{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 2~

Title : The Day The Heart Stood Still

Author : Nisya aka @ccl_haejin

Length : Chaptered

Genre : JinHaeXy Universe, Romance, Family, Friendship

Rate : PG-13

Poster Credit : It’s Mine

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin

{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 2~

Haejin masih terus bersandar di pintu setelah kepergian mengejutkan dari Donghae barusan. Kepalanya semakin berat, pandangannya semakin berkunang-kunang, dan hatinya seperti ditikam ribuan jarum berlumur racun, jika andai kata dia bisa mati saat itu juga, dia memilih untuk mati.

   Ada apa dengan Donghae? Tidak biasanya.

   Donghae memang lembut, romantis, dan penuh cinta kepadanya, Haejin terisak sambil mengusap butir demi butir air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.

   Haejin memutuskan bangkit perlahan dengan berpegangan pada sisi-sisi dinding dan berjalan gontai ke dalam kamarnya, lalu berbaring sambil terus menangis dan membenamkan wajahnya pada bantalnya.

   Donghae pernah berbuat kasar kepadanya, satu kali, dan memang Haejin sadar pada saat itu memang dia yang kelewatan balas dendam. Tepat di depan hidung Donghae, dia melakukan sexy dance yang memang ia rencanakan bersama kedua sahabat karibnya, Park Ririn dan Kwan Nara. Bersama-sama mereka memberikan shock therapy pada kekasih masing-masing.

   Diluar dugaan, pria selembut Donghae pun jika kesabarannya sudah habis, bisa melakukan apa saja, meski perbuatan kasar sekalipun. Donghae mengintimidasinya dengan tatapan penuh amarah, dan bahkan nyaris melempar kepalanya dengan vas bunga.

   Dan tadi, tanpa belas kasihan Donghae mendorongnya hingga terjatuh dan mendorong kepalanya. Kata-kata yang ia keluarkan pun begitu menyakitkan, lelah lelah lelah!

   Tapi kali ini, siapa yang harusnya lelah? Memangnya apa salahnya? Haejin mengisak lebih keras dan membenamkan kepalanya lagi ke dalam bantal. Dia begitu merindukan kekasihnya yang pergi sejak tanggal 12 Januari kemarin, dan berharap mereka bisa bertemu, tapi yang terjadi adalah… ini? Apakah memang laki-laki hanya bisa berbuat kasar kepada wanita?

   ”Eomma…” isak Haejin. ”Eomma…” panggilnya lirih. ”Eomma… eotokhe Eomma? Eotokhe? Apakah Appa juga menyiksa Eomma seperti ini dan Eomma terus mencintainya? Eomma…”

*           *           *

Donghae memarkirkan mobilnya dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar, dia keluar dan langsung naik ke lantai dua belas. Kebetulan, sudah tidak ada siapa pun disana. Ryeowook mungkin sudah berangkat siaran, Siwon juga sudah tidak ada, begitu pula dengan Shindong.

   ”Oh, Hae!” sapa Leeteuk.

   ”Hyung,” sapa Donghae singkat sambil berjalan ke dapur.

   ”Tapi Ryeowook menyisakan sup,” Leeteuk memberitahu. ”Besok kita recording We Got Married bersama Kang Sora-ssi dan Son Eunseo-ssi. Tadi aku mengirimkan pesan padamu, tapi sepertinya tidak terkirim.”

   ”Oh, sepertinya ponselku rusak,”

   ”Ya baiklah, persiapkan dirimu besok,” pesan Leeteuk sambil tersenyum maklum, tidak memaksa Donghae yang kelihatan kacau untuk bercerita lebih lanjut, dan Leeteuk kemudian menghilang begitu saja.

   Donghae dengan lemas kemudian duduk di meja makan dapur dan menghela napas dalam-dalam sambil kemudian mengangkat kedua tangannya dan melihatnya. Tangan yang tadi mendorong seorang gadis hingga terjatuh.

   ”Dia pantas mendapatkannya.” Lirih Donghae. ”Toh akan ada Choi Minho yang membantunya berdiri, kan?” Donghae berdiri dan mengambil mangkuk, lalu mengambil sup yang ada di dalam panci.

   Setengah jalan ia makan, mulutnya terasa seperti mengunyah karpet, padahal sup itu begitu lembut, dan jika dalam keadaan biasa, Donghae pasti akan menikmatinya. Di dorongnya mangkuknya menjauh, kepalanya berpusing memutar begitu banyak kejadian. Logikanya dan hatinya kembali bertengkar. Donghae memutuskan untuk mandi dan mendinginkan kepalanya.

   Berbagai ingatan masuk ke dalam kepalanya. Mulai dari bayangan seorang gadis kecil dengan kuncir cepol dan tutu putih tengah berputar gemulai di dalam lantai dansa.

   Gadis itu tersenyum bahagia, sambil memejamkan matanya, melangkahkan kakinya satu persatu, berjingkat lincah, berputar kembali dengan gemulai. Kemudian bayangan gadis kecil itu tiba-tiba menghilang, rambutnya terurai berantakan, tubuh gadis kecil itu sedikit bertambah tinggi, bertambah berisi, mulai muncul lekukan kewanitaan, dan wajahnya semakin dewasa.

   Gadis itu tersenyum nakal dan menari dengan lincah, bukan balet seperti ketika ia kecil dulu. Dia memakai baju terbuka dan mengekspos nyaris setiap bagian tubuhnya yang berwarna cokelat eksotis tersebut. Donghae terdiam dalam gerakan mandinya, dia menyadari banyak yang telah berubah.

   Dia memang telah jatuh cinta pada gadis kecil yang dulu ia lihat di sekolahnya, tapi gadis itu sudah bukan gadis kecil polos yang ia lihat dahulu. Donghae mematikan kran shower-nya.

   Dan bayangan itu berkelebat dalam kepala Donghae.

Haejin membelalak, menatap Donghae ngeri, kedua tangannya mencengkram tangan Donghae kuat, dan kuku-kuku jarinya tertanam di kedua lengan kekar Donghae. ”Aaarrgggh! Pop…pah…!”

  

Donghae terhuyung dan mencengkram pinggiran kotak shower-nya mengingat kejadian itu. Terburu-buru dia mengenakan handuknya dan keluar dari dalam kamar mandi menuju kamar tidurnya.

*Dorm Felidis*

Kyorin dan Chihoon berhenti di depan pintu apartemen mereka, Kyorin mulai memasukkan kombinasi angka yang tentunya sudah ia hapal di luar kepala. Begitu indikasi password diterima, Kyorin langsung menarik terbuka pintu apartemen mereka, dan Chihoon masuk sambil melepaskan sepatunya.

   Dorm tampak lengang.

   ”Eonnie sudah makan belum? Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali disini,” gumam Kyorin khawatir sambil memakai sandal bulu rumahnya.

   ”Oh!” Chihoon mengangguk setuju.

   Keduanya meletakkan tas mereka di sofa lalu buru-buru mendatangi kamar kakak tertua mereka. Terdengar napas teratur dari Haejin yang tersembunyi dari balik selimut tebal merah mudanya.

   ”Eonnie,” Chihoon berbisik memanggil Kyorin yang tengah memeriksa keadaan Haejin.

   Kyorin menoleh, dan melihat Chihoon mengangkat sebuah plastik obat.

   ”Eonnie sepertinya tadi ke dokter,” bisik Chihoon pelan.

   ”Apa obatnya sudah dimakan?” tanya Kyorin.

   ”Mollayo, sepertinya masih utuh semua,” Chihoon melongok ke dalam kantung plastik obat tersebut. ”Eonnie pasti pulang kelelahan dan langsung tertidur, sepertinya ia belum makan.”

   ”Kita harus membuatkan sesuatu,” Kyorin memutuskan.

   Chihoon mengangguk.

   ”Ya sudah ayo, kau bantu aku!”

   Mereka berdua keluar tanpa membuat suara di kamar Haejin. Sebelum memasak, mereka mengganti pakaian mereka dengan piyama tebal, dan barulah sama-sama berkutat di dapur.

   Kyorin memutuskan untuk membuatkan mereka semua sup ayam ginseng, karena selain hangat, ginseng juga berkhasiat untuk mengembalikan stamina tubuh. Tapi, berhubung ayam hanya ada satu ekor, jadilah satu porsi itu akan dibagi untuk mereka bertiga.

   ”Coba ini,” Kyorin mengambilkan sesendok sup tersebut dan meniupnya, lalu menyorongkannya ke arah Chihoon.

   Chihoon melahapnya.

   ”Othe?” tanya Kyorin.

   ”Enak,” Chihoon mengangguk-angguk.

   ”Baguslah,” Kyorin berbalik dan mematikan kompor lalu mengelap kedua tangannya pada apron hijaunya, lalu beranjak membuka salah satu lemari dan mengeluarkan mangkuk besar. ”Kau panggil Eonnie, Chi.”

   Chihoon melepaskan apron birunya dan meletakkannya sembarangan. Dalam keadaan biasa, Kyorin pasti akan mengomel panjang-pendek, tapi dalam keadaan genting seperti ini, yang penting kakak mereka makan!

   Chihoon mendorong pintu kamar Haejin, dan melihat Haejin masih dalam posisi tidurnya yang tadi. Chihoon membuka selimutnya dan menepuk lembut bahunya. ”Eonnie, Eonnie… ayo makan.” Tapi Haejin tetap tidak bergerak. ”Eonnie, Haejin Eonnie… YA TUHAN! Eonnie!” Chihoon menjerit.

   Kyorin yang mendengar jeritan Chihoon buru-buru meletakkan kembali sendok yang akan dia tata, dan berlari ke dalam kamar Haejin. ”Waeyo?!”

   ”Eonnie, Haejin Eonnie mimisan! Darahnya banyak…” lirih Chihoon panik mau menangis. ”Eonnie otokhe? Panasnya tinggi sekali! Dia pasti belum minum obat dari tadi siang…”

   ”Astaga! Kau bersihkan darah Eonnie dulu, aku telepon Junjin Oppa!” Kyorin langsung keluar dari kamar Haejin dan mendekat pada telepon apartemennya dan menghubungi sang Manajer.

*RS Internasional Seoul*

”Panasnya tinggi,” Dokter Shin menjelaskan nampak heran. ”Tadi siang Haejin sudah kesini memeriksakan dirinya. Aku sudah bilang padanya kalau dia harus di rawat, tapi dia berkeras minta pulang dan berjanji akan minum obat dengan teratur. Tapi begitu kembali kesini keadaannya semakin parah, dia benar-benar harus di opname, Junjin-ssi. Pembuluh darah pecah karena panas tinggi bisa mengakibatkan anemia dan kekurangan darah, untuk itulah kondisinya harus di pantau.”

   Chihoon dan Kyorin saling pandang suram.

   ”Haejin sendirian tadi kesini?” tanya Junjin Oppa.

   ”Oh tidak, dia bersama Choi Minho,”

   ”Minho Oppa?!” pekik Kyorin dan Chihoon kaget, bersamaan.

   ”Iya, Haejin tidak kuat berjalan sendirian sepertinya, tadi saja ia di papah susah payah.” Dokter Shin melanjutkan. ”Aku tidak mentolerir permintaan dirawat di rumah lagi, kesehatan pasien yang utama.”

   Junjin Oppa mengangguk. ”Saya sepakat, Dokter… kalau begitu terima kasih.”

   Begitu Junjin Oppa pergi, Chihoon buru-buru menyenggol bahu Kyorin. ”Haejin Eonnie minta temani Minho Oppa? Tidak salah?”

   ”Mungkin karena Donghae Oppa belum pulang.” Kyorin mencoba berpikir positif.

   ”Ah,” Chihoon mengangguk-angguk.

   Kyorin duduk di sebelah tempat tidur rawat Haejin, yang dirawat sama sekali belum sadar dari tadi, meski selang oksigen sudah dimasukkan di dua buah lubang hidungnya.

   ”Eonnie, apa tidak sebaiknya kita memberi kabar pada Donghae Oppa?” tanya Chihoon sambil duduk di sisi ranjang satunya.

   ”Bukankah Donghae Oppa sedang di Taiwan?” tanya Kyorin lagi. ”Kasihan kalau Donghae Oppa harus khawatir disana, pekerjaannya nanti kacau. Kita doakan saja semua berjalan lancar, supaya Haejin Eonnie cepat sembuh dan Donghae Oppa pekerjaannya lancar-lancar saja.”

   Chihoon mengangguk.

*           *           *

Few Days Later

”Annyeonghaseyo.”

   ”Annyeonghaseyo, Oppa, annyeonghaseyo.”

   Donghae mengikuti Leeteuk, membungkuk pada kedua orang gadis cantik di hadapan mereka, yang tak lain dan tak bukan, Kang Sora dan Son Eunseo, sambil tersenyum.

   ”Hari ini kalian akan melakukan recording double date di taman hiburan ini,” jelas seorang staff We Got Married. ”Untuk itu…” staff tersebut kemudian meneruskan penjelasannya, yang bagi Donghae seperti kata-kata kosong yang berseliweran dalam telinga dan kepalanya. Di depannya, Leeteuk, Sora, dan Eunseo mendengarkan penjelasan staff tersebut dengan seksama, dan penuh perhatian.

   Sementara pikirannya melayang pada hal lain. Mimpi Haejin menangis sudah sekitar dua malam ini menghantuinya semenjak dia memperlakukan Haejin dengan kasar beberapa hari lalu. Nalurinya mengatakan bahwa Haejin tengah terluka, tapi otaknya dengan keras memperingatkannya bahwa Haejin perlu diberi pelajaran!

   Haejin saja toh tidak berusaha menghubunginya sama sekali! Dia tidak memiliki usaha untuk meminta maaf atau apa pun, dan hanya diam, membiarkan Donghae semakin berpikir yang tidak-tidak saja tentang dirinya. Donghae terus bertanya-tanya mengapa Haejin diam saja? Apakah jangan-jangan memang benar Haejin dan Minho ada ’agenda’ khusus di belakangnya selama ini?

   ”Hae!”

    Donghae masih terus menatap kosong ke depan, sampai akhirnya Leeteuk tertawa tidak enak pada seluruh staff dan Sora serta Eunseo, lalu menyenggol kuat bahu Donghae yang buru-buru menggelengkan kepalanya dan mendongak.

   ”Ne?!” Donghae mendongak.

   Semua terkekeh kecil melihatnya.

   ”Ah, maaf,” Donghae membungkuk malu.

   ”Ah, maafkan Donghae,” Leeteuk membungkuk. ”Dia masih agak kelelehan setelah pulang dari Taiwan kemarin.”

   ”Gwenchanayo.” Staff itu terkekeh.

   ”Kalau begitu, hari sudah mulai siang, dan Son Eunseo-ssi akan menghadiri sebuah acara penghargaan, betul?” tanya staff tersebut pada Son Eunseo yang mengangguk sopan. ”Kalau begitu mari kita mulai recording-nya.”

   Recording dimulai dengan cukup lancar, setelah recording ’basa-basi’ mereka mulai antre di depan loket penjual karcis. Udara tidak terlalu dingin, tapi cukup membekukan tulang, dan angin tidak terlalu kencang. Donghae bisa melihat Leeteuk dan Sora sudah cukup natural dalam berakting sebagai pasangan suami-istri, karena mereka mereka juga sudah cukup lama menjalani variety show ini, berbeda dengannya dan Eunseo, yang benar-benar newbie.

   ”Huft.” Son Eunseo mengembuskan napasnya gugup.

   ”Gwenchana, Eunseo-ssi, kita pasti bisa!” Donghae berinisiatif memberikan semangat pada partenernya sambil tersenyum.

   ”Ah, ye… mohon bantuannya, Donghae-ssi.” Eunseo membungkuk.

   ”Ne, sama-sama.”

   Donghae mengingatkan dirinya sendiri. Jika Haejin bisa bersenang-senang tanpanya, tanpa mempedulikan dirinya, yang Donghae bisa tebak, sekarang atau mungkin sudah beberapa hari ini, Haejin mencari penghiburan bersama teman-teman 91Line-nya yang berharga itu, sudah sepantasnya dia juga berhak menikmati semua ini juga.

   Lagipula Son Eunseo, dia juga cantik! Tinggi, langsing, dan bersahaja! Jauh sekali dari Haejin yang terkesan manja, tidak penurut, dan… Donghae menghembuskan napasnya kuat-kuat dan menahan sakit di kerongkongan. Sekarang dia sudah mulai membanding-bandingkan Haejin dan Son Eunseo? Pria macam apa kau sekarang Lee Donghae, pikirnya.

   ”Donghae-ssi, kau mau pakai bando telinga kelinci tidak?”

   Donghae yang sedang melamun mendadak mendongak. ”Ne?”

   ”Ini…” Eunseo menunjukkan dua buah bando berbentuk telinga kelinci. ”Sepertinya lucu.”

   ”Hmm…” Donghae mengangguk sambil tersenyum.

   ”Kau mau yang warna apa? Aku tidak bisa menemukan warna yang lebih maskulin dari ini, mungkin kau mau yang putih…” Eunseo mengulurkan bando berwarna putih dengan aksen pink.

   Donghae menatap kedua buah bando itu lekat-lekat, dan melihat bando berwarna merah muda yang dipegang Eunseo di tangan satunya. Pink, Haejin selalu suka memakai warna pink. Hampir seluruh perlengkapannya memiliki aksen pink, meski dia sendiri membenci warna itu, terlalu manja.

   ”Aku yang ini saja,” Donghae mengambil bando berwarna merah muda total itu.

   ”Oke,” Eunseo mengenakan bando putih tersebut.

   ’Lupakan Lee Haejin, kekasihmu hari ini adalah Son Eunseo, Lee Donghae!’ Donghae membatin lalu tersenyum dan meraih tangan Eunseo dalam gandengannya, mengumpulkan mood dan mengikuti Leeteuk beserta Sora masuk ke dalam taman bermain yang mulai ramai tersebut.

      Menjelang makan siang, setelah puas bermain beberapa wahana dan gambar yang diambil sekiranya cukup untuk di tayangkan, mereka mendapatkan break sebentar. Donghae dan Leeteuk langsung duduk di bawah tenda payung kafetaria, Donghae secara otomatis mengeluarkan ponselnya dan memeriksanya.

   Tak ada pesan apa-apa, Donghae sudah memperkirakan hal tersebut, tapi tetap tidak bisa membiarkan harapannya tidak melambung. Dia masih berharap Haejin mau mencarinya dan memohon untuk memaafkan segala kesalahannya, dan jauh dari lubuk hatinya, meski sakit, jika Haejin tidak akan mengulangi perselingkuhannya dengan Minho, maka ia akan memaafkan gadis itu.

   Hanya jika gadis itu meminta maaf padanya.

   Tapi jika melihat betapa cueknya Haejin kepadanya, sepertinya hal itu sia-sia belaka! Dimasukkannya kembali ponselnya ke dalam tas ranselnya, dan dia menghela napas berat.

   ”Kau kenapa? Kurang konsentrasi sekali,” bisik Leeteuk pelan. ”Terjadi sesuatu pada Haejin?”

   ”Mollayo.” Sahut Donghae, lagi-lagi, sekenanya.

   Leeteuk menatapnya penuh arti. ”Kau selalu begini setelah pulang dari Taiwan. Ada yang mau kau ceritakan?”

   ”Aniyo, mungkin perasaanku yang sedang tidak enak saja, Hyung.”

   Staff We Got Married kemudian mengumumkan bahwa recording untuk hari ini selesai, dan setelah ini mereka sudah bisa kembali pada jadwal masing-masing, dan Son Eunseo dipersilakan pergi menghadiri CF Awards.

   ”Eunseo-ssi, keberatan jika kuantar?” tanya Donghae tiba-tiba, sementara Leeteuk yang melihatnya terbelalak kaget. Tapi Donghae tidak peduli, apa pun yang ia lakukan hari ini, hanya demi melupakan kenyataan pedih bahwa kekasihnya, Lee Haejin, tidak peduli pada dirinya lagi.

   Tragis!

*RS Internasional Seoul*

”Kalau kau tetap menolak makan dan minum, terpaksa semua makanan ini akan dimasukkan melalui selang!” ancam Dokter Shin pada Haejin yang tetap diam dan menatap kosong.

   Kyorin dan Chihoon berwajah melas di sisi ranjang satunya menatap Haejin penuh harap, berharap bahwa ia akan segera makan.

   ”Aku tidak nafsu,” jawab Haejin lemah sambil memejamkan matanya lagi.

   ”Eonnie jangan tidur terus,” pinta Kyorin lirih. ”Yang Eonnie lakukan sejak kemarin tidur terus, Eonnie tidak mau makan! Makanan Eonnie hanya dari infus, bagaimana Eonnie bisa cepat sembuh?”

   Haejin diam, dan tidur.

   ”Kenapa Eonnie ini tidur melulu?” tanya Chihoon frustasi. ”Dokter Shin, apa tidak ada cara lain untuk memaksa Haejin Eonnie makan? Tapi jangan dengan selang juga, kasihan bekas lukanya terlihat nanti.”

   Dokter Shin menghela napas dalam-dalam. ”Kalau begini terus mungkin Haejin harus menemui psikolog.”

   ”Psikolog?!” tanya Kyorin dan Chihoon bersamaan.

   ”Setidaknya,” Dokter Shin mulai mengecek denyut nadi Haejin. ”Alam bawah sadarnya seolah terus memintanya tertidur. Dia tidak memiliki banyak tekanan dalam pekerjaan, kan?”

   Kyorin dan Chihoon terperangah, lalu saling pandang.

   ”Setahu kami tidak ada,” jawab Kyorin.

   ”Ini karena tekanan pekerjaan?” tanya Chihoon penasaran.

   ”Aku tidak tahu pasti karena tekanan apa,” Dokter Shin melanjutkan. ”Yang jelas Haejin seperti tertekan saja. Mungkin dari pekerjaan atau mungkin ada masalah apa, kalian yang tahu lebih jelas.”

  Chihoon menatap Kyorin serius. ”Eonnie biasanya stress jika menjelang peluncuran album terbaru.”

   ”Tapi kita masih tahap persiapan, belum ada tekanan yang berlebihan.” Tambah Kyorin.

   ”Lalu kenapa?” tanya Chihoon heran.

   Kyorin juga mengangkat bahu heran. ”Jadi penyakit tidurnya ini karena apa?”

   ”Haejin tidak bisa terus menolak makanan dan obat, karena tidak semua obat bisa dimasukkan melalui infusnya,” Dokter Shin membetulkan letak botol infus Haejin lagi, sementara yang dibicarakan mungkin sudah melayang-layang entah dimana. ”Akan kukabari lagi selanjutnya.”

   ”Ah ye, kamsahamnida, Dokter.” Kyorin dan Chihoon membungkuk.

   ”Ada apa lagi ini?!” tanya Chihoon gusar sambil menatap Haejin yang sudah terlelap di tempat tidur. ”Eonnie pasti punya masalah yang tidak diberitahukan kepada kita lagi sampai seperti ini.”

   Kyorin mengangguk. ”Tapi apa?”

   ”Hah~ Haejin Eonnie ini! Sok tegar sekali, bikin susah!” dengan gusar Chihoon menatap Haejin hilang sabar.

   Sorenya, Haejin membuka kedua matanya. Ruangan sudah lengang, tak ada Manajernya, tak ada pula kedua adiknya, Kyorin dan Chihoon, tak ada pula perawat atau siapa pun. Kedua adiknya pastilah memiliki jadwal yang harus mereka penuhi hari ini, dan Haejin merasa sedikit bersalah. Karena akit dan dicampur dengan masalah pribadi, dia tidak bisa ikut menemani kedua adiknya tampil entah dimana hari ini.

   Haejin menekan tombol naik di remote yang tersangkut di badan tempat tidurnya, dan dengan otomatis kepala tempat tidurnya ikut naik, Haejin mengambil Galaxy Tab miliknya yang dibawakan oleh Chihoon yang baik hati, dia tidak lupa kalau Eonnie-nya gampang bosan, dan mulai membuka-buka portal-portal berita, dengan secercah harapan Donghae akan mencarinya.

   Dia lupa ponselnya entah dimana setelah dia masuk rumah sakit kemarin, jadi satu-satunya media tempat ia mencari ’jejak’ Donghae, ya hanya melalui internet. Tapi yang di dapatnya melalui situs portal berita adalah Donghae yang melakukan recording We Got Married bersama Leeteuk Oppa, juga Kang Sora dan Son Eunseo.

   Sepertinya Donghae benar-benar marah dan tidak peduli lagi padanya.

   ”Ingat kata-kataku barusan Lee Haejin!” Donghae menunjuk. ”Aku LELAH untuk cemburu! Aku ingin berhenti mengemis cinta kepadamu! Lakukan sesukamu bersama Choi Minho, dan aku…” Donghae menunjuk dirinya sendiri. ”Tidak akan pernah mau peduli lagi.” Donghae berbalik dan membuka pintu dengan kasar, sementara Haejin berdiri dan mengejarnya tepat ketika pintu tertutup.

   Haejin memeluk Galaxy Tab-nya dan tersedu-sedu mengingat kata demi kata yang Donghae lontarkan kepadanya tempo hari. Donghae bahkan tidak menyadari dia kini tengah sakit dan berharap bahwa Donghae akan kesini dan mengerti soal salah paham kemarin, tapi ternyata tidak.

   Sudah dua hari dia berada di rumah sakit, dan Donghae tetap menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Berbeda seperti tahun lalu, bahkan ketika Donghae di Taiwan, dia rela kembali ke Seoul demi menemani Haejin melakukan operasi sinusitis.

   Tapi sekarang? Jangankan Taiwan-Seoul. Sama-sama di Seoul saja, Donghae sudah tidak ingin menemuinya yang terbaring sakit disini.

   Donghae benar-benar marah dan membencinya, membencinya karena sesuatu yang bukan kesalahannya. Tidak mau mendengarkan penjelasannya, dan kini tidak mempedulikannya.

   Haejin melepaskan Galaxy Tab-nya dan memutuskan untuk mencari kontak Seulong di Galaxy Tab-nya dan menghubunginya.

   ”Yeoboseyo.”

   ”Ongie-ya…” tangis Haejin langsung pecah.

   ”Jin-ah, waeyo?!” suara Seulong langsung berubah panik. ”Ada yang terjadi?”

   ”Kau masih di Jepang?” tanya Haejin serak.

   ”Ani, kami baru saja tiba di Incheon, sekarang kami dalam perjalanan menuju kantor JYP, kemarin kami ke Jepang hanya untuk peluncuran mini album. Kau kenapa?! Ada sesuatu yang terjadi?” tanyanya cemas.

   ”Aku di rumah sakit Seoul, kau bisa kesini?!”

   ”Kau sedang apa disana?

   ”Tipus.”

   ”Ya Tuhan! Kau masuk rumah sakit lagi? Anak ini! Ya ya ya tunggu kami disana, aku dan yang lain akan kesana!”

   ”Tapi… tapi…”

   Sambungan telepon sudah diputus, Haejin menghela napasnya dalam-dalam, dia butuh Seulong saja, dia perlu bertukar pikiran dengan Seulong. Mengenai hubungannya dan Donghae yang tengah berada di ujung tanduk ini.

   Tapi yang terjadi kemudian justru Seulong membawa sepuluh orang, dua belas ditambah Kyorin dan Chihoon, karena 2AM dan 2PM beramai-ramai menginvasi kamar rawat Haejin.

   ”Kau tidak mau makan?!”

   ”Kenapa tidak mau makan?!”

   ”Malhaebwa, beritahu Oppa mau makan apa?!”

   ”Nanti kau tidak seksi lagi, Jinnie…”

   ”Ayo makan yang banyak!”

   ”Kasihan Kyorin dan Chihoon cemas padamu!”

   ”Tidak diurus pacar, kau kembali pada Taecyeon Hyung saja lah!”

   Semua itu membuat kepala Haejin kembali pusing karena laki-laki disini berisik semua. Hanya Khun Oppa nampak pengertian, tapi kemudian dia harus pamit karena akan syuting film di Thailand, dan begitu dia pergi, sisanya kembali berkicau, dan yang kutahu kemudian aku tidak sadarkan diri.

*Dorm Super Junior Lantai 12*

Donghae berdiri di balik kompor dan menunggu Ryeowook menuangi mangkuknya dengan sup, lalu barulah kemudian dia duduk di meja makan ketika Kyuhyun dan Sungmin muncul ke dapur.

   ”Hai, makan,” Donghae mengangkat mangkuknya.

   ”Oh,” Kyuhyun dan Sungmin mengangguk singkat.

   Ryeowook menoleh dan kaget mendapati Kyuhyun dan Sungmin. ”Bukankah belum waktunya ke KBS, Hyung?” tanyanya pada Sungmin.

   ”Oh,” Sungmin mengangguk. ”Kami hanya mau bertanya pada Donghae.”

   ”Ada apa?” Donghae mendongak.

   ”Kalian tidak ada yang tahu Felidis kemana?” tanya Kyuhyun tiba-tiba.

   Donghae meletakkan sendoknya, nampak bingung harus menjawab apa, karena memang dia tidak ada kontak lagi dengan Haejin atau pun Felidis. ”Memang kenapa?” dia memutuskan bertanya.

   ”Eomma mencari Chihoonie, dia tidak menghubungi Eomma sama sekali,” Kyuhyun nampak cemas. ”Sejak pulang dari Hongkong kata Eomma, dia bahkan tidak ke KonaBeans menjadi kasir menggatikan Noona. Dan dia bahkan tidak menghubungi Sungmin Hyung.”

   Sungmin mengangguk.

   ”Tak bisakah kita bertanya pada Ryeowook?” bisik Sungmin.

   Kyuhyun mengangkat bahu. ”Kurasa dia juga tidak tahu.” Sahutnya pelan, sementara Ryeowook mendadak berisik sekali membereskan piring-piring dan sumpit. ”Jadi bagaimana denganmu, Hyung?”

   ”Aku juga tidak dihubungi sama sekali oleh mereka…” Donghae mengangkat bahu.

   ”Aneh, sesuatu pasti terjadi.” Sungmin bergumam.

   ”Jangan berlebihan, Hyung,” keluh Donghae.

   Leeteuk kemudian muncul ke dapur membawakan ponsel Donghae dengan wajah serius. ”Kalian benar.” Katanya tiba-tiba menatap gerombolan member yang berkumpul di ruang tengah.

   ”Apanya yang benar?” tanya Kyuhyun.

   ”Memang sesuatu terjadi,” Leeteuk menyerahkan ponsel Donghae pada pemiliknya. ”Itu barusan ada telepon terus dari Kyorin, dia mengira kau masih di Taiwan dan kau masih di Hongkong.” Sekarang Leeteuk menunjuk Kyuhyun.

   ”Apa yang terjadi?!” tanya Sungmin.

   ”Haejin masuk rumah sakit sejak dua hari lalu, tipus dan pembuluh darah pecah di wajah, tadi dia lagi-lagi tidak sadarkan diri di rumah sakit.” Kata Leeteuk pelan-pelan tanpa menatap wajah Donghae.

-Keutt-

126 thoughts on “{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 2~

  1. ahhhhhhh abang ikaaaaaannn!!! Ih gemesin banget sih ya ampun!!! Anda dan kim ryewook ssi bener2 berkomplot bkin readers blog ni nge-bakar kalian *eaaa balik dibakar sama elfishy n ryeosomnia* xD

    Kasian atuh haejinnya… Pembuluh darah pecah, tipus, ditambah tekanan batin gara2 ikan mokpo satu itu ckckckckck jadi pengen bakar2 ikan nih *senyum evil* xD

  2. ahh eonniiiii~
    Galau aku galau. Sumpah aku ga sabar bgt bacanya.
    Penasaran setengah mati nih..ditunggu kelanjutannya aja deh. Masih bingung mau comment apa. Speechless -___-

  3. sediiihh..
    gmana tu reaksi hae bgtu tau haejin sakit..
    jgn2 uda gak peduli jg hae? nganggap klo haejin pura2 lemah gt??
    ff ini keq na ff jinhaexy yg plg galau deh.. biz hae biasanya gak prnh gt…
    lanjut.. lanjut…

  4. tuh kan sakit ny haejin makin paraahh gtuuuu…
    sampe mimisan banyak gtuuu waktu tiduurrr..
    ga mau makan sampe dokter sendiri bingung..
    hae nihh jahat ama haejin jadi aja haejin makin sakit..
    udahhh sakit trus d sakitin ama hae jadi makin sakit dehh…
    haejiinnn-ahhh cpt sembuhh dongg…
    biar bisa jitakin donghaee yg asyik2an double date ama eunsoo..
    ckckkckckkcckkkck..>////<

  5. onnieee ff galau bikin galau juga😦
    itu kenapa di keuuuut oaa bagian itu huhu
    ya ampun #prayforHaejin T.T sampai parah mimisan ngga sadar?? *shock*
    Haejin jaga kesehatan >.<
    onnie ff nya bagus,alur ngena banget. di tunggu lanjutannya🙂

  6. TRAGIS!!
    Hohohoho. . ,feelnya dpet*emang stiap ff oeni slalu dpet feelnya kok😀
    tpi ada typonya oen, slah huruf dan kurang huruf, buru-buru ya oen buatnya?*soktempe xp
    buat oeni dan haejin mga cepat sembuh ya,hwaiting \^o^/

  7. Donghae nappeun!!!!
    Haejin lg sakit, eh dia malah ngbanding2in eunso-haejin.. *takol ikan*
    Tuh rasakan skrg akibatnya, haejin sakitnya tambah parah dan itu semua karna lu!!! *esmosi
    uhh jincha><!! Ada apa dg blog ini??! Knapa smua main cast nya pd nggalau ㅠ..ㅠ
    Lanjut k part slanjutnya ajh dahh~~
    아유 (っ˘з♥~

  8. omoo….omooo…haepppaaa keterlaluan !!
    kenapa banding-bandingin haejiiin eonni sma eun soo??
    ckckck….
    ada apa ini ??
    haejin sakit bukannya jenguk malah ckckck
    galauuuu semuaa

  9. Woahhh ini rumit juga #plaak
    Salah paham salah paham \(!!˚☐˚)/ \(˚☐˚!!)/ hae salah paham (ˇ_ˇ’!l)
    Kasian haejin huaaaa😥

    Disangkanya haejin slingkuh itu omona hae –” banding2 pula? Ya beda dong u,u

    Ayolah baikan huaaa T_T
    Haejin sabar ya u,u ktauan kan untungnya, untung teuk bilang tuh (✖╭╮✖)

  10. GWS haejin onnie!!
    Semoga donghae oppa sadar trus gak marah lagi sama haejin onnie amin
    Aku tunggu kelanjutannya ya eon ^^

  11. Poppa setan!! Dan dengan enaknya yah kencan sama eunsoo padahal momma lagi di rumah sakit dirawat garagara tipus.. yaolooo sadarkan ikan tidak tau diri ya tuhaan.. dimana hatinya? Itu kilas balik yg haejin membelalak.. aku nangis.. huwaaa T_T
    Haejin tuh udah percaya penuh dan cinta banget sama donghae.. tapi donghae? Dengan enaknya bilang lelah tanpa mau tau apa yg sebenernya.. yaolooo momma .. poppa nakal.. momma jangan sama poppa.. nanti poppa jahat lagi *tarik tarik*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s