{JinHaeXy} STILL ~Part 2~

Title : Still

Author : Nisya (Donghae’s Wife)

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Humor, Friendship

Rated : PG-17

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin

Supporting Cast :

  • Felidis Members
  • Super Junior Members

Backsound :

  • Super Junior M – Confession

Tag Line :

A Girl, always love a dangerous boy by Mikaela – Transformers 2

{JinHaeXy} STILL ~Part 2~

 

Haejin menatap pantulan wajahnya di depan cermin wastafel di dalam kamar mandi lantai dua belas, atau lebih tepatnya, dorm atas Super Junior, dengan handuk pink melilit di kepalanya. Diangkatnya kedua tangannya dan ditepuk-tepukkannya pada wajahnya yang terus memerah.

   ”Ah, otokhe?!” dia berjingkat-jingkat sendiri, lalu menghela napas. ”Apa-apaan sih ini?! Kenapa aku seperti gadis remaja saja?! Aaaarrggghhh!” Haejin melepaskan handuknya dan memukul-mukulkannya pada wastafel, dan membuat beberapa perkakas mandi penghuni lantai dua belas jatuh berserakan ke lantai. ”Ah!” Haejin menepuk dahinya. ”Cerobohnya!” dan Haejin membungkuk untuk mulai memunguti sabun-sabun cuci muka, mesin pencukur, dan beberapa pasta gigi.

   Pintu kamar mandi diketuk. ”Haejin-ah?! Gwenchana?!” Haejin bisa mendengar nada cemas dari Leeteuk yang kini tengah berada di depan pintu kamar mandi.

   Haejin menepuk dahinya, suara barang-barang jatuh ini pastilah terdengar sampai keluar. Lagi-lagi ia merutuki dirinya sendiri yang gugup hingga menjadi bodoh mendadak begini.

   ”Jin-ah?! Ya!” Leeteuk lagi-lagi mengetuk pintu.

   ”Ani, ani…” gagap Haejin sambil berteriak, menjawab. ”Nan gwenchana, Oppa, jeongmal!”

   ”Jinjja?! Kau tidak sakit atau apa kan?”

   ”Tidak, tidak, Oppa,” sahut Haejin cepat.

   ”Ya sudah,”

   Haejin mengembalikan kembali alat-alat itu ke tempatnya lalu memutuskan untuk, mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang, dia toh tetap harus keluar dari kamar mandi. Tidak mungkin juga dia mengurung diri lama-lama, di kamar mandi orang pula!

   Haejin menekan gagang pintunya dan keluar dengan hati-hati, menoleh ke kanan dan kekiri sambil menggigit bibir ngeri. Setelah memastikan ruangan kosong, dia menghela napas lega dan kembali menutup pintu kamar mandi, lalu berjingkat-jingkat dengan hati-hati menuju kamar Hankyung yang ditempatinya, selama tiga hari ke depan.

   Tanpa menyadari ada seorang pria yang mengamatinya dengan heran dari dapur.

   ”Hah~” Donghae menghela napas memandang pintu kamar Hankyung yang menutup barusan dari dapur, dan menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mendekat ke arah kulkas dan membukanya. Dia perlu pengalihan perhatian, atau kini ia akan berlari menerobos pintu kamar tersebut.

   Diraihnya sekarton susu, dan diminumnya. ”Kenapa di atas sini sepi sekali?” tanyanya tiba-tiba dan mengernyit. ”Lalu kenapa Felidis bisa datang dan menginap disini? Kenapa hanya aku yang tidak tahu?” tanya sambil menggoyangkan karton susunya. ”Aish! Aneh!” dibukanya lagi kulkas dan dimasukkannya kembali karton susu yang telah ia minum tersebut.

   Dan berjalan kembali ke dalam kamarnya, dilihatnya Leeteuk, tengah bersiap-siap merapikan dirinya di depan cermin tinggi yang berada di dalam kamar mereka.

   ”Hyung!”

   ”Oh,” Leeteuk memakai mantelnya.

   ”Kenapa Felidis bisa tiba-tiba ada disini, Hyung?” tanyanya heran.

   Leeteuk memutar tubuhnya, sehingga kini benar-benar menatap adiknya itu, Leeteuk tak lama kemudian tersenyum. ”Memang kau tidak diberitahu?” Donghae menggeleng sambil duduk di depan meja kerjanya, dengan mata terpancang pada Leeteuk. ”Air di Sky Dining Apartement sedang dalam perbaikan, pipanya, maksudnya. Memang mungkin di musim dingin begini mereka jarang menggunakan air, namun tetap saja kita tidak bisa hidup tanpa air, kan?”

   ”Dan mereka menginap disini?”

   ”Oh, katanya sih mati airnya hanya selama tiga hari,” Leeteuk kembali menghadap kaca dan memeriksa bayangannya. ”Sepertinya sudah oke, aku, Eunhyuk, dan Shindong harus berangkat sekarang. Kau jaga rumah, jangan keluar-keluar ya, dan jangan biarkan Manajer Hyung tahu ada Felidis disini.”

   Tiba-tiba kedua mata Donghae melebar kaget. ”Eh, wae? Bukankah biasanya Manajer Hyung…”

   ”Manajer Hyung mengizinkan jika mereka berkunjung, tidak menginap… lagipula jika mereka menginap kan, Manajer Hyung selalu tidak ada. Aku tidak tahu apakah Manajer Hyung akan kesini atau tidak, karena kita sebentar lagi akan konser selama empat hari Taiwan, tentunya mereka akan sering kesini.”

   ”Ah, Hyung!” pekik Donghae sambil berdiri. ”Bagaimana mungkin kau meninggalkanku sendirian dengan Felidis kalau begitu?!”

   ”Ya, Donghae-ya, aku tidak meninggalkanmu sendirian dengan tiga gadis itu.”

   ”Lalu?!”

   ”Aku hanya meninggalkanmu dengan Haejin, sudah.” Leeteuk mengatakannya tanpa dosa.

   Donghae menunduk dan memainkan kepala kursinya dengan salah tingkah, tidak berani menatap Leeteuk. Didengarnya kakak tertuanya di Super Junior tersebut terkekeh dan menepuk bahunya.

   ”Bukankah dulu kalian ingin sekali kutinggalkan hanya berdua saja?” dan Leeteuk pergi begitu saja, meninggalkan Donghae yang berwajah merah padam. Diikutinya leader-nya itu keluar, Leeteuk tengah memakai sepatu di ruang tengah. ”Apa lagi? Kau mau ikut aku kerja? Kalau nanti Manajer Hyung kesini dan menemukan Haejin sedang tertidur bagaimana?”

   ”Tapi, Hyung…” Donghae terus berusaha menjelaskan, menjelaskan apa, dia sendiri tidak bisa mengutarakannya. ”Bagaimana mungkin kau meninggalkanku dengannya dalam keadaan seperti ini?”

   ”Keadaan apa yang kau maksud?” tanya Leeteuk sabar.

   ”Hyung! Jangan pura-pura tidak tahu!” seru Donghae dengan sedikit memelankan suaranya, bagaimana pun dia tidak mau Haejin mendengar bahwa ia tidak ingin berada di tempat ini sendirian saja berdua dengannya. ”Lagipula dimana Ryeowook? Dimana yang lainnya yang seharusnya disini?”

   Leeteuk mengangkat bahu. ”Mana kutahu, yang jelas aku, Shindong, dan Eunhyuk harus bekerja, Ryeowook dimana, aku kurang paham. Chihoon dan Kyorin mungkin sedang sekolah. Sungmin mungkin di bawah, ya kalau kau tidak punya hati meninggalkan Haejin sendirian disini, silakan. Aku toh takkan melarangmu.”

   ”Ayo, Hyung kita berangkat!” Shindong dan Eunhyuk keluar dari dalam kamar Shindong bersamaan.

   ”Kalian benar-benar akan meninggalkanku sendiri?!” tanya Donghae.

   ”Memang kenapa? Biasanya kau juga sendiri,” tunjuk Eunhyuk heran.

   ”Oh, kenapa jadi manja lagi? Memang kakimu sakit lagi?”

   Donghae memutar matanya putus asa.

   ”Kami berangkat dulu,” Leeteuk memimpin Shindong dan Eunhyuk keluar dari dorm, diiringi tatapan putus asa oleh Donghae.

   Donghae mengembuskan napasnya berat ketika dilihatnya Shindong menutup pintu apartemen lantai dua belas, tanpa belas kasihan sedikitpun kepadanya. Dan kini, seperti yang mereka semua rencanakan, pikir Donghae. Dia benar-benar berdua bersama Haejin di dalam dorm ini. Bagaimana ini? Pikirnya sambil mengembuskan napasnya pelan-pelan, dan wajahnya memanas.

   Kenapa dia harus malu???

*           *           *

Mimpinya menjadi nyata. Jawaban atas doa-doanya selama beberapa hari ini terkabul. Kekasih hatinya melakukannya, mengabulkannya. Haejin memejamkan matanya, dengan kedua tangannya terselip diantara jemari panjang Donghae, dan membiarkan sensasi itu merasukinya.

   Sakit! Demi penguasa bumi dan surga, sakitnya tak tertahankan. Haejin melepaskan pegangannya pada jemari Donghae, dan ganti menggigit bibirnya menahan seluruh rasa sakit tersebut, dan tangannya mencengkram punggung kekar Donghae yang liat dan basah bermandi keringat.

    Mereka sama-sama terengah. Ternyata menjadi satu tidaklah semudah dan seindah yang mereka bayangkan pada awalnya. Terutama Haejin, dia terus mencengkram punggung Donghae sambil terengah, ketika ia benar-benar tidak kuat, dan nyaris kehilangan pegangan, Donghae dengan perlahan meraih kepalanya, mata mereka kembali saling menatap. Donghae bisa melihat wajah Haejin yang menahan sakit, dikecupnya bibir Haejin yang membiru karena gigitan kerasnya.

   Kembali mereka bertukar kehangatan, dan saling menyalurkan rasa cinta mereka. Dengan tangan kangannya, Haejin meraih rambut cokelat Donghae, diremasnya, dan terus kecupnya mesra bibir Donghae yang memangutnya kuat. Keduanya tersengal-sengal, dan Donghae ganti mengecup ringan bibir Haejin, sementara tangan kirinya kembali turun menuju kedua belah bukit indah yang berada di dada Haejin. Diremasnya perlahan, dengan tangan kanannya memaksa Haejin mencium bibirnya penuh-penuh.

   Kedua tangan Haejin semakin mengeratkan pelukan Donghae, dan bibir mereka kembali bertukar kecupan. Donghae memainkan bibir atas dan bawah Haejin bergantian, lalu memejamkan matanya rapat-rapat, juga mencengkram kedua bahu Haejin erat.

   ”Ah!” Haejin menjerit kecil tatkala akhirnya Donghae berhasil melakukannya.

   Keduanya sama-sama terdiam dan mengatur napas mereka masing-masing, Donghae menundukkan kepalanya diantara lekuk leher dan bahu Haejin, sementara Haejin menatap nyalang pada sinar rembulan yang menerobos masuk jendela kamar hotel mereka. Indah sekali, sama seperti perasaannya saat ini.

   Kekasihnya itu masih saja diam tidak bergerak sama sekali dalam pelukannya, sementara kini, Haejin membelai-belai pelan rambut cokelat Donghae yang terjatuh tepat di depan dagunya. Keduanya tidak bertukar kata, hanya napas mereka yang kian teratur yang terdengar sahut menyahut seirama.

   Haejin terus membelai rambut Donghae, tak peduli dengan berapa lama waktu yang telah lewat, dan mengapa Donghae belum juga bergerak untuk menyelesaikan semuanya. Yang penting sekarang bagi Haejin, dia sudah menunaikan keinginannya yang terdalam, untuk pria pilihannya, maka ia takkan pernah menyesal lagi.

   ”Momma…” panggil Donghae lirih dari sela leher dan bahu Haejin.

   ”Hmm?” gumam Haejin sambil masih terus membelai kepala Donghae.

   ”Gwenchana?” tanyanya kecil, seperti ketakutan.

   Haejin terkekeh. ”Oh, gwenchana, jinjja gwenchana, Poppa…” sahut Haejin yakin sambil tersenyum.

   ”Jeongmal?”

   ”Oh, jeongmal!”

   Perlahan Donghae mulai bergerak dan menaikkan lagi tubuhnya yang tadinya berbaring di atas tubuh Haejin. Kedua tangannya menahan berat tubuhnya, agar kini ia bisa dengan jelas menatap wajah Haejin yang sayu, yang terus membelai rambut cokelatnya yang sudah berantakan karena aktivitas mereka.

   Keduanya bertatapan sesaat, sampai Donghae akhirnya mendekatkan wajahnya pada wajah kekasihnya tersebut, dan mengecup bibirnya mesra. Haejin memejamkan matanya menikmati sensasi ciuman tersebut, rasanya selalu sama, hangat, lembut, panas, dan memabukkan pada saat bersamaan. Ciuman Donghae bagaikan candu, bagaikan air, dan Haejin bagaikan musafir di tengah padang pasir yang membutuhkan oase, atau dia akan segera mati.

   Haejin menyesap bibir Donghae lambat-lambat, dan pergumulan mereka jelas membuat stok oksigen mereka menurun drastis, sehingga suka tidak suka, rela tidak rela, mereka harus melepaskan satu sama lain. Haejin membelai-belai pipi Donghae dan mengusap bibir Donghae yang masih basah setelah ciuman panjang mereka.

   Keduanya kembali bertatapan, Donghae mengecup hidung Haejin, perlahan ciuman itu turun hingga ke dagu, dan tiba di leher. Dikecupinya setiap inci leher Haejin, sehingga napas Haejin tercekat-cekat, dan sesekali Haejin mengerang menahan nikmat.

*           *           *

Haejin bangun, dan langsung terduduk. Keringat membanjiri kepala dan lehernya, napasnya terengah-engah, mimpi itu, seolah menjadi nyata kembali. Haejin seolah benar-benar bisa merasakannya tadi! Tapi, ketika ia kembali ke dunia nyata, semuanya kembali seperti semula. Muram! Haejin menghela napas dalam-dalam, lalu mengusap peluh yang membanjiri dahi dan lehernya.

   Ketika ia menyentuh lehernya tersebut, tenggorokannya langsung terasa tercekat, dia masih bisa menyusuri jejak-jejak yang Donghae buat, ketika pria itu mengecup tiap inchi lehernya, dan ketika akhirnya Donghae dengan hati-hati dan dengan takut-takut mulai bergerak, mengajaknya mendaki sebuah puncak kenikmatan, dan terjun bebas berdua setelahnya.

   ”Apa yang kupikirkan?!” Haejin menepuk-nepuk pipinya dengan kasar, lalu bangkit dan dengan panik membuka koper pink-nya, lalu mengambil handuk dan menyeka keringatnya, dengan keras, seolah berusaha menghapus jejak bibir Donghae yang begitu terasa kuat di leher dan sekitar dada, bahkan sekujur tubuhnya. ”Andwae!” cicitnya.

   Ketika ia menatap kaca, ia menyadari betapa merah wajahnya. ”Woah! Ini mengerikan! Ige mwoya?!” kembali Haejin menggosok wajah, lalu menepuk-nepukkan pipinya kasar.

   ”Haejin-ah? Neo, gwenchana?” dari luar, suara pria yang begitu dikenalnya, yang baru saja masuk ke dalam mimpinya mengulangi saat-saat indah mereka di Saipan beberapa bulan lalu terdengar, dan wajah Haejin seketika memanas mendengar suaranya begitu dekat.

   ”Ya! Haejin-ah?”

   Haejin kemudian berjongkok dan menutup kedua telinganya. ”Aa…ah… ye… gwenchanayo.” Jawabnya gugup.

   Donghae yang masih menempelkan telinganya di daun pintu kamar Hankyung semakin merasa heran dengan tingkah laku Haejin, sejak pagi tadi. Apa yang terjadi padanya?

   ”Oh, jinjja gwenchana?”

   ”Ye, gwenchanayo, Sunbae.”

   Kedua mata mereka, Haejin dan Donghae sama-sama melebar mendengar kata Sunbae barusan. Haejin menjitak kepalanya sendiri, dan menepuk-nepuk bibirnya yang mengeluarkan sapaan itu, sementara Donghae merasa begitu kaget, seolah dadanya didorong oleh ratusan orang agar terhuyung mundur ke belakang.

    Donghae menatap pintu itu sebentar, sebelum akhirnya memutuskan pergi dari sana, dibandingkan air matanya harus tumpah lagi. Donghae masuk ke dalam kamarnya, dan sedikit membanting pintunya menutup, ketika Haejin keluar dan berusaha menjelaskan maksudnya tadi.

   Haejin menatap pintu yang menutup itu, dan menunduk sedih, lalu memilih kembali ke dalam kamar, dan duduk di atas tempat tidur sambil memegang kedua wajahnya. Merasa menyesal.

   ”Apa aku harus sekaku itu padanya?” desah Haejin berat.

   Sementara Donghae duduk di atas tempat tidurnya, dan memandang kosong ke lantai. Berharap lantai itu mau berbaik hati menelannya hidup-hidup dan tidak perlu kembali lagi kesini.

   Sapaan formal itu sudah menjadi jawaban seluruh sikap Haejin. Apakah selelah itu Haejin sehingga benar-benar membangun tembok tinggi, yang tidak mengizinkannya untuk masuk? Donghae menghela napasnya dalam-dalam, dan mengembuskannya dengan mulutnya perlahan-lahan, berusaha menenangkan dirinya.

   ”Oke, tenang Lee Donghae, jalanmu masih panjang, tenang…” Donghae menghipnotis dirinya sendiri. ”Berhenti jadi Donghae cengeng! Kau harus bisa! Sabar, sabar…”

   Setelah sedikit tenang, Donghae mengerling jam dinding di kamarnya yang sudah menunjukkan pukul dua belas siang, dan perutnya yang sudah sedikit terasa kosong karena tadi pagi ia hanya minum susu. Diputuskannya untuk keluar dan melihat keadaan sekitar. Tetap belum ada member lain yang menunjukkan batang hidungnya disini.

   Donghae merogoh kantung celana training-nya dan mencari nomor ponsel Ryeowook dan menghubunginya, terdengar suara Ryeowook menjawab dari sana. ”Ryeowook-ah, kau dimana?”

   ”Aku sedang di kantor, ada apa Hyung?”

   ”Kau tidak di rumah? Ani, aku lapar…”

   ”Aigo, mianhae Hyung, aku mungkin kembali dua jam lagi, Hyung sebaiknya masak ramyeon saja dulu, nanti begitu pulang aku akan masakkan.”

   ”Ah, baiklah, hati-hati,” Donghae mematikan ponselnya. ”Mana mungkin anak itu kuberikan ramyeon? Dia harus menjaga kesehatannya, kesibukannya padat sekali belakangan ini.” Donghae memandang pintu kamar Hankyung, yang terlihat masih dingin baginya.

   Donghae berjalan menuju dapur dan membuka kulkas, bahan makanan ada beberapa di dalam sana, tetapi bagaimana mengolahnya? Donghae menggaruk kepalanya, dan akhirnya mengeluarkan seekor ayam yang sudah siap dimasak, berikut beberapa sayuran yang terlihat masih cukup segar.

   ”Cuaca dingin, buat sup sajalah,” dengan percaya diri yang mendadak naik cukup tinggi, Donghae meraup semua bahan-bahan tersebut dan membawanya ke konter dapur, setelahnya, ia mengambil peralatan yang diperlukan untuk mengolah itu semua dan dibawanya juga ke konter dapur.

   Dan dalam waktu singkat saja, dapur yang tadinya rapi dan lengang tersebut, bagaikan terkena badai, dalam waktu yang cukup singkat. Donghae berusaha meminimalisir suara-suara mengerikan yang ia hasilkan, namun apa daya, tangannya tetaplah tidak selihai Ryeowook dalam mengolah bahan-bahan masakan.

   Sampah-sampah bawang dan bumbu lainnya berserakan di konter, dan Donghae butuh waktu seperempat jam hanya untuk menguliti bawang saja. Dengan jarinya, ia tekuri dengan hati-hati resep sup ayam tersebut, sambil mengocok bumbu-bumbu yang ada di dalam mangkuk dengan satu tangan.

   Setelah dalam waktu singkat membuat dapur porak poranda, Donghae menatap ayam yang polos dan montok tersebut dengan perasaan tak karuan. Biar bagaimanapun juga, dia belum pernah memotong ayam.

   Diambilnya sebilah pisau daging yang besar dan berat itu, lalu menelan ludahnya sendiri, diluruskannya posisi ayam tersebut, dan diayunkannya tangannya yang memegang pisau berat tersebut secara perlahan ke atas.

   ”ANDWAE!”

   Pisau tersebut terjatuh, dan Donghae terkesiap, untunglah pisau tersebut jatuhnya tidak di atas tangan mulusnya, atau bisa dipastikan kini tangannya siap menjadi menu santapan bersama ayam tersebut.

   ”Ya! Kau mengagetkanku saja!” omel Donghae.

   Haejin menekap mulutnya, masih berusaha mencerna apa yang terjadi dengan nalar pikirannya. Dipandangnya pisau daging tersebut, tangan Donghae yang berada di atas ayam, lalu ayam tersebut, dan diteguknya ludahnya kuat-kuat.

   ”Oh, kau sedang memasak,” Haejin mendesah lega.

   ”Memang kau kira aku sedang apa? Bunuh diri?!” tanya Donghae dengan nada tajam, mengatur degup jantungnya yang semakin lama semakin cepat. Menghindari kegugupan, Donghae mengambil kembali pisau tersebut, dan menunduk, sementara ia bisa merasakan, sedikit demi sedikit Haejin mendekat ke konter. ”Ada apa?” tanyanya tanpa mendongak.

   Haejin menggigit bibirnya dan menatap Donghae, lalu ke ayam, kembali ke Donghae, dan ke ayam kembali. ”A…ani,” ditelannya lagi ludahnya kuat-kuat, dicobanya untuk tak lagi memakai sapaan formal pada Donghae, Donghae meliriknya sekilas, lalu kembali pada ayamnya. ”Kukira ada apa, suara gaduh di luar…” Haejin menggigit bibirnya.

   ”Maaf kalau mengganggu istirahatmu.” Sahut Donghae sedikit ketus.

   ”Ani…” Haejin buru-buru geleng-geleng.

   Lalu Donghae akhirnya mendongak menatap Haejin, dengan dingin. ”Lalu apa yang kau lakukan disini?” tanyanya, dia tidak bisa menahan debaran jantungnya yang menggila, yang menginginkan gadis di hadapannya kini ada dalam dekapannya.

   Haejin sedikit kaget dengan sikap Donghae yang sedikit acuh tak acuh itu, dan bergumam. ”Aku… lapar…” sahutnya pelan-pelan.

   ”Lalu?” Donghae menunduk dan berusaha memilah mana yang harus ia belah terlebih dahulu.

   Haejin kembali tersentak dengan sapaan dingin itu. ”Aku mau beli makanan dulu,” akhirnya Haejin menunduk dan berbalik, hendak mengambil dompetnya ke dalam kamar.

   ”Tak usah! Aku mau masak, kok, makan saja disini.”

   ”Tapi…”

   ”Aku tidak akan meracuni masakan ini!”

   ”Aku tidak bilang kau akan meracuninya!” seru Haejin ikut sebal dan berbalik menatap Donghae tajam.

   Donghae buru-buru menunduk, akhirnya memutuskan untuk membelah bagian mana saja. ”Kalau begitu diam dan tunggu saja disini. Kami masih mampu memberi makan kalian kok!”

   ”Kami bukannya menumpang dengan sengaja!”

   ”Yang bilang sengaja siapa?!”

   Haejin memutar matanya dan masuk ke dalam kamar Hankyung dengan sedikit membanting pintunya sebal. Ditekannya pintu yang menutup itu dengan tubuhnya, dan dadanya naik turun menahan marah. Kenapa Donghae berlaku seperti itu? Seolah-olah dia adalah lalat pengganggu?! Menyebalkan!

   Tapi… Haejin menggigit bibirnya, Donghae tadi kelihatan seperti Bul Pasang di drama Taiwannya, begitu dingin dan… menggoda! ”AAAARRRGGGHHH! JINJJA!” Haejin menjerit.

   ”YA!” teriak Donghae kaget lagi masih sambil menghadapi ayam. ”Kau yang mau bunuh diri sekarang?!” serunya.

   ”Mwo?!” balas Haejin dari dalam kamar, dibukanya pintu kamarnya dengan kasar. ”Ani! Untuk apa aku bunuh diri?!”

   ”Lalu kenapa kau teriak-teriak?! Disini yang tinggal bukan hanya kau!”

   ”Ah! Aku bisa gila tinggal disini bersamamu!”

   ”Kalau begitu pergi saja dari sini! Tidak ada yang memintamu kesini, kan?!”

   Haejin terperangah mendengar kata-kata Donghae barusan, bibirnya bergetar, dan matanya ototmatis berkaca-kaca. ”Keurae!” balas Haejin sambil berbalik dan masuk ke dalam kamar lagi, membereskan barang-barangnya dengan serampangan, dan mengusap matanya dengan sebal.

   Donghae menghela napas, dan mengutuki dirinya sendiri, dan juga mulutnya yang entah mengapa mendadak menjadi tajam. Tak pernah, meski dalam mimpi sekalipun dia ingin Haejin pergi dari hidupnya. Dan dilihatnya Haejin benar-benar keluar menarik koper pink-nya, dengan wajah kacau menahan air mata.

   Tak adakah yang bisa ia lakukan untuk gadis ini selain membuatnya menangis?

   ”Kau mau kemana?!”

   ”Bukan urusanmu!” balas Haejin tajam dan menarik kopernya, lalu memakai mantelnya kencang.

   ”Jangan seperti anak kecil!” seru Donghae lagi. ”Kau kira dengan kau pergi seperti ini siapa yang akan disalahkan nanti? Aku! Padahal kau yang memang ingin keluar sendiri! Kalau kau memang ingin keluar dari sini, tunggu nanti ketika semuanya kembali!”

   Haejin menoleh menatap Donghae tajam, dan bibirnya bergetar.

   ”Apa?!” tanya Donghae ketus, lalu buru-buru mengalihkan pandangannya lagi ke arah talenannya dengan ayam yang baru saja terbelah dua.

   ”Neo…” bisik Haejin dalam. ”Kau selalu membuatku ingin pergi, tapi kau memintaku untuk selalu tetap tinggal pada akhirnya… sebenarnya apa yang kau mau, sih?!” tanya Haejin dalam.

   Donghae mendongak dari ayamnya, dan mendadak bulu romanya meremang. Kata-kata Haejin tadi seperti jarum, menusuk! Donghae meletakkan pisaunya, lalu berbalik menatap Haejin dengan pandangan matanya yang tajam.

   ”Kalau kau mau pergi silakan, aku takkan menahanmu,” kata Donghae pelan, dilihatnya kedua mata Haejin melebar. ”Tapi begitu kau keluar dari pintu itu, kau akan kuseret kembali masuk kesini!”

   ”Cih~” dengus Haejin.

   ”Jadi kalau kau mengerti maksudku, bawa kembali kopermu ke dalam kamar Hankyung Hyung sebelum aku yang menggendongmu paksa kembali ke kamar.”

   Haejin lagi-lagi terperangah.

   ”Oh, dan itu bukan kamar Hankyung Hyung,” lanjut Donghae lagi sambil menoleh sekilas, dan memberikan senyum mautnya. ”Tapi kamarku.”

   ”Mwo?!”

   ”Kau belum tuli, aku tahu itu,” lanjut Donghae sambil lalu dan memotong ayamnya lagi. ”Cepat kembali ke kamar Hankyung sebelum aku mulai menghitung mundur, tiga…”

   Dan Haejin menyeret kopernya kembali ke kamar Hankyung. Ditutupnya kembali pintu kamar Hankyung dan dia menekan-nekan dadanya yang bergemuruh, dan menekan kedua pipinya yang memerah. Padahal cuaca masih di bawah nol derajat, tapi kenapa suhu disini menjadi panas?

   ”Ah ya ampun,” Haejin mengipasi dirinya sendiri. ”Nappeun saram, mengapa dia berbahaya begitu sekarang?” desis Haejin melirik sinis ke pintu, namun debaran jantungnya mengkhianatinya, dia menyukai sikap mengancam Donghae yang terkesan ’nakal’ barusan.

A girl, always love dangerous boys _Megan Fox – Transformers 2_

 

Setengah jam kemudian, mereka berdua sudah duduk berhadapan di depan meja makan, dengan dua mangkuk berisi sup ayam, dan dua mangkuk nasi hangat. Donghae mengatur napasnya sambil meraih sumpit dengan tangan kanannya, lalu meraih semangkuk nasi.

   Haejin masih menatap mangkuk-mangkuk yang ada di hadapannya, tanpa berani melakukan kontak mata langsung pada pria yang duduk di hadapannya.

   Donghae menyiuapkan nasi ke dalam mulutnya, lalu menatap Haejin yang masih diam menatap nasinya. ”Ya! Kau tidak makan? Tadi katanya lapar…”

   ”Iya, aku makan,” Haejin meraih sumpitnya, dan memasukkan nasi ke dalam mulutnya sambil cemberut.

   ”Supnya kenapa tidak dimakan?!” tanya Donghae cerewet. ”Kau tidak mengira aku meracunimu, kan?”

   ”Kenapa pikiranmu selalu negatif sih?!” seru Haejin sambil mendongak.

   Donghae mengangkat alisnya dan bergumam menyebalkan. ”Kalau begitu jangan hanya makan nasinya.”

   Haejin mengambil sendok dengan serampangan, lalu memasukkan potongan sup ayam itu besar-besar ke dalam mulutnya. ”Oh! Puas?!” tanya Haejin sambil meletakkan kembali sendoknya.

   ”Othe?” tanya Donghae malu-malu, berusaha menyembunyikan seringaian senangnya, menunduk. ”Enak?”

   ”Bisa dimakan lah,” sahut Haejin acuh tak acuh, berusaha menghindari wajah tampan Donghae yang sedikit menyeringai tersebut, dan meneguk air yang ada di dalam gelasnya.

   Donghae menganggap itu sebagai pujian dan meneruskan makannya. ”Syukurlah kalau kau menganggap masakanku enak.”

   ”Aku tidak bilang enak, Lee Donghae-ssi, aku hanya bilang ini layak dimakan,”

   ”Cih~” dengus Donghae. ”Sesulit apa sih untuk memujiku, Lee Haejin? Apa aku begitu memalukannya hingga kau sulit sekali mengutarakan isi hatimu yang sebenarnya, hah?!”

   ”Mwo?!” tanya Haejin tinggi. ”Apa maksudmu?!”

   ”Aigooooooo, ada yang berpesta rupanya!”

   ”Woah! Wanginya enak,”

   ”Annyeong!”

   ”Aigooooo, makan berdua!”

   Donghae dan Haejin menoleh bersamaan, dan tersedak, melihat Ryeowook, Sungmin, Kyuhyun, dan Yesung, penghuni dorm lantai 11, tiba-tiba muncul tanpa rasa berdosa sama sekali.

   ”Aigo, enaknya! Aku lapar,” Kyuhyun mengelus perutnya.

   ”Masih adakah?!”

   ”Ya, Jin-ah, adikmu daebak sekali, dia langsung lolos audisi Catch Me If You Can, dan dia akan berakting sebagai kekasihku,” kata Kyuhyun sambil berjalan riang membuka panci. ”Hyung, ini layak dimakan tidak?!”

   ”Tidak! Kau tidak boleh memakannya!” Donghae mendadak bangkit dan mendorong Kyuhyun jauh-jauh dari panci tersebut.

   Haejin menatap Kyuhyun penasaran, sementara Yesung, Ryeowook, dan Sungmin mengamati misi mangkuk Haejin dan Donghae. Seolah-olah mempertanyakan kelayakan makanan tersebut.

   ”Jadi musikal yang baru ditawarkan pada Kyorin itu Catch Me If You Can?” tanya Haejin penasaran.

   ”Hyung! Kenapa kau pelit sekali!”

   ”Tidak ada yang boleh menyentuh supku sama sekali tanpa izinku!” kata Donghae tajam.

   ”Kami hanya ingin mencicipi…” kata Yesung memelas dengan sendok Haejin sudah dipegang oleh tangan kanannya. ”Sesendok saja, boleh kan, Haejin-ah?” tanya Yesung dengan mata Kkoming-nya.

   Haejin mengangguk.

   ”Hyung, makan itu tanpa izinku dan aku tidak ikhlas, kau akan sakit perut!” ancam Donghae mengerikan.

   ”Pelit sekali…” gumam Sungmin.

   ”Iya, kami kan hanya mau coba? Kau yang buat, Haejin-ah?” tanya Ryeowook penasaran.

   ”Ani, Donghae.” Sahut Haejin kecil.

   ”Ah pantas saja,” Kyuhyun menatap Donghae tajam.

   ”Apanya yang pantas?” tanya Haejin heran.

   ”Kau bodoh atau apa? Donghae tak mau masakannya dimakan orang lain selain dirimu!” sahut Kyuhyun dengan senyum jailnya.

– To Be Continued –

Horeeeeee, pertama-tama special thanks buat Kim Yejin @erissomnia yang FF galaunya telah membuat aku seperti ponsel yang diisi batreinya. Ngegarap Still part dua ini, awalnya mager banget #plakk plus mood naik-turun kanan-kiri gara-gara Ikan Buntal yang menawan tapi nakal itu wkwkwkwkwkwk, tapi syukurlah, udah ada pelampiasan (read : FF buatan Eris) nyahahahaha. So thank you so much, Girl..

Aku nggak tau STILL ini mau dibuat sampe berapa part, yang sesuai sama mood ajalah, gak mau janji-janji surga, karena mood ini norak banget lah! Cuma berharap cepat bisa nyelesain semua FF yang kalian semua tunggu *bow*

See you di FF berikutnya #entahapa, by the way udah pada liat teaser FF terbaruku? Yang 1 Face, 4 Mirrors nyahahaha, kalo belum sok monggo dilihat dan diberikan komentarnya ya…

Annyeong~ *butt dance*

101 thoughts on “{JinHaeXy} STILL ~Part 2~

  1. eiy~~~ jd kaya anak kecil gt sikap mereka berdua..
    jg saling angkuh ga mau nunjukkin perasaan sebenernya..
    frustasi jg nih liat mereka berdua..
    canggung gmn gt..
    owh..haejin, donghae, saipan..mimpi dah~~

  2. aigo,,,finally,,,ending dr saipan tmbh jelas,,!!!
    wkwkwkwk,,,ampe kbawa mimpi gt,,,!!!
    mimpi basah dunk tu momma,,,,!!!hahaha

    q seSuju bgt m momma,,,,sk bgt m nappeun namja ky’ donghae skrg,,,!!!
    blajar dr suamiq tu,,,!!!*towelKyuppa
    hehehehe

    dtnggu klanjutanx yah momma,,,,!!!
    suka suka sukaaaaa,,,,bgt,,,,,!!!^^
    gomawo,,,,,😀

  3. Aigo kok mereka malah jd kyk anak kecil gt ya?
    Saling gengsi, tp lucu, ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

    D tnggu next partnya eon,
    Fighting (งˆ▽ˆ)ง
    😀

  4. Kocak wkwkwkw
    aku sukq still part 2 ini, jd kyk saling berantem demi nutupin kegalauan wkwkwkw
    ga papa Onn mood itu emg suka turun naik, nyari mood yg bgs emg susah -_-
    Fighting ya Onn! ^^

  5. Ihhhhh cute bgt siiiiiihhhhh….
    =Dkώk=˚°kώk==Dώkψkkώk˚°
    Jadi pd kyk anak kecil yahhh…

    Cie Donghae, ga mau makanannya disentuh org lain slain Haejin, suit suiiiitttt….

    Jinnie mimpi basah niyeeeeehhhh….kwkwkwkwk malu bgt tuh, panassssss bgt, ​​‎​:D=))º°˚˚°º≈нåнåн庰˚˚°º≈º=)):D

    Aq blm baca Teaser yg Mirror Nis, ntar mampir deh.. Ciao~

  6. ho..ho..ho
    donghae memasak…jadi pingin ikutan mencicipi.
    Aha…jinhae dah mulai komunikasi berarti bom cinta siap diledakkan…
    Argh…semakin penasaran

  7. itu Leeteuk innocent bgt mukanya wktu ninggalin jinhae brdua, aplgi yewook kyumin..
    tp ak gemes bca ni crita, jinhae oh jinhae..
    lnjutnya cpet ya eon, seru nih, hwaiting!

  8. Donghae sok sok jutek sama Haejin, padahal mah jantungnya jungkir balik gak karuan -,- wkwkwk
    omoo ada sekilas cuplikan yg di Saipan, walaupun cma dikit *plak* lanjut yaaa ^-^

  9. Itulah, putus g ngasih tau yg lain. Rasain dh kalian berdua.
    Itu onn, haejin kesakitan. Haejin lg melahirkan ya onn??*pasang muka polos* wkwk*guling2*
    Mimpi ternyta, ih haejin onnie mimpinya kok sampai kyk bgitu sih. Padahal cuman ngeliat ikan ddpan kamar mandi aja loh.
    Gimana kalo ikanny macem2*ngebayangin* haha
    Ini bukan comedy kn onn?? Tp npa aku ngakak mulu, apalagi waktu haejin m ikan lomba2an sapa yg pling ketus. Kyk anak ABG aja nih orang.
    Tapi suka onn ngeliat donghae marah2, cerewet n galak begitu tpi g kasar, jadi makin seksi, cakep, n ngegemesin pada saat yg bersamaan wkwk.
    Ini nih onn, kta2ny donghae mantap bget
    ”Kalau kau mau pergi silakan, aku takkan menahanmu,” kata Donghae pelan, dilihatnya kedua mata Haejin melebar. ”Tapi begitu kau keluar dari pintu itu, kau akan kuseret kembali masuk kesini!”
    donghae g ngizinin yg laen mkan supny?? Cuma haejin aja yg boleh? Itu krn gak enak ato pelit. Haha
    udah bca kog onn teaserny, kykna keren. Sok dlanjut dh

  10. wuooooo~~~ ini ada “pencerahan” endingnya saipan ternyata >.< kirain endingnya part ini JinHae udah balikan lg.. ternyata msh "perang dingin".. kkk~ donghae so sweet bgt pula, udah dimasakin terus nyuruh pergi tp abis itu blg klo kluar bkl diseret msk lg..❤

  11. lebih suka haejin and donghae berantem kya gini… plak. eh q reader bru nich? tpi susah coment. tpi gk tau nich masuk apa gk hehe

  12. hahaha #ketawapuas haejin ma donghae ko berantemnya jd kaya ank kecil lucu bgt , kya baru pertama kali ketemu aj gugup bgt . wkwkwk oppadeul udh kay minta dibliin mainan aj minta supnya . fighting ayo baikan biar skinship lg #plakk hehe

  13. apalah itu anneyeongnya smbil ngebutt dance, -,-

    ini lucuuuuu..
    Mereka jd spt remaja belasan tahun yg lg marahan,kkk~ donghae SUNBAE.. *colek colek ikan*


    ”Hyung, makan itu tanpa izinku dan aku tidak ikhlas, kau akan sakit perut!” ancam Donghae mengerikan.
    ——buahahaha..om ikan apa banget si? Kayak anak kecil menggemaskan minta dijembel,ihihi..😀

  14. onnie kpan jinhae baekan ny ?!
    itu pipa apartement ny lama2 aj diperbaikin biar jinhae tmbah lama ketmuny😀
    ai ai donghae masak .. Beneran trjamin gk tuh rasany .
    honeymoon in saipan nyempil😮

  15. tumben ya nih pasangan jd pd jaim gt..
    gr2 putus jd begitu pl..
    cpt2 baekan deh, pdhl masi sama2 suka..
    napaen jg menderita jg.. wkwkwkw..
    trus, putus kagak ngo2 ama yg laen, yg laen mah ngak tau apa2..
    biasa kan uda banjir tu seoul ya, tumben x ini ngak ada pake acara banjir2.. hahaha…

  16. wuakakakakak😄
    ahirnyaaa donge dijadiin bad boy . jangan cengeng muluuu hahahaa .
    puas liat haejin yg dagdigdug duaaar liat donge yg begonoh ..
    enak yaa liat donge ga manja trus dikit2 nyipok wkwkwk .
    keren onnie~ :3
    dan itu atasnya NC revealed !!😄
    omaigot ! saya masih awam~ >////<

  17. cieee yang dibikin sup ayam bumbu cinta #eh,, haha
    berasa ABG lagi ya pada gengsian, pada malu2an (?)
    kocak deh ini hae sama haejin.. ntar2 aja onn balikannya lagi mh, bikin jantung mereka berdebar2 aja dulu,, hehe

  18. JinHae lg diem2man lucuuuuu hahahahahahahaha

    Dan donghae pelt bgt ngebagi makanannya wkwkwk

    Ga sabarrrr nunggu lanjutannya kyknya makin Lucu hohoho…..

  19. wkwkwkwkwkwk bener onnie!! Cueknya hae itu keren sumpah hahahaha *dilirik yesung*

    Ih hae pelit!! Sesuap doang hae ya ampun… Kasian itu sodara2 lo udah pada ngeces ilernya xD

    Daebak!!😀

  20. owww paling suka sama kalimat ini..
    ”Kau
    selalu membuatku ingin pergi, tapi
    kau memintaku untuk selalu tetap
    tinggal pada akhirnya… sebenarnya
    apa yang kau mau, sih?!”

    hmmm jaga image terkadang memang jadi menyusahkan deh -__-
    hadooh ini momma poppa kapan deeh mesra2an lagiiii😀

  21. eaaaaa eaaaa donghae haejinnn
    kenapa jadi kayak kyunara gini sih,
    pake ego semuaaa

    donghae galaknyaaa, haejin juga sensitif (dr dulu)

  22. eaa…ea…. tuh jinhae kapan balikan seh??
    omoo..haeppa tumben banget galak banget !!
    trus haejin eonni juga sama2 lg pda PMS ya??

  23. Wahh donghae nya nakall #plaak
    Ayo smoga haejin tergoda lgi wkwkwk \(´▽`)/
    Balikan balikan balikaaannnnn

    Mianhae ya kaka galau baru koment *bow

  24. Seharusnya baca dari kmren2 nih T..T *mrujuk pd tulisan italic a.k.a mimpi haejin* #slap yadong .__.
    Momma~~ balikan dunt sma si poppa, eo??! Kan si poppa tambah keren tuh, dingin-brbahaya tapi sexy euuii~~ #plakk *mwoyaa*
    Lanjuuuutt teruuuusss~~
    아유(っ˘з♥~

  25. aduh komen.a sekalian aja ya onnie… mian baru nongol lg.. byk bgt yg belum d komen.. mian bgt ya onn.. duh jinhae napa jd canggung bg2 sikap.a ? pengen jinhae cepet2 balikan dehhhh….. lanjutan.a sllalu d antos ya onnie… n untk WIf.a juga d antos pisan ku sim abdi… haha.. ok onnie, slalu semangat.

  26. waaaaaaaaaaaaaaaaaaah~ DAEBAK
    aishh. masih sama2 cinta juga, malu2 gitu…
    n Haejin, kuatkan dirimu, seharus.a kamu sedang mem-punish Hae, biar dia nggak ngulangin kesalahan.a…
    ah~ tapi hanya karena smirk n senyum Hae, kamu udah berdebar2 nggak karuan.. hormon wanita.. bwahahahahaha
    ah, itu yg paragraf, yg tulisan.a bergaris miring, pas mereka lagi “do that” ya di saipan?
    seneng.a adegan.a k’replay di mimpi… mimpi basah2 #plakk

    ahh~ Hae romatis bgt, nyiapin lunch buat Haejin doank, n member laen gak boleh yobain, kyak.a Hae mulai ngasih signal ke Haejin, klo Hae masih care ama Haejin, and msh cinta B.G.T ama Haejin…
    tolong balikan.. >.<

  27. Jd ini belum tamat???? Huff
    Kurang galau jin’aaaaaaaahhh,,, akakakkakaaa
    *mulai recet

    Trus kapan mrka baikannya?? Msh lama kan??
    Iya dunk bkin si ikan mrsa bersalah lbh dalem lg,, huhuuuwww

    Eh itu emang gtu yax klo ketemu mantan yg masih cinta, suka malu2 ga jelas, salah tingkah trus suka ngmong yg ga jelas,, hahahahaaaaa

    Heeeehh donge biasanya jg demen lo ditinggal berduaan ma haejin ini ngapa jd salting gtu dah?? Ckckckckckck
    Itu si haejin udah pake mimpi basah jg, bukan disamperin ajah!!

  28. Oalah ini toh ff yang berantem..
    Hahaha jahat banget lah itu ditinggal berdua aja -_- emang pada nakal semua!
    Bentar bentar mau ketawa dulu.
    BHAHAHAHAHAHAHAHHAA!!!!!
    itu scene donghae vs ayam jadi fav!!
    Aku bisa bayangin muka Hae yang Polos bloon bin ajaib bingung mau motong ayamnya gimana -_-
    dan selalu lucu aja hae mukanya pasti setengah mau mati soalnya bener bener buta bingung mau ngapain😄
    Ahhhhh kata katanya hae ._. galak bener bang u.u
    Anak dorm lantai 11 emg pembawa onar semua ya u.u

  29. Aigoo mereka masih malu2 gitu ckck
    Hae oppa jujur ajalah sama haejin onnie kkk~
    Ditunggu next partnya ya eon ^^

  30. ”Ya, Donghae-ya, aku tidak
    meninggalkanmu sendirian dengan tiga
    gadis itu.”
    ”Lalu?!”
    ”Aku hanya meninggalkanmu dengan
    Haejin, sudah.” Leeteuk mengatakannya
    tanpa dosa.
    mw tabok teuki pke bibir boleh???
    buakakakakkk c abang suka pura2 ga tw deh..

    ikan masak ayam..
    ya ampun pelit bener cma haejin yg blh makan
    ckckcckk
    poppa sma momma sama2 grogi..
    hahahaa bentar lg baekan.. ^^

  31. sumpah aku nyengir2 geje ama kelakuan itu duo ikan mokpo.. xD
    dan aku suka sama karakter mengancam donghae.. aih.. aih.. nisya keracunan skip beat ini mah.. hhe..

  32. Nah kan haejin ny kangen sm hae..
    Tpi mmg bener sih jdi cewek kudu gt kalo hbis diomongin ky gt sm cowokny..
    Baca part 3 deh🙂

  33. hayaaaahhhh….
    blom baikan ternyata..malah makin berantem hae ama haejin nya..
    wuuuaahh wuaahhh itu adegan yg d honeymoon in saipan yahh…
    waaahhh trnyata detailny d ceritain disinii..kkkkkkkkk..

    wuuiiiidiiihhh…hae pelit amat member mau nyicipin sup ny kagak di kasihh…
    iyaa deh cuma haejin yg boleh makan masakan hae mah….
    ayoooo cpt baikaannnnn….>////<

  34. Uwahhh!!! Encehhh hahahaha *kegirangan*
    Awkward banget yah mereka? Yaiyalah, baru putus, putusnya juga begitu gimana gak aneh.. Hati juga sakit, sesek *curcol*
    Hae masak??????? Ajaib!😀
    Eon, bui pasang itu siapa? Bu po shang maksudnya yah? Yg skipbeat kan maksudnya ya eon?? *ntar salah duga bahaya*😀

  35. Egue masa deg degan bacanya #plakk😄
    Bukan kayak poppa momma yg biasa.. lucu~ maksudnya beneran kyak abegeh labil yg lagi jatuh cinta gtu.. yg nyembunyiin perasaan deg degnya pake cara apa aja yg malah bkin salah paham.. ihihi gemees >.<
    Itu..errr lanjutan yg di saipan yah momma?😄 widih poppa maennya lembut yah.. gatega sma momma yg kesakitan.. tapi pas inget itu lagi..ihihi minta banget dibakar poppanya..wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s