[FF Contest] A Love To Kill

Title                            : A Love to Kill

Author  : Nirwana (www.nichanpark.wordpress.com @nirwana_ncjw)

Genr                           : Friendship, Romance, Mistery

Rate                            : PG-15

Length                        : Oneshoot; 7,800 words; 39 MS Word pages

Main Cast                  :

  • Lee Haejin
  • Lee Donghae

Supporting Cast        :

  • Eunhyuk
  • Yoonri
  • Min Sunye

TIN…

Haejin tak sengaja memencet klakson mobil dengan kepalanya karena menginjak rem dengan mendadak. Hampir saja dia menabrak seseorang.

Dia berjalan keluar. Tampak seorang pria dengan pakian jas serba hitam sedang duduk di jalan di depan mobilnya. “Gwaenchanaseumnida?”

Aniyo. Gwaenchana.” Jawab pria itu.

“Apa ada yang terluka?”

Obsoseumnida

“Kalau tiba-tiba ada yang terasa sakit, kau bisa hubungi aku.” Ujar Haejin sambil memberikannya kartu nama berwarna pink miliknya.

“Lee Haejin? Kau masih seorang mahasiswa?” Tanyanya sedikit sangsi.

“Ne.” Ujar Haejin sambil mengangguk dihiasi senyum.

“Keurom saya permisi. Saya terburu-buru.” Pria itu langsung pergi dari hadapan Haejin.

-=.=-

Haejin memasukan mobil ke dalam basement, lalu beranjak memasuki lift. Dia menekan tombol 10. Setelah tiba di lantainya, dia segera keluar dan masuk ke dalam apartemennya. Setelah masuk, dia segera melepas blazer pinknya dan membasuh mukanya di wastafel kamar mandi.

Setelahnya, Haejin duduk di sofa. Dia teringat pada namja yang hampir ia tabrak tadi siang. “Apa dia baik-baik saja?”

Memikirkan namja tadi saja, Haejin menjadi senang dan senyum senyum tidak jelas. “Aish, kenapa aku jadi memikirkannya?” Katanya sambil menepuk kepalanya pelan.

“Ah, keundae, geu namjaga jinja moshissoyo. Neomu neomu mojyeo.” Ujarnya dengan senyuman. Rasanya dia sedang kasmaran. “Aish, kenapa aku tak menanyakan namanya? Bodohnya aku.”

-=.=-

Haejin sedang pergi ke sebuah restoran. Dia melihat pria tempo hari disana. Seketika senyumnya mengembang. Dan dia berjalan mendekati pria tadi.

Chogiyo…”

Pria itu mengangkat kepalanya. “O?? Lee Haejin-sshi?”

“Ne. Bagaimana keadaanmu? Tidak ada yang sakit, kan?”

“Eobsoyo. Neo…” Pria itu terlihat ragu melanjutkan ucapannya. “Kau mau bergabung?” Ujarnya pada akhirnya.

“Jinja? Gomawo.” Haejin lalu duduk dihadapan pria itu. “Kalau boleh kutahu, siapa namamu?”

Pria yang sedang minum itu mejadi tersedak. Haejin jadi panik. “Kalau aku tak boleh tahu, juga tidak apa-apa.”

“Aiden Lee imnida.” Jelas pria itu, tapi wajahnya penuh dengan rasa kekhwatiran.

“Aiden? Kau bukan orang Korea?”

“Eomma yang orang Korea. Sementara Appa bukan orang Korea.”

“Aa, araseo! Kau punya nama Korea?”

“Eobsoyo. Mungkin kau mau memeberikan nama Korea untukku?”

“Jinja. Ayo kita cari…” Haejin terlihat dalam pemikirannya. “Donghae. Otthe? Donghae?”

Aiden terlihat terkejut. “Donghae? Kenapa kau berpikir nama itu cocok untukku?”

“O. Terdengar bagus. Otthe?”

“Baiklah.” Aiden mengangguk.

“Kau mau aku panggil Aiden atau Donghae?”

“Terserah padamu. Kau bebas memilih.”

“Mm.. aku panggil Aiden saja. Nama Donghae masih tidak resmi. Gwaenchana?”

“Ne.”

“Kau mau pesan makanan?”

“Mm…”

-=.=-

Haejin pulang dengan perasaan bahagia. Hingga dia sudah tidak lagi merasa sedih akan kematian ayahnya. Karena Aiden sudah menghiburnya. Dia juga sudah melupakan masalahnya bersama Minho, mantan pacarnya. Sakit hatinya benar-benar sembuh.

Haejin merasakan bahwa dia sedang jatuh cinta dengan Aiden. Walau khawatir bahwa Minho mungkin akan memaksanya untuk kembali menjadi kekasihnya, dia tak lagi memedulikannya. Yang ia pedulikan bagaimana dia bisa bertemu lagi dengan Aiden.

Tapi dia merasa aneh bila ada di dekat Aiden. Haejin merasa bahwa Aiden selalu waspada terhadap sekelilingnya. Dia juga terlihat misterius. Hal itu membuat Haejin tidak berani bertanya banyak pada Aiden tadi. Tapi ke-miserius-an Aiden yang membuat Haejin menyukainya.

“Aish… Lee Haejin tugas kuliahmu masih banyak. Ayo! Acha acha fighting!!” Haejin mulai membuka buku dan mengerjakan tugas kuliahnya.

-=.=-

Di kampus, setelah mengumpulkan tugasnya, dia berjalan ke kantin. Setelah mengambil pesanannya dan duduk, dia segera memakannya. Tapi tak sengaja dilihatnya Aiden berjalan keluar dengan tergesa dari fakultas seni.

Haejin segera menghabiskan makanannya. Setelah itu dia berjalan memasuki kelas musik. Dia bertemu dengan Yoonri disana, diapun langsung mendekati Yoonri.

“Yoonri-ah, apa kau kenal di jurusan ini ada mahasiswa bernama Aiden?” Tanyanya langsung.

“Aiden?” Yoonri memastikan. “Kurasa tidak ada. Waeyo?”

“Jinja eobso?” Tanya Haejin sekali lagi dengan kecewa.

Yoonri menggeleng lalu melihat jam di tangannya. “Haejin-ah, aku harus pergi! Eunhyuk Oppa sudah menungguku. Anyeong!!”

Haejin menghela nafasnya kecewa. Lalu berjalan keluar. Dia berjalan menuju tempat parkir untuk menaiki mobilnya yang akan membawanya pulang ke rumah. Haejin membuka pintunya dan saat melihat kearah depannya, seorang namja tinggi yang sedang ia cari ada di hadapannya. “Aiden-sshi?!”

Namja itu terlihat menegang sedikit lalu membalikan tubuhnya. Wajah lega terpampang jelas di wajahnya saat mengenali yang memanggilnya adalah Haejin. “Anyeonghaseyo, Haejin-sshi!”

Anyeonghaseyo! Sedang apa kau disini?”

Aiden terlihat bingung. “Mencari informasi.”

“Informasi apa?”

Aiden tampak tegang. Kemudian dia berhasil menguasainya. “Adikku ingin masuk ke Seoul University tahun depan. Jadi aku mencari informasi.”

“Ah, arraso!”

Keurom, saya permisi. Aku sedang terburu-buru.” Aiden permisi kepada Haejin.

“Ah baiklah! Aku juga ingin pulang. Sampai jumpa lagi, Aiden-sshi!” Ujar Haejin dengan senyum.

Aiden sedikit terpaku melihat Haejin yang sedang tersenyum manis. “Ne. Semoga kita bisa bertemu lagi.” Balas Aiden dengan senyum yang lebar juga.

Haejin terpesona melihat Aiden tersenyum seperti itu. Hingga mobil Aiden pergi dari arena lapangan, baru dia tersadar dari lamunannya. Diapun segera masuk ke dalam mobil dan mengendarainya menuju apartemennya.

“Ah!! Senyumnya bisa membuatku gila!!” Ujarnya pada dirinya sendiri setelah masuk ke dalam apartemennya. “Tuhan, kenapa kau bisa menciptakan manusia sempurna seperti dia? A.. dula boli gettne.”

-=.=-

“Ya!! Haejin-ah! Kau mendengarkanku tidak?” Tanya Yoonri emosi. Sementara Haejin masih saja menatap ponselnya. “LEE HAEJIN!!!”

Haejin tersadar. “Mwohaeyo??! Kenapa kau berteriak? Aku tidak tuli!!”

“Salah siapa?? Aku sudah memanggilmu dari tadi. Kau kenapa?”

Aniya. Aku bingung.” Ujar haejin dengan bingung.

“Bingung kenapa?” tanya Eunhyuk sambil mencomot kentang goreng milik Yoonri.

“YA!!” Protes Yoonri tak terima.

“Hi Babe!” Ujar Eunhyuk sambil mengangkat kedua alisnya.

 “Diamlah! Aku sedang bingung!!” Ujar Haejin.

Wae?” Tanya Yoonri sambil menyuapi Eunhyuk dengan kentang goreng.

Bimilyeyo!” ujar Haejin sambil tersenyum penuh teka-teki.

“Ayolah Haejin-ah. Ceritakan padaku. Ayo cerita!!” Rengek Yoonri membujuk Haejin.

Shireo!”

Shireo wae?”

“Aku tak mau cerita, kalau orang monyet gila bau dan pelit ini masih ada dihadapanku!” Ujar Haejin sambil menunjuk Eunhyuk.

“YA!! Kau harus beruntung bisa mengenal, King of Dance Seoul University ini!!” Ujar Eunhyuk berbangga.

“Mengenalmu tidak memberi efek apapun padaku.” Timpal Haejin dingin.

Arrayo. Na ga. Kimmyya, aku ke tempat latihan, ya!! Kau mau ikut berlatih tidak, Kimmy?”

“Ne. Nanti aku menyusulmu. Materi lagunya sudah kau bawa, kan?”

“Ne. Aku latihan dulu, ya!” Eunhyuk berdiri lalu mencium pipi Yoonri lalu pergi menggunakan motor sport hitam miliknya.

“Baik. Sekarang dia sudah pergi. Ayo, ceritakan padaku!!” Tuntut Yoonri.

“Aku baru berkenalan dengan seseorang. Sudah tiga kali aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Aku bingung bagaimana untuk menemuinya lagi.”

“Telepon saja!” Yoonri memberi saran.

“Aku tak punya nomor teleponnya. Aku hanya tahu wajah dan namanya saja.”

Keurom, nuguji?”

“Aiden.”

“Ah, namja yang kau cari-cari waktu itu. Keundae, Aiden bukan nama Korea. Dia bukan orang Korea?”

Haejin mengangguk.

“Ah, keurom nan mollayo, Haejin-ah!” ujar Yoonri pasrah.

“Aku tau kalau kau tak akan bisa membantuku. Na ga!!”

“Ya!! Baiklah! Aku akan pergi latihan menyanyi dengan Eunhyuk Oppa!”

“Ya sudah! Sana pergi!! Aku mau ke toko buku. Bye!”

Haejin melangkahkan kakinya menjauh dari arena kantin lalu berjalan mendekati mobilnya. Diapun segera melajukan mobilnya menuju toko buku yang biasa ia kunjungi.

Haejin memarkirkan mobilnya dan segera masuk ke dalam toko buku itu.  Dia segera menuju rak buku yang cocok untuk tugas kuliahnya. Setelah mendapat bukunya, dia berjalan melihat buku-buka yang ada.

Tapi di bagian rak fiksi dia melihat sosok yang sangat ingin ia temui. Aiden. Dia langsung mendekati Aiden.

“Aiden-sshi…” Panggil Haejin sedikit berbesik.

Aiden menoleh. Dia tersenyum setelah melihat bahwa gadis yang memanggilnya adalah Haejin. “Ah, senang bisa bertemu denganmu lagi, Haejin-sshi!”

“Kau sedang mencari buku?”

“Mm.. Aku hanya ingin mencari buku untuk pengalamanku dan sumber latihanku.” Terangnya.

“Oh. Boleh aku lihat bukunya?”

Aiden menunjukan buku-buku yang ia pilih. Haejin melihatnya. Buku-buku itu bergenre misteri, penyamaran, detektif, dan pembunuhan.

“Kau suka membaca buku-buku seperti ini?”

“Mm… untuk menambah pengetahuanku sekaligus untuk bahan uji coba. Lumayan untuk rencanaku selanjutnya.” Terang Aiden.

“Maksudmu?” Tanya Haejin tak mengerti. “Rencana apa?”

Mwo?” Tanya Aiden balik. “Dwaesso.”

“Huh?” Haejin semakin tak mengerti.

“Jangan dengarkan apa yang aku katakan. Otakku sedang banyak pikiran. Jadi, banyak sikapku yang lepas kendali bahkan hingga aku sendiri tidak mengerti.” Ujarnya sambil terkekeh pelan.

“Aa… Pemaksaan kinerja otak? Jangan terlalu memforsir diri.”

Ne. Aku juga sedang mencoba menurunkan kinerja otakku. Kau sudah selesai? Aku mau ke kasir.”

“O. Aku cukup membeli buku ini saja.”

Aiden dan Haejin berjalan berdampingan menuju kasir. Selesai membayar Haejin mengajak Aiden untuk mampir di restoran kecil yang ada di sebelah toko buku.

“Aiden-sshi, bisakah aku meminta nomor ponselmu?” Pinta Haejin.

“Aku sering ganti nomor. Dan mungkin kau akan sulit untuk menghubungiku.” Elaknya.

Haejin mendesah kecewa lalu meminum jus jeruknya. Haejin memakan makanannya agak cepat. Aiden hanya melihat Haejin sambil tersenyum kecil. Entah kenapa, untuk dirinya, berada di sebelah Haejin menghadirkan rasa kedamaian yang sudah lama tidak ia rasakan. Dia juga merasakan kenyamanan saat ada di samping Haejin.

Sudah lama ia tak merasakan kenyamanan dan kedamaian dalam hatinya. Tapi saat ia berada disamping Haejin, dia bisa merasakan kenyamanan dan kedamaian itu. Walau dia sadar berdekatan dengan Haejin akan membawanya dalam bahaya…

-=.=-

Haejin sedang berbaring disofa. Dia melihat sebuah buku yang ada ditangannya. ‘Love For Kills’. Buku itu adalah pemberian Aiden tadi sore.

Tak lama, dia merasakan getar dari ponselnya. Haejin meraih ponsel itu dan membuka pesan yang baru saja masuk.

From         : 010-653XXXX

Bagaimana buku yang baru saja aku berikan? Apakah kau sudah membacanya?

Haejin mengernyitkan dahinya heran. “Buku? Apa ini Aiden?” Haejin langsung semangat mengetikan beberapa kata di layar datar ponselnya.

From         : Haejin

Apa ini kau, Aiden? Aku baru saja membacanya. Sepertinya jalan cerita novel ini sangat menarik. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat. Gomawo atas bukunya. J

Haejin menunggu balasan Aiden. Dan setelahnya mereka melanjutkan bertukar sms satu sama lain. Dari membicarakan buku hingga ke masalah sepele. Hingga pagi menjelang, Haejin tidak lelah ber-sms-an dengan Aiden.

From         : Haejin.

Sudah dulu, ya! Aku harus bersiap untuk kuliah hari ini.

Haejin meninggalkan ponselnya dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi. Keluar dari kamar mandi, Haejin langsung mengambil ponselnya.

From         : Aiden.

Baiklah. Semoga lancar kuliah hari ini. Fighting!!

Haejin semakin semangat mengikuti kuliah. Dia tak henti-hentinya tersenyum. Yoonri menjadi heran dengan sikap Haejin itu.

“YA!! Kau kenapa, huh? Senyum-senyum terus. Kau tak kasihan pada urat senyummu?”

Aniya…” Jawab Haejin lalu tersenyum lagi.

“Aku bisa gila menghadapimu!!” Ujar Yoonri

“Haejin-ah! Kau gila, huh? Makanya! Jangan masuk jurusan psikolog! Gila, kan, jadinya!!” Eunhyuk ikut menimbrung.

“Apa hubungannya dengan jurusanku?” Protes Haejin.

“Lalu apa lagi??” Eunhyuk dan Yoonri bertanya bersamaan.

Bimilyeyo.” Ujar Haejin lalu mengambil ponselnya dan mengetikan sms.

To             : Aiden.

Anyeong, Aiden!! Bagaimana harimu? Apa aktifitasmu lancar?

Haejin menaruh ponselnya. Ditunggunya balasan dari Aiden. Tapi tak juga ponsel itu menandakan akan mendapat balasan sms dari Aiden. Haejin menghela nafas dan menggerutu pelan.

“Haejin-ah, kukira kau benar-benar gila sekarang. Tadi kau sanyam-senyum sekarang kau menggerutu. Kimmy-ya, kau jangan dekat-dekat dengan Haejin. Nanti kau ikut gila!”

Haejin menjitak kepala Eunhyuk cukup keras. “Yang ada, Yoonri akan gila bila terus bersamamu!”

“Tapi Eunhyuk Oppa benar.” Yoonri membenarkan Eunhyuk.

“YA!! Kenapa sekarang kau membelanya?” Protes Haejin.

“Sebenarnya kau kenapa?”

“Aiden.”

“Aiden? Apa itu?” Tanya Eunhyuk tak mengerti.

“Ah, Oppa. Rupanya Haejin sedang jatuh cinta.” Ujar Yoonri.

Mwo? Aiden nama seorang namja?”

Neo jinja babo gateun saram!” Hardik Yoonri. “Tentu saja nama namja. Apa lagi?”

“Kalian ini berisik sekali? Lebih baik kalian ke studio tari dan menari sesuka kalian.” Ujar Haejin.

“Ah… membicarakan tari, bagaimana kalau kau melihat kolaborasi dance kami yang baru? Kau mau tidak?” Tawar Eunhyuk.

Shireo. Aku mau pulang saja!” ujar Haejin lalu melangkah menjauhi Yoonri dan Eunhyuk.

-=.=-

Dirumah Haejin masih saja menantikan balasan sms dari Aiden. Tapi Aiden tak juga memberikan balasan sms.

Hingga esok harinya, balasan dari Aiden juga belum Haejin dapatkan. Hingga membuat Haejin menjadi tidak semangat selama mengikuti kuliah hari ini.

“Haejin-ah, kau kenapa lagi hari ini? Tidak semangat sekali.” Yoonri memberi komentar.

Molla.” Jawab Haejin singkat lalu berjalan menjauh. Meninggalkan Yoonri bingung menghadapi sikapnya.

-=.=-

Sudah delapan hari Aiden tidak mengirimi Haejin sms. Haejin merasa khawatir. Dia sering mengirim sms pada Aiden. Haejin juga pernah memberanikan diri untuk meneleponnya, tapi nomor Aiden tidak aktif.

“Sebenarnya dia kemana?” Tanya Haejin bingung pada dirinya sendiri.

Tak lama ponselnya berdering. Dengan malas diambilnya ponsel miliknya. Di lihat sebuah pesan dari nomor yang tidak ia kenal. Haejin membuka pesan itu.

From         : 010-378XXXX

Anyeong!! Maaf tidak menghubungimu selama ini. Aku sedang sibuk. Bagaimana kabarmu, Haejin-ah?

Haejin mengernyitkan dahinya. Dia tidak tahu siapa yang mengiriminya. Tapi tak lama, Haejin berpikir bahwa dia adalah Aiden.

From         : Haejin.

Apa ini Aiden? Kalau iya, kabarku baik sekali. Bagaimana denganmu?

Haejin menekan tombol kirim di layar ponselnya. Dia merasa senang karena Aiden mengiriminya sms. Tak berapa lama, sebuh pesan baru masuk di ponselnya lagi.

From         : 010-378XXXX

Ne. Aku Aiden. Kabarku baik sekali. Sudah lama tidak bertemu, ya? Mau bertemu denganku besok?

Haejin langsung berteriak histeris karena senang. Dia segera membalas sms itu.

From         : Haejin.

Keuromyo. Kita bertemu dimana?

Haejin memandangi layar ponselnya. Tak sabar menunggu balasan dari Aiden. Ponselnya berdering, dia langsung membukanya. Betapa kesalnya dia, melihat pesan masuk yang dia dapat adalah dari Yoonri. Tak dihiraukan pesan dari Yoonri. Dan terus menunggu pesan balasan dari Aiden.

Ponsel Haejin berdering. Haejin melihat ponselnya. Aiden menelepon. Dia langsung mengangkatnya.

Yoboseo.” Ujar Haejin dengan menahan senyum bahagia.

Yoboseo, Haejin-ah. Besok kau mau bertemu?” Tawar Aiden langsung.

“Ne. Eodiyeyo? Eonje?”

“Bagaimana kalau besok siang di restoran kecil di sebelah toko buku waktu itu? Otthae?”

“Mm… Aku hanya bisa sekitar jam empat hingga setengah enam sore.”

Arraseo. Bisa jam setengah lima, kan?”

“O.”

Keurom, kita bertemu jam setengah lima besok di restoran kecil itu. Setuju?”

“Ok.”

Haejin mengakhiri teleponnya dengan Aiden. Dia berteriak histeris. Tapi kemudian Haejin sadar bila ‘aktifitas’-nya itu menganggu para tetangganya. Haejin mulai membayangkan apa saja yang akan ia lakukan bersama Aiden nanti

-=.=-

“Maaf aku terlambat. Sudah lama menunggu?” Tanya Aiden.

“Lumayan. Silahkan duduk.” Haejin membalas.

Gomapta.”

“Kau membawa apa saja itu?” Tanya Haejin heran dengan tas Aiden yang sangat besar.

“Um.. Hanya beberapa barang bekas.” Jelasnya singkat.

“Oh. Kau mau pesan apa?”

“Sama sepertimu saja.”

Chankaman.” Haejin memesankan makanannya. “Tumben, ya, kita bertemu dengan janji. Biasanya tidak pernah. Hanya kebetulan saja.”

Ne.” Ujar Aiden dengan sedikit senyuman.

“Untuk apa kau meminta bertemu seperti ini?” Tanya Haejin penasaran.

Aiden kaget. “Kau bertanya seperti itu seperti kau tidak suka dengan pertemuan ini.”

Animida. Bukan maksudku bertanya karena aku tidak suka. Aku hanya heran saja. Untuk pertama kalinya kau mengajaku bertemu. Padahal waktu itu, kau menolak untuk memberi nomor ponselmu. Itu saja.” Jelas Haejin.

“Oh… Aku hanya ingin meminta maaf karena tidak membalas smsmu selama beberapa hari ini.”

“Oh.”

“Donghae-ah!!” Panggil seorang gadis.

Aiden terpaku diam membeku. Haejin yang melihatnya jadi khawatir. “Aiden, gwaenchanayo?”

“Aiden?” Tanya gadis itu pada Haejin.

“Mm… Dia adalah Aiden.” Jawab Haejin sambil mengangguk yakin.

Gadis itu menatap Aiden tak percaya. Gadis itu mengambil tangan kiri Aiden dan mengamati pergelangan tangan itu. Ada sebuah tato kecil di situ. “Apa yang kau lakukan disini?” Tanya gadis itu marah.

Neo nuguya? Kenapa kau datang dan marah-marah?” Tanya Haejin setelah berdiri menghadapi gadis itu.

Aiden menarik tangan Haejin agar duduk kembali di kursinya. “Sunye-ah, kumohon tenanglah!”

“Kau mengenal gadis ini?” Tanya Haejin.

“Sunye imnida.” Ujar gadis itu lalu duduk berhadap-hadapan dengan Aiden.

 “Untuk apa kau di sini? Bukankah kau ada di Luxemburg?” Tanya Aiden.

“Kau lupa kalau aku adalah anggota terbaik?” katanya sambil menunjukan tato yang sama dengan milik Aiden. Yang membuat berbeda adalah jumlah bintangnya. Milik Sunye berbintang lima. Semantara Aiden hanya berbintang empat. “Tugasku sudah selesai. Dengan cepat dan bersih.”

Arraseo.”

“Lalu siapa nona manis ini, Donghae-ah?” Tanya Sunye sambil menatap Haejin sinis. “Apa hubunganmu dengannya? Apa dia apel diatas kepala?”

“Donghae? Apa maksudnya?” Tanya Haejin tak mengerti.

“Hoho. Jadi kau tak tahu kalau nama namja yang kau panggil Aiden adalah Lee Donghae? Aku juga adalah mantan kekasihnya.”

Haejin menatap Aiden tak percaya. Aiden hanya menundukan kepalanya dalam-dalam. Haejin menghela nafas lalu berjalan pergi.

Aiden berdiri dan hendak menyusul Haejin. Sunye ikut berdiri dan mencegah Aiden. “Kau tahu, akan sangat berbahaya kalau kau berhubungan dengan orang lain. Ini bisa membahayakanmu dan juga membahayakan gadis itu.”

Aiden menatap Sunye tajam. “Aku tak peduli!” Ujarnya dingin lalu mengejar Haejin.

“Haejin-ah! Chankaman!”

Haejin berhenti dan menoleh menatap Aiden. Matanya merah dan penuh airmata. “Mau apa lagi? Kau mau berbohong soal apa lagi, Aiden? Atau aku perlu memanggilmu dengan Donghae?”

Aiden berjalan mendekati Haejin dan langsung memeluk Haejin. “Mianhae. Bukan maksudku untuk membohongimu!”

Haejin meronta ingin melepas pelukannya dari dia. Tapi Aiden tetap memeluk Haejin dengan erat. “Mianhae.”

“Kau mau apa lagi? Tak cukup kau membohongiku? Kau datang seenaknya dalam hidupku. Kau membuat aku mencintaimu. Dan set…”

“Kau mencintaiku?” potong Aiden tak percaya.

“Aku mencintaimu dalam kebohongan.” Ujar Haejin sambil mengangis dan memukuli punggung Aiden.

“Kau benar-benar mencintaiku?” tanya Aiden lagi sambil menitikan airmata.

“Aku mencitaimu dasar kau laki-laki kejam. Neo jinja nappeun namjaiya.” Ujar Haejin sambil tetap memukuli punggung Aiden.

Nado saranghaeyo, Lee Haejin.” Ujar Aiden. Haejin langsung diam membeku. Aiden menggerakan kepalanya agar bisa melihat wajah Haejin.

“Aku mencintaimu. Dan itu bukan kebohongan, Haejin-ah. Aku sangat mencintaimu.” Dia langsung mencium Haejin lembut. Awalnya, Haejin hanya diam saja. Namun, akhirnya Haejin membalas ciuman Aiden.

Di belakang mereka, Sunye melihat adegan ciuman itu. Sunye yang masih mencintai Aiden menjadi cemburu melihat Aiden berciuman dengan gadis lain.

“Lee Haejin? Kita lihat seberapa tangguh gadis itu. Apa kau akan tetap bertahan dengan apa yang akan aku lakukan padamu nanti?”

-=.=-

Mobil Donghae berhenti di depan gedung apartemen Haejin. Mereka saling diam. “Haejin-ah, kalau waktunya tepat, aku akan memberitahumu semuanya.”

Arraseo.”

“Haejin-ah…”

Ne?”

“Kita ini berpacaran tidak?” tanya Donghae polos.

Molla.” Jawab Haejin singkat lalu menghela nafas.

Nado molla.” Timpal Donghae. “Kita mengungkapkan perasaan masing-masing dan kita berciuman. Keurom, kita ini memiliki hubungan apa?”

Mollayo. Aku saja tak tahu harus memanggilmu Donghae atau Aiden.”

“Panggil saja Donghae. Aiden nama yang tidak resmi.”

Haejin terkekeh mendengarnya. “Terserah kau menyebut hubungan kita dengan apa. Aku sendiri tak tahu.”

Donghae terdiam. Lalu mencium kening Haejin. “Tak penting sebutan untuk hubungan kita. Yang terpenting kau dan aku adalah orang yang ditakdirkan untuk bersama karena saling mencintai. Arraseo?”

Arra!!”

“Sudah. Sana masuk!!”

“Mm… Aku pulang dulu!”

Jaljayo…”

Neodo. Anyeong!”

-=.=-

Haejin duduk di kantin sendiri. Dia melihat Yoonri berjalan mendekatinya dengan merangkul tangan kiri Eunhyuk. Tapi Yoonri terlihat sesekali mencubit perut Eunhyuk karena kesal. Eunhyuk yang sedang membawa nampan pesanan terlihat menjaga agar nampan itu tidak jatuh dengan susah payah. Haejin yang melihatnya hanya tersenyum kecil.

“Kalian kenapa?” Tanya Haejin setelah mereka berdua duduk dihadapannya.

“Kenapa apanya?” Tanya Yoonri tak mengerti sambil memasukan sesendok eskrim ke dalam mulutnya. Lalu menyuapi sesendok untuk Eunhyuk.

Dwaesso!” Ujar Haejin jengah melihat Yoonri menyuapi dak gang jung untuk Eunhyuk, sementara Eunhyuk menyuapi eskrim vanilla pada Yoonri.

Haejin mengambil ponsel dan memainkan angry birds. Tak lama dia merasakan pipinya dicium seseorang. Haejin memegangi pipinya. Dia melihat Yoonri dan Eunhyuk menatapnya tak percaya. Dia menoleh ke samping.

“Donghae-ah?!”

“Anyeong!” Donghae menyapa Haejin.

“Haejin-ah, nuguji?” Tanya Yoonri berbisik.

“Ah… Chosohamnida. Lee Donghae imnida.” Donghae memperkenalkan diri.

“Kalian berpacaran?” Tanya Yoonri bingung.

“Bisa dibilang begitu.” Ujar Haejin.

Keurom, Aiden otthe? Bukankah kau menyukai Aiden?”

Haejin dan Donghae saling pandang lalu mereka tertawa. Sementara Yoonri dan Eunhyuk menatap mereka bingung.

Mwohaeyo? Apa yang lucu? Kenapa kalian tertawa?” Tanya Yoonri bingung.

“Aiden itu nama samaran. Nama aslinya adalah Lee Donghae.”

“Bukankah namja ini Lee Donghae?” Tanya Eunhyuk sambil menunjuk Donghae dengan bingung.

Haejin tersenyum. “Dia itu Lee Donghae sekaligus Aiden.”

“Oh.” Ujar Yoonri dan Eunhyuk singkat.

Ponsel Eunhyuk berdering. Dia segera membuka ponselnya. Sebuah pesan masuk baru dia dapatkan. Eunhyuk segera membacanya dan membalas pesan itu dengan cepat.

“Kimmy-ya, Dongwook Hyung menyuruh kita untuk datang. Katanya ada masalah dengan rekaman kita kemarin.”

“Jinja? Masalah apa?”

Mollayo. Dongwook Hyung hanya menyuruh datang karena ada masalah dengan videonya. Lebih baik kita bergegas. Kajja!” Eunhyuk berdiri memberikan uluran tangan pada Yoonri. Dan Yoonri mengambil uluran tangan Eunhyuk. Mereka berlari kecil sambil bergandengan tangan.

“Mereka berpacaran?”

“Mm…”  Haejin bergumam lalu mengangguk. “Kau mau?” Tanya Haejin sambil menunjukan daging dengan sumpit. Donghae mengangguk lalu membuka mulutnya. Haejin memasukan daging itu ke dalam mulut Donghae.

“Makanan disini enak juga. Apa dukbboki disini enak?”

“Tentu saja. Walau ini hanya kantin, tapi rasanya setara dengan restoran.” Ujar Haejin melebih-lebihkan.

“Arraseo. Ayo, sekarang gantian aku yang menyuapimu.” Donghae mengambil sumpit itu dan menyuapi daging untuk Haejin.

“Haejin-ah!” Panggil seseorang.

Haejin dan Donghae menoleh ke arah orang yang memanggil Haejin itu. Melihat siapa yang memanggil, wajah Haejin berubah kesal.

“Kau bersama siapa?” Tanya dia.

“Apa urusanmu?” Tanya Haejin sinis. Haejin berdiri lalu menggandeng Donghae untuk berjalan menjauh.

“YA!! Lee Haejin!” Pria itu menarik lengan Haejin dengan kasar hingga Haejin merintih kesakitan.

Donghae menarik pria itu dengan kasar untuk menjauh. “YA!! Jangan main kasar!”

“Kau siapa, huh?”

“Aku kekasihnya!” Tegas Donghae.

“Jadi kau berselingkuh?” Tanya pria itu. Donghae mengernyitkan dahinya dan menatap Haejin menuntut penjelasan.

“Minho-ya, hubungan kita sudah berakhir dua bulan yang lalu!”

“Mwo? Tapi aku sudah memintamu untuk kembali menjadi kekasihku!!”

“Dan aku menolakmu! Mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi! Aku membencimu!” Ujar Haejin lalu menarik Donghae menjauh.

“Tadi itu mantan kekasihmu yang kau ceritakan padamu dulu?” Tanya Donghae

Haejin mengangguk. “Kuharap dia akan berhenti menggangguku.”

“Dia akan berhenti. Tenang saja.” Ujarnya mantap lalu merangkul pundak Haejin.

-=.=-

Minho masih ada di dalam kampus. Saat dia berjalan menuju tempat parkir, dia tidak menemukan mobilnya. Dia berkeliling kampus mencari mobilnya. Dan dia menemukan mobilnya ada di dekat gudang kampus.

Minho membuka pintu mobilnya. Bau amis khas darah langsung tercium dari dalam mobilnya. Minho menyalakan lampu. Dia terkejut melihat jok mobilnya dipenuhi bercak darah. Ada sebuah mayat di jok belakang mobilnya.

Minho beralih membuka pintu belakang. Di lihatnya wajah Gikwang sangat pucat. Dia sedikit senang melihat Gikwang terbujur tak berdaya. Memang Gikwang adalah musuh terbesarnya saat ini.

Dia mengambil sebilah pisau yang masih tertancap di perutnya. Dia menusukan pisau itu lagi di leher Gikwang. Minho tertawa puas.

“Jatuhkan pisau itu! Dan taruh tanganmu di belakang kepala!”

Minho tercengang. Dia melepas pisau itu. Dia keluar dari mobil. Dia memutar badannya perlahan. Dan pemandangan segeromobolan polisi menodongkan pistol ke arahnya.

Dua orang polisi maju dan memborgol Minho. “Kau ditahan karena masalah pembunuhan atas mahasiswa bernama Lee Gikwang.” Kemudian Minho diseret masuk ke dalam mobil polisi

Di belakang itu semua, seorang pria bertubuh kekar bersembunyi di balik kegelapan. Dia mengeluarkan smirk melihat Minho diborgol dan dibawa pergi menggunakan mobil polisi.

-=.=-

“Haejin-ah, kau sudah tahu?” Tanya Yoonri setelah melihat Haejin duduk di hadapannya di dalam perpustakaan.

“Tahu tentang apa?”

“Minho.”

“Sudahlah. Aku tak ingin membicarakannya lagi.” Ujarnya jengah.

“Aniya. Ini beda. Kau tak akan percaya.”

“Minho wae?”

“Dia di bawa ke kantor polisi karena membunuh Gikwang.”

“Dia membunuh Lee Gikwang?!” Pekik Haejin tak percaya. Yoonri mengangguk. “Tak kusangka dia tega membunuh Gikwang.”

“Nado. Tapi melihat hubungannya dengan Gikwang kurasa hal itu bisa saja terjadi.”

“Ya, setidaknya tidak akan ada yang mengangguku lagi. Oh ya, tumben kau tidak bersama Eunhyuk Oppa. Dia kemana?”

“Bertapa mencari koreo baru.”

-=.=-

Sudah hampir setahun Haejin dan Donghae menjadi pasangan kekasih. Mereka juga sering melakukan double date bersama Yoonri dan Eunhyuk. Seperti yang mereka lakukan saat ini. Melakukan double date disebuah restoran kecil di mall seperti yang biasa mereka lakukan.

“Setelah ini, apa acara kita?” Tanya Haejin atusias.

“Menonton dance battle mingguan!” Seru Yoonri dan Eunhyuk bersamaan.

“Kalian saja! Setiap kita bertemu pasti makan disini dilanjutkan  menonton pertunjukan dance. Kalian tidak bosan?” Tanya Haejin jengah. Berbanding terbalik dengan pertanyaan antusiasnya yang ia lontarkan tadi.

Yoonri dan Eunhyuk kompak menggelengkan kepala mereka. “Ayolah. Aku dan Eunhyuk Oppa sudah sering melakukannya.”

“Shirende. Aku sudah bosan.”

“Donghae-ah kau mau ikut tidak? Hari ini temanya hip hop dan ada pertunjukan rapp.” Tanya Eunhyuk.

“Lebih baik pulang dan tidur.”

“Ya sudah! Oppa, ayo kita ke sana saja sendiri!” Pinta Yoonri manja.

Selesai Eunhyuk membayar, Yoonri dan Eunhyuk pergi berdua. Kini tinggal Haejin dan Donghae yang masih ada di restoran itu.

“Lalu, kita mau apa?” Tanya Haejin bingung. Donghae hanya mengangkat bahunya. Tak lama ponsel Donghae bordering. Donghae langsung mengangkat telepon itu.

“Jin-ah, aku harus pergi sekarang.”

Neo eoddiga?”

Sunbaenim meneleponku untuk segera datang menemuinya.”

Arraseo! Jalga!”

“O. Kau ikut dengan Yoonri saja.”

Aniya. Kau mau aku jadi nyamuk? Lagi pula bosan juga dengan melihat penampilan tari. Aku pulang saja.” Jelas Haejin.

Arraseo. Aku antar kau pulang dulu. Ayo!”

-=.=-

Sudah satu minggu berlalu semenjak hari itu, Donghae tak lagi mengabari Haejin. Donghae bak menghilang di telan bumi.

“Haejin-ah, jangan sedih lagi.” Ujar Yoonri mencoba menenangkannya.

“Dia tidak berniat meninggalkanku, kan, Yoonri-ah?” Tanya Haejin pasrah.

Yoonri beranjak memeluk Haejin. “Dia sangat mencintaimu. Dia tidak mungkin meninggalkanmu. Mungkin dia ada urusan penting.”

“Kimmy, kita sudah di tunggu Lee Saem di studio.” Ujar Eunhyuk yang tiba-tiba saja datang.

“Ya sudah. Haejin-ah, kau jangan sedih lagi!” Ujar Yoonri. Haejin mengangguk. Yoonri dan Eunhyuk langsung pergi ke studio, tampat mereka berlatih menyanyi.

Haejin melangkahkan kakinya menuju halte bus di dekat kampusnya. Saat menunggu bus, dia mencoba mengirim Donghae sms lagi. Tapi Haejin juga tetap tidak mendapat balasan.

Haejin hanya menghela nafas lalu naik ke dalam bus. Setelah berhenti di halte berikutnya, Haejin turun. Dia menunggu bus yang kedua yang akan mengantar ke apartemennya.

Tapi saat dia melihat di seberang, dia melihat Donghae sedang berjalan dengan tergesa-gesa. Haejin hendak menyeberang, tapi lampu penyebrangan belum hijau.

Tak lama, sebuah mobil berhenti di samping Donghae. Seorang gadis keluar dari mobil itu, yang Haejin kenali sebagai Sunye.

Dapat dilihat, Sunye memegang lengan Donghae. Haejin mendengus kesal karena cemburu. Tapi setelah melihat Donghae menepis tangan Sunye, Haejin tersenyum kecil.

Haejin melihat mereka sedikit berargumen. Dan akhirnya Donghae masuk  ke dalam mobil Sunye. Dan sedetik kemudian, mobil Sunye melaju di tengah jalanan Seoul.

Haejin memanggil sebuah taksi. Dan segera masuk ke dalam taksi itu. “Tolong ikuti mobil sedan merah di depan.”

-=.=-

“Donghae-ah!” Panggil Sunye.

Donghae merasa jengah dan meninggalkan Sunye. Tapi Sunye menarik lengan Donghae, memaksanya untuk tetap tinggal.

“Aku ingin bicara denganmu.” Pintanya.

“Dan aku tidak. Permisi.” Timpal Donghae ketus.

“Dengarkan aku dulu!” Sunye masih mencoba membujuk Donghae.

“Kalau kau tidak keberatan, aku menolaknya. Aku sedang sibuk.” Ujar Donghae lalu melangkah menjauh.

“Ini tentang Haejin.”

Donghae langsung berhenti dan menoleh kembali menatap Sunye. “Apa yang ingin kau katakan? Kenapa ada sangkut pautnya dengan Haejin?” Tanya Donghae dingin.

“Aku akan mengatakannya di tempat bekas basecamp kita.” Jawab Sunye.

Sunye dan Donghae masuk kedalam mobil. Sunye langsung menjalankan mobilnya menuju basecamp. Basecamp itu cukup jauh dan terletak di daerah yang sepi. Sunye memakirkan mobilnya di depan lapangan kosong dan melanjutkan dengan jalan kaki.

-=.=-

Sementara di belakang mereka, Haejin masih mengikuti mereka. Haejin mengikuti mereka hingga tiba di sebuah bangunan bekas terbakar. “Untuk apa mereka kesini?”

Haejin memasuki gedung itu. Saat mereka menaiki tangga, Haejin melepas sepatunya supaya tidak menimbulkan suara.

Setelah di lantai lima, Haejin bersembunyi untuk mencuri dengar pembicaraan antara Donghae dan Sunye.

-=.=-

“Cepat katakan apa yang ingin kau katakan!” Perintah Donghae.

“Kenapa kau menjalin hubungan dengan orang lain?” Tanya Sunye dengan nada marah.

“Tersarah padaku! Apa hakmu melarangku?” Ketusnya.

“Kau tahu, kan, bila ketua tidak mengijinkan kita menjalin hubungan dengan orang lain?”

“Apa pedulimu? Itu urusanku!”

“Kau tak memikirkan perasaanya kalau dia tahu, kau adalah anggota pembunuh bayaran?” Tanya Sunye dingin.

Donghae terdiam.

“Lalu apa alasan kau membunuh Lee Gikwang dan membuat situasi seolah-olah Minho yang sudah membunuh Lee Gikwang juga karena Minho yang terlalu sering mengganggu Haejin?”

“Sekali tepuk dua nyamuk mati di tangan. Lee Gikwang mati seperti yang ketua perintahkan dan Minho bisa berhenti menganggu Haejin.”

“Tapi bukan kau yang diperintahkan oleh Ketua untuk membunuh Gikwang. Tapi sekarang itu tidak penting. Apa kau masih ingat pria saingan ayahmu yang kau bunuh tahun lalu?”

Keuromyo. Wae?”

“Kau membunuhnya untuk mendapat pengakuan dari ayahmu karena berhasil menyingkirkan saingannya. Tapi apa kau mendapat pengakuan dari ayahmu?”

Donghae terdiam lagi tidak menjawab pertanyaan Sunye.

Aniyo? Kasihan sekali kau.” Ucapnya dengan nada meremehkan.

“Itu semua tak ada hubungannya denganmu!” Sinis Donghae.

“Memang tidak. Tapi ada hubungannya dengan Haejin.”

Mwo?”

Neo. Lebih baik kau tak membunuh saingan ayahmu itu. Dan kau seharusnya memeriksa keluarga sasaranmu juga.”

Wae?”

“Karena kau sudah membuat Haejin sedih.”

Wae? Apa hubungannya?”

“Karena membunuh pria itu berarti kau membunuh ayah Haejin. Pria yang kau bunuh bersama isterinya itu, dia adalah ayah Haejin!!”

MWO??” Donghae shock.

PRAK…

Donghae dan Sunye sama-sama menoleh. Betapa terkejutnya Donghae melihat Haejin berdiri dengan wajah shock.

“Haejin-ah?”

“Benarkah itu? Benarkah kau yang membunuh ayahku?”

“Biarkan aku jelaskan dulu…” Donghae melangkahkan kakinya mendekat dan memegang lengan Haejin.

Manchijima!! Menjauh dariku!” Ujar Haejin dingin. Donghae mundur menjauhi Haejin. “Malhaeyo! Apa kau yang membunuh ayahku?”

“Aku memang membunuh Tuan Lee, tapi aku tak tahu…” Ucapan Donghae  terhenti karena Haejin sudah beranjak menjauh. “Haejin-ah!!” Donghae hendak mengejar Haejin tapi dicegah oleh Sunye.

“Kenapa kau tidak membiarkan dia pergi? Apa dia mau menerimamu lagi setelah dia tahu semuanya?”

“Aku tak peduli!”

“Kenapa kau lebih memilihnya dari pada aku?”

“Dengar! Kita tak pernah memiliki hubungan apapun. Kau saja yang menganggap kita ada hubungan. Lebih baik kau urusi Yongjun yang sudah mengejarmu sejak lama!”

“Aku tak menginginkan Yongjun. Yang kuinginkan hanyalah kau!”

Nado. Aku tak menginginkanmu. Yang aku inginkan adalah Haejin!” Donghae menepis kasar lengan Sunye. Lalu beranjak menuruni tangga.

BRUK…

Donghae limbung lalu terkapar tak berdaya di atas lantai kayu agak lapuk. Sunye memukul tengkuk Donghae dengan balok kayu. Dia melihat kearah luar. “Haejin-ah, tak akan membiarkanmu lepas begitu saja!”

-=.=-

Haejin menghentikan langkahnya dalam menuruni tangga. Dia menghapus airmatanya. Dia menoleh keatas. Sedikit berharap bahwa Donghae akan menyusulnya. Tapi segera dia menepis pikirannya. “Untuk apa memikirkannya lagi?”

Haejin meneruskan langkahnya menuruni tangga. Di lantai dua, dia mendengar suara gadis yang sedang berdeham. Dia menoleh. Dia kaget sekaligus ketakutan melihat Sunye yang sudah berdiri bersandar di dinding dengan angkuh sambil melipat kedua tangannya didepan dada.

Haejin hendak meneruskan langkahnya tapi Sunye mencegahnya. “Kau mau kemana? Kemarilah!”

Haejin berjalan dan berhenti di tengah ruangan itu. Sunye maju selangkah. Mengeluarkan sebuah senjata pistol jenis dessert eagle dan memainkannya dihadapan Haejin. “Kau pikir aku akan melepasmu begitu saja membawa rahasia kami?”

“Aku berjanji tidak akan mengatakannya pada siapapun.”

“Aku percaya itu. Tapi…” Ucapnya menggantung.

“Tapi apa?” Kata Haejin ketakutan sambil mengawasi gerak-gerik Sunye.

“Kau sudah mengambil Donghae dariku!” Balas Sunye geram.

“Kalau kau mau mengambilnya lagi, ambil saja!”

“Tapi dia tidak menginganku!” kata Sunye setengah berteriak. Dia berjalan mengitari Haejin dan memainkan rambut Haejin. “Yang dia ingingkan adalah kau! Aku tak tahu dengan jalan pikirannya. Kenapa dia lebih memilihmu dari pada aku?”

“Tapi kalau kau berusaha, kau akan berhasil mendapatkannya lagi.” Ujar Haejin sedikit tidak rela.

 Sunye berhenti dan menatap Haejin marah. “Sudah lebih dari lima tahun aku berusaha! Tapi tak ada hasilnya. Di tambah kau datang. Aku semakin susah!”

“Kalau begitu maafkan aku!” Kata Haejin takut.

“Maaf tak akan membawa Donghae kepadaku!”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Kau tahu, agar singa melepas mangsanya adalah mangsa itu harus hilang.” Ujar Sunye sambil berjalan memunggungi Haejin.

“Lalu kau menyuruhku untuk pergi dari hidup Donghae?”

Sunye menoleh menatap Haejin lalu menggelengkan kepalanya. Membuat rambut hitamnya bergerak sama angkuhnya. “Tentu saja tidak. Kalau kau pergi, kau bisa kembali lagi. Aku tak mau itu.”

Keurom otthe?”

“Kau harus hilang.”

Mwo?”

“Hilang. Lenyap. Pergi dari muka bumi ini.” Ujar Sunye enteng.

“Apa maksudmu? Apa aku harus mati?”

“Kau memang gadis pintar.”

Haejin menatap Sunye tak percaya juga ketakutan.

“Kau tak perlu takut. Aku akan melakukannya dengan cepat. Jadi kau tak akan merasa sakit. Aku adalah agen terbaik, kau ingat itu?”

“Apa waktu kau Luxemburg itu juga untuk membunuh?”

“Tentu saja. Memang apa lagi yang aku lakukan disana?

“Berlibur mungkin. Mencari hiburan di hari yang sibuk.” Jawab Haejin sekenanya.

“Benar juga. Membunuh merupakan hiburan tersendiri untukku. Sudahlah. Apa ada kata-kata terakhir yang ingin kau katakan? Dan pastikan kau tidak menyesal.”

Haejin mengangguk yakin.

Ppali malhaeyo!”

“Donghae tak akan pernah mencintaimu!”

Senyum Sunye langsung menghilang. Dia menodongkan pistol ke arah Haejin. Haejin sudah pasrah dan memejamkan matanya erat. “Tuhan tolong selamatkan aku. Donghae-ah, saranghaeyo yongwonhi.”

“Selamat tinggal, Haejin-sshi!”

DOR…

Sedetik kemudian, seorang gadis dengan sebuah peluru tertancap di bawah tulang selangka sebelah kanan terkapar tak berdaya di lantai. Dan keluar banyak darah dari lubang yang diakibatkan peluru itu

Haejin membuka matanya. Badannya bergetar hebat. Tapi saat melihat tubuh Sunye terkapar tidak berdaya dan banyak darah keluar dari dadanya, badannya langsung lemas. Hingga ia sendiri tidak sanggup menopang badannya sendiri. Badannya sudah mulai limbung, tapi sedektik kemudian, dia merasa ada tangan kekar yang menopang tubuhnya agar tidak menghantam lantai.

“Gwaenchana?” Tanya suara lembut yang berhasil membuat perasaan Haejin menjadi lebih tenang.

Haejin membalikan tubuhnya ke belakang. Dia langsung memeluk tubuh Donghae dan menangis dalam dekapannya.

“Gwaenchana?” tanya Donghae mengulangi pertanyaannya sambil mengusap punggung Haejin lembut. Haejin mengangguk sambil masih terisak.

Tapi tiba-tiba Donghae meraih lengan Haejin dan menariknya agar berdiri disampingnya. Dan sedetik kemudian, terdengar suara mengerikan itu lagi.

DOR!!

Donghae menembak Sunye tepat di jantungnya, karena Sunye belum mati dan berusaha menembak Haejin. Tapi tak terelakan, sebuah peluru dari senjata desser eagle milik Sunye melukai betisnya.

Donghae mengangkat celananya keatas lalu memeriksa lukanya. Dan dengan hati-hati, Donghae menarik peluru yang menusuk betisnya. Sementara Haejin hanya bisa terdiam membeku melihat apa yang kini ia saksikan.

Setelah membalut lukanya dengan sapu tangannya dan merapikan celananya, dia mendekai Haejin dengan langkah sedikit pincang. “Kau pergilah!”

Haejin menatap Donghae dengan pandangan tidak percaya.

“Pergilah! Aku sudah menelepon Yongjun. Dia sangat mencintai Sunye. Dan bila dia melihat Sunye seperti ini, kau tidak akan selamat.”

“Lalu bagaimana denganmu?” Tanya Haejin khawatir.

“Aku bisa menghadapi Yongjun sendiri. Dia tidak pernah menang melawanku. Tenanglah.” Jawabnya gampang. “Pergilah. Sebelum Yongjun melihatmu! Bawa ini juga. Kalau kau sudah sampai bawah buang saja. Lalu terus pergi dan jangan kembali kesini apapun yang terjadi.”

Haejin mengangguk. Dan dengan sedikit takut, dia menerima pistol yang diberikan Donghae. Setelah mengambil tasnya yang sempat terjatuh dia berjalan mendekati tangga.

“Dan Haejin-ah!” Donghae mencegah Haejin yang baru saja akan melangkahkan kakinya. “Aku tak tahu apa kita akan bertemu lagi tau tidak. Tapi sebelum kau pergi aku hanya ingin mengatakan bila aku sangat mencintaimu. Melebihi apapun di dunia ini.” Ujarnya tulus. Lalu langsung membalikan badannya. Air matanya mulai tergenang karena harus menghadapi kenyataan bila dia harus berpisah dengan Haejin.

Haejin menatap punggung Donghae. Nado saranghae. Jawabnya dalam hati. Haejin melangkahkan kakinya mendekati tangga. Tapi langkahnya terhenti saat melihat seorang pria kurus agak berotot dan bertinggi sedang berdiri dihadapannya. Karena terlalu terkejut, dia menjatuhkan tasnya.

Donghae menoleh dan cukup terkejut mendapati Yongjun yang berdiri di depan tangga dengan tangan yang mengenggam keras menahan emosi. “Yongjun-ah?” Donghae beralih menatap Haejin yang masih diam di depan tangga. “Haejin-ah, lari!”

Haejin menoleh menatap Donghae. “Mwo?”

“LARI!!” Seruanya. Dan tanpa berpikir lagi, Haejin menaiki tangga dengan tergesa. Hanya dengan menaiki tangga dia bisa lolos dari Yongjun.

“Kau apakan Sunyeku?!” Tanya Yongjun geram.

“Yongjun-ah, dengarkan aku dulu.” Ujar Donghae lalu mendekati Yongjun.

“KAU APAKAN SUNYE??!”

“Dia berusaha membunuhku dan Haejin. Aku tidak punya pilihan lain.”

Tapi Yongjun tidak menggubris jawaban Donghae dan langsung berlari menaiki tangga.

“HAJIMA!! YONGJUN-AH!!” Donghae ikut berlari menaiki tangga. Menghiraukan seluruh rasa sakit di bekas lukanya, Donghae terus memaksakan dirinya untuk berlari menaiki tangga itu. Bagaimanapun juga, ini menyangkut keselamatan Haejin. Keselamat hidup dan matinya.

-=.=-

Haejin sudah tiba di lantai delapan. Atap gedung tua itu. Dia menoleh ke kanan dan kiri. Tapi tidak ada jalan yang bisa membawanya pergi dari gedung itu. Melompatpun juga tidak bisa. Dia ada di lantai teratas.

“HAEJIN!!” Hanya selang beberapa detik, Yongjun sudah berhasil menyusul Haejin. Dia tersenyeum kejam. “Kau mau kemana? Sudah tidak ada jalan untuk kabur.” Ujarnya lalu berjalan mendekati Haejin.

“Jangan mendekat!” Ujar Haejin lalu menodongkan pistol yang Donghae berikan.

Yongjun berpura-pura memasang wajah terkejut. Lalu dia terkekeh melihat Haejin yang terlihat kurang lihai dalam memengang pistol. “Kau tahu itu bukan mainan, bukan? Jadi taruh saja.” Ucapnya sambil terus berjalan mendekati Haejin.

Haejin melangkah mundur perlahan. “Jangan men…”

DOR…

Haejin tidak sengaja menekan pelatuk pistol itu. Karena tekanannya yang kuat, Haejin terdorong kebelakang dan melempar pitol itu.

“HAHA… lebih baik kau menyerah saja.” Ucapnya meremehkan. Yongjun berjalan mendekati Haejin. Tapi Haejin sudah berdiri di tepi atap itu.

“HAEJIN!!” Seru Donghae yang baru saja tiba dan langsung berlari mendekati Haejin.

“Mendekatlah!” Yongjun mengulurkan tangannya dan mendekati Haejin. Tapi karena takut, Haejin mundur dan tubuhnya oleng karena berada di tepi gedung. Dan tepat saat tangan Donghae meraih tangan Haejin, Haejin jatuh dari gedung itu.

“Haejin-ah, bertahanlah!” Ujar Donghae di atas gedung dengan Haejin yang melayang dengan bergantung pada tangan Donghae.

Tapi tidak terlalu lama badan Donghae tidak terlalu kuat menahan Haejin, hingga akhirnya Haejin dan Donghae terjatuh dari gedung.

Donghae memeluk Haejin lalu memutar tubuhnya hingga dia yang berada dibawah Haejin. Menjadikan dirinya sendiri sebagai pelindung Haejin bila badan mereka akan menghantam tanah.

BUG!!

Badan Donghae menghantam tumpukan futon bekas di atas tanah. Walau jatuh diatas futon, tapi tetap saja jatuh dari ketinggian 35 meter tetap saja dia merasakan sakit.

Haejin membuka matanya dan mendongakan kepalanya. Dia melihat wajah Donghae yangs sedang menahan sakit. “Oppa?!” Haejin langsung beranjak dari atas tubuh Donghae yang melindunginya. “Gwaenchana?”

“O.. Gwaenchana.” Ujarnya sedikit merintih. “Sudah, kau pergilah. Dari pada nanti Yongjun menangkapmu. Aku akan mengurusnya.”

Haejin masih diam ditempatnya. Dia memandang Donghae dengan perasaan campur aduk. “Tapi…”

“Sudah. Selamatkan dirimu sendiri dulu.” Donghae mendorong Haejin dengan pelan karena tidak memiliki tenaga sisa. “Aku akan baik-baik saja.”

Dengan terpaksa Haejin berjalan meninggalkan Donghae yang masih terbaring lemah di atas tumpukan futon bekas itu.

Sebelum benar-benar pergi dari area gedung itu, dia menoleh memandang Donghae yang berbaring. Air matanya jatuh begitu saja. Tapi saat melihat Yongjun, dia langsung berlari secepat mungkin.

Dan saat merasa sudah jauh, dia mulai melambatkan kecepatannya. Dia berjalan lunglai menyusuri jalan besar nan sepi itu.

Saat tiba di tengah kota, langit cerah mulai tertutupi oleh awan mendung. Tak lama hujan mulai turun membasahi Seoul. Dan dalam hujan, Haejin masih saja berjalan sambil menangis. Berbanding terbalik dengan keadaan orang-orang yang berjalan cepat atau bahkan berlarian menghindari hujan. Bahkan tidak sedikit orang yang mengatainya gila.

-=.=-

Haejin berjalan keluar dari lift dengan gontai. Dia menekan kombinasi angka di pintu lalu membuka pintunya.

“Haejin-ah?!” Tanya Yoonri yang sudah ada di dalam apartemen Haejin.

Tapi Haejin tidak menanggapi Yoonri dan berjalan masuk kedalam kamarnya. Yoonri mengikuti masuk kedalam kamar Haejin.

“Kau kenapa? Penampilanmu berantakan sekali.”

Ya. Penampilan Haejin memang sangat berantakan. Tapi perasaannya jauh lebih berantakan.

“Bisa kau tinggal aku sendiri? Aku ingin sendiri.” Ujarnya pelan.

Yoonri mengangguk mengerti. “Arra. Kalau kau butuh bantuan telepon aku.”

Haejin mengangguk pelan. Dan setelahnya dia masuk ke dalam kamar mandi.

-=.=-

Haejin merebahkan tubuhnya diatas kasur. Pikirannya kacau. Walau setelah mandi, dia tidak bisa merasa lebih segar. Sedikit membaikpun tidak.

Dia tidak tahu harus berbuat bagaimana. Dia masih bimbang. Semua ini terlalu cepat baginya. Kenyataan bahwa kedua orang tuanya dibunuh oleh Donghae, seorang pembunuh bayaran yang merupakan kekasihnya yang mungkin kini adalah mantan kekasihnya.

Seharusnya dia membenci Donghae karena sudah membunuh orang tuanya. Tapi setiap mencoba untuk melupakan ataupun membenci Donghae dadanya langsung sesak. Hidungnya bagai tidak berfungsi dengan baik sehingga membuatnya kesulitan untuk bernafas. Jantungnya bagai dihujani ribuan jarum beracun. Dan semua itu rasanya sangat menyakitkan.

Jujur ia akui, ia sangat mencintai Donghae. Tapi sayangnya dia harus dihadapkan dengan situasi seperti ini. Tak pernah sekalipun ia membayangkan bila perjalanan cintanya akan menjadi rumit dan menyedihkan seperti sekarang ini.

-=.=-

“Haejin-ah, apa kau mau berangkat kuliah bersama kami?”

“O. Kebetulan mobilku masih rusak. Tapi tidak merepotkanmu, kan, Yoonri-ah?”

Aninde. Aku sedang ada di daerah Myeongdong. Kau tunggu didepan gedung, ya?! Aku sedang malas naik.”

Arra.”

Haejin memutuskan sambungan teleponnya. Dia menatap bayangan dirinya dalam cermin. Ia menghela nafas berat. Mulai sekarang dia harus berusaha menjalani hidupnya tanpa Donghae. Walau sangat berat baginya, tapi ini adalah kenyataan dari hidup yang harus ia jalani.

Haejin mengambil tas tangannya. Dan segera berjalan keluar dari pintu apartemennya. Saat menutup pintu, kakinya tersandung oleh sesuatu. Dia menunduk. Ternyata tas tangan yang kemarin tertinggal di gedung itu.

Haejin memungut tas itu. Ada sepucuk surat disana. Haejin mulai membaca rentetan tulisan tangan itu.

 

Tasmu tertinggal. Sekarang aku kembalikan padamu. Semoga hidupmu menyenangkan dan lebih baik dari sebelumnya…

Monster yang selalu mencintaimu…

Donghae

 

Baru saja Haejin berusaha untuk melupakan Donghae. Tapi takdir seolah mempermainkannya. Air matanya menetes begitu saja tanpa sempat ia tahan.

Haejin kembali masuk kedalam apartemennya. Dia menyimpan kertas dari Donghae di sebuah kotak yang berisikan barang-barang berharga miliknya.

Walau berat, akhirnya Haejin menutup kotak itu dan meninggalkannya. Dan segera menuju basement.

-=.=-

“Haejin-ah, kau kenapa? Matamu merah. Habis menangis? Apa ada sangkut pautnya dengan kemarin? Atau Donghae mungkin?” Tanya Yoonri khawatir.

Haejin terpaku mendengar nama Donghae. Lalu dia menggeleng lemah.

“Aku tidak memaksa bila kau tidak mau cerita.”

“Ah Yoonri-ah, apa kau suka menonton film?” Tanya Haejin. “Aku baru menonton film.”

“Tentang apa?” Tanya Yoonri dan Eunhyuk kompak dan sangat penasaran.

“Mm.. Seorang pembunuh bayaran. Dia mendapat tugas untuk membunuh sepasang suami isteri. Tapi akhirnya dia mencintai putri dari pasangan yang ia bunuh. Dan dia merelakan dirinya sendiri agar gadis itu selamat sambil membawa rahasia terdalamnya.”

“Film apa itu? Aku belum pernah dengar. Apa judulnya?” Tanya Eunhyuk yang terlihat tertarik dengan film yang Haejin ceritakan.

Haejin panik. Jujur saja yang ia maksudkan adalah kisanya sendiri. Dan dia juga tidak terlalu banyak menonton film. “Molla. Aku tidak tahu.”

“Ah, apa pembunuh itu mengetahui dia itu putri korbannya setelah membunuh atau sebelumnya?”

“Setelahnya. Dari rekan kerjanya yang juga mencintainya.”

“Cerita klasik. Tidak seru.” Ujar Yoonri.

Sementara Eunhyuk menagangguk-angguk. “Majja, Kimmy-ya!”

Kalian tidak akan mentakan klasik bila merasakannya sendiri. Rutuk Haejin dalam hati.

“Lalu bagaimana akhir ceritanya?”

Aish, kalian bilang klasik. Tapi masih saja menanyakan ceritanya. Umpat Haejin lagi. “Molla. Aku baru setengahnya saja. Sisanya tidak bisa diputar.”

“Kimmy, menurutmu bagaimana akhirnya?”

Sad ending. Dengan salah satunya mati. Pembunuh itu atau gadis itu.” Ujar Yoonri.

“MWO??!” Dari belakang Haejin berteriak tidak terima.

“Menurutku bagus juga idemu, Kimmy. Atau dibuat menggantung saja.” Ujar Eunhyuk yakin.

Haejin menghempaskan badannya ke jok mobil Eunhyuk. Bisakah mereka serius menanggapi ini? Inikan menyangkut hidupku juga. Dasar tidak peka!! Donghae-ah,aku harus bagaimana sekarang?

-=.=-

One Year Latter…

Haejin duduk di salah satu bangku taman Namsan. Haejin memandang puncak Namsan tower sambil memainkan toga miliknya. Hari ini adalah kelulusannya. Dia menghela nafas berat. “Sudah satu tahun berlalu…”

“Jadi, kau masih menunggunya?” Tanya seseorang tiba-tiba.

Haejin menoleh. Dia sangat terkejut melihat siapa yang tengah duduk di sampingnya. “Yongjun-ah?” Suaranya tercekat. Haejin langsung bangkit.

Tapi Yongjun, menarik tangannya. Haejin sedikit meronta. “Tenanglah, aku tidak akan menyakitimu. Duduklah!”

Entah kenapa, Haejin menuruti perkataan Yongjun. Dia kembali duduk disamping Yongjun. “Tentang Sunye… Maaf atas kejadian waktu itu.”

Yongjun tersenyum miris. “Gwaenchana. Aku sudah melupakan masalah itu.” Ujarnya lalu menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Haejin menunduk merasa bersalah pada Yongjun.

“Jadi, kau masih menunggunya?”

“Eh?” Haejin mendongak.

“Donghae.” Ujarnya singkat sementara matanya memandang menara Namsan.

Haejin menangguk lalu mengikuti arah pandang Yongjun. “Tentu saja. Sampai kapanpun.”

“Kau mencintainya?”

“Tentu. Untuk apa aku rela menunggunya bila aku tidak mencintainya.”

“Di saat bulan tersenyum, ketika bunga kehilangan panutannya, di sebuah taman dengan payung biru, kau akan temukan apa yang kau cari.”

“Apa maksudmu?” Tanya Haejin tidak mengerti dengan apa yang Yongjun katakan. Tapi saat ia menoleh, Yongjun tak lagi duduk di sampingnya. Dia menoleh ke sekelilingnya, tapi ia tidak bisa menemukan Yongjun.

-=.=-

Haejin masuk kedalam apartemen. Dan langsung menjatuhkan tubuhnya diatas sofa. Kata-kata Yongjun terus terngiang di otaknya. Itu pastilah bukan kata-kata tanpa makna.

Haejin mengambil remote TV lalu menyalakannya bermaksud menghilangkan stress. TV itu menyiarkan acara Invincible Youth 2.

Cha! Sekarang kalian harus menebak nama bunga yang aku sebutkan cirinya!” Ujar Boom.

“OK!!” Seru Sunny dan Hyoyeon yang ikut dalam permainan itu secara antusias.

Ilbon! Yang berwarna merah berarti menunjukkan soal rasa kagum dan menandakan bahwa kita selalu menginginkan orang itu untuk terus berada di samping itu.” Ujar Shinyoung. G8 yang ikut dalam permainan itu terlihat berpikir untuk menemukan jawabannya.

“Bora!! Bora!!” Bora mengangkat tangannya histeris.

“Bora-sshi?!”

“Anyelir, kah?” Tanya Bora. Semua mata langsung menatap Bora.

Jongdam!!” Shinyoung berseru. Semua yang ada di regu Bora bersorak.

Daebak!!” Hyoyeon melakukan high five bersama Bora.

Cha ije, ibon!! Bunga yang kehilangan panutannya saat malam?” Boom beralih memberi pertanyaan.

“Sunny!! Sunny!!”

“Ye, Sunny-sshi?!”

HAEBARAGI!!” Sunny berteriak yakin.

Haejin yang mendengar langsung terdiam. Dia kembali teringat dengan kalimat Yongjun.

Ketika bunga kehilangan panutannya.

“Ketika bunga kehilangan panutannya? Bunga matahari?” Ujarnya pada dirinya sendiri. “Malam?”

Dia langsung berlari menuju mejanya. Dia menuliskan semua yang dikatakan Yongjun.

“Di saat bulan tersenyum, ketika bunga kehilangan panutannya, di sebuah taman dengan payung biru, kau akan temukan apa yang kau cari. Apa maksudnya?” Tanyanya sambil melihat tulisannya sendiri.

“Ketika bunga kehilangan panutannya. Bunga matahari kehilangan matahari di saat malam.” Dia mulai berpikir dengan semua kemungkinan. “Sebuah taman dengan payung biru? Bulan tersenyum?”

Haejin melihat keluar jendela. Malam ini sedang malam bulan sabit. Dan berbentuk senyum. Haejin langsung tersenyum.

“Malam dengan bulan sabit. Berarti malam ini. Lalu taman dengan payung biru?”

Haejin menyalakan komputernya lalu membuka aplikasi digital map. Dia mencari taman yang memiliki payung biru. Tapi dia tidak menemukannya.

Haejin berdecak kesal. “Payung biru?” dia menggerakan pointer mouse-nya membentuk payung. Tapi yang kemudian ia sadari, aliran sungai han di Tosandaero berbentuk melengkung seperti payung. “Inikah maksudnya?”

Dia meneliti daerah Tosandaero, tapi tidak ada taman. Dia mencoba meneliti seluruh aliran sungai han yang mirip di Tosandaero. Dan ia menemukannya di Yeouido. Sungai Han terlihat memayungi Sport Park Yeouido.

Senyum Haejin terkembang sempurna. “Malam ini di Sport Park Yeouido. Kau akan temukan apa yang kau cari.” Haejin kembali berpikir. “Yang kucari?”

“Donghae…” Lirihnya. Dan sedetik kemudian, Haejin langsung mengambil kuncinya dan segera menuju Sport Park Yeouido.

-=.=-

Haejin memarkirkan mobilnya ke tepi taman. Dia keluar dari mobil dan melihat sekeliling. Sepi. Tidak ada orang sama sekali.

Haejin terus melangkahkan kakinya masuk ke wilayah sport park itu. Tapi sejauh mata memandang, tidak ada orang yang ada disana.

“Donghae-ah, eoddiya?” Ucapnya lirih lalu sebulir cairan bening jatuh membasahi pipinya.

Haejin berjalan menuju timur ke arah Mapodaegyo. Matanya terus menoleh kekanan dan kekiri mencari keberadaan Donghae.

Dan saat dia berada dalam jarak seratus meter dari jembatan Mapo, dia menangkap bayangan dari seorang pria yang berdiri angkuh sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Dan Haejin cukup yakin, bila yang ia lihat adalah Donghae.

“DONGHAE-AH!!” Haejin berteriak memanggil namanya dan langsung berlari mendekati pria itu.

Pria itu menoleh dan terkejut mendapati Haejin berlari kearahnya. Haejin yang melihat wajahnya langsung mempercepat larinya. Dan saat tinggal selangkah, Haejin langsung memeluk Donghae.

“Kenapa kau pergi lama sekali?” Tanyanya sambil terisak. Dia menumpahkan semua air matanya dalam dekapan Donghae.

Donghae hanya diam. Bahkan tidak membalas pelukannya. “Haejin-ah…”

“Kau tahu seberapa lama aku menunggumu?”

“Kupikir kau membenciku karena masalah waktu itu.”

Babo!!” hardiknya sambil memukul punggung Donghae kesal beberapa kali. “Kau tahu aku mencintaimu. Aku tidak pernah membencimu walau satu detik.”

Donghae langsung membalas pelukan Haejin. Dia memeluk Haejin sangat erat seakan mengekang gadis itu agar tidak pergi dari sisinya. “Mianhae. Keurom, mulai sekarang aku tidak akan pernah melepasmu dan meninggalkanmu.”

Yakshokaeyo?”

Yakshokae.”

“Bagaimana dengan organisasimu itu?”

Donghae melepas pelukannya. Dia memutar tubuhnya hingga memunggungi Haejin. Dia menghela nafas berat.

Haejin berjalan mendekati Donghae dan berdiri di sampingnya. “Waeyo?” Tanyanya khawatir.

“Aku mendapat hukuman seumur hidupku.” Ujarnya lirih.

Haejin terkejut. Dadanya langsung sesak. “Jinjayo?”

Donghae mengangguk lalu menundukan wajahnya dalam-dalam. Dan dia menghembuskan nafas berat lagi.

“Memang kau mendapat hukuman apa?” Tanya Haejin benar-benar khawatir.

Donghae menatap Haejin dengan tampang memelas. Lalu dia merangkul Haejin dan mengecup bibirnya singkat. “Dengan senang hati aku melakukannya, karena aku mendapatkan hukuman tidak boleh mencintai gadis lain selain kau dan harus selalu mencintaimu selamanya.”

END

20 thoughts on “[FF Contest] A Love To Kill

  1. ternyata happy ending..
    kirain hae bakalan mati dan cerita ini berakhir dengan tragis.. hahaha..
    tp koq ngak diceritakan ya yongjun koq ngak marah lg..
    trus gmana kejadian na hae ama yongjun pas di basecamp itu..
    tp yg penting happy ending deh.. hehehe..

  2. Jarang2 q baca genre mysteri, demi jinhae q rela2in bacanya *abaikan*
    hae jadi pembunuh byran, wow… Haejin terlanjur cinta juga… Cinta ngalahin segalanya.
    Senangnya happy ending.

  3. kerennn….hehehee…
    dari judul aku kira ini sedih akhir.nya..ternyata gak…
    Buat author…ayo lebih bagus lagi nulis.nya..

  4. a love to kill..
    Pas liat judulnya aku langsung tertarik..soalnya judulnya sama kayak dorama orang paporit aku..rain..kekeke~

    seru dih,,hae jadi pembunuh bayaran.. Pasti cakep deh pake baju serba item..
    Tapi dari awal ampe tengah tengah,aku ngerasa ngebut bgt bacanya,alurnya kecepetan..tp dari tengah ke ending,melambat..
    Terus ada juga kejadian cukup penting yg gak dimasukin.. kayak kejadian yg jadi alesan si yongjun yg berubah jadi baik hati,padahal setaun sebelumnya dia napsu banget pengen bunuh haejin..kekekekekk~

    tapi seriusan,ide ceritanya seru banget..^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s