{JinHaeXy} STILL ~Part 5~

Title : Still

Author : Nisya (Donghae’s Wife)

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Humor, Friendship

Rate : PG13

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin

Supporting Cast :

  • Felidis Members
  • Super Junior Members

{JinHaeXy} Still ~Part 5~

”Kalian duluan ke mobil, aku masih harus mengembalikan ini kepada Rhaya Eonnie,” kata Haejin pada kedua adiknya. Kedua adiknya, yang memang sudah benar-benar kelelahan mengangguk dan berjalan terlebih dahulu mengikuti coordie dan manajer mereka. Sebetulnya bisa saja Haejin mengikuti, tapi dia masih ingin sendirian dahulu, meski hanya sebentar.

   Ruang ganti yang diperuntukan bagi Felidis tadi sudah lengang, hanya tinggal Haejin yang memasukkan beberapa barang-barangnya, lalu mengenakan mantelnya, dan ia bisa segera pulang, tapi Haejin mencari-cari alasan bahwa ia masih harus mengembalikan benda ’abstrak’ yang sebetulnya tidak ada.

   Setelah pembicaraannya dengan Jinyoung Sajangnim tadi, dan akumulasi seluruh kejadian tak terduga tadi, membuatnya seolah kehabisan tenaga. Haejin menatap pantulannya di kaca, dia sudah tidak memakai make up apa-apa lagi, toh setelah ini mereka akan kembali ke apartemen mereka, yang katanya saluran pipa airnya sudah dibetulkan.

   Haejin cukup yakin member Super Junior sudah meninggalkan pemandian umum yang disulap menjadi set recording acara ini, dan dengan keyakinan itu, Haejin menyandangkan tasnya di bahu, lalu melangkah keluar dengan percaya diri.

   Tapi tepat ketika pintu kamar ganti hendak ditutup, Haejin bisa mendapati seseorang tengah bersandar menunggu keluarnya ia dari dalam kamar ganti tersebut. Sedikit terkejut, namun cekatan dalam menguasai diri, Haejin mendesah berat dan menutup pintu kamar ganti.

   ”Apa kata orang nanti kalau Lee Donghae Super Junior menunggu seorang gadis di depan kamar ganti?” tanya Haejin sarkastis.

   Donghae menoleh. ”Ada yang mau kukatakan,” dia berdiri tegak. Tak ada tanda-tanda gentar, lemah, atau penuh permohonan seperti semalam. Tapi tak ada pula tanda-tanda nappeun style yang ia tunjukkan demi mempertahankan harga diri laki-lakinya.

   ”Apa?” tanya Haejin datar.

   Donghae nampak bimbang beberapa saat sebelum akhirnya menatap lurus ke dalam kedua bola mata cokelat kelam kehitaman milik Haejin. ”Aku…” dia diam sejenak, lalu tersenyum. ”Takkan melepasmu begitu saja.” Kedua mata Haejin melebar, dan degup jantungnya mulai menderu cepat. Senyum tulus Donghae, dan dia menghela napas lega. ”Kurasa hanya itu yang mau kusampaikan.”

   Haejin harus menahan reaksi wajahnya agar Donghae tidak mengetahui betapa gilanya jantungnya, dan betapa cepat aliran darahnya.

   Donghae berjalan melewati Haejin begitu saja, tapi kemudian toh berbalik, menepuk bahunya, dan berbisik. ”Kau tahu?” pelan. ”Aku masih bisa mendengar debar jantungmu saat menciummu tadi.” Dan dia mengedip lalu benar-benar pergi begitu saja meninggalkan Haejin yang berharap malaikat maut, jika memang ada, mencabut nyawanya begitu saja.

   ”LEE DONGHAE, SIALAN!” geram Haejin.

*           *           *

JYP Entertainment Building, 3 Days Later

Stop!

   Haejin menutup wajah dengan telapak tangannya, dan melihat wajah Chihoon yang tengah berada di dalam studio rekaman. Wajahnya sudah lusuh, lelah, kesal, dan hendak menangis. Dalam keadaan seperti ini, Haejin pun kasihan melihatnya, biar bagaimana pun, sejenius apa pun, dan seindah apa pun suara seorang Cho Chihoon, tetap saja dia memiliki saat-saat lelah.

   ”Still NG, Girl… you shoul retake again,”

   Dan sebagai leader yang bertanggung jawab, sekaligus tentu saja, sebagai penanggung jawab Felidis, Haejin harus menemani dan memberikan dukungan. Chihoon mendesah berat, lalu menghela napas dalam-dalam lagi.

   ”Ready?” komando song director JYP yang berasal dari Amerika Serikat.

   Chihoon menarik napas dalam-dalam dan mengangguk.

   ’I close my eyes…’ Chihoon mulai bernyanyi. ’And even when I’m sleeping I’m alright, cause you are in my life… once upon a time, I only imagine this… and now, you’re mine… wish for you so hard…’ Chihoon berusaha menghayati bait demi bait dan menyanyikannya dengan penuh perasaan dan tentu saja dengan seluruh usaha keras demi menunjukkan kemampuan vokalnya.

   Haejin barulah bisa menghela napas lega. Sudah nyaris dua hari mereka tidak tidur, dan kini Kyorin sudah harus melakukan photoshoot untuk Catch Me If You Can.

   ”I guess this is the real Baby Maknae,” sang song director mengedip pada Haejin.

   Haejin tersenyum. ”Yeah, thank you, Sir.”

   ”Sure~ do you have another work?”

   ”Honestly, yes,” keluh Haejin.

   ”Then you may leave now, Baby Electric,” senyumnya. ”Your sister now finally found her real ability,”

   Haejin terkekeh. ”My Manager still here, but if you have problem about her,” Haejin mengedikkan kepalanya. ”Just text me, okay?”

   ”Okay,”

   Haejin kemudian keluar dari dalam studio engeering room tersebut dan menemukan Junjin Oppa tengah memeriksa Galaxy Tab-nya, sibuk. Haejin selalu kasihan melihat Manajernya satu-satunya ini, pasti begitu sibuk jika menjelang comeback stage mereka.

   ”Oppa, aku harus merampungkan materi koreografi nanti pukul tiga sore,” Haejin memberitahunya dengan suara kering. ”Sekarang kutinggal terlebih dahulu, aku mau membeli kopi dulu…”

   ”Perutmu jangan lupa diisi dulu, ya…” pesannya.

   Haejin mengangguk, dan ketika hendak keluar dia menoleh sambil tersenyum kecil. ”Oppa, kau boleh cari bawahan sekarang… supaya kau tidak terlalu lelah ya,” kedipnya.

   ”Mwo?!” Junjin Oppa mendongak bingung.

   ”Menangani kami sekarang sudah tidak semudah ketika kami baru debut dulu kan?” tanya Haejin lagi sambil terkekeh, sementara kedua alis Junjin Oppa mengerut. ”Sekarang… ani, sejak dulu Oppa adalah guide kami yang terbaik, dan Oppa adalah Manajer kami yang paling hebat,” kekeh Haejin. ”Dan karena kehebatan Oppa, kami juga menjadi hebat…”

   Junjin Oppa semakin bingung. ”Kau ini bicara apa sih?”

   ”Ah~” Haejin menggaruk kepalanya. ”Oppa ini bodoh juga~ Oppa, sekarang carilah asisten Manajer! Oppa bisa langsung minta pada Jinyoung Sajangnim sekarang. Oppa Manajer utama kami, dan sekarang Oppa sudah bisa memiliki bawahan!”

   Kedua matanya melebar. ”JINJJAYO?!”

   ”Ne,” Haejin mengangguk sambil terkekeh. ”Tapi tetap, yang memiliki hak penuh atas Felidis ya aku!” Haejin menjulurkan lidahnya lalu buru-buru keluar dari dalam ruangan tersebut.

   Haejin turun ke bawah dan meminta supir Felidis untuk mengantarkannya. Kekuatan fisiknya sudah tidak memungkinkannya untuk mengendarai mobilnya sendiri. Haejin menggeser pintu van-nya dan langsung duduk dengan nyaman sambil memasang bantal lehernya.

   ”Kita kemana, Haejin Agessi?” tanya Park Ajussi, supir mereka sejak debut tersebut.

   Haejin bergumam. ”Aku mau beli kopi tapi sambil makan, Ajussi… ah, mungkin ke KonaBeans. Aku belum kesana lagi sejak menghadiri pembukaannya sebelum Natal,” kekehnya.

   ”Baik, Agessi,”

   Dan tak lama kemudian van Felidis sudah tiba di KonaBeans yang letaknya di Apgujeong tersebut, Haejin turun sementara Park Ajussi memarkirkan van Felidis. Beberapa orang yang lalu-lalang mulai mengenalinya dan memekik senang, bahkan beberapa remaja sekolahan mulai mengeluarkan ponsel canggih mereka, dan tentu saja langsung mengambil gambar.

   Dengan senyum terbaiknya, Haejin melangkah masuk ke dalam kedai kopi dengan gaya masa kini tersebut.

   ”Jinnie?”

   ”Eommonim, selamat siang,” Haejin membungkuk, lalu memeluk Cho Eommonim yang nampak gembira melihat Haejin, dari tempatnya berdiri sekarang di salah satu meja pajang.

   ”Selamat siang, aigo… Haejinnie,” katanya setelah melepaskan pelukan. ”Kau sehat, Nak?”

   ”Sehat,” Haejin mengangguk sambil tersenyum. ”Eommonim bagaimana? Sehat?”

   ”Aku sehat,” Cho Eommonim mengangguk. ”Aku kesini sebentar hanya untuk mengecek beberapa hal, dan ternyata bertemu denganmu. Kau sendirian? Dimana Chihoonie? Kyorin?”

   ”Sayang sekali mereka tidak bisa ikut, Eommonim,” sesal Haejin. ”Kyorin harus menghadiri photoshoot untuk Catch Me If You Can, dan Chihoon sedang rekaman hari ini. Aku kesini mau membeli kopi, dan susu kesukaan Chihoon, dia agak stress sepertinya…”

   ”Jeongmal?” wajah Cho Eommonim nampak cemas.

   Haejin tersenyum. ”Wajarlah, dia hanya kelelahan, dan deadline semakin dekat, tapi tadi saat kutinggalkan dia sudah kembali menjadi Magic Maknae kami,” kekeh Haejin. ”Maka aku mau beli susu kesukaannya, Eommonim.”

   ”Oke, kajja, kajja, biar kusiapkan sendiri~ anak itu, Oppa-nya, Eonnie-nya, sama saja semuanya… selalu bikin khawatir, tapi tidak mau berbagi,” sungut Cho Eommonim sambil menggandeng Haejin masuk ke dalam dapur KonaBeans.  Sepertinya hari ini jadwal inspeksi keluarga Cho, karena Haejin tidak melihat Inyoung Eonnie, Sungjin, Park Eommonim, atau Lee Eommonim.

   Sembari menunggu Cho Eommonim sendiri meracikkan minumannya, Haejin mengambil roti-roti yang mau ia bawa, berikut beberapa slice kue ke dalam karton yang ia siapkan sendiri.

   ”Kami mau ke Taipei,” kata Cho Eommonim setelah selesai membungkus susu untuk Chihoon.

   ”Oh, Eommonim mau ke Taipei?”

   ”Ne, Super Show 4 Taiwan selama empat hari, sekaligus ayah Kyuhyun mau membuka salah satu cabang pendidikan disana, kau mau ikut?”

   Haejin tertawa sungkan. ”Belum bisa, Eommonim. Nanti kalau sudah longgar Felidis akan datang kesana, janji.”

   ”Oke, kalian baik sekali,” Cho Eommonim tersenyum. ”Super Junior juga sudah berjanji akan hadir dalam pembukaannya. Sayang sekali kalian tidak bisa datang. Untuk Kyorin apa?”

   ”Kyorin dia suka Mochabella, Eommonim.” Sahut Haejin sambil memasukkan satu slice tiramisu favorit Chihoon ke dalam kotak, ketika mendongak melihat beberapa remaja menyapanya, Haejin membungkuk dan tersenyum pada beberapa kamera yang menangkap gambarnya.

   Haejin membungkuk, dan menyalami beberapa orang yang mengulurkan tangannya, menjawab beberapa kali, lalu menyahuti Cho Eommonim lagi yang bertanya soal pesanan minumannya. Setelah seluruh pesanannya siap, Haejin pamit lagi pada Cho Eommonim, dan diiringi kamera-kamera amatir, ia keluar dan menuju mobilnya yang telah terparkir di samping gedung KonaBeans. Setelah memasukkan makanan dan minuman ke dalam mobil, Haejin yang hendak membeli beberapa aksesori untuk ponselnya, pamit sebentar ke sebrang jalan pada supirnya.

   ”Takkan lama, Ajussi,” kata Haejin sambil menutup kembali pintu gesernya. Dia berjalan ringan menuju toko ponsel di seberang jalan, dan masuk ke dalamnya. Setelah meminta pesanannya pada seorang petugas, Haejin memutuskan melihat-lihat aksesori yang di pajang.

   Dan saat itu, ia mengenali seorang gadis yang tengah menatap sebuah protector ponsel dengan logo apel yang dimakan setengah. ”Yoonri?” panggil Haejin ragu-ragu. Dan gadis itu mendongak, lalu tersenyum kaget.

   ”Eonnie? Haejin Eonnie?” cicitnya, lalu memandang sekelilingnya, dan membungkuk. ”Eonnie, annyeonghaseyo.” Senyumnya.

   ”Annyeong!” Haejin menghampirinya. ”Apa kabar? Lama sekali aku tidak melihatmu… apa kabarmu?”

   Yoonri menjawab dengan agak enggan. ”Aku… baik.”

   ”Eh, kenapa ragu-ragu? Kau sama siapa?” Haejin menoleh ke kanan dan kekiri. ”Aku tidak pernah melihatmu di kantor, tidak juga melihatmu saat…” Haejin merendahkan suaranya, hingga hanya Yoonri yang bisa mendengar. ”Kemarin kami menginap di dorm Super Junior.”

   Yoonri menghela napas dalam-dalam. ”Banyak hal terjadi belakangan ini padaku, Eonnie, kau akan bosan mendengarnya.” Candanya.

   Tapi sepertinya Haejin bisa menangkap sesuatu dari mata Yoonri yang sendu itu. Gadis ini memang masih SMA, tak mungkin berbeda jauh dari Kyorin. Masalah apa lagi yang bisa membuat gadis-gadis macam ini sedih?

   ”Kau sedang apa?”

   ”Mumpung aku kembali ke Korea, aku sedang mencari sesuatu untuk ponselku, Eonnie,” jawab Yoonri sambil menggenggam casing protector gambar monyet, Haejin menyeringai melihatnya.

   Tapi kemudian merasa janggal akan kata-kata Yoonri barusan.

   ”Jamkaman,” tahan Haejin. ”Apa maksudmu dengan ’mumpung aku kembali ke Korea?’ memang kau tinggal dimana? Korea Utara?” canda Haejin sambil menepuk bahu Yoonri.

   Yoonri meringis.

   Dan tahulah Haejin, memang ada yang tidak beres pada Yoonri. Setelah dikenalkan oleh Eunhyuk dan Donghae awal Desember lalu, Haejin baru sadar bahwa Yoonri adalah trainee di JYP Entertainment juga, sekaligus senang akhirnya mengetahui bahwa ternyata Lee Hyukjae tidak benar-benar bernafsu pada kekasihnya, dulu, pikir Haejin skeptis.

   Tapi… Yoonri tidak di Korea Selatan? Apa maksudnya?

   ”Ah, ne, Eonnie,” Yoonri menggaruk tengkuknya serba salah, lalu tersenyum sendu. ”Aku sudah tinggal di Singapore, sejak… bulan lalu?” katanya tidak yakin.

   ”Mwo?!” Haejin melongo.

   Yoonri mengangguk.

   ”Lho, memang kau mau debut di Singapore?” tanya Haejin tidak mengerti.

   ”Aniyo, Eonnie,” geleng Yoonri tertawa. ”Aku kuliah di Singapore, dan masa percobaan siswa barunya sudah dimulai sejak 17 Januari lalu. Dan sekarang aku sedang kembali ke Seoul, besok aku akan kembali lagi ke Singapore.”

   ”Omo…” Haejin nampak speechless. Kadang-kadang ia berpikir, dirinya sungguh tidak peka. Sudah tidak tahu trainee perusahaannya, dan trainee-nya ternyata berpacaran dengan sahabat kekasihnya, dulu. Dan sekarang ia juga tidak tahu kalau Yoonri sudah di Singapore.

   Selama ini dia hidup dimana?

   ”Jadi,” kata Haejin setelah kebingungan. ”Bagaimana dengan trainee-mu? Kapan kau debut kalau kau sambil kuliah?”

   Yoonri terkekeh. ”Aniyo, Eonnie, aku sudah mengundurkan diri menjadi trainee di JYP Entertainment. Appa menginginkan aku kuliah dan meneruskan perusahaannya. Appa juga sedang sakit, jadi aku tidak bisa menolak permintaan Appa.” Haejin bisa melihat Yoonri menarik napasnya dalam-dalam, berat. Mendadak Haejin merasa iba, dan miris.

   Setelah mengangguk mengerti, Haejin tidak bisa menahan diri untuk  bertanya. ”Jadi kau dan Eunhyuk…?”

   Dan senyum miris itu benar-benar menghilang dari wajah Yoonri, Yoonri menggigit bibirnya dan mencengkram casing monyetnya yang lucu. Dan Haejin merasa ingin sekali memeluk gadis itu, gadis itu pastilah tengah mengalami masalah hidup pelik. Dilema.

   Dia tidak mungkin mengabaikan permintaan sang ayah, dan… di satu sisi, pria yang dicintainya.

   ”Tapi Eunhyuk tahu?” tanya Haejin pelan.

   Yoonri mengangguk sambil tersenyum, sedih.

   ”Ah,” Haejin mengangguk, meski tahu sepertinya segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik, Haejin tetap meneruskan bertanya. ”Jadi kau dan Eunhyuk sekarang berhubungan jarak jauh?”

   Dan senyum benar-benar hilang dari wajah Yoonri lagi, Haejin menyesal telah bertanya. Tapi Haejin kini pun tahu jawabannya. Sepertinya hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Ternyata, selain Donghae, Eunhyuk juga tengah mengalami masalah?

   Pantas beberapa hari di dorm kemarin, Eunhyuk tidak banyak muncul.

   ”Mianhae, Yoonri-ya,” Haejin menunduk.

   ”Aigo, gwenchana, Eonnie,” Yoonri memaksa suaranya kembali ceria. ”Aku tak apa-apa, kok.” Yoonri terkekeh pelan. ”Lucu ya, aku bahkan tidak menjawab apa-apa, tapi sepertinya Eonnie mengerti. Kalau Eonnie bagaimana? Donghae Oppa baik-baik saja, kan?”

   Dan kali ini ganti Haejin yang tidak tahu harus bicara apa.

   Dan Yoonri buru-buru menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dengan kedua matanya membeliak. ”Eonnie… jangan bilang… bahwa Eonnie dan Oppa juga… sudah…?”

   ”Aish! Sudahlah, jangan bicarakan dua makhluk itu, Yoonri-ya,” Haejin mengibaskan tangannya. ”Kau mau kemana setelah ini? Ayo kuantar pulang, sepertinya ponselku sudah didandani.” Haejin merangkul Yoonri begitu saja membawanya ke konter.

*Senin, 6 Februari 2012*

Welcome home, home sweet home,”

   ”Jinjja,” Shindong menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. ”Badanku remuk rasanya… marathon.”

   ”Oh,” Ryeowook ikut berbaring di lantai.

   ”Ada jadwal tidak pagi ini?” tanya Leeteuk sambil pergi ke dapur, mengambil air. ”Kalau tidak ada lebih baik kita istirahat semua,”

   ”Eobseo, Hyung.”

   ”Kalau begitu istirahat! Dimanfaatkan waktu senggang ini.” Kata Leeteuk yang langsung membuktikan kata-katanya sendiri dengan beranjak ke kamar. Donghae mengangguk dan ikut masuk.

   Diletakkannya tasnya di atas meja, lalu melepaskan topi dan jaketnya, menyisakan kaus merahnya, lalu digantinya celana jeans-nya dengan celana panjang dari bahan ringan, bersiap tidur juga. Sebelum tidur, Donghae membuka MacBook-nya dan memeriksa portal-portal berita, sementara Leeteuk di tempat tidur sebelahnya sudah pulas.

   Sambil mengaplikasikan cleansing oil pada wajahnya, Donghae melirik jendela internetnya yang sudah menampilkan kolom-kolom berita yang paling dicari hari ini, dan link video-video yang juga paling sering diunduh hari ini.

   Perutnya terasa jungkir balik membaca satu diantaranya, yang paling mencolok diantara yang lain. Felidis Haejin & SHINee Minho Became Yoogeun’s Parents. Foto di bawahnya menampilkan pemandangan Haejin dan Minho yang bergandengan dengan Yoogeun dalam gendongan mereka. Menguatkan diri, dibukanya tautan untuk halaman itu.

Felidis Haejin & SHINee Minho Became Yoogeun’s Parents

 

            Dalam episode perdana Teenage Running Man : 91Liners, yang ditayangkan kemarin, Minggu 5 Februari 2012, Felidis leader, Haejin, menjadi pasangan orangtua dari Jung Yoogeun, bersama pria idamannya, SHINee Minho. Dalam game  yang berlangsung demi memperebutkan kaus kaki anak-anak pasangan ’orangtua’ satu sama lain, kedua idol ini menunjukkan kedekatan mereka. Bahkan pasangan lain dalam game ini, U Kiss Eli – Afterschool Nana, MBLAQ Mir – Miss A Min, menyatakan keserasian pasangan ini.

             Keduanya juga tidak ragu-ragu menunjukkan kepedulian mereka satu sama lain, seolah-olah mereka memang kedua orang tua kandung Yoogeun. Bahkan Haejin terlihat serius mempertimbangkan untuk memberikan adik bagi Yoogeun. Netizzen banyak yang mengungkapkan bahwa mereka menyukai pasangan ini bersama.

Dengan berat Donghae keluar dari halaman web tersebut. Meski hatinya mulai berdenyut-denyut, diberanikannya dirinya mencari tayangan Teenage Running Man : 91Liners tersebut, yang sepertinya masih jadi topik perbincangan hangat bagi para netizen.

   Setelah ter-download rapi ke dalam komputernya, Donghae tidak menunggu lama lagi, dan langsung memutarnya.

   Minho tiba-tiba melepaskan jasnya lalu menyampirkannya di bahu Haejin yang terbuka. Membuat Hyorin, Nicole, Nana, dan Min berteriak. ”GYAAAAAAAAAAAAAAAA‼!”

   ”Ehem! Haejin Eomma…”

   Haejin yang sedang tersenyum saja menunggu, terkejut dengan sapaan lembut dari Choi Minho barusan. Dengan wajah terperangah dan tersipu-sipu, diiringi ledekan heboh dari Nicole, Nana, Hyorin, dan Min, Haejin menutup wajahnya dengan malu-malu.

   ”Nah kan! Dia selalu mencuri start,” Eli menunjuk Minho tidak puas pada Mir.

   Haejin melepaskan kedua tangannya dari wajahnya dan terkekeh malu-malu. ”Minho Appa!”

 

   Haejin menjawil pipi Yoogeun pelan. ”Annyeong, Yoogeunie, ini Eomma…” Haejin geli sendiri mengatakannya. ”Jeongmal! Andai anakku perempuan nanti, akan kujodohkan dengan Yoogeun.” Kali ini ganti Minho yang terbahak-bahak.

Donghae sedikit tersenyum lembut mendengar kata-kata Haejin barusan. Tapi kemudian ekspresinya menjadi semakin suram, dan dadanya semakin sesak menyaksikan kelanjutan acara ini.

   Haejin terkekeh kecil dan menunjuk. ”Eomma mau naik ayunan putar itu,”

   ”Yakin? Memang Eomma berani?” ledek Minho.

   ”Kan ada Appa yang melindungi…”

Donghae menutup laptopnya dan menahan tubuhnya yang gemetaran. Digigitnya bibirnya yang tipis agar tidak berteriak. Seluruh kejadian tadi terekam jelas dalam benaknya.

*7 Februari 2012, JYP Entertainment Building, 22.00 KST*

”Ini Asisten Manajerku yang baru. Nam Sanghyun, Geum Ilbong.” Kata Junjin Oppa kepada ketiga member Felidis, wajahnya nampak bangga. ”Lalu yang dua ini, adalah asisten coordie Hyorin, Cheonsa dan Shorry.”

   Haejin mengernyit melihat Shorry, laki-laki kemayu.

   ”Jadi sekarang tim Manajer Felidis ada enam orang, dengan aku sebagai kepala Manajer, dan Hyorin sebagai kepala coordie,” lanjut Junjin Oppa bangga lagi. ”Bagi Sanghyun dan Ilbong, juga Cheonsa dan Shorry… Felidis tidaklah seperti grup yang pernah kalian tangani sebelumnya, atau grup-grup lain diluar sana. Felidis tetap memiliki wewenang penuh atas seluruh jadwal, kontrak, dan outfit mereka tentunya. Tugas kita hanya membantu mereka, karena seluruh keputusan akan kembali kepada mereka.”

   Keempat orang tersebut mengangguk.

   ”Jadi, Haejin-ah?”

   ”Hmm…” Haejin mengangguk-angguk menatap keempat orang ini. ”Berapa umur mereka, Oppa?”

   ”Ilbong dan aku hanya selisih satu tahun,” beritahu Junjin Oppa. ”Sementara Sanghyun mungkin seumur Changmin. Lalu, Shorry itu lebih muda tiga tahun dariku, dan Cheonsa, dia seumurmu, Haejin.”

   Haejin mengangguk. ”Sanghyun Oppa, Ilbong Oppa, Shorry…” Haejin menggumam. ”Boleh aku memanggilmu tanpa sapaan apa-apa?”

   Shorry mengangguk sambil mengedip. ”Silakan, Haejin-ssi.”

   ”Oke, good,” Haejin mendesah lega, dipanggil apa laki-laki ajaib di depannya? Oppa terlalu ’laki’ tapi ’Eonnie’ tak mungkin juga, lalu dia menatap Cheonsa. ”Cheonsa-ssi?”

   Cheonsa mengangguk sambil tersenyum. ”Ne, Haejin-ssi.”

   ”Tadinya dia coordie duet Joo-Yoonri, tapi Yoonri memutuskan mundur, dan Joo sudah memiliki coordie sendiri,” jelas Junjin Oppa.

   Haejin mengangguk-angguk lagi. ”Baiklah, Oppa, kalau begitu… Hyorin Eonnie dan Ilbong Oppa akan jadi tim Chihoon,” kata Haejin memutuskan. ”Lalu Cheonsa dan Sanghyun Oppa akan jadi tim Kyorin, jadi Junjin Oppa dan Shorry akan bersamaku. Tapi kalau kami memiliki pekerjaan bersama, kalian berenam harus ikut semua.”

   ”Baiklah,” Junjin Oppa mengangguk. ”Ada lagi, Haejin-ah?”

   ”Mereka harus punya seluruh nomor kami, sudah?” tanya Kyorin.

   ”Itu sudah,” Junjin Oppa mengangguk.

   Haejin mengangguk, begitu juga kedua adiknya. ”Kalau begitu apa jadwal kami?” tanyanya. Dan keenam orang di hadapannya langsung serentak membuka catatan mereka, kecuali Junjin Oppa dan Hyorin Eonnie yang memakai Galaxy Tab mereka.

   ”Tanggal delapan, sembilan, dan sepuluh Februari, Felidis di Music Bank Paris,” kata Junjin Oppa. ”Dan Haejin-ah ada tawaran fanmeeting Felidis, tanggal tujuh belas Februari.”

   Haejin mengangguk. ”Oke, terima saja, kita kosong kan tanggal segitu?”

   ”Tidak ada rekaman apa-apa,” Kyorin mengangguk. ”Seluruh album sedang dalam proses mastering sekarang, Eonnie.”

   Chihoon menguap.

   ”Kalau begitu ambil tanggal tujuh belas,” sahut Haejin, disambut anggukan dari Junjin Oppa. ”Selama tidak ada benturan dengan tanggal apa-apa lagi silakan saja,” Haejin memerhatikan para staff baru yang mengekor di belakang ’atasan’ mereka dengan buku catatan, Haejin mendesah. ”Dan Oppa, tolong mereka dibelikan tablet.”

   ”Besok tablet untuk mereka datang,” Junjin Oppa mengangguk.

   ”Kalau begitu sudah selesai?” tanya Haejin memastikan.

   Junjin Oppa mengangguk. ”Selesai. Kalau begitu, Kyorin tadi bilang mau berlatih bersama Kyuhyun, benar?”

   Kyorin mengangguk. ”Ne, aku dan Kyuhyun Oppa mau berlatih,” dia memberitahu Haejin. ”Aku akan ke dorm Super Junior.”

   ”Ya sudah, hati-hati.”

   Kyorin diikuti Sanghyun dan Cheonsa keluar dari dalam ruangan ini. Chihoon sudah tidak memiliki jadwal apa-apa, jadi tinggal Haejin yang bilang bahwa dia hanya perlu berlatih free dance untuk Dance Battle di Paris besok. ”Oppa, dan Shorry bisa pulang… besok kalian tinggal jemput kami di dorm.” Pesan Haejin.

   Setelah berlatih sebentar, dan benar-benar merasa mantap dengan gerakannya, Haejin pun akhirnya pulang mengendarai mobilnya sendiri. Setelah memarkir New Ford Escape hitamnya dan turun, Haejin mendapati mobil yang sangat familiar di depan matanya, terparkir manis disana.

   Audi A5 putih.

   Apakah ini berarti Donghae datang? Dan ada Chihoon di dorm, anak itu pasti mengizinkan Donghae masuk. Haejin mendesah berat dan berjalan masuk ke dalam lift. Untuk beberapa hari kemarin dia sibuk dengan desain album, lalu menentukan tanggal-tanggal, sehingga dia hanya memikirkan masalah percintaannya sebentar sebelum ia jatuh tertidur.

   Tapi sekarang, Donghae muncul lagi, dan Haejin masih belum siap. Kesalahan Donghae cukup fatal kemarin, dia melakukan kekerasan, yang memang tidak benar-benar kekerasan. Tapi hal itu jelas… Haejin mendesah berat ketika kisi-kisi lift terbuka di lantai tiga belas, dan dengan langkah-langkah berat juga Haejin berjalan menyusuri koridor mendekati pintu dorm-nya.

   Ditekannya kombinasi angka password untuk dorm-nya. Bunyi bip pelan, mengindikasikan bahwa password-nya diterima, dan Haejin menarik tuas pintunya lalu membukanya. Sepatu Donghae ada disana, memang benar Donghae datang kesini. Haejin melepaskan sepatunya, lalu menarik sandal rumah merah jambunya, dan memakainya.

   ”Sudah pulang?”

   Haejin mendongak, Donghae tengah menatapnya, sedikit menopangkan tubuhnya pada konter dapur. Haejin mengangguk sekilas, lalu berjalan begitu saja ke dalam kamarnya.

   ”Haejin-ah, aku mau bicara.”

   ”Aku lelah. Aku baru pulang,” sahut Haejin sambil menutup pintu kamarnya.

   Tapi, harusnya Haejin bisa menebak bahwa meski dalam keadaan status sudah berpisah, Donghae tetap keras kepala. Donghae masuk ke dalam kamarnya, dengan wajah serius, keras. Tak lagi tulus seperti kemarin terakhir mereka bertemu di studio KBS.

*           *           *

Ada rindu yang menyiksa, karena kerinduan itu tidak terbalas. Ada pula rindu yang manis, karena telah lama tak berjumpa, dan kini pujaan hati ada di depan mata. Ada pula rindu yang menyiksa, karena orang yang dirindukan tidak memperdulikan. Dan itu semua bercampur aduk dalam diri Donghae.

   Kelelahan setelah melangsungkan empat hari berturut Super Show 4 Taipei, ditambah rasa cemburu yang membakar tatkala melihat Haejin dan Minho, lagi. Tapi kondisi fisiknya ditambah timbunan jadwal Haejin yang menggila jika hendak melakukan promosi album terbaru, membuatnya mengurungkan niatnya untuk langsung menemui Haejin kemarin.

   Dan sekarang, dia sudah tidak bisa menahan diri, dia harus datang, diterobosnya masuk pintu kamar Haejin, peduli setan, itu etis atau tidak. Dilihatnya Haejin memunggunginya, tidak kaget bahwa ia akan masuk, Haejin melepaskan tasnya, lalu kaus kakinya sambil duduk di depan meja riasnya.

   ”Kita benar-benar harus bisa, Haejin-ah.”

   ”Kau tidak dengar tadi aku lelah?” Haejin menyahut dengan suara yang nyaris meninggi.

   ”Aku dengar,” Donghae menyahuti. ”Tapi kita tidak bisa seperti ini terus menerus, Haejin-ah.”

   ”Seperti ini bagaimana?” Haejin berbalik lelah, lalu melepaskan lilitan hair piece yang tertempel di rambutnya, menyisakan rambut aslinya. ”Aku merasa biasa-biasa saja, Hae.”

   ”Ini tidak biasa-biasa saja! Dengar, aku sudah membayar kesalahanku,” aku Donghae pelan.

   ”Kesalahan apa?”

   ”Haejin-ah, aku cemburu…” ucap Donghae pelan sambil tiba-tiba, seolah ada yang menendangnya, dia berlutut terjatuh, menunduk. Kedua mata Haejin melebar melihat Donghae yang berlutut. ”Aku terima hukumanku… aku terima… aku sedih melihatnya, aku tidak rela, sampai kapanpun…” Donghae mendongak sambil menggeleng-geleng cepat. ”Tidak rela… tidak pernah rela… kau dengan orang lain! Aku bersedia membayar kesalahanku, dengan cara apa pun… tapi, kembalilah… aku sesak tanpamu.”

   Bibir Haejin bergetar.

   Donghae berdiri, perlahan mendekat, lalu meraih kedua tangan Haejin dan menggenggamnya. ”Kembalilah padaku.” Ditatapnya kedua bola mata Haejin yang berwarna cokelat kehitaman.

   Haejin menunduk, diam, napasnya memburu. Sementara Donghae masih menatapnya intens, tanpa melepaskan pegangannya. ”Apa yang harus kulakukan untuk membayarnya, Sayang? Apa? Beritahu aku…” tanpa sadar suaranya sendiri telah bergetar hebat. ”Apa?”

   Haejin mengisak, dan perlahan menarik lepas tangan Donghae yang menggenggamnya. ”Aku tidak bisa…” jawabnya lirih.

   Kedua tangannya terjatuh. ”Wae?”

   Haejin menggeleng.

   ”Tidak bisa? Tapi apa alasannya? Apa yang harus kuperbuat?” Donghae bertanya bertubi-tubi, dua tetes air mata baru saja lolos, kini menganak sungai di pipinya. ”Haejin-ah… aku harus melakukan apa?!”

   ”Kau tidak perlu melakukan apa-apa, kau hanya perlu melepasku!”

   ”Tapi waktu itu kau bilang kita hanya berpisah sementara!”

   ”Waktu itu dan sekarang keadaannya berbeda!” balas Haejin dengan kedua mata menatap Donghae berani. ”Aku telah berpikir banyak soal waktu itu.” Haejin menghela napas. ”Dan aku masih belum bisa mengerti bagaimana caranya memaafkan tindakan kasarmu…”

   Dan Donghae menunduk.

   ”Hae…” isak Haejin. ”Tidakkah kau berpikir bagaimana sakitnya aku kau perlakukan begitu?” tanya Haejin lagi. ”Itu kekerasan, Hae… yang membuatku terus bertanya-tanya, apakah aku pantas menerimamu lagi?”

   Donghae mengisak.

   ”Andai saja kau tidak melakukan kekerasan itu kepadaku,” lanjut Haejin dengan sekuat tenaga dan segenap hatinya. ”Mungkin aku tidak seperti ini… itu yang harus kau ingat dalam hubunganmu selanjutnya nanti,” air mata Haejin tumpah saat mengatakannya.

   ”Apa yang kau bicarakan?!”

   ”Kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya.”

   Donghae menekan kedua lengan Haejin dan meraih Haejin ke hadapannya. ”Apa yang kau katakan? Apa maksudmu?!”

   ”Rasanya kita sudah tidak perlu melanjutkan hubungan kita, Hae…” di tahannya bahu Donghae, dan dia menolak menatap mata sendu yang dipenuhi air mata itu, dia menolak menatapnya. ”Kita benar-benar tidak bisa meneruskannya.”

   Donghae menggeleng, dan mengeratkan pelukannya.

   ”Hae…” Haejin memberanikan diri menatap kedua mata Donghae. ”Kalau kau terus begini, kau… menyakitiku lagi.”

   Dan dengan lemas, mendengar kata-kata terakhir Haejin tadi, dilepaskannya cengkraman tangannya pada kedua lengan Haejin. Haejin terisak-isak kecil, dan Donghae menatap lantai dengan nanar, air matanya berjatuhan. Kata-kata Haejin soal kekerasan terngiang-ngiang dalam benaknya lagi.

   Sedikit kesalahan, yang besar akibatnya…

   ”Keurae,” isak Donghae mengangguk dan mengusap matanya. ”Kesalahan itu memang terlalu fatal.”

   Haejin menunduk.

   ”Padahal aku yang menunggu, selalu menunggu saat-saat aku bisa bertemu cinta pada pandangan pertamaku saat aku kecil dulu. Tapi yang kulakukan justru membuatnya melepasku…” isak Donghae miris dengan tawa kering yang memilukan. ”Ne, aku benar-benar pria menyedihkan.”

   Haejin menekap mulutnya dengan tangannya, menahan isak.

   ”Maafkan aku,” Donghae mengisak. ”Aku benar-benar tidak bisa memaafkan diriku sendiri mengingat hal itu,” diraihnya kepala Haejin dan dikecupnya dahinya singkat. ”Baiklah… aku melepasmu.”

   Dan Haejin menatapnya sendu.

   ”Aku melepasmu kalau itu yang bisa kulakukan agar kau memaafkanku.”

   Haejin diam.

   ”Baiklah, aku tidak akan mengganggu hidupmu lagi, aku tidak akan menyakitimu lagi.” Donghae membungkuk berulang kali, dan Haejin mengisak. ”Maafkan aku, Haejin-ah…”

   ”Aku sudah memaafkanmu…” isak Haejin.

   ”Tapi kau tidak bisa menerimaku, iya kan?” isak Donghae miris. ”Sudahlah, aku harus kembali. Jaga kesehatanmu…” diusapnya pelan kepala Haeji, lalu pipinya, lalu bibirnya, dan dengan tergesa ia berlari keluar dari dalam kamar Haejin, begitu juga dari dorm Felidis.

*           *           *

”AAAHHH…” Haejin menatap tangannya yang gemetaran, begitu pula tubuhnya, dan terjatuh di atas lantai kamarnya. Di dekapnya tubuhnya erat-erat. Cintanya pada Donghae, lebih besar dari kemarahannya. Tapi tetap, belajar dari pengalaman cinta ibunya, yang meninggal dalam keadaan terus mengharapkan ayahnya yang tidak pernah pulang.

   Cinta, harus tetap dengan logika!

   ”Hae…” isaknya sambil terus berusaha memeluk dirinya sendiri yang tak kalah hancur dari Donghae.

-To Be Continued-

Nggak akan bosan saya mengingatkan untuk memperhatikan dengan jelas tanggal-tanggal yang tertera! Karena saya selalu membuat cerita dengan hal yang tersirat, bukan tersurat. Jadi kalau sudah saya kasih tahu untuk memperhatikan, dan tetap tidak mengerti… ==” kita bershower *?* aja yuk #plakk

Oh iya, kompetisi FF untuk Anniv JinHae, ditunggu sampe 30 Maret lho yaaa, jaga lupa… lumayan light stick untuk nonton SS4 :p makanya yang belum ikutan ayo ikutan. Dan aku mempertimbangkan Designer Blog, merangkap Designer Poster… ada yang mau gabung sama JinHaeXy?

Terakhir, jangan lupa, read, like, comment… 

167 thoughts on “{JinHaeXy} STILL ~Part 5~

  1. ini udah lama bgt dan baru sempet baca. di tengah2 baca bahan ujian pula.. penasaran sama lanjutannya -walopun udah ada- blm busa baca still 6. ntar ujian beres aku baca lanjutannya #peluk modul

    nyesek ih. gak tega sama hae. salut sama haejin. sediiih parah bacanya.
    aku perhatiin kok tanggal2nya. suka dh semua ff eonn th bener2 diperhatiin detailnya sampe tgl segala.😄

  2. Kenapa lagi cinta harus pakai logika terus. Cinta kan nggak mandang apapun lagi Haejin-ah, walau pernah disakiti tapi kalo cinta seharusnya nerima Donghae oppa lagi. Galau deh jadinya!

  3. huaaaa ini apa???? TToTT nyeseekk tau liat donghae jadi begitu! aahh haejin sialan! Babo! gengsian amet sih!

  4. ahhh aku bru baca yg STILL, aduhhh ko bgni si jinhae a?? galau ya dsini. haejin a dilema, hae a hancur2 hati a. hoho, tp hae a emang kasar si wktu ngejorokin haejin trus jg dtoyor jg pala a hajin. pasti sakit hati n kecewa lah dgituin ama pasangan kita. huhhh, maap komen a lngsung dpart ini. aku ngebut dr jam 3pgi ampe gni hri blm kelar jg baca a. hehe,,

  5. Eh padahal udah gamau nangis.. padahal mata udah capek nangis.. akhirnya nangis juga di ujung.. haejin milih kyak gitu karena mungkin itu yg terbaik buat dia.. itu haknya.. aaarggghh ~
    Padahal awalnya udah bagus… donghaenya cool bener.. meskipun itu ada potongan kisah yoonri juga yg kasianan gtu .. terus aku kirain udah langsung mau dimaafin gtu.. dan ini bener2 nyesek karena jatoh banget dari harapanku.. huwaaa mommmaaaa~ itu hak haejin milih jalannya sendiri padalah dia juga sakit.. hwaiting!! Semoga semuanya dapet yg terbaik :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s