{JinHaeXy} STILL ~Part 6~

Title : Still

Length : Chaptered

Rate : PG15

Genre : Romance, Family, Friendship, Lil bit Angst

Main Cast :

  • Lee Haejin
  • Lee Donghae
  • Choi Minho

Supporting Cast :

  • Park Jungsoo ‘Leeteuk’
  • Cho Kyuhyun
  • Lee Hyukjae
  • Cho Chihoon
  • Lee Kyorin
  • Lee Taemin

{JinHaeXy} STILL ~Part 6~

9 Februari 2012, 01.00, Waktu Paris

”Kau mau tidur dengan botol wine itu?! Chihoonie, ayo ganti pakaianmu, dan cuci mukamu!” omel Kyorin sambil menarik-narik selimut Chihoon. ”Chihoonie, ayo bangun! Nanti jerawatmu tambah parah, Cho Chihoon!”

   ”Huh~ iya, iya!” omel Chihoon dengan terpaksa duduk dan melepaskan topinya, lalu meletakkan botol wine-nya. Mendadak dia nampak panik. ”Aigo! Ponselku, ponselku! Mana ya ponselku?”

   Kyorin menyahutinya, dengan suara teredam, dia tengah mengaplikasikan krim malam bagi wajahnya di kamar mandi, dan sekarang Chihoon dengan slebornya melepaskan pakaiannya begitu saja, lalu menarik keluar piyama biru muda bermotif kartun-kartun dan memakainya. Lalu meraih keluar Galaxy Note putihnya dari dalam tas.

   ”Kan! Disini dan Seoul beda berapa jam ya, Eonnie?” tanyanya. ”Harusnya Sungmin Oppa menelepon. Apa harus kukirimkan gambar wine ini?” gumamnya, sambil meletakkan tiga botol wine-nya di atas meja, lalu mengaturnya agar nampak artistik dengan heboh.

   Haejin melirik ke belakangnya, pemandangan Chihoon, lalu kembali menatap menara Eiffel yang begitu indah terhampar di depan matanya. Lampu-lampu berkerlip manis, diiringi suasana dingin dan romantisnya kota Paris. Sayang itu semua hanya terasa pahit bagi Haejin.

   Bukankah seharusnya keputusannya membuatnya tenang? Bukankah seharusnya melepaskan Donghae, dan membiarkan logikanya berjalan, akan menjadi jaminan untuknya berbahagia? Bukankah simple saja, Lee Haejin, leader sebuah girlband ternama, yang namanya di Jepang langsung menyaingi Girls Generation, bahkan Kara, yang bisa dibilang Ratu Jepang. Berderet pria mau menerimanya, menunggunya mengulurkan tangannya, dan menjadi kekasih laki-laki baru mana pun yang ia maui.

   Ya, seharusnya secara teori hal itu mudah saja. Tapi secara prakteknya, tidak semudah itu! Haejin menelan ludahnya, kerongkongannya sakit, menahan tangis sejak kemarin memutuskan untuk benar-benar mengakhiri hubungan dengan Lee Donghae. Ternyata apa yang terjadi, dia sakit sendiri. Meski dia memakai teori cinta dengan logika, teori lain yang dianutnya adalah, sekali cinta maka tetap cinta!

   ”Tapi dengan Taecyeon pun aku bisa bertahan,” lirihnya pada kaca jendela dengan muram. ”Toh pada akhirnya, setelah putus… aku masih bisa bertahan,” berulang kali, kata-kata itu yang ia ucapkan demi meyakinkan dirinya lagi. ”Aku bisa bertahan… bertahan…”

   ’Iya berapa tahun? Dan kau lupa, siapa yang mengangkatmu dari lubang hitam itu? Donghae Hyung!’

   Kata-kata Seulong terngiang-ngiang dalam telinganya ketika dulu ia putus dengan Donghae. Haejin menggelengkan kepalanya. ”Kalau Ongie tahu Donghae sudah melakukan kekerasan kepadaku, dia takkan merayuku untuk kembali pada Donghae, kan?”

   ”Eonnie, kau mau tidur saja, atau menggila sendirian di depan jendela?” tanya Chihoon tak sopan.

   ”Chihoon!” omel Kyorin menyuruh adiknya itu diam, dia bahkan menatap Haejin prihatin, dan iba. Tapi apa yang bisa ia perbuat? Dia hanya merasa, masalah Haejin jauh lebih pelik daripada sekedar kisah cinta ruwet yang belakangan ini ia miliki, dan mendesah berat berpikir, bukan salah Chihoon juga tidak begitu peka akan masalah Haejin. Anak itu mana mengerti?

   Haejin berjalan ke kamar mandi dengan gontai, meninggalkan Kyorin yang terus menatapnya iba, dan Chihoon yang geleng-geleng kepala sambil masuk ke dalam selimutnya.

   ”Kali ini sepertinya bukan masalah gengsi.” Ucapnya sambil membetulkan letak bantalnya.

   Kyorin dari tempat tidurnya, menatap Chihoon yang sudah berbaring di tempat tidurnya sendiri. Lalu menatap Chihoon bingung, anak itu tidak peka, tapi kenapa kata-kata tajam yang ia keluarkan selalu… mendekati kebenaran?

   ”Gengsi bagaimana?”

   ”Kalau hanya masalah gengsi,” Chihoon meraih Galaxy Note-nya yang diletakkan di meja tidurnya, dan mengambil pen-nya, mulai membuka aplikasi KakaoTalk. ”Haejin Eonnie tidak akan sekeras kepala ini. Setahuku, kalau Donghae Oppa sudah memohon-mohon, pada akhirnya dia tidak akan tega juga.”

   Kyorin dalam hati mengiyakan.

   ”Tapi sepertinya bagaimana pun Donghae Oppa memohon…” Chihoon mendesis. ”Kelihatannya sih Haejin Eonnie masih mencintai Hae Oppa ya, meskipun mereka harmonis sekali sebagai pasangan suami-istri minggu lalu.” Ucap Chihoon sarkastis. ”Eonnie melihatnya, kan? Bagaimana Haejin Eonnie manja sekali bergelayut di pelukan Minho Oppa?!” ucapnya sebal.

   Kyorin mengangguk. ”Iya sih…”

   ”Dan rasanya masalahnya bukan sekedar itu,” Chihoon meletakkan kembali Galaxy Note-nya. ”Ada sesuatu! Pasti ada sesuatu yang membuat Haejin Eonnie berkeras tidak kembali pada Donghae Oppa.” Chihoon mengangguk yakin.

   ”Omo! Wonhee Sajangnim, kah?!” seru Kyorin panik.

   ”Kurasa bukan. Ngomong-ngomong soal Nenek Sihir itu, aku tidak melihat dia di perusahaan. Kemana dia?” tanya Chihoon menggaruk dagunya penasaran. ”Apa dia ambil cuti?”

   ”Iya aku juga tidak melihatnya.” Kyorin mengangguk.

   Chihoon meletakkan kepalanya di atas bantal, ”Apa yang diperbuat Hae Oppa pada Haejin Eonnie sehingga dia sulit menerima Hae Oppa kembali?” tanya Chihoon penasaran. ”Eonnie, kau ingat ketika Haejin Eonnie terkena sindrom tidur? Yang tidak mau makan, hanya tidur terus itu?”

   ”Oh.”

   ”Dan Hae Oppa histeris, dia bilang itu salahnya…” Chihoon mengingat sambil menerawang. ”Apa yang kira-kira Hae Oppa perbuat hingga mereka berpisah, dan sekarang Haejin Eonnie sampai tidak mau menerimanya kembali, padahal jelas-jelas mukanya masih cinta!”

   ”Keusae…” Kyorin menggigit bibirnya. ”Haejin Eonnie selalu menutup diri jika soal percintaan.”

   ”Itulah,” keluh Chihoon. ”Apakah orang dewasa selalu sepusing ini dalam menjalin kasih? Ih!”

   Kyorin terkekeh, menatap Chihoon yang menusuk-nusuk bantal, lalu menenggelamkan diri dalam tumpukan selimutnya. Kyorin geleng-geleng dan berdiri, lalu mematikan lampu-lampu, menyisakan lampu di sekitar tempat tidur Haejin saja yang menyala.

   ”Eonnie,” Kyorin mengetuk pintu kamar mandi.

   ”Aku berendam~” sahut suara parau dari dalam.

   Kyorin menghela napas. ”Keurae, jangan terlalu lama Eonnie, nanti kau sakit.” Pesan Kyorin lagi dengan sedih, lalu kembali ke atas tempat tidurnya sendiri. Dia tetap tidak bisa memejamkan matanya, sampai akhirnya Haejin keluar dari dalam kamar mandi, dengan balutan bathrobe-nya. Setelah memakai pakaian tidurnya lengkap, dia pun masuk ke dalam tempat tidurnya.

   Kyorin menghela napas lega dari balik selimutya, setidaknya sekarang setelah mendengar napas teratur Haejin, dia bisa yakin Haejin sudah terlelap. Baru ia mau mengikuti jejak kakak dan adiknya, Samsung Galaxy S II-nya bergetar di balik bantalnya. Sebuah pesan.

From    : Beloved Oppa

            Kyo, bisa bertemu? Penting… jangan ajak siapa-siapa, kutunggu di penthouse.

   Kedua alis Kyorin bertaut. Tidak biasanya, dan tidak pernah-pernahnya Taemin Oppa-nya menyuruhnya keluar. Kyorin merayap turun perlahan-lahan dari tempat tidurnya, meraih mantel dan memakai sepatu, sambil melirik tempat tidur Haejin Eonnie-nya dan Chihoon.

   Setelah memastikan keduanya tertidur pulas, Kyorin buru-buru keluar dari kamar. Kyorin tidak benar-benar memastikan. Hanya mata mereka yang tertutup, tapi mereka tidak benar-benar tertidur. Haejin yang mendengar Kyorin tergesa-gesa keluar dari dalam kamar, ikut bangun dan menyusul keluar.

   Setelah kamar kosong, barulah Chihoon bangkit, mendesah berat. ”Ada yang tidak beres, aku yakin. Perasaanku tidak enak…” Dan akhirnya Chihoon memutuskan turun juga dan menyusul.

*Penthouse*

Haejin mengendap-endap mengikuti adiknya yang terlihat tergesa-gesa tersebut. Setelah melihat indikator lantai yang menampilkan penthouse, yakni rooftop hotel, lantai yang dituju Kyorin. Barulah Haejin menyusul masuk ke dalam lift lain, ditekannya tombol terbawah, dan kotak besi tersebut membawanya ke lantai paling tinggi.

   Disana, dia melihat kibasan ujung mantel Kyorin yang berlari mendekati siluet seorang pria. Haejin mengendap-endap agar Kyorin tidak melihatnya. Hatinya berdegup kencang. Akhirnya ia akan tahu siapakah yang sebetulnya dicintai adiknya itu?

   Benar saja, kedua matanya melebar melihat tiba-tiba pria yang ditemui Kyorin itu mencium Kyorin singkat, di bibir.

   ”Oppa~” rengek Kyorin malu.

   ”Mianhae.” Kekehnya.

   Haejin mengernyit, dia kenal suara itu. Itu kan… Lee Taemin?! ”Aigo… jadi selama ini Lee Taemin?! Aish jinjja!” Haejin menepuk-nepuk kepalanya sendiri sambil berbisik. ”Kenapa aku begitu babo?”

   ”Jangan pacaran disini!”

   Mata Haejin kembali melebar, bukan hanya Taemin, ternyata ada Minho disitu. Dan sekarang Taemin terlihat malu-malu, sementara Kyorin, Haejin yakin sekali anak itu sudah seperti kepiting rebus! Tapi, untuk apa Kyorin dan Taemin pacaran ditemani Minho?

   Haejin terkekeh, teringat pada kenangan manis dua tahun lalu. Dia dan Donghae, dulu, juga berduaan, tapi di temani Siwon. Siwon terpaksa harus menahan-nahan diri agar tidak iri melihatnya dan Donghae yang bergandengan tangan kemana-mana. Memikirkan itu Haejin tersenyum, sedih dan miris, tapi itu kenangan indah.

   ”Minho Hyung yang mengajakmu bertemu…” Taemin menggaruk kepalanya polos, Haejin menepuk dahinya dari tempat persembunyiannya. Mereka benar-benar pasangan polos.

   Kyorin menatap Minho. ”Kenapa Oppa?”

   ”Cuma sebentar,” keluh Minho. ”Lalu kalian bisa pacaran lagi. Ada hal penting yang ingin kutanyakan kepadamu, Kyorin-ah,” kata Minho dengan nada mendesak. ”Kau tahu sesuatu tentang Haejin dan Donghae Hyung?”

   Mendadak telinga Haejin langsung waspada! Minho menanyakan masalahnya dan Donghae? Ada apa? Kenapa tiba-tiba? Pikirnya. Haejin terus menyembunyikan diri dibalik dinding pembatas.

   ”Eonnie?” tanya Kyorin lemah, suaranya bimbang. Haejin tahu, Kyorin tidak pernah berbohong, maka sukar pastilah baginya untuk menjawab bohong. Dan benar saja, Minho menganggap pertanyaan Kyorin barusan sebagai jawaban ya.

   ”Tadi Donghae Hyung mengirimkan pesan padaku,” kata Minho lirih. ”Dan isi pesannya kau tahu apa?”

   Telinga Haejin benar-benar menajam sekarang!

   ”Donghae Oppa bilang apa?” tanya Kyorin lemah.

   ”Jaga Haejin baik-baik Minho-ya… jangan buat ia menangis seperti aku.”

   Dan Haejin merosot jatuh di tempatnya. Haejin menekap mulutnya kencang-kencang agar suara isaknya tidak terdengar, dadanya sesak, bukan seperti ribuan jarum lagi, melainkan ribuan pedang menusuknya! Haejin memutuskan bangkit dan berlari kembali menuju lift, kembali ke kamarnya.

   ”Tsk!” Decak Chihoon melihat Haejin yang berlari sambil menahan tangis. Dia pun telah mendengar pesan Donghae yang disampaikan oleh Minho barusan, dan sekarang kepalanya semakin penuh. ”Ada apa ini?!”

*           *           *

Haejin melangkah satu persatu, entah di lantai mana. Dia tidak melihat sekelilingnya, dan tidak peduli pula kini ia ada dimana. Dia hanya mengikuti kemana kakinya melangkah membawanya. Sekali lagi ia mendengar kata-kata Minho yang mewakili pesan Donghae.

   ”Jaga Haejin baik-baik Minho-ya… jangan buat ia menangis seperti aku.”

   Dan kini dalam benak Haejin, ia bisa melihat wajah Donghae, yang begitu lemah, jelas, terpatri perlahan. ’Aku melepasmu…’ kata-katanya tempo hari, yang Haejin pinta, tapi toh menghancurkannya juga!

   ”Ahhh…” Haejin terduduk dan memeluk kakinya. Dia tidak peduli kini dia ada dimana, atau dia seorang idol yang dilihat banyak orang. Tapi saat ini, ia butuh menangis! Meski dia yang meminta Donghae melepaskannya, dia tidak menyangka ketika Donghae benar-benar melepaskannya, rasanya akan sehancur ini.

   Dia tidak bisa menghentikan air matanya sendiri.

   Lagipula, kenapa dia harus menitipkan Haejin pada Minho? Apa maksudnya? Apa pula dengan pesan pada Minho agar tidak membuatnya menangis?! Haejin menekan dadanya kuat-kuat, apa maksudnya? Kenapa dia tidak pernah percaya dan mengerti? Bahwa meski berpisah pun, hati Haejin selalu ada padanya? Kenapa?

   ”Haejin!”

   Haejin mengabaikan panggilan itu, dan terus menangis. Dan dia merasakan seseorang berdiri, kemudian berjongkok di sampingnya. Haejin sama sekali tidak berniat menghentikan tangisannya, meskipun kini di sebelahnya adalah petugas keamaanan yang akan memintanya pulang!

   ”Haejin…”

   Haejin tetap tidak bisa menghentikan tangisannya, seberapa berat pun ia berusaha menghapusnya. Haejin mengusapnya dengan tangan kanannya, tapi pipi kirinya meluncurkan kristal bening lain. Diusapnya lagi, namun pipi kanannya berbalik mengkhianatinya, diusapnya kembali, dan pipi kirinya kembali ditetesi air mata.

   ”Haejin…” Minho menepuk bahunya.

   Haejin terus terisak.

   ”Maaf,” Minho berkata lirih. ”Aku tidak bermaksud…” Minho menggeleng-geleng panik. ”Aku sama sekali tidak… itu… Hyung yang mengirim… aku benar-benar… tidak bermaksud apa-apa…”

   Haejin menoleh menatap Minho, dengan wajahnya yang bersimbah air mata, lalu mulai memukuli Minho dengan histeris. ”Minho-ya, wae?! Kenapa dia tidak pernah mengerti?! Kenapa dia selalu merasa dia tidak ada artinya dibandingkan kau?! Kenapa dia merasa aku tidak benar-benar mencintainya?!” Haejin memukuli Minho bertubi-tubi dan Minho menunduk diam saja dipukuli oleh kedua tangan mungil Haejin. ”Kenapa dia menitipkanku padamu?! Memangnya dia pikir dia siapa?! Kenapa pula harus denganmu?! Siapa bilang aku meninggalkannya karenamu?!”

   ”Wae?! Wae?! Wae?!” Haejin terus menjerit.

   Minho menarik kedua tangan Haejin yang tidak terkendali memukulinya, lalu memeluknya erat-erat. ”Jin-ah, tenang… tenanglah… tenang…” dipeluknya gadis itu erat-erat. ”Tenanglah…”

   Haejin lemas dalam pelukan Minho sambil terisak-isak. ”Wae, Minho-ya?” tanyanya dengan suara tercekat. ”Kenapa tidak pernah ada kepercayaan dirinya sama sekali? Kenapa?” isak Haejin lagi. ”Kalau dia mau melepasku, sudah… lepaskan aku… tidak perlu… dia melepaskanku dan dititipkan padamu… untuk apa? Apa maksudnya? Kenapa?”

   ”Ssshhh…” Minho terus membelai punggung Haejin.

   ”Minho-ya! Ige mwoya?!”

   ”Haejin yang menangis?!”

   ”Omona!”

   Haejin melemas dalam pelukan Minho, dan Minho dengan sigap mengeratkan pelukannya.

   Key yang juga telah tiba di tempat kejadian, merasa takut akan semakin banyaknya orang keluar dari koridor kamar yang penuh oleh para idol ini berdecak. ”Minho-ya bawa ke kamar saja lebih dulu…” bisiknya setelah mendekat ke arah Minho. ”Bilang saja dia sakit atau apa!” desis Key.

   Dan Minho langsung menggendong Haejin. Karena tak lama kemudian beberapa idol yang masih belum tidur, dan kamarnya berada di koridor tersebut lewat, dan melihat sekilas Haejin yang digendong masuk ke dalam kamar SHINee oleh Minho. Key hanya bisa menjelaskan patah-patah dengan gugup pada mereka.

*11 Februari 2012*

”Aku minta maaf,” Haejin bicara di telepon.

   Minho menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. ”Bukan salahmu, Jin-ah…”

   ”Aku tidak bisa mengendalikan diriku, dan aku masih merasa buruk sekali sampai saat ini.” Minho bisa mendengar Haejin mendesah berat di sana saat mengatakannya. ”Aku sama sekali tidak menyalahkanmu, dan aku merasa buruk sekali. Maafkan aku, Minho-ya… aku sama sekali tidak memiliki kesempatan bicara padamu di hotel, karena sudah beredar gosip soal kita. Maafkan aku, karena aku kau yang kena…”

   Minho menarik napasnya dalam-dalam, lalu tersenyum kecil. ”Gwenchana, Haejin-ah, kau seperti dengan orang lain saja.”

   ”Ne, gomawo, Minho-ya…” suara Haejin langsung terdengar ceria.

   ”Ne, bagaimana keadaanmu? Kemarin kita hanya berbincang sebentar setelah insiden itu. Setelahnya kita sama sekali tidak pergi bersama lagi… kau pasti takut karena banyak yang membicarakan, kan?”

   Haejin mengelak. ”Mana mungkin seorang Haejin takut oleh gosip? Aku hanya tidak enak padamu, Minho-ya, kalau aku yang kena skandal, aku masih bisa santai, tapi bagaimana dengan orang yang terkena skandal bersamaku?”

   ”Aku juga santai.” Sahut Minho cepat.

   ”Jinjja?! Aigo…” Haejin terkekeh. ”Tapi setidaknya kau sempat mengajakku jalan-jalan di Paris pada hari pertama kemarin. Hehehehe…”

   ”Ne.” Minho terkekeh, lalu di tempatnya berdiri, di dalam gedung latihan SM Entertainment ini, Minho mengingat keinginannya dan diutarakannya kemudian. ”Ya, kau tidak mau bertemu Hyung?”

   Di dengarnya Haejin tercekat.

   ”Ayolah, kalian harus menyelesaikan masalah kalian, Jin-ah… setidaknya kau luruskan pada Hyung, bahwa kita memang benar-benar tidak ada hubungan apa-apa. Aku akan ikut bicara jika perlu…” kata Minho lagi memberi saran. ”Besok Hyung akan ke Thailand, dan mungkin selama seminggu ini Hyung tidak akan pulang…”

   Haejin masih diam, tidak menjawab.

   ”Bukannya aku mau ikut campur,” Minho menghela napas. ”Akuilah, Jin-ah… kau masih mencintai Hyung, kan?” tanya Minho lirih.

   Dan Haejin tetap diam.

   ”Dan Hyung mengatakan itu semua––menitipkanmu padaku…” Minho mengembus-kan napasnya perlahan. ”Itu semua karena dia mencintaimu, Jin-ah… dia tidak mungkin melepaskanmu begitu saja kalau dia tidak yakin ada yang bisa menjagamu.”

   ”Tapi kenapa harus dititipkan?! Padamu pula!” sentak Haejin jengkel.

   Minho tersenyum miris. ”Tanyakan langsung padanya. Aku tidak tahu juga jawabannya. Dan kurasa belum terlambat untuk menjelaskan masalah kalian. Ayolah, aku paling tidak suka dua orang dekatku seperti ini…”

   ”Minho-ya… sudah berakhir!”

   ”Kalau memamg sudah berakhir kenapa kau harus menangis dan memikirkan kenapa Hyung harus menitipkanmu padaku?!” tembak Minho.

   Haejin skak mat.

   ”Kau tidak bisa jawab kan? Ayolah, sekarang kau kesini… nanti kujemput di depan, dan kita bertemu Hae Hyung, oke? Kalau kau tidak mau kesini, ketika comeback nanti kau takkan dapat CD gratis!” ancam Minho bercanda.

*           *           *

Audi A5 milik Donghae masuk ke pelataran parkir di samping gedung SM Entertainment. Suasana hatinya diibaratkan sebuah luka memar, mungkin dilihat hanya meninggalkan bekas, tapi jika tersentuh tetap sakit.

   Mau tak mau hari ini, dia yang sebetulnya sudah malas pergi kemana-mana, memaksakan diri sebagai persiapan long week stay-nya di Thailand dan Singapore. Dia akan melakukan fanmeeting drama Taiwan-nya, Skip Beat, bersama Siwon, dan Ivy Chen tentunya, kemudian di akhir pekan depan, Super Show 4 Singapore menunggu di depan mata.

   Saat hendak melangkah masuk melalui pintu samping, matanya menangkap sebuah mobil yang sudah tidak asing lagi di matanya. SUV kokoh berwarna hitam itu, jarang terlihat di sini, gedung SM Entertainment, tapi Donghae kenal betul mobil tersebut. Milik Haejin, tidak salah lagi, itu memang mobil Haejin.

   Donghae kemudian masuk ke dalam gedung setelah meletakkan jarinya pada sistem fingerprint di pintu masuk, dan pemandangan pertama yang ia lihat ketika masuk adalah siluet Haejin yang tengah menaiki tangga bersama Minho dengan pakaian latihannya, keduanya sedang tertawa.

   ”Sunbaenim.” Beberapa trainee melewatinya sambil membungkuk.

   Donghae balas membungkuk. ”Annyeong~” sapanya ramah, tapi kemudian kembali menatap tangga.

   ”Tadi itu betul Felidis Haejin?!”

   ”Iya tidak salah lagi…”

   Donghae menoleh menatap gerombolan trainee yang baru saja menyapanya, mereka membicarakan Haejin. Gadis-gadis itu terlihat bersemangat, dan Donghae pura-pura mengecek pesannya untuk mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut.

   ”Wow~ aku tahu dia tidak tinggi, tapi bentuk tubuhnya aduhai sekali ya,” gumam salah satu trainee. ”Jeongmal killer! Pantas saja banyak laki-laki, termasuk Minho Sunbaenim.”

   ”Ah ye! Kalian episode pertama Teenage Running Man? Mereka serasi sekali,”

   ”Majyeo!”

   ”Dan sepertinya gosip yang beredar di luaran itu benar, ya? Mereka pacaran?”

   ”Sepertinya sih… mereka kan tertangkap main sepeda berdua di Paris sana, setelah berita keluar, mereka tidak bersama-sama lagi. Tapi sekarang, bahkan Haejin kesini menggunakan mobil pribadinya untuk menemui Minho Sunbaenim.”

   ”Woah~”

   Donghae tidak tahan lagi mendengarnya, diputuskannya untuk langsung naik saja, tanpa menghiraukan trainee yang bergosip  tadi. Donghae berusaha menenangkan hatinya sendiri yang bergemuruh, mengatakan berulangkali pada dirinya, bahwa dia dan Haejin benar-benar telah berakhir!

   Telah berakhir!

   Telah berakhir!

   Telah berakhir!

   Dan mengapa Haejin dan Minho harus ada di depan matanya lagi sekarang?! Donghae menarik napas berusaha melegakan dadanya yang sudah sesak, hingga makin menghimpit kembali.

   ”Oh!” pekik Minho saat melihat Donghae di hadapannya.

   Haejin menoleh dan refleks melebarkan kedua matanya melihat Donghae yang menatap keduanya suram.

   ”Annyeong…” sapa Donghae pelan berusaha tersenyum.

   ”Hyung,” Minho langsung maju hendak bicara, tapi Haejin yang panik, justru refleks menarik pergelangan tangan Minho, dan dengan ketakutan menarik Minho merapat pada sisinya.

   Donghae melihat bagaimana Minho menoleh khawatir, dan Haejin menggeleng-geleng. Pemandangan itu, sungguh membuatnya benar-benar muak dan hendak menghancurkan kaca sekarang juga! Oke, memang mereka sudah tidak memiliki hubungan, tapi bisa kan tidak di depannya?!

   ”Sepertinya…” Donghae berkata pelan setelah menelan ludahnya. ”Kau harus melepaskan cincin itu.”

   Haejin yang mencengkram erat pergelangan tangan Minho, dan masih menatap Minho takut, kini mendongak menatap Donghae, seolah tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. ”Mwo?” tanyanya pelan.

   Donghae berusaha tersenyum, dan mengedikkan dagunya kecil ke arah jemari Haejin yang mencengkram tangan Minho. ”Cincin dari Eomma…”

   Dan Haejin menatap cincin itu.

   ”Yang Eomma berikan ketika di Saipan,” ditekankannya nama kota tersebut. ”Sepertinya sudah tidak perlu. Eomma bilang cincin itu untuk pendampingku kelak, bukan?”

   Kini Haejin semakin erat mencengkram pergelangan tangan Minho.

   ”Hyung…” kata Minho tak percaya.

   ”Jadi kurasa cincin itu lebih pantas disematkan pada pendamping hidupku kelak nanti. Karena kau sudah mengundurkan diri dari kandidat itu,” kekeh Donghae miris. ”Baiknya kau kembalikan cincin itu. Agar nanti bisa kusematkan pada jari gadis yang menjadi pendampingku.”

   ”Hyung!” seru Minho.

*           *           *

”Baiknya kau kembalikan cincin itu. Agar nanti bisa kusematkan pada jari gadis yang menjadi pendampingku.”

   Dan kata-kata itu sukses menghunuskan pedang ke dalam hati Haejin yang sudah terluka parah. Haejin menunduk, dan dengan seluruh tenaganya, mencengkram pergelangan tangan Minho, kasihan Minho, harus terbawa dalam masalah ini.

   Bibir Haejin bergetar menahan tangis, tapi digigitnya bibirnya dengan berani lalu, dengan seluruh keberaniannya, beserta ego dari harga dirinya yang begitu tinggi, Haejin mendongakkan wajahnya, dan membalas senyumannya Donghae, lalu perlahan melepaskan cincin titanium yang tersemat dari jari manis tangan kirinya.

   Diulurkannya cincin itu ke arah Donghae. ”Ini…” ujarnya ceria. ”Yang memakainya berikutnya… siapa ya? Eunseo Eonnie kah?”

   Minho mendesah berat.

   ”Kau tak perlu tahu siapa,” kekeh Donghae dan mengambil cincin tersebut. ”Kalau begitu aku ke atas, banyak yang harus kukerjakan,” dan Donghae berjalan melewati Haejin begitu saja, menaiki tangga di belakang Haejin menuju lantai berikutnya, sementara Minho menatap Donghae yang pergi dengan frustasi, lalu menatap Haejin yang tiba-tiba sudah merosot kembali.

   ”Aa…aaan…tarkan aku ke sebuah tempat kosong, Minho-ya…” pinta Haejin dengan suara bergetar hebat, dan Minho buru-buru membantunya berdiri dan mmbawanya ke studio dance terdekat.

   Begitu masuk ke dalam studio dance tersebut, Haejin kembali menangis tersedu-sedu, dan Minho hanya bisa menatapnya dengan hati teriris.

   ”Aku yang memintanya melepasku! Tapi kenapa ketika dia melakukannya, hatiku hancur! Dan air mataku tak pernah berhenti?!” isak Haejin histeris pada dirinya sendiri. ”Kenapa? Kenapa saat bersamanya menyakitkan, dan kenapa ketika berpisah lebih menyakitkan lagi? Kenapa? Apa yang dunia ini mau dariku?! Aku lelah hidup begini‼! Kenapa dia seperti pusat tata surya, dan aku hanya bisa menatapnya?! KENAPA?!” teriak Haejin sambil mulai mengacak dan menjambak rambutnya sendiri.

   Minho menghela napasnya.

   ”WAE?!” jerit Haejin.

   Butuh setengah jam bagi Haejin untuk tenang. Dan ketika ia sudah tenang, Minho duduk di sampingnya. Keduanya menatap kaca besar, yang melapisi seluruh permukaan dinding studio dance tersebut, kaca tersebut, menampilkan pantulan mereka.

   Haejin bisa melihat betapa kacaunya ia, dan jika ia tidak terlarut, harusnya ia bisa melihat, betapa merananya Minho.

   ”Yak,” Minho menepuk bahu Haejin pelan. ”Tadi…” kata Minho pelan. ”Kau bertanya, padahal kau yang meminta Hyung melepasmu, tapi mengapa kau tidak rela, iya kan?”

   Dengan bibir bergetar, dan kedua tangan memeluk lutut, Haejin mengangguk.

   ”Aku yakin kau sudah merasa sakit ketika Hae Hyung meminta cincin itu,” Minho menarik napas dalam. ”Tapi kau tetap menegakkan kepalamu dan malah membalasnya…”

   Haejin terisak kecil lagi.

   ”Kau tahu itu karena apa?”

   Haejin menggeleng.

   Minho terkekeh kecil. ”Aku tahu kau tahu, itu karena kau membenci harga dirimu terinjak olehnya, ya kan?” senyum Minho. ”Dengarkan aku, Jin-ah, dalam cinta… secara teorimu, logika harus di atas segala-galanya, dan harga dirimu jelas lebih penting daripada apa pun, kan?” Haejin tidak menjawab. ”Jin-ah, dalam cinta… tidak ada logika dan harga diri dalam praktiknya…” jelas Minho lirih. ”Karena meski kau begitu kuat membohongi semua orang, maka perasaanmu, kau hanya menyakiti dirimu sendiri, membunuh dirimu sendiri, dan itu hanya kau yang tahu.”

   Haejin menenggelamkan wajahnya pada lututnya.

   ”Aku… pernah mencintai seseorang,” cerita Minho lagi sambil tersenyum. ”Well, itu sudah lama… tapi aku menyesalinya sekarang. Semua karena logika dan harga diri itu.”

   Haejin menoleh, dengan wajah penuh air mata, tapi menatap Minho penasaran.

   ”Aku jatuh cinta padanya, tapi waktu itu aku berpikir dia terlalu berbeda… dan harga diriku menolak mengencani hoobae-ku sendiri.” Kekeh Minho geli. ”Padahal kalau dipikir-pikir memang kenapa mencintai hoobae? Dan juga mengapa pula logikaku berkata bahwa kami tidak bisa dekat?”

   Haejin terus mendengarkan.

   ”Dan kau tahu apa yang terjadi?” tanya Minho sambil tersenyum. Haejin menggeleng lemah. ”Aku kehilangan dia…” Minho mengembuskan napasnya. ”Semua prediksiku di awal salah semua. Awalnya aku menilainya tidak mungkin bisa bergaul, dia terlalu tertutup… tapi ternyata begitu mengenalnya, dia bisa bergaul dengan siapa saja, termasuk denganku. Lalu soal hoobae, kurasa tidak ada yang melarang, bukan?” kekeh Minho. ”Itu kan kebodohanku… dan kini dia sudah memiliki kekasih, dan aku kehilangan kesempatanku.”

   Haejin menelan ludahnya.

   ”Aku tidak mungkin bisa mendapatkan gadis itu lagi, karena yang membuatku semakin menyukainya adalah kesetiaannya, dan betapa penuh kasihnya dia pada pacarnya, jadi… aku merelakannya. Karena apa? Karena aku sendiri yang menyia-nyiakannya…” Minho kembali menghela napas. ”Maka itu, sebelum terlambat, sebaiknya kau hilangkan dulu gengsimu… karena saat nanti Hae Hyung benar-benar pergi…” Haejin menunduk. ”Mau tak mau kau harus melepaskannya, karena itu salahmu sendiri, membiarkan egomu terbang tinggi tanpa memikirkan perasaanmu sendiri.”

*           *           *

Kata-kata Minho tadi siang benar-benar membuat kepala Haejin pusing. Dia tahu yang Minho katakan semuanya benar, tapi tetap saja… dia tidak bisa menurunkan pikiran dan egonya.

   Dua sisi di otaknya kembali bertengkar, yang satu meminta memaafkan segala tindakan kasar Donghae, dan yang satunya mengompori agar bertahan dengan harga diri tinggi, bahwa wanita itu bisa tanpa laki-laki! Itu berarti Haejin bisa hidup meski tanpa Donghae di sisinya! Dan pertentangan batinnya itu membuatnya benar-benar pusing kepala.

   Mana yang harus ia lakukan?

   Memang Haejin siap jika Donghae memiliki penggantinya? Tidak.

   Memang Haejin siap jika melihat suatu saat nanti, Donghae menatap wanita lain penuh cinta seperti saat Donghae menatapnya dulu? Tidak.

   Memang Haejin sanggup melihat cincin titanium yang dibelikan Eommonim melingkar di jemari wanita lain? Tidak.

   Memang Haejin sanggup melihat Donghae mencium gadis lain dengan intens dan menyentuh gadis lain seperti saat Donghae menyentuhnya dan menciumnya dulu? TIDAK‼!

   Tapi apakah Haejin mau mengakui itu semua? JELAS TIDAK!

   Haejin menjambak-jambak rambutnya mulai frustasi pada dirinya sendiri, di dalam kamarnya, dan nyaris mulai menangis kembali, jika Chihoon dan Kyorin tidak tiba-tiba saja masuk ke dalam kamarnya dengan wajah benar-benar cemas. Haejin mengendalikan dirinya.

   ”Nan gwenchana,” kata Haejin dengan suara parau berusaha menenangkan.

   Kyorin dan Chihoon saling pandang.

   ”Eonnie… kami khawatir kalau Eonnie harus ikut kami sekarang juga… Leeteuk Oppa membutuhkan Eonnie sekarang.” Kata Kyorin lirih.

   Haejin mengernyit. ”Leeteuk Oppa?” tanyanya. ”Memangnya ada apa?”

   ”Kami benar-benar tidak bisa menjelaskannya, karena kami sendiri tidak tahu keadaannya bagaimana, tapi ini benar-benar mendesak, Eonnie!” kata Chihoon panik. ”Eonnie benar-benar harus ikut sekarang juga.”

   Dan dengan bingung, Haejin dibawa keluar dari kamarnya, langsung ke bawah, menuju sebuah tempat. Tempat itu, tidak jauh berbeda dengan kedai samgyeopsal yang biasa dikunjungi Haejin bersama teman-teman 91Liners-nya. Dan rasanya kedai ini juga sering dikunjungi berbagai artis, karena tertutup, dan benar-benar pribadi.

   Ketika melangkahkan kaki ke dalam kedai, Haejin menatap bingung kedua adiknya yang sama bingung dan cemasnya. Tapi kemudian dari salah satu pintu, muncullah Leeteuk Oppa, dengan wajah serius.

   ”Haejin-ah,” katanya lega. ”Syukurlah, terima kasih kau sudah mau datang kesini…”

   Haejin mengangguk, masih bingung. ”Memangnya ada apa, Oppa?” tanya Haejin lirih.

   ”Hhh…” Leeteuk menghela napas, lalu melebarkan pintu tersebut. ”Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya. Lebih kau lihat sendiri,” dan Haejin masuk ke dalam ruangan privat itu.

   Dia melihat Eunhyuk sedang duduk, matanya merah seolah baru selesai menangis, dan tangannya terus membelai kepala sosok di hadapannya, yang menelungkupkan kepalanya di atas meja, tidak bergerak. Ada pula Kyuhyun yang memijit pelipisnya di sudut ruangan.

   Haejin mendekat dan berusaha memastikan siapa sosok yang menelungkup tersebut, sehingga membutuhkannya sampai harus datang nyaris tengah malam begini. Dan begitu melihat sebuah cincin dalam genggaman pria yang tak sadarkan diri itu, Haejin terkesiap. Dipandanginya sekitar lima buah botol berwarna hijau, yang berarti soju tersebut.

   Lee Donghae mabuk!

   Demi Eomma di Surga, Haejin tahu betul, bahkan satu gelas saja bisa membuat Donghae pusing seharian penuh. Dan sekarang? Lima botol? Dia mau bunuh diri?! Haejin merasa kakinya melemas, dan terduduk di sebelah tubuh Donghae yang menelungkup tak bergerak tersebut.

   ”Hae… apa yang kau lakukan?” isak Haejin mulai menggoyangkan tubuh Donghae, dan air matanya turun.

   Leeteuk menghela napas di belakangnya, berat. ”Hyuk, Kyu, kita kembali saja sekarang… Chihoon dan Kyorin juga. Mungkin ini waktu yang tepat bagi mereka berdua untuk bicara.”

*           *           *

”Kenapa kau begini?” isak Haejin sambil memeluk tubuh Donghae. ”Kau yang tadi memintaku melepaskan cincin itu, kan?” tanya Haejin sambil menangis di bahu Donghae. ”Kenapa sekarang kau sendiri yang menghancurkan dirimu?” tanyanya tanpa jawab. ”Jangan sakiti dirimu, Hae… aku tidak pernah suka melihatnya!”

   Donghae tetap tidak menjawab, larut dalam tidur dan mabuknya.

   ”Jangan begini, Hae… cepatlah bangkit…” lirih Haejin, sambil mengeratkan pelukannya, lalu mencium rambut Donghae, wangi khas yang biasa muncul setiap mereka berpelukan kembali hadir.

   ”Aku tetap mencintaimu…” lirih Haejin. ”Tanpa kata masih. Karena sampai kapanpun kau yang kucintai, aku tidak bisa berpaling lagi, Hae… aku tidak berpisah darimu demi siapa pun, aku hanya…” isak Haejin. “Aku hanya… kita tidak… molla, aku tidak mengerti…” isak Haejin sambil menelungkup di bahu Donghae. ”Jangan begini lagi, Hae, jebal…”

   Tetap pinta yang tiada jawab.

   Haejin kemudian menatap cincin yang dicengkram tangan Donghae, dan dilihatnya Donghae pun masih memakai cincin yang sama. Diambilnya kembali cincin itu dan dipasangkannya lagi di jari manis kirinya.

   ”Jujur, aku tidak rela cincin ini jatuh pada siapa pun selain aku,” isak Haejin, dan dikecupnya lagi dahi Donghae. ”Hae, aku tetap tidak bisa menerimamu… tapi izinkan cincin ini untukku. Aku tahu aku egois…” isak Haejin semakin erat memeluk Donghae. ”Aku tidak bisa mengerti diriku sendiri sekarang… tapi kumohon jangan sakiti dirimu, karena aku bisa mati melihatnya.”

   Setelah puas mengungkapkan seluruh perasaannya, Haejin bangkit dan keluar dari ruangan tersebut, diluar sana, Leeteuk Oppa, Eunhyuk yang sepertinya menangis juga, lalu Kyuhyun beserta kedua adiknya mendongak.

   ”Kami pulang dulu,” Haejin membungkuk.

   Leeteuk menatap Haejin tak percaya, sementara Eunhyuk semakin menunduk, dan Kyuhyun yang berseru. ”Kau benar-benar wanita paling tega yang pernah kutemui, Haejin-ah!”

   ”Eonnie!” seru Chihoon.

   Haejin mengatur napasnya. ”Dia juga tertidur, tak ada gunanya kami bicara.” Lanjut Haejin tenang. ”Dan dia harus pergi bukan besok? Kami juga memiliki jadwal lain besok, kami pamit.” Haejin membungkuk. ”Oppa, maaf tidak bisa membantu banyak. Semoga dia cepat sembuh.” Dan berusaha menahan air matanya, Haejin melangkah melewati tiga member Super Junior dan Kyorin serta Chihoon yang ternganga tidak percaya.

   ”Kejamnya…” lirih Chihoon tak percaya.

   Leeteuk menggeleng-geleng. ”Saat mabuk tadi Donghae menceritakan masalah apa yang membuat Haejin berkeras berpisah. Donghae tidak sengaja, atau kelepasan… bertindak kasar.” Leeteuk memberitahu yang lainnya, keempat orang lainnya melebarkan mata mereka terkejut.

   Kaget.

   Leeteuk mendesah berat. ”Aku tahu itu salah, tapi kurasa Donghae benar-benar sudah membayar semuanya sekarang. Tapi, mungkin… Haejin sudah terlanjur beku,” Leeteuk menggeleng-geleng. ”Aku sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi tentang mereka.”

*16 Februari 2012, JYP Entertainment Building*

”Jangan lupa besok kalian sudah harus di Incheon Airport pagi-pagi sekali,” kata Junjin Oppa di ruangan latihan Felidis.

   Kyorin dan Chihoon mengangguk patuh.

   ”Eh?! Kita mau kemana?” tanya Haejin bengong.

   ”Lho, kau lupa? Fanmeeting, kan kau sendiri yang bilang terima saja fanmeeting pekan ini…” kata Junjin Oppa sambil menggeser-geser di layar Galaxy Tab-nya. ”Visa-nya sudah di urus, ya.”

   ”Oh iya,” Haejin menggaruk kepalanya, banyak masalah belakangan ini membuatnya lupa jadwal sekarang. ”Eh?! Visa?!” tanya Haejin lagi, tiba-tiba, baru nyambung. ”Memang mau kemana sampai ada Visa? Memang fanmeeting-nya dimana?”

   ”Di Singapore…”

   ”Mwo?!” Haejin membelalak. ”Hari apa saja?”

   ”Hanya Sabtu pagi hingga siang,” sahut Junjin Oppa santai. ”Tidak mungkin menyelenggarakannya malam disaat Super Junior konser pada saat yang sama, kan? Cari musuh itu namanya.” Kekehnya.

   Haejin speechless, roda nasibnya mengapa selalu begini?!

   Super Junior konser di Singapore, dan Felidis menyelanggarakan fanmeeting pada saat yang sama? Lalu bukankah Donghae juga ada fanmeeting disana? Haejin mengacak rambutnya frustasi.

   ”Ah,” mendadak seperti ada lampu dinyalakan di atas kepalanya. Dia tidak perlu bersungut-sungut mengenai kebetulan Felidis dan Super Junior? Dia bisa bersenang-senang di Singapore sana. Apalagi karena Kim Yoonri menetap disana kan?

   Haejin mengangguk, percaya diri. ”Oke!”

-To Be Continued-

Sekali lagi nggak bosan mengingatkan Jinhae FF Anniversary, tinggal seminggu lagi lhooo… hehehehe, ayo ikutan😄

154 thoughts on “{JinHaeXy} STILL ~Part 6~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s