[2ND WINNER FF] LOLLIPOP

Annyeong lagi ^^

Sekarang Nisya datang dengan juara kedua, Arvie, yang mendapatkan lightstick Super Junior hehehe… chukahamnida… FF ini aku pilih karena tata bahasanya yang manis. Sejujurnya cerita ini udah umum, tapi Arvie-ssi berhasil mengolahnya sedemikian rupa, sehingga menurutku apik dan hebat! Hehehehe… jadi untuk readers dimohon komennya dengan sangat, dan selamat menikmati…

Title                : Lollipop

Author           : Arvie

Length            : Oneshot

Genre             : AU, Angst, Fluff, Romance

Rating            : PG 15

Main Cast      : Lee Haejin, Lee Donghae

~oOo~

 “Eonni, kenapa melamun?” seorang gadis kecil berdiri didepanku dengan membawa sebuah balon ungu ditangan kirinya, sedang tangan kanannya memegang sebuah lollipop yang tinggal setengah.

Aku menggeser tubuhku mendekati gadis mungil itu, kemudian tersenyum. “Sedang menunggu seseorang, Sayang,” kuelus pelan puncak kepala gadis itu.

“Pasti sedang menunggu pacarnya ya?” Gadis mungil yang manis dan menggemaskan. “Tapi kenapa eonni tadi terlihat sedih?”

Aku tersenyum gamang. Sedetik kemudian kupaksakan seulas senyum manis dari bibirku, “Benarkah aku tadi terlihat sedih?”

Gadis mungil itu mengangguk. Lollipop yang sebelumnya dia genggam itu, kembali dimasukkan kedalam mulutnya. Tangan kanannya kemudian sibuk mencari sesuatu didalam tas selempang mungil miliknya. Menemukan apa yang dicarinya, tangan mungil itu kemudian keluar dari tasnya dan menyodorkan sebuah lollipop padaku. Ragu kuraih lollipop itu.

“Itu untuk Eonni,” gadis itu tersenyum, memperlihatkan eyesmile-nya, “Jangan sedih lagi ya.”

Aku tertawa ringan melihat tingkah gadis mungil itu. “Aigoo, terimakasih Sayang. Siapa namamu?”

“Yerin, Kim Yerin.”

“Ah, terimakasih Yerin sayang,” kubelai lembut pipi Yerin.

Gadis itu tersenyum memamerkan deretan gigi mungilnya. “Yerin pergi kesana dulu ya,” katanya menunjuk tempat dimana seorang ibu tengah memanggilnya dari jauh.

Kuikuti arah pandang Yerin. “Iya sayang.”

“Annyeong,” Yerin berlari kecil sambil melambaikan tangannya. “Jangan sedih lagi ya Eonni,” teriaknya dari jauh.

Kulambaikan tangan pada Yerin, tersenyum gamang dan menghela nafas panjang. Aku kembali terdiam, mataku fokus pada sebuah lollipop yang tengah kupegang.

“Apakah manis itu telah berubah menjadi pahit, Sayang?”

~oOo~

@ Sheundong Cafe, 31 Maret 2010.

“Lee Haejin! Tidak bisakah kau makan dengan benar?”

“Ya! Lee Donghae! Tidak bisakah kau tidak membentakku seperti itu?”

Donghae terkejut mendengar responku. Yang benar saja dia membentakku seperti itu. Memangnya dia pikir, aku tidak bisa melakukan hal yang sama?

“Bukan seperti itu maksudku Haejin-ah. Maaf,” Donghae memelankan suaranya.

“Lalu apa maksudmu?”

Donghae gelagapan. Bagus, sekarang kau sendiri kan yang bingung? Jangan macam-macam padaku, Donghae-ya!

“Nanti saja, habiskan dulu makananmu.”

Aku mendengus pelan. Dasar pria aneh.

Hening~

Apa yang sebenarnya ingin kau katakan, Donghae-ya? Apa kau ingin mengatakan bahwa kau… Ah, sepertinya aku terlalu percaya diri. Baik Haejin-ah, hilangkan rasa terlalu percaya dirimu itu.

“Kau tadi mau bilang apa?” kugeser piring kosong didepanku, membuat ruang agar tanganku bebas bergerak.

“Eh? Iya… Apakah kau sudah siap?”

Siap? Siap apa Lee Donghae? Siap menjadi kekasihmu? Kau terlalu bodoh jika menanyakan itu sekarang. Oh baiklah, sepertinya aku terserang virus narsis akut.

“Tentu aku siap. Kau mau bilang apa?” Jawab Haejin.

“Haejin-ah…”

“Hmm?”

“Kita kan sudah lama saling mengenal,” Donghae menggantung kalimatnya.

“Iya. Lalu?”

Kau akan mengatakan itu kan, Lee Donghae? Kita sudah lama saling mengenal, lalu kau menyukaiku, dan memintaku menjadi… Ah, pikiran macam apa ini.

“Kau sudah mengenalku, dan aku sudah mengenalmu”. Aku mengangguk. “Lalu… Maukah kau menjadi…” Donghae kembali menggantung kalimatnya.

Kekasihku? Kau akan mengatakan itu kan, Lee Donghae?

“Maukah kau menjadi kekasihku, Haejin-ah?” Donghae menatap tepat pada manik mataku.

BINGO~ Ah, perasaan apa ini? Kenapa tiba-tiba aku tersenyum? Apa aku bahagia mendengar kalimat terakhirnya? Dusta jika aku berkata aku tidak bahagia. Akhirnya kau mengatakannya Donghae-ya.

Aku masih saja tersenyum. Rasa ini meluap begitu saja. “Bisakah sekali ini aku menjadi orang bodoh yang hanya mengenal kata ya?”

Kedua sudut bibir Donghae terangkat. Tangan kirinya perlahan mendekati tangan kananku, kemudian menggenggamnya. Jantungku berdegup kencang. Tangan kanannya tiba-tiba menyerahkan sekotak kecil penuh lollipop. Aku mengernyit heran, tidak paham dengan maksud kekasih baruku. Ya Tuhan, darimana dia mendapatkan lollipop ini?

“Lollipop itu sebenarnya keras, karena itu jangan pernah memaksa untuk menggigitnya. Cukup menikmatinya selayaknya orang menikmati lollipop,” kumiringkan kepalaku, berharap aku bisa cepat memahaminya. Nihil. Masih saja aku tidak paham.

“Lollipop itu manis, tapi jika berlebihan, justru akan terasa pahit. Lollipop itu memiliki banyak rasa, karena itu jangan terlalu fokus hanya pada satu rasa saja,” baiklah, sejak kapan Donghae menjadi ahli lollipop seperti ini?

“Begitu juga dengan kisah kita. Tidak perlu dipaksakan, tidak perlu berlebihan dan tidak terfokus pada satu hal saja. Cukup jalani apa yang ada, dan kita akan menikmati manisnya kisah kita,” Donghae menutup penjelasannya dengan senyum manis.

~oOo~

Kuletakkan ponselku jengah. Aku sudah terlalu bosan mengutak-atik ponsel tanpa tujuan jelas. Dua minggu belakangan Donghae susah sekali dihubungi. Anehnya, dia juga tidak memberikan kabar seperti biasanya. Apa dia lupa padaku?

Ponselku bergetar pelan dengan layarnya yang berkedip-kedip. Kuraih ponsel itu, mendekatkannya ditelingaku.

Setelah pembicaraan singkat ditelepon, aku bersiap menemui sahabatku, Hyunjin. Apa lagi yang kau perbuat Lee Donghae? Kenapa sampai Hyunjin mendadak mengajakku bertemu?

~oOo~

“Kau yakin?” Tanyaku memastikan. Aku sendiri tidak begitu percaya atas penuturan sahabatku ini.

Hyunjin mengangkat bahu. “Tapi aku yakin seratus persen, itu mobil Donghae”.

“Tapi apa yang dia lakukan disana?”

“Mengantar eommanya mungkin,” tutur Hyunjin.

Aku berpikir sejenak. Untuk apa eomma Donghae pergi ke tempat seperti itu? Apa mungkin akan ada acara penting? Atau malah Donghae yang berkepentingan?

“Apa kau lihat, Donghae bersama siapa disana?”

“Aku tidak tau, aku hanya melihat mobilnya. Sekilas aku lihat Donghae ada di dalam.”

“YA! Hyunjin-ah, kenapa kau menceritakan hal semacam ini padaku kalau kau saja tidak yakin dengan apa yang kau lihat? Aish,” aku mengacak rambutku sendiri. Sahabatku ini benar-benar membuatku pusing.

“Tapi itu mobilnya Donghae, Haejin-ah. Aku yakin itu!”

Aku menatap Hyunjin, masih mencari kepastian dimatanya.

Sekarang begini, apa yang dilakukan orang jika dia pergi ke salah satu perancang busana terkemuka? Mau memesan makanan rasanya tidak mungkin. Yang pasti, semuanya berhubungan dengan pakaian, kan? Dan jelas itu bukan pakaian biasa.

Oh baiklah, aku menjadi semakin gila sekarang. Donghae tidak bisa dihubungi, dan dia pergi ke tempat perancang busana? Bagus Donghae-ya, kau membuatku bingung.

~oOo~

Kumatikan kompor ketika ponselku berdering. Kudekati ponselku, masih lengkap dengan celemek yang menempel ditubuhku. Aku tersenyum riang melihat sederet nomor yang terpampang jelas dilayar ponselku.

“Pagi sayang,” sapaku pada pemilik nomor itu.

“Sayang, bisa aku minta tolong?”

Orang ini benar-benar. Belum juga menjawab sapaanku, sudah seenaknya minta tolong begitu.

“Apa?” jawabku sedikit kesal.

“Tolong bukakan pintu,” kata pria diseberang.

“Pintu?” kulirik pintu apartemenku. Bukankah dia tau passwordnya? Kenapa dia minta dibukakan pintu?

“Pintu apa Donghae-ya?”

“Pintu apartemenmu. Pintu apa lagi?”

Donghae ada disini sekarang? Benarkah? Ya Tuhan, akhirnya aku bisa bertemu dengannya. Tak taukah kau aku begitu merindukanmu, Sayang?

Aku berjalan mendekati pintu, kubuka perlahan. Dia disini, didepanku, lengkap dengan senyum manis dan tatapan matanya yang sayu. Dia mendekatiku dan menarikku kedalam pelukannya.

“Haejin-ah, aku merindukanmu.”

Aku membalas pelukannya, lebih erat darinya. Berharap dia tau betapa aku merindukannya. Pelukanmu, kenapa begitu hangat Donghae-ya? Bisakah kau terus memelukku?

Donghae menjauhkan tubuhnya, “Kau tidak menyuruhku masuk?”

~oOo~

“Waktu itu aku mengantarkan eomma, Sayang.”

Eomma? Bukan orang lain?” Tanyaku menyelidik.

Donghae menggeleng, berkata tanpa suara, tapi penuh penekanan, “Eomma!”

“Tapi untuk apa eommamu memesan pakaian disana?” Mungkin aku memang terlalu ikut campur. Tapi rasa penasaran ini mengalahkannya.

 “Aku juga tidak tau, Sayang. Aku hanya mengantarkannya saja. Eomma bilang akan ada acara penting.”

“Acara apa?”

Donghae mengangkat bahunya. Aku mendengus sebal kemudian melanjutkan kegiatanku mencuci piring. Kenapa aku jadi seperti ini sih? Tidak biasanya aku terlalu menyelidik seperti ini. Apa mungkin karena beberapa minggu ini Donghae sulit dihubungi? Ya, pasti itu alasannya. Jangan salahkan aku kalau mendadak aku menuduhnya yang macam-macam. Salah dia sendiri kenapa mendadak berubah seperti itu.

“Sayang,” sapanya lembut dari belakangku. Kedua tangannya yang kekar melingkar diperutku, memelukku dari belakang.

Aku merindukan ini, Donghae-ya. Aku rindu kau memelukku seperti ini.

Donghae perlahan mengecup bahuku yang terbuka, membuatku menghentikan kegiatanku sejenak.

“Jangan begitu, Sayang. Aku belum selesai mencuci piring,” elakku.

“Hmm?” hembusan nafasnya menerpa kulitku yang terbuka.

Aku salah. Aku kira dia akan menghentikannya, ternyata dia justru lebih menggodaku. Tangannya menelusup kedalam kaos longgarku dan mengusap perutku pelan.

Bohong jika aku tidak menyukainya. Aku selalu menyukai cara Donghae menyentuhku. Apalagi setelah begitu lama aku tidak bertemu dengannya. Tapi jangan sekarang, aku belum selesai mencuci piring!

“Minggu depan, kau ikut denganku ya,” Donghae masih pada posisinya semula.

“Kemana?”

“Ikut saja, selagi aku ada waktu luang. Kapan lagi aku bisa mendapat jatah libur lumayan panjang?”

Aku menggumam pelan, “Baiklah, tuan Lee, aku akan ikut kemanapun kau pergi.”

Mendengar jawabanku, Donghae semakin mempererat pelukannya. Hembusan nafasnya terasa di tengkukku. Astaga orang ini, apa yang dia lakukan dibelakang situ?

~oOo~

Kuperhatikan deretan rak buku didepanku. Begitu banyak buku yang menarik disana, seolah melambai padaku meminta untuk didekati. Aku menepis semuanya. Kutinggalkan rak itu dan berjalan mendekati bagian novel. Sebentar aku mencari-cari apa yang aku inginkan. Akhirnya aku menemukannya. Novel karangan Park Ririn ini memang sedang ramai dibicarakan. Kuputuskan mengakhiri petualanganku di toko ini.

“Terimakasih,” kasir itu berkata ramah. Kubalas dengan senyuman dan anggukan.

Kulangkahkan kaki keluar toko buku itu. Harus kemana lagi aku sekarang? Ah, tidak ada salahnya aku jalan-jalan, selagi ada di pusat perbelanjaan ini, aku ingin memanjakan mataku sebentar.

Niat awalku datang kemari hanyalah sekedar melepas penat disamping berburu novel yang tengah laris dipasaran itu. Setidaknya agar pikiran burukku pada Donghae itu berlalu. Tapi itu salah. Aku justru menemukan bukti yang memperkuat pikiran burukku padanya selama ini. Kakiku terasa berat untuk beranjak dari posisi ini, membuat aku semakin yakin pada apa yang tengah aku lihat.

Di ujung sana, di dalam sebuah toko perhiasan ternama, seorang pria yang begitu kukenal terlihat tengah memilih perhiasan yang berjajar rapi di etalase. Jika dia sendiri, tidak mungkin aku berpikiran lebih buruk padanya. Gadis cantik berdiri anggun disebelahnya, ikut menunjuk-nunjuk perhiasan, sama seperti yang dilakukan Donghae. Mereka terlihat puas ketika gadis itu memakaikan cincin pada jarinya dan menunjukkannya pada Donghae.

‘Tapi aku yakin seratus persen, itu mobil Donghae’

‘Aku tidak tau, aku hanya melihat mobilnya. Sekilas aku lihat Donghae ada di dalam’

‘Tapi itu mobilnya Donghae, Haejin-ah. Aku yakin itu!’

Perkataan Hyunjin tempo hari tiba-tiba terlintas dipikiranku. Datang ke tempat perancang busana ternama, dan sekarang tengah memilih cincin berdua dengan gadis lain. Ditambah sikapnya yang berubah akhir-akhir ini, salahkah jika aku berpikiran Donghae mulai berpaling dariku?

Kuputuskan untuk menghubunginya. Siapa tau aku sedang berhalusinasi karena terlalu memikirkannya. Kutempelkan ponsel ditelinga sambil terus memperhatikan pria di toko perhiasan itu.

Terdengar nada sambung sekarang, mataku masih terus mengawasinya. Pria itu bergerak merogoh sakunya, berbicara pada gadis itu, kemudian menjauh, menempelkan ponsel pada telinganya.

“Iya sayang,” sapa pria diujung telepon.

DEG. Jantungku berpacu lebih cepat. Orang itu…

“Kau dimana sayang? Kenapa ramai sekali?” Aku masih berusaha kuat.

“Aku sedang mengantar eomma belanja. Ada apa?”

Kau bohong, Lee Donghae. Salah apa aku sampai kau tega membohongiku seperti ini?

“Tidak ada apa-apa sayang. Ah, bateraiku habis, nanti kuhubungi lagi. Bye.”

Cepat kututup sambungan telepon dan mematikan ponselku. Kuperhatikan lagi pria disana, dia kembali mendekati gadis itu, berbicara padanya sambil menunjukkan ponsel. Apa mereka sedang menertawaiku?

~oOo~

‘Aku sedang mengantar eomma belanja. Ada apa?’

Kalimat Donghae itu terus berputar di otakku. Jelas-jelas tadi aku melihatnya bersama gadis lain. Bagaimana bisa dia mengaku sedang mengantarkan eommanya belanja?

Aku teringat kalimat Donghae yang lain.

‘Waktu itu aku mengantarkan eomma, Sayang

Apakah mungkin saat itu Donghae pergi ke tempat perancang busana bersama gadis yang kulihat bersamanya tadi? Dia jelas sedang berdua dengan gadis lain, tapi masih saja mengaku kalau bersama eommanya. Berarti ada kemungkinan dia bersama orang yang sama waktu itu. Tapi ada urusan apa mereka berdua pergi kesana? Apakah mereka…?

Aku menggeleng cepat, berusaha menepis pemikiranku barusan. Penglihatanku mengabur, tertutup oleh air yang menggenang dipelupuk mataku. Tidak mungkin Donghae seperti itu. Hatiku tetap tidak mau percaya. Tapi inderaku menangkap hal berbeda.

Air mata itu perlahan jatuh. Apa yang harus aku lakukan Donghae-ya? Apakah aku harus terus percaya pada kata hatiku? Sedang apa yang kulihat dan sikapmu akhir-akhir ini begitu berbeda? Kenapa kau berbohong padaku? Adakah salah yang telah aku perbuat padamu?

Aku menangis. Kejadian tadi siang terus berputar diotakku. Aku meringkuk disudut ranjang, menenggelamkan wajah pada lutut yang kutekuk. Sesuatu yang hangat perlahan menuruni kakiku.

Apakah kau merasa cinta kita sudah hambar, Hae? Apakah kali ini kau ingin aku merasakan pahitnya kisah kita?

Entah sudah berapa lama aku berada pada posisi ini. Seingatku, aku masih menangis ketika mentari mulai menyapa.

~oOo~

Beberapa hari ini aku memutuskan tidak menghubungi Donghae. Biarlah dia yang menghubungiku lebih dulu. Bukan karena aku tidak peduli padanya. Tapi aku tidak ingin mengungkit kejadian yang membuatku meragukan ketulusannya. Tidak mungkin kan Donghae meninggalkanku? Bukankah dia begitu mencintaiku?

Bukan berarti aku melupakan hal itu begitu saja. Rasa sakit itu masih ada. Jauh di dasar hatiku. Aku sendiri tidak tau seberapa dalam sakit itu. Yang pasti, sakit itu masih terasa ketika memori siang itu terkadang terlintas dibenakku.

“Iya, Hae,” sapaku pada orang diseberang telepon. Donghae menghubungiku.

“Sayang, bukakan pintu,” katanya manja. Aku mendelik kesal. Bukan karena dia meneleponku. Tapi karena kebiasaan manja satu ini. Dia tau password apartemenku, tapi dia selalu meneleponku meminta dibukakan pintu. Setidaknya, gunakan bel, agar benda itu lebih terlihat fungsinya.

Kumatikan sambungan, kemudian beranjak membukakan pintu untuk kekasihku. Dia berdiri dihadapanku dengan senyum manis, seperti biasanya. Ya Tuhan, apakah mungkin orang ini benar berencana meninggalkanku? Tatapan matanya begitu tulus, sama sekali tidak terlihat niat seperti yang aku khawatirkan.

“Kenapa kau belum siap, Haejin-ah?”

“Siap? Siap apa, Hae?”

“Aish, kau ini,” Donghae mengacak rambutnya kemudian menarikku masuk ke dalam apartemen, sedangkan aku masih tidak paham apa maksud Donghae kali ini. “Cepat kemasi barangmu. Kita akan ke Jeju.”

“Tapi, Hae, besok aku harus ma…”

Belum selesai kuucap kalimatku, Donghae memutar tubuhku, kemudian mendorongku masuk kamar, sedangkan dia beranjak menuju dapur, “Atasanmu sudah mengijinkan. Tenang saja.”

Aish, orang ini benar-benar. Aku harus meminta penjelasannya nanti.

~oOo~

Jungmun, 30 Maret 2012

Disini aku sekarang, berdiri disebuah balkon dengan suguhan panorama alam yang tak bisa dipungkiri lagi keindahannya. Pantai Jungmun. Pantai yang tidak begitu ramai dikunjungi ini memang menjadi salah satu tujuan untuk orang berlibur. Sekedar melepas penat karena riuhnya kehidupan kota, atau untuk menghabiskan waktu libur bersama orang-orang terkasih. Aku anggap Donghae mengajakku kemari karena alasan kedua. Apakah aku terlalu muluk? Mungkin. Aku begitu merindukan sosok Donghae yang dulu. Bukan Donghae yang sekarang, yang begitu cuek terhadapku, atau bahkan yang mengaku sedang pergi bersama eommanya, padahal dia pergi bersama gadis lain.

Mengingat hal itu selalu membuat mataku memanas dan mengabur, seakan ada sesuatu yang mendesak ingin keluar. Air mataku.

Kurebahkan tubuhku diatas kasur. Berulang kali kuhela nafas panjang, berusaha mengusir rasa sakit yang tiba-tiba menyeruak. Sakit ini begitu menyiksaku.

Ponselku berdering nyaring. Sebaris nomor yang sangat kukenal tertera dilayar, kudekatkan benda itu pada telingaku.

“Iya sayang.”

“Sayang, bukakan pintu.”

Aku mengerucutkan bibirku. Kebiasaannya bahkan terbawa sampai ditempat ini. Kuusap kedua pipiku, menghapus sisa air mata yang tanpa permisi keluar begitu saja. Kubuka pintu kamarku, memenuhi keinginan Donghae.

“Haejin-ah,” rajuknya manja.

“Kenapa, Sayang?” Kubuat nada bicaraku setenang mungkin, seolah tidak ada apa-apa. “Bukankah kau sudah mendapat kamar disebelah?”

Donghae mengangguk. “Tapi aku mau sekamar denganmu,” dia kembali merajuk sambil tersenyum menggoda.

Apa yang dikatakan Donghae? Kenapa seperti ini? Aku melihatnya bersama gadis lain membeli cincin, mungkin untuk pernikahannya. Tapi kenapa? Donghae benar-benar mempermainkan hatiku.

“Jangan main-main,” aku mengingatkan.

“Yah, aku tau kau akan menjawab seperti itu,” Donghae menunduk, terlihat sedih. Sedetik kemudian dia mengangkat wajahnya. Dengan sumringah dia berkata, “Tapi sebentar lagi akan terwujud,” dia mengerling nakal.

Aku yang masih tidak paham pada ucapannya hanya bisa menatapnya datar. Sudahlah, Lee Donghae. Jangan mempermainkan aku lagi.

“Kau istirahatlah. Besok ada hal penting yang ingin kubicarakan padamu. Selamat malam, Sayang,” Donghae mengecup bibirku singkat, kemudian kembali ke kamarnya. Membiarkanku berdiri termangu diambang pintu dengan sejuta pertanyaan diotakku. Apa sebenarnya maumu, Hae?

~oOo~

 Jungmun, 31 Maret 2012

Sore ini aku pergi menyusuri pantai, sebelum besok meninggalkan tempat ini dan kembali menghadapi hingar bingar kota Seoul. Rasanya ada yang kurang. Tidak ada seorangpun yang menemaniku. Donghae yang awalnya mengajakku kemari untuk berlibur, hilang entah kemana. Apakah dia lupa hari ini hari apa? Aku mendengus sebal sambil menendang pasir yang tidak bersalah. Sejak tadi siang aku menghubunginya, tetap tidak mendapat respon darinya. Bosan tidak dianggap seperti itu, aku memilih untuk berjalan-jalan disekitar resort sendirian.

Dinginnya angin pantai mulai merasuk tubuhku. Aku yang memang memakai hot pant dengan pakaian berbahan kain tipis sudah tidak mampu lagi menahannya. Kuputuskan kembali kekamar.

Aku masih didepan pintu lift, menunggunya untuk membawaku ke lantai atas. Pintu lift itu masih belum terbuka ketika terdengar riuh orang berbincang. Suara itu datang dari lift sebelah yang rupanya membawa orang-orang dari lantai atas. Dari sekian orang yang berjalan keluar dari lift, aku begitu mengenal sesosok pria bertubuh tegap itu. Dia berjalan keluar, berjalan menjauhi posisiku saat ini. Dia tidak menyadari aku ada disini, berdiri mengamati punggungnya. Dia terlalu fokus pada seseorang disebelahnya. Berbincang riang, sesekali saling memukul ringan, terlihat sangat akrab. Aku pernah melihat mereka di toko perhiasan kala itu. Donghae dan gadis itu.

Aku masih berdiri didepan lift, memandang mereka dari kejauhan, tidak menyadari lift yang sedari aku tunggu telah terbuka, terisi hingga kembali tertutup. Ada yang mengalir menuruni kedua pipiku. Rasanya hangat. Kontras dengan hatiku yang hanya mengenal perih sekarang ini. Bahkan kau tidak menyadari keberadaanku, Hae.

~oOo~

Sudah lebih dari dua jam aku menangis, terduduk dilantai, bersandar pada pintu. Menekuk kedua lututku dan mebenamkan wajahku disana. Aku kira aku akan bahagia. Aku kira Donghae akan mengatakan sesuatu yang penting, yang dapat membuatku melupakan rasa sakitku waktu itu. Ternyata aku salah. Aku sendiri yang mengikuti permainannya, yang membuat luka itu terkuak dan menganga semakin lebar. Apakah mungkin Donghae akan mengatakan bahwa dia akan menikah dengan gadis itu?

Kudengar seseorang mengetuk pintu kamarku pelan. Awalnya aku membiarkannya. Tapi rupanya sang tamu gigih, tetap mengetuk pintuku. Mungkin dia yakin ada orang didalam. Aku menyerah, berusaha bangkit dan membukakan pintu untuknya.

 Dia menatapku dengan wajahnya yang bingung dan terkejut. Dia kemudian masuk tanpa meminta ijin dariku, menutup dan mengunci pintu.

“Sayang, kau kenapa?”

Donghae disini. Dia berada tepat didepanku. Aku tak lagi bisa membayangkan bagaimana keadaanku sekarang. Aku tak lagi punya tenaga untuk memberontak ketika Donghae berusaha memelukku dan merapikan rambutku yang acak-acakan. Tenaga yang tersisa sekarang hanya akan kugunakan untuk mencari jawaban atas segala pertanyaan dan prasangka burukku padanya.

“Apakah kau sudah bosan denganku, Hae?” Suaraku bergetar. Tangisku semakin menjadi ketika aku mulai mencari jawaban darinya.

“Apa yang kau katakan, Sayang?” Donghae menangkupkan kedua tangannya pada wajahku.

“Apakah kau ingin aku mulai merasakan pahitnya kisah kita, Hae?” Aku masih menangis, tak peduli lagi apa katanya tentang penampilanku sekarang.

“Apa yang sedang kau bicarakan? Kenapa kau tiba-tiba menjadi seperti ini?” Donghae menatap mataku, menggenggam tanganku sambil membelai wajahku.

“Apakah kau menemukan kisah yang lebih manis dari kisah kita, Hae?” Aku mulai meronta, berteriak dalam tangisku.

“Apakah kau berniat meninggalkanku? Kenapa kau berubah akhir-akhir ini, Hae? Adakah salah yang telah kuperbuat?” Lutuku terasa lemas, tak mampu lagi menopang tubuhku. Aku terduduk dilantai, masih dengan tangisanku yang tidak bisa kukendalikan.

Donghae ikut duduk dilantai, menarikku kedalam pelukannya. “Kau bicara apa, Sayang? Aku sama sekali tidak paham maksudmu,” suaranya bergetar. Aku tau, dia sedang menangis sekarang. Untuk apa dia menangis?

Aku tidak menjawab pertanyaannya. Membiarkan Donghae memelukku.

“Sayang, jelaskan padaku. Kenapa kau seperti ini?” Donghae melepaskan pelukannya, menggenggam tanganku, menatap tepat di manik mataku. Ada cairan bening disana. Dia menangis. Sama sepertiku. Mungkin dia menangisi keadaanku sekarang.

“Kau,” kugantungkan kalimatku, “mau menikah, Hae?” Kukumpulkan tenagaku yang masih tersisa.

Donghae menggenggam tanganku semakin erat. “Iya sayang, aku mau menikah.”

Runtuh sudah pertahananku. Aku kembali menangis. Beginikah akhir dari kisah kita?

“Menikah dengan gadis itu?”

Donghae mengernyit, “Gadis siapa, Haejin-ah?”

“Gadis yang bersamamu saat di toko perhiasan. Gadis yang bersamamu ketika kau keluar dari lift sampai kau tak menyadari keberadaanku yang ada didekatmu.”

Donghae terlihat berpikir. Wajahnya nampak tak percaya, “Ya Tuhan. Kau seperti ini karena dia?” Terdengar helaan nafas darinya. “Kau salah orang, Sayang,”

Dia mengusap kepalaku. Menyentuh pipiku, menghapus bekas air mataku.

“Aku tau ini tidak sesuai rencana,” Donghae menggenggam tanganku erat. “Yang harus kau lakukan sekarang, hilangkan semua prasangkamu itu.”

“Tapi itu yang terjadi. Itu yang kulihat. Kau bersama ga…”

Donghae mengunci bibirku. Dia melumat bibirku lembut. Bodohnya, aku hanya diam, tidak memberontak ingin dilepaskan. Aku terlalu mencintaimu, Hae. Apa yang harus aku lakukan?

Ciumannya perlahan berhenti, kemudian berpindah menciumi pipiku, berikut telingaku dan berbisik “Tolong turuti perkataanku, dan kau akan tau kebenarannya.”

Aku memejamkan mata ketika Donghae mengatakan hal itu. Kebenaran itu, manis ataukah pahit?

Donghae memegangi kedua lenganku, membantuku berdiri. Dia mengangkat daguku, memintaku menatapnya. “Aku sudah berusaha cukup keras untuk ini, Sayang”. Dia memasukkan tangan kanannya kedalam saku celana, mengambil sesuatu. Tangannya keluar dengan sebuah kotak beludru berwarna merah maroon.

Aku masih diam. Memperhatikan setiap perkataan dan perbuatan Donghae. Dia membuka kotak itu dan menunjukkannya kepadaku.

Tangisku kembali pecah saat itu. Tanpa Donghae jelaskanpun aku tau maksudnya. Maafkan aku, Sayang. Aku terlalu berburuk sangka padamu.

“Kau sudah paham, Haejin-ah?” tanya Donghae.

“Maafkan aku, Hae?” aku masih menangis tertunduk.

Donghae meraih tangan kiriku, kemudian memakaikan cincin di jari manisku. Ukurannya pas dan terlihat manis di jariku. Ya Tuhan, begitu besar kesalahanku, berprasangka buruk pada kekasihku.

Kedua tangannya kembali menangkup wajahku, menghapus sisa air mata dipipiku.

“Dia itu pacar barunya Donghwa hyung. Saat kau melihatku di toko perhiasan itu, dia menemani aku memesan cincin. Dia yang merekomendasikan toko itu padaku. Sebenarnya aku datang bertiga, tapi sepertinya Donghwa hyung sedang pergi sebentar untuk mencari keperluannya saat kau melihatku,” jelas Donghae panjang lebar. “Dan sekarang kau tau sendiri benda apa yang kupesan disana,” mata Donghae tertuju pada cincin yang kini tersemat manis di jariku.

Ku dekatkan tanganku, memperhatikan cincin itu. Indah. Sebuah cincin dengan ukiran nama “Donghae Haejin” yang dipisahkan ukiran melingkar layaknya lollipop. Sebuah krystal mungil bertengger diatasnya. Kenapa aku begitu bodoh, melakukan kesalahan semacam ini?

“Hari ini dia datang bersama Donghwa hyung, mereka akan berlibur juga. Dan waktu itu aku memang bersama eomma saat pergi ke tempat perancang busana. Eomma memesan pakaian khusus untuk pernikahanku nanti.”

Aku tercekat. Donghae akan menikah? Dengan siapa? Cincin ini…

Aku menatap wajahnya, mencari jawaban atas perkatannya. Dia tersenyum, membelai rambutku, kemudian menggenggam kedua tanganku.

“Lee Haejin,” wajahnya berubah serius. “Would you marry me?”

Wajahku memanas, mataku mengabur, sesuatu yang hangat menuruni pipiku. Kuletakkan kepalaku pada dada bidangnya dan menangis disana. Kurasakan tanganya mengelus punggungku, menarikku lebih dekat kedalam pelukan hangatnya.

“Maafkan aku, Sayang. Harusnya aku mengatakan hal ini dengan cara dan keadaan yang lebih layak. Harusnya aku bisa membuat hari ini terasa spesial seperti dua tahun yang lalu.”

Ini semua gara-gara aku, Hae. Ini semua salahku. Maafkan aku karena terlalu berburuk sangka padamu.

“Maafkan aku, Hae,” kataku terisak.

Donghae mengangkat wajahku menghadap wajahnya. Perlahan dia mendekati wajahku. Kupejamkan mataku ketika kurasakan bibirnya menyentuh permukaan bibirku. Lembut dan basah. Ini candu. Seolah memiliki zat tertentu yang membuatku tidak pernah mau melepaskannya.

Tangannya meraih tengkukku ketika lidahnya mulai menerobos dan bermain dengan lidahku, memperkecil jarak antara aku dengannya. Sementara tangan satunya meraih pinggangku dan menggeser tubuhku semakin menempel dengan tubuhnya.

Donghae melepaskan ciumannya ketika sadar nafasku mulai tidak beraturan. Dia mengerti, aku kehabisan nafas karena ulahnya. Ditatapnya lembut mataku, sambil merapikan rambut liarku yang menjuntai menutupi sebagian wajahku.

“Kita menikah besok!” Kata-kata Donghae membuatku kembali sesak nafas.

Mwo?!”

“Aku tidak mau kejadian semacam itu terulang. Kenapa kau tidak percaya padaku, Sayang? Aku tidak mungkin meninggalkanmu kemudian menikah dengan gadis lain.”

“Maafkan aku. Kemarin kau sempat menghilang, susah dihubungi. Dan itu bersamaan dengan kejadian di toko perhiasan itu. Aku kira kau…” aku tidak mau melanjutkan kata-kataku lagi. Donghae pasti mengerti maksudku.

“Aku menghilang karena mempersiapkan semuanya, Sayang. Tapi sepertinya, rencanaku harus dipercepat.”

“Rencana apa?”

“Tentu saja menikahimu. Pokoknya besok kita harus menikah. Urusan pestanya, biarlah sesuai dengan rencana awalku saja.”

Mataku melotot. Enak saja dia berkata enteng seperti itu. Menikah itu butuh persiapan yang lumayan rumit kan?

“Memang kapan rencananya kau menikahiku?” Aku masih tidak mengerti jalan pikirnya.

“Minggu depan. Semuanya sudah siap, bahkan gaun pengantinmu juga sudah siap. Eomma yang memilihkannya untukmu,” jawabnya mantap.

“WHAT?? Kau gila Lee Donghae!!” teriakku spontan mendengar kata-katanya.

Donghae menyunggingkan senyumnya, “Memang. Aku gila karenamu, Lee Haejin,” tangannya menarik pinggangku. Candu itu datang lagi. Lebih agresif dari sebelumnya. Aku yang awalnya diam saja, mulai membalas perlakuan Donghae. Bisa apa aku sekarang selain menikmati candu ini?

Kukalungkan kedua tanganku pada lehernya. Tangan Donghae yang bebas bergerak menelusup kedalam pakaianku, mengelus perut dan punggungku tanpa penghalang. Aku meremas rambutnya ketika dia memperdalam ciumannya.

Tanganku menelusup dibalik kaosnya, menemukan perutnya yang terbentuk sempurna. Kurasakan sesuatu yang hangat, lembut dan basah itu kini beralih menyusuri leherku, menyesap pelan tiap inchi kulitku. Seakan tidak mau melewatkan barang satu senti pun.

Kisah ini pasti berujung manis. Cukup jalani dan nikmati apa yang ada, tidak perlu dipaksakan. Begitu pula kehidupan kita esok dan seterusnya, Hae. Saranghae~

~oOo~

[EPILOG]

4 months later~

Kutatap layar televisi dengan perasaan iri yang teramat sangat. Seandainya aku dulu juga dilamar seperti itu. Membayangkannya saja sudah bisa membuatku berbunga-bunga. Televisi itu menayangkan seorang pria yang memainkan piano, membawakan lagu yang khusus diciptakan untuk tambatan hatinya, sedangkan kekasihnya berdiri tidak jauh darinya. Setelah lagu selesai, pria itu berjalan menuju kekasihnya, berlutut kemudian melamarnya.

“Ya! Kau kelihatan bernafsu sekali pada pria itu,” Donghae berjalan keluar dari kamar mandi mengenakan kimononya sambil mengeringkan rambut basahnya dengan handuk.

Cish,” aku mendengus sebal. “Kau sih, kenapa tidak melamarku dengan cara yang romantis seperti itu,” kutunjuk-tunjuk televisi meskipun tidak lagi menayangkan kisah lamaran romantis itu.

Donghae duduk disebelahku, masih dengan kegiatan sebelumnya. “Kalau saja aku tidak melihatmu menangis seperti waktu itu, aku pasti melakukan hal yang romantis.”

Rasa bersalahku muncul lagi. Memang itu semua salahku yang terlalu berprasangka buruk kepada Donghae. Tidak kubalas pernyataan Donghae kali ini. Aku memilih mundur dan menyandarkan tubuhku, membenarkan letak selimut yang menutupi sebagian tubuhku. Sedangkan Dongahe masih dalam posisi yang sama.

“Tapi, Sayang,” Donghae menghentikan aktivitasnya kemudian bergerak mendekatiku. Nada bicaranya terdengar berbeda dari sebelumnya. “Bukankah kita sudah menikah?”

“Ya! Kau pikir apa yang kau lakukan saat di depan pendeta itu?” jawabku geram. Emosiku sedikit terpancing. Yang benar saja dia lupa sudah menikahiku atau belum.

Donghae tersenyum nakal, makin mendekat, memperkecil jarak kami. “Bukankah orang yang sudah menikah itu punya tugas yang sangat mulia?”

Tugas apa lagi? Kumiringkan kepalaku, mencoba berpikir. Masih belum ketemu jawabannya.

“Apa?” tanyaku tak sabar. Donghae masih terus mendekatiku perlahan. Apa maksudnya orang ini?

Ketika jarak kami tinggal sejengkal, mata Donghae melihat turun kebawah. Padahal keadaannya wajah kami sejajar. Lihat apa dia? Kuikuti arah pandang Donghae, berharap menemukan jawaban pertanyaanku. Tiba-tiba kurasakan ada sesuatu yang dingin menyentuh kulit pahaku. Apa ini? Pahaku seperti dielus oleh sesuatu yang dingin. Tunggu. Bukankah Donghae barusan mandi? Kulihat sebagian tangannya sudah tenggelam dibalik selimut. Lalu apa yang dilihatnya dibawah sana? Berusaha keras aku mencari jawaban itu sendiri. Ku angkat lagi wajahku. Kutemukan Donghae sedang memandangku dengan senyum mesumnya. Saat aku menyadari jawabannya, tidak ada yang bisa kulakukan selain berteriak.

“YA! LEE DONGHAE!! APANYA YANG TUGAS MULIA?!!”

~oOo~

 Lollipop itu sebenarnya keras, karena itu jangan pernah memaksa untuk menggigitnya. Cukup menikmatinya selayaknya orang menikmati lollipop. Lollipop itu manis, tapi jika berlebihan, justru akan terasa pahit. Lollipop itu memiliki banyak rasa, karena itu jangan terlalu fokus hanya pada satu rasa saja. Begitu juga dengan kisah kita. Tidak perlu dipaksakan, tidak perlu berlebihan dan tidak terfokus pada satu hal saja. Cukup jalani apa yang ada, dan kita akan menikmati manisnya kisah kita.

FIN~

~oOo~

Note: Maaf buat Nisya Eonni (bener kan namanya?) soalnya udah berantakin ceritanya JinHae. Berawal dari coba-coba, jadilah FF gak jelas ini. Apapun ceritanya, yang jelas aku disini mencoba ikut menyemarakkan 2nd Anniversary JinHae. Semoga langgeng sampe kakek nenek deh.. Amiiinn.. hahaha ^^

Dan itu buat genrenya, maaf itu aku pake genre ambigu banget. Fluff di awal dan sedikit di akhir, angst di tengah (dari referensi yang aku baca, angst itu ga mengharuskan salah satu tokohnya mati. Asalkan si tokoh merasa menderita atau tersiksa berkepanjangan, itu bisa dinamakan angst), dan romance dimana-mana. Karena ini ceritanya kolaborasi, jadi deh tuh genre aku cantumin semua hehe.

59 thoughts on “[2ND WINNER FF] LOLLIPOP

  1. Kata-kata soal lollipop itu memusingkanku tapi tiap kalimat ada maknanya yang dalam. Ehmm aku suka adegan Jinhae yang kiss atau semacamnya! Ahahaha

  2. wah ficnya manis bgtt..sama kyak judulnya.. (well,lolipop manis kan ya? :p #plak)

    kekekeke~ haejin yg penuh prasangka dan donghae yg penuh kejutan.. Ngkak pas baca ‘suara hati’ nya haejin dipart tembak tembakan(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s