{SongFic Contest – JinHae Winner} How Bright Is Your Love

How Great Is Your Love

Title : How Great Is Your Love

Author : Aster Kim/Minwookwife

Genre : AU, Romance

Length : Oneshoot

Main Cast : Lee Haejin, Lee Donghae

Soundtrack : SNSD – How Great Is Your Love

Nisya’s Note : “Pertama-tama mau mengucapkan terima kasih bagi semua peserta. FF kalian semuanya bagus-bagus kok. Hehehehe, dan aku mau jelasin alasanku kenapa memilih Fiction ini sebagai juara untuk JinHae Songfic Contest.

Pertama, karena isi cerita yang menurutku kena banget sama Songficnya, How Great is Your Love, tentang bagaimana kekuatan cinta itu begitu besar dan bisa menaklukan segalanya. Kedua, karakter Haejin sama Donghaenya dapet banget hehehehe… walaupun lain dari karakter yang biasa aku buat. Terakhir, karena menurut pendapatku sendiri, terlepas dari hal-hal sistematisnya, feel-nya sungguh ngena ke JinHae, hehehe.

Jadi Mohon di kasih komentarnya ^^ selamat untuk Aster Kim, hadiahnya dalam proses :*

Duomo

How Great Is Your Love

In your smile that’s like a spring day, the whole world gets brighter

It makes me dream again

On the day where the sun sparkles,

I hold your hand and walk in sync with your footsteps

When I sometimes walk ahead and suddenly look back

That face that looks at me is so eye-blinding

“Gomawo..”

Pria bertubuh kurus itu menggenggam erat tangan kekasihnya yang tersenyum ke arahnya.

Di tempat ini pertemuan pertama mereka, Duomo, Milan adalah saksi cinta mereka yang sudah berjalan setahun lebih.

“Haejin-ah.. suatu saat nanti apakah kita akan berpisah?”

Gadis bernama Haejin itu menoleh sesaat lantas tersenyum dan mengelus pelan kedua pipi kekasihnya, “Lee Donghae… bukankah aku sudah pernah mengatakannya? Perpisahan pasti ada, tergantung kita menyikapinya. Ada yang berpisah lantas tak akan pernah bertemu lagi namun ada juga yang berpisah dan akhirnya mereka bertemu dan hidup sampai mati. Begitu juga kita, semua kemungkinan yang ada di bumi ini pasti bisa terjadi.”

Donghae tersenyum tipis, tangannya sibuk memberi makan burung-burung yang ada di Duomo Square.

“Kita menghabiskan 20 euro hanya untuk burung-burung ini.” Sungut Haejin.

“Aku menghabiskan setengah tahun untuk menunggu jawabanmu tentang lamaranku.” Balas Donghae.

“Maksudmu?” Haejin melirik sengit.

“Aku tahu kau mengerti maksudku.” Sahut Donghae.

Haejin berdiri dan berjalan meninggalkan Donghae.

Donghae terkekeh pelan lalu berjalan menyusul Haejin, “Marah? Kalau marah entah kenapa aku makin mencintaimu nona Haejin.” Ledek Donghae.

“Kau pikir wajahku akan bersemu merah?”

“Tidak, tapi paling tidak aku bisa mendengar jantungmu berdegup kencang saat aku mengatakannya. Iya kan? Dan setelah itu wajahmu akan memerah.” Donghae memiringkan kepalanya menatap Haejin dengan senyuman khas nya.

“Kau ini…” Haejin memukul lengan Donghae.

“Hhh… bagaimana kalau kita menikah di musim panas?” celetuk Donghae seraya merangkul Haejin dan berjalan menyusuri taman.

“Kau kan tahu aku tidak suka panas.” Sahut Haejin.

“Musim dingin? Bagaimana?”

“Bagaimana kalau tidak usah menikah?”

“Kalau tidak menikah lalu bagaimana kita bisa membuat Donghae junior?”

“Hehehehe….”

Donghae menghentikan langkahnya sejenak, dua tangannya menangkup wajah Haejin. Ia mendekatkan dahinya hingga menempel di dahi Haejin dan sesekali mengusap perlahan dahi Haejin dengan dahinya.

“Aku membayangkan jika aku tak mengenalmu apakah aku bisa merasakan cinta seperti ini?” ucap Donghae pelan.

“Gomawo…” bisik Haejin.

“Saranghae..” Donghae melayangkan kecupan di kening Haejin.

“Nado..” balas Haejin.

“Terima kasih sudah mencintaiku, terima kasih sudah memberiku cinta yang begitu besar.” Ucap Donghae.

When I hear the sound of spring coming, I walk on the path with the bloomed flowers

When the rainy summer comes, I walk as I see the rainbow

When autumn passes and winter comes, with the warmth from our hands

We walk together – how great is your love

Seoul

“Donghae-ah.. bagaimana liburanmu?” tanya Eunhyuk.

“Begitulah..”

“Apakah Haejin sudah memutuskan menerima lamaranmu?” tanya Eunhyuk lagi.

“Hhh.. masih sama.” Jawab Donghae lemas.

“Kau yakin dia mencintaimu?”

Donghae melirik sahabatnya, “Maksudmu?”

“Biasanya seorang wanita akan senang jika di lamar pria yang mencintainya tapi kenapa Haejin seakan mengulur waktu?”

Donghae berpikir sejenak mencerna ucapan Eunhyuk, memang ada benarnya juga apa yang manusia satu ini ucapkan. Namun beberapa detik kemudian Donghae tersenyum.

“Aku selalu menunggu saat-saat aku di cintai dan mencintai, dulu aku pernah patah hati karena wanita dan itu membuatku hampir gila. Tapi kali ini waktu setahun bersama Haejin sudah cukup membuatku percaya akan cinta Haejin padaku.”

“Cishh..” Eunhyuk menepuk jidatnya mendengar kata-kata yang meluncur deras dari mulut Donghae.

-JinHae-

Namsan park

“Mana lagi tempat yang ingin kau kunjungi?” tanya Donghae seraya duduk melepas lelah setelah seharian berjalan-jalan.

“Eung… Kita belum ke pulau Nami.”

“Nami?”

“Hehehe…” Haejin tertawa melihat raut wajah Donghae yang kelelahan.

“Anni.. kapan-kapan saja, hari ini aku sudah cukup puas jalan-jalan.” Haejin duduk sambil meluruskan kedua kakinya.

“Apa kau lelah?” tanya Donghae.

“Sedikit..” jawab Haejin.

“Kau sedang sakit ya?” Donghae memperhatikan raut wajah Haejin yang sedikit pucat.

“Mungkin ini efek dari jalan-jalan kita tadi, hufhh…”

“Tadi harusnya kita tidak usah terlalu banyak jalan kalau kau lelah, kenapa tidak bilang?”

“Aku tidak apa-apa.. sungguh..”

“Haejin-ah.. aku ingin sekali kita pergi ke Mokpo bersama.” Ujar Donghae.

“Bukankah sebelumnya kita sudah pernah kesana?”

“Maksudku… ke Mokpo itu, eung… aku ingin…”

Belum selesai Donghae bicara Haejin sudah memeluk Donghae, “Mian.. tapi beri aku waktu lagi untuk itu, aku bukannya menunda tapi aku hanya ingin mempersiapkan diriku saja.” Ujar Haejin.

“Sampai kapan? Aku sudah lama menunggu jawabanmu Haejin, kenapa kau selalu menundanya?” tanya Donghae.

“Aku..” Haejin menundukan kepalanya tak berani menatap Donghae.

Donghae menghela nafasnya, “Haejin-ah.. aku bersikeras melamarmu bukan hanya karena keinginanku, tapi.. ini adalah janjiku pada diriku sendiri untuk menjagamu selamanya, menjaga gadis yang aku cintai. Aku tidak mau kau bekerja membanting tulang sendiri untuk kehidupanmu dan keluargamu, aku juga ingin berada di sampingmu. Aku tahu kau gadis tegar tapi aku juga tahu setegar apapun kau berdiri sendiri aku tahu saat-saat kau sedang rapuh, dan di saat itulah terkadang kau menyembunyikannya dari orang lain, aku tidak mau menjadi orang lain di matamu.”

“Anni.. bukan begitu…” Haejin menggeleng pelan, matanya sudah memerah dan siap mengeluarkan butir-butir air mata.

“Haejin-ah.. aku bersedia menunggumu, tapi.. jangan kau samakan aku dengan mantanmu, karena aku sungguh sangat mencintaimu.”

“Hae..?”

“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu, kau takut aku akan meninggalkanmu sama seperti Taecyeon meninggalkanmu waktu itu?”

Detik itu pula Haejin menangis, salah satu alasan ia menunda keinginan Donghae memang itu namun ia tak menyangka Donghae bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

“Uljima…aku tidak menyalahkanmu Haejin, aku mengerti..” Donghae menyeka air mata Haejin.

“Aku punya hadiah untukmu Haejin.” Donghae mengalihkan pembicaraan mereka tentang mantan kekasih Haejin.

Donghae berdiri di hadapan Haejin sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, “Ah sebentar.. susah sekali..” desis Donghae.

Haejin memperhatikan Donghae yang masih sibuk mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya, “Ahhh.. jatuh!” Haejin tersentak saat mendengar teriakan Donghae. Ia pun ikut mengejar sesuatu yang terjatuh dari kantong celana Donghae, “Hupp…” Donghae dan Haejin berhasil menangkap kotak kecil berwarna pink.

“Ahh syukurlah bisa selamat.” Donghae menghela nafas lega, begitu juga dengan Haejin walaupun ia memang tidak tahu apa isi dari kotak itu.

“Apa itu?” tanya Haejin.

“Eh? I-ini? Itu..”

“Sepertinya cincin, cincin ya?”

“Hufht.. tadinya aku ingin memberikanmu cincin seperti yang ada di drama-drama itu tapi… gagal gara-gara kotak ini jatuh.”

Siiiing…. Suasana hening seketika, Donghae menunduk sambil memegang kotak pink itu, sementara Haejin tak berkedip memperhatikan Donghae.

“Hmppph….” Haejin menahan tawanya.

“Ya!.. kenapa tertawa?”

“Anni…hahahaha…” tawa Haejin meledak saat ia melihat wajah bodoh Donghae.

“Kau menertawakanku ya?”

“Hahaha.. wajahmu seperti orang bodoh.” Ejek Haejin.

“Cishh…”

“Aku tidak perlu hal-hal romantis,” ujar Haejin membuat Donghae sedikit lega, “Ya.. walaupun aku memimpikan hal itu.” Kali ini wajah Donghae kembali masam.

“Hehe.. tapi.. ini sudah cukup.” Haejin menjulurkan tangan kirinya.

Donghae menoleh ke arah Haejin, “Haejin.?”

Haejin mengangguk, “Tapi urusan menikah masih lama ya.” Celetuk Haejin di sambut senyum cerah Donghae yang langsung menyematkan cincin ke jari manis Haejin.

“Ini kebesaran..”

“Eh? Jinjja? Apa tertukar ya?” Donghae mengambil cincin satu lagi yang akan ia pakai.

“Nah yang ini baru pas.” Ujar Haejin setelah Donghae mengganti cincinnya.

“Iya, tertukar dengan cincin punyaku.” Kekeh Donghae.

“Aku baru pertama kali melihat pria bodoh seperti kau, menyematkan cincin saja sampai salah.. kalau ini drama pasti sudah cut berkali-kali.”

“Iya.. mian… aku juga baru sadar ternyata hal ini membuatku gugup,” ujar Donghae, “Eh tapi.. ucapan pria bodoh itu hanya bercanda kan?” tanya Donghae.

“Eung…bagaimana ya…” Haejin melirik jahil sambil tersenyum evil.

“Hae… apa ada kata yang lebih baik dari terima kasih? Entah bagaimana aku mengungkapkannya, aku sangat ingin berada di sampingmu selamanya menjadi pendampingmu.. Hae, terima kasih untuk semuanya… aku sangat mencintaimu..”

Seoul National University Hospital

“Kemana anak itu?”

“Ongie-ya…” Haejin berlari kecil menghampiri sahabatnya yang sudah sejak satu jam menunggu dirinya.

“Bagus ya telat lagi.”

“Hehe.. mian.. aku ada urusan di rumah.” Sahut Haejin.

“Bukan karena Donghae hyung?” ledek Seulong.

“Aaa… wae? Iri ya?” balas Haejin.

“Hhh.. meledekmu sama saja menggali kuburan sendiri.”

Haejin terkekeh, “Makanya carilah pacar baru Ongie-ya..”

“Untuk apa aku mencari pacar? Bukankah masih ada kau disini?”

“Kau mau Donghae menguntit kemana kita pergi hah?” Haejin memicingkan matanya.

Seulong tertawa melihat sahabatnya, semenjak putus dari Taecyeon ia hampir tak mengenali siapa Haejin namun seiring waktu berjalan Seulong bisa melihat wajah ceria Haejin lagi.

“Haejin-ah.. apa kau serius dengan ucapanmu?” tanya Seulong di sela-sela langkah mereka menelusuri lorong rumah sakit.

“Ucapan yang mana?” tanya Haejin.

“Tentang hubunganmu dengan Donghae hyung..”

“Ongie-ya.. sudah aku bilang jangan bahas itu terus, kan aku sudah mengatakannya padamu.” Sahut Haejin.

“Haejin..” Seulong menarik pelan tangan Haejin hingga Haejin menghentikan langkahnya.

“Ini demi dia.. aku melakukannya demi dia.” Ucap Haejin sambil tersenyum.

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu.” Ujar Seulong.

Haejin tersenyum lalu menepuk punggung tangan Seulong, “Percayalah padaku.” Ucapnya.

Seulong hanya bisa pasrah dengan keputusan Haejin, ia hanya bisa mendukung sahabatnya saja. Sebanyak apapun ia memberi komentar Haejin hanya memberi jawaban ‘percayalah padaku’ dan Seulong tidak bisa lagi berbuat apa-apa.

Setelah bertemu dengan Seulong di SNUH tadi ia menyempatkan diri datang ke sebuah gereja, menghirup udara di gereja, menyentuh bangku-bangku panjang di dalamnya, dan menatap altar berukuran sedang di hadapannya. Ia tersenyum sambil menghampiri altar dan bersimpuh di altar gereja. Haejin memejamkan matanya, menangkupkan kedua tangannya dan mulai berdoa.

“Tuhan.. terima kasih sampai saat ini Kau masih ada bersamaku, terima kasih selama ini Kau memberiku banyak orang yang menyayangiku, terima kasih untuk semuanya.. aku bahagia, entah sudah berapa kali aku mengatakan ini tapi sungguh aku bahagia sekali..”

Haejin apartment

Donghae menyeret koper berwarna hitam masuk ke kamar Haejin, ia meletakan koper itu tepat di sisi tempat tidur Haejin. “Beres deh..” ujarnya.

Donghae memperhatikan sekeliling kamar Haejin yang sedikit berantakan, “Kebiasaan seperti ini mau dibawa sampai nanti menikah? Dasar gadis jorok.”

Dengan sigap Donghae mengambil kertas-kertas yang berserakan di bawah meja, “Kerjaan lagi.” Desis Donghae sambil memperhatikan lembar document kerja milik Haejin.

Brrrukkk…!

“Aishh.. appo…” jerit Donghae saat sebuah kardus kecil jatuh dan menimpa kakinya, semua isinya berserakan keluar.

“Anak ini hobi sekali mengoleksi kertas.” Cetus Donghae sambil memberesi lagi kertas-kertas yang jatuh.

“A-apa ini?” tangan Donghae bergetar sambil memegang selembar kertas di tangannya.

“Aku pulang..” Haejin membuka pintu apartement nya dan senyum tersungging di bibirnya melihat Donghae tengah menyambutnya.

“Sudah lama?” tanya Haejin.

“Begitulah.. aku sudah memberesi apartementmu dan koperku juga sudah aku siapkan disini.” Ujar Donghae dengan sedikit berteriak karena Haejin sedang meletakan tas dan jaketnya di kamar.

“Ne.. aku sudah melihatnya sayang..” sahut Haejin.

“Duduklah.. aku sudah menyiapkan makan malam juga.” Seru Donghae.

Haejin berjalan menghampiri Donghae yang sedang sibuk menyiapkan mangkuk nasi dan lauk pauk, “Kenapa Cuma berdiri? Apa cara makan disini sudah berubah menjadi standing dinner?”

“Hehehe… sejak kapan pacarku yang tampan ini pintar memasak?” ledek Haejin.

“Makanya jangan sibuk dengan pekerjaanmu terus, jadi tidak tahu kan pacarmu ini kadang ikut training memasak?”

“Aigo.. jeongmal??”

“Hehehe.. sudah, makanlah..”

“Haejin-ah.. sebenarnya apa yang kau sembunyikan dariku selama ini?” Donghae membatin sendiri sambil memperhatikan Haejin yang mulai lahap makan.

Keesokan harinya Haejin berpamitan untuk berangkat kerja, sementara itu Donghae sendiri juga berangkat menuju kantornya. Donghae sudah memutuskan untuk tinggal bersama Haejin sampai nanti tanggal pernikahan mereka di tentukan.

“Hati-hati sayang..” ujar Haejin sesampainya di depan kantor sambil melambaikan tangan pada Donghae yang tersenyum di balik kaca mobil.

Donghae memasukan persneling mobil dan memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, namun tanpa sepengetahuan Haejin tiba-tiba Donghae memutar balik setirnya menuju kantor Haejin lagi.

Seoul National University Hospital, itu tujuan Donghae sekarang, ia tak peduli dengan pekerjaannya hari ini, ia tak peduli dengan atasannya yang bisa saja akan memecatnya detik ini juga, yang ada di kepalanya hanya satu.. memastikan sesuatu yang di rahasiakan Haejin darinya.

“Haejin..” Donghae memperhatikan Haejin yang baru masuk langsung di sambut seorang pria yang di ketahui Donghae adalah sahabat Haejin yaitu Seulong.

“Ongie-ya.. mian aku telat lagi. Hehe..”

“Itu sudah menjadi kebiasaanmu Lee Haejin.”

“Mian.. hehe..”

“Ya sudah, sekarang apa kau siap?” tanya Seulong.

Yes sir….” sahut Haejin mantap.

Donghae mengikuti lagi setiap gerak-gerik Haejin dan Seulong hingga membawanya ke suatu ruangan yang sepi dan terlihat tertutup. Haejin dan Seulong masuk ke sebuah ruangan yang Donghae sendiri tidak tahu ruangan apa itu. Namun selama Donghae menguping pembicaraan antara Seulong dan Haejin di dalam ia sering mendengar suara-suara mesin, entah apa itu.

“Oke.. sekarang kita langsung chemotherapy.” Samar-samar Donghae mendengar suara Seulong yang mengatakan tentang chemotherapy.

Donghae menggelengkan kepalanya, ia bingung, tak mengerti apa yang saat ini ia lakukan.

Brrrukk.. “Ah jeosonghamnida…” ujar Donghae panik.

Dua perawat itu hanya berbisik sambil memandang Donghae, “Dasar pria..” cetus perawat berkaca-mata.

“Eh.. apakah gadis itu datang lagi?” tanya perawat berkaca-mata itu kepada rekannya.

“Sepertinya begitu, ini jadwalnya untuk terapi.”

“Cishh.. dia memanfaatkan Dokter Seulong untuk berobat gratis disini.” Cibir perawat berkaca-mata itu.

Donghae tercekat, saat itu juga ia menahan dua perawat itu meminta penjelasan dari ucapan mereka tadi.

-JinHae-

“Mian.. tapi beri aku waktu lagi untuk itu, aku bukannya menunda tapi aku hanya ingin mempersiapkan diriku saja.”

“Wajahmu pucat, kau sakit?”

“Anni.. mungkin ini efek dari jalan-jalan kita tadi.”

“Bagaimana kalau kita menikah di musim panas?”

“Aku tidak suka panas..”

“Kalau begitu musim dingin?”

“Bagaimana kalau tidak usah menikah? Hehehe…”

“Aku mencintaimu…”

“Nado..”

“Rumah Sakit Internasional Seoul? Leukimia mielositik? Chemotherapy?”

Peristiwa-peristiwa itu terus melintas di pikiran Donghae seperti sebuah slide photo atau sebuah tayangan televisi, air mata Donghae mengalir. “Pabo…” desisnya.

Krieeet… Donghae menoleh saat pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah Haejin bersama Seulong dengan sebuah dokumen di tangan Haejin. Wajah Haejin pucat, sementara Seulong menampakan wajah sedih. “Gwenchana..” Donghae dapat membaca gerak bibir Haejin. Seorang perawat tampak membawa sebuah kursi roda untuk Haejin, dan detik itu juga Haejin duduk di kursi roda menuju ruangan lain.

Di luar Donghae melihat Haejin yang terbaring lemah dengan beberapa selang infus dan berbagai peralatan canggih di dalamnya, “Kenapa kau tidak memberitahuku?” batin Donghae, ingin rasanya ia masuk namun langkahnya terhenti saat ia mengingat surat yang ia temukan beberapa waktu lalu di kamar Haejin.

Hae… jika suatu saat nanti kau menemukan surat ini mungkin aku sudah tidak ada di sampingmu lagi, tapi aku mohon jangan salah paham.. pertama aku ingin menjelaskan apa yang selama ini aku sembunyikan darimu, alasan-alasan yang membuatku menunda menikah denganmu. Pertama aku ingin mengucapkan terima kasih karena membawa warna baru dalam hidupku, terima kasih karena kau sudah mencintaiku dengan tulus, aku tidak tahu berapa banyak air mata yang harus aku keluarkan untuk menulis surat ini. ^^

Lalu.. untuk hal yang aku sembunyikan.. mianhae.. aku tidak ingin menjadi beban untukmu, dokter memvonis hidupku hanya setahun tapi Tuhan ternyata memvonis hidupku sampai selama ini.. Ia juga mengirimmu untuk menemani waktu terakhirku, aku sangat senang.. kau tahu? Aku sangat ingin menikah, mempunyai anak kembar, melihatmu setiap pagi membenarkan posisi dasimu saat kau akan pergi kerja,tapi aku harus menunda itu semua.. aku sadar umurku hanya sebentar, aku tidak ingin membuatmu menangisi kepergianku, aku ingin pergi dengan melihatmu tersenyum seperti biasa.. Ikan ku sayang, Donghae ku.. aku sangat mencintaimu… saranghae…

Flashback

“Donghae hyung mau tinggal bersamamu?” tanya Seulong.

“Iya, hari ini setelah pulang kantor.” Jawab Haejin.

“Kalau begitu kau harus memberesi berkas-berkas rumah sakit Haejin.”

“Tenang saja, aku sudah menyimpannya..”

“Haejin bukankah mulai besok kau harus di rawat inap?” Seulong mengingatkan.

“Iya dokter Seulong.. semakin aku tutupi pasti semakin cepat juga Donghae tahu, aku ingin menghabiskan satu malam bersama Donghae di rumah makanya aku mengijinkan dia tinggal di rumah. Lagipula, aku ingin Donghae ada di sisiku saat aku di rawat nanti, itu akan menjadi pembelajaran untuknya jika nanti aku pergi.” Ujar Haejin.

“Haejin… apa yang kau katakan?? Kau harus yakin bisa sembuh..” Seulong menggenggam tangan Haejin.

Haejin hanya tersenyum simpul sambil mengangguk, “Gomawo..” ucapnya.

Donghae berjalan lunglai, matanya memerah, rambutnya berantakan, dasi dan jas coklat yang ia kenakan ikut berantakan.

“Hyung..” samar-samar Donghae mendengar ada yang memanggillnya dari belakang.

“Hyung…” Donghae berhenti dan menoleh ke belakang, Seulong melambaikan tangannya dan berlari kecil menyusul Donghae.

“Katakan padaku.” Donghae mencengkeram bahu Seulong keras.

“Hyung… tenanglah.. aku juga ingin menjelaskan semuanya.” Sahut Seulong.

“Katakan..!” seru Donghae.

“Haejin sudah lama mengidap penyakit itu, dan pernah beberapa tahun lalu sebelum bertemu denganmu Haejin di vonis hanya bisa hidup setahun, tapi mungkin ini keajaiban dari Tuhan Haejin masih bisa bertahan sampai sekarang.”

“Kenapa dia tidak mengatakannya padaku??”

“Hyung.. maafkan Haejin, ia takut kau meninggalkannya sama seperti Taecyeon meninggalkannya dulu karena mengetahui umur Haejin tidak akan panjang.”

“Aku ingin bertemu Haejin..” Donghae berlari meninggalkan Seulong yang memanggil-manggil namanya dari belakang.

“Haejin.. Haejin…” panggil Donghae lirih.

Cklaak.. Donghae membuka gagang pintu kamar VIP yang di tempati Haejin, ia melihat Haejin tersenyum ke arahnya.

“Sudah datang?” tanyanya dengan santai tanpa ada beban apapun.

“Wae? Kenapa kau jahat sekali padaku?” tanya Donghae dengan wajah sedih.

“Jahat? Kau kenapa?”

“Haejin…”

Haejin tersenyum lagi, “Mian.. sepertinya aku tidak pandai menyembunyikan sesuatu darimu.” Ujar Haejin.

Donghae langsung memeluk Haejin yang terbaring dengan di temani selang infus, “Hae.. jangan begini nanti kalau ada yang masuk bagaimana?”

“Biarkan aku memelukmu sebentar saja.. aku merasa bersalah padamu mengira kau mempunyai pria lain karena..”

“Karena menunda pernikahan?” tebak Haejin.

“Haejin…” air mata Donghae tak terbendung lagi.

Haejin membalas pelukan Donghae, “Mianhae…” ucapnya. “Aku hanya takut jika..”

“Jika aku meninggalkanmu karena aku tahu kau mengidap penyakit ini?”

“Donghae-ah…”

Donghae melepas pelukannya dan menatap Haejin, “Haejin.. aku tidak akan pernah meninggalkanmu, walau kau menyuruhku pergi dari kehidupanmu aku tetap akan berdiri bersamamu, kau mengerti??”

“Harusnya kau pergi meninggalkan aku Hae.. sekarang akulah yang merasa bersalah karena tidak membiarkanmu pergi dari sisiku, aku egois, aku hanya memikirkan kesenanganku saja.”

“Aku akan bersamamu, merawatmu sampai kau sembuh. Jangan pernah berpikir aku akan meninggalkanmu, dan jangan pernah menyuruhku untuk pergi dari sisimu, karena yang aku punya hanya kau, dan begitu juga denganmu, yang kau punya hanya aku Haejin.” Ujar Donghae.

“Tapi aku nanti..”

“Kau akan sembuh, percayalah padaku.”

Di luar kamar Seulong yang melihat adegan dramatis itu ikut menitikan air matanya, yang membuat ia merasa yakin bahwa pasangan kekasih itu akan abadi adalah dari sifat mereka, ‘Percayalah padaku.’ Ucapan itu terus keluar dari mulut keduanya. Ya, hal yang membuat keduanya sanggup bertahan adalah kepercayaan.

-JinHae-

Few years ago

“Dingin?”

“Huum..”

“Baiklah…. bagaimana kalau kita menghangatkan tubuh di dalam? Ada gunanya juga kan ayahmu ini memasang ondol di dalam rumah.” seorang pria menggendong anaknya di pundak, musim dingin yang baru saja tiba membuat sepasang ayah dan anaknya menggigil dan memilih masuk ke rumah.

“Donghae-ah…”

“NE??” dua pria yang ada di sebuah rumah mungil itu menoleh bersamaan saat mendengar nama mereka di panggil.

Ayah dan anak itu saling berpandangan lalu menoleh lagi ke seorang wanita yang melongok dari dapur sambil memegang spatula.

“Memanggil siapa?”

“Tentu saja Donghae junior.”

“Jadi begitu? Sekarang ada Donghae yang lain aku jadi nomor dua?” pria itu menghampiri istrinya dan melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.

“Aku sedang masak Hae..”

“Hmm.. aku bantu ya.” Donghae menjatuhkan kepalanya di bahu Haejin wanita yang ia nikahi beberapa tahun silam.

“Ini yang kau sebut membantu?”

Donghae terkekeh sembari melepas pelukannya, “Iya iya sayang… aku akan menyiapkan peralatan makan di meja.”

“Hei Donghae… bantu appa menyiapkan peralatan makan..” seru Donghae pada anaknya yang sedang asik memainkan gitar mainan. “Eh? Anni.. Poppa..” Donghae meralat ucapannya sambil melirik anaknya yang entah mengerti atau tidak pembicaraan Donghae.

Di dapur Haejin cekikikan sendiri melihat tingkah anak dan suaminya, melihat Donghae berputar-putar mengelilingi meja makan sambil menari, dan Donghae junior hanya melihat aksi aneh ayahnya. ==”)

“Makanan sudah siap..” Haejin keluar dari dapur sambil membawa mangkuk besar sup kentang dan beberapa makanan yang lain.

Donghae tersenyum saat Haejin menuangkan nasi di mangkuknya, inilah impiannya.. menikahi wanita yang ia cintai, mempunyai anak, dan hidup di sebuah rumah mungil yang tidak terlalu luas namun hangat. Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi beberapa tahun silam, ia teringat perjuangan Haejin melawan penyakitnya, ia bangga dengan Haejin, ia sanggup melewati semuanya sampai saat ini, ia berjuang melawan penyakitnya, berjuang melahirkan seorang anak untuknya walau kemungkinan 90% mengakibatkan Haejin tidak selamat, namun Tuhan sangat menyayangi Haejin hingga sampai saat ini Haejin masih di beri umur dan kesehatan.

“Aku siapkan juga obat-obatmu.” Ujar Donghae.

“Biar aku saja nanti.” Cegah Haejin.

“Sayang.. dari tadi kau berkutat di dapur nanti kecapean.”

“Kan itu sudah menjadi tugasku, aku ingin menjadi istri dan ibu yang baik.”

Donghae tersenyum sambil mengelus pipi Haejin, perlahan wajahnya mendekat hendak mencium Haejin.

“Momma..Poppa…” Donghae dan Haejin menoleh bersamaan ketika anak mereka memanggil mereka sambil mengacak-acak mangkuk makanannya sendiri.

“Ckck.. nak.. baru saja poppa ingin memberimu adik.”

Haejin tertawa, “Aah… Donghae sayang… anak Momma pintar…” Haejin mengacak-acak rambut anaknya.

“Nanti malam kita beri Donghae adik perempuan.”

“Memang dia minta?” tanya Haejin.

Donghae menggeleng, “Aku yang minta.” Jawabnya dengan sekali cengiran.

“Dasar genit..!” seru Haejin.

“Itu kan tugas kita..” sahut Donghae tak mau kalah.

“Itu kan mau mu.”

“Donghae-ah.. lihat Momma mu tidak mau memberimu adik, bagaimana kalau kau memaksanya? Jangan sampai Poppa yang memaksa..”

“Ya.. mau apa?”

“Mau bikin anak.”

“Yadong!”

“Hehehe.. mau mau malu kan? Eh bukan malu malu mau ya?”

Haejin dan Donghae tertawa bersama, sementara anak mereka Donghae junior masih sibuk dengan mengacak-acak makan siangnya.

You became a bright light to me, who was exhausted by the world

Even if winter comes at the end of this narrow road we walk together

If you would hold my hand, to me, this rough world will be like spring days

How great is your love

How great is your love

FIN….

A/N : Annyeong.. ^^ semoga ff ini ga bikin mood kalian naik turun ya.. hehehe.. khususnya Haejin aka Nisya sang main cast, hehe.. maap bgt klo ceritanya gaje, ngalor ngidul ga karuan karena yaaaa inilah yang ada di otak saya.. hohohoho.. aduhhh mau ngomong apa lg yaaa? #plaaak.. yg pasti mau bilang selamat..selamat..selamat buat blog Jinhaexy semoga tmbh eksis di dunia per-fanfictionan lah.. hihihihi… sekali lagi maap klo ff’ny kepanjangan binti gaje pisan.. tp ini ntr d’share d’blog ga ya? Haha..

42 thoughts on “{SongFic Contest – JinHae Winner} How Bright Is Your Love

  1. kirain td -itu -itu si haejin…haejin m*t*
    ternyata-ternyata dy bertahan,selamat,sembuh,punya anak pula…dan semua krena CINTA DONGHAE…hueeee…..#lapidung/sroooot#

    jgn sampe si donghae manduda bayo lahh..rada gk rela sy..XP

    nisya gk slh pilih ni ff..sesuai dgn lagunya…

    tp lucu jg nama anak jinhae donghae jg,bs dibayangkan klu si momma manggil pasti dua-duanya nyahut.. kkkkkk….

    yeaaa…intinya cinta yg tulus bsa mengalahkan semuanya…..#hiiinnk#

    chukkae bwt author yahhh…hadiahnya tagih sma nisya n eris sono. #plakkplakk .

    • iy prtma jg bngng mw bkin sad ending ato happy ending, eh bertapa bbrpa mlm brg Ming oppa trnyata membuahkn hsil (??)😄
      gomawo chingu.. ^^ iy hadiah’ny ud sy tagih via twitt.. *plaaak

  2. momma ke gereja? serius? tumpengan boleh? hahahahaha
    cie untung mommanya nggak die,kasian poppa nanti.
    aigo kenapa nama anaknya donghae juga. aku kira sea sky hehehe

    keren ceritanya🙂

    cukhae yah udah menang🙂
    kalo urusan yadong momma dan poppa memang jago dalam hal ini kereenn

  3. uwah~ happy ending yah?:)
    critanya bagus kok..:D eh, itu jd anaknya momma-poppa namanya donghae juga?

    jujur aku kurang dpt feel, tp itu kyanya salah hape saya yang justru muter lagu bhagia smentara critanya sedih2 mengharu biru(?) wlaupun happy ending begini../sigh/

    komennya cukup kali yah?xD juga chukkae buat pmenang..! smoga kdepannya bisa lebih keren lg tulisannya:D babay~~

  4. Sprti biasa…. BRAVO!!!!
    Onnie-ya.. keren skali epep.y🙂 so romantis.. bnr bgt crita.y ssuai sm lgu.y krkter jg dot bgt,, chukkae yaa onn!!! :))
    HAPPY ANNIVERSARY JINHAE😀

  5. wahh chukae ya bwt author nya… kan udah menang…

    ehmmm menurut aku ini kurang panjang #plakkk
    wkwkwk
    bagus loh sedih ceritanya tp krg brasa hrsnya tampilin aja pas lg berjuang ngelawan penyakitnya pasti lebih jleb lagi…
    tp ini udah kerasa sih… hehe

  6. eyy aku kra bkal sad tpi tdk jadi , hehehe keren keren

    crtax ringan ,banyak ff serupa yg ku jumpai , tpi ini cara penulisan udah bgus bnget , feelx dpet bnget , aku mewek pas diruang rawat itu , aduh dramatis banget dan ngakak pas bgian cincin itu bwahahaha donghae donghae . .ckckck

    buat authorx trus brkarya ,ffmu ini daebak

  7. aku bingung baca percakapan pas ada anaknya. namanya sama-sama Donghae wakakakk
    Uwaaa~ cinta mengalahkan segalanya ya
    Jjang!!

  8. duh… mau bilang apa lagi??!!! ini bagus!!!
    feelnya dapet bgt. suka bgt part hae nglamar pake acara cincinnya ketuker, konyol tp unyu maksimal… xD

    keren… :)))
    chukkae ya buat yg mnang…

  9. awalnya dah suuzon,kirain bakalan sad ending,ternyata…….berkat cinta Hae,Haejin bisa bertahan,,suka deh!selamat ya buat yang menang..

  10. yeee….happy ending😀
    kirain tadi bakal sad ending, syukur bukan😀
    haejin daebak, bisa bertahan selama itu, umur emang cuma tuhan yang tahu berapa lama🙂
    pasti lucu kalau haejin manggil donghae, dua-duanya jawab🙂
    ayo buat adek buat donghae junior, adek perempuan ya🙂
    chukae bua buat yang menang😀

  11. Aahh ceritanya so sweet~
    untunglah JinHae nikah juga,
    anaknya kenapa Donghae juga? Kirain mau kembar~”

    Chukkae buat pemenang ff ini,
    dan Happy anniversary JinHae~ moga langgeng!

  12. mworago? ini apaan? kok bkin emosi sya naek trun? haaahaha.. suka bgt karakter Jinhae dsni.. >o<

    sweet, lucu, sad, huuaa.. nano2 banget. tpi knp nma ank'a bkan sea sky? xp

    btw, prtma x bca, lngsung treak, DUOMo SQUARE? MILAN? WUUAA.. DEMI APA ITU TMPAT IMPIAN SAYA STLAH GRUYERES, VENICE, BRUGES, AMA SEGOVIA.. *mlah curhat*

    ok. skian dri saya… mau msuk kls dlu, da ujian geografi.. bubye.. *peluk cium bwt author'a*

  13. haahhh.. Syukurlah,,Ku kira haejinnya bkal terjadi sesuatu.. *elus dada*

    ceritanya manis bgt^^ *suit suit*
    penantian lamaran hae yg lama gak berahir sia sia..

    tp pas di hampir ending,feelnya berasa mendadak berubah.. Kayak ngebut ngebut gimana gitu..
    Ahh maap..gak maksud kurang ajar,cm kemuka pendapat aja.. Seriusan.. ^^ *cium authornya*

  14. waaah congrats ya buat yang menang😀

    aku kira bakal sad ending ._.v
    pas ngelawan penyakitnya kurang greget sedikiiitt…
    tapi bagus ceritanya ><

    donghae junior wkkwkw
    kesian donghae seniornya (?)

  15. aigooo aigoo… baca songfic ini bikin hati was-was… untunggg happy ending… kirain haejin bakalan meninggal… kereeen keren😀

  16. Pas liat awalnya.. Posternya wah DAEBAK!!! apalagi ini winner, jd penasaran ama ceritanya..
    ceritanya bagus, cara penceritaannya keren, tp gk tau knp aq kurang dpt feel-nya.. mianhae thor.. Aq ngerasa klo seandainya ceritanya fokus ke perjuangan Haejin buat sembuh demi Donghae bakalan Daebakkk bgt.. Coz jarang ada FF yg ceritain punya penyakit tp Happy End..
    Just my opinion.. Jgn marah yah thor.. Tp over all, aq suka FF-nya..😀

  17. uwaaaa~ ini sweet banget.. suka banget sama karakter jinhae-nya..
    eo dan lagi itu akhir ceritannya unyuuuu beuuud #alay kumat
    pokonya itu akhirnya siswanto banget, aku sampai senyum2 bacanya🙂
    udah gila, jadi berasa gila deh hahah~

  18. Oalaashh ternyata haejinnya sakit ckck
    Itu haejinnya tadi .udah sembuh??
    Akhirnyaa JinHae punya anak juga kkk~
    Nice ff ^^

  19. yeeeyy.. epi ending..
    baca awal kirain bakal sad ending..
    ternyata haejin berhasil melawan pnyakitnyaa,, n bs melahirkan anak buat donghae..
    selamat deh.. wkwkkww

  20. wah, aku pikir bakalan sad ending….
    trnyata happy ending…😀

    kekuatan cinta’y luar biasa, Tuhan bener2 syg ma JinHae.. >,<

    cukhae bwt author, ff'y keren…🙂

  21. wuaaaaa~~~~ untung aja ga sad ending >.< tp asli FF ini bikin emosi naik turun, kereeeeeen!! itu nama anaknya bnr2 lee donghae jg? kkk~ lucu bgt bgitu haejin blg "donghae~ya" lgsg nengok itu bpk sama anak..😄 anyway chukkahae buat authornya! ^^

  22. huwaaaa taec jahaaaaat !! *tendang*
    ya ampuuun :3
    dan ujungnya .. SETUJU SAMA NISYA ONNIE !
    itu mah emang khas nya skinship kopel😀
    eh tp haejin tumben ga mau XDD *toeltoel*

  23. sebenernya aku gk tau lagunya, tapi gara2 ini songfic aku jadi donlot

    lagunya *jleb(?) kena di hati, ff jugaaaa

    donghae kecil ganggu ah wkwkw

  24. saya udh baca dan belom koment di siniiii…. *mian* #hug
    chukkae buat yg menang,,,,
    alhamdullilah…haejin selamat…sumpah yee gak bisa bayangin betapa menderita+sengsara’x si hae klo ternyata si haejin gak selamat…
    Haejin daebak deh…sampe punya aegi juga…daebakkk..

  25. nah, nah, blm komen jg d sni..

    ini songfic emg beda ma karakter jinhae bysax..
    tp ttp enk dbca..
    haejin onnie knp hrz nutupi dr donghaeppa soal sakit ntu?
    tp akhrx tw kn haeppa.nya..

    happy ending nech..
    dan ad donghae kecil,
    wah, wah, pgn tw kalo ad bnran..
    #plak
    bwt author fighting

  26. Akhirnya Haejin sembuh juga . Taec kejem ih , masa ninggalin gara gara umur .
    Itu nama bapak sama anak sama kasian kalo manggil , jadi bingung , dua duanya noleh .
    Hey , Donghae jr , jangan dengarkan omongan poppa momma mu , ntar ketularan virus yadong loh .
    Sisi lain dari JinHae , Daebakk !

  27. Waaaa keren banget kekuatan cintanya ah donghae junior hahahaa keren keren! Selamat ya onnie menang😀

  28. menipu!
    aku kira, haejinnya bakal udahan… eh, sembuh.. o.oa
    amazing…
    hm.. yang kurangnya kalo kata aku, kan “how great is your love” ya, trus itu haejin bertahan hidup karena ada penyemangat yaitu cinta donghae…
    yang kurangnya itu.. scene perjuangannya.. gimana hebatnya gitu.. o.oa

    udah sih itu aja.. ^^a
    mian kalo sarannya ngaco, hhe.. ^^v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s