[1st PLACE] QUEEN YOONRI

 poster

Title : Queen Yoonri

Author : aslestari

Cast :

  • Lee Hyukjae

  • Kim Yoonri

Status : 1st place

Kim Yoon Ri tertawa kecil, memperhatikan bagaimana korban bullyan ia dan teman-temannya menatap takut ke arahnya. Bahu mahasiswa perempuan yang sedang berdiri di pojok toilet itu bergetar, matanya yang bermanik hitam tampak basah, air mata bahkan sudah luruh membasahi pipinya. Bukannya merasa kasihan atau apa, Kim Yoon Ri dan kedua temannya yang lain malah semakin keras tertawa, menikmati bagaimana ekspresi penuh penderitaan yang tergambar jelas di wajah perempuan itu.

Keadaan fisik perempuan itu sebenarnya baik-baik saja, karena dalam kamus Yoon Ri, dia tak akan pernah menggunakan kekerasan fisik untuk menekan musuhnya. Cukup dengan sentuhan kecil yang menekan mental, dan semuanya selesai.

Beberapa detik terlewat dengan hanya menertawakan perempuan itu, sang maknae di antara mereka maju mendekat, berdiri beberapa meter darinya sambil memasang wajah seolah-olah perempuan itu adalah kotoran kecoa, “Aigo, Eonni, wajahnya menjijikkan sekali,” ujarnya sarkatis sambil mengenyit.

Yoon Ri dan Ji Hyun kembali terkekeh kecil mendengar perkataan So Hee. Setelah puas mengolok-olok, So Hee berjalan kembali ke samping Yoon Rid an Ji Hyun.

So,” Yoon Ri memulai saat tawa mereka perlahan reda, “who is the queen of our university, Choi Soo Yeon?” Sudut bibir Yoon Ri terangkat ke atas membentuk senyum manis.

Perempuan itu takut-takut mendongak untuk menatap Yoon Ri, mulutnya terbuka dengan ragu-ragu. “K-kau..” bisiknya dengan suara bergetar.

Good girl,” balas Yoon Ri puas, “jika kau sudah sadar, berhentilah bersikap seperti queen mulai dari sekarang. Seberapa cantik pun kau, aku tetap yang tercantik.”

Ji Hyun dan So Hee diam, hanya memandang lurus pada punggung Yoon Ri saat yeoja itu mengibaskan rambut panjangnya yang indah sambil kembali berkata dengan nada angkuh yang begitu kentara, “Aku, Kim Yoon Ri, adalah queen tetap di Seoul University.”

***

Memiliki hidup yang sempurna adalah dambaan setiap orang. Itulah Kim Yoon Ri, hidupnya sempurna. Dia memiliki segalanya; paras yang rupawan, kekayaan yang melimpah, juga kekasih yang diimpikan setiap gadis, Lee Dong Hae. Sayangnya, Yoon Ri menodai hidupnya yang sempurna dengan sifatnya.

Angkuh dan egois adalah 3 kata pertama yang pasti muncul di kepala setiap mahasiswa saat mendengar nama Yoon Ri. Tidak ada satu mahasiswa perempuan pun yang berani padanya, karena mereka tahu, sekali mereka menantang, Kim Yoon Ri akan membuat hidup mereka menjadi gelap. Gelar “queen” yang disandang Kim Yoon Ri memang bukan main-main, dia memang ratu universitas.

Noona, apa kau tidak bisa mempertimbangkan ajakan kencanku malam ini?” Min Ho, salah satu junior paling populer di kampus bertanya, matanya menatap Yoon Ri yang sedang duduk di meja kantin dengan penuh harap.

Yoon Ri memutar bola mata sementara Ji Hyun dan So Hee terkekeh kecil.

Min Ho-ya, kau masih tidak menyerah eo?” sindir Ji Hyun.

Min Ho menatapnya sekilas, mengangkat bahu tak acuh lalu kembali memandang pada Yoon Ri. Ekspresi wajah namja itu cool seperti biasanya.

Min Ho-ya,” kata Yoon Ri sambil pura-pura mendesah lelah, “kau tahu aku kekasih Dong Hae, kan?” Melihat Min Ho mengangguk, Yoon Ri melanjutkan. “Dan itu berarti tidak, aku tidak ingin Dong Hae menghajarmu.”

Kalau begitu, putuskan saja Dong Hae itu!” seru Min Ho keras kepala, Yoon Ri mendengus, Ji Hyun dan So Hee hanya menggeleng tak percaya.

Mulut Yoon Ri yang baru saja terbuka untuk membalas perkataan Min Ho tiba-tiba saja memekik kecil saat seseorang tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Tapi Yoon Ri segera tersenyum begitu tahu bahwa yang memeluknya adalah Dong Hae.

Ada lebah yang mengganggumu lagi, Baby?” tanya Dong Hae lembut sebelum menatap tajam pada Min Ho.

Min Ho bergeming, terlihat tak terpengaruh sama sekali oleh tatapan tajam Dong Hae yang penuh intimidasi.

Gwaenchanayo, Oppa,” tandas Yoon Ri tersenyum, “Min Ho, aku tetap tidak bisa, carilah yeoja lain.”

Min Ho menghela napas, memutuskan untuk menyerah. Wajah coolnya memudar dengan sendirinya. Sebelum benar-benar pergi, namja itu melemparkan death glare pada Dong Hae─yang dibalas Dong Hae dengan senyum miring.

Jadi, bagaimana kuisnya, Oppa?” tanya Yoon Ri begitu Dong Hae duduk di sampingnya.

Dong Hae mengangkat bahu tak peduli, “Kurasa gagal, entahlah, aku juga tidak terlalu peduli.” jawabnya ringan, lalu melanjutkan sambil membelai rambut Yoon Ri lembut. “Bagaimana dengan kuismu?”

Tentu saja Eonni gagal, Oppa,” sambar So Hee sebelum Yoon Ri sempat mengatakan sepatah kata pun. Yoon Ri mendelik.

Seakan belum cukup, Ji Hyun menambahkan sambil tertawa kecil, “Dia berada di peringkat terakhir di setiap mata pelajaran, Oppa, luar biasa bukan?”

Dong Hae ikut tertawa kecil melihat wajah merengut Yoon Ri. “Siapa yang pertama?”

Tentu saja schoolarship abadi kita, Lee Hyuk Jae!” So Hee menjawab dengan nada mencemooh.

***

Yoon Ri memutar bola matanya, mengamati Dosen Park yang masih berceloteh tentang nilai-nilainya yang hancur dengan wajah bosan. Tangan yeoja itu memainkan rambut, sementara kakinya menghentak-hentak pelan di lantai dengan tidak sabaran. Yoon Ri sudah terlalu sering mendengar ceramah seperti ini, masih untung dia memenuhi panggilan Dosen Park dan duduk manis “mendengarkan” di sini.

Menyadari sikap Yoon Ri, Dosen Park menghela napas. Wajahnya yang menampakkan kelelahan terlihat sangat sendu. “Yoon Ri-ssi, apa kau mendengarkan semua ucapanku?”

Mendongak, Yoon Ri memasang wajah polos, “Ne, tentu saja Sajangnim,” angguknya sambil mengulas senyum.

Dosen Park melemparkan senyum palsu, “Kalau begitu kau tidak keberatan mempunyai tutor,” kata Dosen Park, memberikan pernyataan, bukan pertanyaan.

Mata Yoon Ri melebar, memandang Dosen Park bingung, “Tutor?”

Tepat setelah Yoon Ri melemparkan pertanyaan, pintu ruangan Dosen Park diketuk. Mata Dosen Park yang semula kelabu langsung berbinar, wajahnya juga langsung berseri dalam hitungan detik saat Hyuk Jae masuk ke dalam. Setelah membungkuk pada Dosen Park, Hyuk Jae duduk di samping Yoon Ri.

Yoon Ri memandang tidak suka Hyuk Jae tidak suka, lantas menatap Dosen Park tajam. “Sajangnim, apa maksud semua ini?” tanyanya dengan nada tak bersahabat.

Dosen Park yang masih menatap Hyuk Jae sambil tersenyum akhirnya mengerutkan wajah pada Yoon Ri. “Yoon Ri-ssi, minggu depan ujian semester, dan kau membutuhkan seseorang untuk lulus melihat nilai-nilaimu yang mengenaskan.” Dosen Park memberi jeda sebentar, tak peduli dengan wajah Yoon Ri yang sudah merengut. “Kau tahu kalau Hyuk Jae adalah peringkat pertama fakultas bukan? Jadi, aku rasa Hyuk Jae bisa menjadi tutor yang baik untukmu.”

Wajah merengut Yoon Ri langsung terlipat, tampak seperti terhina, “Sajangnim pikir saya tidak bisa menyewa guru privat sendiri?” tanyanya tersinggung, “Appa bisa mencarikan yang bahkan 10 kali lipat dari Hyuk Jae-ssi..”

Wajah Dosen Park semakin mengerut, tak suka dengan cara bicara Yoon Ri. Sementara Hyuk Jae mengepalkan tangannya kuat.

Saya sudah menelepon ayahmu, dan dia setuju untuk mempercayakanmu pada Hyuk Jae.” tukas Dosen Park dengan nada tajam.

Tatapan Yoon Ri mengeras, matanya melirik Hyuk Jae sekilas dengan tatapan mencemooh. “Tapi saya tidak mau diajari oleh orang miskin, Jung Soo-ssi..”

Hyuk Jae merasakan darahnya mengalir lebih cepat ke wajah, dan dia yakin sekarang wajahnya tengah memerah menahan amarah. Dia tersinggung. Jelas. Dan yeoja itu masih bisa memasang wajah datar seperti itu. Hyuk Jae mengatupkan mulut rapat-rapat, rahangnya mengeras seketika.

Jika Nona Kim Yoon Ri tidak mau saya tidak keberatan, Sajangnim.” tukas Hyuk Jae tiba-tiba sambil berdiri, mengucapkan nama Yoon Ri dengan embel-embel dan penekanan secara sarkatis. “Lagi pula, ada banyak hal penting yang harus saya lakukan daripada mengurusi Nona Kim, permisi..”

Dosen Park menghela napas panjang, “Aniya, aniya, Hyuk Jae-ya, Yoon Ri pasti tidak bermaksud seperti itu, kemarilah, duduk kembali. Kita bisa membicarakannya secara baik-baik, bukan?”

Hyuk Jae memaksakan seulas senyum di bibirnya lalu menggeleng, membicarakannya secara baik-baik? Yang benar saja! Harga dirinya serasa diinjak-injak setelah mendengar perkataan angkuh Yoon Ri tadi. “Saya tidak ingin Nona Kim memaksakan diri, Sajangnim,”

Refleks, Yoon Ri langsung menatap Hyuk Jae mendengar perkataan namja itu. Saat Hyuk Jae balas menatapnya dengan pandangan tajam, Yoon Ri buru-buru mengalihkan wajah ke Dosen Park kembali sambil memasang wajah datar.

Dosen Park kembali menghela napas, menatap Yoon Ri mengancam. “Baiklah, berarti kau bersedia menghabiskan liburan semestermu untuk kuliah.”

Mata Yoon Ri langsung terbelalak horor, “ANDWAE! Baiklah baiklah, aku bersedia diajari oleh Hyuk Jae-ssi..”

Dosen Park mengalihkan tatapannya kembali pada Hyuk Jae sambil tersenyum, “Nah, Hyuk Jae, saya mempercayakan Yoon Ri padamu, ne? Ajari dia baik-baik,”

Hyuk Jae tak menjawab, hanya membungkuk hormat pada Dosen Park lalu buru-buru keluar masih dengan wajah memerah. Yoon Ri mengikutinya dari belakang dengan wajah cemberut, membayangkan bahwa ia tak bisa hang out ke mall dengan Ji Hyun dan So Hee sepulang kuliah, ia sekarang bahkan tak bisa sering-sering berkencan dengan Dong Hae, menyebalkan!

Hei, Hyuk Jae-ssi, kapan kita akan mulai belajar? Aku ingin cepat-cepat mengakhirinya,” seru Yoon Ri keras sambil mengangkat dagu tinggi-tinggi.

Hyuk Jae mengerutkan wajah tak suka, “Mulai besok, setiap pulang kuliah di perpustakaan,” jawabnya tanpa memandang Yoon Ri, Hyuk Jae takut emosinya akan langsung meledak saat melihat wajah Yoon Ri.

Yoon Ri mendengus, melempar tatapan tajam pada semua orang yang menatapnya penasaran. Yoon Ri lalu mengeluarkan ponselnya, bermaksud menelepon Dong Hae saat Hyuk Jae tiba-tiba saja berbalik, membuat Yoon Ri refleks mendongak dari ponselnya untuk menatap Hyuk Jae.

Dan Nona Kim,” Hyukjae berkata dengan nada rendah, untuk pertama kalinya menatap tidak suka pada Yoon Ri secara terang-terangan, “aku tidak suka menunggu,”

Setelah mengatakan 4 kata itu, Hyuk Jae segera menghilang dari pandangan Yoon Ri, membuat Yoon Ri yang masih terperangah karena tatapan Hyuk Jae langsung terkesiap. “Aish, siapa dia berani menyuruhku untuk tidak terlambat?”

Sambil berjalan, jemari Yoon Ri lantas bermain dengan lincah di atas ponselnya, mencari-cari nomor Dong Hae di phonebooknya lalu langsung menekan tombol dial. Wajah yeoja itu berseri-seri menanti Dong Hae mengangkat teleponnya.

Telepon pertama tak diangkat, tapi Yoon Ri tidak menyerah dan terus mencoba. Saat untuk kesepuluh kalinya masih tak diangkat, Yoon Ri akhirnya menyerah dengan wajah mengerut sebal.

***

Kelas terakhir Yoon Ri baru saja berakhir beberapa detik yang lalu, Yoon Ri yang sedari tadi menelungkupkan wajahnya di meja akhirnya mengangkat kepala, mengamati orang-orang yang sedang membereskan buku-buku mereka dengan cemberut begitu mengingat ia harus ke perpustakaan untuk belajar dengan Hyuk Jae. Ini hari pertama mereka, dan pasti akan berlangsung sangat menyebalkan mengingat seberapa kelam tatapan tak suka Hyuk Jae yang ditunjukkan pada Yoon Ri kemarin.

Yoon Ri-ya, hari ini jadi?” tanya Ji Hyun yang baru saja selesai membereskan buku-bukunya, bertanya tentang rencana jalan-jalan mereka ke mall, membeli baju baru.

Yoon Ri memutar bola mata, melirik Ji Hyun sekilas, “Ani, aku harus belajar dengan Hyuk Jae. Kalian pergi berdua saja.” jawabnya, lalu mulai beranjak membenahi buku-buku.

Ji Hyun melempar pandangan pada So Hee, lalu saling mengangguk satu sama lain.

Oke, good luck kalau begitu, kami duluan..” Ji Hyun tersenyum, menepuk pundak Yoon Ri lembut dan berlalu bersama So Hee.

Yoon Ri menggembungkan pipi begitu kedua sahabatnya berlalu. Begitu buku-buku selesai ia bereskan, kakinya berjalan menuju perpustakaan dengan malas.

Perpustakaan sepi saat Yoon Ri sampai di sana, bahkan orang yang berada di dalamnya bisa dihitung dengan tangan. Yoon Ri meliarkan pandangan ke segala arah untuk mencari Hyuk Jae dan mendengus melihat Hyuk Jae duduk di sudut perpustakaan sendirian.

Kau terlambat,” kata Hyuk Jae begitu Yoon Ri duduk di hadapannya.

Yoon Ri memutar bola mata, “Aku tidak suka basa-basi, ayo mulai saja,” tukasnya sambil mengeluarkan buku-bukunya ke atas meja.

Hyuk Jae menutup buku yang sedang dibacanya, mendongak untuk menatap Yoon Ri. “Sebagai seorang yeoja kau sangat kasar, Nona Kim,” ujar Hyuk Jae tenang, sudah tidak tahan dengan sikap Yoon Ri meski pun mereka baru dua kali berinteraksi, “Apa kau tidak diajari sopan santun oleh keluarga kaya rayamu?”

Yoon Ri memberikan tatapan membunuh pada Hyuk Jae, “Ya! Kau pikir kau siapa berani berkata seperti itu padaku, hah?” teriaknya marah sambil menggebrak meja.

***

Ini semua gara-gara kau!” gerutu Hyuk Jae kesal.

Kedua saat ini tengah menyusuri koridor perpustakaan karena diusir secara tidak hormat gara-gara ulah berisik Yoon Ri. Hyuk Jae berjalan di depan, sebisa mungkin menjaga jarak dengan Yoon Ri.

Yoon Ri ikut menggerutu pelan di belakang Hyuk Jae, tak terima disalahkan begitu saja, “Ya! Kau pikir siapa yang membuatku berteriak?”

Hyuk Jae berhenti mendadak, membuat Yoon Ri yang tidak siap dengan gerakan tiba-tiba Hyuk Jae spontan menabrak punggungnya. Yoon Ri memekik kecil, mengusap hidungnya yang sakit sambil mendelik pada punggung Hyuk Jae.

Hyuk Jae membalikkan tubuhnya, menatap Yoon Ri tajam. “Jika kau punya sopan santun, aku juga tidak akan berkata seperti itu, Nona Kim,”

Yoon Ri mendengus, lalu mengangkat dagu dengan angkuh. “Kenapa aku harus bersikap sopan padamu? Aku Ratu..”

Hyuk Jae mendengus, “Ratu kaubilang?” desisnya, melangkah mendekati Yoon Ri.

Yoon Ri otomatis melangkah mundur saat Hyuk Jae tak kunjung berhenti berjalan ke arahnya. Ekspresi angkuhnya semakin memudar mendapati tatapan tajam Hyuk Jae. Saat dia tak bisa mundur lagi karena punggungnya membentur tembok, Yoon Ri memaki dalam hati.

Apa maumu?” tanya Yoon Ri, mati-matian menyembunyikan nada gentarnya.

Hyuk Jae memicingkan mata, menyimpan sebelah tangannya di tembok yang dekat dengan kepala Yoon Ri. “Mauku?” tanya namja itu retoris. Hyuk Jae lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Yoon Ri, membuat yeoja itu tanpa sadar menahan napas begitu merasakan embusan napas Hyuk Jae yang menggelitik telinganya. Tak lama, yeoja itu terkesiap tiba-tiba, lalu menggigit bibir saat aroma mint lembut menguar menyentuh indra penciumannya.

Ketika Yoon Ri masih membeku dengan kontak yang tiba-tiba saja terjadi di antara keduanya, bisikan dengan nada rendah tapi tajam yang dilakukan Hyuk Jae berhasil menyentak kesadarannya, “Bagaimana kalau Yang Mulia Ratu belajar menghormati rakyatnya?”

Hyuk Jae menjauhkan tubuhnya setelah itu, mengangkat salah satu sudut bibirnya sedikit melihat Yoon Ri bergeming. Ada rasa puas yang luar biasa menyelinap ke hatinya karena berhasil menggertak Yoon Ri dengan perkataannya.

Yoon Ri terkesiap beberapa detik kemudian, matanya menatap punggung Hyuk Jae yang semakin menjauh dengan speechless. Tangannya tanpa sadar merayap menyentuh dada, merasakan jantungnya yang berdetak sangat keras.

Y-ya! Apa yang terjadi barusan?” gumamnya tergagap.

Tak berselang lama, kesadaran benar-benar menampar benaknya, Yoon Ri mencengkeram kaus yang sedang dikenakannya dengan erat lalu buru-buru mengejar Hyuk Jae, mengabaikan detakan jantungnya yang masih menggila.

Hyuk Jae-ssi, di mana kita belajar?” tanyanya sambil mencekal tangan Hyuk Jae.

Hyuk Jae menghela napas panjang, “Kita pergi ke rumahku,” gumam namja itu, melepaskan cekalan tangan Yoon Ri.

Yoon Ri tak berkomentar, dia berjalan di belakang Hyuk Jae dengan perlahan, sesekali melempar tatapan tajam pada mahasiswa-mahasiswa yang melirik ke arah mereka. Rumor Lee Hyuk Jae menjadi tutor Kim Yoon Ri memang langsung menyebar dengan cepat sejak pagi, dan langsung menduduki trending topic pertama.

Ya, ya! Hyuk Jae-ssi, mengapa kita tidak ke parkiran?” protes Yoon Ri tiba-tiba saat Hyuk Jae malah berjalan ke arah halte tak jauh dari kampus mereka.

Hyuk Jae mengulur napas, “Nona Kim, seperti yang kaubilang tadi kemarin, aku miskin, aku tidak punya kendaraan.”

Secuil rasa bersalah tiba-tiba saja menyusup ke hati Yoon Ri mendengar perkataan Hyuk Jae, tapi gadis itu buru-buru menepisnya. “Kalau begitu kita naik mobilku saja,”

Hyuk Jae melirik Yoon Ri lewat bahunya, “Kemari,” katanya, melambaikan tangan pada Yoon Ri. Ragu, Yoon Ri akhirnya mendekati Hyuk Jae hingga berdiri di sebelah namja itu. “Kau harus belajar hidup sederhana, Yang Mulia,” sambung Hyuk Jae, lalu memegang pergelangan tangan Yoon Ri, menyeretnya ke halte bus.

Yoon Ri berjengit kaget, otaknya menyuruh untuk memberontak, tapi tubuhnya malah berkhianat karena Yoon Ri nyatanya hanya diam saja, membiarkan Hyuk Jae menyeretnya memasuki bus yang penuh sesak. Yoon Ri memberengut begitu mereka berdua berdiri di dekat pintu, mengerutkan hidung sesekali begitu mencium bau tak sedap. Yoon Ri melirik ke sekitarnya, mendapati beberapa namja menatap nakal ke arahnya. Yoon Ri mendelik angkuh ke arah mereka, tapi sayangnya tatapan Yoon Ri sama sekali tak dihiraukan karena sekarang beberapa namja malah tersenyum menggoda ke arahnya. Yoon Ri mati-matian mencoba tak menghiraukan namja-namja itu.

Beberapa saat kemudian, Yoon Ri mulai bergerak tak nyaman di dekat Hyuk Jae, menyadari bahwa tatapan namja-namja itu tak kunjung beralih darinya. Keresahan pelan-pelan menggerogoti hatinya. Yeoja itu menatap ke segala arah, berusaha menghindari tatapan namja-namja itu.

Hyuk Jae-ssi, aku ingin turun,” rengek Yoon Ri beberapa menit kemudian, tangannya memegang ujung kemeja Hyuk Jae dengan resah.

Hyuk Jae mengernyit, lalu menghela napas tak suka saat menyadari banyak namja sedang menatap ke arah Yoon Ri, beberapa bahkan sudah bergerak mendekat. Hyuk Jae lalu meraih pinggang Yoon Ri, menyusupkan kepala yeoja itu di dadanya lantas melempar tatapan membunuh pada namja-namja tersebut.

Yoon Ri terkesiap, memaki jantungnya yang tiba-tiba saja berdetak liar kembali. “Hyuk Jae-ssi,” desisnya dengan suara tercekik. Aroma tubuh Hyuk Jae sangat memabukkan.

Diamlah, aku tidak bisa menjagamu dari mereka kalau kau berdiri jauh-jauh dariku,” kata Hyuk Jae pelan, diam-diam mengutuki wangi shampo Yoon Ri yang sangat manis.

Yoon Ri merasakan hatinya tersentuh, yeoja itu balas melingkarkan tangannya di pinggang Hyuk Jae, menenggelemkan wajahnya dalam aroma memabukkan yang membuatnya nyaman. Mata Yoon Ri tanpa sadar berkaca-kaca, dia tak pernah mendengar kata “menjagamu” dari siapa pun, bahkan tidak dari keluarganya mau pun Dong Hae.

Hyuk Jae-ya,” panggil Yoon Ri tiba-tiba setelah beberapa menit berlalu dalam diam. Hyuk Jae mengangkat sebelah alisnya dengan heran, tapi diam karena tahu Yoon Ri akan melanjutkan ucapannya, “Boleh aku memanggilmu seperti itu?” sambungnya kemudian lirih.

Kerutan di kening Hyuk Jae menghilang, senyum samar menghiasi bibirnya tanpa sadar, “Terserah kau saja.”

Yoon Ri tersenyum diam-diam, membiarkan setetes air mata jatuh dari kelopak matanya. Hyuk Jae, namja yang baru dikenalnya, yang bahkan sempat ia caci karena miskin, bersedia melindunginya. Melindungi orang seperti dia yang bahkan tidak mempunyai sopan santun, yang memandang rendah pada orang lain. Hyuk Jae memberinya keamanan, rasa yang bahkan Yoon Ri sempat lupa seperti apa.

Hati Yoon Ri yang membeku perlahan mencair, merasakan kehangatan luar biasa menyusup ke dalam sana. Kehangatan yang sama saat ibunya dulu masih ada.

Perlahan Yoon Ri memejamkan matanya, meresapi rasa aman baru yang dirasakannya. Ide bahwa kegiatan ini tidak sepenuhnya buruk menyelinap masuk ke dalam otaknya, dan Yoon Ri tahu semuanya benar. Hyuk Jae… namja yang baik.

***

Hyuk Jae mengetuk dahi Yoon Ri heran dengan telunjuknya, menggeleng-geleng tak percaya sambil memandangi soal-soal yang dikerjakan Yoon Ri di atas meja. Pantas saja Yoon Ri selalu ada di urutan terbawah setiap ujian, soal tingkat sedang seperti ini pun ia masih tidak bisa, padahal ujian semester tinggal 3 hari lagi. Sepertinya banyak sekali hal yang harus Hyuk Jae ajarkan pada Yoon Ri, yeoja ini benar-benar menyusahkan.

Aigo, kau bodoh sekali. Berapa kali aku harus mengulangi bagian ini, Nona Kim?” tanyanya sarkatis.

Yoon Ri mengusap-usap dahinya, mendelik pada Hyuk Jae. “Eonni, Ahjumma, Hyuk Jae menyiksaku lagi!” adunya kemudian pada eomma dan noona Hyuk Jae yang sedang berada di ruang tivi tak jauh dari tempat mereka belajar sekarang.

Ya! Hyuk Jae, berhentilah melakukan kekerasaan pada Yoon Ri!” tegur eomma Hyuk Jae sambil menatap anaknya tajam. So Ra ikut melotot pada Hyuk Jae, mengancam.

Hyuk Jae mendengus sebal, mengusap dahi Yoon Ri dengan lembut. “Ne, ne, aku tidak akan melakukannya lagi,” balas namja itu setengah hati. Melotot pada Yoon Ri yang tertawa penuh kemenangan di depannya.

Hari ini adalah hari kelima Yoon Ri belajar di rumah Hyuk Jae. Pertama kali menginjakkan kaki di sini, Yoon Ri langsung menyukai rumah Hyuk Jae. Meski pun rumah Hyuk Jae sangat kecil, tapi rumah ini terasa nyaman dan hangat oleh kasih sayang, sesuatu yang tak pernah dia dapatkan di rumahnya. Keluarga Hyuk Jae juga sangat baik padanya, eomma dan noona Hyuk Jae bahkan langsung akrab dengan Yoon Ri.

Di rumah ini, Yoon Ri selalu bisa tersenyum tulus, bukan tersenyum angkuh seperti biasanya. Dari keluarga ini, Yoon Ri mulai belajar bagaimana cara memandang orang lain dengan semestinya. Dan dari Hyuk Jae, Yoon Ri mulai belajar arti kehidupan yang sesungguhnya.

Yoon Ri merasa sangat nyaman berada di sini. Sekarang, dia bahkan lebih suka menghabiskan waktunya untuk belajar di rumah Hyuk Jae daripada hang out dengan Ji Hyun dan So Hee atau kencan dengan Dong Hae─meski pun di kampus dia masih sering bersama dengan kedua sahabat dan kekasihnya itu.

Hyuk Jae segera menurunkan tangannya yang sedari tadi mengusap dahi Yoon Ri begitu eomma dan noonanya sudah sibuk menonton tivi kembali, “Aish, mengapa Eomma dan Noona lebih menyayangimu?”

Yoon Ri menjulurkan lidah, lalu kembali menatap soal-soal yang diisinya dengan salah dengan kening mengerut. Yoon Ri tahu ia tidak bodoh, dia hanya tidak pernah memperhatikan saat Dosen-Dosen mengajar di kelasnya. Yoon Ri lebih sering memainkan PSP diam-diam di bawah meja atau tertidur, dia selalu malas mendengarkan celotehan Dosen-Dosen itu, dan dia juga selalu malas untuk mengulang pelajaran di rumah. Hasilnya, ia tertinggal jauh dan selalu berada di peringkat terakhir karena malas belajar.

Melihat Yoon Ri kembali terpekur mempelajari soal-soal, Hyuk Jae diam-diam mengamati wajah Yoon Ri, tersenyum tipis dengan spontan. Yoon Ri tidak seburuk yang ia pikirkan selama ini, Hyuk Jae dulu hanya belum mengenalnya secara jauh.

Lima hari mengenal Yoon Ri membuat Hyuk Jae mengambil kesimpulan bahwa yeoja itu sebenarnya baik, sikap angkuh dan egois yang selama ini ditunjukkannya semata-mata untuk melindungi dirinya sendiri, karena Yoon Ri tidak punya orang yang bisa ia andalkan untuk menjaganya.

Yoon Ri hanya perlu seseorang yang tepat untuk membuat dirinya menjadi pribadinya yang sudah hilang sejak 10 tahun lalu, pribadinya yang hangat.

Beberapa saat kemudian Hyuk Jae terkekeh kecil melihat raut depresi yang ditunjukkan Yoon Ri, “Wae? Tidak bisa?” tanyanya dengan intonasi angkuh yang dulu sering sekali digunakan oleh Yoon Ri.

Yoon Ri melirik Hyuk Jae sekilas, bukannya membalas ledekan Hyuk Jae, yeoja itu alih-alih malah mendesah. “Soalnya susah sekali, Hyuk-ah,” keluhnya lalu menenggelamkan wajah di meja, “bagaimana kalau aku tidak lulus? Liburan semesterku hilang sudah,” lanjutnya kemudian, mulai memukul-mukul meja dengan pelan.

Hyuk Jae tersenyum kecil, mengacak rambut Yoon Ri dengan lembut. “Kalau kau putus asa, tentu saja akan jadi susah.” katanya, namun Yoon Ri tetap bergeming.

Melihat Yoon Ri terlihat sama sekali tak tertarik dengan ucapannya, Hyuk Jae lalu menambahkan, “Kalau kau lulus semua ujian, aku berjanji akan mengajakmu ke Pulau Nami untuk melihat salju pertama, bagaimana?” tawar Hyuk Jae sambil tersenyum.

Yoon Ri mengangkat kepala, wajahnya yang muram langsung berbinar, “Janji?”

Hyuk Jae mengangguk, “Janji,” jawabnya lalu menepuk-nepuk tempat di sebelahnya, “Nah, kajja, aku akan mengajarimu sampai bisa,”

Yoon Ri langsung melenguh panjang, namun akhirnya beranjak untuk duduk di samping Hyuk Jae. Yoon Ri menatapi kertas yang dipegang Hyuk Jae dengan malas, lalu menunjuk beberapa soal yang masih tak dimengertinya sambil menyandarkan kepala ke bahu Hyuk Jae. Dan untuk dua jam ke depan, dia kembali mendengarkan setiap kata yang diucapkan Hyuk Jae saksama, menyuruh Hyuk Jae mengulangi beberapa kali jika ia masih belum mengerti.

.. jadi seperti itu, Nona Kim, bagian mana yang masih tidak kaumengerti?” tanya Hyuk Jae begitu menyelesaikan penjelasannya.

Beberapa detik tak mendapat jawaban, Hyuk Jae mengalihkan pandangan pada bahunya. Tersenyum kecil melihat yeoja itu ternyata tertidur. Tangannya kemudian mengelus rambut Yoon Ri dengan lembut, lalu matanya mengamati setiap lekuk wajah Yoon Ri selama beberapa saat sebelum dia memutuskan untuk memindahkan Yoon Ri. Namja itu lalu berdiri dan mengangkat Yoon Ri dengan kedua tangannya menuju kamarnya.

***

Suara dering telepon yang menjerit-jerit mengusik tidur Yoon Ri. Yeoja itu menggeliat, setengah sadar duduk di pinggir ranjang sambil mengerjap-ngerjapkan mata untuk mengumpulkan nyawanya. Yoon Ri mengamati sekelilingnya sekilas, menguap sekali begitu sadar bahwa ia lagi-lagi tertidur di kamar Hyuk Jae.

Setelah merasa terbangun sepenuhnya, Yoon Ri berjalan ke arah nakas Hyuk Jae untuk mengangkat telepon. Bibirnya tersenyum kecil melihat begitu tahu siapa yang meneleponnya, “Yeoboseyo, Oppa, waeyo?”

Baby, mianhae, Oppa tidak bisa menjemputmu malam ini. Ada urusan keluarga mendadak, gwaenchanayo?” tanya Dong Hae di seberang dengan nada bersalah.

Yoon Ri terkekeh kecil, “Gwaenchanayo Oppa, aku bisa pulang sendiri, tenanglah,”

Jeongmal?”

Ne, pergilah,”

Gomawo Baby, saranghae,”

Yoon Ri diam sejenak, menghela napas kecil, dia kemudian menyahut, “Nado, Oppa..”

Tepat setelah Yoon Ri memutuskan sambungan telepon, pintu kamar Hyuk Jae terbuka. Yoon Ri kembali menghela napas kecil, menatapi Hyuk Jae yang berjalan ke arahnya dengan mimik menyebalkan.

Ne, aku puas dengan tidurku,” kata Yoon Ri sebelum Hyuk Jae sempat berkata apa pun.

Hyuk Jae terkekeh kecil, lantas mengempaskan tubuhnya di atas ranjang. Yoon Ri masih menatapi Hyuk Jae sebelum ikut mengempaskan tubuhnya ke ranjang beberapa detik kemudian, keduanya menatap langit-langit kamar Hyuk Jae dalam diam.

Dong Hae Oppa tidak bisa menjemputku malam ini,” kata Yoon Ri tiba-tiba, memiringkan tubuhnya untuk menatap Hyuk Jae.

Hyuk Jae ikut memiringkan tubuhnya, “Minta salah satu sopirmu datang, kalau begitu,” balasnya, kemudian menyelipkan poni panjang Yoon Ri yang berantakan ke belakang telinga.

Yoon Ri langsung cemberut, “Ya! Kau menyebalkan sekali.”

Hyuk Jae tersenyum miring, mengetuk-ngetuk dahi Yoon Ri dengan lembut, “Lalu apa maumu, Nona Kim?”

Yoon Ri tampak berpikir, “Bagaimana kalau makan malam di restoran bersama orang tua dan noonamu?” tanyanya kemudian dengan semangat.

Hyuk Jae mendengus, “Mereka sedang melaksanakannya, Nona Kim, dan karena kau tertidur aku ditinggalkan.” jawabnya setengah menggerutu.

Yoon Ri cemberut, “Kalau begitu kau temani aku ke mall saja, ada yang ingin aku beli,” usulnya kemudian. Melihat Hyuk Jae tak bereaksi, Yoon Ri mengerutkan wajah sebal sambil menambahkan, “pulangnya makan, aku yang teraktir, arasso?”

***

Hyuk Jae membawa 4 kantong belanjaan di tangan kanan dan kirinya, menggerutu sepanjang jalan sambil mengikuti Yoon Ri yang berjalan dua langkah di depannya. Hyuk Jae jadi menyesal menyanggupi keinginan Yoon Ri jika akhirnya hanya menjadi tukang angkut.

Hei, Nona Kim, mau kemana lagi kau?” teriak Hyuk Jae.

Yoon Ri berbalik, mencibir melihat ekspresi Hyuk Jae lalu menarik pergelangan tangan namja itu agar mengikutinya, mengabaikan makian pelan yang dilontarkan Hyuk Jae. Begitu mereka masuk ke bioskop, Yoon Ri dapat mendengar Hyuk Jae mencebik namun tetap mengikutinya melihat-lihat poster film yang di pajang. Yoon Ri tersenyum samar saat melihat ekspresi serius Hyuk Jae mengamati poster-poster tersebut. Jika dipikir-pikir, mereka berdua terlihat seperti sedang berkencan. Dan Yoon Ri tak tahu mengapa memikirkan hal itu membuat hatinya berbunga-bunga.

Perasaannya ini sangat berbeda dengan perasaannya saat menonton film bersama Dong Hae, benar-benar berbeda. Bersama Hyuk Jae, dia jauh merasa lebih aman dan nyaman.

Film apa yang ingin kautonton?” tanya Yoon Ri.

Hyuk Jae menunjuk salah satu poster film action terbaru, tapi Yoon Ri langsung menggeleng dan menunjuk poster lain, “Aniya, kita akan nonton itu saja!”

Ya! Lalu untuk apa kau bertanya?!” seru Hyuk Jae sebal.

Yoon Ri mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Hyuk Jae, memeletkan lidah dengan wajah meledek. Hyuk Jae mengerang kesal, lalu buru-buru mengalihkan tatapan saat otaknya malah berpikir bahwa wajah menyebalkan Yoon Ri terlihat cantik. Dia pasti sudah tidak waras!

5 menit kemudian mereka sudah duduk nyaman di kursi barisan belakang, memakan popcorn selagi menanti film diputar. Kursi penuh, dan kalau dilihat-lihat, orang-orang yang menonton film ini rata-rata merupakan sepasang kekasih.

Aku tidak tahu kau suka film seperti ini, Nona Kim,” cibir Hyuk Jae tiba-tiba saat adegan pembuka film diputar, wajah yeoja yang menangis memenuhi layar.

Yoon Ri mendelik, “Memang aku harus menyukai film seperti apa?”

Hyuk Jae menatap Yoon Ri, menyeringai sedikit, “Tentu saja film horor, kau kan seram,”

Wajah Yoon Ri mengerang sambil melempar death glare pada Hyuk Jae. “Diamlah Hyuk Jae, aku tidak bisa berkonsentrasi.”

Hyuk Jae terkekeh kecil, senang berhasil membuat Yoon Ri kesal. Namja itu lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mendecak tak habis pikir melihat para yeoja berkaca-kaca, padahal baru adegan pembuka. Tatapan mata Hyuk Jae berhenti saat matanya mengenali dua orang yeoja di barisan depan mereka, sedang mengobrol.

Hyuk Jae menyenggol lengan Yoon Ri, membuat yeoja itu kembali mengerang kesal dan menatap Hyuk Jae tajam. Hyuk Jae mengedikkan bahu, lalu memegang kepala Yoon Ri dan memutarnya hingga bisa melihat dua yeoja yang tadi dilihatnya. “Bukankah itu sahabatmu?” tanyanya heran.

Yoon Ri memicingkan mata, berusaha mengenali dalam kegelapan. Bibirnya langsung menyunggingkan senyum. Mulut Yoon Ri baru saja akan terbuka untuk memanggil keduanya saat So Hee dan Ji Hyun tiba-tiba saja mengganti topik obrolan mereka menjadi dirinya.

Ne, So Hee, Yoon Ri memang berubah akhir-akhir ini,” ujar Ji Hyun, mengangguk setuju.

Sikap arrogant dan egoisnya berkurang, Eonni,” tambah So Hee, terlihat mengenyit. “Dia bahkan menyuruh kita berhenti membully Hyo Na.”

Yoon Ri dapat melihat jelas bagaimana Ji Hyun tertawa kecil, tawa yang dulu sering sekali mereka bagi, tawa untuk mengatakan bahwa seseorang adalah pecundang. “Kurasa Ratu kita mulai kehilangan pesonanya, Hee-ya,”

Tangan Yoon Ri terkepal, dadanya mulai bergumuruh marah. Hyuk Jae yang duduk di sampingnya memandang Yoon Ri cemas, namja itu melingkarkan tangannya di bahu Yoon Ri berharap bisa sedikit membuatnya tenang.

Ratu katamu?” balas So Hee ikut tertawa kecil, “tanpa uang orang tuanya dia bukan siapa-siapa Eonni, bahkan aku pun tak mau berteman dengannya.”

So Hee dan Ji Hyun, sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri selama ini ternyata hanya berpura-pura. Sesak langsung berlomba-lomba memenuhi dadanya, membuat Yoon Ri nyaris kesulitan untuk bernapas. Mata yeoja itu mulai berkaca-kaca, amarah dan kecewanya sudah mencapai ubun-ubun.

Ah,” Ji Hyun pura-pura terkejut, “aku baru ingat bagian itu. Kau benar, kalau dia tidak kaya, mana mau aku berteman dengan orang sepertinya. Egois dan arrogant.”

Yoon Ri tak tahan lagi. Kalau saja Hyuk Jae tak memeluknya dari samping dengan erat, dia pasti sudah meloncat ke kursi depan dan menampar keduanya. Yeoja itu menggigit bibir, menenggelamkan kepalanya di bahu Hyuk Jae sambil terisak pelan.

Yoon Ri ingin sekali tuli saat ini juga, agar ia tak perlu mendengar percakapan So Hee dan Ji Hyun yang terus-menerus menjelekkannya.

Honey, mian Oppa telat,”

Kepala Yoon Ri otomatis menoleh secepat kilat ke asal suara, jantungnya langsung serasa ditikam ribuan pisau saat melihat Dong Hae mencium bibir Ji Hyun dengan penuh gairah. Yoon Ri meremas tangan Hyuk Jae yang mencengkeramnya dengan keras, meluapkan rasa sakit yang bertubi-tubi menyerang dadanya.

So Hee memutar bola mata saat keduanya mengakhiri ciuman mereka, “Bagaimana kau bisa lolos dari Yoon Ri, Oppa?” tanyanya meledek.

Dong Hae terkekeh, duduk di sebelah Ji Hyun, “Yoon Ri itu bodoh, dia bahkan tidak tahu kalau aku dan Ji Hyun berpacaran di belakangnya, mencium gelagatnya saja tidak. Lagi pula mana mungkin aku tidak datang kalau my lovely baby Hyun yang meminta.”

Ji Hyun memukul bahu Dong Hae pelan sambil tersenyum, “Ya! Berhentilah menjadi sweet talker,”

Yoon Ri tak tahu perasaan apa yang saat ini lebih mendominasi hatinya. Entah itu marah, kecewa, atau benci. Yang pasti Yoon Ri merasa tersakiti, dia merasa dikhianati, dia merasa seperti sampah, mempercayai orang-orang yang bahkan sama sekali tak menghargainya. Cengkeraman tangan Yoon Ri semakin mengeras, membuat Hyuk Jae meringis tapi tak berkomentar apa pun. Air mata semakin deras mengaliri pipi Yoon Ri, namun seberapa banyak pun air mata yang keluar takkan pernah setimpal dengan sakit yang Yoon Ri rasakan.

Hyuk Jae, aku ingin pulang,” bisik Yoon Ri sambil terisak. Hyuk Jae mengangguk, lalu menuntun Yoon Ri keluar, tangannya tak berhenti mengelus punggung Yoon Ri.

***

Hyuk Jae mengulur napas dengan lamat, lantas mengalihkan perhatiannya pada Yoon Ri yang masih terisak karena kejadian dua jam lalu. Saat dia mengetahui semua kebusukan yang disembunyikan oleh sahabat dan kekasihnya.

Tangan Hyuk Jae masih mengusap punggung Yoon Ri dengan lembut, tapi dia memutuskan untuk tidak bersuara sementara waktu. Hyuk Jae memberikan kesempatan pada Yoon Ri untuk menangis sepuasnya saat ini. Perih perlahan menyusup ke dada Hyuk Jae melihat keadaan Yoon Ri. Sejak pertama kali mengenal Yoon Ri, Hyuk Jae tak pernah melihat yeoja itu menangis meraung-raung seperti ini.

Lalu satu pertanyaan yang membuat dada Hyuk Jae menyesak dengan sendirinya mencuat ke permukaan, membuat Hyuk Jae harus menggigit bibirnya dengan perasaan tak tentu. Apa Yoon Ri begitu mencintai Dong Hae?

Hyuk Jae menghela napas, lalu berkata dengan nada menenangkan, “Sstt, sudahlah, masih banyak namja lain di luar sana, Nona Kim,”

Masih terisak, Yoon Ri menggeleng pelan. Selama ini, dia bersama Dong Hae karena merasa nyaman, karena dia menyayangi Dong Hae yang selalu ada di sampingnya, tapi Yoon Ri tak yakin kalau ia mencintai Dong Hae. Saat ini pun, Yoon Ri tak yakin dia menangis karena Dong Hae. Yeoja itu lebih yakin kalau tangisannya karena dia kecewa sebab orang-orang yang dipercayainya ternyata tak lebih dari seorang pengkhianat.

Aku tidak menangis untuk Dong Hae, Hyuk,” balas Yoon Ri bergetar, “aku mungkin hanya menyukainya karena kami terbiasa bersama, tapi aku tidak yakin aku mencintainya.”

Ada secuil rasa lega yang tiba-tiba saja melesak ke hati Hyuk Jae.

Yoon Ri menutup wajahnya dengan tangan, mencoba mengendalikan emosi dan air matanya. “Aku hanya merasa sangat kecewa karena orang-orang yang sangat kupercayai ternyata menusukku diam-diam.” Beberapa saat kemudian, yeoja itu mengusap air matanya dengan kasar, berkata sambil terkekeh menyedihkan, “Aku.. memang benar-benar bodoh ya,” Tapi Yoon Ri tidak benar-benar bisa berhenti menangis, sebab sedetik kemudian, air matanya kembali meleleh.

Hyuk Jae akhirnya tidak tahan lagi, namja itu berdiri, lalu menangkup pipi Yoon Ri dengan keduanya tangannya, menatapnya tajam. “Dengar, dunia tidak kiamat meski pun mereka mengkhianatimu, Nona Kim. Kau harusnya bangkit, tunjukkan kalau kau bisa tanpa mereka dan cari yang lebih baik dari mereka.”

Yoon Ri balas menatapnya, menyunggingkan senyum arrogant miliknya dengan tipis. “Kaupikir ada yang mau berteman denganku, Hyuk Jae?” tanyanya sarkatis, menepis tangan Hyuk Jae dengan kasar. Tangannya lalu mencengkeram bahu Hyuk Jae, menggoyangkannya dengan kasar. “Kau lihat aku, Hyuk! Lihat! Siapa yang mau berteman dengan orang sepertiku, hah? Siapa?! Tidak ada Hyuk Jae, tidak a─”

Yoon Ri berhenti berbicara saat sepasang bibir tiba-tiba saja mengunci mulutnya. Mata yeoja itu membelalak, shock. Otaknya berjalan lambat memproses apa yang baru dan sedang terjadi sebelum ia akhirnya hanyut dalam ciuman lembut Hyuk Jae. Yeoja itu akhirnya menutup mata, membiarkan tangannya merayap ke pundak Hyuk Jae dan membalas ciuman Hyuk Jae dengan sama lembutnya. Yoon Ri tak tahu mengapa di saat seperti ini dia membalas ciuman Hyuk Jae, tapi berciuman dengan Hyuk Jae membuat dadanya menjadi lebih tenang, membuat hatinya yang gamang perlahan membaik.

Hyuk Jae baru melepaskan ciuman saat paru-paru mereka menjerit meminta pasokan oksigen. Keduanya langsung berebutan meraup oksigen sebanyak-banyaknya dengan kening saling bersentuhan.

Aku bersedia,” ujar Hyuk Jae dengan napas terengah-engah, “kau itu sudah berubah, pasti banyak orang yang mau jadi temanmu. Jangan berpikir yang tidak-tidak lagi,”

Yoon Ri tak bisa berkata apa pun, air matanya kembali mengalir, namun kali ini dengan perasaan bahagia dan lega. Yeoja itu serta-merta memeluk Hyuk Jae kembali dengan erat, dan Hyuk Jae tak berpikir dua kali untuk membalas pelukanYoon Ri.

***

Berita putusnya Yoon Ri dan Dong Hae tersebar sangat cepat keesokan harinya. Hampir seluruh mahasiswa bertanya-tanya mengapa, namun tak ada satu pun yang berani bertanya pada Yoon Ri. Dugaan mahasiswa tentang Yoon Ri yang akan terlihat gloomy pagi ini pun ternyata salah besar. Meski pun mata Yoon Ri sedikit sembap, tapi yeoja itu tersenyum cerah sepanjang jalan menuju kelasnya. Yoon Ri bahkan sempat membalas sapaan mahasiswa lelaki beberapa kali, membuat tanda tanya besar semakin bergelantungan di langit-langit kampus.

Yoon Ri benar-benar tidak terlihat seperti yeoja patah hati.

Eonni, kau benar-benar putus dengan Dong Hae Oppa?” tanya So Hee begitu Yoon Ri masuk ke kelas.

Yoon Ri memutar bola mata jengkel, menahan diri untuk tidak memaki atau berteriak, sebagai gantinya ia malah mengangguk dengan gaya arrogant yang tidak biasa diperlihatkannya, membuat So Hee terkesiap, begitu pula Ji Hyun.

Ji Hyun tampak akan membuka mulut saat Dong Hae tiba-tiba saja masuk kelas sambil membanting pintu, terlihat marah. “Yoon Ri, apa maksud teleponmu semalam?”

Yoon Ri mengangkat alis, tersenyum sinis pada Dong Hae. “Tentu saja untuk membebaskanmu, agar kau dan Ji Hyun tidak perlu berkencan sembunyi-sembunyi di belakangku lagi.”

Seluruh kelas terkesiap mendengar perkataan Yoon Ri. Dong Hae langsung terenyak, begitu pun Ji Hyun dan So Hee yang dengan gugup menatap pada Yoon Ri.

Yoon Ri-ya, apa maksudmu?” tanya Ji Hyun tergagap.

Yoon Ri mengangkat bahu santai, “Aku bukan orang bodoh seperti yang kalian pikirkan, Ji Hyun, So Hee.” jawabnya tenang, lalu tersenyum lebar, “dan maksudku, aku butuh teman baru,” lanjutnya kemudian lalu berjalan keluar kelas sambil tersenyum lega, tak memedulikan riuh-rendah suara para mahasiswa yang mulai membicarakan kejadian barusan.

Yoon Ri berhenti berjalan saat matanya menangkap bayangan Hyuk Jae di dinding dekat kelasnya, senyumnya melebar dan dia perlahan menghampiri Hyuk Jae.

Apa yang kaulakukan di sini?” tanyanya penasaran.

Hyuk Jae terkekeh kecil, mengulurkan tangannya pada Yoon Ri, “Menjemput Nona Kim untuk bertemu teman-temanku?”

Yoon Ri terperanjat kecil, menghela napas, “Bagaimana kalau mereka tidak menyukaiku?”

Mereka pasti menyukaimu, percayalah,” jawab Hyuk Jae, meraih tangan Yoon Ri lalu menyatukan jemari mereka.

Yoon Ri termangu sejenak memandang jemari mereka yang saling bertautan sebelum tersenyum dan mengangguk. Hyuk Jae membawa Yoon Ri ke kantin, tak memedulikan berbagai macam ekspresi yang ditunjukkan para mahasiswa melihat keduanya berjalan bergandengan. Hyuk Jae membawa Yoon Ri menuju meja paling pojok yang diisi 4 orang.

Yoon Ri melempar senyum gugup pada Kyu Hyun, Sung Min, Eun Mi, dan Tae Ni yang menatapnya tertarik.

Nona Kim, itu Kyu Hyun, Sung Min, Eun Mi, dan Tae Ni. Well, mereka memang sedikit aneh, tapi mereka teman yang setia.”

Ya! Siapa yang kausebut aneh, eo?” ujar Eun Mi sambil memukul kepala Hyuk Jae.

Hyuk Jae mengaduh pelan menyebabkan yang lainnya tertawa. Setelah tawa mereda, teman-teman Hyuk Jae kembali menatap Yoon Ri, tersenyum lebar.

Aku harap Hyuk Jae tidak melakukan hal yang buruk selama menjadi tutormu,” kata Tae Ni. Yoon Ri tersenyum kecil, menggeleng sambil mati-matian mengabaikan tatapan seisi kantin.

Jadi Yoon Ri, apa Hyuk Jae benar-benar bisa mengajar?” tanya Kyu Hyun, melemparkan seringaian evil.

Ya! Kyu, panggil aku Hyung, dasar hoobae tidak sopan!” gerutu Hyuk Jae sambil duduk, mengambil minuman siapa pun di meja dan menyeruputnya hingga setengah.

Eun Mi langsung memekik tak rela, “Ya! Ya! Hyuk Jae-ya, beli minumanmu sendiri!”

Yoon Ri tersenyum canggung, menggaruk pipinya lalu berdeham untuk mendapatkan perhatian semuanya, “Eum, Hyuk Jae guru yang hebat.” akunya setelah suasana ribut di meja berhenti, yeoja itu tersenyum pada semuanya lalu memutuskan untuk duduk di samping Hyuk Jae.

Baguslah, aku sempat cemas kau tidak bisa bertahan menghadapi Hyuk Jae,” Sung Min menyahut, setengah mencibir pada Hyuk Jae.

Hyuk Jae merengut, mendelik pada Sung Min, “Ya! Harusnya aku yang berkata begitu,”

Semuanya tertawa, termasuk Yoon Ri begitu melihat ekspresi Hyuk Jae.

Hyuk Jae mungkin benar, teman-temannya sedikit aneh. Tapi dari percakapan yang mengalir, Yoon Ri dapat merasakan ketulusan dari mereka. Dan Yoon Ri benar-benar merasa diterima.

Aigo, Yoon Ri-ya, kenapa menangis?” pertanyaan tiba-tiba dari Eun Mi membuat Yoon Ri tersentak, yeoja itu buru-buru menghapus air mata yang mengalir di pipinya, tersenyum menyatakan ia baik-baik saja pada semuanya.

Hyuk Jae segera merangkul pundak Yoon Ri, tersenyum.

***

Yoon Ri tak bisa mengalihkan pandangannya dari pohon-pohon sakura yang dilihatnya sepanjang jalan. Yeoja itu menatap ke kiri dan ke kanan dengan takjub, senang karena untuk pertama kalinya dia bisa pergi ke Pulau Nami saat liburan semester.

Ya! Hyuk Jae, jangan cepat-cepat!” pekik Yoon Ri panik saat tiba-tiba saja Hyuk Jae mempercepat laju sepedanya.

Hyuk Jae tertawa. Teman-teman Hyuk Jae yang mengayuh sepeda di depan pun menolehkan kepala mereka ke belakang mendengar pekikan Yoon Ri, ikut tertawa melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh yeoja itu.

Yoon Ri-ya, tutuplah mulutmu jika tidak ingin ada lalat yang masuk!” teriak Kyu Hyun dari depan, tertawa evil seperti biasanya. Tae Ni yang diboncengnya hanya terkikik mendengar perkataan Kyu Hyun.

Ya! Ya! Apa-apaan kau, Kyu! Panggil aku Noona!” Yoon Ri balas berteriak tak terima.

Hyuk Jae kembali tertawa, melepaskan satu tangan yang digunakannya untuk memegang stang lalu mengacak rambut Yoon Ri yang duduk di belakangnya. “Berhentilah berteriak di telingaku, Nona Kim, suaramu membuat telingaku sakit.”

Yoon Ri cemberut. “Kau, berhentilah memanggilku Nona Kim,” katanya ketus.

Hyuk Jae tersenyum, lalu menghentikan sepedanya di pinggir jalan dekat yang lain. “Tapi aku lebih suka memanggilmu begitu,” tukas namja itu begitu dia dan Yoon Ri turun dari sepeda dan duduk bersama yang lain, tangannya mencubit hidung Yoon Ri dengan lembut, membuat yeoja itu meringis sambil mendelik ke arahnya.

Itu hanya alasan, Yoon-ie,” sangkal Sung Min sambil tertawa, “Nona Kim adalah panggilan kesayangan Hyuk Jae untukmu,” sambungnya yang disambut godaan panjang dari yang lain.

Yoon Ri tidak menjawab, yeoja itu malah segera memalingkan wajah ke arah lain, berpura-pura tuli dengan rona samar yang menghiasi pipinya. Senyum tipis perlahan terkembang di bibirnya.

Mungkin banyak orang yang tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi, Yoon Ri pun sebenarnya tidak menyangka kalau ia benar-benar bisa lulus ujian─di semua mata pelajaran dengan nilai yang cukup memuaskan.

Hyuk Jae menepati janjinya, namja itu membawanya ke Pulau Nami, dan karena yang lain mengetahui rencana ini, jadilah keempat orang itu memaksa ikut. Liburan yang tadinya ia rencanakan hanya berdua dengan Hyuk Jae harus diubah menjadi berkelompok. Tapi Yoon Ri sama sekali tak keberatan, dia justru merasa senang. Mengenal mereka lebih jauh membuat Yoon Ri merasakan arti pertemanan yang sesungguhnya.

Ayo kembali ke penginapan, langit sudah mulai gelap.” ujar Eun Mi setelah dua jam mengobrol, yang lainnya mengangguk setuju, lalu segera naik ke sepeda masing-masing.

Yoon Ri menyandarkan kepalanya ke punggung Hyuk Jae begitu sepeda dikayuh, menikmati semilir angin yang membelai wajahnya.

Hyuk,”

Hm? Waeyo?”

Yoon Ri tersenyum kecil, mengeratkan pelukan tangannya di pinggang Hyuk Jae, “Gomawo untuk semuanya,” bisik yeoja itu pelan. “Gomawo telah mengajarkanku arti menghargai, pertemanan, bahkan kasih sayang,”

Hyuk Jae tersenyum samar, matanya menatap sepeda teman-temannya yang semakin jauh meninggalkannya. “Hei, aku hanya melaksanakan tugas untuk menjadi tutormu,”

Tapi tetap saja,” tandas yeoja itu, lalu mengangkat kepalanya untuk menatap langit, Yoon Ri buru-buru menepuk pundak Hyuk Jae keras saat melihat butiran-butiran salju turun dari langit. “Hyuk, salju!” serunya, meloncat turun dari sepeda.

Hyuk Jae menghentikan kayuhan sepedanya, lalu mengikuti Yoon Ri yang berdiri di tengah jalan sambil membuka telapak tangannya, menikmati salju pertama. Hyuk Jae ikut mengulurkan tangan lalu mendongak, senyum hangat terkembang di bibirnya merasakan dingin es yang menyentuh permukaan tangannya.

Indah sekali,” gumam Yoon Ri pelan setelah puas menikmati butir-butir salju di tangannya, yeoja itu membalikkan tubuh, menatap Hyuk Jae yang masih mendongak. Tatapan Yoon Ri melembut saat melihat Hyuk Jae. Namja ini telah membawa banyak perubahan dalam hidupnya, namja ini telah mengajarkan banyak hal padanya, dan namja ini telah membuat hidup Yoon Ri lebih berwarna.

Yoon Ri tersenyum tanpa sadar, jantungnya mulai berdegup lebih kencang saat memikirkan Hyuk Jae, kebahagiaan meluap-luap di dadanya, dan Yoon Ri tak ingin meminta lebih dari ini. Asalkan ada Hyuk Jae, semua akan baik-baik saja, namja itu akan menjaganya.

Hyuk Jae mengalihkan pandangannya dari langit pada Yoon Ri, mengernyit melihat yeoja itu menatapnya lekat-lekat. “Wae?”

Yoon Ri tersentak, menundukkan kepala. “Hyuk, sebenarnya apa hubungan kita?” tanyanya ragu-ragu.

Tiga hari belakangan, pertanyaan ini selalu berputar-putar di otaknya. Dia dan Hyuk Jae selalu melakukan hal bersama setelah kejadian itu. Hampir tak terpisahkan, tapi mereka bukan sepasang kekasih, dan Yoon Ri juga tidak yakin status mereka masih teman.

Hyuk Jae terkesiap, tak menyangka Yoon Ri akan menanyakan hal seperti itu. Namun tak lama dia tersenyum, mengusap pipi Yoon Ri dengan lembut. “Menurutmu apa?”

Yoon Ri mengangkat wajah, menggeleng sambil cemberut. “Aku bertanya, kau menyebalkan sekali!” keluhnya.

Hyuk Jae langsung terkekeh, lalu mendekatkan bibirnya dengan telinga Yoon Ri, “Saranghae, Nona Kim,” bisik namja itu di telinga Yoon Ri.

Yoon Ri mengabaikan jantungnya yang seperti akan melompat keluar, jutaan beban yang selama ini menggelayuti pundaknya menghilang dengan sendirinya. Yeoja itu tersenyum lebar, lalu melompat ke pelukan Hyuk Jae, tanpa ragu mengatakan, “Nado saranghae..” berulang-ulang di telinga Hyuk Jae, membuat Hyuk Jae tertawa senang sambil memutar-mutar tubuh Yoon Ri di udara.

END

19 thoughts on “[1st PLACE] QUEEN YOONRI

  1. annyeonggg…new reader…
    Jenny imnidaaaa…
    firstkah???
    ahhhhhhhh….
    aku ska bgr crtax….
    ringan dan mmbuatku terenyuhhhh…
    like this…..so muchhhh.

  2. cuman manfaatin uangnya yoonri terus selingkuh? aigo kasian yoon ri , hyukjae baik bangeeeet disini walaupun tetep agak yadong xD … author keep writing!!!!!!

  3. aigooo.. aiigoo ,, aigooo ,, sweet sekali si yadong yang satu ini ,, *eonni kau apakan si raja yadong ini sampai” dy lupa sama sekali dengan gelarnya ,, AKHIRNYA ,, AKHIRNYA *SAMBIL SUJUD SYUKUR*😄
    dan serada ga terima sih ,, kan yang biasanya jadi nappeun namja kan eunhyuk kok disini jadi abang ikaaannn ,,, *abaang ikaaannnn MATI kau ditanganku jika sampai berani” berselingkuh dibelakangku ,, *abaikan* n
    dan FFá DAEBAK sangat dan sangat ,, keep writing eonni ,, *saranghae*

  4. ahhh.. so sweeettt..
    >.<
    alurnya bagus, runtut. karakternya juga cocok.
    author punya blog pribadikah?😀

  5. Sweet love story… Aigoo hyukjae tumben jadi orang bener *eh. Donghae, jihyun, sohee jahat bgt ihh
    Btw chukkaeyo buat authornya ^^

  6. huaaaa donghae oppa jd playboy kelas teri kkkk
    jgn suka selingkuh oppa, kan msh ada haejin (?) hehe
    ratu yoonri dan si miskin hyukjae hahaha lucu ngebayanginnya ^^
    aduh itu sahabatnya yoonri minta bgt dibasmi ya ><
    ga iklas bgt jd temen T.T
    kadang yg bikin ff ramai itu pas ad si evil magnae wkwkwk
    semangat eonn , nice ff🙂

  7. Ahhhhh neomu jhoaaaaa, ff ini keren sekaliiiii >.<
    Hae, knp kau bgtu nista d sni /plakk
    Hyukkkk, si monyet super pelit kini tlah berubah menjadi malaikat berwujud monyet jiahahaha *digeplak jewels* xD
    Wuaaaaah ending yg sangaaaaaat sesuatu kkekeke

  8. sukaaaaaaaa,,,
    lucu bgt wktu hyuk bilang yoonri itu serem…hahahaha
    donghae liar bgt yaa di sini *colek Nisya Onn* mungkin kelamaan gak di belai (?) haejin…gkgkgkgkgkgkk
    aahhhh…pokok.y sukaaa…

  9. Sosweeet, sukaaa❤
    bahasanya ringan tp bisa bikin senyum2 sendiri😀
    ada pelajaran yg bisa diambil dr cerita ini juga😀

  10. College daily life…. Kebanyakan kmpus jg gitu sih…
    But… Daebaakk….
    Bacanya bener2 biaa buat ak ngebayangin prasaan tokoh2nya….
    Tetep smangat ya nulis ff nya…. (^__^)P

  11. senang deh, bs melihat sisi lain dr seorg Lee Hyuk Jae..🙂
    ga hny sisi lucu dan yadong yg srg org2 gambrkan tp sisi dewasa n cool ternyata jg cocok dgn karakter seorg Lee Hyuk Jae..🙂🙂

    kritik,ada kesalahan penulisan n pengulangan kata aja kok.

  12. aduuuh padahal ide ceritanya sederhana tapi dibuat istimewa banget disetiap tokoh sama alurnyaa.keren bgt pantes menang chukkae !

  13. aigooo aku suka ff nya, genre kaya gini nih paling suka bacanya😄 hyukjae romantis banget, yaa walaupun donghae nya jahat yah :” tapi suka perannya hyukjae, dia bisa meluluhkan hati seorang yeoja seperti yoon ra, haha keep writing author~^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s