[FF Contest] Mianhaeyo, Saranghaeyo…

Author           : Park Yunsu (@beeeessttdj ,fb: chiind-theea mutiara dewi)

Cast                : Haejin, Lee donghae

Support cast : Park Jungsu, Park Yunsu

Genre             : Romance

Rating                        : 17+

Ps                    : Ini FanFiction pertamaku.. Mungkin banyak kekurangan dari kata2 atau kurang nyambung mungkin.. so?? Have fun with my own, and don’t forget for comment n like it.. don’t bash!!

Disclaim        : ini semua berdasarkan khayalan author.^^

 

 

*****

 

 

Author POV*

 

Saat sampai di universitas myongji, kampus haejin, haejin pun segera memarkirkan sedan putihnya yang mulus mengkilap. Setelah keluar dan mengunci mobil dengan alarm yang digenggamnya, haejin segera berjalan ke permukaan halaman luas kampusnya. Dengan langkah santai melewati parkiran mobil, tiba-tiba ada mobil menyambar cepat tepat dihadapan haejin. Tinggal sedikit lagi, atau bahkan beberapa senti lagi, haejin bisa terserempet oleh mobil itu. Bayangkan apa yang akan terjadi dengan kulit putih pucat haejin itu akan ternodai dengan luka garet dari sang mobil.

Haejin pun masih berdiam ditempatnya berpijak, bahkan jantungnya berdetak seratus kali lebih cepat. Hampir saja yeoja ini mati tertabrak. Mobil tadi pun berhenti dan seorang namja dari dalamnya keluar. “kau tidak apa-apa noona?” lelaki itu memeriksa keadaan haejin.

“a-a-a-aku……..yaaaa!! kau harus hati-hati jika mengendarai mobil.” Setelah sadar Haejin pun membentak namja itu.

“mianhaeyo noona.”

“setelah berbuat kesalahan, kau dengan seenaknya memanggilku noona. Kenal saja tidak!” haejin masih membentak tidak karuan.

“okeyyy!! Sekali lagi aku minta maaf “mianhaeyo”. apa kau masih tidak mengerti juga kata maaf?” sahut namja itu lalu menambahkan “akan aku jelaskan! Aku bertindak seperti tadi karna aku sedang buru-buru pergi ke gedung SMEnt. Semua hyung ku sudah menunggu disana untuk latihan, dan tidak ada alas an bagiku untuk dating terlambat sebenarnya, tapi kali ini aku akan terlambat karena aku tidak sengaja bertindak seperti tadi, dan harus berhubungan denganmu. Sekali lagi ‘mianhaeyo’.”

Haejin menatap kosong namja itu, tidak tahu apa dia menyimak perkataan namja itu dengan baik.

“baiklah. Kali ini aku maafkan. Tidak akan aku maafkan kau jika hal yang terjadi ini terulang, apalagi jika kau lagi orangnya.” Haejin reflex tersenyum dengan sikap yang tidak lagi tegang.

“ne, arraseo. Aku harus memanggilmu apa kalau bukan noona?”

“panggil saja aku haejin. Lalu kau? Siapa namamu? Sepertinya kau sudah tidak asing lagi dimataku, tapi aku tidak mengenalmu.” Haejin berpikir siapa sebenarnya namja ini.

“I say Donghae, you say Oppa Donghae, Donghae. Kekekekeke~” donghae menyebutkan kata-kata itu sambil membuat gaya yang bisa disebut ‘eye catching’.

“sepertinya..aku pernah mendengar kata-kata itu..” haejin kembali berpikir.

“ah lupakan saja. Aku harus buru-buru pergi, sekali  lagi ‘mianhaeyo’ ‘haejin~ssi’.” Pamit donghae terhadap haejin.

***

Haejin POV*

 

 

Tunggu. Aku masih penasaran dengan namja itu. Sekilas wajahnya sudah tidak asing lagi untuk diperhatikan, tapi betapa bodohnya aku masih memikirkan hal itu.

“haejin, kau ini belum apa-apa sudah melamun saja.” Sapa Park yunsu, chingu ku yang baru saja datang.

“aisshh, dank au pun baru datang sudah mengagetkan saja.” Sahutku.

“kau sedang memikirkan apa haejin?” Tanya yunsu yang kemudian duduk dibangku sebelahku.

“emmhh..donghae…apa kau kenal donghae??” tanyaku ragu-ragu, takut-takut si yunsu salah pengertian dengan pertanyaanku.

“hahahahahahahaha……….” Yunsu pun tertawa terbahak-bahak didepanku.

“jangan tertawa seperti itu, kau lihat mereka semua sudah memandang kita yunsu.” Ucapku setengah berbisik. “lalu bagaimana? Apa kau kenal dengan donghae?” sekali lagi aku pun bertanya.

“tentu, bahkan bukan hanya aku yang mengenalnya jin~ah. Seluruh isi kampus pun jika kau tanya pasti mereka akan menjawab hal yang sama seperti aku kekekekeke~” yunsu setengah melotot ke arahku. “ada hubungan apa kau dengan ikan itu?” lagi-lagi yunsu ini berpikiran yang aneh-aneh.

“gwaenchana. Hanya saja tadi aku berpapasan dengannya, Karena dia tadi aku hampir saja mati. Dia begitu kilat membawa mobil diparkiran saat aku ingin menuju kelas. Untuk kali ini aku beruntung, tidak ada sedikitpun kulitku yang tersentuh oleh mobil itu.”

“ne? benarkah? Aku bertemu dengannya? Apa yang dia bicarakan terhadapmu?” yunsu pun penasaran.

“ahh. aku sedang malas membahas itu, yunsu.”

“jangan seperti itu, kau harus cerita kepadaku, tapi setidaknya aku mengerti penjelasanmu tadi. Baiklah kita mulai hari ini dengan semangat. Fighting.”

***

Setelah jam pelajaran kuliah selesai, aku segera menghampiri mobilku di parkiran. Tidak lama ada tangan seseorang yang menyentuh pundakku. Perlahan aku membalikkan tubuhku.

“annyeong haejin? Kau sudah mau pulang yah? Punya waktu sebentar untuk makan siang bersamaku? Anggap saja ini sebuah permintaan maaf dariku tentang kejadian tadi pagi. Otte?” jelas donghae yang berada dihadapanku.

“emmhhh..tidak perlu, aku sudah mengerti permintaan maafmu donghae~ssi, jadi aku pun tidak perlu menerima tawaran mu juga, bukan begitu?” jawabku sekilas dengan senyum pas-pasan yang tidak penuh arti.

“sepertinya kau marah padaku gara-gara kejadian itu yah. Sebenarnya beratus kata ‘mianhaeyo’ dariku pun tidak akan pernah cukup untukmu ya? Karena aku hampir saja merenggut nyawamu. Tapi kali ini apa salahnya menerima tawaranku, aku yakin ini akan menjadi awal dan terakhir dari permintaanku. Otte? Setuju?” donghae pun masih bersusah payah menawariku untuk pergi makan siang dengannya.

“baiklah.” Ucapku pasrah sambil mengikuti langkah kakinya.

Makan siang kali ini, aku bersama seorang namja. Tempatnya tidak jauh universitas kami. Jaraknya hanya beberapa meter saja. Tidak lama, setelah kami memesan makanan, pelayan pun datang dengan membawa dua mangkuk mie ramen khas jepang.

“selamat makan.” Donghae tersenyum kearah mangkuk itu. Rasanya aneh melihat tingkahnya seperti itu sejak tadi pagi. Bukan aneh karena aku tidak suka dengan perilakunya, melainkan ada sesuatu yang menarikku untuk jatuh kedalam tatapan matanya yang terlihat sedikit polos bagiku.

“apa aku terlihat aneh dimatamu?” segera cepat-cepat aku mengalihkan pandanganku ke sekitar, Karena donghae telah menyadarinya, bahwa aku memperhatikan gerak-gerik makannya sedari tadi.

“ahh..anniyo..sepertinya mie milikmu lebih enak dibanding milikku.” Mudah-mudahan modus ku kali ini tidak memperpanjang pertanyaan yang akan keluar dari mulutnya.

Ya, memang benar berhasil, melainkan melewati batas. Buktinya saja aku terkejut, karena dia sudah menyuapi mie ramennya ke mulutku. Anehnya lagi dengan ekspresi wajah terkejut pun aku masih bisa refleks membuka mulutku lebar, dan membiarkan apa yang diberikannya masuk kedalam mulutku.

***

Donghae POV*

“arrrggghhh hari ini cukup membuat kondisi tubuhku lemah.”

Berada di dorm sendirian. Membosankan sekali. Apa yang bisa aku lakukan malam ini?? Sedikit terlintas bayangan wajah haejin dipikiranku. Aigoo! Pikiran macam apa ini?! Tapi sepertinya aku tidak akan membiarkan pikiranku melepaskan haejin dari dalamnya. Kini ada haejin yang sedang bermain-main di ratusan sel otakku. Aku membayangkan wajahnya yang terlihat malu-malu, kata-kata yang seadanya saja, bahkan rambut indah yang ia miliki. Astagahh! Aku sudah mulai gila!! >,<

“dorrrrrr!~” leeteuk hyung mengagetkanku, lalu semua yang berawan diatas kepalaku tiba-tiba menghilang begitu saja. Aigooo, sudah capek-capek aku membuatnya juga aarrrggghhh.

“kali ini kau pasti sedang memikirkan seorang yeoja.” Tebak leeteuk hyung ngaco, tapi sebenarny memang tepat sasaran tebakanny itu.

“ah kau ini! Jangan asal tebak! Darimana kau tahu hah?” pekikku pelan.

“tadi aku melihat kau sedang melamun sambil tersenyum, kalau kau sedang memikirkan appamu yang sedang berada di surga sana tidak mungkin kau akan tersenyum dan mengeluarkan semburat merah dari pipimu itu. Jelas tidak komentar ku ini? Kekekekeke~” leeteuk hyung pun terkekeh.

“baiklah, aku akui, memang aku sedang memikirkan seorang yeoja, tapi kau tidak perlu tahu siapa dia!” jelasku jahanam, dan aku pun gentian terkekeh.

“yaaaa~kenapa jadi kau yang lebih galak-_- baiklah, aku akan membiarkannya, tapi lihat saja nanti. Tanpa aku kau  tidak akan mampu mendapatkan yeoja itu.” Huaaaahhahah hebat sekali leader ini membuat pernyataan sekonyol itu.

“sudahlah~aku mau tidur.” Aku membalikkan badan membelakanginya dan mulai memejamkan mata.

“paboya~aku belum selesai bicara! Aiiissshhh-_-“ kata-kata leeteuk hyung yang terakhir ku dengar.

***

Aku datang lebih pagi ke kampus. Dan sekarang aku hanya bersender ringan didepan mobilku. Kau mau tahu apa alasannya aku melakukan hal ini? Jawabannya adalah haejin. Dia yang telah membuatku melakukan hal ini. Aku hanya menunggunya hingga tiba di tempat ini. Di parkiran mobil tepat di tempat kejadian kemarin.

Sudah tiba waktunya, karena aku telah melihat sesosok haejin dari jendela mobil sedan putih yang terbuka. Oke kali ini apa yang harus aku lakukan ya? “Hmmm..tentu akan aku lakukan itu.” Ucapku dalam hati. Aku melihat haejin keluar dari dalam mobil itu. Terkesan seperti seorang idola, dengan pakaian casual khas dirinya.

“haejin~ah, kau baru datang ternyata. Bagaimana kalau selesai mata pelajaran kuliah nanti kita pergi ke lotte world.” Berasa jantungku berdetak kencang, dibanding kemarin sebelum aku mengenalnya.

“emmhhhh, baiklah.” Jawab haejin kali ini dengan senyuman termanis. “tapi tunggu, ini bukan termasuk ke dalam permintaan maafmu kan? Kalau termasuk aku tidak akan mau pergi lagi bersamamu.” Tambah haejin setengah bergurau dihadapanku, dan itu tengah membuat ujung bibirku melengkung keatas.

“tentu tidak termasuk jin~ah. Kalau begitu nanti aku tunggu disini selesai mata kuliah berakhir, ne?”

“ne.” aku melihat haejin berjalan masuk menuju gedung universitas kami. Dilihat dari belakang saja, dia sangat terlihat cantik. Refleks aku memegang dadaku, takut-takut jantung ini melompat dari tempatnya.

Semua orang yang berkeliaran ditempat aku berpijak memandangiku dengan tatapan penuh arti, sepertinya ada yang salah denganku. Semua fan girl yang sedari tadi diam-diam mengambil photoku pun, baru aku sadari beberapa detik yang lalu. Arrgghhh terlalu berat menjalani hidup sebagai seorang idola sebenarnya.

***

Author POV*

Waktu untuk mereka berdua pun tiba. Donghae yang sudah lebih dahulu berada di parkiran. Hanya tinggal menunggu haejin menampakkan diri dihadapan donghae. Tidak terlalu lama donghae menunggu, haejin pun tiba. “apa kau sudah siap? Bagaimana dengan mobilmu?” tanyaku tiba-tiba.

“mobilku akan dibawa oleh chingu ku. Kalau begitu kajja.” Ajak haejin mulus.

Donghae pun segera membukakan pintu mobilnya itu untuk mempersilahkan haejin masuk. Baiklah, kali ini donghae merasakan hatinya berbunga-bunga karena haejin membalasnya dengan senyuman indah menawan. Donghae pun segera masuk dari pintu seberangnya.

Selama diperjalanan semua mulus-mulus saja. Hanya, tidak berjalan komunikasi apapun didalamnya. Setelah tiba di lotte world, keduanya merasa bahagia, seakan semua beban mereka lepas begitu saja. Tapi, ada yang salah terhadap donghae, karena semua beban yang ia miliki terlalu berat, dan haejin termasuk beban pikirannya saat ini.

“haejin~ah, mulai saat ini kau panggil aku oppa. Arraseo?” celetuk donghae tiba-tiba.

“a-a-a-a…..” belum sempat menjawab donghae telah merenggut ringan tangan haejin, dan menariknya berjalan masuk ke dalam area lotte world.

Satu-persatu permainan kini sudah dicobai meraka berdua. Sepertinya mereka kelihatan seperti sepasang kekasih kalau dilihat dengan dua mata focus, tapi didalamnya mereka tidak ada hubungan apa-apa, hanya sekedar teman. Tapi bukan itu yang diharapkan donghae. Donghae merasa dia harus mendapatkan yang lebih dari hubungan mereka. Dan tidak tahu bagaimana dengan haejin.

***

Haejin POV*

 

 

“gomawo donghae~ssi untuk hari ini. Aku kira jika aku pergi denganmu, akan terasa aneh, tapi ternyata ini sebaliknya. Ya bisa aku bilang terlalu seru jika aku pergi bersamamu, kekekekeke~” terima kasihku kepada donghae oppa.

“ne cheonmaneyo, tapi tunggu..kan sudah aku bilang siang tadi, kau harus memanggil aku oppa mulai sekarang. Arraseo??” donghae oppa meminta persetujuan sekaligus pernyataan langsung dariku.

“ne, arraseoyo donghae oppa. Eerrrgghhh terkesan aneh jika aku menyebutkan kata-kata itu. Tapi itu permintaanmu. Jadi akan aku turuti kemauanmu.” Aku pun menyetujuinya dan menuruti kemauannya. “kalau begitu aku masuk yah, ini sudah terlarut malam. Badanku juga sudah terlalu capek oppa.” Pintaku. Kemudian donghae oppa memberi isyarat agar aku segera masuk kerumah.

Saat aku setengah melangkah, tangan dingin itu menyentuh permukaan kulit pergelangan tanganku. Aku membalikkan tubuhku menghadapnya, lalu aku melihat tatapan itu yang membuatku luluh lantah. Jantungku pun berdetak cepat. Apa-apaan ini? Jantung yang tidak tahu diri. Mengapa harus dihadapannya berdetak sekencang ini. Aigo. Aku tidak bisa mengendalikannya dengan baik. Paboya!~

“haejin~ah, apa kau marah jika aku mulai menyukaimu?” tukas donghae dengan tatapan hangat.

“m-m-mwo? Kau ini apa2an oppa.” Dengan terbata-bata aku menjawab pertanyaan konyol itu.

“mianhaeyo. sudahlah, kau masuk saja. Kau perlu istirahat. Jangan sampai kau kurang tidur!~” donghae oppa mulai meninggalkan area rumahku, dan mengendarai mobilnya dengan cepat, hingga jejaknya pun tidak tersisa sedikitpun akibat tiupan angin kencang dari mobil yang dikendarainya.

“oppa, mollayo~” Aku pun menutupi wajahku dengan kedua tangan dingin ku ini. Dengan langkah gontai aku masuk kedalam, dan segera masuk ke kamar. Semua orang dirumah ini sudah masuk ke alam bawah sadar. Dan setidaknya aku pulang tidak akan ada yang menyambutku dengan sejuta pertanyaan ‘darimana saja?’.

Kalau kemarin aku bisa tidur dengan nyenyak, kali ini justru sebaliknya. Bahkan sudah jam dua pagi aku belum tidur. aku tidak mengerti jalan pikiranku ini. Semua bayangan donghae oppa selalu terbesit di pikiranku. Tanpa terkecuali, kata-kata ngelanturnya itu yang membuat jantungku tidak berhenti berdetak cepat. Jangankan jantungku, sepertinya hatiku ini juga sudah mulai luluh dibuatnya. Omo~ apa aku ini sedang jatuh cinta? Ya. Aku rasa aku sudah jatuh cinta dengannya. Doonghae oppa, tolong jangan memberikan harapan yang tidak nyata untukku.

aku sudah tau semua tentangnya. Semua tentang ketenaran di dunia entertain. Aku tahu itu semua dari yunsu sahabatku. Dia sudah menceritakan itu sejak sehari yang lalu. Bodohnya aku, aku tidak tahu sama sekali tentang dirinya, boyband, dan semuanya tentang mereka. Tapi ini terlampau lebih untukku. Dia jelas-jelas menyatakan bahwa dirinya menyukaiku. “Jangan bantu aku untuk membuang perasaanku ini kepadanya. Tapi bantu aku untuk membuang jauh-jauh harapanku untuk bersamanya.”

***

Pagi ini dengan malas aku berangkat ke kampus, bukan karena malas untuk menekuri setiap mata kuliah, tetapi aku tidak sanggup untuk bertemu dengan donghae oppa. Aku takut akan ada kesalah pahaman diantara kita. Sejak semalam aku masih belum bisa berpikir jernih dengan apa yang dikatakannya itu. Benar atau tidaknya bisa menyangkut dalam perasaanku juga.

“haejin~ah.” Tangkap seorang donghae yang telah berada disamping haejin tepat di parkiran.

“o-o-oppa~” ucapanku pun mulai gelagapan.

“kau kenapa? Apa kau sakit? Kau begadang ya semalam? Kan sudah aku bilang kau jangan sampai kurang tidur, sekarang lihat matamu yang sudah berkantung itu.” Semuanya tidak berhasil aku sembunyikan. Sekarang saatnya untuk pergi meninggalkannya. Segera aku meninggalkannya, tetapi ia sudah menarik tanganku untuk menahan ku pergi.

“kau mau kemana? Kau belum menjawab pertanyaanku. Aigo~lupakan saja. Tentang semalam, apa kau masih ingat dengan perkataanku semalam?” akhirnya pertanyaan yang tidak ingin aku dengar, sudah dilantunkan langsung dari dirinya.

“a-a-aku….aku…ahhh~sudahlah lepaskan aku..aku tidak pantas untukmu oppa, aku hanya seorang yeoja yang tidak ada apa-apanya dibandingkan so eunso. Kau lebih pantas bersamanya. Yeah, it’s true. Not with me.” Mataku pun mulai memanas mengucapkan semua yang telah ku katakan. Dengan mata berair aku mencoba melepaskan tangannya yang menggenggam erat tanganku.

“kau bicara apa haejin? Dia hanya partner ku di dunia entertainer. Jadi jangan jadikan dia sebagai alasan kalau kau tidak pantas untukku. Aku benar-benar menyukaimu sejak awal kejadian itu, dan mungkin disaat itu juga rasa cinta tumbuh dihatiku. Aku sempat menolak agar rasa itu tidak semakin berkembang, tapi hasilnya pun nihil jin~ah. Semua bayanganmu selalu muncul disaat yang tidak tepat. Aku memandangmu bukan sebagai seorang teman, melainkan sebagai seorang wanita. Aku ingin kau menjadi milikku seutuhnya. Apa masih kurang penjelasanku ini jin~ah?” tanpa henti donghae oppa menjelaskan perasaannya terhadapku.

Aku hanya bisa berdiam diri. Sedikit menundukkan kepala dengan hati bergemuruh. Donghae oppa masih menatapa ke arahku, layaknya dia menunggu aku mengatakan sesuatu. Lalu ia pun berkata “baiklah, haejin. Aku tidak akan memaksa perasaanmu kali ini. Aku akan melepaskanmu, sesuai keinginanmu itu.” Perlahan aku merasakan ia melepas genggamannya dari pergelangan tanganku.

“sekarang pergilah, lakukan apapun yang ingin kau lakukan. Memang sejak awal aku sudah mengira kalau cintaku hanya bertepuk sebelah tangan. Untuk kejadian yang telah berlalu, aku masih ingin mengatakan ‘mianhaeyo’ untuk ke sekian kalinya. Selamat tinggal jin~ah. Aku mencintaimu.” Donghae oppa segera melangkahkan kakinya perlahan.

“oppa…..” dengan rasa sesak di dada aku memaksakan untuk membuka suara.

“saranghaeyo…” refleks dengan kata-kata ku sendiri, kaki ku pun tanpa ku perintahkan melangkah menuju dirinya, menggapai tubuh yang tinggi dibandingkan diriku. Pelukan ku pun dibalas tanpa ragu olehnya. Setiap jemarinya menyentuh rambut panjangku, membelai dengan penuh kasih sayang. Oppa segera melepaskan pelukan kami, dan melihat ke sekeliling kami yang sedang sepi.

Lalu ia menarikku ke samping bagian mobilku. Mendekatkan wajahnya dengan wajahku, menelusuri setiap sudut wajahku dengan matanya yang ‘fishy’. “jeongmal mianhaeyo, jeongmal saranghaeyo haejin.” Ucap donghae oppa dengan nafas yang berhembus tepat di depan wajahku. “nado saranghaeyo oppa. Mianhaeyo telah membuatmu tertarik denganku.” Jawabku tanpa ragu.

Semakin ia mendekati wajahnya, semakin cepat jantungku berdetak di tempatnya. Pelan-pelan ia menyentuhkan bibirnya dengan bibirku dan segera mungkin ia melahap lembut bibirku. “jangan kau sia-siakan kesempatan ini haejin. Jarang-jarang ada yeoja yang mendapatkan ciuman dariku. Jadi nikmati dan ambil kesimpulan perasaanku didalamnya. Dan mulai sekarang aku akan memanggil mu chagiya, kau pun sebaliknya.” Tukas donghae oppa dengan tatapan menyeringai di sela-sela ciuman kami.

“ne..chagiyaa.” dan kami pun melanjutkan ciuman kami ditengah-tengah suasana kosong. Aku sudah menyukainya dan telah mencintainya terlebih dahulu. Dan hati kami pun bersatu layaknya seorang pasangan…..

♥ THE END ♥

Kyaaaaa~ thanks to god, and my husband Dujun..akhirnya selesai juga nih ff..mian yah kalo terlalu singkat dan maksa ceritanya, soalnya Cuma dikasih batas smpe 3000 words doang..dan alhasil ya seperti ini..mudah-mudahan bagus dan tertarik untuk dibaca ya readers sekalian..berharap ff ini menang, setidaknya paling rendah berada diposisi dua.. kekekekek~ jangan lupa di comment..author pamit.. *chu*

11 thoughts on “[FF Contest] Mianhaeyo, Saranghaeyo…

  1. sweet bgd..
    ukh, ukh..
    haeppa yadong nech!
    mentang2 sepi main cium aja..
    kekeke

    suka bgd dech ma adegan mreka malu2 pas byangin pasangan mreka..
    hahahaha
    jd snyum2 sndri dech..

  2. sweet bgd..
    ukh, ukh..
    haeppa yadong nech!
    mentang2 sepi main cium aja..
    kekeke

    suka bgd dech ma adegan mreka malu2 pas byangin pasangan mreka..
    hahahaha
    jd snyum2 sndri dech..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s