{SongFic Contest – YeWook Winner} Sunflower

Title : Sunflower

Author : Orin Arselly

Genre : Romance,  Friendship

Main Cast :

  • Kim Yejin
  • Kim Ryeowook
Soundtrack : Gavy NJ ft. SunnySide MJ – Sunflower (Haebaragi)

Sunflower…

Pedal sepeda itu terus terayun oleh sepasang kaki  yang kuat. Rodanya terputar cepat, menyusuri jalan setapak kecil di daerah perkebunan teh Daegu. Seorang pria dengan seragam coklat terus mengayuh sepeda itu dengan semangat, sementara gadis berambut coklat yang membonceng di belakang nampak tertawa lepas sambil memeluk pinggangnya.

Pemandangan itu menampakan kebahagiaan yang sempurna. Hingga kemudian, langit yang semula cerah mulai tertutup awan kelabu. Mendung. Abu-abu..

“Aish.. Wook-ah, sepertinya akan hujan…” keluh gadis itu.

Ryeowook mengayuh sepedanya lebih kuat ketika melewati jalan menanjak, “Kenapa, Kim Yejin? Kau tidak suka hujan?”

Yejin menggeleng, “Langit abu-abu akan menutupi matahari!”

“Kau suka matahari?”

“O…” angguknya, kemudian memeluk pinggang Ryeowook lebih erat, menyandarkan kepalanya ke punggung pria itu, “Karena matahari itu seperti kau..”

Ryeowook berjengit bingung, “Sepertiku?”

Yejin kembali mengangguk, menyembunyikan senyuman kecilnya di belakang punggung Ryeowook, “Selalu memberiku kehangatan..”

Dan detik berikutnya, tanpa perlu diketahui seorang Kim Yejin, Ryeowook mencoba  menyembunyikan sebuah senyum bahagia. Sejujurnya ia memang tersipu. Bagaimana tidak? Setelah setahun mereka menjadi sepasang kekasih, ini kali pertama Yejin mengucapkan kalimat semanis itu untuknya. Matahari?

Lalu hening untuk beberapa waktu. Namun hujan tak juga turun walau langit masih saja mendung. Ryeowook memelankan laju sepedanya, ia menekan tuas rem dan menepikan kendaraan tak bermesin itu di sebuah kawasan sepi di luar wilayah perkebunan teh. Ini adalah tempat yang dipikirkannya selama keheningan tadi..

Yejin berjengit. Gadis itu tak beranjak turun, tetap duduk di boncengan sepeda dengan posisi menyamping, “Uri eodiya?”

Ryeowook tersenyum kecil. Ia turun, kemudian berdiri tepat di hadapan Yejin, merapikan poni Yejin yang sedikit berantakkan terterpa angin, “Sebuah tempat dimana kau akan menemukan ratusan matahari..”

Yejin mendongak keatas, “Huh? What the sun?”

“YA! Bukan keatas! Menengoklah ke belakang!” jitak Ryeowook, gemas.

Yejin melotot sadis dengan bibir mengerucut sebal. Gadis itu mengusap-usap kepalanya sambil bersungut, “Yaishh.. Appo! Lagipula kau ini mau membodohiku atau apa? Mana mungkin ad.. SUNFLOWERS!!!”

Gadis itu tak bisa menahan dirinya untuk tidak memekik girang saat menoleh ke belakang. Kekesalannya sirna seketika. Ya… bagaimana bisa kau merasa kesal jika hamparan bunga matahari yang bermekaran di musim semi kini terpampang indah sejauh pandanganmu?

“Kau suka?” tanya Ryeowook.

Yejin mengangguk puas. Dan detik berikutnya, ia langsung berlari menerobos padang bunga-bunga kuning itu sambil terkekeh riang. Ryeowook berlari mengejarnya. Yejin memekik histeris dan berlari menerobos lebih cepat. Keduanya berkejar-kejaran di tengah padang penuh bunga matahari itu, hingga kemudian Ryeowook berhasil menangkap pinggang Yejin dari belakang dan mengunci gadis itu dalam pelukannya.

“Nah, karena kau bilang aku adalah mataharimu. Maka kau adalah bunga matahari untukku..” bisiknya, pelan.

“Gomapta..” balas Yejin, tersenyum.

“Kau tau kenapa bunga-bunga ini dinamai bunga matahari?”

Yejin mendongak pelan tanpa melepaskan tangan Ryeowook dari pinggangnya, “Karena bentuknya mirip seperti matahari?”

Ryeowook terkekeh, ia menatap sepasang mata coklat Yejin dalam-dalam, “Tidak hanya itu. Bunga ini punya keistimewaan lain..”

“Keistimewaan lain?” tatapan Yejin penuh rasa penasaran. Ia melepaskan tangan Ryeowook dari pinggangnya, kemudian memutar badan menghadap kekasihnya itu.

Ryeowook tersenyum, ia memetik setangkai bunga matahari kecil di sampingnya, lalu menyodorkannya dengan manis pada Yejin, “Sunflowers, selalu tumbuh dan bergerak mengikuti matahari..”

“Jincha?”

Ryeowook mengangguk, tangannya beralih mengacak-acak rambut Yejin, “Karena itu, aku ingin kau jadi bunga matahariku. Agar kau selalu tumbuh dan bergerak, maju dan melangkah mengikutiku. Selalu bersamaku..”

Yejin memejamkan matanya, menghirup aroma bunga kuning di tangannya itu dalam-dalam, kemudian tersenyum, “Emmm… Lalu saat malam tiba dan matahari pergi untuk waktu yang lama, maka aku akan diam dan menunggu. Tetap setia menunggu sampai pagi datang dan matahari kembali lagi untukku, kembali untuk membimbingku…”

Ryeowook menyipitkan matanya saat mendengar kata-kata Yejin, “YA!! Kenapa kau berkata seolah-olah aku akan meninggalkanmu?”

Yejin terkekeh, ia mencabut satu kelopak bunga matahari di tangannya, “Mungkin saja nanti kau akan meninggalkanku..”

Ryeowook ikut mencabut satu kelompak bunga di tangan Yejin, “Aku tidak akan meninggalkanmu!”

“Siapa tau suatu saat kau meninggalkanku..” Yejin mencabut kelopak lainnya.

Ryeowook mencabut kelopak lainnya lagi, “Sampai kapanpun aku tak akan meninggalkanmu!”

“Mungkin kau akan pergi…”

“Aku tidak akan pergi!”

“Mungkin kau akan pergi dan meninggalkanku walau sebentar..”

“Tak akan terjadi!”

Jemari Yejin menggantung di kelopak bunga kuning itu lagi, “Ya, kan hanya seandainya saja..”, dan satu kelopak kembali tercabut,

“Bahkan walau hanya ‘seandainya’, aku tidak akan meninggalkanmu, Kim Yejin!” Ryeowook dengan tegas mencabut kelopak kuning terakhir yang menggantung, “Aku akan selalu bersamamu dan tak akan meninggalkanmu, itu pasti!”

Yejin terkekeh puas, “Memangnya sampai kapan kau akan selalu mencintaiku?”

Tawa Yejin terhenti saat kedua tangan hangat Ryeowook menangkup wajahnya, “Sampai tak ada lagi satupun bunga matahari yang mekar di dunia ini..”

“Benarkah?”

 

기다릴께여기있을게마지막사랑너란아니까

gidarilkke na yeogi isseulge majimak sarang nan neoran geol anikka

(Ku akan menantimu, akan tetap di sini, karena aku tahu kau adalah cinta terakhirku.)

잊지마시간이흘러도내게온다면다신놓지않아

itjima sigani heulleodo naege ondamyeon dasin neol nochi anha

( Jangan lupakan, waktu terus berlalu, bila kau kembali padaku, kau tak akan kulepas.)

 

——

“Benarkah?”

Aku mendesah pelan diantara rasa sesak dan harap. Memory itu kembali teputar lagi dalam otakku. Semakin jelas. Kenangan kita. Aku, kau dan bunga-bunga matahari itu. Apa kau masih ingat? Kau pernah mengatakan bahwa kau akan selalu bersamaku dan tak akan meninggalkanku, apa kau ingat?

Benarkah semua kata-katamu dulu? Atau hanya sebuah dusta dengan saksi bunga-bunga kehangatan itu?

Ya, mungkin dusta. Nyatanya kata ‘seandainya’ yang dulu kuucapkan itu tak lagi menjadi ‘seandainya’ kan? Tapi aku masih ingin percaya. Sedikit saja percaya. Dan aku masih disini sekarang, menunggumu. Menunggumu kembali. Karena selamanya aku akan tetap menjadi bunga matahari kan? Yang akan terus setia menunggu hingga matahari datang dan kembali untuknya..

“Kau sedang apa?” sebuah suara mengusik.

“Menunggu…” jawabku.

“Menunggu apa?” suara itu mendekat.

Kemudian sosoknya sudah berdiri di sebelahku. Henry. Ia ikut bersandar pada pagar balkon. Sepasang matanya yang sipit itu memperhatikanku. Memperhatikanku yang terus menatap pada jalan setapak gelap sambil memainkan setangkai bunga matahari yang terus menjaga cintaku untukmu.

“Menunggu dia..” jawabku lagi,

Ia mendesah berat, “Tapi ini sudah malam, Jin-ahh. Apa kau akan tetap menunggu bila matahari bahkan telah meninggalkanmu petang ini?”

Aku diam..

“Dia sudah bersama orang lain dan meninggalkanmu, Kim Yejin..” ujarnya lagi, “Meninggalkan apa-apa yang kau simpan diam-diam atas nama kenangan. Mungkin dia bahkan sudah menghapus satu persatu cerita tentang matahari itu dari hidupnya. Mungkin juga dia yang kau tunggu tak lagi mengagumi bunga matahari seperti dulu. Mungkin bunga matahari baginya hanyalah satu dari sekian masa lalunya yang indah. Mungkin-”

“Mungkin karena kau tidak mengenalnya, Henry-ya..” potongku, sedikit sinis, “Dia pasti akan kembali dan aku akan menunggunya..”

Aku tak menoleh, tapi aku bisa mendengar pria itu berdecak kesal, “Lalu bagaimana denganku? Kapan kau akan mulai belajar mencintaiku?”

Aku menelan ludah, “Mungkin kau menganggapku bodoh. Tapi, bagaimana jika aku tidak tau cara untuk mencintaimu? Bagaimana jika hatiku hanya menginginkan dia?”

사랑하나밖에몰라다른사랑할몰라

sarang hanabakke molla dareun saranghal jul molla

(Yang kutahu hanya satu cinta saja , aku tak pernah tahu bagaimana mencintai  yang lain )

오직하나만바라는바보

ojik neo hanaman baraneun babo

(aku bodoh dan hanya ingin kau seorang,,  )

누가내게말을해도너만들리고보이는어떡해

nuga naege mareul haedo neoman deulligo boineun nan eotteokhae?

(Siapapun yang mengatakan padaku, aku hanya mendengar dan melihat kau saja,  aku harus

berbuat bagaimana?)

 

***

“Wook-ahh, otthoke?” cicit Yejin.

Gadis itu menendang kerangka tendanya dengan frustasi. Bagaimana bisa kawat tenda ini tidak mau tegak? Ahh.. lebih dari sekedar itu sebenarnya. Ia terus-terusan berteriak sejak tadi karena kesal melihat Ryeowook yang terus membantu seorang gadis menyiapkan api unggun sambil tertawa-tawa akrab.

“Wookie d’pooh!” teriaknya lagi, benar-benar kesal.

Dengan sedikit tergopoh, akhirnya Ryeowook berjalan menghampiri Yejin yang sudah tampak semrawutan, “Waey?” lalu pandangannya teralih pada kain tenda yang sudah diinjak-injak Yejin, “Aigoo.. ada apa dengan tendanya?

“Bukan tendanya! Tapi hatiku!” ketus Yejin, hiperbolis.

“Heh?”

Yejin mengerucutkan bibirnya, sebal, “Jangan dekat-dekat dengan Lee Kyorin!”

Detik berikutnya Ryeowook sudah tertawa, mengacak-acak rambut Yejin dengan gemas dan tak habis pikir, “Ya Tuhan, Jin-ahh. Kau cemburu? Kyo itu kan sahabatku sejak kecil..”

“Tapi aku tau, dia menyukaimu!” balas Yejin, masih dengan tampang kesalnya.

“Dan aku menyukaimu!” balas Ryeowook, “lalu?”

Yejin menunduk malu, “Lalu aku juga menyukaimu..”

Ryeowook terkekeh lagi, senang sekali rasanya bisa menggoda gadis yang dicintainya ini, “Jadi apa yang kau khawatirkan?”

“Eung…” Yejin memutar matanya, “Suatu saat dia akan membuatmu meninggalkanku?”

Dan pria itu kali ini menganga shock mendengar pemikiran aneh dari Yejin, “YA!! itu tidak akan mungkin!”

“Waey?” rajuknya.

“Karena Kyo adalah sahabatku, dan selamanya tetap sahabatku..” tangan kanannya telurur meraba rambut coklat Yejin, kemudian menyematkan sesuatu disana. Sebuah jepit rambut berbentuk bunga matahari.

“Dan… kemungkinan untuk aku meninggalkanmu karenanya adalah 1 banding 1000..”

——

“Kau bilang itu tidak mungkin kan?” Parauku, “Ternyata satu kemungkinan dari seribu ketidak mungkinanlah yang terwujud..”

Aku tersenyum miris, menatapmu dari kejauhan mata. Kau tengah bersamanya sekarang, duduk berhadapan di sebuah kedai ramen. Kau menyuapinya dengan manis, menyeka keringatnya dengan sapu tangan, mengusap sudut bibirnya dengan jemarimu. Lalu kau tersenyum. Senyum tulusmu yang dulu adalah milikku. Senyum tulusmu yang kini mungkin hanya untuknya..

Ya, dia. Gadis itu. Gadis yang dulu selalu kau bilang sahabatmu. Gadis yang diam-diam menyimpan rasa padamu. Gadis yang akhirnya kau pilih. Gadis yang membuatmu meninggalkanku. Gadis yang-

“Kau masih di situ?”

Aku menoleh. Lee Haejin. Gadis yang masih setia menjadi sahabat sekaligus kakakku itu berdiri tepat di belakangku sekarang. Kami berada dalam petak yang sama. Petak penuh ratusan bunga cantik berwarna kuning. Sunflowers. Ya, aku disini sekarang. Berdiri di tengah-tengah padang bunga matahari kita. Sedang kau berada di seberang jalan sana..

“Kau masih di situ, Kim Yejin?” Ulangnya.

Aku mendesah. Sepertinya tak perlu dijawab pun Haejin sudah melihat bahwa aku masih berada di tempat yang sama. Tempat yang sama setiap waktunya, dimana aku mengamatimu yang terus bersama gadis itu, dimana aku mengenang semua kenangan indah kita bersama bunga-bunga kuning ini, dan dimana aku diam-diam selalu menunggumu untuk kembali…

“Ya, seperti yang kau lihat..”

Haejin menatapku tajam. Sepertinya banyak sekali pertanyaan bisu yang diam-diam ia lontarkan lewat sorot matanya. Aku menyambutnya dengan diam. Menunggu ia kembali menyuarakan kalimat demi kalimat tanya. Seperti biasa. .

 “Kenapa kau masih disini?” kejarnya, matanya lalu ikut tertuju pada arah pandanganku yang tak juga beralih sejak tadi. Tempat kau saat ini tengah tersenyum mengacak-acak rambut gadis itu, “Kau disini karena pria itu?”

Aku mengangguk kecil..

Haejin menghela nafas, “Kau yakin pria itu akan kembali?”

“Mungkin..” jawabku, absurd.

“Yaishh.. Kim Yejin!” Haejin bersungut kesal kali ini, “Bagaimana bisa kau tetap disini menunggu ‘kemungkinan’, sedangkan hari yang ‘pasti’ untukmu sudah dekat?”

Ya, dan selanjutnya kubiarkan ia menceramahiku. Seperti biasa. Tentang bakti seorang anak pada orang tuanya. Tentang ikatan yang diresmikan dengan cincin yang melingkar di jari manis. Tentang menjadi suami istri dengan cinta yang akan tumbuh perlahan-lahan. Tentang membangun keluarga yang saling mencintai. Lantas terhenti.

Berhenti?

“Kenapa berhenti?” aku menoleh,

Haejin mendengus, menatapku menghakimi, “Toh jika kuteruskan sampai membayangkan seorang baby pun kau tetap tak akan tersenyum. Dan kau tidak akan pernah bisa melupakannya kan?”

Aku diam. Karena… Ya, dia benar. Aku tidak pernah bisa melupakanmu. Apa-apa yang ada di otakku selama ini hanya tentangmu. Bagaimana aku harus hidup setelah kau meninggalkanku pun aku tidak tau. Bagaimana aku akan terus bertahan untuk menunggumu pun aku tidak tau. Dan mungkin, aku pun tidak cukup tau bahwa diluar sana ada banyak pria lain selain kau..

Sementara disana, di kedai ramen itu, kau beranjak keluar sambil menggendong gadismu pergi. Gadis itu. Lee Kyorin..

Aku memetik setangkai kecil bunga matahari kemudian menghirupnya dalam-dalam sambil memperhatikan sosokku yang kemudian menghilang di jalanan setapak, “Mungkin aku memang tak bisa melupakannya. Dan tak pernah berniat untuk melupakannya…”

나는웃는법도몰라나는잊는법도몰라

naneun utneun beopdo molla naneun itneun beopdo molla

(aku tak  tahu caranya bagaimana tersenyum dan aku tak tahu cara melupakanmu )

오직너밖에모르는바보

ojik neobakke nan moreuneun babo

(aku bodoh… bahwa selain kau, aku tidak tau siapa pun lagi. )

너무사랑했었잖아정말사랑했었잖아

neomu saranghaesseotjanha jeongmal saranghaesseotjanha

(aku sangat mencintaimu… sungguh kutelah mencintaimu )

니가떠나가면어떡해

niga tteonagamyeon nan eotteokhae

(bila kau pergi, aku harus bagaimana..? )

***

Aku memandang lurus ke luar jendela rumah sakit. Basah. Lembab. Hujan turun membasahi Daegu sejak pagi tadi. Tidak ada matahari, dan aku benci itu. Titik-titik air membasahi jendela, membuatnya berkabut. Aku tersenyum pahit, kemudian mengukir sebuah tulisan dengan jemariku di jendela itu..

‘Sun & Sunflower’

“Jin-ahh..” panggil sebuah suara. Aku menoleh, Haejin berjalan kearahku dari arah ruang rawat Eomma, “Aku akan mengantar undangan. Semua harus tersebar sebelum lusa kan? Nah, sekarang kau yang temani Ahjumma ya..”

Aku mengangguk kecil, “Eomma Eodiya?”

“Di ruang kemoterapi..”

Lalu beberapa saat kemudian, setelah Haejin berlalu pergi dan hilang di dalam lift, aku mulai melangkah menuju ruang cemoterapi. Ahh.. Eomma. Maafkan aku, Wook ahh. Andai saja itu bukan keinginan Eomma, aku tidak akan melakukannya. Andai saja itu bukan harapan Eomma tentangku, aku tidak akan terpaksa menyetujuinya. Maaf..

Aku membuka pintu bertuliskan ‘Therapies Room’ di hadapanku itu dan menyeruak masuk kedalam.

“Yejin-ahh..”

Baru saja hendak menutup pintu, detik itu juga aku tercekat. Yang memanggilku tadi, itu bukan suara Eomma. Tapi suara gadis itu. Ahh… apa ini hanya halusinasiku?

Aku menoleh pelan. Dan di dalam ruang terapi itu, ada Eomma, beberapa pasien lain, suster, dan…. ya, memang gadis itu. Lee Kyorin.

“Jin-ahh, kami sudah menerima undangannya dari Kim Ahjumma..” ujarnya lagi, terdengar begitu bersahabat, “Chukkae..”

Ia kembali tersenyum kearahku sambil sebelah tangannya mengapit sebuah lengan. Lengan dengan kemeja putih yang tak asing bagiku. Lengan dengan aroma sunflower yang sama seperti 2 tahun lalu. Aku menelan ludah, mendongak kecil mengikuti lengan yang nampak hangat itu..

Lenganmu, dan kedua mata kita bertemu.

……………………….

Sakit. Perih. Sesak. Sepasang bola matamu yang dulu terlihat damai itu kini menyesakkan untukku. Aku tak lagi bisa menebak emosi apa pun disana. Kau terlalu menutupi segalanya dibalik kedua manik itu.

Tatapan itu lembut, namun menikam. Menusuk. Membuatku ingin lenyap dan tak lagi hidup. Tapi jika aku mati, aku tidak akan bisa melihatmu lagi. Akhh… Sakit. Benar-benar perih. Bahkan saking sakitnya, air mata tak tega untuk mengalir menertawai. Dadaku amat sesak dan sebentar lagi mungkin aku tak akan bisa bernafas dengan baik.

Kenapa? Kenapa saat kita bertatap seperti ini malah terasa menyakitkan?

“Kauu.. apa kau baik-baik saja?” dan suaramu memecah sunyi, lirih.

Tidak. Aku tak pernah merasa baik-baik saja sejak kau meninggalkanku. Aku tak pernah baik-baik saja sepanjang hariku tanpamu. Kau tau? Aku lelah, benar-benar lelah seperti nyaris mati. Tapi aku tak mungkin mengatakan semua itu padamu kan?

Rasanya kosong. Begitu melompong sepeninggalmu. Asing. Begitu tak kukenal hingga terkesan tak bersahabat. Sakit. Perih. Apakah kau juga merasakan hal yang sama kala melangkah pergi meninggalkan ruang hatiku di hari itu?

차마죽지못해살아니가없이하룰살아

chama jukji motae sara niga eobsi harul sara

(hidup segan matipun tak mampu , hidupku ini dengan hari-hari  tanpamu )

숨도없을만큼아파

sumdo swil su eobseulmankeum nan apa

(aku sungguh sakit sampai  aku tak mampu bernafas )

누가내게그러더라그러면서산다더라

nuga naege geureodeora geureomyeonseo sandadeora

(siapapun mengatakan seperti ini, itu, maka begitulah kau jalani hidup )

죽을만큼힘든거니

wae nan jugeulmankeum himdeun geoni

(mengapa aku begitu lelah  serasa akan mati?)

——

“Aku sudah… memilih gadis lain..” suara parau pria itu membuat Kim Yejin tertegun. Sambil meremas tangannya yang dingin dan menekan air matanya kuat-kuat, pria tadi berusaha mendongak menatap sepasang mata di hadapannya.

“Maaf, Jin-ahh…”

Yejin terdiam di tempat. Ekspresi wajahnya datar. Tak nampak tersenyum atau pun marah. Terlalu tercekat.

Ingin rasanya melontarkan beribu pertanyaan untuk pria itu saat ini, tapi sesuatu seolah mengganjal tenggorokannya. Hingga kemudian yang mampu meluncur pias dari bibir tipisnya hanyalah sebuah nama..

“Lee Kyorin?”

Dan pria itu refleks mengigit bibirnya sendiri dengan keras. Tumpukan beton seolah membebani punggungnya hingga ia tertunduk. Tau. Tanpa ia bicara pun gadis itu ternyata sudah tau.

“Wook ahh..” panggil Yejin, begitu lemah, “Kau bilang kau tidak men-“

“Kyorin… sakit..” Ryeowook mendongak, memotong cepat, “Kyo sakit parah dan umurnya mungkin tidak akan lama lagi. Aku harus bersamanya..”

Yejin tersenyum. Untuk pertama kalinya gadis itu tersenyum mendengar nama ‘Kyorin’ dari mulut Ryeowook. Sayangnya, bukan sebuah senyum yang menyenangkan. Senyum itu tertarik pias bersamaan dengan danau bening yang mulai mengisi pelupuk matanya.

“Kk.. kau menyayanginya?” lirih Yejin, suaranya bergetar.

Ryeowook menelan ludah, “Aku.. aku menyayanginya…”

Dan saat itu juga ketegaran Yejin runtuh. Rasa sesak yang sedari tadi menyerang dadanya kini terasa jauh lebih perih. Sementara sepasang mata coklatnya, tak mampu lagi menahan cairan bening yang kemudian mengalir turun dan jatuh tetes demi tetes.

Sepasang tangan hangat Ryeowook beralih merengkuh wajah Yejin. Ia mengusap lembut tiap tetes bening yang mengalir di pipi Yejin dan mengecup puncak kepala gadis yang amat dicintainya itu dalam hening.

“Maaf…”

Kemudian pria itu berbalik. Beranjak pergi..

………………………..

…………………………

“KIM RYEOWOOK!” teriak Yejin kemudian, memecah malam. Kesadarannya seolah baru kembali beberapa detik lalu, “AKU AKAN MENUNGGUMU!”

Tapi pria itu tak menyahut, punggungnya semakin menjauh…

Yejin menyeka air matanya dengan kasar, “AKU AKAN MENUNGGUMU! KAU PASTI AKAN KEMBALI PADAKU KAN?”

 

기다릴께여기있을게마지막사랑너란아니까

gidarilkke na yeogi isseulge majimak sarang nan neoran geol anikka

(Ku akan menantimu, akan tetap di sini, karena aku tahu kau adalah cinta terakhirku.)

잊지마시간이흘러도내게온다면다신놓지않아

itjima sigani heulleodo naege ondamyeon dasin neol nochi anha

( Jangan lupakan, waktu terus berlalu, bila kau kembali padaku, kau tak akan kulepas.)

 

——

“Jin-ahh, kau baik-baik saja?”

Dan suaramu mengembalikan nyawaku dari masa lalu. Aku kembali menatap sepasang matamu lagi, dalam-dalam. Terlihat buram. Aku tidak tau sejak kapan bulir-bulir bening itu mulai menggenang dan membuat kabur pandanganku. Tapi aku tetap tak peduli. Bahkan jika mereka mulai menerobos keluar pun aku tak lagi peduli. Bukankah tangis adalah ekspresi dari sebuah rasa sakit?

Aku tersenyum pias membalas sapaanmu, “Bunga matahari, tak pernah bisa menjadi baik-baik saja saat matahari meninggalkannya kan?”

***

Tempat ini kosong. Tidak seperti saat kita masih saling bicara tentang mentari di situ. Rancu. Begitu buram kenangan yang tertinggal tentangmu. Dan aku tetap terpuruk dalam sesal tentang pergimu. Sepi. Begitu kesepian rasa yang mengacau setiap kali aku datangi tempat ini. Sunyi. Begitu hampa hingga tak ada suara yang sanggup memecahkan hening khayalku lagi. Dingin. Hingga tak ada cahaya matahari yang bisa berikan sedikit petunjuk kemana aku harus mengarah..

………………………………..

………………………………..

Aku diam. Kembali meresapi tiap kenangan yang pernah kita lalui di tempat ini. Tanpa peduli pada satu dua orang yang menatap aneh kearahku sambil memanen biji bunga matahari. Tanpa peduli pada dua tiga anak kecil yang berlari lewat menertawakanku sebagai seorang pengantin yang melarikan diri. Tanpa peduli pada tata rias yang mulai luntur ataupun ujung gaun berenda yang terkotori tanah. Ya, tanpa peduli. Toh aku hanya satu dari sekian banyak bunga-bunga matahari di padang ini..

“Kim Yejin!!” pekikkan itu menganggu.

Aku menoleh pelan. Gadis itu tampak berlari kecil kearahku, menerobos bunga-bunga kuning tinggi itu dengan terengah-engah. Lee Haejin. Harusnya aku tau bahwa gadis itu akan segera menemukanku disini..

Haejin berhenti di hadapanku dan langsung menghardik keras, “YA! Sedang apa kau disini? Kau harus sudah di gereja sebelum jam 10 nanti. Dan…” wajahnya terlihat shock menatap penampilanku, “Apa-apaan ini? Lihat, gaunmu kotor! Rambutmu berantakkan! Make up –mu luntur! Aish… kau benar-benar kacau..”

Aku hanya diam. Terlalu gamang untuk bicara..

Haejin terus berdecak dan merapikan tatanan rambutku, “Ya Tuhan! Kim Yejin! Apa sih yang kau pikirkan? Kau harus menikah dengan Henry hari ini, dan-”

Dan detik itu juga aku ambruk memeluknya. Terisak. Menangis disana. Menumpahkan semua. Membiarkan air mata menjalankan tugasnya untuk menangisi segalanya. Segala tentang rasaku untukmu yang kutahan selama ini.

 “Jin-ahh.. Gwaencha?” tanyanya, mengusap punggungku.

“Hhhh… Bisakah aku tidak menikah?” lirihku, parau.

“Kau mau menyakiti Ahjumma?” tanyanya, setengah berbisik. Ia beralih mengusap rambutku dan membiarkanku terus menangis di pundaknya, “Mungkin ini permintaan terakhirnya sebelum beliau pergi. Kau tau umur Eomma-mu itu tak akan lama lagi kan?”

Permintaan terakhir Eomma, agar aku segera menikah. Aku tau. Aku tau itu. Tapi aku merasa tak nyaman dengan pilihan itu. Jika aku menyerah seperti ini, bukankah aku tidak akan bisa melihatmu lagi? Jika aku sudah terikat dengan orang lain, bukankah aku sudah tidak akan bisa menunggumu lagi? Dan bisakah aku mencintai orang lain sedangkan semua kenangan tentangmu itu masih tertambat jelas dalam ingatanku?

“Tapi aku tidak ingin menikah dengan Henry. Aku-”

“Kim Ryeowook?” potong Haejin, seolah gadis itu bisa membaca pikiranku dengan jelas, “Apa kau mau menikah dengan Kim Ryeowook?”

Aku mengangguk kecil sambil terus terisak..

Haejin perlahan melepaskan pelukannya, kemudian menyeka air mataku, “Dia sudah meninggalkanmu, Jin-ahh. Kau sudah terlalu lama menunggunya, dan mungkin dia tak akan kembali padamu..”

“Tapi-”

‘Tinnn… Tinnn….’

Suara klakson memutus. Sebuah mobil blezzi hitam berhiaskan rangkaian bunga tampak menepi. Seorang pria dengan tuxedo hitam keluar dari dalam sana dan berjalan cepat menerobos bunga-bunga matahari yang bermekaran di musim semi ini..

“Henry-ya..” aku menelan ludah ketika ia berhenti tepat di hadapanku.

Henry tersenyum, kemudian menyodorkan tangannya kearahku, “Bisakah… sang bunga matahari mulai menerima rembulan untuk kali ini? Kumohon.. bukankah ini yang terbaik untuk semuanya?”

“…………………..”

Tapi… aku harus tetap menjadi bunga mataharimu kan, Wook ahh? Dan-

“Kuanggap diammu itu adalah persetujuan!” putus Henry tiba-tiba.

Dan akhirnya aku tak mengatakan apa pun, dan tak lagi bisa berontak saat tangan besarnya menggenggam tanganku. Menuntunku menuju mobil, keluar dari padang bunga-bunga kuning ini. Sunflowers. Kenangan terindah kita…

Lalu air mataku kembali mengalir. Menetes jatuh membasahi tiap kelopak kuning bunga-bunga itu..

뒤돌아선발걸음이편치만은않았어

dwidoraseon balgeoreumi pyeonchimaneun anhasseo

(jejak langkah yang ku tinggalkan membuat tidak nyaman.. )

이대로그냥가면다시없으니까

idaero geunyang gamyeon dasi bol su eobseunikka

(bila aku pergi hanya dengan seperti ini, sungguh aku tak akan bisa  melihatmu  lagi )

좋았던기억들이자꾸눈에밟혀서

johatdeon gieokdeuri jakku nune barphyeoseo

(kenangan-kenangan yang indah itu selalu terbayang di mata )

눈물이차오르고발목을붙잡지만

nunmuri chaoreugo balmogeul butjapjiman

(membuat air mata itu tumpah walau aku sudah bertahan )

***

“Tersenyumlah, Jin-ahh…” bisik Haejin.

Dan senyumku terkembang. Ya, senyum palsuku. Haejin ikut tersenyum, ia menyeka air mataku sambil berharap cairan bening itu tak akan mengalir lagi. Tapi itu tak mungkin kan? Aku bukan gadis yang sekuat itu hingga bisa menahan sakit dari literan air mata di pelupuk. Sama seperti bunga-bunga matahari yang tak bisa menyimpan banyak air dalam tanah yang mereka pijak..

“Kau siap?” tanya Henry.

Aku tak menjawab, hanya mengalungkan lenganku pada lengan kanannya. Kemudian pintu besar gereja terbuka. Henry menengok kecil ke arahku dan tersenyum kecil. Lalu ia membimbingku melangkah masuk..

Musik romance clasic mengalun. Semua orang di dalam gereja berdiri menyambut setiap langkah yang berpijak mendekati altar. Mereka menaburkan kelopak-kelopak bunga. Sunflower? Bukan, itu ‘hanya’ mawar. Akhh.. beginikah rasanya seseorang yang akan mengucap ikrar cinta atas nama Tuhan? Kenapa… kenapa sesakit ini?

…………………..

“Aku ingin kau jadi bunga matahariku. Agar kau selalu tumbuh dan bergerak, maju dan melangkah mengikutiku. Selalu bersamaku..”

…………………..

Aku terus melangkah. Pelan. Sepelan mungkin. Membiarkan kalimat-kalimat manis itu terkenang penuh dalam memoryku. Membiarkan senyum tulusmu kembali terbayang dalam setiap sel otakku.

…………………..

“Bahkan walau hanya ‘seandainya’, aku tidak akan meninggalkanmu, Kim Yejin! Aku akan selalu bersamamu dan tak akan meninggalkanmu, itu pasti!”

…………………..

Langkahku masih terayun menuju altar. Terayu pelan, dihiasi tetes-tetes bening yang satu persatu mulai tumpah dari pelupuk. Jatuh membasahi karpet merah bertabur kelopak mawar.

…………………..

 “Memangnya sampai kapan kau akan selalu mencintaiku?”

 “Sampai tak ada lagi satupun bunga matahari yang mekar di dunia ini..”

…………………..

Wook ahh, lalu bagaimana tentang janji itu? Apa kau benar-benar tetap akan mencintaiku sampai tak ada lagi bunga matahari yang mekar? Kenapa ta beri aku kepastian agar hati ini tak lagi merasakan sesak? Aku… sudah terlalu menderita..

 

여기서끝내야너와나의사랑을

yeogiseo kkeutnaeya dwae neowa naui sarangeul

(haruskah cinta kita berakhir seperti ini?)

아직도숨을쉬는잊지못할추억들

ajikdo sumeul swineun itji motal chueokdeul

(aku masih belum mampu melupakan kenangan itu dalam setiap nafas )

가슴이너무아파견딜수가없는데

gaseumi neomu apa gyeondil suga eomneunde

(hatiku sangat sakit, aku tak mampu menderita lagi lebih dari ini)

미안해말밖에나는할말이없어

mianhae i malbakke naneun halmari eobseo

( maaf, aku tak mampu mengatakan  kata-kata selain ini,,)

Aku terus melangkah. Sebentar lagi. Mendekati altar. Namun langkahku melemah. Terhuyung. Aku terisak lirih, tapi hiruk pikuk dalam gereja ini seolah meredam isakku. Selain diriku sendiri, tidak ada yang tau bahwa aku tidak bisa. Ya, aku tidak bisa! Tidak bisa selain kau. Selama nafas ini masih berhembus, ia hanya menginginkanmu… dan dalam setiap tarikan nafas ini, cintaku terus memanggilmu..

Aku mencintaimu, Kim Ryeowook! Aku sungguh mencintaimu! Walau tak bisa kuucapkan dengan lantang saat ini, disini, tapi hatiku meneriakkan itu! Aku sungguh mencintaimu! Apa kau mendengarnya?

……………………………….

Apa kau mendengar teriakan hati bunga mataharimu ini?

돌아와줘슬픈사랑아가슴쉬도록부르고있잖아

dorawajwo nae seulpeun saranga gaseum swidorok neol bureugo itjanha

(kembalilah kesedihan cintaku, selama hatiku masih bernafas, aku memanggilmu )

너에게하고픈한마디너무사랑해이말너는듣고있니

neoege hagopeun hanmadi neomu saranghae imal neoneun deutgo inni

(aku telah mengatakan padamu.. ‘aku sungguh mencintaimu’ , apakah kau mendengarnya?)

 

Empat.. akhh, tidak. Tiga. Tiga langkah lagi dan aku akan sampai di altar suci itu. Bersama Henry, bukan bersamamu. Dan diam-diam hatiku menjerit. Berontak..

Aku memejamkan mata sejenak. Mencoba beralih dari realita. Dan dalam bayanganku, aku mendengar derap langkah, derap langkah yang semakin dekat. Derap langkahmu yang memecah sunyi dan mengejarku. Mengejarku agar tak pergi dan tetap menunggu karena kau akan kembali..

Aku merasakannya, dan…

“WOAHHHHH!!!!”

Semua orang di dalam gereja terdengar memekik histeris. Aku membuka mata perlahan, dan seseorang tiba-tiba menarik lenganku dari belakang, menarik tubuhku kedalam pelukannya, menahan air mataku dalam dekapan hangatnya.

“Aku kembali…” bisikmu,

Ya, seseorang itu adalah kau. Kau memeluk semakin erat. Begitu hangat. Kim Ryeowook? Benarkah ini kau? Kau kembali padaku? Atau ini hanya sebuah halusinasiku yang terlalu mengharapkanmu? Atau…

“Aku mendengar kau memangilku dan aku kembali..” bisikmu lagi, meyakinkanku.

Lalu yang bisa kulakukan selanjutnya adalah kembali menangis. Terisak dalam pelukanmu. Melingkupkan kedua lenganku erat-erat pada pinggangmu. Semua ini terlalu mengejutkan. Aku bahkan tak bisa berhenti menangis saking bahagianya. Kau tau? Tadinya aku mulai berpikir bahwa kau tak akan pernah kembali padaku..

“Kenapa? Kenapa kau kembali?” isakku, masih setengah tak percaya.

“Karena aku mencintaimu…” jawabmu.

Kau mendongakkan kepalaku tanpa melepaskanku dari dekapanmu. Membimbing sepasang mataku untuk bertemu matamu, lalu kau tersenyum, “Bukankah aku pernah berjanji bahwa aku akan terus mencintaimu sampai tak ada lagi bunga matahari yang mekar?”

Dan detik itu juga aku kembali membenamkan diri dalam pelukanmu. Balas memelukmu, erat. Seerat mungkin agar kau tak lagi lepas. Seerat mungkin agar kau bisa merasakan air mataku jatuh merembes kedalam kemejamu…

Lalu suara siulan-siulan membahana di seluruh gereja. Musik romance clasic tiba-tiba berganti menjadi alunan piano manis. Terdengar teriakan-teriakan aneh dari Haejin, isakan tangis haru Eomma dan Appa. Bahkan dari balik pundakmu, aku bisa melihat sosok Henry. Pria itu tersenyum lega da ikut bertepuk tangan..

“Wook ahh, kau telah memutuskan kembali, maka tetaplah disini. Karena aku….. karena ku tak akan pernah melepasmu lagi..”

사랑해두고가지마마지막사랑너란아니까

neol saranghae nal dugogajima majimak sarang nan neoran geol anikka

(aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku lagi, karena aku tahu kau adalah cinta terakhirku)

다른누군가온대도하나면다신놓지않아

tto dareun nugunga ondaedo neo hanamyeon doe dasin neol nochi anha

(sekali lagi, siapapun yang datang, seandainya kau seorang, aku tak akan melepaskanmu.. )

-END-

57 thoughts on “{SongFic Contest – YeWook Winner} Sunflower

  1. Jleb bnget yahh..daebak ini mahh..di detik2 terakhir happy ending…

    awalnya nyesek amit dahh…keren-keren….

    tp-tp..kacian henly yahh..#pukpukmochi…

  2. So sweet bgt.. :'((((( *peres anduk*

    Saya ikut larut ama ceritanya..
    Kenangan2nya indah bgt :’)))

    Keren keren!!
    Selamaat yaa krn udah menang \(´▽`)/

  3. Sukses ye orin.. Km bikin aku kejer di ‘first read’ ff ini. Dan makin kejer tiap dibaca ulang.. Sumpaaah!! Rasanya pen nendang si YJ malahan.. Kok bisa ada cewe bego nan tolol gitu coba??? #pletak cowo masih banyak wooyy.. Si abang Lau aja masih mau ngapa musti nunggu si ukkie?? Gggrrr

    nyesek tuhh di bagian jalan ke altar.. Biar kata ini heppy ending, tetep aja nyesek.. Dan semua janji(palsu)nya ukkie. Semua kenangan(nyelekit)nya mereka.. Di padang matahari.. Di perkemahan.. Hiiihhh.. Sweeettt… :3 tp lgsg ngeJlebb pas di altar.. Hedeeuuhh..

    Auk dahh ini komen model apaan..

  4. baru buka yang ini dan saya SUKAAA…:*:*:*
    ah~~ jleb pol-pol-an(?) ini..>..,<
    chukkae for the winner yah:3 kdepannya harus lebih daebak lagi! JJANG!!

  5. waaa ini yang aku pikirin malah henrynya -_- udah nikah aja sana sama haejin *dirajam
    yeay, ternyata happy ending \(^o^)/ gilaaa udah nyesek mampus eh endingnya sweet bets~ ya ampun terharu..
    yewook di YWM sweet-sweetan gini juga dooong😄

  6. huaaaaa…sweet mampus…kangen yewook..pengen yewook kayak gini..hyaaa…tanggung jawab noh author..saya blushing…kyaaaa…kerennnn…megap2 bacanya..untung happy ending..klo gak..hmm…#plakkk

  7. kyaaa…
    soooo sweet…
    yuhuuui…itu nyesek bgtz wktu jalan ke altar.uhhh..meski happy end mending sma mochi deh #plakk

  8. Baru menjenguk blog ini lg setelah sekian lama..
    Sdkit kaget baca nama author orin.. Ini assri yg ada di FB itu kah?

    Hm.. FF-nya.. Nyesek.. Lirik lagu-nya itu lo sbenernya yg bikin mau nangis aja..
    Kasian sekali itu wookie ama yejin, saling cinta tp sm2 tersiksa pas pisah.. Tp syukurlah, happy ending..

    Kayaknya ada banyak FF yg aku lewatkan di sini, ngubek2 ah.. :p

    • Eh, tau y? Nuguya?
      Lah, knpa kaget? Yeah!! It’s me! Assri’elf Luph Fishy… #halah…
      emang yg pke nama Orin cma qu apa? ==a
      Ya ampun, fb saya udh bulukan ya? Wkwkwkwk…

      Qu jga nyesek bgt ma lagu’a… ='(
      trus liat performs yg ada Dujun’a mkin nyesek lagi

      • Tau dong.. Ini Yunita yg di FB.. Kan kita srg comment2an d note FB, entah di FF kamu ato FF aku.. Hehehe..

        Iya, km udah ngilang kayaknya di FB.. :p

        Btw, benernya aku baru tau loh lagu itu.. Hahaha..

  9. Demi apa aja aku nangis bacanya. Sumpah ini romantis banget yah walaupun keluar dari sifat yejin sedikit. Tapi ini keren

    Bunda setan peranmu di ff ini jadi gadis cengeng nan frustasi hahahaha

    Cukhae yah🙂

  10. waaaaaaaahhhhh!!!kerennnnnn
    Suka jalan cerita
    2 orang yang harus berpisah untuk membahagiakan orang lain
    nyesek banget ceritanya
    Tapi suka^_^
    nb#kata2yang digaris bawah diambil dr lagu apa aja?

  11. Mengharukan……
    but i like it!! sukaaaaaaaa
    ah Yejin kamu kok mau sih nunggu orang macam Wookie??
    Eits jejejeje Henry nganggur kan? Yuk kita kawin mochi,.

  12. Johaa~ jinjja johaa~ nyeseknya dapet bgt >,< gila, Hampir nangis loh bacanya, . .
    Gambaran bahasanya bener-bener ngena dan bagus banget, haha saya kan pecinta sad story sebenernya ^^
    Cukhahamnida Orin-ssi😀

  13. jleb -__- miris dan nyesekin bgt nih pas pertengahannya. awal sama endingnya sih so sweet😀 hahaahah untungnya happy ending😉 awalnya sih udah ketebak nih si wook mau ninggalin yejin😛 dapet bgt feel sedihnya :DD

    like it like it >v< *sepuluh jempol buat authornya*

  14. busyet… keren banget…
    nyesek, alur’y rapi.. feel’y nyampe, aku ja smpe nangis..

    untunglah happy ending, so sweet banget malah..
    pkok’y daebak!!

  15. DAEBAK!!
    kerennn. .
    aku sukaaaaaaaaaa ceritanya, nyesek abis!
    suka scene YeWook yang flashback eit, kecuali yg Wookie ninggalin Yejin. .kekeke~

    kirain bakal sad. .
    keren keren. .><
    feelnya dapet. .ngena banget^^

  16. daebak..
    neomu neomu joha..
    kyenz, kyenz..

    bnr2 msuk kta2x..
    feelx dpt bgd..
    g tw msti ngmong ap lgi..
    pkokx suka..

  17. daebak..
    neomu, neomu joha..

    so sweet pol dech..
    suka bgd ma kta2x..
    feelx dpt bgd..
    pkokx suka, suka..

    g tw mw ngomong ap lgi..
    daebak pkokx..

    moga komen yg ini msuk

  18. woaaa~ daebak!!!
    tapi ko aku malah kasian sama nasib henry, dan lagi itu gimana sama kyorin? #banyak nanya nih boch..
    alur ceritanya bagus, maju-mundur, jadi aku dapet feel-nya..
    eo pokonya daebak hehe^^

  19. mewek mewek meweekkk #gelindingantengahjalan

    ini..
    Well,aku speechless.. *nyengir gaje*

    kayak makan apaa gitu.. Awal ngejilat,,samar2 terasa manis.. Pas gigit,berasa kecut.. Pas kunyah,berasa banget paitnya.. Tapi pas ditelen,berasa manis..
    Perumpamaan macam APA ini?! -_____- aku gak bkat bikin perumpamaan sepertinya,kkkk~

    chukhae ya,,ahirnya yewook nikah juga..😄 #duakk

  20. nyeseeeek… ini cerita walaupun happy ending tapi nyeseknya dapet sampe ulu hati (?)
    daebak pokoknya!!
    tapi itu nasib kyorin gimana?

  21. satu kata.. DAEBAKKK!!!
    Keren bgt, biarpun Happy End tp dibuat nyesek dulu.. Untaian katanya keren..
    Lagu Sunflower emang maknanya dramatis bgt.. Tp Author dah pas banget hub-in alur cerita sama makna lagunya..
    Chukhae udah menang..😀

  22. kereenn. .kereenn><
    Bgus bgt ini dan feelnya jga dpet bgt😉
    dri awal udah bkin nyesekk, si mochi ama aku aja deh xD

  23. “knp kau kembali?”
    “krn aku mencintaimu…”
    kyaaa!! ryeowook~ah, you’re so sweet!! *pingsan*
    haha ini cerita keren, ringan tp feelnya dpt bgt
    pantes eris milih ini jd pemenang
    chukkahaeyo!! ^^

  24. Aishhh jeongmal!! Nyesek banget gewla ini sedihhhh bangett (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_______________-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)
    Yejinnn aigoo penantianmu, gila setia banget daebak! (˘̩̩̩˛˘̩ƪ)

    Udh di heartlimit yejin nya bgitu, nah disini sedih pula. Yaampun makin dapet deh feelnya. Kaya yejin ditakdirkan banget gitu ya dpet peran yg galau menyedihkan .__. #ditabok eris onn

    Ini keren banget bahasanya, rancu, ituh behh seswathu (y)
    Suka sama penggunaan bahasanya. Kece!! ^^

    Chukhae ya jdi pemenang yewook terbukti emg de bes bangaet😀

  25. wuaaaaaaaaaah ;_____; *meper ingus*
    iniiih mah seneng di balik batu (?)
    NYESEEEEEK !!!!!! *beli tabung oksigen*
    tapi soswiiiit bangeeet yg pas di taman bunga matahari :3
    pas lagi nyabut2in kelopak bunga mataharinya ituuu !!
    haduuuuh .. haduuuuuh .. demen daaah !!

  26. aku terharu..
    ini songfic bener2 bagus.. 4 jempol buat authornya.. :’)

    udah nyesek banget pas yejin mau nikah sama henry tapi akhirnya wook dateng.. :’) #standingapplause

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s