{JinHaeXy} We Got Married? Oh, I Have Conditions…

Title : We Got Married? Oh, I Have Conditions…

Author : Nisya aka @ccl_haejin

Length : Oneshot or Ficlet

Genre : JinHaeXy Universe, Romance, Family, Friendship

Rate : PG15

Poster Credit : Finni @HyuraGoo

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin

Disclaimer :

Dibuat untuk ANTIGALAU diri sendiri, inspirasi dan imajinasi mutlak punya saya #plakk, daripada galau lebih baik menghibur diri sendiri bukan? Jadi ayo digoyang #plakk jangan pada galau oke teman-teman? Semua indah pada waktunya… halah

{JinHaeXy} We Got Married? I Have Conditions…

 

Sender : -momma-

   Jadi tidak kesini??

 

Donghae menggosokkan rambutnya dengan handuk tebalnya dan menggigit bibirnya memandang isi pesannya. Hatinya harap-harap cemas, tapi melihat isi pesan kekasihnya barusan, sepertinya tidak ada tanda-tanda Haejin marah. Donghae kemudian masuk ke dalam kamarnya dan mengenakan kaus putih polosnya setelah mengaplikasikan deodoran dan parfum maskulin kesukaan Haejin, lalu mengenaka celana jins panjangnya.

   Pintu kamarnya terbuka. ”Mau kemana?” tanya Leeteuk curiga.

   ”Ke dorm,” sahut Donghae sambil menarik keluar mantelnya. ”Dan Hyung tidak boleh melarang. Karena ini semua juga karena acara Hyung dan Sora-ssi!” tunjuk Donghae mengerikan. ”Aku dan Haejin cukup lama bertengkar kemarin gara-gara ide gila Eunhyuk meminta blind date, dan ketika produser MBC menyukai ide tersebut, hal ini diperpanjang hingga seperti ini, aku tidak mau hubunganku dan Haejin yang jadi korban. Hyung bilang sendiri, semua harus seimbang, kan?”

   Leeteuk diam saja dan terpaksa mengangguk setuju.

   ”Nah kalau begitu aku pergi dulu, Hyung,” Donghae keluar dari kamar sambil membawa kunci mobilnya beserta syal terburu-buru, seakan tidak mau mendengarkan nasihat lebih lanjut dari Leeteuk lagi.

   Sepuluh menit kemudian Donghae sudah berada di dalam basement, tepatnya di depan mobil Audi A5 putihnya dan menekan kunci otomatis alarm-nya agar membuka. Tak lama, Donghae sudah duduk di balik kemudi dan menyalakan pemanas beserta mesin mobilnya.

   Tak perlu waktu lama untuknya berjalan di lalu lintas kota Seoul. Ini sudah pukul sebelas malam. Dia memang ingin pergi ke dorm Haejin sejak tadi, tapi Haejin toh baru selesai recording Invicible Youth, maka dia baru bisa kesana sekarang.

   Dua puluh lima menit kemudian, mobil Donghae sudah memasuki pelataran parkir apartemen Sky Dining, dan dia memasukkannya di garasi Felidis, karena kebetulan van Felidis tidak ada. Hanya ada New Ford Escape hitam Haejin. Donghae keluar dan mengunci otomatis mobilnya sambil berjalan santai ke arah lift, Donghae menekan salah satu tombol, dan kisi-kisinya terbuka.

   Tepat ketika kisi-kisi lift menutup, dalam sekelebat bayangan Donghae melihat seorang pria lewat di depannya. Itu artinya pria tersebut baru keluar di lift di sebelahnya.

   Masalahnya, Donghae kenal betul siapa pria itu. Dan disini, hanya ada satu kelompok public figure yang tinggal, Felidis. Hampir bisa dipastikan, pria tadi habis berkunjung ke dorm tersebut. Donghae mengepalkan tangannya. Harusnya dia tahu, Haejin tidak akan menerima ini dengan lapang. Gadis itu pasti akan selalu mencari cara agar membalas semua perlakuannya.

   Kisi-kisi lift terbuka di lantai tiga belas, dan Donghae langsung keluar dan mendekati pintu cokelat besar dengan gagang pintu kuningan beserta tombol-tombol password yang tersedia disana. Donghae menekan kombinasi angka yang sudah ia hapal diluar kepala, dan membuka pintunya.

   Ruang tengah masih menyala, tapi tidak ada orang. Televisi layar datar besar yang ditempel di dinding tepat di bawah foto Felidis pun menyala, namun tiga buah sofa yang melingkar menghadapnya juga tidak berpenghuni. Hanya dapur yang gelap, dan juga lampu kamar mandi.

   Donghae mengernyit dan mendekati empat buah pintu yang saling bersisian, kamar Haejin, kamar mandi, kamar Kyorin, dan kamar Chihoon. Hanya kamar Haejin yang menyala temaram, sementara kamar Kyorin dan Chihoon gelap. Donghae bisa mengambil kesimpulan, bahwa kedua anak itu belum pulang, terlebih van Felidis tidak ada. Dan kepalanya kembali memanas, itu berarti tadi mereka hanya berdua di dorm?

   Donghae dengan kasar mendorong pintu kamar Haejin. Pemanasnya tidak menyala, dan lampu yang menyala memang hanya lampu tidurnya saja, itulah mengapa hanya ada cahaya temaram tadi. Donghae masuk dan mencari-cari, tapi kemudian di dengarnya suara guyuran air dari dalam kamar mandi di dalam kamar Haejin, menegaskan bahwa kekasihnya tengah berada disana.

   Donghae duduk di atas tempat tidur kecil Haejin dan meraih boneka Nemo kecil yang menghiasi bantal-bantal tidur Haejin. Apakah dia telah salah dalam mengambil pekerjaan? Apakah seharusnya dia terlebih dahulu memikirkan perasaan Haejin sebelum mengambil pekerjaan? Tapi apakah itu yang disebut dengan profesional?

   Beragam pemikiran muncul dalam kepala Donghae, dia terus bungkam sambil memainkan boneka-boneka tersebut. Dan pintu kamar mandi terbuka, Haejin muncul dengan piyamanya, dan rambut terbungkus handuk. Haejin nampak terkejut mendapati seseorang telah menghuni tempat tidurnya.

   ”Eh, sudah tiba? Kok tidak memanggil?” tanya Haejin sambil melepaskan handuk di kepalanya dan menggosok-gosokkan rambutnya yang sudah mulai panjang sebahu kembali.

   Donghae mengangkat bahu dan bersandar di kepala tempat tidur. ”Baru pulang?” tanyanya basa-basi.

   ”Tidak juga, ketika aku sms tadi aku baru tiba,” sahut Haejin sambil mendekat ke meja riasnya dan duduk, mengambil toner dan kapas, lalu mengaplikasikannya pada wajahnya.

   Donghae mengangguk-angguk sambil memainkan boneka-boneka Haejin, dia melirik lagi dan melihat kini Haejin mengaplikasikan krim malamnya pada setiap sudut wajahnya, lalu memakai night lotion-nya. Wangi berry segar menguar dan Donghae hanya bisa menatap Haejin dari belakang.

   Haejin akhirnya berdiri dan membawa handuknya ke tempat gantungan handuk, dan menggelarnya disana agar cepat kering, barulah dia berbalik. ”Mau menginap disini?” tanyanya.

   ”Aku terlalu mengantuk untuk pulang,” sahut Donghae.

   Haejin mengangguk lagi. ”Mau minum?”

   ”Yang hangat ya,”

   Haejin berjalan melewati Donghae menuju pintu dan keluar dari sana, sekitar lima menit kemudian dia kembali membawa dua buah cangkir dengan gambar ikan nemo sambil tersenyum.

   ”Aku baru menemukan gelas ini, ini untuk Poppa,” dan Haejin menyerahkannya pada Donghae.

   Donghae mengambilnya. ”Gomawo, Momma.” Dan meminum cokelat hangatnya, Haejin meletakkan gelasnya di atas meja setelah meneguk isinya sedikit, lalu naik ke atas tempat tidur.

   ”Ada apa?” tanyanya.

   Donghae mengernyit dan menaruh gelasnya di meja tempat tidur. ”Harusnya kan aku yang bertanya, ada apa?”

   Haejin mengernyit.

   ”Tadi,” Donghae memutuskan bicara, karena kepalanya terus-terus berdesing melontarkan pikiran buruk, maka Donghae memutuskan bersandar di bantal. ”Aku melihat… Minho.”

   ”Dimana?” tanya Haejin polos.

   ”Disini.”

   Haejin mengernyit. ”Kapan?”

   ”Saat aku naik kesini, dia baru keluar dari lift, dia tidak melihatku,” kata Donghae hati-hati sambil menatap Haejin yang tengah menatapnya serius. ”Kukira dia dari sini.” Lanjutnya.

   Haejin mengernyit dan menggeleng. ”Aneh, disini jelas tidak ada idol lain. Aku tidak tahu kalau Minho punya kenalan lain disini selain kami Felidis, tapi dia tidak mampir kesini.”

   ”Jinja?”

   Haejin mengernyit, lalu menatap Donghae serius, tajam. ”Kau mengira dia habis main kesini?”

   ”Iya,” Donghae menatap Haejin tak kalah tajam.

   Haejin menghela napas dalam-dalam dan menyilangkan kakinya. ”Bagaimana kau bisa berpikir begitu?” tanyanya lagi. ”Aku memang suka jalan dengan Minho, dengan anak-anak One Day, tapi toh kau tahu semua itu, aku takkan pernah menutupinya darimu. Tapi aku tidak akan bertemu dengannya diam-diam.”

   ”Tapi dia tadi disini!”

   ”Dan aku tidak tahu apa yang dia lakukan disini, Hae…” ujar Haejin letih. ”Dia bahkan tidak menekan bel apartemen kami.” Haejin mendorong Donghae turun dari tempat tidurnya. ”Sudahlah kalau kau kesini hanya untuk bertengkar aku menyesal sudah menyuruhmu kesini, lebih baik kau pulang!” serunya. ”Besok kau ke Jepang, kan? Pulang dan istirahatlah!”

   Donghae terdiam terpaku berdiri di samping tempat tidur Haejin, sementara Haejin menendang semua boneka Nemonya dan masuk ke bawah selimut lalu berbalik memunggungi Donghae.

   ”Aku…”

   ”Sudah, pulang sana!”

   ”Tapi aku…”

   ”Pulang!” Haejin berbalik dan memunguti boneka-bonekanya lalu melempari Donghae dengan boneka-boneka tersebut. ”Pulang! Pulang! Pulang! Aku sebal padamu! Harusnya aku yang marah-marah! Tapi kutahan karena itu hanya PROFESIONAL! Tapi kau malah marah-marah dan menuduhku yang tidak-tidak! Pulang‼!” Haejin berdiri dan memukuli dada Donghae dengan kedua tangannya dan air matanya tumpah.

   Donghae diam dan berusaha menahan kedua tangan Haejin, tapi seperti biasa, jika sedang emosi, tenaga Haejin pastinya dua kali lipat dibandingkan tenaganya yang biasa. Tapi berapakalipun tenaga Haejin, tetap saja dia wanita, dikuncinya tangan Haejin dan dipeluknya.

    ”Arasseo, arasseo, mianhae…”

   Haejin menangis dalam pelukan Donghae. ”Jangan cuma bisa mianhae saja!” omelnya. ”Kenapa sih kau tidak pernah percaya padaku?! Memangnya aku wanita macam apa berduaan di rumah tanpa adik-adikku dengan laki-laki?”

   ”Tapi sekarang kita hanya berdua?” tanya Donghae polos setelah melepaskan pelukannya.

   Haejin memukul kepala Donghae sebal, dan Donghae terhuyung. ”Momma…” rengeknya. ”Sakit!”

   ”Kalau denganmu lain! Kau kan pacarku!”

   ”Arasseo, aku yang salah karena menuduhmu macam-macam,” keluh Donghae sambil mengerucutkan bibirnya. ”Tapi aku juga sedang dalam keadaan bingung. Kukira kau akan balas dendam…” lirihnya.

   Haejin memutar matanya. ”Memang aku akan balas dendam!”

   ”Momma…” rengek Donghae sambil meraih tangan Haejin memohon.

   Haejin memukuli Donghae lagi dengan kedua tangannya, namun lebih pelan dari yang tadi. ”Puas? Sekarang aku jadi pencemburu lagi? Senang sekarang?!” tanyanya sarkastis.

   ”Hehehe,” Donghae terkekeh polos. ”Kalau itu aku senang.”

   ”Tega sekali sih!”

   ”Cemburu itu tanda cinta, Momma, kau saja senang kalau aku cemburu, kau suka sekali membuatku cemburu!” seru Donghae.

   Haejin memutar matanya, tidak bisa membalas kata-kata Donghae. ”Oke, kali ini kau menang!” Haejin berbalik dan merapikan kembali boneka-bonekanya yang kini berantakan di bawah, lalu naik lagi ke atas tempat tidur, Donghae ikut naik di sebelahnya, sambil membelai rambutnya pelan.

   ”Kita tidak bertanding apa-apa kok,” bisik Donghae sambil menarik Haejin dalam pelukannya, mereka kini berbaring miring. Donghae mendekap Haejin dari belakang, dan Haejin mengeratkan pelukan Donghae pada pinggangnya. ”Toh sekarang fans mulai banyak curiga pada kita, banyak kebersamaan kita yang sudah mulai terekam kamera.”

   Haejin diam dan terus membelai tangan kekar Donghae pada perutnya.

   ”Ketika konsep Fighting Junior yang akan ikut We Got Married dijelaskan kemarin, aku berpikir, ah ya mungkin juga ini baik untuk kita berdua kalau kau masih mau hubungan kita dirahasiakan,” Donghae semakin mengeratkan pelukannya dan meletakkan kepalanya pada bahu Haejin, lalu mengecup bahunya, dan lehernya ringan. ”Kontrakmu yang sepuluh tahun itu…”

   Haejin mengangguk. ”Tidak ada cara lain.”

   ”Bukan tidak ada cara lain, justru aku ingin segera membebaskanmu dari kontrak itu,” lanjut Donghae.

   Haejin berbalik, dan kini dia ikut memeluk pinggang Donghae dengan kedua tangannya, dan Donghae memeluk pinggangnya dengan satu tangan, sementara tangan lainnya terus mengusap-usap pipinya hingga ke dagu.

   ”Maksudnya menghentikan kontrak?”

   ”Aku hanya ambil bagian terburuknya, Sayang,” Donghae menjelaskan. ”Aku juga tidak berharap ini benar-benar terjadi. Andai kau mengajukan gugatan dan kalah, itu semua karenaku, dan aku akan membantumu membayar uang ganti ruginya.”

   Haejin nampak terkejut dan hendak menjawab, tapi Donghae menekan kedua bibir merah Haejin dengan telunjuknya, lalu meneruskan. ”Aku hanya berpikir untuk bagian buruknya dulu, aku juga tidak berharap itu benar-benar terjadi, Sayang. Aku tidak mau hal itu terjadi… tapi aku juga harus mengumpulkan uang untuk membiayai hidupmu sebagai… pasangan hidupku kalau kau tidak menyukai ide suami-istri.” Keluhnya.

   Haejin terkekeh menatap wajah kekasihnya yang begitu dekat dengannya, di atas bantal ini. Haejin mengangguk, dan menghalau air mata harunya dan satu tangannya ikut naik membelai-belai wajah Donghae, menelusuri garis rahang tegas Donghae yang begitu indah.

   ”Terserah kau saja,” Haejin mengangguk. ”Aku kan sudah menyerahkan diriku padamu.” Kedipnya nakal.

   Donghae terkekeh dan mencium bibir Haejin singkat. ”Terima kasih mau percaya padaku.”

   ”Aku tetap tidak bilang aku setuju kau menikah dengan Eunseo Eonnie, ya ampun, Hae… dia kan cocok dengan Minho!” seru Haejin tidak setuju. ”Itu namanya kau mengambil pacarnya!”

   ”Memang mereka pacaran betulan?” tanya Donghae mengangkat alis. ”Minho selalu mengikutimu!” sinis Donghae.

   ”Dia temanku, Poppa~ kami bersahabat,” Haejin mencubit pipi Donghae. ”Tapi aku setuju Minho dan Eunseo Eonnie. Poppa pernah menonton Oh My School? Mereka benar-benar cocok disana, kukira itu benar.” Haejin menggaruk kepalanya.

   ”Ya barangkali saja, aku juga tidak tahu,” Donghae mengangkat bahu.

   Haejin mengangguk-angguk. ”Tapi aku punya syarat!”

   ”Syarat apa?”

   Haejin duduk dan menarik Donghae duduk bersamanya, kini mereka saling berhadapan, dengan kedua tangan saling bergandengan. Haejin menatap kekasihnya dengan serius.

   ”Kalau Poppa yang lolos masuk pasangan We Got Married, Poppa pasti akan melakukan banyak skinship!”

   Donghae meringis.

   ”Nah setiap skinship yang Poppa lakukan pada Eunseo Eonnie, harus Poppa lakukan dua kali lipat padaku!”

   ”Mwo?!” Donghae tiba-tiba tertawa terbahak-bahak.

   Wajah Haejin memerah, tapi kemudian dia mengangguk-angguk. ”Pokoknya kalau Poppa peluk Eunseo Eonnie, Poppa harus memelukku dua kali lebih banyak setiap episodenya. Kalau Poppa menggandeng Eunseo Eonnie, Poppa juga harus begitu padaku…”

   ”Iya, Sayangku,” Donghae mengangguk-angguk patuh. Hukuman ini terlalu menyenangkan, pikirnya.

   ”Tapi kalau Poppa cium Eunseo Eonnie, Poppa harus puasa cium satu bulan!”

   ”MWO?!” sembur Donghae.

   Haejin tersenyum super manis. ”Aku baik, kan?”

   ”Ya aku tidak mungkin mencium Eunseo, lah!”

   ”Apanya yang tidak mungkin, Khun Oppa saja mungkin! Lalu siapa lagi, Eunjung dan Lee JangWoo main Pepero itu kena bibir, kan? Uuuggh, oh iya, itu berlaku untuk semua cium!”

   Donghae menggeleng-gelengkan kepalanya stress. ”Cium tangan, cium pipi…?” tanyanya.

   ”Segala jenis bentuk cium! Apalagi kalau sampai cium bibir, kujamin kau takkan kucium selama setahun!”

   ”Momma!” jerit Donghae merana. ”Kau dan Minho berciuman aku tidak protes!”

   ”Itu jelas-jelas skrip, kalau Poppa nanti? Poppa kan mudah terbawa suasana, mudah bertindak sok romantis! Bisa saja itu ide Poppa sendiri…”

   ”Kumohon jangan sekejam itu padaku!”

   Haejin terkekeh-kekeh geli dan Donghae membungkuk memohon sambil menciumi perut Haejin, ”Momma~” rayunya. ”Jangan begitu dong, aku kan tidak bisa jamin itu semua… lagipula di Skip Beat Momma tidak protes, kenapa di We Got Married aku diperlakukan begini?”

   ”Di Skip Beat itu Bul Pasang bukan Lee Donghae!”

   ”Tapi kan…” Donghae mendorong-dorong bahu Haejin. ”Jangan satu tahun juga, Momma~ ya ampun, mana bisa?!”

   Haejin mengangguk-angguk iya deh. Dia mengecup puncak kepala Donghae yang masih memohon-mohon sambil memeluk pinggangnya dan mengecupi perutnya. ”Hmm… bagaimana kalau…” dia mengerling nakal, dan Donghae langsung duduk menatapnya tajam.

   ”Apa?!” tanya Donghae.

   ”Aniyo, pokoknya aku sudah tahu apa hukumannya, yang jelas Poppa tetap dapat cium,”

   ”Ah, Momma…” Donghae mulai merengek.

   ”Deal?!”

   Donghae menghela napas dalam-dalam dan mengangguk. ”Oke deal! Uuuhh, kenapa tidak hukuman yang biasa saja sih?” gusarnya. ”Aku sudah tahu apa isi otakmu, uuuh… Lee Haejin jinjja! Pacarku mengerikan, malaikat bertanduk iblis!” dia bergidik ngeri.

   ”Poppa tahu apa hukumannya?” tanya Haejin mengedip-ngedipkan matanya nakal.

   ”Tahu!” Donghae bersungut-sungut.

   ”Yeah! Poppa cepat tanggap kalau soal itu, astaga…” Haejin pura-pura shock, lalu menepuk-nepuk bahu Donghae.

   ”Iya iya, sudah ayo tidur!” Donghae mendorong Haejin berbaring dengan sebal, namun tetap menariknya dalam dekapannya. Donghae perlahan mengecup rambut Haejin lalu turun ke cuping telinganya dan menggigitnya kecil sambil mengembuskan napasnya disana, Haejin berbalik menghadapnya dan menarik wajahnya untuk mengecup bibirnya.

   Donghae balas mengecup bibir Haejin. Dia menyesap bibir atasnya, lalu menggoda bibir bawah Haejin hingga Haejin mendesah ringan dan membuka mulutnya, lidah mereka saling mengait sekarang, tangan Haejin mengusap bentuk simetris tulang punggung Donghae.

   ”Momma,” bisik Donghae ketika mereka selesai berciuman, kini mereka berpelukan dengan napas memburu. ”Terima kasih mau mengizinkanku ikut variety show itu,” lanjutnya lagi. ”Maaf juga sudah mengira macam-macam soal Minho tadi.”

   ”Oh.” Haejin mengelus-elus wajah Donghae dan mengecup bibirnya pelan. ”Kau memang pencemburu.”

   ”Cemburu itu tanda cinta, Momma,” Donghae membalas kata-katanya.

   Haejin berdecak. ”Tapi kalau pencemburunya seperti kau itu mengerikan! Aku tidak tahu apakah orang lain akan tahan dengan pria pencemburu sepertimu!”

   ”Ayo tidur! Sudah nyaris pagi sekarang,” ajak Donghae.

   ”Ayo, tapi cokelat-cokelat ini diminum dulu,” tunjuk Haejin sambil bangkit dari tempat tidur. ”Ini gelas baru, kiriman dari fans, mereka tahu aku suka boneka Nemo, dan mereka mengirimkannya.”

   Donghae mengangkat alis sambil ikut meminum dari cangkirnya. ”Jinjja?! Mereka memberikanmu dua?”

   ”Oh, tadi begitu sampai di dorm, sudah ada paketnya di depan pintu…”

   ”Ah,” Donghae mengangguk, sementara Haejin mengambil cangkirnya dan membawanya keluar.

*Flashback 10.00 PM KST*

Seorang pria turun dari mobil sedan hitamnya, dan melirik ke arah kotak kardus kecil yang ia letakkan di jok penumpang sebelahnya. Diraihnya kotak itu, dan dia tersenyum penuh arti memandangnya.

   Pria itu mengulurkan tangannya untuk mengecek arlojinya dan keluar dari dalam mobil, kemudian berjalan lurus ke arah lift. Setelah menunggu beberapa saat, kisi-kisi lift terbuka, dan pria ini menekan angka tiga belas.

   Kurang dari lima menit, pria itu sampai di lantai tiga belas, dan langsung berjalan lurus ke sebuah pintu yang sudah amat ia kenal. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian meletakkan kardus tersebut di depan pintu, kemudian mengeluarkan ponselnya.

   ”Harusnya dia sudah ada di rumah kan ya?”

   Dia nampak berpikir sebentar, sebelum akhirnya memutuskan masuk ke dalam pintu tangga darurat, dan menoleh dari sana. Pria ini terus mengecek ponselnya, tapi sepertinya orang yang ditunggu-tunggu belum juga tiba. Nyaris satu setengah jam ia menunggu, akhirnya dari lift keluarlah seorang gadis bersama coordie-nya yang membawakannya kantung garmen.

   Mereka berbincang-bincang sampai akhirnya tiba di depan pintu apartemen mereka. Gadis itu memekik melihat kardus yang ia letakkan. ”Woah! Eonnie, sejak kapan para penggemar boleh masuk lagi ke dalam apartemen?” dia membungkuk mengambil kardus kecil itu dan membukanya. ”Gya! Eonnie! Ini gelas nemo yang kuidam-idamkan, baiknya mereka…” gadis itu mendesah terharu.

   ”Kau kan bisa memesan gelas itu sendiri secara on line, Haejin-ah,” kata coordie-nya sambil geleng-geleng.

   ”Hehehe, aku mau yang langsung tiba! Belum sempat jalan-jalan ternyata sudah ada yang membelikan, hahaha! Padahal kemarin aku baru bilang pada teman-teman 91 line-ku saat kami makan bersama. Tidak ada yang mau menemaniku jalan sih, eh… tapi ternyata ada yang membelikan!” Haejin membuka pintu apartemennya lalu mengambil kantung-kantung garmen dari coordie-nya. ”Eonnie, Donghae mau kesini malam ini, Eonnie mau menginap?”

   Coordie itu langsung menggeleng. ”Satu atap dengan kalian? Terima kasih banyak!”

   ”Eonnie,” ringisnya malu. ”Kan ada kamar Kyorin, Chihoon… mereka kan masih di rumah orangtua mereka.”

   ”Justru itu! Ada Kyorin dan Chihoon saja kau dan Donghae tidak tahu diri, apalagi kalau hanya ada aku!” coordie itu menjitak kepala Haejin gemas. ”Ya sudah, aku mau kembali, masih ada pekerjaan juga.”

   ”Oke, bye, Eonnie!” Haejin melambai dan menghilang dari balik pintu apartemennya sementara si coordie berlalu.

   Pria ini mendengar jelas bahwa lagi-lagi dengan mata kepala dan dua indera telinganya, bahwa Haejin dan Donghae akan bersama-sama malam ini. Pria yang bersembunyi ini menghela napasnya dan dengan buru-buru dia menuju lift, bisa gawat jika Donghae melihatnya.

   Pria itu turun dan bersyukur di bawah ia tidak bertemu dengan Donghae, sambil berjalan kembali menuju mobilnya, ia bisa melihat mobil putih Donghae sudah terparkir disana.

   Dia menghela napasnya dan masuk ke dalam mobil. Meninggalkan dorm gadis yang dicintainya, beserta pikiran-pikiran buruk yang muncul begitu saja ketika melihat Kakaknya, yang notabene kekasih dari Haejin tersebut tiba. Dia terus membelah lalu lintas Seoul yang mulai lengang ditelan malam.

-Keutt-

  • sebentar lagi blog jinhaexy.wordpress.com akan berulangtahun yang pertama, yang mau ikut partisipasi dalam Songfic Contest juga Trivia Quiz bisa baca persyaratannya mumpung masih banyak waktu, di postingan 1stAnniv ini, dan jangan lupa follow Twitter@jinhaexy yaaaa ^^
  • Pokoknya, ini tahun 2012… Ikhlas? Nggak juga. Rela? Nggak juga. Tapi mau diapain? Aku gak mau karena We Got Married inspirasi terbatas #plakk aku harus tetap menulis menulis dan menulis, jadi anggap aja ini pelampiasannya ya, maaf kalau Gaje hehehe…
  • Jujur saya prefer Eunseo-Minho daripada Eunseo-Donghae, bukan karena cemburu, tapi Eunseo-Minho itu begitu real di acara Oh My School, ada yang suka nonton juga? ^^ Tapi ya sudahlah… rela rela, rela aku rela… *dangdutan*
  • Dan bagian terakhir itu anggap aja bagian dari ff Hangover ya ^^

111 thoughts on “{JinHaeXy} We Got Married? Oh, I Have Conditions…

  1. kangen poppaaa…..
    dah lama ga maen k sini..
    hahahaa ^o^
    poppa kamu msh ngegemesin ajah.. errrrr
    nah loh itu gelas nemo dr minho..
    jiahhh klo poppa tw gmn tuh???
    ahhh pasti manyun… mw liat poppa manyun..
    hahaha

  2. JADI???? MINHO SUKA HAEJIN?????
    *tepok jidat*
    Minho-ya calon kaka ipar jgn diembat yah? Kamu sm nunna aja siniii hahaha
    Aku gak bisa komeeen lagi deh kalo masalah skinship jinhae. Udah paling keren lah pokonya.
    Ada nafsu, ada cinta, ada rindu, ada kasih *lebai* hahahah

  3. Kok? Kok? Kok minho? Minho ngapain deh? Hadeeeehh -_- jangan bilang yah mulai naksir momma saya *siapin kayu bakar*
    Poppa makanya jangan cemburu doang kali isi otaknya.. tapi itu apaan yah hukumannya? Ko aku ga nangkep apaan hukumannya yah *lola kumat*

  4. Inget tuh hae…kalo cium lawan main nya di hukum ga boleh cium haejin 1 bulan…. Wkwkwk apalagi sampai cium bibir… Puasa 1 thn.. Eh … Di ganti yg lebih ” berat ” ya … Wkwkwk …. Ingat tuh hae … Awas jgn melanggar kalo ga mau ” dihukum”
    Tar nangis guling2 loh …. Wkwkwk bagussss hae jin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s