{SongFic Contest} Angel’s Cry

Author : Specialshin

Title      : Angel’s Cry

Cast      : Kim Yejin, Kim Ryeowook

Genre   : Romance

Soundtrack : JYJ – The Boy’s Letter

Note     : Perfectly mine, except the casts. No plagiarism. Emang judulnya kayak lagu Mariah Carey tapi serius deh ini tuh Songfic JYJ LOL and anyways sorry for the failure and imperfection. Hope you guys like it😀

 

here i am, where there’s only you
i was a boy too shy and scared; i couldn’t even say i love you
i didn’t even know if you cried or laughed
i only knew how to make you wait,
i hated myself for the tears you shed because of me
i will not make you sad anymore

Terlalu anggun. Terlalu indah. Tentu tidak terjangkau. Kecantikannya tidak manusiawi tetapi bukan itu yang membuat aku ingin memilikinya. Hatinya putih, seputih sayap lebarnya yang akan membentang anggun membelai udara pagi dan matanya menatap tajam ke arahmu seakan ia tahu segala yang tidak pernah kau katakan.

Seperti malaikat. Ya, memang dia malaikat. Malaikat tidak punya nama, tetapi aku harus menemukan cara untuk memanggilnya. Jadi kunamai saja dia Kim Yejin. Dia selalu disana, di halaman gereja itu seakan berdoa semoga Tuhan akan mengangkat tubuhnya lagi ke Surga. Sayang, sifat manusiawinya membuatnya tidak bisa kembali.

Entah sejak kapan ini semua dimulai. Entah sejak kapan dia itu ada dan aku tidak mengingat detik dimana aku mulai mencintainya. Hanya… dia ada. Aku ada. Kami nyata. Dan aku mencintainya.

Aku, yang manusia biasa ini tidak bisa melakukan apa apa untuk mendapatkannya.

Dengan langkah berat aku memasuki katedral besar itu. Memang bangunan itu megah, tapi sunyi. Sepi. Tidak banyak yang menyadari keberadaanya. Aku melangkahkan kakiku masuk dan duduk di kursi piano di sebelah altar, mencoba memainkan melodi melodi indah yang akan mengundangnya datang.

Tanganku mengalun pelan diatas tuts tuts piano itu. Tentu saja dia bukan gadis biasa. Tidak bisa didekati dengan surat surat atau cara picisan lainnya. Jadi inilah caraku meraihnya. Melantunkan nyanyian nyanyian yang bisa dinikmatinya dan berharap ia akan datang.

Kenyataannya dia tidak pernah datang. Dia masih disana, seakan berbicara dengan alam.

Tidak ada cara lain. Aku bosan begini terus. Setidaknya aku harus menahannya disini. Bagaimana kalau Tuhan mendengar doanya? Bagaimana kalau ia benar benar pergi?

Maka dengan memberanikan diri aku melangkahkan kakiku keluar dari katedral melalui pintu belakang. Pilar pilar megah ini mengingatkan aku pada film film klasik dimana pesta dansa dilakukan. Aku harap cerita romantis itu tidak pernah ada sehingga manusia tidak pernah bermimpi setinggi itu.

Sayangnya aku adalah salah satu dari para pemimpi itu yang berharap bisa menyentuhnya walaupun itu sama saja dengan mustahil.

Aku sampai pada taman besar indah di belakang katedral dengan air mancur buatan menghiasi sudutnya. Pepohonan tumbuh asri dan burung burung gereja berkicauan senang. Mereka seperti bercakap cakap satu sama lain. Tetapi ada satu hal yang menarik perhatianku.

Seorang gadis dengan gaun putih cantik dan sayap lebar menutupi punggungnya duduk merapatkan kedua tangannya seolah berdoa tanpa henti. Ia menikmati semilir angin yang seakan mendengarkan perkataannya dalam hati atau burung burung yang seakan menjawabnya.

Berhentilah berdoa… berhentilah… bagaimana kalau doamu dikabulkan?

Aku terus berucap dalam hati. Aku tahu keinginanku sangat bertolak belakang dengan keinginannya tetapi dia adalah malaikat. Aku manusia, dan manusia memiliki egoisme yang tidak bisa ditahan. Biarlah kali ini aku bersikap egois, aku ingin memilikinya.

Selalu hanya ada kami berdua disini. Hanya dia dan aku. Dan aku selalu suka moment seperti ini dimana tidak akan ada yang mengganggu kami. Dan aku berharap hanya akulah satu satunya yang ia kenali di dunia ini. Semoga begitu.

Doanya terlihat terusik sehingga ia membuka matanya. Ia menoleh mendapatiku yang sedang memandanginya. “Kim Yejin,” panggilku. Ia menaikkan satu alisnya menatapku bingung. Dari jarak sedekat ini bisa kurasakan kesempurnaan wajahnya memang tak terbantahkan.

“Berhentilah memanggilku begitu. Aku ini tidak punya nama,” ujarnya. Aku hanya tersenyum tipis. Setiap makhluk yang bernapas di bumi ini pasti memiliki nama. Kau tidak terkecuali,” jawabku singkat.

Yejin menoleh kearah lain menolak memandangku. “Tetapi ini bukan tempatku. Rumahku diatas sana,” ujarnya memandangi langit tanpa batas diatas sana. Langit itu begitu luas sampai aku tidak bisa memastikan dimanakah tepatnya ia harusnya tinggal.

“Kalau bisa aku akan mengantarkanmu pulang. Tetapi sayangnya tidak ada jalan untuk itu,” ujarku takut membuatnya sedih. Sayangnya itulah faktanya dan seperti yang kuperkirakan, raut sedih itu merambat perlahan di wajah putihnya.

Aku mencoba menyentuhnya tetapi ia menghindar sehingga aku menyembunyikan tatapan terlukaku dan memaksakan senyum yang tidak seharusnya ada. “Memang apa yang membuat langit tidak bisa menerimamu?” tanyaku sabar.

Ia menyembunyikan wajahnya. Ternyata malaikat juga tahu caranya menangis. “Ada hal yang mengikatku pada dunia. Aku memiliki sifat duniawi. Aku tidak bisa pulang,” ujarnya pilu. Inilah kelebihan tangis Malaikat. Kau bisa merasakan sakit yang ia rasakan juga.

Entah karena aku mencintainya atau karena kepolosannya. Sepertinya semua yang dirasakannya bisa kurasakan juga dan kesedihan mendalamnya terasa sesak di dadaku. Aku ingin menghiburnya tetapi bagaimana caranya? Aku bahkan tidak boleh menyentuhnya.

Aku melangkah sedikit menjauhinya. “Pasti ada alasan yang membuatmu tak termaafkan. Kau bisa katakan kalau kau mau,” ujarku perlahan berharap ia benar benar akan menceritakannya. Setidaknya padaku.

Tetapi sepertinya aku berharap terlalu tinggi. Yang ia lakukan hanya menangis dan menangis. Kim Yejin… bagaimana aku bisa menghentikan air matamu? Bulir demi bulir itu terjatuh begitu saja tanpa menyadari betapa mahalnya air mata itu bagiku.

Aku berdiri, berjalan beberapa langkah di depannya mencoba memahami perubahan cuaca diatas sana. Sebenarnya mungkin aku hanya menolak memandang air matanya.

Awan berubah muram diatas sana. Bahkan langit mengerti perasaannya. Aku mengulurkan tanganku menengadah keatas dan bulir bulir bening itu jatuh membasahi telapak tanganku. Ditengah rintikan gerimis masih bisa kulihat wajahnya dengan  jelas, dan matanya yang terlihat bening.

Guntur terdengar menyambar sehingga tanpa berpikir panjang aku berlari ke arahnya. Dengan gesit aku meraih tangannya dan menariknya masuk ke dalam katedral.

“Lepaskan aku! Lepaskan!” tangan kecilnya meronta dalam genggamanku tetapi sayang aku tidak bisa melepaskannya. Maafkan aku Kim  Yejin… malaikat tak bernama. Kali ini aku harus berpura pura tuli.

Setelah sampai, aku melepaskan tangannya. Memang aku tidak akan memaksanya kalau ia tidak ingin tetapi aku tetap saja mengira dan menebak nebak. Sebegitu bencinyakah dia padaku? Apakah jarak kami memang terlalu jauh?

“Apa kau membenciku?” tanyaku to the point. Gadis itu hanya memandangku dengan tatapan beningnya seakan aku ini bodoh.

“Kenapa aku harus?” tanyanya polos.

“kau tidak mau kusentuh,” jawabku lagi.

“Kau kan manusia,”

“Dan kau sudah hampir menjadi manusia,” ujarku. Aura malaikatnya memang sudah memudar dan sekarang ia terlihat senormal manusia lain walaupun cantiknya masih memancar tanpa kemanusiawian sedikitpun.

Tetapi kalau dipikir pikir lagi sepertinya perkataanku tadi begitu melukainya. Ia menunduk dan air mata menyakitkan itu terlihat mengalir lagi di pipinya. Seketika aku menyesali perkataan tadi.

“Aku memang tidak layak. Tetapi aku juga tidak mau menjadi manusia. Aku sendiri. aku tidak punya siapa siapa. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Bagaimana aku bisa hidup? Aku sangat ingin kembali, kau tahu? Sangat ingin. Tetapi itu mustahil. Semua gara gara kau. Kau penyebabnya,” ocehnya sambil menangis.

Aku menarik napas panjang dan tanpa banyak bicara menariknya dalam dekapanku. Ajaibnya kali ini ia tidak menolak. Ia hanya menangis dan menangis tanpa ingat kalau aku bisa merasakan kepedihannya.

“Aku tidak bisa memiliki lagi apa yang dulu milikku. Langit.. awan…” ujar Yejin dalam isakannya. Aku berusaha meredam kesedihannya dengan mengeratkan dekapanku padanya. Ia benar benar menangis kali ini. Bukan tetesan air mata biasa yang kerap kali meluncur anggun di pipinya.

“Aku mau menggantikan semuanya untukmu. Sudah, jangan menangis lagi,” bujukku berusaha membuatnya diam. Sepertinya sedikit berhasil karena isakannya perlahan lahan mulai teredam.

Setelah memasikan ia sudah mulai tenang aku melepaskannya. Aku melirik kearah piano tempat biasa aku menyampaikan ‘surat surat’ untuknya. Memang dia bukanlah gadis biasa, jadi aku juga tidak bisa menyampaikannya dengan cara  biasa.

Kulihat mata Yejin memicing melihat tumpukkan kertas di kap piano itu. Tangan rampingnya mengangkat kertas itu dan melihatnya. “Itu namanya partitur,” jelasku saat melihat ia kebingungan.

“Kim… Ryeowook?” bacanya perlahan dan aku mengangguk. “Itu namaku,” jawabku perlahan. Ia hanya menoleh memandang wajahku. “Aku tahu,” ujarnya. Terselip rasa senang dihatiku mendengar itu. Setidaknya dia tahu tentang aku.

“Kau tahu?” tanyaku tanpa bisa menyembunyikan antusias dalam suaraku.

“Hanya namamu yang kutahu,” jawabnya tanpa menyadari kalau itu malah membuatku semakin senang.

Air mata itu sudah berhenti mengalir. Aku menarik napas lega untuk itu. Aku tidak suka melihatnya terluka. Entahlah… malaikat sesuci itu harus terluka. Aku tidak suka.

Dengan langkah gontai aku berjalan kearah piano yang berdiri anggun di samping altar. Jari jariku memainkannya perlahan. Lagu lagu pendek dengan nada sederhana, yang biasanya kusampaikan diam diam padanya entah dia sadar atau tidak. Yang jelas aku yakin ia mendengarkan dari luar sana.

Aku melihatnya mendekat kearahku membuatku semakin percaya diri memainkan tuts tuts hitam putih itu. Ia sekarang berdiri tepat di depanku hingga aku bisa merasakan aroma tubuhnya. Ia memperhatikan permainanku membuatku semakin bersemangat melantunkan lagu itu.

Lama kelamaan lagu itu berubah. Aku memainkan satu lagu special yang kuciptakan sendiri. lagu itu memang untuknya, semoga dia sadar itu.

there’s a girl who only knows me
like a star, always shining on me
to a fool like me, saying ‘thank you and i love you’ – my tears fall
from now on, i’ll become your sky so you can shine more brightly

will you love me forever?
walking alone along this road,
i can’t see anything
i wouldn’t be able to live without you
to me, you are my only source of light
mine…

here i am, where there’s only you
i was a boy too shy and scared; i couldn’t even say i love you
i didn’t even know if you cried or laughed
i only knew how to make you wait,
i hated myself for the tears you shed because of me
i will not make you sad anymore

will you love me forever?
walking alone along this road,
i can’t see anything
i wouldn’t be able to live without you
to me, you are my only source of light
mine…
where the sky and light meet each other,
i will send out this letter to you

will you stay with me?
in this cold darkness,
we’ll rely on each other’s warmth, like that of the warm sun
all of these will become a song in the sky, it will never be forgotten
even as i close my eyes and relive the memories, i will not feel weary
the love you’ve given me, protecting me all these while,
thank you so much
from now on, i’ll become your sky

having listened to the boy’s song,
the star shines even brighter

all the hearts out there
(now…)
i hope my song can reach you
to feel and love the same thing
(to make your heart beat/to touch your heart)

will you love me forever?
walking alone along this road,
we’ll rely on each other’s warmth, like that of the warm sun
all of these will become a song in the sky, it will never be forgotten
even as i close my eyes and relive the memories, i will not feel weary
the love you’ve given me, protecting me all these while,
thank you so much
from now on, i’ll become your sky

Permainanku berhenti tiba tiba. Ia mengulurkan tangannya dan menyentuh tuts tuts piano itu kasar menimbulkan bunyi aneh yang menggema ke seluruh ruangan. Air matanya terjatuh membasahi pergelangan tanganku dan dia berbalik untuk berlari.

Dengan gesit aku berdiri dan mengejarnya. Larinya tidak terlalu cepat. Ia baru saja menyusuri red carpet. Dengan cepat aku menarik tangannya mendekat. “Kim Yejin!” panggilku keras dan berhasil, dia berhenti.

Ia menarik tangannya dan menolak menatapku. “Jangan panggil aku Kim Yejin! Aku ini tidak punya nama!” bentaknya. Aku terpaku. Ini pertama kalinya ia berbicara ataupun membentak sekeras ini.

“Tetapi di dunia kau harus punya sebutan,” jelasku dan ia membuang mukanya lagi. “Aku tidak perlu nama! Aku bukan manusia! Aku berbeda denganmu!” teriaknya bergetar. Kentara sekali ia sedang mencoba untuk tidak menangis.

Aku melepaskan cekalanku. Kata katanya barusan menohok terlalu dalam. Aku sadar itu sekarang. Seberapa dalampun aku mencintainya, kami tetap berbeda. Perbedaan itu terlalu jauh untuk bisa dilewati.

“Oh…”

Aku hanya menunduk kecewa dan berbalik. Aku meninggalkannya yang kini menangis lagi, dan duduk di atas bangku piano. Aku memainkan lagu lagu yang kini entah mengapa nadanya berubah sedih, seiring tangisan yang mengalir dari bibirnya.

Ia jatuh terduduk di lantai,menutupi bibirnya dengan telapak tangannya dan lanjut menangis. Aku tidak tahan melihatnya seperti itu tetapi apa yang bisa kulakukan?

“Jahat… Kau  jahat… kau tidak punya hati…” ujarnya. Aku menundukkan kepalaku dalam dalam, berharap aku bisa mengerti maksud perkataannya itu.

“Jahat… tidak punya hati… berhentilah memainkan lagu lagu itu,” ujarnya di sela sela air matanya yang terus meluruh membasahi pipi putih itu.

Aku tidak mengerti tentu saja. Bagaimana aku bisa tahu apa yang dikatakannya? Tetapi kalaupun seandainya memang aku yang ia maksudkan, tentu aku harus tahu alasannya.

Dengan kasar aku menekankan kedua telapak tanganku pada piano itu menimbulkan gaung aneh menyeramkan, seperti yang Ia lakukan tadi. Bunyi itu memantul ke seluruh ruangan hingga akhirnya benar benar berhenti dan meninggalkan hening yang memekakkan.

“Apa? Memang apa yang telah kulakukan?” bantahku tak terima.

“Kau yang membuatku tertahan disini. Kau yang membuatku memiliki sifat sifat manusia itu. Kau yang membuatku tidak bisa kembali. Semua gara gara kau!” hardik Yejin. Aku hanya memijat keningku pelan tanda aku tidak mengerti.

“Aku bahkan tidak bisa menyentuhmu! Apa yang telah kulakukan!?”

Yejin hanya menangis tersedu sedu. Kalau disaat seperti ini dia terlihat sama normalnya dengan gadis gadis lain. Tetapi tentu saja hanya aku yang tahu kalau dia itu berbeda. Dia itu special.

“Kau terus memainkan lagu lagu itu. Kau pikir aku tidak mengerti maksudmu? Aku jatuh cinta padamu! Aku tidak boleh merasakannya! Itu yang membuatku terikat disini!” jeritnya frustasi. Aku hanya terdiam mendengarnya.

Apakah aku harus senang atau sebaliknya? Aku tidak mengerti. Fakta bahwa gadis ini ternyata mencintaiku membuatku buta akan kenyataan bahwa akulah yang membuat dia terkutuk selamanya.

Aku berdiri, menghampirinya. Ia masih berlutut disana dan tersedu sedu. Perlahan aku berlutut juga disampingnya berusaha merengkuh pundaknya. Beruntungnya, dia kali ini tidak menolak.

“Kim Yejin… itu bukan dosa,” terangku pelan. “Itu normal Yejin-ah… normal,”

Ia hanya menangis dan menangis membuatku merasa bersalah. Aku memeluknya kali ini. Posisi yang aneh memang, tetapi aku harus memeluknya. Entah mengapa hatiku mengatakan itu. “Ayolah… jangan menangis,” bujukku.

“Bagaimana tidak? Aku tidak bisa kembali. Aku harus ada disini selamanya,” rintihnya. Aku memeluknya lagi. “Tidak seburuk itu… tenang, tidak seburuk yang kau kira,” bujukku.

Dia lagi lagi hanya menangis. “Aku bukan siapa siapa. Aku berbeda. Aku asing disini,”

Aku mengerti maksudnya sekarang. “Ada aku,” ucapku. Hanya itu yang bisa kukatakan. Kuharap ia mengerti maksudku bahwa hanya aku yang akan menjaganya selamanya. Sepertinya lagi lagi aku beruntung karena ia mengerti. Ia menengadah menatapku dan entah setan apa yang merasukiku di tempat suci ini, aku menciumnya.

Beberapa detik itu sepi dan bodohnya aku baru sadar. Aku menciumnya. Ya, aku baru saja mencium seorang malaikat. Ia menoleh sedikit ke belakang dan mendapati sayapnya menghilang.

Ia mendengus. “Bagus, aku benar benar manusia sekarang,” katanya.

will you stay with me?
in this cold darkness,
we’ll rely on each other’s warmth, like that of the warm sun
all of these will become a song in the sky, it will never be forgotten
even as i close my eyes and relive the memories, i will not feel weary
the love you’ve given me, protecting me all these while,
thank you so much
from now on, i’ll become your sky

Aku tersenyum. Entah, senyum itu lahir begitu saja. Matahari mulai terbenam di luar sana tetapi sekarang berbeda. Hidupku berbeda. Gadis ini milikku. Akhirnya. Sepertinya.

Aku menggandeng tangannya. “Aku akan menjagamu,” janjiku. Memang janji yang sangat pasaran mungkin, tetapi kali ini aku sungguh sungguh. Aku harus menjaganya.

Ia tersenyum miris. “Menjaga itu seharusnya tugasku, kau tahu? Akulah malaikat disini,” ujarnya tersenyum kecut. Aku hanya tertawa renyah. “Hei. Kau manusia biasa sekarang,” ujarku. Memang, kecuali sayap mengganggu yang menempel di punggungnya entah mengapa sekarang ia mulai terlihat seperti gadis biasa.

Dia sedikit berbeda sekarang. Entah memang begitu atau perasaanku saja. sayapnya menghilang. Auranya juga menghilang. Pipinya mulai berona berwarna sedikit merah mudah tanpa menghilangkan kepolosannya. Entah bagaimana, sekarang ia mulai terlihat lebih manusiawi.

Aku mencium keningnya lembut. “Aku mencintaimu,” ungkapku pelan. Entah, aku tetap merasa harus mengatakannya.

Ia hanya tersenyum lemah.

“Kalau aku tidak mencintaimu, aku di Surga sekarang,”

FIN

18 thoughts on “{SongFic Contest} Angel’s Cry

  1. wahh~ suka..^^ beda ya..
    tp ada 2 kalimat yg bkin bngung, itu airmata dr bibir? yakin?:/
    tp overall bgus kok.. suka..:)

  2. huaaaa daebak ff nya , like this🙂
    ceritanya indah , malaikat jg bisa jatuh cintaaa
    suka karena gantian ryewook yg ngemis cinta k yejin duluan , yah walaupun tetap yejin emg udh suka sam wooky .
    fighting untuk karyanya🙂

  3. aaaahhh~ sweet banget ceritanyaaaaa!!
    Kim Yejin jadi malaikat, buahahahaha😀 gak kebalik itu *disambit eris eonni*
    Aku suka aku suka^^

  4. tikaaaaaaaa…. ini apa banget ><
    ih gambarin yejinnya bagus banget. ini sekalinya deh si yejin dibikin jadi malaikat gini… udah gitu si wookie ngemis cinta gitu.. daebaaakkk!!😄
    aku suka suka suka!! diksinya juga keren banget.. :333

  5. Pertama kali baca ini..

    euungg..

    HUWEEE~~~ langsung nangis ;____;
    betapa indah uri specialshin ngegambarin Yejin disini.. Hiks.. akhirnya ada yg ngeliat kecantikan Yejin luar dalem #plakk

    dan ryeonggu disini.. huweee manis banget~~

    daebaakk!!

  6. Yejin digambarin jadi cewek yg bener” cewek *?* di sini . Beda sama aslinya . Yejin yg bisa dibilang evil se cs sama Kyu sekarang jadi angel . Ckckck *membayangkan*
    Oh , jadi Yejin di dunia itu gara” Wook mainin lagu itu terus toh ? Dan gara” lagu itu Yejin jadi manusia ? Ngerti saya .
    Wook juga tanggung jawab *?* yah .
    Nyentuh banget ini ff .

  7. Sebelum baca ffnya aku download dulu lagunya terus didenger baik-baik plus baca artinya baru deh baca ffnya daaaan hasilnya lebih mengerti si ff gitu daaaaan aaaah sweeeeeet banget deh. Wookieeeee kaaaau manis sekali sih. Kata-katanya tuh bikin cewe cewe ngefly kayanya ahahahhaha =)

    Daebak deh pokonya!!! Fighting😀

  8. uwooo….akhirnya si Yejin jadi cewek di sini…. *kabur* xDDD
    sedih…bener2 sedih… ceritanya cukup singkat…tapi dapet Feel’x si Yejin jadi cewek….hehehhee…*Eris Onn…peace…hehehe..*

  9. blm komen d sni..
    ud bca tp blm smpet komen..

    ini songfic krenz bgd dech pkokx..
    berasa bgd feelx..
    ryeowook yg muja yejin..
    memohon-mohon dg cra romantic..
    main piano..
    nyesek bca tiap kalimatx dmn mreka seakan-akan g bsa brsatu dan yejin yg kekeh bgd ttp mw plg k langit..
    happy ending akhrx..
    sng dech mreka bsa brsatu..

    bwt authorx fighting..

  10. So sweet…
    Tpi penasaran, kok bisa yejin terdampar d bumi? Kok bisa yejin suka ryeowook? #abaikan
    suka liat cara wookie nyari perhatian yejin🙂

  11. Huwaaaaaa baru ngeh kalo ini buatan tika…daebak! :’)
    Endingnya agak seneng seneng sedih gitu astagah~
    Yejin juga jadi lebih ‘wanita’ terus Ryeong juga gak jahat lagi hahahaha😀
    Cool!

  12. akhirnya yejin jd manusia..
    demi cinta na yejin rela dah jd manusia.. wkwkwk..
    jgn ampe ditinggal ya wookie.. kasian tar yejin gak pny tmpt ge.. hehehe..
    so sweet dah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s