{SongFic Contest} The Boy’s Letter

Title : The Boy’s Letter

Author : Sabila Putri Ghassani

Genre : Humor, Romance, Family

Main Cast : 

Kim Yejin

Kim Ryeowook

Soundtrack : JYJ – The Boy’s Letter

There’s a girl who only knows me like a star,

always shining on me

“Gu.. Ryeonggu-ah..” sebuah tangan menggoyang-goyangkan tubuhku, mengganggu kelelapan tidurku.

“euung~” erangku, mataku menyipit ditatap matahari melalui jendela kamarku.

“ingin kumasakan sesuatu?” gadis itu tiba-tiba muncul di depan wajahku, menghalangi sinar matahari yang baru saja menyambut pagiku. Aku menggeleng malas.

“aku belum mau mati sekarang..” jawabku seadanya, masih berusaha memfokuskan pandanganku.

Gadis itu merengut dan menunduk, menatap apron kuning cerah milikku yang sudah terpasang di tubuhnya.

Aku menatapnya tak tega.

“ck, setidaknya nanti kau harus mengeceknya dulu sebelum kumakan..” decakku kemudian masuk kembali ke dalam selimutku, sementara dia langsung mendongakkan wajahnya sembari tersenyum berbinar-binar sebelum melangkah riang ke dapur.

to a fool like me, saying ‘thank you and i love you’

my tears fall

“kau tertidur?” suara gadis itu memasuki indera pendengaranku.

‘Cish, bagaimana bisa aku tertidur kalau kau terus mengoceh seperti ini?!’

Kurasakan ia sedang menatapku, dan aku tetap pura-pura memejamkan mataku sampai … sebuah bibir halus dan kecil mendarat sempurna … di bibirku … sekejap.

“gomawoyo Ryeonggu-ah.. gomawoyo..” ia melepas bibirnya dan berganti mengecup pipiku sekilas sebelum kurasakan ia beranjak pergi meninggalkanku.

Aku membuka mataku dengan cepat dan mengerjapkan perlahan.

“bagaimana bisa gadis bodoh itu bertindak seperti ini?!” rutukku.

Perlahan aku menyentuh bibirku, dan menggelengkan kepalaku kuat-kuat “aish, bodoh!!”

Aku memperhatikan kipas yang berputar dengan angkuh di sudut ruangan dan mengeceknya. “apakah udara di sini tidak terlalu panas?”

from now on, i’ll become your sky

so you can shine more brightly

“ah~ rasanya aku mau mati saja!! Bagaimana bisa seorang gadis tidak bisa memotong sayuran dengan benar, eoh?” sentakku, ia dengan takut menatapku dan sayuran hasil potongannya itu bergantian.

“sudahlah! Kau perhatikan saja aku. Aku yang memasak, dan kau yang memakan. Kurasa itu simbiosis mutualisme..” ujarku dan wajahnya langsung memerah.

“a..aku tidak seburuk itu!!” sangkalnya, wajahnya merona manis.

“ara, kau hanya tidak bisa memotong sayuran dengan benar, tidak bisa membedakan gula dan garam, takut pada cipratan minyak, lalu kau ju..”

“arasso arasso. Aku memang tidak bisa apa-apa..” potongnya, bibirnya mengerucut.

Aku terkekeh diam-diam dan kemudian menarik tangannya, memposisikan tubuhnya sedemikian rupa, diapit oleh meja dan tubuhku.

“aku akan mengajarimu cara memotong..” aku menjawab tingkahku ini, membuat sedikit ekspresi kebingungan diantara rona merah di wajahnya menghilang. Aku meraih tangannya dan menuntunnya perlahan.

Mendukungnya untuk menjadi gadis tulen kurasa tidak buruk.

“kurasa aku akan gila..” kudengar ia berbisik. Bibirku otomatis terangkat, tersenyum sendiri.

will you love me forever?

walking alone along this road, i can’t see anything

“Ryeonggu, ayo belanja!” ajak gadis itu, menarik-narik tanganku.

“baru saja kemarin..”

“ayolaaah.. aku suka pasar..” potongnya dengan nada antusias.

Aku menatapnya campuran antara geli dan prihatin. Dan akhirnya hanya mengangguk perlahan, mengiyakan keinginan anehnya itu.

Tubuhnya berputar tidak berhenti sepanjang jalan, seakan selama ini ia terasing dalam dunia sempit. Mata cokelat bening itu memperhatikan pasar yang penuh sesak ini sampai serinci-rincinya.

“Ryeooong~ burung ini mengikuti gerakan kepalaku!!” pekiknya riang, sembari memaju-mundurkan kepalanya, sementara burung berwarna merah cerah itu mengikuti gerakan kepala gadis itu, sedikit mengingatkanku pada Eunhyuk hyung yang tengah menyanyi bagian rap-nya *sll cari kesempatan nyempilin ni nama #ditabokmassa*.

Tanpa sadar tanganku sudah terulur dan kini berada di atas poni tanggungnya dan mengacaknya dengan gemas. Ia merengut menatapku, tetapi kemudian ia menarik lenganku dan berjalan lagi. LAGI?! Oh, come on, kakiku benar-benar sudah mati rasa!

“ya! Kim Yejin-ssi, kau belum puas juga?” gerutuku, kakiku kupaksakan mengimbangi langkah riangnya.

Tapi tiba-tiba langkahnya berhenti – mematung – dan aku terpaksa mengedarkan pandanganku, melihat apalagi yang bisa membuatnya terpana.

Dan kemudian aku sadar sebuah tangan melingkar .. tangan mungil itu .. di pinggangku ..

“ya Tuhan, kau akhirnya memanggil namaku lagi!!” pekiknya riang, sembari meloncat-loncat ringan sembari tetap memelukku.

Untuk sesaat aku merasa menjadi satu-satunya yang bergerak dalam dunia ini, aku bahkan mendengar kicauan burung gereja yang merdu dan aku melihat rambut cepolan yang bergerak? Hey, itu terdengar … (- _____ -)

Tersentak, dan akhirnya aku tersadar dari lamunan anehku akibat terganggu dengan cepolan rambutnya ini yang bergoyang naik-turun di depanku.

“a..apa sih kau ini..” aku melepas pelukannya begitu menyadari alasan ia tiba-tiba melakukannya. Aish, bukankah memang sewajarnya ia kupanggil dengan namanya?! Kenapa harus sesenang itu?! Dan yang lebih parah, kenapa wajahku terasa panas?! Bukankah ini hanya akan membuatku terlihat seperti orang bodoh?? Atau mungkin, sejak awal aku menyetujui perjanjian itu … aku … memang bodoh?

(*)(*)(*)(*)

Langkah gontai dan pikiran berkecamuk dalam kepalaku menuntun kakiku melangkah ke pinggiran pasar. Aku melirik boks minuman di sebelahku dan tersenyum .. pada boks itu?

“aish, kau benar-benar sudah gila, Kim Ryeowook!” aku mengacak rambutku dengan frustasi sebelum mengeluarkan beberapa receh koin dan memilih minuman kesukaan gadis itu. Baru saja aku hendak memberikannya …

“eh?” aku mengedarkan pandanganku. Sejak kapan gadis itu tidak mengikutiku?

i wouldn’t be able to live without you

to me, you are my only source of light mine…

Kalap dan panik aku menyusuri jalan yang baru saja kulalui. Putus asa kurasakan begitu aku sudah sampai di gerbang masuk tanpa menemukan cepolan rambut khas yang terpajang manis di kepalanya.

“Wook-ssi.. sekali lagi diumumkan untuk segera ke sumber suara untuk Kim Ryeo..”

“Gu..hiks..Ryeongguuuuu~” isakan suara gadis yang sudah jelas kukenal menggantikan suara seorang pria yang terdengar sedikit jengah dan kesal dari balik pengeras suara.

“ya ya ya! Jangan main-main dengan pengeras suara itu nona..”

Aku yang tengah kalap dan panik langsung terbahak mendengar pengumuman dari speaker yang tergantung di belokan jalan setapak yang baru kulalui. Mengingat suara pria yang kesal itu semakin membuatku terbahak.

“bukankah gadis bodoh itu memang selalu muncul dengan cara yang bodoh?” gumamku, dan dengan santai berjalan menuju sumber suara.

Isakannya tidak berhenti sepanjang jalan pulang, tangannya memegang ujung kaos yang kukenakan dengan erat. Aku diam-diam menikmati ketakutannya. Ini berarti ia takut kehilangan diriku kan?

“mianhae..” ujarku akhirnya, membalikkan badanku menghadap wajahnya yang tertunduk. Ia mengangguk, dan sedetik kemudian mendongak dengan cepat. Seiring dengan isakan yang menghilang, rona merah perlahan menjalari wajah putihnya.

Oh sudahlah, tidak usah dibahas. Aku hanya menggenggam tangannya saja.

here i am, where there’s only you

i was a boy too shy and scared

i couldn’t even say i love you

“apa yang akan kau lakukan kalau orang tuamu menjemput ke sini?” aku memberanikan diri bertanya hal-TERSENSITIF-baginya itu.

Sementara ia hanya menggerak-gerakkan kepalanya bingung.

“kalau aku minta kau yang putuskan?” tanyanya, membuatku tiba-tiba merasa seperti menelan batu besar. Bukankah aku yang berharap jawaban lebih dulu?

Memberinya tatapan memohon pun tidak akan ada artinya. Kurasa gadis ini terlalu bodoh dalam mengartikan ekspresi seseorang.

“aku … tidak punya hak untuk menahanmu bukan? Kau seutuhnya milik pria China bermarga Lau itu, kau ingat?” ujarku, pelan.

i didn’t even know if you cried …

Raut kecewa nampak di wajahnya. Apa ia … berharap aku menahannya? Tapi … ah, sudahlah, kurasa aku juga bukan penebak ekspresi wajah dengan baik, dan lagi, akhir-akhir ini aku merasa aku terlalu banyak memikirkannya.

(*)(*)(*)(*)

Aku memperhatikannya yang tengah membereskan ruang tengah dengan earphone terpasang di kedua telinganya.

“ya!” panggilku, mengetesnya.

“Kim Yejin-ssi..” panggilku lagi. Ia malah semakin menggoyangkan pinggulnya (?), masih dengan earphone terpasang, dan sesekali kemoceng yang dipegangnya diasumsikannya sebagai gitar.

Cukup sudah. Gadis ini terlalu larut dalam dunianya.

Aku memandangnya geli, seakan jarakku dan dia yang hanya terpaut setidaknya tiga meter ini dihalangi oleh tembok transparan yang berbeda dimensi.

“bodoh..” gumamku.

“dan aku lebih bodoh lagi bukan, karena tidak berani mengatakan perasaanku dengan benar padamu..” ujarku, masih tersenyum memandanginya.

or laughed …

Entah hanya perasaanku atau ia sempat mematung? Benarkah? Apa sebenarnya … earphone-nya itu …

“Ryeonggu.. sejak kapan kau disitu?” wajahnya merona begitu menemukanku tengah menatapnya dengan intens.

“sejak kau menyalahgunakan kemocengku..” jawabku, ringan. Sementara ia dengan kikuk mulai membersihkan ruangan itu kembali.

Aku kembali memandangnya dan kemudian menarik nafas lega.

‘Ah~ mungkin hanya perasaanku saja..’

Tanpa kusadari senyum gadis itu mengembang, dan terus mengembang, sedikit rasa berharap terselip dalam senyumannya. Setidaknya biarlah rasa itu terselip walau hanya sesaat. Berharap pria itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya.

i only knew how to make you wait,

i hated myself for the tears you shed because of me

i will not make you sad anymore

“ka..kalian benar-benar menjemputku?” kudengar suaranya bergetar.

“keurom. Mau sampai kapan kau mencoba menghilang Yejin-ah?” seorang wanita muda – atau setidaknya itu yang terlihat – merangkul gadis di sampingku dengan sayang.

“eommaaa..” rengek gadis itu.

“pria itu sudah menyesal, Yejin-ah..” kini pria berkacamata persegi dan nampak berwibawa itu ikut membujuk gadis ini untuk ikut pulang bersama mereka.

Gadis itu merengut, mengerucutkan bibirnya, dan kemudian menatapku. Melayangkan tatapan memohon?

Sedangkan aku hanya bisa menatapnya serba salah.

“aku sudah mengajukan surat cerai kemarin..” elaknya kemudian.

“yang sudah dirobeknya begitu kau memberinya, kau lupa?” hal yang tidak ingin diingatnya – kurasa – malah dengan senang hati diucapkan oleh wanita yang dipanggilnya ‘eomma’ itu. Gadis itu akhirnya hanya menunduk dengan wajah pasrah.

Entah hidung, tenggorokan, alveolus, atau paru-paruku yang bermasalah hingga aku merasa sesak melihatnya seperti itu. Sesak yang bahkan membuatku merasa menderita lebih lebih daripada yang kurasakan saat asmaku kambuh *oke ini mulai ngaco*

(*)(*)(*)(*)

“aku..”

“aku..”

Oh hentikan! Ini sudah mulai terlihat seperti drama picisan. Aku hanya terdiam, secara tidak langsung menyuruhnya berbicara duluan.

“gomawoyo sudah mengizinkanku disini..” ia membungkukkan badannya, lalu berjalan meninggalkanku.

‘Su..sudah?’ aku mendongak kaget, dan refleks menariknya ke dalam dekapanku. Kurasakan tubuhnya menegang. Entahlah, hanya saja tiba-tiba aku merasa akal sehatku sedang dalam masa hibernasi saat ini.

“R..ryeong?” bisiknya dalam suasana canggung yang mendera.

“bisakah .. kalau aku berharap kau akan menahanku?” bisiknya, lirih. Aku mengeratkan dekapanku. Benarkah? Bisakah aku?

“Yejin-ah~” panggil suara lembut ibunya dari luar kamar.

“n..ne..” ia terbata-bata menjawab panggilan ibunya, mulai melepaskan tanganku yang tengah mendekap tubuh mungilnya. Ia membalikkan tubuhnya, menghadapku. Tidak ada yang diucapkannya. Hanya senyum lembutnya yang biasa, lalu berbalik dan meraih pegangan pintu.

where the sky and light meet each other,

i will send out this letter to you

Sesaat sebelum tangannya memutar knop, segera kutarik lagi tubuhnya dan kali ini dengan berani aku merengkuh wajahnya dan menempelkan bibirku di sana, di tempat yang semestinya ditakdirkan untukku, di lekukan yang begitu pas dengan bibirku, layaknya enzim dengan kofaktornya *saya pasrah digatak*

Aku mengecup dahinya lembut sebelum benar-benar melepaskan dirinya dari dekapanku, menatapnya sendu dan perlahan tanganku menyentuh pipinya yang merona.

“kau bisa berharap. Kau tentu harus berharap, gadis bodoh!” jawabku, sementara ia sudah terisak, dan secara otomatis cairan bening dari mata cokelatnya mengalir membasahi jari telunjukku yang tengah mengelus pipinya.

Sensasinya berbeda ketika aku membuatnya menangis di pasar kemarin. Saat ini aku benar-benar merasa seperti seorang pria yang berjuang untuk gadisnya. Hal yang seharusnya sudah kulakukan .. semenjak ia datang ke dalam hidup baruku.

~flashback~

[NORMAL POV]

Seorang gadis nampak lusuh dengan bajunya yang penuh lumpur dan rambut kusutnya, wajah mendungnya pun semakin memberikan nilai plus untuk kelusuhannya. Gadis itu menyeret kakinya yang sudah letih itu terus berjalan, menjauh, entah kemana. Langkahnya tiba-tiba terhenti di sebuah rumah bergaya kuno dengan pagar kayu tinggi yang membatasinya dari dunia luar.

“apa yang kau lakukan di depan rumahku?” suara seorang pria membuyarkan lamunan si gadis.

Gadis itu mendongak, ia menatap pria itu – pria yang menghilang dua tahun lalu dari hidupnya – dengan sendu, namun dirasanya pandangannya berputar dan ia hanya melihat gelap sebelum tubuhnya ambruk, menimbulkan suara panik di sekitarnya.

(*)(*)(*)(*)

“engh..” erang gadis itu, terbangun dari tidurnya. Dengan mata setengah terpejam, ia melangkahkan kakinya menuju sumber yang membuatnya terbangun, dibantu dengan indera penciumannya.

“cish, sudah kuduga kau kelaparan..” gumam seorang pria, menatap gadis yang baru saja ditemukannya itu sudah berada di belakangnya dengan mata terpejam.

Pria itu terkekeh saat ia menempatkan masakannya di meja, diekori oleh langkah limbung gadis itu, mengingat mata gadis itu masih terpejam.

“ya!!” serunya spontan begitu melihat gadis itu sudah duduk di balik kursi, memegang sendok dan garpunya, siap menyantap makanan yang tersedia.

Kontan mata si gadis terbuka dan …

Pria itu dengan galak memukul tangan mungil itu.

“bersihkan dirimu dulu, baru boleh makan..” ujar si pria, menatap gadis itu galak. Gadis itu mengkerut dan menurut, beranjak pergi meninggalkan meja makan beserta makanan yang menggiurkan yang sudah tersaji di atasnya.

Berada di rumah yang sering dikunjunginya dua setengah tahun silam tidak menyulitkan gadis itu mencari letak toilet untuk membersihkan tubuhnya. Mengingat perutnya yang berkontraksi kuat, cukup dua menit, dan gadis itu sudah kembali berada di balik kursinya, menatap pria itu dengan wajah seperti anjing kecil yang kelaparan.

“Ryeong, mawh..ukah mwem..bantwukuhh?” gadis itu berbicara di tengah-tengah makannya, membuat pria itu memandangnya sedikit jijik, namun mencoba maklum.

“hm?” pria itu menggumam, berusaha tidak terkesan penasaran.

“jadilah suamiku..” gadis itu dengan frontalnya mengambil kedua tangan pria di depannya ke dalam genggamannya sembari melayangkan jurus tatapan puppy eyesnya yang sama sekali tidak berubah, tidak peduli dengan pria di depannya yang tengah berada di ambang kematian akibat nasi yang memasuki jalur pernafasannya.

“jang..uhuk..bercanda bodoh!!” gerutunya, wajahnya memerah, entah karena malu atau kehabisan nafas.

Melihat gadis itu masih menatapnya dengan tatapan memohon dan ekspresi serius, membuatnya mendesah pasrah dan meminta penjelasan lebih lanjut.

[NORMAL’s POV END]

~end of flashback~

having listened to the boy’s song,

the star shines even brighter

Yejin menatap keluar dengan sendu, matanya memperhatikan bulir-bulir air yang jatuh menghantam aspal yang ia lalui. Ia melebarkan matanya sembari menenggakkan kepalanya, berusaha menahan air dalam matanya ikut keluar. Gadis itu akhirnya tidak bisa menahan lagi isakan dan air matanya begitu mengingat ucapan pria berwajah tirus itu, membuat kedua pasang mata yang sedari tadi meliriknya lewat kaca depan kini menatapnya dengan khawatir.

“Yejin-ah, gwencahana?” Tuan Kim menepikan mobil mereka dan menatap putri satu-satunya itu khawatir, begitu pula Nyonya Kim yang langsung melepas sabuk pengamannya dan tanpa keluar dari pintu, wanita anggun itu berpindah tempat duduk ke belakang.

“aniya, gwenchanayo.. aku.. hanya terlalu senang..” isak Yejin, mengusap tangan eommanya yang kini menggenggamnya erat. Pandangan Tuan Kim dan Nyonya Kim sedikit melembut.

“aku hanya takut kalau kau menyesali kepu..”

“ani!! Tidak! Sama sekali tidak.. aku baik-baik saja seperti yang kalian lihat..” Yejin menunjukkan cengiran konyolnya.

Tuan Kim tersenyum dan mengacak poni tanggung Yejin.

“baiklah kalau begitu .. hanya tunggu satu minggu sampai kita bertemu lagi dengan Penghulu Kim ..” ujarnya, usil.

Yejin melotot, tidak terima.

“MWO?! Satu minggu?!!!” pekiknya.

Tuan Kim terkekeh-kekeh, sementara Nyonya Kim menatap Yejin dengan jahil sebelum berpindah tempat lagi ke sebelah suaminya tanpa lewat pintu seperti sebelumnya.

“Yejin-ah, bukankah kau yang bilang ingin menikah secepatnya dengan cinta monyetmu itu, dulu hah?” ujar Nyonya Kim, tersenyum jahil.

“eomma~” rengek Yejin, “setidaknya .. berikan aku waktu sebentar lagi .. dan lagi, Jongwoon ajussi selalu mengerjaiku saat membacakan ikrar. Jangan lagi gunakan dia sebagai penghuluku kali ini..” rutuk Yejin.

Kedua orang tua Yejin kompak terbahak. Kali ini mereka akhirnya berhasil menemukan misi mereka yang sebenarnya.

Tawa ceria gadis itu yang menghilang semenjak dua tahun lalu.

i hope my song can reach you

to feel and love the same thing

(to make your heart beat/to touch your heart)

Sebuah tangan yang tidak jauh lebih besar daripadanya ini kini menggenggamnya erat. Sementara pemilik tangan yang kugenggam menundukkan wajah sedalam-dalamnya. Biarpun begitu aku dapat melihat semburat merah diantara bekas aliran air matanya. Oh Tuhan, masih bisa adakah gadis semanis dirinya?

“eung~ kurasa kau sudah bisa melepaskan tangan..ku..” lucunya kudengar ia sedikit ragu. Aku menatap genggamanku padanya dan melepaskannya perlahan.

Entah sengaja atau tidak, tapi kudengar desahan nafas kecewa dari bibirnya. Bukankah ia yang menyuruhku melepaskan tanganku? Ck, apa semua gadis merepotkan seperti ini?

“ehehehe..” kekehnya lucu setelah aku menggenggam tangannya lagi. Yah~ benar, wanita memang merepotkan -___-”

“ehm .. kurasa sekarang waktunya kau pergi, nona..” ujarku, pelan. Biarpun begitu masih bisa menandingi senandung kecilnya. Ia menoleh padaku dan terlihat berpikir.

“shiruh~ aku masih mau disini..” rengeknya. Kurasakan wajahku memanas. OKE! KUAKUI SEKARANG AKU LEMAH PADA RENGEKANNYA!!! Sial!

“tapi orang tuamu bilang kita harus tidur terpisah seminggu ini..”

Gadis itu merengut dan meloloskan tangan mungilnya dari genggaman tanganku dengan mudah, lalu beranjak. Apa iya sekarang pria sudah merepotkan seperti wanita? Aku juga … entah … hanya … yah, merasa sedikit … kecewa?

“m..mau apa?” kudengar suaranya bergetar begitu aku menggenggam tangannya.

“mengantarmu tidur..” jawabku sembari mengelus rambut halusnya. Ia terkikik lalu mengangguk pelan.

Sementara itu, tanpa disadari, sepasang mata tengah memperhatikan mereka dengan intens.

“mwoyaaaa?! Pernahkah kau lihat uri Yejin bertingkah malu-malu begitu?” bisik seorang wanita dengan dress tidurnya tengah mengintip di balik pintu kamar yang bersebrangan dengan kamar TKP *?* .

Sementara pria yang tengah duduk di kursi berlengan empuk di dalam kamar terkekeh pelan, dan menatap punggung istrinya itu dengan lucu ..

“pernahkah kau lihat Ny.Kim bertingkah kekanakkan seperti ini? Aigoo~ kau yang tadi menyetujui segala syarat agar dia bahagia kan? Sudah, jangan mengintip lagi! Kemari!!” suruhnya, sembari menepuk-nepuk kasur di sebelahnya.

Wanita itu berbalik dan tersenyum.

“bukan begitu, hanya saja .. sepertinya aku sudah ingin mereka punya momongan..” kekehnya polos, membuat pria paruh baya itu menatapnya galak.

“ara .. aku tidak akan mengintip!!” wanita itu menutup pintu kamarnya perlahan dan …

[[[:: END ::]]]

Muehehehehe~ Annyeonghaseyo~~~

*bungkuk badan sedalemdalemnya jari enyuk masuk ke dalem idungnya kalo lg ngupil /plak/*

Okeh, ini apaaaaaaaaaa?! *garuk tembok*

FAILED of course -..-

Haduuuu . abisnya suara Junsu di lagu ini beneran ga bisa didengar sebelah telinga (?) :3

Jadi kepengen bikin yg ini , apakah terlalu maksa ?

Salah saya kalo mungkin yang kebayang jadi bukan ryeowook kecuali bagian masak-memasak [lol]

Pertama kali bikin songfic sama main cast ryeong jadi mohon dimaklum . *bungkuk lagi*

Dan main point ttg ryeong emang ga jauh dari dapur . *siap dipanggang wook*

Menerima segala saran, kritik, dan makian. Kekee~ *bungkuk lagi dan lagi*

Kamsahamnida~~ *pergi nenteng (?) enyuk*

 

~Sabila Putri Ghassani~ (@sabikoyaki)

20 thoughts on “{SongFic Contest} The Boy’s Letter

  1. hwaah~~ lucu, keren.. suka ama pembawaannya yg santai..:)
    dan dsini yejin childish bgt>< kkk
    byngin dy trus2an pouting sama blushing gara2 ryeonggu..x3
    buat authornya, keep writing aj y?;))

  2. komen di saat pelajaran..!! *plaak*

    nice!! karakternya beda banget ma ff nya eris eonnie…hohoho..
    tapi belakang2 rada bingung! itu yejinnya dah nikah ma mochi?? trus cerai, dan ngilang ma ryeonggu? (?)

    but i like it!!!

    • hehe mianhae bikin binguuung .__.
      jadi sebenernya ceritanya yejin nikah muda sama mochi .. walo dia sbnrnya dari dulu suka sama wook :3
      karna mreka msh pasangan muda , mochi yg labil *digatak* ngecewain yejin ..
      yang ngilang dua taun cuman ryeong ajaa ..
      tp yang sesi yejin ngabur itu gara2 dia pundung mau cerai sama mochi~ :DD
      maksud aku emang tersirat siih , terserah reader-nim mau nganggepnya gimana , tp trnyata malah bingung yaah ?😄 *bungkuk badan*

  3. happy End….alhamdullilah…xDDD
    Wih si Yejin di sni lumayan gak keliatan cowok.nya…hehehee…yaa cuman itu tadi…motong2 sayur tetep gak bisaaa…hehehehe

    • hehe mianhae bikin binguuung .__.
      jadi sebenernya ceritanya yejin nikah muda sama mochi .. walo dia sbnrnya dari dulu suka sama wook :3
      karna mreka msh pasangan muda , mochi yg labil *digatak* ngecewain yejin ..
      dan itu endingnya mreka *yejin+ryeong* lg menuju jenjang pernikahan .. makanya belom boleh bobo sekamar #eaaaaa *penjelasan macam apa ini?!*
      maksud aku emang tersirat siih , terserah reader-nim mau nganggepnya gimana , tp trnyata malah bingung yaah ?😄 *bungkuk badan*

  4. hadeuuu ini si yejin dibikin manja gini jadinya unyuuu banget… ><
    aku suka cara ngegambarin ryeong yg lagi malu2 gt. aaah authornya berhasil bikin yewook berubah jd unyu couple~~ aku sukaaa…
    tapi… KENAPA YESUNG JADI AHJUSSI AHJUSSI DI SINI??!!! *KEPRUK AUTHOR*

    • *tangkep krupuk (?)*
      hahah . abis minat banget masukin yeyecung . soalnya pas pertama kali baca ff eris aku kira YeWook itu ecung ama ryeong . hahah *alesan ga logis*
      makasyiih udah baca~ :DD

  5. kyaaa sesi potong sayurannya bikin mupeng >///< mauuuu.. *tarik heechul kedapur*

    —di lekukan yang begitu pas dengan bibirku, layaknya enzim dengan kofaktornya—
    lagi enak enak baca,dan saya sukses dibikin cengo gegara kalimat itu..wkwkwk

  6. disini asli! ryeong maniiiiss banget!
    emang ga kaya dia siih, tapi ini tipe2 yg eris suka (?) #dorr
    cuek tapi sayang.. ga seepil kyuhyun, tp ga selebay leeteuk juga #plakk
    suka bagian ilang di pasar itu.. huakakakak~
    Yejin babo!!

  7. Yejin jadi pemalu ya , manja” juga sama Ryeong . Jadi pengen , diajarin masak + dimanja” sama Ryeong #ditaboksiwon
    Ecieee , ngapain itu dikamar bang ? Ehem *poke Ryeong*
    Oh , jadi Yejin awalnya suaminya Henry terus kabur ke Wook dan jadinya nikah sama Wook ? Ckckck , ga bisa bayangin kalo Henry + Yejin nikah #digamparyejin
    Ffnya nyantai , jadi enak bacanya . Good job author😀

  8. suka.. suka.. krakternya beda ma wook n yejin d ff eris.. tapi ngepas koq..😀
    tapi yang agak bingung, itu yewook tu udah nikah apa belom ato gimana gt, o.oa

  9. awalnya agak bingung sama endingnya tp pas baca keterangan author dibox komentar aku jadi ngerti deh hihhihi
    akhirnyaaaaa yejin nikah sama wook::””””D ini fanfic bagusss! aku sukaaa apalagi dengan gambaran karakternya yejin yang pemalu gitu hahahaha wook itu diam-diam menghanyutkan ya kan :””) keep writing authornim!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s