[3RD WINNER FF] 7 Day’s in Love

Annyeong ^^

Aduh Nisya tau terlambat banget ngumumin ini semuanya, tapi kemaren-kemaren Nisya rempong dan nggak bisa tidur gara-gara SS4INA pokoknya. Selain itu, semua FF yang masuk ke email JinHaeXy bagoooos gelaaaaa *alay* wkwkwkwkwkwk, sampe perlu bertapa #lebe untuk nentuin siapa-siapa aja yang jadi juara 1, 2, 3 hehehehe… Dan setelah minta saran sama Ajudan *?* Yeje #plakk akhirnya diputuskanlah juara-juaranya.

Nisya tegaskan disini, semua FF yang masuk BAGUS, tidak ada yang tidak bagus, dan Nisya kepengen banget ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya untuk semua yang udah berpartisipasi… itu kado banget buat JinHae dan Nisya… pokoknya kalian semua the best! Hehehehehe… Dan untuk juara ketiga ini Aster Kim hehehehe… akan mendapatkan hadiah pulsa sebesar Rp. 25.000 dari Nisya, chukae ^^

Cerita ini sweet banget, Nisya sukaaaaa ^^ ringan, konfliknya dapet, dan ending yang manis ahahahaha… share more ya sayang ^^ dan buat semua readers, selamat menikmati…. dan jangan lupa : COMMENT!!!

7 Day’s in Love

Title : 7 Day’s in Love

Author : Aster Kim

Genre : Romance, Comedy, etc…

Length : Oneshoot

Main Cast : Lee Haejin, Lee Donghae

Seorang gadis berkaki jenjang menapaki bandara Incheon, dan kedua matanya membulat mengagumi bandara yang terkenal itu, luas, bersih, dan nyaman.

Sesekali ia menghirup udaranya sambil memejamkan mata, ia terlalu senang bisa kembali ke Korea.

Brrukk!!

Sorry..” ucap Haejin saat tak sengaja ia menabrak seorang pria.

Pria itu hanya diam sambil membenahi kopernya yang jatuh, setelah itu ia berlalu pergi tanpa berkata apa-apa.

“Haejin-ah!”

Gadis bernama Haejin itu menoleh, seorang pria asli Korea bertubuh jangkung itu melambai ke arah Haejin. Haejin membalas dengan senyuman lebar sambil menghampiri pria itu.

“Sudah lama?”

“Tidak juga, bagaimana kabarmu?” tanya Haejin dengan bahasa Korea yang sangat fasih.

Haejin gadis kelahiran Mokpo yang menghabiskan masa kecil dan remajanya di negara lain, negara asal ayahnya Indonesia, ia bertekad kembali ke Korea untuk menjelajahi tempat-tempat yang belum sempat di kunjungi atau memang lebih tepatnya tidak pernah karena memang saat Haejin berumur 7 tahun ia pindah ke Indonesia bersama kedua orang tuanya, jadi ia tidak pernah mengunjungi tempat-tempat di Korea khususnya ibukota Seoul, selama 7 tahun itu ia habiskan di kota Mokpo. Dan kini di umur Haejin yang ke-22 ia memilih Korea sebagai tujuan liburannya, dan pria yang ada bersamanya sekarang adalah Choi Minho pria berkebangsaan Korea yang ia kenal melalui situs jejaring sosial twitter dan me2day yang beberapa kali pernah mengunjungi Indonesia untuk sekedar berlibur dan kopi darat dengan Haejin.

“Terima kasih sudah menjemputku.” Ujar Haejin dengan bahasa Indonesia.

“Aku hanya tahu terima kasih, selanjutnya aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”

Haejin tertawa, “Mian..mian..”

“Baiklah.. jadi sudah kau tentukan di mana kau akan tinggal?” tanya Minho.

“Eung…hotel?”

“Memang kau akan berlibur selama berapa hari?” tanya Minho lagi.

“Ahh sebenarnya aku ingin lebih lama disini tapi.. eomma hanya mengijinkanku berlibur selama seminggu. Ah.. bagaimana kalau apartement?”

“Apa kau sudah memesannya?”

Haejin menggeleng, “Memangnya harus memesan dulu ya?”

“Begitulah..”

“Yahh.. terus gimana nih…” dengus Haejin.

Minho hanya mengernyitkan alisnya berusaha mengartikan ucapan Haejin barusan, sering berlibur ke Indonesia bukan berarti membuat Minho langsung lancar bahasa Indonesia, namun dengan ekspresi wajah Haejin yang terlihat kecewa dan bingung Minho mengerti maksudnya.

“Bagaimana kalau kau tinggal di apartement ku?”

“Mwo? Tinggal bersamamu?”

“Eo, kau mau? Itu akan menghemat uang mu juga.”

“Iya juga sih, uang ku jadi utuh. Tapi..” Gumam Haejin.

“Tenang saja.. aku tidak akan berbuat yang macam-macam.” Minho seakan mengerti pikiran Haejin.

Haejin tertawa, “Ah tidak bukan begitu…”

“Kalau begitu ayo kita langsung pulang.” Ajak Minho.

“Baiklah..”

JinHae

Tokyo, Japan

Lelaki itu berjalan keluar ruangan setelah meeting singkat dengan bos nya, ia melipat lengan kemejanya sambil beberapa kali menghela nafas. Lee Donghae nama pemuda itu, pekerjaannya adalah sebagai General Manajer di sebuah perusahaan otomotif Korea yang membuka cabang di Tokyo.

“Hhh..” Donghae melempar berkas-berkas yang di pegangnya.

“Kau kenapa?” tanya Eunhyuk teman sekantornya.

“Di jaman modern seperti ini bukankah kita sudah di manjakan dengan teknologi? Ada internet yang bisa membuat kita berkomunikasi dengan orang di negara lain, iya kan?” cerocos Donghae.

“Yaa yaa… kau ini kenapa?”

“Lee sajangnim menyuruhku ke Korea untuk mengantar dokumen penting, bukankah itu bisa di lakukan dengan mengirim file ke email..? untuk apa jauh-jauh kesana…” gerutu Donghae.

“Mungkin karena memang file itu penting dan rahasia, lagipula bukankah sudah lama sekali kau tidak pulang? Apa kau tidak merindukan Korea?”

“Untuk apa aku merindukan Korea? Kalau begitu kau saja yang pergi.”

“Enak saja.. ini kan tugasmu.”

Pukul 3 sore Donghae bersiap di apartement nya mengepak baju dan barang bawaan, tak lupa berkas penting yang harus ia sampaikan ke perusahaan SM di Korea.

Setelah di rasa sudah siap, tepat pukul 5 sore ia berangkat ke bandara untuk penerbangan menuju Korea, penerbangan dari Jepang menuju Korea tidak memakan banyak waktu hanya dalam beberapa jam Donghae sudah berdiri di bandara Incheon. Sambil mendengus ia menyeret kopernya menuju pelataran parkir bandara namun tiba-tiba Donghae terjatuh saat seorang gadis menabrak dirinya, saking kesalnya ia dengan bos nya karena di perintahkan ke Korea ia melampiaskan kekesalannya pada gadis itu dengan diam tak menyahut permintaan maaf gadis itu, ini bukanlah sikap Donghae namun beginilah sikap Donghae jika di singgung masalah Korea, ia bisa 100% berubah drastis menjadi sangat sensitif padahal kenyataannya ia adalah pria asli Korea yang memutuskan meninggalkan Korea untuk menyambung hidupnya.

Donghae menghentikan sebuah taksi deluxe untuk mengantarnya ke hotel yang sudah ia pesan, ia memutuskan untuk tidak menginap di Seoul. Donghae mengambil ponselnya dan menekan angka 3 di ponselnya, nama Eunhyuk langsung terpampang di layar ponsel.

“Yeoboseyo..” seru Eunhyuk dari seberang telpon.

“Aku sudah berada di Korea.”

“Lalu? Kenapa memberitahuku? Memang aku ini pacarmu?” sahut Eunhyuk dengan kesal.

“YA! Kau ini kan sahabatku.. makanya aku menelponmu untuk memberitahumu.”

“Ah iya iya~~ kenapa kau selalu naik darah kalau sedang di Korea? Ckck.. oh iya lalu kau menginap dimana?”

“Di daerah Gangwon-do.”

“MWO?? Bukankah meetingnya ada di Seoul? Kau ini bodoh atau apa??”

“Aku memang sengaja, lagipula Gangwon-do kan tidak jauh dari Seoul.”

“Astaga.. baiklah terserah kau saja.. aku lelah adu argumentasi denganmu.”

“Bilang saja kau selalu kalah adu argumentasi denganku..” ejek Donghae.

“Haishh sudahlah.. lanjutkan saja tour mu itu. Aku sedang sibuk.”

“Ya!” Donghae mendengus kesal sambungan telponnya di putus sepihak.

“Sudah sampai Tuan.”

Donghae turun dan menunggu karyawan hotel menghampirinya untuk membawakan kopernya, “Ini..” Donghae membayar uang pas kepada supir taksi lalu berjalan menuju resepsionis.

“Satu kamar VIP atas nama tuan Lee Donghae sudah siap, silahkan.”

Gemericik suara air yang keluar dari shower di kamar mandi hotel membuat Donghae sedikit tenang, ia berbaring di bathtub sambil memejamkan matanya menikmati air hangat dan wewangian aroma therapy yang di suguhkan, secara tak sengaja ia kembali mengingat awal mula ia membenci negaranya sendiri.

Flashback

Donghae berlari menghampiri kekasihnya yang sejak beberapa tahun lalu menyelesaikan study di Singapore, ini adalah tahun kedua usia hubungan mereka dan hari ini adalah hari keberuntungan Donghae karena kekasihnya menyempatkan waktunya untuk bertemu.

“Sunye-ah..” panggil Donghae.

“Apa kabar?” tanya Sunye.

“Apa kabar? Kau ini seperti bicara dengan siapa, aku ini kan pacarmu. Seharusnya kalimat pertama yang kau ucapkan itu adalah ‘aku merindukanmu..’ begitu..”

Sunye hanya tersenyum getir, “Kau, apakah kau terus menungguku?” tanya Sunye.

“Tentu saja.. wae? Kau meragukan ku?”

“Anni..”

“Oh iya bagaimana dengan study mu?”

Sunye terdiam sejenak, ia hanya melihat sekeliling sungai Han tak berani menatap Donghae pria yang sudah dua tahun berpacaran dengannya.

“Kau kenapa?” tanya Donghae yang melihat gelagat aneh di diri Sunye.

“Chagi!” Donghae menoleh spontan saat mendengar suara seorang pria di belakangnya, ia mengikuti arah pandangan pria itu dan pandangan Donghae terhenti tepat pada Sunye.

“Apa aku mengganggu?”

Donghae masih bingung dengan pemandangan di depannya itu, arah perbincangan mereka berdua Donghae masih tidak bisa menebaknya.

“Dia..” Sunye menunjuk Donghae.

“Ah jadi kau mantan pacar Sunye? Park Taejun imnida.” Pria itu mengulurkan tangannya kepada Donghae.

“Lee Donghae imnida.” Balas Donghae.

“Tunggu sebentar, Park Taejun, chagi, mantan pacar…? apa maksudnya?” tanya Donghae.

“Taejun-ah.. tolong beri aku waktu bicara dengannya.” Pinta Sunye.

“Arraseo, aku akan menunggu di sana.” Sahut Taejun.

 “Apa maksudnya??” Donghae langsung menatap tajam Sunye.

“Mian..”

“Mian? Un-untuk apa?” tanya Donghae dengan terbata.

“Mianhae..”

“Sekali lagi aku tanya, apa maksudnya semua ini?”

“Aku berbohong pergi ke Singapore untuk study, aku justru berada disini karena..”

“Dia siapa?” tanya Donghae dengan sedikit emosi.

“Aku dan Taejun sudah bertunangan dan tanggal pernikahan kami juga sudah di tentukan.”

“Aku benar-benar tidak mengerti.”

“Aku merasa kita tidak pernah cocok, aku merasa aku butuh pria bukan seperti dirimu.”

“Wae??”

“Aku butuh pria yang bisa menemaniku saat aku butuh, bukan pria yang selalu berkutat dengan pekerjaan.”

“Hanya karena itu?”

“Pekerjaan membuatmu lupa waktu dan melupakanku, kau berubah menjadi pria kaku, dan aku tidak bisa..” ujar Sunye.

 “Selama ini kau membodohiku? Selama ini aku menunggumu seperti orang bodoh? Selama itu pula kau bersenang-senang dengan Taejun menikmati pertunangan kalian???”

“Mianhae..”

“CUKUP!!!!”

Brrp… Hhh..Hh…Hhhh… Donghae mengatur nafasnya yang tak beraturan akibat menenggelamkan kepalanya di dalam bathtub.

Ia mengusap wajahnya dengan frustasi setelah mengingat kejadian masa lalunya, “Sial!” umpatnya.

JinHae

Minho’s Aparte

“Mwoya?? Busan??”

“Mian.. seharusnya aku menemanimu tapi pekerjaanku..”

Haejin menghela nafas, “Yahh lalu bagaimana?”

“Masalah tempat tinggal, pakailah apartement ku saja. Dan kalau ada apa-apa pakai ini.” Minho memberikan ponsel androidnya.

“Tapi aku lebih suka blackberry..”

“Aishh Haejin-ah.. kalau kau memakai ponselmu kau tidak bisa menghubungiku nanti.”

“Jadi..?”

“Jadi pakai ponsel ini.” Paksa Minho.

“Baiklah.” Haejin mengambil android itu, “Kau berangkat malam ini?” tanya Haejin.

“Eo,, aku berangkat malam ini. Kau hati-hati, jika lapar aku menuliskan nomor beberapa restoran 24 Jam siap pesan antar di meja telpon, dan ada persediaan makanan di kulkas. Aku berangkat sekarang.. hati-hati ya.”

“Kau juga hati-hati. Semoga perjalananmu menyenangkan.” Seru Haejin.

Setelah Minho menghilang di balik lift Haejin mendesah panjang, “Sial.. rencananya kan aku ingin Minho menemaniku, kalau begini sama saja aku liburan sendiri.” Dengusnya.

Haejin mengambil agendanya dan menuliskan itinerary di agendanya, “Kira-kira budgetnya sesuai ga ya?” ujarnya sendiri dengan bahasa Indonesia.

“Hahhhh…” Haejin menjatuhkan tubuhnya di sofa, sedikit kecewa, ah tidak..bukan sedikit tapi 80% ia kecewa Minho tidak bisa menemaninya pikirnya saat di pesawat ia berharap satu minggu liburannya akan ia habiskan berdua dengan Minho, tapi harapan hanya tinggal harapan..

“Aaah aishhh! Dasar bodoh!! Kenapa tadi aku tidak sempat meminta fotonya??” seru Haejin sembari mengambil kamera polaroidnya.

“Arghh!! Padahal moment ini cocok untuk berkencan dengan Minho, padahal aku sudah menyiapkan kamera ini untuk mengabadikan kencan pertama dengan Minho di Korea! Aishh! Semuanya kacau…!!”

Haejin memilih untuk tidur setelah menulis itinerary untuk liburan pertamanya besok.

JinHae

(Day 1)

Haejin sudah bersiap dengan tas ranselnya, tak lupa kamera polaroid kesayangannya yang ia lingkarkan di leher ikut menemani hari pertama liburannya.

“Ready?? Let’s Go!!” Teriak Haejin dengan semangat yang menggebu.

Hari pertama ia menulis di itinerary tempat yang akan ia kunjungi adalah Seoul, “Mmm.. berarti aku harus naik bus yang itu.” Haejin berjalan menuju halte yang terletak tak jauh dari apartement Minho.

Sebuah bus berwarna biru datang dan langsung membawa Haejin berkeliling, suara instax kamera Haejin terdengar berulang kali, tak jarang ia mengambil gambar sepasang muda mudi yang sedang duduk berdua di bus, atau seorang ibu yang sedang memangku bayinya, dan masih banyak lagi.

Apgujeong-dong, Gangnam-gu..

“Wuahh… ini pasti daerah elit, bangunannya keren..” decak Haejin sambil sesekali mengambil gambar dengan kameranya.

Haejin membuka buku panduan pariwisata yang ia dapat dari Minho kemarin, ia mulai mencari alamat kantor SM Ent, “Aha.. ini dia..” seru Haejin girang.

Haejin memulai petualangannya dari kantor SM Ent yang terkenal dengan artis-artisnya yang menjadi superstar.

“Leeteuk..Leeteuk.. semoga bisa bertemu dengannya..” batin Haejin.

“Omo..” Haejin melihat seorang pria sedang berdiri di samping mobil audi putih, perawakannya mirip dengan leader Super Junior Leeteuk, buru-buru Haejin menyebrang jalan dan segera menghampiri pria itu namun sialnya ia malah menabrak (lagi) pria yang pernah ia temui di bandara.

“Aishh! Kau lagi??” pekiknya.

“Kau yang tidak melihat.” Sahut Haejin.

“Aturan dari mana yang di tabrak yang salah?”

“Cishh~ ya sudah aku minta maaf.”

Dengan mimik wajah yang sama saat pertama kali bertemu di bandara pria itu meninggalkan Haejin tanpa balasan kata-kata apapun.

“Hei tuan.. Aa.. Lee Donghae!” panggil Haejin.

Pria itu menoleh, “Bagaimana kau tahu namaku?” tanyanya.

“Dari.. ini..” Haejin melambaikan dompet Donghae yang tak sengaja terjatuh tadi.

“Selain suka menabrak orang, kau suka mencuri juga?” cecar Donghae.

“Nuga??” teriak Haejin tak terima.

Donghae mengambil dompetnya dari tangan Haejin lalu kembali ke areal parkir mencari mobilnya, “Kau mencari apa?” tanya Haejin.

“Gara-gara kau aku jadi lupa dengan mobilku.”

“Warna silver? Mobil audi?”

“Iya.. cerewet sekali.”

“Bukankah mobil itu di bawa temanmu tadi.” Ujar Haejin.

“Teman? Nugu?”

“Bukankah tadi kau bersama temanmu?”

“Aku datang kemari sendiri, dan tanpa teman.” Tegas Donghae.

“Lalu tadi siapa yang membawa mobilmu?”

Donghae baru sadar kalau baru saja ia kehilangan mobilnya, mobil miliknya yang ia titipkan pada temannya di Mokpo selama ia bekerja di Jepang.

“Ini semua gara-gara kau!” teriak Donghae, seharusnya saat ini ia sedang bergerak menuju hotel untuk memberesi pakaiannya dan pulang ke Jepang karena pekerjaannya sudah selesai di Korea.

“Kenapa menyalahkanku?” Haejin tak terima dengan ucapan Donghae.

“Hhh sudahlah aku bisa pulang dengan bus.” Donghae berjalan menuju halte yang bertuliskan Cheongdam Elementary School.

“Tunggu!!” Haejin menahan langkah Donghae.

“Apa lagi??”

“Ini semua gara-gara kau juga, aku jadi kehilangan ponsel dan agendaku..”

“Kenapa aku?”

“Ternyata pencuri itu juga mencuri barang-barangku.”

“Salahmu sendiri.” Donghae melanjutkan langkahnya.

“Tapi bagaimana dengan nasibku? Bagaimana aku bisa pulang?”

“Ya naik bus saja.” Jawab Donghae enteng.

“Alamat tempat tinggalku ada di agenda, dan aku benar-benar tidak tahu.”

“Jangan membohongiku, Ya! Kau ini orang Korea tidak tahu arah? Lucu sekali.”

“Aku memang warga Korea, tapi aku sudah lama tidak tinggal disini dan saat kecil aku juga tidak tahu daerah metropolitan seperti ini.” Ujar Haejin kesal.

“Lalu?”

“Kau ini kaku sekali jadi pria.”

“Apa kau bilang?”

“Sudahlah percuma bicara denganmu, aku tidak butuh di kasihani.” Haejin berbalik arah meninggalkan Donghae yang tercenung akibat ucapan Haejin tadi.

Donghae memang berjalan menuju halte tapi ia juga sedikit merasa kasihan pada Haejin karena sejak tadi Haejin berusaha meminta tolong pada orang-orang di pinggir jalan namun banyak yang tak peduli, dan kini ia sedang berjongkok di pinggir jalan entah akan melakukan aksi apa lagi.

“Haishh!” Donghae berbalik arah menghampiri Haejin yang sudah hampir menangis.

“Aku bantu mencari rumahmu.” Donghae mengulurkan tangannya pada Haejin.

“Ya! Bukankah kita mau mencari rumahmu? Kenapa berjalan kesini?” tanya Donghae.

“Hehe.. kebetulan sekalian saja kau menemaniku jalan-jalan, aku belum pernah jalan-jalan di sini.” Ujar Haejin.

Insadong, pukul 7 malam mereka berdua menghabiskan waktu di tempat itu, Haejin makin terkesima saat melihat pertunjukan jalanan. Ia memotret apa saja yang menurutnya wajib di abadikan, termasuk wajah masam Donghae.

“Ini sudah malam, bagaimana kalau kita pulang?” usul Donghae.

“Iya tapi bagaimana denganku?” Haejin memasang wajah hampir menangis.

Donghae menghela nafasnya lagi, “Baiklah kau ikut ke hotel bersamaku.” Ajak Donghae.

“Tapi..” Haejin menatap Donghae dengan curiga.

“Kau ini.. mau tidak??” seru Donghae kesal.

“Iya iya…”

“Waahh ini hotel atau istana? Mewah sekali..” Haejin memotret interior kamar hotel yang lebih mirip ruang tidur milik seorang raja.

 “Lalu nanti aku tidur dimana?” tanya Haejin antusias.

“Tidurlah di atas, aku akan tidur di sofa.” Jawab Donghae.

“Eh? Kau mau apa?” tanya Haejin lagi.

“Mandi.. seharian menemanimu jalan-jalan membuat tubuhku lengket.”

Haejin menelan ludah saat di depan matanya Donghae melepas kemeja putihnya, walaupun memakai kaos tanpa lengan di dalamnya tetap saja bentuk tubuh sempurna Donghae terlihat.

“Wae? Kau terpesona dengan tubuhku?” tanpa Haejin sadari Donghae sejak tadi sudah melirik Haejin.

“A-ah?? Anni!”

“Aku makin tertarik dengan liburanmu, besok kita kemana?” tanya Donghae dari dalam kamar mandi.

“Se-sedang aku tulis jadwalnya..” jawab Haejin dengan sedikit berteriak.

Jantung Haejin berdegup kencang melihat Donghae tadi, selain ABS nya senyum Donghae memang bisa di bilang bisa melumpuhkan otak syaraf wanita.

JinHae

(Day 2)

Myeongdong…

“Benar kau mengajak kemari?” tanya Haejin memastikan.

“Lalu? Aku harus membiarkanmu memakai pakaianku yang besar itu?”

“Huwahh kau baik sekali… baiklah kalau begitu ayo masuk.” Ajak Haejin.

“Apa kau tidak pintar menawar? Mahal sekali, 45,000 won.. jika di total semuanya mencapai hampir 150,000 won. Kau anak orang kaya ya?”

Donghae tak menyahut, ia langsung membawa gadis cerewet itu menyusuri jalanan di Myeongdong.

“Oh iya, ini pakai ponselku.” Donghae memberi ponselnya yang berwarna putih.

“Eung… tidak apa-apa?”

“Itu supaya nanti kalau kau menghilang aku tidak repot mencarimu.” Sahut Donghae.

“Oh.. baiklah..” Haejin menyusupkan ponsel itu ke dalam saku.

“Oh iya kau suka sekali memotret?” tanya Donghae.

“Iya, karena menurutku foto adalah benda bisu yang menjadi bukti sebuah keabadian.” Jawab Haejin.

“Bukti keabadian..?”

“Donghae-ah..” Haejin memotret wajah Donghae dengan spontan saat Donghae menoleh ke arahnya.

“Kebiasaan buruk.” Cibir Donghae.

“Bagaimana kalau kita berfoto bersama? Sini..” Haejin mendekat kepada Donghae dan mulai beraksi narsis di depan kamera, “Eh lalu siapa yang mau memotret kita?”

Donghae tertawa, “Dasar bodoh.” Ejeknya.

“Heh disini kan banyak orang.” Haejin menghentikan langkah seorang turis yang sedang berjalan.

“Ok.. say.. kimchi…” seru turis itu.

“KIMCHI….!!!” teriak Haejin sambil berpose dengan Donghae.

“Thank you…”

“Wah bagus juga hasil fotonya.” Puji Haejin.

“Kau terlihat konyol dengan senyum itu.” Ejek Donghae.

“YA!”

“Hahaha…”

“Ngomong-ngomong sejak pertama bertemu denganmu, kau bilang kau dari luar negri, memang asalmu dari mana?” tanya Donghae.

“Sebenarnya aku ini dari Mokpo, tapi saat aku kecil kedua orang tuaku memilih pindah ke Indonesia tempat asal ayahku. Dan selama aku di Korea aku juga tidak pernah pergi ke Seoul, yang aku kerjakan hanya sekolah dan terus berada di Mokpo.” Jawab Haejin.

“Aku juga dari Mokpo, kita sama-sama dari Mokpo. Senang berkenalan denganmu, eung..”

“Lee Haejin.” Sambung Haejin.

“Ya, Lee Haejin..” Donghae terkekeh.

Lagi-lagi Haejin memotret Donghae yang tengah tersenyum, “Hihi.. kau tampan kalau tersenyum.” Puji Haejin.

“Sudah ku bilang jangan suka memotret sembarangan.”

Haejin tertawa, “Tapi boleh tidak aku bertanya sesuatu.?”

“Apa?”

“Kau tidak menyukai Seoul? Kenapa?” tanya Haejin.

Donghae terdiam sesaat lalu menghela nafas, “Entah sihir apa yang kau gunakan untuk membuatku menceritakan masalah pribadiku padamu.” Sahutnya.

“Hehe.. ayolah, bukankah kita Mokpo bersaudara..?”

“Aku sangat membenci semua yang berhubungan dengan gadis itu, dia memilih pergi dengan pria lain yang ia anggap lebih baik dariku. Dia bilang aku ini adalah pria kaku, aku tidak punya perasaan untuk membahagiakannya karena terlalu sibuk dengan pekerjaanku.”

“Karena itu kau sangat membenci negaramu sendiri?” tanya Haejin.

“Hhhh… entahlah..”

“Apa kau masih mencintainya?” tanya Haejin lagi.

“Untuk apa aku mencintai tunangan orang? Itu hanya akan membuat harga diriku jatuh.”

“Jadi? Kau sudah melupakannya?”

Donghae terdiam, ia bingung harus menjawab apa karena selama ia di Jepang perasaan yang ada di hatinya saat mengingat Sunye bukanlah perasaan rindu atau sejenisnya, sebaliknya ia merasa bosan dan muak. Namun selama 2 hari bersama gadis yang dia juga tidak tahu asal-usulnya, gadis yang tidak sengaja bertemu di bandara, gadis yang ia anggap gadis aneh, ia tidak merasakan perasaan apapun tentang kisah cintanya yang lalu, seakan ia sudah melupakannya karena keceriaan yang ia terima dari gadis di hadapannya saat ini. Apakah perasaannya pada Sunye dulu bukanlah cinta? Apakah itu hanya perasaan sesaat, perasaan takut kehilangan kekasih, bukan takut kehilangan orang yang di cintai?

“Kenapa kau diam?” Haejin menyadarkan Donghae yang sejak tadi melamun.

“Eh? Ah tidak..”

 “Besok kita kemana lagi ya??” seru Haejin.

“Yang pasti ke tempat yang menyenangkan..” jawab Donghae, ia tak sadar bahwa dirinya sudah masuk ke dalam dunia gadis itu, dunia gadis yang baru beberapa hari ia kenal, Lee Haejin. Dan ia pun tak sadar jika ia turut terhanyut oleh liburan ala Haejin.

JinHae

(Day 3)

“Itu apa?” tanya Haejin.

“Kau tidak punya? Astaga.. kau ini kenapa tidak tahu segalanya??” Donghae heran dengan makhluk di sampingnya yang tidak tahu T-Money.

“Aku tidak punya, lalu bagaimana cara mendapatkannya?” tanya Haejin.

“Ikut aku.” Donghae langsung mengajak Haejin menuju 7-Eleven.

“Langsung isikan 10,000 won.” Ujar Donghae pada karyawan 7-Eleven itu.

“10,000 won?? Banyak sekali??” seru Haejin.

“Ini, simpan jangan sampai hilang.” Ujar Donghae tak memperdulikan seruan Haejin.

Donghae dan Haejin berjalan mencari tempat makan setelah mengisi T-Money baru milik Haejin.

“Sudah lama aku tidak menikmati makanan di Korea, aku akan memesan sundupu dan patbingsu.”

“Aku bibimbap dan kimchi saja.” Ujar Donghae sambil menyentuh layar touchscreen yang di sediakan oleh restoran itu untuk memesan makanan.

Tak perlu menunggu lama karena pengunjung yang datang hanya beberapa saja pesanan mereka berdua sudah berada di meja.

“Selamat makan!!” seru Haejin dan Donghae.

“Kenyang..!”

“Lalu kita mau kemana Haejin-ah?” tanya Donghae.

“Aku ingin melihat pertunjukan JUMP.” Jawab Haejin.

“JUMP? Benar kau ingin melihatnya?”

“Iya.. kajja..”

Mereka berdua berhenti di bangunan yang biasa di jadikan tempat pertunjukan JUMP, pertujukan yang sangat terkenal bahkan di luar Korea, Haejin sempat melihat brosurnya saat beberapa waktu lalu JUMP tampil di Indonesia namun tidak sempat untuk menontonnya.

“Haaa?? Yang benar saja? Harganya semahal itu??” pekik Haejin.

“Jadi bagaimana?”

“Uang yang ku bawa tidak cukup, bagaimana denganmu?” tanya Haejin pada Donghae.

“Sama saja, aku hanya membawa beberapa.” Sahut Donghae.

“Tidak bisa melihat JUMP, kalau begitu kita kesana saja..” Haejin menarik tangan Donghae menuju sebuah tempat.

“Namsan Seoul Tower??”

“Hehehe… ayo masuk..” seru Haejin.

“Uh? Love lock? Bagaimana kalau kita coba?” Haejin melirik Donghae.

“Yahh baiklah..”

Haejin dan Donghae sibuk dengan gembok cinta yang mereka beli, “Apa yang kau tulis? Kenapa di coret?” tanya Donghae.

“Tadinya aku ingin menulis nama Choi Minho disini, tapi karena dia tidak disini jadi aku menulis namamu saja ya.” Jawab Haejin.

“Baiklah kalau begitu aku juga akan menulis namamu, ini bukan karena kita saling suka kan? Ini karena kita adalah..”

“MOKPO BERSAUDARA….!” seru Haejin dan Donghae.

“Selesai!!” seru mereka berdua.

Setelah selesai membuang kunci, Haejin dan Donghae berjalan menuju Love Tile, Haejin dan Donghae menulis sebuah pesan dan menempelkan di tempat yang sudah di sediakan.

“Apa yang kau tulis?” tanya Donghae.

“Rahasia.” Haejin menjulurkan lidahnya.

“Ya sudah kalau begitu aku juga akan menulis pesan rahasia.” Balas Donghae.

Haejin dan Donghae saling berpandangan, lalu detik berikutnya mereka tertawa bersama merasa kalau diri mereka saat itu tengah melihat sisi kekanakan mereka sendiri.

JinHae

(Day 4)

“Kau sudah siap dengan penjelajahan kita hari ini?” tanya Haejin.

“Tentu.. kemana kita hari ini?”

“Pulau Nami!!!”

Donghae membelalakan matanya, “Nami??” ulangnya.

“Ayo… nanti kita kesiangan..” Haejin menyeret Donghae keluar dari kamar hotel.

“Padahal musim panas tapi kenapa dingin ya?” desah Donghae sambil mengeratkan jaketnya.

“Aku lebih suka disini, di Indonesia cuacanya panas sekali.. gerah..” Haejin malah membuka kancing jaketnya dan membiarkan udara masuk mendinginkan tubuhnya.

“Ya! Tutup tubuhmu itu, kau tidak malu huh?” Donghae salah tingkah saat Haejin menyibakan rambutnya dan otomatis wangi shampo yang Haejin pakai tadi menyeruak, dan yang membuat wajah Donghae merah padam adalah secara tak sengaja ia melihat bentuk tubuh Haejin yang di rasa cukup bagus, tidak pendek, tidak tinggi, tidak kurus, dan tidak terlalu gemuk.

“Haishh!” Donghae menepuk kedua pipinya sendiri menyadarkan dirinya dari ilusi sesaat tadi.

Selama 1 jam lebih mereka menempuh perjalanan menuju pulau Nami, dan akhirnya tiba di stasiun Gapyeong.  Sesampainya di pulau kebanggaan Negeri Ginseng itu Haejin dan Donghae langsung membeli tiket masuk.

“Hei, kau itu termasuk wisatawan asing? Atau warga Korea?” tanya Donghae.

“Aku dari luar negri berarti aku ini wisatawan asing, berarti aku membayar lebih murah.” Sahut Haejin enteng.

“Ck.. wajahmu itu semua orang juga bisa tahu kalau kau ini orang Korea.”

“Oh ya?”

“Kita lihat saja nanti.”

“Haishh.. kau benar, dia mengambil 10,000 won untuk tiketku.”

Donghae tertawa, “Dasar bodoh.”

“Berhentilah mengataiku bodoh..” Haejin memicingkan matanya.

Donghae menggelengkan kepalanya geli, ia melanjutkan perjalanannya mengelilingi pulau Nami.

Cukup puas rasanya menghabiskan 10,000 won untuk mengunjungi pulau Nami, karena memang kita bisa di manjakan dengan pemandangan yang menakjubkan dan juga beberapa cendera mata untuk oleh-oleh.

Namun tiba-tiba hujan turun sedikit demi sedikit, Haejin dan Donghae pun memutuskan untuk pulang sebelum hujan deras turun.

Selama perjalanan pulang Donghae lebih memilih untuk diam, Haejin sendiri asik dengan kameranya memotret apa saja yang ia pikir patut untuk di abadikan.

Deg.. Haejin merasakan pundaknya terasa berat, ia menoleh sedikit dan mendapati Donghae tertidur di pundaknya, Haejin mengerjapkan kedua matanya menikmati setiap lekuk wajah Donghae yang sedang terlelap, namun detik berikutnya ia sadar kalau ia terlalu berlebihan menatap Donghae.

“Gwenchana?” tanya Haejin saat mereka sampai di depan hotel.

Donghae hanya menggumam, “Aku bantu kau jalan.” Ujar Haejin.

Haejin memapah Donghae masuk ke kamar hotel, walaupun beberapa pasang mata menatapnya sinis karena menganggap yang bukan-bukan Haejin tidak peduli toh memang dia tidak melakukan hal macam-macam dengan Donghae.

Brughhh… Haejin menjatuhkan Donghae pelan di tempat tidur, ia mengecek suhu badan Donghae dan benar prediksinya kalau Donghae demam.

“Apa kita perlu ke rumah sakit?” tanya Haejin.

“Tidak usah.” Sahut Donghae lemas.

“Aku bantu mengompres.” Haejin berjalan ke kamar mandi membasahi handuk kecil dengan air dan mengompreskannya di dahi Donghae.

Donghae terus menggumam, “Apa kau terlalu lelah jadi sakit?” tanya Haejin, namun Donghae hanya bisa menggumam terus tak menjawab pertanyaan Haejin. Setelah mengompres tubuh Donghae dan membersihkan tubuhnya, Haejin langsung bersandar di sofa, malam ini ia terpaksa tidur di sofa karena tidak mungkin ia menyuruh Donghae untuk tidur di sofa dalam keadaan sakit, lagipula bisa menginap gratis disini saja sudah berkah untuk Haejin =,= “

 (Day 5)

“Ireona..” Haejin mengintip Donghae yang masih tidur di balik selimut.

“Apa kau masih sakit?” tanya Haejin.

Donghae membuka sedikit selimutnya melirik Haejin yang sudah membawakannya sarapan, “Hhh.. kepalaku sakit, sepertinya ini gara-gara kehujanan dan udara kemarin.” Ujar Donghae.

“Aku akan mengukur suhu tubuhmu, aku baru meminjam ini dari karyawan hotel.” Haejin langsung membuka selimut Donghae, “KYAAA!!” teriaknya seketika.

“Aishh.. wae? Katanya mau memeriksa suhu tubuhku?”

“Tapi jangan langsung kau buka!”

“Dasar aneh..” desis Donghae, ia membaringkan tubuhnya dan membiarkan Haejin memeriksa suhu tubuhnya.

Donghae menoleh ke arah Haejin yang sedang memejamkan matanya merasakan suhu tubuh Donghae dengan punggung tangannya, walau terkadang gadis di depannya itu sedikit lama dalam berpikir, terkadang ia  juga cengeng karena hal sepele, dan terkadang gadis itu juga bisa dengan sekejap berubah menjadi gadis cerewet namun tangannya sangat hangat seperti tangan seorang ibu.

“Jadwal liburan hari ini sepertinya harus di batalkan.” Ujar Haejin setelah mengecek suhu tubuh Donghae.

Donghae berpaling melihat arah jendela, “Kalau begitu kau pergilah sendiri.” Ujar Donghae.

“Ah aku ini tidak setega itu, aku akan menemanimu disini.” Sahut Haejin.

“Sudahlah, aku ini bukan anak kecil.”

“Iya, lagipula kalau aku jalan sendiri nanti siapa yang akan membayariku? Atau menunjukan jalan..?” Donghae melirik, “Ahh maksudku.. kan tidak asik kalau hanya sendiri.. yah sudahlah, aku akan merawatmu. Besok kan bisa jalan-jalan lagi.” Haejin buru-buru merapikan alat termometer dan menyuruh Donghae memakan sarapannya.

“Hoaaaaaam….!!” Haejin menguap setelah mengirim e-mail pada Minho melalui laptop Donghae.

“Sudah?” tanya Donghae.

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau punya laptop? Kalau dari awal aku tahu aku kan bisa memberitahu Minho di mana aku tinggal dan dia bisa menjemputku.”

“Apa kau minta Minho menjemputmu?” tanya Donghae.

“Anni.. aku hanya mengiriminya pesan kalau aku baik-baik saja dan aku sedang bersamamu.” Jawab Haejin polos.

“Syukurlah..” desis Donghae.

“Wae? Kau takut aku meninggalkanmu ya?” ledek Haejin.

“Bicara apa kau ini?” Donghae melempar handuknya ke wajah Haejin.

“Huh… aku kan hanya bercanda.” Sungut Haejin.

“Pakai jaketmu, kita makan malam.”

“Makan?? Oke…!!” dengan semangat Haejin langsung menyambar jaketnya dan menyusul Donghae yang sudah ada di depan pintu.

Hongdae…

“Wuahh lucu sekali..” seru Haejin saat melihat pernak-pernik Hello Kitty di sebuah kafe di daerah Hongdae.

“Kau suka kan warna pink?”

“Bagaimana kau tahu?” tanya Haejin.

“Terlihat dari banyaknya barangmu yang berwarna pink.” Sahut Donghae.

“Bukan karena kau selalu memperhatikanku?”

“Aishh.. bocah ini..”

“Hehehe… iya iya aku tahu, aku bukan tipe mu. Sudah jangan bicara lagi.” Haejin berjalan masuk dan memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela memperlihatkan jalanan Hongdae malam itu.

Donghae yang memperhatikan Haejin semakin lama semakin bingung mengartikan perasaannya saat ini. Tidak mungkin hanya dalam waktu beberapa hari ia bisa jatuh cinta pada Haejin, dan belum tentu juga Haejin merasakan hal yang sama.

“Donghae-ah… sini..” Haejin melambai ke arah Donghae yang masih berdiri.

Setelah memesan makanan, Donghae memilih diam memejamkan matanya sambil mendengarkan musik dari iPod nya, sementara Haejin yang tak bisa lepas dari kameranya mulai bermain dengan kamera kesayangannya, berkali-kali ia memotret Donghae dengan pose yang sangat cool. Haejin mengambil kotak pink dari ranselnya yang berisi kumpulan foto-foto selama ia bersama Donghae, sesekali ia tertawa saat menemukan foto wajah Donghae yang lucu.

“Ya! Itu fotoku saat tidur??”

Haejin terkejut dan langsung tersenyum lebar, “Hehehe… iseng..” sahutnya.

“Berikan padaku..!”

“Andwe.. aku mengumpulkan ini dengan susah payah..”

Donghae menghampiri Haejin dan duduk di sebelahnya, “Kapan kau mengambil gambar-gambar ini?” tanya Donghae.

“Saat ada kesempatan saja.” Jawab Haejin.

Haejin menunjukan beberapa foto yang lucu, dan Donghae pun ikut tertawa saat melihatnya. Haeijn menatap Donghae yang sedang tertawa melihat beberapa foto miliknya, senyum itu benar-benar seperti malaikat, bisa mendamaikan hati, dan membuatnya ikut tersenyum.

“Aku benar-benar menyukai senyum mu.”

Donghae memiringkan kepalanya menatap Haejin, “Pernyataanmu mengejutkanku.” Ujar Donghae datar.

Haejin terkekeh, “Lusa akan menjadi hari terakhir liburan kita.” Ucapnya.

“Hari terakhir?”

“Aku hanya meluangkan waktu seminggu untuk liburan di Korea, dan setelah liburan selesai aku akan kembali ke Indonesia.”

Donghae menganggukan kepalanya, “Aku juga akan kembali ke Jepang.” Ujarnya.

“Ini akan menjadi liburan paling menyenangkan dan paling tidak terduga.” Haejin tersenyum.

“Baguslah kalau kau senang melewatkan liburan bersamaku.”

JinHae

(Day 6)

“Aku sering melihat lokasi ini di beberapa drama.”

“Ya!” Haejin menoleh saat Donghae tak menyahut ucapannya, “Eh?” Haejin mengerjapkan kedua matanya melihat Donghae sedang berdiri sambil memejamkan matanya menikmati udara di sekitar sungai Han, ia berpaling sejenak tapi kemudian ia menolehkan wajahnya lagi untuk menatap Donghae. Pria di hadapannya ini bukanlah pria yang sudah ia kenal belasan tahun tapi kenapa rasanya Haejin seperti sudah mengenalnya lama?

“Bagaimana kalau kita naik sepeda?” tiba-tiba wajah Donghae sudah mendekat di wajah Haejin sambil tersenyum.

“Bo-boleh..” sahut Haejin.

“Tunggu disini, aku akan menyewa sepeda dulu.” Donghae langsung melesat pergi.

Tak berapa lama Donghae sudah kembali dengan satu sepeda yang ia bawa, “Ayo naik..!” seru Donghae.

“Kenapa tidak menyewa dua sepeda sih?”

“Tinggal ini saja. Sudah tidak apa-apa, ayo cepat..”

Haejin menaiki sepeda dan menduduki palang yang melintang di antara kemudi sepeda dan tempat duduk sepeda.

“Sakit..” rengek Haejin.

“Jangan manja..” sahut Donghae, “Sekarang kita jalan!!” seru Donghae kemudian.

Donghae dengan pelan mengayuh sepeda, sementara Haejin masih sibuk dengan pemikirannya tadi, berkali-kali ia menggelengkan kepalanya. Donghae yang memperhatikan tingkah Haejin menyipitkan matanya. “Kau ini kenapa?” tanya Donghae.

“Ah tidak..”

“Apa ada masalah?”

“Eung.. boleh aku bertanya?”

“Boleh.”

“Apakah kau ingin jatuh cinta lagi?”

“Apa?” Donghae menghentikan laju sepedanya.

“Iya.. apakah kau ingin jatuh cinta lagi?” ulang Haejin.

“Jatuh cinta?” Donghae menerawang, “Molla, mungkin iya tapi tidak dengan gadis Korea.” Sambungnya.

“Apa.. apa kau percaya jika nanti kau bertemu dengan seorang gadis kau bisa jatuh cinta padanya hanya dalam waktu singkat? Eung.. 7 hari misalnya.?” Tanya Haejin lagi.

Donghae tertawa kecil, “Itu tidak mungkin.” Jawabnya.

“Tapi itu mungkin saja..”

“Kenapa bisa begitu?” tanya Donghae.

“Karena.. karena aku menyukaimu.”

“A-apa?”

“Tidak..bukan apa-apa.”

Donghae memperhatikan Haejin lagi, walaupun ia hanya bisa memperhatikan punggung Haejin bukan wajah Haejin tapi ia bisa menebak kalau saat ini Haejin tidak sedang bercanda. Ini pertama kalinya Donghae merasa tersipu saat ada seorang wanita yang menyatakan perasaannya, ini pertama kali juga bagi Donghae  merasa senang dan tenang saat ada seorang wanita menyatakan perasaannya. Apakah ini berarti perasaannya mulai terjawab? Perasaan yang ia tak mengerti beberapa hari ini akhirnya sudah mulai menemukan titik terang, iya.. apa lagi? Apa lagi kalau bukan ia diam-diam juga mulai menyukai sosok Haejin?

Day 7

Ini hari terakhir perjalanan liburan mereka, hari ini suasana di sekitar Lotte world yang ramai pengunjung mendadak menjadi sepi di antara dua orang yang sedang duduk sambil memandangi beberapa wahana permainan.

“Permainan itu sepertinya seru.” Ujar Haejin membuka percakapan dengan kaku.

“Naik saja sendiri, aku tunggu disini.” Sahut Donghae.

“Eung..” Haejin memainkan telunjuknya lalu beralih memandang Donghae, “Apa kau marah tentang masalah kemarin?” tanyanya.

“Tidak, untuk apa aku marah..?” jawab Donghae tenang.

“Syukurlah kalau begitu.. aku pikir kau marah..” kini nada bicara Haejin sudah normal seperti dulu, kembali seperti Haejin yang cerewet.

“Apakah Minho akan menjemputmu?” tanya Donghae.

“Huum, setelah bermain di sini dia akan menjemputku. Dan lusa aku akan kembali ke Indonesia.” Jawab Haejin.

Donghae menolehkan kepalanya ke samping, ia melihat Haejin yang sedang berpegangan sebuah palang besi yang menjadi pembatas antara sebuah wahana permainan dengan tempat orang yang melepas lelah karena menjelajahi semua wahana permainan.

“Detik-detik kembang api akan di nyalakan, aku siapkan kamera dulu ah.” Ujar Haejin, kini di tangannya sudah ada sebuah kamera kesayangannya dan sudah bersiap mengambil gambar kembang api yang akan di nyalakan beberapa detik lagi.

“5..4..3..2..1….”

“Haejin-a..” tepat saat kembang api itu menyala di langit Donghae memanggil Haejin dan mendekatkan wajahnya ke wajah Haejin.

Haejin membelalakan matanya, ia bisa melihat dengan jelas di bawah sinar terang kembang api wajah Donghae yang memejamkan mata sambil menciumnya. Ini mirip seperti kisah drama romantis yang selalu ia tonton, namun ia berharap ini bukanlah sebuah scene sebuah drama.

“Saranghae..” ucap Donghae.

Haejin mengerjapkan kedua matanya, terkejut? Shock? semuanya bercampur jadi satu dan membuat kepala Haejin saat ini pusing.

“Baiklah.. aku biarkan kau berpikir bahwa ini suatu kegilaan, suatu hal yang tidak mungkin terjadi.. selama 7 hari aku bisa jatuh cinta padamu tapi.. Hh.. inilah yang selalu aku takutkan, cinta itu mengerikan.”

Haejin masih diam terpaku, di benaknya masih terekam jelas adegan ciuman itu, berkali-kali ia menepuk pipinya sendiri.

“Lee Haejin..”

Haejin menunduk malu, “I-iya.. aku juga..”

“Kalau begitu lupakan saja yang tadi. Aku pikir-pikir lagi ini adalah hal yang tidak masuk akal, aku pikir ini hanya cinta sesaat saja. Dan jika nanti kita berpisah hidup kita akan kembali normal seperti dulu.”

Haejin tercekat, setelah menciumnya tadi Donghae bisa bilang lupakan saja?? Apa memang semua pria seperti ini? Haejin bahkan belum menyelesaikan kalimatnya tadi.

“Begitu ya? Aku mengerti.. baiklah, aku rasa ini juga tidak mungkin.” Sahut Haejin, “Mmm.. kalau begitu aku pergi sekarang, aku akan menunggu Minho menjemputku.” Haejin melangkah keluar.

Donghae menatap punggung Haejin yang sudah berjalan keluar, lama-lama sosok yang ia pandang sudah menghilang di balik kerumunan orang, ia mendesah lagi sambil memijat pelan keningnya memikirkan hal mustahil yang nyatanya terjadi pada dirinya, pada kehidupan cintanya, kehidupan cinta yang tak pernah Donghae bayangkan bahkan mungkin tak pernah ia impikan.

30 March 2012 @ Incheon Airport

“Mian aku tidak bisa menemanimu liburan kemarin.” Minho menepuk kepala Haejin pelan sambil tersenyum meminta maaf.

“Gwenchana.. sudah menumpang di apartement mu saja sudah beruntung. Hehehe..”

“Lain kali aku janji aku akan menemanimu liburan sampai kau puas.” Minho mengacungkan telunjuk dan jari tengahnya.

Haejin tertawa kecil, “Ya sudah.. aku harus masuk sekarang.” Ujarnya sambil menyeret koper berukuran sedang.

“Ok, hati-hati.”

“Eh iya. Untuk ponselmu yang hilang itu aku..”

“Sudah jangan di pikirkan, pergilah sebelum aku berubah pikiran menyuruhmu mengganti ponselku.” Canda Minho.

Haejin menjulurkan lidahnya sambil tertawa, “Ok.. gomawo..”

“Untuk apa kau menyusulku kesini??”

“Harusnya kau senang aku menjemputmu kesini.”

“Eunhyuk-a kau ini memang aneh.”

“Eh apa itu?”

Donghae menelengkan kepalanya mengikuti arah telunjuk Eunhyuk, matanya melihat gantungan hello kity pink yang tersemat di tas nya.

“Pink?? Sejak kapan hah???” Eunhyuk hampir menangis geli melihat gantungan kunci itu.

“Ini bukan punyaku.” Jawab Donghae.

“Lalu? Apa kau menemukan gadis Korea lagi? Haha…”

“Ini tidak lucu.” Donghae menoyor kepala Eunhyuk.

“Hhh baiklah baiklah.. kalau begitu kita masuk saja sekarang.” Ujar Eunhyuk sambil tertawa lebar.

“Aku akan pulang ke Indonesia..”

Ucapan Haejin terus terngiang di pikiran Donghae, langkahnya makin pelan dan terlihat ragu untuk melangkah masuk.

“Aku titip koperku.” Seru Donghae pada Eunhyuk.

“Mau kemana?? Yak!! Donghae-a!!”

Donghae tak menggubris teriakan Eunhyuk, ia terus berlari menuju pintu penerbangan ke Indonesia, deru nafas yang tak beraturan dan peluh yang mengalir di kening tak ia pedulikan, saat ini yang ada di pikirannya adalah menemui Haejin dan meminta maaf atas ucapannya kemarin sebelum penyesalan menggerogoti sendi-sendinya.

“Orang itu?” Donghae mengenali sosok Minho yang masih berdiri di depan pintu masuk.

“Chogiyo..” sapa Donghae.

“Nde?”

“Apa kau Minho? Teman Haejin?”

“Haejin? Kau siapa?”

“Aku Donghae, aku..”

“Aa~ Donghae? Haejin sempat membicarakan tentangmu, kemarin ia memintaku mengantarnya ke Seoul Tower untuk mengambil ini dan menyimpannya, dia bilang dia sudah tidak mau melihat pesan ini tapi aku rasa kau membutuhkannya.” Ucap Minho.

Setelah memberikan secarik kertas mungil berwarna pink itu Minho berangsur pergi meninggalkan Donghae.

“Sial..” desis Donghae setelah membaca tulisan itu, ia pun mengambil ponselnya dan mulai menghubungi ponsel yang pernah ia berikan pada Haejin beberapa waktu lalu.

“Angkat bodoh..!” decak Donghae.

“Hh.. masih ada 15 menit.” Haejin mendesah pelan sambil menyeruput segelas cappucino, ia pun menimang-nimang ponselnya atau lebih tepatnya ponsel milik Donghae yang tidak sempat ia kembalikan kemarin. Jarinya pun penasaran ingin membuka folder-folder yang ada di ponsel itu, telunjuknya sibuk berkutat dengan layar touchscreen iPhone berwarna putih itu.

“Hee?? Ini kan aku…??” Haejin melongo saat melihat banyak gambar dirinya yang tersimpan di ponsel itu, ia mengingat-ingat lagi kapan Donghae mengambil banyak gambar dirinya.

“Ini di ambil malam-malam.. ah iya semuanya gambar saat aku tidur, dasar pria aneh.. mengambil gambar wanita di saat tidur, aku kan jadi tidak bisa pose.” Dengus Haejin.

Deg… Jantung Haejin mencelos saat menemukan sebuah gambar yang pernah Donghae ambil saat mereka berada di taman, tepat beberapa menit sebelum Haejin menyatakan perasaannya saat itu. Donghae menatapnya dengan sangat  lembut, senyumnya sangat hangat, tak terasa mata Haejin memanas dan keluarlah bulir air mata. “Hhh.. lupakanlah Lee Haejin, yang dia katakan memang benar.. hanya cinta sesaat, cinta sesaat setelah ia mengambil ciuman pertamaku.” Desah Haejin sambil memasukan ponselnya ke dalam saku jaket, namun belum sampai tangan Haejin keluar dari saku jaket ponselnya berdering.

“Donghae..?”

Lama sekali ia menahan panggilan itu, sebenarnya ingin sekali ia menerima telpon dari Donghae namun niatnya ia urungkan, ia pun mematikan ponselnya lalu memasukan ponsel itu ke dalam tasnya.

Haejin berjalan lesu saat bagian informasi mengumumkan pesawatnya sedang bersiap, “Haah.. suara operator itu kenapa berisik sekali?” komentar Haejin saat mendengar suara gaduh yang terdengar saat operator mengumumkan beberapa pesawat yang sudah bersiap.

“Jin..Haejin..!”

Haejin berhenti berjalan saat mendengar namanya di panggil, “Haejin!!! Kau mendengarku???”

“Donghae????”

“Haejin! Dimana pun kau berada aku yakin kau masih disini dan mendengarku! Aku minta berhenti di tempat dan tunggu aku!! Aku akan menyusulmu sekarang!!!”

Beberapa orang yang berada di bandara saling pandang, mengira-ngira siapa sosok Haejin dan siapa sosok pria yang berani masuk ke dalam ruang operator dan menimbulkan kericuhan.

“HAEJIN!!!” semua orang yang berada di lobi menengok ke arah suara keras itu tak terkecuali sang pemilik nama.

Donghae berlari menghampiri Haejin yang masih berdiri terpaku, kini jarak mereka hanya tinggal beberapa centi.

“Saranghae..”

Haejin terdiam beberapa saat, ia menggelengkan kepalanya pelan seraya mendekati Donghae.

“Arghh..!!!” Donghae mengerang kesakitan saat Haejin sengaja menginjakan kakinya dengan keras.

“Sekarang kau mengatakan kata-kata itu lagi?? Lalu nanti setelah itu kau akan bilang ini semua hanya cinta sesaat? Dasar pria bodoh!” Haejin memukul dada Donghae berkali-kali.

Donghae menahan kedua tangan Haejin, “Aku tidak bercanda.” Ucapnya.

“Kalau begitu buktikan.”

Donghae merogoh saku celananya, dan meminta tiket pesawat milik Haejin. “Untuk apa?”

Donghae tak menyahut, kini di tangannya ada dua tiket dengan tujuan yang berbeda, ia memandang Haejin sekilas lalu dengan cepat ia merobek kedua tiket itu di depan Haejin.

“Kita akan memulainya lagi dari awal, mulai hari ini selama 7 hari, selama itu kau bisa melihat ucapanku sebagai suatu kebenaran atau hanya sebuah lelucon.” Ujar Donghae.

Haejin mengerjapkan kedua matanya, tangannya terayun saat Donghae menarik tangannya untuk keluar bandara. Haejin menahan langkah Donghae, tepat saat Donghae menoleh ke arahnya Haejin berjinjit sedikit dan mencium Donghae.

“Ayo kita habiskan liburan kita..!” seru Haejin sambil berlari pelan.

Donghae tertawa kecil sambil menggamit tangan Haejin, “Kita kemana?” tanya Donghae.

“Kemana saja..”

“Donghae-a!! Bagaimana denganku???” teriak Eunhyuk yang berdiri tak jauh dari Donghae dan Haejin.

“Pulang saja sendiri!!” seru Donghae.

“YAAAK!!!”

Donghae tak menghiraukan teriakan Eunhyuk, ia hanya menghampiri Eunhyuk untuk mengambil kembali kopernya lalu menyusul Haejin.

“Iya.. jika menurut orang cinta itu butuh waktu lama, tapi untukku.. cinta hanya butuh waktu 7 hari.. tapi hanya dengannya..”

“Dan pada akhirnya aku menemukan pria itu..7 Day’s in Love.. aku percaya..”

FIN….

63 thoughts on “[3RD WINNER FF] 7 Day’s in Love

  1. Ini so sweet so sweet ><
    Uuh itu apa maksudeeeee!!
    bisa ya,udah nyium abis itu blang “Kalau begitu lupakan saja yang tadi. Aku pikir-pikir lagi ini adalah hal yang tidak masuk akal, aku pikir ini hanya cinta sesaat saja. Dan jika nanti kita berpisah hidup kita akan kembali normal seperti dulu.” yaampunn =="
    Kkekkkkek^^
    si unyuk kasian tuh !
    udah sm haejin aja,hyuk di tinggalin ckckck

    "Cinta hanya butuh waktu 7 hari..tp hanya dengannya" eaaaa :p
    Congrats buat yg juara ke 3,lmayan dpet pulsa haha

  2. Wach jinhae emg roMantis bgt dah . .dmNa pun dan kapanpun roMantis’a gx ilang” . . C unyuk kasian amat dah jauh” ngjempuT Hae ech malah d abaikan gtU Z . . . Keren dah ff’a

  3. sumpah ini impianku klo ketemu jodohku besok🙂
    tiba-tiba ketemu dan dalam waktu yg gak lama kita jatuh cinta..
    aw aw bayangin aja udah ketawa ketiwi sendiri

  4. Ini mirip ama novel yg pernah aku baca , cuma ini lebih simpel . Bagussssss dah , haejinnya mirip bgt ama Jingga di novel itu , tapi donghae nya gak terlalu mirip *pletakk , chukkae ya jadi juara 3 authornya , keep writing ^^

  5. lee donghae mengingatkan saya dengan narayan sadewa dan lee haejin mengingatkan saya dengan jingga, 2 tokoh novel yg pernah saya baca. sekian

    yaaa tapi karna ini dibuat versi nya jinhae jadi sukasuka aja walau pun jadi risih wkwkw
    jinhae jjang!! lopeyu xD

  6. Banyak banget tempat yang mereka kunjungi, wahh kapan yah bisa ke tempat yg authornya sebutin di tiap hari selama liburannya. Cinta yang bersemi dalam waktu yg singkat, cinta pada pandangan pertama aja ada apalagi cinta dalam 7 hari kebersamaan!😀

  7. manis bangeeettt,, :p *colek colek haejin*

    tapi aku bacanya berasa dikejar kejar apaaa gitu,,alurnya cepet bgt.. Tp ini Ngejar ke oneshot kan ya,jadi wajar si..

    seru bgt kayaknya liburanny..ecie,uda tinggal di apartmn minho,sehotel pula sama hae,^^ *colek haejin*

    itu endingnya,hyuk apa bnget dah..kesian,wkwkwk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s