{JinHaeXy} Gone Not Around Any Longer [BAB I]

IMG-20130311-WA001

Title : Gone Not Around Any Longer

Author : Nisya (Donghae’s Wife)

Rate : PG15

Length : NOVEL

Cast :

  • Lee Haejin
  • Lee Donghae
  • 2 Other Main Cast

 

”SELAMAT TAHUN BARU!”

   Kembang api, terompet, konfeti, dan teriakan riuh rendah tentunya, dimana-mana. Termasuk di Gedung MBC, Ilsan, tepatnya di panggung meriah MBC Gayo Daejukjae, perhelatan akbar yang selalu dilaksanakan setiap akhir tahun.

   Haejin tersenyum sumringah saat lagu-lagu meriah penyambut tahun 2013 itu terdengar, diiringi gegap gempita kebahagiaan semua orang yang merayakannya, di atas panggung MBC Gayo Daejukjae itu sendiri. Ia berdiri bersama kedua member grupnya, Lee Kyorin, yang tahun ini akhirnya akan menginjak usianya yang ke duapuluh tahun, dengan segala misteri dan keanggunan serta ketataan dalam hidupnya, menunduk dan berdoa. Juga sang maknae, yang wajah dan tinggi tubuhnya berusia duapuluhlima, sementara usia aslinya hanyalah enam belas tahun saja. Err, otaknya juga berusia duapuluh lima.

   Dan Haejin, yang tahun ini berusia duapuluh dua, leader dari Felidis, yang tinggi badannya jelas di bawah kedua adiknya, meski selalu menyangkal dengan memakai sepatu yang tingginya kadang-kadang tidak wajar, dan ’sedikit’ memaksa dua adiknya tidak memakai sepatu tinggi agar tinggi mereka setara, meski tetap saja Chihoon si maknae sedikit lebih tinggi, meski Haejin sudah memakai sepatu setinggi apa pun, dan Chihoon tetap memakai flat.

   Setelah hitungan mundur barusan, semua bintang tamu dalam MBC Gayo mulai saling bersalaman (kecuali Kyorin yang masih khusyuk, Haejin khawatir adiknya itu tertidur).

   Lee Hwi Jae, Boom, Lee Joon, dan Seohyun sebagai MC mengucapkan berbagai kata selamat secara bergantian, sementara para pengisi acara memberikan ucapan selamat tahun baru juga satu sama lain.

   Sebelum Kyorin selesai berdoa, Chihoon dengan handycam mini terbarunya (baru dari fans, tentunya), yang ia bawa-bawa ke panggung, melambai-lambai merekam dirinya sendiri, dan beberapa orang lain di sekitarnya.

   ”Momma, happy new year~” suara riang di hadapan Haejin, membuatnya menoleh setelah sebelumnya mendongak terus menatap konfeti yang bertaburan. Hanya ada tiga orang di dunia ini yang memanggilnya dengan sebutan Momma, yang pertama, tentunya Donghae, satunya lagi yang kini berdiri di hadapannya. Rambutnya hitam di tarik kebelakang dengan spray, tinggi, kurus, tampan, dan tentunya gagah.

   Haejin tersenyum sumringah, membuka tangannya, Gongchan langsung memeluknya erat-erat. Ia tak perlu takut kamera akan mengabadikan pelukan ini, karena begitu anyak momen di atas panggung ini.

   ”Hmm… tambah sukses ya, baby-ku sayang… jangan nakal-nakal, jaga kakak-kakakmu dengan baik, dan tentu saja terus bersinar!” pesan Haejin sambil bergoyang-goyang ke kanan-kiri mengikuti irama pelukan Gongchan.

   Gongchan melepaskan pelukannya, tersenyum, matanya menghilang, dan Haejin tak bisa tak berteriak saking gemasnya. Andai Gongchan bisa ia kecilkan, dan ia jadikan gantungan ponsel.

   ”Ne, Momma~ Momma juga tambah sukses, selalu sehat, semakin bersinar… jangan nakal,” ia mengedip. Haejin memutar matanya. ”Dan selalu berbahagia bersama ehem Poppaku tersayang.”

   Haejin tertawa. ”Keurom.” Ia mengulurkan tangannya dan membelai-belai rambut Gongchan. Kaku.

   ”Momma~” suara menggelegar lainnya datang.

   Haejin berbalik, uh-oh, satu lagi yang memanggilnya Momma.

   Chanyeol memeluknya dan Gongchan bersamaan, ketiganya bergoyang bak saudara jauh yang sudah lama tak jumpa. ”Selamat tahun baru Mommaku sayang, semua yang terbaik untukmu, terutama bahagia dengan Poppa!” ucapnya dengan suara beratnya, riang. Lalu meremas Gongchan yang cekikikan. ”Dan adikku tersayang, Sunbae-ku tercinta…” Gongchan semakin tertawa. ”Semakin sukses juga, semua yang baik untukmu juga!”

   ”Ne, semua yang baik juga untukmu, Hyung~” Gongchan balas memeluk Chanyeol.

   Ketiganya melepaskan diri saat yang lainnya bergantian saling mengucapkan selamat, dan akhirnya Haejin melihat Kyorin sudah selesai berdoa, dan tengah berpelukan bersama Key dan ehem Taemin.

   ”Eonnie~” akhirnya Haejin berhasil memeluk Kyorin juga, keduanya bertukar ucapan selamat tahun baru, ketika merasakan Chihoon menyempil ikut berpelukan, dengan tangan masih memegang handycam. Ketiganya berputar-putar.

   Rasanya tak ada yang peduli empat MC itu mengucapkan apa.

   Setelah bergantian memeluk 2AM, Miss A, 91liners, melewati beberapa orang lain, sambil ikut membungkuk-bungkuk memberikan ucapan selamat, Haejin melihat sahabatnya terkasih, Choi Minho, bersama SHINee, f(x), DBSK, dan EXO K tentunya.

   ”Hei~” Minho langsung nyengir saat melihat Haejin, diikuti Chihoon yang mengekor sambil merekam-rekam, mendekatinya. Seluruh member SHINee, EXO K, f(x), dan DBSK ikut menoleh saat mendengar suara riang Minho.

   Haejin melemparkan dua tangannya pada leher Minho yang otomatis pula merengkuh pinggang Haejin dengan dua tangannya, memutar Haejin. ”Selamat tahun baru, uri Gumihae~”

   ”Ne, selamat tahun baru, Minho-ya~” sahut Haejin. Mereka melepaskan diri, dan Haejin seperti biasa membelai-belai kepala orang yang baru saja ia ucapkan selamat, dan beralih menyelamati Changmin yang geleng-geleng jail kepadanya, kemudian Yunho, barulah menyalami anak-anak EXO K, dan berpelukan banyak-banyak bersama anak-anak f(x).

   ”Kamsahamnida~” Haejin bisa mendengar Chihoon berteriak terima kasih kepada Baro-nya B1A4 sambil membawa-bawa handycam-nya.

   Para pengisi acara kemudian satu persatu kembali meninggalkan panggung ke dalam kamar ganti masing-masing. Dalam perjalanan, masih saja banyak yang mengucapkan selamat tahun baru. Haejin pun baru bertemu B2ST setelah tadi di panggung hanya sempat memeluk sekilas Dongwoon.

   ”B2ST Oppadeul~”

   Haejin menoleh, memutar matanya, beberapa rookie melewatinya mengucapkan salam, Haejin balas membungkuk, tersenyum dan melambai, membalas ucapan mereka, kemudian menatap Chihoon yang sudah merekam B2ST dengan handycam-nya.

   Apa yang anak ini lakukan?

   Tak lama kemudian enam member B2ST tersebut mengucapkan selamat ulang tahun, dan bernyanyi. Haejin mendadak paham. Sekarang 1 Januari 2013, ulangtahun ’entah-apa-status’-nya Cho Chihoon, Lee Sungmin. Haejin tersenyum, kemudian tanpa banyak berkata-kata ia kembali meneruskan jalannya menuju ruang ganti Felidis.

   ”Sunbaenim, selamat tahun baru~”

   Haejin menoleh, AJAX baru saja lewat dan membungkuk-bungkuk sambil mengucap salam.

   ”Ah, ne~ selamat tahun baru juga~” Haejin tersenyum dan mendorong terbuka pintu kamar gantinya, Kyorin tak ada di dalam. Hanya ada tiga Manajer, tiga coordi, dan beberapa staff Felidis.

   Haejin menyalami semuanya satu persatu, kemudian duduk di depan kursi yang menghadap ke meja rias, ia meraih tasnya, mengeluarkan ponselnya. Galaxy SIII putih mulus (baru dua hari) itu kemudian menampilkan beberapa pesan masuk pada display-nya, baik pesan singkat, mau pun pesan media sosial.

   Haejin menekan angka satu speed dial-nya.

   ”Nomor yang Anda tuju sedang bekerja… silakan tinggalkan pesan, chu~”

   ”Eyy~” Haejin mendesis dan memutuskan sambungannya.

   ”Voice dial macam apa, dasar ikan genit,” gumam Haejin geleng-geleng sambil membalasi satu persatu pesan yang masuk dalam ponselnya, kemudian masuk ke dalam akun Twitter-nya, memberikan ucapan selamat tahun baru, dan langsung mencari berita tentang kekasihnya.

   Super Junior M, EXO M, dan Boyfriend dalam satu frame foto, dan kekasihnya terlihat pecicilan dalam foto itu, Haejin cekikikan. Mungkin Donghae tengah berpesta juga disana, sehingga belum sempat mengecek ponselnya, dan Haejin sangat memakluminya. Justru ia yang khawatir jika tidak memberikan kabar, kekasihnya yang super kekanakan itu justru yang akan merajuk, setidaknya bocah itu belum akan mencarinya.

   Pintu kembali terbuka, menampakkan Chihoon yang puas dengan handycam di tangannya. ”Hai, Eonnie~” sapanya cerah, wajahnya sedikit bersemu, dan tak ada seringai jail, meski matanya masih terlihat bandel. Khas mata keluarga Cho, dari Ahra dan Kyuhyun, yang tak luput pula dimiliki si maknae.

   ”Jadi, sudah berapa ribu orang yang kau minta mengucapkan selamat ulang tahun?” tanya Haejin jail, berputar-putar pada kursinya, yang memang bisa diputar.

   Wajah Chihoon sedikit merona. ”Kurang satu untuk jadi yang keseribu, nah sekarang Eonnie, giliranmu mengucapkan selamat!”

   ”Oke!” Haejin berbalik menatap cermin kembali dan merapikan poninya, Chihoon memutar matanya melihat obsesi Eonnie-nya terhadap poninya yang harus selalu menutupi dahinya, yang ia anggap besar, baru berbalik menatapnya.

   Chihoon menyiapkan handycam-nya, dengan satu tangannya mengisyaratkan angka tiga, dua, kemudian satu. ”Cue!”

   ”Sungmin Oppa, annyeong~ saengilchukahamnida, saengilchukahamnida, saranghaneun Sungminnie Oppa, saengilchukahamnida~” nyanyi Haejin sambil bertepuk tangan sendiri. ”Selamat ulang tahun Sungmin Oppa, umur hanya sekedar angka, tak usah diambil hati nyaris menginjak kepala tiga…” hiburan sekaligus ejekan, khas Haejin. ”Semoga sukses, dan tahun ini menjadi satu tahun penuh kesuksesan dan kejayaan, dan pastinya kebahagiaan untuk Oppa~ ehem, cepat dapat pacar…” Haejin tertawa melihat Chihoon yang cemberut. ”Dan pastinya selalu sehat dan sejahtera bersama Super Junior~” Haejin membentuk hati di atas kepalanya. ”Bye-yeom!”

   ”Cut!” Chihoon mematikan handycam-nya, lalu memelototi Eonnie-nya. ”Ya, Eonnie! Apa itu maksudnya dengan ’cepat dapat pacar’?”

   Haejin nyaris bisa melihat dua buah tanduk keluar dari dalam kepala Chihoon. ”Lho, Sungmin Oppa kan single.”

   Chihoon memutar matanya, dan berpura-pura sibuk memeriksa apa yang sudah ia rekam.

   ”Berhubung tahun depan ia akan berusia tiga puluh tahun, ada baiknya dia segera memiliki pacar.” Haejin meneruskan kata-katanya dengan wajah malaikat, dan tanduk iblis pada saat yang sama. ”Atau segera meresmikan hubungannya dengan seseorang.” Dia menatap Chihoon penuh arti.

   Chihoon merengut, mengambil kursi dan mendekati Haejin yang memainkan rambutnya yang dibuat bervolume. ”Eonnie~”

   ”Hmm?”

   ”Bagaimana rasanya pacaran?” tanyanya tiba-tiba.

   Haejin menatap adiknya dengan dua mata yang mendadak lebih besar dua kali lipat dari biasanya, well, mungkin penyebabnya salah satunya juga karena efek eyeliner-nya. Tapi Haejin benar-benar kaget mendengar kata-kata yang barusan terlontar dari bibir adiknya.

   ”Chihoonie, kau serius bertanya ini padaku?” dengan bodohnya Haejin balas bertanya.

   Chihoon memutar matanya sebal, meletakkan handycam-nya. ”Salah bertanya padamu!”

   ”Ani,” Haejin buru-buru menggeleng, menyadari kebodohannya.

   Chihoon kembali meliriknya kemudian bibirnya membentuk kerucutan lucu, dan kedua tangannya diletakkan di atas pangkuannya. Jika hal ini direkam oleh kamera, Haejin mungkin akan mengira Chihoon tengah melakukan aksi aegyo, namun sorot mata Chihoon kali ini benar-benar menunjukkan bahwa, gadis ini, untuk pertama kalinya, putus asa.

   Ada apa dengannya? Haejin menjadi khawatir, Cho Chihoon bertingkah seperti ini, harus dimasukkan ke dalam buku rekor. Haejin menggelengkan kepalanya, membuang jauh-jauh sisi kecil otak jailnya, dan menggeser kursinya mendekati Chihoon, sekilas melihat ke arah kaca, para staff nampaknya tak ada yang memerhatikan mereka.

   ”Ya, kau kenapa?” tanya Haejin lembut, pelan, memastikan tak akan ada yang mendengar atau menguping pembicaraan mereka. Chihoon merendahkan gengsinya untuk mengakui apa yang ada dalam benaknya, maka Haejin harus memastikan, tak ada yang mendengarnya, dia tahu Chihoon sudah susah payah untuk melakukan hal ini.

   Chihoon melirik Haejin lagi, kemudian menunduk. ”Bagaimana rasanya pacaran, Eonnie?”

   Haejin tersenyum. Di hadapannya, adalah Cho Chihoon, gadis kecil berusia tujuh belas tahun, yang sejak kecil berusaha keras meraih impiannya sebagai seorang penyanyi, sekaligus harus memenuhi keinginan ayahnya menjadi gadis berprestasi. Chihoon yang memaksa dirinya menjadi lebih dewasa, agar impiannya tercapai, juga agar tetap mewujudkan keinginan sang ayah.

   Terlepas dari itu semua, masa kanak-kanak, dan masa remajanya menghilang begitu saja karena semua latihan beratnya sebagai trainee, dan kerja keras otaknya untuk tetap menjadi murid berprestasi. Dan kini, di usianya yang baru tujuh belas, ia berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah menengah atasnya, dan berhasil mencapai predikat salah satu penyanyi terbaik di Korea Selatan, bahkan Asia Timur, Cho Chihoon tetaplah seorang gadis kecil.

   Dan seperti gadis-gadis pada usia sepertinya, jelas ia merasakan fase pubertas. Dan tak bisa di pungkiri, jatuh cinta adalah satu dari sekian banyak contoh fase tersebut. Haejin tahu, dan merasa sedikit kecewa kepada dirinya sendiri, ia terlalu sibuk dengan seluruh kegiatannya, dan kehidupan pribadinya sehingga tidak terlalu memerhatikan perasaan dan pertumbuhan adik-adiknya.

   ”Rasanya pacaran…” Haejin diam sejenak, berpikir, kemudian menjawab. ”Pacaran itu segala rasa, Chihoonie,” ia memilin-milin rambut Chihoon. ”Ada manis, asam, asin, pedas, bahkan kadang-kadang pahit.” Kekeh Haejin mendengar perumpamaannya sendiri.

   Chihoon menghela napas dalam-dalam. ”Eonnie… waktu kemarin SBS Gayo Daejaejun…” kata Chihoon pelan-pelan. ”Sungmin Oppa mengajakku makan malam bersama, Eonnie ingat?”

   Haejin mengangguk.

   ”Sungmin Oppa bilang, dia…” wajahnya mendadak memerah, dan Haejin menahan diri untuk tidak tertawa. Cho Chihoon bersemu-semu, ya ampun! ”Sungmin Oppa bilang, secara internasional… usia kita terpaut cukup jauh, sebelas tahun…”

   Secara internasional.

   ”Aku kaget tiba-tiba Oppa bilang begitu.” Suara Chihoon semakin rendah sekarang. ”Eonnie tahu kan, selama ini, sejak tahun 2010, aku dan Sungmin Oppa memang sangat dekat. Super Junior Oppadeul, bahkan Ahra Eonnie bilang, jika dibilang kami seperti kakak-adik, jelas kami lebih dari itu… dan aku tidak akan berbohong juga Eonnie, bahwa aku memang merasa kami… lebih dari itu.”

   Haejin mengangguk mendengarkan, Chihoon sepertinya masih ingin terus bercerita, nampaknya ia begitu cemas.

   ”Kami seperti orang pacaran, tapi diantara kami tidak pernah terucap… kata cinta,” wajah Chihoon sudah semerah apel washington sekarang. ”Kukira, Eonnie, kalian semua… dan Sungmin Oppa tahu kalau aku…”

   ”Kau cinta padanya…” jawab Haejin dan tersenyum lembut, tahu Chihoon tak sanggup mengatakannya.

   Chihoon mengangguk-angguk. ”Kukira, ia tahu… dan bahkan Eonnie tahu, Super Junior Oppadeul tahu! Ahra Eonnie, Kyuhyun Oppa, bahkan kurasa Sehun tahu!” oh ya, Sehun dan Chihoon kini dekat, dalam arti sahabat. ”Kalian bisa melihat bagaimana aku… tapi… Sungmin Oppa…”

   ”Kenapa Sungmin Oppa?”

   ”Sungmin Oppa, padahal kukira ia seharusnya tahu! Ia seharusnya yang lebih dulu tahu!” Chihoon gusar, menendang-nendang kaki kursi Haejin. ”Kemarin saat makan malam dia bilang, dia bertanya… kita ini apa?!”

   Haejin mengernyit.

   ”Aku kesal! Jika aku memang tidak menganggapnya lebih dari sekedar Oppa, dan dia tidak menganggapku lebih dari sekedar yeodongsaeng, untuk apa selama… tiga tahun ini kami…”

   ”Hmm… kalian menjalani hubungan tanpa status yang jelas memang. Ahra Eonnie benar, kalian dibilang kakak-adik pun, konyol… jelas tak ada kakak-adik yang bertingkah seperti kalian. Dan jika dibilang pacaran pun, kalian tidak pernah mengutarakan perasaan masing-masing?” tanya Haejin penasaran.

   Chihoon menggeleng. ”Sungmin Oppa bilang dia sayang padaku, dan aku juga bilang aku sayang padanya.”

   ”Sayang dan cinta berbeda.”

   ”Itu poinnya!”

   Haejin mengangguk-angguk. ”Jadi, kemarin Sungmin Oppa baru bertanya kalian ini apa… dan apa yang kau jawab?”

   ”Apa lagi? Aku tidak mengerti… aku…” Chihoon mengerucutkan bibirnya. ”Dia seolah menantangku untuk memintanya jadi pacarku, dan aku itu kan seorang gadis! Mana mungkin aku mengaku terlebih dahulu kalau aku cinta padanya, big NO!”

   ”Jelas kau tidak boleh menjawab seperti itu,” Haejin mengangguk. ”Aku sendiri kaget kenapa dia bertanya begitu. Tapi, kita tidak bisa menghakimi Sungmin Oppa begitu saja, kita tak tahu apa yang ada dipikirannya saat ia bertanya hal itu kepadamu, Sayang.”

   Chihoon menghela napas. ”Kurasa dia bosan padaku~”

   ”Ya! Kenapa jadi kau pesimis begini?”

   ”Eonnie, kurasa aku tahu kenapa dia tidak pernah memintaku jadi pacarnya.”

   ”Kenapa?”

   ”Aku ini kan masih anak-anak,” jawab Chihoon sedih. ”Sungmin Oppa, lebih tua sebelas tahun daripada aku. Dan memang Eonnie, selama ini aku… memperlakukannya lebih dari sekedar Oppa, tapi aku pun tidak membiarkan ia mendekat terlalu seperti seorang kekasih… aku masih memisahkan sedikit jarak diantara kami.”

   ”Karena status?”

   Chihoon menggeleng. ”Karena kesibukanku. Aku bohong kalau aku bilang Sungmin Oppa tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia ingin menjadikanku pacarnya, tapi memang aku menahannya.”

   ”Kesibukanmu?!” tanya Haejin balik, tak percaya. ”Chihoonie, aku dan Donghae sama sibuknya tapi kami…”

   ”Aniyo, Eonnie, bukan sekedar sibuk seperti itu.” Geleng Chihoon. ”Tanggung jawabku pada ayah dan ibuku. Mereka mengizinkanku menjadi idol seperti Kyuhyun Oppa dengan syarat aku harus berprestasi. Kurasa aku tak sanggup menambahkan pacaran pada prioritasku.”

   ”Chihoonie~” Haejin mendesah putus asa. Akhirnya, inilah yang Haejin cari-cari jawabannya dari dulu. Kenapa Chihoon dan Sungmin tak pernah berpacaran. Ia sedikit banyak menyesal, tidak pernah memberikan adiknya waktu untuk berbicara mengenai perasaannya hingga seperti ini.

   Chihoon melanjutkan lagi sebelum Haejin sanggup berkata apa-apa. ”Tapi sekarang kan aku sudah lulus. Aku hanya tinggal menunggu upacara kelulusan sekolahku… Eomma dan Appa, terutama Appa… aku sudah menunaikan janjiku, bahwa aku bisa lulus sekolah lebih cepat dari yang seharusnya, dan aku berhasil menjadi seorang idol. Tapi sepertinya Sungmin Oppa sudah tidak mau menungguku lagi.”

   ”Bagaimana kau bisa berkata begitu?”

   ”Kukira ketika ia bertanya kemarin, ia sudah mau lepas dariku…” Chihoon berkata cemas. ”Eonnie, otokhe? Apa yang harus aku lakukan… aku berusaha merekam semua ucapan ini untuk Oppa… tapi bagaimana kalau…”

   Haejin menggeleng dan meletakkan kedua tangannya di bahu Chihoon. ”Dengarkan aku, Chihoonie, kau sayang dan cinta padanya, kan?”

   Chihoon mengangguk.

   ”Lalu kau berusaha keras menyelesaikan sekolahmu, selain untuk meenuhi janjimu pada ayahmu, juga agar kau bisa segera datang pada Sungmin Oppa, kan?” tanya Haejin lagi.

   Pipi Chihoon bersemu.

   ”Nah, kau sudah melangkah di jalan yang benar, kok… kukira kau tidak memilih jalan yang bodoh seperti yang dulu aku jalani. Untungnya Donghae sabar dan memahami bahwa aku ini bodoh,” kekeh Haejin dan mencubit pipi Chihoon. ”Kau yang kenal Sungmin Oppa luar dalam, kau pasti tahu bahwa dia tidak akan membuang perasaanmu, terlebih apa yang kau lakukan hari ini untuk menunjukkan kepadanya bahwa kau cinta padanya.”

   ”Tapi, Eonnie…”

   ”Keraguan memang selalu muncul, tapi itu wajar… coba jika kau berputar-putar merekam dengan kameramu hanya untuk ulangtahun Kyuhyun Oppamu saja, atau untukku, atau untuk Heechul Oppa… apakah kau akan khawatir bahwa mereka tidak akan menyukai apa yang kau lakukan?”

   Chihoon berpikir, dan menggeleng.

   ”Tentu tidak… karena kau tidak memiliki perasaan seperti yang kau miliki pada Sungmin Oppa,” lanjut Haejin lagi. ”Setiap orang bisa bersilat lidah, salah menentukan pilihan, dan bertindak bodoh… jatuh lagi, jatuh lagi… aku tidak mengatakan ini seolah aku ahli atau apa, tapi aku pernah mengalaminya. Kadang kita justru lebih bodoh saat menghadapi perasaan kita sendiri, Chihoonie. Jadi kau tak perlu khawatir, ketika Sungmin Oppa pulang, berikanlah ini… dan kau harus merekam ucapanmu juga. Dan tunjukkan, katakan apa yang mau kau katakan kepadanya.”

   Chihoon diam, berusaha mencerna kata-kata Haejin.

   ”Kau sadar betul kan, Sungmin Oppa menunggumu selama tiga tahun ini, dan jangan membuatnya menunggu lagi, tunjukkan… atau kalau kau berharap dia yang meminta-mu… kau bisa mengimplikasikannya.” Haejin mengedip.

   ”Wah…” wajah Chihoon menjadi cerah, dia menepuk kedua tangannya. ”Eonnie, kenapa setelah nyaris sepuluh tahun kita kenal, aku baru sadar kau bisa pintar?”

   ”YA! Kau setan kecil!”

*           *           *

1 Januari 2013, 16.45 KST, JYP Entertainment

Haejin memarkirkan New Ford Escape hitamnya di pelataran parkir JYP Entertainment, di sampingnya Kyorin turun, dan di kursi belakang Chihoon turun juga. Beberapa sasaeng bahkan sudah bermunculan di udara dingin bulan Januari ini, mengabadikan gambar mereka.

   Haejin mengunci mobilnya secara otomatis, dan ketiganya melangkah masuk ke dalam kantor. Hari ini Park Jinyoung Sajangnim memanggil mereka untuk mendiskusikan aktivitas mereka untuk tahun ini, berhubung semalam seusai MBC Gayo Daejukjae, mereka semua berpesta untuk merayakan tahun yang baru, maka Jinyoung Sajangnim dengan baik hati memutuskan agar rapat yang seharusnya dilangsungkan pagi hari tersebut, digeser menjadi sore hari.

   ”Haejin!” Mendengar namanya dipanggil, di meja resepsionis, sambil  meletakkan mantelnya, Haejin menoleh, mendapati YeEun dan Sunye dari Wonder Girls, yang sepertinya baru tiba juga menghampirinya.

   ”Oh, Eonniedeul!” seru Haejin.

   ”Hai, Kyorin, Chihoon,” sapa keduanya setelah tiba di meja resepsionis juga.

   ”Eonnie, annyeong~” Chihoon balas menyapa, sementara Kyorin seperti biasanya membungkuk sopan. ”Selamat tahun baru Eonniedeul~” ucap Chihoon, Haejin dan Kyorin melakukan hal yang sama.

   Mereka berbincang sejenak, sebelum akhirnya Sunye mengeluarkan tiga buah amplop dari dalam tasnya.

   ”Eonnie, seolma…” ucap Kyorin menatap tiga buah amplop putih itu tak percaya. Chihoon menekap mulutnya, dan Haejin terperangah. YeEun terkikik melihat reaksi ketiga orang di hadapannya ini.

   Sunye tersenyum, sumringah sekali. ”Yap, ini adalah apa yang ada di dalam pikiran kalian. Cho Chihoon,” dia memberikan satu amplop pada Chihoon. ”Kemudian, Lee Kyorin…”

   Kyorin menerimanya dengan mulut ternganga, tak percaya.

   ”Dan tentunya, Lee Haejin,” Sunye mengedipkan sebelah matanya dan memberikan Haejin amplop paling terakhir. ”Aku tak tahu apakah kalian bebas pada tanggal 26 Januari, tapi kalau kalian tidak memiliki jadwal apa pun pada tanggal itu, jelas aku mengharapkan kedatangan kalian.”

   ”Keuromnyeo, Eonnie~” Chihoon sudah menarik keluar undangannya.

   YeEun tertawa. ”Jinnie, kuakui kau sangat menawan, tapi akan lebih baik kalau mulutmu tak terbuka.”

   Haejin menutup mulutnya, menyikut Kyorin yang menunjukkan gejala yang sama.

    ”Kami kaget, tapi kami ikut bahagia,” jawab Kyorin buru-buru. ”Woah, chukahamnida, Sunye Eonnie.”

   ”Gomapta, Kyorin-ah,” Sunye tersenyum. ”Kebetulan sekali, tadinya aku hanya akan menitipkan ini karena kita selalu tidak bersamaan jika datang ke kantor. Tadinya malah aku mau ke dorm kalian.”

   Chihoon mendadak tak bisa menahan rasa bahagianya, meloncat-loncat di tempat dan memeluk Sunye, diiringi tawa Kyorin dan YeEun. ”Sunye Eonnie chukahaeyo… huaaaa, Wonder Girls, bagaimana dengan Wonder Girls? Aku tak bisa menahan rasa penasaranku…”

   ”Aww, Chihoonie, nanti Yenny yang justru akan menangis,” Sunye dengan tangannya yang bebas pelukan Chihoon menyikut YeEun Eonnie yang memutar matanya dan merangkul Haejin.

   ”Ya! Kyorin dan Chihoon sudah memberikan ucapan selamat mereka, kenapa kau belum mengucapkan apa-apa kepadaku?” tanya Sunye pura-pura cemberut, dan mengedipkan matanya polos.

   Haejin menggeleng. ”Andwae! Aku masih tak percaya kau akan menikah, Eonnie~” nada suaranya terdengar histeris. ”Aku masih merasa ini semua mimpi. Yang benar saja, Eonnie umurmu berapa?”

   ”Dua puluh lima, terima kasih, Lee Haejin,” Sunye memutar matanya.

   ”Justru itu! Kau masih muda, aku masih tidak percaya kau benar-benar akan menikah…” mata Haejin benar-benar besar sekarang. ”Tapi, bukannya aku tidak ikut bahagia, Eonnie, James Oppa… keren.” Gumamnya.

   YeEun tertawa, dan mencubit pipi Haejin. ”Ne, kami juga pertamanya kaget ketika dia bilang mau menikah…” Haejin bergidik mendengar kata ’menikah’ namun YeEun terus bicara. ”Tapi, yaaaaa… hal yang membahagiakan, bukan? Harusnya kita merayakannya.”

   ”Aha~ bachelorette party!”

   ”Hey!” Haejin memelototi Chihoon. ”Dapat darimana kau kosakata itu,” membuat Sunye dan YeEun yang awalnya terkejut tertawa. ”Aku akan menunggu tanggal 26 Januari untuk mengucapkan selamat, dan melihat dengan jelas di depan kedua mataku…”

   Sunye memutar matanya. ”Terserah padamu, Jinnie. Besok kami akan foto pre-wedding~”

   ”Gyaaa~” Kyorin dan Chihoon menjerit-jerit bersemangat, sementara Haejin mendengar kata-kata pre-wedding bergidik kembali, kali ini YeEun menyadari reaksi Haejin dan tertawa, memeluknya erat-erat.

   ”Pernikahan tidak seburuk itu, Sayangku.” Sunye terkikik.

   ”Ne.” Haejin malas membantah.

   ”Ah iya, kalian kesini mau ngapain, ngomong-ngomong?” tanya Sunye.

   ”Kami mau membicarakan rencana Felidis satu tahun ke depan,” jawab Kyorin sambil tersenyum.

   ”Woah~ kalau begitu silakan, silakan, kami malah jadi membuat kalian terlambat. Kami mau ke dorm 2AM dulu mengantarkan undangan, oke?” pamit Sunye memeluk Chihoon, Kyorin, dan Haejin bergantian, diikuti YeEun.

   ”Ne, Eonnie, hati-hati di jalan.” Pesan Kyorin, sementara Chihoon melambai.

   ”Salam untuk 2AM, ya Eonnie~ bye, hati-hati!” seru Haejin saat melihat YeEun dan Sunye mengambil mantel mereka dan balas melambai keluar. Ia menghela napas menatap undangan dalam tangannya, kemudian menoleh pada resepsionis. ”Jinyoung Sajangnim, sudah ada?”

   ”Sudah di atas, Haejin-ssi.”

   ”Ne, kamsahamnida. Kaja!”

   Dalam waktu sepuluh menit, ketiganya, beserta Junjin Oppa sang Manajer sudah duduk di sebuah meja bundar besar di ruang rapat, yang terletak di lantai tiga, bersama Jinyoung Sajangnim.

   ”Kita disini mau membicarakan, untuk Chihoon, perpanjangan kontraknya, dan untuk Felidis, rencana kalian untuk satu tahun ke depan ini.” Kata Jinyoung Sajangnim tanpa banyak basa-basi. ”Chihoonie, kau sudah siap dengan perpanjangan kontrakmu, suratnya sudah kau bawa?”

   Chihoon mengangguk. ”Sudah pada Junjin Oppa, Sajangnim. Sudah kubaca, sudah kudiskusikan, dan sudah mencapai kata sepakat.” Jawabnya ceria. Jinyoung Sajangnim mengangguk. Beralih kepada Haejin.

   ”Aku mau mendengar apa idemu untuk tahun ini, Haejin-ah.”

   Haejin mengangguk, menarik keluar bindernya dan membukanya. ”Aku sudah menyiapkan lagu, dan koreografinya sudah ada di kepalaku. Kali ini, aku akan mengalah soal promosi di Korea Selatan, menuruti saran Sajangnim, kami akan kembali fokus pada pasar Jepang tahun ini, tapi tidak menuruni konsentrasi kami di pasar Korea Selatan juga.”

   ”Oh?” alis Jinyoung Sajangnim terangkat.

   ”Ya, kami tetap akan comeback di dua tempat. Album Jepang yang kedua, lalu untuk promosi di Korea Selatan, aku menargetkan pasar digital.” Jawab Haejin. ”Tapi untuk pasar Korea Selatan, 2PM akan comeback, jadi menurutku lebih pas kalau kami mengeluarkan single saja atau mini album, sementara setelah penggarapan promosi Korea Selatan yang aku harap bisa rambut sebelum trimester kedua tahun ini selesai, karena trimester ketiga kami akan benar-benar mempersiapkan untuk promosi di Jepang. Mungkin konser disana kalau perlu~”

   Jinyoung Sajangnim garuk-garuk kepala, putus asa dengan rencana Haejin yang selalu dahsyat, cetar membahana menggelegar. ”Kalau begitu tahun penuh pengeluaran lagi untuk Felidis.” Gumamnya sebal.

   ”Tenang saja, pasti balik modal.” Sahut Haejin santai.

   ”Baiklah, terserah kau saja.” Jinyoung Sajangnim geleng-geleng. ”Jadi, sekarang kita fokus pada aktivitas Felidis di Korea Selatan terlebih dahulu. Apa judul yang kau persiapkan?” tanyanya. ”Bagaimana dengan demonya, apakah kali ini Kyorin lagi yang mengerjakannya?”

   ”Yap, kami memiliki banyak talenta,” Haejin menjawab dengan bersemangat, dengan jelas dan tegas, mengindikasikan bahwa Felidis tak mau campur tangan seorang Park Jinyoung, yang selera musiknya sering aneh dan tidak cocok pada image Felidis, terlebih setelah Hysteria. ”Jangan khawatir, lagu dari Sajangnim akan tetap kami masukkan ke dalam album ini, entah mini album atau single album.” Tambah Haejin sok baik hati.

   Jinyoung Sajangnim mengangguk, kalah. ”Jadi apa konsep kalian kali ini?”

   ”Victorian style,” sahut Haejin yakin, sementara Chihoon dan Kyorin di sebelah kanan dan kirinya menggosok-gosokkan tangan mereka, dan begoyang-goyang bersemangat. Keduanya sudah diceritakan mengenai ide konsep dan tentu saja sudah mendengar Haejin menyanyikan lagu yang ia buat sendiri.

   Kyorin sudah mengaransemen lagunya dengan gitar dan keyboard-nya berhubung Haejin tak bisa.

   ”Victorian style?” tanya Jinyoung Sajangnim kembali. ”Sepertinya menarik,” gumamnya. ”Kalian selalu bisa menggugah rasa ingin tahuku. Lalu, kapan rencananya kalian mau mulai promosi?”

   ”Kalau bisa sebelum trimester ketiga,” sahut Haejin berpikir. ”Aku sudah punya ide untuk promosi terselubungnya.”

   Junjin Oppa tersenyum, begitu pula Chihoon dan Kyorin.

   ”Ah, ini yang kusuka darimu,” Jinyoung Sajangnim mengetukkan jari-jarinya di atas meja. ”Kau selalu pandai dalam hal promosi semenjak Breaking The Heart. Jujur, aku lebih suka kau menceritakannya dengan jelas kepadaku, dibandingkan membuat penasaran seperti ini.”

   ”Oh, tidak bisa~” kompak, Haejin, Kyorin, dan Chihoon menyahut.

   ”Sudah kuduga.”

   Ketiganya terbahak.

   ”Percayalah, Sajangnim hanya perlu mempromosikan kami seperti biasa, sementara promosi terselubungnya serahkan kepada kami saja.” Chihoon ikut-ikutan membujuk Park Jinyoung.

   ”Oke, aku percaya, aku percaya. Kalian hanya tinggal katakan kapan kalian siap comeback, dan persiapkan baik-baik comeback kalian. Kalian akan mengeluarkan mini album saja kalau begitu.”

   ”Ne, algessimnida.”

   Jinyoung Sajangnim mengangguk. ”Hmm, lalu bagaimana dengan pekerjaan pribadi kalian? Cho Chihoon?”

   ”Karena tahun ini aku sudah lulus sekolah, aku siap meluncur…” ujarnya bahagia. ”Bisa drama, bisa musikal… bebas!”

   ”Baik, kuingat itu, kau sudah siap masuk pasar yang lain. Bagaimana denganmu, Lee Kyorin?”

   Kyorin menjawab. ”Aku masih siap dengan tawaran musikal, Sajangnim.”

   ”Bagaimana dengan drama?”

   ”Aku masih merasa lebih tertantang di musikal,” jawab Kyorin sopan. ”Untuk sementara, aku siap di musikal saja. Lalu jika ada konser musik, dan ada yang menawariku, aku juga mau, Sajangnim.”

   ”Baik, bisa diatur. Dan kau, Lee Haejin?”

   Haejin menjawab dari catatannya. ”Variety show, drama…” Haejin nampak berpikir-pikir. ”Ya, jika tidak terlalu padat, bisa… aku penasaran dengan film sebetulnya.” Lanjut Haejin. ”Tapi kembali lagi, kesibukan Felidis masih yang utama. Jadi mungkin variety show saja.”

   ”Ya, jika ada tawaran, biar Junjin dan kau yang berdiskusi, berarti pilihan kalian yang berubah secara signifikan adalah Chihoon… dan…” belum selesai ia bicara, pintu diketuk JiKwang Sajangnim, muncul.

   Ketiga Felidis berdiri dan membungkuk. ”Annyeonghaseyo, JiKwang Sajangnim.”

   ”Ah, Felidis, selamat siang~” sapanya sambil tersenyum, namun wajahnya terlihat sedikit cemas.

   Ketiganya kembali duduk.

   ”Maaf mengganggu, Sajangnim.”

   ”Gwenchana, ada apa?” tanya Jinyoung Sajangnim penasaran.

   JiKwang Sajangnim menghela napas dalam-dalam. ”Kita barusan menerima undangan berupa fax untuk menghadiri pembukaan sebuah perusahaan entertainment baru.”

   ”Hmm, lalu?”

   ”KW Entertainment… dan kemudian telepon mulai berbunyi, pihak humas JYP Entertainment sudah kewalahan untuk menjawab semua telepon hari ini. Kami menunggu mandat Anda.”

   Alis Haejin mengernyit.

   ”KW Entertainment?” tanya Chihoon bingung, Kyorin mengangkat bahu.

   ”Lalu ada hubungan apa kita dan KW Entertainment sehingga kita harus diteleponi?” tanya Jinyoung Sajangnim. ”Apakah ini masuk portal berita juga?”

   Haejin menoleh pada Junjin Oppa. ”Oppa, coba cari KW Entertainment!” bisiknya. Junjin Oppa langsung membuka Galaxy Tab-nya dan mencari, penasaran. Jantung Haejin entah kenapa terus berdegup kencang dan keras.

   ”KW Entertainment itu… milik Kim Wonhee-ssi.”

   ”Mwo?!” pekik Chihoon.

TBC

Halloooooo… Pasti pada kaget deh >< mengenai Novel ini… aku memang udah masuk masa-masa liburan, tapi betul-betul kesibukan di kampus itu bahkan nggak bisa bikin buka Ms Word untuk ngetik FF, karena begitu buka Ms Word pasti ingetnya jurnal, jurnal, jurnal huhuhu T____T nasib amat yak…

Kurang lebih, terhitung dari sekarang satu setengah tahun lagi deh aku baru bisa bener-bener free… dan aku khawatir aku gak bisa nepatin janji soal novel… jadinya, berhubung di lappie draftnya udah lumayan untuk beberapa bab, aku memutuskan untuk ngepublish aja tanpa mencetaknya seperti rencanaku semula… jadi aku putuskan Gone Not Around Any Longer tidak jadi aku terbitkan, dan aku mohon maaf sedalam-dalamnya. Tapi, alih-alih tidak aku terbitkan… aku memilih untuk ngepost di blog aja ^^ jadi kalian tetep bisa baca bukan? Hehehehe…

Aku berterima kasih jika kalian masih mau tinggal dan mau baca terus Gone Not Around Any Longer ini, karena aku gak akan publish apa-apa dulu untuk sementara ini kecuali ya FF ini… ^^ sampai ketemu di part-part berikutnya… mohon maaf lahir bathin juga karena sebentar lagi kita puasa… annyeong ^^

Twitter : @gumihae

 

51 thoughts on “{JinHaeXy} Gone Not Around Any Longer [BAB I]

  1. ini blog dulu yg q temuin n hilang krn lupa apa nama blog y,,,, sekarang akhir y ketemu lg couple ini ya walaupun ydah sedikit lupa…..
    ada apa dgn woonhee??? knp mereka pada kaget…. kaoan donghae y muncul???
    chihoon galau sama sungmin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s