{JinHaeXy} Quality Time While Busy Schedule

Title : Quality Time While Busy Schedule

Genre : Romance, Comedy, Friendship, JinHae Universe

Rate : PG15

Length : Oneshot

Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin
  • Super Junior Member
  • Felidis Member

Note : Hati-hati perpindahan sudut pandang, aku pake sudut pandang orang pertama jamak ya ^^

”Cepat sekali ke LA-nya, kenapa? Katanya mau sampai hari Minggu?”

   Aku mengernyit, berpikir kembali, sebenarnya kenapa aku membatalkan kepulangan hari Minggu, dan justru mempercepatnya. Lalu aku menghela napas dan menjawab. ”Ya karena aku tidak suka berlibur sendirian.”

   ”Aish~ Lee Donghae, harusnya kau nikmati saja. Kau sudah sangat bekerja keras, kau kelelahan, kau membutuhkan istirahat!” seru Kangin Hyung sambil memakan bagelen yang kubawakan dari Los Angeles.

   Aku menyipit menatapnya. ”Hyung kenapa dari kemarin terus menerus menyesali kepulanganku, sih?! Hyung tidak senang ya, aku ada di dorm?” tanyaku sedikit terluka. Aku kan tidak suka berlibur sendirian, dan aku sangat cepat merasa merindukan Hyung dan adik-adikku, Korea, dan tentu saja… Haejin. Sebetulnya, niat awal aku pergi ke Los Angeles, selain berlibur ya karena merindukan Haejin.

   Walaupun sedikit aneh, tapi sebetulnya kalau dipikir-pikir cukup masuk akal, kok, menurutku. Haejin sibuk dengan segala macam recording dramanya, yang membuatku berpikir bahwa sebetulnya ketika aku masih sibuk dengan dramaku, aku juga sedikit banyak mengabaikannya, jadi ketika gantian ia yang sibuk, aku harus mengerti, meski aku kangen sekali.

   Tapi, tetap saja… aku malah semakin merindukannya. Pasangan-pasangan disana sama sekali tidak membantuku, karena mereka terus berseliweran dan bermesraan di hadapanku yang hanya bisa menatap pemandangan, ditemani secangkir kopi. Bukankah miris? Untuk itulah aku segera mempercepat kepulanganku ke Korea, dan kembali menjadi pengangguran Lee Donghae.

   Haejin mulai jarang tampil dalam episode Teenage Running Man, hingga kini dalam acara tersebut, hanya tinggal delapan orang, karena Minho pun sibuk dengan dramanya sendiri.

   Syukurlah, dia tidak sibuk dengan Haejin. :p

   ”Aish~ aku sebetulnya tidak mau bilang ini kepadamu,” kata Kangin Hyung, aku menoleh menatapnya penasaran. ”Tapi berhubung kita sama-sama Elektra,” aku memutar mataku jengkel, dia terus berpendapat bahwa aku adalah Elektra. ”Aku sudah minta tolong pada Hyukjae untuk meminta Haejin datang kesini nanti malam.”

   ”Mwo?!” pekikku. Ini berita baru untukku? Hyukjae menghubungi Haejin untuk datang kesini karena diminta oleh Kangin Hyung? Tanpa meminta persetujuanku? Hyukjae ini minta di gigit‼!

   ”Kenapa?! Kau tidak suka, aku sudah  lama sekali ingin benar-benar berbicara… ngobrol dengan Haejin. Dan aku akan berfoto dengannya…” Kangin Hyung tersenyum sambil membayangkan sesuatu, dan aku menahan diri untuk tidak melempar sebungkus besar bagel pada wajahnya.

   Donghae geleng-geleng. ”Hyung ini…” keluhnya.

   ”Ah, wae?! Jangan bilang kau cemburu? Ayolah, kudengar Gikwang dan Dujun B2ST bahkan melakukan persaingan secara adil. Kita juga harus melakukan persaingan secara adil.”

   Hah?! Secara adil?! HAEJIN ITU PUNYAKU!

   ”Jadi, kita tanyakan saja nanti…” Kangin Hyung puas sekali nampaknya. Aku heran, dia punya kepercayaan diri dari mana, hingga bisa mengira ia dapat mengalahkanku saat nanti Haejin memilih? Belum dimulai saja Haejin sudah memilihku duluan, ckckckck. Kangin Hyung ini…

   ”Memang dia bisa kesini? Dia kan sedang recording dramanya.”

   ”Entahlah,” Kangin Hyung mengangkat bahu. ”Hyukjae bilang dia hanya menyampaikan. Semoga dia bisa datang…” Kangin Hyung menangkupkan tangannya, bersimpuh, dan aku ternganga.

   Pintu apartemen terbuka, dan muncullah Hyukjae, aku menyipitkan mataku melihatnya.

   ”Hyung! Aku sudah bilang pada Haejin…” mendadak Hyuk terdiam saat melihat pandangan mataku, dan tertawa setengah meringis. ”Eh, ada Donghae…” dia menggaruk kepalanya.

   ”Bagus! Besok, sekerat susu stroberi akan diantarkan ke kamarmu.”

   ”Gomawo, Hyung!”

   ”Nah, aku mau ke salon, nanti malam uri Haejinnie akan datang~” dan Kangin Hyung melangkah dengan anggun, yang membuat Hyukjae menahan tawa, dan aku menahan muntah.

   Setelah Kangin Hyung menghilang, Hyuk pun hendak kabur karena mendapatan death glare dariku, namun dengan ketangkasan seorang aktor masa depan sepertiku, kutarik kerah bajunya.

   ”YA! Mau kemana kau?!”

   ”Ah, Hae… ampun! Ampun! Aku cuma mau ke kamar mandi…” kilah Hyuk.

   ”Jangan pura-pura!” kuseret dia ke dalam kamarku dan kukunci pintunya, sementara ia merangkak di atas tempat tidurku, dan cemberut, sambil melirikku takut-takut. ”Kenapa kau mau saja melakukan apa yang disuruh Kangin Hyung?! Hanya karena susu stroberi, ya ampun, Lee Hyukjae! Katanya kau sobatku!”

   Eunhyuk berdeham. ”Aku sudah lama tidak dapat susu stroberi, Hae.” Dengan wajah memelas.

   ”Ah, bohong! Kau kan baru dapat di Weekly Idol!”

   ”Cuma satu…” gumam Hyuk.

   ”Ah~” Aku mengeluh dan duduk di sampingnya, masih sambil melotot. ”Kenapa kau tidak bilang yang sebetulnya pada Kangin Hyung?!” tanyaku kesal.

   ”Ya ampun, memang dia percaya?” tanya Hyuk lagi, lalu merangkulkan tangannya pada bahuku. ”Dengar ya, aku sudah berusaha menjelaskan bahwa kau dan Haejin itu…” dia terdiam.

   ”Apa?!” tanyaku.

   ”Baru sampai aku bilang : Haejin dan Donghae itu… Kangin Hyung sudah memotongku dan berkata bahwa Haejin itu tidak menyukai tipe sepertimu. Jadi daripada aku mendengar lebih jauh dia menjelek-jelekkanmu, lebih baik aku diam saja dan setuju.”

   ”Ah!” keluhku.

   ”Lagipula, kalau Haejin datang, kau tinggal tunjukkan pada Kangin Hyung, kalau kalian memang pacaran! Salah sendiri dia tidak mau dengar penjelasan kita, kan?” kata Hyuk santai. ”Kuperingatkan kau, Kangin Hyung benar-benar seperti fanboy di luar sana… ganas!”

   Aku bergidik, dan cemberut. ”Jadi bagaimana dong?!”

   ”Bagaimana apanya? Haejin kan memang pacarmu, kau cium saja dia kalau perlu di depan Hyung!”

   ”Dan membuatmu merekam kami lagi begitu?!” tanyaku tajam.

   ”Ani… aku ka-pok!” desis Hyuk tajam kepadaku, aku terkekeh.

   ”Aku takut Kangin Hyung malah menculik Haejin.” Keluhku.

   ”Kau berlebihan! Bagaimana mungkin dia menculik Haejin?!”

   ”Huh~ ya kita lihat saja nanti ketika Haejin datang…”

*           *           *

”Ini kan dorm Super Junior.” Komentar Junjin Oppa.

   ”Yup.” Aku melepaskan selimut yang menutupi kakiku dan meraih tasku. ”Besok aku baru mulai recording jam dua belas, kan? Kupastikan aku sudah disana jam segitu, oke?”

   Junjin Oppa mengangguk, masih curiga. ”Kenapa sih, kau senang sekali datang kesini? Chihoon kan tidak datang kesini.”

   ”Memang tidak boleh?” tanyaku sok polos. ”Sudahlah, Oppa, yang penting kewajibanku kujalankan dengan baik, betul? Ya sudah, Oppa pulang saja, pokoknya besok jam dua belas, aku sudah ada di lokasi recording, dan siap melakukan recording, malam Oppa.” Dan aku mencelat keluar dari dalam van, sambil menutupi kepalaku dengan tudung dari jaket baseball-ku, dan berlari masuk ke dalam.

   Di dalam lift, aku melepaskan jaket baseball-ku dan memeriksa bayanganku pada pantulan kisi-kisi lift. Kurapikan anak-anak rambutku yang berantakan, dan merapikan pakaianku, sambil menyampirkan jaketku di lengan. Lift berdentang dan berhenti di lantai dua belas, kisi-kisinya membuka untukku, sementara aku berjalan cepat menuju pintu metal yang sudah kukenal, dan memencet belnya.

   ”Siapa?”

   ”Haejin.” Jawabku.

   ”Oh!” pintu terbuka, dan muncullah Leeteuk Oppa yang tersenyum. ”Hai, Haejin-ah…”

   ”Hai~” aku tersenyum. ”Kata Eunhyuk aku disuruh kesini. Memang kalian tidak ada yang istirahat?” tanyaku heran sambil melepaskan boot-ku dan memakai sandal bulu warna pink milik Heechul Oppa.

   ”Sampai jam segini hanya tinggal Shindong yang siaran,” jawab Leeteuk sambil melangkah ke dalam. ”Kangin-ah, Eunhyuk-ah, Donghae-ya, ini Haejin datang nih!” serunya ke dalam.

   Aku terkekeh dan menoleh saat melihat Donghae muncul dan tersenyum. ”Momma…” dia memelukku erat-erat, dan aku langsung bisa menghirup wangi tubuhnya yang sudah hampir tiga minggu tak kurasakan. ”Bogoshipo…” katanya sambil memutar-mutar tubuhku, dan aku malah semakin mengeratkan pelukannya.

   Hah~ niatku mau langsung ke kamar, tapi ada Ahjussi tua yang memerhatikan kami, dan mendadak aku merasakan pelukan kami terurai. Aku menoleh, dan siap marah pada Leeteuk Oppa! Tetapi ternyata, bukan Leeteuk Oppa yang melepaskan kami.

   ”Ah, Hyung!” seru Donghae protes, tangannya masih sedikit menggandeng tanganku, dan aku sedikit bingung dengan ’pengganggu’ kami. Aku bisa melihat Eunhyuk nyengir geli di belakang Kangin Sunbae yang menatap Donghae dengan galak.

   Apa maksudnya?

   ”Donghae-ya, kau tidak boleh curi start!” seru Kangin Sunbae, yang membuatku mengerjap-ngerjapkan mataku bingung. Aku menoleh kepada Eunhyuk yang memberi isyarat dengan tangannya di belakang Kangin Sunbae. Ia menunjuk-nunjuk Kangin Sunbae, lalu menunjukku dan Donghae, kemudian membuat tanda silang dengan kedua lengannya.

   Apa?!!

   ”Annyeong, Haejin-ssi,” dan Kangin Sunbae menatapku malu-malu, wajahnya mendadak berubah. Dari yang gusar, menatap Donghae, dan menjadi bersemu… saat melihatku?

   Biar bagaimana pun, aku tidak begitu mengenalnya. Aku dan Donghae menjadi sepasang kekasih ketika Kangin Sunbae sedang cuti dari dunia hiburan, dan kemudian ia masuk ke dalam barak tentara untuk menjalankan wajib militer. Kemudian saat kami promo bersama-sama, aku tidak terlalu banyak bermain ke kamar ganti Super Junior, karena Hae yang lebih banyak ke kamar ganti Felidis, atau Hae tidak ada, karena harus recording drama.

   Aku membungkuk. ”Annyeonghaseyo, Sunbae.”

   ”Annyeong~” dia melambai kepadaku.

   Aku nyengir canggung, dan di belakangnya Leeteuk Oppa dan Eunhyuk sudah tertawa-tawa tanpa suara. Dan Donghae mendengus kesal sambil menarikku mendekat ke arahnya.

   ”Ya, Lee Donghae!” seru Kangin Sunbae tak terima.

   ”Wae?!”

   ”Kau sepertinya senang sekali bertemu dengan Donghae, Haejin-ah… tapi, tapi… aku juga penggemarmu, lho.” Katanya penuh harap.

   Aku ternganga. Mwo?! Super Junior Kangin Sunbaenim berkata bahwa dia adalah penggemarku?! Jinjja?! Aku agak kesulitan berpikir, dan kurasa mulutku setengah menganga. Aku bisa merasakan sikutan Hae pada lenganku, dan itu sakit, aku meliriknya ganas, dan dia balas menatapku sama ganasnya. Omo, dia cemburu dengan kakaknya sendiri? Ya Tuhan…

   ”Ah, wae? Dia penggemarku, aku harus berterima kasih.” Bisikku.

   Hae balas berbisik lagi, ”Dia tidak percaya kalau aku itu pacarmu! Kan aku jadi sebal, masa dia bilang padaku kalau kami harus bersaing dengan adil.” Repet Hae cepat sambil menarik lenganku.

   Aku bisa merasakan wajahku memanas. Mwo? Yang benar saja, Kangin Sunbae bilang begitu pada pacarku? Aku menatap Hae tak percaya, dan sedikit malu, ”Jinjja?!” tanyaku lagi.

   ”Ne!” serunya sebal.

   ”YA!” protes Kangin Sunbae.

   Kami berdua sedikit terlonjak dan menoleh menatap Kangin Sunbae, yang nyata-nyata menatap tajam Hae, siap melumat habis Hae hingga tak bersisa, hanya dengan pandangannya. Sementara aku merasa berbunga-bunga. Oh ya ampun, tidak pernah sekali pun dalam hidupku ada yang memperebutkan cintaku, hihihihi… secara terang-terangan pula, gyaaa… Kangin Sunbae ini keren!

   Kulihat Kangin Sunbae kembali tersenyum malu-malu.

   ”Ya, Hyung! Berhenti memasang wajah seperti itu! Aku mual melihatnya, ini seperti bukan dirimu!” seru Hae panas di sampingku. Aww, aku bisa mencium wangi cembulu~ aing aing aing, uri Poppa cembuluuuuu, cembulu… aih neomu kyeopta, cemburu pada Hyungnya sendiri.

   ”Majyeo!” Leeteuk Oppa sekarang ikut-ikutan. ”Bertingkahlah seperti biasa, jika kau sedang mengincar gadis.”

   ”Hyung!” seru Hae gusar.

   ”Donghae-ya, pahamilah… dua tahun di barak tentara tidak bertemu wanita, sekalinya bertemu yang…” Leeteuk bersiul genit. Aku terkikik, menutup wajahku malu.

   ”Ya! Kenapa kau malah malu-malu?!” omel Donghae pada Haejin sebal.

   Aku meliriknya, dan bukannya takut, tapi melihatnya cemberut dengan bibir mengerucut itu, aku malah semakin ingin tertawa. Sumpah ya, Lee Donghae, kau tidak ada seram-seramnya sama sekali! Kau imuuuuut, mau cium,… tapi ada penggemarku disini.

   ”Sana, salaman!” Leeteuk Oppa memberi isyarat pada Kangin Sunbae.

   Kangin Sunbae berjalan mendekatiku dengan wajah ditundukkan. Aku bahkan hampir bisa merasakan panas yang menguar saking malunya ia, aduuuuh… aku jadi ikut malu dan terkekeh.

   Malu-malu dia mengulurkan tangannya, aku mengangkat tanganku untuk menjabatnya, sebelum dia menariknya kembali.

   ”Jamkaman, Haejin!” dia mengelap tangannya pada bajunya agar benar-benar bersih, aku melongo, sementara Leeteuk Oppa dan Eunhyuk terpingkal-pingkal melihat tingkah laku member mereka yang satu ini.

   Bibir Hae semakin mancung saja.

   ”Ah, tanganku harus bersih…” bahkan Kangin Sunbae membalik tubuhnya dan meneruskan mengelap tangannya di bajunya. ”Hyung, Hyuk, tolong fotokan aku dengan Haejin saat kami bersalaman.”

   ”MWO?!”

   ”Ya ampun, Hyung! Dia Lee Haejin, bukan Jennifer Lopez!” seru Eunhyuk ternganga dengan kelakuan ajaib Hyungnya yang satu ini.

   ”Ya!” aku melirik Eunhyuk kesal. ”Aku cuma kalah tinggi dari Jennifer Lopez! Selebihnya aku sama dengannya!” seruku.

   ”Apanya?!” tantang Eunhyuk.

   ”Hmm, menantang!” aku mengibaskan rambutku, dan Hae mulai melirikku dengan ngeri. ”Kalau kutunjukkan milikku yang sama dengan Jennifer Lopez, aku yakin kau akan menghabiskan sabun di kamar mandi!”

   Eunhyuk tersedak, terbatuk-batuk, sementara Kangin Sunbae ternganga, dan menatapku kaget. Aku yakin ia baru kali ini melihat sisi ’cat woman’ yang ada di dalam diriku. Aku kembali menatapnya, dan tersenyum sebaik mungkin, dan ia kembali meleleh dalam senyumanku.

   ”Bisa kita ber…salam sekarang?” tanyanya gemetaran dengan mata berbinar-binar menatapku.

   Aku terkikik, dan mengulurkan tanganku.

   Leeteuk Oppa mengangkat ponselnya, dan mengambil beberapa gambar ketika aku dan Kangin Sunbae bersalaman, dan setelah selesai Kangin Sunbae berkata. ”Aku tak mau cuci tangan! Tak mau, tak mau, tak mau!”

   ”Boleh… kupeluk?” tanya Kangin Sunbae lagi.

   Aku ternganga, pelukkan? Aku melirik Leeteuk Oppa yang berdeham-deham, dan Eunhyuk yang melirik Hae, dan Hae jelas-jelas terlihat menahan dirinya untuk tidak meledak marah.

   ”Ah, wae? Kenapa kau melirik ke belakang?” tanya Kangin Sunbae yang rupanya melihat aku melirik, dan ia menoleh, mendapati Hae yang terlihat sebal di belakangnya. ”Kau kenapa sih?! Kan aku sudah bilang kita harus sportif seperti anak-anak B2ST yang memperebutkan Haejin!”

   Hah?! Anak B2ST memperebutkanku? Sejak kapan? Aku bingung… mereka membicarakan apa sih?

   ”Tapi, Hyung…”

   ”Sudahlah, Donghae-ya, sekali saja…” bujuk Leeteuk Oppa pada Donghae. Kedua mata Donghae melebar kaget, gusar, menatap Leeteuk Oppa tidak terima. ”Haejin-ah, Kangin ini merupakan fans beratmu… berikan ia satu pelukan saja, di barak tentara, katanya… selain SNSD dan Kara, kau termasuk yang memiliki banyak penggemar. Ayolah…”

   ”Hooo, jinjja, Oppa?” tanyaku kaget, segera melupakan pikiran soal B2ST tadi. Lalu menatap Kangin Sunbae dengan canggung. ”Oh, kalau begitu…” dengan ragu-ragu aku melangkah mendekatinya, dan ia merentangkan tangannya dengan ragu-ragu. Aku memeluknya.

   ”OMONA! Aku dipeluk Felidis Haejin! Omo! Omo! Omo!”

   Aku terkekeh geli, melihat Hae yang cemberut, dan berbalik berjalan dengan menghentakkan kakinya ke dalam kamarnya, dan sedikit membanting pintunya dengan kesal.

   ”Ah, geumanhae, geumanhae…” Leeteuk Oppa melepaskan Kangin Sunbae dari pelukanku. Aku melirik kamar Hae dengan cemas. ”Kangin-ah, kita harus mempertimbangkan perasaan Donghae juga.” Sementara Eunhyuk terkekeh dan geleng-geleng kepala mendekatiku.

   Dia merangkulkan tangannya di bahuku. ”Kau tanggung jawab ya, aku tidak mau ada rembesan air ke lantai sebelas.”

   Aku meliriknya sinis. ”Yang memintaku memeluk Kangin Sunbae kan Leeteuk Oppa.” Aku berbisik. ”Lagipula itu kan pelukan pada fans, kalian juga sering di peluk fans wanita, bukan?”

   ”Ya jangan marah padaku! Yang ngambek kan pacarmu!” balas Eunhyuk.

   Aku menggigit bibirku khawatir, ”Ya, kau memangnya tidak bilang pada Kangin Sunbae, kalau aku ini pacarnya Hae?”

   ”Hae bahkan bilang sendiri, tapi dia tidak percaya.” Geleng Eunhyuk

   ”Hei, kalian jangan bisik-bisik berdua dong…” keluh Kangin Sunbae kepadaku dan Eunhyuk.

   ”Ahahaha…” aku tertawa otomatis kepada Kangin Sunbae, dan Leeteuk Oppa memberi isyarat ke arah kamar Donghae.

   ”Kau sudah makan, Haejin? Kudengar kau kesini setelah recording, kau makan dengan baik? Ayo makan…” dan tanpa kusadari, aku sudah ditarik oleh Kangin Sunbae ke dapur, dan ia mulai mengeluarkan segala macam jenis makanan di meja makan, sementara Leeteuk Oppa dan Eunhyuk mengikuti kami.

   Aku duduk dengan canggung dan menoleh ke belakang, ke arah kamar Donghae. Sepertinya dia benar-benar merajuk, aduh… aku kesini kan sekalian mau melepas rindu dengannya, tidak mau mencari keributan. Tapi, aku tidak enak juga main menolak begitu saja ajakan Kangin Sunbae.

   Biar bagaimana pun, aku belum terlalu kenal dengannya, aku masih canggung, tidak seperti dengan yang lain. Ia terus menerus mengajakku bicara, dan demi kesopanan, aku pun menanggapinya, meski setengah hati.

*           *           *

Aku sebetulnya tidak bermasksud untuk marah. Tapi, aku benar-benar kesal, dan merasa terganggu! Kangin Hyung yang tidak mempercayai sedikit pun penjelasanku mengenai statusku dan Haejin, ditambah Teukie Hyung yang malah memanas-manasi Kangin Hyung, dan terakhir, Haejin yang sepertinya selalu menikmati jika ada yang menyukainya.

   Aku tidak ingin kami bertengkar, aku tidak ingin setelah lama tak berjumpa, kami justru malah bertengkar, apalagi untuk masalah seperti ini. Aku mengacak rambutku dengan gusar sambil duduk di atas tempat tidurku.

   Aku berusaha keras menyingkirkan pikiran-pikiran buruk yang terus menerus berkelebatan di kepalaku. Aku tidak mau kejadian dulu terulang ketika aku membiarkan emosi menyulut karena pikiran burukku. Karena semua yang ada di dalam pikiran burukku, tak pernah terbukti.

   Haejin mencintaiku, ia sangat mencintaiku, aku hanya perlu meyakini itu, dan sudahlah… kuhela napasku dalam-dalam, dan berbaring. Kutatap langit-langit kamarku, dan kuletakkan tangan diatas kepalaku dan berusaha mengalirkan energi positif.

   Toh dia ada disini. Dia takkan mungkin pergi begitu saja, dia pasti nanti akan menemuiku, dia hanya merasa tidak enak untuk menolak Kangin Hyung. Ya ya ya, pasti begitu. Kembali kuhirup udara di dalam kamarku dalam-dalam, dan mengembuskannya perlahan, lalu kupejamkan mataku erat-erat, membiarkan kantuk menguasaiku.

   Aku tak tahu aku tertidur berapa lama, yang kurasakan kemudian adalah suara nyanyian lembut, dan belaian pada rambutku. Jemarinya yang lentik, mengusap lurus dari dahiku, lurus pada tulang hidung, bibirku, daguku, leherku, dadaku, dan kemudian perlahan-lahan sekali, kembali mengusap naik ke atas.

   Kamarku sudah gelap, hanya ada lampu tidur dengan penerangan remang yang berasal dari lampu tidurku. Aku bergerak sedikit sebelum akhirnya benar-benar membuka mataku, Haejin tidak menatapku melainkan memjamkan matanya sendiri, sementara jemarinya terus menelusuri setiap lekuk wajahku. Ia menyanyikan bait-bait lagu Loving You milik Super Junior KRY dengan lembut.

   ’I can’t stop loving you…’

   Aku tersenyum dan menaikkan sedikit kepalaku, mengecup pipinya. Ia tersentak dan melepaskan jemarinya dari wajahku, dan menoleh. Nampak terkejut. ”Oh, sudah bangun? Aku membangunkanmu?”

   ”Kau harus membangunkanku dari tadi… kau sudah lama berhasil masuk kesini?”

   ”Yah, lumayan…” kekehnya riang. ”Karena semua sudah memutuskan untuk pergi tidur. Kangin Oppa mungkin dibohongi oleh Eunhyukie, jadi ketika mereka pergi, aku buru-buru masuk kesini dan mengunci pintu. Kau tidur cepat sekali…” katanya heran. ”Setelah selesai recording malah kebanyakan tidur, kah?”

   ”Hmm… daripada aku marah-marah.” Gumamku.

   Dia menatapku dengan pandangan setengah geli.

   ”Wae?!” tanyaku membela diri. ”Aku kan menghindari kita bertengkar makanya aku memilih tidur. Kau sendiri yang bilang kalau obat dari galau agar tidak menjalar kemana-mana itu tidur.”

   ”Iya, iya… aku kan tidak menyalahkanmu.” Sahutnya sambil memutar matanya, dia bergerak ke arah dinding dan meluruskan bantal-bantal bersarung biru dongker yang kupasang di atas tempat tidurku, kemudian merebahkan kepalanya disana sambil menghela napas lelah.

   Kuperhatikan dia belum menghapus polesan make up-nya meski tipis. Dan melihat wajahnya, kurasa ia benar-benar kelelahan, namun tidak ingin menunjukkannya. Aku bangkit berdiri, bisa merasakan ia membuka sebelah matanya untuk melihat kemana aku hendak pergi, namun aku hanya bergerak menuju lemariku, dan mengambil cleanser beserta kapas di atasnya.

   Begitu aku duduk di tepi tempat tidur, Haejin sudah kembali memejamkan matanya, beristirahat. Aku menuangkan toner tersebut ke atas kapas, dan mulai mengusapkannya pada wajah kekasihku. Awalnya dia sedikit kaget ketika cairan dari cleanser tersebut mengenai wajahnya, namun ia nampaknya tahu apa yang kulakukan, dan tersenyum sambil menikmati special treatment dariku.

   ”Kalau mau tidur harusnya di hapus make up-nya, Sayang,” kataku. ”Nanti bisa terkena kanker kulit, lho.”

   ”Hmm.” Dia hanya bergumam.

   Aku mulai menuangkan cairan cleanser untuk kedua kalinya pada kapas yang baru, kali ini kuusap pelupuk matanya yang menutup, mencoba membersihkan eyeliner dan maskara yang masih tersisa disana.

   ”Ah, aku paling suka jika sudah membersihkan matamu…”

   ”Wae?” tanyanya.

   ”Kau tidak pernah memakai bulu mata palsu,” kekehku. ”Bulu mata palsu seperti kaki seribu.” Gidikku, dan dia tertawa.

   ”Kau takut pada bulu mata palsu, Poppa?”

   ”Ani! Bukannya takut, geli…” kilahku, dan dia tertawa seperti orang gila, puas sepuas-puasnya menertawaiku. Terpaksa aku harus dengan paksa menahan wajahnya yang baru setengah bersih pada pangkuanku, meski ia masih terus terkikik. ”Diam diam dong!” desisku, dan dia akhirnya diam, meski wajahnya masih nyengir jail. Lima menit kemudian aku selesai membersihkan wajahnya. ”Ah, lebih cantik tanpa make up…” kukecup dahinya.

   Dia terkekeh puas seperti anak kecil dibelikan balon.

   ”Oke, sekarang kita tidur! Kau ada rekaman jam berapa besok?” tanyaku.

    ”Jam dua belas siang,” jawabnya sambil meregangkan ototnya dan kembali duduk, menatapku. ”Poppa, kalau kita tidur sekarang…” wajahnya terlihat ragu.

   ”Kenapa?” tanyaku bingung.

   ”Ani…” dia nampak bingung, tapi kemudian cemberut dan menatapku. ”Kapan lagi kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama?” tanyanya serius. ”Poppa setelah ini akan sibuk dengan World Tour, dan aku setelah ini masih akan sibuk dengan drama. Belum lagi kalau perusahaan meminta Felidis kembali ke Jepang.” Jelasnya jelas kecewa dengan kesibukan yang ada diantara kami. ”Aku minta pada perusahaan untuk menunda album Jepang kami karena memilih album Summer kemarin.”

   Aku diam mendengarkan kata-katanya. Betul yang ia katakan sebenarnya, tapi aku tak mau dia sakit. Besok jadwalnya sedikit siang, bukankah seharusnya ia bisa lebih banyak istirahat.

   ”Sayang, kau punya banyak waktu istirahat, harusnya kau menggunakannya.” Jawabku. Jujur, aku masih ingin berbincang-bincang, tapi lebih tak ingin ia sakit karena waktu istirahatnya berkurang.

   ”Tapi…” dia mulai merengek, menggenggam tanganku. ”Kapan lagi kita bisa bertemu? Aku takut masih lama lagi, Sayang…”

   Aku diam, tidak segera mengiyakan kata-katanya, melainkan membelai kepalanya.

   ”Jebal…” mohonnya. ”Kau tidak rindu padaku memangnya?!”

   Aku menangkup wajahnya, kemudian mendekatkannya pada wajahku. Tepat ketika dahi kami bersentuhan, aku merasakan deru napasnya yang lembut, dan ia memejamkan matanya. Kukecup bibirnya lembut.

   ”Mana mungkin aku tidak rindu padamu.” Jawabku pelan.

   Dia mengalungkan kedua tangannya pada leherku dan balas mencium bibirku lembut. ”Kalau begitu ayolah… kita masih punya banyak waktu untuk tidur… tapi biarlah malam ini kita jadi pasangan kekasih biasa yang ingin menghabiskan waktu bersama-sama, sebelum kembali menghadapi kenyataan besok.”

   Aku terkekeh dan mendorongnya berbaring, sementara aku menciumi wajahnya perlahan-lahan. ”Jadi… kau… mau… apa?” tanyaku sambil mencium pipinya, hidungnya, dahinya, kelopak matanya, sementara ia membelai-belai rambutku saat aku mengecup setiap senti bagian wajahnya.

   ”Lapar…” sahutnya manja.

   ”Kau mau masak?” aku mengangkat wajahku dan menatapnya heran. ”Kau belum makan?!”

   Dia menggeleng. ”Sudah, tapi lapar lagi…” kekehnya.

   ”Kau yakin mau makan jam segini?”

   ”Hmm.” Dia mengangguk. ”Poppa kau punya ramyeon?”

   ”Ada sih,” aku bangkit dari atas tubuhnya dan menariknya berdiri. ”Tapi besok kalau wajahmu membengkak bagaimana?” kekehku.

   ”Kan bisa di make up,” sahutnya cuek, dan menggandeng tanganku sambil setengah meloncat-loncat seperti anak kecil mengajakku ke dapur. Aku terkekeh mengikutinya saja sementara tangan kami yang bergandengan bergoyang-goyang saat kami tiba di dapur.

   Lampu dorm redup, hanya di dapur yang dinyalakan sedikit remang-remang, sementara di tempat lain sudah benar-benar mati, begitu pula lampu-lampu di dalam kamar. Sepertinya semua sudah berangkat tidur seperti tadi yang Haejin katakan saat ia masuk ke dalam kamarku.

   Aku mengambil dua bungkus ramyeon dari lemari sementara Haejin sudah menyalakan kompor dan memasak air. Kubuka bungkus ramyeon-nya dan mengeluarkan sayuran keringnya untuk langsung ikut direbus pertama kali bersama-sama dengan air.

*           *           *

Air di dalam panci mulai mendidih, kuambil ramyeon instan tersebut dan memasukkannya ke dalam panci beserta bumbunya, kemudian kututup panci tersebut dan menghela napas.

   ”Ja! Tinggal tunggu matang…” kataku puas sambil menepukkan tanganku.

   ”Oke,” dia menatap panci dengan tertarik. ”Sebetulnya sejak memutuskan untuk lebih membentuk tubuhku, aku tidak pernah makan ramyeon lagi tengah malam begini lho.”

   ”Lalu kenapa kau makan?” tanyaku bingung.

   ”Apa harusnya kita masak satu saja ya?” dia terlihat berpikir-pikir. ”Nanti perutku hilang…” ia terlihat khawatir, sementara aku terkikik geli dan membuka kulkas, mencari-cari minuman.

   ”Poppa, punya susu?”

   ”Ambil saja yang di karton…” jawabnya.

   Kuambil sekarton susu segar dan berjalan mencari cangkir, ketika sudah selesai menuangnya, kulihat Hae masih saja terlihat seperti orang bingung mengenai ramyeon dan tubuhnya. Aku menghampirinya dan memeluknya dari belakang, bahunya terlihat sedikit rileks.

   ”Perutmu tidak akan hilang begitu saja jika hanya sekali makan ramyeon, Sayang…” kataku sambil mengelus perutnya dari belakang, dan meletakkan kepalaku pada punggungnya yang bidang.

   Dia terkekeh. ”Kau benar.” Dia mengangguk.

   ”Keurom.” Anggukku, dan ia berbalik meraihku ke dalam pelukannya. Kami berpelukan di depan kompor sambil menunggu ramyeon kami matang, setelah matang, kami duduk berhadapan dan ia memaksa untuk disuapi dan menyuapiku. Jadilah kami saling tertawa di meja makan, di dorm Super Junior yang gelap.

   ”Momma…”

   ”Hmm?”

   ”Kau menonton dramaku, kan?” tanyanya hati-hati sambil menyuapiku.

   Aku menelan ramyeon suapannya dan mengangguk dengan bersemangat. ”Oh! Walaupun tidak bisa langsung menonton Channel A jika aku sedang shoot, tapi setelah selesai aku selalu mendownload-nya, atau bahkan kalau tidak sempat Chihoonie yang melakukannya, dan menaruhnya pada Tab-ku.” Aku nyengir puas. ”Jadi setelahnya pasti aku tonton.”

   Dia tersenyum. ”Gomawo,” dia membelai pipiku. ”Kau sangat mendukungku.”

   Aku tersipu, jarang-jarang ia bicara seperti ini. ”Kalau begitu, Poppa… apakah nanti jika dramaku tayang, kau akan menontonnya?”

   ”Pasti!” dia mengacungkan V-sign. ”Aku janji.”

   ”Gomawo.” Kucium pipinya.

   ”Err… mengenai…” dia terlihat ragu-ragu, tapi kurasa aku bisa menebak apa yang hendak ia tanyakan.

   ”Kisseu scene?”

   Dia mengangguk sambil menunduk.

   ”Hmm…” aku meraih ramyeon lagi dan menuntunnya dengan tanganku pada bibir kecilnya, dan ia melahapnya, dengan wajah menunggu reaksiku. Aku mau tertawa melihatnya, dia sepertinya masih takut dengan reaksiku. ”Bagaimana ya? Aku bingung harus bereaksi bagaimana.”

   ”Buruk atau baik?” tanyanya pelan.

   Aku meletakkan sumpit dan pura-pura berpikir. ”Kalau secara akting… aktingmu menurutku delapan!” dia tersenyum bersemangat. ”Kalau secara kiss… hmm…” aku meletakkan tanganku di dagu, berlagak berpikir. ”Untuk kiss yang hari pertama, dapat nilai… tiga!”

   ”Mwo?!” matanya melebar, terkejut.

   ”Untuk kiss yang kedua, lebih baik… dapat nilai lima!”

   ”Ya!” protesnya. ”Nilai macam apa? Rendah sekali!” dia cemberut dan bersandar di kursi sambil melipat tangannya.

   Aku meletakkan tanganku di meja, sambil menopang kepalaku yang menoleh menatapnya. ”Wae? Itu nilai yang benar… apalagi aku yang menilai, nilai paling objektif yang bisa diberikan seseorang.”

   ”Ani! Kau kan tahu bagaimana ciumanku!”

   ”Justru karena aku tahu bagaimana ciumanmu, makanya kau cuma dapat lima!” aku menjulurkan lidahku.

   ”Ish!” dia mengaduk-aduk mangkuk ramyeon-ku yang masih tersisa sedikit.

   Aku tertawa melihat tingkahnya yang masih saja seperti anak kecil berumur lima tahun. ”Ya!” kutepuk pahanya. ”Kau tidak penasaran kenapa aku memberi nilai lima?!” pancingku.

   Dia mengerucutkan bibirnya, melirikku tajam. ”Apa?!” serunya.

   ”Tentu saja…” aku menegakkan diri dan menyumpit ramyeon lagi dan menyuapkannya ke mulutnya, dia makan dengan patuh, meski masih terlihat mau ngambek. ”Karena aku tahu, kualitas ciuman seorang Lee Donghae lebih dari itu!” dan dia tersedak, aku tertawa terbahak-bahak mengangsurkannya cangkir berisi susu segar dan menepuk-nepuk punggungnya pelan.

   Dia menepuk-nepuk dadanya sambil terus terbatuk.

   ”Aku kan tahu kau bisa lebih jago dari itu, makanya kuberi kau nilai tiga dan lima. Bagus tidak kuberi nilai dua… hehehe…” kekehku.

   Wajahnya memerah.

   ”Benar, kan? Aku itu penilai objektif yang tak mungkin salah menilai…” kataku bangga, dan dia tersipu-sipu. ”Keundae, kukira waktu kisseu scene yang pertama SeungAh Eonnie itu pintar berciuman, tapi kenapa di kisseu scene yang kedua dia terlihat pasif ya?”

   ”Yah, memangnya mau bagaimana?” tanyanya. ”Lebih dari itu bisa-bisa penggemarku ngamuk, kan?”

   ”Ah, benar juga.” Aku mengangguk-angguk.

   ”Lalu… kau?” tanyanya.

   ”Aku kenapa?”

   ”Hmm… kisseu scene?”

   Aku tertegun, kemudian menggaruk kepalaku yang tidak gatal. ”Sekarang sih belum ada kisseu scene, tapi kurasa nanti pasti ada, karena Sutradara bilang ada.” Jawabku lagi dengan cemas.

   Dia terkekeh. ”Kau pasti gugup lagi?”

   ”Aish! Tentu saja aku gugup… tapi harusnya tidak separah drama pertamaku,” bahuku turun kalau ingat bagaimana adegan kisseu pertamaku dalam drama Let’s Get Married bersama Minho dan Changmin Oppa. Mereka berdua selalu menggodaku karena bilang aku tidak ahli dalam berciuman. ”Minho dan Changmin Oppa selalu mengolok-olokku… katanya aku tidak bisa berciuman.”

   ”Kau hanya bisa berciuman denganku.” Sahutnya bangga.

   ”Ajari lagi…” aku mencolek perutnya dengan mata mengedip-ngedip genit kepadanya.

   Dia menutup wajahku dengan telapak tangannya main-main. ”Momma genit!”

   ”Genitnya kan sama Poppa!” seruku.

   ”Oke, oke… kalau genitnya sama aku boleh…” jawabnya. ”Sini… aku ajari ciuman yuk…”

   ”Asyik!” aku melonjak.

   Dia terkekeh, dan menangkup wajahku, dan mulai mendekatkan bibirnya pada bibirku dan mengecupku persis seperti waktu ia mengecup SeungAh Eonnie di episode dua belas.

   Aku tertawa dan menepuk-nepuk dadanya. ”Ya! Poppa~”

   ”Wae?! Kenapa malah tertawa, harusnya romantis!”

   ”Poppa, satu lagi… caramu mencium di episode dua belas itu, sama seperti caramu memakan puding di Skip Beat, makanya aku tertawa…” dan aku malah tertawa terbahak-bahak memegangi perutku.

   Dia menatapku kaget. ”Jinjja?!”

   ”Oh.” Aku mengangguk sambil tertawa dan memegangi perutku.

   ”Omo~ pacarku ternyata hapal betul setiap peran yang kulakukan ya,” katanya bangga dan menangkup wajahku lagi, kali ini aku tidak membiarkan tawaku keluar lagi.

   Aku merindukannya, aku sudah bertanya-tanya kapan kami memulai sesi bermesraan kami seperti biasanya, dan akhirnya ketika waktunya, aku malah tertawa. Oh, aku tidak mau menyia-nyiakannya, aku meletakkan kedua tanganku pada sisi pinggangnya dan ia mendekatkan wajahnya kembali padaku.

   Aku memiringkan kepalaku dan memejamkan mataku saat merasakan bibirnya mendarat pada permukaan bibirku. Hihihi rasa spicy mushroom. Kami berciuman dengan lembut, dan mesra. Kepala kami saling bergerak mengikuti irama yang hanya dalam hati kami berdendang.

   Suara decakan bibir kami yang bersemangat untuk saling mencumbu satu sama lain, menegaskan betapa besarnya rindu kami. Aku bahkan lupa, kami tengah berada di meja makan, di ruang makan dorm Super Junior, yang kuingat hanya dia, dan betapa aku sangat merindukannya.

   PRANG!

   Ciuman kami terlepas dan kami berdua menoleh, Kangin Sunbae menjatuhkan gelasnya ke lantai dan terpaku melihat kami berdua, tangan kami berdua buru-buru keluar dari dalam kaus satu sama lain, dan aku bisa merasakan wajahku memanas, begitu pula pria disampingku.

   ”H…hyung…”

   ”Sunbae…”

   ”ANDWAE!” lolong Kangin Sunbae tak terima.

-Keutt-

Huaaaaa… long time no see ^^

Aku sudah kembali ke kehidupan asliku *?* yaitu ke kampus tercinta. Kemaren-kemaren bener-bener nggak bisa nulis sehari lebih dari satu lembar, selain karena waktunya nggak ada, kalau pun ada biasanya aku nggak sendirian, tapi ada orang, sementara aku nggak bisa ngetik kalau ada orang di deket aku huhuhuhu poor me.

Sebenernya ini udah ketikan yang kesekian kali, karena tadinya udah sepuluh page, aku apus lagi, ketik lagi, apus lagi… ngerasa kurang pas dan kurang sreg sama ceritanya. Tapi karena udah lama nggak apdet juga, terus memang bingung mau apdet soal apa, jadilah ini aja yang bisa aku kasih ke kalian untuk sementara ini. Walaupun belum ada intinya, anggap aja Haejin sibuk (emang sibuk), jadilah emang lagi susah ketemu. Nanti kalau ada ide dan waktu aku pasti apdet. Terima kasih untuk pembaca setia JinHaeXy yang masih setia bolak-balik ngecek blog, maaf nggak bisa apdet seperti biasanya karena kesibukan author-author disini.

Thank you, see you I hope soon ^^

 

 

 

73 thoughts on “{JinHaeXy} Quality Time While Busy Schedule

  1. pertama baca kirain ini bkn tulisan ny nisya..abis beda bgt dr biasany,,
    Jujur ya..aku tuh klo yg nulis bkn nisya gak prnah aku bca!!hehehe *miane*
    Mungkin krn dah lama gak bca crita jinhae jd agak gmn gthu ama crita yg kali ini..
    Tp ttp suka kok,,itu si kangin gak prcayaan amat sih???ada bukti ny aja bru dah cengo..hehe
    Fighting chingu ya..
    Ditunggu crita jinhae slanjut ny!!

  2. Apa banget kangiiinnnnnnnnnnnnn xD itu coba diperiksa jgn2 bukan gelas yg pecah tp hatinya yg pecah /plakk /lebe

    wakakakak donghae mangkeeell bat mangkel.. Gondok bgd itu pasti.. Apalagi pas haejin tersapu-sapu pas dipuji kangin /keplak

    ihh seru yah, maen k dorm :(( aku jg mau doong /salah/

    ekhem, itu bisa kali, ramyun-nya dibagi2. Laper nih /lah

    hwaitiiiingggg…….. Eonnie jiayou!! Himnae!! Neo halssuisseo!!! :*

    saranghaaaaeeee xD

  3. hai onnie sider muncul! fi3 imnida,19 years old. ih jinhae dmna2 slalu mesum eh romantis mksudx hehe… kangin segitu ngefans kah sm haejin? haha kangin malu2 g co2k ma bdanx. smangat trus y onn

  4. HI MOMMAAAAAA~ long time no see juga disini kekekeke
    Maap ya bru baca skrg huhu bru sempet :3

    Ini bacanya beneran pelan2 and teliti soalnya kta momma tadi sudut pandang orang pertama jamak kkk

    Hyuk plis ya jan gtu2 amat disuap sekarton susu mau aja -____-
    Nyahahaha kapok ditonjok hae yaa??? Wkwkwk

    Kangin sunbae nih bener ganas ya jdi fanboy nyahahahaha
    Ya itung2 merasakan perasaan saya melihat idolnya punya cem2an (?) Kkk

    Aiihhh dibersihin mukanya ><
    Kalian nih kembali dengan keromantisan kalian duuuh saya jdi terharu kkk
    Saling dukung drama, disuapin, diajarin kisseu…. Ha~ saya bersemu-semu (?)

    Kangin sunbae… Butuh pukpuk gak? Nyahahahaha
    Jdilah fanboy yg baik ya xD

  5. nisya onnie jadi makin sbuk jadi jarang update,
    tapi gpp q setia menunggu,

    jinhae couple,
    bner2 kngen deh. .
    apa lagy q skrg kena sindrom ikan asin (?) ,hehe

    weks,
    kaya’a kangin oppa elektra brat tuh,
    msa gak percya seh donghae oppa pcar’a haejin onnie,,

    tapi q seneng,
    jinhae jadi couple yg dewasa,
    (ya cemburu skali2 gpplah byar manis)
    q makin suka couple nyh,,

    tetep deh klo ktmu pasti gak than ya,
    kangen berat,,

    ommmo ~ !!!
    syapa tuh yg ngelyat jinhae ciuman,
    jgan blg kangin oppa, (emang kangin oppa ya),,
    apa yg bkaln trjdi nyh,
    bkalan prcya gak ya kangin oppa klo jinhae pacaran,,

    onnie tetep smangat ya walawpun sbuk !
    hwatting !!

  6. Sumpah ngakak gila baca kelakuan kangin oppa d FF ini….
    Ckckck gak kebayang gimana klo itu bener terjadi….

    Kangin oppa patah hati tuh, liat JinHae ciuman….🙂

  7. yaoloh ini si kangin minta dilemparin sendal bnran dah, diblgin kok ngeyel terus ujung2nya shock sendiri gt LOL si unyuk jg gampang bnr disogok pake susu stroberi doank??? astaga nyuk, ga setia kawan bgt luuu~ bwahahaha tp ada bgsnya jg kangin ngeliat, jd kan dia percaya :p

  8. Huaaaa .. Akhirnyaaa scene jinnie dan hae ɑϑǟ lagii …😀
    Ahhhhh ,, hyuunnggg .. *kenapa dateng’a pas scene itu kann nanggung .. Hahahaha😀 (‘ ˘̶ِ̀˘̶́)-σ kangin hyung itu susah Βůϋ⪪ΏĝỀềέ†😀 :p \=D/ ;;) deh dibilanginnya ƍαќ pecayaan Kǝƪ☺ jinnie sama hae oppa ɑϑǟ apa” ..
    Tapi gpp sih ,, jd ɑϑǟ lucunyaa jugaaa😀 *kuu mauu dongg diajarinnn ama hae oppa yang kisseu”a .. *EH*😀

  9. jeng jeng jeng jeng selalu deh jinhae mesra2an gak inget tempat sma sikon… T___T
    itu si dujun jadi dibawa-bawa emang gak berat eonn?? ckckckc /abaikan
    masih ditunggu kelanjutannya eonni >,<

  10. momma mianhae aku jarang buka blog ini skrg
    sama2 sibuk hehehehe
    ini aku sempetin buka
    langsung komen ya
    wkwkwkwk kangin tu ya gak nyadar2 kalo haejin itu pacaran ama donghae
    kasian donghaenya hehehehe
    aduh kangen deh ma skinshipnya jinhae
    mereka jarang ketemu sama2 sibuk
    ok lanjut unnie
    fighting ^^

  11. buahahahahaaaaaaa
    kanginnnnnn *peluk usap2 dada*
    ih iya kali itu d dapur tengah mlm pagi buta gratakan bibir..
    jiakakakakakkkkk

    nisyaaaaaaaa..
    ya Allah ikan gateng kali..
    mokpo ganteng..
    nemo ganteng..
    donghaeeeeee ihhh gemesssss…
    knp ganteng bgt sih..
    ga normal ah gantengx.. kebngetan gantengx..
    poppa mw poppo jugaaaaaa *tendang kyu tarik bibir donghae*

  12. rada membingungkn sih pas baca, gr2 ganti2 sudut pandang. Baca ny mesti k0nsentrasi pnuh. Tp tetep suka k0g. Hehe

    Haha si kangin *geleng2* apa bgt dehh!! Efek g ngeliat yeoja bisa smpe sgitunya. Trus si haejin malu2 lg. Ihh..gemes bgt! Daaaaan si HAEEE mengerucutkn bibirr bner22 mnta diciumm *dipelototin haejin*

    Dan kangin kena serangan jantung ngeliad ciuman panas jinhae *kipas kipas*
    Wkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s