{JinHaeXy} Yes I Do, I Can’t Stop Loving You

Title : Yes I Do, I Can’t Stop Loving You

Author : nisya

Genre : Romance, Fluff, JinHae Universe

Length : Oneshot

Rate : PG

Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin
  • Others

Note : Saran sih sambil dengerin lagu Super Junior KRY – Loving You yaaa… jangan Loving You-nya SISTAR, nggak nyambung nanti wakakakaka.

{JinHaeXy} Yes I Do, I Can’t Stop Loving You

Come on, Jin-ah, you can do it!” Haejin berbisik kepada dirinya sendiri, memejamkan matanya rapat-rapat dan membukanya kembali sambil menggulung naskah dramanya, kemudian mendorong terbuka bilik kamar mandi tempatnya menenangkan diri barusan.

   ”Oh, Haejin-ssi, sudah siap?”

   Haejin tersenyum menatap asisten sutradara yang bertanya kepadanya dari kursinya, kemudian mengangguk. ”Ne, aku sudah siap, Kamdoknim.”

   ”Baiklah kalau begitu, Jinhyuk Hyung akan melakukan tes kamera sebentar lagi. Kau tunggu saja dulu ya, Kiseop juga sebentar lagi muncul.”

   Haejin mengangguk, kemudian duduk di kursi panjang yang menghadap meja kayu panjang yang berisikan perlengkapan pengambilan gambar, dan kembali membuka skripnya dan memejamkan matanya lagi, berusaha meresapi dan mendalami peran yang akan ia mainkan.

   ”Annyeonghaseyo.”

    Haejin membuka matanya, melihat Kiseop membungkuk-bungkuk, membawa gulungan skrip juga. Haejin menggeser tempat duduknya dan menunduk, memejamkan matanya kembali, dan merasakan Kiseop duduk di sampingnya.

*           *           *

Apa jadinya hidup tanpa dia?

Bagaimana hidupku tanpa dia ada di sisiku?

   Haejin membuka matanya perlahan-lahan dan menatap Donghae yang memung-gunginya dengan dingin. Haejin perlahan-lahan mendekatinya, mengulurkan tangannya, menyentuh punggung datar pria itu.

   ”Donghae-ya.”

   Donghae tak kunjung bereaksi.

   Bibir Haejin bergetar saat perlahan berdeham, berusaha meredakan nyeri yang tak ada hubungannya dengan penyakit apa pun, melainkan dengan perasaannya, dan pria yang berdiri di hadapannya kini.

   ”Hae…”

   ”Ada apa?” tanyanya dingin. ”Waktuku tak banyak, Haejin.”

   Haejin menggigit bibirnya, bahkan dengan kata-kata itu saja ia sudah merasakan nyeri yang sangat menggelenyar pada sekujur tubuhnya. ”Aku hanya mau bertanya, aku hanya ingin meminta penjelasan.” Jawab Haejin pelan. ”Aku tidak mengerti dengan sikapmu belakangan ini…” air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. ”Aku tidak mengerti apa yang salah? Bukankah kau bilang kau mencintaiku… bukankah kau bilang kau menerimaku apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekuranganku?”

   Donghae tak bergeming.

   ”Kenapa kau meminta berpisah?” tanya Haejin lagi. ”Apakah… apakah…” Haejin menggigit bibirnya. ”Apakah karena… aku sudah bukan gadis lagi? Tapi, tidak masuk akal… kau lah… kau yang…”

   ”Kau sudah selesai bicara?!” Donghae mengerling singkat.

   Haejin menunduk dan  meremas-remas kedua kepalan tangannya. Donghae tidak seperti ini. Dia selalu lembut dan penuh kasih, dia sangat menjaga Haejin, tapi kenapa mendadak ia berubah? Apa yang ia lakukan hingga Donghae menjadi seperti ini, dan kenapa Donghae tak mau menjelaskan?

   ”Setidaknya… jelaskan kepadaku…” bisik Haejin.

   Donghae berbalik, menatap Haejin dengan dingin. ”Apa lagi yang harus kujelaskan? Kukira semuanya sudah jelas. Kita berpisah… bukankah kau dulu selalu merasa bahwa kau adalah gadis hebat, yang selalu bisa melakukan segalanya sendirian, tanpa bantuan seorang pria pun?” tanyanya. ”Kau juga begitu percaya diri bukan, bahwa semua pria menginginkan dirimu, dan kau justru berakhir dengan pria sepertiku? Kau menyesalinya kan, karena kau bisa mendapatkan pria yang jelas lebih baik daripada aku jika kau mau?”

   Kata demi kata yang dilontarkan oleh Donghae barusan semakin menyayat dan menyakiti hatinya. Dia tak percaya, Donghaenya, yang begitu lembut dan baik hati, mampu berkata seperti ini kepadanya. Tanpa angin, tanpa ada hujan.

   Tapi, semua kata-kata yang Donghae katakan memang benar.

   Benar, ia merasa bisa mendapat pria yang lebih baik.

   Benar, ia merasa semua pria bisa menyukainya.

   Tetapi, yang penting sekarang adalah hatinya bukan? Dan hatinya kan sejak awal telah dimenangkan oleh pria di depannya ini.

   ”Jadi, kukira semua sudah jelas, bukan?” tanyanya. ”Kita memang sudah selesai. Jika hubungan ini merupakan keinginanmu, maafkan aku, karena ini bukan keinginan hatiku lagi.” Donghae kemudian melirik jam tangannya. ”Maaf, aku masih ada urusan setelah ini. Kuharap kau tak lagi menggangguku dengan meminta kita bertemu hanya untuk membahas masalah sepele macam ini, karena semuanya sudah jelas.”

   Haejin terus menatap lantai, menggigit bibirnya menahan tangis, dan tangannya mengepal kuat-kuat.

   ”Jaga diri.” Pesan Donghae singkat sambil menepuk pelan bahu Haejin dan berjalan melewatinya. Dan Haejin bisa merasakan langkah Donghae yang semakin menjauh. Sebelum ia bisa mencegah dirinya sendiri, ia sudah berbalik dan memeluk Donghae erat-erat dari belakang.

   Donghae menegang, begitu merasakan Haejin memeluknya erat-erat dengan air mata yang mengalir.

   ”Jebal, sebentar saja…” bisik Haejin.

   Donghae diam tak bergerak.

   ”Sebentar saja, dan aku takkan mengganggumu lagi.” Bisik Haejin.

   Donghae menelan ludahnya kuat-kuat, mengepalkan tangannya, untuk mengontrol segala pertahanan dirinya.

   ”Aku tahu aku salah,” kata Haejin pelan. ”Aku kira kau tak pernah mempermasalahkan sikap-sikapku. Aku merasa buruk sekali. Aku kini tahu bagaimana perasaanmu ketika aku memperlakukanmu seperti kau memperlakukanku sekarang. Memang sakit… tapi tak apa, aku akan menerimanya, karena aku memang pantas mendapatkannya.”

   Akhirnya Haejin melepaskan pelukannya, masih sambil menunduk, dan perlahan menghapus air matanya. ”Tetapi, satu hal yang mau kutegaskan kepadamu, Donghae. Aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu, kau pria terbaik yang Tuhan kirimkan untukku.”

*           *           *

”OKAY, CUT! GOOD‼!”

   ”Ya, geumanhae!” Kiseop dengan panik mengusap air mata yang bercucuran di wajah Haejin. ”Noona, tisu! Tisu!” serunya pada para coordie yang kemudian datang menghampiri keduanya.

   Suasana syuting yang tadinya sunyi, sepi, dan senyap, mulai mencair. Sutradara bahkan sedikit panik melihat Haejin yang tangisnya tak kunjung pula berhenti. Bahkan Kiseop menggunakan sapu tangannya sendiri untuk menghentikan air mata yang terlanjur membanjir.

   ”Maaf, maaf…” Haejin sedikit terkekeh dan mengusap air matanya, namun ia menunduk, dan menangkupkan kedua tangannya kembali pada wajahnya kuat-kuat karena air matanya terus mengkhianatinya.

   Rekaman kejadian tadi terus terulang pada pikiran dan benaknya, dan ia kembali menangis tersedu-sedu. Kiseop, Junjin Oppa, Shorry, Hyorin Eonnie, semua tak ada yang berhasil membujuk air matanya untuk berhenti.

   ”Jin-ah, kalau nanti orang yang tidak tahu melihatmu begini, kau akan dikira kupukul lho tadi.” Kata Kiseop sambil tertawa geli. ”Ya ampun, kita masih harus rekaman dua scene lagi, Jin-ah, kalau kau menangis terus bagaimana kita mau lanjut?!” tanyanya.

   Para kru tertawa.

   ”Molla! Air mataku tak mau berhenti dengan sendirinya… terlalu menyedihkan sih,” isaknya. ”Kenapa hiks… harus hiks… begini?!” dan Haejin membenamkan wajahnya pada bahu coordie-nya, Hyorin.

   Hyorin membelai-belai bahunya dengan senyum memahami.

   ”Kau terlalu terbawa aktingmu,” kata Kiseop geleng-geleng. ”Oh ayolah, Jin-ah, malah aku yang merasa bersalah ini!” Kiseop menoleh sekeliling dengan bingung. ”Otokhe? Haejin tak berhenti menangis?!” ringisnya.

   ”Gwenchana, Jin-ah, gwenchana…” kata Sutradara dengan senyum geli.

   ”Arrayo…” dan Haejin terus mengisak keras-keras.

   ”Geumanhae~” Junjin Oppa dan Kiseop membujuk bersama-sama, setengah merengek putus asa.

   Hyorin berdiri dan memapah bahu Haejin. ”Ayo kita ke kamar mandi, merapikan riasanmu, barangkali kau sedikit lebih tenang.” Sementara Sutradara, Junjin Oppa, Kiseop, dan seluruh kru mengangguk setuju, karena sudah putus asa untuk menghentikan Haejin menangis.

   Haejin dan Hyorin tiba di kamar mandi. Haejin mendudukan dirinya di kursi panjang ruangan menyusui yang disediakan di toilet wanita, kemudian mulai menangis, sementara Hyorin tersenyum menatapnya.

   ”Jinnie-ya…” Hyorin menyandarkan tubuhnya sambil menatap Haejin tertarik. ”Mau kuhubungi seseorang, agar perasaanmu membaik?” Memang hanya coordie-nya satu ini yang mengetahui hubungan rahasianya dengan kekasihnya.

   Haejin mengangguk-angguk masih menangis.

*           *           *

Donghae masuk ke dalam gym dan melepaskan earphone yang tersambung pada ponselnya, dan meletakan ponselnya di atas treadmill. Ia meregangkan ototnya ke kanan dan ke kiri, setelah memastikan para fans tidak bisa mengambil gambarnya yang tengah berolahraga setelah tadi sempat beristirahat sebentar di kamar setelah kedatangannya ke Thailand untuk acara MNET besok.

   Ia mulai mengatur kecepatan pada mesin treadmill-nya ketika ponselnya berdering, dan layar LCD-nya menunjukkan nama coordie Felidis, Hyorin. Donghae meghentikan langkahnya dan meraih ponselnya, lalu menggeser layarnya sebelum menerima panggilan tersebut.

   ”Donghae-ya?”

   ”Ne, Hyorin-ah, ada apa?” tanyanya bingung, tak biasanya coordie kekasihnya yang menghubunginya. Jangan-jangan ada sesuatu yang tengah terjadi, pikirnya panik, dan perasaannya mulai tak enak.

   ”Begini, sesuatu terjadi pada Haejin…”

   Hatinya mencelos, benar yang ia pikirkan, sesuatu pasti terjadi pada Haejin.

   ”Apa yang terjadi padanya, Hyorin-ah?!” tanya Donghae cepat. ”Dia tak apa-apa, kan?!”

   Hyorin terkekeh. ”Tenang, dia tak apa-apa… kondisi fisiknya baik-baik saja, bukan kecelakaan atau apa. Kami sedang di lokasi rekaman drama BitterSweet17, dan Haejin sepertinya membutuhkanmu sekarang.”

   Ketika Hyorin bilang kondisi fisik Haejin baik-baik saja dan meyakinkannya bahwa Haejin tidak kecelakaan, Donghae menghela napasnya lega. Tapi, Haejin membutuhkannya sekarang? Ada apa memangnya?

   ”Begini, biar kuberikan ponselku pada Haejin sekarang… kau bicaralah padanya ya, Donghae-ya.”

   ”Ne, ne!” jawab Donghae cepat. Jantungnya berdebar-debar dengan cepat, karena cemas dan bingung akan keadaan Haejin. Ia ingin segera mendengar suara Haejin, dan memastikan gadis itu baik-baik saja.

   Dan betapa kagetnya ia, begitu mendengar isak tangis Haejin melalui ponselnya.

   ”Halo?! Momma? Gwenchana?! Ada apa?!” tanyanya bertubi-tubi karena panik, tak seharusnya ia menambah kepanikan memang, tapi dia tak bisa mencegah perasaan paniknya yang meluap begitu mendengar tangisan kekasihnya.

   ”Poppa~” rengek Haejin tersedu-sedu.

   ”YA! Jangan buat aku panik! Aku sedang di Thailand ini, kalau kau membuatku panik, bisa-bisa aku pulang ke Seoul sekarang juga!” seru Donghae. ”Momma, dengarkan aku… hei, hei, shush… Sayang, dengarkan aku… sekarang jelaskan kenapa…”

   Sesekali terdengar isakan panjang, kemudian didengarnya Haejin menghela napasnya dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya. ”Mianhae, aku malah membuatmu marah… tapi, aku sendiri tak tahu…” dan ia mulai tersedu-sedu lagi.

   Donghae jadi bingung sendiri, dia sama sekali tidak bermaksud marah pada Haejin, dia hanya panik karena kekasihnya menangis tersedu-sedu di telepon, sementara ia tak bisa menenangkannya secara langsung.

   ”Sayang, aku sama sekali tidak marah kepadamu,” ujar Donghae lembut. ”Kau tahu kenapa aku berseru tadi, kan? Karena aku mencemaskanmu yang menangis… pria mana yang mau melihat kekasihnya menangis? Tak ada, kan?”

   ”Maaf…”

   ”Iya, tak apa-apa. Sekarang coba bilang, kenapa kau menangis?”

*           *           *

Haejin mengusap air matanya kuat-kuat sambil menekankan ponselnya kuat-kuat juga ke telinga dengan tangan satunya. Mendengar suara Donghae sudah melepaskan ikatan kuat yang ia rasa melilit dadanya, menghancurkan segala pikiran dan bayangan buruk-nya.

   Kekasihnya, meski ada di belahan bumi lainnya, tak sama dengannya berpijak sekarang, tetapi ia tetap mengkhawatirkannya. Ia jadi merasa malu sendiri dengan sikapnya yang kekanakan ini. ”Maaf.” Isaknya.

   ”Iya, tak apa-apa. Sekarang coba bilang, kenapa kau menangis?”

   ”Begini…” Haejin sedikit mengisak, sekali lagi ia mengatur napasnya agar lebih tenang. Suara cekatan napasnya rupanya terdengar oleh Donghae, karena berikutnya pria itu sudah merepet kembali.

   ”Sayang, aku tak mau dengar asmamu kumat! Minta Hyorin mengambilkan inhaler-mu!”

   ”Ne, ne, ne… aku sedang mengatur napasku,” buru-buru Haejin menjawab, tak mau kekasihnya semakin khawatir, dan menyulitkan dirinya sendiri. ”Tadi… aku pengambilan gambar.”

   ”Hmm… lalu?”

   ”Ini… adegan sedih…” perlahan-lahan air mata mulai menggenangi ujung mata Haejin kembali. ”Aku membayangkan… aku membayangkan… kita berdua yang ada dalam situasi itu.” Haejin menggigit bibirnya kuat-kuat.

   ”Mwo?!” serunya. Haejin bisa membayangkan wajah Donghae sekarang benar-benar terkejut, matanya melebar dengan lucu, Haejin sedikit terkekeh, meski air matanya sudah mulai keluar kembali. ”Memang adegannya ngapain?!”

   ”Hmm, putus~” jawab Haejin pelan. ”Minwoo sudah lelah mengejar Seulri… semacam itu. Dan Seulri baru sadar dia mencintai Minwoo, begitulah…” jelasnya singkat.

   ”Momma~” rengeknya.

   ”Ya! Kenapa kau yang mau menangis sekarang?!” kikik Haejin.

*           *           *

Donghae mengernyit. ”Memangnya adegannya ngapain?!”

   ”Hmm, putus~” jawab Haejin pelan. ”Minwoo sudah lelah mengejar Seulri… semacam itu. Dan Seulri baru sadar dia mencintai Minwoo, begitulah…” jelasnya singkat.

   Donghae akhirnya paham apa yang membuat kekasihnya bisa menangis hingga nyaris dehidrasi seperti itu. Dia membayangkan kejadian yang terjadi beberapa bulan lalu diantara mereka, mungkin kali ini lebih detil lagi. Mau tak mau ia merasa sedikit bersalah.

   ”Momma~” rengeknya.

   Didengarnya Haejin malah cekikikan. ”Ya! Kenapa kau yang mau menangis sekarang?!”

   Donghae sedikit tersenyum, akhirnya Haejin pun bisa tersenyum mendengarnya merengek. Tetapi ia juga terganggu dengan kata-kata Haejin, terutama tentang apa yang kekasihnya itu bayangkan.

   ”Jelas aku mau menangis, aku mungkin akan sepertimu… jika membayangkan kau melepasku.” Bisik Donghae serius. ”Tapi… kenapa kau bisa berpikir bahwa aku bisa melepasmu?”

   Tak ada jawaban, Donghae menunggu dengan sabar, hingga akhirnya di dengarnya Haejin menghela napasnya dalam-dalam.

   ”Ya, sedikit banyak… aku berpikir, aku belum memperlakukanmu dengan baik, mungkin kau lelah dengan segala sikap dan kelakuanku. Bisa saja kan… rasa lelah itu ada?” tanyanya. Donghae bisa mendengar suara Haejin yang bergetar, sepertinya kekasihnya itu hendak menangis kembali. ”Keundae… jika suatu saat nanti, Poppa merasa lelah, dan ingin melepasku… gwenchana, aku akan melepas Poppa.”

   ”Mwoya?!” seru Donghae. ”Bicara apa sih kau?! Kalau kau berbicara hal tak masuk akal lebih baik aku tutup!” ancamnya.

   ”Ani…” jawabnya. ”Aku hanya bilang begitu… tapi, jelas aku berharap Poppa takkan pernah lelah padaku. Tapi… sekalipun Poppa lelah padaku… dan pergi dariku… aku takkan berhenti mencintai Poppa.”

   Rasa haru memenuhi dadanya, ya… baru kali ini ia mendengar Haejin bicara semanis dan seyakin ini kepadanya. Tanpa bisa ia tahan, setetes air mata pun lolos dari sisi kedua matanya.

   ”Ne.” jawabnya pelan. ”Aku tak bisa menjanjikan perasaan lelah itu… karena aku memang pernah mengalaminya, tapi Momma, pada akhirnya… aku takkan bisa melepaskanmu.”

*           *           *

Haejin memikirkan segala tingkah lakunya selama ini. Selama ini, dia merasa dia memang belum menjadi kekasih yang baik bagi Donghae. Dia selalu lebih mementingkan gengsinya, dan kerap kali menyakiti Donghae dengan segala tingkah lakunya.

      ”Mwoya?!” seru Donghae. ”Bicara apa sih kau?! Kalau kau berbicara hal tak masuk akal lebih baik aku tutup!” ancamnya.

   ”Ani…” jawab Haejin sambil menunduk. ”Aku hanya bilang begitu… tapi, jelas aku berharap Poppa takkan pernah lelah padaku. Tapi… sekalipun Poppa lelah padaku… dan pergi dariku… aku takkan berhenti mencintai Poppa.”

   Dia bisa mendengar Donghae yang tercekat, bahkan terdiam, tak menjawab selama beberapa saat. Haejin tahu, Donghae pernah merasakan lelah atas sikap keras kepalanya selama ini, dan ia tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Minho waktu itu tidak menolong mereka berdua.

   Dia tahu, betapa pun dia berusaha menjauh, melupakan, dan menghilangkan Donghae dari kepala dan hatinya, cinta itu justru semakin tumbuh subur, bahkan dibawah alam sadarnya.

   ”Ne.” Akhirnya Donghae menjawab. ”Aku tak bisa menjanjikan perasaan lelah itu… karena aku memang pernah mengalaminya, tapi Momma, pada akhirnya… aku takkan bisa melepaskanmu.”

   Mendengarnya, Haejin kembali menutup wajahnya dan menangis tersedu-sedu, karena terharu. Untuk saat ini, ya untuk saat ini, cinta mereka masih sama besarnya seperti pertama kali mereka menjalin kasih dulu. Kerikil dan batu tajam yang membuat kaki mereka berdarah saat menapaki kisah cinta mereka, berhasil mereka lewati bersama-sama, dengan bantuan orang-orang terdekat mereka.

   ”Gomawo.” Bisik Haejin bersyukur. ”Terima kasih untuk tak bisa melepaskanku.”

*           *           *

Donghae tersenyum mendengar penuturan Haejin barusan, sejujurnya ia sedikit banyak yakin soal sikap Haejin. Dengan segala kelebihan dan kekurangan gadis itu, ia mencintai Haejin apa adanya. Ia bersyukur Haejin bisa mencintainya. Sebesar ia mencintai gadis itu juga.

   ”Dan terima kasih untuk takkan pernah berhenti mencintaiku.”

Samar-samar, keduanya bisa mendengar musik lirih yang mereka kenal, bermain di dalam kepala dan hati mereka. Yes, I do… I can’t stop loving you~

-Keutt-

Hulaaaaa ^^

Akhirnya bisa apdet cepet kekekeke. Idenya dateng semalem, pas liat twitter, si Eneng (Donghae.red) nge-gym, dan nggak tau kenapa kepengen bikin cerita tentang JinHae lagi. Begitu dicoba bikin, ngantuk, jadi aku tinggalin tuh semalem. Nah hari ini, pulang kuliah sore-sore, hujan badai, sambil dengerinlah lagu Super Junior KRY – Loving You, dan mengalirlah semua ke-keju-an *?* di atas.

Berharap bisa secepatnya apdet lagi, makasih buat yang udah komen di JinHaeXy kemarin ^^ kalian yang membuat aku bersemangat mau ngetik lagi dan lagi, Thank you…

See you, I hope soon~ 

 

 

 

62 thoughts on “{JinHaeXy} Yes I Do, I Can’t Stop Loving You

  1. Sedih ngebayanginnya………
    Haejin ada2 aja yak wkwk
    Oya btw eon. WIF kelanjutannya kapan? Masih penasaran banget2222222an
    Aku tunggu ya kelanjutan WIF;)
    Nice ff onnie😀

  2. Eonni…kangen bgt sm crta’y jinhae..apalgi sm kjutan yg donghae siapin sbg hadih trma ksh bwt haejin yg ngadain surprise party bwt ulth’y hae..cptan update lg y eonn..d’tnggu crta slnjt’y jinhae..:D

  3. anyyeong,aku member baru disini,tau gak sih ??
    aku nyetel lagu SJ KRY -loving you itu mpe 3x dan pas bagian “yes,i do i can’t stop loving you” si abang aneh lagi nyanyi di bagian itu,daebbak ..

    ffnya aku jga suka,aku mpe nangis pas bagian hyejin ngebayangin putus ama donghae :”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s