{JinHaeXy} STILL ~Part 3~

Title : Still

Author : Nisya (Donghae’s Wife)

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Humor, Friendship

Credit Poster : @yoomunchlanx (thank’s ya sayang ^^)

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin

Supporting Cast :

  • Felidis Members
  • Super Junior Members

Backsound :

  • Super Junior – Way For Love
  • Donghae & Henry – This Is Love

Tag Line :

Even if you give your love, there’s no guarantee you’ll receive anything in return (Ivy Chen as Gong Xi – Skip Beat)

{JinHaeXy} STILL ~Part 3~

Haejin masuk ke dalam kamarnya setelah mendengar penuturan Kyuhyun tadi. Wajahnya memanas, dan dia tidak mau mendengar baik Kyuhyun, Ryeowook, Sungmin atau Yesung akan memanas-manasinya dan Donghae, seperti Chihoon dan Kyorin. Lebih baik dia menghindar! Enak saja~

   Haejin berbaring nyalang menatap langit-langit kamar yang tidak familiar ini. Dia sering datang dan pergi ke dorm Super Junior, terutama lantai dua belas. Tapi tidak pernah sekalipun ia menginjakkan kaki di kamar ini. Haejin mengembuskan napasnya dan berbaring miring menatap dinding. Selama ini, selama nyaris dua tahun hubungannya dengan Lee Donghae. Dia pernah menginap disini, cukup sering bisa dibilang.

   Dan itu, tidak pernah disini, pasti di kamar Donghae, dalam pelukan hangat pria itu. Haejin menepuk dahinya, kenapa ia malah memikirkan hal semacam itu?! Tapi, memang, disini tanpa dirinya, aneh.

   Lain, berbeda, dan ada yang hilang.

   Haejin memejamkan matanya, dan akhirnya tertidur.

   Sementara di luar, Donghae tidak bisa diam. Ada saja yang ia kerjakan, mulai dari mencuci piring, sampai membersihkan karpet, dan terakhir membersihkan sepatu-sepatunya sendiri, yang sebetulnya sudah bersih juga. Dan itu membuat Yesung, Sungmin, Ryeowook, dan Kyuhyun geleng-geleng.

   Mereka tahu, Donghae gelisah.

   Hari menjelang malam, Haejin tak kunjung keluar juga dari dalam kamarnya. Kyuhyun pergi, Yesung juga ke Handel & Gratel, sementara Sungmin dan Ryeowook harus siaran. Shindong, Siwon, dan Leeteuk kini sudah tiba di dorm, begitu pula kedua adik Haejin, Chihoon dan Kyorin yang masuk ke dalam dorm sambil melepaskan sepatu mereka.

   ”Kami pulang,” sahut mereka ceria.

   ”Halo,” sapa Shindong, Siwon, dan Leeteuk serentak.

   Chihoon langsung merebahkan tubuhnya di sofa di sebelah Siwon. ”Oppa, paegopha…” keluhnya dengan mata bling bling khas. Siwon terkekeh.

   ”Kami sudah pesankan makanan untuk makan malam, karena yang masak hari ini tidak berniat membagikan makanannya pada kami,” Leeteuk memutar matanya pada Donghae yang sedang menatap komputer, Donghae mendengus meski kedua matanya terus terpancang pada layar.

   Kyorin tersenyum. ”Boleh aku masak saja, Oppa?” tawarnya.

   ”Jangan, sudah tidak usah, kalian lelah kan, istirahat saja, sini nonton dengan kami,” Shindong menepuk-nepuk lantai di sebelahnya.

   ”Chihoon-ah, ayo ganti pakaianmu, jangan pakai seragam disitu terus!” tegur Kyorin pada Chihoon yang sudah memejamkan matanya di sofa, tepat di sebelah Siwon yang lagi-lagi tertawa melihatnya.

   Chihoon tak bergeming.

   ”Eonnie, eodiseoyo?” tanya Kyorin lagi pada Leeteuk.

   ”Haejin?” tanya Leeteuk balik, kemudian Leeteuk melirik Donghae yang mendadak sibuk sekali pada komputernya. ”Entahlah, saat aku pulang tadi katanya Haejin sudah tidur lagi.”

   ”Oh, dia pasti lelah, setelah recording Invicible Youth,” Shindong mengiyakan.

   Kyorin nampak khawatir.

   ”Kenapa memangnya?”

   ”Aniyo, malam ini Eonnie ada recording lain. Chi, ayo ganti baju!” paksa Kyorin menarik tangan Chihoon, dan dengan terpaksa Chihoon dibawa Kyorin ke dalam kamar Heechul, yang mereka tempati.

   ”Haejin ada recording tuh, pukul berapa? Bangunkan,” Leeteuk menyenggol lengan Siwon.

   Siwon menunjuk dirinya dengan gesture-nya, dan tatapan tidak percaya yang super berlebihan. ”Aku? Aku yang membangunkan Haejin? Hyung mau aku dibunuh?!”

   ”Lho, memang ada yang salah?” tanya Leeteuk sok polos. ”Kau temannya, kan?”

   ”Ah, Hyung~” Siwon nampak ogah.

   ”Kalau begitu kau, Shindong-ah, bangunkan Haejin.”

   Shindong menyipit menatap Leeteuk.

   ”Kalau begitu aku?” tawar Leeteuk.

   ”Ah, Hyung!” seru Siwon dan Shindong tak setuju.

   Tapi kemudian Kyorin keluar dari kamar, membuat Siwon dan Shindong menghela napas lega. Karena belakang telinga Donghae sudah memerah, meski tidak mengikuti percakapan mereka. Toh semua laki-laki di Super Junior memiliki satu kesamaan umum, yakni tidak bisa melihat gadisnya disentuh satu jaripun oleh laki-laki lain, bahkan saudara sendiri.

   Itu berlaku bagi siapa pun, termasuk yang statusnya masih ’gantung’.

   ”Eonnie!” Kyorin mengetuk pintu kamar. ”Eonnie, bangun~” dan Kyorin mendesah putus asa. ”Eonnie,” Kyorin mencoba menekan gagang pintu, tapi hasilnya nihil, Haejin menguncinya dari dalam. ”Eonnie, Haejin Eonnie!” Kyorin kembali mengetuk pintu kamar Haejin.

   ”Sepertinya kau terlalu lembut membangunkannya,” ringis Leeteuk.

   Kyorin meringis juga. ”Eonnie,” Kyorin mencoba bersuara lebih keras, namun apa daya, memang kapasitasnya sebatas itu. ”Haejin Eonnie!”

   ”Bangunnya susah sekali, ya?” tanya Shindong.

   ”Oh, biasanya kalau di dorm tidak pernah dikunci,” Kyorin menjelaskan dengan nada penuh permohonan maaf. ”Jadi kami dengan mudah masuk dan membangunkannya. Tapi sepertinya dia benar-benar kelelahan.” Wajah Kyorin nampak begitu panik. ”Kami tidak boleh ketahuan Manajer Oppa kalau sedang menginap disini, dan satu jam lagi seharusnya Haejin Eonnie sudah harus ke make up sebelum ke lokasi Teenage Running Man.” Jelas Kyorin lagi menatap penuh harap pada keempat orang yang berada di ruang tengah apartemen untuk membantunya.

   ”Teenage Running Man?!” tanya Leeteuk, Shindong, dan Siwon bersamaan.

   Kyorin mengangguk.

   ”Ah, ternyata sudah dimulai recording acara itu?” tanya Siwon terdengar prihatin.

   ”Ne,” Kyorin mengangguk. ”Hari ini hingga besok akan dilakukan recording untuk episode ketiga dan keempatnya, maka Eonnie tidak boleh terlambat ke Beauty Parlor, atau Manajer Oppa akan ke dorm kami.” Kyorin berbalik dan mulai mengetuk pintu lagi. ”Eonnie! Haejin Eonnie, ireona, jebal!”

    Chihoon, yang baru keluar setelah mengganti pakaiannya ikut mengernyit saat melihat Kyorin yang mengetuk-ngetuk pintu, serta wajah ketiga member Super Junior yang pias. ”Ada apa? Eonnie tidak mau bangun?”

   ”Belum bangun,” ringis Kyorin.

   ”Aiyaaaa, Eonnie, kau terlalu lembut membangunkannya,” Chihoon mendekat ke pintu dengan langkah super dan menggedor pintunya dengan keras, dan suara yang sama kerasnya. ”EONNIE!”

   Kyorin menepuk dahinya dan menggoyangkan bahu Chihoon. ”Ini dorm orang, bukan dorm kita,” desisnya. ”Mana boleh berteriak seenaknya!”

   ”Lalu bagaimana? Eonnie lebih ingin Manajer Oppa tau?!”

   ”Ya tidak begitu juga…”

   ”Sepertinya kita harus bertindak atau pintu akan hancur dipukul Chihoon,” kekeh Leeteuk sambil berdiri. ”Pakai kunci cadangannya saja ya, sebentar kuambilkan.” Leeteuk mengambil kuncinya.

    Dan akhirnya setelah Leeteuk mengambilkan kunci cadangan, barulah mereka bisa membuka pintu kamar, dan Haejin memang masih terlelap. Butuh usaha gabungan Kyorin dan Chihoon juga untuk membangunkannya. Suara-suara mereka yang keras, bahkan membuat Leeteuk, Siwon, dan Shindong ikut melongok melihat proses pembangunan Haejin tersebut dengan geli, karena Haejin kurang lebih sama seperti Leeteuk sendiri, butuh usaha gabungan untuk membangunkannya yang sedang lelah.

   Sementara Donghae yang melirik sesekali, tidak ingin ketahuan bahwa ia juga tengah memperhatikan.

   ”Iya, aku bangun~” suara Haejin mengeluh terdengar.

   Donghae menghela napas lega, sambil mengalihkan pandangannya lagi ke arah komputer.

   ”Hore!” Leeteuk, Shindong, dan Siwon bertepuk tangan.

   ”Kami ikut pegal melihat Kyorin dan Chihoon membangunkanmu,” kata Siwon sambil geleng-geleng kepala.

   ”Ini setiap hari seperti ini?” tanya Shindong pada Kyorin.

   Kyorin terkekeh dan menggeleng, sambil mengikat rambut Haejin tinggi di puncak kepalanya dengan karet hitam. ”Aniyo, Oppa, kalau pagi Eonnie biasanya sudah bangun dan memanggangkan kami roti.” Dia beralih pada Chihoon. ”Chi, tolong ambil bando Haejin Eonnie.”

   Chihoon membuka koper kecil berisi aksesori, dan mengambil bando handuk berwarna merah jambu milik Haejin, langsung dipasangkannya di dahi Haejin menarik ke atas poninya, sementara Haejin masih nampak mengantuk.

   ”Eonnie masih lelah ya?” tanya Kyorin prihatin.

   Haejin menggumam kecil. ”Facial foam-ku mana? Gwenchana, hanya kurang tidur saja kan semalam?” dia bangkit dan mengambil facial foam yang disodorkan oleh Chihoon, lalu beranjak ke pintu, dimana trio Leeteuk-Shindong-Siwon tengah menontonnya. ”Cih! Aku bukan tontonan, Oppa!” omelnya dan berjalan setengah sadar, setengah tidak ke arah kamar mandi.

   ”Eonnie jangan tenggelam di bath up ya!” pesan Chihoon.

   ”Ya!” omel Kyorin.

   Chihoon nyengir.

*           *           *

Make up tipis dengan shade cukup tebal di bagian hidung tentunya, dan juga sedikit tebal di bagian bawah mata, sudah diaplikasikan pada wajah Haejin. Kini Haejin terlihat cukup segar dalam balutan mantel berwarna pastelnya dan boot cokelat mudanya.

   ”Recording nanti akan langsung dimulai begitu kau turun dari van ini,” kata Junjin Oppa dengan cekatan memeriksa catatan di Galaxy Tab-nya. ”Lalu kau akan langsung ke tempat berkumpulnya acara, dan menerima misi.”

   Haejin mengangguk.

   ”Perlu kubawakan Red Bull?” tawar Junjin Oppa meneliti keadaan anak asuhnya tersebut. ”Kau terlihat cukup kelelahan.”

   ”Boleh,” Haejin mengangguk. ”Hanya tidak menyangka Invicible Youth akan memakan waktu recording begitu lama, ya ampun. Oh iya, Oppa, siapa yang membawa mobilku besok?”

   ”Nanti mungkin Park Ahjussi yang akan mengantar mobilmu, aku harus menemani Kyorin ke pemotretan Catch Me If You Can-nya, maaf ya.” Kata Junjin Oppa nampak bersalah. ”Kau yakin akan mengendarai mobilmu sendiri? Tidak lelah?”

   Haejin menggeleng. ”Tidak, aku juga mau ambil baju,” kekeh Haejin berusaha menenangkan sang Manajer. Tidak mungkin dia diantar pulang ke rumah, kalau dia akan menginap di tempat lain, kan?

   Haejin menahan kuap. ”Sepertinya semalaman ini aku akan terjaga kembali, dan harus berlari pula.” Katanya sambil menatap bangunan Town Square yang semakin jelas di depan mata.

   ”Aku sudah meminta staff menyiapkan Red Bull disana,” kata Junjin Oppa kemudian.

   ”Oh, gomawo, Oppa,” Haejin bersandar lagi dengan bantal leher Tweety-nya, dan tepat pada saat itu juga, van hitam mereka memasuki pelataran parkir dan melihat kerumunan kamera, dan kerumunan netizen yang tengah berkumpul. Haejin menghela napas berat. Dia masih kelelahan, tapi tetap, dia harus mengutamakan profesionalisme di atas segalanya. Dilepaskannya bantal lehernya tersebut dan diletakkannya kembali ke dalam dashboard di belakang jok pengemudi, sambil mengecek bayangannya pada kaca kecil yang memang tersedia disana.

   ”Perlu sesuatu lagi?” tanya Junjin Oppa sebelum menggeser pintu, setelah mobil berhenti.

   Haejin menggeleng. ”Semoga tidak ada yang ketinggalan. Barang-barangku nanti titip di scriptwritter Eonnie saja ya, Oppa.” Pesan Haejin sambil merapikan poninya. ”Hmm, sepertinya harus potong poni lagi,” gumamnya singkat sebelum mengangguk pada Junjin Oppa yang bersiap membuka pintu van.

   ”Annyeonghaseyo.” Haejin langsung memasang senyumnya setelah turun dan membungkuk pada sekelilingnya. ”Apakah aku terlambat?” dan setelah mendengar jawaban dari staff Haejin membungkuk dan melambai kepada para netizen dan pemburu berita yang rela berdesakkan nyaris tengah malam ini, lalu mengikuti staff tersebut naik ke atas.

*           *           *

Donghae berbaring di atas tempat tidurnya. Dia telah mengenakan piyama putihnya, sambil tangannya terus menggeser layar sentuh ponselnya. Sepertinya Haejin sudah tiba di lokasi recording dengan selamat. Donghae mengembuskan napasnya lega. Tadi ia sempat khawatir saat melihat Haejin keluar dari kamar mandi setelah dibangunkan paaksa oleh kedua adiknya.

   Kantung matanya gemuk sekali, dan sedikit terlihat lingkaran hitam di bawah matanya, meski kemudian dia memakai eye-balm di bawah matanya, dan ditutupi oleh make up tipis yang hanya bisa menyamarkan, tapi tidak benar-benar menghilangkan jejak kelelahan itu dari matanya. Tadi saja ketika masih disini, sepertinya mood bangun tidur Haejin jelek sekali. Dia bahkan tidak banyak bicara seperti biasanya, melainkan hanya diam dan kemudian pergi, setelah pamit singkat pada seluruh penghuni dorm. Inilah sisi lain Haejin yang bahkan baru pertama kali Donghae lihat.

   Tapi, begitu melihat foto recording barusan, keprofesionalitasan Haejin memang patut diacungi jempol. Matanya sama sekali tidak memancarkan kelelahan, mata itu bersinar, dan Haejin nampak bersemangat, lalu menyapa netizen beserta Elektra, fans abadinya, yang menunggu di Times Square.

   Begitu Leeteuk masuk ke dalam kamar sambil mengusap wajahnya dengan handuk, setelah mencuci muka, Donghae dengan gelagapan buru-buru keluar dari jendela web fansite resmi milik Haejin tersebut. Dan justru itu yang membuat Leeteuk tahu apa yang tengah ia lakukan, atau menebak kira-kira apa yang tengah Donghae cari melalui ponselnya tersebut.

   Leeteuk diam tidak berkomentar, sementara Donghae berbaring miring menatap dinding. Diletakkannya handuknya di punggung kursinya dan kini Leeteuk merayap naik ke atas tempat tidurnya sambil membuka penutup tempat tidur beserta selimutnya sambil melirik Donghae menahan senyum.

   ”Tidak ada perubahan?” tanyanya.

   ”Perubahan apa?”

   ”Tadi, kutinggal berdua dengan Haejin. Masih tidak ada perubahan juga?” tanya Leeteuk kini sambil tersenyum lebar.

   ”Ah, perubahan apa yang Hyung maksud?!” gerutu Donghae.

   Leeteuk masuk ke dalam penutup tempat tidur dan selimutnya, lalu merebahkan kepalanya di bantal, kini melirik Donghae. ”Kau tahu tidak, kau itu gelisah terus sepanjang hari.”

   Dan kini Donghae berbalik menatap Hyungnya tersebut. ”Jinjja?!”

   ”Oh.” Leeteuk tersenyum.

   ”Ah,” keluh Donghae, lalu menatap langit-langit. ”Aku memang tidak bisa menyembunyikannya dengan baik darimu, Hyung.”

   ”Bukan hanya dariku, memberdeul semuanya tahu kalau kau gelisah seharian ada Haejin disini,” lanjut Leeteuk lagi.

   ”Ahh,” Donghae mengusap kepalanya gusar.

   Leeteuk meraih ponselnya dan mencari-cari lagu pengantar tidur apakah yang akan ia putar sebelum berkomentar. ”Ingat prinsip percintaanmu Lee Donghae, dan kau tidak perlu segelisah ini. Jalja~” dan Leeteuk menutup kupingnya dengan earphone kecil, sebelum memejamkan mata.

   Donghae memandangi Hyungnya yang mulai terlalut dalam melodi entah apa sebagai nina bobonya, diliriknya jam dinding di dalam kamar. Waktu sudah semakin larut. Berulang kali ia mengulang apa prinsip cintanya di dalam hatinya, sambil terus memandangi jarum jam yang berputar mengiringi setiap detik yang juga berjalan.

   Sekali aku jatuh cinta, maka aku takkan pernah melepaskannya…

   Sekali aku jatuh cinta, maka aku takkan pernah melepaskannya…

   Sekali aku jatuh cinta, maka aku takkan pernah melepaskannya…

   Donghae membuka selimutnya dan langsung berdiri meraih mantelnya yang tergantung di pintu lemari, kemudian kunci mobilnya yang berada di meja kerjanya, setelah mengambil sepatu sekenanya saja, dan buru-buru keluar dari dalam kamarnya. Sementara Leeteuk geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat kelakuan adiknya yang masih polos terebut.

   Diluar kamar ketika mengendap-endap hendak keluar dari dorm, mengingat waktu telah menginjak pukul satu dini hari. Begitu tangannya terulur pada pegangan pintu, sebuah suara mengagetkannya.

   ”Oppa mau kemana?”

   Donghae nyaris melempar kunci mobilnya karena kaget, dan buru-buru menoleh, mendapati Cho Chihoon tengah memegang satu cup penuh Baskin & Robbins, dan tangan satunya memegang sendok, dan wajahnya nampak penasaran.

   ”Kau belum tidur?” tanya Donghae penasaran.

   ”Late night snack,” digoyangkannya cup Baskin & Robbins-nya itu. ”Lagipula aku khawatir soal besok,” katanya dengan raut wajah sedih yang amat sangat tidak meyakinkan.

   Donghae melirik ke arah dapur, ternyata lampu dapur masih menyala, dengan gugup ditatapnya si kecil Chihoon lagi. ”Khawatir apa? Dan, siapa yang masih ada di dapur?” tanyanya.

   ”Kyuhyun Oppa dan Kyorin Eonnie berlatih dialog, mereka akan menjadi lovey dovey dovey…” Chihoon bersenandung Lovey Dovey, Donghae menggelengkan kepalanya, kenapa makin lama Cho Chihoon makin mirip Kim Heechul begini. Dan Chihoon kembali mengemut sendoknya lalu bergumam sedih. ”Aku khawatir…”

   ”Khawatir kenapa?” tanya Donghae.

   ”Eonnie.”

   Jantung Donghae mulai berdegup semakin cepat, kecepatannya semakin lama semakin meningkat. ”Kyorin? Haejin?”

   ”Haejin Eonnie,” lanjut Chihoon lagi sambil mengerucutkan bibirnya dan memaju-mundurkan tubuhnya dengan aegyo. ”Besok, dia akan menyetir sendirian sepulangnya dari Times Square.”

   ”Mwo?!” kedua mata Donghae membelalak kaget.

   Chihoon mengangguk-angguk lagi dengan ekspresi puppy-nya. ”Staff Manajer kami kan memang sedikit, selain bagian official. Bagian lapangan biasanya Eonnie yang pegang sendirian. Junjin Oppa akan menemani Kyorin Eonnie, dan Hyorin Eonnie akan menghadiri rapat perusahaan penting. Aku pun hanya diantar supir, tapi yang kukhawatirkan Eonnie… Eonnie kurang tidur, bagaimana dia menyetir?”

   ”Kenapa tidak supir saja disuruh menjemput?” tanya Donghae heran dan sedikit terbata.

   ”Molla,” Chihoon menggeleng. ”Yang jelas mobil Eonnie sudah diantar kesana, jadi hampir pasti besok Eonnie akan menyetir pulang sendirian. Ah…” Chihoon mendesah pasrah, dan berbagai pikiran buruk mulai berdesing, merangsek satu persatu masuk ke dalam kepala Donghae. Bagaimana kalau nanti Haejin tertidur ketika menyetir dan di depannya ada truk?! ANDWAE!

   Ketika Donghae masih sibuk dengan pikirannya, Chihoon yang gemas berdecak. ”Ah!” dia mengacungkan sendoknya sambil berpura-pura berpikir serius. ”Tapi Eonnie tidak akan mungkin pulang sendiri, disana ada banyak namja idol yang bersedia mengantar Eonnie, iya kan, Oppa?!”

   ”Mwo?!”

   ”Ah, kalau begitu sepertinya aku tidak perlu khawatir,” Chihoon mendadak ceria, dan berjingkat kembali ke dalam.

   ”Ah!” Donghae mengacak rambutnya frustasi. ”Cho Chihoon jeongmal, bisa-bisanya membuatku stress disini!” Donghae mengintip ke dalam. Dilihatnya Chihoon memakan es krimnya dengan lahap sambil menonton Kyuhyun dan Kyorin beradu akting di tengah-tengah dapur.

   ”Kalau aku kesana membawa mobil… besok pagi siapa yang membawa pulang mobilku? Lagipula, ah! Haejin tidak suka naik sedan…” Donghae berpikir keras masih di depan pintu dengan sebelah kaki masih di sandal rumah, tapi sebelahnya lagi sudah di dalam sepatu. ”Ah! Apa sulitnya naik kendaraan kesana? Daripada gadis itu yang kecelakaan besok.”

   Dan Donghae meletakkan kuncinya begitu saja di meja, dan keluar dari apartemen dengan tergesa-gesa. Tepat ketika pintu tertutup, tiga kepala muncul dari dapur, mengintip. Kyuhyun, Kyorin, dan Chihoon sambil geleng-geleng.

   ”Akhirnya dia bergerak juga, harus dibakar cemburu dulu baru mau bergerak masa, cih! Pria macam apa?” gumam Chihoon dengan es krimnya.

   ”Setidaknya dia mau bergerak,” komentar Kyorin dengan lembut.

   Kyuhyun yang kepalanya mengintip di bagian dinding paling atas memasang wajah super identik dengan sang adik. ”Tetap dia memang bodoh.”

   Kyorin dan Chihoon mendongak. ”Wae?!”

   ”Kalau dia cerdas, dia minta antar padaku, padahal jelas-jelas dia tahu aku masih bangun. Dan dia memilih pergi naik angkutan umum? Aih, pria suka sekali tidak memakai otaknya kalau sudah jatuh cinta yaa…” Kyuhyun menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali ke dapur.

   ”Ah keurae, Oppa! Donghae Oppa, jinjja babo saramiya,” Chihoon ikut berlenggang mengikuti Oppanya.

   Kyorin geleng-geleng sambil tersenyum.

   ”Hei, Brenda! Ayo kita lanjutkan~”

*Town Square, Lokasi Recording Teenage Running Man*

Donghae tiba di depan mall yang besar dan didominasi oleh kaca-kaca transparan ini. Dan lokasi ini masih ramai, tentu saja. Sepuluh orang idol tengah berada di dalam, pastilah para penggemar fanatik mereka menunggu di depan sini. Dan Donghae harus mati-matian menutupi wajahnya agar tidak dikenali, dan mengendap-endap semakin dekat ke kerumunan van.

   Sepertinya recording masih berlangsung di dalam sana, karena Donghae bisa melihat beberapa Manajer yang kerap ia temui dalam acara musik di stasiun televisi, dan beberapa kru yang memegang kertas, atau mengatur cahaya, mereka saling berkomunikasi dengan tim yang tengah mengambil gambar di dalam gedung Times Square ini.

   Donghae kemudian bisa melihat van Felidis yang diparkir diantara sebuah van hitam lainnya, dan mobil hitam yang Donghae kenali sebagai mobil milik Haejin. Didekatinya mobil tersebut, dan melihat lampu alarm mobil Haejin masih menyala. Donghae berjongkok disana sambil kemudian melirik arlojinya.

   Pukul dua lewat tigapuluh menit dini hari, dan recording masih berlangsung.

   ”GYAAAAAA! OPPA‼!”

   Donghae nyaris terjungkal mendengar gemuruh teriakkan yang memecah kesunyian di waktu seperti ini. Nyaris mengira bahwa dirinya yang ketahuan, namun sepertinya ia salah. Donghae berdiri dan melihat beberapa member B2ST tengah mendekat ke arah mobil-mobil yang diparkir ini, dan para penggemar meneriaki mereka.

   ”HYUNSEUNG OPPA‼!”

   ”YOSEOB OPPA‼!”

   Donghae kembali merunduk ketika kedua pria itu melewati celah antara mobil Haejin dan van Felidis, menuju van mereka yang terparkir tepat di sisi van Felidis yang satunya.

   ”B2ST?” bisik Donghae masih dalam posisi berjongkok. ”Sejak kapan B2ST? Bukankah hanya Dongwoon yang kelahiran 1991?” gumam Donghae. ”Kenapa ada Hyunseung dan Yoseob?!”

   Donghae berjalan jongkok ke depan van Felidis agar bisa mencuri dengar percakapan dari Hyunseung dan Yoseob yang tengah mengambil pakaian dalam ganti di dalam van mereka, beserta handuk, dan sepertinya sedikit melemaskan kaki mereka.

   ”Aku kembali duluan ya, Hyung,” pamit Yoseob.

   Hyunseung mengangguk sambil menenggak air mineralnya dan kembali memakai jaketnya sambil meregangkan tubuhnya pelan-pelan. Karena hanya Hyunseung, Donghae berusaha mengambil kesempatan dan berdiri.

   ”Ssst! Hyunseungie!”

   Hyunseung nyaris saja menyemburkan air dan buru-buru berbalik sambil menatap ke kanan dan ke kiri. ”Hyung!”

   Donghae meletakkan telunjuk di bibirnya. ”Ssstttt! Jangan sampai ada yang tahu aku ada disini!” dan Donghae mendekati Hyunseung. ”Hai, apa kabar?” mereka bersalaman.

   ”Baik, Hyung,” Hyunseung membungkuk. ”Hyung sendiri?”

   ”Aku baik,” Donghae tersenyum. ”Kau ikut 91Liners juga?”

   ”Aniyo, Hyung,” senyum Hyunseung. ”Kami B2ST diundang sebagai bintang tamu hari ini. Lalu, Hyung, apa yang Hyung lakukan disini?” entah mendapatkan ilham dari mana, Hyunseung pastilah ingat ketika ia dan HyunA harus mengajari Haejin dan Donghae koreografi Trouble Maker di studio JYP ketika persiapan konser Felidis kurang lebih satu bulan lalu. Hyunseung menatap Donghae antara penasaran, yakin dan tidak. ”Hyung mau menemui Haejin?”

   Donghae menggeleng. ”Aku mau menjemputnya,” senyum Donghae.

   ”Ah,” Hyunseung mengangguk-angguk sambil terkekeh jail. ”Sepertinya recording memakan waktu lama Hyung, mungkin menjerang fajar kami baru selesai.”

   ”Itulah kenapa aku datang.” Sahut Donghae lagi. ”Dia akan menyetir sendirian besok karena Manajernya harus pergi,” jelas Donghae sambil berbisik lagi. ”Dan dia sudah kurang tidur, kemarin recording Invicible Youth-nya molor.”

   ”Ah, pantas dia terlihat lelah,” ujar Hyunseung bersimpati.

   ”Kalau begitu, Hyunseung-ah, kau bisa menolongku?” Donghae menatap Hyunseung penuh permohonan.

   ”Ah, ye, apa itu Hyung?” tanya Hyunseung.

   Donghae mendekat dan membisikkan sesuatu pada telinga Hyunseung, dan Hyunseung mendengarkannya dengan seksama, perlahan-lahan segurat senyuman terlintas pada wajahnya. Ia lalu mengangguk dan mengacungkan jempolnya. Donghae langsung menyalaminya sebagai bentuk ucapan terima kasih.

   ”Gomapta, Hyunseung-ah.”

   ”Ne, Hyung, serahkan padaku…” janji Hyunseung.

*           *           *

   ”Baiklah, hitungan ketiga kalian bisa masuk semua… satu… dua… tiga…”

   Haejin menghela napas dalam-dalam. Jika bukan karena air, dia takkan sudi masuk ke dalam kolam tersebut selama sepuluh menit! Aneh memang, Haejin merasa begitu menyukai air, meski air tersebut temperaturnya dibawah nol derajat, dan udara di luar pun masih dibawah nol derajat.

   Perlahan, mengikuti rekan-rekannya yang lain, kecuali Dongwoon, Hyorin, dan Dujun, Haejin memasukkan kakinya, sambil berteriak-teriak. Disebelahnya, Min sudah berjingkat-jingkat dan menyebabkan cipratan air kemana-mana, dan bahkan mengenai tangan atau wajah, dan semakin menyebabkan teriakan protes terdengar lagi.

   ”Aaaargggghhh!” gigi Eli sudah bergemeleteuk, Nana terus mencengkram pundaknya, juga Hyunseung yang mengcengkram kedua tangannya sendiri demi meredam rasa dingin yang mnejalar di kakinya. Kelompok anak-anak kecil, Mir, Min, dan Yoseob masih berjingkat-jingkat, sementara yang terkena jangkauan cipratannya, yakni Jinwoon, Nicole, dan Junhyung mulai ngomel-ngomel.

   Syukurlah, Minho dan Gikwang diam seribu bahasa, hanya wajah mereka yang memperlihatkan betapa menderitanya kaki yang harus direndam di dalam air es ini. Keduanya terus menunduk, berusaha menahan dingin sementara Haejin cuma bisa terkekeh melihat ekspresi menderita keduanya, yang seolah-olah berkompetisi untuk tidak mengeluarkan suara.

   ”Sepuluh menit, selesai!”

   Dan tim anak-anak Min, Mir, Yosoeb buru-buru mencelat keluar dari dalam kolam diikuti Nana yang dipegangi Eli agar tidak terpeleset. Semua membungkuk mengucapkan terima kasih, dan saling bersalaman, karena recording akhirnya selesai pukul setengah lima pagi.

   ”Terima kasih,” Haejin terus membungkuk-bungkuk sambil berjingkat-jingkat dan satu tangan menenteng sepatunya. ”Terima kasih… Oppadeul, terima kasih,” Haejin menyalami member B2ST satu persatu. ”Terima kasih, kangdongnim, Scriptwritter Eonnie, PD-Nim, semuanya.”

   Member 91Liners berkumpul di meja yang memang disediakan oleh staff, sambil memakai kembali sepatu mereka, masih ada yang saling cerita soal kesibukan mereka setelah recording, dan beberapa bergumam ingin segera bertemu tempat tidur. Setelah sepatu mereka terpasang, satu persatu mulai pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian mereka.

   Ketika Haejin keluar dari kamar mandi bersama Nana dan Min, muncullah Hyunseung yang nampak terburu-buru. ”Ini Haejin-ah,” Hyunseung menyerahkan kunci mobil.

   ”Ini kunci mobilku?” tanya Haejin heran.

   ”Ne, tadi Manajermu menitipkannya ketika dia buru-buru, aku duluan ya, Haejin,” Hyunseung menepuk bahu Haejin, lalu ber-high five dengan Nana dan Min. ”Aku duluan ya.”

   ”Ne, Oppa, kamsahamnida.” Nana dan Min membungkuk dan mereka sama-sama melambai pada Hyunseung.

   Haejin memasukkan seluruh perlengkapannya yang masih tercecer ke dalam beberapa tasnya, saat satu persatu teman-temannya mulai berpamitan untuk memenuhi jadwal mereka berikutnya, atau mungkin yang beruntung, bisa pulang dan beristirahat di kediaman mereka.

   ”Oke, bye!” Haejin melambai pada Minho dan Nana yang paling akhir meninggalkan lokasi, setelah yang lainnya. Lalu Haejin sendiri berjalan menuju mobilnya sambil mengecek waktu di ponselnya, sudah setengah enam pagi ternyata. Matanya mulai pedas dan berair, tubuhnya serasa mau patah.

   Haejin berjalan mendekati mobil dengan langkah gontai sambil terus menepuk-nepuk punggungnya dengan tangan kanannya yang juga menenteng sebuah travel bag kecil, tangan satunya juga menenteng kopor kotak berisi peralatan make up dan aksesorinya, sementara akhirnya ia mulai bisa merasakan efek setelah sepuluh menit berendam di dalam air dingin di tengah cuaca seperti ini.

   Haejin berjongkok sebentar untuk meredam sakit yang mulai menjalar di bagian kakinya yang kedinginan, meski sudah terbungkus kulit dari sepatu Alexander MacQueen-nya. Mendadak, Haejin merasa kedua tangannya menjadi sangat ringan, tasnya sudah diraih oleh seseorang.

   Haejin mendongak, dan membelalak.

   Donghae dengan mantel lengkap, kacamata hitam, di pagi buta. Kombinasi yang, sulit di deskripsikan. ”Mana kuncinya?”

   ”Hah?!” Haejin masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

   ”Kunci! Mana kunci mobilmu?!”

   Haejin langsung mengeluarkannya dari saku mantelnya dan memberikannya pada Donghae dengan clueless. Dia masih memandangi Donghae dengan bingung, seolah-olah bertanya darimana munculnya pria ini? Kenapa tiba-tiba bisa ada di hadapannya begitu saja?

   Donghae membuka kunci pintu mobil Haejin dan langsung memasukkan barang-barang tersebut ke dalam jok tengah, lalu melirik Haejin yang masih nampak kosong sambi berjongkok, dua meter dari mobilnya diparkir. Donghae berdecak.

   Apa yang dipikirkan gadis bodoh itu? Melongo saja melihatnya ada disini? Pikirnya gusar! Di dekatinya Haejin, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri sambil merapatkan mantel, kupluk, kacamata. ”Hei! Mau berapa lama kau berjongkok disitu?! Udara sangat dingin!”

   ”Ah…” Haejin masih kesulitan menemukan kata-kata, dia masih menatap Donghae heran, bingung, dan… haru. Bagaimana Donghae bisa kesini? Apa Donghae tahu kalau Haejin harus menyetir sendiri? Apakah Donghae mengkhawatirkannya? Semua pikiran itu membuat kedua matanya memanas.

   ”Ya!” panggil Donghae lagi.

   ”Ka… kakiku sakit,” akhirnya Haejin menunduk sambil memijat kakinya yang mulai ngilu.

   ”Sakit?! Kau terkilir?!” tanya Donghae cepat, Haejin bisa menangkap ada getar khawatir disana.

   Haejin menggeleng.

   ”Kau terlalu banyak memakai sepatu tinggi! Atau jangan-jangan kau lari-larian di dalam mengenakan sepatu itu?! Terimalah jati dirimu sebagai gadis dengan tinggi badan kurang!”

   Haejin menggigit bibirnya emosi! Enak saja, tinggi badan kurang! ”Kau perlu kuberikan kaca?!” omel Haejin balik. ”Lagipula ini bukan karena aku lari-lari menggunakan sepatu tinggi! Kau kira aku bodoh apa?!”

   Donghae diam. Barulah akhirnya ia bertanya kembali, ”Ya lalu, karena… apa?”

   ”Masuk ke air es, di hukum… kalah.”

   ”Masuk air es?!”

   ”Oh,” Haejin mengangguk, dan mencoba berdiri namun langsung terhuyung ke depan.

   Dengan sigap Donghae menahan tubuh limbung Haejin dalam kedua tangannya. Ketika tubuh mereka bergesekkan, keduanya sama-sama tersentak. Getar-getar yang dulu ada, tetap ada disana, menggelora, menggila, dan tak pernah hilang! Haejin bisa merasakan betapa panasnya wajahnya, dan andai saja ia tidak sibuk merutuki dirinya sendiri, mungkin ia bisa merasakan betapa panas udara yang menguar keluar dari tubuh Donghae pada saat yang sama.

   ”Kau ceroboh!” omel Donghae sambil berdeham, padahal sudah begitu bahagia bisa merasakan gadis ini dalam pelukannya lagi! Tapi kemudian sebelum Haejin bisa menjawab diayunnya tubuh gadis itu, dan kini Haejin dalam gendongannya.

   Kontan kedua mata Haejin membelalak lebar.

   Dibawanya Haejin masuk ke kursi penumpang, dan dipasangkannya sabuk pengaman Haejin tanpa bicara lagi, lalu menutup pintunya. Setelah itu barulah ia duduk di kursi kemudi, dan mulai menyalakan mesinnya. Diliriknya gadis di sebelahnya yang kelihatan gugup tersebut, dan Donghae ingin sekali merasakan kembali bibir yang tengah digigit oleh pemiliknya sendiri tersebut.

   Menahan keinginannya dan mengembuskan napas berat, menatap lingkaran hitam di mata Haejin yang makin menjadi, diturunkannya perlahan kursi Haejin ke belakang, dan Haejin lagi-lagi terbelalak, karena posisi Donghae yang membungkuk ke arah kursinya yang membuatnya berbaring.

   ”Tidurlah…” bisik Donghae.

-To Be Continued-

Finally, Annyeonghaseyo… Jinhaeternal, mana suaranya??? #plakk akhirnya bisa publish Still juga, yang nanyain banyak *bow* maaf yaaa gak bisa cepet ngerjainnya, entah kenapa… bawaannya emosi kalo liat Ikan Mokpo belakangan ini wkwkwkwkwk, padahal udah di kasih blow kiss pas di Singapore kemaren, eeeh pulang-pulang tetep aja bete lagi nyahahahahaha, Nisya emang aneh!

Can I expect 100 comments here?? #slapped soalnya kemaren di The Day, komen tembus seratus, tapi di Still nggak nembus, padahal kalo diliat-liat rasio yang baca sama ==” Ayo komen komen, setiap komen sangat berharga hahahaha…

Dan ada yang ingat ini bulan apa? Fufufu, yep bulan Maret, dan 31 Maret 2012 nanti, genap dua tahun JinHae eksis pacaran di dunia FF, untuk memeriahkan dua tahun, Nisya bakalan bikin lomba lagi semacam kayak kemaren Anniv JinHaeXy, jadi ditunggu partisipasinya yaaaaa girls ^^

Doain aja si Donghae nggak nakal lagi yaaa, karena emosi saya lagi labil nih sama dia :p eeeh imbasnya ke FF deh wkwkwkwkwk. See yaaa, kamsahamnida!!

104 thoughts on “{JinHaeXy} STILL ~Part 3~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s