{JinHaeXy} STILL ~Part 1~

Title : Still

Author : Nisya (Donghae’s Wife)

Length : Chapter

Genre : Romance, Friendship, Humor, Friendship

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin

Supporting Cast :

  • Felidis Members
  • Super Junior Members

Backsound :

  • Backstreet Boys – Still

Tag Line :

Why hate the love? And why love the hate?  –Romeo & Juliet-

{JinHaeXy} Still

 

Who are you now?

Are you still the same

Or did you change somehow

What do we do

At this very moment when I think of you

And when I’m looking back

How we were young and stupid

Do you remember that?

27 January 2012

Uhuk uhuk!” Haejin menepuk-nepuk dadanya. ”Ah! Batuk ini menyiksaku,” keluhnya sebal.

   ”Minum air hangat, Eonnie,” sahut Kyorin dari sofa yang menghadap televisi, sedang menunduk membaca tawaran sebuah drama musikal kembali.

   Haejin mengangguk-angguk sambil melambaikan tangannya, di meja komputer yang terletak di sudut ruangan keluarga di apartemen yang bisa dibilang cukup mewah untuk ditinggali sebuah girl group yang hanya beranggotakan tiga orang saja.

   Leader dari grup Fleur De La Supergirl, atau biasa disingkat Felidis ini tengah memeriksa jadwal Felidis, yang dikabari oleh sang Manajer, Kim Junjin melalui pesan singkat tadi, bahwa ada tawaran sebuah variety ternama yang mengundang Felidis di akhir Januari ini, dan kini Haejin tengah memeriksanya.

30 January 2012 : KBS Happy Together (16.00 PM KST) – with Super Junior

   Kedua matanya kontan membelalak membaca isi email tersebut, berikut jumlah fee yang akan mereka terima, dan tentu saja attachment file skrip acara tersebut yang berjumlah tiga buah.

   ”Kyorin-ah?”

   ”Ne, Eonnie?”

   ”Tanggal 30 besok kau ada jadwal?”

   Kyorin menoleh, mengangkat wajahnya dari skrip yang ia baca, dan sedikit mengerutkan keningnya. ”Kurasa tidak ada, Eonnie.”

   ”Chihoonie?”

   ”Entahlah, rasanya tidak ada juga, memang ada tawaran apa, Eonnie?”

   ”Ini acara yang tidak bisa kita lewatkan begitu saja,” Haejin kembali menatap layar komputernya tersebut. ”Happy Together.”

   Kyorin langsung meletakkan skripnya di atas meja panjang yang memisahkan sofa dan televisi layar datar, lalu menoleh menatap Haejin dengan antusias. ”Jinjja?! Akhirnya Happy Together mengundang kita?”

   Haejin tersenyum, mengangguk.

   ”Hari Senin berarti ya?” Kyorin langsung memikirkan masak-masak apa yang akan ia lakukan disana.

   ”Tapi bintang tamunya bukan hanya kita saja, Kyorin-ah,” Haejin bangkit dari meja komputer tersebut dan berjalan ke dapur, mengambil gelas dan membuka keran air, lalu menyorongkan gelas tersebut dibawahnya hingga terisi penuh, dan meminumnya.

   ”Oh, pasti… siapa saja yang akan datang?”

   Haejin yang memunggungi Kyorin, menurunkan gelasnya yang masih tersisa setengah, lalu meletakkannya dengan hati-hati, sebelum menjawab lambat, sambil berbalik. ”Siapa lagi? Super Junior, pastinya.”

   Tanpa Haejin duga, reaksi sama ditunjukkan oleh Kyorin, matanya membelalak, lalu mengalihkan pandangan kedua matanya dari Haejin. ”Ahahaha…” dia tertawa tidak enak. ”Super Junior lagi?”

   Haejin mengangguk.

   ”Keurae, Super Junior…” Kyorin membuka-buka lembaran skripnya.

   ”Mungkin mereka penasaran soal pemberitaan belakangan ini,” Haejin menghela napas menyesali soal artikel dari Allkepo.com yang baru. Sudah dua hari ini dia stress karena dua artikel berbeda dengan dua skandal berbeda keluar, membuat dirinya mendadak menjadi orang yang paling dicari-cari.

   Apalagi salah satu skandalnya, justru dengan orang yang harus ia hindari belakangan ini. Foto-fotonya bersama Donghae mendadak bocor di internet, dan banyak yang mulai berspekulasi, sampai ada yang berani bilang kalau melihatnya dan Donghae bergandengan tangan di backstage.

   Dan kemudian beberapa hari setelah foto tersebut tersebar, preview Teenage Running Man : 91Liners keluar, dan tentu saja mendapatkan sambutan ramai, karena dirinya dan Minho berpasangan mengasuh Yoogeun kecil. Dan MinHae Shipper (pendukung Minho-Haejin) yang memang menjamur semenjak akting mereka berdua di Let’s Get Married, kini kembali membara setelah Teenage Running Man : 91Liners. Apalagi para MinHae Shipper yang sok tahu, suka sekali memberi ’terawang’ tak masuk akal mengenai mereka berdua.

   ”Ah iya, Eonnie,” Kyorin menoleh. ”Eonnie ingat, Park Rhaya Eonnie?”

   Haejin mengernyitkan dahinya. ”Oh!” mendadak bersemangat. ”PD maknae yang jadi pemegang acara kita? The Felidis Show?”

   ”Ah, ne! Kudengar sekarang Rhaya Eonnie diambil oleh KBS, setelah berhasil membuat The Felidis Show sukses.” Kyorin meneruskan informasinya dengan bersemangat.

   ”Oh, jinjja?!” kedua mata Haejin melebar.

   Kyorin mengangguk-angguk lagi. ”Biar bagaimanapun, di usia semuda Rhaya Eonnie, menjadi PD dalam acara The Felidis Show itu pengalaman pertamanya, dan acara kita sukses, jadilah ia ditarik KBS, dan menjadi salah satu PD Creative disana.”

   ”Kalau begitu kita harus ikut acara ini,” Haejin buru-buru kembali ke komputer dan memberikan balasan pada sang Manajer. ”Tadinya aku sedikit ragu dalam menerima acara ini.”

   ”Kenapa?” tanya Kyorin mengangkat alisnya.

   Haejin hanya tertawa muram.

   ”Eonnie, aku tahu Eonnie pasti sedang ada masalah dengan Donghae Oppa sekarang,” Kyorin tiba-tiba bicara. Haejin menelan ludahnya kuat-kuat. ”Tapi Eonnie tidak bercerita apa-apa pada kami. Kami tidak masalah sama sekali…”

   ”Bukannnya begitu, Kyorin-ah,” Haejin berbalik menghadap adiknya tidak enak. Dia benar-benar merasa tidak enak. Biar bagaimanapun adik-adiknya telah mengkhawatirkannya begitu dalam, dan dia sama sakali tidak membagi apa pun kepada keduanya.

   Kyorin tersenyum ringan. ”Kami tidak masalah, Eonnie tidak mau bercerita pada kami, tapi… aku tidak mau Eonnie sampai sakit seperti kemarin lagi!” tutupnya cukup tegas.

   Haejin menunduk.

   ”Aku mungkin tidak tahu apa yang telah Hae Oppa perbuat kepadamu, tapi yang jelas apa pun yang ia lakukan selalu berefek kepadamu, hingga kalian seperti ini,” lanjut Kyorin lagi. ”Dan aku sedikit banyak, yakin kalau tidur Eonnie kemarin karenanya, apalagi mengingat dia begitu histeris ingin membangunkanmu, Eonnie.”

   Kali ini, Haejin terhenyak dan mendongak. Histeris dan ingin membangunkannya? Dia baru dengar cerita yang ini. ”His…teris?”

   ”Tidurmu bisa berefek fatal, Eonnie,” lanjut Kyorin lembut.

   Haejin menggigit bibirnya.

   ”Dan… aku belum pernah melihat Donghae Oppa menjerit seperti itu. Kami yang melihatnya pun ikut nyeri, ketika ia menjerit memanggil namamu, memohon agar kau bangun, Eonnie.”

   Haejin berpaling menahan genangan air mata yang tiba-tiba sudah berkumpul menjadi satu kesatuan di kedua pelupuk matanya. Dia berdeham, lalu berdiri. ”Aku harus memeriksa jadwalku dulu, sepertinya pada tanggal itu, aku harus melakukan recording.”

   ”Mwo?!” Kyorin membelalak.

   Tapi Haejin terlanjur berlalu masuk ke dalam kamarnya, menguncinya, dan tidak akan membiarkan siapa pun membujuknya mengenai Donghae. Dia tahu itu kok, karena dalam dirinya, bahkan mungkin masih seluruh tubuhnya mencintai pria itu.

*Dorm Super Junior*

No matter how I try it

Can’t deny it

Just can’t let you go

Sudah kesekian kalinya Donghae menekan tuts demi tuts di keyboard-nya menyanyikan lagu First Love dan Y, sudah beberapa kali pula ia memaksa air matanya untuk berhenti mengalir.

   Ternyata ini yang Haejin rasakan saat melihatnya bersama Eunseo…

   Ternyata ini yang Haejin pendam…

   Tapi ternyata Haejin menerima semuanya…

   Dan sekarang, dia membuka portal-portal berita, yang awalnya ramai tentang spekulasi kedekatannya dengan Haejin, mulai hilang ditengah euforia para MinHae Shipper, karena preview Teenage Running Man : 91Liners, yang beredar. Juga fantaken photo di taman hiburan, yang menangkap sosok Minho menggendong Yoogeun, dan Haejin menggamit tangannya.

   Pemandangan tersebut sangat ideal dibandingan empat pasangan lain, yang juga sama-sama menggendong bayi. Donghae pun mau tidak mau harus mengakui, bahwa Minho dan Haejin nampak ideal sekali, tersenyum bahagia dengan Yoogeun diantara mereka.

   Tapi tetap, hatinya tidak akan pernah rela. Dia takkan pernah ikhlas melihat Haejin bersanding dengan pria lain. Dan rasa cemburunya tetap muncul betapa pun ia begitu lelahnya merasakan cemburu tersebut.

   Donghae menutup portal berita tersebut, bahkan tidak berminat membuka-buka portal berita yang membicarakan ’kencan buta’ sialannya. Mungkin itulah kenapa Haejin, tanpa ia sadari, diberikan Tuhan kesempatan untuk membuatnya menyadari posisi Haejin.

   Donghae sadar, dia selalu menyalahkan Haejin jika ada kasus seperti ini, tapi tidak urung, karena cemburu dan cintanya yang kelewat besar pada gadis itu. Apalagi, seperti yang ia katakan pada Haejin tempo hari, Haejin terlalu naif pada laki-laki.

   Apa dia tidak pernah menyadari betapa populernya dia diantara laki-laki? Dia mungil. Membuat pria manapun pasti gemas! Meski mungil, tubuhnya dianugerahi kelebihan yang banyak wanita idam-idamkan. Dia memiliki kepribadian yang menyenangkan, bisa cocok bergaul dan tidak takut bergaul dengan siapa pun, asalkan mereka baik.

   Nah disitulah letak masalahnya, Donghae bersandar dengan frustasi di punggung kursi dan menghela napas. Haejin selalu menganggap semua pria yang mendekatinya, hanya bermaksud baik hati saja.

   ”Hae, kau harus coba pahami dia,” ucap Eunhyuk beberapa waktu lalu, setelah akhirnya Donghae dengan kalut pulang setelah Haejin meminta pisah sementara darinya. ”Jujur, tindakanmu memang keterlaluan.” Ucap Eunhyuk.

   Donghae mengangguk. ”Aku bodoh!” dia meremas rambutnya dengan kedua tangannya.

   ”Menyalahkan diri tidak ada gunanya untuk saat ini,” kata Eunhyuk lagi. ”Haejin benar, kalian perlu introspeksi. Mengenai pendapatmu soal Haejin yang terlalu kasual pada laki-laki, aku sependapat padamu, memang.” Eunhyuk mengangkat bahu prihatin. ”Tapi kau harus ingat, dia tidak punya Ayah.”

   Donghae mendongak, menatap Eunhyuk lekat-lekat.

   ”Walaupun dalam dirinya ada trauma mengenai sosok Ayah, tidak dipungkiri dia mencari sosok itu. Sehingga dia merasa setiap laki-laki yang baik padanya, harus ia perlakukan dengan baik juga. Aku sendiri berpendapat, kalau kau tidak jadian dengannya, pasti ada salah satu dari member kita yang mendekatinya.” Eunhyuk geleng-geleng. ”Kyuhyun saja pernah suka padanya! Dan kau sendiri masih merasa yakin Taecyeon juga masih menyukainya.”

   Donghae mengangguk dengan kalut.

   ”Sebetulnya klise sih yang kalian butuhkan,” Eunhyuk mengacak rambutnya dengan frustasi juga. ”Aku tidak mau sok bijak dan mengguruimu, Sobat, tapi aku harus mengatakan bahwa kita sama-sama butuh ’percaya’ pada pasangan kita. Terutama ’percaya satu sama lain’.” Ringisnya.

   ”Kau juga sama!”

   ”Iya aku juga sama,” Eunhyuk mengangguk-angguk mengalah padanya. ”Kuakui berpacaran dengan anak SMA bukan hal mudah,” komentarnya. ”Dan rasa percaya itu mudah diucapkan, tapi sulit sekali diamalkan.” Eunhyuk menghela napas. ”Tapi… pada akhirnya…”

   ”Cinta juga, kan?”

   ”Ah!” Eunhyuk mengacak rambutnya frustasi. ”Ya! Kenapa kita berdua ini?! Ada apa dengan kita ini?!”

   ”Mwohae?!” tanya Donghae masih sendu.

   ”Kenapa bisa gadis-gadis kecil itu mengontrol kita sampai seperti ini?! Harusnya kita yang superstar dan kita yang dikejar-kejar banyak wanita, kenapa malah kita yang harus bertekuk lutut pada mereka? Aish!”

   Donghae menghela napas juga, kemarin ketika Eunhyuk selesai menasihatinya, dan sekarang ketika mengingat itu semua. Jawaban dari semua itu mudah dan simpel. Karena cinta.

   Hal klise yang harusnya tidak dipusingkan, tapi nyatanya sudah memporakporanda-kan aktivitas dan sistem kerja otaknya, terutama meremas-remas hatinya. Dia merasa memang pantas jika Haejin menjauhinya, jika Haejin takut padanya. Bahkan harusnya ia tidak berharap banyak, tapi toh dia tetap berharap Tuhan hendak memberikannya kesempatan satu kali lagi.

   Donghae yakin, Tuhan tahu dia tulus mencintai gadis itu. Donghae mengeluarkan ponselnya, dan melihat fotonya bersama kekasihnya itu, saling berpelukan dan tersenyum hangat abadi pada kamera, dengan latar belakang pantai Saipan yang indah. Haejin tampak sangat bahagia, mengalungkan kedua lengannya pada lengan kiri Donghae, sementara satu tangan Donghae mengambil gambar.

   Donghae ingat kapan gambar ini diambil, ini adalah keesokan pagi setelah mereka berdua melalui malam paling bersejarah bagi hubungan mereka. Donghae ingat sekali, ketika akhirnya ia memutuskan mengalah pada permintaan Haejin, dengan tekad besar bahwa ia akan menikahi Haejin, harus! Dia ingat janjinya di dalam hatinya, bahwa ia takkan mengecewakan Haejin, dan mendiang Ibunda Haejin. Ia juga ingat, ketika mereka akhirnya bersatu, bahwa ia bersumpah, tidak akan menyakiti Haejin lagi, dia akan menjadi pelindung gadis itu.

   Lagi-lagi, tanpa bisa dicegah, sebutir air mata lolos dari pelupuk mata Donghae. Disekanya air mata itu sambil terus menatap senyum abadi Haejin disitu. Meski merasa bersalah akan perbuatannya, Donghae bersyukur Tuhan masih memberikan senyuman yang begitu indah bagi Haejin keesokan harinya, saat kedua mata mereka bertemu.

   Donghae masih ingat, pipi Haejin bersemu merah sekali, tapi sorot kebahagiaan yang terpancar di matanya, tak terkatakan dan tak tergantikan indahnya. Donghae sanggup menukarnya dengan apa pun, asalkan Haejin bisa terus tersenyum seperti itu.

   Tidak munafik, Donghae menghela napas, malam itu adalah malam yang indah, Donghae pun sangat menikmatinya, apalagi hal itu dilakukannya bersama, Haejin, gadis yang ia cintai, yang selalu ia harapkan. Mimpi terliarnya pun tidak pernah bisa melukiskan rasa yang ia dapatkan ketika bercinta dengan gadis yang benar-benar ia cintai.

   Tapi hanya karena satu kebodohan, Donghae menutup aplikasi fotonya tersebut dan kembali meremas rambutnya. Kenapa ia begitu sensitif terhadap rasa cemburu? Haejin benar, Haejin bahkan sudah menyerahkan segalanya untuknya, lalu mau bukti apa lagi? Lee Donghae! Dia menggeram kesal pada dirinya sendiri dan meletakkan ponselnya.

   Haejin ingin ia berubah menjadi pria yang lebih dewasa, apakah dengan kata lain dia harus berhenti cemburu? Tapi… Donghae mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.

   Betapa sulitnya itu. Donghae kadang tidak bisa mengerti, bagaimana suami Han Chaeyoung bisa melihat istrinya beradegan ranjang dengan pria lain? Juga pacar Hwang Jungeum membiarkan Hwang Jungeum melakukan adengan french kiss dalam sebuah drama! Bagaimana bisa???‼! Ini siapa yang salah sebetulnya? Otaknya kah? Atau otak pria-pria itu?

   Tapi kalau itu yang Haejin inginkan, Donghae bertekad dia akan berusaha keras meredam rasa cemburunya! ”Cinta tidak harus ditunjukkan melalui rasanya cemburu…” Donghae mengembuskan napasnya. ”Oke, tunggu aku Lee Haejin!”

*Dorm Felidis*

”Menurutmu karena apa?”

   Chihoon menaikki tangga menuju atas lemarinya, yang memang di desain sehingga menopang meja belajar beserta tempat tidurnya, sementara Kyorin terus mendongak ke atas. Chihoon kemudian duduk di meja komputer dan mulai menyalakan komputernya. Tugas Fisikanya tidak bisa menunggu.

   ”Bisa karena apa saja kalau menyangkut mereka, Eonnie naik ke atas sini saja, biar kita bicaranya enak.” Kata Chihoon.

   Kyorin menghela napas, dasar maknae! Bisa-bisanya memerintah yang lebih tua. Tapi toh Kyorin naik juga ke atas, dan duduk di atas tempat tidur Chihoon yang bersarung cokelat.

   ”Jadi?” tanya Kyorin.

   Chihoon membuka salah satu buku Fisikanya dan berbalik menatap Kyorin. ”Tapi menurut analisisku,” katanya mulai sok tahu. ”Kalau sudah menyangkut Duo Ikan itu, masalahnya hanya satu!”

   ”Apa?” tanya Kyorin.

   ”Cemburu.”

   Kyorin tergelak ringan. ”Hanya karena masalah cemburu?”

   ”Aiya~ Eonnie, seperti tidak tahu saja kalau mereka sudah cemburu itu berarti masalah panjang!” Chihoon mendramatisir. ”Setahun lalu saat Eonnie cemburu pada Sunye Eonnie saja asmanya sampai kumat.” Dia mengangkat kedua tangannya seolah-olah pasrah.

   ”Hei,” Kyorin berdecak tidak setuju. ”Haejin Eonnie sudah jauh lebih dewasa dari waktu itu, Chi.”

   Chihoon mengangguk setuju dengan wajah superjail. ”Tapi tetap saja, Eonnie ingat saat kita diwawancarai sebuah acara di MBC? Sekitar tahun 2009, baru-baru kita debut?”

   Kyorin mengernyit berusaha mengingat, memang Cho Chihoon jenius, dia pasti bisa mengingat tanggal kejadian itu, pikir Kyorin. Tapi bahkan Kyorin harus menggeleng.

   ”Kita di wawancara, jika mengikuti We Got Married, dengan siapa kita mau di pasangkan.” Jelas Chihoon sabar dengan wajah sok tahunya yang menggemaskan. ”Aku inga Eonnie menjawab ingin dengan Ryeowook Oppa.”

   Kyorin tersenyum setengah hati. ”Ah yang itu,” dia baru ingat. ”Dan kau dengan Kang Minhyuk?” Chihoon mengangguk-angguk bersemangat tapi sepertinya bukan itu poinnya. ”Lalu? Ah!” Kyorin akhirnya ngeh dengan apa yang dimaksud oleh Chihoon. ”Haejin Eonnie bilang kalau ia justru tidak tertarik ikut We Got Married?”

   ”Yeah itu dia poinnya, Eonnie,” lanjut Chihoon lagi. ”Haejin Eonnie agak sewot dengan acara itu, ditambah lagi kemudian sekarang Donghae Oppa ikut acara itu, bukankah itu yang jadi akar masalah mereka?”

   ”Kukira Haejin Eonnie biasa-biasa saja dengan masalah We Got Married,” Kyorin menggeleng-geleng.

   ”Hati orang mana ada yang tahu pasti, Eonnie,” celeteuk Chihoon lagi. ”Kami saja masih heran sebenarnya kau itu cinta pada siapa!” dan Kyorin langsung mengulum bibirnya sendiri merasa tersindir. ”Lalu kemudian Haejin Eonnie mendapatkan tawaran 91Liners, disini Hae Oppa merasa sepertinya Haejin Eonnie balas dendam.”

   Kyorin mengangguk pelan. ”Dan mungkin mereka bertengkar hebat, dan lagi-lagi menjadi seperti ini.” Kyorin menghela napas. ”Sampai kapan mereka bisa berhenti menyakiti diri mereka masing-masing?”

   ”Sepertinya kita harus turun tangan, Eonnie,” mata Chihoon berkilat nakal.

   Kyorin menatapnya tajam, curiga. ”Kau punya rencana apa? Ya, bukankah akan lebih baik kalau kita tidak ikut campur masalah Eonnie dan Hae Oppa?”

   ”Lalu kita mau lihat mereka seperti ini sampai kapan?” tanya Chihoon dengan penuh gaya. ”Tunggulah seminggu lagi, kalau bukan Suju Oppadeul lain yang menghubungi kita meminta bantuan. Ya, Eonnie, kau ini seperti mengenal mereka berdua baru kemarin saja!”

   Kyorin berdecak, gemas pada kelakuan maknae-nya ini.

   ”Mereka itu, ani… bukan mereka, lebih kepada Haejin Eonnie,” Chihoon meneruskan monolognya, sementara Kyorin dengan pasrah mendengarkannya. ”Gengsinya tinggi sekali.”

   ”Cih~ seperti kau tidak saja!”

   ”Ya, kita bertiga memang keluarga meski tidak sedarah,” kedip Chihoon menggemaskan tanpa rasa bersalah. ”Kita sama-sama gengsian, dan yang pasti… kita sama-sama suka menggantung laki-laki.”

   ”Oh jebal! Jangan bicarakan hal lain, Cho Chihoon!” omel Kyorin yang lagi-lagi merasa tersindir.

   Chihoon terbahak-bahak dan mengangkat dua peace mark. ”Oke, ampun, Eonnie! Jadi bagaimana? Apakah Eonnie setuju dengan usulku? Membuat mereka baikkan kembali?”

   ”Kau yakin?” tanya Kyorin dengan mimik super tidak yakin. ”Maksudku, mereka selalu berpisah, kembali lagi, pisah lagi, kembali lagi. Apakah tidak lebih baik, mereka mungkin berpisah saja? Mungkin Eonnie tidak bahagia?” gumam Kyorin lirih.

   ”Eonnie! Mereka saling mencintai!” ucap Chihoon yakin. ”Tapi mereka terlalu kekanakkan, oke mungkin Haejin Eonnie semakin dewasa, dan lelah pada Hae Oppa, tapi tetap saja intinya mereka saling mencintai.”

   ”Ya tapi kalau dalam hubungannya praktiknya mereka justru saling menyakiti satu sama lain?” tanya Kyorin lagi.

   Chihoon menatap lurus manik mata Kyorin. ”Eonnie… meskipun pria yang menggantungmu menyakitimu, kau tetap mencintainya dan tetap menunggunya juga, kan?”

   Kyorin tersentak dan memalingkan wajah.

   ”Sudahlah, urusan sakit-menyakiti tanggung masing-masing! Niat kita baik, ingin membahagiakan mereka, setelah itu baru urusan kami denganmu, Eonnie!” tuding Chihoon.

   Kyorin memutar matanya. ”Baik! Baik! Memang tidak ada yang bisa melawan kemauanmu, little evil! Jadi apa maumu sekarang? Aku dipihakmu!” Kyorin mengangkat bahunya pasrah.

   Chihoon mengacungkan tos ke udara, bahagia. ”Begini, Eonnie…” Chihoon mulai berbisik.

*Dorm Super Junior*

Tring!

   Dalam sekejap saja, delapan orang yang berada di dua lantai berbeda tersebut merasakan ponsel mereka berbunyi atau bergetar. Dan di masing-masing tempat, pada saat yang bersamaan, mereka membuka isi pesan tersebut. Beragam reaksi terukir di setiap wajah mereka, ada yang tersenyum kecil, berdecak, menggeleng-gelengkan kepala pasrah, sampai tertawa terbahak-bahak, dan mengirimkan isi pesan yang sama pula pada pengirim.

   Tanda setuju. Atau pasrah?

*Dorm Felidis*

”Eonnie! Eonnie! Bangun!”

   ”Eonnie! Bangun! Ini sudah pukul delapan pagi! Eonnie!”

   Haejin terus berusaha menyembunyikan dirinya di dalam selimut tebalnya, tapi serangan dari dua pasang tangan adik-adiknya yang setajam pisau membuatnya akhirnya terpaksa membuka matanya. Dengan rambut kusut masai, dan wajah mengantuk dia terduduk.

   ”Apa?!” tanyanya serak dengan wajah sebal. ”Aku baru pulang pukul satu! Kalian ini kenapa sih?!” gusarnya.

   Kyorin melirik Chihoon mengkeret, tapi Chihoon tidak tampak takut, wajahnya menyiratkan skeptisme menyebalkan. ”Kami tahu Eonnie dua hari rekaman Invicible Youth, tapi kami terpaksa bolos sekolah hari ini, Eonnie, bahkan kami tidak bisa ikut pelajaran tambahan kalau Eonnie tetap tidak mau bangun!”

   ”Apa maksudmu?” tanya Haejin malas. ”Aku masih mengantuk! Ya, biarkan aku tidur lagi… setelah ini aku harus mengecek list outfit…” dan Haejin kembali berbaring namun dengan isyarat mata dari Chihoon, Kyorin maju dan menahan tubuh Haejin yang hendak berbaring.

   ”Eonnie, air di apartemen mati,” ringis Kyorin.

   Chihoon mengangguk-angguk penuh arti.

   ”Lalu?” tanya Haejin malas.

   ”Lalu?! Memang Eonnie pikir kami tidak mandi ke sekolah? Kami ini idol, Eonnie!” seru Chihoon dramatis.

   Haejin mengucek-ngucek matanya dan menguap kembali. ”Ya! Jangan bohong kau! Kau kan malas mandi kalau musim dingin begini!”

   ”Setidaknya aku tetap cuci muka dan gosok gigi,” kelit Chihoon pintar.

   ”Dan itu membutuhkan air, Eonnie,” bujuk Kyorin lagi sambil mendorong-dorong pelan tubuh Haejin.

   Haejin mendesah berat dan sebal. ”Lalu apa mau kalian?! Aku harus memanggilkan tukang pipa? Atau aku harus membetulkan pipa-pipa tersebut? Aish! Kalian kan tahu aku tidak bisa!”

   ”Eonnie, air yang rusak bukan di apartemen kita saja, tapi satu gedung ini!” Chihoon memutar matanya, Kyorin mengangguk-angguk. ”Bagaimana kalau Eonnie mau buang air kecil? Atau yang lebih parah bagaimana kalau Eonnie mau buang air besar?!” tanya Chihoon lagi.

   ”Kita kan tidak memiliki bak mandi, hanya ada shower dan bathub,” kata Kyorin lagi. ”Lagipula bagaimana dengan makan kita hari ini? Memasak nasi kan butuh air pula, Eonnie.” Bujuk Kyorin lagi.

   Haejin yang kesadarannya perlahan-lahan mulai terkumpul, akhirnya mulai menyadari situasi yang terjadi. ”Aigo! Otokhe? Lalu kalian mau bagaimana? Kita ke kantor?!”

   ”Aniyo! Ih, ngapain kita ke kantor?!” Chihoon dan Kyorin menggeleng-geleng panik.

   ”Lalu kemana?”

   ”Kita ke dorm Super Junior Oppadeul, kita numpang disana, sekitar tiga hari. Karena menurut pemberitahuan, air disini akan mati selama tiga hari,” kata Kyorin cepat-cepat pada Haejin.

   Haejin membelalak. ”Super Junior?! Andwae! Kenapa harus kesana? Menyusahkan mereka saja! Ya, member mereka banyak, untuk apa ketambahan tiga orang lagi seperti kita, hah?! Tidak, tidak, tidak, jangan kesana!” panik, dan seluruh kalimat yang Haejin ucapkan barusan ditempuh dengan kecepatan nyaris mengalahkan kecepatan Shinkansen di Jepang.

   ”Eonnie,” rengek Chihoon. ”Lalu mau dimana kalau bukan disana? Super Junior Oppadeul kan sudah seperti Oppa kandung kita semua!”

   ”Ne, kita tidak perlu malu kalau pada mereka, Eonnie.” Tambah Kyorin.

   ”Tidak! Hah, apa kata kalian? Keluarga? Ya, kita masih punya 2PM dan 2AM. Kita bisa ke gym, dan kita bisa ke sauna!”

   ”Eonnie! 2PM itu tinggal berenam di satu rumah, sementara Super Junior Oppadeul memiliki dua rumah, kita tidak perlu rebutan kamar mandi!” seru Chihoon berapi-api memperjuangkan kamar mandi.

   Kyorin menepuk dahinya putus asa pada sikap keras kepala leader dan maknae Felidis ini.

   ”2AM!” seru Haejin.

   ”Ya! Eonnie lupa? Mereka di Jepang, lagipula apa Eonnie tega menggelandang Seulong Oppa dan JoKwon Oppa keluar dari kamar? Dorm mereka bahkan lebih sempit daripada dorm kita!” lagi-lagi Chihoon mematahkan permintaan Haejin. ”Dorm Super Junior Oppadeul itu ada dua, dan kita tidak perlu pusing-pusing tidur, karena mereka banyak kamar! Dan kita tidak perlu rebutan kamar mandi.”

   ”Wonder Girls!”

   ”Mereka sedang ke Amerika, Eonnie!”

   ”Miss A!”

   ”Ya Eonnie! Dorm mereka sudah kecil, tidak perlu kita tambahkan dengan kedatangan kita! Sudahlah, Eonnie mau kita tinggal disini sendirian tanpa air?!”

   ”Tinggal saja! Aku akan ke dorm 2PM!” seru Haejin keras kepala.

   Kyorin semakin pusing berada diantara kakak dan adiknya ini, tetap tidak ada yang mau mengalah! Chihoon mengangguk. ”Oke, silakan Eonnie ke dorm 2PM, tapi aku mau bawa mobil sendiri!” dan Chihoon mengeluarkan kunci mobil Haejin dari sakunya.

   ”CHO CHIHOON!” jerit Haejin.

   Akhirnya dalam waktu setengah jam, Haejin, Kyorin, dan Chihoon sudah berada di dalam New Ford Escape hitam Haejin, dengan seabrek barang bawaan mereka. Kyorin duduk di depan dengan wajah kekurangan oksigen karena menyaksikan pertengkaran tiada akhir Lee Haejin dan Cho Chihoon.

   Sementara Chihoon duduk di kursi tengah dengan senyum penuh kemenangan.

   Haejin memutar kunci kontak mobilnya. Cho Chihoon memang gadis kecil nekat yang nakal! Abaikan saja ancamannya, dan dia akan benar-benar melakukannya. Maka dengan setengah hati Haejin menjalankan mobilnya.

   ”Bagaimana bisa apartemen kita mati air?” gerutu Haejin.

   ”Pipanya dalam perbaikan, Eonnie,” sahut Chihoon kalem dari belakang.

   ”Pipanya? Ya, Kyorin-ah, apa kau pernah mendengar apartemen sekelas Sky Dining pipa airnya rusak dan selama tiga hari tidak bisa mengeluarkan air?!” tanya Haejin tidak percaya sambil terus mengemudikan mobilnya membelah jalanan yang mulai ramai.

   Kyorin terbatuk-batuk dan menghela napas. ”Ini memang baru pertama kalinya terjadi.”

   ”Dan menghindari hal yang tidak diinginkan, seperti tidak bisa buang air kecil, lebih baik kita mengungsi.” Kata Chihoon bahagia.

   ”Ya!” kini Haejin melirik Chihoon tajam dari kaca spion. ”Kenapa harus dorm Super Junior?!” desisnya. ”Aku mencium konspirasi disini.”

   Chihoon tertawa geli. ”Konspirasi? Antara?” kekehnya geli. ”Eonnie tidak berharap Donghae Oppa yang meminta kami kesana, kan? Karena kalau iya, sayang sekali bukan, Eonnie.”

   ”Oh, shut up!” Haejin menekan pedal gas lebih kencang, Kyorin menggenggam erat-erat sabuk pengamannya dan memejamkan matanya, sementara Chihoon terkekeh senang di belakang.

   Setengah jam kemudian mereka sudah tiba di lift Sky City Apartement, apartemen Super Junior. Kyorin menekan tombol panah ke atas dan menunggu. Kisi-kisi terbuka, dan Haejin dengan terpaksa masuk ke dalam lift setelah punggungnya di sodok oleh Chihoon.

   ”Kita ke lantai berapa?” tanya Kyorin pada kakak dan adiknya.

   ”Sebelas!”

   ”Duabelas!”

   Kyorin menghela napas lelah.

   ”Duabelas! Lantai sebelas sudah tidak ada orang kalau sekarang,” Chihoon mengeluarkan ponselnya. ”Oppaku sedang menghadiri casting, Sungmin Oppa di lantai dua belas, Yesung Oppa di Handel & Gratel, dan Eunhyuk Oppa sudah rekaman acara bersama Leeteuk Oppa dan Shindong Oppa.”

   Haejin menepuk dahinya menyerah.

   ”Ini bukan konspirasi, Eonnie,” kata Chihoon lagi. ”Percaya diri sekali kau!”

   Mereka tiba di lantai dua belas sembari menyeret koper-koper mereka, Haejin paling belakang, setengah hati. Dengan tasnya yang juga cukup berat. Mau bagaimana lagi? Esok dia masih harus rekaman 91Liners, dan kedua adiknya juga memiliki rekaman acara-acara spesial tahun baru Cina ini.

   Chihoon memijit bel pintu dorm Super Junior.

   ”Ne, nugu?”

   ”Cho Chihoon, dan dua Eonnienya yang cantik jelita,” kata Chihoon super bahagia menjawab sapaan Sungmin tersebut.

   Sungmin kemudian membuka pintu apartemen tersebut sambil tersenyum. ”Annyeong!” serunya pada Chihoon dengan tatapan lembut. Chihoon langsung memamerkan eye smile-nya, membuat Haejin memutar kedua bola matanya sebal. ”Bawaanmu banyak sekali, sini kubantu.” Sungmin langsung mengambil koper Chihoon. ”Ya! Felidis sudah datang, tolong bantu!” serunya ke dalam.

   Tak lama kemudian muncullah Siwon dan Eunhyuk, yang ternyata belum rekaman acara seperti yang tadi Chihoon bilang. Keduanya tertawa melihat koper-koper yang dibawa Felidis.

   ”Kalian pindahan?” tanya Eunhyuk geli.

   ”Kau mau bantu atau tidak?!” desis Haejin.

   ”Ah ye!” Eunhyuk mengambil koper dari tangan Haejin, sementara Siwon mengambil koper dari tangan Kyorin. Dan mempersilakan mereka semua masuk (Chihoon sudah masuk duluan), Kyorin membungkuk hormat dan ikut masuk, sementara Haejin mendesah berat, dan kakinya serasa ditimpa timah.

   ”Ayo masuk, nanti ada fans naik kesini, kau jadi headline lagi,” kata Eunhyuk melihat Haejin yang masih betah di depan pintu.

   Dengan terburu-buru Haejin masuk lalu menutup pintunya. Kedua adiknya sudah menghilang dari pandangan, dan Haejin mengikuti Eunhyuk yang untungnya membawakan kopernya ke kamar Hankyung.

   ”Chihoon dan Kyorin akan tidur di kamar Kangin Hyung,” Eunhyuk memberitahu Haejin. ”Jadi kau pakai kamar Hankyung Hyung saja, sudah kami bersihkan tadi… ketika ehem, Chihoon bilang air di apartemen kalian mati.” Kekehnya geli.

   Haejin mengangguk. ”Gomawo.”

   ”Ne, kau kelihatan lelah,” tunjuk Eunhyuk pada wajah Haejin.

   ”Aku baru pulang pukul satu,” Haejin memerhatikan seisi kamar Hankyung yang sepertinya tidak berubah meski sang pemilik telah pulang ke Cina. ”Kamarnya rapi ya… jadi ingin mengenal Hankyung Oppa.”

   Eunhyuk tersenyum kecil. ”Kamar mandi sepertinya akan kosong sebentar lagi, kalau mau mandi, mandilah, agak siangan nanti kamar mandi akan penuh, setelahnya kan kau bisa istirahat.” Saran Eunhyuk.

   Haejin mengangguk, masih menatap pigura berisi foto Hankyung.

   ”Mau kututup pintunya, Jin-ah?”

   ”Tak usah, aku mau memaksa Chihoon dan Kyorin mandi, mereka tetap harus sekolah!” Haejin menepuk dahinya dan berbalik mengikuti Eunhyuk keluar. Tapi diluar sudah lengang sekarang. ”Eh? Kemana mereka?!” kepala Haejin menoleh ke kanan-kiri.

   Eunhyuk mengangkat bahu. ”Mungkin Sungmin Hyung membawa mereka ke bawah untuk mandi, kalau begitu aku mau ke kamar Shindong Hyung, kami harus berangkat sebentar lagi. Kau mandi saja sana!”

   ”Iya, iya…” Haejin mengangguk-angguk, dan berdecak sambil memiringkan kepalanya. ”Aneh!” gumamnya resah. ”Pasti ada konspirasi disini. Cho Chihoon, anak nakal itu!” Haejin berbalik dan kembali ke kamar Hankyung sambil mengambil tas mandi, handuk, beserta pakaian bersih untuk diganti, diraupnya itu semua dan dibawanya menuju kamar mandi.

   Sepertinya di dalam ada orang, tapi toh dari suaranya, orang tersebut baru saja memutar keran shower, dan terdengar tengah bersiap untuk keluar dari kamar mandi. Haejin memutuskan menunggu, toh tak lama juga orang yang di dalam akan keluar, pikirnya.

   Dan benar, pintu terbuka, Haejin menegakkan diri dan matanya nyaris keluar tatkala melihat siapa yang keluar dari dalam kamar mandi tersebut. Harusnya Haejin tahu ada kemungkinan berpapasan dengan seorang Lee Donghae! Ini lantai dua belas, dan mantan kekasihnya itu kan tinggal di lantai dua belas.

   Donghae pun terkejut melihat Haejin dengan perlengkapan mandi. Donghae mengenakan kaus santai dan celana training panjang, satu tangan mengusap rambutnya yang basah.

   Haejin menunduk dalam-dalam saat Donghae keluar.

   ”Oh…” Donghae terlihat salah tingkah. ”Hai!”

   Haejin membungkuk, tak berani menatap mata Donghae. ”Annyeong.” Balasnya sambil terus menunduk dan memeluk perkakas mandinya.

   ”Eh, pakailah…” Donghae buru-buru minggir dari depan pintu.

   ”Ah ye, gomawo.” Haejin melangkah masuk ke dalam kamar mandi sambil menutupnya.

   Donghae mengatur napasnya yang tercekat. Setelah beberapa hari, akhirnya kini ia melihat langsung gadisnya lagi. Donghae mengatur napasnya yang terasa putus-putus dan mengembuskannya kencang. Untunglah pada saat itu, sepertinya Haejin sudah menyalakan keran shower.

I still need you

I still care about you

Though everything’s been said and done

I still feel you

Like I’m right beside you

But still no words from you

-To Be Continued-

Seperti yang udah Nisya janjikan kemarin, ini lanjutan The Day The Heart Stood Still wkwkwk, semoga pada gak kecewa. FF lain menyusul update-nya ya, Insya Allah secepatnya sih.

Terus buat yang nanya My Soul in Seoul, itu FF buatan Veeka Onnie, bukan buatan Nisya. Setiap Author punya mood masing-masing untuk bikin FF, kita tunggu aja ya kapan lanjutannya, daripada kalo dipaksa hasilnya jelek ^^

Like dan Comment di tunggu banget ^^

106 thoughts on “{JinHaeXy} STILL ~Part 1~

  1. Ahaha gue suka gaya chihoon😄
    Donghae songong ih.. aku sih jujur masih kesel yah sama dia *iyalah ga lama baru ngelarin the day itu -_- tapi yah berharap yg terbaik aja sih buat poppa mommaku.. klo emang balikan lagi dan poppa kayak gitu lagi.. haduh beneran aku cenayang deh sih poppa *cekikikan*
    Semoga! Semoga berhasil rencananya chihoon.. dia bisa banget diandalkan kalo saat2 kayak gini.. bisa aja ngalahin haejin yg keras kepala dengan segala ide jail di otaknya..wkwk~ kn kalo kyo ketauan tuh kalem yg nurut aja..wkwk~ chihoonie hwaiting!!😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s