[1ST WINNER FF] SEA & SKY

Gyaaaaa! Akhirnya datang dengan JUARA SATU!!! *GAK NYANTAI* Aku excited banget pertama kali baca judulnya… hueeee, akhirnya, dua malaikat kecilku ikutan main FF *lap air mata* wkwkwkwk… FF ini karangan Orin hehehehe… dan aku bener-bener jatuh hati sama setiap bait kata yang Orin tuangkan disini… Keindahan kota Cannes, legenda yang ada di Palm Beach, dan KEBETULAN si Abang lagi ke Paris kan? #plakk Kudu di ajak ke Cannes nih buat nyari rasi bintang Zivo yang konon katanya bisa……….. wkwkwkwk silakan baca sendiri lanjutannya… FF yang kaya akan keindahan kota yang belum pernah aku datangi, berikut dengan pengetahuan lainnya… enjoy ^^ KOMEN!!!

SEA & SKY

Saat kau memandang hamparan laut,

Maka kau akan menemukan pemandangan langit di atasnya.

 

Saat kau menengadah pada langit,

Maka kau akan menemukan lautan tak berujung di dalam sana.

 

Dan saat kau menatap laut dan langit dalam satu raga yang sama,

Maka kau akan menemukan sebuah keindahan atas keduanya.

Keindahan yang mempesona,

mesti tak selalu tentang sempurna..

Gadis kecil berusia 8 tahun itu kembali merapatkan jaket yang menutupi seragam coklatnya. Tersenyum sambil sesekali merapikan rambut-rambut liar yang mencuat keluar dari bandana biru yang membingkai rambutnya. Ia harus tampil cantik di hari story telling pertamanya, kan?

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling kelas. Menatap anak-anak lain yang juga tengah sibuk menghafal buku-buku cerita mereka, para orang tua yang mulai berdatangan untuk menonton, atau para Saem yang tampak sibuk mendekorasi sebuah panggung kecil di depan kelas. Ini akan sangat mengasyikkan, bukan? Ia melirik puas pada sebuah buku agenda dalam genggaman. Buku yang cukup besar sebenarnya jika dibandingkan dengan kedua tangan mungilnya yang tertutup sarung tangan itu. Ia tersenyum penuh arti sambil memeluk agendanya lagi, kemudian melongokkan kepala keluar jendela kelas..

“Mengerikan..” desis seseorang, tiba-tiba.

Gadis itu menoleh dan mendapati pria kecil seumurannya tengah berjalan mendekat sambil setengah bersungut, “Noona, berhenti tersenyum-senyum sendiri seperti itu. Kau tampak sangat mengerikan..”

Si gadis membalikkan badan, lalu mendengus mengerucutkan mulut, “Ya! Kau mengganggu imajinasi Noona!”

“Cishh~ Imajinasi mwoya? Memang otak Noona itu berfungsi?”

“Ya! Apa kau bilang?”, delik gadis itu.

“Ishh.. Jangan marah dulu! Shin Saem memanggilmu..”

Mendengar nama ‘Shin Saem’, gadis itu langsung tersenyum lagi, yang segera disambut dengan gedikkan ngeri sang adik. Gadis itu kembali menatap agenda di tangannya, dan lagi-lagi tersenyum puas. Seolah apa yang tertulis di dalam sana adalah sebuah harta paling berharga yang dimilikinya saat ini.

“Noona~” si pria kecil merajuk, menatap sosok kakaknya itu dengan ragu, “Apa kau yakin akan melakukannya?”

Si gadis menggangguk cepat dan mengedipkan sebelah matanya. Mata azure yang cantik, mata azure yang sangat mirip dengan pria kecil di hadapannya. Mirip? Ya, lagi pula wajah mereka memang mirip satu sama lain. Ada yang salah? Tentu saja tidak. Apa yang salah dengan sepasang anak kembar yang berwajah mirip?

Si pria kecil menelan ludah, “Bagaimana jika Appa dan Eomma marah?”, ia mendengus menatap sang kakak yang mulai tak mengacuhkannya lagi, “YA!! Kenapa Noona benar-benar keras kepala sih?”

“Kenapa?” gadis dengan bandana biru itu memutar matanya, “Tentu saja karena aku anak Eomma..” dan ia tertawa kecil, kemudian mulai melangkah kearah panggung kecil di muka kelas.

“Noona, tapi-”

“Kau..” Gadis itu menoleh, menatap sinis pada adik kembarnya, “Apa harus Noona cium dulu agar kau berhenti protes?”

“Mwo?” Si pria kecil tiba-tiba saja refleks melirik pada sosok gadis kecil berkucir dua di pojok kelas yang masih sibuk dengan buku ceritanya, “Andwae!!”

Sang kakak terkekeh puas. Ia mengerling nakal pada adiknya dan gadis berkucir dua tadi, sebelum kemudian berlalu dengan langkah riang. Ia naik pelan-pelan keatas panggung diiringi tepukan meriah dari para Saem dan para orang tua murid –kecuali orang tuanya yang memang masih belum tampak-. Ia membungkuk memberi hormat, kemudian meletakkan agendanya diatas meja kecil di hadapannya yang tampak seperti podium.

Gadis itu tersenyum. Ia mengambil sebuah kapur dan mulai menggambar sesuatu di papan tulis. Saka. Sebuah bangunan tinggi. Menara. Atau… ya, lebih mirip dengan bentuk huruf ‘A’ memanjang sebenarnya. Sedikit ambigu, tapi semua orang disana jelas paham dengan bentuk apa yang coba digambarkan olehnya.

“Eifel..” segurat senyum terkembang di bibir gadis kecil itu, ia meletakkan kapurnya lagi ke  atas meja, “Semua orang mengatakan bahwa Paris adalah kota terindah di Prancis..”

“Tapi bagi kami..” ia lalu melirik pada sosok adik kembarnya yang saat ini tengah bersandar pasrah pada bingkai jendela kelas, “Cannes adalah kota terindah dan terajaib di Prancis. Karena disana, Tuhan mempertemukan Appa dan Eomma melalui kami..”

…………………………….

…………………………….

***

Setiap detiknya…

Terhitung dalam tiap senyum kecil dari seorang bocah.

Terwakili dengan celoteh kecil tentang laut dan langit.

Semua berlalu begitu saja,

Tanpa kita pernah menyadari bahwa saat itu Tuhan memberi kita sebuah awal..

 

***

(1994, March 30th. Cannes, France..)

 

Côte d’Azur, Cannes. Malam yang cukup hangat di akhir Maret ini seolah menutup sempurna Festival de la Plaisance (Festival Kapal Pesiar) beberapa jam lalu. Sepi. Namun Palm Beach, pantai azure yang melandai luas di dekat pegunungan Alpen itu bahkan tak pernah kehilangan pesonanya dalam hening seperti ini. Di pinggir pantai yang sepi itu, tampak lentera kecil yang tergantung pada sebuah tiang besi di dekat tapak canal. Menerangi sebuah scene kecil kehidupan, yang akan mengawali sebuah kisah..

“Huaaaa… cantiknya…”

Di atas sebuah rakit yang tertambat di tepi pantai, seorang gadis kecil tampak menghanyutkan perahu-perahu kertas berisi lilin-lilin kecil ke tengah laut. Beberapa kali ia memekik kecewa saat lilin-lilin itu padam tertiup angin. Wajah khas Asianya tampak begitu lugu, rambut ikal coklatnya yang dikucir dua itu terlihat berantakan karena diterpa angin laut yang tak berhenti berhembus sejak tadi.

“Hey, kau sedang apa?”

“Mom?”

Gadis kecil itu menoleh, ia tersentak saat mendapati seseorang yang menyapanya itu bukan sang ‘Mommy’, melainkan seorang pria kecil yang tampak lebih tua beberapa tahun darinya. Ia menggeser mundur badannya sambil memeluk lutut erat-erat. Rakit kecil itu bahkan nyaris saja oleng jika ia mundur sedikit lagi,

“Jangan takut!” cetus si pria kecil spontan,

“Kau siapa?” Tanya gadis kecil dengan suara bergetar.

Si pria kecil mulai maju pelan-pelan, menyeimbangkan badannya untuk melangkah naik ke atas rakit, kemudian ikut berjongkok di hadapan gadis itu. Tersenyum. Ia merogoh saku celana panjangnya dan mengeluarkan sebungkus permen cherry, “Kau mau permen?”

Gadis kecil itu menggeleng, “Mommy bilang kita tidak boleh menerima sesuatu dari orang asing..”

“Aku bukan orang asing..”

“Orang asing!”

“Bukan!”

“Lalu kau siapa?” tanya gadis kecil, “Peri laut?”

Si pria kecil mentautkan alisnya, “Peri laut?”

Gadis kecil mengangguk pelan sambil menggembungkan pipinya, “Mom bilang, kalau kita menghanyutkan perahu-perahu kertas di pantai selatan Cannes, kita bisa bertemu dengan peri laut yang akan mengabulkan semua permintaan kita,..”

“Tapi yang datang malah orang asing..” tambahnya.

“Aku bukan orang asing!” Si pria kecil dengan jengkel memutar matanya, “Eumh… memangnya, jika peri laut datang, apa yang akan kau minta?”

“Sky akan minta sebuah malam yang penuh langit berbintang!”, pekik gadis kecil itu, sepasang mata coklatnya nampak berbinar, “Sejak Sky dan Mom tiba di Cannes seminggu yang lalu, Sky belum pernah melihat langit Cannes yang berbintang..”

Pria kecil berjengit, “Sky?”

Gadis kecil yang memanggil dirinya ‘Sky’ itu mengangguk antusias, “Karena aku suka sekali dengan langit, Mom selalu memanggilku Little Sky..”, senyumnya, bangga, “Kau juga bisa memanggilku begitu..”

“Baik. Sky! Kalau begitu, kau juga harus memanggilku Sea!”, tukas si pria kecil, setengah terkekeh. Ia merayap pelan ke tepi rakit, lalu menyilangkan kakinya disana, memandang hamparan laut luas dihadapannya, “Karena aku menyukai laut. Laut Azure kebanggaan Cannes..”

Kemudian hening. Keduanya diam. Dalam satu rakit. Dalam pikiran yang sama. Pada objek yang berbeda. Sea tampak diam memandangi perahu-perahu kertas berlilin yang mulai menjauh, mengamati cahayanya yang semakin redup. Sementara Sky justru mendongak ke atas. Gadis kecil itu masih berharap bisa menemukan kerlap-kerlip bintang pada tirai malam yang gelap di atas sana..

“Woahh.. cantiknya! Apa itu?”, pekik Sky tiba-tiba.

Sea langsung menoleh, “Ahh… itu Zivo!”

Dahi Sky berkerut bingung, “Zivo?”

Sea mengangguk-angguk semangat. Ia lalu mengulang apa yang dilakukan Sky sebelumnya, -menunjuk sebuah rasi bintang yang tampak samar di arah selatan-. 5 titik bintang yang membentuk garis lengkung menuju ujung lautan. Zivo. Rasi bintang dalam mitologi Catres yang ajaib. Rasi bersimbolkan setengah sayap, yang hanya muncul 7 tahun sekali dan dipercaya orang-orang Cannes sebagai titik penciptaan langit dan laut azure.

“Zivo adalah rasi bintang ajaib dari Catres! Dia adalah titik bersatunya laut dan langit. Tidak akan bertahan lama!”, jelas Sea, terburu-buru, “Cepat, Sky! Kita harus minta permohonan!”

Then, they make a simple wish..

Dan ssttt.. ini rahasia! Tidak ada yang perlu tau tentang sebuah harapan lugu dari kedua bocah kecil itu. Ya, cukup Tuhan, diri mereka sendiri, dan Peri Catres pelindung Zivo –Jika ia memang benar-benar ada-

“Sea..”, panggil Sky kecil.

“Hemh?”

Sky menurunkan kakinya ke bawah rakit dan memain-mainkannya di dalam air, “Disini, Sky tidak punya sahabat. Sea mau jadi sahabat Sky?”

***

Sebuah awal yang mungkin akan terus berlanjut,

Dan menggariskan sebuah takdir yang akan membawa kita kedalam sebuah kisah..

Kisah indah yang alur dan akhirnya tergenggam ditangan kita sendiri..

Kita.. dan keajaiban dari lautan langit azure..

***

(2009, August 21th. Cannes, France..)

“Tentu saja aku akan tetap menemaimu! Aku ini kan sahabatmu, Sky~”, pria itu merangkul gadis di sebelahnya dengan gemas.

Sang gadis mengerucutkan mulutnya dan langsung menjitak kepala pria itu tanpa sungkan, “Haejin! Lee Haejin! Sudah berapa kali aku mengatakan padamu untuk memanggilku dengan benar, Lee Donghae?”

Donghae terkekeh, pria itu melepaskan rangkulannya dan kembali memainkan  slours camera yang sedari tadi ia anggurkan menggantung di leher, “Waey? Aku lebih suka memanggilmu Sky seperti saat kita kecil dulu..”

“Childish!”, desis Haejin. Gadis itu mengapitkan note booknya diantara leher dan dagu, menggigit pulpen birunya di mulut, sementara kedua tangan mengangkat tinggi rambut dan mengikatnya ke atas, “Ahh.. panas sekali hari ini..”

“Ck, udara di ketinggian sepert ini kau bilang panas?”, decak Donghae. Ia mengarahkan lensa cameranya, mengambil beberapa gambar Haejin dengan asal, “Tebal kulitmu itu melebihi pinguin atau apa?”

Lee Haejin tak acuh. Ia sudah sibuk lagi dengan pulpen dan note booknya dan kembali melangkah. Menyusuri setiap blok Jardin Exotique dan memperhatikan ratusan jenis tanaman di dalam sana. Ya, Jardin Exotique, sebuahtaman di daerah Montecarlo yang menampilkan berbagai jenis bunga dari seluruh pelosok bumi. Letaknya di ketinggian utama sisi perbukitan Alpen, sehingga setiap pengunjung bisa menikmati indahnya tanaman-tanaman dengan view kota juga tepi pantai indah yang ada di bawah sana..

Mungkin terdengar mengasyikkan, tapi tidak lagi saat kau sudah puluhan kali mengitarinya! Bayangkan saja, dua kali setahun, setiap sekolah di Cannes dan Montecarlo selalu mewajibkan semua muridnya untuk mengadakan karyawisata ke tempat ini!

“Ahh… okay, will make  you blue!”, gumam Donghae. Untuk kesekian kalinya ia membaca slogan ‘monoton’ pada dinding kaca bermanekin di atas mercusuar tertinggi dan lagi-lagi memotretnya.

Membosankan. Terlampau membosankan jika saja tidak ada langit biru di atas mereka. Terlampau membosankan jika saja tidak ada hamparan laut yang juga biru di bawah mereka. Lee Donghae mengambil beberapa gambar tanaman Carlu yang sebelumnya diminta Haejin, kemudian berjalan mendekat kearah gadis yang saat ini sibuk mengamati bunga Eranthis itu..

“Yak! Sampai kapan kau akan terus mencatat di tempat membosankan ini? Aku lapar!”, dengus Donghae, ia menatap lekat pada sosok Haejin yang masih tampak serius, “Kau tau, Chef jenius Alain Llorca baru saja membuka sebuah restoran di seberang sana, dan kita harus tetap di tempat penuh makhluk hidup pasif ini?”

“Wait!”, Haejin mengacak-acak rambutnya, frustasi, “Kau tau kan? Madam Verge akan membunuhku jika aku tidak menyelesaikan semua tugas ini! Dan itu artinya, tidak akan ada liburan musim panas yang bebas…”

“Tenang saja, aku akan meluangkan ‘sedikit’ liburan musim panasku untuk membantumu membersihkan seluruh halaman Monaco University..”, sahut Donghae.

“Ck, bukan itu…”

“Lalu?”

Haejin mendengus, “Jika wanita singa itu memberi jam tambahan di musim panas untukku, maka aku tidak akan bisa ikut karantina Moarto Claude deBussy…”

“What?”

“Moarto Claude, kontes modeling paling bergengsi tahun ini… kau tau, kan? Pemenangnya akan menjadi presenter dalam festival film Cannes tahun depan!” Jelas Haejin, entah sejak kapan ia mulai mengabaikan ‘kesibukan’ mencatatnya sejak membahas kontes modeling yang diidam-idamkannya itu.

“Kontes modeling? Apa kau yakin?”, tanya Donghae yang langsung disambut anggukan cepat dari Haejin.

Sedetik kemudian pria itu tersenyum melecehkan, “Tapi kurasa kau akan kalah..”

Haejin melotot tajam, “Ya! Kau menyumpahiku?”

“Tidak. Hanya saja, eung~”, Donghae memutar matanya, jahil. Pria itu menatap lekat sosok Haejin dari ujung kaki hingga ujung kepala. Bahkan saat mendongak pun, puncak kepala gadis itu tak sampai setinggi bahunya, “Berapa tinggi badanmu?”

“Pendek..”, tambahnya dengan wajah tanpa dosa.

“………”

“YA! LEE DONGHAE! KAU SUDAH BOSAN HIDUP?”

***

Lalu ketika mereka mengatakan laut dan langit bertemu di Cakrawala,

Aku akan mengatakan bahwa itu salah.

Laut dan langit tak pernah bertemu..

Namun Tuhan menggariskan mereka untuk bersama dalam sebuah warna.

***

(2009, Sept 13th. Cannes, France..)

Croisette…

Satu hal paling istimewa yang membedakan pantai ini dari pantai-pantai lain di Cannes adalah, daratan berpasirnya yang membentuk sebuah cekung bulat. Cukup memutar pandang dari pantai Croisette, dan kau sudah menghadap pemandangan penuh air lainnya. Le Squide, pelabuhan lama dengan arsitektur romawi klasik yang dikelilingi ‘3 Forve Catres’ itu menyambutmu. Ya, Forve Catres, 3 bangunan suci yang dibangun di tengah laut, Chapel Saint, Castre Museum dan Gereja Notre-Dame d’Esperance.

Maka, inilah pantai terbaik yang dimiliki Cannes. Dimana kita bisa menikmati pantai berpasir putih, bermain-main dengan air laut berkadar garam rendah, atau sekedar duduk-duduk berjemur menikmati matahari yang menyapa hangat di musim panas seperti ini..

‘Ckreekkk…’

Lee Donghae menurunkan lensa kameranya dan tersenyum simpul. Sedetik kemudian, sepasang manik matanya tiba-tiba teralih pada sebuah benda kecil yang terdampar tak jauh dari tempatnya. Bintang laut.

Tangannya terulur meraih bintang berduri itu, “Sama seperti langit, laut juga punya bintangnya sendiri..”

“Tapi bintang di langit tetap lebih cantik,” sahut sebuah suara.

Seorang gadis berambut coklat ikal dengan mini dress hitam yang membalut tubuhnya, mendudukkan diri di sebelah Donghae. Dengan kesal ia membuang sepasang sepatu Feragammon ber-hak 15 centi yang sedari tadi dijinjingnya itu ke atas tumpukan pasir putih Croisetto beach.

“Bagaimana?”, tanya Donghae.

Gadis yang tak lain adalah Haejin itu mendengus, ia meluruskan kedua kaki, membiarkan riak-riak ombak kecil mencucinya dari butir-butir pasir pantai, “Tentu saja.. Gagal! Kau benar, sejak awal aku memang tidak mungkin menang..”

“Cishh.. Lee Haejin!” Donghae mengacak-acak rambut gadis yang tampak cemberut itu dengan sebelah tanganya, “Don’t give up!”

“……..”

“Come on! Smile..”, dengan gemas Donghae menarik paksa kedua pipi Haejin, mencoba membuat seulas senyum di bibir gadis itu, “Yap! Tahan!”

Ia buru-buru meraih meraih camera yang tergantung di lehernya, lalu..

‘Ckrreekkk…’

“Akkhh.. kenapa kau memotretku? Aku terlihat jelek!”, racau Haejin.

“Waey? Kau tidak jelek!”, Donghae menurunkan cameranya dan menyentik kecil dahi gadis itu, “Dengar, Lee Haejin! You’re like a Sky! Dan kau tau? Semendung apa pun langit, seberapa banyak pun badai yang menutupinya, ia akan selalu terlihat cantik. Karena selamanya ia tetap biru…”

Haejin menghela nafas, ia menyandarkan kepalanya di pundak Donghae, “Berhenti berpuitis seperti itu, Hae. Kau tidak merasakannya..”

“Ya, memang. Tentu saja aku tidak merasakan bagaimana perasaanmu, karena langit dan laut tak pernah sama, kan?”, Donghae merangkul pundak rapuh Haejin dan menggenggamnya erat-erat, “Tapi setidaknya aku paham dan mengerti, karena…”

“Langit dan Laut, tergaris dalam sebuah warna..”, sambung Haejin, gadis itu tersenyum. Ia selalu merasa lebih tenang saat Donghae menghiburnya dengan kata-kata itu.

Donghae terkekeh mengacak-acak rambut Haejin, “Good girl..”

“Akhh… bisakah kau tidak mengacak-acak rambutku?”, dengus Haejin.

“Any problems?”

“Yak! Tanganmu berpasir dan aku baru saja keramas!”

“So?”, Donghae melempar senyum sinisnya, “Do you think I care with you?”

Haejin mendelik sebal dan langsung memukul-mukul pundak Donghae dengan kedua tangan. Tapi pada akhirnya, seperti biasa, ia tetap saja makin membenamkan kepalanya dalam dekapan pundak pria itu.

Sepi sejenak…

…………………

“Lihat!”, perlahan Donghae melepaskan tangan kanannya dari pundak Haejin, kemudian menunjuk kearah langit biru yang terbentang luas di atas mereka, “Kau disana..”

“Ada banyak hal dan peristiwa yang terjadi di atas langit, begitu juga dengan kehidupanmu,” Donghae tersenyum, beralih merapikan poni Haejin yang sedikit berantakan terterpa angin, “Jika kegagalan diibaratkan hujan, dan keberhasilan diibaratkan matahari, maka kau butuh keduanya untuk melihat keindahan pelangi..”

Dan disana, di dalam dekapan hangat seorang Lee Donghae, Haejin mulai tersenyum. Hujan, matahari dan pelangi? Akhh.. Kenapa ‘Sea’-nya itu selalu bisa membuat hatinya damai dalam waktu singkat? Darimana pria itu bisa mendapatkan kata-kata ajaib untuk membuatnya tersenyum lagi dalam sekejap?

“Sea…”, panggilnya, sedikit manja.

“Ya?”

Haejin mendongak, “Terimakasih sudah menjadi sahabatku..”

Donghae tersenyum, “Kau ti-”

“Nadine!!”

Keduanya menoleh, seorang pria berwajah asia tampak keluar dari mobil sport hitamnya dan melambai kearah mereka –atau lebih tepatnya pada Haejin-. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya tampan, rambut coklatnya yang nampak agak panjang terlihat berkibar terkena angin. Perfecto dengan kemeja gradasi biru laut modis yang membalut tubuhnya..

Haejin tersenyum, “Minho-ya..”

Donghae reflek menyenggol bahu sahabatnya itu, “Who?”

“Teman…”, sahut Haejin sambil melambai pada pria bernama Minho itu, “Dia banyak membantuku saat Moarto Claude kemarin…”

Donghae memicingkan matanya, “Ahh… jadi dia yang membuatmu tidak menghubungiku selama karantina?”

“Dwue aniyo~ aku benar-benar sibuk!” panik Haejin.

Dwue aniyo?”, dahi Donghae berkerut heran kali ini, “Sejak kapan kau mulai menggunakan logat Mokpo-mu lagi?”

“Eh?”

Sejak ia sering mengobrol bebas bersama Minho selama karantina, tentu saja. Tapi entah kenapa Haejin tidak bisa mengatakan itu pada Donghae. Why? Kenapa ia tidak bisa jujur tentang ini pada sahabatnya sendiri? Entahlah.. Pada akhirnya Haejin tak sempat menanggapi pertanyaan itu karena sosok Minho sudah berada di depannya sekarang. Tersenyum memikat sambil memutar-mutar kunci mobilnya.

“Nad, aku kebetulan saja lewat dan melihatmu disini..”, Minho dengan santai mencondongkan wajahnya dan mencium pipi kanan kiri Haejin,

“Ya! Kau tidak bisa mencium pipi seorang gadis seenaknya!”, hardik Donghae.

Minho tersenyum mengejek, “Well, tentu saja aku bisa. Ini Cannes…”, ia lalu beralih lagi pada Haejin, “Ah.. Nad, aku ingin pergi makan siang, kau mau ikut? Kurasa kau juga belum makan, kan?”

Haejin menggosok-gosok lehernya, “Eung~ Ya, belum. Tapi..”

“Ahh.. aku juga ingin bicara tentang Moarto Claude! Kau harus tau bahwa Mr.Scoil berencana mengadakannya lagi bulan depan di Paris. Dan kau harus tau bahwa..”, Minho mendekatkan bibirnya ke telinga Haejin, “Aku yang dipercaya untuk mengurusnya..”

“Benarkah?”, pekik Haejin, tampak tertarik.

Minho mengangguk pasti, “Jadi, mau menemaniku makan siang?”

Haejin bimbang. Gadis itu menoleh pada sosok Donghae yang sedari tadi hanya diam sambil memainkan kamera di sebelahnya. Dengan sepasang manik coklatnya, Haejin seolah meminta tanggapan Donghae. Ia ingin pergi, tentu saja. Ini tentang impiannya menjadi seorang model! Tapi diam-diam, ia berharap pria itu menahannya untuk pergi. Diam-diam, ia berharap pria itu memintanya untuk tetap disini. Tetapi..

Donghae tersenyum, “Why? Yasudah, pergi saja..”

***

Dan suatu saat, ketika awan mulai datang dan menyisip..

Saat itulah laut dan langit tak lagi berhadap serasi,

Suatu saat, ketika warna lain mulai menghalangi pandangan..

Saat itulah laut dan langit tak banyak berceloteh..

***

(2009, Nov 8th. Montecarlo, France..)

Seorang lelaki Prancis tersenyum di antara asap rokok yang berhamburan dari mulutnya. Segelas beer di atas meja teronggok manja di antara jemarinya yang kurus. Sementara Haejin, mengamati caranya menghisap lintingan tembakau itu lamat-lamat. Terkadang ia beralih memperhatikan gerakan jemari pria disebelahnya, -Choi Minho- setiap kali meraih gelas vodka sebelum menenggaknya pelan-pelan.

“Jadi, konsep seperti apa yang kau pikir akan cocok untukmu?” Mr.Zack mematikan putung rokoknya.

Haejin memainkan segelas cocktail di tangannya, “Saya tidak terlalu mengerti tentang konsep yang saat ini tengah menjadi incaran mode Paris..”, ia lalu melirik pada Minho, “Kau bisa membantuku, kan?”

Minho tersenyum, “As you wish, Nad..”

‘Drrttt… drrttt…’

Haejin meraih ponselnya yang tiba-tiba bergetar di saku mantel. Panggilan masuk dari Donghae. Ia permisi keluar sebentar pada Mr.Zack untuk menerima telfon. Minho sempat mencekal tangannya sebelum Haejin keluar dari pintu, tapi gadis itu langsung memberi isyarat bahwa ia tak akan lama.

“Hallow?”

“Ohh.. Jin-ah, Eoddiseo?”

“Hae-ya.. aku di Cafe..”

Terdengar helaan nafas lega di seberang sana, “Jlegz cafe? Cupcoc cafe? Aku akan menyusulmu kesana dan..”

“Montecarlo. Aku sedang membahas masalah pemotretan pertamaku bulan depan bersama Mr.Zack dan Minho di Montecarlo..” potong Haejin, cepat.

“Ahh.. Choi Minho..”, suara Donghae terdengar mengambang, “Kau sibuk sekali ya belakangan ini..”

Haejin menghela nafas, “I’m Sorry, Sea.. aku be-”

Kalimat Haejin terpotong saat seseorang tiba-tiba merebut ponselnya. Choi Minho, pria itu sudah memindahkan ponsel Haejin ke telinganya sekarang…

“I’m Sorry… tapi kupikir kau bisa menelfon Nadine lain waktu..”

……

Dan pria itu menutup flip ponsel Haejin begitu saja..

……

Haejin mendelik kesal, “Ya! Apa yang kau lakukan?”

“Kau pikir apa? Tentu saja memutuskan telfon yang mengganggumu..”, sahut Minho, dengan santai ia menyerahkan ponsel itu kembali pada Haejin, “Cepat, Mr.Zack sudah menunggumu, Nad..”

“Kau menyebalkan!”, dengus Haejin.

“Hey.. ini untuk karirmu, Nadine Lee..”, Minho terkekeh, ia mengusap-usap puncak kepala Haejin dengan sayang, “Kau sudah 21 tahun. Tidak lucu jika kau terus menghabiskan waktumu untuk bermain-main dengan pria bernama Lee Donghae itu kan?”

“Tapi dia..”

“Kekasihmu?”, potong Minho.

Haejin menelan ludah, “Bukan…”

Choi Minho mencondongkan badannya ke arah Haejin, menyatukan dahinya dengan dahi gadis itu, “Well, jadi dia hanya akan mengganggu jalan menuju karirmu. Trust me!”

***

Hingga suatu saat kau akan menemukan banyak sisi lain.

Dimana langit tiba-tiba tertutup awan kelabu, badai..

Dimana laut terbius ombak besar, bergulung..

Dimana ‘biru’ itu tak lagi nampak sebagai sebuah kesatuan..

***

 

(2010, Jan 16th. Cannes, France..)

Moulin de Mougins. Cafe baru milik Alain Llorca itu berdesign klasik dan minimalis. Saat masuk kedalam, kau sudah akan disambut dengan pintu masuk yang unik dimana kau harus menekan sebuah batu zaitun untuk membukanya. Lalu begitu masuk kedalam, para waiters dengan ramah akan membimbingmu pada meja-meja kosong yang tampak nyaman..

Clock-clock kayu yang menjadi pembatas tiap area meja, terlihat membujur sepanjang jendela-jendela besar yang mendominasi seluruh sudut cafe. Namun, berbeda dengan jendela-jendela pada umumnya yang terlihat bersih, jendela kaca di cafe ini justru penuh coretan manis seperti note, gambar bahkan ratusan tanda tangan. Ya, di setiap meja selalu disediakan spidol hitam, dan para pelanggan bebas mengekspresikan coretan mereka pada jendela-jendela kaca..

‘Sea & Sky…’

Ujung spidol berdecit ketika Donghae selesai menuliskan kedua nama itu pada jendela kaca di samping tempatnya duduk. Pria itu tersenyum, “Bagaimana?”

“Childish..”, sahut gadis di hadapannya. Lee Haejin. Gadis itu terkekeh kecil sambil meneguk pelan menikmati Cocktail Champagne Maison-nya.

“Ya! Hanya karena tulisan kecil ini, kau mengataiku ‘Childish’?”, dengus Donghae.

Haejin menggeleng, “Bukan hanya karena itu…”, ia melirik menghina pada satu mangkuk kecil ice cream yang tengah dilahap Donghae, kemudian membandingkan minuman itu dengan segelas coktail di tangannya sendiri..

Donghae memanyunkan bibirnya, “Lalu kenapa memang? Vanilla milk ice cream ini bergizi! Kau tau susu sapi Cannes punya kadar protein yang tinggi, kan? Dan lihat! Minuman beralkohol di tanganmu itu justru merusak kesehatan, Jin-ah..”

Haejin tertawa kecil dan langsung memukul kepala pria itu dengan sendok, “Ya! Sekarang, lihatlah betapa tuanya cara bicaramu, Lee Donghae~”

Donghae merengut..

Lee Haejin masih terkekeh, ia merebut spidol hitam yang masih tergenggam di tangan Donghae, kemudian membuka tutupnya. Pelan-pelan gadis itu mulai menuliskan sesuatu pada jendela kaca, dan diakhiri dengan sebuah tanda tangan manis..

‘The next Paris Claude: Nadine Lee..’

“Woahh.. merk sabun cuci apa yang kau tulis disitu?”, cletuk Donghae, menyendok ice creamnya dengan santai.

Haejin melirik sadis, “Cishh.. bisa-bisanya kau menyamakan impianku dengan merk sabun cuci, hah?”

Donghae masih memasang wajah tanpa dosa, “Ahh.. jadi impianmu adalah menjadi penjual sabun cuci merk ‘Paris Claude’? Ya Tuhan, kenapa impi- YA!!! LEE HAEJIN! KENAPA KAU MENJAMBAK RAMBUTKU? ARRGGHH…..”

“Lihat saja, aku tidak akan memberikan tanda tanganku padamu setelah pemotretan pertamaku di Paris bulan depan!”, sungut Haejin.

“……”

“Why?”, Haejin menyipitkan matanya saat melihat Donghae tiba-tiba terdiam dan menatapnya dengan pandangan aneh.

“Paris? Bulan depan?”, tanya Donghae dengan penekanan dalam setiap kata.

Atmosfer di sekeliling mereka mulai terasa berubah. Dingin. Canggung. Jauh dari bersahabat. Lee Haejin menelan ludah, ia mencoba mengalihkan pandangan dari tatapan tajam Donghae, lalu mengangguk kecil.

“Lalu bagaimana dengan kuliahmu?”

“Eung~ Itu tidak terlalu penting sekarang, yang jelas-”

“Lee Haejin! Paris itu kota yang liar!”,

Haejin tersentak saat Donghae tiba-tiba memotong ucapannya dengan setengah membentak, “Hae, Paris tidak seburuk itu… Lagi pula aku tidak akan sendirian disana. Aku bersama Minho, dan dia akan menjagaku..”

Donghae mendesis sinis, “Dan kau pikir aku bisa mempercayakan ‘Little Sky’-ku pada seorang pria yang bahkan terlihat seperti anjing itu?”

“Hae, STOP IT!!”, Lee Haejin menggebrag meja di hadapannya dengan emosi.

Ia tidak peduli pada pelanggan-pelanggan cafe lainnya yang merasa terganggu dan menatap kesal kearah meja mereka saat ini. Gadis itu menghela nafas berat, mencoba mengendalikan dirinya sendiri. Ia menengguk segelas cocktailnya hingga tandas dan menatap Donghae dengan sedikit memohon..

“Ayolah, Lee Donghae. Kenapa kau harus memancing emosiku? Ini pertemuan pertama kita setelah kesibukan kita dua tiga bulan ini, dan-”

“Kau!”, tuding Donghae, keras. “Kesibukanmu, Lee Haejin.. bukan kita! Kesibukanmu bersama pria sialan itu!”

“Shit! Namanya Choi Minho! Dan berhenti menyalahkannya, karena dia tidak salah apa pun. Dia bahkan sudah banyak membantuku, Hae!”

“What? Membantu apa? Dia mengubahmu, Lee Haejin!”, bentak Donghae, pria itu bahkan melempar sendok ice creamnya dengan sekali sentak, “DIA MERUBAH LANGIT KECIL BIRUKU MENJADI LANGIT YANG GELAP DAN PENUH PETIR!”

“……..”

Lee Haejin tertunduk, lidahnya kelu.

“Lihat!”, sepasang mata Donghae menuding tajam pada minuman-minuman beralkohol di atas meja, “Cola beer! Coktail! Blue vodka!”,  Pria itu lalu menyambar kasar tas slempang Haejin dan menggeledahnya dengan lancang..

Haejin mengigit bibir bawahnya, “Hae…”

Lee Donghae tak peduli, ia menggeram kecewa saat sebungkus lintingan tembakau ia temukan di dalam sana, “Dan apa ini? Sky-ku merokok?”

“Aku hanya mencoba beradaptasi jika aku hidup di Paris nanti…” Haejin mencoba membela diri, “Ayolah.. tidak lucu jika-”

“Tidak ada hidup di Paris, Lee Haejin! Batalkan kontraknya dan kau TETAP disini!”, potong Donghae, menekan. Pria itu menatap dalam sepasang mata Haejin dengan tatapan hangat dan tajam dalam waktu yang sama.

Ia ingin melindungi ‘Sky’-nya, sangat..

Ia tidak pernah ingin mengekang mimpi Haejin, tapi ia tidak bisa hanya diam jika jalannya sudah terlalu menyimpang seperti ini..

Donghae menghela nafas, ia merasa amat bersalah ketika melihat Haejin menatapnya dengan pandangan yang mulai sayu. Dengan gamang, pria itu meraih telapak tangan Haejin di atas meja, “Maaf, Jin-ah. Aku hanya..”

‘Plakkkk…’

Tapi Lee Haejin langsung menyentak kasar tangannya..

Donghae terhenyak, “Jin-ah?”

“YA! Kau pikir kau siapa?” sinis Haejin kemudian, membentak. Sepasang mata gadis itu tampak berair, campuran emosinya sudah menggenang disana, “Kau pikir kau ini orang sepenting apa hingga bisa mengatur hidupku, hah?”

Donghae menyipitkan matanya, “Jadi aku bukan orang penting dalam hidupmu?”

“Tentu saja! Kau bahkan bukan kekasihku, Lee Donghae!”

Lee Donghae membelalak. Satu kalimat kecil itu seolah berhasil meremukkan semua tulang rusuknya saat itu juga. Benar, ia memang tidak pernah mengikat gadis itu. Donghae tertawa pias membodohi dirinya sendiri, “Kau benar.. kau benar, Lee Haejin.. Hahahaha.. aku bahkan bukan kekasihmu..”

……………….

……………………………..

Haejin menyeka kasar cairan bening yang mulai terjatuh dari ujung matanya, dan beranjak dari duduk, “Minho benar, kau hanya akan menganggu jalan menuju karirku..”

Gadis itu menyambar mantel bulunya pada punggung kursi, melempar beberapa lembar euro ke atas meja, kemudian berlalu pergi setelah menengguk habis dan membanting gelas beernya ke atas lantai cafe..

“Bagus..”, Donghae masih tertawa pias memandangi punggung Haejin yang menghilang di balik pintu cafe, “Bagus, Lee Haejin. Sekarang, kau bahkan lebih mendengarkan pria sialan itu daripada aku..”

***

Lalu ketika semuanya terjadi…

Sang awan benar-benar telah mengembangkan tubuhnya.

Hingga laut dan langit tak lagi saling berpandangan.

Dan yang terlihat berikutnya, hanyalah biru tentang beku..

***

(2010, March 27th. Cannes, France..)

 

‘Tuttt… tutt… ttuutt…’

Lee Donghae membanting ponselnya dengan frustasi. Nyaris tiga bulan. Nyaris tiga bulan ia dan Haejin tak saling menghubungi karena ego masing-masing. Dan sekarang, saat Donghae mulai mengalah, saat Donghae mencoba menyelesaikan masalah, kenapa gadis itu malah menghancurkan harapannya? Kenapa gadis itu malah mengganti nomor ponselnya?

“Fine…”, Donghae menghempaskan tubuhnya keatas ranjang, “Jika kau memang ingin semuanya berakhir seperti ini, itu hak-mu..”

Donghae meraih cameranya yang tergeletak di atas buffet. Dan entah perasaan apa yang mendorongnya, pria itu mulai membuka sejumlah folder-folder lama di dalam sana. Jemarinya memainkan tombol-tombol panel dengan lincah, hingga seulas senyum terukir di wajahnya kala melihat gambar gadis itu..

Lee Haejin, langit kecilnya..

Donghae mendesah berat sambil terus menslide foto-foto itu, “Jin-ah… jika kau memang ingin menjadi model, bisakah kau hanya menjadi model untuk hatiku saja? Bisakah kau selalu menjadi langit yang selalu kurekam atas nama cinta laut kepadanya?”

Lalu iba-tiba ia tertawa kecil, menertawai dirinya sendiri, “Aku ingin mengatakan itu padamu sejak dulu, Sky.. tapi bodohnya aku tak pernah punya cukup keberanian untuk mengikatmu..”

“Dan sekarang kau pergi…”, tambahnya, pias..

Pria itu beranjak bangkit, ia melangkah gontai kearah jendela besar di samping pintu paulzo-nya, disibaknya korden berwarna biru laut itu perlahan. Dan sebuah pemandangan di luar jendela menyambutnya. Pemandangan yang dulu amat indah, namun kini terlihat menyesakkan. Panorama langit biru di atas garis laut yang juga biru.

Azure…

Dengan hukum rasi Zivo milik Castres, maka langit dan laut biru itu kembali berdampingan serasi, bahkan seusai badai besar beberapa waktu lalu. Ya… sesuatu yang ditakdirkan bersama atas nama Zivo, akan selalu kembali bersama. Tidakkah rasi bintang itu begitu ajaib?

“Sky…. Jika Zivo bisa mengembalikan laut dan langit dalam biru yang sama, apa dia juga bisa kembali menyatukan kita dalam rasa yang sama?”

***

Namun, sesuatu yang beku akan selalu mencair..

Bagaimana jika rindu mulai melekat tanpa asa palsu?

Bagaimana jika hamparan biru mulai membawa kenangan lalu?

Bagaimana jika laut dan langit mulai menyadari bahwa biru mereka adalah satu?

 

***

(2010, March 28th. Paris, France..)

Seorang gadis nampak terdiam di salah satu sisi café kecil yang menghadap langsung ke arah laut. Rosalli dress berwarna peach yang melekat di tubuhnya, membuat gadis itu nampak elegan. Sementara rambut ikalnya yang kecoklatan mulai sedikit berantakan karena terpaan angin. Mata sendunya tak lepas menatap kearah bibir pantai dengan pasir putih yang berkilauan itu, tanpa peduli bahwa tak ada satupun makanan di atas meja yang disentuhnya selama hampir 30 menit ini..

“Happy Spring, Lee Haejin..” bisiknya pada diri sendiri.

Ia tersenyum kecil, awal musim semi yang sama sekali berbeda, pikirnya. Tak ada lagi jitakan-jitakan kecil yang membuatnya bersungut. Tak ada lagi jepretan camera yang selalu mengganggunya. Tak ada lagi perbincangan santai di atas tanah berpasir.

Dan, tak ada lagi celoteh tentang laut dan langit..

“Hey, Nad.. kau melamun?”, seseorang menepuk pundaknya.

Haejin mendongak, “Minho-ya..”

Minho tersenyum seperti biasa. Ia mencium cepat pipi kanan kiri Haejin, kemudian mendudukkan diri di hadapan gadis itu. Pandangannya lalu teralih pada sepiring Saumon Mariné aux Herbes et Sel Marin (Sejenis salad ikan salmon dengan saus tiram) yang masih tersaji utuh di atas meja, “Kau bahkan tidak menyentuh makananmu?”

“Pantai di Paris tidak seindah pantai Cannes..”, ujar Haejin tiba-tiba, mengabaikan pertanyaan Minho.

Minho berjengit bingung, “Kau bicara apa sih?”

“Aku merindukkan Cannes..”

“Merindukan Cannes?”, Choi Minho menyipitkan matanya, “Atau pria bodoh bernama Lee Donghae itu?”

Haejin menghembuskan nafasnya keras-keras, “Tentu saja Cannes. Aku tidak mungkin merindukan pria itu..”

Minho melengos malas. Ia tidak suka jika gadis itu mulai merengek tentang Cannes. Karena pemikirannya tak akan jauh dari nama Lee Donghae. Selama ini, sekeras apa pun Haejin mengatakan bahwa ia membenci Donghae dan akan mengeluarkan pria itu dari hidupnya, tapi Minho tau, itu hanya pelampiasan emosinya. Dan satu yang sekarang ia takutkan disini, bagaimana jika gadis itu mulai sadar tentang perasaannya untuk Donghae?

Ya, Haejin mencintai Donghae! Dan Choi Minho benci karena bisa membaca rasa itu dari sorot mata Haejin. Benci karena bisa merasakan rasa itu dari cara Haejin memandangi laut. Sebuah cinta yang tertanam kokoh. Tapi bodohnya, karena sebuah ego, Lee Haejin tak pernah menyadari semua itu. Tidak, atau belum. Mungkin sampai saat ini..

“Minho-ya..”

“Hemh?”

“Kalau ternyata aku memang merindukan pria itu, bagaimana?”

Pertanyaan singkat yang tiba-tiba meluncur dari bibir Haejin itu membuat Choi Minho terhenyak diam.

***

Maka saat itu, biarkan keajaiban menyelesaikan segalanya..

Biarkan titik-titik rasi Zivo menuntun takdir..

Takdir yang mungkin akan membawa keduanya pada satu titik temu.

Bersama Azure..

***

(2010, March 30th. Cannes, France..)

Sepi. Sunyi. Palm beach selalu terlihat sama seperti malam-malam hening biasanya. Begitu tenang, gelap tanpa bintang, dan hanya diterangi beberapa lentera-lentera yang menggantung pada tiang-tiang besi di tepi-tepi garis pantai. Tapi mungkin, malam ini tak akan terlewat sesunyi biasanya..

“PALM BEACH!!”

Lee Haejin menghentikan larinya di bibir pantai, merentangkan tangan, kemudian berteriak sekeras-kerasnya. Ia tersenyum lebar, lalu memejamkan matanya sebentar, membiarkan angin pantai yang lembut menerpa wajah dan sebagian rambutnya. Senyum yang tulus dan kekanak-kanakan. Senyum yang lepas tanpa beban..

“AKU KEMBALI!!” teriaknya lagi..

Ombak menyambut dengan deburan.

Haejin tersenyum, ia menghempaskan dirinya di atas pasir pantai. Duduk memeluk lututnya erat-erat. Gadis itu mendongak ke atas, kemudian mendengus kecewa saat hanya melihat tirai gelap di atas sana, “Ahhh… Apa benar-benar tidak ada bintang? Apa Zivo tidak akan terlihat malam ini?”

Ia lalu menurunkan pandangannya. Lurus. Dan menemukan hamparan laut yang terbentang luas di sana. Permukaan air yang tampak tenang, memantulkan cahaya bulan sabit yang menghiasi langit malam ini,

“Benar… bukankah laut itu seperti camera yang selalu merekam dan memantulkan apa yang tergambar di langit?”, desahnya, lirih. Dan rasa sepi yang menyesak itu kembali menyerangnya, “Dan kurasa aku kehilangan camera itu saat memilih pergi meninggalkan lautku..”

“Sea…”, ia tersenyum saat panggilan itu kembali meluncur dari bibirnya setelah sekian lama, “Apa kau memikirkanku seperti aku memikirkanmu?”

“Sometimes, I think of me and you,

and every now and then I think, we’ll never make it through…”

Dan sebuah lagu yang kemudian mengalun lembut bersama petikan gitar itu, seolah menjawab pertanyaannya. Haejin tersentak. Ia beranjak bangit dan memutar pandangannya, tapi ia tak berhasil menemukan siapa pun disana..

“We go through some crazy times, and everytime…

 I wonder if I’ll be loosing you, but I never do..”

Lalu tiba-tiba dari balik kumpulan batu karang, muncul sebuah rakit kecil yang mulai merapat kearah bibir pantai tempatnya berpijak. Seorang lelaki tua tampak mengayuh rakit itu. Sementara di tengah, seorang pria terlihat memetik gitarnya sambil terus menatap kearah Haejin dengan seulas senyum..

“Oh my friend you give me a reason to keep me here…

Believing that we’ll always be together this way..”

Haejin membekap mulutnya, tak percaya. Dan entah sejak kapan, air matanya tiba-tiba saja sudah mengalir jatuh. Rakit kecil itu mulai merapat. Pria yang tak lain adalah Donghae itu beranjak turun dari rakit sambil terus memetik gitarnya, ia berjalan mendekat kearah Haejin, menatap dalam pada sepasang mata coklat gadis itu, lamat-lamat..

“And you know my friend you give me a reason to make me stay,
and even through the longest night, the feeling survives..
Seems that I can just look at you,
and I find the reason in your eyes..”

Dan tepat saat petikan gitar itu terhenti. Tepat saat Lee Donghae menghentikan langkahnya. Tepat saat itu pula Haejin segera menghambur kedalam pelukan pria itu. Donghae membuang gitarnya dan langsung mendekap ‘Sky’-nya itu erat-erat.

“Aku merindukanmu…”, lirihnya.

“Aku juga..”, isak Haejin.

“Aku menyayangimu..”

Haejin mengangguk kecil dalam pelukan Donghae.

“Aku mencintaimu…”

Lee Haejin mendongak menyeka air matanya saat kata-kata itu tiba-tiba meluncur manis dari mulut Donghae, “Kauu.. mencintaiku?”

Donghae tersenyum mengangguk, “Aku mencintaimu, karena kau adalah langitku. Yang selalu memayungiku setiap saat. Yang selalu memandangku dengan biru. Yang selalu menjadi tempat bidik pantulanku. Yang selalu tenggelamkan mentari di sudut bibirku..”

Haejin ikut tersenyum, “Maka aku juga mencintaimu. Karena kau adalah lautku. Yang selalu menampung tangisku. Yang selalu pantulkan biruku. Yang selalu bernaung di bawahku. Yang selalu mengesah indah mentari kala kubenamkan ia di sudut senjaku..”

Lalu perlahan, Lee Donghae mendekatkan wajahnya kearah wajah Haejin. Haejin refleks menjinjit kecil. Seiring dengan hembusan angin laut yang menerpa, keduanya memejamkan mata. Dan bibir mereka bertemu. Manis…

Sementara di atas langit, pada sebuah garis di ujung laut, nampak 5 titik bintang yang bersinar membentuk sebuah garis lengkung. Membawa takdir yang kembali menyatukan laut dan langit dalam sebuah keserasian nyata tanpa batas.

Zivo..

***

Tapi pada akhirnya..

Tuhan selalu memberi garis yang indah.

Dan matahari yang tenggelam di persimpangan cakrawala,

Akan kembali terbit dan menyatukan mereka.

***

…………………………….

…………………………….

Lee Dong-Sea menutup agenda besar di tangannya, tanda kisah manis yang dibawakannya tadi telah berakhir. Gadis itu tersenyum lebar,  “Dan saat langit kembali bersatu dengan laut, maka saat itulah Eomma dan Appa kembali bersatu..”

“Appa, Eomma.. Sea dan Sky menyayangi kalian!”, Sea mengakhiri story telling dengan sebuah aegyo yang manis.

Detik itu juga, tepuk tangan para wali murid mulai membahana. Beberapa bahkan berteriak memuji tentang bagaimana apik dan manisnya gadis kecil itu menuturkan cerita. Para Saem juga ikut bertepuk tangan bangga, Shin Saem bahkan mengacungkan kedua jempolnya untuk Sea.

“Noona, daebak!!” Seru Sky yang masih berdiri di samping jendela, pria kecil itu ikut bertepuk tangan heboh. Ia tidak menyangka Noona-nya yang kasar itu bisa bercerita dengan manis seperti tadi.

Sea sempat mengerling pada adik kembarnya itu, ia lalu membungkuk sopan sambil mengucapkan terimakasih. Hingga kemudian, terdengar suara gaduh yang mengusik dari luar. Pintu kelas menjeblak terbuka, dan sepasang suami istri menyeruak masuk kedalam. Mantel dan rambut keduanya tampak kotor oleh salju..

“Eomma!! Appa!!”, pekik Sea dan Sky bersamaan. Sea turun dari panggung dan menghambur memeluk Donghae dan Haejin, diikuti Sky.

Haejin berjongkok, ia mengecup pipi Sea dan Sky bergantian, “Apa kami terlambat?”

“Gwaencha…”, sahut Sky.

Seorang wali murid berdiri dari kursinya dan tersenyum menepuk pundak kiri Donghae, “Anakmu hebat, Tuan Lee..”

“Benarkah? Ahhh.. Terimakasih..” Donghae hanya terkekeh kecil dan membungkuk sopan, “Apa kami melewatkan sesuatu?”

“Eomma dan Appa melewatkan segalanya!” pekik Sky.

“Wooahh… segalanya? Maafkan Eomma melewatkan penampilanmu, sayang..”, Haejin mendesah, tidak enak. Sky dan Sea langsung mengecup pipi kiri Haejin sebagai isyarat bahwa mereka sudah memaafkannya.

Donghae memutar matanya, penasaran. Ia meraup Sea dan mengangkat gadis kecil itu kedalam gendongannya, “Apa itu, sayang? Katakan pada Appa..”

“Kita tidak perlu memberitahu apa pun, ya kan Sky?”, kekeh Sea.

Sky mengangguk-angguk cepat, “Apa yang harus Sky ceritakan? Appa dan Eomma sudah tau jauh lebih banyak dari kami…”

Donghae dan Haejin berjengit bingung, “Heh?”

***

“Ahhh… langitnya jelek sekali hari ini…” Sea mendongak keatas, sementara kedua lengannya semakin melingkar pada leher Donghae yang saat ini tengah menggendongnya di atas punggung.

 Sea lalu menoleh kebawah, pada sosok adik kembarnya yang berjalan melompat-lompat digandeng sang Eomma, “Sejelek Sky..”

“YA!! Noona, Sky tampan seperti Appa!”, protes Sky.

Sea mendelik, “Ani! Appa adalah pria tertampan di seluruh dunia!”

Dan bukannya melerai, sang Eomma, Lee Haejin, malah mengangkat tangannya dan ber-high five ria dengan Sea. Sementara Donghae yang melihat adegan pem-bully-an Sky lewat ekor matanya itu hanya terkekeh kecil, tidak ingin terlibat.

Sky mendengus, “Kalau begitu, Sky adalah pria tertampan kedua setelah Appa!”

“Aniyo~ yang kedua adalah Taecyeon Ahjussi!”, sahut Haejin yang langsung mendapat pelototan sinis dari Donghae. Tapi ia tidak peduli dan malah mengerling nakal pada gadis kecilnya yang berada di atas punggung pria itu, “Benar kan, Sea?”

“Yeyyy!!” teriak Sea.

“Errr… baiklah, ketiga!”, putus Sky akhirnya.

“Shireo! Yang ketiga adalah Gikwang Ahjussi!” sentak Sea, tidak terima. Gadis kecil itu lalu menjulurkan lidahnya,“Sky adalah pria tertampan kesepuluh juta!”

Sky merengut sebal.

Donghae terkekeh mendengar ocehan putrinya itu, dengan gemas ia memukul pelan pantat Sea dalam gendongannya, “Sea, nakal sekali~”

Sea mendengus, “Sea nakal karena Sea adalah anak Eomma..”

Lalu mereka tertawa bersama sepanjang jalan. Sebuah keluarga kecil yang harmonis bukan? Sea masih saja bermanja-manja dalam gendongan sang Appa. Sementara Sky berjalan melompat-lompat menolak tangan Haejin yang sedari tadi bersikeras menggandengnya. Hingga kemudian, salju mulai turun..

“Dingin sekali~”, Sky menggosok-gosok kedua telapak tangannya yang sudah terbungkus sarung tangan tebal.

Sea semakin erat merangkulkan lengannya pada Donghae, bahkan memeluk punggung Appa-nya itu dari belakang, “Aku hangat dengan memeluk Appa~”

“Aku tidak akan iri!”, seru Sky.

Haejin tertawa kecil melihat tingkah kedua malaikat kecilnya itu. Ia kemudian mengulurkan kedua lengannya kearah Sky, “Dingin~ Sky mau Eomma gendong?”

Sky langsung mendekap tangannya sendiri, “Andwae! Sky sudah besar!”

“Eh?”

“Sky malu, Eomma… dia ingin menjadi pria yang keren!”, Sea menyeletuk cepat. Ia melirik jahil pada adik kembarnya yang saat ini sudah memasang tampang memohon akan sesuatu. Tapi…. “Eomma tau? Sky menyukai seorang gadis di kelas..”

Donghae dan Haejin membelalak kaget, “Jinchayo?”

Sky mendesis penuh dendam pada sang kakak yang tertawa puas meledeknya di atas punggung Appa mereka, “Aishhh… Noona itu ember sekali!”

“Aigooo~ Jadi, siapa gadis beruntung yang disukai Sky kecil Eomma ini?”, goda Haejin kemudian.

“Dia bukan gadis asli Korea Eomma, dia bilang Ayahnya orang Eropa..”, dan lagi-lagi Sea yang menyahut.

“Ahhh… Blaster?”, Donghae tampak tertarik.

Sky mengangguk malu, “Dia sangat cantik!”

“Tapi tentu saja tidak secantik Sea!”, serobot Sea lagi.

Sky mendengus,

Donghae dan Haejin terkekeh pelan, “Jadi, siapa namanya?”

“Ahh… Sebutkan namanya, Sky! Sebutkan! Beri tahu Appa dan Eomma!”, Sea langsung memekik antusias. Entah siapa yang sebenarnya menyukai gadis yang katanya berdarah Eropa itu..

Sky mengangguk, “Namanya…”

“Siapa?”, kejar Donghae..

“Namanya..”

“Yak! Sky! Jangan buat Eomma penasaran!” pekik Haejin.

“Namanya… Cannes…”

“………”

“MWORAGO???”

 

…..Maka, biarkan saja cinta itu terus tumbuh apa adanya. Sedalam laut yang tak nampak  dasarnya. Seluas langit yang selalu terbentang tanpa batas….

END

 Oh iya, komen dari Nisya yang nggak mungkin ditulis di atas karena bakalan ngebongkar cerita wkwkwkwk, itu si Sea *cubit* kenapa giliran “Keras Kepala” dan “Nakal” nomongnya : “Karena aku anak Eomma” tapi giliran “Lebih cantik Sea” nggak ngomong “Karena aku anak Eomma” *Haejin menenggelamkan diri* 

94 thoughts on “[1ST WINNER FF] SEA & SKY

  1. Aduh bahasanya manis banget, keren!
    Aku suka penuturan yang rapi, menurutku sebenernya ceritanya itu comlicated tapi justru enak dibaca.
    Deskripsinya juga wow banget, aku berasa keliling Paris sama Hae. Minho juga ding~ #dilindes
    Aku suka tulisan yang biru-biru itu! Terus teori tentang rasi Zivo itu juga! Semuanya ‘ngena’!
    Nggak heran kalo ff ini jadi 1st winner-nya. Chukkae!😀

  2. Astaga…sumpah gila.ini ff keren banget.
    Deskripsi lokasi dan keadaan di cannes bikin kita bener2 merasa kesana.
    Sea dan sky…aigo…pertengkaran mereka lucu sekali.

    Gak tau mau komen apalagi.
    Orin daebak!!!

  3. ya ampun sumpah aku terharu bgt bacanya. Semua emosi ada disini, dari yang sedih seneng sampe lucu juga ada. Pokoknya manis bgt ini cerita..😀
    Eh, itu…
    Nisya eonni, jangan menenggelamkan diri! Nanti yang ngelanjutin ff-nya siapa dong?? #plakk
    Wakakakakkk😄

  4. critanya klasik sahabat jadi cinta, tapi bahasanya keren🙂
    kata-kata yang warna biru bagus banget…
    aku jadi pengen ke Cannes dan nyari ras bintang Zivo disana🙂

    sea dan sky lucu deh kalau bertengkar….
    onni jangan ngambek kalau sea bilang dia keras kepala dan nakal karna anak eomma, tpi kalau cantik nggak bilang anak eomma, kan kalau cantik sea anak appa *LOL😀

  5. Suka bgt sama ff nyaaaaa cocok jadi juara pertama!!!! ‎​(>̯͡-̮<̯͡) tutur bahasnya rapi dan info ttg paris sangat membantu!!! Kkkk~

    Aaaaaaah keren bgt pokoknya forever jinhae!! Hahaha sea-sky lucu beudhhhhhhh

    Congratsssssss :3

  6. bagus bangeeeeet
    aku blm baca yg pemenang kedua sama ketiga sih, tpi kyknya bgs jg ya?
    yg ini daebak settingnya di paris plus critanya kereeeen >_<

  7. Woah, super keren. Bener-bener cocok jadi juara pertama.
    Sama seperti kata Nisya eonni, tiap kata yang ditulis membuat pembacanya jatuh cinta semakin dalam.

    Ga ada komen deh, bagus, menarik, sempurna.

  8. Hwaaaaaa.. DAEBAKKK!! abis baca aku jadi mangap2 ga jelas! ckckckk
    jd pengen liburan ke cannes.. Suka sama kata2 yg ngegambari cannes dan legendanya dgn begitu apik dan indahh!si kembar juga lucu bngett ceritanyaa! ff ini pantes jadi juara! chukkae!
    kalo boleh, aku mau minta alamat blog author ff ini donk?^^

  9. Hwaaaaaa.. DAEBAKKK!! abis baca aku jadi mangap2 ga jelas! ckckckk
    jd pengen liburan ke cannes.. Suka sama kata2 yg ngegambarin cannes dan legendanya dgn begitu apik dan indahh!si kembar juga lucu bngett ceritanyaa! ff ini pantes jadi juara! chukkae!
    kalo boleh, aku mau minta alamat blog author ff ini donk?^^

  10. OMG!! sea and sky finally back~~~~ kkk i miss the story of these kids >.< akhirnya kalian muncul jg nak haha.. keren ceritanya, bnr2 ngedetail nyeritain kisahnya JinHae.. feelnya jg dpt bgt krn pilihan katanya jls dan menarik.. congrats ya udh dpt juara 1!! you totally deserves it ^^

  11. WOAHH~! aku suka banget ama ceritannya, aku baca di hp jd baru komen🙂
    kata2nya menarik, judulnya bener2 pas dan bener2 dijelasin kenapa author memberi judul kayak gitu.. penggambaran latarnya juga jelas, jadi enak(?) bacanya.
    pokoknya pantes jadi 1st winner..hehe😀 congrats ya~! aku suka banget thor..😀

  12. BAGUS-BANGET-SUMPAH-BENERAN-DAH-!
    Ya ampun, kata-katanya ituuu, yang biru-biru, awesome!
    Bener-bener memperhitungkan keterkaitan antara Sea & Sky. Kayak Sea & Sky itu emang udah ditakdirkan untuk bersama!
    Pantes dah kalau ini juaranya! Chukkae~

  13. Aaaaaaa sea- sky!!!! Kalian unyuuuuwwww maximaaaaaal *masukinkarung*
    Kasian sky dibully xD sini sini sama auntie (ʃ⌣ƪ)
    Sumpah ya, cannes itu indah bgt…
    Walo dri tulisan aja, bisa kebayang gimana indahnya kota itu..
    Keren2!!
    Selamat ya udh menang ^^
    Ini romantiisssss!!!
    Bayangin minho macam eksmud2 dengan tampang ganteng tapi menyebalkan..
    Sedangkan donghae, casual style dengan karismanya sendiri..
    Hadoooohhh xD

  14. AAAAAAHHHHHH~
    ORIN!!!!!!!
    Knapa FF buatan mu bagus2 semuaaaaaaaa~
    Aku sampe ketawa2 gaje gajelas di kantor pas baca iniiii~
    Sea-Sky~ Aaaaaa~
    Sumpah unyu bgttt (´⌣`ʃƪ)
    Btw, Minho ngeselin ya disinii -_______-
    Dasar mino menong (¬.¬)ƪ(˘ε˘“)

  15. ini writer ff nya yang bikin Letters of Segovia juga bukan sih?
    ffnya bagus bangeeeet, romantisnya dapet tapi ga norak dan gak klise.
    Sky sama Sea bandel banget ya. turunan dari haejin nih pasti. donghae kan ga nakal #plak
    congrats ya buat winner🙂 gatau kenapa ff yang settingnya di kota kota Eropa selalu sukses bikin aku mupeng -_-

  16. Fanfic ini keren banget, daebaaaak xD latar tempatnya bagus bgt, di pantai, trus bahasanya juga keren.. Ceritanya seru lagi… Sukaaa =))

  17. huaaaaaaa,,,,,prok prok prok prok prok…
    suwer tekewer kewer….
    cerita nya manis bngt,,aku sangat2 menikmati,,
    fellnya dpet bngt…
    sea anak nya lucu bngt,,sky juga…hahaha
    suka deh pokok nya,,,
    daebak….

  18. well, pantes kok jadi juara 1. bagus banget bisa bikin orang terhanyut masuk dalam ceritanya. tapiiiiiiii ada satu yang aku ga rela, yaitu minho. kenapa dia jadi kayak gitu please deh author saya gak rela!!!! huaa tapi bagus kok overall

  19. maniis bgt,

    aku bacanya, semalem tapi sampe sekarang masih kerasa….
    satu point lebihnya…..
    pengetehuan ttg perbintangan
    satu lagi ttg puisi puisi manisnya..

    guaaaaaaa adore lo bgt…..
    jdi penasaran ama karyanya yg lain, bagi blog address dong….

    gak salah juara satu.

    cuman skinshipnya kurang muahahahaha

    #ditabok kitab suci

  20. aduuuuh kerennyaaa, detail banget ini ceritanya

    itu anaknya kenapa usil+genit sekaleeeee, kayak orang tuanya wkwkw

    ditambah settingnya di Cannes, udah dr dulu aku suka sama itu tempat

  21. Aku suka tiap kata-katanya. Authornya pintar banget yah berkata-kata kayak Nisya eonni, ehm memang pantas juara satu!

  22. seaaaaaaaa… *tereak pke toa
    ini anak lucu amat.. anak sapa?? *karena aku anak eomma ^^
    taecyeon ahjussi?? gikwang ahjussi??
    ttp paling tampan sedunia donghae appa.. hmphhh..

    asekkkk minho d bikin jahat.. ahahahahaaa…

    berasaaaa ada di cannes beneran..
    suka setiap detail penjbaran tempatx..
    mngingatkan aq dng edensorx andrea..
    iseng baca ehh mlh jd penasaran ff juara 2 n 3x ky apa.. ^^

  23. KYAAAAA.. ORIN-a SARANGHAEEEE.. *tereak geje*

    sumpeh ye ni ff keren bgt!!!
    Tiap baca ff buatan orin,pasti deh terpasang senyum exited.. Legenda legendanya ituloh.. Cara nulisnya juga keren bgt.. Saranghae~><

    sea sama sky ngegemesin bgt.. Debat lucu melulu..wkwkwk,

    minho,taecyeon,gikwang..semuanya nangkring..buahahaha.. Elinya ketinggalan,😄 *colek2 haejin*
    itu si minho,jadi semacam pembawa polusi gitu ya,, :p #plak
    saat haejin minum beer sama vodka,donghae makan eskrim vanila..hahhah..


    Sama seperti langit, laut juga punya bintangnya sendiri..

    *cipok orin* kalimat ini dapet darimana coba? Aku sukaaa.. :*

  24. orin eonniiiiii ff buatan.ny keren bangettttt .. aishhh gag bisa di ungkapkan dengan kata2
    feel.ny kerasa bangettt eonn,,berasa kayak lg di parissss#mupeng
    kyaaa..si kembar ikutan mainn !!!
    keren kerennn .. trus ngomong2 si minhoo jd jaat ya ??
    kekeke gag apa2
    tetep daebak kok ff.ny eon

  25. Pas dipertengahan bacanya udah nyesek duluan tapi akhirnyaaahh mereka jadiii hwaaa~ iri u.u
    Ffnya keren chinguu ^^

  26. Wuuaahhhh sumpah beneran bagus bnget FF йỳà,kaya yg baca novel aja….good luck йỳà smoga bisa buat FF yg lebih bagus lagi…

  27. hyaaaaaahh ! onnieee miaaan saya baru baca ini -_____-”
    daaaan oriiin emang jjaaaaaang !!!!! :3
    kenapa skrg pengganggunya berubah dri taec jd minoooo -..-
    okey , pastii garagaraa skandal haejin blkgan inih .____.
    brasanya hae mulu dah yg dicampakin .. kasiaaaan ..
    tp syukaaaa sma anaknyaaaa .
    after story nya sky sma cannes ! *ngek

    jjaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang ! (y)

  28. Sooooo swiiiit ngeliat keluarga kcl mrk brcanda ria gt.. Perfect! Pantes ni ff dpt juara, emang keren abis.. Dr mulai kata2ny yg indah, alur, tmpat, aaah good! Hmm cm aga pnasaran nih kn tb2 haeji plg k cannes, ko hae tw mpe sngaja nyanyi d laut gt? Sm 1 lg, cannes yg dtaksir sm sky itu brharap anakny minho ahaha tp kn org eropa ya appany huhuhu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s