya menatapnya lurus di manik mata, suaranya tetap lembut, tetapi ada sesuatu dalam kata-katanya yang membuat Joonmyun benar-benar fokus. ”Appa ingin istri Appa punya kehidupan layak,” lanjutnya. ”Kau tahu dulu Eomma-mu dari keluarga yang cukup kekurangan. Ia putri pertama, adiknya sangat banyak… sejak kecil ia berusaha keras untuk mandiri. Jika ia mendapatkan uang dari berjualan kue dulu, yang pertama ia pikirkan adalah adik-adiknya…” CEO Kim tersenyum, mengenang kisah istrinya dulu. ”Ia tidak pernah memikirkan dirinya sendiri… maka aku membangun usaha ini karena ingin meringankan bebannya, agar ia tidak selalu khawatir akan adiknya. Lalu ketika kami menikah… aku ingat dulu aku kecil ingin sekali memiliki sepeda.” Dan CEO Kim seolah melamun mengenang semua hal yang ia ceritakan. ”Aku ingat… kakekmu tidak sanggup membelikan sepeda baru, maka aku dibelikan sepeda bekas. Aku senang tentu saja, tapi teman-temanku di sekolah tidak. Mereka meledekku habis-habisan… dan aku tidak mau putraku merasakan hal itu.”

Tiba-tiba sesuatu seperti bercokol di dalam perut Joonmyun dan mengaduk-aduk perasaannya. Tidak pernah, ia memang tidak pernah merasakan susah. Begitu ia lahir, ayahnya sudah dalam keadaan finansial yang stabil, bahkan semakin meningkat. Ia sama sekali tidak pernah merasakan apa yang kedua orangtuanya pernah rasakan ketika kecil dulu. Dan ia merasa tidak enak, ia tidak tahu apa rasanya kerja keras banting tulang seperti yang ibu dan ayahnya rasakan hingga mereka pantas mendapatkan kemewahan di masa tua mereka.

”Aku bilang demikian bukan ingin mengecilkan dirimu, Joonmyunie,” lanjut ayahnya lagi, tahu betul apa yang tengah bergerak dalam isi kepala Joonmyun. ”Kau adalah anak berbakti, kau bekerja keras, kau pintar… tidak pernah sekalipun kau mengecewakan kami, orangtuamu. Bagi kami hal itu sudah sangat membahagiakan bagi kami… dan sekarang, giliranmu…”

Joonmyun ragu-ragu mencoba bertanya, ”Giliranku?”

”Iya, giliranmu… kau sekarang adalah seorang suami. Kau juga calon ayah… pertahankan prestasimu, dan bangun usaha ini demi istri dan anakmu nanti. Agar mereka bisa hidup bahagia… itu tugasmu.”

Joonmyun tersenyum, mengerti apa yang ayahnya maksud.

”Kau tentu tak mau anak-anakmu merasakan apa yang aku rasakan dulu, kan?” dan Joonmyun mengangguk, maka CEO Kim mengatupkan tangannya. ”Aku pun tak mau cucuku mengalami hal yang sama, maka jalankanlah perusahaan ini. Demi keluargamu.”

Ne, aku mengerti apa yang Appa maksud. Terima kasih, Appa… terima kasih atas kepercayaan yang Appa berikan.” Kata Joonmyun. ”Aku akan berusaha keras, demi keluargaku, juga demi membanggakan Appa dan Eomma.

-TBC-

Halo… maaf banget jarang update FF mungkin pembaca disini malah gak ada yang kenal sama author yang udah tua dan gak lulus-lulus kuliah ini. Ya karena masalah kuliah terkendala untuk apdet FF, tapi Insya Allah mulai dari sini udah bisa apdet lebih lancar. Oh ya, yang mau diterusin FF-nya bisa komen kasih feedback yaah biar semangat nulisnya. Hatur thank you

bye yeommmm~

_suhofocus_

8 thoughts on “[EXO FIC] Once In A Lifetime ~Part 1~

  1. Wauw, lgsg diapdet.
    Uda pnh baca ff cast member exo sih, cuma dg genre beda.

    Yg ini genrenya Family.
    kkkkkk

    Masih spt dulu, tulisan unnie menyenangkan.
    Aku senyum2 gaje di bagian Suho/Joonmyun yg susah bangun sama tidur dg wajah polos. Astagaaaa…. Suho emang punya wajah polos dan menyenangkan sih. >,,<

  2. sebenernya uda langsung baca chap 2 nya duluan hahaha tp jadinya malah komen di chapter 1 hahaha ini genre nya family banget yaaa jadi seru aja gitu bacanya…. gaya tulisannya masih menyenangkan untuk di baca daaaan bikin penasaran…. XDXDXD kapan si joonmyeon sadar kalo dia butuh anak T___T sampe si jaehee nyerah terus nyari suami baru *eh* keliatannya jaehee uda kepengen banget punya anak ya T____T

  3. Seperti biasa,,
    Tulisan eoni selalu dan selalu enak di baca,,
    Ga bosen2 dech baca tulisan eoni,dan aq slah satu yg sllu mampir di blok eni ini untuk sekedar.liat updetan,,
    Ceritany lucu,,
    Oh jongmyun,pas tdur ajh cakep ap lgi bngun,,
    Seru ceritany,,
    Aku suka,,

  4. Setelah sekian lama nunggu, akhirnyaaa nongol lagi eon.. Dan ternyata sudah pindah hati. Hihii.. Aku kira udah gk akan update lagi T.T. Gak masalah, aku ttp suka sama penulisannya gk berubah enak bacanya, bikin aku senyum senyum sendiri, seru buat ngebayanginnya.. Hehhee.. Semangat buat menulisnya eon, ditunggu part berikutnya. Ditunggu cerita cerita lainnya :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s