Way

Title : Way

Author : @Orin_Park

Genre : ALTERNATE UNIVERSE, Romance, Friendship, Family

Cast :

  • Kim Ryeowook
  • Chihiru Yuka

“Way”

Dahulu kala, di masa peperangan Yunani kuno, kerusuhan terjadi dimana-mana. Semua rakyat hidup dalam keterpurukan yang sangat parah. Perbudakan dan pembunuhan tak pernah luput dari tiap jengkal pandang rakyat jelata. Hingga suatu hari, diantara rakyat-rakyat yang tergeletak dalam kemiskinan dan ketakutan itu, berdirilah 3 orang pemuda yang berani memilih keluar meninggalkan Athena untuk menemukan tempat yang lebih baik untuk kehidupan mereka..

Dengan tekad, keberanian, dan rasa percaya pada sebuah harapan, akhirnya 3 penjelajah itu memulai perjalanan mereka. Terus berjalan lurus ke depan, tak peduli seberapa tandus tanah yang mereka lalui, tak peduli seberapa panjang jalan yang harus mereka tempuh,  tak peduli seberapa panas terik matahari yang harus mereka terobos. Mereka hanya terus berjalan ke depan tanpa menoleh ke belakang. Meninggalkan masa-masa kelam dengan sebuah keyakinan bahwa di depan sana ada sebuah jalan yang lebih indah untuk mereka tempuh daripada jalan untuk kembali..

Bahkan, hingga suatu hari salah satu dari mereka terpuruk, mereka terus melangkah dengan saling menopang satu sama lain. Terus bangkit dan bergerak maju dalam waktu yang panjang. Terus bergerak maju menyusuri jalan itu tanpa ragu, bahkan di pagi-pagi yang sulit mau pun malam-malam yang penuh badai salju. Karena yang ada dalam pikiran mereka saat itu hanya satu, bahwa mereka harus segera menemukan ujung jalan ini untuk keluar dari keterpurukan!

Lagi pula, Dewa tidak mungkin membantu mereka keluar dari kegelapan sebelum mereka mencari jalan terang itu sendiri, kan?

Hingga kemudian, Demeter melihat kesungguhan 3 penjelajah itu. Ia merasa iba dan menebar benih cinta di padang tandus, membuat tumbuhan dan bunga-bunga bermekaran di setiap langkah yang mereka pijakkan. Terus bermekaran meskipun sinar matahari begitu terik. Terus bermekaran meskipun tak ada lagi air yang tertampung dalam tanah-tanah tandus itu. Terus bermekaran, seiring dengan senyum para penjelah yang juga ikut merekah..

Dan saat itu mereka sadar, bahwa jalan yang mereka lalui untuk bergerak maju, telah membawa mereka pada takdir Demeter yang lebih indah..

 

***

Kim Ryeowook menutup buku tebal bersampul coklat itu di atas meja kayu perpustakan umum. Pria itu tersenyum, senang bisa menemukan buku-buku berisi kisah-kisah kuno disini. Rasanya, pilihannya untuk menjadi seorang pustakawan di Yokohama ini sama sekali bukan hal yang buruk, karena itu artinya ia bisa bebas mengacak-acak perpustakaan untuk membaca lembaran kisah menarik tentang jalan kehidupan.

Pria dengan garis-garis tegas wajah Korea itu mengambil pena dan sebuah buku agenda dari ransel hitamnya. Sedetik kemudian, ia sudah menarikan pena birunya di atas lembaran kertas bergaris itu. Begitu serius. Namun keseriusan itu tetap tak bisa menghapus seulas senyum kecil yang terkembang di bibirnya..

Para penjelajah bangkit untuk bergerak maju dalam waktu yang panjang.

Bahkan di pagi yang sulit atau pun malam yang berangin.

Bunga bermekaran dimana-mana,

Meskipun sinar matahari begitu terik atau tak ada lagi air di dalam tanah.

“Satu bait sederhana yang lembut…” gumam pria itu sambil tersenyum mengamati apa yang baru saja ditulisnya, “Tidak buruk.”

Ryeowook kembali menutup agendanya. Pria itu mulai merapikan buku-buku tebal yang tadi sempat ia baca, dan meraih ransel hitamnya. Puas. Ya, puas karena akhirnya ia bisa memikirkan lagu seperti apa yang akan dikemasnya. Dan entah kenapa, Jepang selalu berhasil memberinya inspirasi untuk berbaris-baris lirik manis semacam ini.

Pukul 4 sore. Waktu kerjanyahari ini sudah habis. Pria itu hendak beranjak meninggalkan perpustakaan umum, tapi tiba-tiba saja langkahnya tertahan. Apakah ini takdir Tuhan? Atau jalan kehidupannya mulai bergerak? Kim Ryeowook tidak mengerti saat tiba-tiba kepalanya mendongak, membuat kedua matanya mau tak mau menatap lurus keluar jendela perpustakaan.

“Cantik…”

Kim Ryeowook bahkan tak berkedip untuk beberapa lama. Apa yang dilihatnya di luar jendela perpustakaan itu, membuatnya terhenyak. Tampak seorang gadis berambut coklat panjang dengan sweater pastel yang duduk di atas sebuah kursi taman. Wajah yang cantik, namun tidak dengan matanya. Mata itu terlihat sendu, dan kosong. Tak banyak yang bisa terbaca dari matanya lewat radius sejauh ini. Tapi Kim Ryeowook bisa melihat sesuatu yang terpancar disana. Abu-abu yang menggelap. Kesepian. Kebingungan. Penyesalan.

Setelah sejak tadi terdiam, gadis itu tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari tas kain yang terslempang di pundaknya. Sebuah kuas. Ia tampak menimang-nimang kuas  itu sebentar, menatapnya dengan sorot mata sendu, dan kemudian mematahkannya. Ya, mematahkan kuas kecil itu, dengan setetes cairan bening yang menerobos lancang dari ujung matanya.

Menangis, diam-diam?

…………………..

Ryeowook berjalan mendekat kearah jendela, kembali menatap gadis itu dengan sejuta pertanyaan di benaknya, “Kenapa kau seperti tersesat di dalam jalan kehidupanmu sendiri?”

***

‘takkkk…’

…………….

Gadis itu kembali mematahkan kuasnya. Entah sudah yang keberapa. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang pada akhirnya kembali menerobos keluar walau hanya satu tetes. Ya, satu tetes untuk setiap batang kuas yang patah. Tapi itu tidak sebanding dengan ribuan tetes air mata yang dikeluarkannya saat melihat sang Ibu meninggal setahun lalu. Sama sekali tidak!

Menghela nafas kecil, gadis itu menunduk. Diam-diam memperhatikan patahan kuasnya yang terbuang jatuh di atas rumput. Benda kayu itu, mungkin pernah menjadi benda terpenting dalam hidupnya, pernah menjadi separuh dari dirinya. Tapi sekarang, tidak lagi. Ia harus membenci benda itu! Ia harus mematahkan semua kuas yang ia punya! Semua!

“Hey..”

Teguran itu terdengar seiring dengan buku agenda yang tiba-tiba sudah tersodor tepat di hadapannya. Terlalu tiba-tiba hingga si gadis tak punya sempat waktu untuk memikirkan ekspresi apa yang harus ditunjukannya. Buku itu terbuka, memperlihatkan lembar putih bergaris yang terisi sederet tulisan dengan tinta biru..

Kau tidak harus tinggal dalam kehidupan penuh kesedihan dan penyesalan.

Kau hanya harus tau bahwa kita mempunyai jalan kita sendiri,

Tempat berpijak kita sendiri…

Gadis itu terhenyak. Ada sesuatu yang terasa sesak di rongga dadanya. Apa-apaan ini?  Luka dan kepedihan yang ia simpan rapat-rapat selama ini, bagaimana mungkin orang lain bisa mengetahuinya? Kehidupannya yang terkurung dalam sesal dan rasa bersalah itu,  bagaimana mungkin ada orang lain yang mengerti?

Ia mendongak pelan, menatap sinis pada semburat wajah seorang pria yang saat ini tersenyum di hadapannya, “Sok tau..”

“Maksudmu?”, pria itu berjengit.

“Siapa kau? Orang asing sepertimu tidak berhak menasihatiku!”

“Aku? Aku Kim Ryeowook…”, pria itu tersenyum, ia lalu menarik kembali uluran agendanya dan mendudukkan diri di samping si gadis, “See? Jadi mulai sekarang, aku bukan lagi orang asing..”

“Cishh…”, gadis itu mendesis mencibir, tanpa berkeinginan sama sekali untuk menoleh pada Ryeowook, “Aku tidak peduli..”

“Aku juga tidak. Aku kemari hanya untuk-”

“Menyindirku dengan tulisan-tulisan bodoh itu?”, potong gadis itu. Ia tersenyum mengejek, sepasang mata sayunya tetap menatap lurus ke depan, pada segerombol anak-anak yang tengah membaca buku cerita di halaman perpustakaan umum, “Sayang sekali, sindiranmu tidak tepat, Tuan! Aku baik-baik saja… Dan aku tidak suka caramu mendefinisikan perasaanku itu dengan sok tau!”

“Sok tau?”, Ryeowook terkekeh kecil sambil memandangi tiap lekuk wajah gadis itu dari samping, “Dan… tunggu! Siapa yang bilang aku menyindir? Aku hanya ingin meminta pendapat tentang lirik lagu  yang kubuat..”

Dan pada akhirnya, gadis itu tak bisa menolak lagi untuk menolehkan kepalanya ke samping, “Lirik… lagu?”

Ryeowook mengangguk cepat, “Jadi, bagaimana sepenggal lirik itu menurutmu, Nona… eung… siapa namamu?”

“Yuka..”, lirih gadis itu.

“Yuka?”, ulang Ryeowook, sedikit tak yakin. Ia mengamati gadis itu dari ujung kaki sampai ujung kepala sambil mengerjap beberapa kali, “Kau yakin itu namamu? Maksudku, kau orang Korea dan..”

“Chihiru Yuka. Kalau kau keberatan dengan nama itu, silahkan pergi..”

***

Chihiru Yuka menghela nafas, sepasang mata coklatnya tak juga berpaling dari sebuah benda tipis dalam genggaman tangannya saat ini. Tiket masuk Galery Seni Lukis Setsuko Rei. Setelah nyaris ‘seminggu’ ini mengganggunya di taman dekat perpustakan, kemarin, tiba-tiba saja pria bernama Ryeowook itu memaksa memberikan tiket ini untuknya..

………………….

“Yuka-chan, hari senin nanti kau harus menemaniku kesana. Mengerti?”

“Aku tidak mau!”

“Dan aku tidak mau tau, aku akan menarikmu kesana!”

………………….

“Hhhh…”, Yuka menggigit bibir bawahnya keras-keras, “Kalau saja kau memberikan tiket ini setahun yang lalu, mungkin aku akan sangat senang menerimanya..”

Yuka beranjak dari kursi kayunya, dengan langkah yang gamang, ia berjalan pelan mendekati sebuah pintu di sudut kamar kelabunya yang tampak remang. Terus mendekat. Hingga tinggal selangkah, dan kakinya terhenti, seolah tak bisa bergerak lagi. Yuka menatap pintu kayu di hadapannya itu dengan tatapan aneh yang tak terdefinisikan..

“Lalu sekarang, dengan semua kenangan yang kubuang dan kututup rapat-rapat di dalam sana… Apa kau pikir aku masih sanggup menginjakan kaki di tempat yang ‘dulu’ pernah menjadi duniaku itu?”, gumamnya, terdengar parau.

Gadis itu mengulurkan tangannya, meraih kenop pintu, menatapnya sejenak dengan ragu. Ia takut, sangat takut, benar-benar takut. Jika ia membuka pintu ini, mungkin semua kenangan-kenangan buruk itu akan semakin menghakiminya. Tapi, jika ia tidak membukanya, tidakkah ia justru akan menjadi seseorang yang semakin penakut?

‘Kreeekkk…’

……….

Deeggggg…

Dan perasaan aneh yang menyakitkan itu kembali menikamnya. Sesak. Perih. Jantungnya seolah berdetak tiga kali lebih cepat saat pandangan matanya menyapu isi ruangan kecil itu. Kanvas-kanvas kosong yang tergeletak, lukisan-lukisan yang terpajang di dinding, palet dan kuas-kuas kayu yang berserakan, noda-noda cat  yang membercak di banyak tepat.

“Eomma, Oppa…”, racau Yuka, seiring dengan cairan bening yang mengalir pelan membasahi wajah putih pucatnya,

Bayangan-bayangan aneh itu kembali berputar dalam otaknya. Seperti sebuah roll film yang mengulang sebuah kisah lalu. Dulu, saat sang Eomma mengomel memarahinya yang lupa makan karena asyik melukis. Dulu, saat sang kakak, Kim Jongwoon, selalu mengejek lukisannya sebagai gambar aneh tak berbentuk. Dulu, saat ia sering mengamuk ketika Jongwoon menumpahkan cat minyaknya. Dulu, saat Eomma dan Jongwoon memeluknya bangga karena menjuarai sebuah lomba lukis. Dulu…

Dulu, walau hanya berisi tiga orang, rumah ini ramai sekali. Dan ruangan kecil yang ‘dulu’ ia sebut galery lukisnya itu, tak pernah sepi dari teriakan-teriakan aneh. Tapi sekarang, tidak lagi. Eomma pergi meninggalkannya. Sang Kakak juga pergi, dan tak ingin melihatnya lagi. Semuanya pergi karena benda-benda itu! Karena kanvas, kuas, palet, dan cat air itu! Dunia ‘seni lukis’ pernah membuatnya candu, dan ia benci semua itu!

“Dan sekarang, hanya tinggal aku sendiri. Terkurung disini, sebuah jalan buntu..”, Yuka menatap secarik kertas tiket di tangannya, lalu menyobek benda tipis itu menjadi serpihan-serpihan kecil tak berharga, “Dan tidak seharusnya aku berjalan lagi..”

‘Praanggg….’

Chihiru Yuka tersentak kaget. Seseorang dengan lancang melempar batu berukuran sedang dan memecahkan jendela ruangan itu. Dengan tanpa emosi, Yuka berjongkok pelan memungut batu yang jatuh tak jauh dari kakinya itu. Gadis itu berjengit ketika mendapati sesuatu yang terikat disana, sebuah kertas. Ia mengambil lintingan kertas kecil yang terikat benang itu dan membukanya perlahan,

Ada sebuah pemandangan indah yang bisa kau lihat di luar sana.

Dan suatu hari, kita akan bersama-sama menuju tempat itu.

Kau tidak sendirian,

Jadi, mari bergerak maju untuk mencari sesuatu yang berharga dalam hidup.

‘Teess…’

Yuka bisa melihat bercak tetes air itu melunturkan tinta biru pada kertas ditangannya. Diam-diam sudut bibirnya melengkungkan sebuah senyum. Yuka menyeka cepat air matanya, kemudian berjalan kearah jendela kacanya yang tak lagi utuh itu, kemudian melongokkan kepala keluar.

Tebakannya benar, sosok Kim Ryeowook tampak berdiri di bawah sana sambil menyunggingkan senyum lembutnya yang seperti biasa. Sejenak, pria itu tampak menggaruk-garuk kepalanya dengan kikuk, kemudian merentangkan kedua telapak tangannya di samping wajah, “CHIHIRU YUKA BERARTI SERIBU AIR MATA YANG INDAH, KAN? JADI JIKA KAU INGIN MENANGIS, MAKA MENANGISLAH UNTUK KEBAHAGIAANMU DI MASA DEPAN!”

Yuka terhenyak diam.

……….

Menangis, untuk kebahagiaannya di masa depan?

……….

“Yuka-chan! Apa kau terlalu terharu dengan caraku yang romantis ini?”, seruan kedua dari Ryeowook membuat Yuka tersadar.

Gadis itu berdecak pelan dengan nada ketusnya, “Tunggu di bawah, aku akan turun dan menagih uang ganti rugi..”

***

“Apa kau tidak kedinginan?”

Chihiru Yuka menggeleng pelan, ia masih sibuk menyesap cup coffee hangat di tangannya sambil sesekali melirik diam-diam ke arah Ryeowook. Kenapa? Kenapa malah jadi seperti ini? Susah payah ia bersikap kasar dan tak acuh, tapi kenapa pria itu tak juga bosan untuk selalu berada di sampingnya selama hampir 2 minggu ini? Kenapa pria itu tak juga pergi dan menyingkir dari kotak kehidupannya?

“Yaishh.. anginnya kencang seperti ini, tidak mungkin kau tidak kedinginan!”, ujar Ryeowook sambil melepaskan jaket abu-abu yang dipakainya. Ia hendak menyampirkan jaket itu ke pundak Yuka, tapi gadis itu langsung menepisnya dengan kasar.

“Apa kau tuli? Aku sudah bilang aku tidak kedinginan!”

Kim Ryeowook hanya mengedikkan bahunya. Mengisyaratkan ‘terserah’ sambil kemudian membuang jaketnya begitu saja keatas hamparan rumput  bukit Akarenga. Setidaknya, ia juga ingin ikut merasakan angin yang menerpa gadis di sampingnya itu.

Berselang lama. Ryeowook mengusap-usap tangannya, sambil meniupkan udara hangat kedalam sana. Dingin. Ia lalu mengalihkan pandangan lurus ke depan, pada anak-anak kecil yang sibuk menggantung boneka-boneka kain mungil di dahan pohon-pohon apel bintang. Boneka penangkal hujan, teru-teru bozu. Mereka bernyanyi-nyanyi riang sambil bertepuk tangan bersama, memohon pada dewa agar hari cerah dan tak turun hujan.

Ryeowook tersenyum, menoleh pelan pada Yuka, “Yuka-chan, saat masih kecil dulu, apa kau suka menggantung teru-teru bozu juga?”

“…….”

Chihiru Yuka bergeming. Sepasang mata coklatnya menatap lurus pada sebuah titik lain di arah selatan bukit.

Kim Ryeowook berjengit bingung. Ingin tau apa yang tengah diperhatikan Yuka saat ini, ia lalu mengikuti arah tatapan gadis itu. Pada sebuah pohon angasa yang daunnya tampak berguguran. Tapi, pandangan Yuka tak mengarah tepat disana, melainkan pada sosok gadis kecil yang duduk tak jauh dari pohon itu. Seorang gadis mungil, dengan kanvas kecil yang penuh coretan cat air di hadapannya. Tangannya memegang kuas kecil dan palet, menyatukan kedua benda itu sesekali, kemudian mulai menorehkan kuasnya itu keatas kanvas.

Melukis…

“Kenapa? Kau ingin mematahkan kuasnya?”

Suara Ryeowook yang menggumam lirih di dekat telinga Yuka, membuat gadis ‘Korea’ itu tersentak. Ia lalu menyesap cup coffenya lagi lamat-lamat, mencoba berkilah agar matanya tak bertemu tatap dengan Ryeowook, “Itu bukan urusanmu!”

“Aku ingin itu menjadi urusanku!”

“Cishhh…”, cibir Yuka, sinis, “Memangnya kau pikir kau ini siapa? Kau hanya orang asing yang tiba-tiba menguntitku selama 2 minggu, dan mengganggu kehidupanku!”

Ryeowook menggeleng cepat, “Bukan menganggu. Tapi menata..”

“Menata?”, Yuka menoleh kali ini, sebelah alisnya terangkat, seolah mengejek, “Kau bahkan tidak tau apa-apa tentangku, dan-”

“Kau adalah seseorang yang mencintai seni lukis, tapi kau terlalu takut untuk melanjutkannya lagi karena sebuah kenangan buruk di masa lalu..”, potong Ryeowook yang membuat sepasang mata Yuka langsung membulat kaget.

“K.. kk.. Kau..”

Ryeowook tak memberikan Yuka waktu untuk bicara, dan malah menarik lengan kiri gadis itu dengan kasar, menunjuk luka-luka sayat yang masih membekas jelas disana, “Kau pernah mencoba bunuh diri karena di kejar rasa bersalah, tapi Tuhan belum membiarkanmu mati. Dan sekarang, kau selalu mencoba membohongi dirimu sendiri untuk membenci apa-apa tentang lukis, yang kemudian membawamu pada sebuah jalan buntu..”

“………”

“Kenapa diam? Apa aku salah?”, suara Ryeowook meninggi, tapi tak berkesan membentak. Ada nada lembut yang tersisip dalam nada suaranya, “Kau benci kuas, kan? Kau selalu mematahkan semua kuas yang kau punya, kan? Dan yang aku tau, adalah… ketika seseorang benar-benar merasa membenci sesuatu, maka sesuatu itu adalah apa yang pernah ia cintai di masa lalu..”

“………”

Chihiru Yuka masih diam. Hanya diam. Wajahnya tertunduk. Menyembunyikan tetes-tetes bening yang mulai mengalir pelan dari kedua sudut matanya. Benar! Semua yang di katakan Ryeowook itu benar! Tapi kenapa? Kenapa pria itu bisa tau semuanya? Kenapa pria itu bisa menebak semua duka masa lalunya dengan begitu mudah?

‘Kreseekkk…’

Yuka bisa mendengar gemresak dedaunan kering yang bergeser, lalu di susul dengan derap langkah yang semakin lama semakin menjauh. Sudah pergi, pria itu sudah pergi. Yuka menyeka air matanya perlahan, kemudian mendongak pelan. Dan hal pertama yang dilihatnya adalah…. selembar daun pohon apel bintang kering, dengan coretan lembut tinta biru di atasnya..

Saat ini, kau harus mengatasi hari-hari dimana kau lelah,

Hari-hari dimana kau takut pada penyesalan yang mengejarmu.

Apa yang pernah terjadi masa lalu, cukup kau anggap saja sebagai kenangan buruk.

Meskipun tak ada penjelasaan apa pun untuk itu..

“Lagi?”, lirihnya, “Kenapa kau selalu menuliskan pesan-pesan seperti ini untukku? Berhentilah, Kim Ryeowook. Berhentilah. Karena ini hanya akan membuatku semakin sulit. Kau harus tau, bahwa kadang, ketika berhadapan dengan benda-benda itu, aku hanya akan menjadi sosok yang egois dan menyeramkan..”

Yuka meremas daun kering itu kuat-kuat, meremukkannya dalam genggaman, “Saat itu, aku akan membuat orang-orang yang kusayangi pergi meninggalkanku lagi. Dan mungkin, aku juga akan membuatmu pergi. Karena jika terus seperti ini, akan sulit untuk mengelak bahwa aku….. mulai menyayangimu..”

***

Gadis itu masih terduduk di kursi lipat, sibuk menyelesaikan lukisan bunga sakuranya dengan cekatan. Menarikan kuas kayu kecilnya di atas kanvas putih yang mulai penuh, sambil sesekali menyatukan warna-warna lembut di atas paletnya. Ini, adalah kali pertamanya melukis bunga sakura yang berjatuhan di musim gugur, jadi ia harus melukis bunga-bunga merah jambu itu sebaik mungkin, kan? Ya, sesempurna mungkin.

“Jinnie, bisakah kita pulang saja? Disini dingin sekali..”, ujar seorang wanita berusia 40tahunan yang tampak menggigil merapatkan syalnya di belakang gadis itu.

“Eomma… ayolah! Aku harus menyelesaikan lukisanku dulu..”, rajuk gadis itu tanpa beralih dari lukisannya.

“Kau.. uhukk.. kau bisa menyelesaikannya lain kali, Jinnie.. uhuk.. uhuk..”, wanita yang dipanggil ‘Eomma’ itu mulai terbatuk, wajahnya tiba-tiba memucat, seiring dengan keringat dingin yang kemudian mengucur pelan dari dahinya.

“Tidak bisa! Aku harus menyelesaikannya sekarang!”

Wanita setengah baya itu tampak mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba memulihkan pandangan yang terasa buram. Ia mengerang kecil sambil kemudian memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa pening, “Tapi… argghh.. Jinnie, kepala Eomma sakit sekali..”

“Sebentar lagi, oke?”, si gadis mendengus sebal tanpa menoleh sama sekali, ia terlalu sibuk dengan palet, kanvas, dan kuas-kuasnya..

“Sebentar lagi? Uhukk.. kau.. kau janji?”, wanita yang tak lain adalah ibunya itu menatap penuh harap di antara kesadarannya yang kian menipis, suaranya terdengar tercekat.

“Ishh.. Kalau tidak mau menunggu, Eomma pulang sendiri saja..”

“Akhh.. Jinnie, tapi..”

“Eomma! Berhentilah merengek! Berhentilah merengek atau aku akan sangat membenci Eomma jika nanti lukisanku menjadi jelek!”, tukas gadis itu dengan kesal. Tanpa menoleh atau melirik sedikit pada sang Eomma di belakangnya, gadis itu dengan egoisnya terus berkutat dengan peralatan seni gambarnya.

“……..”

Entah terlampau tak punya cukup kesadaran lagi untuk bicara, atau terlampau takut sang anak akan benar-benar membecinya jika ia menyela, tiba-tiba saja wanita itu terdiam bungkam. Seolah menyerah. Baik, ia tidak akan merengek lagi. Tidak akan. Dia akan diam disini, dan menunggu putrinya selesai. Ya, diam disini.

Bahkan ia tetap diam saat cairan merah kental mulai mengalir dari luang hidungnya. Tetap diam saat kepalanya terasa begitu nyeri seperti dihantam ribuan palu. Tetap diam. Bahkan sampai kedua kelopak matanya yang mulai berkeriput itu pun mulai tertutup, wanita itu tetap diam. Benar-benar diam.

“Huffttt.. akhirnya selesai..”, sementara si gadis tersenyum puas memandangi lukisannya setelah beberapa lama, “Ayo Eomma, kita pulang…”

“……”

“Eomma?”, gadis itu menoleh ke belakang.

“EOMMA???”

……………………………….

…………………………………………..

Kenangan buruk masa lampau itu berputar cepat di dalam ingatan Chihiru Yuka, pelan-pelan dituturkannya dalam tiap kata yang tersendat oleh isak tangis. Aneh. Yuka sendiri tak mengerti kenapa tiba-tiba ia menceritakan semua kenangan pahitnya itu pada Kim Ryeowook. Pria itu seolah memberinya ruang untuk berbagi, dan tanpa sadar ia mengambil ruang itu.

Sambil menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, Yuka tetap membiarkan punggung rapuhnya tersandar pada badan pintu. Tersungkur diam-diam saat hujaman rasa sakit dan sesak itu kembali menyerangnya, bertubi-tubi. Meringkuk takut saat penyesalan dan rasa bersalah itu kembali berputar kuat dalam otaknya, mengejarnya, menghakiminya.

“……”

Yuka menempelkan daun telinganya pada badan pintu. Tak ada suara. Di balik papan kayu itu, Ryeowook masih diam untuk mendengarkan semua ceritanya. Di balik papan kayu itu, walau tak terlihat, ia bisa merasakan Ryeowook tengah tersenyum hangat untuk menenangkannya. Di balik papan kayu itu.

“Wook..” lirihnya,

“Hemh?”, suara itu terdengar begitu dekat. Hanya terhalang ketebalan 2cm papan kayu di belakang telinganya,

“Ternyata saat itu penyakit Eomma kambuh, tapi aku malah tak mengacuhkannya karena keegoisanku..”, Yuka menyeret lemah kedua kakinya ke arah badan, “Dan saat Eomma di larikan ke Rumah Sakit, nyawanya sudah tidak dapat tertolong lagi. Dokter Hiroki bilang, aku…. terlalu terlambat membawa Eomma..”

“…….”

Yuka memeluk lututnya erat-erat, tubuhnya gemetaran. Dengan suara parau  yang nyaris hilang itu, ia mencoba menyelesaikan ceritanya, “Kemudian, setelah kepergian Eomma, Jongwoon Oppa terus-terusan menyalahkanku. Oppa, menganggap aku, dan lukisan-lukisanku, adalah penyebab kematian Eomma. Lalu Oppa pergi, Oppa pergi ke Seoul, dan meninggalkanku disini. Meninggalkanku sendirian…”

Yuka mengelus-ngelus pipi kirinya, ia masih bisa merasakan panas tamparan kakaknya malam itu. Ia masih ingat benar semua cacian-cacian Jongwoon padanya. Ia masih ingat benar bagaimana Jongwoon terus menyalahkannya atas kematian Eomma. Dan ketika Jongwoon menginjak-nginjak lukisan sakuranya, itu adalah hal paling membekas yang tak akan pernah di lupakannya. Itu, adalah saat dimana ia menyadari, bahwa seni lukis adalah hal yang mengerikan..

Tanpa peduli pada air matanya yang mengalir semakin deras, dengan kacau gadis itu membentur-benturkan kepalanya sendiri ke badan pintu, “Semua karena alat-alat lukis itu! Andai saja saat itu aku tak pernah mengenal seni lukis. Andai saja saat itu aku tak terlalu memuja-muja kuas dan kanvas kebanggaanku. Andai saja saat itu aku tak terlalu egois dengan lukisanku sendiri, pasti Eomma masih bisa tertolong…”, suara paraunya terdengar seperti pekikan yang tertahan, “Pasti Jongwoon Oppa tidak akan pergi meninggalkanku…”

“Yuka-chan.. berhentilah menyalahkan dirimu sendiri..”

Chihiru Yuka hanya meringkuk diam. Ia tidak bisa untuk tidak menyalahkan dirinya sendiri, karena ini semua memang kesalahannya. Ia yang menyebabkan kematian Eomma! Ia dan kanvas serta kuas-kuas, juga cat-cat itu! Begitulah kenyataannya. Karena saat menyentuh alat-alat lukis itu, ia akan selalu berubah menjadi monster yang menyeramkan.

“Jadi, kau tidak ingin melukis lagi?”, tanya Ryeowook di balik pintu.

Yuka menggeleng pelan. Walau ia tau Ryeowook tak bisa melihat gelengannya karena sebuah pintu yang menghalangi mereka, tapi gadis itu tak peduli. Ia terlalu lemah saat ini, bahkan untuk sekedar menunturkan sebuah kata..

“Tapi bukankah melukis itu adalah hidupmu?”, tanya Ryeowook lagi, seolah dia mengerti arti dari diam Yuka adalah kata ‘tidak’, “Bukankah kau berfikir bahwa sekarang kau sudah kehilangan orang-orang yang kau sayang? Lalu, apa kau juga ingin kehilangan apa yang pernah menjadi bagian terpenting lainnya dari hidupmu?”

“…….”

“Kau tidak bisa terus seperti ini, Yuka-chan..”, nada suara yang lembut dan hangat itu seolah membelai kepala Yuka melalui udara yang menyisip lewat celah pintu, “Terpaku pada masa lalu yang pahit dan terlalu takut untuk bergerak maju, hanya akan membuat jalan kehidupanmu menjadi buntu..”

Yuka meremas tangannya yang berkeringat, “Aku….a.. aku sudah tidak bisa melangkah lagi. Tidak bisa..”

“Kau benar..”, sahutan singkat Ryeowook membuat Yuka mendongak dan menyandarkan kepalanya pada badan pintu, “Kau sudah tidak bisa melangkah lagi, karena kau terlalu takut untuk berdiri..”

Deggggg…

Yuka terhenyak.  Kalimat singkat itu seolah menusuknya pada titik yang tepat. Ia tidak tau perasaan aneh apa yang tiba-tiba teraduk-aduk di dalam dirinya. Terlalu takut berdiri? Apakah ia benar-benar terlihat seperti itu? Apa ia benar-benar semenyedihkan itu?

“Aku tidak-”

“Ya! Kau seperti itu, Yuka-chan! Kau terlalu takut. Padahal Tuhan sudah memberikan jalan kehidupan yang indah untuk setiap orang, begitu juga untukmu. Tapi bagaimana bisa kau menemukan jalan itu sedangkan kau tak pernah berusaha untuk mencarinya?”

Yuka menyeka kasar air matanya dengan punggung tangan, “Tapi, bukankah kau bilang jalanku sudah buntu?”

“Di balik jalan buntu pun, selalu ada jalan lain, Yuka-chan. Asal kau mau melompati temboknya, asal kau mau terbang menuju sisi tebing yang lain, asal kau mau berenang untuk menemukan daratan..”, jelas Ryeowook, terdengar begitu tenang dan meyakinkan, “Suatu hari, kau akan menemukan jalanmu sendiri..”

“…….”

Yuka menelan ludah. Pria itu benar. Mungkin ia harus berhenti melakukan penyangkalan bahwa ia masih mencintai seni lukis. Mungkin ia memang harus berdiri dan melompati tembok masa lalu itu untuk menemukan jalan kehidupannya. Mungkin ia memang harus kembali kesana, dunia yang indah bersama kuas dan cat-cat air di sekitarnya..

“Yuka-chan.. Bisa kau bukakan pintunya?”

“Tidak. Aku sedang menangis. Aku.. terlihat buruk sekali. Dan tidak seorang pun boleh melihatnya..”, sahut Yuka, lirih, parau, namun dengan nada setengah membentak.

“Hhhhh..”, terdengar dengusan kecil Ryeowook di balik pintu, “Kalau begitu, bergeserlah kearah jendela..”

Yuka berjengit bingung. Gadis itu kembali menyeka air matanya yang tak juga berhenti mengalir sejak tadi, kemudian menggeser duduknya kearah sebuah jendela kaca besar di samping pintu. Jendela kaca yang tampak buram berembun di pagi sedingin ini. Dan tiba-tiba saja, terdengar decitan kecil. Sebuah jemari menari kecil di sisi luar jendela, menuliskan sederet kalimat manis di atas jendela kaca berembun itu..

Suatu hari, kita akan menemukan jalan kita sendiri.

Dan jika saat kau mulai melangkah,

Ada sesuatu yang tak bisa kau tinggalkan di belakang sana,

Seperti sebuah perpisahan atau mimpi yang tak terlupakan,

Maka bawa saja mereka bersamamu..

‘Tesssss…’

Entah sihir apa yang ada di dalam setiap tulisan tangan pria itu hingga bisa membuat air matanya selalu menetes. Chihiru Yuka menarikkan sebuah senyum kecil diantara sungai air mata di kedua pipinya. Dengan keyakinan aneh yang tiba-tiba menjalari otaknya, gadis itu berdiri perlahan, menatap pintu kayu dihadapanya..

‘Kreeekkk…’

Dan saat dimana ia membuka pintu, detik itu juga ia langsung menghambur kedalam pelukan Kim Ryeowook yang berdiri tepat di depan sana. Ia membenamkan kepalanya dalam dekapan pria itu, kemudian menangis disana. Dan mungkin, itu adalah tangis dukanya yang terakhir. Semoga..

“Bolehkah aku menceritakan sesuatu padamu?”, tanya Ryeowook setelah beberapa lama, -masih sambil terus mengusap-usap punggung Yuka yang terlihat rapuh-

 “Eung?”

“Sebuah kisah, tentang 3 orang penjelajah..”

***

Yamashita Park, sebuah taman yang membentang sepanjang 800 meter di pinggir laut Jepang, dengan Kapal Hikawa Maru sebagai maskotnya. Taman dengan Arsitektur gaya barat yang terkesan klasik namun tak melupakan sisi-sisi budaya dari Yokohama itu, adalah tempat terbaik untuk mereka yang membutuhkan ketenangan.

Di sebuah sudut, seorang gadis tampak sibuk mengamati ‘Tohoku street’, yang terbentang di seberang dermaga. Ia mengamati jalan setapak yang sepi dengan ilalang yang menghiasi di kiri kananya itu lamat-lamat, lalu menuangkan apa yang ia lihat kedalam sebuah kanvas putih di hadapannya..

“Kau suka melukis objek semacam itu?”, tanya Ryeowook yang duduk di atas sebuah batu besar sambil meneguk sekaleng coke.

“Tidak juga..”

Ryeowook berjengit, “Lalu kenapa kau melukisnya?”

Yuka menoleh pelan dengan selengkung senyum di wajahnya, “Tohoku street adalah jalan buntu yang indah. Setelah sampai di ujung, kau hanya akan menemukan laut. Tapi jika kau mau berenang, atau menaiki kapal dari sana, kau akan sampai di daratan lain dengan sebuah jalan yang menuju ke taman ini..”

“Tidakkah itu terlihat menggambarkan jalan kehidupanku yang sempat buntu?”, tambahnya, tersenyum dengan sepasang mata yang menerawang lembut.

Ryeowook itu tersenyum, “Jadi kau ingin melukisnya untuk mengekspresikan perasaanmu saat ini?”

Chihiru Yuka mengangguk cepat, kemudian menorehkan warna coklat kedalam kanvasnya, “Aku akan menyelesaikan lukisan ini dengan sempurna dalam 3 hari..”

Ryeowook terkekeh pelan sambil berjalan mendekat kearah Yuka, ia berdiri tepat di samping gadis itu sambil mengamati kanvas putih yang pelan-pelan mulai terisi sebuah bentuk, “Apa aku akan menjadi orang pertama yang melihatnya?”

“Tentu saja. Tiga hari lagi, kita bertemu di taman dekat perpustakaan, dan aku akan menunjukan lukisan ini padamu..”, Yuka tersenyum pasti.

3 hari lagi?

 Ryeowook terhenyak kecil. Ia mengacak-acak rambut coklat Yuka dengan sayang, kemudian beranjak. Kembali kearah batu besar di dekat pohon sakura, dan mendudukkan diri di sana. Mengamati Chihiru Yuka dalam diam. Ikut tersenyum seiring dengan senyum lembut yang terukir di wajah gadis itu saat menorehkan ujung kuasnya di atas kanvas. Melihat seseorang yang mulai ia cintai itu menemukan kembali jalan kehidupannya, adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Tak ada yang lebih indah dari pemandangan macam ini.

Kim Ryeowook meraih ransel hitamnya yang tergeletak, kemudian mengambil agenda dan pena birunya dari dalam sana. Ia menatap berbait-bait lirik yang sudah tertulis di atas kertas bergaris itu. Sebentar lagi. Sebentar lagi, dan lagu yang diam-diam ia ciptakan untuk gadis itu, akan selesai. Ryeowook tersenyum simpul dan mulai menarikan penanya lagi..

Bahkan jika bagian jalan kita berjalan dengan impian kita sendiri,

Semua itu akan menjadi potongan-potongan puzzle, yang disebut ‘kehidupan’

Ketika tiba saat dimana kau merasa bingung dan ragu untuk maju,

Aku ingin kau mengingat lagu para penjelajah ini..

Ia lalu mendongak, menatap hangat pada sosok Yuka yang tampak begitu bahagia di balik kanvas putih itu, menyusuri jalan kehidupannya, “Yuka-chan, bertemu denganmu adalah hal terbaik dalam hidupku…”

***

Chihiru Yuka terus melangkah riang sambil tak henti-hentinya menatap bungkusan benda persegi yang ia peluk saat ini. Lukisannya sudah jadi. Ia menyelesaikannya semalam suntuk, dan sekarang, ia akan menunjukkannya pada Ryeowook, seperti janjinya tiga hari yang lalu.

Tapi sesampainya di taman, ia sama sekali tak melihat sosok Ryeowook disana. Pria itu belum datang. Dan seolah tak sabar untuk menunggu, Yuka akhirnya memutuskan untuk menemui Ryeowook di perpustakaan. Bukankah pria itu bekerja sebagai pustakawan disana?

………………

“Kim Ryeowook? Mahasiswa dari Korea itu kemarin baru saja kembali ke Seoul. Dia hanya bekerja sementara di sini..”

………………

Pernyataan singkat dari penjaga perpustakaan itu membuatnya terhenyak. Pria itu sudah pergi? Secepat ini? Tanpa mengatakan padanya? Tapi bukankah mereka sudah berjanji akan bertemu hari ini? Harusnya pria itu menemuinya dulu, kan? Harusnya, sebelum pergi, pria itu menemuinya dulu di kursi taman tempat pertama kali mereka bertemu saat itu..

Yuka terus berjalan, menganyunkan kakinya dengan gamang. Hingga langkahnya terhenti di kursi kayu panjang itu. Tempat pertama kali Ryeowook menghampirinya sambil menyodorkan sebuah agenda kecil berisi tulisan menyebalkan yang ia sebut sebagai lirik lagu..

“Agenda?”

Sepasang mata coklat Yuka membelalak kaget saat mendapati sebuah buku agenda yang tergeletak terbuka di atas kursi kayu itu. Dan coretan tangan bertinta biru yang tak asing itu, membuatnya menarik seulas senyum, bersamaan dengan setetes cairan bening yang seperti biasa kembali menerobos pelan dari ujung matanya..

Meskipun kita berada jauh dari satu sama lain,

Kita masih menatap langit yang sama..

Bahkan dengan cara-cara sederhana seperti itu,

Semua kenangan tentang pertemuan kita akan tetap menjadi sesuatu yang berharga.

Chihiru Yuka mendongak keatas, menatap hamparan langit biru di atasnya, langit yang mungkin juga tengah ditatap pria itu di seberang laut sana, “Kau benar. Bertemu denganmu, adalah hal paling berharga dalam jalan hidupku..”

Gadis itu tersenyum sambil menyeka air matanya, “KIM RYEOWOOK! SUATU SAAT NANTI, KITA AKAN BERTEMU LAGI, KAN?”

***

 

(–Yokohama, 3 Years Later…)

Galery itu nampak megah. Pilar-pilar klasik yang berpadu dengan lantai-lantai marmer coklat, seolah menggambarkan kesan minimalis namun indah. Lukisan-lukisan yang terpanjang disana terbujur memajang, tergantung dengan simple, melintas pada banyak jalan yang memecah dari lingkaran pusat Galery. Sesuai dengan tema ‘The Way’ yang diangkat oleh sang seniman..

Seorang wanita muda dengan blazer coklat tampak berjalan di salah satu sudut galery sambil tersenyum menerima jabat tangan para pengunjung. Dari tampilannya yang rapi dan ‘berkelas’ itu, rasanya tak akan banyak yang tau bahwa dialah sang seniman yang menciptakan lukisan-lukisan indah nan ajaib disini..

“Permisi, Yejin-yang…”, seorang gadis menepuk pundaknya, “Ada paket untuk anda..”

Yejin menoleh pelan, “Paket?”

Gadis itu mengangguk sopan, ia menyodorkan sebuah bingkisan seukuran kotak rokok kearah Yejin, “Tapi saya tidak tau benar ini dari siapa..”

Kim Yejin berjengit bingung. Sebuah paket? Di hari launching galery seninya? Tapi rasaya ia tak memesan apa pun yang bisa dipaketkan. Pelan-pelan ia mulai membuka kotak berwarna coklat itu. Dan detik berikutnya, alisnya sudah bertaut bingung ketika menemukan benda apa yang ada di dalam sana,

“Tape recorder dan headshet?”

Siapa yang mengirimkan benda ini untuknya? Dan apa isi recorder ini? Sebuah… ancaman teror? Ahhh… tidak. Tidak mungkin. Dengan agak penasaran, Yejin lalu permisi sebentar meninggalkan tamu-tamunya dan mulai melangkah ke halaman belakang galery. Gadis itu meraih headset yang sudah tersambung dengan tape recorder, kemudian menyumpalkan benda itu kedalam telinganya, dan menekan tombol putar.

Tabi ni tsukare ta asa mo, kaze ga tsuyoi yoru mo.

Tabibito wa nan do demo, tachiagari susun de yuku..

Tsuyoku terasu hizashi ni, mizu no nai daichi de.

Hana ga ima mo doko ka de sako u to shi te iru you ni..

 

Koukai da toka kanashimi o..

Hikizuru tame ni ikiru wake ja nai tte koto

Kimi wa shit teru hazu da yo..

 

Umare ta basho toka mi te ta fuukei mo,

Nanimokamo chigau bokura no yuku..

Sorezore no michi wa itsuka doko ka de,

Sunagaat te iru kara, hitori ja nai yo…


Saa~  fu o susumeyo u boku tachi no ikiru akashi sagashi te,

Juubun sugiru kurai kako wa zura i, tohou ni kure ta hibi o ima koe te..
Itsuka negat ta ano mirai nani no kakushou mo mada nai,
Keredo kitto bokura tat teru sugu soba ni..


Hikimodose nai wakare da to ka kienokoru yume da toka
Wasure rare nai nara, isso tsure te ike ba ii yo..


Ikutsu mo wakare ta michi no tochuu de,
Sorezore no yume kizan da kakera…
Sono hitotsuhitotsu ga itsuka ookina,
Jinsei toiu na no, pazuru ni naru yo…

 

(Super Junior – Way-)

 

Kim Yejin tertegun. Membiarkan lagu dengan lirik yang ‘tak asing’ itu mengalun lembut, menghanyutkannya. Membiarkan tiap tetes air matanya mulai mengalir sejak pertama mendengarnya. Ya, ia menangis. Tangis haru dan bahagianya yang bercampur menjadi satu. Karena ia  tau, dan ia paham benar arti dari setiap bait yang mengalun di rongga telinganya itu. Tentang mimpi. Tentang sebuah jalan kehidupan. Tentang berdiri dari keterpurukan. Tentang tiga orang penjelajah. Tentang pria itu..

Ya, pria itu. Pria yang sampai saat ini masih menghuni hatinya.

“Hei…”, teguran kecil seseorang membuat Yejin mendongak kaget.

“Hei..”, balasnya, kikuk.

Kim Yejin tidak mengerti. Ia tidak mengerti ekspresi macam apa yang harus ia pasang untuk menggambarkan kebahagiaannya saat ini. Ada sebuah hentakan aneh di perutnya yang tak bisa ia definisikan sebagai apa. Pada akhirnya, Kim Yejin hanya diam bergeming saat pria yang sangat ia rindukan selama 3 tahun ini itu muncul kembali di hadapannya, dan bahkan mulai berjalan mendekat ke arahnya.

Kim Ryeowook.

Pria itu menyunggingkan senyum manis yang masih sama seperti dulu, kemudian mengulurkan tangannya, mengacak-acak rambut coklat Yejin dengan lembut, “Bagaimana kabarmu, Yuka-chan?”

-END-

 

 

Eris!! Huwaaa.. panjang bgt ya? Bodoh deh, kalo bikin yang melankolis kayak gini suka keterusan, untung bisa berhenti di page 23. Hufft.. dan oke, ini ff apa banget! –a, tapi kmren gw udh wanti2 di twitter loh ya tentang genre fav gw. Hehe.. beginilah.. *berasa saya ini tipe wanita yang cengeng sekali .__.*

Haduh, gw seneng banget pokoknya bisa bikin ini, bukan karena yang main Yewook loh.. #plakk, tapi karena dari awal gw udah demen banget sama arti lagu Japannya SuJu yang satu ini! Nyahaha.. demi deh! Suaranya keren semua disini, Wook ama Umin paling suka! Dan gw juga angkat jempol buat rapp-nya Kunyuk yang asyik abis! =D

Sorry ya, Ris, kalo ini FF jadinya malah aneh begini dan ga sesuai harapan. Sorry jga kalo bnyak typo bertebaran.. XP. Padahal demi ini, gw jadi ngacangin FF gw sendiri loh.. *puk puk Junhyung*. Eh, jangan lupa doain gw tembus Snmptn *halah*. Dan ditunggu tiket Big Shownya ya, yang sejutaan.. #deziiighh..

Eris’s Note : ;___; makasi buat orin yg mau repot2 ngasi FF ini buat YW yg ga jelas rimbanya sampe sekarang. Baru bisa diposting karena pas ada waktu, pulsa, dan modem #plakk harusnya di posting pas tanggal 21 kemarin >< Untuk yg nunggu kelanjutan YWM (emang ada? xD) sabar ya kawans-kawans. Sedang Eris usahakan untuk update secepatnya. Gomapta :’))

Ps: Apresiasi-nya untuk karya Orin yaaaa ^^


16 thoughts on “Way

  1. cerita br lg saat ryeowook berubah jd pria yg dewasa,bnr2 memberikan perasaan yg berbeda dr cerita2 sblmnya..
    buat eris,msh lm kah lnjtan YWM nya diupdate?
    dah hmpir 2 bln lho..

  2. omg!! ini so sweet!! ternyata lirik lagu way bagus ya ^^ belom sempet searching arti liriknya sih tpi dari lagunya udah kedengeran bagus hehehe kyk paduan suara gtu xD

    aigoo, aigoo.. membayangkan senyum wook #melted sooo nice ^^

    eris eonni, aku tagih YWMnya sampe ke ujung dunia loh wkwkwk tbh, tiap hari aku dateng kesini cuma demi ngecek YWM udah di post atau belom wkwk

  3. woaaaaahhh ini keren, mantab, two thumbs up pokokeee!!😀
    annyeong buat authornya, storyline nya keren abis. Dan aku juga baru tau arti lagu way. Sebelumnya ga kepikiran buat nyari artinya. Hehe
    ternyata keren yaah.. Ini yang main YW lagi aiihh makin kece lah couple ini wkwk
    ryeong cocok banget meraninnya, berasa udah gede wkwk jadi dewasa gitu yaa😀

    ini bener2 bikin jatuh cinta sama authornya, sama songwriter way, sama YW couple, sama eonnie eris juga yg bikin saya rada berlumut nunggu YWM. Tapi saya siap menanti kok :* aiihh wkwk
    WAY KEREN!!!

  4. baru tau lagu way keren bgt kalo di jadiin FF…artinya juga kereeennn bgt…
    huwaaaaa….Wookie sweet bgttt dehh..untung bgt Happy Ending…hehehe..
    buat author…ayo nulis lagii..^^

  5. omo omo sweet bangt ceritanya…
    suka suka suka..keren bangt eonnie !!! jadi ini sebenernya buat ultah nya si jagger? ok eonnie, keep writing ya…

    jadi pengen denger way lagi u.u

    btw, eris eonnie aku msih nunggu YWM nya k k k k

  6. Keyeeeennn… Aku juga suka bgt ama way, ternyata artinya itu? Baru tau hha

    Keren lah pokokny, nggak kepikiran sama skali kalo ini yewook, bhahahaha gatauny yuka itu nama jepangny yejin? *nodnod*

  7. haduh!!
    orin clalu nulis yg bgni..
    bkin takjub, bkin trharu..
    ryeong oppa jd dewasa bgd..
    neomu joahaeyo sma krakter wookie oppa d sni..
    suka bgd cra wookie oppa nyadarin yuka bwt bsa smangad lge..
    pkokx sya suka, saya suka..

    bwt eris onnie..
    ayuk dtnggu terus klanjutan YWMnya..

  8. wah, ternyata tulisan biru itu lirik lagu way…
    aku suka banget ma lagu way suju tp gak prnh berinisiatif cari arti’y, kekeke

    cerita’y bgs, so sweet banget..
    beruntung’y bertemu namja spt ryeowook..

    cmn yg aku pengen tau, hub yejin ma jongwoon gmn? dah baekan ato blm??

  9. Ngenes… Tapi manis di akhir.
    Dan aku suka banget wook di sini, yg super kalem, super dewasa, puitis, manis… sukaaaa :333

    Aaahh way!!! ini single japan favorit banget lah… dan dibikin ff jadi semanis ini… senangnyaaaa \^^/

  10. 2 juli..
    Dan sekarang 23 sept.. Hufftt.. Ya ampun ya Aloh, gimana bs aku bru smpet bc ff ini setelah disave sekian lama..😦

    Ini keren bgt!
    Seperti biasa ya orin jjang! Haha.. *cipok orin*


    “Kenapa kau seperti tersesat di dalam jalan kehidupanmu sendiri?”

    “Kau sudah tidak bisa melangkah lagi, karena kau terlalu takut untuk berdiri..”

    “Di balik jalan buntu pun, selalu ada jalan lain, Yuka-chan. Asal kau mau melompati temboknya, asal kau mau terbang menuju sisi tebing yang lain, asal kau mau berenang untuk menemukan daratan..”, jelas Ryeowook, terdengar begitu tenang dan meyakinkan, “Suatu hari, kau akan menemukan jalanmu sendiri..”

    ngefave bgt sama kalimat2 itu..

    hidupnya yeje ngenes amat, tp untung om jerapah.. Kekekeke..

  11. Kata2 wookie itu sesuatu bget dah…. Smuany sukaaa >.< Tp yg bnr2 najleb di awl 'Lagi pula, Dewa tidak mungkin membantu mereka keluar dari kegelapan sebelum mereka mencari jalan terang itu sendiri, kan?'. Aaah ngena bget..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s