{JinHaeXy} Gift

Title : Gift

Genre : JinHaeXy Universe, Romance, Humor, Lil Bit Smut Talking *?*

Length : One Shot

Rate : PG-17 (for those talk) LOL

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin

{JinHaeXy} Gift

March 1st 2012

Mataku berat.

   Rasanya seperti lem superkuat yang bahkan akan membakar selembar kain jika kau memakainya, bukannya aku pengalaman soal lem atau apa, aku ingat Chihoon kemarin membetulkan PSP barunya yang rusak saat berebutan denganku. Pokoknya, mataku sangat berat.

   Aku bisa merasakan plastik pembungkus tempat tidur yang menyentuh kulit dadaku dan pinggangku. Aku ingat, posisiku tengkurap, atau setengah tengkurap. Dan bantal-bantal yang tanpa sarung ini sama sekali tidak membuat tidurku tidak nyaman. Ada perasaan tidak nyaman yang menggelitikku, tidak nyaman, tapi kuingat begitu menyenangkan, dan membuat jantungku berdebar-debar saat merasakannya.

   Perlahan, kapasitas otakku yang tidak seberapa itu mulai bekerja, dan mulai menangkap gelenyar nyeri yang menjalar. Dan ingatan-ingatan, yang berupa potongan-potongan itu mulai masuk ke dalam kepalaku, dan mendadak kedua mataku terbuka, dan wajahku panas. Aku terkikik begitu sudah ingat.

   Syukurlah musim belum begitu bergerak ke arah musim semi, sehingga aku yang baru menyadari kamar ini belum memiliki pendingin ruangan, tidak keberatan hanya menutupi tubuhku yang ehem polos ini. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali untuk membiasakan bias-bias cahaya yang masuk ke dalam kamar.

   Eh, ini kamar siapa? Apartemen siapa? Aku yang tidak bisa ingat, atau memang dia belum bilang ini milik siapa? Aku melihat kamar ini, dan baru menyadari apa-apa saja yang ada di dalam kamar yang cukup besar ini. Sepertinya jika perhatianku sedang terfokus pada hal lain, aku benar-benar lupa akan sekitarku. Dan tentu saja, mana mungkin aku memerhatikan yang lain, saat…

   Saat pujaan hatiku, mendadak berubah total, mungkin itu kalimat yang tepat untuk mendeskripsikan perlakuannya, atau sikapnya kepadaku, kemarin siang, sore, malam, pagi, dan kini entah jam berapa aku terbangun. Aku terkikik lagi jika mengingat apa yang terjadi, dan sedikit malu.

   Tapi dimana dia? Aku duduk, dan merasakan nyeri di pangkal pahaku, dan pegal di sekujur tubuhku, lalu menatap sekeliling. Belum begitu banyak perabotan. Aku menangkap lantai kayu berwarna cokelat tua berpelitur mengkilap. Dan isi kamar ini baru ranjang queen size baru yang masih dilapisi oleh plastik pembungkus, dan aku menyadari plastik tersebut sudah koyak disana-sini, karena kuku-kukuku. Berikut juga plastik yang membungkus kepala tempat tidur.

   Lalu disamping kedua sisi tempat tidur, ada dua buah meja kecil, cokelat juga, dengan lampu tidur di atasnya. Selebihnya ada lemari yang membujur sepanjang sisi kanan dinding kamar, juga berwarna cokelat. Dan sebuah pintu, yang aku yakin itu adalah pintu kamar mandi.

   Dan ketika memandang ke kanan, aku menemukannya. Aku langsung tersenyum, merasakan luap-luap kebahagiaan merasuki dadaku. Jendela kaca besar, merangkap pintu juga, menampakkan balkon yang memandang langsung ke lalu lintas kota Seoul. Belum ada apa-apa juga di balkon kecil itu, tapi angin membelai rambut cokelat siluet seorang pria yang tengah menatap pemandangan disana. Ia hanya mengenakan kaus putih atau bisa dikatakan singlet dengan celana panjang. Angin juga membuat salah satu tirai putih yang terpasang melambai.

   Dan aku terkikik menyadari selimutku ini adalah pasangan tirai yang seharusnya terpasang disana. Dan aku duduk, lalu berdeham. Suaraku serak, oh yeah, terlalu banyak… err… mendesah?

   ”Poppa~”

   Dan dia menoleh dengan kaget, semburat merah terlihat di kedua pipinya yang indah. Aku merasa melayang-layang, betapa aku mencintai pria tampan ini. ”Ya, Sayang?” tanyanya sambil masuk, dan menggeser pintu, dengan perlahan-lahan, lalu duduk di tepi tempat tidur. Dia menunduk, wajahnya merah, dan tidak menatap mataku.

   Oh ya ampun, kenapa dia?

   ”Kau kenapa?” tanyaku bingung, suaraku masih agak serak.

   ”Ani…” dia masih menunduk.

   Dan aku baru sadar! Tidak bisa menahan diri, aku tertawa, dan dia cemberut menyadari aku menertawakannya. Yang benar saja! Laki-laki di hadapanku ini tengah malu-malu padaku sekarang?! Tidak ingat apa yang ia lakukan sejak kemarin siang hingga jam tiga pagi tadi padaku?!

   ”Jangan bilang kau sedang malu-malu?” tanyaku.

   Dia menghela napasnya.

   ”Aduh ya ampun,” aku menepuk dahiku. ”Kukira kau sudah benar-benar berubah menjadi laki-laki sejati! Ternyata kau tetap Poppa Hae-ku yang pemalu dan lucu.” Dengan gemas aku meraih pipinya, dan mencubitnya kencang, bibirnya semakin mengerucut, dan kucium penuh-penuh.

   Dia menahan bahuku. ”Sudah, cukup.”

   Aku mengangkat alis, bingung.

   ”Aku…” dia nampak bingung saat berbicara. ”Aku…”

   ”Kau…?” aku ikut bertanya penasaran.

   ”Mianhae,” akhirnya dia menghela napas lagi dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

   Aku mengangkat alis. ”Mianhae mwo?”

   ”Aku… aku…” dia melepaskan kedua tangannya, dan kini mata cokelatnya yang sendu itu menatapku, bingung, panik? ”Aku bahkan tidak tahu aku kerasukan apa kemarin. Ya Tuhan,” dan dia menarik bantal untuk menutupi wajahnya. ”Kau pastilah bingung~ kau pastilah… pastilah…”

   Dan aku berdecak. Manusia ini masih saja polos.

   ”Pastilah menikmatinya kalau itu yang kau pertanyakan,” jawabku lugas, dan dia mengintip dari balik bantal.

   Wajahnya merah. ”Mwo?!” tanyanya kaget.

   Aku mengangguk, dengan wajah polos. ”Aku menikmatinya.”

   ”Kau apa?” dia semakin menyingkirkan bantalnya, namun setengah wajahnya masih tersembunyi.

   Aku menarik bantal itu. ”Aku menikmatinya!” seruku. ”Nikmat, enak, puas, atau entah bahasa apa lagi yang harus kukatakan kepadamu.”

   ”Ah, Momma~” rengeknya.

   Aku senang, akhirnya bisa mendengar sapaan itu lagi. Sejak kemarin yang ia sebut hanya, Haejin, Haejin, Haejin dan Haejin. ”Ah, ayolah, Poppa…” aku mendesah berat. ”Jangan terlalu polos!” kupukul kepalanya dengan bantal, dan dia mengelak sambil cemberut menatapku. ”Ini sudah kedua kalinya…”

   ”Aaah…” dia menutup kedua telinganya dengan tangannya.

   Aku tertawa. ”Sudahlah.” Kulepaskan kedua tangannya.

   ”Kenapa kau tidak menghentikanku?” tanyanya dengan wajah tidak terima. ”Momma, aku hanya berjanji untuk… satu kali saja…” wajahnya semerah kepiting rebus lagi, dan itu sungguh manis. ”Dan… dan… kemarin… kenapa kau tidak menghentikanku?”

   ”Kenapa aku harus?” tanyaku polos.

   ”Ah!” dia memukulkan bantal kepada bahuku pelan.

   ”Sebetulnya apa sih yang kau pikirkan?” tanyaku heran.

   Dia menggaruk kepalanya, yang kurasa tidak gatal. ”Masalahnya adalah… kita tidak seharusnya melakukan itu… karena kita belum menikah.” Dan jawaban super suci itu kembali terlontar dari bibirnya, membuatku menahan tawa. ”Dan… itu dosa!” dan aku kembali menahan tawaku. ”Dan… kau… aku…”

   ”Berdosa, begitu?” tanyaku tak tahan.

   ”Keurom!” serunya.

   ”Lalu apa yang harus kukatakan lagi? Nasi sudah jadi bubur… ya,” aku menatapnya heran. ”Kalau kemarin bukan salahku! Aku tidak merayumu, kau duluan yang merobek bajuku!”

   Dan dia menoleh ke arah lain.

   Aku tertawa terbahak-bahak. ”Poppa,” dan aku memeluknya, dan aku bisa merasakan dia cemberut, karena aku tidak tampak terganggu sama sekali. Tapi toh ia membalas pelukanku. ”Kau seharusnya melihat dirimu sendiri tadi malam…” aku mengerling lehernya, yang mulai memanas dan memerah. ”Kau begitu…” aku bahkan tidak sanggup mengungkapkannya dengan kata-kata.

   ”Apa?” dia bertanya penasaran.

   ”Poppa kau begitu…” aku melapaskan pelukannya, dan membayangkan seluruh perlakuannya padaku kemarin.

   Wajahnya yang keras, menampakkan pipinya dan lekuk rahangnya yang tegas. Kedua matanya yang dalam, indah, seolah menembus jantung hatiku. Hidungnya yang lurus. Dan kedua bibirnya yang menyanyikan lagu indah bernama desah, menyebut namaku, berteriak berulang kali menunjukkan isi hatinya yang paling dalam ketika kami sama-sama terbang, berulang kali. Bukan berarti, bibirnya hanya bisa berteriak saja, kalau kalian mengerti maksudku.

   Selebihnya, aku kembali bisa melihat urat-urat tegas yang mengelilingi seluruh tubuhnya, dan wangi tubuhnya yang menyelimutiku, dan tentunya baby fishy-nya yang memanjakanku, pikirku mesum.

   ”…hebat.”

   ”Mwo?!” wajahnya memerah, tapi tak bisa menyembunyikan senyuman puasnya akan dirinya sendiri.

   Aku mengangguk-angguk. ”Jika di atas hebat, luar biasa, dan kuat bisa digabung, itu untukmu, Poppa~” aku menyandarkan kepalaku di bahunya, dan dia mengecup dahiku.

   ”Tapi tetap aku tidak bilang apa yang kita lakukan semalam, kemarin, itu benar lho,” dia melepaskan pelukannya dan menatapku, hendak protes. Seolah-olah semua salahku. Aku terkekeh.

   ”Salahku?” tanyaku polos.

   ”Ya jelas ini semua salahmu,”

   ”Kenapa aku yang salah? Poppa duluan yang mulai…”

   ”Tapi kau menyukainya!”

   ”Lho, memang kau tidak?”

   Dia mengacak rambutnya. ”Momma, itu yang jadi masalah,” desahnya. ”Kita tetap tidak seharusnya melakukannya. Dan kau, meruntuhkan pertahananku di awal!” tudingnya, dan aku tetap terus berwajah polos. ”Dan ini semua salahmu,” dia menendang-nendang sebal.

   ”Tapi kau kan suka,”

   ”Tetap itu tidak dibenarkan, seberapa pun aku menyukainya,” sahutnya, dan melirikku. ”Ini terakhir kalinya pokoknya!”

   Aku cemberut.

   ”Kecuali kau mau buat persetujuan denganku.”

   ”Apa? Menikah? Aaaah…” aku buru-buru berbaring dan menutup wajahku dengan bantal.

   Dia bergerak gelisah dan berbaring di bantal yang sama denganku, lalu menarikku dalam pelukannya. ”Ayolah, Momma…” rengeknya. Dan aku menoleh menatap wajahnya yang belum bercukur itu, dia cemberut. ”Kau tahu betul, aku tidak sanggup menahan diri. Dan kau tahu betul kalau satu kali sudah pernah merasakan, maka kebutuhan itu akan terus ada, ya kau tahu betul itu.” Dan dia mencubit pipiku.

   Wah, dia tahu ya ternyata.

   ”Aku sudah memenuhi keinginanmu untuk melakukannya saat kita di Saipan,” kali ini kedua mata cokelat itu serius menatapku. ”Dan aku tidak minta apa-apa, aku tidak minta hal lain… aku ingin kau menikah denganku, itu saja.”

   Aku bergerak-gerak gelisah.

   Dia terus menatap figurku, aku bisa merasakannya, karena aku terus menatap langit-langit. Tapi tidak menolak tangannya yang memeluk perutku di atas tirai putih yang menjadi selimut tubuh polosku, dan menarikku semakin mendekat, dan dia mencium pipiku lembut. Aku memejamkan mataku saat merasakannya menciumku.

   Aku menoleh dan bibirnya kembali melumat bibirku lembut, dan tanganku bergerak mengelus pipinya, menyusuri tulang rahangnya. Saat kami melepaskan diri, sama-sama kehabisan napas, aku tersenyum.

   ”Aku sudah berpikir lama soal ini,” sahutku.

   ”Dan…?”

   ”Aku menyukai ide ’bersama hingga maut memisahkan’ yang diusung oleh pernikahan,” sahutku jujur, dan aku bisa merasakannya terkekeh di sampingku, merasa senang. ”Tapi…”

   Dia tegang lagi.

   ”Tapi…” aku menghela napas dalam-dalam, dan menoleh lagi sambil tersenyum. ”Aku masih belum mau menikah sekarang.”

   Alisnya terangkat.

   ”Oke,” aku terpaksa mengaku. ”Aku sudah memikirkannya, dan kurasa tidak buruk menikah.” Sahutku cepat, sebelum ia memotong kembali aku meneruskan. ”Tapi… tetap saja kita tidak mungkin menikah sekarang.”

   ”Ah, wae?!” protes Donghae nyaris merengek.

   ”Pertama, kontrak. Kemarin Jinyoung Sajangnim sudah memanggilku dan beliau sudah menerima laporan soal kontrak kerja ’budak’ yang dilakukan Wonhee Sajangnim kepadaku.” Dan aku bisa merasakan kekasihku nampak tegang dan menatapku serius, lalu aku meneruskan. ”Wonhee Sajangnim sepertinya memiliki masalah sama terkait beberapa artis JYP, dan syukurlah kini dia sudah di tempat yang tepat, tidak lagi di JYP Entertainment.”

   ”Jangan bercanda!” seru Donghae girang.

   ”Oh,” aku mengangguk, menahan senyuman. ”Kontrak kerjaku sudah diganti dengan kontrak kerja normal,” sambungku. ”Tapi, melihat Felidis yang cukup baik dalam kerjaku, Jinyoung Sajangnim masih memberikanku hak penuh untuk mengurusnya, tapi kali ini juga dengan persetujuannya langsung. Dan…” aku menoleh padanya lagi sambil meraih dagunya dan mencium bibirnya lagi. ”Aku tetap tidak boleh pacaran.” Kekehku.

   Donghae kembali mengeluh.

   ”Tapi itu tidak tertera di kontrak,” kekehku sambil melahap kembali bibir mungilnya yang tipis. Ah, betapa aku merindukan bibir ini. ”Jinyoung Sajangnim bilang, Haejin kau itu national fairy, kau milik semua orang. Jadi aku tidak boleh punya pacar terlebih dahulu…”

   ”Kau milikku!” klaim Donghae.

   ”Oh, aku tahu,” aku mengangguk. ”Seperti semua mendengarkannya saja,” aku mengangkat bahu.

   Donghae kemudian kembali memiringkan tubuhku menatapnya. ”Jadi, soal pernikahan?”

   Aku menunjuk dahinya. ”Oke, aku mau menikah. Tapi tidak sekarang… kau harus wajib militer terlebih dahulu, dan aku mau semua siap. Semua benar-benar siap… baik mental dan hati kita. Aku tidak mau pernikahan yang main-main hanya karena cinta saja. Berpacaran nyaris dua tahun saja kita masih sering putus-sambung, sering cemburu… ya bukannya itu tidak penting… tapi, aku rasa, kita masih perlu proses pendewasaan diri lagi sebelum benar-benar menjadi suami-istri.”

   ”Kau sungguh manis,” dan diciumnya aku lagi. Kami berciuman lama, aku bisa merasakan lidahnya membelai lembut lidahku, dan tangannya menuruni tulang punggungku lurus. ”Keurae. Yang penting kau mau,” kekehnya. ”Aku tahu pernikahan bukan hal mudah bagimu,” dia mengangguk. ”Dan kau benar, kita harus benar-benar siap.”

   Dan aku tersenyum.

   ”Jadi sampai saat itu tiba, kau tidak boleh merayuku!” omelnya.

   Dan aku tertawa. ”Memang Poppa tahan?”

   ”Ah!” erangnya. ”Momma curang!”

   ”Oh iya, Poppa… ini apartemen siapa?” tanyaku heran. ”Aku lupa mau bertanya…” tanyaku polos. ”Dan ini tempat tidur siapa? Ya ampun, aku baru sadar aku sudah menghancurkannya… dan sebagian ulahmu juga, Poppa.” Aku menatap seisi tempat tidur.

   Dan kulihat Donghae bangkit duduk, dan berjalan ke lemari. Aku ikut duduk, penasaran. Dia kembali membawa sebuah kotak, dan duduk di hadapanku.

   ”Hmm…” dia menghela napasnya dalam-dalam. ”Kau ingat aku bilang akan memberikanmu hadiah ulang tahunmu yang ke duapuluh satu, tahun lalu?”

   Aku mengangguk. ”Oh.”

   ”Bukalah.” Diserahkannya kotak berwarna biru itu padaku.

   Kubuka perlahan-lahan. Dan kain satin putih menutupi sebuah benda di dalamnya, berdebar-debar kubuka kain tersebut, dan di dalamnya terekspos sebuah kunci. Aku mendongak menatap Donghae bingung. Dia tersenyum.

   ”Ini hadiahnya?”

   ”Iya, kunci.”

   ”Kunci hatimu?” tanyaku bodoh.

   Ia tergelak dan menciumku kilat. ”Kau sudah punya kunci hatiku, Momma Sayang. Tapi kalau kau masih bingung itu kunci apa…” dia menatapku lembut, sebelum melanjutkan. ”Itu kunci apartemen ini. Rumah yang akan kita tempati… bersama-sama.”

   Aku bisa merasakan kedua mataku diisi oleh kristal-kristal. ”Poppa…” kataku lambat-lambat, tersendat. ”Tapi… ini…” aku menatap kunci itu tidak percaya, yang benar saja? Apartemen? Kado ulang tahun?

   ”Ini untuk kita,” sahutnya riang. ”Harusnya sudah kuberikan sejak lama. Tapi, ketika di Saipan…” dia terdiam. ”Aku mengerti permasalahan pernikahan yang kau alami. Dan Teukie Hyung sendiri bilang kalau kado ini mengartikan keseriusanku kepadamu, berikut komitmen…” katanya lagi. ”Jadi aku tidak mau kau merasa tertekan dengan pemberianku… tapi kemarin kita tiba-tiba bertemu disini,” dia memutar matanya. ”Padahal semuanya belum aku siapkan juga. Tapi toh kau setuju akan menikah denganku, jadi… sudah waktunya kuberikan.”

   Aku memeluknya. ”Terima kasih, Poppa.”

   ”Hadiahku?”

   Kucium bibirnya lagi.

   ”Sudah,” dia melepaskanku dengan mata menyipit. ”Jangan memancing-mancing.” Omelnya.

   Aku terkekeh. ”Tapi, siapa yang menempati apartemen ini? Kita kan sama-sama masih tinggal di dorm?”

   ”Itu terserah padamu.” Dia membelai pipiku.

   ”Oh,” aku mengangguk. ”Keundae, ponselku dimana ya?” aku menatap sekeliling dan melihat tumpukan baju di lantai. Perlahan aku menurunkan kakiku, dan berdiri untuk meraih pakaianku, saat kemudian rasa nyeri itu menyerang dan membuatku kehilangan pegangan.

   Untunglah dibelakangku tempat tidur, dan Donghae menangkap tubuhku, dengan wajah panik. ”Momma? Gwenchana? Apa yang terjadi?”

   ”Hehehehe…” ringisku.

   Dia menatapku heran, dan aku mencoba berdiri tegak, lalu melangkah mendekati gundukan baju tersebut. Semakin aku melangkah, aku semakin meringis, ya ampun! Ternyata ini efeknya bercinta berulangkali. Sakit…

   Dan aku berjongkok melihat bajuku, baju Angry Bird-ku, yang harganya tiga ratus ribu won, sudah terkoyak. Dan menemukan ponselku mati. Kucoba nyalakan, ternyata dia mati karena sistem otomatis yang sengaja kupasang. Syukurlah battrainya masih ada sedikit.

   ”Poppa! Aku ada rekaman!”

   ”Mwo?! Jinjja?! Kalau begitu ayo bersiap,” dia berdiri, dan aku melangkah mendekati tempat tidur, sambil meringis lagi. ”Momma? Gwenchana? Kau…” sepertinya kini dia baru mengerti apa yang terjadi kepadaku. Dan terkekeh. ”Masih bilang enak? Rasakan…”

   Aku memberengut, tapi kemudian tersenyum nakal. ”Kalau harus sakit seperti ini, tapi dapat enak semalaman sih aku rela.”

   ”Momma!” protesnya.

   ”Apa?” tanyaku polos. ”Memang enak, kok. Aku sih jujur, tidak seperti Poppa, mehrong.” Aku menjulurkan lidahku.

   ”Aaaah!” dia nampak pusing sendiri.

   ”Tapi memang sakit,” aku duduk lagi sambil meringis, lalu merasakan sesuatu. ”Aduh!” ringisku.

   Dia menoleh bingung. ”Kenapa lagi?”

   Aku memegang bahunya dan mencoba berdiri perlahan-lahan lagi, dan melebarkan kedua kakiku. Pelan aku menoleh ke bawah, menatap kedua pangkal pahaku yang tertutup oleh selimut mengikat tubuhku, atau tirai. Tirai itu berwarna putih, dan kini sudah ada noda merah diantaranya.

   ”Momma?!” Donghae memekik dan memegang kedua bahuku. ”Momma? Gwenchana?! Momma… aku melukaimu ya?” dia nampak panik, dan mulai menangis. ”Momma… begitu sakit, kah? Momma…” dia mengguncang-guncang bahuku, dan aku menunduk, menahan tawa. Tapi mungkin dia tidak tahu, karena wajahku sedikit tertutup.

   Aku mendongak dan menatap wajahnya yang panik.

   ”Poppa…”

   ”Ne?”

   ”Aku haid.”

   ”Mwo?!” gagapnya.

   Aku mengangguk. ”Ini haid…” jawabku sambil tersenyum. ”Poppa, tolong belikan tampon ya…” wajahnya memerah. ”Aku tidak mungkin keluar, dengan pakaian robek, kan? Lagipula tidak memakai tampon…”

   ”Jinjja?! Itu haid… bukan karena…”

   ”Kan sudah waktu pertama kali,” sahutku mengerti arah pertanyaannya.

   Dia masih nampak bingung.

   ”Ayolah… aku mau mandi,” rengekku.

   Dia akhirnya mengangguk. ”Ugh! Iya baiklah,” wajahnya super merah. ”Tapi aku akan mengantarkanmu ke kamar mandi dulu… kau kelihatan kesakitan,” dia bergumam sambil menggendongku, bridal style, dan aku terkekeh mencium pipinya yang merah, saat dia membawaku masuk ke dalam kamar mandi, dan meletakkanku pelan di dalam bak mandi.

   ”Airnya sudah bisa dipakai?” tanyaku.

   ”Bisa,” dan ia menyalakan kran airnya. ”Tapi kau serius tidak perlu obat, Momma? Yakin?”

   Aku mengangguk. ”Iya! Ini kan tanggal satu…” aku terkekeh merasakan air hangat mulai menyentuh tubuhku. ”Aku selalu haid di awal bulan.”

   Donghae mengangguk-angguk tidak mengerti, dan berdiri.

   ”Kalau tidak, mana mungkin aku membiarkanmu semalam, Poppa?” kekehku lagi.

   Dia menatapku bingung, tapi kemudian mengangkat bahu. ”Baiklah, apalagi yang kau perlukan, Sayang?”

   ”Sabun, pasta gigi, handuk, shampoo,” sahutku. ”Jangan lupa tampon!”

   ”Ugh! Iya!”

   ”Ya sudah itu saja, Poppa jangan lama-lama…”

   ”Oke,” dia menciumku lagi, dan melambai.

   Aku terkekeh, sambil menikmati air hangat yang semakin membanjir di dalam tube ini. Memangnya kalau kemarin bukan masa subur, aku akan membiarkannya menggila semalaman? Yang benar saja~ kekehku sendiri. Aku tersenyum lega dan meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku, lalu mulai membelai-belai bagian tubuhku yang nyeri, berharap nyerinya segera hilang.

   Lalu kembali bersandar. Penuh kejutan, hidup memang penuh kejutan. Pernah ada yang berkata padaku. Tali yang sudah diputus, jika diikat kembali, tidak akan sekuat tali itu sebelum putus, begitulah juga hubungan.

   Tapi… kurasa, bagiku dan Donghae, semoga… itu berarti, semakin kuat. Aku siap menghadapi fase baru dalam hidupku, dan aku tidak akan lebih bahagia, jika bukan Donghae yang mendampingiku. Aku memejamkan mataku, menunggunya kembali.

   Di apartemen kami… hehehehe.

 -Keutt-

114 thoughts on “{JinHaeXy} Gift

  1. Aigo aigooooo telat saia bacanyaaaa
    Tapi pas momentnyaaaa malem2 hujan rintik, kwkwkkwkk

    Skinship skinship eh bukan, it’s more than skinship!!!! Yeaaayyy \(´▽`)/
    No more galauuuuu… Emosi terombang-ambing… Gregetan sana-sini… Berakhir sudaaaahhhh *note:untuk sementara waktu*

    Horeee kontrak ‘budak’nya udah digantiiiiii
    Asiiiiikkk haejin bisa nikaaaah😀 slamet ya haeeee…

    Ih mau deh dpt kado ultanya kunci apartemen😀 kwkwkwkk

    Dtunggu JinHae moment yg lain yaaaahhhh *ketjup* ( ˘ з(˘⌣˘)

  2. tutup mata _ _”
    ya bampun bng ikan,,,apa2an tu??pake malu malu sagala??
    polos bngt ya dirimu..hehehe

    haejin eonni,donghae oppa chukae,,,,,hahahaahaa
    aku bahagia kalo kalian bahagia,,,,,,wkwkwk
    teruskan daebak…..

  3. OMO hae sekarang udah berpengalaman, tp pake acara malu” segala…
    itu haejin beneran haid?? wahhh benihnya ga jdi dong(?)
    gpp ntar bikin lagi #plak

  4. maaf ya eonni aku sebenernya baca ini 3hari yang lalu baru bisa komen soalnya baru ol di PC… dan langsung sukaaa… Kyaaaa… mukaku ikut merah baca ini.. apa ini apa ini apa ini.. Lee Donghae… ini yang kedua??? :O yang pertama apa??? brb ubek2 blog nyari yang pertama..

  5. Akhirnya haejin setuju nikah!!! Yeaaah😄
    Selamet yah poppa.. makanya jangan polos polos.. coba dari awal tuh dikasih aja kemauan momma,, sape tau dari awal juga momma mau nikah #plakk~
    Ih bener bener deh yah yg ini tuh..errr~ bener2 klo orang udah kebelet deh gtu.. sampe itu tempat tidur masih dipelastikin dipake buat main..ihihi lucu😄
    Keren deh ah.. akhirnya akhirnya akhirnyaaaa.. sabar yah momma klo maen berkali kali emang kyak gtu.. ledes yah #eh #plakk
    Selamaaaatttttt ~ turut berbahagia deh buat poppa momma *cium cium*

  6. Baru sempet ngoment T.T kemaren2 cuma sempet kasih like aja.
    maaf ya eonni😦

    YEESSS! JINHAE BALIKAN! :3
    2orang ini memang susah di pisahin.
    udah klop satu sama lain soalnya.

    jangan putus2an lagi ya. Langgeng sampe,
    lahiran sea sky ya *eh
    LOL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s