[DramaFiction] BitterSweet17 ~Episode 3~

Title : Dalkomhan Yeolilgob

Also Known As : BitterSweet17

Genre : Romance Comedy, Youth

Episodes : 14

Broadcast Network  : SBS

Broadcast Periode : 2012 – 10 – 10 To TBA

Air Time : Wednesday 21:55

Original Soundtrack: Dalkomhan Yeolilgob OST

  • One In A Million – (Covered By : U Kiss Kiseop)
  • When I Grow Up – (Covered By : Felidis Haejin)

Main Cast :

  • Lee Kiseop as Han Minwoo
  • Lee Haejin as Kim Seulri
  • Jung Yeonjoo as Min Sunhwa
  • Lee Minho as Jung Kyujong
  • Im Siwan as Lee Kwangmin

Related Post : Here

Episode 3

”Apa ini?!” tanya Sunhwa heran ketika ia dan Minwoo kembali berada di dalam ballroom, semua orang berkerumun di depan gunung gelas sampagne bersama kue ulang tahun, dengan Anna diantara kedua benda tersebut.

   Minwoo menjawab. ”Mungkin Anna hendak meniup lilin.”

   ”Ah.” Sunhwa mengangguk.

   Semua tamu undagan sudah berkumpul bersama-sama, Seulri dan Minji berdiri bersama Kwangmin, Jisung, dan Heegun tepat di dekat tempat Sunhwa dan Minwoo berdiri.

   Semua mendadak diam ketika Anna berbicara.

   ”Selamat malam teman-teman, aku mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada kalian yang telah berkenan hadir pada pesta ulang tahunku yang ketujuhbelas ini.” Kata Anna pada seluruh undangan. ”Aku sangat senang kalian bisa datang dan berbagi kebahagiaan bersamaku…”

   Para hadirin bertepuk tangan dan mulai menyanyikan lagu untuk Anna, dan Anna meniup lilinnya serta memotong kuenya.

   ”Karena aku tidak memiliki pacar atau orang spesial tertentu, sampagne dan kue-kue yang akan kupersembahkan bagi orang-orang tertentu seperti tradisi… akan kulakukan dengan undian.” Kekeh Anna menunjuk sebuah akuarium berbentuk bulat yang disediakan di sampingnya. ”Jadi, siapa pun bisa mendapatkan kue-kue spesial dan sampagne spesial dariku… maka akan kumulai dari dua orang spesial pertama…”

   Anna memasukkan tangannya ke dalam akuarium tersebut dan mengaduk-aduknya, lalu meraih sebuah bola. ”Di dalam bola ini, adalah nama-nama para tamu undangan yang sudah mengisi nama di buku tamu, dan yang mendapatkan kue dan sampagne pertama dariku ialah…” Anna mengeluarkan secarik kertas dari dalam bola kecil tersebut. ”Woah… Han Minwoo, kelas 3-A!”

   ”Mwo?!” Minwoo memekik.

   ”Woah! Daebak, kau dapat kue pertama dari Baek Anna~” senggol Sunhwa.

   Anna tersenyum. ”Han Minwoo dari kelas 3-A!” panggilnya dan tiba-tiba menunjuk Minwoo yang nampak bingung dan kaget bagaimana seorang Baek Anna bisa mengetahui dan mengenalnya. ”Minwoo-ya, silakan kesini…” panggilnya.

   ”Sudah sana!” Sunhwa mendorong Minwoo untuk maju ke depan.

   Minwoo menunduk dengan gugup saat merasakan semua orang menatapnya dengan bingung.

   ”Jamkaman! Han Minwoo yang peraih nilai sempurna dalam setiap pelajaran dan juara umum sekolah?” tanya Jisung pada teman-temannya.

   Kwangmin mengangguk. ”Ne, Han Minwoo yang itu.”

   ”Dia mendapatkan kue dari Anna, aigoo…” Seulri geleng-geleng. ”Kuharap dia tidak sakit perut, atau dia takkan bisa membantuku dalam pelajaran Matematika lagi.” Komentarnya.

   Minji, Kwangmin, Jisung dan Heegun tertawa.

   Minwoo membungkuk dan menyalami Anna di atas panggung, sementara Anna memberikannya piring berisi potongan kue dan segelas sampagne. ”Kamsahamnida, Anna-ssi.”

   ”Ani, tak perlu kikuk begitu. Silakan di makan.” Kata Anna sambil tersenyum.

   ”Sekarang? Disini?” ulang Minwoo kaget.

   ”Keurom.”

   ”Ah…” akhirnya Minwoo meraih garpu kecil dan membelah sedikit kuenya, lalu melahapnya.

   Para penontonnya bertepuk tangan.

   ”Sejujurnya…” komentar Heegun sambil bertepuk tangan. ”Aku tidak mengenali kutu buku itu hari ini.”

   ”Majyeo!” Jisung mengangguk. ”Dia menjadi sangat tampan.”

   Kwangmin terkekeh. ”Dia memang tampan… kalian saja yang malas memandanginya.”

   ”Jadi kau suka memandanginya, Kwangmin-ah?” tembak Seulri, membuat Jisung dan Heegun tertawa, sementara Minji cemberut. Kwangmin hanya tersenyum menanggapi Seulri.

   ”Dan kue kedua…” Anna masih menahan Minwoo, sambil mengaduk-aduk akuarium tersebut, dan meraih salah satu bolanya. ”Untuk… woah, Kim Seulri! Seulri-ya, silakan naik ke atas sini…”

   Sunhwa terbahak di tempatnya. ”Kim Seulri?! Minwoo pasti bahagia.”

   Sementara Seulri shock di tempatnya, apalagi Kwangmin, Jisung, dan Heegun sudah menertawakannya. Minji berbisik. ”Kau tak boleh kalah, Seulri-ya… jawab tantangannya, memakan kuenya tanpa sakit perut!”

   ”Oke!” Seulri akhirnya melangkah ke atas panggung dan menerima piring berisi kue, dan tentu saja senyuman memuakkan dari Anna saat memberikannya gelas sampagne. ”Gomapta, Anna-ya.” Seulri tersenyum super manis.

   Anna tersenyum. ”Kalian bisa bersulang… bukankah kalian partner in crime yang baik dalam pelajar Matematika?” bisiknya diantara Minwoo dan Seulri. Minwoo berhenti mengunyah, sementara Seulri meliriknya sinis.

   ”Jadi, kuminta kalian berdua bersulang, untuk kerjasama kalian…” senyumnya manis.

   Maka, terpaksalah Minwoo dan Seulri mengangkat gelas mereka di hadapan para undangan.

   ”One shot, one shot, one shot!” komando Anna, dan seisi ruangan mulai menyerukan hal yang sama.

   Seulri mengembuskan napasnya kesal, namun tetap menjaga agar ekspresinya tak terlihat para undangan. Tapi Minwoo, yang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan mereka saling menyilang untuk melakukan shot, bisa melihatnya.

   ”Mianhae.” Ucap Minwoo tak enak.

   ”Ini bukan salahmu, untuk apa kau minta maaf?” dengus Seulri. ”Sudahlah, kita lakukan dengan cepat! Baek Anna akan merasakan pembalasanku! Hitungan ketiga kita langsung minum, arasseo?!” perintah Seulri.

   Minwoo mengangguk.

   ”Hana, dul… set!”

   Keduanya langsung menenggak sampagne mereka dengan satu kali tegukan, dan diiringi tepukan meriah.

   ”Ah, terima kasih, Minwoo dan Seulri… semoga malam kalian, err… menyenangkan.” Ucap Anna setelah Minwoo dan Seulri kembali ke tempat mereka masing-masing dan sekarang Anna mempersilakan siapa saja yang mau mencicipi kuenya untuk memotong sendiri.

   Sunhwa tersenyum penuh arti ketika Minwoo kembali bersamanya. ”Love shot dengan Kim Seulri?” ia menyikut Minwoo. ”Kau pastilah mendapat pencerahan ketika kau memutuskan untuk datang malam ini.”

   ”Ah, diam saja kau!” balas Minwoo malu.

   ”Aigoo…” Sunhwa masih mengganggu sahabatnya tersebut.

   Sementara Seulri dengan wajah masam kembali bersama teman-temannya. Minji, Jisung, dan Heegun masih tertawa, Kwangmin juga nyengir. Mereka sama-sama geli mendapati fakta bahwa Seulri terpilih mendapatkan kue ’spesial’ dari musuh bebuyutannya sendiri.

   ”Bagaimana? Kau mau muntah?” tanya Heegun meledek.

   Seulri memutar matanya. ”Aku sedang kesal! Lebih baik kita minggir dari sini…” Seulri pergi, diikuti Minji. Jisung, Heegun, dan Kwangmin pun akhirnya memutuskan untuk mengikutinya duduk.

   Seulri mulai mengipasi lehernya dengan tangannya.

   ”Kau sepertinya benar-benar merasa naik darah dia mengajakmu naik ke atas panggung dan menerima kuenya…” komentar Jisung. ”Apa memang sememalukan itu menerima makanan dari musuhmu sendiri?” tanyanya benar-benar penasaran. ”Kau berkeringat sekali.”

   Minji mulai membantu mengipasi Seulri.

   ”Jinjja?! Aku tidak marah, hanya merasa kesal!” Seulri meneruskan mengipasi dirinya. ”Dan apakah AC-nya tidak berfungsi? Di hotel sebesar ini, ya ampun!” keluhnya.

   ”Tidak berfungsi?! Ini dingin sekali, Seulri-ya.” Sahut Heegun bingung.

   ”Huh! Sepertinya aku benar-benar marah!” Seulri melepaskan sepatunya. ”Sudahlah, aku akan ke kamar mandi! Kalian tunggu disini!” Seulri bangkit, menenteng sepatunya dengan langkah menghentak.

   ”Apa gadis-gadis selalu seperti itu jika bertengkar?” tanya Jisung pada Minji.

   ”Menurutku menerima kue dari Anna di depan semua orang ini benar-benar penghinaan baginya.” Jawab Minji sambil tertawa. ”Woah… sekarang mulai pesta dansa.”

   Heegun berdeham-deham.

   ”Ne, pesta dansa… lampu sudah gelap, akan semakin gelap.” Komentar Kwangmin. Dan benar saja, lampu semakin redup sementara musik pelan yang romantis mulai mengalun.

   ”Kwangmin-ah…” panggil Minji malu-malu.

   Kwangmin mengerti isyarat Minji. Ia meraih tangan Minji, dan Heegun, lalu mendorong keduanya ke lantai dansa. ”Selamat bersenang-senang. Aku lebih memilih menonton dari sini.”

   Minji shock! Awalnya ia kira Kwangmin yang mengajaknya berdansa, namun begitu Kwangmin menyerahkannya kepada Heegun, hatinya seolah jatuh berserakan. Padahal Heegun sudah mendekapnya erat dan mengajaknya berputar di lantai dansa.

   Jisung dan Kwangmin ber-highfive ria melihat Heegun begitu bahagia.

   ”Ah iya, semakin gelap begini… apa Seulri ingat jalan kembali ya?” tanya Jisung.

*           *           *

Melihat semua berdansa, Sunhwa mendesah berat. ”Aku ingin sekali berdansa, tapi jelas tidak denganmu, dan kau takkan mau. Kau mau pun, akan sangat menyedihkan tidak berdansa dengan pasangan sendiri.” Gumamnya sebal.

   Minwoo mengipasi dirinya.

   ”Minwoo-ya, apa menurutmu sebaiknya kita pulang?” tanyanya.

   ”Ah, molla~ kau mau pulang?”

   ”Belum sih, sekarang bahkan belum tengah malam…”

   ”Ya sudah, kau makan lagi saja… aku mau ke kamar mandi ya, sepertinya aku kurang cocok dengan sampagne yang tadi Anna berikan.” Pamit Minwoo.

   Sunhwa mengangguk. ”Keurae. Aku akan ke tempat pasta.”

   ”Baiklah. Tunggu disana saja.” Minwoo kemudian beranjak menuju kamar mandi yang terletak diluar ballroom. Ia membasuh wajahnya dan mengusapnya dengan tisu dan menatap bayangan wajahnya pada cermin. ”Kok aku sedikit pucat? Apakah ini pengaruh sampagne?”

   Digelengkannya kepalanya, dan ia berjalan keluar dari kamar mandi, sambil menemukan Anna yang menghampirinya. ”Oh, syukurlah…” katanya dengan terburu-buru menghampiri Minwoo.

   Minwoo mengernyit. ”Ada apa? Kenapa kau tidak di dalam, Anna-ssi?”

   ”Ada situasi darurat… sepertinya Seulri pingsan di kamar mandi, dan tak ada siapa-siapa disana, aku panik saat tadi ke kamar mandi. Syukurlah ada kau, kau bisa bantu aku?!”

   Kedua mata Minwoo melebar. ”Seulri pingsan?!”

   ”Ne, dia pingsan di kamar mandi. Sepertinya sampagne yang tadi kusajikan kurang cocok dengannya… terlalu keras!”

   Minwoo berlari ke arah kamar mandi perempuan diikuti oleh Anna. ”Itu… tolong bawa dia ke kamar 414, di lantai empat… itu kamarnya, aku sudah meminta pelayanku untuk memberikan obat penawar mabuk, ada di sana, kau tolong minumkan kepadanya ya…” pinta Anna.

   Minwoo mengangguk sambil menggendong Seulri yang tak sadarkan diri di lantai kamar mandi. ”Keringatnya banyak sekali…” komentar Minwoo. ”Apakah menurutmu ini tanda-tanda tidak cocok dengan sampagne?”

   ”Iya, membuat dehidrasi dan pingsan… ini kartu kamarnya, tolong ya…” pinta Anna lagi dengan wajah cemas.

   ”Ne.” Minwoo membawa tubuh lemas Seulri keluar dari dalam kamar mandi, dan mengikuti Anna menuju lift, Anna menekan tombol naik dan kisi-kisi lift langsung terbuka, Minwoo dengan Seulri pada gendongannya masuk.

   Anna tersenyum. ”Gomapta, Minwoo-ya.”

   ”Ne, sama-sama.” Minwoo mengangguk.

   Kisi-kisi lift tertutup, dan bunyi dentingan lift semakin samar terdengar. Anna tersenyum penuh kemenangan. ”Ah~ tak menyangka menjebak mereka bisa dengan semudah itu.” Kekehnya. ”Han Minwoo yang polos… dan Kim Seulri yang bodoh. Lihat siapa yang menang sekarang, Putri Cantik?”

*           *           *

Ballroom

”Kau benar-benar tak berniat berdansa, Kwangmin-ah?” tanya Jisung.

   Kwangmin menggeleng. ”Tidak sekarang. Kau pergi saja kalau mau berdansa, aku mau ambil minuman lagi.”

   ”Oke.”

   Setelah Jisung pergi, Kwangmin berjalan ke arah meja dengan sampagnesampagne beralkohol, diraihnya satu gelas dan menatap berkeliling. Pandangannya jatuh pada sosok gadis dengan blus sederhana, mengenakan kacamata, namun terlihat cemas menoleh ke kanan dan ke kiri. Kwangmin mengernyit, berusaha mengenali gadis itu dalam keadaan nyaris gelap gulita.

   Min Sunhwa.

   Kwangmin mendekatinya. ”Sunhwa-ssi. Kau tersesat?” tanya Kwangmin begitu sudah mendekat.

   Sunhwa mendongak, kaget. ”Oh, aniyo, Kwangmin-ssi.”

   ”Kau terlihat bingung.”

   ”Aku sedang mencari Minwoo. Apakah kau melihatnya?”

   Kwangmin menggeleng. ”Aku tidak melihatnya, mungkin dia sedang ke kamar mandi.”

   ”Aku baru saja dari sana, dan tak ada siapa-siapa disana.”

   ”Jinjja?!” Kwangmin mengernyit, dan menyipitkan matanya menatap seisi ruangan, berusaha membantu Sunhwa mencari sahabatnya. ”Oh ya, kau bilang tadi kau dari kamar mandi…” kata Kwangmin mengingat sesuatu.

   Sunhwa mengangguk, tak acuh, masih berusaha mencari-cari Minwoo.

   ”Kau melihat Seulri disana? Dia tadi pamit ke kamar mandi dan belum kembali sama sekali.” Kwangmin sedikit bingung.

   ”Oh?! Minwoo juga bilang dia mau ke kamar mandi, tapi dia tak kembali…”

   Kwangmin terlihat bingung. ”Aneh. Ya sudah kau tunggu disini saja, aku akan coba ke lantai dansa, barangkali disana terlihat Minwoo. Kalau kau disini melihat Seulri katakan padanya kami juga mencarinya.”

   ”Oke.”

   Kwangmin menembus kerumunan orang-orang yang berdansa. Ia masih bisa melihat Minji dan Heegun, juga Jisung yang berdansa dengan gadis dari kelas lain. Bahkan Baek Anna dengan seorang pria juga tengah berdansa. Sebetulnya tak begitu sulit jika ia hendak mencari Seulri di tengah kerumunan begini, tapi Seulri tak terlihat. Begitu juga Han Minwoo.

   Kwangmin kembali pada Sunhwa yang masih berusaha menghubungi Minwoo melalui ponselnya, dan ia ikut menghubungi Seulri dengan ponselnya. Keduanya tak dapat diraih.

   ”Tidak ada tanda-tanda Han Minwoo di lantai dansa.”

   ”Kim Seulri juga tidak lewat sini.” Sunhwa kembali memasukkan ponselnya ke dalam tasnya. ”Aneh. Minwoo tak mungkin meninggalkanku sendiri, Minwoo juga bukan tipe pria yang suka berdansa.”

   Kwangmin mengembalikan ponselnya ke dalam saku. ”Kau coba tunggu saja sampai nanti pulang.”

   ”Aish!” keluh Sunhwa, lalu ia melirik Kwangmin yang sepertinya tidak berniat pergi dari sampingnya. Sedikit, ia mengernyit. Sejak kapan Lee Kwangmin yang terkenal itu mengenalnya, dan mengajaknya berbicara? ”Kwangmin-ssi, kau tidak berdansa seperti teman-temanmu?”

   Kwangmin menoleh dan menggeleng, tak lupa tersenyum. ”Kau sendiri? Apa menunggu Minwoo untuk berdansa?”

   ”Aish, mana mungkin menunggu dia?! Aku tidak mau berdansa dengan sahabatku sendiri… tidak ada feel-nya!” sahut Sunhwa santai.

   ”Jinjja?!” Kwangmin terlihat berpikir.

   ”Dan kau kenapa? Bukankah banyak yang mau berdansa denganmu? Dan menunggumu mengajak mereka berdansa?”

   ”Sunhwa-ssi,” kata Kwangmin sambil menatapnya. ”Menurutmu banyak yang mau berdansa denganku?”

   Sunhwa mengangguk, mengernyit. Bukankah hal itu sudah jelas?

   ”Dan menurutmu, apakah jika aku mengajak siapa pun berdansa, mereka takkan menolak?”

   Sunhwa mengernyit. Pria ini mau pamer atau apa, pikirnya. ”Tentu saja. Kau kan Lee Kwangmin.”

   Kwangmin tertawa. ”Kalau begitu, Min Sunhwa-ssi, berdansalah denganku.”

   ”Mwo?!” kedua mata Sunhwa membelalak, tak percaya dengan apa yang ia dengar sendiri.

   ”Bukankah kau bilang takkan ada yang menolakku, jadi aku mengajakmu.”

   ”Tapi… tapi…”

   Kwangmin sudah membawanya ke lantai dansa dan meletakkan tangannya pada pinggang Sunhwa, yang membuat Sunhwa tergagap. Tetapi senyum ramah Kwangmin membuatnya tenang. Mereka mulai berputar di tempat.

   ”Kwangmin berdansa? Dengan siapa itu?” tanya Heegun masih dengan Minji di dalam dekapannya.

   Minji menoleh, dan mendengus kesal. ”Itu kan teman sekelasku! Min Sunhwa!”

*           *           *

Minwoo berjalan di koridor hotel lantai empat, sambil terus membawa Seulri dalam gendongannya, mencari kamar 414. Setelah ketemu, dengan susah payah Minwoo menggesek kartunya, dan mendorong pintu tersebut terbuka dan membawa masuk Seulri ke dalam.

   Dibaringkannya Seulri di atas tempat tidur, dan ia langsung khawatir melihat betapa banyaknya keringat yang muncul di dahi dan leher Seulri. Minwoo mengambil handuk dari dalam kamar mandi dan mengusapkan peluh pada dahi dan lehernya sendiri, kemudian mengambil satu lagi, dan mengusap wajah dan leher Seulri.

   ”Ah iya, kata Anna ada obat… dimana obatnya?” Minwoo menatap sekelilingnya, dan melihat dua buah botol di atas meja. Minwoo mendekati meja, dan melihat kertas yang ada di atasnya.

   Obat penawar mabuk.

   ”Ah ini dia…” Minwoo membuka satu botol, dan menatap botol satunya. ”Ada dua… kurasa aku juga harus minum, aku juga mabuk sepertinya.” Ia mengangkat bahu dan menenggak semua isinya. Kemudian membuka botol satunya lagi dan mendekat ke arah Seulri yang mulai bergerak dalam tidurnya.

   Diminumkannya perlahan obat tersebut kepada Seulri, dan Seulri perlahan-lahan membuka matanya, terlihat lemas dan tak bertenaga. Seulri menatapnya sendu, masih antara sadar dan tidak, berbisik. ”Ini apa?”

   ”Penawar mabuk kata Anna.” Jawab Minwoo.

   Seulri bergulik gelisah, begitu juga dengan Minwoo. Keduanya mulai merasakan perasaan tak nyaman, dan panas di dalam diri mereka semakin menjadi-jadi. Kedua mata mereka mengabur tanpa alasan yang jelas, kepala mereka terasa pening dan berputar.

   Hal terakhir yang mereka ingat hanyalah…

   Obat penawar mabuk.

*           *           *

Pesta sudah benar-benar berakhir.

   ”Sudah menemukan Minwoo?” tanya Kwangmin pada Sunhwa yang terlihat cemas dan bingung di luar ball room. Satu persatu tamu mulai meninggalkan ballroom, melewati mereka. Tapi tak ada Minwoo diantara mereka.

   Sunhwa menggeleng, sambil menggigit bibirnya.

   ”Aku juga belum melihat Seulri.” Komentar Kwangmin.

   ”Kwangmin-ah!”

   Kwangmin menoleh, Heegun dan Minji berlari menghampirinya dan Sunhwa. Heegun terlihat sangat bahagia, lain dengan Minji yang nampak sinis dengan keberadaan Sunhwa di samping Kwangmin.

   ”Kau bilang kau tak mau berdansa?!” tanya Minji cemberut.

   ”Oh, dia yang berdansa bersamamu?! Siapa dia?!” tanya Heegun penasaran.

   Sunhwa membungkuk. ”Min Sunhwa-imnida.”

   ”Oh! Kau gadis terpintar di sekolah itu!”

   Kwangmin mengangguk. ”Ah, kalian ada yang melihat Seulri?” tanyanya kepada Minji dan Heegun.

   Keduanya menggeleng.

   ”Kukira dia tadi ke toilet sebelum kami berdansa,” jawab Heegun.

   ”Dan dia belum kembali sampai sekarang. Begitu juga dengan Han Minwoo, teman Sunhwa.” Kwangmin menjelaskan.

   ”Mwo?! Han Minwoo juga tak ada?” Minji langsung mengernyit mendengar pernyataan Kwangmin. ”Bukankah mereka berdua menerima kue dan sampagne dari Baek Anna?”

   Sunhwa mendongak dari kesibukannya berusaha menghubungi Minwoo.

   ”Apakah menurut kalian, Baek Anna memasukkan sesuatu dalam minuman dan menyekap mereka entah kemana?”

   ”Hei, kau terlalu berlebihan.” Potong Kwangmin.

   ”Tapi bisa saja! Anna membenci Seulri!” seru Minji.

   ”Baiklah jika itu memang menjelaskan kepergian Seulri, tapi bagaimana dengan Minwoo?” tanya Kwangmin. ”Anna tidak punya dendam apa pun kepada Minwoo bukan?”

   Minji melirik sinis ke arah Sunwha. ”Siapa yang perduli kepadanya? Kenapa kau perduli kepadanya?!”

   ”Apa maksudmu?!” tanya Sunhwa tersinggung.

   ”Ya, geumanhae… yang jelas itu berlebihan!” potong Kwangmin. ”Kurasa ini tak ada sangkut pautnya dengan Anna. Anna terus berada di dalam, berdansa dengan teman bulenya… lagipula jika dia memasukkan sesuatu ke dalam minuman dan Seulri sakit perut, Seulri pasti ada di kamar mandi sekarang. Dan menurut Sunhwa tak ada siapa-siapa disana.”

   Jisung menghampiri mereka juga. ”Aku tak melihat Seulri. Juga Han Minwoo.”

   ”Aneh.” Gumam Minji masih mencurigai Anna. ”Seulri bukan tipe orang yang akan pergi begitu saja meninggalkan kita. Apalagi dia tidak membawa mobil. Apa menurutmu Kyujong menjemputnya?”

   ”Ah, bisa saja.” Heegun mengangguk.

   Minji menginjak kakinya dengan sepatu tumit tingginya, membuat Heegun menjerit. ”Kau ini bodoh ya?! Jelas-jelas Kyujong tidak bisa datang, dan tak mungkin Seulri tidak mengabariku!”

   ”Aaarrgggghhhh…” Heegun lompat-lompat memegangi kakinya, mengerang.

   ”Kwangmin-ah, kau kan punya koneksi soal hotel, bisa kau minta perika siapa saja yang menginap disini malam ini? Barangkali saja Seulri kelelahan…” usul Jisung.

   Kwangmin berpikir sebentar. ”Kau benar juga.” Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah nomor, setelah menunggu sebentar ia memerintahkan seseorang yang ia hubungi. ”Cari apakah di hotel Sheraton Seoul ada tamu atas nama Kim Seulri! Baik, kutunggu…”

   Sunhwa berdiri tak nyaman di tempatnya.

   ”Kenapa kau tidak sekalian bertanya kira-kira ada tamu bernama Han Minwoo?” tanya Jisung.

   Baru Kwangmin hendak menjawab, Minji sudah tertawa meremehkan. ”Oh yang benar saja, Jisung-ah. Tak mungkin Han Minwoo menginap disini, memang dia mampu apa?!”

   Heegun tertawa, dan Sunhwa mengembuskan napasnya, sambil melirik Minji kesal. Minji balas menatapnya sinis.

   ”Aku sendiri meragukan kalau Seulri menginap disini.” Kwangmin berkomentar. ”Sunhwa-ssi, apa tidak ada kemungkinan kalau Minwoo sudah kembali ke rumahnya sendirian?”

   Sunhwa berpikir sebentar kemudian mengangkat bahu. ”Minwoo bukan tipe laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Ia selalu mengantarku kembali ke rumah, ia tak mungkin pulang begitu saja tanpa memberitahuku. Aku khawatir ia terlibat dalam suatu masalah.” Katanya cemas.

   ”Ah~ kau perhatian sekali kepadanya, kau pasti kekasihnya.”

   Sunhwa memutar matanya menanggapi kalimat Minji barusan.

   ”Tapi ini sudah larut sekali, Sunhwa-ssi, sebaiknya kau pulang saja… aku yakin Han Minwoo bisa menjaga dirinya sendiri. Jika kau pulang larut, kasihan kedua orangtuamu nanti…”

   ”Tapi…”

   ”Heegun-ah, kau antar Minji pulang, Jisung-ah, kau antar Sunhwa-ssi pulang… aku akan mencoba mencari Seulri dan Minwoo.”

   ”Eh, tapi…” protes keempatnya.

   ”Tak apa, kalian berdua gadis-gadis jangan pulang larut. Setelah ada kabar, akan kuhubungi kalian… kalau belum ada kabar dan kalian berdua mau membantuku, silakan saja… yang penting sekarang antar Minji dan Sunhwa pulang terlebih dahulu.” Ujar Kwangmin.

   Sunhwa hendak menolak, tapi Jisung memotongnya. ”Dia benar, Sunhwa-ssi… lebih baik kau pulang.”

   ”Ne, dia akan menghubungimu kalau sudah ada kabar.” Bujuk Heegun juga.

   ”Bagaimana caranya?” tanya Minji meremehkan.

   ”Aku punya nomor ponselmu,” kata Kwangmin diluar dugaan, membuat Heegun, Jisung, dan Minji terperangah.

   ”Kalau begitu, tolong ya…” pinta Sunhwa penuh harap.

   ”Ne.”

   Heegun memaksa Minji pergi dengan mobilnya, meski Minji masih ingin bersama Kwangmin, sementara Sunhwa dan Jisung pergi dengan patuh. Kwangmin kemudian memeriksa ponselnya, seorang pelayannya sudah menghubunginya kembali.

   ”Ya?” jawabnya.

   ”Tuan Muda, tak ada satu tamu pun yang bernama Kim Seulri di hotel Sheraton Seoul.”

   Kwangmin menghela napas. ”Coba tolong periksa siapa-siapa saja murid Inha High School yang menginap di Sheraton Seoul malam ini. Aku butuh data itu secepatnya.”

   ”Baik, Tuan Muda.”

   Kwangmin memutuskan sambungan teleponnya sambil menuju valet parking, dan mencari nama Kyujong di kontaknya, dan menghubunginya.

   ”Yeoboseyo.”

   ”Kyujong-ah, eodiya?”

   ”Jalan-jalan bersama Ibuku, wae?

   ”Aniyo, kukira kau bersama Seulri.”

   ”Ani. Memang ada apa?”

   ”Aniyo, gwenchana…” Kwangmin memutuskan sambungan kembali, dan melangkah menuruni undakan, menghampiri M3-nya yang sudah dibawa oleh petugas valet di hadapannya. Kwangmin mulai mengendarai mobilnya menembus lalu lintas malam hari di kota Seoul.

   Ponselnya kembali berbunyi.

   ”Bagaimana?” tanyanya langsung, setelah memasang ear piece di telinganya.

   ”Keluarga Baek memesan beberapa kamar untuk pesta hari ini sejak kemarin siang. Mereka memesan hingga besok. Selebihnya, tak ada lagi, Tuan Muda.

   Kwangmin mengangguk. ”Baiklah.” Kwangmin meminggirkan mobilnya dan mencari nama Sunhwa di ponselnya, dan dihubunginya.

   ”Ne, yeoboseyo.” Jawab Sunhwa.

   ”Sunhwa-ssi, ini aku Kwangmin. Apakah kau sudah menerima kabar dari Han Minwoo?”

   ”Belum, Kwangmin-ssi. Aku telepon ke rumahnya, adiknya bilang ia belum pulang.” Suara Sunhwa terdengar cemas. Kwangmin menghela napas dalam-dalam, masalahnya sejauh ini tak ada tanda-tanda keberadaan Seulri dan Minwoo.

   ”Kalau begitu aku akan terus mencari. Kau istirahat saja, nanti akan kuhubungi jika berhasil menemukannya.”

   ”Ne, kamsahamnida, Kwangmin-ssi.”

   Tapi apa daya, bahkan setelah Jisung dan Heegun membantu pencarian pun, Seulri dan Minwoo tetap tidak terlihat.

*           *           *

Esok Paginya…

Seulri merasa sekujur tubuhnya kaku dan sakit, matanya pun terasa berat, seolah-olah lem perekat membuatnya tak bisa membukanya. Ia dilanda keinginan untuk muntah, namun rasanya begitu berat dan sulit untuk bangun. Tak pernah dalam hidupnya, ia merasa begitu sulit untuk bangun. Meski ia benci bangun pagi.

   Ia merasa, ia harus bangun, sekarang, penting!

   Ia tak menyadari bahwa ia tidak sendiri, di sampingnya terbaring Minwoo dengan keadaan yang sama mengenaskannya dengan dirinya. Tubuhnya terasa sakit, matanya berat, dan perutnya seolah diaduk. Ia ingin muntah, dan ia tahu ada yang tak beres, dengan sakitnya kepalanya.

   Kemudian, seperti yang bisa ditebak, hampir pada saat yang bersamaan Minwoo dan Seulri membuka mata mereka. Keduanya seolah menatap ke arah cermin, karena kedua mata mereka bertemu. Awalnya keduanya sama sekali tidak sadar kalau mata yang balas menatap mereka, bukanlah pantulan bayangan mereka.

   Sampai akhirnya kesadaran mereka berkumpul, dan keduanya bisa melihat dengan baik, siapa yang ada di samping mereka.

   ”AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA‼!”

-To Be Continued-

Hulaaaa…

Maaf banget minggu lalu gak sempet publish, 3 Minggu terakhir aku disibukkan sama acara kampus huhuhuhu… sampe bahkan cuma buat posting ff yang udah selesai pun nggak sempet. Ini juga ngantuk-ngantuk abis UTS inget harus posting karena minggu lalu lupa posting, jadi nggak aku edit lagi… kalau ada salah-salah kata ya udin maklumin aje ye, kesempurnaan cuma punya situ-situ pada yang menemukan kesalahan disini *ngancem* wkwkwkwkwk…

anyway, komen komen komen… see you hopefully soon ^^

27 thoughts on “[DramaFiction] BitterSweet17 ~Episode 3~

  1. Woaaaaaa, mkin seruuuu..feels like watching a real drama..si Anna licik yah, ksian Minwoo yg hrus ikutan jd krban
    Dan itu itu, Kwangmin sm Sunhwa, like my prediction..
    Really curious about the next chap, gidarilkke :))

  2. kuranggg kurang panjang…. hahahahah…..
    ihh aku malah suka sunhwa n kwangmin feelnya dapettttt… mereka kaya yijung n gaeul… so sweet dgn caranya sendiri. banyakin scene mereka yah.. hahahahha…..
    gmana itu seulri sama minwo ??? pasti ntar seulri ngoceh panjang lebar sama minwo, n minwo cma bisa diem *sok tau*
    hye cupid buruan bikin minwoo sama seulri lope2… kkkkkk…
    *abaikan koment gaje ini*

  3. Woaaaaaa, mkin seruuuu..feels like watching a real drama..si Anna licik yah, ksian Minwoo yg hrus ikutan jd krban
    Dan itu itu, Kwangmin sm Sunhwa, like my prediction..
    Really curious about the next chap, gidarilkkeyeo eonni🙂

  4. wkt bc feelnya bnr2 nyata,berasa bkn crita drama..
    aku ga sanggup ngebayangain haejin kebablasan sm kisoep..
    gimana nasip jinhae??

  5. dksh apa.an sih sama baek anna yg cntik mpe 2org itu teler..
    wkwkwk

    ksian bgd tm2 mreka berdua mpe bngung gtu..
    ad benih cnta antara kwangmin k sunhwaa..
    ckckck
    tp minji cmburu..

    gmn ya reaksi minwoo ma seulri selanjutnya?
    pnasaran!
    aq tnggu episode slanjutnya ah..
    ^^

  6. uwaa, ternyata ini toh rencana liciknya Anna.
    Ck ck
    Kenapa sih eonni selalu d’cut-nya di bagian seru. Saya kan jadi penasaran TvT

    Omo! Omo! Jgn bilang nanti Kwang Min jadian sama Sunhwa… >.<

    Ditunggu lanjutannya, eonni.
    Sukses kuliahnya🙂

  7. *jitak anna , jahat bgt jd cewe ><
    wuaaa apa yg terjadi sama seulri dan minwoo ?
    huahh penasaran tingkat dewa #plakk
    cieee kwangmin suka sama sunhwa ya hihi
    ceritanya masih panjang , siap menunggu🙂

  8. anna sadis bgt! Licik! Tega! Jahat! #emosi
    bukanny ngasih obat menyembuh mabuk tp malah obat penyubur mabuk (read. Obat kuat) ea? = =a *penasaran* #reader yadong
    kwangmin tepe tepe xD

  9. kyaaaaaa semakin lama makin seru tampah penasaran?anna pemer jahat gemes pengen jitak “plak” gimana nasip seulri ma minwook apa yg terjadi ma mereka tidur bersama “otak yadong kambuh” kayaknya kwang min suka ma sunhwa deh?tunggu lanjutanya chinggu.

  10. buahaha suka sama scenenya kwangmin sunhwa :3 feelnya dapet banget. Si kwangmin udah suka sama sunhwa kayaknya, sampe punya nomernya :3 eciyeeee xD
    si anna licik bangaii seh -,- bete!
    Trus itu seulri sama minwoo kenapaaaaaa? Akhirnya bikin penasaran ><
    Next ditunggu banget :))

  11. OMO!!!! 0_0
    Apa yg terjadi pada Seulri dan Minwo?? Itu ngapain di kamr hotel? Gak ngapa2in kan????
    Anna bnr2 pngen bales dendam sama Seulri. Kasian Minwoo ikut jd korban…
    Sunhwa sama Kwangmin feelny emg dpt bgt, so sweetny dgn cramereka sendir, buat minji, sabar aja ya. Cocok Sunhwa sma Kwangmin..
    Aaaa, eonni, kurang panjang, tapi semua scene aku ska semuanya.
    Maaf sbnrny udh bca bbrp hri kmren tp bru smpet komen *curhat*
    Ok deh, dtnggu next episode, deh. Figting eonn :)))

  12. jadi inget drama bbf yang si temenya jandi ngejebak si jandi…

    BTW, pas syuting gimana yak perasaan Haejin.. Liat cwo seksoy nan imut kaya kiseop topless.. *aih*
    Lanjut unnie ^^

  13. Astagaaaaaaa..astagaaaa…gw baru baca. Lama gak kesini udah nyampe part 4

    Ok. Calm down, ini baek anna bener-bener pengen minta dijambak ja. Asli ngeselin banget deh, errrrr. Ya ampun, gadis-gadis kaya itu segitu amat persaingannya. Haha. Seriusan, gw kira Kyujong boong ketemu ibunya, ternyata beneran ya. Syukur deh, gw malah ngira yg suka nelpon dia si Anna songong itu. Ternyata bukan ya. Hihi

    Btw, chemistry Kwangmin-Sunhwa dapet bgt, mereka cck. Moga jd next couple ya di sini. Part 3nya agak kurang panjang dari sebelumnya sih. Tapi gak masalah, feel waktu ngebacanya udah cetar membahana badai.

  14. kenapa si rencana jahat cast antogonis pasti aja berhasil? *protes*
    #digiles

    well, kalo enggak begitu, plot kagak bakalan jalan ye.. *angguk2* #digileslagi

    AAAAAAAAA..
    Itu tereakan serak2 basahnya haejin pasti kenceng bgt dah.. #plak
    kesian dih seulri nya.. Dijebak masa..😦

    *meluncur ke episot 4

  15. Anna tega banget;_;
    Kasian minwoo ga salah apa2;_;
    Itu kwangmin suka sama sunhwa yaa?? Wkwkwk macem we got married aja
    Nice ff onnie😉

  16. baek annaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa /bejek/

    eh ini kyujongnya kok jadi….

    masya allah itu endingnya T____T babangku merampas kesucian seulri…

    babang, tanggung jawab!!

    alkhjgdjkjhsak LEE KWANGMIN AM WITH YA!!!❤❤

  17. Kok si anna nih jahat banget ya….harusnya td jgn diminum tu obatnya trus td gak usah ke kmr langdung aj diantar pulang wkkkwkkk ngayal banget ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s