{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 1~

Title : The Day The Heart Stood Still

Author : Nisya aka @ccl_haejin

Length : Chaptered

Genre : JinHaeXy Universe, Romance, Family, Friendship

Rate : PG-13

Poster Credit : It’s Mine

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin
  • Choi Minho

Disclaimer :

Galau Allert! Ide cerita ini muncul semalem, karena dari hari Minggu kemaren aku panas tinggi, pas kemaren cek darah ternyata tipes, dan malemnya… karena galau gak bisa nyari berita, jadi gak tau si Hae udah pulang apa belum dari Taiwan, muncullah ide cerita ini. Eeeh, pas mau publish, nongol itu foto si Hae gandengan sama Eunseo *tepuk tangan* -____-V gak maksud lho Hae, suer deh! Ini idenya muncul malem dan dikerjain dari tadi pagi. Selamat bergalau ria, nggak tau sampai kapan pasangan ini mau dibuat galau.

{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still

15 Februari 2012, 07.00 AM KST

 

”HUACHIM! Uhuk…” Haejin menarik keluar facial tissue dengan icon kartun kesayangnnya, Tweety, lalu menarik tiga lembar tisu dari sana dan menekankan tisu tersebut di hidungnya. ”Aigooo…” desahnya berat. ”Sudah berapa kali aku bersin hari ini?”

   Hyorin, coordie Felidis yang kini telah merangkap sebagai Manajer kedua setelah Junjin Oppa mendatangi Haejin di lokasi rekaman CF perdananya sendirian, setelah sebelumnya, hanya Kyorin yang berhasil mendapatkan kontrak CF eksklusif atas namanya sendiri, tanpa dua member lainnya, dalam sebuah produk minuman kesehatan.

   Kini, Haejin mendapatkan kontrak eksklusif sendirian, setelah protes Chihoon yang ingin juga memiliki kontrak CF eksklusif, dalam produk body lotion yang mengusung tema kesehatan dan kecerahan kulit, tanpa mercury, dan mengedepankan betapa eksotisnya memiliki kulit kecokelatan.

   Haejin duduk di pinggir sebuah kolam renang indoor yang settingnya dibuat seolah-olah menampakkan kesegaran musim semi, karena direncanakan CF ini akan diluncurkan tepat setelah musim dingin berakhir.

   ”Kau sakit?” tanya Hyorin.

   Haejin menggeleng-geleng tapi setengah mengangkat bahunya sendiri. ”Tenggorokanku sedikit gatal.”

   ”Minum soju terus!” Hyorin menjitak kepala Haejin.

   ”Aku hanya minum dua botol, Eonnie,” kilah Haejin.

   ”Dua botol itu bagi orang normal sudah berat!”

   ”Kadar alkohol di soju sudah diturunkan, jadi dua botol rasanya biasa saja,”

   ”Susah berdebat denganmu,” Hyorin geleng-geleng. ”Hidungmu mulai merah tuh.” Tunjuknya sambil mengeluarkan peralatan make up dan menyamarkan warna hidung Haejin yang benar-benar merah seperti rusa Bambi di musim dingin.

   Haejin mulai menarik napasnya yang terasa berat, dia mulai pilek.

   ”Aigo, kau flu sepertinya,” gumam Hyorin.

   Haejin mengangguk.

   ”Ya sudah, setelah recording ini tidak ada jadwal apa-apa lagi, kau bisa langsung istirahat.”

   Haejin mengangguk, dan bersin kembali.

   ”Haejin-ssi, ada yang Anda butuhkan?” tanya seorang staff dengan ramah, mungkin mengira Haejin bosan menunggu siapnya set pengambilan gambar tersebut.

   Haejin tersenyum ramah. ”Boleh aku minta susu putih hangat?”

   ”Vanilla?” tawarnya.

   Haejin menggeleng. ”Tawar.”

   ”Baik, ditunggu sebentar ya, Haejin-ssi, maaf membuatmu menunggu lama.”

   ”Aniyo, gwenchana, kamsahamnida.” Haejin membungkuk.

   Hyorin mengeluarkan termometer ruangan dan melihat temperatur ruangan ini, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. ”Temperatur udara meski di dalam ruangan masih dibawah nol derajat, Jin-ah. Apa pemanasnya tidak berfungsi ya?”

   ”Udara diluar dibawah nol derajat juga, kan?”

   ”Iya.”

   ”Yah, nanti kalau kena lampu sorot agak hangat lah,” Haejin menyemangati dirinya sendiri.

   ”Haejin-ssi, silakan, kita bisa mulai sekarang!” panggil PD-nim.

   ”Ah, ye…” Haejin berdiri, dan Hyorin melepaskan mantel yang dikenakan oleh Haejin, menyisakan baju super pendek berwarna putih, agar kulit cokelatnya lebih terekspos meski nanti pun akan masuk tahap editing, namun semakin banyak unsur alami, justru terlihat semakin natural dan semakin indah, sehingga produk pun mendapat kepercayaan konsumen.

   Pengambilan gambar dilakukan sekitar empat jam, dengan tiga kali pergantian outfit, juga sesekali break dan merapikan riasan serta tatanan rambut. Barulah sekitar pukul lima sore, recording selesai.

   Haejin membungkuk mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan staff L’oreal, dan barulah bersama Hyorin, dia pulang menaiki van Felidis yang dikendarai oleh supir dari JYP Entertainment.

   ”Kepalaku pusing, Eonnie.”

   ”Sebaiknya kau langsung istirahat, ya?”

   ”Oh.”

   Sekitar satu jam, Haejin akhirnya tiba di apartemen Felidis, staminanya menurun drastis. Dia memutuskan mandi, dan barulah menyantap makan malam. Tapi ketika makan malam wajahnya sudah semakin pucat.

   ”Eonnie sakit?” tanya Kyorin khawatir.

   Chihoon mendongak dari pai daging cincangnya dan menatap Haejin lekat-lekat, ”Ya ampun, kukira itu masih efek make up!”

   Kyorin meraba kening Haejin. ”Omona! Panas!”

   ”Jinjja?!” Haejin meraba keningnya sendiri dan menarik napasnya, berat. ”Oh, napasku mulai panas, mungkin radang.”

   ”Tadi recording-nya outdoor atau indoor?” tanya Chihoon.

   ”Indoor.”

   ”Ya sudah, Eonnie istirahat habis makan,” Kyorin berdiri dan melangkah ke dapur mencari obat flu.

   Haejin mengangguk, tidak memiliki tenaga untuk menolak. Setelah makan, yang tidak dihabiskan, Haejin menelan obat flu dan batuknya tersebut, lalu mengucapkan selamat tidur kepada kedua adiknya, dan beranjak ke dalam kamar, berbaring setelah menyalakan pemanas. Dia menggigil kedinginan dari dalam selimut, sambil mencari-cari ponselnya yang diletakkannya di bawah bantal.

   Tak ada satu pun pesan masuk, tak ada satu pun Messenger Chat yang masuk, dan tak ada satu pun Direct Messege atau pesan tersirat dari Twitter kekasihnya, Donghae. Mendesah kecewa, Haejin mematikan ponselnya demi menghemat batrai, dan memejamkan matanya berusaha mengerti.

   Sejak tanggal 12 Januari kemarin memang Donghae harus menghadiri fansigning dramanya, Skip Beat di Taiwan, mungkin dia sibuk, atau mungkin belum pulang, dan tidak memiliki waktu untuk menghubunginya sekarang. Dengan mata tertutup dia meraba-raba meja di samping tempat tidurnya lagi dan menemukan remote CD Playernya dan menekan tombol play-nya, dan mengalunlah suara lembut duo As One featuring kekasihnya, Donghae. Only U.

   Tak butuh waktu lama, Haejin terlelap.

*Gym*

Donghae melangkahkan kakinya menuju salah satu treadmill, mengatur kecepatan dan mengumpulkan mood, kemudian menarik napas dalam-dalam sambil menyumpalkan earphone yang melantunkan lagu Only U milik As One dengan dirinya sebagai rapper, dan mulai berjalan mengikuti kecepatan treadmill.

   Dipandanginya ponselnya yang ia letakkan di salah satu pegangan ponsel treadmill. Tak ada pesan masuk, atau apa pun. Menekan getir kekecewaan yang telah menggumpal semenjak pemberitaan 91Liners muncul, Donghae mendengus kecil dan terus berlari-lari ringan di atas treadmill tersebut.

   Terakhir dia mengecek akun Twitter Haejin, gadisnya itu hanya menulis. ’Teenage Running Man ’91Liners” jjang! Berikan banyak cinta untuk kami!” dan dia berfoto bersama Mir, Dongwoon, Eli, dan Minho, di kedai samgyeopsal langganan 91Line.

   ”Keurae! Lakukan semaumu…” desis Donghae menambah kecepatannya.

   Sepulang dari gym bersama Siwon dengan mobil Siwon, mereka berdua mendengarkan radio sambil berbincang-bincang mengenai kegiatan mereka ke depannya, sampai Siwon pun akhirnya menyinggung soal Haejin.

   ”Tidak ke tempat Haejin?” tanyanya sambil menoleh sebentar pada Donghae.

   Donghae justru mengalihkan pandangannya ke arah jendela, menatap pertokoan yang terhampar di sepanjang jalan Seoul ini. ”Untuk apa?” tanyanya antara niat dan tidak.

   ”Hmm?” Siwon mengerutkan keningnya dan kembali menoleh untuk memastikan.

   Donghae tetap menatap keluar.

   ”Dia sibuk, ya?”

   ”Mungkin.” Sahut Donghae sekenanya.

   Siwon menatap lurus ke depan dan menghela napas dalam-dalam. ”Kurasa kalian sedang bertengkar, tsk.”

   ”Aniyo.” Jawab Donghae sama datarnya.

   ”Lalu?” Siwon masih merasa heran dengan sikap sahabatnya yang mendadak acuh tak acuh seperti ini pada kekasihnya. Ini bukan kejadian langka lagi namanya, tapi memang baru pertama kalinya terjadi dalam nyaris dua tahun hubungannya dengan gadis bernama Lee Haejin itu.

   Donghae mendesah berat. ”Memang kenapa sih? Kau mau bertemu dengannya? Ya sudah kesana saja, turunkan aku di depan!” jawabnya ketus.

   ”Yo yo yo, calm down, Man!” Siwon terkejut mendengar reaksi dari Donghae. ”Sudahlah, sudahlah, kurasa kau sangat kelelahan saat ini. Lebih baik kita kembali ke dorm, dan kau bisa beristirahat.”

   Donghae hanya diam saja memandang lurus ke depan dengan wajah dingin. Begitu tiba di dorm pun, tanpa banyak basa-basi pada Ryeowook yang tengah berada di ruang tengah, atau bahkan Leeteuk yang menyambut mereka, ia langsung masuk saja ke dalam kamarnya.

   ”Ada apa?” tanya Leeteuk heran pada Siwon.

   ”Entahlah, sepertinya suasana hatinya sedang tidak baik.” Gumam Siwon sambil mengangkat bahunya.

*16 Januari 2012*

08.00 AM, KST

Haejin terbangun dengan kepala yang terasa berat, seolah-olah tengah menyangga ratusan buah topi. Matanya terasa pedas padahal ia baru saja bangun tidur, napasnya pun masih panas. Hanya tangan dan kakinya yang dirasanya dingin, tapi tatkala ia menekan wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia bisa tahu, kalau kini dia tengah panas tinggi.

   Haejin menarik terbuka selimutnya dan menurunkan kakinya dan memasukkannya ke dalam sandal kamarnya, ketika dia mencoba berdiri, ruangan yang ia jejaki terasa berputar, dan untunglah ia masih berada di dekat kasur. Haejin meraih tepi tempat tidurnya dan meringis.

   ”Ahhh!” dia memegangi kepalanya. ”Kyorin-ah! Chihoon-ah!” teriaknya sambil terus mencengkram kepalanya.

   Tak lama kemudian pintu kamarnya menjeblak terbuka.

   ”Eonnie!” teriak Kyorin panik dan langsung menghampirinya, tak lama kemudian Chihoon menyusul dan ikut memekik.

   ”Eonnie? Waeyo?!”

   Mereka berdua memapah Haejin ke atas tempat tidurnya kembali, lalu Kyorin berlari keluar mengambilkan termometer beserta obat demam lagi, sementara Chihoon menyelimuti kakaknya itu.

   ”Eonnie, ya ampun…”

   ”Kepalaku sakit sekali, badanku lemas sekali…” lirih Haejin.

   Kyorin kembali dan buru-buru menyuapkan obat ke dalam mulut Haejin, sambil meletakkan termometer di bawah ketiaknya. Tak lama termometer itu berbunyi dan Kyorin memeriksanya.

   ”Tiga puluh sembilan derajat,” kata Kyorin dengan suara gemetaran menoleh pada Chihoon.

   ”Omo! Eonnie, panasmu tinggi sekali, kita harus ke rumah sakit,”

   Haejin menggeleng. ”Tidak usah, aku minum obat demam ini saja dulu, nanti kalau masih belum turun baru kita ke rumah sakit.”

   ”Eonnie, panas Eonnie sudah setinggi ini!” Kyorin mengibaskan termometer.

   ”Ne!” Chihoon juga berseru.

   ”Sudahlah, barangkali bisa sembuh,” Haejin memejamkan matanya dan merapatkan selimutnya. ”Kalian sekolah saja dulu.”

   Kyorin dan Chihoon saling pandang khawatir.

   ”Tapi kalau Eonnie merasa tidak enak, Eonnie harus langsung menghubungi kami, atau Junjin Oppa dan Hyorin Eonnie, oke? Atau mungkin Donghae Oppa, atau Seulong Oppa, Khun Oppa, Junsu Oppa…” Kyorin dengan panik mulai menyebutkan satu persatu nama.

   Chihoon mengangguk. ”Iya, Eonnie.”

   ”Ne.” Haejin berusaha tersenyum.

   ”Setidaknya Eonnie makan dulu,” Kyorin keluar lagi dan mengambilkan roti panggang.

   Chihoon membantu Haejin duduk. ”Jika sedang sakit mulut rasanya memang pahit, Eonnie, tapi apa boleh buat, agar cepat sembuh Eonnie juga tetap harus makan.” Paksanya.

   ”Ne.” Haejin mengangguk menurut dengan lemas. ”Keundae…” dia menatap Chihoon. ”Donghae dimana ya?”

   Chihoon mengangkat bahu. ”Taiwan, kan?”

   ”Belum pulang, kah?”

   Chihoon berpikir. ”Entahlah, aku belum lihat berita lagi sama sekali, tapi kurasa dia belum pulang. Bukankah kalau dia dari luar negeri, sepulangnya dia akan langsung kesini menemui Eonnie?”

   ”Oh,” Haejin mengangguk mengiyakan.

   Kyorin kemudian masuk membawakan sepiring roti, ”Ini, Eonnie. Aku tidak membawakan susu karena Eonnie habis minum obat, ayo Eonnie habiskan.”

   Chihoon membantu Haejin menelan rotinya.

   ”Kyorinnie,”

   ”Hmm?”

   ”Donghae belum pulang ya?”

   Kyorin mengernyit. ”Dari Taiwan? Aku tidak tahu, Eonnie, aku tidak sempat melihat komputer, tugas sekolahku banyak.”

   ”Ah,” Haejin mengangguk menelan kekecewaannya.

   ”Baiklah, ayo Eonnie, istirahat kembali, kalau tidak kuat Eonnie harus langsung menghubungi Junjin Oppa, Hyorin Eonnie, Seulong Oppa, atau Khun Oppa.”

*Dorm Super Junior, Lantai 12*

Donghae perlahan membuka kain penutup keyboard-nya, setelah dinyalakan, perlahan ia sentuh satu persatu tuts keyboard tersebut. Setelah itu ia duduk dan meletakkan kedua tangannya di atas benda tersebut, dan mulai memainkan nada-nada indah yang susah payah ia buat dan ia ungkapkan, diingatnya wajah sang gadis yang selalu melekat dalam pikirannya.

   Yang membuatnya resah, yang membuatnya rindu, dan yang membuatnya marah hingga menjadi titik lelah.

   Masih adakah cinta itu jika Haejin selalu begini? Pikirnya lirih. Apakah selalu yang ia kerjakan dibalas oleh Haejin? Tidak bisakah Haejin menerima dirinya apa adanya dengan segala pekerjaannya? Haruskah Haejin selalu membalaskan dendamnya dan bertingkah seolah dia hanya seorang gadis polos yang selalu disakiti oleh dirinya? Inikah yang namanya cinta? Inikah bentuk cinta Haejin kepadanya?

   Jika iya? Dia menyerah, dan dia lelah, dia mengaku kalah.

nan geudemane oppa geuden namane yeoja

(I’m your only Oppa, you’re my only girl)
hangsang ne gyote isso julge

(I will be by your side forever)
nan geudemane oppa dalkomhan uri sarang

(I’m only your Oppa, the sweet love between us)
oppan noman saranghalle

(Oppa only loves you)

 

ichon yung-nyon iwori-il nege on geu nal hayan nunchorom

(February 2nd 2006, the day you walk towards me)
geu moseup giokheyo nan jageun geu ttollimmajodo

(I still remember your face as white as snow)
nege gideoso jamdeun geude dalkomhan immatchumeul

(You, who leaned againts me, sleeping… the sweet kiss)

 

u~~~u~~~ nol saranghe

(U…u… I love you)

 

saranghe i mal bakken saranghe i mal bakken

(Apart from the words ’I love you’ apart from the words ’I love you’)
jul ge igotppuninde

(I can only give you this)
chang bakke nuni neryo garodeung bulbit are

(There’s snow outside the window under the streetlights)
geu ane nowa nega isso

(There’s you and me)

 

nan geude mane oppa

(I’m only your Oppa)
geuden namane yeoja

(You’re my only girl)
oppan noman saranghalle

(Oppa really love you)

Super Junior Donghae – Cheot Sarang (First Love)

Donghae selesai memainkan lagu tersebut dan selesai menyanyikannya. Tak lama kemudian ponselnya berdering, diliriknya ponsel tersebut, dan matanya tidak heran melihat nama penelepon.

            _Momma_

   Ia meraih ponselnya dan menelungkupkannya, lalu membuka casing ponsel tersebut dan mencabut batreinya. Dilemparnya ponsel tersebut kemudian ke lantai.

   ”Lelah.” Lirihnya. ”Aku lelah mengemis cinta padamu, Lee Haejin.” Bisiknya.

*Dorm Felidis*

Haejin terbatuk-batuk sambil memegang keningnya yang semakin sakit. ”Otokhe? Sepertinya dia memang masih di Taiwan. Ririn Eonnie di Belanda, Nara di Jepang, Kyorin dan Chihoon tidak mungkin kuhubungi, mereka sedang sekolah, dan di JYP Entertainment sedang ada rapat pengurus.” Haejin kembali terbatuk dengan berat hingga napasnya sesak.

   ”2AM di Jepang, dan Khun Oppa di Thailand… otokhe?” isaknya. Tiba-tiba sebuah nama terlintas di benaknya. ”Ah bahta!” dicarinya nama tersebut di ponselnya, dan dihubunginya nama itu.

   Nada sambung terdengar.

   ”Yeoboseyo.”

   ”Minho-ya?” tapi kemudian Haejin menjauhkan ponselnya untuk batuk dan bersin terlebih dahulu. ”Aigo, mianhae, Minho-ya…”

   ”Kau kenapa?” tanya Minho khawatir.

   ”Kau sibuk?” Haejin mengusap hidungnya.

   ”Aniyo, aniyo, aku baru selesai fitting untuk pakaian konferensi pers Salamander Guru besok. Ada apa?! Kau kenapa?!”

   ”Bisakah kau mengantarkanku ke dokter?” pinta Haejin cemas. ”Kyorin dan Chihoon sedang sekolah, Manajer-manajerku sedang ada rapat penting… lalu…”

   ”Tunggu aku di apartemenmu!” sambungan telepon putus.

   Haejin meletakkan kembali ponselnya dan mengganti pakaiannya dengan baju super tebal, karena kini tubuhnya menggigil kedinginan lagi. Ia juga memakai flat boot, karena tak ada gunanya juga ia memakai sepatu tinggi agar terlihat manusiawi di samping Minho.

   Dua puluh menit kemudian pintu apartemennya berbunyi, dengan tertatih Haejin berjalan dan membukanya. Minho muncul, nampak tersengal, seolah-olah berlari. ”Gwenchana?!” tanyanya.

   ”Oh,” Haejin terkekeh pelan dengan suara serak.

   ”Astaga kau pucat sekali,” Minho mengulurkan tangannya pada kening Haejin. ”Badanmu panas sekali.” Lirihnya.

   ”Oh,” Haejin mengangguk. ”Maaf merepotkanmu.”

   ”Aniyo, aniyo… hari ini aku meminjam Land Rover milik salah seorang Hyung, kau tak perlu mual,” ujar Minho sambil mengulurkan tangannya. ”Sini, mari kupapah…”

   ”Aku belum mengambil tasku.”

   ”Biar aku yang ambil, kau pegangan disini dulu, kau taruh dimana tasnya?” tanya Minho.

   ”Sudah kusiapkan di atas tempat tidurku, pintu kamarku terbuka kok.”

   ”Oke!” Minho melesat ke dalam dan benar-benar dalam waktu singkat ia kembali keluar membawakan tas Haejin. ”Perlu kugendong?”

   ”Aniyo, aniyo, gwenchana…”

   ”Ya sudah kau gandeng saja tanganku,”

   Minho menutup kembali pintu apartemen dan perlahan-lahan memapah Haejin menuju lift, di dalam lift, dia tetap tidak melepaskan tangannya dari Haejin dan menekan tombol satu. Setibanya di bawah dia melepaskan mantelnya dan mengerudungi kepala Haejin, agar tidak ada yang mencurigai mereka, atau nanti akan muncul pemberitaan miring.

   Setibanya di rumah sakit, Minho masih terus menyembunyikan Haejin dan menariknya dalam dekapannya sambil mendaftarkan nama Haejin pada dokter langganan para artis tersebut di rumah sakit internasional Seoul.

   Satu jam kemudian, setelah hasil tes darah Haejin keluar, Dr Shin membacakan hasilnya pada keduanya.

   ”Nona Lee, Anda positif tifus…”

   ”Tifus?!” Haejin membelalak.

   Minho geleng-geleng kepala.

   ”Yap, livernya normal, HB-nya juga diatas batas normal, yang berarti tidak ada kemungkinan untuk demam berdarah, tapi tifusnya yang positif… sudah bukan gejala tifus lagi. Dalam kurun waktu enam bulan ini, Anda sudah dua kali terkena tifus, dan ini harus rawat inap, Nona Lee.”

   Haejin mendesah berat.

   ”Sudahlah, jangan dipaksakan,” bujuk Minho.

   ”Benar kata Minho-ssi.” Dr Shin mengangguk.

   ”Tidak bisakah aku hanya minum obat dan beristirahat di rumah saja?” tawar Haejin nampak mual. ”Sudah cukup hingga bulan Oktober kemarin aku bolak-balik masuk rumah sakit, Dokter.” Cicit Haejin. ”Aku janji aku tidak akan melakukan aktivitas apa pun sampai aku benar-benar sehat, tapi izinkan aku untuk beristirahat di rumah.” Mohonnya.

   Minho menggeleng-geleng sambil terkekeh. ”Keras kepala.”

   ”Ya baiklah kalau itu memang kemauanmu, aku akan memberikan resep dan keterangan sakitmu,”

   ”Kamsahamnida, Dokter.”

*Dorm Super Junior, Lantai 12*

Donghae duduk di atas tempat tidurnya, satu kakinya terangkat, sementara satunya rebah, dia bersandar ke kepala tempat tidurnya dan menatap nyalang ke depan, berbagai bayangan muncul dalam kepalanya.

   ”Nah setiap skinship yang Poppa lakukan pada Eunseo Eonnie, harus Poppa lakukan dua kali lipat padaku!”

   Donghae memejamkan matanya erat-erat.

   Wajah Haejin memerah, tapi kemudian dia mengangguk-angguk. ”Pokoknya kalau Poppa peluk Eunseo Eonnie, Poppa harus memelukku dua kali lebih banyak setiap episodenya. Kalau Poppa menggandeng Eunseo Eonnie, Poppa juga harus begitu padaku…”

   Donghae membuka matanya lagi dan mendesah berat, dicengkramnya kedua kepalanya dengan kedua tangannya.

   ”Tapi kalau Poppa cium Eunseo Eonnie, Poppa harus puasa cium satu bulan!”

   ”Dia cemburu…” lirih Donghae bangkit berdiri dan buru-buru memunguti ponselnya kembali dan merakitnya lagi, dan peduli setan akan hidup atau tidak ponsel yang telah di banting itu, Donghae mengambil kunci mobil dan mantelnya lalu berlari keluar dari dalam dorm, menuju parkiran, dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Sky Dining Apartement.

   Dia memarkirkan mobilnya di slot parkir yang berada di seberang slot parkir milik Felidis. Tidak ada satu buah van pun disana, hanya ada New Ford Escape hitam milik Haejin.

   Donghae melepaskan seatbelt-nya sampai ia melihat Land Rover hitam masuk ke dalam slot parkir Felidis, dan menempati posisi di samping mobil Haejin. Donghae tidak jadi membuka pintu mobilnya dan menatap ke depan, kemudian membelalak melihat siapa yang ada dibalik kemudi, dan siapa yang ada di sebelah kemudi tersebut.

   Minho turun dan buru-buru berlari membukakan Haejin pintu, dan mereka bergandengan tangan menuju lift.

   Siang ini, rasanya ada petir yang menyambar-nyambar tepat di atas kepala Donghae. Hatinya bergemuruh hebat. Ini tanpa kamera! Jadi inikah yang Haejin dan Minho lakukan di belakangnya? BERGANDENGAN TANGAN?! Bibir Donghae mulai gemetaran dan tangannya terkepal, dia meninju setirnya dengan marah. Napasnya memburu.

   Lima belas menit kemudian Minho sudah kembali dan pergi dari tempat itu. Setelah memastikan Minho tidak kembali lagi, Donghae keluar dari dalam mobil dan langsung naik ke atas.

   Dia menekan bel berulangkali, dan barulah muncul Haejin membubakan pintunya, awalnya wajahnya sendu, tapi begitu melihatnya, senyum merekah. ”Poppa!” serunya lega. ”Sudah pulang?!”

   Baru Haejin mengulurkan tangan hendak memeluknya, Donghae mendorongnya hingga Haejin tersungkur. Haejin membelalak menatap Donghae kebingungan. ”Hae… ada apa?” tanyanya pelan.

   ”Apa yang kau dan Minho lakukan tadi?!” tanya Donghae tanpa basa-basi, bernada tajam, dan mengintimidasi.

   Haejin mencoba bangkit dengan susah payah, yang dimata Donghae terlihat seperti dibuat-buat! Gadis ini memang sok polos dan pandai berakting. ”Tadi kau melihatnya?” tanyanya lirih. ”Jadi begini…”

   ”Jangan banyak alasan!” teriak Donghae tepat di wajah Haejin yang berubah pucat. ”Kau! Benar-benar gadis tidak tahu diri!” Donghae mendorong dahi Haejin dengan jarinya, hingga Haejin sedikit terhuyung. ”Apakah hanya karena We Got Married bisa menjadikanmu alasan untuk balas dendam bersama Minho padaku?!” Donghae membanting pintu apartemen menutup dan mendekati Haejin dalam langkah pelan mematikan.

   Haejin mundur ke belakang dengan wajah pucat ketakutan, kedua tangannya terangkat. ”Hae… nanti dulu, kau salah paham… aku bisa jelaskan semuanya.” Lirihnya, air matanya menggenang.

   ”Jangan menangis! Aku sudah tidak percaya air matamu! Aku pun lelah menangis untukmu! Kau tahu aku selalu berbicara soal cemburu itu tanda cinta?!”

   Haejin menelan ludahnya ketakutan.

   ”Bagaimana kalau aku mulai lelah cemburu?” tanya Donghae lagi. ”Aku lelah mengemis cintaku padamu, Lee Haejin! Semua yang kulakukan dimatamu salah! Kau tidak pernah mau menerima pekerjaan apa pun yang aku lakukan jika menyangkut wanita lain! Kau akan selalu membalasnya, dan bersama orang yang kubenci! Apa perlu suatu saat nanti aku mengencani Min Sunye agar kau tahu betapa sakitnya hatiku?!”

   Haejin menggeleng-geleng dan menahan tubuh Donghae. ”Tidak begitu! Hae, dengarkan aku! Dengarkan aku! Apa maksudmu?! Aku tidak menyalahkanmu, aku mendukungmu…”

   ”KALAU BEGITU 91LINERS ITU APA?!”

   ”Itu pekerjaanku juga, Hae!”

   ”OMONG KOSONG!” teriak Donghae.

   Haejin jatuh terduduk dan mengisak-isak.

   ”Ingat kata-kataku barusan Lee Haejin!” Donghae menunjuk. ”Aku LELAH untuk cemburu! Aku ingin berhenti mengemis cinta kepadamu! Lakukan sesukamu bersama Choi Minho, dan aku…” Donghae menunjuk dirinya sendiri. ”Tidak akan pernah mau peduli lagi.” Donghae berbalik dan membuka pintu dengan kasar, sementara Haejin berdiri dan mengejarnya tepat ketika pintu tertutup.

   Haejin merosot di pintu dan menangis tersedu-sedu. ”Hae… Hae…” isaknya. ”Ige mwoya?! Donghae…” isaknya mengiba sambil merosot dan memegangi pintu dengan pilu. ”Donghae…”

-To Be Continued-

  • Jangan lupa kalo di Jinhaexy ada lomba Songfic dan Trivia Quiz, jadi pantengin terus blognya, dan baca postingannya yang mau ikutan yah ^^
  • Semua cerita di atas total fiksi, yang aku ketahui cuma segelintir dari kehidupan asli seorang Lee Donghae, yang kemudian aku kemas dengan imajinasiku aja, jadi buat yang bener-bener percaya (soalnya ada yang pernah nanya beneran) aku juga gak tau gimana aslinya cerita cinta mereka wkwkwkwkw…
  • Komen dan Like ditunggu sebagai penyemangat dan penyembuh saya wkwkwkwkwk *ngarep*
  • Thanks semua, saranghae ^^

126 thoughts on “{JinHaeXy} The Day The Heart Stood Still ~Part 1~

  1. donghae ngamuk lagii..
    *gemetar ketakutan (?)*

    seriusan onnie,aku ngikut galau bacanya😦 mana dicut nya disitu pula.. Ya ampuunn.. *gulingguling*

    haaah..yg ini salah pahamnya keterlaluan.. Penyebab salah pahamnya harusnya yg paling harus dihindari didatangkan,tp keadaan memaksa harus mendatangkan (?)..

    sabar yo,😦 *duduk manis nungguin part 2*

  2. “aku sudah lelah untuk cemburu”

    lee donghae minta disayat..

    udah haejin sama minho aja deeeeh atau balikan am taec…

    nisya mah paling jago bikin penggaluan massal

    *buru2 baca part 2

  3. ._. sejujurnya aku ga bisa bayangin hae bisa garang
    Itu bukan hae banget hae kan menye menye #ditabok
    Herrrr pantes pada ngamuk nyebelin gini ceritanya –”
    Aku sebel kalo berantem gini, ini super galau!
    Ahhhhhhh itu bukan salah minho anter haejin. Siapa suruh ditelpon diem aja -_-
    ahhhhhh boleh gigit hae ga nih? Mau saya gigit –” gemes abisnya

  4. Hyaaaaaaaaaa…
    Hae jahat bangeettt siihhh…aiiisshhhh ikan pencemburu dasarrr…
    maen langsung marah2 aja tanpa nanya k haejin..
    ga tau apa haejin udah sakit gtuuu..malah d marah2in..
    di dorong sampe jatoh pulaa haejin nya..
    ckckckckckckk..

  5. hewwww…
    sangtae donghae oppa lgi kambuhhh..buhh
    tp cemburu.ny keterlaluan banget sihh oppa kelebihan itu mah !
    ini main marah-marah tnpa mau dngr pnjelasaan dlu !!
    kekerasaan dlm berpacaran nih !!

  6. Ah salah pahammmmmm!!! (✖╭╮✖)
    Ah hae nih emosian duluan si –” kasian haejin mana lgi sakit di omel2in u,u
    Haduhhh ckckck *geleng2*

    Oh yg ini ya kk galau blg lg tipes? gws ya kk galau #telat

    Aku gabisa ikut kuisnya kk galau huaa T_T gak ada waktu soalnya pasti sibuk banyak ulangan dan TO (-̩̩̩-̩̩_-̩̩-̩̩̩) mian ya gak bisa ikutan u,u

  7. Yah donghae….. kasian haejinnya lagi sakit u,u donghae salah paham -,- ckck aku tunggu kelanjutannya ya eon😀

  8. yahh poppa marah.. *kaki gemeter lutut lemes
    ya ampun hae.. itu momma lg sakit.. ga keliatan apa muka orng sakit..
    klo orang lg cemburu ga bsa ngebedain muka orng sakit ma muka orng ketwan selingkuh yaa??? ckckckckkk
    lagian d telpon mlh d banting hpx.. errrrrrr
    salah sapa??? *getok poppa

  9. Jadi ini nih????
    Ini alasan haejin minta putus??? Donghae, udah gak angkat telpon, main marah2 aja..
    Gak tau apa momma lagi sakit? Tyfus lagi…
    Aciaaann *pukpuk haejin*

  10. aaaaahhhhh kasiaan haejin..
    harusnya donghae dengerin haejin dulu jgn marah2 gitu.
    Nyesek baca ni ff hmpir mewek, ga tega ma haejin. Bagus chingu ffnya🙂
    meluncur baca part selanjutnya :3

  11. Poppa setan banget yah..ihihi mutilasi boleh? *masih cekikikan*
    Aku gasuka minho disini. aku juga gasuka poppa disini. aku sukanya momma aja disni #plakk
    Mau maen lelah2an.. jangan kyak gitu juga dong.. kalo gatau apaapa jangan asal bertindak poppa.. tega yah nyakitin orang yg dicintain pas kondisi dia lg kyak gitu. Ga mikir nih.. kasian haejinnya tau.. gembel poppa nih -_-
    Kalo udah lelah cemburu.. udah lelah cinta sma momma saya.. yaudah sih pegi aja sana gausah dorong2 gtu.. kekerasan itu woii!! Suuzon itu dosa tau poppa *dengan kalem nyiapin samurai*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s