[DramaFiction] BitterSweet17 ~Episode 1~

Title : Dalkomhan Yeolilgob

Also Known As : BitterSweet17

Genre : Romance Comedy, Youth

Episodes : 14

Broadcast Network  : SBS

Broadcast Periode : 2012 – 10 – 10 To TBA

Air Time : Wednesday 21:55

Original Soundtrack: Dalkomhan Yeolilgob OST

  • One In A Million – (Covered By : U Kiss Kiseop)

Main Cast :

  • Lee Kiseop as Han Minwoo
  • Lee Haejin as Kim Seulri
  • Jung Yeonjoo as Min Sunhwa
  • Lee Minho as Jung Kyujong
  • Im Siwan as Lee Kwangmin

Related Post : Here

~Episode 1~

Kalau kalian berpikir Inha High, terisi dengan prestasi-prestasi tinggi dan catatan emas murid-muridnya, kalian salah. Inha High, seperti juga sekolah lainnya, tanpa diperintah, dan secara otomatis membagi kalangan murid-muridnya menjadi dua bagian.

   Seperti yang kalian lihat di pelataran parkir yang begitu asri ini, sebuah mobil mewah, berwarna hitam, dengan kaca gelap, yang tentu saja membuat pandangan orang-orang yang ingin melihat ke dalam terganggu. Tapi, sekilas melihat mobilnya saja, kalian sudah akan tahu itu mobil siapa.

   Dan memang benar saja, kemudian seorang pria tampan dengan gaya rambut mengikuti perkembangan pria maskulin di zaman maju ini keluar dengan menyandarkan tasnya di bahu, sambil beranjak menuju pintu penumpang. Dan, seperti biasa… seorang Pangeran, memang selayaknya ditemani oleh seorang Putri.

   Jung Kyujong, tentu saja si pria pesona dua puluh juta, yang hanya dengan satu kedipan mata, dan satu kibasan uang tentunya, para wanita langsung rela antre demi mendapatkannya, meski posisi di sampingnya, secara resmi disandang oleh seorang gadis yang baru saja keluar dari pintunya yang mengkilap.

   Kim Seulri.

   Berbicara mengenai Kim Seulri. Semua mata pria, pasti selalu tertuju padanya. Jika ia berjalan, ia tahu betul para pria akan mabuk kepayang dibuat olehnya. Dan ia suka menjadi pusat perhatian. Dengan membetulkan letak gelang-gelang keemasannya, ia menggelayut pada lengan Kyujong dan berjalan masuk ke dalam gedung sekolah.

   Dan menyisakan seseorang menatap mereka dengan iri.

   Jika ada kalangan semacam Kyujong-Seulri, tentu saja ada kalangan lain seperti pria yang menatap Seulri dengan lembut dari balik pepohonan rimbun di halaman sekolah ini. Kalangan macam ini, memilki otak yang cerdas, namun kemampuan terbatas.

   Han Minwoo.

   Juga ada tipe macam Min Sunhwa. Meski tak heran pria mana pun pasti menginginkan dan mendambakan seorang Kim Seulri sebagai gandengan mereka, tak semua wanita mendambakan seorang Jung Kyujong sebagai kekasihnya, inilah tipikal gadis semacam Han Minwoo.

   ”Tch! Menatapi gadis itu lagi?!” Sunhwa nyengir melipat tangannya.

   ”Sunhwa-ya, geumanhae.” Minwoo mengalihkan pandangannya dari kedua insan yang sudah menghilang dibalik pintu sekolah, dan memilih meneruskan perjalanannya menuju ke kelas, dengan sahabat super cerewet di sampingnya.

   ”Ya! Minwoo-ya, kalau kau memang laki-laki, kau seharusnya mendekatinya, bukan hanya memandanginya dari jauh. Aish!” gemas Sunhwa. ”Kau sepert pria-pria melodrama yang kasihnya tak sampai saja.”

   ”Sunhwa-ya, kecilkan suaramu! Kalau orang-orang Kyujong mendengarmu, habis aku.” Desis Minwoo ketakutan menatap ke sekitarnya, dan kembali meluruskan letak kacamatanya yang tebal.

   Sunhwa geleng-geleng. ”Dengar, Minwoo-ya, dia mengenalmu! Dia menyukaimu, kau harus berani mendekatinya!”

   ”Tidak bisa! Dia bersama Kyujong sekarang.” Minwoo menjawab dengan jengkel.

   ”Kau yakin mereka benar-benar bersama? Bukankah mereka hanya teman dalam berbagi keuntungan?” sahut Sunhwa sambil menyipit, dan Minwoo menatapnya tak mengerti. ”Ah, sudahlah… jika Kim Seulri bisa memintamu untuk menjawab semua pertanyaan matematikanya, seharusnya kau juga bisa memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajaknya kencan.”

   Minwoo menggeleng-gelengkan kepalanya kuat, tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika ia berani mengajak Kim Seulri kencan. Membayangkannya saja ia tidak bisa sama sekali.

*           *           *

”Kalau begitu aku ke kelas,”

    ”Oke,” Seulri mengusap pipi Kyujong, dan Kyujong meraih pinggul Seulri, dan mengecup pipinya singkat, sementara Seulri terkikik. ”Be good, Boy, kita sedang di sekolah.” Bisiknya.

   Ya, pasangan itu memang begitu menikmati seluruh mata yang menatap ke arah mereka yang tengah memamerkan kemesraan mereka. Bahkan memblokir anak-anak lain yang hendak masuk, sehingga mereka terpaksa berdiri diam, menunggu sepasang kekasih ini berhenti bermesraan, seperti Minwoo misalnya, dan Sunhwa yang juga berdiri disampingnya, menatapi pemandangan yang hampir setiap hari selalu mereka saksikan.

   ”Tsk.” Keluh Sunhwa.

   Minwoo mengalihkan pandangannya, dan berusaha menatap kesegala arah, asalkan tidak kepada pasangan yang tengah asyik berpelukan di pintu tersebut. Sunhwa mendekatkan bibirnya pada telinga Minwoo.

   ”Minwoo-ya, kenapa tidak kita protes saja pada mereka? Itu kan kelas kita juga, kita berhak masuk ke dalam.” Katanya.

   Minwoo menggeleng. ”Jangan, Sunhwa-ya.”

   ”Ah, kenapa sih?! Jadi kita harus menunggu hingga bel berdering?!”

   Dan KRING! Bunyi bel benar-benar menyelamatkan mereka. Kyujong mengucapkan selamat tinggal pada Seulri, dan beranjak menuju kelasnya sendiri, sementara Seulri berbalik, tidak memperdulikan tatapan Minwoo dan Sunhwa yang menatap mereka. Minwoo yang menatapnya penuh arti, dan Sunhwa yang jelas-jelas terlihat meremehkan dan berani.

   Seulri duduk di tempat duduknya, yang bisa dibilang cukup menjadi keberuntungan bagi Minwoo. Ya, selama ini, Kim Seulri, gadis yang ia kagumi dari jauh, sejak tingkat satu sekolah menengah itu, selalu duduk di depannya. Meski begitu, jangan anggap hubungan mereka berdua dekat. Minwoo cukup tahu diri untuk tidak berharap pada Seulri yang jelas sangat pemilih dalam hal pergaulan. Bahkan Minwoo ragu, meski mereka duduk cukup dekat, Kim Seulri mengetahui namanya.

   Jangankan namanya, menoleh ke belakang sekilas saja Seulri enggan. Tapi hal itu tidak membuat perasaan Minwoo kepadanya luntur. Justru, sebagai laki-laki introvert dan pemalu, Minwoo sudah cukup bersyukur diberikan kesempatan untuk duduk di belakang gadis cantik tersebut.

   Minwoo meletakan tasnya di atas meja, kemudian duduk di kursinya. Tak lama, wangi segar mawar yang familiar mulai menguar, dan Minwoo menunduk, merasakan Seulri duduk di hadapannya sambil bergumam atau mengeluh mengenai mengapa ia harus sekolah, Minwoo tersenyum tipis mendengarkannya.

   ”Minwoo-ya,”

   ”Oh?” Minwoo menoleh sambil mengeluarkan buku untuk mata pelajaran pertama kelas mereka, Matematika.

   Dongwan, teman sebangkunya, yang tak jauh berbeda kasta dengannya bertanya. ”Kudengar Yun Sunsaeng akan memberikan kita tes mendadak hari ini.” Suaranya terdengar cemas.

   ”Jeongmal?” kedua mata Minwoo melebar, jantungnya berdegup kencang, untuk alasan yang jelas jauh dari tes dadakan tersebut. Ya, jika memang hari ini akan diadakan tes Matematika, maka hal itu berarti… kesempatan. Ya, kesempatan langkanya, yang bisa terjadi hanya sekali dalam sebulan, mungkin.

   Minwoo menghitung mundur di dalam hati, ia yakin gadis di depannya akan segera menoleh kepadanya. Apalagi, Dongwan, tanpa ia minta, dan tanpa yang bersangkutan sadari, membantunya karena telah berbicara keras-keras soal tes dadakan matematika tersebut.

   ”Ya, benarkah yang kudengar?!”

   BINGO!

   Minwoo dan Dongwan menoleh. Seulri, dengan wajah panik dan pucat, matanya melebar, dan menatap keduanya ngeri dari bangkunya.

   ”A…apa?” Dongwan, yang tentu saja, seperti banyak pria lainnya, akan gemetaran jika mendapati kembang sekolah, Kim Seulri, berbicara kepadanya, langsung. Dan Minwoo menyikut rusuknya kuat untuk membuatnya tidak terbata-bata.

   ”Yang kudengar tadi! Yun Sunsaengnim akan mengadakan tes dadakan, itu benar? Itu benar?!” kedua mata cokelat itu semakin membesar, meminta jawaban.

   Satu hal lagi yang Minwoo sukai dari Seulri, ia nampak begitu ’biasa’ jika sudah menghadapi mata pelajaran Matematika. Minwoo senang mendapati bahwa gadis yang terlihat luar biasa angkuh tersebut memiliki kelemahan dan Minwoo secara tulus berharap, suatu saat nanti ia diberikan kesempatan untuk dapat mengajarkan Seulri.

   ”Minji-ya, ya!” Seulri mendorong-dorong tubuh teman sebangkunya yang terlihat mengantuk untuk menoleh ke belakang.

   Shim Minji nampak terhuyung saat sudah membalik tubuhnya menatap Dongwan dan Minwoo. ”Apa?!” tanyanya kesal karena diganggu dari tidurnya. ”Kenapa aku harus menghadap ke belakang, Seulri-ya?”

   ”Aku dengar dari Dongwan barusan, dia bertanya kepada Minwoo kalau Yun Sunsaengnim akan mengadakan tes dadakan. Benar?!” kini Seulri menatap lurus pada mata Minwoo.

   Minwoo bisa merasakan kepakan sayap kupu-kupu pada perutnya, hanya karena Kim Seulri menyebut namanya.

   ”Han Minwoo! Jawab, benar?!” kini Minji ikut-ikut panik, dan pucat.

   Minwoo mengangkat bahu, tanpa ia sadari ia mencoba meniru gaya Jung Kyujong untuk terlihat keren di hadapan Seulri. ”Aku juga baru dengar dari Dongwan.” Sahutnya pelan.

   ”Ah, eotokhe?!” keluh Seulri panik, nampak mulai pucat, dan berkeringat dingin, meremas-remas tangannya.

   ”Gwenchana~” tanpa bisa dicegah, Minwoo menenangkannya. ”Soal untuk kita…” Minwoo merasa bahagia bisa menggunakan bentuk jamak untuk dirinya dan Seulri. ”Pasti sama… absen kita pada huruf ganjil, aku bisa membantumu jika kau mau.”

   Minji menutup wajahnya dengan telapak tangannya, putus asa. ”Ini tidak adil! Kenapa pria pintar macam Minwoo absennya harus ganjil dan sama seperti gadis bodoh macam Kim Seulri! Bagaimana nasibku?!”

   ”Ah!” Seulri nampak bahagia. ”Gomapta, Minwoo-ya, aku mengandalkanmu,” dan dia menepuk bahu Minwoo ringan, kemudian menertawai ekspresi pasrah Minji. ”Ya Shim Minji, sepertinya kau harus berusaha sendiri. Karena Taekyung duduk disudut jauh, hanya dia satu-satunya absen genap yang pintar setelah Minwoo.” Dan dengan anggun Seulri memutar tubuhnya menatap ke papan tulis kembali, ia bersenandung. ”Thank God, I’ve got Minwoo.”

   Minwoo tersenyum tipis sambil menunduk.

   Ternyata Yun Sunsaengnim benar-benar memberikan tes. Seperti yang sudah mereka bisa tebak, sang guru membagi dua soal untuk absen ganjil dan genap. Dan seperti biasa lagi, Minwoo membantu Seulri dengan mengirimkan jawaban-jawaban dari soal-soal dibagikan melalui kertas coret-coretan, sehingga sang guru tidak menyadari bahwa sebetulnya Minwoo memberikan jawaban.

   Hingga soal terakhir Seulri menjawab, Minwoo yang sebetulnya sudah selesai mengerjakan, masih menunggu, kalau saja Seulri masih membutuhkan bantuannya. Akhirnya, Minwoo bisa menghela napas lega ketika Seulri meletakkan pinsil mekaniknya dan menghela napas lega.

   ”Gomapta, Minwoo-ya,” bisik Seulri dan ia berdiri membawa kertas jawabannya kepada sang guru, dan kemudian langsung keluar dari dalam kelas.

   Minwoo tersenyum dan ikut mengumpulkan. Sengaja ia mencarikan jawaban dengan cara lain bagi Seulri agar mereka berdua tidak dicurigai bekerja sama, atau bahkan ia ketahuan memberikan contekan kepada Seulri. Sang guru kemudian mempersilakan ia keluar dari dalam kelas, dan Minwoo mendapati Seulri sudah kembali menjadi Seulri yang biasanya, yang tak lagi mengenalnya. Yang berdiri bersama Minji sahabatnya, seolah lupa bahwa ia baru saja ditolong seseorang dalam mengerjakan tes.

   Minwoo berbalik dan mendekati Sunhwa yang tengah menatap ke lapangan sepak bola melalui jendela.

   ”Aku lihat kau membantu Permaisuri lagi,” gumam Sunhwa begitu merasakan Minwoo berdiri disampingnya, menatap lapangan olahraga. ”Tsk, kalau kau begitu berani untuk mengambil resiko ketahuan Yun Sunsaengnim saat membantu gadis itu, kenapa kau tidak berani untuk mengajaknya bicara?”

   ”Mudah saja, karena dia ada yang punya.” Balas Minwoo dengan gumaman rendah.

   Di lapangan sepakbola sana, Jung Kyujong nampak begitu keren saat berlumuran keringat dan sinar matahari, mengejar bola kesana-kemari bersama teman-teman sekelasnya. Dan kemudian ia menoleh pada Seulri dan Minji yang sepertinya baru menyadari bahwa Kyujong tengah berada di lapangan.

   Seulri mulai berteriak heboh di tempatnya dan menggeser kaca jendela. ”KYUJONG-AH… HWAITING!”

   ”Ne, dia sudah ada yang punya.” Minwoo menghembuskan napasnya perlahan-lahan, dan berbalik.

   ”Ya!” panggil Sunhwa lagi.

   Kini Minwoo menoleh pada Sunhwa lagi, terlihat bosan pada sahabatnya yang terus menerus memintanya untuk mendekati Seulri. ”Apa?”

   ”Aku hanya bertanya-tanya, apakah kau tidak merasa justru dimanfaatkan oleh gadis itu?”

   ”Apa maksudmu?”

   ”Yah,” Sunhwa kini kembali menatap lapangan. ”Kau dan dia hanya berbicara jika ada ulangan Matematika. Dan ia selalu bisa atau berhasil membuatmu untuk memberitahukan jawaban soal-soal tersebut, dan zap!” Sunhwa menepuk kedua tangannya. ”Kim Seulri lulus Matematika. Tidakkah kau merasa dia hanya memanfaatkanmu saja?! Lihat, dia bahkan tidak menyapamu atau apa…”

   ”Biarlah, aku tulus kok membantunya.”

   ”Aww~ kau dan kisah cintamu yang malang,”

*           *           *

”KYUJONG-AH, HWAITING‼!”

   Kyujong menoleh, dan otomatis langsung membuat tanda hati dengan kedua tangannya. Dengan bangga, ia mendengar decak kagum, dan gumaman iri dari teman-teman sekelasnya.

   Dunia begitu tak adil mungkin bagi teman-temannya, pikir Kyujong penuh percaya diri. Pria yang paling diinginkan di sekolah ini, mendapatkan gadis yang juga jadi impian satu sekolah.

   ”Kyujong-ah, ponselmu berbunyi!”

   Kyujong menendang bola tepat pada perut temannya yang menjadi kiper, terkekeh, lalu berlari mendekati salah seorang sahabatnya, Hwang Jisung, dan menarik ponselnya dari tangan Jisung. Kedua matanya kontan melebar melihat sederet nomor yang menghubunginya.

   ”Ya, kenapa tidak diangkat?” tanya Kwangmin, sahabatnya yang baru saja menghampirinya sambil menghalau keringatnya dengan handuk. ”Ah~ dari nomor tak dikenal?”

   Kyujong mengangguk, buru-buru mengiyakan pertanyaan Kwangmin barusan, karena tak bisa memikirkan alasan lainnya. ”Oh~” lalu diserahkannya kembali ponselnya pada Jisung. ”Ya! Heegun kemana?” dia menoleh kesana-kemari. ”Aku mau minuman!” serunya.

   ”Heegun sedang ke kantin mengambil minumanmu,” sahut Kwangmin duduk di bench, tepat di samping Jisung. ”Kyujong-ah, kau sudah tahu Anna akan mengundang kita ke pesta ulang tahunnya?”

   ”Anna? Baek Anna?!” seru Jisung bersemangat.

   Kwangmin tersenyum singkat, mengangguk. ”Ne, Baek Anna…”

   ”Gadis yang tadinya nyaris menempati urutan pertama gadis nomor satu Inha?” tanya Heegun yang tiba-tiba datang melempar satu kaleng minuman pada Kyujong, satu pada Kwangmin. ”Ada apa dengannya?” tanya pria itu bersemangat sambil menaik-naikkan alisnya dengan genit.

   Kwangmin terkekeh. ”Kang Heegun selalu datang disaat kita membicarakan seorang wanita, benar?”

   ”Tentu saja!” sahut Heegun bersemangat. ”Gelar gadis nomor dua itu sudah sepantasnya bersanding dengan gelar pria nomor dua se-Inha. Dan siapa lagi yang nomor dua se-Inha selain Kang Heegun?”

   ”Ya! Masih ada Lee Kwangmin disini!” Jisung mentah-mentah menolak.

   Kwangmin terkikik sambil menenggak minumannya, sudah biasa meliha Jisung dan Heegun bertengkar. Sementara Kyujong nampak berpikir keras sendirian, dan terlihat tak berkonsentrasi.

   ”Ya! Boss, kenapa kau diam saja?” tanya Heegun penasaran dan menggerak-gerakkan tangannya di depan Kyujong. ”Kyujong-ah, ya! Jung Kyujong!”

   Kyujong tersentak, dan terlihat bingung.

   ”Neo gwenchana?” tanya Kwangmin cemas.

   ”Aniyo gwenchana, hanya sedikit pusing… aku mau ke kamar mandi sebentar,” dan Kyujong buru-buru berlari, meninggalkan Kwangmin, Jisung, dan Heegun kebingungan di tempat mereka.

   Dan di dalam kamar mandi, Kyujong mengeluarkan ponselnya dan menghubungi balik peneleponnya tadi.

*           *           *

”Igeu mwoji?” Sunhwa mengambil sebuah kartu yang diangsurkan seorang gadis kepadanya.

   ”Undangan. Untuk Han Minwoo-ssi juga.”

   Minwoo menerimanya, dan sedikit membungkuk. ”Kamsahamnida.” Ucapnya sambil membalik kartu undangan tersebut. ”Siapa yang memberikan undangan ini?” tanyanya pada Sunhwa.

   Sunhwa mengangkat bahu, dan buru-buru mengoyak pita pada kartu undangan berwarna biru laut tersebut dan membacanya. Perlahan-lahan mulut Sunhwa membentuk huruf O besar, tepat saat Minwoo berhasil melepaskan pita pada kartu undangan yang ditujukan kepadanya.

   ”Baek Anna!” pekik Sunhwa sambil menatap Minwoo takjub. ”Baek Anna, dia Baek Anna yang mengundang kita!”

   ”Oh jinjja? Baek Anna dari kelas B?” dan Minwoo ikut terperangah saat melihat isi undangannya. ”Aku bahkan tidak tahu kalau dia mengenalku…” Minwoo masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.

   ”Oh ya ampun, Minwoo-ya, jangan bilang kau begitu bodoh untuk tidak menganggap ia mengenalmu hanya karena kau juga sering mengajarkannya pelajaran Matematika!” kata Sunhwa jengkel dan bertolak pinggang menatapnya.

   Minwoo mengangkat bahu. ”Itu ketika kami masih di tingkat satu.”

   ”Yang jelas sekarang dia mengenalmu!” Sunhwa mengipasi dirinya dengan kartu undangan. ”Jadi bagaimana? Ini pesta sweet seventeen-nya, secara internasional. Anna memang hebat, dia mengikuti tradisi Barat yang kental baginya karena sudah lama di luar negeri.”

   ”Majyeo.” Minwoo mengangguk setuju.

   ”Eyy, jangan majyeo saja! Bagaimana? Kau mau datang?”

   ”Entahlah,” Minwoo terlihat enggan. ”Bukankah menurutmu pesta seperti ini tidak cocok bagi… err, kita?”

   Sunhwa nampak mempertimbangkan pertanyaan Minwoo barusan, kemudian memiringkan kepalanya. ”Apa maksudmu dengan ’tidak cocok bagi kita’´barusan?”

   ”Sunhwa-ya… Baek Anna, ini Baek Anna…”

   ”Ya, teman seangkatan kita.”

   ”Menurutku Baek Anna hanya mengundang kita secara formalitas, coba kau lihat,” Minwoo mengedikkan kepalanya pada segerombolan anak-anak yang baru saja lewat di belakangnya. ”Mereka juga di undang, kan?”

   Sunhwa menghela napasnya dalam-dalam dan mulai berdecak tak sabar. ”Kau ini! Kenapa senang sekali membeda-bedakan dirimu dengan orang lain, bahkan mengira mereka membeda-bedakan kita?! Pertama dengan Seulri, sekarang dengan Baek Anna yang sudah berbaik hati mau mengundang kita.”

   ”Bukan begitu…  hanya saja, kita pasti akan terlihat canggung jika berada disana, Sunhwa-ya.”

   ”Aish! Sudah waktunya kau berhenti bersembunyi dibalik buku-buku tersebut, Minwoo-ya!” decak Sunhwa. ”Ini adalah tahun terakhir kita bersekolah, dan tahun depan kita sudah bukan lagi siswa. Tidakkah kau merasa bahwa tahun-tahun seperti ini harusnya kau manfaatkan dengan baik?”

   ”Bukankah juga di tahun terakhir seharusnya kita belajar dengan giat?” tanya Minwoo balik dan meluruskan kacamatanya.

   Sunhwa memutar matanya. ”Aku tidak memintamu untuk meninggalkan pelajaran, Minwoo-ya. Aku cuma memintamu untuk sedikit lebih bergaul dengan yang lainnya. Aku hanya berpendapat…” Sunhwa bicara lambat-lambat.

   Minwoo mengangkat alisnya. ”Berpendapat apa?”

   ”Sebetulnya siapa yang menutup diri? Mereka yang tak mau berteman denganmu, atau kau yang menutup dirimu hingga mereka seolah-olah sebetulnya tidak mau berteman denganmu. Dengan kita… yang katamu ’berbeda’”

   Minwoo geleng-geleng.

   ”Oh, ayolah… Minwoo-ya,” bujuk Sunhwa, menggunakan puppy eyes-nya, dan menarik-narik lengan Minwoo. ”Kapan lagi kita bisa mendapatkan akses ke pesta macam ini?!”

   Minwoo menghela napasnya dalam-dalam, dan menatap Sunhwa dengan putus asa. Ia begitu mengenal sahabatnya sejak kecil ini, begitu gigih jika sudah menginginkan sesuatu. Tapi, dalam hal pesta macam ini, Minwoo hanya merasa… itu bukan dunianya, bukan dunia mereka.

   ”Minwoo-ya… apa salahnya sih kita datang? Toh kita di undang~”

   ”Kita lihat nanti saja deh.” Dan Minwoo buru-buru beranjak, meski ia tahu Sunhwa akan terus memaksanya untuk pergi ke acara ini. Keduanya berjalan ke dalam kantin bersama-sama, dan sepertinya, tebakan Minwoo tidak meleset. Baek Anna memang mengundang seluruh sekolah…

   Karena kini, di setiap sudut, semua orang tengah memamerkan undangan mereka, dan nampak sangat bersemangat untuk datang di hari ulang tahun Baek Anna. Gadis Korea kelahiran Los Angeles, yang sangat tersohor sebelum akhirnya popularitasnya tergeser oleh Kim Seulri.

   Minwoo mengambil tempat, sementara Sunhwa memesan makanan mereka. Minwoo menoleh ketika mendengar suara riuh rendah di belakangnya, dan alisnya terangkat. Seulri dan dua sahabatnya, Minji, dan Namhee, yang satu kelas dengan Kyujong, masuk ke dalam kantin, dan Baek Anna, yang tadinya berdiri di samping salah satu meja, menatapnya.

   Ya, sudah rahasia umum tentunya jika Anna membenci Seulri. Alasannya jelas karena Anna merasa tersaingi dengan keberadaan Seulri yang merupakan murid pindahan di kelas satu. Tapi, menurut Minwoo, kejadian itu sudah berlangsung cukup lama, dan ia mengira Anna sudah melupakan kekalahannya, tetapi sepertinya tidak.

   Terlebih ketika dulu Anna dan Kyujong nyaris menjadi sepasang kekasih, yang langsung kandas sebelum menjalin setelah kedatangan Seulri.

   ”Oh, hai Seulri~”

   Suara Anna begitu riang, Minwoo menatapnya waspada dari tempat duduknya, tahu bahwa dibalik kemanisan tersebut tersimpan kebencian yang begitu teraba.

   ”Oh, hai, Anna~” sahut Seulri sedikit heran.

   ”Kau pasti sudah tahu kalau aku akan mengadakan pesta ulang tahun ketujuhbelas, bukan?”

   Seulri menatap Anna sedikit heran, bahkan lebih ke arah curiga, sebelum akhirnya mengangguk. ”Kurang lebih begitu.” Disamping kanan-kirinya, Minji dan Namhee sudah melipat tangan mereka, dan menatap Anna dengan angkuh, mereka yakin jelas jika Anna pasti jelas ingin mengonfrontasi Seulri, seperti sebelum-sebelumnya.

   ”Santai, Gadis-gadis,” Anna menoleh pada Minji dan Namhee dengan senyum super manis dan dinginnya, sebelum akhirnya kembali menatap Seulri. ”Aku tidak berniat apa-apa kok, hanya ingin mengundangmu juga.” Dan Anna mengeluarkan sebuah kartu yang diulurkannya dengan manis kepada Seulri.

   Seulri meraih undangan tersebut, dan menatap datar kepada Anna.

   ”Kuharap kalau kau memang menganggapku bukan seorang saingan…” kata Anna lambat-lambat. ”Kau akan datang ke pesta ulang tahunku.”

   Seulri mendengus. ”Apa maksudmu? Saingan?”

   ”Sure!” sahut Anna dengan bergaya.

   ”Aku tidak pernah merasa memiliki persaingan atau kompetisi denganmu,” senyum Seulri, dan menatap undangan. ”Tapi, demi membuktikan hal tersebut seperti yang kau katakan, tentu saja dengan senang hati aku akan hadir pada pestamu, Chingu-ya.” Dan Seulri tersenyum penuh arti sebelum melangkah melewati Anna yang nampak tercengang.

   Minji terkikik, dan  Namhee memberikan gerakan kurang ajar pada Anna sebelum akhirnya mengejar Seulri yang mendekat ke konter kantin. Pandangan mata Minwoo mengikuti Seulri dan kedua sahabatnya sebelum kembali menoleh untuk melihat reaksi Anna.

   Dipermalukan di depan umum oleh saingannya sendiri. Seorang Baek Anna tidak mungkin hanya akan diam, bukan? Awalnya, mungkin Anna nampak tercengang, namun beberapa saat kemudian, Baek Anna kembali menguasai dirinya. Anna tersenyum penuh arti dan berbalik menatap punggung Seulri yang tengah memesan makanan.

   ”Baiklah, kutunggu kedatanganmu, Chingu-ya…”

   Minwoo tidak mungkin salah menangkap nada licin dan licik dalam suaranya. Dan, entah kenapa… perasaan Minwoo menjadi tidak enak. Disaat ia tengah sibuk berkutat dengan pikirannya, Sunhwa datang dan meletakkan nampan makanan di hadapannya dengan berisik.

   ”Kenapa?” tanya Sunhwa penasaran.

   ”Aniyo.” Geleng Minwoo sambil menarik nampannya dan mulai mengangkat sumpitnya.

   Sunhwa mengangkat bahu, dan ikut mengangkat sumpit, dan menyerang daging cacahnya, ketika mendadak Minwoo berkata. ”Kurasa sebaiknya, memang kita datang saja ke ulang tahun Baek Anna.”

   ”Wow!” Sunhwa menelan nasinya dan meraih susu karton di sampingnya serta meneguknya. ”Ada angin apa kau jadi mau datang pada ulang tahun Baek Anna?” desis Sunhwa tak percaya.

   ”Sudah kau jangan banyak bicara, bukankah kau tadi yang memaksaku untuk datang kesana?”

   ”Memang, tapi tak ada asap tanpa ada api, kau tahu?”

   ”Sudah jangan bicara. Kau mau pergi atau tidak?!”

   ”Eyy~” protes Sunhwa.

*           *           *

”Seulri-ya,”

   ”Oh?”

   ”Kau yakin mau datang ke pesta ulang tahun Baek Anna?” tanya Namhee penasaran.

   Kini, Seulri, Namhee, dan Minji, tengah berada di sebuah salon kecantikan setelah pulang sekolah. Seulri tidak diantar oleh Kyujong, karena Kyujong bilang ia ada janji dengan ibunya.

   Seulri mengangguk. ”Tidak sopan menolak undangan, Namhee-ya.” Sementara stylist di hadapannya kini sibuk mengikir kuku-kukunya.

   ”Tapi ini untuk pertama kalinya Baek Anna menantangmu secara langsung, Seulri-ya.” Minji di sudut ruangan sambil membuka-buka majalah berkomentar. ”Apa menurutmu itu tidak aneh?”

   ”Aneh bagaimana?” tanya Seulri sambil menatap Minji melalui kaca.

   Minji balas menatapnya. ”Kita semua sudah tahu kalau Baek Anna setiap tahun selalu menyelenggarakan pesta ulang tahun, betul?” Namhee di samping Seulri mengangguk. ”Dan tidak pernah sekali pun dia mengundangmu, bukan?”

   ”Kau benar juga.” Seulri mengangguk-angguk sambil berpikir keras.

   ”Dan tahun ini semua orang di sekolah diundang,” Namhee ikut berpendapat. ”Tapi bukan karena ini adalah ulang tahunnya yang ketujuh belas? Jadi dia akan membuat ulangtahun ini secara spesial, dan mengundang seluruh isi sekolah.”

   ”Atau dia berharap mendapatkan ucapan selamat dari Kyujong.” Tambah Minji.

   ”Kyujong?!” pekik Seulri kaget, dan membuat pramuniaga yang tengah menghias kukunya ikut kaget.

   Namhee mengangguk-angguk. ”Bisa jadi, Seulri-ya, setidaknya jika bukan karena itu, aku yakin dia merencanakan sesuatu! Keundae, sepertinya aku tidak bisa ikut datang…” kata Namhee kecewa.

   ”Kau tidak akan datang?!” Seulri membelalak.

   ”Oh, mianhae… Ibuku mengajakku untuk melakukan fitting gaun pernikahan Oppaku,” keluhnya. ”Jadi sepertinya hanya kau dan Minji yang akan menghadiri pesta tersebut.”

   Seulri mendesah.

   ”Setidaknya kau bisa minta jemput Kyujong!” seru Minji bersemangat. ”Dan Kwangmin mungkin mau menjemputku.”

   ”Aish!” Seulri berdecak kesal. ”Minji-ya, pokoknya kau harus datang! Aku tidak mau ada alasan! Karena Namhee sudah tidak bisa ikut, dan pasti disana akan banyak teman-teman Baek Anna tersebut.”

   ”Dan aku bisa memberimu saran, meski aku tidak datang, Sobat.” Kata Namhee bersemangat. ”Kau harus tampil lebih memukau daripada Baek Anna!”

   ”Keurom.” Seulri tersenyum penuh arti, dan kembali menatap pantulan dirinya di kaca. ”Baek Anna akan menyesal sudah mengundang Kim Seulri pada pesta ulangtahunnya. Ulangtahun pahit-manis… ketujuhbelas.”

   Namhee dan Minji ikut tersenyum penuh arti.

*           *           *

Baek’s House

”Miss Anna, ada telepon.” Kepala Pelayan memberikan telepon wireless putih itu pada Anna yang tengah membaca majalah di ruang keluarga.

   Anna mengernyit. ”Dari siapa?”

   ”Dari Agen Anda, Nona.”

   Anna tersenyum penuh arti dan segera mengambil teleponnya tersebut, dan mendekatkannya pada telinganya. ”Oh hai, kau sudah menjalankan rencanamu untuk hari ini?”

   ”Tentu saja, semua rencana sudah beres, Anna-ya.”

   ”Bagus.” Anna tersenyum penuh kemenangan. ”Kau bisa jamin bahwa rencanaku nanti akan berhasil?”

   ”Tentu saja aku berani jamin seratus persen jika nanti kau juga menjalankan segalanya dengan lancar.”

   ”Aww, kau memang hebat, baiklah. Jika rencanaku berhasil, maka seperti yang kujanjikan kepadamu…”

   ”Oke, kutunggu janjimu.”

   ”Deal!” Anna menekan tombol merah dan tersenyum penuh kemenangan. ”Kim Seulri. Kau akan menyesal sudah datang ke pesta ulang tahunku nanti.” Anna meletakkan kembali teleponnya.

-To Be Continued-

Yang mau baca DramaFictionnya mohon tinggalkan komen kalian di bawah ini ya, karena ada kemungkinan cerita ini mau aku privatisasi, jadi yang mau baca aja yang aku kasih liat hehehe… antisipasi kalo yang mau baca dikit, mulai geram lagi ama sider soalnya nih… kekeke Thank You~

 

 

 

60 thoughts on “[DramaFiction] BitterSweet17 ~Episode 1~

  1. errrr… jangan blg agen itu salah satu temennya seulri. atau jgn2 pacarnya seulri, siapa itu namanya. eeeeeyyyyy~ -______-

  2. Mereka saingan ya?
    Ayo minwoo semangat!! Kkk~^^
    Itu yg nelfon kyujong siapa? Penasaran😐
    Walaupun blm terlalu ngerti sama jalan ceritanya bakal tetep aku pantengin kok hehe-_-v
    Nice ff onnie;)

  3. Fufufu baru sempat baca ini ff mian yaaaa hihi
    Mungkin karna aku biasanya baca haejin sama donghae, ya jd aga sedikit aneh pas awal bacanya apalagi bayangin haejin sama kiseop. Tapi pas udah baca sampe akhir mulai kebayangin nih dan penasarn sama yg mau dilakuin sama anna hihi ayo semangat lanjutinnya 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s