My Soul In Seoul ~Chapter 5~

Title : My Soul In Seoul

Author : Aveeka Mauri (Makasih Onnie Sayang :*)

Genre : Romance, Humor, Family

Rate : PG-17

Length : Chapter

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin “Nadine”

….KELIMA….

Nadine mulai melupakan kegundahannya akan Kakek dan kembali tertawa dan bercerita bersama Ibunya, namun matanya tidak pernah luput melihat pada dua sosok laki – laki beda generasi diseberang sana. Sempat tatapan Nadine dan Hae bertemu dimana mata Nadine seolah mengirimkan sinyal pertanyaan ‘Apa yang kalian bicarakan..? Apa Ayah menyidangmu..?’ dan selanjutnya Hae seolah mengerti arti tatapan itu, ia hanya menjawab dengan gelengan dan kedipan lembut matanya juga senyum tipis yang terurai.

“Hei…. Kau takut Ayahmu akan menyidangnya kan…?” Tegur sang Ibu menepuk pipi putrinya.

Nadine menjulurkan tubuhnya sedikit mendekati sang Ibu sambil berbisik, “Bu… Kira – kira apa yang mereka bicarakan? Posisi duduknya terlihat gelisah, terkadang bersandar lalu maju kemudian melipat tangan, lalu memainkan jari, terkadang tertunduk lalu tersenyum… Ini aneh Bu! Ayah melakukan apa padanya? Bu, Ayah seperti memaksanya untuk menikahiku karena aku hamil…” Ibu Nadine diam dan melirik pada dua sosok laki – laki yang kini berdiri dan menghampiri mereka.

Disudut Lain….

“Kakek sudah tau kalau dia ada disini… Tolong jaga dia baik – baik, jangan lakukan kesalahan apapun yang akan berakibat fatal untuk kalian berdua.” ucap Laki – laki tua itu menepuk pundak Hae.

“Aku akan menjaga dan membuktikan pada Kakek kalau dia akan baik – baik saja bersamaku Paman.” Jawab Hae pasti.

“Aku dan Ibunya percaya padamu… Tolong temani ia control dan ingatkan akan obat – obatannya. Kita kesana, lihat dia penasaran atau takut aku akan menyidangmu…” Ayah Nadine tersenyum dan hal yang sama dilakukan Hae sambil melihat kearah Nadine saat keduanya berjalan mendekati ibu dan anak itu.

“Jangan lupa berobat dan jangan terlalu lelah ya…” Bisik Ibu Nadine mengalihkan pandangan putrinya yang tajam menatap dua pria yang berjalan menghampiri mereka.

“Iya Bu, bulan depan aku akan control… Medical report-ku pun sudah dipegang mereka, aku juga tidak akan lelah…. Hanya beberapa bulan kedepan mungkin sibuk menyiapkan bahan untuk lomba design di Milan…”

“Ibu percaya padamu… Apa dia tau penyakitmu?”

“Sudah tau sepertinya, tapi mungkin ia berfikir itu penyakit biasa yang orang kebanyakan akan punya saat lelah… Tidak sengaja Yoonri menghubunginya saat aku kambuh.”

“EHEM! Ladies…” Ucap Ayah Nadine saat mereka sudah berdiri tepat di samping kursi yang di duduki dua wanita itu.

Nadine berdiri dan langsung mendorong tubuh Hae menjauh dari orang tuanya, kini mereka berhadapan dengan raut wajah Hae yang sungkan dengan orang tua Nadine. Nadine mencengkram kemeja Hae dengan tatapan selidik, “Kalian bicara apa? Ayah menyidangmu? Ayah memarahimu? Apa yang Ayah inginkan dari kita?” bertubi-tubi Nadine bertanya.

“Ayah inginkan cucu! Jadi kita harus cepat – cepat membuatnya…” Ledek Hae.

“Yak! Lee Donghae!!!” Bentak Nadine.

“Ya Tuan Putri! Stt, jangan berteriak lihat semua orang melihat kita…” Nadine menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan melihat sekitarnya.

“Cepat bilang, Ayah bicara apa?!!” Nadine bicara dengan penuh penekanan menarik kemeja Hae.

“Rahasia laki – laki! Setidaknya aku sudah tau dimana titik lemahmu… Ayah mertuaku itu sangat mendukungku, senanganya tahun baru ini dengan restu darinya… Ough!!!” Nadine meninju perut Hae, membuat laki – laki itu mengerang kesakitan.

“Nona Adam! Apa yang kau lakukan?! Lihat, dia kesakitan!“ Bentak Ibu Nadine melihat ringisan diwajah Hae dan menghampirinya sementara Nadine tanpa berdosa mengembungkan pipinya duduk bersandar pada sang Ayah yang hanya tertawa melihat ulah Putrinya.

“Kalian bicarakan apa Yah? Dia tidak mau berbagi cerita padaku…?” Rengeknya pada sang Ayah.

“Pembicaraan laki – laki dan akan sulit dimengerti perempuan.” Jawab Ayah santai mengusap lengan Nadine yang mengalung manja padanya.

“Kau tidak apa – apa Nak?” Tanya Ibu Nadine khawatir pada Hae sambil menyodorkan teh hangat padanya.

“Terima Kasih Bi… Tidak apa, sudah biasa dengan pukulannya beberapa hari belakangan ini… Dia banyak berubah…” Jawab Hae yang hanya dilirik tajam oleh Nadine sementara Ibu hanya diam tertunduk mendengar ucapan Hae barusan.

“Kau benar… Dia berubah total kurasa… Semoga bisa memahaminya…” Jawab Ibu Nadine yang hanya diangguki olah Hae.

Beberapa saat kemudian,

“Kami harus kebandara. Kami naik pesawat malam ini…” Ucap Ibu.

“Kenapa cepat??? Bukankah kalian akan menghabiskan tahun baru disini? Bersamaku…” Melas Nadine.

“Kami hanya berkata untuk kemakam Nenekmu. Kalau kami berada disini lebih lama, nanti Kakekmu tau kalau kami bertemu atau mencarimu.“ Terang Sang Ibu pada Nadine yang merangkul manja Ayahnya.

“Kalau begitu beri aku hadiah tahun baru.” Ucap Nadine penuh harap.

“Hei, Kami sudah memberikannya.” Jawab Ayah Nadine.

“Apa? Dimana?” Tanya Nadine menoleh kesana-kemari mencari tahu hadiahnya itu.

“Itu…” Jawab sang Ayah sambil menunjuk pada Hae dengan sorot matanya. Nadine diam melirik pada Hae yang tertunduk malu.

“Kenapa Dia??!! Apa maksudnya?” Tanya Nadine kembali.

“Paman, Bibi… Biar kuantar kebandara…” Ucap Donghae tiba – tiba disaat Nadine masih bingung dengan kado dari orang tuanya.

“Jangan merepotkan.” Jawab Ibu Nadine sambil tersenyum.

“Kenapa harus kau yang mengantarkannya?!” Ketus Nadine.

“Setidaknya untuk mendapatkan poin plus lagi dari mertuaku…” Ujar Donghae santai yang disambut tawa oleh orangtua Nadine dan kembungan pipi Nadine.

@ Incheon Airport…

Sebelum keluar dari kendaraan, Nadine membuka dashboard lalu mengambil topi, kaca mata hitam, dan masker. Kemudian ia mendandani Hae diiringi tatapan penuh arti dari kedua orang tua Nadine.

“Maskernya tidak perlu… Jaket ini akan kunaikkan kerahnya.“ Bisik Hae dan Nadine menyimpan kembali masker itu ketempat semula.

Nadine kembali mendandani Hae dalam penyamaran dan senyum mengembang dari wajah kedua orangtua yang saling berpandangan penuh arti. Keempatnya keluar dari mobil dan Hae membuka bagasi mengeluarkan koper dengan sebelumnya memasangkan topi rajut pada Nadine.

“Untuk apa?” Tanya Nadine.

“Harus sepertiku juga kalau tidak mau wajahmu terkena lampu kamera…” Jawab Hae setengah berbisik ditelinga Nadine.

“Oh iya, aku lupa!”

Keempatnya berjalan masuk dan menemani kedua orangtua itu saat check in. Nadine masih terus menatap Hae mencoba mencari tahu apa yang dibincangkannya dengan Ayahnya. Hingga saat menjelang boarding, “Jaga baik – baik dirimu, jangan makan telat, jangan lupa kontrol dan jangan sampai lupa minum obat.” Ucap Ibu sambil mengusap wajah Nadine yang cemberut.

“Iya… Kalian benar mau kembali malam ini juga?” Tanya Nadine kembali merajuk.

“Iya, kalau tidak malam ini nanti Kakek curiga. Ini juga untuk kenyamananmu Nak…” Bujuk sang Ibu.

“Iya aku mengerti… Pergilah, tapi hadiah tahun baruku mana?” Rengek Nadine lagi.

“Itu hadiah tahun barumu… Habiskan untukmu sendiri saja, jangan dibagi dengan yang lain… Kalau dia berani berpindah kepemilikan, katakan pada Ayah.” Ucap Ayah Nadine sambil tersenyum geli.

“Kenapa harus dia? Apa istimewanya untuk dijadikan sebuah hadiah?” Tanya Nadine melirik sinis pada Hae, yang dilirik cuma tersenyum kalem.

“Tanya hatimu, Nak… Dimana istimewanya dia? Kami pergi ya…” Ucap Ibu Nadine memeluk puterinya, lalu ganti memeluk Hae. “Kutitip putriku padamu… Jangan ulangi kesalahan yang sama andai kau ingin mendapatkannya.” Lirih Ibu Nadine saat memeluk Hae dimana Nadine sedang memeluk Ayahnya.

“Aku sedang berusaha untuk itu… Semoga Kakek tidak memburunya.” Jawab Hae dengan suara pelan.

“Aku tidak yakin… Saat Kakek tau keberadaannya, apalagi tau kalau Haejin disini,   Kakek sudah pasti memburu dan akan membawanya kembali ke London. Jaga dia…” Pinta Ibu Nadine yang hanya dianggukkan oleh Hae.

“Bu! Siapa yang anak Ibu sebenarnya? Kenapa memeluknya lama sekali… Ayah, jangan – jangan Ibu menyukai laki – laki itu!” Ucap Nadine ketus.

“Ayah masih jauh lebih tampan dari kekasihmu itu…. Mana mungkin Ibumu berpaling…. Bilang saja kalau kau yang cemburu karena kekasihmu mendekap Ibumu!” Ketiganya tertawa sementara Nadine cemberut.

Nadine menatap sedih melepas kepergian orangtuanya yang hanya sesaat ditemuinya. Hae mengelus pundak Nadine menghiburnya, dimana tidak sadar gadis itu menyandarkan tubuhnya didadanya. “Masih tidak mau cerita apa yang kau bicarakan dengan Ayah?” Tanyanya tiba-tiba sambil terus memandangi siluet kedua orangtuanya yang hampir menghilang dari balik pintu bandara.

“Hanya sedikit ilmu bagaimana menaklukkanmu, dan setidaknya beliau menerima lamaranku sebagai menantunya…” Jawab Hae santai namun membuat Nadine membalikkan tubuhnya memicingkan mata kearah laki-laki itu.

“Apa kau bilang?! Melamar??!! Yak! Bagaimana… Humph!” Hae menghentikan omelan Nadine dengan mengecup bibirnya.

“Kita pulang… Sebelum orang-orang disini mengenalimu…” Bisik Hae lembut.

“Jangan setiap kali bicara selalu membungkamku dengan bibirmu…” Protes Nadine.

“Maaf, ciumanku terlalu kasar ya?” Jawab Hae tersenyum.

Cih! Susahnya bicara denganmu… Tidak kasar, tapi terlalu lembut…” Omel Nadine.

“Tapi apa???!!!” Ledek Hae mendekatkan wajahnya kewajah Nadine.

“Tidak mau dibahas!” Ucap Nadine menjauh dari Hae.

“Lihat… Ada tomat dipipimu! Aah, rupanya membuat ketagihan ya… Kalau begitu kita lanjut dirumah!” Hae merangkul pinggang Nadine dan membawanya keluar dari area bandara.

“Rumah siapa?” Tanya Nadine sedikit terseret langkahnya mengikuti langkah Hae yang menggiringnya.

“Rumahku…” Jawab Hae.

“Tapi aku mau pulang kerumahku…” Ucap Nadine.

“Ya sudah… Kalau begitu kerumahmu!” Hae percaya diri menangkap sinyal undangan Nadine kerumahnya.

“Siapa yang mengajakmu kerumahku?! Aku mau pulang!” Gerutu Nadine.

“Tapi tadi aku tidak bertanya mau kemana… Aku tadi bilang kita lanjutkan ciuman tadi dirumah dan kau bilang maunya dirumahmu Nona…” Jawab Hae berbisik ditelinga Nadine saat membawanya masuk kedalam mobil.

“Tapi… Tunggu dulu! Ini pemaksaan!!! Aku mau pulang!” Teriak Nadine menatap Hae yang sudah duduk dibelakang kemudi.

“Kuantar Tuan Putri…” Jawab Hae tersenyum puas.

“Aaah! Kenapa jadi aku yang kalah??!! Pulang kerumahmu jangan kerumahku!” Ketus Nadine sambil menatap tajam pada Hae.

“Aku turuti kemanapun kau minta Nona Lee…” Seloroh Hae santai dengan senyum diwajahnya.

“Menyebalkan! Kenapa aku selalu terjebak dengan bualannya…” Gerutu Nadine menatap keluar jendela dimana Seoul sudah berhias gemerlap lampu dalam kemeriahan tahun baru.

Kediaman Donghae,

Donghae POV,

“Mau dibuatkan apa?” Tawarku saat kami sudah tiba dirumah dan ia membuka coat juga syalnya.

“Tak usah! Aku mengantuk…“ Jawabnya menaiki tangga menuju kamarku.

Saat aku sedang menghabiskan air mineralku, ia berlari cepat menuruni anak tangga. “Donghae-ssi!” Ucapnya dengan nafas tersengal dan merebut gelas ditanganku langsung menghabisi isinya.

“Donghae-ssi!” Ia masih tersengal dan melebarkan matanya.

“Ya?” Jawabku dengan melebarkan mata pula dan mendekatkan wajah kepadanya.

“Jangan melebarkan mata seperti itu!” Protesnya berwajah sedikit seram.

“Baiklah… Seperti ini bagaimana?” Kupasang wajah aegyo dan itu membuatnya tersipu. Ada ranum semu dipipinya namun berusaha disembunyikan dariku.

“Jangan seperti itu juga…!!!” Ia mengomel dan aku tersenyum senang dengan kekalahannya.

“Disana… Dikamarmu…” Ucap Nadine terbata-bata.

“Kamarku kenapa?”

“Aku belum selesai bicara! Jangan memotong terus…” Komplain Nadine. Diam, aku hanya diam menatapnya menunggu ucapannya.

“Tapi kau juga tidak diam dan menatapku seperti itu juga!” Protesnya lagi. Tawaku lepas saat ia bicara dengan wajah memerah, walau bingung harus bersikap apa, tapi aku amat menyukai wajahnya seperti ini dan aku amat merindukannya.

“Semua salah, lalu aku harus bagaimana…? Ya sudah, langsung bicara saja, ada apa dengan kamarku?” Tanyaku menahan tawa melihat wajahnya yang merah padam tadi langsung berubah menjadi judes menyeramkan.

“Dikamar itu ada satu tempat tidur…” Ucapnya kini berwajah serius dan pipi gembulnya itu membuatku ingin mencubitinya.

“Ukuran tempat tidur itu apa?” Tanyaku juga bernada serius kini duduk dikursi makan menatapnya yang berdiri dihadapanku.

“King size…“ sahutnya polos.

“Kira-kira… Ukuran king size muat untuk berapa orang?” Tanyaku santai.

“4 orang dewasa sepertinya muat…” pikirnya. “Tunggu dulu! Kenapa seolah kau sedang berdagang tempat tidur? Bukan itu maksudku!” Komplainnya menyadari jebakan pertanyaanku.

“Lalu???” sahutku penuh penekanan. “Kalau ukuran king size dan dapat menampung empat orang dewasa, jadi?” Ucapku kembali saat ia akan bersuara dengan membuka mulutnya, namun karena kudahului ia hanya menarik nafas.

“Mmaksudmu…? Tunggu dulu jangan bilang kita…” Ia ragu dan tergagap menjawab pertanyaanku, tanganku meraih tangannya yang terasa kaku dan sedikit terkejut. Ia makin menatapku aneh manakala aku berdiri mendekatinya. Mengusap rambutnya, mencium keningnya dan meletakkan tangannya didadaku.

“Kita tidur bersama… Sebentar lagi tahun baru, kita buat sesuatu yang baru diawal tahun nanti… Bukankah aku hadiah tahun barumu? Jadi lakukanlah sepuas dan semaumu…” Bisikku ditelinganya dengan sedikit memberi hembusan lalu membasahi telinga itu. Kurasakan tangan kiriku yang mendekap pipinya kini menjadi tempat sandaran wajahnya yang menikmati sentuhan pada daun telinga itu. Ada desah halus keluar dari mulutnya saat aku mencium dan membasahi area telinganya, tahangannya mulai bergerak kadang melekat didada kadang menjauh kadang meraba. “Ingin dilanjutkan…?” Bisikku mengangkat dagunya mengecup ujung hidungnya.

Dia tidak mengucap hanya menutup matanya yang kemudian kuraih pinggangnya, lalu mendudukkannya diatas meja makan. Aku duduki kursi makan tepat dihadapannya dan membelah kedua pahanya agar aku semakin dekat dengannya dan memeluk pinggangnya lalu menatapnya yang tertunduk menatapku karena posisinya sekarang.

“Tidak ada Hong Ajumma yang akan berteriak marah karena aku menggodamu atau siapapun… Hanya kita berdua. Dan ini libur tahun baru… Apa ingin berbuat sesuatu? Untuk kita, hanya untuk kita… Kita berdua…” Kumainkan ujung rambutnya yang menjuntai sambil menatap bola mata coklat dengan tumpukan kerut dikening mencoba mencerna ucapanku.

“Jadi… Aku harus menginap?” Tanyanya mendelikkan mata membentuk wajah serius dengan penekanan suara.

“Yaaaaa, tidak harus sih… Kalau ada acara juga tidak apa, kita merayakan masing – masing ditempat berbeda… Hanya saja, kau menyia-nyiakan hadiah tahun barumu.” Dengusku bersandar pada kursi melepaskan semua kontak tubuh kami dengan memasang wajah duka sedalam – dalamnya.

“Sebenarnya berharap apa dari keberadaanku? Apa yang kau mau untuk liburan ini…?” Tanyanya melipat kakinya bergaya ala model erotis nan menggoda.

Sedikit senyum dan basahan bibir dengan lidahku kemudian mendekatinya lalu kembali melepaskan lipatan kaki itu, “Aku mau dirimu…” Bisikku sedikit menyentuh kulit mulus yang terlihat karena penutup itu terangkat. Dan kembali membuka pahanya menarik simpul pita pada dressnya lalu menarik hingga membuatnya tertunduk dan targetku kini didepan mata hingga tidak kusiakan untuk menjemputnya agar bertaut pada bibirku.

“Lalu aku harus tidur diatas sana…“ Bisiknya melepas ciuman ini.

King size pasti muat untuk kita bermain disana…” Jawabku mengadu kening padanya.

“Sepertinya malam ini aku tidak akan tidur nyenyak…” Ucapnya tersenyum dan kembali kujamah bibirnya. Ia memiringkan kepala dan jari-jarinya menyelipkan rambutnya pada daun telinga agar tidak menghalangi lumatan ini. Tangannya mengalung manja dileherku dan makin memperlancar pertukaran saliva juga desakan lidahku dalam rongga mulutnya. Momen sempurna dari semua tujuanku atas dirinya. Tidak ikhlas melepaskan tautan ini namun aku juga tidak ingin membuatnya lelah karena terus menunduk, aku berdiri dengan terus menciumnya. Tautan kami bukan hanya bibir kini tangankupun erat digenggamnya hingga kulepaskan genggaman itu dan merangkul pinggangnya kemudian membiarkannya terbaring diatas meja makan.

“Haruskah ‘menyatapku’ disini…?” Lirihnya ketika tubuhku terbaring diatasnya dan bagian bawah dressnya terangkat sempurna karena tubuhku membelah pahanya.

“Apa… Ingin naik keatas sana…?” Bisikku menikmati desahnya ketika bibir ini mulai menjarah telinga, leher, dan ruang terbuka dadanya karena ulahku juga tentunya.

Tangannya mengalung dileherku dan kakinya melingkar dipinggangku saat aku menggendongnya dan membawanya ke kamar. Rambutnya terserak saat kurebahkan diatas tempat tidur, ia menarik kakinya keatas tempat tidur lalu duduk diatas pangkuanku.

Author POV,

“Haruskah kita melakukan ini?” bisik Nadine saat merasakan sesuatu yang mengeras dibalik celana Donghae. Setidaknya ia ingin tersenyum karena reaksi itu begitu cepat atau memang sudah diinginkan saat pulang dari bandara tadi.

“Tapi ini sudah terbuka dan kita sudah memulainya, walau diri kita menolak tapi koneksi saraf kita menginginkannya… Aku merasakan itu, tidakkah kau merasakannya?” jawab Donghae dimana juga merasakan himpitan mengencang dari dada juga reaksi tubuh Nadine akan setiap sentuhannya.

“Aku merasakannya, dan aku juga merasakan perubahan didiriku… Tapi haruskah kita berbuat ini…?” Ucap Nadine ragu walau bibirnya berkeinginan untuk menghentikan semua itu namun pikiran dan bahasa tubuhnya mengatakan untuk melanjutkan sampai batas kelelahan mereka.

“Aku tidak ingin munafik untuk mengatakan tidak…” Donghae berucap sambil mengusapkan tangannya dipunggung Nadine lalu melepaskan pengait disana dan Nadine merasakan penutup dadanya mengendur sejurus kemudian entah sudah tidak diketahui keberadaannya.

“Begitu juga aku…” jawab Nadine merengkuh rahang yang bergerak membuka mulut untuk menghapus dahaganya pada dadanya, namun terhalang karena Nadine sudah menutup bibir Donghae dengan bibirnya.

“Bila kau tidak menginginkannya baiknya kita hentikan…” Lirih Donghae melepaskan ciumannya namun tangannya makin liar menikmati ‘mainan’ baru dihadapannya.

“Apa kau rela menghentikan semua ini…?” Jari Nadine bergerak menyusuri wajah Donghae.

“Tidak, aku tidak rela…” Jawab Donghae pasti dan melepaskan seluruh lapisan yang menutupi tubuh mereka.

^o^

“Happy New Year…” bisik Donghae mencium kening Nadine saat melihat tubuh itu menggeliat dalam pelukannya.

“Matahari pertama dihari pertama ditahun yang baru… Selamat pagi…” ucap Nadine mengecup tangan Donghae. “Entah kenapa ada perasaan kalau… Kita pernah melakukan hal ini, dan itu rasanya aneh…” Cerita Nadine membuat guratan didada Donghae sementara reaksi wajah laki – laki itu sedikit terkejut.

“Lupakan perasaan dan pikiran itu sekarang hanya cukup menikmatinya. Aku lapar…”

“Kita buat sarapan… tapi… Pakaianku???” Jawab Nadine bingung untuk bangun.

“Pakai kaosku! Ayo turun…” Ucap Donghae berdiri setelah menarik celana tidur yang tergeletak sembarang disisi tempat tidurnya.

***

12 Februari

Nadine POV

Setelah kejadian tahun baru itu, dia kembali sibuk dengan syutingnya dan aku bergelut dengan pekerjaanku juga beberapa rancanganku yang mulai dilirik beberapa kolega dari Tuan Hong. Komunikasi kami hanya melalui ponsel, tetap dia aktif dengan bualannya atau sejuta pernyataan rindu yang kadang membuatku terbuai.

“Kau akan diajak kemana saat valentine nanti dengan bajingan itu?” Tanya Tuan Hong saat kami makan siang bersama.

“Dia masih syuting, mungkin aku akan dirumah saja…”

“Dia benar – benar syuting?! Apa kau pernah melihat saat dia syuting atau datang ke lokasinya?”

Aku tidak pernah berfikir tentang itu, tapi ide bagus dan kejutan menyenangkan pastinya saat aku tiba – tiba datang ke lokasi syutingnya.

“Hai, Gadis Eropa, Apa yang kau pikirkan?!”

“Tidak ada…“

“Pergilah menyusulnya… Atau kau tanya pada manajernya kini dia ada dimana?? Aaah, atau buat kejutan dimana tiba – tiba kau datang saat dia syuting… Sebentar kuhubungi manajer mempesona itu untuk tahu dimana mereka…” Tuan Hong begitu bersemangat membuat kencan kejutan kami. Terima kasih, dibalik sikap keras dan kasarnya dia terlalu baik ternyata.

Aku berpamitan sesaat dia menunggu jawaban telepon untuk ke rest room, saat selesai lalu kembali ke mejanya dia baru saja menutup ponselnya.

“Dia ada di Mokpo! Mereka ada pengambilan gambar disana… Pergilah malam ini, aku akan tutup kantor hingga seminggu ini… Aku butuh istirahat begitu juga dirimu. Berangkatlah!!!” Ucapnya semangat dan aku bingung dengan situasi ini.

Laki – laki ini tidak mengijinkanku bicara hanya menyuruhku segera bertindak mempersiapkan segalanya malam ini. Ia pun mengantarku hingga depan lobby apartemenku. Mengapa jadi dia yang bersemangat?

Mokpo, Dini Hari…

Perjalanan panjang yang cukup melelahkan hingga kutemui lokasi tempatnya syuting. Dan aku menginap dihotel yang sama tanpa sepengetahuannya. Selidikku akan keberadaannya pada seorang room boy berbuah manis, kamarnya tepat disebelahku. Jodoh memang tidak kemana~

“Aish! Gila, mengapa aku menganggapnya jodohku?” Aku pukul keningku sendiri sambil menggerutu panjang.

“Donghae-a, persiapkan diri untuk adegan itu…”

Suara bariton dikamarnya terdengar jelas. Adegan itu, adegan apa? Apa bed scene? Kissing? Tunggu dulu! Kenapa aku mengkhawatirkan semua adegan itu? Kami hanya sepasang kekasih sementara…

Tengah hari…

Lelahku karena perjalanan malam membuatku lelap tidur hingga kesiangan dan mereka, para kru juga dirinya sudah menghilang dari hotel ini dan berada dilokasi syuting. Langkahku santai mendekati lokasi itu dan hanya menatapnya dari kejauhan. Teriakan CUT sang sutradara membuatku yakin kalau mereka masuk istirahat untuk makan siang sementara aku sudah duduk disebuah kedai yang jaraknya begitu dekat dengan gerombolan kru itu. Kusesap dalam kopi krim juga satu tangkup sandwich. Baiklah, harusnya ini menu sarapan pagi tapi kuubah jadi menu makan siangku.

“Boleh ditemani Nona? Kulihat kursi ini begitu kosong dan tanpa penghuni, jadi aku bisa menikmati sarapan pagiku bersamamu bukan?” Aku mendongak menatap pemilik suara itu, dimana aku sedang membuka mulut untuk melahap makananku.

Donghae POV,

CUUUT!

“Komawo…” Ucapku pada lawan main juga kameraman.

Akhirnya hari ini selesai sudah untuk pengambilan gambar dan waktunya beristirahat. Langkahku cepat untuk beristirahat dan menenggak minuman dingin, tapi…

“Haejin? Dia…” Sentakku pelan dalam terkesiapanku saat melihatnya duduk manis disebuah kedai. Aku menghela nafas sesaat lalu berjalan mengambil sekaleng soft drink dingin dengan diiringi tatapan berarti dari manajerku.

“Ini kejutan yang kau bilang kemarin?! Komawo Hyung…” Bisikku padanya dan dia hanya menggeleng.

Dia begitu asyik menikmati hidangan dihadapannya, dan itu… Harusnya menu sarapan pagi, masih sama seperti dulu membiarkan perut kosong tanpa sarapan. Saat aku berdiri dihadapannyapun dia tidak menyadari.

“Boleh ditemani Nona? Kulihat kursi ini begitu kosong dan tanpa penghuni, jadi aku bisa menikmati sarapan pagiku bersamamu bukan?” Dia menatapaku perlahan dari ujung kakiku hingga matanya bertemu denganku. Dan wajahnya dengan mulut terbuka siap menerkam sandwich itu, begitu menggemaskan.

“Jangan menggodaku… Aku bangun kesiangan hingga kehilangan menu sarapan pagi hotel!”

“Aku tidak dipersilahkan duduk?”

“Terserah… Mau duduk atau terus berdiri, aku repot dengan SARAPAN PAGIKU!” jawabnya terdengar kesal dengan sarapan pagi itu. Aku duduk dan menikmati wajahnya yang begitu lahap dengan sarapan paginya.

“Ada apa hingga datang kemari? Apa merindukanku?” Tanyaku dan…

UHUK UHUK! YAK, LEE DONGHAE! Kau ingin aku mati tersedak???!!!” runtuknya dan tanpa dosa aku malah mengusap mulutnya dengan ibu jariku sedang matanya melirik panik kekiri dan kekanan, takut ada yang melihat kondisi ini. Aku tidak peduli.

“Kkenapa kau lakukan ini…? Bbagaimana bila ada yang melihat…?” Ucapnya gugup dan menjauh dari sentuhan tanganku.

“Mereka tau kalau dirimu adalah kekasihku, bukankah kita sudah memberitahukan hal ini dan kita resmikan saat tahun baru kemarin? Eem, atau valentine besok kita buat yang lebih… Aaaw!” ringisku. “Itu menyakitkan tau! Bagaimana kalau akan meninggalkan bekas pada kulitku, apa kau lupa kalau aku seorang artis?” Kuusap lenganku yang dicubitnya keras. Ini senjata andalannya bila aku sudah… Aku merindukan masa itu.

“Hei Lee Donghae. Maaf, hari ini aku ingin ambil satu adegan lagi untukmu… Adegan itu, kupikir matahari senja disini mewakili kesan romantis… Bisa kan?” Sutradara ini tiba – tiba merusak suasana dengan datang membahas adegan ciuman. Bagaimana dia melhatnya nanti???!!!

“Adegan itu? Adegan apa?” Tanyanya penasaran lalu matanya tertuju pada naska yang ditinggalkan sutradara tadi. Dia membacanya dan air mukanya berubah. Dia bersandar diam pada kursinya dan menyesap cepat kopi namun tidak menghabiskan makanannya.

“Ini hanya adegan… Untuk keperluan syuting, tidak cemburu kan?” Tanyaku hati – hati agar tidak mengulangi kesalahan.

“Tidak apa…. Kita hanya sementara, untuk apa aku cemburu….!”Tegasnya namun kudapati kandungan emosi.

Aku menghela nafas, menatap tegas wajahnya. Dia melirik dan mencoba tersenyum namun begitu hambar kurasa.

“Donghae-a… Ayo kita mulai!!!” Teriak sutradara dan tatapan manajer hyung seperti mencari tahu ada apa dengan kami.

“Aku tinggal dulu sebentar, jangan kemana – mana… Aah, dimana kau menginap?”

“Disebelah kamarmu.”

“Mwo?! Jadi semalam kau… Baiklah, tunggu disini atau kuminta manajer hyung menemanimu.”

“Eh?? Tidak usah, biar aku kembali ke hotel!!” Serunya dan aku menatapnya tajam.

Nadine POV

“Eh??Tidak usah, biar aku kembali ke hotel!!” Entah dibilang munafik karena tidak mengakui kalau aku akan risih melihat pemandangan adegan itu, terserah. Tapi, matanya…

“Kau datang kemari untuk melihatku kan? Lalu kenapa harus menghindar dan kembali ke hotel? Bila tidak ingin melihat adegan itu, masuklah kedalam kedai dan Hyung akan menemanimu… Aku akan melakukan sekali pengambilan gambar agar kau tidak risih melihatnya. Bagaimana?” Begitu dalam dan penuh percaya diri dia mengatakan dan menyuruhku.

“Kenapa memerintahku…? Aku datang kemari untuk melihatmu atau tertidur sehari penuh dihotelpun juga terserah padaku!!!” Aku berlalu darinya dan aku merasakan cengkraman kasar yang menarikku hingga kearah belakang kedai.

“Tunggu disini! Jangan melihat yang tidak perlu kau lihat, aku usahakan untuk sekali saja pengambilan gambar… Tolong tunggu disini! Setelah ini aku akan membawamu kemanapun untuk kita merayakan hari kasih sayang, jadi tunggu disini dan jangan pergi!!!” Pandangannya begitu lekat dengan sorot harap agar aku mengabulkan permintaannya.

Belum lagi kubantah, tiba – tiba ada sentuhan dalam begitu intens dan melembut yang membuatku memejamkan mata. Aku merasa ini adalah untuk kesekian kalinya ia menciumku, bahkan terlalu sering. Perasaan dan pemikiranku tentang setiap sentuhannya baik malam itu atau ciuman ini terasa aneh. Aku seringkali melakukannya tapi entah dimana dan kapan, apakah dengan dia atau laki – laki lain, juga mengapa aku merasa seperti itu, aku tidak tahu. Yang pasti ini jauh lebih lama dari status sementara kami.

Gerakan kepala berlawan arah membuat desakan lebih dalam dan tautan yang enggan terlepas. Namun perasaan dalam diriku makin menggila dan makin yakin aku pernah merasakan sesapan ini. Kini ragu datang, apa dia juga melakukan hal yang sama pada gadis lain seperti ini? Dan aku, dengan laki – laki mana aku melakukannya, makin kuat hisapan, makin dalam dorongan lidahnya, makin terdengar lenguhku, aku makin ingin mencari siapa yang pernah melakukan ciuman seperti ini padaku dulu.

Aku mendorongnya kuat kala sesak dan rasa sulit bernafas menyadarkanku kalau aku masih harus mengisi oksigen untuk paru – paruku.

“Janji tunggu aku dan tidak pergi… Aku akan melakukannya cepat dan hanya sekali, kalaupun setelah ini… Bibirku tersentuh oleh lawan mainku, setidaknya aku masih merasakan lembut bibirmu juga saliva yang menempel dibibirku…” Bisiknya lalu meninggalkanku yang diam tidak menjawab apapun dari ucapan bahkan perbuatannya.

Aku melangkah masuk kedalam kedai, memesan coke dan saat mencari tempat duduk, manajernya melambaikan tangan padaku. Benar menurut sesuai perintahnya.

“Aku sudah duga saat Tuan Hong menghubungiku, aku yakin dia ingin menyuruhmu kemari… Mengapa tidak mengatakan padaku? Aku bisa memesankan hotel juga aku bisa menjemputmu…” Ucapnya panjang, sementara aku hanya nyengir dan mengalihkan pandangan keluar kaca dimana para kru dan juga dia sudah bersiap.

“Aku menginap dihotel tempat kalian menginap juga…” Jawabku singkat dan dia terkejut.

“Jodoh memang tidak kemana…” Desisnya pelan namun aku sedikt menangkap ucapannya walau tidak jelas.

“Ajussi… Kau bicara apa?”

“Yak! Masih saja memanggilku Ajussi…” Omelnya namun aku segera membuang muka dan menatap kesibukan diluar sana.

Dia berbincang akrab dengan seorang wanita dan kuduga itu lead aktris. Ia juga menepis tangan penata riasnya saat akan memoles lipbalm dibibirnya. Inikah rencanamu Lee Donghae…?

Kini mereka berdua sudah siap dan cameraman pun sudah berada tidak jauh dari mereka. Kenapa dadaku sesak dan degup jantungku tidak beraturan? Kenapa ada perasaan yang tidak enak menjalar keseluruh tubuhku seakan ada hujaman yang akan menusukku? Ada apa ini?

Tapi mengapa padanganku kini terhalang, x banner. Sejak kapan ada disana, tadi begitu jelas aku bisa melihat mereka kenapa sekarang tiba – tiba ada x banner?

“Kau mau kupesankan pasta…?” Suara itu tiba – tiba membuyarkan pikiranku yang mempertanyakan keberadaan banner itu.

“Heh, aniyo, komawo Ajussi.”

“Haaa, Ajussi lagi!!!”

Malam hari…..

Donghae POV,

“Kau jadi pergi dengannya?”

“Ne Hyung… Dia sudah jauh – jauh kemarin, jadi biar kubawa dia jalan – jalan ke kota kelahiranku…”

“Oh, Hyung…. Terima kasih untuk tadi siang.” Ucapku kembali sambil mengaitkan kemeja.

“Untuk apa…? Oh, X Banner itu! Aku hanya merayu manajer toko itu saja.”

“Aku pergi dulu Hyung, kau tidur duluan aja…“

“Donghae-a… Apa kau akan membawanya ke rumahmu? Bertemu dengan ibu juga nenekmu?”

Aku diam tertunduk memainkan jam tangan yang akan kupasang. Apa aku siap membawanya kerumah? Apa Nenek juga Ibu tidak akan mempertanyakan kedatangannya dan kebersamaan kami?

Aku tidak yakin akan keberanian juga kesiapanku membawanya kehadapan kedua orang yang kucintai. Apa reaksi mereka nanti? Bagaimana kalau dia mendengar sesuatu atas pembicaraan juga ucapan Nenek dan Ibuku?

“Aku pergi dulu Hyung!!!” Pamitku keluar kamar sambil memesang jam tangan dan menyambar kunci mobil. Desahku berat bersandar didepan pintu kamarku sebelum kualihkan langkah kedepan kamarnya.

Haejin-a, apa kau harus kubawa bertemu pada Ibu juga Nenek?

TeBeCe

48 thoughts on “My Soul In Seoul ~Chapter 5~

  1. emangnya Haejin sakit apa??
    Waaahh~ jgn2 Haejin pernah ngelakuin ‘itu’ sama Taecyoon..tapi jangan deh..
    Uda dari lama ff ini aku tungguin, akhirnya muncul juga

  2. Finallyyyyyyyyy *tebar kolor unyuk*
    Huhahuhe.. ƪ(ˇ⌣ˇ)┐ƪ(ˇ⌣ˇ)ʃ‎​┌(ˇ⌣ˇ)ʃ‎​

    Yaaahh, kok langsung pagi sih itu xD
    Wkwkwkwk

    Ciee bgt hadiah taun barunya nadine wkwkwk..
    Emg nih hae payah ya, kiss teruus..
    Gimana gak asfdsakl nadine nya xD

    Udahlah cepet kalian nikah ckckck
    Jgan ampe ntar beneran cuma sementara ._.

    Harus hae!! Harus!! Ayo kenalin ke ibu ama neneknya..
    ><

  3. Ah.. Kenapa si abang harus mikir ditemuin sm keluarganya apa nggak. Udh lah itu jawabannya harus.
    Cie haejin onnie cemburu ni ye

  4. semoga yg ini masuk..
    huh..

    ud nungguin bgd epheph ini, eh akhrx nongol jg..

    donghae co cweet bgd dech kta2 n sikapx..
    aplagi pas godain haejin..
    unyu2 bgd..
    haejin sakit ap ce?
    kok dy kyk org linglung gtu..
    brasa g inget dy pnh ciuman dllx ma donghae..
    ad ap?

    lnjutanx dtnggu y onnie..

  5. Haah akhirnya setelah sekian lama aku nunggu ini ff, akhirnya publish juga. Nadine nya sakit apaan deh? Terus kenapa donghae ragu mempertemukan haejin sm nenek dan ibunya?? Aihh penasaraaan bangeeet! Chapter depan publishnya jgn lama2 dong author heheh *diinjek*

  6. They do it. Aku abis baca komik Love & Secret yang kebetulan ada adegan ‘itu’nya juga dan cowoknya bener-bener cool kayak Donghae. Hari ini bahagia sekali ~ lalalalala.

    Kenapa ? Kenapa Donghae ragu membawa Haejin menemui ibunya ? Ada sesuatukah ??

  7. Eaaaa udah mulai intim*lompat2*😄
    Bannernya pinter ngalangin pandangan nadine:D
    Ajak ajaaa nadine ke rumahnya hae. Biar samaaa muehehe
    Aku tunggu next partnya onnie ^^

  8. akhirnya publish jg,,,
    uwoooooooowwww,,,jinhae melakukan ‘itu’ d mlm taun baru??pasti romantis bgt tuh,,,
    eh itu kissing d kedai,,banyak yg liat dong,,,?
    Sii haejin sakit apa sii???
    Moga ja nenek n ibunya donghae ngrestuin mreka… Amen

  9. eh,Haejin sakit apaan??yg dimaksud Haejin dia pernah merasakan seperti itu sebelumnya sama siapa?Donghae?atau Taecyeon?uuuhh….bingung,explain it soon please…
    seneng deh pas tau My Soul in Soul update lagi,,berasa lamaaaa banget nunggunya…makasih ya unn..

  10. Akhirnya publish juga. Kenapa Hae ragu buat nemuin Haejin sama ibu & neneknya??
    Next part jangan kelamaan eon hehe ._.

  11. mank haejin sakit apaan???
    weleeehh hadiahnya hot… hahahahahaha….
    btw mank ibu ma nenek hae ngmong apaan??
    ahh banyak tanya!!!!!
    ayo lanjuuuuuuutttttt!!!!!!!!

  12. huaaa,,,,finally publish jg nie epep,,,!!!
    senengxxx,,,,,,,^^

    itu itu,,,Haejin np,,,sakit apa?
    alzheimer,,,,???
    oh no,,,,!!!(penarasan,,,!!!)

    dtnggu klanjutanx yah thor,,,klo bs jngan lm ky’ kmrn,,!!!*bow
    gomawo,,,^^

  13. jiahhh akhirnya hae berhasil jg naklukin haejin..
    huwa ngakak lg serius2nya malah ada kta2 ‘haruskah menyanapku disini?’ wkwkwk
    berasa makanan dah, mentang2 lg di dapur…
    wah pada ketularan yewook nih demennya main di dapur #plakkkk

    yak ampun moga aja gk buru2 ketauan kakeknya nadine dah….
    hehe
    manja ya ternyata nadine sm ortunya padahal keliatannya dingin gtu hehe

  14. uwo nongol juga kekeke eiyaaa haejin donghae nakal ya ? yah jebol deh tu haejin. dan emm haejin sakit apa dah ? donghae knpa ragu mempertemukan haejin dgn umma dan neneknyo ? ada sesuatu kah ?

  15. Jinhae skinship. .ciri khas jinhae couple. .makin suka ma ni couple, ,udh hae,bw haejin ktmu ibu ma ne”kmu z, biar bsa cpt nkah#plakk

  16. hmm..daebak!
    Mkin bkin penasaran gmana lanjutan.a?
    Kya.a d0nghae pernah da di masa lalu haejin? Apa mreka mg pernah da hubungan? Knpa ragu2 dibwa ke rumah?
    Akhh, bkin penasaran stadium akut..hahaB-)
    Next part.a cpet publish y..
    Hwaiting chingu..!

  17. akhirnya~ bisa komen juga..u,u
    itu, itu, inget yg di saipan sayanya.. kkk
    emang haejin dsini sakit apa..?o,o””
    ditunggu aja lg kisah2 brikutnyaa..:DD gidarilkke~~:*

  18. penasaraaaan. .
    Haejin sakit apa?
    Hae juga bingung knapa tuh?
    Yg slalu bikin asyik ff ini karena ada prince manager nyelip. . Hehe

  19. Akhirnya datang juga….
    Aaaaaa…..kejadian juga ‘itu’nya, cie….:)
    ada apa sama masa lalu haejin? Kok haejin nggak ingat?
    Ayo hae, kenalin haejin sama keluarganya, kok ragu gitu?
    Emang kenapa? Haejin kan udah ngenalin sama orangtuanya🙂
    next part jgn lama-lama ya on🙂

  20. akhirnya muncul jg lanjutannya..

    Jd penasaran si haejin sebenarnya pny penyakit apa?/
    lupa ingatan ya?? trus keq na dl mereka uda saling kenal jg ya?
    waaahhhh,, mereka akhirnya ngelakuin yg itu jg.. wkwkwkkw…
    pdhl stat na kekasih smentara, tp mau ja ngelakuin itu yaa.. emank kalo uda nafsuan susah dilarang.. hahahha..

    lha?? itu knp pl hae ragu mau kenalin haejin ama keluarganya??
    jd bingung nih ma hubungan mereka yg sebnrnya..
    ditunggu next part na ya.. ^^

  21. Disini Haejinnya sakit ya? :O tapi sakit apaa?
    Truss yg tadi pas kissing sama Hae, Dia kayak ngerasa pernah ngerasain yg gtuh… Tp dia lupa?
    Ahhh… Jd penasaran kan aku😄
    Okedeh, Ntar lanjutannya kutunggu bgt eotte?

  22. akhirnya..akhirnya.. datang juga ni ff….hahahaha
    haejin sakit apa eon???
    tambah seru ni ceritanya…
    kok hae ragu2 bawa haejin ktmu ama nenek&ibunya???
    wahhhhhhhh,,,,
    wajib ditungguin ni lnjutannya…
    daebak dah🙂

  23. kakek oh kakek… Biarin kek haejin ma donghae.. Kn gx semua org korea kyk gt… #ditabok kakek.
    Kyknya jinhae emg udah knl sblmnya. N’ penyakit haejin ada hubnya knp dia bias lupa.. Sotoy banget.. Hahahaha
    Saya suka jinhae yg kyk gini. Suka hae yg jahil, suka haejin yg suka marah”, suka hae yg romantis…. Suka smw dha..
    Lanjutttt..

  24. waaaaa bacanya tahan napas #plakk deg.degan sumpah #lebai tapi aseli menegangkan bgt .
    aaaa skinship memang slalu ok untuk hajin dan donghae hahahaha
    lanjut eonn MY SOUL IN SEOUL ~CHAPTER 6~ hhihihi*
    pengen baca yg lebih menegangkan hahaha #pisss
    fighting eonn🙂

  25. ini ff yg kutunggu kelanjutan’y…

    spt’y da ‘misteri’ yg dsembunyiin hae..
    jgn2 da hub’y ma penyakit haejin..

    syg sekali lgsung pagi, pdhl aku nunggu bed scene’y.. haha

    d’tunggu sepak terjang kakek haejin..
    smg hae cpt ngenalin haejin ma ibu n nenek’y..😀

  26. Emang udah karater stiap author deh keknya yah buang tebece sembarangan -_-
    Eeeeeeeerrrrrrrrr

    Itu ngapain diatas meja enyaaaaaaakkk??? Knpa didapur sih?? Knpa ga dibathup ajah?? Akakakakaa
    Kenapa ga dijabarin juga,,,, aaaaahhhhhh
    Ga okeh nih,, *otak gw dah liar ngebayangin jinhae NC
    Eeeeeeeeeeeeerrrrrr

    Eh kok ngerasa beda yah si haejin dsni jd childish gtu nyak, yg kolokan sama org tuanya trus so’ polos gtu sama si ikan,, tp demen gw soalnya disni si haejin yg digoda abis2an sama donge,, laki2 itu yeee bener2 deh bkin nyut2an,,,

  27. Sempet lupa sama critanya.. Tapi mulai inget ditengah”…
    Btw knp udah pagi aja itu??? “̮♡hϱϱ♡hϱϱ♡hϱϱ♡”̮
    Hadiahnya SESUATU bgt yah Nadine…🙂

    ‘Laki-laki’ yg slalu muncul d benak Nadine siapa?
    Nadine sakit apa ya? Jadi agak bingung bacanya krna udah agak lupa😀 hehehe part sblumnya udh ada clue blm sih ttg 2 hal inu? Hehehe

    Yah pkoknya ditunggu klanjutannya aja eonni, n itu c Hae knp ragu buat ngenalin Nadine ke eomma-halmeoni nya ya?

    Smangat buat bikin lanjutannya eonni… \(´▽`)/

  28. hasik part 5….hehehee…
    uwooowww…JinHae udh bed scene… xDDD
    Gak sabar nunggu kakek.nya si Haejin dateng…pasti tmbah rame…bnyk konflik.
    Liburan b2 di mokpo?? Ada bed scene Lgi dunk…hahaha..

  29. jiahaha~ ortunya haejin asoy bnr blg hae hadiah thn barunya, seandainya saya itu haejin *ngarep* >.< btw, haejin sakit apaan sih? jd penasaran deh~~ jgn2 di part kmrn ada cluenya tp udah lupa, kynya hrs baca lg -________-" aah ditunggu next partnya hehe

  30. lama tidak d’post saya jadi lupa ceritana hehe ^^v
    Lanjut ya eon, btw sii nadine alzaimer apa kebayang sama taecyeon tuh?? Beuh kasian ikan terlupakan (?)

  31. Nah looo.. Si nadine sakit apaan?? Dy nii kae amnesia ya? Soal’y dy kae ud pernah ngerasain bbrp momen ama hae gitu *sotoy* #plakk

    aww aww aww saia malah mupeng kalo kado taun baru’y cowok model donghae. Mau jg doong dikadoin ukkie ><

    kakek, elah si kakek masi chachyu ajja.. Biar aja napa itu si nadine.. Ntar klo dy ngenalin donghae, restuin aja.. *kedipin kakeknya*

    nahh! Ababil dahh nii si ikan oppa.. Timbang ngenalin doang pake mikir.. ==" udh bawa aja lgsg ke mommy mertua #plakk

    btw, ini PM kesian bat ya? Wkwkwk critanya disini tuh dy jg masi melajang gitu? Artis melajang mahh its oke.. Lahh nii manajer masa ikutan ngelajang.. Sini, sini, ahjussi. Saia jg mau ama ahjussi #plakplakplak

    ps. Andai X banner'y bole dpinjem tiap minggu. Saia tutupin mata nisya onn spy ga ngeliat 'acara rumah tangga' pake X banner #plakk😄

  32. Tunggu! Ini ngapa jd pd maenan di dapur?? Hati2 panci bergelontangan!! Wkwkwkwk

    ps. Knp musti lgsg pagi?? Knp ga dijabarin? Knp g dijelasin abis dr dapur, pindah ke king size ngapain? Kenapa ga… *dibekep* *yadong: on*

  33. SUMPAH!! Aku udah nunggu cerita ini berabad-abad!!! akhirnya muncul juga
    gomawo authorrr :*

    akhirnya terpuaskan (?) juga ….

  34. kurang panjaaaannnngggggggg *bawa k mak erot
    akakakakkkk
    haejin appa mw hadiah tahun baru nya.. *sodorin tangan

    ini dr part sebelumx haejin sll nyebut ‘dulu’.. mksdx apa??
    trus knp hae bimbang ngajak haejin k rmhx?? klo ngedenger apa mksdx?? ngedenger apaan??
    nyakkkk buruan lanjutanx.. udh kebelet niy.. #plakk
    haahaaa ^o^

  35. makin bingung sm penyakitnya haejin..wkwkwk.
    Hilang ingatan atau punya kerusakan otak atau.. Ah entahlah,jd bingung sendiri..kkkk~

    dan err..hadiah malam tahun barunya.. *merona*😄

  36. akhirnyaaa.. setelah sekian lama ga baca ff..
    dan udah lama banget pengen baca ni ff, aku kesampean juga bca ni ff…

    keren dah kata2nya, perangkaian sama penggunaannya daebak.. aveeka onnie kenapa ga bikin novel aja.. :Dv

    ngomong2 aku makin penasaran sama masa lalu haejin dan donghae.. o.o

  37. yuhuuu..

    akhirnya bsa koment jg..

    g sengaja nemu ff ini, pas dbaca bagus jg..
    penasaran m penyakitnya haejin…???

    semua kalimatnya pas g pke alay..
    publish part terakhir tgl 4 maret, skrg udah tgl 10 mei tp lanjutannya blm ada…

    jgn berhenti dtengah jln ya… lanjutkan hwating…🙂

  38. Eh ko tumben sih pendek nyaak? #plakk😄
    Ini tuh kayaknya ada sesuatu banget antara ortunya haejin sama si donghae tapi masih ga nangkep itu apaan.. dan penyakitnya haejin lebih dari migrain biasa? Penyakit apaan emang?
    Haduh donghae itu tukang paksa yg gabisa dilawan yah.. dan entah kenapa tiap kedeketan mereka berdua itu rasanya selalu intim banget dan bkin mupeng lalu klo udah mulai sekinsipan ikutan deg deg serr sendiri -_- eh jadi udah jebol itu? Ahaha cieee kadonya bkin jebol #plakk😄
    Cieeeea akhirnya cemburu juga nih yah.. udah kali gausah pake alasan hubungan sementara padahal kan situ juga ngarepnya lebih dari itu.. ahaha prince manager yah bantuin mulu nih *cubit*

  39. mulai bingung nih gue di sini
    kayaknya ada yang nggak beres sama mereka berdua menyangkut masa lalu
    apa sih??? jadi penasaran??
    ini kapan lanjutannya???

  40. ini ituuuuu seru banget ffnya.. plis deh baru kali ini aku merasakan ff yg sesuatu wooww cetar membahana banget. dan ini malah pake tbc segala lagii.. dna emng mereka itu dulunya ada apa?? mulai sedikit bingung sama alurnya sekarang. dan eomma sama neneknya hae itu kenapaaa?? pls dong next part diposttt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s