[2nd Place] SOMETIMES

1600_218

Title : Sometimes

Author : Ade maya

Cast :

  • Lee Hyukjae

  • Kim Yoonri

Status : 2nd place

 

Universitas Inha saat itu masih sepi. Hanya ada segelintir mahasiswa yang berlalu-lalang di koridor. Matahari pun belum tersenyum sepenuhnya, sinarnya hanya mengintip sedikit-sedikit dari balik awan.

Kuncup-kuncup bunga terlihat bermekaran menyambut datangnya musim semi. Musim yang sangat disukai banyak orang. Termasuk Yoon Ri.

Gadis semester 4 fakultas kedokteran, yang tengah duduk di bawah pohon taman fakultasnya itu, tampak sangat menikmati pemandangan musim semi di sekitarnya, ia bahkan mengabaikan buku tebal di atas pangkuannya untuk sejenak menikmati udara musim semi.

Yoon Ri memang sangat menyukai musim semi. Karena saat musim semi, dia bisa menikmati semilir angin yang membawa ketenangan. Karena saat musim semi, dia bisa melihat bagaimana kuncup-kuncup bunga bermekaran. Karena saat musim semi, kebekuan mencair digantikan kehangatan.

Yoon Ri menutup mata beberapa saat kemudian, mengulur napas dengan teratur. Lantas seulas senyum tulus lamat-lamat melengkung di bibirnya, senyum yang jarang Yoon Ri tunjukkan pada orang-orang, sekali pun orang tua dan kakak perempuannya.

Yoon-ie!”

Senyum Yoon Ri pudar seketika, wajahnya berubah datar saat dia membuka mata dan melihat orang yang baru memanggilnya. Kim Hyo Na, kakak perempuannya.

Kepala Yoon Ri dengan cepat kembali berputar pada buku, berpura-pura menekuni isi buku itu. Kim Hyo Na, adalah orang terakhir yang ingin Yoon Ri lihat. Sejak dulu, kemarin, hingga sekarang.

Yoon-ie, aku mencarimu kemana-mana,” keluh Hyo Na sambil tersenyum, melihat Yoon Ri tidak memberikan reaksi apa pun, gadis itu lalu duduk di samping Yoon Ri.

Pergilah, Eonni, aku sedang sibuk,” usir Yoon Ri begitu tahu Hyo Na malah duduk di sampingnya.

Hyo Na langsung mengerucutkan bibirnya, “Aku ingin pergi ke kelas bersamamu, apa tidak boleh?” serunya, merajuk. “Lagipula, kau berangkat pagi-pagi sekali sampai tidak sempat sarapan dengan kami.”

Kami. Yoon Ri benci mendengar kata kami yang selalu dilontarkan kakaknya. Karena sampai kapan pun, ia tak akan pernah menjadi bagian dari kata “kami” tersebut.

Yoon Ri akhirnya menutup buku dengan sedikit keras, menatap Hyo Na. “Eonni, berhentilah bersikap seolah-olah aku bagian dari kalian. Anak Eomma dan Appa hanya kau.” tukas Yoon Ri sarkatis. Gadis itu kemudian menyambar tasnya, lalu beranjak pergi.

Hyo Na tertegun beberapa detik, kemudian menggigit bibir, menahan diri agar tidak menjerit dan menangis frustasi. Hyo Na tidak tahu harus dengan cara apalagi ia memenangkan hati Yoon Ri, mengembalikan Yoon Ri seperti saat mereka masih kecil. Namun, bisa apa Hyo Na sekarang? Kehadirannya sama saja bagai embusan angin bagi Yoon Ri, yang sama sekali tak terlihat.

Mungkin, semua ini juga salahnya, perubahan sikap Yoon Ri juga bagian dari salahnya. Tapi, tidak bisakah Yoon Ri membuka hati untuk memberikan Hyo Na sedikit kesempatan? Karena ia sudah bertahun-tahun mencoba?

Hyo Na tersentak dari lamunannya beberapa saat kemudian. Setelah mengulur napas dan menguatkan hati, dia berlari menjajari langkah Yoon Ri, tersenyum dan bercerita riang seperti tidak terjadi apa pun─meski Yoon Ri hanya bergeming di sebelahnya.

Beberapa mahasiswa sepanjang jalan menyapa Hyo Na─yang dibalas Hyo Na dengan sapaan tak kalah ramah. Sama sekali tak ada yang menyapa Yoon Ri, karena hampir seluruh mahasiswa Inha membenci Yoon Ri yang dingin dan angkuh. Berbeda sekali dengan Hyo Na yang ramah dan baik hati.

Mereka bagai langit dan bumi. Bulan dan matahari. Yin dan Yang.

Mereka berbeda.

***

Terlahir sebagai anak bungsu di keluarga kaya raya biasanya menjadi sorotan utama dalam keluarga. Yang paling disayang, yang paling diperhatikan, yang paling dimanja. Dan si kakak, baik perempuan atau pun laki-laki, akan selalu berusaha melindungi si bungsu, mengalah dalam segala hal.

Tapi hal itu tidak terjadi di kehidupan Yoon Ri. Menjadi anak bungsu sama sekali tak membuatnya diperlakukan manis, juga tidak membuatnya dilindungi oleh sosok seorang kakak.

Hanya karena Hyo Na sering sakit-sakitan dan mengidap asma parah, semuanya terbalik. Apa yang seharusnya menjadi hak Yoon Ri beralih menjadi hak Hyo Na. Yoon Ri, bungsu yang harusnya dilindungi, justru harus melindungi Hyo Na.

Yoon Ri juga harus terbiasa mengalah, dalam hal apa pun, untuk Hyo Na.

Orang tuanya jadi terlalu overprotective pada Hyo Na. Hal sekecil apa pun yang terjadi pada Hyo Na─seperti saat Hyo Na terjatuh hingga berdarah atau jarinya teriris pisau, kedua orang tua mereka akan menjadi luar biasa panik, lalu menyalahkan Yoon Ri atas segalanya, memarahi Yoon Ri habis-habisan, berkata bahwa Yoon Ri sama sekali tak berguna karena tidak bisa menjaga Hyo Na.

Lalu saat Yoon Ri melakukan kesalahan-kesalahan kecil─seperti tidak sengaja memecahkan gelas atau terlalu berisik saat memutar cd lagu, maka kedua orang tuanya akan menjadi luar biasa kesal, terutama ayahnya. Dan pada akhirnya Yoon Ri harus selalu berakhir menjadi bahan omelan keluarga, sejak ia berumur 8 tahun.

Hidup memang tak adil. Dan Yoon Ri benci harus selalu menjadi pelampiasan kekesalan atau kemarahan orang tuanya─yang hampir setiap hari terjadi.

Perlakuan mereka pelan-pelan mengubah Yoon Ri. Sejak awal musim panas saat Yoon Ri berumur 8 tahun, gadis itu berubah, dia mulai menciptakan dinding pembatas antara dirinya dan sekitar. Dengan topeng keangkuhan yang lantas melekat kuat dalam dirinya.

Yo! Yoon-ie!”

Yoon Ri tersentak dari pemikiran-pemikiran yang menggelayuti otaknya mendengar panggilan itu, matanya langsung mendelik, “Ya! Hyuk Jae! Berhentilah memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu!” umpat Yoon Ri, mengabaikan beberapa pasang mata di kantin yang melirik ke arahnya.

Yoon Ri benci saat ada seseorang yang memanggilnya dengan akhiran ‘ie’ karena itu nama panggilan Hyo Na, dan Hyo Na juga tidak pernah berhenti memanggilnya seperti itu walau pun Yoon Ri sudah melarangnya berulang kali.

Bukannya tersinggung atau apa, lelaki bernama Hyuk Jae itu malah terkekeh kecil menanggapi teriakan Yoon Ri lantas mengempaskan tubuhnya di kursi sebelah gadis itu.

Aigo, galak sekali,” cibir Hyuk Jae, mengulurkan tangan dan mengacak rambut gadis itu dengan lembut, “pantas saja tidak ada namja yang mendekatimu, mereka pasti sudah mundur duluan melihat tatapanmu.”

Yoon Ri hanya memutar bola mata sambil membereskan rambutnya kembali. Hyuk Jae itu menyebalkan. Yoon Ri sendiri heran mengapa ia bisa terus bertahan dengan Hyuk Jae sejak 3 tahun lalu─well, sebenarnya ia heran mengapa Hyuk Jae tampak betah tetap menjadi temannya selama 3 tahun.

Hyuk Jae satu-satunya lelaki yang berani mendekati Yoon Ri, mengikis dinding dingin penuh keangkuhan yang diciptakan Yoon Ri untuk semua orang. Hyuk Jae satu-satunya yang selalu bertahan di samping Yoon Ri. Lelaki itu, satu-satunya yang membuat Yoon Ri tidak melupakan bagaimana rasanya bahagia, tersenyum, dan tertawa.

Hyuk Jae adalah semangatnya.

Bagaimana praktik dancemu?”

Hyuk Jae tersenyum cerah sekali sampai gusinya terlihat, “Sukses. Luar biasa sukses, Ri-ya. Aku dapat A+ lagi dari Dosen Han,”

Yoon Ri menghela napas diam-diam. Kadang dia sangat iri melihat Hyuk Jae yang bisa masuk fakultas yang diinginkannya, bercita-cita sesuai nuraninya. Tidak seperti Yoon Ri yang segalanya diatur oleh orang tuanya. Impiannya sebagai penulis harus kandas di tengah jalan sebab orang tuanya menginginkan Yoon Ri dan Hyo Na menjadi seorang dokter.

Chukkae, pasti sangat menyenangkan.” ujar Yoon Ri, tersenyum tipis.

Ne,” sahut Hyuk Jae, menyeruput jus milik Yoon Ri, “bagaimana harimu?”

Yoon Ri mengedik tak acuh, “Kelas pertama tadi aku dan Eonni sekelas,” jawabnya, melanjutkan tetap dengan nada datar, “tentu saja Eonni menjadi mahasiswa paling bersinar.”

Hyuk Jae langsung merangkul pundak Yoon Ri, “Kau pasti bisa lebih hebat dari Eonnimu..” bisiknya, memberi sedikit remasan lembut di bahu Yoon Ri.

Kepala Yoon Ri berputar cepat ke arah Hyuk Jae, dia langsung tertegun begitu mendapati bahwa wajahnya dan wajah Hyuk Jae sangat dekat. Bahkan, embusan napas lelaki itu pun terasa menampar wajahnya.

Yoon Ri menatap mata Hyuk Jae, menelusuri bola mata hitam pekat yang sejak awal memesonanya. Mata Hyuk Jae memang indah, dan Yoon Ri sangat senang mengetahui fakta bahwa mata indah lelaki itu memantulkan wajahnya.

Mengapa kau sangat yakin, hm?” tanya Yoon Ri, menyimpan tangannya di dada Hyuk Jae, lalu mulai menggambar melingkar.

Hyuk Jae tersenyum, menyukai kedekatan mereka.

Yoon Ri selalu tampak hangat di dekatnya, tidak seperti saat berhadapan dengan orang lain. Dari dulu, Hyuk Jae ingin sekali membuat Yoon Ri bersikap seperti ini pada semua orang, hangat. Tapi 3 tahun terlewat dan ia masih tidak bisa berbuat apa pun. Merubah Yoon Ri tidak semudah membalik telapak tangan.

Karena aku percaya padamu, Ri-ya,” respons Hyuk Jae beberapa detik kemudian, nada suaranya sangat lembut, “apa itu tak cukup?”

Yoon Ri tertegun menatap Hyuk Jae, senyum hangat di bibirnya lantas melebar. Gadis itu melingkarkan tangannya di pundak Hyuk Jae, sedetik kemudian memeluk lelaki itu. “Gomawo,” bisiknya lirih, nyaris terdengar bergetar.

Hyuk Jae balas melingkarkan tangannya di pundak Yoon Ri, membawa gadis itu seerat mungkin dalam pelukannya. Dia lalu menyandarkan dagunya di puncak kepala Yoon Ri, menikmati aroma shampo yang menguar dari rambut gadis itu.

Dulu, tahun pertama mengenal Yoon Ri, gadis itu bahkan tidak pernah mau berbicara panjang lebar dengan Hyuk Jae walau pun jelas-jelas sudah mengakui Hyuk Jae sebagai temannya. Baru di tahun kedua, Yoon Ri mulai membuka diri sepenuhnya, lalu menceritakan kejadian yang membuatnya menjadi heartless.

Hyuk Jae memejamkan mata, mengusir bayangan cerita Yoon Ri dulu.

***

Hyo Na kecil berumur 9 tahun saat itu sedang bermain boneka bersama Yoon Ri di pinggir kolam renang rumah mereka. Kedua orang tua mereka sedang mengobrol di beranda tak jauh dari kolam renang, mengawasi keduanya.

Hari itu adalah hari pertama musim panas yang cerah, usia Yoon Ri baru 8 tahun. Walau pun saat itu dia sudah sering menerima ketidakadilan dan harus banyak mengalah, Yoon Ri masih tampak periang. Pikirannya masih begitu murni, karena ia berpikir orang tuanya akan berubah seiring berjalannya waktu.

Yoon-ie, lihat boneka milik Eonni lebih lucu daripada milikmu..” pamer Hyo Na kecil, menggoyangkan boneka barbie limited edition terbaru yang dibelikan kedua orang tuanya di depan wajah Yoon Ri.

Yoon Ri yang sedang asyik bermain dengan boneka barbienya mendongak, bibirnya seketika mengerucut, tangannya lalu berusaha menggapai-gapai boneka milik Hyo Na walau pun tak berhasil karena Hyo Na selalu menjauhkannya.

Eonni, pinjamkan padaku! Aku juga ingin boneka itu,” rajuk Yoon Ri, “aish, Eomma dan Appa benar-benar tak adil. Kenapa mereka hanya membelikanmu saja? Aku kan juga ingin..”

Hyo Na menjulurkan lidahnya, “Itu karena Yoon-ie nakal.” ledeknya, tertawa kecil melihat wajah Yoon Ri yang seperti ingin menangis.

Huwaa, Eonni jahat!” seru Yoon Ri sambil mendekati Hyo Na, jemari kecilnya menarik kaki boneka itu membuat Hyo Na berjengit kaget. “Kemarikan, aku juga ingin main!”

Ya! Tidak boleh, ini milik Eonni! Sana bermain dengan milikmu!” balas Hyo Na tak terima, jemarinya juga dengan kukuh mempertahankan boneka tersebut.

Karena tidak ada yang mau mengalah, akhirnya keduanya saling menarik hingga boneka itu terpental dan jatuh di kolam renang. Mata Hyo Na langsung berkaca-kaca melihatnya, dia menatap Yoon Ri tajam selama beberapa detik sebelum akhirnya bergerak ke arah kolam renang.

Yoon Ri jahat!” pekik Hyo Na sebelum melompat ke kolam renang untuk mengambil bonekanya.

Yoon Ri hanya tertegun melihat bagaimana kakaknya berenang ke tengah kolam, tak menyangka kakaknya akan berbuat senekat itu.

Sesampainya di tengah kolam, Hyo Na tersenyum saat berhasil mendapatkan bonekanya. Tapi senyumnya langsung memudar saat pernapasannya tiba-tiba saja terganggu. Dalam beberapa detik berikutnya, Hyo Na sudah megap-megap kehabisan napas, kakinya menendang-nendang di bawah air dengan tak berdaya sementara tubuhnya timbul dan tenggelam di kolam. Serangan asma.

Eonni!” teriak Yoon Ri kaget begitu tersadar.

Dan segalanya berjalan sangat cepat sampai Yoon Ri sendiri nyaris tidak bisa berkata apa-apa. Kedua orang tuanya berlari dengan panik ke arah kolam renang, lalu ayahnya segera menyelamatkan Hyo Na sementara ibunya berdiri di pinggir kolam renang sambil menangis.

Begitu Hyo Na yang sudah tidak sadarkan diri berhasil diselamatkan, ibunya segera mengambil alih dan membawa Hyo Na masuk ke dalam sementara sang ayah menghampiri Yoon Ri dengan murka.

Apa yang kau lakukan pada Hyo Na, Yoon Ri?! Jawab Appa!”

Yoon Ri hanya menunduk sambil berderap mundur, ketakutan.

Kau benar-benar tidak berguna! Sudah berapa kali Appa dan Eomma bilang agar menjaga Eonnimu, hah?! Berapa kali?!”

Yoon Ri tak menjawab, air mata pelan-pelan mengalir dari bola matanya yang jernih mendengar bentakan ayah kandungnya. Yoon Ri semakin berderap mundur hingga ujung kakinya menyentuh tepi kolam renang.

Mulai saat ini, kau bukan anak kami lagi! Dasar pembawa sial!” bentak ayahnya lebih keras lagi, kemudian mendorong Yoon Ri ke kolam renang sebelum berlalu menyusul ibunya.

Yoon Ri yang kaget karena tiba-tiba saja terjatuh ke dalam air sontak tak siap hingga ia harus tenggelam beberapa kali sebelum bisa berenang dengan baik. Air mata mengalir semakin deras di pipi gadis kecil itu mengingat semua kata-kata kasar yang dilontarkan oleh ayahnya. Meski pun baru berumur 8 tahun, Yoon Ri tentu saja mengerti semua kata-kata ayahnya. Dan dalam umur sebelia itu, dia sudah merasakan luka yang amat dalam menganga di hatinya.

Sebelum berenang ke tepian, Yoon Ri menyempatkan diri mengambil boneka milik kakaknya. Lalu dengan tersedu-sedu, dia naik ke pinggir kolam renang. Memeluk lutut karena kata-kata ayahnya selalu terngiang-ngiang di telinganya. Sampai akhirnya Bibi Song, pembantu di rumahnya, datang dan tergesa-gesa melilitkan sebuah handuk di tubuh Yoon Ri yang basah kuyup.

Bibi Song tidak berkata apa-apa, hanya memeluk Yoon Ri simpati dengan mata berkaca-kaca.

Bibi, aku bukan anak mereka lagi. Mereka tak menyayangiku, mereka hanya menyayangi Eonni..” bisik Yoon Ri setelah lama terdiam. Isakannya semakin keras.

Bibi Song mengeratkan pelukannya, lalu setetes air mata jatuh disusul tetesan air mata lain dari pelupuk mata wanita tua itu.

Sejak saat itu, semuanya berubah. Yoon Ri yang manis telah mati.

***

Yoon Ri melambaikan tangan pada Hyuk Jae di dalam mobil, matanya mengamati mobil itu sampai menghilang di tikungan. Gadis itu kemudian melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam lalu menghela napas.

Yoon Ri baru saja pulang dari studio dance, Hyuk Jae mengajarinya gerakan dance yang baru lagi, dan Yoon Ri merasa senang luar biasa karena dia bisa menghabiskan 5 jam untuk melaksanakan hobinya. Selain menulis, melakukan dance memang hobinya, apalagi jika melakukannya dengan Hyuk Jae.

Yoon Ri membuka pintu dengan hati-hati, melirik kanan-kiri, tersenyum lega dalam hati melihat keadaan yang gelap. Hyo Na dan orang tuanya pasti sudah tidur.

Kaki Yoon Ri kemudian melangkah dengan ringan menuju tangga, saat kakinya baru saja akan meniti anak tangga yang pertama, lampu tiba-tiba saja menyala. Tubuh Yoon Ri langsung membeku.

Darimana saja kau?” tanya ayahnya dengan suara rendah penuh ancaman.

Yoon Ri mengulur napas sebelum berbalik, menatap ayah dan ibunya datar. “Pergi dengan Hyuk Jae,” jawabnya, lalu segera meniti anak tangga dengan cepat.

Ya! Anak sialan! Aku belum selesai bicara!”

Yoon Ri segera mengunci pintu kamarnya begitu masuk ke dalam, memejamkan mata menahan perih yang menyayat hatinya mendengar teriakan-teriakan yang dilontarkan oleh ayahnya.

Walau pun sudah sering mendengar makian ayahnya, Yoon Ri tak tahu mengapa sudut hatinya masih saja tergores luka.

***

Yoon-ie,”

Hyuk, aku kenyang, ayo pergi.” Yoon Ri segera berdiri begitu mendengar panggilan Hyo Na, tangannya lalu menyambar tangan Hyuk Jae, menariknya hingga lelaki itu berdiri.

Hyuk Jae mengernyit, tapi lalu menghela napas mengetahui alasan Yoon Ri ingin segera pergi dari kantin. Hyo Na. “Ri-ya, aku belum selesai makan. Duduklah lagi,” Hyuk Jae balas menarik tangan gadis itu hingga duduk kembali.

Yoon Ri mengerang tertahan, menatap Hyuk Jae kesal, apalagi begitu melihat Hyo Na sudah duduk di depan mereka, tersenyum manis. Yoon Ri akhirnya mencoba tak mengacuhkan keberadaan Hyo Na dengan berpura-pura sibuk dengan makanannnya.

Annyeong, Hyuk Jae-ya,” sapa Hyo Na, lalu buru-buru menunduk saat Hyuk Jae menatapnya sambil tersenyum.

Yoon Ri yang melihat kejadian itu hanya memutar bola mata.

Sudah menjadi rahasia umum memang kalau Hyo Na menyukai Hyuk Jae, namun sampai saat ini Hyuk Jae sendiri masih belum memberikan respons pada Hyo Na─ralat, pada siapa pun sebenarnya─lelaki itu sangat baik pada hampir seluruh perempuan di kampus, membuat Yoon Ri suatu hari pernah bercanda dengan mengatakan, “Apa kau gay sampai tidak pernah berkencan dengan gadis mana pun?” yang malah dibalas dengan sentilan di kening Yoon Ri.

Annyeong, Noona..” balas Hyuk Jae, “bagaimana kabarmu?”

Hyo Na mengangkat wajah sedikit, menggigit bibir karena gugup, “Baik,” lalu mengalihkan tatapannya pada Yoon Ri, “Yoon-ie, kau sudah menemukan buku yang cocok untuk tugas Dosen Kang?”

Yoon Ri berpura-pura tak mendengar sampai Hyuk Jae akhirnya menyikut lengan gadis itu, “Sudah,” jawabnya singkat.

Melihat ekspresi Hyo Na langsung agak murung, Hyuk Jae menambahkan, “Dia membelinya di toko buku dekat perpustakaan kota, Noona,”

Perpustakaan kota? Kau tahu tempatnya dimana?” Hyo Na memiringkan kepalanya bingung, dan Yoon Ri benci mengakui bahwa gadis itu terlihat sangat cantik dalam ekspresi apa pun.

Hyuk Jae mengangguk kecil sambil memutar-mutar sedotan di gelasnya.

Hyo Na tersenyum, “Kalau begitu, apa kau bersedia mengantarku sehabis kuliah?”

Aku tidak bisa, Noona,” tukas Hyuk Jae cepat-cepat, menghela napas melihat wajah Hyo Na yang kembali sedih, “Aku sudah terlanjur janji untuk menemani Yoon Ri membeli novel.”

Pergilah,” sela Yoon Ri tiba-tiba, menatap Hyuk Jae datar, “Aku bisa pergi sendiri, sedang Eonni tidak. Asmanya bisa kambuh kapan saja.”

Wajah Hyuk Jae mengeras, “Aku sudah janji padamu, Ri-ya.”

Yoon Ri berdiri, melemparkan senyum tipis pada Hyuk Jae, “Gwaenchanayo, aku sudah terbiasa sendiri.” Setelah mengatakan itu, Yoon Ri melenggang meninggalkan kantin.

Ya! Kim Yoon Ri!” teriak Hyuk Jae tak terima, saat Hyuk Jae berdiri ingin mengejarnya, sebuah lengan mencekal tangannya. Hyo Na.

Jangan pergi..” bisik Hyo Na lirih.

Hyuk Jae menatapnya selama beberapa saat sebelum mendesah dan duduk kembali untuk menemani Hyo Na. Dia akan berbicara pada Yoon Ri nanti.

***

Appa, kenal dengan Lee Hyuk Jae?”

Tuan Kim yang sedang membaca beberapa dokumen perusahaan mengernyit heran mendengar pertanyaan putri sulungnya. Pria paruh baya itu lantas menyimpan dokumennya di meja, lalu merangkul pundak Hyo Na dengan lembut.

Yang sahabatnya Yoon Ri?” tanyanya, tersenyum kecil melihat Hyo Na mengangguk malu-malu. “Tentu saja Appa kenal. Appa Hyuk Jae rekan bisnis Appa.”

Hyo Na langsung menatap ayahnya, tapi kemudian kembali menunduk sambil memainkan jari-jarinya. “Menurut Appa, Hyuk Jae orangnya seperti apa?”

Tuan Kim terkekeh kecil, “Kau suka padanya, eo?” Melihat Hyo Na tak menjawab, Tuan Kim kembali melanjutkan, “kau ingin Appa jodohkan dengan Hyuk Jae?” tanyanya dengan nada serius.

Hyo Na berhenti memainkan jemarinya, spontan mendongak menatap Tuan Kim. Matanya membelalak, terkejut dengan tawaran Tuan Kim, “Apa boleh?” tanyanya lirih.

Tuan Kim kali ini tertawa, mengacak rambut anaknya dengan lembut, “Tentu saja, Hyo Na-ya. Kami memang dari dulu sudah merencanakannya. Appa akan menghubungi Tuan Lee sekarang agar malam ini mereka bisa datang membicarakan perjodohan kalian.”

Hyo Na tersentak kaget, “Appa, apa tidak terlalu cepat?!”

Tentu saja tidak, tunggulah Appa akan segera menelepon.” Setelah mengatakan itu, Tuan Kim beranjak dari sofa sambil mengutak-atik ponselnya.

Hyo Na menatapi tubuh ayahnya yang semakin jauh lalu menghela napas. Ia tak tahu apa jadinya nanti, tapi ia berharap Hyuk Jae sama sekali tak menolak.

Sejak Hyuk Jae berkunjung pertama kali saat mengantar Yoon Ri pulang, Hyo Na memang sudah terpesona oleh tatapan teduh yang ditawarkan Hyuk Jae. Dari situ, perasaannya pelan-pelan berkembang, lantas tumbuh subur seiring berjalannya waktu.

Memikirkan bahwa Hyo Na akhirnya bisa memiliki Hyuk Jae lewat perjodohan ini, membuat senyum riang menghiasi wajah cantik Hyo Na.

Tanpa Hyo Na dan Tuan Kim sadari, Yoon Ri menguping semua pembicaraan mereka di balik tembok. Tangannya terkepal kuat, namun bibirnya terkatup rapat.

Yoon Ri dapat merasakan hormon adrenalin di dalam tubuhnya mengalir dengan cepat, setitik rasa perih perlahan-lahan merayap ke dalam hatinya, lantas lamat-lamat berkembang menjadi besar. Yoon Ri memejamkan mata sekejap, berusaha menetralkan perasaannya. Beberapa saat hanya diam mematung, gadis itu akhirnya mengembuskan napas panjang, lalu berlalu menuju kamarnya.

Kim Hyo Na, mendapatkan satu hal lagi yang tidak bisa Kim Yoon Ri dapatkan.

***

Makan malam itu terlihat canggung, yang mengobrol dengan akrab hanya para orang tua, sedangkan anak-anak mereka terkurung dalam suasana canggung tak berkesudahan.

Hyuk Jae sesekali tampak melirik ke arah Yoon Ri, cemas melihat gadis itu hanya diam terpaku mengaduk-aduk makanannya dengan sendok.

Sejak Hyuk Jae datang kemari pun, Yoon Ri sama sekali tak menyapanya, membuat Hyuk Jae bingung setengah mati. Hyuk Jae juga selalu tak memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Yoon Ri, sebab gadis itu akan mengalihkan pembicaraan atau berpura-pura mempunyai ribuan acara lain saat obrolan mereka menjurus ke sikap Yoon Ri akhir-akhir ini.

Hyo Na sesekali juga melirik pada Hyuk Jae, menghela napas beberapa kali ketika mendapati pandangan Hyuk Jae ke arah Yoon Ri. Hyo Na sadar, dari dulu, Hyuk Jae selalu memandang Yoon Ri dengan cara yang berbeda, namun itu belum membuktikan bahwa ada rasa lain di hati Hyuk Jae untuk Yoon Ri. Karena itu, Hyo Na selalu berusaha masuk dalam lingkaran berkedok “persahabatan” yang selama ini selalu menjadi title hubungan keduanya, berusaha meraih hati Hyuk Jae yang walau pun terlihat dekat namun sulit dijangkau, berusaha menciptakan ruangan khusus untuknya di hati Hyuk Jae dengan susah payah.

Tapi kenyataannya, Hyuk Jae tak pernah memberikan respons apa pun. Seberapa bagusnya pun akting Hyuk Jae untuk terlihat peduli, Hyo Na selalu menemukan celah bahwa Hyuk Jae tak pernah sungguh-sungguh mengakui keberadaannya. Dari asumsi kecil itu, keraguan demi keraguan mulai menyergap Hyo Na tanpa ampun, memaksanya untuk menciptakan jalan lain demi memiliki Hyuk Jae walau pun ada kemungkinan harus mengorbankan adiknya. Lewat perjodohan ini, Hyo Na ingin membuat semuanya menjadi nyata. Mungkin Hyo Na egois, karena ia tak memikirkan perasaan Yoon Ri yang mungkin benar-benar ada untuk Hyuk Jae.

Tapi apa salahnya bersikap egois? Toh, Yoon Ri pun harus selalu mengalah untuknya, Hyo Na hanya memanfaatkan keadaan untuk meraih lelaki yang diinginkannyna. Namun, pertanyaan lain lalu menggelegak ke permukaan, mengejek Hyo Na dengan nada yang menampar-nampar. Apa Hyuk Jae akan menerima perjodohan ini?

Yoon Ri, di lain sisi, tahu bahwa Hyuk Jae sejak tadi menatapnya, tapi Yoon Ri tak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Mengetahui bahwa Hyuk Jae akan menjadi kakak iparnya, membuat sistem otak Yoon Ri rusak, tak dapat berpikir apa pun. Berpikir bahwa ia akan kehilangan satu lagi orang berarti baginya demi Hyo Na, membuat amarah tiba-tiba saja meletup di dada Yoon Ri. Lalu, rasa takut dan tak rela lambat-laun merayap menyesaki hatinya, membuat Yoon Ri ribuan kali mencaci dirinya sendiri karena perasaan abstrak yang bahkan saat ini sama sekali belum jelas bentuknya.

Jadi, bagaimana menurut kalian, Hyuk Jae, Hyo Na?”

Hyuk Jae dan Hyo Na sama-sama tersentak dari pikiran masing-masing mendengar pertanyaan Tuan Kim. Keduanya spontan memutar kepala ke arah Tuan Kim, menatapnya bingung.

Tuan Kim tersenyum kecil mengetahui kebingungan keduanya, “Maksudnya, apa kalian setuju dengan perjodohan ini?”

Hyo Na melirik Hyuk Jae yang membeku, lalu menunduk, “Aku tidak keberatan Appa, entah dengan Hyuk Jae.”

Hyuk Jae?”

Hyuk Jae tergagap, matanya melirik ke arah Yoon Ri dengan panik, “Tapi Ahjussi─”

Suara kursi didorong mundur terdengar, menghentikan ucapan Hyuk Jae. Semua yang ada di meja refleks menatap Yoon Ri, Tuan Kim bahkan mengatupkan bibir rapat-rapat menahan amarah melihat sikap Yoon Ri.

Aku ke kamar sekarang,” beritahu Yoon Ri, membungkuk sekali sebelum pergi.

Tuan Kim langsung tertawa terpaksa begitu Yoon Ri sudah tidak terlihat, “Ah, sepertinya Yoon Ri terlalu lelah, maafkan dia…”

Nyonya Lee tersenyum, “Tak apa-apa, Yoon Ri mungkin mengalami hari yang buruk.”

Tuan Lee mengangguk, “Akhir-akhir dia juga jadi jarang mampir ke rumah kami, apa dia sedang ada masalah?”

Moodnya hanya sedang tidak bagus saja, kurasa.” jawab Nyonya Kim sambil tertawa canggung.

Tuan dan Nyonya Lee hanya tersenyum maklum. Sedang Hyuk Jae mengulum bibir, menahan kegeraman yang seakan menggelegak dalam pikirannya melihat punggung gadis itu menghilang.

Hyuk Jae tak mengerti, sama sekali tak mengerti mengapa sikap Yoon Ri 7 hari belakangan ini─sejak Hyuk Jae mengantar Hyo Na ke toko buku─mulai berubah. Senyum tipis tapi setidaknya hangat yang dulu selalu disuguhkan Yoon Ri untuknya perlahan menghilang, berganti dengan garis lurus di bibir gadis itu yang sejujurnya tak mengandung makna apa pun. Obrolan mereka yang biasanya panjang pun akhir-akhir ini menjadi ekstra singkat. Pertemuan mereka juga semakin jarang akhir-akhir ini, bahkan di kampus, Hyuk Jae jadi lebih sering mengobrol dengan Hyo Na.

Hyuk Jae mengulur napas untuk menenangkan dirinya, setelah itu dia lalu menatap Tuan Kim, “Aku ingin bicara dengan Yoon Ri dulu, boleh?”

Tuan Kim menggertakkan gigi, menahan emosinya yang naik tiba-tiba. Anak itu, selalu mengacaukan segalanya! “Tapi Hyuk Jae─”

Hyuk Jae berdiri dari duduknya, menunduk sekilas, “Mianhamnida, ada yang harus aku pastikan dulu..”

Tanpa menunggu reaksi siapa pun, Hyuk Jae segera berderap meninggalkan ruang makan. Tak memedulikan ekspresi terperangah semua orang di meja.

Beberapa saat hanya kesenyapan yang mendominasi ruang makan, Hyo Na akhirnya menghela napas panjang, tersenyum kecut. Tuan Kim dan Nyonya Kim yang terlihat menahan amarah akhirnya mengembuskan napas panjang untuk menetralisir kemarahan mereka.

Tuan dan Nyonya Lee hanya tersenyum kecil, lalu kembali mengobrol bersama Tuan dan Nyonya Kim.

***

Tok.. Tok.. Tok..

Yoon Ri-ya, buka pintunya!”

Yoon Ri menutup kepalanya dengan bantal, berusaha menulikan telinganya dari teriakan-teriakan Hyuk Jae di luar sana. Dia tak ingin melihat Hyuk Jae sekarang. Dia tak ingin mengakui bahwa hatinya terluka mengetahui lelaki itu akan menjadi kakak iparnya.

Yoon Ri tak bisa menerimanya.

Dulu, dia memang tak pernah sampai berpikir bahwa rasa sayang yang dimilikinya untuk Hyuk Jae lebih dari sekadar rasa sayang untuk seorang sahabat. Dia tak pernah sadar bahwa keberadaan Hyuk Jae diam-diam membuatnya jatuh. Dia tak pernah sadar bahwa jantungnya yang selama ini berdetak kencang saat bersama Hyuk Jae mengindikasikan sebuah perasaan yang terpendam.

Yoon Ri tak pernah sadar, bahwa dia telah jatuh cinta pada Hyuk Jae sejak sekian lama.

Dan saat dia sadar, kenyataan pahit menghantamnya dengan keras. Yoon Ri seolah berada di tengah padang pasir tanpa air sedikit pun. Tinggal menunggu tubuhnya lemas dan mati perlahan-lahan.

Yoon Ri benci mengakuinya, tapi dia lagi-lagi melepaskan satu-satunya kebahagiaannya demi kakaknya.

Yoon Ri! Buka sekarang atau aku dobrak!”

Yoon Ri terceguk, lalu menyingkirkan bantal dari kepalanya dengan kasar, melemparnya ke sembarang arah. Gadis itu menatapi pintu dengan perih dan kesal yang berlomba-lomba mendominasi hatinya.

Pergilah, Hyuk Jae!” balasnya keras, mati-matian tak mau mengakui bahwa suaranya terdengar bergetar.

Kim. Yoon. Ri. Buka. Sekarang. Juga!”

Yoon Ri menggigit bibir mendengar ultimatum dalam ucapan Hyuk Jae. Gadis itu akhirnya beranjak ke dekat pintu, lalu menghapus air mata yang bercucuran di pipinya dengan kasar. Yoon Ri menarik dan mengembuskan napas selama beberapa saat untuk menguatkan diri. Tangannya lalu menggapai kunci dengan ragu, Yoon Ri memutar kunci itu tanpa suara lantas memegang kenop pintu dengan perasaan tak tentu. Setelah memejamkan mata dan meyakinkan dirinya bahwa ia bisa selama beberapa saat, Yoon Ri akhirnya memutar tangannya ke bawah dan membuka pintu untuk Hyuk Jae.

Kau bodoh?!” bentak Hyuk Jae begitu pintu terbuka, Yoon Ri langsung mundur beberapa langkah sambil membuang wajah ke arah lain.

Ekspresi wajah Hyuk Jae tak terbaca sama sekali, namun ada kemarahan yang menggebu di sana. Lelaki itu mendorong tubuh Yoon Ri ke tembok terdekat, mengurung gadis itu dengan kedua tangannya.

Yoon Ri benar-benar bodoh! Kenapa dia tak mau mengerti perasaan Hyuk Jae? Kenapa dia selalu egois dengan mengambil segala keputusan seorang diri? Apa arti Hyuk Jae di matanya selama ini? Teman? Sahabat?

Namun, menatap wajah Yoon Ri yang tampak sendu membuat kemarahan dalam diri Hyuk Jae perlahan surut dengan sendirinya. Hyuk Jae menghela napas panjang, lantas mengusap wajahnya yang lelah. Dia ingin marah, tapi dia tak bisa. Dia terlalu menyayangi gadis ini.

Kau… tidak mengertikah?” tanya Hyuk Jae lirih, melepaskan Yoon Ri dari kungkungan lengannya.

Yoon Ri menggigit bibir, menolak gagasan untuk menangis di depan Hyuk Jae. “Mengerti apa Hyuk? Eonni, gadis yang sempurna. Dia cantik, pintar, baik. Apalagi yang kauharapkan? Dia impian setiap pria. Kau akan bahagia bersamanya, Hyuk Jae.” Suara Yoon Ri terdengar tercekik saat mengatakannya, ia bahkan tak berani menatap mata Hyuk Jae dan berbicara langsung pada lelaki itu.

Rahang Hyuk Jae mengeras, matanya menatap wajah Yoon Ri tajam, “Tapi aku tidak mencintainya, Yoon Ri!” kata Hyuk Jae emosi sambil mengguncang bahu Yoon Ri, “Perhatianku selama ini, apakah tidak cukup untuk membuatmu sadar bahwa aku mencintaimu?!”

Kepala Yoon Ri dengan cepat mendongak menatap Hyuk Jae. Dia bisa merasakan sentakan besar menghantamnya begitu mendengar pernyataan Hyuk Jae yang tiba-tiba. Yoon Ri terkejut setengah mati, tak menyangka perasaannya selama ini ternyata bukan hanya cinta sepihak saja.

Gadis itu dapat merasakan jantungnya mulai berdegup heboh saat manik mata mereka akhirnya bertatapan. Lututnya langsung terasa lemas begitu menyelami manik hitam Hyuk Jae yang menyesatkan.

Selama beberapa saat, Yoon Ri sama sekali tak berani mengambil napas. Dia takut, takut bahwa semua ini hanya imajinasinya. Dia takut semua ini tidak nyata.

Namun, saat tangan Hyuk Jae perlahan menyentuh pipinya, Yoon Ri sadar yang dia alami saat ini benar-benar nyata. Gadis itu secara refleks menaruh tangannya di bahu Hyuk Jae, membiarkan lelaki itu mengurungnya.

Katakan kau juga mencintaiku,” pinta Hyuk Jae tiba-tiba dengan lirih, jemarinya menelusuri wajah Yoon Ri dengan lembut. Meraba dan mengingat setiap lekuk wajah gadis yang dicintainya.

Entah terbius atau terhipnotis, Yoon Ri malah menarik leher Hyuk Jae perlahan, menghapus jarak demi jarak yang tersisa di antara mereka. Kedua tangan Hyuk Jae akhirnya menangkup pipi Yoon Ri saat jarak mereka semakin dekat.

Sesaat sebelum bibir keduanya bersentuhan, mata mereka terpejam. Menikmati debaran tak karu-karuan yang kini memburu di dada masing-masing.

Hyuk Jae perlahan melumat bibir Yoon Ri lembut setelah beberapa saat diam, dan kupu-kupu seolah berterbangan di perutnya begitu Yoon Ri mulai membalas ciumannya dengan tak kalah lembut. Terbuai, Hyuk Jae menurunkan kedua lengannya pada pinggang Yoon Ri, menarik gadis itu semakin dekat untuk memperdalam ciuman mereka.

Yoon Ri masih memejamkan mata dan menikmati ciuman Hyuk Jae saat kesadaran tiba-tiba saja menamparnya. Gadis itu terenyak pelan, lalu sekuat tenaga mendorong tubuh Hyuk Jae secara paksa hingga Hyuk Jae kini berada di luar kamarnya.

Hyuk, aku tidak bisa.” seru Yoon Ri dengan napas terengah-engah.

Hyuk Jae masih meraup udara sebanyak-banyaknya langsung menatap gadis itu dengan tatapan terluka, “Waeyo?”

Mata Yoon Ri sudah memanas, air matanya bisa luruh kapan saja, tapi Yoon Ri tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya di depan Hyuk Jae. “A─aku tidak mencintaimu..” jawab gadis itu tergagap, lalu buru-buru menutup pintu dan menguncinya.

Tubuh Yoon Ri langsung merosot jatuh ke lantai saat pintu sudah tertutup rapat, air mata lantas belomba-lomba menghiasi pipinya. Gadis itu menekuk lutut, membenamkan wajahnya di sana sambil berpura-pura tuli akan panggilan Hyuk Jae yang terus-menerus menggedor pintunya dengan keras.

Yoon Ri memang mencintainya, tapi dia tidak bisa memilikinya. Seberapa benci pun Yoon Ri pada Hyo Na, rasa sayang itu masih ada.

Hyo Na membutuhkan seseorang yang bisa menjaganya, karena gadis itu lemah dan pesakitan. Sedang Yoon Ri tak memerlukan siapa pun untuk menjaganya, karena ia kuat dan sehat. Orang tuanya juga lebih menginginkan Hyuk Jae bersandang dengan Hyo Na, bukan dengannya.

Yoon Ri harus mengalah untuk Hyo Na, seperti yang sudah-sudah.

Yoon Ri meraba dadanya, menyuruh sakit yang mengaung-ngaung di sana agar lenyap. Walau pada nyatanya, rasa sakit itu tak berkurang, malah semakin bertambah saat mendengar langkah kaki Hyuk Jae yang berderap menjauhi kamarnya.

Yoon Ri terisak, sekali lagi menyesali takdirnya yang menyedihkan. Sumber kebahagiaannya kini telah pergi untuk orang lain, dan itu semua karena Yoon Ri yang melepasnya.

Yoon Ri tahu ia bodoh, tapi ia tak bisa berbuat apa pun jika yang ingin dimilikinya sudah lebih dulu digariskan untuk Hyo Na.

***

Sebulan kemudian..

Yoon Ri menyapu pandangan pada ball room mewah hotel bintang lima yang akan menjadi tempat berlangsungnya pertunangan Hyo Na dan Hyuk Jae dengan tatapan menerawang. Senyum nanar lantas menghiasi bibirnya sedetik kemudian melihat banyaknya tamu yang berdatangan.

Yoon Ri kemudian menyimpan minumannya di atas meja, mencuri pandang ke arah orang tuanya dan orang tua Hyuk Jae yang tampak mengobrol.

Hyuk Jae akhirnya menerima perjodohan yang direncanakan oleh keluarga Kim, lelaki itu bahkan tak menghubungi Yoon Ri selama sebulan ini. Dia selalu menyibukkan diri dengan Hyo Na. Sekeras mungkin menghindari kontak apa pun antara dirinya dan Yoon Ri.

Yoon Ri tahu hatinya sudah remuk menjadi debu, tapi dia tak pernah menyangka rasanya akan tetap sakit, bahkan setelah sebulan berlalu. Yoon Ri meremas ujung gaun pendek yang dipakainya sambil mengulur napas saat pandangannya akhirnya berhenti pada Hyuk Jae yang tengah mengobrol bersama teman-temannya.

Lelaki itu terlihat sangat tampan dalam balutan tuksedo hitam. Yoon Ri ingin sekali berlari ke arahnya, lantas mengiba meminta Hyuk Jae kembali padanya. Tapi ia tak bisa. Yoon Ri yang melepasnya, dan dia tak berhak untuk meminta apa pun pada Hyuk Jae. Lagi pula, Yoon Ri sama sekali tak ingin mengacaukan kebahagiaan Hyo Na.

Yoon Ri segera melangkah ke meja dimana orang tuanya dan orang tua Hyuk Jae duduk begitu pintu utama ball room terbuka, Hyuk Jae juga bergabung di meja beberapa detik kemudian, membuat Yoon Ri harus menahan godaan besar agar tidak melirik ke arah lelaki itu.

Hyo Na masuk ke ball room dengan gaun hijaunya yang indah, terlihat sangat cantik, apalagi dengan senyum bahagia yang menghiasi bibirnya. Begitu Hyo Na tiba di meja, Tuan Kim segera berdiri menyambut kedatangan putrinya dengan senyum bahagia, begitu pun Nyonya Kim.

Yoon Ri-ya, gwaenchana?”

Bisikan lembut Nyonya Lee di samping Yoon Ri membuat gadis itu terenyak dan langsung mengalihkan pandangannya dari Hyo Na dan Hyuk Jae yang sekarang tengah berada di atas panggung bersama Tuan Kim dan Tuan Lee.

Yoon Ri segera menengok ke arah ibu Hyuk Jae, tersenyum tipis, “Gwaenchana, Eomma,” balasnya, sedikit lega mengetahui setidaknya Nyonya Lee sangat peduli padanya. Nyonya Lee bahkan meminta Yoon Ri memanggilnya dengan sebutan eomma.

Nyonya Lee tersenyum hangat, mengusap bahu Yoon Ri lembut, “Kau cantik hari ini, Chagi, jadi jangan pasang wajah murung seperti itu.”

Aku tidak murung, ini namanya bahagia.” elak Yoon Ri sambil nyengir.

Nyonya Lee terkekeh kecil sebelum menarik Yoon Ri untuk berdiri dan berjalan bersamanya ke atas panggung, pertunangan akan segera dimulai.

Cengiran di bibir Yoon Ri perlahan memudar begitu dia sudah sampai di atas panggung dan berdiri di sebelah Nyonya Lee yang tepat berhadapan dengan Hyuk Jae. Wajahnya langsung menunduk, berusaha menepis sesak yang bergumul-gumul memenuhi dadanya secara tiba-tiba.

Yoon Ri mengeratkan genggaman tangannya pada Nyonya Lee, seolah mencari kekuatan.

Sebelumnya, terima kasih kepada semua hadirin yang sudah bersedia datang,” kata Tuan Kim mengawali acara.

Hyuk Jae sama sekali tak memperhatikan perkataan Tuan Kim, otaknya terlalu sibuk menolak gagasan menggiurkan untuk membawa Yoon Ri pergi. Lagi pula, Yoon Ri menolaknya, gadis itu berkata ia tidak mencintainya.

Oh, ayolah, hati kecil Hyuk Jae tiba-tiba saja bermonolog, kau tahu gadis itu berbohong, Hyuk Jae, dia juga mencintaimu.

Tapi aku tidak bisa, dia ingin aku bersama Hyo Na, balas Hyuk Jae sambil setengah mati berusaha menatap ke arah lain selain wajah Yoon Ri yang menunduk.

Hyuk Jae dapat mendengar hati kecilnya tertawa sinis sebelum menyahut, dan membiarkan dia semakin menderita? Ayolah Hyuk Jae, aku tahu kau tidak bodoh.

Hyuk Jae akhirnya mengalihkan pandangan pada Hyo Na sambil menggertakkan gigi, berusaha sekeras mungkin tak memedulikan perkataan hati kecilnya.

Yoon Ri yang memilih jalan ini. Gadis itu bahkan membiarkan hatinya hancur karena ditolak setelah Yoon Ri memberikan harapan kosong dengan membalas ciuman itu.

Yoon Ri, angkatlah kepalamu, Chagi,” kata Nyonya Lee tiba-tiba dengan nada pelan.

Secara refleks, Hyuk Jae entah mengapa langsung kembali menatap Yoon Ri begitu mendengar perkataan ibunya. Dan saat mata mereka akhirnya bertatapan kembali setelah sebulan lamanya, Hyuk Jae tahu hatinya belum berubah sama sekali. Dia masih memilih gadis itu dibandingkan apa pun.

Keduanya bertatapan lama sekali, larut dalam manik masing-masing tanpa peduli pada Hyo Na yang menatap mereka terluka.

Meski tahu seharusnya tidak boleh, Yoon Ri berharap dia bisa memutar waktu ke beberapa bulan yang lalu saat dia dan Hyuk Jae masih bersama. Karena menatap mata Hyuk Jae di tengah kekacauan hati seperti sekarang ini membuat Yoon Ri tersadar seberapa besar makna kehadiran Hyuk Jae baginya. Membuatnya sadar akan seberapa besar cinta yang dia miliki untuk lelaki itu, sekaligus membuatnya sadar seberapa dalam luka yang tergores di hatinya karena keputusan sepihaknya.

Sedangkan bagi Hyuk Jae, menatap mata Yoon Ri membuatnya sadar bahwa seberapa banyak pun luka yang diciptakan Yoon Ri untuknya, Hyuk Jae tetap tidak bisa mengenyahkan gadis itu dari pikirannya. Matanya tetap tidak bisa berpaling dari Yoon Ri. Gadis itu, tetap memiliki hatinya seutuhnya.

Jadi hari ini, kami dengan bahagia mengumumkan pertunangan antara Hyuk Jae dan Hyo Na.”

Hyuk Jae dan Yoon Ri sama-sama kembali tersentak dari dunia mereka mendengar perkataan Tuan Kim, luka itu kembali merayap membungkus Yoon Ri dalam kegelapan menyadari bahwa semuanya sudah terlambat. Yoon Ri kembali menunduk, berusaha menyembunyikan air matanya yang perlahan menetes keluar. Seberapa keras pun ia menyuruh hatinya untuk merelakan Hyuk Jae, ia tetap tidak rela.

Yoon Ri baru saja akan menyeka air matanya saat Hyuk Jae tiba-tiba saja menggenggam tangannya dengan kasar, lalu membawa gadis itu ke hadapan ayahnya dan Tuan Lee.

Ahjussi, mianhamnida, aku tidak bisa,” kata Hyuk Jae sambil menunduk, lalu meremas tangan Yoon Ri dengan lembut begitu semua orang menatapnya bingung, “yang aku cintai, Yoon Ri, bukan Hyo Na, maafkan aku..”

Yoon Ri tergugu, menatap Hyuk Jae yang balas menatapnya dengan tak percaya. Air mata menetes lagi dari kelopak mata gadis itu, terharu mengetahui Hyuk Jae masih mau memperjuangkannya walau pun ia sudah jelas-jelas menolak Hyuk Jae.

Hyuk Jae tersenyum pada Yoon Ri, “Bodoh, berhenti menangis,” serunya sambil menyeka air mata di pipi gadis itu, “ayo pergi..”

Yoon Ri mengangguk, membiarkan Hyuk Jae menyeretkan menuju pintu keluar, tak mengacuhkan orang-orang yang menatap mereka dengan ekspresi macam-macam.

Hyo Na akhirnya menangis tersedu-sedu, membuat semua orang tersentak dari keterkejutan mereka. Nyonya Kim segera menenangkan putrinya tersebut, sedangkan Nyonya Lee beranjak menghampiri suaminya.

Rahang Tuan Kim mengeras, dia menatap punggung anaknya dan Hyuk Jae yang semakin menjauh dengan marah, “Kim Yoon Ri,” panggilnya setengah menggeram membuat Hyuk Jae dan Yoon Ri berhenti, “Kalau kau keluar bersama Hyuk Jae, kau harus keluar dari rumah.”

Yoon Ri menggigit bibir, hatinya seperti di tusuk mendengar perkataan ayah kandungnya. Dan meski pun dia sebenarnya tidak ingin menangis, Yoon Ri tetap tak bisa menahan air matanya untuk keluar.

Yoon Ri menatap Hyuk Jae dengan tatapan mengiba, “Hyuk, aku─”

Hyuk Jae menggeleng, “Kau mencintaiku?”

Yoon Ri tertegun sesaat, ragu-ragu dia mengangguk.

Apa orang tuamu mencintaimu?”

Yoon Ri termangu, lalu perlahan menggeleng.

Hyuk Jae tersenyum lembut, menyisipkan helaian rambut Yoon Ri ke belakang telinga, “Kalau begitu, ikutlah denganku. Mulai saat ini, kau tanggung jawabku, arraseo?”

Keraguan menginvasi hati Yoon Ri seketika, dia menengok ke belakang dan melihat ekspresi benci yang ditunjukkan kedua orang tuanya, kemudian menatap Hyuk Jae yang tersenyum, menawarkan kebahagiaan.

Yoon Ri memejamkan mata sejenak, lantas membuka mata dan tersenyum pada Hyuk Jae, “Aku ikut denganmu,”

Senyum Hyuk Jae melebar, dengan gerakan lembut dia membawa jemari Yoon Ri ke bibirnya, mengecupnya sekian detik kemudian membawa gadis itu pergi dari ball room.

Tuam Kim langsung membanting mic yang dipegangnya, sementara Nyonya Kim semakin gencar menenangkan Hyo Na yang menangis meraung-raung.

Anak sialan itu. Dia pikir aku main-main dengan ucapanku?!”

Kami tahu Anda serius, Tuan Kim. Tak apa-apa, kami yang akan merawat Yoon Ri, toh dia sudah seperti anak sendiri bagi kami.” ujar Tuan Lee tiba-tiba sambil tersenyum, lalu berjalan ke arah pintu keluar bersama istrinya.

Sebelum benar-benar keluar, Nyonya Lee sempat berkata, “Lagi pula, aku lebih senang Yoon Ri yang menjadi istri Hyuk Jae, gadis itu kuat.”

***

Ri-ya?”

Yoon Ri yang setengah tertidur di dada Hyuk Jae membuka sedikit matanya, mengintip wajah kekasihnya itu dengan malas. “Wae?”

Hyuk Jae terkekeh pelan melihat ekspresi gadisnya, tangannya lalu mengusap-usap punggung Yoon Ri dengan lembut.

Mereka sekarang sedang berada di taman belakang rumah Hyuk Jae, duduk diayunan panjang sambil menatap bintang─meski Yoon Ri akhirnya malah tertidur dipelukan Hyuk Jae.

Yoon Ri sudah pindah ke rumah Hyuk Jae sejak sebulan yang lalu, dia juga sudah pindah jurusan ke sastra karena dukungan Hyuk Jae dan orang tua Hyuk Jae. Selama sebulan tinggal di sini, Yoon Ri benar-benar merasa bahagia karena Yoon Ri tak pernah merasakan kasih sayang sebesar yang keluarga Hyuk Jae berikan untuknya.

Semua orang di rumah ini menjaganya baik-baik, tak seperti di rumahnya dulu.

Bintangnya sudah jatuh dari tadi..” bisik Hyuk Jae.

Mwoya?!” pekik Yoon Ri yang langsung tersentak bangun, matanya dengan liar mengamati langit malam yang sepi, lalu mendengus kecewa. “Ya! Kenapa tidak membangunkanku daritadi?” tanyanya cemberut pada Hyuk Jae.

Hyuk Jae menjepit hidung Yoon Ri dengan gemas, “Kaupikir aku tega membangunkanmu, hm?” katanya balik bertanya, “Lagipula tanpa bintang jatuh pun pertunangan kita besok akan baik-baik saja.”

Yoon Ri mengusap hidungnya lalu menatap wajah Hyuk Jae, “Aigo, berhentilah menggombaliku,” cibirnya sambil mencubit pipi Hyuk Jae keras.

Hyuk Jae mendelik, “Ya! Aku kan hanya mencoba romantis!” tukas lelaki itu kesal.

Yoon Ri terkekeh lalu mengelus pipi Hyuk Jae yang memerah karena ulahnya, “Kau tidak perlu menjadi romantis, Hyuk Jae. Dirimu yang apa adanya saja sudah cukup untukku.”

Hyuk Jae mengamati lekuk wajah Yoon Ri yang tak pernah bosan untuk dilihatnya, senyum hangat terlukis di bibir lelaki itu beberapa saat kemudian.

Aigo, kau manis sekali,” seru Hyuk Jae dengan nada riang yang dibuat-buat, bermaksud menggoda Yoon Ri.

Yoon Ri hanya terkekeh, lantas kembali menyandarkan kepalanya di dada Hyuk Jae. Dia menyukai bunyi debaran jantung lelaki itu yang menjadi tak beraturan saat bersamanya, menenangkan menurut Yoon Ri.

Yoon Ri memejamkan mata, menikmati kebersamaan mereka.

Beberapa saat hening, Yoon Ri akhirnya membuka mata, mendongak untuk menatap Hyuk Jae─meski pun yang terlihat hanya dagu lelaki itu─lalu bertanya dengan nada penasaran, “Hyuk-ah, kenapa memperjuangkanku sampai sekeras ini?”

Hyuk Jae menengok ke bawah untuk melihat wajah Yoon Ri, tersenyum hangat saat mata mereka bertatapan dengan lembut. Hyuk Jae lalu membiarkan jemarinya meraih jemari Yoon Ri untuk digenggam.

Karena aku mencintaimu, Yoon Ri, jeongmal saranghaeyo..” bisiknya lirih.

Bibir Yoon Ri melengkung membentuk senyuman, “Gomawo, nado saranghaeyo,” balas Yoon Ri tak kalah lirih sebelum menutup mata membiarkan Hyuk Jae menciumnya.

Hati Yoon Ri terasa sangat ringan dan berbunga-bunga saat berada dalam dekapan Hyuk Jae, karena Yoon Ri sadar bahwa Hyuk Jae adalah sumber kebahagiannya. Mungkin, Yoon Ri egois kali ini, dia mengorbankan kakaknya demi kebahagiaannya─hei, dia sudah terlalu banyak mengalah!─dan memutuskan untuk tak peduli pada kedua orang tuanya yang membenci dirinya─untuk apa dia peduli jika yang dipedulikan juga ternyata membencinya?

Lagipula, bukankah kadang-kadang dia harus memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri?

END

22 thoughts on “[2nd Place] SOMETIMES

  1. Betul… Utamakab org2 yg sayang sama kita… N jangan pernah peduli sama org2 g benci sama kita.. Siapap pun itu…
    Hyuk disini keren abis….

  2. WOW..
    DAHSYATT..
    Jdi satu rasa.a.. Friendship,family,power of love and dream..
    *LIKE IT
    Akhir yg indah..:)

  3. Suka sm quote yg terakhir >..<
    Duuuh, tuan & nyonya lee baiknya mnta ampun tuhan…
    ff ini kereeeeeeeen❤

  4. gak bisa kebayang kalo punya ortu kek gitu..mungkin gak akan bisa sekuat yoonri…
    nice bgt cerita.y…
    congrat yaa buat author…^^
    hyukie yaa…kau soo swettt sekali di sini…

  5. yoonri himnae !!!
    yoonri jg anak kandung tp ko digituin sih, bad parents nih ckckck
    ngatain anak sialan pula T.T
    hyukjae kali ini daebak bgt ^^ , superman ~ (?)
    semangat eonn untuk ff nya🙂

  6. ih jahat bgt orang tua nya . kenapa si hyona ga mati aja sekalian !
    daripada nyusahin orang mulu !!!!
    sebel.

  7. kesel sendiri baca ceritanya apalagi hyona *kebawaemosi* u, u jahaat banget masa -_____- tapi akhirnya happy ending juga yoon ri sama hyuk jae, oppa bener bener memperjuangin banget cintanya *sosweet* kereeen… keep writing author!!!!!!

  8. suka banget!! walapun alur ceritanya pernah baca yg aga mirip2 gini, tapi suka banget sama kalimat2nya.. feel nya kerasa. jadi ikut sebel sama hyona :<
    hyukjae brasa gentleman banget *brb dance gentleman* hahaha😄
    bagus, keep writing ya thor :^D

  9. gondok sendiri ma Hyo Na,egois bgt..
    udah ortu di monopoli,eh pcr adek sndr di ambl jg.

    crt yg bgs..
    mengaduk2 perasaan ditengah crtnya..

  10. Suer (ʃ˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ)‎​ baca in ff.. Yoonri kasian bget! Itu org tua sm kakakny najis bget jahatny! Untung ad hyuk n keluargany, yoori selamet deh

  11. ishh ,, kenapa ga sekalian diracun ajah sih tuh hyona ,, dibaikin malah ngelunjak *jambakjambak* #kebawaemosi
    malah dengan enaknya mau ngambil si nappeun namja dari si yoori ,,
    dan orang tuanya suwer demi apapun pengen gue godok hidup”…
    dan di ff ini si nappeun namja bener” kehilangan gelarnya sampai lenyap tak bersisa ,, aku menyukai karakter dia disini ,, berasa cowo banget soalnya ,,, huweeeee sweeett sumpaaahh jadi ngebayangin pengen punya namjachingu yang kaia abang hyuk *huwaaaaaaaa😄

  12. yaampun gue nangis arrrgghh tuh kan kalo cerita kayak gini paling suka deh aduuh seneng bgt hahaha
    gaje banget commentnya tp ff nya bagus authoorr terus berkarya kkk~ fighting

  13. hallooo..

    bagus bgd cerita.nya
    feel.nya dpt bgd.

    tpi knp ortu yoon ri bisa bsikap kaya gtu ya ??
    padahal kan sm2 anak.nya ??
    masih ada rasa penasaran nhh :p

    emm..
    apa ada sekuel.nya ??
    hee

    trz smgt ya !!!!

  14. Sumpah aku nangis baca ff ini thor apa lagi pas bagian flashback yoonri sama hyona di kolam renang sama pas yoonri kaya dicuekin hyuk gt:( masa ortunya jahat bgt gt wkw-_- btw ff ini bagus bgt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s