[FF Contest] Romeo & Cinderella

Romeo & Cinderella

Author           : Shin Ahra a.k.a Windy

Main Cast      : Lee Donghae

                           Lee Haejin

Genre              : Romance

Rate                : T

Summary       : Seorang yeoja duduk di kasurnya sambil memandang langit, tanpa disadarinya ada seorang namja yang mencoba naik ke atas kamar sang gadis. Sang yeoja pun kaget melihat namja itu ada dikamarnya dan bingung mau apa dia di rumahnya.

Ok! Let’s Read!!!

Seorang yeoja sedang membuka kaca jendelanya yang didepannya ada sebuah balkon. lalu duduk di tepi ranjang miliknya. Memandang langit malam yang hanya ada sedikit bintang berada disana. Sang yeoja pun termenung memikirkan sesuatu.

“Kau ada dimana, Donghae? Aku merindukanmu.” guman yeoja yang bernama Haejin itu sambil memandang langit malam dengan sendu. Rambut panjangnya berkibar oleh angin.

“Aku kesal, kenapa mereka tidak mengijinkan aku tuk bersamanya?” kata Haejin sambil menatap sendu pada langit malam dan membiarkan rambutnya dihempas oleh angin malam.

Yeoja itu pun menatap lagi langit malam di tepi ranjangnya. Tanpa dia sadari, ada seorang laki-laki yang menaiki balkon rumahnya. Namja itu pun berhasil menaiki balkon rumah Haejin. Dia pun duduk di sandaran balkon rumah itu sambil memandang wajah Haejin yang masih tak menyadari bahwa ada dia disana. Dia pun mencoba memanggil Haejin.

“Apa kau merindukanku, Jin-ya?” kata namja itu pada Haejin yang masih termenung menatap langit. Haejin pun sontak kaget dengan suara cukup berat dan sangat familiar. Dia pun mencoba melihat dimana suara itu berasal.

“Hae? Apa itu kau?” kata Haejin sambil menatap sang namja itu tak percaya.

“Iya, Jin-ya. Ini memang aku, Donghae.” kata Namja itu yang bernama Donghae.

“Kenapa kau ada disini?” tanya Haejin yang masih kaget dengan kedatangan Donghae.

“Tentu saja untuk bertemu denganmu, Jin-ya”kata Donghae sambil tersenyum lembut dan masih menduduki pembatas balkon rumah Haejin.

“Ta, tapi? kenapa kau bisa sampai disini?” tanya Haejin yang masih agak bingung.

“Aku kesini karena memakai tali ini. Kalau tidak, aku kan memang tidak mungkin bisa terbang kesini?” canda Donghae sambil memperlihatkan tali yang dia gunakan untuk naik ke balkon rumah Haejin.

“Hae-ah. Kau kemari mengorbankan dirimu sendiri demi aku?” tanya Haejin yang matanya mulai berkaca-kaca.

“Hmm…. Tentu saja. Lagi pula….” kata Donghae yang terputus karena dia berjalan mendekati Haejin. Dia pun telah duduk di sebelah Haejin.

“Lagi pula, aku rindu dengan Jin-ya.” kata Donghae sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Haejin dan menghirup aroma yang ada ditubuh gadis itu. Mau gak mau Haejin yang diperlakukan seperti itu blushing semerah tomat.

“Hae-ah.” kata Haejin yang gugup dengan perlakuan Donghae padanya.

“Aku tak akan melepaskanmu pada orang lain, Haejin.” guman Donghae yang kepalanya masih bersandar di bahu Haejin.

“Ta, tapi? Orangtuaku?” kata Haejin yang bimbang.

“Orangtuamu juga tidak akan tau kan kalau aku ada disini.” kata Donghae sambil bangkit dan duduk di depan Haejin.

“Tapi?”

“Tenang saja. Mereka jam segini tidak akan bangun kalau kau tidak berisik.” kata Donghae sambil menghela napas.

“Iya, maaf. Aku hanya takut kau ketahuan saat kemari.”kata Haejin sambil menunduk kepalanya.

“Iya, Haejin-ku. Ternyata Haejin-ku perhatian juga ya?”canda Donghae sambil sedikit tertawa.

‘Buuk..’ pukulan Haejin sukses mendarat di dada Donghae.

“Aa, aduuh…. Sakitnya.”rintih Donghae yang langsung memegang dadanya yang terkena pukulan Haejin.

“Salah sendiri kau ngejek. Padahal kan aku memang mengkhawatirkanmu.”kata Haejin yang langsung membuang muka kearah lain sambil cemberut.

“Maaf-maaf… Tapi kau lucu kalau cemberut.”kata Donghae yang memegang dagu Haejin dan membuat wajah Haejin yang cemberut terlihat olehnya.

“Tidak lucu tau.”kata Haejin sedikit ketus dan masih cemberut.

“Beraninya ya, kau berkata ketus begitu. Aku beri hukuman padamu yang berkata ketus padaku.”kata Donghae yang tajam.

‘buuk..’Donghae pun mendorong Haejin sampai terjatuh diatas kasur.

“Hae? Apa yang kau lakukan, hah?”kata Haejin yang sudah memblushing ria menatap Donghae yang menatapnya tajam. Kalau di perhatikan posisinya Haejin berada di kasur, sedangkan Donghae berada diatas Haejin.

Donghae pun lama kelamaan mendekat kearah Haejin yang tak bisa bergerak karena terkunci gerakannya.

“A, apa yang kau lakukan, hah?”kata Haejin yang sudah gelagapan + panik + muka blushing berat jadi satu. Namun perkataan Haejin tidak di gubris dan Donghae pun semakin lama semakin mendekat dan…

“Buaahhahahahaha….. Mukamu lucu sekali Haejin. Aku sampai tidak tega berbuat jahat padamu. Hahaha..”tawa Donghae yang melihat wajah Haejin yang sudah panic + blushing menjadi satu.

“Kau tidak lucu tau.”kata Haejin yang langsung marah.

“Maaf-maaf, Jin-ya. Kau manis kalau marah.”kata Donghae sedikit menahan ketawa.

“Itu tidak lucu.”

“Iya, maaf ya.”kata Donghae tulus sambil membelai wajah Haejin dengan lembut sambil tersenyum lembut.

“Iya.”kata Haejin sambil tetap merona karena sentuhan Donghae. Donghae pun bangkit dari posisinya yang bisa dibilang hampir meniban Haejin yang berada di bawahnya. Donghae pun duduk di tepi ranjang. Haejin pun juga ikut bangkit dari kasur dan melihat kearah Donghae.

“Kenapa Hae-ah?” tanya haejin yang bingung melihat Donghae yang terdiam.

“Duduklah.” pinta Donghae sambil menyuruh Haejin untuk duduk dipangkuannya. Haejin pun menurutinya dan duduk di pangkuan Donghae.

“Ada apa Hae-ah? Kalau ada masalah, kau bisa ceritakan padaku.” kata Haejin yang telah dipangku oleh Donghae dan melihat kearahnya.

“Tidak apa. Aku hanya ingin seperti ini saja.” kata Donghae yang langsung memeluk Haejin dan menaruh kepalanya pada pundak Haejin dan sekali lagi menghirup aroma yang menguar dari tubuh Haejin. Angin malam pun terasa tidak mempengaruhi pasangan ini. Keheningan pun tercipta seakan masing-masing mengerti untuk merasakan perasaan masing-masing. Lamanya mereka diam, membuat Haejin pun angkat bicara.

“Hae-ah.” panggil Haejin pada Donghae yang masih memeluknya dari belakang.

“Ada apa, Jin-ya?” tanya Donghae namun tidak memindahkan posisinya.

“Apa kau masih ingat bagaimana kau dan aku saling menyukai?” kata Haejin sambil menatap langit malam.

“Hmm…” guman Donghae yang mulai memutar ingatannya kemasa lalu.

~ Flashback mode on ~

Donghae Pov

Aku sedang duduk dibangkuku sambil menatap langit dengan perasaan bosan karena guru tak kunjung datang. Aku merasa kesal, kenapa lama sekali guru itu datang. Aku pun memandang teman-teman dikelasku. Ada yang berbincang-bincang, ada yang bermain, dan masih banyak lagi. Tapi ada sebuah suara yang kuyakini pintu kelasku terbuka. Kulihat semua anak kembali ketempatnya dan guru pun masuk kekelas.

“Selamat pagi semua. Hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk.” Masuklah seorang gadis yang membuat semua anak memperhatikannya.

“Ayo perkenalkan dirimu.”

“Annyeonghaseyo, yeorobeun! Lee Haejin imnida, bangapseumnida.. Mohon bantuannya.” kata gadis yang akan menjadi penghuni kelasku.

“Baiklah. Kau boleh duduk disamping Lee Donghae yang berada di pojok belakang dekat jendela itu.”

Gadis itu pun menganggukkan kepala dan berjalan kearahku. Dia pun tersenyum ramah padaku.

“Salam kenal, Lee Donghae. Kau bisa panggil aku Haejin.” katanya sambil duduk disebelahku sambil tersenyum ramah padaku.

“Panggil saja Donghae/Hae.”kataku yang agak dingin. Aku memang terbiasa begini oleh semua orang.

“Baiklah, Donghae. Kita berteman ya.”katanya padaku. Dia pun langsung berpusat pada pelajaran yang sudah diterangkan di papan tulis. Aku hanya memandang teman sebangkuku ini dengan pandangan biasa.

End Donghae Pov

Haejin Pov

Aku pun sedang berjalan bersama seorang guru yang akan mengajariku di sekolah baru ini. Guru itu pun menyuruhku untuk diluar dan di perbolehkan masuk kalau dia memanggil. Guru itu pun masuk dan aku pun dapat mendengar percakapannya.

“Selamat pagi semua. Hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk.” katanya yang merupakan perintah untukku masuk kekelas. Aku pun masuk kekelas. Kulihat semua anak-anak dikelas itu memandang kearahku. Ada yang memandang ramah dan ada yang biasa saja. Kalau yang ramah dari anak-anak perempuan dan anak laki-lakinya memandangku hanya biasa saja.

“Ayo perkenalkan dirimu.” ucap guru itu padaku. Aku pun menghadap mereka.

” Annyeonghaseyo, yeorobeun! Lee Haejin imnida, bangapseumnida. Mohon bantuannya.” kataku sambil tersenyum ramah kearah mereka semua sambil membungkukkan badan sedikit.

“Baiklah. Kau boleh duduk disamping Lee Donghae yang berada di pojok belakang dekat jendela itu.” perintah guru padaku. Aku pun hanya menganggukkan kepala dan berjalan kearah yang dimaksudkan guru itu padaku.

“Salam kenal, Lee Donghae. Kau bisa panggil aku Haejin.” kataku sambil duduk disebelahnya sambil tersenyum ramah.

“Panggil saja Donghae/Hae.” katanya yang agak dingin. Aku agak kaget dengan sapaannya yang terdengar dingin. Tapi aku langsung menepisnya.

“Baiklah, Donghae. Kita berteman ya.” kataku padaku. Aku pun langsung berpusat pada pelajaran yang sudah diterangkan di papan tulis karena dia hanya diam saja tidak bergeming, lagi pula aku juga tidak ingin dimarahi oleh guru di hari pertama aku sekolah karena mengobrol.

End Haejin Pov

Donghae Pov

Sudah hampir setengah tahun gadis itu a.k.a Haejin pindah di kelasku. Aku sekarang berada di perpustakaan sekolah. Aku pun menghabiskan waktu istirahatku di perpustakaan untuk membaca. Karena aku cukup malas untuk kekantin. Aku pun membaca buku pelajaran biologi untuk menghadapi pelajaran setelah istirahat ini.

‘kreeek’ Suara pintu perpustakaan terbuka namun aku tidak terlalu ambil pusing siapa yang berkunjung karena aku ingin fokus dengan buku yang berada di gengamanku. Sambil mendengarkan lagu dari MP3 milikku dan meneruskan membacaku.

End Donghae Pov

Haejin Pov

Sudah setengah tahun aku ada di sekolah baruku ini. Hari ini aku terlalu malas untuk pergi kekantin. Walau sudah diajak oleh teman-temanku, namun aku menolak ajakan mereka dengan halus. Aku pun pergi ke perpustakaan untuk sekedar membaca, daripada diam di kelas saja. Aku pun membuka pintu perpustakaan. Kulihat di dalam perpustakaan hanya sedikit anak yang berkunjung kemari karena sebagian anak pasti pergi kekantin untuk mengganjal perut atau mengistirahatkan pikiran mereka. Aku pun berjalan mencari buku di rak-rak. Saat ku mencari, aku melihat laki-laki yang menjadi teman sebangkuku selama setengah tahun ini bernama Donghae. Walau waktu pertama bertemu, dia seperti es karena sikapnya. Namun lama kelamaan dia pun sudah bisa melunak karena aku sering berbicara padanya. Aku pun memandangnya cukup lama, tapi sepertinya dia tidak menyadariku. Dan kulihat dia sedang fokus membaca sambil mendengarkan lagu di MP3 miliknya. Dia terlihat keren kalau diperhatikan. Apa yang ku pikirkan sih? Dari pada aku memperhatikannya bikin mukaku memanas, lebih baik aku membaca buku didekatnya saja.

End Haejin Pov

Donghae Pov

Hari ini aku pun memutuskan untuk ke halaman belakang hanya sekedar duduk dibawah pohon. Untuk menyegarkan kepalaku yang penat karena pelajaran yang kulalui. Aku pun berjalan kehalaman belakang yang jarang dikunjungi orang. Aku pun mencari pohon yang nyaman untukku berbaring. Setelah menemukannya aku pun berbaring dan memejamkan mata. Namun tak berapa lama aku memejamkan mata, ada suara yang membuat ketenanganku sedikit terusik. Mau tak mau aku pun melihat siapa yang menggangu ketenanganku.

“Mau apa kau kemari?” kataku yang sedikit tajam mengetahui yang mengganguku adalah gadis yang menjadi teman sebangkuku, Haejin.

“Tidak, aku hanya ingin disini. Bolehkan?” tanyanya padaku.

“Hn, tentu.” kataku sambil bangkit dan menggeser tempatku untuknya.

“Terimakasih. Oh ya, kau belum makan ya?” katanya sambil duduk di sebelahku. Aku pun hanya terdiam sambil bersandar di pohon. Dia pun mengeluarkan kotak bekal miliknya.

“Kalau belum, ayo kita makan bersama. Aku bawa banyak.” katanya sambil membuka kotak bekalnya.

“Ayoo, buka mulutnya.” katanya sambil mengambil makanan dan berniat untuk memberinya padaku.

“Apa maksudnya?” tanyaku yang bingung padanya. Aku tak habis pikir kenapa dia mau repot-repot seperti ini.

“Kau kan belum makan, nanti mudah sakit. Ayo, buka mulutmu.” katanya yang masih menyodorkan makanan itu kearahku.

“Aku tidaa…” kataku yang terputus karena makanan yang dia arahkan sukses masuk kedalam mulutku.

“Bagaimana? Enakkan?” tanyanya padaku yang hanya terdiam sambil mengunyah makanan yang dia berikan padaku. Aku pun hanya mengangguk kepala dan kulihat ekspresi ceria miliknya.

“Wah, benarkah? Syukurlah, ini aku yang buat loh. Ayo kita makan sama-sama.” katanya sambil tersenyum ceria.

Aku pun hanya menurut padanya. Memang ku akui masakannya enak dimakan. Dan melihat wajahnya yang ceria membuatku sedikir merona. Sepertinya aku mulai menyukai gadis ini.

End Donghae Pov

Haejin Pov

Hari ini aku membawa bekal kesekolah karena dirumah tidak ada siapa-siapa. Aku pun meninggalkan kelas dan mencari tempat yang bagus untukku memakan bekal buatanku. Aku pun menuju halaman belakang sekolah karena kupikir tidak ada yang berkunjung kesana. Aku bisa menghabiskan waktu disana. Saat aku sampai disana, aku pun melihat Donghae tertidur di bawah pohon. Aku sempat berpikir kenapa dia tidak pergi kekantin dan malah tertidur disana? Aku pun langsung mendatanginya yang sedang tertidur di bawah pohon itu. Kulihat dia membuka matanya dan menatap kearahku.

“Mau apa kau kemari?” katanya yang sedikit tajam mengetahui aku ada di dekatnya. Mungkin dia sedikit marah karena aku menggangu tidurnya.

“Tidak, aku hanya ingin disini. Bolehkan?” tanyaku padanya.

“Hn, tentu.” katanya sambil bangkit dan menggeser tempatnya untukku.

“Terimakasih. Oh ya, kau belum makan ya?” kataku sambil duduk di sebelahnya. Dia pun hanya terdiam sambil bersandar di pohon. Aku pun mengeluarkan kotak bekal milikku.

“Kalau belum, ayo kita makan bersama. Aku bawa banyak.” kataku sambil membuka kotak bekalku. Dia pun tetap diam.

“Ayoo, buka mulutnya.” kataku sambil mengambil makanan dari kotak bekalku dan berniat untuk memberikannya padanya.

“Apa maksudnya?” tanyanya yang bingung padaku. Aku pun hanya tersenyum padanya.

“Kau kan belum makan, nanti mudah sakit. Ayo, buka mulutmu.” kataku yang masih menyodorkan makanan itu kearahnya.

“Aku tidaa…” katanya yang terputus karena makanan yang kuarahkan sukses masuk kedalam mulutnya.

“Bagaimana? Enakkan?” tanyaku padanya yang hanya terdiam sambil mengunyah makanan yang kuberikan padanya. Aku pun menunggu jawabnya dengan was-was, takut kalau makanan yang kubuat rasanya tidak enak. Dia pun hanya mengangguk kepala dan aku pun tersenyum ceria padanya.

“Wah, benarkah? Syukurlah, ini aku yang buat loh. Ayo kita makan sama-sama.” kataku sambil tersenyum ceria. Senangnya masakan buatanku dipuji olehnya walau hanya dengan menganggukan kepala, itu sudah cukup bagiku. Sepertinya aku memang menyukainya, ah bukan aku pasti mulai mencintainya. Aku tak mungkin begini padanya mengingat aku hanya biasa saja dengan teman-teman laki-laki dikelasku kecuali dia. Aku tak ingin melepaskannya untuk orang lain.

End Haejin Pov

End Flashback

“Mulai saat itu kita jadi dekat dan akhirnya seperti sekarang.” kata Donghae sambil mengangkat Haejin dari pangkuannya untuk duduk disebelahnya.

“Iya, semenjak itu kita selalu bersama. Makan bekal yang kubawakan bersama, lalu pulang sekolah bersama, lalu kau mencoba bermain musik tapi ternyata permainanmu cukup aneh didengar dan aku harus menggantikanmu. Lalu yang paling membuatku senang adalah saat kau mengatakan kau mencintaiku.” jelas Haejin sambil bangkit dari pangkuan Donghae dan menatap Donghae dengan tersenyum ceria.

“Hah? Kau masih ingat yang kita bermain musik bersama? Padahal aku sudah lupa.” kata Donghae yang sedikit shock karena Haejin masih mengingat kejadian dimana Haejin mengetahui dia tidak bisa bermain musik.

“Hehehe… Tentu. Tapi…” kata Haejin yang terputus dan langsung terdiam. Donghae yang melihat Haejin terdiam pun berdiri, mensejajarkan dirinya dan memegang lengan Haejin. Donghae pun menyuruhnya duduk diranjang dan Haejin pun duduk sambil menundukkan kepalanya.

“Kau pasti memikitkan waktu itu kan?” tanya Donghae lirih dan menatap Haejin sendu.

“Eh?” guman Haejin yang kaget Donghae mengetahui apa yang ada dipikirannya.

Flashback mode on (Lagi)

Donghae Pov

Aku sedang mengantar kekasihku a.k.a Haejin pulang kerumahnya. Aku pun yakin kalau dia tertidur di punggungku karena dia baru selesai mengikuti ekskul seni musik disekolah. Aku pun merasakan deru nafas miliknya menerpa punggungku yang memberikan sedikit kehangatan. Aku pun tersenyum lembut dan mungkin diwajahku ini pasti ada rona merahnya. Aku pun sampai didepan rumahnya. Aku pun langsung membangunkannya.

“Jin-ya, kita sudah sampai nih. Mau sampai kapan kau tidur.” kataku mencoba membangunkannya.

“Hngg.. Memang sudah sampai ya?” tanya Haejin yang masih setengah sadar dan mengucek matanya dan sesekali menguap.

“Sudah, coba lihat yang bener.” kataku padanya yang menyuruhnya melihat dengan benar.

“Ah, iya. Sudah sampai. Ah, padahal aku masih ingin tidur.” katanya sambil menggerutu kesal. Aku pun yang melihat wajahnya yang polos itu hanya bisa tertawa.

“Kau mau terus tertidur di punggungku ya?” tanyaku yang sedikit menggodanya.

“E, eh? Ti, tidak! Makasih.” katanya yang gelagapan + merona diwajahnya.

“Yasudah, turun deh.. Sebelum..” kataku yang terputus karena ada yang membuka pintu rumah itu dengan kasar dan membuatku dan Haejin kaget. Tapi Haejin malah terlihat seperti ketakutan daripada kaget.

“Haejin! Siapa yang kau bawa itu?” tanya seorang namja yang sudah berumur dengan nada tajam dan disebelahnya seorang wanita berkacamata yang kuyakini pasti orangtua Haejin.

“A, appa. I, ini..” kata Haejin yang sedikit takut mendengar perkataan ayahnya. Aku yang melihat Haejin seperti itu jadi tidak tega, dan akhirnya aku pun yang berbicara.

“Saya Donghae, namjachingunya Haejin.” kataku sesopan mungkin. Kulihat ayah Haejin sepertinya geram padaku. Dia pun mendekatiku dan Haejin.

“Ayo masuk! Dan kau, jangan pernah mengantarkannya lagi.” bentak appa Haejin  padaku dan Haejin. Haejin pun langsung diseret paksa oleh ayahnya itu masuk kerumah. Aku pun yang melihat itu hanya bisa diam terpaku tak bisa berbuat apa-apa. Aku pun memutuskan untuk pulang kerumah.

Keesokannya aku pun pergi kerumah Haejin untuk mengajaknya pergi ke Lotte World karena sudah janji dengannya jika dia mendapat nilai bagus saat pelajaran fisika karena dia kurang bisa menguasainya. Aku pun mengetuk pintu rumahnya. Kudengar suara langkah kaki serta ucapan “Tunggu sebentar” dari dalam rumah.

“Ah, Donghae.. Kau datang.” kata Haejin yang membukakan pintu untukku.

“Apa kau sudah siap?” tanyaku padanya.

“Tunggu, aku mau….” ucap Haejin terpotong karena ada suara dari arah belakangnya.

“Siapa itu, Haejin? Kau lagi rupanya.” kata appanya Haejin yang menyadari aku ada di depan rumahnya.

“Mau apa kau kemari?” kata Appanya tajam padaku.

“Aku ingin mengajak Haejin liburan ke Lotte World , ahjussi.” kataku yang mencoba sesopan mungkin.

‘Plaak.’ tangan appa Haejin pun sukses mendarat diwajahku yang membuat wajahku lebam dan membuatku terduduk dilantai. Haejin pun langsung berjongkok mendekatiku yang terduduk sambil menyentuh pipiku yang lebam. aku pun melihat dia sudah berkaca-kaca melihatku seperti ini. Aku pun langsung memeluknya mencoba menenangkannya.

“Ngapain kau masih kesini. Cepat pergi. Dasar bocah ingusan. Bisa apa kau pada anakku, hah? Mengajaknya kencan segala.” bentaknya sambil menatapku tajam. Aku pun sudah tidak tahan dengan kelakuan Appanya.

“Aku mengajaknya pergi karena sebagai imbalan dia telah berhasil mendapatkan nilai terbaik. Lagipula saya ini datang dengan tujuan yang baik.” kataku yang sedikit membentaknya.

“Masuk, Haejin. Appa tidak akan mengijinkan kau bersama dia. Dan kau. Jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku. Ayo! Masuk.” bentak appa Haejin padaku dan Haejin.

“Aku tidak mau, aku tidak mau menuruti apa kata appa.” bentak Haejin pada appanya sendiri dan mengeratkan dirinya padaku.

“Jangan paksa dia, ahjussi.” kataku pada appanya.

“Apa urusannya denganmu? Kau itu bukan siapa-siapa.” bentak appanya padaku.

“Saya ini namjachingunya, dan saya sangat mencintai putri anda.” kataku dengan lantang dan membuat Haejin dan appanya terdiam.

“Apaan yang cinta. Memang bocah sepertimu bisa membahagiakan putriku, hah? Sudah kau masuk Haejin.” kata appanya yang menarik Haejin masuk kerumah.

“Donghae…” teriak Haejin yang menggengam erat tanganku.

“Lepaskan peganganmu, Haejin. Ayo.. Masuk!” bentak appa Haejin dan menarik kuat agar Haejin melepas genggamannya padaku. Haejin pun yang tidak kuat pun melepas genggamannya padaku.

“Donghae….” teriaknya sambil menangis deras di wajahnya. Pintu rumahnya pun langsung tertutup kencang. Aku pun tidak bisa berbuat banyak padanya.

“Sial, aku tidak bisa menolongnya.” Umpatku sambil menghajar tembok disebelahku. Aku pun meninggalkan rumah Haejin dengan perasaan kesal dan amarah. Aku akan kembali dan merebut Haejin kembali. Haejin, tunggulah aku. Aku pasti akan menjemputmu.

End Donghae Pov

End Flashback

“Maafkan aku, Haejin. Yang waktu itu tidak bisa menolongmu. Maafkan aku. Baru sekarang aku menemuimu setelah sekian lama. Maaf.” kata Donghae dengan lirih.

“Tidak apa, Hae-ah. Kau tidak salah.” kata Haejin sambil memeluk Donghae.

“Apapun yang terjadi, aku tetap mencintai Donghae sepenuh hati. Jangan salahkan dirimu lagi. Kumohon.” kata Haejin yang sudah mulai menangis di bahu Donghae.

“Jin-ya…” kata Donghae yang langsung memegang wajah Haejin dan mendekatkannya kewajahnya. Donghae pun semakin lama semakin mempersempit jarak antara wajahnya dengan Haejin. Haejin pun memejamkan matanya perlahan. Mereka pun merasakan deru napas masing-masing. Donghae pun juga memejamkan matanya.

‘Cuup’ bibir mereka pun bersentuhan dengan lembut seakan merasakan kehangatan masing-masing lewat ciuman itu. Mereka pun melepas ciuman itu dan saling memandangi satu sama lain. Dan mereka pun merona hebat karena itu ciuman pertama mereka.

“Hae-ah..” guman Haejin sambil memegang bibir miliknya yang telah dicium oleh Donghae.

“Ada satu lagi yang harus kau tau.” kata Donghae yang mulai menatapnya serius. Donghae pun mengambil sesuatu dari sakunya. Dia pun mengeluarkan sebuah kotak kecil dan langsung dihadapkan ke Haejin.

“Hae? I, ini?” kata Haejin yang kaget dengan benda yang dikeluarkan Donghae.

“Iya, kau pasti tau apa isinya kan? Aku selama ini menghilang saat kejadian itu. Aku pun pergi keluar negeri untuk menuntut ilmu disana. Aku pun berhasil menjadi anggota FBI termuda disana. Kau pasti tau kan cita-citaku ingin menjadi kepolisian dunia. Setelah aku berhasil, aku ingin menjemputmu untuk tinggal disana. Orangtuaku menyetujuiku untuk membawamu ke Amerika untuk tinggal bersama.” jelas Donghae.

“Bagaimana dengan orangtuaku?” tanya Haejin.

“Mereka juga pernah kubujuk saat aku ingin mengambilmu dari mereka (dalam artian melamar), mereka tetap tak mengijinkanku karena kata mereka kau sudah dijodohkan oleh seseorang.” jelas Donghae lagi dengan lesu.

“Memang aku dijodohkan oleh pilihan ayahku yang seorang dokter. Tapi aku tetap tidak mau. Aku tak pernah mencintainya. Aku hanya mencintaimu, Hae-ah.” kata Haejin yang menangis sambil memegang dadanya, sakit. Donghae yang melihat Haejin begitu langsung membuka isi kotak itu. Terdapat cincin emas putih yang dihiasi berlian diatasnya.

“Will you marry me? Jin-ya.” kata Donghae yang merupakan perkataan lamarannya pada Haejin. Haejin pun menangis sejadi-jadinya dalam diam agar tidak membangunkan orangtuanya. Donghae pun dengan sigap langsung memeluk Haejin agar sang yeojachingu bisa menangis dipelukannya.

“A, aku senang sekali, kau mau melamarku, Hae-ah.” kata Haejin yang masih menangis walau hanya isakan yang terdengar.

“Jadi? Apa jawabanmu?” tanya Donghae sambil mengelus puncak kepala Haejin dengan lembut.

“Iya, I’ll marry you, Hae-ah.” kata Haejin yang menatap Donghae dengan senyuman hangatnya walau matanya masih berkaca-kaca. Donghae pun langsung memasangkan cincin itu pada Haejin.

“Saranghaeyo, Jin-ya.” kata Donghae sambil memeluk Haejin erat.

“Nado saranghaeyo, Hae-ah.” kata Haejin membalas pelukan Donghae.

“Kalau begitu, kita pergi dari sini.” kata Donghae sambil berdiri.

“Tunggu, aku mau ganti pakaianku dan membawa beberapa pakaianku.” kata Haejin yang mendekati lemari bajunya.

“Tenang saja, bajumu sudah ada disana. kau tidak perlu repot-repot bawa baju lagi.” kata Donghae yang sedikit sweatdrop dengan perkataan Haejin.

“Benarkah? Baiklah. Tapi aku tetap ganti baju dulu. Gak mungkin kan aku keluar dengan baju tidur?” kata Haejin yang sedikit bercanda.

“Iya, iya Jin-ya. Aku tunggu kau dibawah ya.” kata Donghae dan berjalan menuju balkon rumah Haejin. Dia pun turun kebawah dengan tali yang tadi dia gunakan untuk naik. Haejin pun langsung memilih baju yang akan dikenakannya.

Haejin Pov

Senang sekali rasanya, pujaan hatiku datang tanpa memperdulikan keselamatannya hanya untuk menemuiku. Bahkan dia melamarku. Impianku selama ini tercapai, menikah dengan orang yang kucinta. Seperti serasa bermimpi. Kucubit pipiku kalau ini mimpi, pasti kalau mimpi aku akan bangun. Tapi kenapa sakit? Berarti ini bukan mimpi. Aku pun selesai mengganti pakaian tidurku. Aku pun meninggalkan sebuah surat yang sudah kutulis sejak lama kalau hari ini akan tiba di atas ranjangku. Aku pun berjalan menuju balkon kamarku. Aku pun memantapkan hatiku. Aku tak ingin ada disini, aku ingin bebas. Aku tak ingin mengikuti kemauan appa yang sudah terlalu egois, membiarkan aku berjodoh dengan orang yang sama sekali tidak kucintai. Aku pun berjalan kearah pembatas balkon rumahku. Kulihat Donghae sudah dibawah.

“Ayo, Jin-ya. Cepatlah turun. Aku akan menangkapmu.” kata Donghae padaku yang masih diatas kamarku.

“Iya, aku akan kesana. Tangkap aku ya.” kataku yang sudah berada dipinggir pembatas. Aku pun langsung meloncat kebawah. Mataku langsung menutup karena serasa takut harus loncat dari lantai satu. Aku pun merasa menibani seseorang, dan kulihat wajah Donghae yang tertawa padaku.

“Hahaha… Kau ini kenapa malah menutup mata. Aku kan berhasil menangkapmu.” Kata Donghae sambil tertawa.

“Ukhh… aku kan takut, Hae-ah. Tapi, makasih sudah menangkapku.” kataku sambil tersenyum. Kami pun bangkit dari posisi masing-masing.

“Iya, Jin-ya. Ayo, sekarang kita pergi.” kata Donghae yang mengulurkan tangannya.

“Iya, ayo.” ucapku yang menggenggam tangannya. Kami pun meninggalkan rumahku dengan perasaan senang. Selamat tinggal appa, eomma. Maafkan aku, aku harus melakukan ini untuk menemukan kebahagianku. Selamat tinggal, aku sayang kalian.

End Haejin Pov

~ The end ~

~ Omake ~

Keesokan harinya, seorang wanita sedang mengetuk kamar sang anak.

“Haejin, ayo sarapan.” kata wanita itu namun tidak mendengar jawaban sang anak. Wanita itu pun mencoba membuka kamar sang anak, namun terkunci. Dia pun memanggil suaminya untuk membuka kamar anaknya itu. Sang pria yang memang merupakan suaminya itu pun mencoba membuka kamar sang anak. Setelah dibuka, mereka pun tidak menemukan sang anak dimanapun. Sang ayah pun melihat sepucuk surat yang ada di atas kasur sang anak yang telah menghilang entah kemana. Sang pria itu pun membaca surat itu.

Appa, eomma, mianhe. Aku tidak mau terus dikekang seperti burung dalam sangkar. Aku sangat berterimakasih sama kalian atas semuanya. Tapi maaf aku mengecewakan kalian. aku hanya ingin mencari kebahagiaanku diluar sana. Maaf kan aku yang menentang kalian. tapi jauh dilubuk hatiku, kalian adalah orangtua yang paling kusayangi. Selamat tinggal appa, eomma. Aku menyayangi kalian.

Love,

Haejin.

~ Benar-benar Tamat ~

17 thoughts on “[FF Contest] Romeo & Cinderella

  1. Kasih cap jejak,ini ff author ny tmen kampus gue,hahahha

    windy,,,ff mu dpost neh,wkwkwk,,ok,ok sgtu dulu yaw

  2. – ngerasa di zaman viktoria (abaikan) and klimaksnya kurang…
    – gantung ending (hidup bersama org yg dicintai itu pasti bahagia, tp berpisah dgn org tua bukan happy ending).

    Keep writing buat mba Author!!!!!

  3. kkkkkkk jadi bisa ya romeo berjodoh ama julitte? :p ceritanyaaa bagusss hehe cma agak krg nyaman aja sama yg gonta-ganti pov sependek itu🙂

  4. kok jd kyk donghae nyulik haejin gni ?
    tp bgus jg sih . . .
    aq jg mw klo diculik smaa donghae ^^
    hahahaha . . .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s