{JinHaeXy} Is It My Fault That I’m Too Hot???

Title : Is It My Fault That I’m Too Hot???

Length : Decide It!

Rate : PG16++ (hayoooo, jangan pada batal puasanya!)

Genre : Romance

Cast :

  • Lee Haejin
  • Lee Donghae
  • Others

{JinHaeXy} Is It My Fault That I’m Hot?

Haejin duduk di depan laptopnya, menatap sebuah gambar yang bergerak-gerak dan bermain di hadapannya. Digigitnya bibir bawahnya, dan dihelanya napasnya dalam-dalam ketika video yang berdurasi kurang dari dua menit itu berhenti berputar. Tangannya tanpa bisa dicegah kembali memutar tombol play, dan ia kembali menghela napasnya dalam-dalam.

   Haejin bangkit berdiri dan berjalan menuju meja bundar kecil yang terletak di sebelah rak CD-nya, dan meraih kalender mejanya.

   28 Juli 2012.

   Disapukannya lidahnya sebentar pada bibirnya, sebelum sebuah rencana hebat dan brilian berkejaran di dalam benaknya. Diletakannya kembali kalender tersebut, dan ia buru-buru mencari-cari di atas tempat tidurnya. Setelah ponselnya, yang ia cari, ditemukan, ia mengetikan sebaris pesan pada WhatsApp kekasihnya, Lee Donghae.

*           *           *

Aku tersenyum bahagia di depan laptopku, semua pesan masuk untukku berisi jeritan-jeritan bahagia tentang bagaimana tampannya aku dalam video pembuatan drama terbaruku. Yah tentu aku tahu aku amat tampan, aku terkekeh geli, malu-malu, aku bisa merasa pipiku membulat dan bersemu merah muda.

   Tidak sia-sia bertahun-tahun tetap setia dengan segala latihan-latihan berat yang nyaris membunuhku… setidaknya tubuhku sempurna! Dan sedikit lagi, hanya satu langkah lagi, mendekati Choi Siwon, huh?

  Bogoittna, Choi Siwon? Suara Eunhyukie terdengar dalam kepalaku, dan aku tersenyum kembali. Ya, bogoittna, Choi Siwon? Aku sudah mulai memamerkan tubuhku dalam drama, dan gadis-gadis akan tergila-gila… muihihihihi, kikikku sendirian membayangkan reputasi Choi Siwon perlahan-lahan akan begeser pada seorang Lee Donghae. Si pendek yang seksi! Aww, sekarang sudah tidak zaman yang tinggi dan seksi mendominasi dunia bukan?

   Lihat saja aku, dan Haejin!

   Haejin tidak setinggi Suzy, dia mungil… tapi tubuhnya, oh… aku menekan kedua pipiku lagi, kurasa wajahku memerah lagi sekarang. Aku memikirkan apa?! Kupukul-pukul kepalaku. Fokus, aku harus membicarakan Haejin secara objektif.

   Meski dia pendek, tubuhnya baek jeom manjeom baek jom (100 points out of 100). Tidak kurus, seperti gadis-gadis girlband pada umumnya, seperti penderita anoreksia. Ia tidak pernah memaksa dan jelas ia amat terpaksa jika nafsu makannya yang besar terhenti. Seluruh tubuhnya berisi, dan itu… membuatnya… seksi!

   Sudah selesai sampai disana saja kita membahas tubuh Haejin, atau aku harus mandi lagi.

   Dan aku bisa melihat masa depan cerah, dimana kami, menjadi idola dunia~ ah pikiran bodoh.

   ”NE, NAN JEONGMAL BOGOSHIPO, PUAS?!”

   Aku menoleh menatap ponselku, yang baru saja menjeritkan suara seksi Haejin ketika marah. Aku terkekeh, betapa sulitnya mendapat rekaman ini, harus menahan rindu berapa lama waktu itu. Dan ini ringtone khususku untuk Haejin.

   Benar saja, ia mengirimiku pesan di WhatsApp, karena ponselnya tercinta, yang sudah butut itu, tidak kuat untuk menampung aplikasi KakaoTalk.

_momma <3_ :

   Sayang, malam ini datang ke apartemen ya, pakai baju pattisier-mu!

   Nah kan! Apa kubilang! Aku sudah menguasai pikiran gadis-gadis, termasuk kekasihku sendiri! Aku memang yakin aku terlihat tampan, dan semua pesan di Twitter, me2day, bahkan KakaoTalk memberitahuku bahwa aku terlihat oh so hot dalam balutan pakaian pattisier itu. Bahu bidang dan kekarnya tanganku terlihat lebih menonjol.

   Dan aku tahu Haejin menyukai betapa berbentuknya tubuhku. Aku ingat saat kami pertama kali berkencan, dan kami Super Junior mempromosikan Miina. Untuk pertama kalinya aku benar-benar mengekspos betapa berubahnya tubuhku setelah aku bekerja cukup keras.

   Dan aku ingat Haejin selalu kehilangan napas setiap melihat jalur-jalur otot yang berbentuk pada tubuhku dan lenganku, begitu juga belahan kuat dadaku. Aku masih ingat bagaimana Haejin, yang selalu sulit mengungkapkan apa yang ia rasakan dengan kata-kata, hingga menangis, karena tak bisa mengutarakan bahwa ia ingin menyentuh blok-blok cokelat pada perutku.

   Woah, aku memang hebat! Dan setelah akhirnya ia terbiasa dan bisa mengungkapkan bahwa ia ingin menyentuh tubuhku, atau satu tahun belakangan, bahkan ia tak perlu bilang lagi, melainkan langsung menyelipkan tangannya begitu saja ke dalam bajuku, membuatku kaget, kini ia sepertinya mulai ngidam lagi.

   Kukirimkan balasanku, bahwa mungkin aku baru bisa kesana lewat tengah malam, dan ia menjawab kembali bahwa aku langsung masuk saja, tidak perlu manja minta dibukakan pintu.

   Yah, bukan salahku kalau semakin tua aku semakin seksi bukan, aku tersenyum puas. Sementara aku mendengar dehaman dari belakangku. Aku menoleh, dan mendapati Leeteuk Hyung, Shindong Hyung, Kangin Hyung, dan Kyuhyunnie geleng-geleng kepala.

   Aku meringis dan tersenyum tak enak pada mereka.

*           *           *

Sekitar pukul dua, rekamanku selesai, dan aku masih cukup sadar setelah tadi mampir di Coffee Beans terdekat untuk membeli Americano, aku harus tetap terjaga selagi membawa mobilku menuju apartemen Felidis. Dan untunglah perjalanan cukup lancar, hingga pukul tiga aku sudah tiba di Sky Dining.

   Mataku sedikit perih, lelah, tapi aku pernah lebih lelah dari jadwal-jadwal ini sebelumnya. Kusambangi lift basement dan menekan angka tigabelasnya. Tak ada yang menginterupsi lift di tengah-tengah, tentu saja, dini hari begini. Dan aku sampai.

   Dorm Felidis sudah sunyi senyap, namun lampu dapur, seperti dibiasanya dinyalakan, jika Haejin tahu aku mau datang selarut ini. Mataku kemudian menangkap poster Felidis terbaru telah dibingkai dan dipajang di atas televisi layar datar mereka, aku tersenyum melihatnya, Haejin terlihat sangat cantik disitu.

   Selain jarum jam dan ikan yang berada di dalam akuarium, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di dalam apartemen tersebut. Lampu-lampu di dalam kamar Kyorin dan Chihoon pun sudah mati, namun aku masih bisa mendengar samar-samar suara musik bermain dari dalam kamar Haejin.

   Tidak heran, ia selalu tertidur dengan musik. Tapi kenapa dia tidak mendengarkan Sexy, Free, & Single? Aku cemberut dan melangkah semakin dekat pada pintu kamarnya, menempelkan telingaku.

   ==” dia mendengarkan album B2ST!

   Perlahan kubuka pintu kamarnya, dan ia ada disana, duduk bersila pada kursi menghadap meja kerjanya, ia nampak serius menatap laptopnya, mungkin tak menyadari aku masuk. Aku tersenyum dan menutup pintu kamarnya perlahan-lahan, lalu meletakkan ranselku di atas tempat tidurnya perlahan-lahan juga, dan mendekati iPod player-nya, kucari-cari lagu Sexy, Free, & Single, sementara iPod-nya masih mengalunkan lagu Midnight.

   Iya sih lagu Midnight enak, tapi kan… ia pasti memikirkan Gikwang!

   Tepat saat lagu berubah Haejin tersentak dan menoleh. Dan pada saat itu juga ia nyaris terjungkal dari kursi.

   ”Hai, Sayang~”

   Aku bisa melihat Haejin menekan dadanya kuat-kuat untuk bernapas dari kekagetannya barusan. Tapi toh kemudian dia tersenyum, setengah mencibir juga. ”Kau mengagetkanku!”

   ”Kenapa kau memasang lagu B2ST padahal aku mau datang?!” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan kerucutan bibirku sambil mendekatinya, melirik apa isi laptopnya. ”Kenapa kau tidak memasang Sexy, Free, & Single?”

   Dia memutar matanya. ”Cemburu melulu! Daripada aku diam-diam memutar lagu orang lain di belakangmu, coba?”

   ”Ah kau benar juga,” kucium bibirnya kilat, sebelum mengintip isi laptopnya, yang berisi deretan kalimat bahasa Inggris panjang yang membuat kepalaku berputar-putar. ”Ini apa?”

   ”Aku sedang membaca, menghabiskan waktu…” Haejin nyengir dan memelukku dari tempat duduknya.

   Aku balas memeluknya dan mengecup sisi pipinya dari samping. ”Jadi, ini cerita berbahasa Inggris, begitu?” ia mengangguk masih menikmati aroma tubuhku, meskipun aku baru pulang kerja.

   ”Sayang, aku belum mandi lho.” Aku memberitahunya.

   ”Aku suka wangimu saat berkeringat,” suaranya mengantuk masih memelukku, dan aku masih dalam posisi setengah membungkuk menatap laptop Vaio pink-nya. Deretan kalimat ini kebanyakan hanya I dan you dan beberapa kata lainnya yang aku tahu artinya apa.

   Haejin tidak bergerak masih memelukku miring dari kursinya.

   ”Eh, Sayang…” aku mencolek punggungnya. ”Aku pegal… tadi kau memintaku membawakan pakaian pattisier, aku sudah bawa…”

   Dan ia melepaskan pelukanku lalu menatap kedua mataku, dan matanya menjadi berbinar-binar. ”Jinjja?! Oh, Poppa daebak~” dia meraih wajahku dan diciumnya kuat-kuat bibirku.

   Aku terkekeh sambil membawanya turun dari singgasana meja kerjanya, dan membawanya ke tempat tidur, dimana tasku berada. Ia menatapku antusias manakala aku mulai mengeluarkan seragam pattisier-ku.

   ”Aww!” dia memekik bahagia.

   ”Lalu mau diapakan?” tanyaku penasaran.

   ”Kau ada rekaman pertama kali pukul berapa besok, Poppa?”

   Aku mengernyit, ”Biasanya pagi aku hanya perlu ke hair shop,” lalu menatapnya bingung. ”Kenapa memang?”

   ”Ehm, apa seragam ini hanya ada satu?”

   Aku tertawa. ”Ya tidak lah, Momma, masih ada beberapa lainnya. Aku memintanya ini satu, dan mereka memberi… kenapa sih memangnya?” tanyaku penasaran.

   ”Poppa sudah makan belum?”

   Aku mengangguk.

   ”Okeh, kalau begitu aku bawakan cokelat saja ya,” dan dia keluar dari dalam kamar begitu saja tanpa menjawab pertanyaanku. Aku mengangkat bahu begitu saja dan meletakkan tasku di kaki tempat tidurnya dan mulai bersandar sambil memainkan boneka-boneka Nemo Haejin yang biasanya akan jatuh jika ia tertidur pulas. Sedikit heran, kenapa ia membeli boneka sebanyak ini sementara ranjangnya sempit, dan ia tidur selalu sembarangan, bukan pertama kali aku tidur terkena pukul atau tendang tanpa sengaja olehnya.

   Tak lama kemudian ia masuk kembali, dengan wajah sumringah ia menyodoriku gelas Nemo couple kami, dan satu untuknya.

   ”Gomawo.”

   Dia hanya tersenyum. Moodnya pastilah sedang amat sangat baik, jika seperti ini, lelahku di tempat syuting tadi terbayar. Ia tidak cemberut, ia tidak menanyakan ini-itu, dia tersenyum, tersenyum, dan tersenyum.

   ”Poppa…” katanya.

   ”Hmm?”

   Dia menatapku sambil tersenyum ala kucing Persia, senyum anak kecil yang nakal tapi polos. ”Kau capek, tidak?”

   ”Keurom.” Aku mengangguk. ”Tapi yah… melihatmu senyum seperti ini…” aku meneruskan tersipu-sipu.

   Dia terkikik, genit.

   Jika sudah seperti ini, aku merinding! Ada apa dengannya?

   ”Poppa…  bolehkah aku minta sesuatu?”

   ”Hmm…” aku mengernyit ragu.

   ”Pakai baju ini di depanku… ya, jebal, jebal, jebal!” dia mendadak seperti anak kecil, meraih tanganku dan mengayun-ayunkannya dengan mata kucingnya, memohon-mohon, merengek.

   Aku menahan senyumku. ”Pakai seragam pattisier?”

   ”Oh! Ya ya ya ya ya???” alisnya naik.

   ”Okelah,” aku mengangguk, tak ada sulitnya jelas, hanya memakai pakaian pattisier, bukan? Segera aku bangkit dan mengambil seragam putih bersih itu, berikut celana bahannya, dan Haejin gembira sekali mendorong-dorong tubuhku masuk ke dalam kamar mandi.

   Kulepaskan kausku beserta wifebeater-ku, dan kupasang seragam pattisier itu. Sedikit ketat tentunya, dan kuganti celana jinsku dengan celana bahan hitam, dan meletakkan bajuku di gantungan handuknya. Aku meraih gagang pintu dan melihat keluar.

   Dia sedang berdiri di depan lemarinya yang terbuka.

   ”Sayang, sudah nih…”

   Dia berbalik dan kedua matanya membelalak menatapku. Lalu, tak pernah terbayangan olehku sebelumnya, ia menghampiriku dan menangis tersedu-sedu. Air matanya bercucuran, tapi kedua tangannya menggenggam pergelangan tanganku kuat-kuat.

   ”Sayang… kau kenapa?!” tanyaku terkejut.

   Tapi ia terus bercucuran menggeleng-geleng. ”Omo… omo… omo…” hanya kata-kata itu yang ia keluarkan sambil menatapku. Kemudian kulihat ia sepertinya menyadari wajah panikku yang melihatnya menangis, ia buru-buru menghapus air matanya kuat-kuat dengan kedua tangannya, lalu tersenyum.

   Aku benar-benar melongo, dan tak bisa berkata apa-apa.

   Ia menangkupkan wajahku dengan kedua tangannya, mengecupku di bibirku, aku masih bisa merasakan basahnya pipinya, tapi kemudian aku toh memejamkan mataku menikmat ciumannya.

   Kudengar ia berbisik. ”Poppa… kau sangat tampan.” Bisiknya pada bibirku, deru napasnya yang hangat pada permukaan kulitku, dan aku bisa merasakan seluruh tubuhku menghangat mendengarnya. ”Kau saaaaangat tampan, sehingga aku begitu bersyukur memilikimu. Bersyukur pria setampan ini ternyata pacarku… sangat sangat bersyukur!”

   Aku terharu mendengarnya, dan bisa merasakan ia meraup bibirku lagi dan mencium bibirku. Ia berjinjit, aku bisa merasakan kedua tangannya yang mengalungi leherku, dan kedua kakinya yang berjinjit di atas kakiku. Satu tanganku pada tengkuknya, menahannya agar terus menciumku, sementara satu tanganku lagi pada pinggulnya, terus menariknya agar mendekat dalam pelukanku, mendekatkan kami sedekat mungkin.

   Aku begitu terhanyut dalam tautan bibirnya, rasanya tak akan pernah cukup. Ya, menciumnya adalah candu, candu yang manis, memabukkan, terasa benar dan aku tidak merasa kami harus mengakhiri ciuman ini. Aku yakin aku bisa bertahan hidup hanya dengan menghirup oksigen darinya.

   Aku bisa mendengar napasnya mulai berat karena pertautan kami, tapi aku tahu ia pun merasakan hal yang sama sepertiku, ia pun tak ingin segera melepaskan diri dariku. Pikiran kami pasti sama! Kapan terakhir kali kami dalam posisi seperti ini? Saling berciuman dan tidak berniat melepaskan diri satu sama lain? Terhanyut dalam cinta satu sama lain.

   Aku bisa merasakan tangan Haejin bergerak menelusup ke dalam rambutku, merasakan tangannya yang lembut seolah terus membelaiku, agar terus mencumbunya, dan membiarkannya terus terlena dalam pangutan ini. Dan aku terus menyesap bibirnya, jika tidak mengatakan bahwa kami saling melahap bibir satu sama lain. Tanpa pernah ada kata puas.

   Akhirnya ia juga yang melepaskan pangutannya, menarik napas dengan tergagap, namun menolak menjauhkan wajah kami, sehingga deru napas kami, yang mengalahkan deru napas para pejuang marathon di Olimpiade London sana, terasa pada permukaan kulit kami satu sama lain.

   Aku merasakan air mata Haejin jatuh lagi, dan ia mulai menciumiku dengan desah berat. ”Poppa…” dikecupnya lagi bibirku penuh hasrat, gairah, dan cinta. ”Aku…” isaknya, dan lagi ia mencium bibirku, menggetarkan seluruh syaraf dalam tubuhku. ”Aku…”

   ”Apa?” bisikku, tanganku yang berada di pinggulnya naik dan mengelus punggungnya pelan. Ia selalu sulit untuk mengungkapkan isi hatinya, heran! Bilang rindu saja, ia harus menangis terlebih dahulu. Dan kali ini apa yang mau dia ungkapkan hingga menangis seperti ini?

   ”Poppa… Aku… Mau…” setiap jeda kalimat ia mengecup, dan meninggalkan decak indah bagi telingaku. Ia semakin mendekatkan tubuhnya kepadaku, dan perlahan-lahan akhirnya ia melepaskan pangutannya, setelah ciuman terakhir kami yang lebih panjang dari sekedar kecupan singkat menggoda darinya di setiap jeda.

   Ia menautkan dahi kami, aku memejamkan mataku menikmati suara napas dan napas hangatnya pada kulitku, kemudian kurasakan ia menarikku, dan membawaku duduk di tempat tidurnya, ia menatapku dengan mata cantiknya yang masih menyisakan jejak air mata.

   Aku mendekatkan wajahku kepadanya, dan mulai mencium bibirnya mesra, ia memejamkan matanya dan mulai membalas pangutan demi pangutan yang kuberikan pada pintu suaranya. Kedua tanganku merengkuh pinggulnya dan membawanya mendekat lagi kepadaku, ia meletakkan satu tangannya pada rambutku kembali, dan dengan sentuhan ajaibnya, aku semakin berhasrat pada bibirnya.

   Sementara satu tangannya pada jantungku, tangannya diam disana, dan aku bisa merasakan tangannya bergerak, naik dan turun pada dadaku, memberikan sensasi gelenyar pada setiap sistem syaraf, yang bergerilya berlari-lari memanaskan suhu tubuhku.

   Aku semakin dalam menciuminya, ia membuka mulutnya, dan kedua lidah kami bertemu. Aku bisa merasakannya pertama menggigit ujung lidahku kecil, dan aku sedikit mengerang, dan kemudian ia menghisap lidahku kuat, dan aku tak bisa menahan diriku untuk tidak kembali mengerang! Tangannya pun mulai mencari-cari sesuatu pada seragamku.

   Ah… kini aku mengerti apa yang ingin Haejin pinta.

   Dan seperti biasa, aku tak pernah punya kuasa untuk menolaknya. Salah, aku selalu memberitahu diriku, ini salah! Ini tidak benar… dan ya, sekali kau terjatuh di dalamnya, kau takkan pernah keluar dari sana selama-lamanya.

   Sayonara, Lee Donghae~ Terima saja hukumanmu karena kau begitu seksi~ Aku menghela napas dalam-dalam untuk diriku sendiri.

~~~~~~~~

Bogoittna?? Yeah, ini cerita datang karena behind the scene miss panda, yang untungnya aku tonton sesudah berbuka puasa -___- Lee Donghae Yassalam bener-bener dah ah!

Jadi, readers tercinta… aku udah ada ide untuk smut scene JinHae, aku udah siap nulis, karena udah lama gak bikin NC juga *Ya Allah, maafin Nisya ya Allah, bulan puasa bukan taraweh malah ngilerin badan Donghae yang makin lama kayak Kim Jongkook* Jadi, terserah juga… mau lanjut apa nggak nih? Kalau kalian mau lanjutannya, ya kalian tahu kalian harus apa… KOMEN! 

Oke sayonara~ 

 

 

 

159 thoughts on “{JinHaeXy} Is It My Fault That I’m Too Hot???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s