{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 3~

Title : The Day The Heart Stood Still

Author : Nisya aka @ccl_haejin

Length : Chaptered

Genre : JinHaeXy Universe, Romance, Family, Friendship

Rate : PG-13

Poster Credit : It’s Mine

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin
Supporting Casts :
  • Im Seulong
  • Choi Minho
  • Lee Kyorin
  • Cho Chihoon
  • Leeteuk
  • Cho Kyuhyun
  • Lee Sungmin
Soundtrack :
  • This Is Love – Donghae & Henry (Lagu ini ngebantu banget aku bikin FF ini tadi, rencananya cuma nulis-nulis biasa supaya setidaknya lusa atau mungkin 3 hari lagi bisa publish, tapi ternyata mood meningkat)

Disclaimer :

Dari sudut pandangku sebagai Authornya ini cerita, menurutku ini part paling galau, tapi kagak tau deh menurut kalian gimana. Dan aku tahu sebagai Author amatir, kadang aku gak bisa memuaskan beberapa pihak, tapi inilah ceritaku, dan inilah aku dengan apa yang kusuguhkan. Terima kasih ^^

{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 3~

”Hyung, akhirnya Hyung datang,”

Donghae terenyuh melihat pemandangan di depannya. Selang oksigen tersambung pada kedua hidung gadis yang terlihat semakin kurus tersebut, dan bukan hanya satu selang infus yang tersambung pada kedua tangannya, ada sekitar dua atau tiga selang lagi yang tersambung pada botol-botol berwarna-warni yang tergantung, sementara sang gadis tidur.

Donghae bisa melihat lima member 2PM, termasuk Ok Taecyeon, dan seluruh member 2AM, beserta Kyorin dan Chihoon.

”Oppa, ternyata sudah pulang?” tanya Kyorin pada Donghae. ”Maaf kami tidak memberitahu Oppa, kami kira Oppa masih di Taiwan.” Jelasnya. ”Sebenarnya sejak hari Minggu Haejin Eonnie sudah sakit.”

”Barulah hari Senin pagi ia ke dokter, ternyata dia terkena tipus, tapi dia berkeras tidak mau di rawat,” jelas Chihoon juga, terburu-buru, ia nampak tidak enak, tidak memberikan kabar bagi kekasih Eonnienya.

”Apa yang terjadi padanya?” tanya Leeteuk pada Chihoon dan Kyorin.

”Dia mau di rumah saja, tidak mau rawat inap, tapi begitu pulang dari dokter, sepertinya dia tidak makan obatnya.” Chihoon menjelaskan lebih lanjut. ”Kami juga tidak tahu, hari itu kami tidak ada di dorm, hanya Eonnie sendirian, tapi kami berpesan, kalau Eonnie merasa tidak enak Eonnie harus ke dokter.”

Kyorin mengangguk. ”Malamnya bantalnya sudah penuh darah saat mimisan, dan dia sudah tidak sadarkan diri, barulah dia dibawa kesini. Disini dia juga tidak mau makan dan minum obat, bagaimana dia mau sembuh coba? Bahkan 2PM dan 2AM Oppadeul memaksanya makan, dia malah pingsan!” Kyorin berkaca-kaca, kentara sekali mengkhawatirkan keadaan kakaknya tersebut.

”Hyung tidak tahu?” tanya Junsu tiba-tiba pada Donghae.

Donghae merasakan tenggorokannya mulai tercekat ketika hendak menjawab.

”Haejin bukan tipe yang akan membuat kekasihnya khawatir,” Taecyeon memegang lengan Junsu dan menggeleng.

Suasana berubah canggung, terlebih ketika Taecyeon memberikan senyum penuh pengertiannya kepada Donghae. Lalu dia memandang teman-temannya lagi. ”Kurasa sebaiknya kita pulang.”

Wooyoung dan Junho saling pandang.

”Yah, tapi Haejin belum sadar lagi,” keluh Jinwoon.

”Jinwoon-ah, sudahlah!” Changmin menyikut bahunya. ”Kita sebaiknya pergi dari sini.”

”Kenapa?” tanya Chansung ikut protes. ”Ini kamar VIP, tidak mengganggu pasien lain kan?”

”Ayo kita pulang, setidaknya Haejin jika sadar nanti mungkin ingin melihat Donghae Hyung saja,” canda Junsu.

”Jangan bercanda, Hyung, Haejin kan juga sayang pada kita,” ujar JoKwon pede.

”Aish! Sudah sudah! Ayo keluar keluar!” usir Taecyeon dan Seulong bersamaan sambil pamit kepada member Super Junior yang memandang mereka dengan geli, dan maklum.

Bukankah One Day memang begitu?

”Kami pulang dulu,” pamit Seulong pada Kyorin dan Chihoon.

”Ne, nanti kalau ada perkembangan apa pun, baik atau buruk, kuharap baik, kalian tetap harus menghubungi kami ya,” kata Taecyeon pada keduanya.

Kyorin dan Chihoon mengangguk.

”Terima kasih Oppadeul.”

”Ne sama-sama, Hyung, kami duluan…” Seulong pamit pada member Super Junior yang ikut mengangguk pada mereka.

Leeteuk, Donghae, Sungmin, dan Kyuhyun, yang ikut datang menjenguk Haejin ikut membungkuk pada member 2PM dan 2AM yang berangsur-angsur keluar dari kamar rawat Haejin, yang memang cukup besar, tapi tak urung membuat sesak tempat, mengingat tubuh-tubuh kekar mereka.

Kyorin melirik jam tangannya dengan cemas. ”Terhitung enam jam Eonnie belum sadarkan diri.”

”Enam jam?!” pekik Leeteuk, Kyuhyun, dan Sungmin bersamaan.

Kyorin mengangguk cemas. ”Kalau begini terus pesannya agar tidak terdengar khalayak ramai kalau dia sakit tidak mungkin terjadi.” Kyorin menatap tubuh Eonnienya yang tidur tersebut.

”Jadi memang kalian sengaja menutupi Haejin masuk ke rumah sakit? Sampai kalian juga seolah hilang?” tanya Kyuhyun heran.

”Awalnya kami kira Donghae Oppa ada di Taiwan, kami sama-sama sibuk sekolah sampai tidak ada yang mengecek apakah Donghae Oppa sudah pulang atau belum. Haejin Eonnie bahkan menanyakan Oppa terus sebelum akhirnya pingsan.”

Donghae menoleh. ”Menanyakanku?”

”Iya paginya, eh, ani… malamnya saat pulang recording CF! eh, apa paginya ya?” tanya Chihoon mengingat-ingat. ”Pokoknya dia menanyakanmu apakah sudah pulang…”

Kerongkongan Donghae semakin tercekat, sakit dan menusuk.

”Lalu ketika dibawa masuk kesini, dia bilang jangan bilang pada siapa-siapa, agar tidak ada yang tahu kalau dia rawat,” lanjut Kyorin lagi. ”Eonnie cukup stress soalnya ketika di Jepang banyak anti fans yang mengatainya gadis lemah karena selalu sakit. Makanya dia agak menolak rumah sakit belakangan ini.”

”Kami kira Oppa masih di Taiwan, makanya kami tidak mau membuat Oppa terganggu konsentrasinya. Itulah kenapa kami tidak menghubungi Oppa.” Jelas Chihoon lagi.

”Tapi setidaknya kau bisa menghubungi kami!” seru Sungmin.

Chihoon memalingkan wajahnya dengan malas, membuat Leeteuk menghela napas dan Sungmin yang menunduk, sepertinya kini ia mengerti mengapa Chihoon tidak menghubunginya belakangan ini.

Pintu kamar bergeser dan masuklah seorang perawat wanita sambil mendorong troli berisi makan malam. ”Nona Lee belum bangun?” tanyanya khawatir.

”Belum, Suster.” Sahut Kyorin sambil berdiri.

”Ya sudah, ini sudah kutinggalkan saja disini, kalau dia bangun, sebisa mungkin paksa dia makan,” pesan perawat tersebut dengan cemas melirik ke arah Haejin. ”Tidak baik baginya terus bergantung pada makanan ini,” kini perawat itu menunjuk tiga buah tabung lain selain infus. ”Dia perlu banyak vitamin untuk mengembalikan staminanya.”

Kyorin mengangguk. ”Ne, Suster.”

”Nanti mungkin seorang psikolog akan segera kesini untuk mengecek keadaannya bersamaan dengan Dokter Shin,” tambah perawat itu lagi.

”Ah, ye, Suster.”

”Kalau begitu aku permisi.”

Suster itu menghilang diikuti tatapan ngeri dari Leeteuk, Sungmin, dan Kyuhyun yang buru-buru menatap Kyorin. ”Psikolog?!” lengking mereka.

”Memang apa yang terjadi pada Haejin?!” tanya Kyuhyun.

”Kami tidak ada yang tahu,” kata Chihoon cemas, suaranya benar-benar tergolong putus asa. ”Kata Dokter Shin, tidurnya Eonnie itu karena permintaan alam bawah sadarnya, karena dia tidur terus.” Chihoon nyaris mengisak.

”Astaga.” Leeteuk menutup mulutnya. ”Alam bawah sadarnya?!”

”Katanya dia tertekan, Dokter Shin terus bertanya kenapa kira-kira Haejin Eonnie tertekan, tapi kami tidak ada yang tahu…” isak Kyorin. ”Eonnie tidak cerita kalau dia punya masalah.”

”Setahu kami dia tidak ada masalah.” Chihoon mengangguk-angguk. ”Oppa, Oppa kan pacarnya… apakah kira-kira Oppa tahu kenapa Haejin Eonnie tertekan? Malhaebwa Oppa, demi Eonnie~”

Donghae masih terus diam menatap Haejin yang tertidur.

Dua puluh menit kemudian Dokter Shin datang bersama seorang Psikolog. Pertama-tama ia sendirian memeriksa keadaan Haejin, kemudian sang Psikolog ikut memeriksa sebentar, dan mulai mewawancarai Kyorin dan Chihoon, juga Dokter Shin mengenai keadaan Haejin.

”Analisis Dokter Shin tidak meleset,” ucap Psikolog wanita itu sambil memandang prihatin Haejin. ”Haejin-ssi tertekan.”

”Tertekan?!”

”Tapi apa yang membuatnya tertekan, kita tidak bisa tahu sampai dia sendiri yang bicara. Aku menganjurkan hypnotherapy untuk mengetahui akar masalah ini, tapi jika  nanti dia sadar dan memungkinkan untuk bercerita atau sedikit berbagi pada kalian, itu akan lebih baik lagi, sehingga tidak perlu diambil langkah hypnotherapy.” Jelas Psikolog tersebut. ”Jadi kuharap kalian sebagai orang terdekatnya, bisa mengetahui masalahnya dan membantunya menyelesaikannya, karena sepertinya dia begitu sulit menyelesaikan masalah itu sendirian dan akhirnya dipendam olehnya. Sebagai bentuk pelarian, alam bawah sadarnya membuatnya tidur, agar mungkin… tidak menemui masalah ini.”

”Apa ada efek samping jika dia terus begini?” tanya Chihoon.

”Selain jadwal kalian terganggu, efek samping adalah lama kelamaan batang otaknya bisa terkena imbasnya,” kini Dokter Shin yang bicara. ”Tidur berlebihan memperpendek umur seseorang, bukankah kalian tahu hal itu?”

Kyorin dan Chihoon terkesiap.

”Kuharap nanti tidak perlu ada tindakan memasukkan kafein ke dalam salah satu obatnya agar dia terjaga, biar bagaimana pun kafein tidak baik.” Lanjutnya.

”Kalau begitu terima kasih, Dokter.”

Begitu Dokter Shin dan Psikolog wanita itu keluar dari dalam ruangan, Donghae langsung berlari mendekati tempat tidur Haejin, sampai tidak ada yang menyadari kecepatannya, dan shock melihatnya mencabuti selang demi selang sambil menangis.

”Bangun! Haejin-ah, bangun! Bangun! Maafkan aku! Bangun!” Donghae berteriak sambil terus menepuk pipi Haejin. ”Kau dengar aku?! Lee Haejin bangun! Jangan lari seperti ini! Haejin bangun! Bangun, BANGUN!”

”Hae!” teriak Leeteuk, sementara Kyuhyun dan Sungmin mendekatinya dan menarik tubuhnya yang terus meronta dan terus berusaha menggapai tubuh Haejin sambil berteriak-teriak histeris.

”HAEJIN BANGUN!”

”Hae! Kendalikan dirimu! Hae!”

”Hyung! Ada apa denganmu?! Hyung, jangan begini!” Kyuhyun ikut kewalahan menahan tubuh Donghae yang sebetulnya jauh lebih kecil daripada dirinya sendiri, tapi kekuatan Donghae kali ini nampaknya muncul berkali-kali lipat.

Donghae mengisak, sementara Kyorin dan Chihoon menangis berpelukan. ”Haejin bangun~” isaknya keras. ”Haejin, bangun!” teriaknya.

”Hae!” Sungmin menariknya.

”Dia harus memakai selang-selang tersebut, atau tidak akan ada tenaga masuk ke dalam tubuhnya, Hyung!” Kyuhyun dan Chihoon sekarang bahu membahu mengembalikan selang-selang tersebut pada pipa kecil yang masih terbuka di tangan kanan Haejin.

Donghae jatuh berlutut sambil terisak.

Padahal barusan terjadi kegaduhan yang cukup besar, tapi sepertinya alam bawah sadar Haejin, dan itu berarti diri Haejin sendiri yang memang begitu terluka dan tidak mau bangun lagi.

 

*           *           *

Kyorin dan Chihoon diantarkan pulang oleh Sungmin dan Kyuhyun, Leeteuk memiliki jadwal lain yang harus dilakukan. Dan sekarang tinggalah Donghae, setelah berjanji tidak akan mencabuti selang-selang asupan nutrisi pada Haejin, dibiarkan sendiri di rumah sakit.

Pertama, setelah Leeteuk, Sungmin, dan Kyuhyun pergi, Donghae tidak tahan sendirian berada di ruang rawat Haejin. Tak ada suara apa pun kecuali tetesan setiap amunisi untuk tubuh Haejin yang lemah dari empat buah botol yang tergantung. Selain itu, hanya suara napas Haejin yang teratur yang terdengar.

Donghae juga menatap miris nampan makanan Haejin, Kyorin bilang meski sadar pun, mereka harus bertengkar agar Haejin mau makan sesuap saja. Dan yang ia pikirkan ketika Haejin menolak makan adalah Haejin yang bersenang-senang bersama teman-temannya?

Ketika ia sibuk menggandeng tangan Eunseo dan membandingan Eunseo dengan Haejin, yang Haejin lakukan adalah menyiksa dirinya sendiri?

Donghae menekan mulutnya kuat-kuat agar tidak mengeluarkan isakannya, lalu kelua dari dalam kamar dan menarik napasnya dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya. Dia menyadari bahwa dia telah menjadi pecundang terhina di dunia hari ini, bahkan mungkin sejak ia mendorong Haejin kemarin.

   Baru Haejin mengulurkan tangan hendak memeluknya, Donghae mendorongnya hingga Haejin tersungkur. Haejin membelalak menatap Donghae kebingungan. ”Hae… ada apa?” tanyanya pelan.

Donghae menekan mulutnya kuat mengingat wajah Haejin yang begitu lemas ketika dia mendorongnya.

   ”Jangan banyak alasan!” teriak Donghae tepat di wajah Haejin yang berubah pucat. ”Kau! Benar-benar gadis tidak tahu diri!” Donghae mendorong dahi Haejin dengan jarinya, hingga Haejin sedikit terhuyung. ”Apakah hanya karena We Got Married bisa menjadikanmu alasan untuk balas dendam bersama Minho padaku?!” Donghae membanting pintu apartemen menutup dan mendekati Haejin dalam langkah pelan mematikan.

”Dan buruknya aku, bahkan aku tidak berani mengakui hal itu kepada Kyorin dan Chihoon.” Lirih Donghae sambil merosot di depan pintu ruang rawat Haejin.

”Hyung!”

Donghae mendongak, dan kaget mendapati Choi Minho dengan mantel dan tutup kepala tengah menunduk menatapnya. ”Minho-ya?” panggil Donghae serak. Inilah dia, sumber salah pahamnya.

”Hyung sudah pulang?” Minho bertanya sambil mengulurkan tangannya untuk menyalami kakaknya. ”Kudengar dari Kyorin Haejin masuk rumah sakit saat tadi aku ke dorm.”

Donghae berdiri, kemudian menatap lurus mata Minho dengan tajam. ”Apa yang kau lakukan di dorm mereka?”

”Ah, Hyung jangan salah paham,” Minho tersenyum maklum mengangkat kedua tangannya. ”Beberapa hari lalu Haejin meneleponku, kalau tidak salah Senin kemarin, pagi-pagi… dia minta antar ke dokter.”

Wajah Donghae langsung kosong.

”Kutanya kenapa dia tidak minta atar padamu, Hyung, ternyata katanya dia menghubungimu dan kau tidak menjawabnya, dan ponselmu tidak aktif. Lalu 2AM di Jepang, dan 2PM tidak ada di tempat semua, jadilah dia minta tolong padaku. Ya sudah, karena dia adalah Noona Iparku, kuantar dia… dia lemah sekali Hyung, dia bilang dia kangen sekali pada Hyung…” kekeh Minho meledek. ”Dijalan dia terus bilang ’Minho-ya, aku kangen Hyungmu…’ sampai aku pusing hehehe, dia harusnya di rawat, tapi dia tidak mau… Hyung, gwenchana?!” tiba-tiba Minho terperangah melihat Donghae tiba-tiba mengisak.

”Teruskan ceritamu!” desak Donghae menahan isaknya, dan air mata yang ulai menganak sungai di pipinya.

”Ah ye…” Minho terlihat serba salah. ”Dia harusnya dirawat, dia tidak mau… jadilah kuantar dia pulang lagi. Dia sudah lemah sekali, sampai jalan saja harus kupapah, Hyung… badannya panas sekali.” Minho meneruskan menjelaskan.

    Minho turun dan buru-buru berlari membukakan Haejin pintu, dan mereka bergandengan tangan menuju lift.

Dan ingatannya melayang pada suatu pagi ketika dalam tinggi egonya, dia menolak telepon dari kekasihnya. Dia tidak mau repot-repot berpikir tujuan Haejin menghubunginya. Tapi ternyata Haejin membutuhkannya, karena Haejin tengah sakit! Dan yang dia lakukan adalah memperparah sakit Haejin?

”Jadi, tadi aku bermaksud menjenguknya, karena tak ada kabar sama sekali, dan dia absen di banyak kegiatan,” lanjut Minho. ”Aku mengira sesuatu pasti terjadi, dan begitu tiba di dorm mereka, aku berpapasan dengan Kyuhyun Hyung dan Sungmin Hyung yang mengantar Kyorin dan Chihoon, mereka bilang Haejin masuk rumah sakit, dan memang sengaja menutupi berita ini. Jadi bagaimana keadaan Haejin, Hyung?” tanya Minho penasaran.

Donghae terisak. ”Haejin tidak mau makan,” isaknya.

”Ah, ya ampun,” ucap Minho prihatin.

”Minho-ya…” kata Donghae serak. ”Terima kasih sudah mau mengantarkan Haejin ke rumah sakit…” suara Donghae bergetar saat mengucapkannya. ”Maafkan aku kalau aku meminta begini, apakah kau bisa kembali besok saja? Aku… aku butuh bersamanya malam ini.” Pinta Donghae mengiba.

Melihat kakaknya berlinang air mata, Minho mengangguk-angguk dan menepuk bahu Donghae. ”Cepat sembuh untuk Noona Ipar, Hyung, kalau begitu aku pulang dulu.”

”Gomawo, Minho-ya.” Donghae mengangguk dan memandang punggung Minho yang menjauh, barulah ia membuka pintu kamar rawat Haejin. Masih tak ada perubahan apa-apa, hanya suara teratur dari napas Haejin dan tetes demi tetes obat-obatan yang mengalir masuk ke dalam pembuluh nadinya.

Perlahan Donghae menarik kursi dan mendekatkan dirinya pada tempat tidur, sambil menatap wajah tidur Haejin yang terlihat nyeri. Donghae menolak menatap wajah Haejin secara langsung sejak tadi, karena dadanya merasa sesak. Dia begitu merindukan gadis ini, gadis yang mati-matian ditolak dan dilawan oleh akal sehat, namun begitu dicintai perasaan dan sekujur tubuhnya.

Donghae membiarkan air matanya turun, sambil meraih tangan kanan Haejin yang tersambung pada selang-selang penopang hidupnya. ”Kau boleh panggil aku bodoh.” Bisik Donghae. ”Kau boleh panggil aku idiot, atau apa pun…” lirihnya. ”Aku sadar, aku pantas mendapatkannya…” Donghae mengangkat satu tangannya yang bebas dan mengelus pipi Haejin yang dingin. ”Jadi aku yang menyebabkan ini semua… kau sakit, dan aku menyakitimu…” isak Donghae. ”Aku bahkan tidak berani memohon maaf padamu.” Lanjutnya. ”Yang kulakukan keterlaluan, terlalu keterlaluan… bahkan tanpa kau tahu, aku berusaha keras membencimu dengan caraku.” Isaknya. ”Tapi yang kemudian kudengar, Minho bahkan berkata bahwa kau begitu merindukanku… teruslah buat aku merasa buruk, Haejin-ah, aku pantas mendapatkannya, aku pantas mendapatkannya.”

Haejin tetap tidak bergeming.

”Aku tidak berani meminta apa-apa darimu lagi,” Donghae membersit hidungnya. ”Tapi kumohon satu hal, jangan sakiti dirimu seperti ini… bangunlah, Haejin-ah, aku tidak pantas kau pikirkan seperti ini. Aku terlalu hina untuk kau tangisi dalam dirimu sendiri! Aku terlalu kejam… jangan sakiti dirimu karena orang tak berguna sepertiku. Ayolah Haejin-ah, bangunlah…” isaknya sambil memeluk erat tangan Haejin pada dadanya. ”Bangunlah, Haejin-ah, jangan sakiti dirimu karenaku, bangunlah…”

 

*           *           *

Momma… bangun!’

   Haejin membuka matanya perlahan-lahan, dan bisa merasakan tepat sinar cahaya rembulan bersinar di atas wajahnya, sementara dia menatap pria yang paling ia cintai tengah bertumpu tepat di atas tubuhnya sambil tersenyum.

   ”Pukul berapa ini?” tanya Haejin malas.

   ”Dua belas malam!”

   ”Mwo?!” Haejin mendadak bangun, membuat Donghae harus berguling di sebelahnya sambil terkekeh. ”Jinja?!”

   Donghae menumpukan kepalanya dengan tangan kirinya sambil terus menatap Haejin seolah tak pernah puas mengagumi teksurnya. ”Oh, kau tidur lama sekali… aku sudah bangun dari tadi.”

   ”Aku capek.” Wajah Haejin memerah.

   ”Momma seperti harimau sih,” Donghae meledeknya, yang kemudian terbahak karena Haejin kembali berbaring dan mengangkat selimutnya menutupi seluruh permukaan wajahnya dan memunggunginya, memperlihatkan punggung putih polos yang liat, yeah, Donghae tahu itu, dia baru saja beberapa jam lalu merasakan betapa liat dan lembutnya tubuh itu dalam genggaman tangannya. ”Eh, kemana Haejin centil yang merayuku dan merajuk terus sejak kemarin? Momma… Momma… bangun dooong…” Donghae menggelitik perut Haejin dari belakang.

   Haejin menjerit-jerit kecil. ”GYAAAA POPPA LEPAS!”

   ”Bangun! Ayo bangun! Permaisuriku, calon Ibu anak-anakku, belahan jiwaku… jangan abaikan aku, aku bisa mati tanpamu…” rayu Donghae kacangan.

*           *           *

Pelan-pelan Haejin membuka kedua matanya yang terasa berat, kepalanya masih terasa pusing, tapi dadanya yang kemarin terasa terhimpit mulai terasa ringan. Dan ia melihat ruangan itu terang, cahaya matahari masuk.

”Eonnie!”

”Jin-ah!”

”Gyaaaa dia sadar, terima kasih Tuhan!”

Haejin menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan perlahan, masih tersisa rasa perih dan pusing yang begitu menyiksa kepalanya, dan dia bisa melihatnya, kamarnya penuh seperti kemarin.

Wonder Girls, Miss A, 2AM, dan 2PM ramai berkerumun, termasuk kedua adiknya yang bercucuran air mata melihatnya bangun. Haejin tersenyum lemah. ”Hei, aku baik-baik saja…” ujarnya serak.

”Kau jangan tidur lama-lama begini,” pinta Sunye khawatir sambil menggenggam tangan Haejin, matanya berkaca-kaca. ”Kau membuat semua orang khawatir, tidurmu itu tidak baik, Jin-ah.”

”Ne!” koor kompak member One Day.

Haejin terkekeh lemah. ”Maafkan aku sudah membuat kalian khawatir,” perasaannya meringan, entah karena apa. ”Aku tidak berniat tidur lebih lama lagi kok, tenang saja…”

”Yakseok?” tanya YeEun sambil merangkul Kyorin dan Chihoon.

”Ne, yakseokhae…”

Keempat member Miss A menghela napas lega dan tersenyum pada Haejin, begitu pula One Day yang nampak lega. Haejin tersenyum, inilah keluarganya, yang bersedia memikirkannya begitu dalam. Dia harus bersyukur memiliki mereka, dan tidak perlu memikirkan Donghae hingga membuatnya menyakiti dirinya sendiri, dan membuat khawatir begitu banyak orang yang menyayanginya.

”Eh, jamkamanyeo… aku terima telepon dulu,” Junsu pamit sambil mengelus kepala Haejin, dan keluar dari ruangan.

Semua hal terjadi begitu cepat, Junsu begitu panik dan berkata ayahnya terkena serangan jantung, dan dia harus kembali ke Daegu. Seluruh member 2PM buru-buru mengikutinya, Wonder Girls pamit untuk menghadiri peluncuran film Nickelodeon mereka, dan Miss A juga pamit, bersama JoKwon, Changmin, dan Jinwoon yang harus syuting Dream High.

”Gwenchana?” tanya Seulong sambil duduk dan menggenggam tangan Haejin yang bebas selang infus. Kali ini, Kyorin dan Chihoon memutuskan membiarkan keduanya bicara, mungkin dengan begini Haejin bisa bercerita.

Haejin mengangguk pelan.

”Syukurlah kalau kau baik-baik saja,” kata Seulong lagi. ”Tak ada yang mau kau ceritakan kepadaku?”

Haejin terdiam dan mengeratkan pegangan Seulong.

”Aku tahu kau sedang ada masalah, Jinnie,” kata Seulong sambil menatap serius mata sahabatnya tersebut. ”Kami sudah dengar dari dokter kalau tidurmu itu karena reaksi psikologismu. Tinggal darimu, kau mau membiarkan dirimu sendiri terus terluka, atau membaginya bersama kami?”

Haejin menggigit bibirnya.

”Apa yang terjadi padamu? Siapa yang membuatmu begini?”

Haejin menelan ludahnya kuat-kuat lalu berkata. ”Bisakah kau naikkan kepala tempat tidurku?” pintanya lemah.

Seulong tanpa banyak bicara mengambil remote dan menaikkan kepala tempat tidur Haejin agar ia seolah duduk, digenggamnya erat tangan Seulong yang menggenggamnya.

”Ongie-ya…” Haejin menghela napas. ”Kau ingat janjimu pada Eommaku, dulu ketika Eomma bertemu denganmu?”

Seulong menelengkan kepalanya sedikit lalu bergumam. ”Menjagamu seperti adik kandungku sendiri, menggantikan peran ayahmu untukmu.” Sahutnya tanpa lupa sama sekali.

”Ongie-ya, jika aku mencintai seorang laki-laki dan memilihnya sebagai pendamping hidupku, kau akan mendukungku, kan?”

”Keurom.” Seulong mengangguk.

”Sekalipun laki-laki itu menyakitiku?”

”Hah?!” Seulong kebingungan. ”Menyakitimu bagaimana? Maksudmu Donghae Hyung…?”

”Sekalipun dia menyakitiku, tapi aku tetap mencintainya, apakah kau akan memberikan restumu padanya?”

Seulong terus menatap gadis di hadapannya bingung, Seulong terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dalam. ”Aku akan mendukungmu, siapa pun pilihanmu, tapi aku pun tidak pernah setuju jika dia menyakitimu, tapi aku pun manusia biasa, dan kau serta pilihanmu itu juga manusia biasa yang bisa memiliki salah… aku akan berusaha melihat, mengapa ia menyakitimu. Jika alasannya masuk akal, aku akan terus mendukungmu mencintainya meski tidak membenarkan tindakannya, tapi jika alasannya tidak tepat, aku takkan pernah mengizinkanmu memilihnya.”

Air mata Haejin menggenang, lalu memeluk Seulong erat. ”Gomawo, Ongie-ya.”

Seulong membelai lembut rambut hitam Haejin, sampai akhirnya ponselnya bergetar, dan terpaksa dilepaskannya tubuh gadis yang sudah ia anggap sebagai saudara kandungnya sendiri dan mengangkatnya. ”Ne, Taecyeon-ah, waeyo?” tanyanya pada si penelepon. Seulong terdiam sesaat sebelum akhirnya wajahnya menjadi pucat pasi dan menyahut. ”Ah, ye… sampaikan aku turut berbelasungkawa pada Junsu, aku akan segera kesana.”

”Waeyo? Apa yang terjadi pada Oppa?”

Seulong berdiri dari tempat tidur. ”Ayahnya Junsu meninggal,” Seulong menggigit bibirnya. ”Jin-ah, aku harus menyusul ke Daegu, pemakamannya tanggal 21 besok… maaf tidak bisa menemanimu sekarang.”

”Oppa…” Haejin menekap mulutnya panik. ”Ah ye… sampaikan belasungkawaku pada Junsu Oppa, aku akan berusaha ke Daegu nanti. Ongie…”

”Ne, jaga dirimu, buatlah sehat dirimu.” Seulong memeluk Haejin dan melambai. ”Aku langsung ke Daegu, nanti sampaikan pada Kyorin dan Chihoon, aku duluan ya…”

Haejin kembali menyandarkan kepalanya pada tempat tidur, hari ini berita duka menghampiri kakak favoritnya di 2PM, bukan hanya di 2PM, di JYP Entertainment. Dia harus cepat sembuh agar bisa mendampingi Junsu Oppa-nya.

Pintu terbuka.

Haejin mendongak dan hatinya mencelos mendapati siapa yang muncul, gemetaran dari ujung rambut hingga kaki.

Lee Donghae.

”Kau sudah sadar?” tanyanya.

Apakah Haejin boleh berharap ada sorot lega di wajah pria yang telah menghempaskannya Senin lalu dengan kejam? Haejin mengangguk. ”Ne, seperti yang kau lihat.”

”Syukurlah.” Ucapnya terdengar tulus, pikir Haejin.

Haejin mengangguk. ”Ne, syukurlah…” sahut Haejin lagi. ”Sekarang kau sudah melihatku, aku sudah sehat. Terima kasih…”

Donghae tersenyum takut-takut.

”Tapi pulanglah, aku tidak butuh siapa pun bersamaku saat ini.”

-Keutt-

Jangan shock sama tulisan keutt hahahaha, itu tandanya TBC *ngeles padahal typo* Ini kejadian diambil pada tanggal 19 Januari 2011 kemarin, waktu Ayahnya Junsu Oppa meninggal *hug Oppa* Aku lupa sama jadwal Hae hari itu, pokoknya yang jelas dia baru selesai syuting blind date *mari bershower* nyahahahaha.

Jangan lupa kalo Jinhaexy.wordpress.com bakalan ulang tahun, jadi ikutan ya Songfic Contest-nya yang masih kebuka sampe tanggal 15 Februari, persyaratannya bisa dibaca di postingannya kok ^^

Sampai jumpa di part selanjutnya, maaf kalau mengecewakan, inilah yang bisa saya berikan dan saya tidak menyesal menulisnya *bershower lagi* hahahaha udah ah makin sarap gue, bye bye ^^

128 thoughts on “{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 3~

  1. kereeeen *tepuktangan* saia nyesek bgt waktu hae cabut selang2 itu T_T
    nyesek di semua bagian si sebenernya , jujur ku mrndukan ff yg bkn nyesek spnjg jalan bgni.. Glran haejin yg marah ehm bakal susah tuh maafin hae . Hae sihh err…

  2. huaaaa akhirnya ne hp bisa comment.. sorry selama ini udah jd silent riders.. akibat selalu baca di hp.. sorry😥

    dan ini udh baca dr part 1 baru bisa comment d part 3..
    dan part ini part yg paling mantap..
    donghae kenak batunya..
    salah sendiri sih..
    ga mau dengerin org ngomong..

    huaaa aq suka jinhae…

  3. nisyaaaa. .
    Kamu blg ini part tergalau,?
    Aku blg ‘big YES’!
    Feelx dpt bgt. .
    Aku smpe nangis terisak2. .
    Kasian bgt haejin smpe kyak gtu. .
    Hae jg. .gra2 slah paham yg gag jlas malah brakhir tragedi. .

    Cptan baekan yah, .gag than liat brantem mulu. .
    Huhu, ikutan galau. .
    Anyway, WGM ALWAYS MAKES ME GALAU. . .

  4. galau pwoool.. Tapi aku lebih galau di part 1 ama 2 nya sih, walopun di part ini aku mewek jg –‘

    btw momma, itu selang makanan dimasukinnya lewat mana kok pake botol2? Eung.. Setau aku, kalo makanan masuknya lewat naso gastric tube, jd lewat hidung masuk ke lambung, yg dimasukin ya makanan. Kecuali kalo masukinnya vitamin atau obat yg buat injeksi, baru bs lewat vena, pake infus. Just sharing, kali aku yg blm tau perkembangan medis🙂

  5. Iye nih emg galau, nangis saya (╥﹏╥)
    Akhirnya donghae sadar juga kalo dia salah paham, trus kayanya haejin nya malah jd sebel hae. Ah cepet clear ya masalahnya :’)

    Turut berduka cita buat junsu oppa😦

  6. sedih.. kasian haejin..
    nih hae bru tau rasa kan..
    sapa suru gak mau dengar penjelasan dl..
    gak usa maafin dl, br hae na sedih dl… hahaha

    appa na junsu 2pm meninggal ya??
    turut berdukacita jg ya…😦

  7. onnie-ya…. mian bru smpt coment ya..
    Pdhl baca’a udah dari kemaren2… XP

    One day memang begitu ya? ga dimana2 ribut melulu. Khahaha…
    Aigooo…. disini mbahas Appa’a Su-ya yg meninggal.. T__T

    Tentang Jinhae: Hayooo… hahaha.. bingung mw coment apa #PLAKKK
    Haejin aneh ya? lagi tertekan kok mlah hibernasi?? Hahaha..
    Qu mah kalo tertekan malah migrasi. jalan2 ke luar negri *halah, kelakuan Borju*

    ”Ongie-ya, jika aku mencintai seorang laki-laki dan memilihnya sebagai pendamping hidupku, kau akan mendukungku, kan?” –> Omona… bener2 deh Haejin kyak lagi tanya ama bapaknya.. *ngabur*

  8. Woooooowwww,,, ini kurang galau jin’ah!!!
    Ikannya blum merasa bersalah bgt,, kurang dibuat ngemis,, akakakakakaa
    Demen dah klo si ikan udah ngemis cinta gtu,,

  9. Tuh kan…… donghae oppa salah sangka mulu siih u,u
    Itu si gantian si haejin yg marah sama haeppa yaa ckck k
    Akutunggu kelanjutannya ya eon ^^

  10. sesek napas liat kelakuan poppa..
    itu selang d cabutin smw??? ya ampunnnn klo nyuruh bangun yg lembut donk poppa.. d cium.. di belai.. di pukpuk..
    lahh bkn mlh d guncang2..
    errrrrrr
    nyesekkk pas minho cerita sebenerx k hae..
    poppa.. momma yg tabah yaa.. sabarr… jng lama2salahpahamx..
    aq jd iktn pusing soalx.. hahaaaa

  11. ah, ikan sih udah jeles duluan.. jadi aja nyesel sendiri kan?
    tapi ntah napa aku suka jinlong(?) momentnya.. pas haejin minta restu, apakah akhirnya haejin mau nikah ama donghae??
    mari baca lanjutannya..
    #iniapasihkomengeje

  12. Haejin tidur lama semacam koma yah, tp tidur..
    Tapi bagus haejin udah sadar….
    Hae, ssedih yah ngeliat haejin kaya gt?
    Tp yah jgn dicabut selangnya, ntar malah gak sembuh2 (ˇ_ˇ”)

  13. Syukur momma udah bangun.. *peluk* momma jangan sakit lagi.. momma jangan sama poppa lagi.. biarin aja poppa jahat banget sama momma aku.. allah ga tidur.. nanti poppa pasti dapet karmanya dari tuhan.. biarin aja dia.. jangan mau sama poppa lagi.. momma pantes dapet yg lebih baik.. tapi jangan minho juga.. aku sebagai anak ga setuju.. T_T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s