{SongFic Contest} The Boy’s Letter

Title : YeWook  – The Boy’s Letter

Author :tatasinta

Length : Oneshot with 2,572 words

Category : Songfic

Genre : Romance, Angst

Rating : AA

Main Cast(s) :

  • Kim Yejin
  • Kim Ryeowook
Soundtrack : JYJ – The Boy’s Letter

nabakke moreuneun sonyeoga itjyo
eonjena jejarieseo nareul barkhyeojuneun byeol gateun
igijeogin babo gateun naege
gomapda saranghanda malhaejwoseo nunmurina
ijen neoui haneuri doelge
nega challanhage bitnal su itge

 

nawa yeongwonhi saranghagenni
hollo ganeun gire honjaseon
mueotdo boiji anha neo eobsin sal suga eobseo
naege yuilhan bichi neoran mallya naegen

There is a girl that only knows me
Who is like a star, always in place, that shines on me
To me who is selfish and foolish-
She says thank you, I love you- so I shed tears
Now I will become your sky so you can brilliantly shine

Will you love with me forever?
On this path alone, I can’t see anything
I can’t live without you
You are the only light to me

“ Ya! “ seseorang menepuk pundakku lumayan kencang. “ Kau melamun lagi, Ryewook-ssi”, gadis di depanku menatap dengan tangan terlipat di dadanya.

“ Aniyo”, kataku buru-buru. “Aku sedang menunggumu. Ayo kita pulang”, kuputar balik tubuhnya, kulihat dia memasang tampang cemberut tapi tersenyum kemudian.

Seperti biasa aku akan menunggu Yejin untuk pulang bersama. Tadi dia ada kumpulan terlebih dahulu bersama klub ekskulnya dan aku dengan setia menunggunya di taman sekolah.

“ Aigoo, seharusnya kau tidak menungguku di luar, Wook-ah. Udaranya dingin sekali. Kau bisa sakit nanti”.

“ Gwencahana. Aku kan sudah pakai jaket”, jawabku sambil membetulkan letak jaketku dan memasukkan kedua tanganku ke dalam saku jaket.

“ Kau ini keras kepala, Wook-ah”, Yejin lagi-lagi memasang tampang cemberut tapi ekspresi itu sungguh sangat menggemaskan. Tanpa meminta ijin tangannya langsung menggamit lenganku.

Orang-orang di lingkungan sekolah menatap kami penuh arti. Bukan tatapan iri aku rasa. Lebih tepatnya tatapan prihatin. Ya prihatin pada Yejin. Gadis cantik, ramah, ceria, dan pintar itu mau saja jalan bersama denganku. Lelaki yang kurus dengan wajah yang selalu pucat dan termasuk anak pendiam di sekolah. Tapi Yejin tidak pernah mempermasalahkan itu. Kami sudah berteman dari sekolah dasar sampai sekarang duduk di sekolah menengah atas dan kami bahkan selalu satu kelas. Jadi rasanya kami dekatpun itu wajar.

“ Kau kapan kontrol ke dokter, Wook-ah?” masih dengan menggamit lenganku, kami berjalan ke arah halte bus.

“ Oh, selasa depan Jin-ah”. Inilah ini! Alasan mengapa orang-orang bisa prihatin seorang Yejin bergaul bersamaku.  Alasan yang bahkan membuatku rasanya tidak pantas untuk bersanding dengan Yejin. Kaknker Pankreas. Dokter memvonisku saat aku baru saja masuk ke sekolah menengah atas. Itu hal terburuk yang pertama dan terakhir kalinya aku rasakan. Aku seperti sudah berada di jalan yang buntu yang bahkan membuatku tidak bisa melakukan apapun selain menyerah. Aku hampir gila. Dokter bilang itu adalah salah satu jenis kanker yang langka. Oh Demi Tuhan, saat itu aku berharap lebih baik aku mati.

Ada banyak rencana indah yang sudah aku ciptakan tapi semua itu kandas tersapu vonis dokter. Dan salah satu rencana indah itu daalah aku akan mengatakan perasaanku padsa Yejin. Tentang perasaan yang aku sadari lebih dari sebuah perasaan seoarang teman laki-laki pada teman perempuannya. Perasaan tentang seorang pria terhadap seorang wanita. Tapi dengan keadaan tubuhku yang secara perlahan digerogoti sel yang tumbuh secara tidak wajar itu membuatku mengurungkan niatku mengatakan cinta padanya, mengikrarkan bahwa dia hanya milikku. Aku tidak mau dia terluka. Karena aku bisa saja tiba-tiba meninggalkannya dengan kondisi tubuhku yang seperti ini.

Tapi ini Yejin. Bukan gadis lain yang sebagian mungkin hanya mencari kesempurnaan fisik. Ini dia Yejinku. Yejin yang menyemangatiku untuk bertahan,  untuk tidak pernah menyerah. Yejin yang menemani hari-hariku saat sel kanker itu menggerogoti tubuhku, menemaniku control ke dokter, yang bahkan dia mengatakan dia mencintaiku, menyayangiku. Aku hanya menjawab dengan sebuah senyuman lalu pelukan yang diakhiri dengan tangis diam-diam. Yejin mengganggap itu sebuah jawaban atas pernyataannya. Dia mengerti bahwa tanpa aku mengatakannya dia tahu aku mencintainya dan dia pun sebaliknya. Itu cukup baginya.

“ Yejin-ah, bagaimana jika suatu hari aku tiba-tiba meninggalkanmu?” pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari bibirku di suatu sore di taman belakang rumahku. Tempat favorit kami berdua.

Dia menatapku lama, lalu tersenyum.

“ Aku harus siap. Bukankah suatu hari entah itu kapan seseorang akan mati. Kalau takdir mereka sudah menghendaki untuk mati, ya mereka akan pergi. Meninggalkan orang-orang yang mereka sayangi. Dan yang ditinggalkan tentu saja harus mengikhlaskan. Benarkan?” tanyanya sambil tersenyum.

“ Walaupun tentu saja aku pasti akan merasa sedih. Sedikit”, katanya lagi sambil mengisyaratkan dengan jarinya. “ Kalau kau pergi meninggalkanku untuk selama-lamanya, aku akan berusaha untuk hidup untukmu Wook-ah. Hidup untuk semua mimpi-mimpimu yang belum bisa kau wujudkan saat kau masih hidup”, lanjutnya lagi sambil menatapku penuh arti.

“ Dan juga siapa tahu malah aku yang pergi duluan meninggalkanmu? Bisa saja kan? Tidak ada yang bisa mengetahui takdir Tuhan”, katanya sambil tertawa pelan.

“ Andwae Yejin-ah. Jika kau pergi, aku dengan siapa? Walaupun masih ada keluargaku, tapi kau orang terpenting setelah mereka. Aku bahkan tak sanggup memikirkannya. Tapi apakah jika aku pergi dia juga memikirkan hal yang sama denganku? Tidak bisa hidup tanpaku? Entahlah”, aku berpikir sendiri sambil memandang Yejin yang tengajh asyik bermain dengan handphonenya.

neobakke moreuneun yeogi naega itjyo
saranghae maldo motaneun bigeophan sonyeonieotjyo
nega utgo ureodo nan moreugo
neoege gidarimman angyeojun
naega miwoseo heullineun nunmuri miwoseo
deo isang apeuge haji anheulge

nawa yeongwonhi saranghagenni
hollo ganeun gire honjaseon
mueotdo boiji anha neo eobsin salsuga eobseo
naege yuilhan bichi neoran mallya naegen

I, who only knows you, am here
I was a boy who was too coward to say I love you
Whether you laughed or cried, I didn’t know
And I only made you wait- I hated myself for that
I hated the tears that were shed- I won’t hurt you anymore

Will you love with me forever?
On this path alone, I can’t see anything
I can’t live without you
You are the only light to me

Aku kembali terbaring di ranjang rumah sakit. Malam sebelumnya aku terus muntah-muntah dan merasakan sakit luar biasa di bagian perutku. Keluargaku dengan cepat membawaku ke rumah sakit, sudah mengerti apa yang harus mereka lakukan. Dokter bilang sel kankerku sudah menyebar ke bagian-bagian tubuh yang lain.

Kemoterapi yang pertama dianggap tidak berhasil . Aku benar-benar sudah lelah. Tapi Yejin dengan setia menemaniku di rumah sakit sepulang sekolah. Dia menghiburku. Itu pasti. Dia bercerita mengenai murid baru yang baru pindah dari luar negeri dan tidak bisa berbahasa korea, tentang ekskulnya dan semua yang bisa ia ceritakan rasanya ia ceritakan padaku. Suasana rumah sakit seperti tidak terasa jika dia ada disampingku. Dia yang seperti biasa selalu ceria.

Aku merasa keadaanku sedikit membaik.  Ibu sedang pulang ke rumah dulu dan Yejin bilang dia ada urusan sebentar di sekolah dan akan datang terlambat. Aku berjalan sendirian menuju taman sambil mendorong-dorong tiang infusan. Udara di luar sejuk. Enak rasanya untuk sekedar duduk di taman menikmati semilir angin sore. Saat akan menuju bangku taman, kulihat seorang gadis berdiri di belakang pot tanaman besar dengan menggendong tas yang sangat kukenal. Kudekati dia perlahan, bermaksud untuk mengagetkannya, kudengar dia sedang berbicara dengan sedikit isakan. Dia menangis? Ada apa dengannya?

“ Iya eonni. Dokter mengatakan kemoterapi yang pertama gagal dan sekarang sel kankernya sudah menyebar. Eonni…. eottokhe? Aku takut dia pergi”, dapat kudengar jelas pembicaraannya yang kuyakin pembicaraan dengan saudara sepupunya.

“ Sekarang dia di rumah sakit. Aku baru pulang sekolah dan bermaksud mengunjunginya. Iya eonni, aku tidak ingin menyakitinya dengan melihatku bersedih karenanya. Aku belum siap menemuinya dengan wajah habis menangis seperti ini”, lanjutnya lagi. Dia menangisiku? Menangisi keadaanku? Tidak ada yang lebih sakit daripada ini. dia yang didepanku selalu ceria, ternyata di belakangku dia sama rapuhnya.

Kuputuskan untuk kembali ke kamar, mengurungkan niatku untuk mengagetkannya. Aku bahkan terlalu malu untuk bertemu dengannya. Membuat dia harus menangisi lelaki yang tidak pantas ditangisi seperti aku ini.

Sekitar 30 menit kemudian dia dating ke kamarku dengan muka ceria seperti biasa. Aku rasa dia membenahi dulu keadaannya sebelum datang kepadaku. Melihatnya benar-benar membuatku muak pada diriku sendiri. Aku membuat Yejinku menangis. Aku ingin melindunginya, aku ingin menjadi orang yang bisa membuatnya tersenyum, bukan membuat dia menangis karena keadaanku yang menyedihkan. Semakin seperti ini aku semakin tidak bisa meninggalkannya. Semakin tidak bisa hidup tanpanya. Dan semakin ingin tetap hidup untuk menjaga dia selamanya.

haneulgwa bichui soni maju bol ttaee
neoege hyanghan i pyeonjil bonaelge

nawa igose isseo jugenni
amheuk gateun chagaum soge
seoroui cheoneul mitgo tteugeoun taeyangi doeeo
ijeul su eomneun modeun haneurui norae doeeo

du nuneul gama chueokhaebwado
deo isang jichiji antorok
saranghaejwoseo nal jikyeojwoseo neomuna gamsahae
ijen neoui haneuri doelge

sonyeonui norael deureo
deouk balgajineun byeol

When the hands of the sky and light face one another
I will send this letter for you

Will you stay at this place with me?
In this coldness that is like the darkness
Let us trust each other’s warmth and become like the hot sun
Let’s become an unforgettable song of the sky
So that even when we close our eyes and reminisce
We will not be exhausted anymore
Love me, protect me- I thank you so much
I will become your sky now

Aku terduduk di kursi roda dengan hembusan angin pantai menerpa wajahku. Aku memandang langit senja. Indah. Seperti dirimu. Ceria dan hangat. Memandang langit seperti ini aku seperti memandangmu Jin-ah. Apa kau baik-baik saja? Apa kau tenang di surga sana? Apakah kau ditemani bidadari-bidadari yang baik-baik?yang bisa melindungimu setiap saat. Apakah kau bahagia? Kau orang baik Jin-ah. Kau pasti bahagia disana kan?

Aku masih belum bisa memaafkan diriku sendiri. Bahkan setelah satu tahun kepergianmu, aku merasa aku manusia paling bodoh. Setahun yang lalu, saat dokter mengatakan bahwa aku sudah tidak punya harapan untuk untuk hidup. Kemoterapiku gagal. Itu rasanya bagaikan terkena petir di siang bolong yang cerah. Rasanya pengorbananku untuk sembuh, perjuangan orang-orang terdekatku untuk membantuku untuk sembuh terasa sia-sia saat dokter mengatakan hal itu.

Aku terlalu labil saat itu. Terlalu kalut untuk sekedar berpikir sesuatu yang rasional. Aku lari dari rumah sakit saat tidak ada seorangpun yang menemaniku di kamar. Kau sedang di toilet saat itu. Aku mencabut selang infusan dari tanganku dan pergi tanpa mengganti bajuku terlebih dahulu. Dengan sekuat tenaga aku berjalan ke luar rumah sakit. Entah kemana tujuanku, yang pasti aku sudah lelah. Sudah lelah melakukan pengobatan, sudah lelah membuat keluargaku dan kau bersedih karena keadaanku. Mungkin saat kau keluar dari toilet kau sudah menemukan tali infus yang terlepas dan aku yang tidak ada terbaring di ranjang kamarku.

Aku berjalan dengan sedikit terhuyung di pinggir jalan dengan tatapan orang-orang yang melihatku. Dengan tangan berdarah akibat infusan yang sengaja kulepas dan baju rumah sakit yang masih melekat di badanku. Aku sudah hampir mencapai trotoar sebrang saat kau meneriakkan namaku. Kau menemukanku. Sempat kulihat lampu lalu lintas berwarna kuning saat kau meneriakkan namaku. Saat lampu itu berganti warna, aku sudah menginjakkan kakiku di trotoar. Aku baik-baik saja dan aku harus akui kamu tidak. Terdengar suara benturan yang keras saat truk pembawa barang itu menghempaskan tubuhmu ke jalanan dan suara decitan rem mobil-mobil. Kau berlari ke arahku saat lampu telah berganti hijau. Apa kau tidak berpikir Jin-ah? Itu bahaya. Tidak bisakah saat itu kau menunggu lampu berubah warna menjadi merah? Kau sudah menemukanku saat itu. Setidaknya dengan kondisiku yang lemah, aku yakin kau bisa mengejarku. Tapi itu terlambat.

Aku sempat tertegun sebentar. Menatap dengan tatapan penuh ketidakpercayaan. Dengan reflex aku berlari kearah kerumunan orang yang ingin mengetahui keadaanmu. Aku menyeruak masuk diantara kerumunan orang itu. Berusaha melihatmu. Melihat keadaanmu. Kau terkapar dengan darah yang mulai keluar dari mulut, hidung, dan kepalamu. Kau terlihat sangat kacau Jin-ah saat itu.

“ Jin-ah, apa kau bodoh hah?? Kenapa kau melakukan ini?” aku merengkuh badannya menarik kepalanya dalam pelukanku dan air mata sudah mengalir sangat deras di pipiku dari tadi.

“ Wook-ah, kembalilah. Jebal”, dengan tersengal-sengal dia berusaha bicara padaku.

Kudengar orang-orang sibuk  menghubungi ambulance.

“ Yejin-ah maafkan aku”, aku menangis dengan sekeras-kerasnya sambil lebih mengeratkan pelukanku padanya.

“ Jangan..menyerah Wook-ah”, katanya sambil terbatuk-batuk dan darah segar keluar dari mulutnya.

“ Jangan banyak bicara dulu Jin-ah. Bertahanlah”.

“ Tetaplah hidup dengan baik untuk orang-orang yang kau sayangi, untukku juga. Kau harus berjanji”, dia menyunggingkan senyumnya.

“ Andwae Jin-ah.  Aku janji. Kajimaaaaaa. ”, kataku sambil berteriak. Setelah itu dia tak sadarkan diri saat ambulance datang. Dan di hari ke-4 komanya dia menghembuskan nafas terakhirnya.

Dia meninggalkanku. Kau pergi untuk selamanya Jin-ah. Kau tahu bagaimana perasaanku saat itu? Rasanya aku ingin menyusulmu juga. Ikut pergi bersamamu jika saja aku tidak berjanji kepadamu untuk tetap hidup.

Kau matahariku. Menghilang dari peredaran langit hidupku. Kau membuat langitku gelap gulita. Yejin-ah, betapa aku sangat membutuhkanmu. Betapa aku sangat tergantung padamu. Betapa aku sangat mencintaimu.

modeun gaseum sogeseo ije
naui noraega peojigil
gateun geoseul neukkigo saranghagil
neoui simjangeul ullil su itge

nawa yeongwonhi saranghagenni
hollo ganeun gire na honjaseon
seoroui cheoneul mitgo tteugeoun taeyangi doeeo
ijeul su eomneun modeun haneurui norae doeeo
du nuneul gama chueokhaebwado
deo isang jichiji antorok
saranghaeseo nal jikyeojwoseo neomuna gamsahae
ijen neoui haneuri doelge

Listen to this boy’s song and the star becomes brighter

Will you love with me forever?
On this path alone, I can’t see anything
Let us trust each other’s warmth and become like the hot sun
Let’s become an unforgettable song of the sky
So that even when we close our eyes and reminisce
We will not be exhausted anymore
Love me, protect me- I thank you so much
I will become your sky now

Jin-ah, kau ingatkan saat kau berkata bahwa kalau takdir menghendaki, apapun yang terjadi pasti akan terjadi. Takdir Tuhan memang penuh rahasia Jin-ah. Kau meninggalkanku lebih dulu. Meninggalkan lelaki yang divonis dokter terkena kanker pankreas. Salah satu jenis kanker yang masih langka terjadi. Kau pergi karena kesalahanku. Kalau saja kau tak mengejarku. Tidak, mungkin kalau aku tidak bertindak bodoh dengan kabur dari rumah sakit saat itu, aku masih bisa bersamamu hari ini.

Tapi Jin-ah, aku menepati janjiku padamu untuk tetap bertahan hidup. Untuk tetap tidak menyerah. Untuk itulah aku sekarang berada disini. Sebuah tempat perawatan khusus kanker di sebuah rumah sakit di dekat pantai jauh dari hiruk pikuk ibukota. Aku berjuang melawan penyakitku saat ini demi bisa hidup untuk orang-orang yang aku sayangi dan tentu saja untukmu.

Yejin-ah, terima kasih untuk cintamu yang besar padaku. Terima kasih selalu menjadi orang yang mengingatkanku untuk minum obat dan mengantarku control ke dokter. Terima kasih untuk semangatmu yang tidak pernah lelah menyuruhku untuk bertahan dan hidup.

Yejin-ah, maaf aku selalu membuatmu menangisiku. Selalu membuatmu sedih karena melihat keadaanmu. Selalu membuatmu harus pura-pura ceria dihadapanku demi tidak menyakiti perasaanku. Aku selalu ingin membuatmu tersenyum. Percaya itu.

Maaf juga aku tidak pernah benar-benar mengatakan bahwa aku mencintaimu. Tapi tanpa aku katakan kau tahu kan? Aku mencintaimu. Hanya dirimu.

“ Yejin-ah. Saranghae”, Kata yang terlambat diucapkan karena aku bisa mengucapkannya saat kau sudah tidak ada bersamaku. Kata itu aku ucapkan perlahan dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipiku. Apa kau bisa mendengar ucapanku Jin-ah??

“ Jeongmal saranghae”, aku menutup kedua mataku merasakan kehadiranmu lewat hembusan angin dan terpaan sinar senja yang membuat langit berwarna jingga.

Berbahagialah disana Jin-ah. Kau selamanya akan menjadi matahariku dan aku akan menjadi langit yang selalu menaungimu.

“ Ryewook-ssi, mari kita masuk ke dalam. Udaranya sudah mulai dingin”, suara Suster Kim yang sudah kuhapal menyadarkanku dari kenangan bersamamu.

Aku tersenyum kearah Suster Kim. Kulihat dia membalas senyumku juga.

“ Sebentar suster. Ijinkan aku melihat sampai matahari itu menghilang”.

“ Ne, arraseo. Memang itu yang selalu kau lakukan kan?” katanya sambil tersenyum. Aku tersenyum sekali lagi, sambil melihat matahari yang perlahan mulai tenggelam.

“Yejin-ah, saranghae. Berbahagialah dengan kehidupanmu disana”.

~THE END~

NB:

Annyeong~~. Alhamdulillah akhirnya songfic ini selesai juga * sujud syukur*. 2 songfic yang aku buat (songfic ini+ Jinhae- Can’t I let you go even if I die? I can’t!) aku persembahkan untuk anniversary Jinhaexy. Saengil chukkae ^^. Oh mianhae untuk RiHyuk couple ga sempet aku bikin karena ini juga bikinnya mepet di tengah kuliah yang belum libur *curcol*. Dan juga songfic ini aku buat sebagai wujud permintaan maafku karena aku bukan termasuk reader baru tapi jarang jarang banget komen. Mianhae. Songfic ini sebagai wujud tobatku (alah -__-) dan juga sebagai permintaan maafku. Happy reading. Mianhae kalo ceritanya ga seru. *kiss and hugs for Jinhaexy’s authors and readers

18 thoughts on “{SongFic Contest} The Boy’s Letter

  1. nyeseeeeekkkk…. baiklah, memang sekali2 si de pooh itu perlu dikasi pelajaran, tapi yejinnya mati masaaaaaa T______T

    angstnya dpt bgt feelnya… over all aku suka🙂

  2. huwe~~~ yejinnya mati..TT^TT
    jd yg dibilang yejin jd knyataan yah? ckckck
    ini angst nya dapeettttt,,, >…<
    ngebayangin keadaan ryeowook stelah ditinggal kkasih *cielah bahasanya-__-*~~
    suka–suka– keep writing buat authornya..:DD

  3. hueeee…Rest in peace Yejin-ah..smoga ktemu malaikat yg lbh ganteng dr si wookie disurga..#plakkk#

    kerenlah,initinya kematian bsa dtg pd siapa ajj….#srooott/lap idng#

    nyesek lahh. ..

  4. nyeseekkk senyesekk nyeseknya~ ;( huaa,, yejin-ah andwe!!
    hufft, mmng gk ad yg bkal tau gmn takdir seseorang, manusia berencana Tuhan yg menentukan.. nice songfic😀

  5. T^T
    Wookie siih pake lari2 segala /plak
    Yejin juga nyebrang gak liat2 /plak
    Wkwkwk ._.v

    T^T
    Nyesek..
    Org yg nyemangatin kita harus pergi krn kecerobohan kita…

  6. yaaahh kok yejinnya mati? -______-
    *peluk wookie #eh? *

    ku kira bkal wookie yg mati,dan yejin yg galau..kebalik ternyata.. Kkk~

    tp tp tp itu kenapa ending disituu? Wookie digantung takdir (?) jadinya..wkwkwk

  7. yaaah ini ngga ryeong nyusul yejin ? /plak/
    kasiaaan yejinnya disenggol (?) truk -___-”
    huwaaa kata2 yejin jadi kenyataan .
    nice ff ^^

  8. ih sedih.. napa malah Yejinnya yang mati..
    kenapa ga si wook2 aja.. T.T

    sedih.. mataku ampe berkaca2..
    mungkin karena keadaan kurang mendukung pas baca ni songfic (re: mati lampu) jadi aku bacanya kurang meresapi.. *saaah…

    tapi bagus koq songficnya.. sueer..🙂

  9. Ahahaha aq brhasil nebak >.< Aq nebak yejin yg mninggal duluan n trnyata bnr… Ngerasa aj ps yejin ngmng 'gmn kl trnyta aq yg duluan pergi?' Dr situ deh lgsg DEG ;p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s