{JinHaeXy} STILL ~Part 7~

Title : Still

Length : Chaptered

Rate : PG15

Genre : Romance, Family, Friendship, Lil bit Angst

Main Cast :

  • Lee Haejin
  • Lee Donghae
Supporting Cast :
  • Lee Hyukjae
  • Kim Yoonri
  • Super Junior Members
  • Felidis Members

{JinHaeXy} STILL ~Part 7~

Kamis, 16 Februari 2012, Singapore Time

@donghae861015: Yo !! What’s up Singapore!! pic.twitter.com/LUJNvgNG

   Donghae memandang pemandangan indah Singapura yang terhampar dari jendela kamar hotelnya di Marina Bay. Gelisahnya belum bisa hilang semenjak hari Minggu lalu, dia terbangun di dorm. Dia tahu dia mabuk, bahkan Leeteuk Hyung-nya berkata bahwa ia membawa Donghae ke rumah sakit terlebih dahulu demi mendapatkan suntikan agar Donghae bisa segar keesokan harinya.

   Dan satu lagi yang membuatnya resah, cincin Haejin hilang. Dimana cincin itu? Donghae menatap sedih keluar jendela. Dulu, cincin pertama yang ia berikan, dibuang Haejin di laut karena tidak mau ada yang memakai cincin itu lagi, dan sekarang… meski dia memang berkata bahwa cincin itu sudah tidak seharusnya dipakai Haejin, dia juga tidak rela membiarkan cincin itu pada wanita lain, dan sekarang hilang pula.

   Dia sudah berusaha mencari ke tasnya, saku celana jinsnya, dan bahkan kembali ke restoran, tapi cincin itu memang tidak ada! Padahal cincin itu pemberian ibunya, untuknya dan Haejin.

   Ibunya… apakah beliau tahu bahwa anaknya sudah menyakiti putri idamannya? Apakah ibunya juga akan mengerti perasaan Haejin? Donghae menyentuh kaca dan menghela napas berat. Rasanya kekerasan memang tidak bisa dimaafkan, terbukti dengan sikap dingin Haejin selama ini.

   ”Ya!” Siwon meremas lembut bahunya, Donghae tersenyum tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela, dia tahu Siwon tengah berusaha menguatkannya, dan dia menghargai usaha sahabatnya itu. ”Aku ada kabar untukmu sebetulnya,” Siwon beralih duduk di sofa.

   Menghargai usaha keras semua lapisan keluarganya yang mencoba membuatnya tersenyum, Donghae menoleh. ”Kabar apa?” tanyanya pelan.

   ”Ehem, sebetulnya entah ini kabar baik atau buruk bagimu,” Siwon menggaruk kepalanya. ”Tapi ya, aku juga kaget… karena tidak biasanya fanmeeting hanya dalam waktu singkat tiket bisa terjual, dalam pengumuman satu minggu sebelum… tapi mereka berhasil melakukannya…”

   Donghae menganggukan kepalanya. ”Baguslah kalau begitu.”

   ”Mwo?!” kedua mata Siwon melebar.

   ”Bukankah itu berarti kesukseskan Skip Beat diakui di mata internasional?” tanya Donghae polos.

   Siwon kelihatan tidak habis pikir dengan pertanyaan polos yang meluncur begitu saja dari bibir sahabatnya, tapi mengingat banyaknya beban pikiran diakumulasi dengan kecepatan otak Donghae yang memang standar, Siwon berusaha maklum. ”Donghae-ya, memang aku bilang fanmeeting kita?”

   ”Lho? Bukan?”

   ”Tentu saja bukan, bodoh,” keluh Siwon.

   ”Tapi tadi kau bilang berita baik!” tuding Donghae tidak terima.

   ”Aku bilang bisa berita baik, tapi bisa berita buruk, tergantung kau menanggapinya bagaimana.” Koreksi Siwon sabar. ”Dan yang kumaksud adalah besok jam sepuluh pagi, ada fanmeeting Felidis.”

   Ekspresi ingin tahu Donghae langsung mendadak berubah, wajahnya kembali kehilangan warna. Tapi dia kemudian membasahi bibirnya, dan mengeringkan tenggorokannya. ”Felidis akan fanmeeting?”

   ”Oh,” Siwon mengangguk. ”Baru Minggu lalu katanya pengumuman dan penjualan tiketnya. Fanmeeting kecil, hanya dua ribu orang… dan langsung sold out, karena preparation comeback mereka, mungkin.”

   Donghae tidak mendengarkan lagi.

   ”Kudengar seharusnya besok pagi Chihoon dan Kyorin akan tiba terlebih dahulu, sementara Haejin menyusul malamnya.” Siwon meneruskan sambil memandang Donghae penuh arti. ”Kalau kau mau… ehem, aku bisa mencarikan informasi dimana mereka tinggal.”

   ”Tidak di Marina Bay?” tanya Donghae pelan.

   ”Sampai sekarang masih rahasia dimana mereka menginap,” Siwon mengangkat bahu.

   ”Kok bisa?”

   ”Kau tahu sendiri, Manajemen Felidis seperti apa, semua kekuasaan di tangan Haejin, bukan pada JYP, kan?” tanya Siwon mengangkat alis.

   Donghae lupa hal itu. ”Jadi dia tidak akan menginap disini, karena ada kita?” tanya Donghae seolah mengerti maksud Siwon.

   ”Sepertinya,”

   ”Ya sudahlah~” Donghae meregangkan tubuhnya. ”Aku lelah…” atas hal yang ambigu. Siwon mengerti dan merasa tidak perlu bertanya lebih lanjut kemana Donghae ingin pergi.

*           *           *

Changi Airport, 17 Februari 2012, 23.00 Singapore Time

”Aku mau ke kamar mandi terlebih dahulu,” Haejin memberikan tas kecilnya pada Shorry, namun mengeluarkan si Putih di dalamnya. ”Kau tunggu di ruang tunggu saja ya.” Shorry mengangguk patuh dan membawa tas Haejin dengan gerakan kemayunya, sementara Haejin memicingkan matanya menatap Junjin Oppanya yang tengah mengisi data kedatangan untuk imigrasi Singapore, lalu Haejin menyelinap masuk ke dalam toilet.

    Setelah seorang wanita barat keluar dari salah satu bilik dan memberikan Haejin senyumnya, Haejin masuk ke dalam bilik tersebut, lalu mengeluarkan ponselnya yang sudah memakai sinyal Singapore tersebut, dan mencari sebuah nama, dan langsung menghubunginya.

   Dia bisa mendengar nada sambung selama beberapa detik sebelum akhirnya seseorang menyahut. ”Yeoboseyo.”

   ”Kim Yoonri?” pekik Haejin.

   ”Ah, ye… dengan Kim Yoonri disini.” Sahut Yoonri formil.

   ”Ah, Yoonri-ya, ini aku, Haejin!”

   ”Haejin?!” Yoonri terdengar bingung. ”Omo! Felidis Haejin Eonnie?!” pekiknya tidak percaya.

   ”Ne, ini aku!” desis Haejin, entah kenapa dia harus berbisik-bisik disini. ”Aku sedang berada di Singapore.”

   ”Oh, jinjja?! Eodiya, Eonnie?!”

   ”Aku masih di Changi,” lanjut Haejin. ”Besok kau harus datang ke fanmeeting Felidis, ya? Aku sudah menyediakan tiket untukmu. Setelah itu kau harus mengajakku jalan-jalan melepas penat, ara?!”

   ”Hehehe, baiklah… Eonnie menginap dimana? Marina Bay?”

   ”Ani, kami menginap di Ritz,” sahut Haejin. ”Kalau kau mau datang saja malam ini, jadi kita besok bisa berangkat bersama ke fanmeeting?”

   Yoonri terdengar bergumam samar. ”Aku mau saja, tapi tugasku masih banyak, Eonnie. Begini saja, besok pagi aku akan ke hotel, dan barulah kita berangkat bersama. Pulang fanmeeting aku akan ajak Eonnie berkeliling.”

   ”Oke~ sampai jumpa besok, bye!” Haejin menekan tombol merah, dan menghela napas lega. Setidaknya dia memiliki jadwal lain hingga Minggu pagi tanpa harus memikirkan Lee Donghae. Ditatapnya tangan kirinya, dan dengan miris menatap cincin yang melingkar di jari manisnya tersebut.

*18 Februari 2012*

Please welcome… Fleur de La Supergirl!”

   Riuh rendah para peserta fanmeeting di sebuah hall yang berlokasi pada sebuah pusat perbelanjaan mewah di Singapore terdengar. Dan dari belakang sebuah panggung kecil yang dihiasi poster besar berisi tiga orang gadis, muncullah girlband asal Korea Selatan yang mencuri perhatian bukan melalui lagu mereka sendiri, justru melalui covering yang sering mereka peragakan, terlepas dari itu semua, kemampuan mereka dalam bidang musik, suara, dan tari, dikombinasikan menjadi satu dan menghasilkan karya yang luar biasa.

   Dengan itulah Felidis berhasil mengambil hati pasar internasional. Kini, tua, muda, kanak-kanak, dan tentu saja remaja yang tujuh puluh persen di dominasi oleh pria ini, tengah berteriak riuh melihat tiga orang gadis yang akhirnya berdiri berdampingan di atas panggung kecil dengan beludru berwarna merah di hadapan mereka.

   ”Hana dul set!”

   ”Annyeonghaseyo, Fleur De La Supergirl-imnida…” ketiganya kompak membungkuk memberi hormat, yang lagi-lagi diiringi sorakan berat khas para remaja yang baru saja akil balig.

   ”We are…” lengking Haejin.

   ”Felidis!”

   ”FLYERS ARE HERE!” fanchant dari para penggemar tersebut menggema ketika ketiga member Felidis mengacungkan V sign mereka dengan aegyo di sekitar mata mereka, trademark Felidis.

   Setelah melakukan wawancara singkat, tibalah saatnya mereka menandatangani album-album Felidis yang dibawa oleh para penggemar, termasuk bersalaman dan berfoto. Dan tidak terasa, acara yang dimulai tepat pukul sepuluh pagi itu akhirnya berakhir pada pukul dua siang, dan Felidis langsung kembali ke hotel Ritz Carlton Singapore saat itu juga.

   ”Aww…” Haejin langsung memundurkan jok mobilnya dan bersandar, sementara di sebelahnya Yoonri terkekeh-kekeh sambil memijat tangan kanan Haejin, setelah mengangsurkan dua botol air mineral kepada Kyorin dan Chihoon, yang nampak sama lelahnya. ”Jeongmal~”

   ”Dari total dua ribu fans yang datang, lima puluh persennya Elektra, sementara kami dua puluh lima persen, dan dua puluh lima persen,” Kyorin menatap Haejin iba, dan mengangsurkan tisu. ”Pantas saja Eonnie mau tewas~”

   Chihoon sudah memejamkan matanya, di kursi belakang bersama Kyorin yang masih menatap khawatir pada Haejin yang menutup wajahnya dengan selembar tisu, dan tangannya tergantung diurut oleh Yoonri yang duduk di sebelahnya, di kursi tengah.

   ”Kenapa tidak dibagi rata saja sih?!” keluh Haejin mau menangis.

   ”Sabar, Eonnie… itu konsekuensi menjadi terkenal,” Yoonri semakin kuat memijat tangan Haejin. ”Kyorin Eonnie mau kupijat juga?”

   Kyorin menggeleng. ”Ani, ani… kau pijat Haejin Eonnie saja, kasihan dia benar-benar kelelahan. Chihoon saja sudah mau tewas begini…”

   Akhirnya tiga puluh menit kemudian, mereka sudah tiba di hotel. Kyorin dan Chihoon kembali ke kamar mereka masing-masing, dan dapat dipastikan mereka langsung tertidur karena kelelahan. Dan begitu pula Haejin, yang langsung berbaring tanpa mengganti pakaiannya maupun menghapus make up-nya, ditemani oleh Yoonri.

   Setelah membiarkan Haejin beristirahat selama dua jam, Yoonri akhirnya menghampiri tempat tidur Haejin dan menggoyangkan tubuhnya pelan. ”Eonnie, apakah kita jadi jalan-jalan?” tanyanya.

   Haejin menggumam pelan, dia memang tidak benar-benar tertidur.

   ”Kalau tidak jadi dan Eonnie masih ingin istirahat, aku ada janji.”

   ”Eh, kau mau kemana?” Haejin membuka satu matanya dan menatap Yoonri yang duduk di sisi tempat tidurnya dengan heran. ”Kau ada janji, Yoonri-ya?”

   Yoonri menggaruk kepalanya tidak enak. ”Tidak sih, tapi aku ingin pergi ke suatu tempat.”

   ”Harus sekarang?” tanya Haejin penasaran.

   ”Ne.” angguk Yoonri.

   Haejin akhirnya bangun. ”Memang kau mau kemana, Yoonri-ya?”

   Yoonri menatap Haejin lamat-lamat, lalu menarik napasnya dalam-dalam dan menggigit bibirnya. Kemudian ia menduduk dan memainkan jemarinya. ”Sebetulnya, Eonnie… aku…” Yoonri kemudian mengambil sesuatu dari dalam sakunya. Dua buah kertas pipih berwarna putih.

   SUPER JUNIOR SUPER SHOW 4 WORLD TOUR.

   ”Astaga…” Haejin ternganga melihat tulisan yang tertera di kertas tersebut. ”Kau mau menonton mereka?!”

   Yoonri mengangguk lambat, dan ketika Haejin mau mengomelinya, tertatap olehnya pandangan Yoonri yang begitu… dalam, lembut, dan sedih pada tiket tersebut. Dan tatapan itu membuat Haejin merasa nyeri. Pastilah sulit bagi Yoonri, dia tahu betul rasanya. Berpisah dengan orang yang nyatanya mencintai kita, dan yang lebih parah kita juga mencintai dia, sangat menyaktikan, bukan?

   ”Aku…” bisik Yoonri pelan. ”Merindukan Hyukjae, Eonnie.”

   Dan Haejin tidak bisa berkata apa-apa, kecuali menepuk bahu Yoonri pelan dan membelai-belainya. ”Ya sudah, kau pergilah… nanti pulang menonton, aku akan menjemputmu.”

   ”Keundae, Eonnie… aku sudah membeli dua tiket… sebetulnya satunya untuk temanku. Tapi dia batal…”

   Dan firasat Haejin langsung tidak enak.

   ”Eonnie saja ya, yang menemani aku?” Yoonri menatap Haejin dengan puppy eyes.

   Dan akhirnya, disinilah Haejin berada, diantara lautan gadis-gadis ceria yang membawa-bawa pernak-pernik Super Junior, berteriak dalam bahasa Melayu atau Inggris, atau bahkan Cina dengan cepat. Beberapa hal yang bisa ia tangkap hanya nama-nama member Super Junior, dan dia dengan takut, selalu menunduk di belakang Yoonri, dengan tudung menutupi kepalanya.

   Oke, Haejin tahu betul dia nekat! Disini, Singapore Indoor Stadium, Singapore, diisi oleh ribuan ELF. ELF pasti Kpopers, dan jika memang Kpopers, jelas saja mereka juga tahu Felidis, bukan?!

   Haejin memutuskan menghapus semua make up yang ia kenakan, dan beralih memakai sepatu datar, yang memuat tingginya tak jauh berbeda dengan gadis-gadis yang datang. Ia pun hanya mengenakan blouse putih dan celana jins panjang biru, ditutupi jaket biru tebal dengan tudung yang menutupi kepalanya.

   Jika begini, ia aman! Tapi tetap saja, ini nekat! Akhirnya Haejin membeli masker replika milik Heechul, yang dijual oleh fanbase Petals disana, tentu saja Yoonri yang maju membelikannya, lalu Haejin memakainya.

   Untunglah pintu dibuka tepat waktu pukul lima, dan mereka masuk ke dalam stadium besar tersebut. Haejin tidak terlalu kaget, beberapa bulan lalu ketika MAMA Awards, Felidis tampil disini kok.

   Yoonri menggendeng Haejin terus menunduk dan menarik tudungnya agar wajahnya tidak terlihat oleh orang lain, untuk masuk ke dalam seat mereka. Seat yang cukup strategis, tepat menghadap ke panggung! Yoonri kemudian mengeluarkan perkakas fangirling-nya, dan Haejin tertawa.

   ”Waeyo, Eonnie?!” protes Yoonri malu.

   ”Lee Hyukjae semua~”

   ”Keurom, aku kan Jewels,” kekeh Yoonri.

   Haejin tertawa. ”Tapi kenapa ketika di depan Eunhyuk kau bahkan tidak mau mengakui kalau kau Jewels?” tanya Haejin mengingat pertemuan pertama mereka, saat itu Eunhyuk dan Donghae tengah melakukan debut stage Oppa, Oppa mereka, dan Yoonri nampak ogah sekali ketika Eunhyuk meng-geer-kan diri di depan mereka.

   ”Ya tentu saja aku tidak mau mengakui itu di depannya, Eonnie… nanti dia besar kepala~” Yoonri memutar matanya. ”Lalu Eonnie tidak mau membeli lightstick?” tawar Yoonri.

   ”Mau sih…” aku Haejin. ”Aku punya sebetulnya, kubeli ketika di Super Show 4 Seoul kemarin, tapi itu di dorm.”

   ”Kalau Eonnie mau akan kubelikan diluar, tadi rasanya ada yang menjual,” kata Yoonri mengingat-ingat.

   ”Boleh.” Haejin mengangguk semangat, dan menatap Yoonri yang tengah keluar kembali untuk membelikannya lightstick, dan Haejin tersenyum menatap panggung yang masih kosong tersebut. Bersama Yoonri benar-benar seperti dikembalikan ke masa-masa dia dan Donghae masih menjadi sepasang kekasih.

   Seolah, mereka… dia-Donghae, lalu Yoonri-Eunhyuk, masih menjadi pasangan kekasih. Dan mereka kini tengah menunggu penampilan kekasih mereka, dan tentu saja sebagai kekasih yang baik, mereka akan mendukung dengan sepenuh hati! Hal yang jelas tidak mungkin mereka lakukan terang-terangan di depan duo ikan tersebut, mengingat keduanya memiliki sifat sama : sama-sama mudah besar kepala.

   Haejin tersenyum sendiri, sementara stadium perlahan-lahan mulai terisi oleh ELF yang hendak menonton penampilan Super Junior, dan tanpa terasa Yoonri sudah kembali mengacungkan sebuah lightstick kecil dengan nama Donghae.

   ”Ini, Eonnie~”

   ”Ah, gomawo…” Haejin menerimanya. ”Woah…” dia menatap lightstick itu takjub, lalu mulai menggoyang-goyangkannya. Disebelahnya, Yoonri mulai mengeluarkan satu persatu perkakasnya. Tiga buah towel, empat buah lightstick, beserta satu kantung penuh goodies.

   Haejin geleng-geleng geli.

   Waktu sudah menginjak pukul enam, dan akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba. Lampu padam, dan Haejin membuka jaket beserta maskernya. Dalam keadaan gelap dan opening VCR yang muncul di layar, tentu saja sudah tidak ada yang memerhatikannya bukan? Apalagi lokasi duduk mereka yang strategis, di tengah, dan dua baris dari depan, dan tidak terkena spotlight.

   Kesembilan pria luar biasa itu muncul menyanyikan lagu Superman, dan seluruh gadis berteriak, termasuk Yoonri, semuanya menggoyangkan lightstick mereka bersemangat. Haejin memutar katup lightstick-nya, dan merasa ada yang tidak beres. Lightstick-nya tidak mau menyala.

   Akhirnya ia hanya menggoyangkannya saja sementara sang lightstick tetap gelap, tidak memancarkan warna biru safir seperti milik yang lain. Di sampingnya, jelas-jelas seorang ELFish, dia terus meneriakkan nama Donghae, dan hal itu yang membuat Haejin terus menatapi pria enerjik yang tengah menari sambil bernyanyi di hadapannya kini.

   No matter how I try it, can’t deny it, just can’t let you go…

   Lirik lagu Backstreet Boys terngiang begitu saja dalam telinganya, padahal kini mereka tengah menyanyikan lagu Opera, yang kemudian dilanjutkan dengan Twins, dan A Man In Love.

    Haejin masih terus menggoyangkan lightstick tak menyala tersebut.

   ”Eonnie,” bisik Yoonri heran. ”Kenapa tidak dinyalakan?”

   ”Tidak mau menyala, Yoonri-ya,” ringis Haejin pelan.

   ”Jinjja?!” mata Yoonri melebar. ”Tadi ketika aku membelinya, bisa menyala kok, coba sini…”

   Haejin memberikan lightstick-nya, dan Yoonri mulai mengutak-atik lightstick tersebut. Hasilnya nihil, memang sepertinya tidak mau menyala. Karena kasihan melihat Yoonri yang tidak bisa fokus, akhirnya Haejin berkata. ”Sudahlah, tak apa… hehehe.” Diambilnya kembali lightstick tersebut dan kembali melambaikannya seperti yang lain meski tidak bisa menyala. Setelah itu VCR berlompatan diputar, dan Yoonri kembali berusaha menyalakan lightstick Haejin, tapi tetap saja nihil~

   Lagu berikutnya, ketika lightstick sudah kembali berada di tangan Haejin, adalah Miina Rock Version. Mereka bersembilan sudah melepaskan wire microphone mereka, dan memakai microphone biasa, mulai bergerak sambil mengikuti irama musik yang menghentak.

   Atmosfer memanas, dan teriakan ELF tentu saja mengobarkan semangat Haejin juga untuk menghentakkan tangan mengikuti irama lagu.

   ’Baby you turn it up now

   Mwol salgga salgga salgga salgga

  Neoreul wihan seonmul?

   Dan tiba-tiba lightstick yang Haejin hentakkan menyala, biru safir benderang, Haejin membelalakkan matanya, menatap ke panggung, lalu beralih pada lightstick-nya sendiri yang berpendar indah.

   ”Charaesseo…” puji Haejin mencium lightstick-nya dengan senang. ”Kau tahu siapa Poppamu ya?” kekehnya, sambil menatap terharu lightstick-nya sementara Donghae sudah tidak bernyanyi lagi, digantikan Kyuhyun dan Yesung. Dan di sebelahnya Yoonri terus menerus melafalkan ikrar cinta, yang Haejin yakin takkan mungkin Yoonri katakan jika berhadapan langsung dengan Hyukjae.

   Secara keseluruhan Haejin cukup senang melihat Donghae di atas panggung begini, Donghae yang terlihat ceria, bermain, bahagia bersama saudara-saudaranya. Bukan Donghae yang mabuk seperti pekan lalu, Haejin bahagia untuk itu. Untuk senyum Donghae tanpa dirinya.

   Sesekali ia mencoba berani seperti Yoonri meneriakkan nama Donghae, tapi urung, karena takut Donghae benar-benar menatapnya! Donghae terlalu sering berlalu-lalang di hadapannya, bahkan ketika menyanyikan Oppa, Oppa yang amat sangat Haejin [tidak] sukai itu, Donghae ada di hadapannya, dan Haejin mau tak mau harus menunduk menutup wajahnya malu! Dia masih tidak bisa menatap Donghae langsung jika membawakan lagu tersebut.

   Sesekali jika Donghae lewat Haejin hanya bisa berbisik. ’Poppa’ hanya sedikit berharap Donghae menoleh, meski kemudian lega sendiri Donghae tidak benar-benar menoleh. Dan di sampingnya Yoonri terus menerus mengeluh bahwa Eunhyuk tidak dalam kondisi prima hari itu, dia tidak seperti biasanya. Dan hal ini yang membuat Haejin merasa rindu! Rindu saat-saat masih berstatuskan kekasih Donghae, mengkhawatirkannya, dan bisa cemas seperti Yoonri.

   EunHae, JinRi? Haejin tertawa sendiri mendapatkan pemikiran soal JinRi barusan, tanpa menyadari kini di hadapannya, Donghae nyaris membeku melihatnya.

Selesai berfoto dengan tiga buah kamera polaroid milik ELF, Donghae mencoba bersalaman dengan banyak ELF yang maju dan mengulurkan tangannya, Donghae tersenyum manis pada mereka semua, dan bisa ditebak, gadis-gadis di hadapannya kini sudah histeris menerima senyumannya. Donghae mengangguk, puas pada dirinya sendiri yang berhasil membuat fans bahagia, dan mendongak menatap sekitarnya, ketika melihat seulas tawa yang familiar.

   Duduk tak begitu jauh dari tempatnya berdiri sekarang, seorang gadis yang sangat ia kenal. Tengah tersenyum menatap ke panggung, dengan lighstick DONGHAE di tangan kirinya.

   Matanya tak mungkin salah! Itu Haejin! Haejin yang ini, jelas hanya dia yang bisa mengenalinya! Haejin yang tidak memakai make up ’kuat’ di bagian mata demi membesarkan matanya yang bulat tapi sipit! Haejin yang tidak memakai polesan di bibir, yang menegaskan sensualitasnya jika berada di atas panggung, Haejin yang tidak memakai shade hidung, dan Haejin yang memakai baju biasa, bukan baju berlabel yang biasa diberikan sponsor kepadanya.

    Ini benar-benar Haejin murni, Haejin yang polos!

   Dia memutuskan untuk berbalik dan kembali bersama rekan-rekannya, Henry dan Sungmin sudah duduk di tepi panggung utama, sementara yang lainnya masih berpencar berkeliling. Donghae duduk menyeruak diantara Henry dan Sungmin, sementara yang lainnya yang berkeliling masih melontarkan rayuan gombal pada ELF.

   Donghae mengusap kepalanya nyaris frustasi. Jika memang sudah tidak mau kembali, apa yang anak itu lakukan disini?! Memegang lightstick-nya pula tadi! Apa maksudnya, Lee Haejin?! Pikirnya frustasi.

   Akhirnya konser selesai, mereka langsung dibawa masuk ke dalam mobil untuk kembali ke hotel mereka di Marina Bay. Donghae masih terus terbayang wajah polos tanpa make up Haejin yang ia rindukan, dan tentu saja ia amat merindukan gadis itu, hingga rasanya dia tidak bisa bernapas.

   ”Donghae-ya?”

   Tiba-tiba Eunhyuk berbisik di telinga kanannya. Donghae menelengkan kepalanya ke arah kanan, tanda bahwa ia memerhatikan kata-kata Eunhyuk. Eunhyuk kembali berbisik. ”Kau tadi lihat Yoonri?” tanyanya pelan.

   Kedua mata Donghae melebar, kini dia benar-benar menoleh menatap Eunhyuk. ”Yoonri?!”

   ”Oh.” Eunhyuk mengangguk antusias, dan menarik bahu Donghae. ”Hae, katakan kau melihatnya! Katakan kau melihatnya, dan bukan aku yang berhalusinasi melihat Yoonri!”

   Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya bingung. ”Apa kau melihat Haejin tadi?”

   ”Haejin?!”

   ”Haejin… Haejin juga ada disana tadi! Kau melihatnya? Atau hanya aku juga yang berhalusinasi?!”

   ”Hae! Kita tidak bisa begini! Ayo, kita harus kembali! Apa mungkin Yoonri dan Haejin pergi bersama?!”

   ”Jinjja?! Bisa saja!” seru Donghae.

   Sementara Ryeowook dan Sungmin yang duduk di kursi tengah saling bertukar pandang penuh arti.

   Eunhyuk dan Donghae buru-buru turun dari mobil yang membawa mereka ke Marina Bay setelah sampai, dan buru-buru naik ke kamar mereka masing-masing. Membersihkan diri dan mengganti pakaian mereka lalu tanpa janjian pun, keduanya membawa topi dan jaket. Setelah itu keduanya membawa Prince Manager, untuk mengantar mereka.

   ”Tapi kemana?” tanyanya pada kedua anak buahnya bingung.

   ”Felidis menginap di Ritz!” seru Donghae.

   ”Kita ke Ritz terlebih dahulu saja!”

   Eunhyuk dan Donghae benar-benar seperti orang panik, terus mendesak Manajer mereka untuk mengantar, atau mereka benar-benar akan berangkat sendiri mencari dua orang gadis yang katanya mereka lihat di venue tadi! Dua gadis yang sama-sama mengoyak hati mereka belakangan ini.

   ”Hei! Kalian tenanglah,” bujuk sang Manajer.

   ”Ayolah! Bisa-bisa kami kehilangan jejak mereka!” seru Eunhyuk tak sabar.

   ”Ritz! Haejin menginap di Ritz!” ulang Donghae untuk kesekian kalinya.

   Sementara member lainnya mendengarkan kedua member yang hendak mencari belahan jiwa mereka ini dengan bingung.

   ”Haejin sih enak di Ritz! Lalu bagaimana dengan Yoonri?! Singapore ini luas Hyung! Aku harus mencarinya!”

   ”YA!” teriak Kyuhyun sebal. ”Kalian berdua ini bodoh atau apa?! Apa kalian tidak melihat betapa bergunanya kami disini?! Sungmin Hyung dan aku…” Kyuhyun menunjuk dirinya sendiri, lalu Sungmin.

   Sungmin menepuk bahu Kyuhyun. ”Kau jangan malah memperkeruh keadaan. Hyukjae-ah, Donghae-ya, yang kalian harus lakukan adalah berpikir jernih. Chihoon itu kan adik kandung Kyuhyun, dan aku serta Ryeowook sangat dekat dengan Felidis juga Yoonri.”

   Donghae dan Eunhyuk terdiam.

   ”Sekarang kalian baru tahu betapa pentingnya kami?” tanya Kyuhyun bawel.

   ”Kyuhyun!” tegur Siwon.

   ”Jadi mereka di Ritz?” tanya Donghae penuh harap.

   Sungmin memeriksa ponselnya lalu mendongak, wajahnya nampak pias. ”Seharusnya kau tahu Haejin, kan? Dia kembali membuat Manajernya khawatir karena kabur bersama Yoonri, dan belum kembali hingga sekarang.” Wajah Donghae benar-benar berubah pucat. ”Tapi menurut hasil pencarian Siwon,” Sungmin melirik Siwon yang mencoba menatap ke segala arah kecuali Donghae dan Eunhyuk. ”Dorm Yoonri terletak di Farrer Park.”

   ”Farrer Park?!” ulang Eunhyuk lagi.

   ”Ne, di daerah Race Road,” lanjut Sungmin lagi. ”Kemungkinan Haejin juga ada disana, tapi kurasa ia akan pulang malam ini. Haejin meski begitu masih bertanggung jawab, kan?”

   ”Kita berangkat!” Donghae mendahului Eunhyuk berjalan, Prince Manajer hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengikuti, Eunhyuk juga ikut berlari mengikuti keduanya yang keluar dari dalam kamar.

   ”Ck! Begitu sulitkah jatuh cinta?” tanya Yesung miris, dengan wajah tak kalah memprihatinkan, membuat semua yang masih tersisa di ruangan tersebut menoleh menatapnya. ”Tidakkah lebih baik jika mereka mencari gadis baru saja?” tanyanya miris. ”Ah, aku takut jatuh cinta~”

   ”Hyung apa sih?!” tanya Siwon menatapnya ngeri.

   Kyuhyun geleng-geleng kepalanya.

   ”Hyung usiamu sudah nyaris kepala tiga juga, dan masih ingin semudah itu dalam menjalin cinta?! Aish, jeongmal~” Sungmin geleng-geleng.

   Yesung mengerang sedih. ”Omona~ ini mengerikan! Jatuh cinta mengerikan~ aku tidak mau seperti Donghae yang selalu kalang kabut melihat Haejin menyebut nama pria lain. Aku tidak mau seperti Hyukjae dan Sungmin yang mendekati gadis di bawah umur…”

   ”YA!” protes Sungmin.

   Tapi Yesung meneruskan orasinya. ”Aku tidak mau seperti Kyuhyun yang lempar-lempar piring! Tidak mau seperti Siwon, merana ditinggal kekasih ke negeri orang, dan tidak mau seperti Shindong yang mendapatkan keluarga materialistis…”

   ”YA!”

*           *           *

”Ini Farrer Park,” Prince Manajer memutar kepalanya ke jok belakang memberitahu dua pria yang tengah menatap serius keluar jendela mobil tersebut. Donghae di sisi kanan, dan Eunhyuk di sisi kiri. Keduanya benar-benar fokus menatap keluar dan mencari-cari.

   Waktu sudah menunjukkan tengah malam.

   ”Apa kalian yakin gadis-gadis itu akan keluar waktu segini?” tanya Manajer mereka kembali khawatir.

   ”Haejin masih belum pulang!” sahut Donghae yakin dan menatap ke jalanan lengang tersebut. Dan banyak gedung-gedung rapi berjendela banyak yang salah satunya kemungkinan dorm milik Yoonri. ”Mungkin dia menginap di dorm Yoonri?” duganya.

   Eunhyuk menatapi jendela-jendela yang ada di atas kepalanya satu persatu, baik yang gelap, maupun yang masih terang. Salah satunya pasti tempat tinggal kekasihnya, atau masih pantaskah disebut begitu?

   ”Jadi kalian mau menunggu?” tanya Manajer mereka bosan.

   ”Kalau Hyung mau pulang, pulang saja sana!” seru Eunhyuk ketus. ”Kami bisa kok tinggal disini, dan pulang dengan taksi!”

   ”Cih~” akhirnya sang manajer pun menyerah dan memilih menyandarkan kursinya. ”Apa yang dua gadis itu berikan kepada kalian hingga kalian seperti ini? Katanya international baby, tapi tidak ada yang bisa pindah hati~” gumamnya. ”Dan lagipula jika kalian kutinggal disini, kalian bilang apa pada supir taksinya nanti?! Bahasa Inggris kalian sebatas buku saku…”

   Tapi baik Donghae, maupun Eunhyuk tidak ada yang menyahut, supir mereka di depan apalagi, hanya bisa diam menunggu komando saja. Beranjak pukul satu, mereka bisa melihat dari kejauhan dua orang gadis tengah keluar dari dalam sebuah dormitory yang terlihat masih terang.

   ”Hyuk!” panggil Donghae.

   Eunhyuk langsung memasang kedua matanya tajam-tajam melihat lurus ke depan mobil mereka, dua orang gadis tersebut terlihat tertawa dan bergandengan. Satu diantaranya mengenakan kemeja putih pendek dengan top hitam di dalamnya, seluruh kancingnya dibiarkan terbuka, dan mengenakan short pants. Disebelahnya, gadis dengan rambut hitam bergelombang, memakai one piece dress mini, memperlihatkan kakinya, hanya mengenakan flip flop hitam.

   Yoonri dan Haejin!

   ”Jadi disitu dorm-nya…” gumam Eunhyuk pelan, sementara Donghae menatap lurus ke arah Haejin, yang semakin dekat berjalan menuju mobil mereka diparkirkan.

   Manajer berdecak. ”Ya! Itu mereka sudah muncul! Turun sana!”

   ”Nanti dulu, Hyung…” sahut Eunhyuk.

   ”Sepertinya mereka mau pergi?” tanya Donghae heran. ”Mereka mau kemana?” tanyanya lebih kepada dirinya sendiri. ”Dan apa itu? Memakai gaun tidur mini dan tipis begitu, hanya ditutupi cardigan? Apa-apaan dia?!” gumam Donghae khawatir saat Haejin sudah lewat di sisi jendelanya yang gelap.

   Prince Manajer menoleh, menatap dua orang di belakang joknya dengan heran. ”Kalian ini! Tadi di hotel kalian menggebu-gebu mau bertemu mereka! Sekarang giliran mereka sudah muncul, kalian malah melempem seperti keripik di dalam sini! Lalu apa gunanya aku mengantar kalian?! Ini sudah malam! Kasihanilah supir kita ini, Hyukjae-ya, Donghae-ya…”

   ”NANTI!” Donghae dan Eunhyuk berseru kompak membungkam sang Manajer.

   Pukul satu, satu jam setelah mereka menunggu, Haejin dan Yoonri masih belum terlihat kembali. Jalanan semakin lengang. Pukul dua, baik Donghae maupun Eunhyuk memutuskan untuk keluar dari dalam mobil, keduanya mulai dihantui rasa cemas, meski tidak saling mengutarakan.

   Nyaris setengah tiga, akhirnya Donghae tidak tahan lagi.

   ”Mereka kemana ya, Hyuk?” tanya Donghae tidak bisa menyembunyikan nada cemas dalam suaranya. ”Mereka hanya jalan berdua! Dan disana tadi kulihat banyak orang-orang besar dan seram~ pria!”

   Eunhyuk mengembuskan napasnya, lalu mulai mondar-mandir, sambil sesekali menoleh ke ujung jalan Race Cross Road tersebut. Tak ada tanda-tanda Yoonri dan Haejin yang berjalan kembali.

   ”Apa kita susul saja?” tanya Eunhyuk akhirnya sudah tidak tahan menunggu.

   Donghae mengangguk. ”Kurasa sebaiknya kita susul mereka.”

   Tapi baru mereka mau berjalan ke ujung jalan Race Cross Road, siluet dua orang gadis yang mereka tunggu-tunggu muncul! Menenteng banyak kantung dan suara tawa khas bening milik Yoonri, dan serak-serak basah milih Haejin bahkan mulai terdengar. Membuat Donghae dan Eunhyuk mendesah lega melihat dua gadis yang mereka cintai baik-baik saja.

   ”Dasar wanita~” keluh Eunhyuk. ”Kita nyaris mati menunggu mereka disini, dan mereka berbelanja, hebat!”

   Donghae menepuk-nepuk dadanya sendiri lega.

   ”Keundae, Hae…” Eunhyuk menoleh pada Donghae. ”Aku harus bicara dengan Yoonri.” Kata-kata tersebut sarat akan permohonan, permohonan agar Donghae dan Haejin tidak ikut dalam perbincangan yang mungkin akan panjang diantara keduanya. Sementara Donghae masih tidak mengerti harus berbuat apa pada sikap Haejin yang aneh belakangan ini.

   ”Iya, aku juga mau bicara,” sahut Donghae dengan kering. Keduanya bersandar pada kap bagasi mobil sedan yang membawa mereka kesini, sementara kedua gadis yang mereka tunggu, semakin mendekat, namun belum menyadari kehadiran mereka disini. Kedua gadis tersebut masih saja bercanda-canda, namun suara mereka sudah semakin jelas terdengar.

   ”Ayo, Hae…” ajak Eunhyuk.

   Keduanya muncul menghadang jalan kedua gadis yang kelihatan tidak terlalu memerhatikan sekitarnya, kecuali pada cerita keduanya sendiri. Keduanya memekik kaget, dan Haejin bahkan refleks mencengkram pergelangan tangan Yoonri, dan membawanya mundur ke belakang tubuhnya, seolah hendak melindungi gadis yang lebih muda beberapa tahun dari dirinya tersebut.

   Namun begitu melihat siapa yang menghadang mereka, keduanya terperangah dan saling mendekat satu sama lain, sambil mengalihkan pandangan mereka kemana saja, asal tidak pada kedua pria di hadapan mereka saat ini.

Haejin terperangah melihat siapa kedua pria yang menghadangnya kini setelah mencoba mendorong Yoonri ke belakang barusan. Awalnya ia mengira orang-orang ini adalah pria-pria India berkulit gelap yang kelihatan seram dan memerhatikan mereka dengan intens saat pergi menuju Mustafa Center untuk membeli cokelat. Tapi ternyata, yang menghadang mereka, lebih menakutkan dari apa pun… hati mereka sendiri.

   Haejin bisa merasakan Yoonri gemetar di sebelahnya, karena Eunhyuk terus menatapnya lurus, dan Haejin tahu kini Donghae pun tengah melakukan hal yang sama kepadanya, menatapnya tajam. Dan tiba-tiba saja, Eunhyuk sudah menggandeng Yoonri dan membawanya pergi, dan pria di hadapannya kini pun sudah menariknya menuju taman hijau menuju stasiun MRT Farrer Park.

   Haejin pasrah, dia tidak mungkin berteriak! Dia tetap tidak mau Donghae mendapatkan masalah! Bisa gawat kalau besok ada headline : Super Junior Donghae tertangkap tengah menculik Felidis Haejin di Singapore pukul setengah tiga pagi! Hubungan mereka selama ini bisa ketahuan publik, bukan hanya Donghae yang akan kena masalah, dia juga pasti~

   Mereka sudah berada di taman rumput tersebut, Donghae memunggunginya setelah melepaskan genggamannya, dan Haejin menunduk. Dia bisa melihat ujung sneakers Donghae yang berputar menghadapnya kembali, dan Haejin menarik napas dalam-dalam, memberanikan diri menengadah.

   Dua bola mata cokelat sendu itu menatapnya.

   ”Apa yang kau lakukan disini?” tanya Haejin pelan, heran.

   ”Mencarimu.” Jawab Donghae dalam.

   Dan itu benar-benar membuat Haejin kehilangan kata-kata lagi, dia tidak tahu harus berkata apa. Donghae, tidak lelahkah dia? Bahkan dia telah mabuk frustasi, tapi kenapa dia tetap tidak mau meninggalkan Haejin? Dan Haejin tidak tahan jika harus terus menyakiti Donghae untuk meninggalkannya.

   ”Untuk apa mencariku?” tanya Haejin akhirnya, setelah diam lama.

   ”Aku sudah melepasmu, iya.” Donghae mengangguk. ”Bagaimanapun aku memintamu kembali, kau tetap tidak mau, aku terima. Keundae, kau yang membuatku berantakan hari ini!” tekan Donghae sambil menunjuk, Haejin menatapnya bingung. ”Jangan bohong lagi, Lee Haejin! Kenapa kau minta aku meninggalkanmu, saat kau sendiri masih mencintaiku?!”

   Haejin gelagapan. ”Apa maksud…”

   ”Jangan mengelak!” seru Donghae cukup kencang. ”Kau tidak lelah kah membohongi perasaanmu?!” serunya kembali dan berdecak tak habis pikir sambil menggelengkan kepalanya dan menatap gadis di hadapannya lagi. ”Kalau memang kau sudah tidak mencintaiku lagi, boleh kutanya… apa yang kau lakukan sekitar pukul enam sore hingga sepuluh malam tadi, Lee Haejin?”

   Haejin tersentak, dia tidak bisa menutupi ekspresi kaget setelah tertangkap basahnya. Dan dia hanya bisa menatap Donghae ngeri, dan menggeleng-geleng.

   ”Kenapa?” tanya Donghae lirih. ”Aku sudah siap melepasmu, Haejin-ah… tapi kenapa kau sendiri yang menarikku kembali?”

   ”Aku… aku tidak menarikmu…” Haejin menggeleng.

   ”Lalu kenapa kau disana?!” seru Donghae frustasi. ”Kenapa kau bahkan tidak memedulikan bisa saja ada yang melihat atau mengenalimu?! Dan masih tidak mengaku menarikku?!”

   Dan Haejin nyaris terhuyung saat Donghae menarik paksa tangannya dan melihat sebuah cincin yang tersemat di jemari manis tangan kirinya. ”Kau datang kan?” tanya Donghae lirih dengan air mata yang lagi-lagi tak mampu di halaunya. ”Kau ada disana kan saat itu?”

   Haejin kini diam, tidak berani mengangkat wajahnya.

   ”Kau disana, kan?” ulang Donghae sambil berusaha meredakan tangisnya. ”Aku panik mencari cincin ini…” ditatapnya cincin itu sambil mengangkat tangan Haejin. ”Kenapa?! Kenapa kau memintaku melepasmu padahal kau tak bisa melepasku?! Kau mau buat aku gila?! Apa maumu?!”

   Haejin menunduk, bibirnya bergetar menahan tangis.

   ”Lalu kau mau aku berbuat apa lagi?” tanya Donghae habis sabar. ”Aku sudah coba semua yang kau lakukan, tapi kau apa?! Kau malah menghancurkan semuanya! Hebat‼!”

   Haejin tidak bisa menjawab.

   ”Lalu kau mau minta aku berbuat apa lagi, Haejin-ah?” tanya Donghae lagi. ”Kenapa tidak sekalian kau suruh aku mati saja?”

   Haejin mendongak menatap Donghae tajam.

   ”Aku tahu aku salah,” Donghae menatapnya serius. ”Dan jika kau minta itu untuk menebus kesalahanku, aku siap!”

   ”Ani, aku tidak minta begitu!” sahut Haejin cepat, menggeleng. ”Aku… aku… tidak siap…”

   Donghae menengadah menatap langit malam yang bertabur bintang setelah siang tadi diguyur hujan. Dia sudah tidak tahu harus berbuat apalagi demi menghadapi Haejin kini.

   Haejin terisak.

   ”Aku tidak akan memaksamu,” Donghae mengangkat kedua tangannya dan menatap Haejin sedih. ”Semua terserah padamu, semua terserah padamu. Untuk saat ini kutitipkan cincin itu padamu… terserah, kau mau mengembalikannya, atau mau terus memakainya…” gantung Donghae.

   ”Jujur, Hae…” Haejin mendongak sambil mengelus cincin tersebut, menatap Donghae. ”Aku tidak rela melepas cincin ini, cincin ini… bukan sebatas pengikat kita, cincin ini juga berarti kepercayaan Eommonim kepadaku.” Dihelanya napasnya pelan agar bisa lebih tenang dan tidak bergetar saat meneruskan. ”Aku berbicara sejujur-jujurnya padamu sekarang, Hae… aku mencintaimu, itu tidak bohong. Tapi, aku ragu untuk kembali… itu saja.”

   Donghae diam, menunggu, masih sambil terus menatap Haejin.

   ”Aku tahu ini terdengar egois,” dan kini Haejin mengisak. ”Tidak melepaskanmu sepenuhnya… tapi aku tidak bisa dengan mudahnya kembali kepadamu. Aku hanya mengulangnya di dalam diriku sendiri, bahwa aku tidak boleh menerimamu begitu mudah setelah apa yang kau lakukan kepadaku.”

   ”Jadi maksudmu kau belum puas menyiksaku?!” suara Donghae mendadak meninggi kembali.

   Haejin menggeleng-geleng kalut. ”Kalau hanya kau yang merasa tersiksa kau salah! Aku juga tersiksa!”

   ”Lalu kenapa?!” seru Donghae frustasi. ”Kau tahu aku tersiksa! Dan kau sendiri tersiksa?!”

   ”Nado molla.” Haejin menunduk.

   ”Oke, terserah!” seru Donghae tajam dan ditinggalkannya Haejin begitu saja menatapnya nanar. Beberapa langkah kemudian Donghae berbalik, dan berkata. ”Kau tahu mulai detik ini aku akan berdoa agar setidaknya kau hilang dari kepalaku!” serunya berapi-api, dan terluka.

   Haejin menggigit bibirnya menahan tangis.

   ”Kau bahkan tidak mengejarku! Semoga aku lelah dan tidak mengganggu hidupmu, itu kan yang kau mau?!” dan Donghae benar-benar berlalu tidak menoleh kembali pada Haejin yang meratapi dirinya sendiri.

-To Be Continued-

Sebetulnya part ini udah selesai dari kapan tau, tapi masalah yang belakangan ini menimpa bener-bener bikin nggak konsen untuk internetan ==” Alhamdulillah sekarang masalahnya sudah selesai *hula-hula* dan bisa dengan tenang ngepost ff ini… oh iya, seharusnya ini part terakhir… endingnya pun udah aku bikin, tapi sengaja aku cut disitu supaya @erissomnia atau Kim Yejin bertanggung jawab! #plakk Publish YWM dulu, baru last chapternya Still aku publish :p jadi readers yang nagih, tagih Yejin dulu yaaa… baru aku mau posting ending Still nyahahaha…

Sebagai intermezzo juga, cerita lightstick mati di atas itu pengalaman pribadi waktu nonton Super Show 4 di Singapore kemarin hehehehe, aku desperate banget nyalain itu lightstick , bedanya di Singapore kemaren yang benerin LS-ku Adik sepupuku, bukan si Yoonri, Yoonri duduknya beda section sama aku hahahaha, tapi cerita yang kita belanja jam 1 pagi sampe jam 3 pagi itu NYATA! Wkwkwkwkwk, untung itu Singapore, kalo di Indonesia, itu kita udah digodain sama tukang ojek kali jalan-jalan tengah malem pake daster sama hotpants doang hahahahaha…

Sampai jumpa di part akhir, dan ada yang nonton SS4 Ina Day 2??? Yuk yuk yuk ketemuan yuuuuk… mau kenalan sama kalian semua heheheheh…

119 thoughts on “{JinHaeXy} STILL ~Part 7~

  1. Aduh aduh…. Nie pasangan ikan kmpak bget dlm urusan pcar….
    Duh onnie krain bkal blikan dsni trnyta msih lnjut lgi…. Tpi q ttp sbar nunggu kq🙂
    Onnie, drimu tga q sdh galau gra2 SS4 dtmbah lgi bca ff nie, tmbah galau n nyesek dh….
    Ay jinhae cpat blikan donk… Jgan nyakitin dri sndri trus, haejin onnie bri ksmpatan lgi dong bwt donghae oppa…kshan t haeppa ampe sgtu x..
    Bwt YWM jga d tunggu lnjtan x lho… Hehe…
    Pkok x smua ff d blog nie q tunggu bget lnjtan x….

  2. ehhmm*ngetes* xD
    bacanya kmrin tpi skrang bru komen,gpp tho unnie nisya??🙂
    nggk sbar nunggu jinhae baikan neh, si haejin masih lara hati ye*sukurinhae
    feelnya dpet unn, rada nyesek aku kalo baca bgian jinhae kalo debat -__-, yahh ditunggu nextnya dan mga cepet blikan ye#kesihanlihat neh couplepadangesiksa
    -unnie enak ye pernah ke SG#envy
    ohh ya unnie nisya,titip salam buat para superman terutama KYUHYUN di SS4INA nanti ya??#nasib kgak nnton*garuk2tembok
    PS-Mian ya unn kalo ngoceh kgak penting,hehe

  3. Ternyata ada yang pengalaman pribadinya Nisya, paling terkesan sama ceritanya waktu lighstick Haejin baru nyala pas Donghae oppa yang nyanyi. Wahh sweet sweet, ikut rasain juga sakitnya pas akhirnya Donghae oppa pergi ninggalin Haejin dengan kata-katanya yang wow. Ahahahaha suka FF ini deh pokoknya!!!

  4. Aduh kok jadi tambah rumit ya hubungan!
    Harusnya Haejin beri Donghae kesempatan sekali lagi (maunya)
    orang mokpo yg dua ini kok demen bangat nyiksa perasaan diri sendiri…

  5. Hwaa ! uda udah dong berantemnya . cepat balikan. .
    baca jinhae jd ikutan galau juga😐
    Hae marah ntuh. masa ninggalin haejin gtu aj.
    moga d still ending jinhae baikan🙂

  6. eonni pas banget nge TBC nyaaa..pas banget bkin orang penasaran ._.
    wah..makin memanas nih jinhae..
    tapi akhirnya happy ending kan? #sok tau #ngarep

    aku juga nunggu banget YWM..ayo cpet di publish juga author…hehe😀

  7. whoa~~ ini judulnya “2 ikan mencari cinta” ya? kompak bgt si EunHae ini ㅋㅋㅋ tp ehm.. TBC-nya….. kirain msh lanjut ㅠㅠ ah ayo dong ini haejin manggil si donghae lg kek, biar baikkan gt *reader sotoy* wkwkwk penasaran bgt sama lanjutannya~~~ eris ayo publish YWM!!!😄 aku jg kangen bgt sama si YeWook, lama bgt ga nongol dua org itu >.<

  8. . huaaaa! haejin jahat. hae oppa ksiksa tuh!!
    . suka blang suka, ngga blang ngga! jgan nggantung gtu dong haejin….

  9. Yaaahhhh di part ini mereka belom balikan??? Asdfghjkl geregetan sendiri akuuuu
    Hufth berarti next chapternya ending atau gimana?? Aku tunggu next partnya kalo begitu hehe ^^
    Onnie nonton day2?? Tanggal 29?? Sama dong onnie ^^

  10. huaaa belum balikkan juga ternyata~
    gila pasti Hyejin tangannya mau putus itu ttd 50%
    kekeke~
    owh jadi cerita lighstick mati itu nyata toh
    wkakakak ngakak lihat gupuhnya EunHae nyari JinRi, kesian manajer hyungnya dilibatin dlm cinta anak mudah hahaha

    daebak!!
    makin penasaran sama lanjutannya,.
    oh, jadi harus nagih ke Yejin onnie nih wkakakak

    onnie fighting ya buat ff nya^^

  11. Huwaaah, gila. Firasatku gak salah. Part ini tetep membawa topik yang sama. G-A-L-A-U.

    Rasanya jadi rada sebel juga ama haejin. Padhl msh suka, tp susah bgt buat kembali. *cubit gemes haejin*

    nisya, aq tepati janjiku, wkwkwk.
    Oh, iya. Berarti bentar lg still publish dong?
    Hassik…
    Endingnya pokoknya kudu balikan. Wkwkwkwk

  12. eonniii…
    begalau terus baca jinhae TT_TT
    haejin eonni susah bgt kyak.ny buat ngakuin kalo msih cinta jd gemes sndri baca.ny !!

    wehehehe..jd crta yg lightstick susah nyala NYATA
    wkwkwk…

    go EUNHAEEE go MINHAE

  13. duo ikan kompak euy pada datengin sang pujaan hati..
    ah, itu kasian prince manager d suruh nunggu.. sini aku temenin..xD
    #plaak
    #ditabokyesung

    eh, yesung udah tua ya.. kapan donk bang mau nikahin aye.. xD #abaikan

  14. Tuhkan emang klo jodoh ga kemana deh.. ihihi~
    Kenapa yah eunhae itu kompak banget.. jadi miris ih bacanya *kalem*
    Yoorin sama hyuk kasian juga masalahnya kyaknya berat.. jadi mau tau #kepo😄 ~ nanti baca yg rihyuk deh..wkwk~
    Kenapa? Ujungnya kyak gini lagi? saya hanya bisa memandang miris karena sayapun tidak lebih baik dari keadaan momma poppa ini… aigooo~ mau bilang ini tapi gaboleh.. itu hak haejin dan donghae jadi saya senyum ajadeh ..ihihi ._.v

  15. Aaaah pst seru tuh haejin sm yoonri blanja duaan d mustafa ehehehe… Cepetlah kalian balikan uhuhuhu kangen sm romantis2an n cmburu2ny kalian be 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s