{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 4~ END

Title : The Day The Heart Stood Still

Author : Nisya aka @ccl_haejin

Length : Chaptered

Genre : JinHaeXy Universe, Romance, Family, Friendship

Rate : PG-13

Poster Credit : Finni, @HyuraGoo

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin
Backsound :
  • Super Junior – Love Disease
  • Super Junior – Andante
Disclaimer : Oke ini part terakhir, anti klimaks, dan aku memutuskan inilah ending yang paling pas untuk kedua manusia galau itu *ditelen* bikinnya buru-buru, karena Nisya mau pindah rumah, jadi ngebutin part akhir ini supaya nggak ada hutangan :p oke, suka tidak suka, enak tidak enak, inilah yang bisa saya berikan dari diri saya ^^

{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 4~

”Tapi pulanglah, aku tidak butuh siapa pun bersamaku saat ini.”

   Donghae terperangah mendengar kalimat yang tandas dari bibir kekasihnya yang pucat tersebut. Baru ia hendak menutup pintu kamar rawat Haejin, baru ia mau memeluk kekasihnya yang akhirnya sadar, dan baru ia mau meminta maaf atas kesalahannya.

   Tiba-tiba seperti dedaunan musim gugur, satu persatu perlahan luruh. Dia bahkan tidak berani melangkahkan kakinya maju, sekedar ingin memeriksa keadaan Haejin. Dia tidak peduli apa-apa, tadinya, selain yang penting Haejin sadar, dan tidak tidur berlebihan kembali, tapi kini, seolah rol film tengah berputar dalam kepalanya. Segala perbuatannya kini terekam jelas dalam matanya.

   Setelah semua itu diingatnya, dia justru heran mengapa Haejin begitu baik dan tidak melemparinya dengan gelas.

   ”Kenapa diam saja di depan situ?” tanya Haejin. Nadanya datar, tanpa senyum, tapi tanpa raut marah atau terkesan  mengusir, hanya terlihat datar dan dingin.

   ”Oppa!”

   ”Oppa! Gya, Eonnie sudah bangun Oppa!” seru Chihoon gembira, dia dan Kyorin baru saja kembali membawa gelas-gelas berisi minuman cerah warna-warni yang sepertinya mereka beli di kafetaria.

   Donghae tersenyum muram pada keduanya.

   ”Eonnie,” Kyorin dan Chihoon malah masuk dan duduk di kedua sisi ranjang Haejin, Haejin terkekeh pada keduanya, tersenyum. Donghae memandangnya dari jauh, cukup senang melihat sudah ada senyum.

   ”Oppa, kesinilah…” Chihoon menoleh dan melambaikan tangannya mengajak Donghae mendekat. ”Jangan melongo saja di depan pintu Oppa.”

    ”Aniyo gwenchana!” tiba-tiba Haejin menyahut ketika Donghae hendak melangkah maju. ”Aku sudah tidak apa-apa, Donghae Oppa,” dia menekankan kata-kata Oppa disana, sehingga mau tak mau Kyorin dan Chihoon mengernyit mendengarnya. ”Dia sangat sibuk, bukan?” tanya Haejin dengan nada riang sambil tersenyum.

   ”Ah, Oppa kau sibuk?” tanya Kyorin sambil menatap Donghae heran.

   Chihoon ikut mengernyit.

   ”Ah, aku…”

   ”Silakan pulang, aku sudah tidak apa-apa, kau tidak perlu khawatir, dan kau tidak perlu cemas.” Ucap Haejin seolah memotong kata-kata Donghae.

   Kyorin dan Chihoon kini menoleh kembali dengan heran.

   Donghae diam di tempat menunduk.

   ”Kalau kalian tidak keberatan, aku masih mau istirahat,” ujar Haejin lagi pada kedua adiknya.

   ”Kau terlalu banyak tidur, Eonnie!” protes Chihoon.

   ”Aku tidak akan tidur! Aku hanya butuh sendiri, untuk sementara waktu, bolehkah?”

   Donghae berdeham kemudian kembali menegakkan kepalanya dan tersenyum tipis. ”Keurae. Kau istirahatlah, kalau begitu… nanti aku akan, ehem, kembali lagi…”

   ”Oh tidak perlu, waktumu akan terbuang percuma untuk mengunjungi orang sepertiku di rumah sakit,” jawab Haejin kalem.

   Tapi, ketiga orang di hadapannya seolah tersambar petir.

   ”Haejin-ah,” Donghae terperangah.

   ”Jadi kumohon, aku mau sendiri dulu.”

*           *           *

Haejin bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya, dia tahu malam sudah mencapai puncaknya. Dan dia kenal betul rasanya malam ini, seolah-olah kembali pada malam-malam dua tahun lalu.

   Ketika ia berpikir mengenai dua tahun yang lalu, matanya mendadak terbuka, dan dia tahu dia benar. Hatinya seperti diremas-remas, dia meneguk ludahnya kuat-kuat, takut, tapi bahagia, tapi marah dan kecewa terus bercampur menjadi satu dalam hati, otak, pikiran dan perasaannya sekarang.

   ”Untuk apa kau datang?!” kali ini Haejin tak lagi berpura-pura untuk tenang atau ramah. Kenangan akan kedatangan Donghae di tengah malam buta ketika ia terbaring di rumah sakit, terlalu menyakitkan jika disandingkan dengan kenangan Donghae menyakitinya.

   Suara berkeresak dan terkesiap terdengar dari sudut ruangan.

   ”Jangan nyalakan lampunya!” seru Haejin, dia buru-buru menaikkan kepala ranjangnya dengan waspada.

   Dalam gelapnya malam, dan berkas lampu dari luar, kini Haejin bisa melihat bayangan seorang pria yang tengah berdiri kaku. Gesturnya terbaca meski dalam gelapnya lampu kamar perawatannya.

   ”Apa yang kau lakukan disini?!”

   Akhirnya pria itu bergerak dan menjawab, pelan namun mantap. ”Melihatmu.” Jawabnya sederhana.

   ”Sudah kukatakan aku tidak apa-apa.”

   ”Tapi aku tetap mau melihatmu.”

   Haejin berdecak. ”Aku tidak apa-apa, apa lagi yang mau lihat?!”

   Donghae diam.

   ”Kau sudah melihatku, kan? Ya sudah sekarang pulanglah.”

   ”Kalau aku tidak mau?”

   ”Ya pergilah kemana saja asal tidak disini!”

   Donghae kembali diam, Haejin kembali menjadi keras, sekeras batu kembali, tak tersentuh lagi. Dan ini semua karena dia, gara-gara dia dan pikiran buntunya yang memang selalu menjadi petaka.

   ”Aku harus menjelaskan sesuatu padamu.”

   ”Hah~” Haejin mendengus. ”Menjelaskan apa?” tanyanya meremehkan. ”Rasanya tidak perlu ada yang dijelaskan disini ya?”

   ”Ada, dan harus.”

   ”Apa?”

   ”Mengenai sikapku kemarin,” Donghae melanjutkan sambil menjalan mendekat, Haejin tidak protes, hanya menatap lurus laki-laki yang memakai mantel tebal tersebut, dan membiarkannya duduk di tepi ranjang, sedikit jauh darinya. ”Kuakui aku adalah pecundang.”

   Haejin melipat tangannya.

   ”Kuakui…” Donghae menelan ludahnya lagi. ”Aku brengsek!”

   ”Jadi kau sudah tahu kau pecundang yang brengsek?” tanya Haejin kalem.

   ”Oh.” Donghae mengangguk.

   Haejin tersenyum puas. ”Baguslah. Kalau begitu pulanglah, aku puas kau sudah tahu siapa kau sebenarnya, Pecundang yang brengsek.”

   Donghae menatapnya dalam, perih! Tapi memang kenyataan. Hal yang benar ditudingkan kepadanya saja terasa menyakitkan, bagaimana jika hal yang tidak benar yang telah ia tudingkan pada Haejin? Bagaimana perasaan Haejin? Donghae menunduk dan diam.

   ”Sudah, aku tidak akan marah-marah atau apa, percuma,” ujar Haejin sambil berbaring santai pada kepala tempat tidurnya yang sudah tinggi. ”Seseorang bicara padaku,” kata Haejin. ”Cemburu itu tanda cinta, bagaimana kalau sudah lelah cemburu? Bukankah itu berarti cinta telah habis?

   Dongae tertohok.

   ”Tak pernah sedikitpun kau berpikir kenapa aku berhenti cemburu?” tanya Haejin super kalem. ”Beberapa bulan belakangan, setelah insiden bunga matahari, aku berhenti cemburu, kau merasakannya, kan?”

   Donghae menatap Haejin lurus-lurus, tak berkomentar, terus mempersilakan gadis itu bicara.

   ”Itu karena aku tidak pernah terlalu berharap banyak darimu,” Haejin akhirnya mengutarakannya. ”Aku tidak pernah mengerti kenapa kau begitu overprotektif dan begitu pencemburu padaku. Memang apa yang kulakukan sehingga kau pantas mendapatkan itu semua?”

   Donghae memiringkan kepalanya.

   ”Atau mungkin lebih tepat lagi, apa yang kau lakukan sehingga kau pantas mendapatkan gadis tukang selingkuh?” tanya Haejin getir.

   ”Ya!” Donghae mulai protes.

   ”Apakah jangan-jangan karena…” Haejin menoleh manatap Donghae. ”Kau melakukan hal itu semua, jadi kau takut aku membalaskannya padamu?”

   Donghae tercekat.

   ”Apakah jangan-jangan selama ini,” Haejin bicara lambat-lambat. ”Justru kau yang mendua hati?” kekeh Haejin.

   Bibir Donghae bergetar.

   ”Aku berpikir begitu,” tandas Haejin lagi sambil kembali berbaring. ”Tapi… aku berusaha percaya padamu.” Haejin melanjutkan lagi. ”Aku tidak mau jadi wanita cerewet yang membuatmu tidak nyaman padaku, sehingga aku memutuskan diam. Tapi ternyata, diam pun aku salah…”

   ”Maafkan aku.” Ucap Donghae tanpa sadar, dia tidak tahan lagi.

   ”Aku tidak minta maafmu,” potong Haejin. ”Tak ada yang bisa selesai hanya dengan kata maaf.”

   ”Aku tahu, tapi aku merasa aku harus melakukannya,”

   Haejin mengabaikannya, dan memilih melanjutkan dengan nada getir dan getas. ”Lucu melihat bagaimana kau begitu cemburu padaku…” kekeh Haejin miris. ”Siapa pun kau cemburui. Mulai dari Seulong, Taecyeon, Junsu Oppa, Chansung… lalu aku dekat dengan Changmin Oppa DBSK pun kau marah, dengan Minho?” Haejin tertawa suram. ”Seolah-olah aku sudah melakukan dosa paling besar di dunia ini, ya?” tanyanya getir.

   Donghae menunduk dalam-dalam, tak berani menyangkal.

   ”Ketika di Saipan,” Haejin mengungkit itu, Donghae mendongak. ”Aku berusaha sekuat tenaga membuktikan untuk siapa cintaku, sampai aku harus merendahkan harga diriku serendah-rendahnya,” jelas Haejin. ”Tapi apa yang terjadi, Hae? Kukira kau percaya padaku setelah kita melakukan hubungan itu, kau bahkan bisa lihat aku masih perawan dan kuberikan semua padamu!” kali ini Haejin mulai terisak. ”Ani, aku sama sekali tidak menyesalinya. Kau jangan berpikir aku menyesal bahwa kau telah menyerahkan semuanya padamu, sama sekali tidak…” kekeh Haejin dengan akhirnya runtuhnya pertahan segala ketegaran yang ia tahan. ”Aku hanya bingung, harus bagaimana lagi? Jika sudah sampai batas ini kau tetap tidak mau percaya padaku?”

   ”Aku tidak bermaksud…”

   ”Apakah seorang pria yang mencintai seorang wanita begitu dalam tega menyakiti wanita itu dengan kekerasan fisik?” tanya Haejin akhirnya, Donghae memundurkan tubuhnya. ”Apakah dia tega melempar wanita itu dengan vas? Apakah dia tega mendorong wanita yang sedang sakit itu hingga terjatuh?” tanya Haejin bertubi-tubi. ”Apakah nanti… jika aku menerima pinanganmu, semakin banyak kekerasan yang kau lakukan padaku?”

   Donghae menunduk dan terisak.

   ”Bagaimana aku mau menikah denganmu kalau cemburu saja kau kasar padaku. Apa yang kau tanyakan kemarin? Lelah? Sebenarnya siapa yang harus lelah, Lee Donghae? Kau atau aku? Kuakui ketika kau nyaris melemparku dengan vas, kau tidak bermaksud demikian dan memang aku yang kelewat batas… tapi kalau kemarin? Kau bahkan tidak tahu aku mencarimu…”

   ”Minho sudah mengatakan segalanya,” Donghae meraih kedua tangan Haejin.

   Haejin tidak menampiknya, namun tidak juga memberi balasan yang berarti dari genggaman kuat tersebut.

   ”Aku dikuasai emosi,” Donghae menelan ludahnya kuat-kuat sambil menatap kedua mata Haejin yang berair. ”Mulai dari artikel 91Liners, yang bertepatan dengan keluarnya preview We Got Married. Aku tetap tidak tenang, aku di Taiwan, kau di Korea, apa saja bisa terjadi saat aku tidak ada…”

   ”Sama sepertiku, apa pun bisa terjadi saat kau pergi, saat aku tidak ada bersamamu…”

   ”Kau tidak tahu betapa bersinarnya dirimu diantara laki-laki, Haejin-ah,” kata Donghae pelan. ”Kau terlalu naif menganggap semua pria yang ada di sekelilingmu sebagai teman atau orang baik… tanpa kau tahu bagaimana pikiran mereka terhadapmu, pikiran asli mereka padamu.”

   Haejin mendongak. ”Apa lagi ini?”

   ”Aku tidak berbohong,” Donghae menggeleng kuat-kuat. ”Percayalah, kau terlalu naif, menerima semua pria yang mengajakmu berteman, menganggap mereka bercanda jika merayumu. Kenapa aku berani bilang begini? Karena bahkan Cho Kyuhyun yang dingin pun mengakui pernah jatuh cinta padamu, padahal dia sudah memiliki Kwan Nara saat itu!”

   ”Tapi itu…”

   ”Itu pikiran laki-laki!” tegas Donghae. ”Kau mudah bergaul, kau menyenangkan, dan kau… selalu bisa membuat penasaran, karena kau tidak pernah bergeming jika ada yang merayumu.”

   ”Apa yang kau bicarakan?!”

   ”Ketika aku mendekatimu dulu… dan kami semua bercanda, dan aku sedikit merayumu, kau hanya tertawa ringan… santai, tidak menganggap serius. Itu yang membuat laki-laki tak akan berhenti mengejarmu… dan itu, mengerikan bagiku,” akunya

   ”Jadi kau tidak percaya padaku pada akhirnya,” Haejin mengambil kesimpulan.

   Donghae diam.

   ”Hae,” panggil Haejin, dan Donghae mendongak, siap mendengar keputusan final dari Haejin. ”Kurasa…” suaranya tercekat. ”Lebih baik, untuk sementara… kita… berpisah dulu saja.”

   ”Kenapa harus berpisah?!” dengan panik Donghae mencengkram tangan Haejin kencang. ”Apakah tidak ada jalan lain?”

   Haejin menarik lepas kedua tangannya perlahan-lahan. ”Terkadang… berpisah baik untuk kita berdua, agar kita berdua bisa jadi lebih dewasa dalam membina hubungan ini.”

   ”Aku tidak mau berpisah…” isak Donghae sambil meraih Haejin dalam pelukannya. ”Aku tahu aku salah! Aku tahu aku bodoh, idiot, brengsek, bahkan kasar! Aku rela semua orang tahu kalau aku kejam padamu, tapi jangan minta berpisah, aku tidak mau…”

   Haejin tersenyum lembut, balas memeluk Donghae. ”Berpisah untuk sementara… kita harus saling introspeksi diri kita masing-masing. Aku mau hubungan ini menjadi sehat, tidak seperti ini…”

   ”Aku tidak mau!” isak Donghae keras, dan air matanya membasahi bahu Haejin. ”Jangan minta berpisah! Aku tidak bisa!”

   ”Kita harus melakukannya agar menjadi manusia yang lebih baik lagi, Hae…” Haejin melepaskan pelukannya. ”Kita tanya pada diri kita masing-masing, apakah benar ini yang kita inginkan… untuk apa kita menjalin hubungan… apa yang bisa kita berikan pada satu sama lain… apakah hanya bisa memberi luka atau bahagia… itu perlu.” Haejin menetapkan nada final atas itu semua.

   Donghae terisak-isak dan terus menggeleng sambil meraih kedua tangan Haejin. ”Jangan tinggalkan aku…”

   ”Kumohon, Hae…” kali ini Haejin ikut memohon sambil menggenggam tangan Donghae. ”Aku terlalu lelah jika menjalaninya sekarang, izinkan aku istirahat sejenak, dan memikirkan semuanya dari awal. Dan kau juga harus begitu, tanyakan kembali pada dirimu… apakah semua sepadan untukmu jika aku hanya memberimu luka di hati?”

The disease where my love is slowly dying
It hurts a little, but I don’t want to get better
Every single memory is erasing
Going back to the times when we were strangers,
I want to rest now

Though it hurts too much now
Some day, you might
Wipe your lips as a kiss triggers an unpleasant memory
Trying to erase the warmth you felt when I held you in my arms
Cold tears will wash you

Super Junior – Love Disease

   Semua pertanyaan itu, pikir Donghae, harusnya ditujukan kepada Haejin. Apakah selama ini ia hanya memberikan luka pada Haejin, tanpa memberi bahagia? Donghae perlahan-lahan melepaskan genggaman tangannya.

   ”Hanya untuk sementara,” Haejin berbisik. ”Kita kembali ke saat-saat kita belum saling mengenal saja, atau mungkin ketika aku baru saja debut.” Haejin berusaha tersenyum. ”Ketika kau belum memiliki seseorang yang selalu menyakitimu dengan skandal-skandalnya…”

   Lagi, pertanyaan itu harusnya ditujukan pada Haejin, bukan padanya, Donghae menggigit bibirnya kuat.

   ”Hari dimana hubungan kita tidak seperti ini, ketika kau hanyalah seorang senior dari grup yang kuhormati, ketika kita sama-sama masih berteman saja.” Lanjut Haejin lagi. ”Hari dimana mungkin, kita bisa mengulang cerita jatuh cinta kita…”

   Donghae menatap Haejin, gadis itu tersenyum lelah.

   ”Jika rasa itu masih ada setelah kita berpikir, ketika cinta itu masih berurat akar dalam diri kita masing-masing, dan bukan berupa obsesi, maka datanglah… aku pun akan datang jika itu semua masih ada…”

   ”Jika… tidak?” suara serak Donghae terdengar. ”Jika… kau tidak merasakannya?”

   ”Maukah kau melepasku?” tanya Haejin.

   Donghae menggeleng.

   ”Jika justru kau yang mau lepas dariku, aku takkan pernah menahanmu,”

   Dan hal itu membuat Donghae merasa tertohok. ”Jadi maksudmu kau sudah tidak mencintaiku?!”

   ”Bukan, aku hanya mau kita kembali berpikir. Jika rasa itu sudah tidak ada pada diri kita, satu sama lain, kita harus belajar melepaskan itu semua…” Haejin menjawab ringan. ”Jadi kita berpisah saja.”

   Donghae menggeleng. ”Aku tetap tidak bisa…”

   ”Pikirkanlah baik-baik dulu, Hae… setelah semua sudah tenang, emosi kita sudah stabil, dan perasaan kita sudah sama-sama jelas, maka kita tinggal memilih, apakah harus terus, atau berhenti.”

   Haejin bersandar kembali di tempat tidur, dan menurunkan kepala tempat tidurnya dengan remote control-nya hingga rebah. ”Aku lelah sekali, aku benar-benar butuh istirahat saat ini. Sampai jumpa, nanti.”

*25 Januari 2012*

Donghae menatap video yang di putar di depannya. Tiga orang gadis dengan hanbok manis sedang memberi hormat, lalu menyampaikan harapan serta doa bagi para penggemar dan tentunya bagi diri mereka sendiri.

   Gadis itu sudah sehat, meski terlihat lebih kurus lagi. Tapi Donghae percaya dia akan kembali membuat dirinya berisi. Ditatapnya senyum sumringah dari gadis yang tengah berbicara pada para penggemarnya tersebut, lalu mengarahkan kursor mouse-nya pada tempat lain.

   Foto-foto pemakaman ayah dari 2PM Junsu. Disana terlihat Haejin datang dengan dua mata sembab, berdiri tak jauh dari Junsu, bahkan dia terlihat ikut menangis bersama gadis-gadis dari JYP Entertainment yang ikut hadir disana memberi dukungan pada sahabat mereka, Junsu.

   Setelah permintaan break dari Haejin beberapa hari lalu, hanya ini yang dapat Donghae lakukan ketika merindukan gadis itu. Tak ada satu pun lagi pesan yang masuk, tak ada apa pun yang ditujukan padanya. Dan ia pun tidak bisa mengirimkan dan berharap apa-apa.

   Dia yang membuat semuanya jadi seperti ini, dan dia kini harus menelan pil pahit sebagai buah dari apa yang ia tanam. Mungkin benar, mereka harus sama-sama saling mengoreksi diri masing-masing dan menjadi orang yang lebih dewasa lagi, sehingga hubungan mereka bisa diselamatkan.

   Satu-satunya yang Donghae takutkan adalah, Haejin memutuskan melepaskan semuanya. Setelah berulangkali berpikir, bahkan bertanya pada diri sendiri, tetap jawabannya sama. Dia sangat mencintai gadis itu dan tidak mau berpisah! Tapi, dia tetap tahu diri. Dialah yang menyebabkan hubungan mereka sampai di titik ini, dan kini ia hanya bisa berdoa, semoga meski sedikit harapan yang ada, Haejin pun tidak berhenti mencintainya.

   ”Hae, jangan tidur terlalu malam, besok kau ke Thailand,” kata Leeteuk sambil tersenyum maklum.

   Donghae mengangguk. ”Ne, Hyung.”

   ”Sudah berkemas?”

   ”Sudah.”

   ”Pastikan tidak ada yang ketinggalan ya, lalu istirahatlah.”

   Super Junior, tidak bertanya apa-apa mengenai hubungannya dan Haejin, mungkin mereka sudah tahu entah dari siapa tapi menghormatinya dan Haejin, tidak berkomentar apa-apa. Yang lain sempat mengunjungi Haejin di rumah sakit, ketika Haejin hendak kembali ke dorm setelah merasa cukup sehat, dan Donghae dengan basa-basi menolak ajakan Yesung, Shindong, dan Ryeowook yang mengajaknya dengan basa-basi juga menjenguk Haejin.

*Felidis Dorm*

”Eonnie, jangan tidur malam-malam! Besok Eonnie recording pertama 91Liners dan itu pasti sangat berat! Ayo istirahat!” teriak Kyorin dari luar kamar. Haejin terkekeh mendengarnya.

   ”Iya, aku sudah mau tidur,”

   ”Masih ada cahaya! Eonnie pasti masih main laptop!” serunya.

   ”Iya iya,” Haejin menatap Twitter-nya dan membaca isi pesan dari akun @donghae861015; I’m going to Thai !! See u soon Thai ELF !!http://pic.twitter.com/p4ZwzxED

    Haejin menghela napasnya dalam-dalam lalu memeriksa jadwal Super Junior. ”Hingga tanggal 28 di Thailand?” Haejin tersenyum muram. ”Hati-hati, jaga kesehatan disana.” Ucapnya lirih sambil mengelus wallpaper laptopnya. ”Gidarilke, saranghae…” dimatikannya laptop tersebut, dan dia berjalan menuju tempat tidur sambil meraih boneka Nemo besarnya dalam pelukannya.

Slowly, slowly, the stacked up emotions
Slowly, slowly, the gathered memories
I will slowly, slowly forget them
Andante

In this dream that I’ve gotten used to
Carefully, carefully, I’ll prepare for separation

I can’t even change your heart in my dream

When will I be able to forget you

Super Junior – Andante

-END-

Jangan protes yeee :p saya author kejam, diajarin Veeka Eonnie wkwkwkwkwk… tenang-tenang, masih akan ada JinHaeXy selanjutnya, cuma beda judul dengan cerita berbeda. Galaunya di stop dulu sampai disini, oke?

Ada yang mau nonton Super Show 3D di Grand Indonesia tanggal 3 Februari 2012? Hehehe, ketemuan yuuuuk ^^ Nisya, Eris, dan beberapa readers setia disini mau ketemuan lhoooooooo

Akhir kata, mau nanya sama nasib When I Fall, emang masih pada mau diterusin itu cerita? Aku sih berniat lanjutin, cuma nanti dulu soalnya kayaknya udah ngaco itu cerita wkkwkwkw, nyari feel yang bener dulu deh, tapi pasti dilanjutin kok! Haturtengkyu

115 thoughts on “{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 4~ END

  1. Ya? anti klimaks macam apa ini??
    Aiggooo… onnie ini, knpa sneng bgt bkin kami (readers) ikutan galau?
    Kukira bkal brakhir happy dengan adegan agak2 yadong (?)

    Tapi ternyata Ckckckc… break? Ige mwoya??
    BREAK?? BREAK???? *diulang biar mendramatisir*
    Tolong bilang bhwa ini cuma iklan KitKat! –> “Ada break, ada KitKat” –> Abaikan!

    JinHae Break. Yewok menggalau. Kyunara masih t2p ga jelas. LALU SAYA BAGAIMANA??? *banting pintu,masuk kamar*

    *keluar lagi* Ke blog’a Jiyoo aja lah… XP *ngacir*

  2. Ahh sedih, berpisah (lagi) (-̩̩-̩̩̩-̩̩̩_-̩̩̩-̩̩̩-̩̩)
    Tpi baiknya gitu kali ya, kan dlm hubungan pasti ada titik lelahnya itu #tsaah
    Sabar ya haejin, donghae.. Pasti bisa (˘̩̩̩˛˘̩ƪ)
    Speechles deh mau komen apa, udh gabisa ngmg (✖╭╮✖)

    oh yg ini yg kk galau ktnya mw nntn tgl 3? Tgl 3 sih, aku tgl 5 nntnya. Gabisa ketemu huaaaa (˘̩̩̩^˘̩̩̩)‎ lain kali mudh2an bisa ktmu muehuehue😀

  3. aigoo~ akhirnya kebaca jg FF ini
    mian cm comment di part terakhir
    ngebut bacanya T^T *bow*
    keren nis ceritanya~~~
    bikin emosi naik turun deh
    sempet sebel sama hae tp terus jd kasian liat dia
    lgan bknnya nanya mlh marah² *jitak hae* *diijek ELFishy*
    wkwkwk

  4. Jadi gini doang endingnya?? *bating bb
    Kirain galau segalau galaunya org paling galau jin’ah
    Buahahahahahahaahhahaahaaaa *digigit bada

    Ya udah brarti fix saya ada kesempatan buat deketin dongeeeeeee,,, akakakakakakaaaa

  5. Kok gantung sih eon???
    Yang pas mereka balikan gak diceritain??
    Jinhae sehati yaa:3
    Onnie aku masih nunggu kelanjutan WIF!!

  6. jiahhhhh c nyak nularin pengaruh tdk baik niy..
    ‘author kejam’.. ckckckckkk
    kejammmmmm… *garuk tanah
    break yah??? poppa kamu tidur d kamar aq ajah *masuk selimut
    hahahahaaa..
    iy deh mending break dulu.. ikut sakit soalx klo berantem mulu..
    tp abis ini baekan yahh.. mesra2an lg.. popo2an lg..
    2x lipat yahhh.. ahhh ani.. 10x lipat..
    hahahaa

  7. Kirrain masih panjang.. Taunya abis…
    Diajarin veeka eon yah eon.. Hahahaa
    Jadi mereka break gitu yah..
    Sedih deh, apalg cuma liat2 dr net doang berita2 ttg masing2
    Jangan putussss pleaseee (˘̩̩̩~˘̩̩̩ƪ)

  8. THIS!!! Kenapa aku dulu benci banget sama yg namanya cowo!! #plakk~
    Akhirnya emang harus break.. emang itu lebih baik daripada maksain diri dan terus terusan lelah.. jangan dipaksain momma.. biar aja poppa mau gimana.. dia pasti nyesel!! *siapin voodo*

  9. ini emang part galau dan mereka putus lagi???
    oh ya ampun !!!
    oenni, part yng haejin mau dilempar vas sama donghae mana sih??
    pengen baca. donghae pasti serem benget

  10. Weeeh break dl nih…ckckcckckck itu ud kliatan ya mrk msih sling memperhatikn, buktiny lg break jg mrk masih saling liat kabar 1 sm lain.. Smoga cpet baikan ToT

  11. Apa apaan ini?? Tega nya kauuu.,, T.T
    Huaaaaaa., #pelukDonghae *dikeplakhaejin*
    Tidak2., ini gak bleh terjadi??kupikir bakal berakhir dgn puppy eyes oppa., ternyata denan gengsi haejin., aaaaakkkk
    #pingsan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s