{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan 4/4 ENDING

Title : Honeymoon In Saipan

Author : Nisya aka @ccl_haejin

Length : Chaptered

Genre : JinHaeXy Universe, Romance, Family, Friendship, Adult

Rate : PG17 or NC17 (Adult Scene)

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin

Supporting Cast :

  • Park Jungsoo “Leeteuk”
  • Donghae’s Mom
  • Leeteuk’s Mom

Disclaimer :

  • Cerita ini dibuat karen imajinasi menggila, mix dengan cerita-cerita yang pernah saya dengar dan saya lihat, kemudian saya campur dengan imajinasi saya. Sama sekali tidak bermaksud merendahkan salah satu karakter dalam cerita ini atau apa pun, pure ini fiksi ^^ Part ini juga merupakan part akhir dari series Honeymoon In Saipan. Semoga bisa menjawab semua pertanyaan dari teka-teki yang saya buat. Jika masih ada yang ambigu, harap ditunggu cerita lainnya yang akan berkaitan pula dengan cerita ini. 
  • Oh iya, komen dan like sangat berarti banget untuk saya… sengaja postingan ini tidak saya protect, karena menghargai kalian yang komen di part sebelumnya, dan mohon-mohon supaya nggak di protect, jadi please kasih komentarnya yaaa ^^

~Part 4~

 

Kutarik kaus hitamku melewati kepalaku, dengan tergesa-gesa aku memeriksa bayangan tubuhku sendiri di pantulan cermin, sambil sesekali memeriksa apakah Leeteuk Hyung kembali masuk ke dalam kamar, namun tampaknya tidak. Aku menghela napas berat dan merutuki diriku sendiri.

Kenapa sih pria itu tidak bisa menahan hasratnya jika melihat wanita seksi? Sial!

Aku menatap kemejaku naas. Aku sampai tidak sadar kalau kancingnya sudah terlepas empat karena ulah Haejin tadi. Dan aku lebih tidak sadar saat tadi ada di hadapannya. Dan sekarang setelah aku sendirian disini, kesadaranku terkumpul penuh kembali.

Aku tidak seharusnya terpancing!

Aku mengacak rambutku frustasi. Kepalaku masih pusing, dan tubuhku masih tegang dimana-mana. Aku membanting tubuhku di atas ranjang dan berguling-guling untuk merilekskan seluruh bagian tubuhku dengan frustasi. Ada sebuah perasaan, yang tetap tidak keluar, dan dengan frustasi harus kutahan, atau… kuluapkan sendiri? Aaaarggggghhhh, Haejin, neo jinjja‼!

Aku berbaring miring dan menggigit bibir nyeri. Haruskah aku melakukannya? Haruskah aku melanggar janjiku sendiri? Aniyo, ini bukan masalah sebatas menginginkan status atau apa. Tapi bukankah seks itu perlu pertanggung jawaban? Aaahhh…

Kugaruk kepalaku kesal sambil menedekap guling erat-erat, sakit kepalaku belum turun juga. Haejin‼! Aku frustasi sekali. Siapa yang tidak tergoda melihatnya? Aku pria normal, pria normal yang jatuh cinta padanya, sewaktu gadis itu masih polos. Ugh! Kenapa dia bisa berubah banyak? Dari gadis super polos, hingga menjadi… Aku tiba-tiba duduk, masih mendekap guling.

Apakah ketika bersama Taecyeon dia juga seperti ini?! Aku memegang kepalaku panik. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku berusaha mengusir bayangannya yang tengah, err… bercinta dengan Taecyeon.

Kulempar gulingku dengan serampangan dan menggeleng. ”Aniya! Dia pasti belum pernah, belum pernah!” aku menggeleng, membayangkan suara yang Haejin merintih karenaku tadi, sedikit banyak aku bangga karenanya. Aku bisa membuatnya lupa diri seperti itu.

Dan sekarang, sungguh, tak ada yang lebih kuinginkan daripada membuatnya tunduk, dan menyerah dalam kuasaku. Aah, Eomma! Aku berbaring lagi.

”Hei, kau tidak makan malam?” suara Leeteuk Hyung mengagetkanku.

”Oh, sudah waktunya, ya?” tanyaku pura-pura bodoh.

”Aish! Kukira tadi kau ke tempat Haejin, membangunkannya,” Leeteuk Hyung menggaruk kepalanya bingung. ”Tadi kan kau sudah keluar, kenapa kembali lagi?” tanyanya bingung.

Aku berbalik memunggunginya, sebal. Dia menginterupsiku tadi, kalau tidak ada Leeteuk Hyung mungkin tadi, aku… kami… ah, aku mengacak rambutku kesal. Tidak seharusnya! Bukankah harusnya aku senang Leeteuk Hyung menginterupsi kami tadi? Tapi sekarang kepalaku pusing.

”Kepalaku pusing, Hyung,” jawabku merengut.

”Oh kau sakit?” Leeteuk Hyung bertanya cemas.

”Ani, hanya sedikit pusing,” aku bangkit dan memijit pelipisku. ”Aku ke kamar mandi saja!” dengan menahan malu, akhirnya aku buru-buru berlari ke dalam kamar mandi.

Aku bisa lihat betapa Leeteuk Hyung bingung padaku, aaahh! Semoga dia tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku duduk lemas di atas kloset setelah mengguyur isinya terlebih dahulu, dan kembali merapikan pakaianku. Uuuh, Haejin! Aku tidak bisa berhenti menyalahkannya, ini semua gara-gara kau!

Akhirnya aku dengan lemas keluar mengikuti Leeteuk Hyung yang mendadak menjadi pendiam saat aku selesai keluar dari kamar mandi, entah kenapa. Kami berjalan menuju restoran resor yang di dekorasi super romantis, dengan penerangan remang-remang, dan lilin-lilin serta aroma bunga yang diletakkan di tengah-tengah meja restoran.

Aku melihat sebuah meja melingkar, di salah satu sudut restoran. Disana ada Eomma, dan Eommonim, Leeteuk Hyung Eomma, dan ada Haejin. Aku menghela napas gugup, dan membasahi bibirku yang mendadak kering. Haejin ada di depan sana, dia memakai gaun putih, entah itu bisa disebut gaun atau tidak, bahannya sepertinya dari kaus, tapi baju itu panjang sekali, berwarna putih, sedikit transparan, dan tanpa lengan.

Khas Haejin memang, yang tidak pernah kupermasalahkan, dulu. Tapi tidak sekarang, Demi Tuhan aku sedang lemas, karena perbuatannya tadi, tapi dia masih saja menggodaku, diluar kesadarannya. Dress atau gaun itu sangat longgar, hingga memperlihatkan dengan jelas tube top hitam yang menjadi dalamannya. Dia sedang menghadapkan tubuhnya ke arah Eomma.

Tiba-tiba perasaan tegang tadi mencair, melihat pemandangan hangat Eomma dan Haejin yang tengah bercengkrama. Haejin nampak sangat senang bertemu lagi dengan Eomma, setelah dulu kami ke Mokpo.

Ah, syukurlah, perasaanku kembali tenang sekarang.

”Nah itu mereka,” kata Eomma riang sambil menunjuk kami berdua, Eommonim dan Haejin menoleh.

Mata Haejin berbinar-binar melihatku, lalu cemberut lucu pada Leeteuk Hyung. Teuk Hyung terkekeh tak enak dan duduk di samping ibunya, sementara aku mengambil tempat di sebelah Eomma, jadilah aku dan Haejin kini mengapit Eomma.

”Kemana? Kok lama?” tanya Eomma sedikit heran padaku.

”Donghae pusing tadi, Eommonim,” sahut Leeteuk Hyung cepat. Kulihat kini kedua pasang mata, milik Eomma dan Haejin melebar.

”Kau sakit?!” tanya Eomma cemas.

Sementara Haejin bergerak-gerak gelisah di tempat duduknya menatapku antara yakin dan tidak, sepertinya, mengetahui penyebab pusing kepalaku. Aku cuma menggeleng singkat sambil tersenyum tak enak. ”Gwenchana, gwenchana, aku tak apa-apa, sedikit pusing saja tadi.”

”Ja! Kita pesan makanan sekarang.” Ajak Leeteuk Hyung. ”Eomma, kau mau makan apa?” tanyanya pada Eommanya.

Aku, Eomma, dan Haejin mulai melihat buku menu.

”Eommonim, paksa Hae makan dong, Eommonim,” kudengar kini Haejin tengah mengeluarkan aegyo-nya lagi, aku menahan senyumku. Dia menggemaskan sekali kalau sudah bertingkah seperti anak kecil. ”Lihat, tubuh Hae kurus sekali sekarang, kan? Hanya tangannya saja yang besar.”

Aku menoleh cepat kepadanya. ”Mwoya?!” protesku.

”Haejin benar, Hae…” sekarang Eomma mengangguk sambil menoleh padaku. ”Kau harus banyak makan.”

”Tapi… tapi…” elakku.

”Dengarkan kata Eommonim,” Haejin terkekeh sambil memandang buku menunya. ”Eommonim, bagaimana kalau aku yang pesankan Hae makanan?” tanyanya dengan puppy eyes yang pasti diajarkan oleh Cho Chihoon si setan kecil itu.

Aku mengernyit, dan cemberut. Oke, Haejin sekarang lebih imut kalau pada Eomma, tidak padaku, ugh!

”Oh, keurae? Pesankan, Jinnie Sayang.”

”Eomma…” aku protes lagi. Yang boleh panggil Haejin dengan sayang cuma aku, oh ya ampun.

”Apa sih?!” Eomma hanya mendengus dan terus menatap Haejin dan mengacuhkanku.

Haejin nampak bahagia dan membuka-buka buku menu.

”Aku mau salmon,” kudengar Teuk Hyung berbicara pada Eommanya. ”Eomma mau yang mana? Ayo Eomma, pesan saja.”

”Ah!” Haejin menepukkan tangannya dan meletakkan buku menu. ”Eommonim, kita pesankan Hae skate fish saja.”

Leeteuk Hyung yang tengah menenggak air tiba-tiba tersedak, dan sedikit menyemburkan airnya. Apa yang membuatnya tersedak seperti itu, sih? Haejin kemudian bersenandung riang, dan wajahnya super polos, sepertinya memang ada sesuatu yang mereka mengerti dan aku tidak.

”Aduh, Haejin…” Eomma tertawa berderai.

”Kenapa Eommonim??”

Oh, aku kenal nada itu. Nada yang akan Haejin keluarkan jika dia sedang pura-pura tidak tahu, dan sok polos. Ini style Ririn, ini pasti ajaran Park Ririn. Tapi masalahnya apa? Apa sih yang mereka bicarakan?

Skate fish enak,” jawabku pelan.

Leeteuk Hyung menepuk bahuku gusar. ”Kau ini!”

”Wae?” tanyaku bingung.

”Sudahlah, baiklah… skate fish satu porsi untuk Donghae. Lalu kau mau makan apa sayang?” tanya Eomma.

Haejin mengangguk lambat-lambat ”Mungkin daging domba~”

Leeteuk Hyung tersedak lagi.

”Apa sih?”

”Kau suka daging domba? Ya ampun.” Eommonim mencubit pipi Haejin gemas. ”Lama-lama kunikahi kalian berdua.”

Kali ini gantian Haejin yang tersedak. Aku tersenyum diam-diam sambil menunduk, Eomma memang hebat! Desak Haejin terus Eomma, dan kami akan menikah. Kulirik Haejin dari sudut mataku, dan dia nampak salah tingkah.

”Tapi tak apa, usiamu baru dua puluh satu tahun, kan?”

Haejin kemudian tersenyum sumringah, dan mengangguk-angguk. Aku menendang kaki meja pelan-pelan, sebagai bentuk pelampiasan frustasiku. Lalu kalau Haejin masih dua puluh satu harus menunggu sampai berapa? Usia kami terpaut lima tahun, Eomma, aduh!

”Ah, eommonim.” Haejin nampak malu-malu. ”Tapi kenapa kami harus dinikahi hanya karena makanan?” tanyanya dengan nada yang super manis. Aku yakin Haejin sebetulnya sudah tahu jawabannya. Tapi aku senang dia bertanya, karena aku yang tidak tahu.

”Itu kan makanan panas semua.” Eomma menggeleng-gelengkan kepalanya.

Memang harus disajikan panas bukan?

 

*           *           *

Aku tidak berkonsentrasi selama acara makan malam tadi. Leeteuk Hyung terus berusaha memancing obrolan diantara kami berlima, tapi Haejin cuma tersenyum, sementara aku menahan napas, karena di bawah meja, kaki kami berkaitan, tanpa ada yang melihat.

Jujur memang aku yang memulainya, tapi tadi aku tidak sengaja. Awalnya kukira itu kaki Eomma, tapi kemudian kurasakan kaki itu naik ke atas dengkulku dengan gerakan menggoda. Jelas, itu bukan Eomma! Aku menahan napas berkali-kali karena kemudian saat tatapan kami bertemu, kerlingan nakalnya dalam music video Redemption Jepang itu keluar.

Otokhe?! Aku berdecak frustasi dan menghabiskan makananku dengan emosi. Dia nakal sekali ya ampun! Jangan sampai  dia berani-berani berbuat nakal seperti ini pada pria lain, awas saja. Membayangkannya saja, bisa membuatku naik darah.

Kukaitkan kaki kami, sehingga kami seperti bergandengan tangan, tanpa ada yang tahu bahkan kami pun kini bisa bermesraan. Terlebih Leeteuk Hyung, yang sejak tadi memasang wajah curiga pada Haejin.

Haejin nampak tenang, padahal kakinya di bawah terus menggangguku, kukaitkan dan kuangkat, sehingga kaki kami berayun-ayun, seperti tangan yang bergandengan saja. Sesekali, jika Leeteuk Hyung tidak melihat, dan Eomma tengah menyantap makanannya, Haejin akan melempar kisseu kecil padaku, yang membuat wajahku merah dan aku langsung menunduk, sambil tersenyum malu. Ah, Haejin menikmati sekali menggodaku.

Awas kau, rutukku, meski senang.

Ponselku bergetar, aku merogohnya dan membaca isi pesannya. Mataku membelalak lebar, nyaris kumuntahkan lagi strawberry cake sebagai makanan penutup kami ini. Aku diam-diam mencuri pandang pada Haejin yang tidak tampak mengeluarkan ponselnya, tapi kemudian mengedip kecil, saat Leeteuk Hyung tidak melihat.

 

From : -Momma-

            Poppa tampan :* bogoshipo, bagaimana kalau kita kabur sekarang? Kita nikmati pantai Saipan… berdua, Poppa… dan aku, othe?

            Teukie Oppa pasti akan berusaha menggagalkan bulan madu kita Poppa, maka aku akan kabur duluan. Semua ada di tanganmu, mau ikut aku, atau Teuk Oppa.

 

”Setelah ini mau apa?” tanya Eommonim, ibunya Leeteuk Hyung pada kami semua.

”Eommonim, aku mengantuk,” tiba-tiba Haejin menoleh pada Eomma. ”Boleh aku langsung ke kamar?”

Eomma mengangguk. ”Ne, istirahatlah. Donghae, Leeteuk, besok kalau jalan-jalan, Haejin di ajak dong, jangan ditinggal sendirian begitu.” Kata Eomma nampak kecewa pada kami.

Ugh! Aku juga ditipu, Eomma…

”Gwenchanayo Eommonim,” Haejin berdiri dan membungkuk. ”Eommonim, aku duluan ya.” Dia membungkuk pada ibunya Teuk Hyung.

”Ne, mimpi indah, Sayang.” Ugh! Sekarang Eommanya Teuk Hyung ikut memanggil Haejin dengan sebutan sayang. Bagaimana bisa?!

Haejin tersenyum padaku dan Teuk Hyung lalu pergi, kibasan gaun atau dress atau entah apa nama pakaiannya itu nampak menantang manakala ia berbalik dan pergi meninggalkan restoran. Aku melirik Teuk Hyung yang masih menelan sisa dessert-nya, aku menarik napas dalam-dalam.

Jangan jadi pengecut Lee Donghae, batinku. Kau sudah berjanji padanya untuk datang malam ini. Tapi, aku menoleh pada Teuk Hyung, aku yakin Teuk Hyung meski tenang, ia waspada. Jika aku berdiri dan memutuskan pergi dari sini, terutama, aku tidak kembali ke kamar, dia akan curiga, dan tentu dia akan tahu aku kemana.

”Ah, aku mengkhawatirkan Haejin,” tiba-tiba Eomma menghela napas berat di sebelahku. Aku dan Teuk Hyung serempak menoleh menatap Eomma.

”Oh.” Eomma Leeteuk Hyung mengangguk. ”Donghae-ya, kau harus melihat keadaannya, apakah ia baik-baik saja. Ya kan?” dan Teuk Eommonim meminta dukungan Eomma.

Eomma mengangguk. ”Ne, kau ini bagaimana? Tidak peka sama sekali jadi kekasih.” Dipukulnya bahuku. ”Kalau nanti Haejin melirik pria lain yang lebih perhatian darimu bagaimana?!”

”Eomma!” protesku.

”Ayolah, sana tanyakan keadaannya,” bujuk Eomma.

Oh, aku mau sekali.

”Aku saja, Eommonim, Donghae kan sedang sakit!” astaga, Teuk Hyung! Apa-apaan sih dia?!

”Kau ini!” dan tiba-tiba Teuk Hyung Eommonim sudah memukul kepala putranya itu, dan aku menahan tawaku. ”Haejin itu kekasih Donghae! Kenapa jadi kau yang mau mengecek keadaannya?”

”Tapi, Donghae sedang sakit, Eomma…”

”Sudahlah, laki-laki harus kuat di hadapan perempuan yang disayanginya, kan? Haejin sendirian di kamar sebesar itu, kami berdua saja merasa kamar itu terlalu besar untuk ditempati dua orang, apalagi untuk Haejin? Jungsoo-ya, kau terlalu berlebihan.” Sekarang Eomma membela Haejin, aku senang sekali. ”Dan kau, Hae-ya, jadilah sensitif jika menjadi laki-laki. Kalau setelah ini Haejin justru tidak jadi padamu bagaimana?”

”Aniyo, Eomma…” aku buru-buru berdiri. ”Aku memang rencananya mau mengecek keadaannya, kok.”

”Kutemani.” Teuk Hyung berdiri.

Aku baru mulai panik, ketika Teuk Hyung Eommonim menarik tangannya. ”Kau ini kenapa sih, Soo-ya?”

”Kau tidak jatuh cinta pada menantuku juga, kan?” tanya Eomma.

Aku mau tertawa-tawa senang.

”Aniyo! Aniyo, Eommonim,” sekarang Teuk Hyung panik. ”Aku hanya khawatir pada Donghae. Dia sedang sakit.”

”Dia cukup kuat untuk melihat keadaan Haejin, kok. Donghae kan bukan sedang sakit parah, Jungsoo-ya, dia hanya pusing. Lagipula sepertinya sudah mendingan, kan?” tanya Eomma padaku.

”Oh.”

”Ya sudah sana.”

Aku berusaha menahan tawaku setelah membungkuk pada Eomma, Eommonim, dan Teuk Hyung, lalu buru-buru berjalan dengan langkah sok wajar keluar dari dalam restoran. Aku yakin, begitu Teuk Hyung lepas dari para Eomma, dia akan langsung mengejarku nanti.

Tapi kemudian di luar restoran aku bingung. Haejin tidak mungkin langsung kembali ke kamar kan? Tapi katanya tadi sore dia mau… ah! Tapi tadi di pesannya ke dalam ponselku, dia bilang kalau dia menunggu di… kubuka kembali kotak pesan masukku, dan membaca isinya.

Pantai

Aku berlari ke arah pantai dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Pantai sepi, dan gelap, hanya penerangan dari obor-obor dan lampu-lampu temaram, yang ada di pinggir resor, yang bisa membuatku melihat cukup jelas, selain terangnya sinar bulan. Dan, aku sedikit tertawa, melihat Haejin berdiri menatap pantai, dengan baju putih. Aduh, kalau tidak kenal, mungkin dia sudah kukira sebagai hantu.

Perlahan-lahan kudekati dia dan kupeluk tubuhnya dari belakang, dia langsung tertawa bahagia.

”Oh, Poppa bisa kabur? Kukira perlu dua jam lagi baru Poppa bisa lepas dari Teuk Oppa,” gumamnya mengeratkan pelukan kedua tanganku di pinggangnya, sementara tangan satunya kini membelai rambutku dari belakang kepalaku.

Kubenamkan kepalaku di lekukan lehernya, angin bertiup menerpa rambut kami berdua. ”Tadinya Teuk Hyung sudah mau menyusul,” kataku terkekeh. ”Tapi dia ditahan oleh Eommadeul.”

”Eh, kok bisa?” tanya Haejin bingung.

”Eomma memintaku mengecek keadaanmu, kau kan tidur sendiri, jadilah mereka cemas.” Kukecup lagi lekuk lehernya yang sedikit hangat itu. ”Syukurlah, jadi aku bisa bebas kesini.”

Dia berbalik dan mengalungkan kedua tangannya di leherku, dan mulai menelusupkan jemari lentiknya ke dalam sela-sela rambutku. Dia terkikik. ”Syukurlah…” dia mengangguk.

Kudekatkan wajahku padanya, dahi kami bertemu, dan dia memejamkan matanya. Semakin kudekatkan wajahku, dan kini kedua bibir kami sudah bertemu. Aku bisa merasakannya dalam pelukanku, begitu tenang, dan begitu pas dalam dekapanku. Aku menyusupkan tanganku di balik rambutnya yang kini sudah tumbuh sebahu lagi setelah terakhir dia memotong pendek rambutnya. Kubelai lembut tengkuknya, sementara dia mengusap-usap rambutku.

Setelah itu kami melepaskan diri satu sama lain, wajahnya menjadi sendu saat ia mulai membelai seluruh bagian wajahku. Mau tak mau aku memejamkan mataku dan menerima sentuhannya yang lembut, dan hangat. Jemarinya mulai meraba dahiku, menyingkirkan beberapa helai rambutku, kemudian dia menyusurkan jari-jarinya di garis hidungku, perlahan-lahan turun dan menyamping membelai tulang pipiku, hingga ke tulang rahangku. Lalu dia kembali mengusap-usap mataku.

Tatapan matanya padaku, aku tidak bisa mengartikan arti tatapannya, kecuali memuja. Dia nampak begitu memujaku, bibirnya bergetar saat akhirnya jemarinya menyentuh bibirku, dan mulai menelusurinya.

Saat tangannya menjauh, aku tak bisa menahan diriku untuk tetap menahannya, kuusapkan lagi telunjuknya di seluruh permukaan bibir tipisku, dan kukecup jemari itu. Lalu kuhisap perlahan, dan hanya dengan satu sentuhan itu, aku bisa merasakan kini ia terkesiap, dan mulai gemetaran merasakan sentuhanku.

”Hae…” suaranya begitu tercekat. Dia menginginkanku! Aku tengah berkuasa atas dirinya sekarang, batinku menggelora, bangga, gembira. Kuraih pinggangnya agar dia semakin mendekat padaku, tubuh kami sudah merapat satu sama lain, aku merasakannya gemetar, gemetaran penuh damba.

Dia mengisak kecil. ”Sentuh aku.” Pintanya lirih.

Perlahan kurangkum wajahnya, begitu pas dalam dekapan tanganku, kukecup bibirnya pelan, dia mengecupku, lemah. Perlahan, kuturunkan tanganku pada bahunya dia memeluk pinggangku pelan, dan perlahan-lahan dengan sedikit bergetar, kutatap matanya saat tanganku semakin turun ke bagian depan tubuhnya, kedua bibir kami bergetar.

Dia merasakanku, aku merasakan dirinya. Kami sama-sama bergetar, ditemani tiupan angin pantai malam hari ini. Aku menahan diriku agar tidak menutup kedua kelopak mataku dan menatapnya, wajahnya sungguh indah saat dia menutup matanya dan nampak lemah dalam kuasaku.

”Donghae-ya… Donghae-ya!”

Kulepaskan kedua tanganku dan menoleh ke belakang dengan panik, aku kenal betul suara itu, di depanku Haejin nampak bingung dan linglung. Tapi kemudian suara itu memanggil kembali.

”Donghae-ya! Eodiga?!”

”Aish!” barulah Haejin bersuara, rasanya ia tahu siapa yang tengah menginterupsi kami. ”Om-om gila! Kang Sora harusnya sekalian kita bawa kesini!” dengusnya sebal. Aku terekekeh. ”Omo!” Haejin memekik melihat bayangan Teukie Hyung muncul.

Aku menariknya agar sedikit terlindung bayang-bayang pepohonan, tatkala benar saja, Teukie Hyung muncul dari undakan besar, menatap ke arah pantai. Haejin menahan napas tegang di sebelahku.

”Ahjussi gila!” rutuknya sebal.

Aku terkekeh.

Kemudian kami bersembunyi semakin ke bawah bayang-bayang, manakala Teukie Hyung tak lagi terlihat.

”Sepertinya dia sudah pergi.” Kataku.

”Ani! Dia itu teguh!” dengus Haejin. ”Dia pasti turun kesini, Hae! Pegang kata-kataku.”

Aku mengerutkan alisku bingung.

Dan benar saja kami kemudian mendengar langkah-langkah kaki di belakang kami. Aku lupa kalau ada tangga spiral juga di sisi sana. Wajahku memucat, tapi Haejin sigap menarik tanganku dan berlari menuntunku.

”HEI! Siapa disana?!” sepertinya Teukie Hyung melihat kami, namun tidak yakin kalau ini kami.

Kudengar Haejin di depanku tertawa, roknya berkibar tinggi sementara kami terus berlari naik ke tangga spiral di sisi resor sebelah sini, dan tiba di pekarangan belakang hotel. Aku mengikutinya terus, sementara saat aku menoleh, sedikit ketinggalan jauh di belakang kami, Teukie Hyung ikut berlari mengejar kami. Oke, ini benar-benar tidak lucu!

”Sayang kita akan kemana??” tanyaku.

”Molla!” kekehnya, terus berlari memasuki sebuah pintu yang terbuka menuju hotel, bukan kembali ke resor kami. Ternyata itu adalah dapur hotel. Koki-koki tersebut menoleh melihat kami, mereka kebingungan sementara Haejin terus berlari di depanku sambil tertawa-tawa.

Aku kembali menoleh ke belakang, dan Teukie Hyung masih terus mengejar kami. Astaga, orang itu… akhirnya Haejin berhenti di lorong menuju resor, kehabisan nafas, namun masih tertawa terpingkal-pingkal. Entah apa yang lucu, sementara aku pun harus mengatur nafasku.

”Hyungmu itu benar-benar deh…” katanya geli.

”Kau tak marah padanya?”

”Aniyo, kesal saja,” dan dia tertawa lagi. ”Aku jadi ingat pengawalnya tunangan si Rose di Titanic, yang mengejar Jack dan Rose di kapal.” Dan lagi-lagi dia tertawa. ”Rasanya persis sama.”

Mau tak mau aku ikut tertawa.

”Ah, sepertinya memang tidak mungkin, pria tua itu akan terus mengejar kita sampai titik darah penghabisan malam ini,” desah Haejin kecewa. Oh, dia tetap saja kecewa ternyata. Entah aku harus sedih atau senang. Haejin melirik ke belakang lagi. ”Dia akan tiba disini kapan saja, kita harus kembali ke kamar.” Haejin lalu mencium bibirku cepat namun dalam.

Aku terlena dibuatnya, namun Haejin segera melepaskannya.

”Gwenchana. Tapi kau tetap takkan bisa mangkir setelah ini!” ancamnya lucu, kemudian dia mengajakku pergi dari situ, namun kita berpisah. Dia masuk ke dalam kamarnya, sementara aku berpura-pura menutup pintu kamar Eomma, tatkala Teukie Hyung muncul.

Dia nampak bingung. ”Oh, Hae?”

”Oh, Hyung…” kataku polos. ”Hyung darimana?”

 

*           *           *

Keesokan harinya, aku terbangun dengan seluruh tubuh pegal. Jelas saja, lari-lari di tengah malam. Aku bangun dan langsung meregangkan seluruh tubuhku, dan kulihat Teuk Hyung membuka matanya. Astaga, kantung matanya tebal, dan lingkaran hitam di bawah matanya begitu jelas.

Apa dia tidak tidur semalaman dan mengira aku akan kabur?

”Kepalaku pusing.” Keluhnya.

”Hyung pasti tidak tidur ya?” tanyaku.

”Hanya gelisah,” kilahnya dan ikut duduk. ”Aku tidak sabar dengan acara kita hari ini.”

Aku menatapnya penuh curiga.

”Tenang, aku tidak akan mempermainkanmu lagi, Hae…” katanya mengangkat kedua tangannya. ”Kemarin waktu scuba aku kan memang hanya ingin meluangkan waktu bersamamu saja, Hae…”

Aku mengernyit, sejak kapan Teuk Hyung jadi melankolis sepertiku?

”Sejak kalian punya pacar, kalian jarang meluangkan waktu bersamaku.”

Aku mengernyit. Bukankah yang mau liburan bersama-sama itu dia? Awalnya kan memang aku dan Haejin mau berlibur berdua saja. Siapa suruh dia ikut? Dan kenapa malah jadi dia yang mengatur semuanya?

Kok aku protes ya?

”Aku sadar aku terlalu kelewatan.” Dia menggaruk kepalanya.

Syukurlah, Puji Tuhan, Hyung sadar.

”Hari ini kita akan bermain bersama Haejin di pantai,” katanya ceria.

Mwo? Main bertiga? Memangnya kita ini apa???

”Kaja! Kita sarapan,” dan dia bangun meninggalkanku ke dalam kamar mandi, aku menghela napas berat. Efek melajang hingga usia nyaris kepala tiga membuat Teuk Hyung begini sepertinya.

Aku menelepon Haejin untuk membangunkannya, seperti biasa, kekasihku itu bangunnya susah sekali, namun Haejin mengangkat teleponku pada dering pertama, dan dari suaranya sepertinya dia sudah cukup segar. Tak lama setelah kututup sambungan teleponku, Teuk Hyung keluar dari kamar mandi, kali ini ganti aku mengambil peralatan mandi serta baju gantiku.

”Ehem, Hae…” panggil Teuk Hyung saat aku hampir menutup pintu kamar mandi.

”Ne, Hyung?”

”Ehm, sabunnya tadi tinggal sedikit, jadi kurasa kau harus pakai, err… sabun baru?”

Dengan wajah merah kututup pintu kamar mandi setelah mengangguk-anggukan kepalaku. Aku yang terlalu paranoid, ataukah memang Teuk Hyung yang tahu apa yang terjadi padaku kemarin sore? Ah, Haejin sih…

Setelah mandi, kulihat Teuk Hyung memakai baju kaus santai dan kacamata hitam. Aku menggosok kepalaku, mengeringkan rambutku yang basah setelah keramas tadi. Aku mengernyit.

”Hyung mau kemana?”

”Setelah sarapan, kita main di pantai, kita berenang, Hae… itu kan habitatmu dan Haejin,” ledeknya.

Ya ampun.

Kami keluar untuk sarapan, sebelumnya, dengan baik hati, atau mencurigakan, Hyung mengantarku untuk membangunkan Haejin, yang ternyata memang sudah bangun, dan sudah mandi, sudah wangi, dan seperti biasanya, ada getar-getar yang sampai pada hatiku saat melihatnya muncul, memakai jumpsuit dengan bahan flanel ringan, berwarna biru muda, pendek, memamerkan kakinya, karena itu salah satu siasatnya agar terlihat tinggi, dan memamerkan salah satu aset kebanggaannya.

Bahu cokelatnya.

Dia memakai topi pantai berwarna pastel, wajahnya cerah. ”Berenang! Kita berenang kan hari ini?” tanyanya bersemangat.

”Oh, di laut.” Sahutku, meledeknya.

Dia cemberut lucu menanggapiku.

”Aku ikan laut ingat?” tanyaku.

”Aku ikan air tawar,” ringisnya.

”Aku bebek,” tiba-tiba Teuk Hyung sudah muncul diantara kami, Haejin mencibir dan menggandengku menuju restoran untuk sarapan, sementara Teuk Hyung tertawa melihat reaksinya.

Eomma dan Eommoni menyambut kami. Mereka bertanya keadaan Haejin, Haejin menjelaskan bahwa ia sudah biasa sakit kepala, tapi kedua Eomma malah panik, dan memberi nasihat macam-macam. Apakah aku yang kurang sensitif pada kesehatan Haejin? Dia kelihatan biasa-biasa saja selama ini, memang dia sering bilang kalau pusing dan sebagainya, tapi toh pekerjaannya lancar-lancar saja, kecuali jika asmanya sudah kumat, itu baru aku kalang kabut.

”Jangan terlalu banyak minum obat, kalian ini idol, tapi fisik kalian benar-benar ringkih. Harus selalu di sokong oleh obat-obatan,” dan kedua Eomma mulai memandang kami bertiga, termasuk Teuk Hyung khawatir.

Kami bertiga terkekeh saja.

”Setiap pusing, bukan istirahat, tapi atas nama pekerjaan, kalian minum obat, kalau terus begitu, nanti efek sampingnya bagaimana?” tanya Eomma menatap cemas pada Haejin.

Iya juga sih.

”Gwenchanayo, Eommonim,” Haejin menenangkan. ”Kalau kami memang tidak kuat kami akan istirahat, kok. Perusahaan juga akan mengerti.” Jelasnya lagi. ”Sekarang ayo kita makan!” ujarnya riang.

”Yah, baiklah…” Eomma mengalah.

Dan setelah makan, kami sempat keliling pasar wisata di Saipan bersama-sama. Eomma berkeras membelikan Haejin kain pantai, sementara Haejin berkeras ingin agar Eomma yang menerima kain pembeliannya, lalu Teuk Hyung bersama Eommanya jalan di sisi lain pasar.

Aku? Aku dianggap tidak ada sepertinya, uh! Apakah begini nasib laki-laki yang ikut pergi bersama ibu dan istrinya? Sepertinya aku harus mulai terbiasa jika nanti kami menikah.

Eh? Aku memikirkan apa? Aku menjiak-jitak kepalaku sendiri.

”Kenapa? Sakit?” Haejin melirikku cemas.

”Aniyo,” ringisku.

”Jinnie Sayang, sini, Nak, lihat Eomma menemukan apa!” seru Eomma dari balik display sebuah toko perhiasan sederhana. Kami berjalan mengekori Eomma, atau lebih tepatnya aku mengekori mereka berdua. Eomma sedang memegang dua buah cincin yang terbuat dari bahan titanium, sederahana, tidak ada batu permata imitasi, polos.

Seperti cincinku yang dulu, yang telah dibuang Haejin saat aku meninggalkannya. Aku menoleh menatap Haejin yang sepertinya mengenali cincin itu juga, dia nampak terkejut.

”Indah bukan? Sederhana ya?” tanya Eomma.

Haejin mengangguk sambil mengulum senyum.

”Suka?”

”Indah, Eommonim.”

Aku tersenyum juga mengangguk.

”Kalian mau?” tawar Eomma.

”Hee?!” Haejin memekik di sebelahku, sementara mataku melebar.

”Tidak baik kalau hanya salah seorang diantara kalian yang memakai cincin. Walaupun cincin itu cincin murah sekalipun. Tapi, meski ini cincin murah,” Eomma membawa dua cincin itu ke kasir, aku dan Haejin mengikutinya lagi. ”Setidaknya kalau saling memiliki, ada keengganan besar untuk melepaskannya, kan?”

Aku tersenyum.

”Ne, Eommonim.”

Kami melihat Eomma membayar dua cincin itu dengan beberapa lembar uang Jepang dan kemudian berbalik menghadapi kami, mengeluarkan kedua cincin itu dari dalam plastik pembungkusnya.

”Aku tahu dari Hae kau tidak pernah mempermasalahkan nominal suatu barang,” Eomma menatap Haejin penuh sayang. ”Tapi tetap saja, walaupun ini tidak ada sepersekiannya cincin pernikahan kalian nanti, anggaplah ini pengikat kalian dariku.”

”Eommonim,” Haejin nampak terharu.

Ya ampun, kami bertunangan di tengah toko pernak-pernik. Eomma memang daebak!

”Nah, Hae, pasangkan cincinnya!” kata Eomma bersemangat.

Aku terkekeh dan mengambil cincin itu, dan menarik tangan kiri Haejin yang polos, tidak memakai pernak-pernik apa pun. Dia itu seorang gadis, tapi tidak begitu menyukai aksesori, aku heran. Kupasangkan cincin titanium itu di jari manisnya, pas.

”Wah, yeppeoda.” Gumam Haejin melihat jari manisnya. ”Gomawoyo, Eommonim.” Dia membungkuk.

Eomma tersenyum lembut padanya. ”Pasangkan untuk Donghae.”

Perlahan dengan tangan sedikit gemetar dia mengambil cincin satunya, dan mengambil tangan kiriku juga, lalu menyelipkannya perlahan-lahan ke jari manisku, setelah pas, dia memandanginya hati-hati.

”Ja! Kalian resmi bertunangan.”

Aku tertawa, dan Haejin tersenyum malu-malu. Ya Tuhan, pacarku ini kan jarang malu-malu, dan sekarang dia tersipu-sipu, Eomma otokhe? Aku gemas padanya, tapi tidak mungkin kucium pipinya disini, di depan Eomma pula.

Akhirnya kami meninggalkan toko itu bertiga tak lama kemudian. Menginjak makan siang, kami makan di salah satu restoran sea food yang khusus menyediakan masakan khas Jepang dan Saipan tentunya, karena begitu kukatakan ingin berenang, Eomma dan Eommonim langsung menyuruh kami makan dulu.

Ah, jadi rindu masa kecil, saat ingin-inginnya berenang, tapi harus makan dulu, agar perut tidak kosong dan masuk angin. Akhirnya, setelah makan, kami, aku dan Teuk Hyung berlari-lari terburu-buru ke dalam kamar dan mengganti celana kami dengan celana pendek lain yang memang kami bawa untuk berenang di pantai, lalu berlari seperti anak-anak menuju pantai, dan kami memang langsung masuk ke dalam laut.

Wah, segarnya air laut ini, hangat, dicampur dengan angin pantai yang sepoi-sepoi, dan sinar matahari yang malu-malu tertutup awan tebal, namun tidak kunjung datang hujan.

Setelah bermain sebentar, dan celana kami sudah bercampur dengan pasir, aku dan Teuk Hyung berfoto bersama sambil meloncat di pinggir pantai. Wajah kami begitu riang gembira, menikmati liburan ini, dan saat aku tengah mengetikkan sesuatu pada I-Phoneku untuk mengupdate Twitterku, aku sudah tidak sadar, Leeteuk Hyung sudah kembali masuk ke dalam air laut.

Tapi yang lebih tidak kusadari adalah, keberadaan gadis di sebelahku ini, yang memekik. ”Gya! Air!” dengan begitu bahagia, meski ada sorot cemas dalam suaranya. Aku terkekeh sambil menekan tombol update pada aplikasi TwitBird-ku. ”Nanti kugendong lagi, Sayang, tenang saja…” lalu aku memasukkan kembali ponselku ke dalam ransel, dan barulah aku menoleh.

Haejin tengah menatap laut dengan tatapan memuja mix takut.

Aku melihatnya begitu jelas sekarang, matanya yang bulat menatap laut dengan pandangan memuja, tapi sedikit cemas, dia mengenakan bathrobe putih tebal, dan tangannya menenteng tas kecil berwarna pink yang kemudian ia letakkan di sebelah tasku, di atas tikar piknik kami.

”Ayo!” ajakku bersemangat.

”Jamkamanyeo!” dia menarik rambutnya ke atas dan mengikatnya tinggi dengan karet rambut berwarna hitam, memamerkan tengkuk cokelatnya, lalu dia melepaskan sandalnya dan mulai membuka ikatan bathrobe-nya sementara aku memicingkan mata mencari Teuk Hyung.

Kudengar Haejin bergumam. ”Aku pakai sunblock tidak ya? Oh iya, Poppa,” dia berbalik dan aku kontan menelan ludah. Haejin mengenakan bikini berpotongan rendah, dan berwarna hitam. Dia tidak nampak jengah atau apa dan malah bertanya dengan wajah polosnya. ”Pakai kacamata renang tidak?”

Aku memalingkan wajah, berpura-pura mencari Teuk Hyung lagi. ”Untuk apa pakai kacamata renang?”

”Perih!” serunya.

”Ah! Sudah tidak apa-apa,” aku tidak tahan untuk tidak menoleh lagi, dan kini Haejin benar-benar melepaskan jubah mandinya tersebut.

Aku menghela napas dalam-dalam, dan berusaha menekan keinginan liarku. Tubuhku panas, aku harus masuk ke dalam air untuk mendinginkan perasaanku. Tapi, aku melirik lagi padanya yang sibuk mengoleskan sunblock ke seluruh bagian tangan dan kakinya.

Aku tidak tahan untuk tidak meneguk liurku lagi. Aku dulu merasa bahwa kulitku cukup sempurna, putih, polos, dan berkilau. Tapi, memang setelah mengenalnya, aku tahu aku salah.

Kulit cokelat Haejin masih paling indah di mataku. Berani menantang matahari, dan terlihat, kuat. Dia kemudian menatapku. ”Ayo…”

Kami berjalan menghampiri bibir pantai, dan ombak mulai mengenai kaki kami, kudengar Haejin terkikik, dan aku mengambil tangan kirinya untuk kugenggam jemarinya, dan dia merapat padaku, menghadirkan setrum itu lagi.

Kulit kami bertemu.

”Ah, ah!” dia memekik saat kutarik dia semakin ke dalam. ”Poppa!” jeritnya takut.

”Tidak dalam, ini masih berdiri di pasir, Sayang…” bujukku, tapi aku senang, dia semakin merapat pada tubuhku. Hanya ini kontak fisik kami yang paling jauh pada saat ini, dia memelukku dari belakang ketika kuajak dia semakin tinggi. Aku tertawa, dia begitu takut matanya kemasukkan air laut. ”Ayo, Momma…”

Dia menggeleng-geleng takut, dan melingkarkan kakinya di pinggangku. Kutarik dia ke depan, sehingga kini aku menggendongnya dari depan, dan dia memeluk leherku sambil memejamkan mata tiap ombak datang menghantam kami. Semakin bergerak ia dalam pelukanku, semakin pecah konsentrasiku.

Satu-satunya hal yang bisa membuatku fokus adalah, ketika kami bersentuhan tanpa penghalang sehelai benang pun. Aku bisa merasakan setiap lekukan tubuhnya dalam pelukanku, lekukan yang hanya bisa kubayangkan saat masih tertutup oleh pakaian. Yang kini begitu pasrah, lembut, panas, dan pas dalam sentuhanku.

Haejin masih belum merasakan perubahan suasana dalam diriku, dia masih sibuk mengkhawatirkan air ombak yang datang dengan pandangan matanya yang polos, dan bibir merahnya yang cukup tebal itu mengerucut lucu. Gemas kueratkan pelukanku, dan tanganku mengusap perut ratanya, barulah ia terkesiap dan menoleh, menatap lurus pada mataku.

Matanya menatap dalam mataku, mata cokelat kelamnya menembus jiwaku, dia menatapku tidak merasa jengah atau malu. Aku terhipnotis, aku tidak tahu kami sedang ada dimana, aku bahkan tidak merasakan percikan air laut yang menghantam kami, yang kulihat hanya matanya yang kini tengah menatap dan menembus mataku. Dia meletakkan kedua tangannya tepat di kedua pipiku, dan aku memejamkan mataku, begitu juga ia.

Bibir kami bertemu dalam kecupan lembut, dia menekan tubuhnya melawan tubuhku, aku bisa merasakan setiap lekukan tubuhnya, bahkan bagian-bagian yang hanya berani kubayangkan saja. Tuhan, apa yang harus kulakukan sekarang? Dia terlalu sering membuatku hilang akal. Tuhan, aku tidak bisa menghentikan canduku padanya.

Aku takut, kalau pertahanan diriku ambruk.

Dia melepaskan ciumannya padaku, matanya sayu, napasnya pun satu-satu, dia terengah, dan menyandarkan keningnya pada keningku, dia tersengal. Aku hanya menyadari sedikit kalau aku juga tersengal, namun tetap siaga menjaganya agar tetap dalam gendonganku.

”Leeteuk Hyung…” bisikku keras.

Dia gemetar, kurasa dia merasakan hembusan napasku menerpa permukaan wajahnya, dia mengeratkan pelukannya padaku, aku bisa merasakannya. Bagian depan tubuhnya, yang selalu nampak indah jika dalam pandanganku, yang pada akhirnya harus kuakui, itu salah satu daya tariknya yang begitu menggoda, yang bahkan secara sembunyi-sembunyi banyak pria yang membicarakannya, kini menghantam permukaan tubuhku juga.

Aku bisa saja lemas, dan kami tenggelam bersama saat ini.

”Hae…” isaknya. ”Aku mau kau!”

”Aku juga,” jawabku lemah. ”Tapi, Leeteuk Hyung…”

”Dia tidak ada sekarang…”

”Kalau kita menghilang sekarang maka dia akan menyadari…”

”Sayang!” erangnya frustasi dan justru memelukku erat. ”Aku mau sekarang! Jebal, mau sampai kapan kau membuatku menunggu?!” tanyanya dan memundurkan tubuhnya lagi menatapku. ”Kau senang membuatku memohon-mohon, mengemis-ngemis seperti ini?!” tanyanya tajam.

Aku menggeleng. ”Tidak seperti itu, Sayang.”

”Lalu apa lagi yang kita tunggu?! Teukie Oppa tidak ada sekarang…”

”Hei, kalian! Ayo kita ke kolam renang, sebentar lagi pasang!” tiba-tiba Leeteuk Hyung muncul dari dalam air di sebelah kami.

Entah aku harus senang atau sedih kali ini.

Kami pindah ke kolam renang. Harus kuakui, aku benci melihat tatapan Hyung pada kekasihku. Haejin mungkin tidak terlalu tinggi, tapi bentuk tubuhnya benar-benar Julliette, aku ingat gerakan SHINee ketika membentuk lekuk tubuh wanita dalam reff lagu andalan mereka itu. Belum lagi kulit cokelatnya yang bersinar dalam keadaan basah dan tertimpa cahaya matahari, dan rambut gelombangnya yang basah, serta kilau tindikan pusarnya yang menarik perhatian.

Fakta bahwa dia hanya menginginkan aku yang memilikinya, bukan orang lain, membuatku merasa di atas angin. Tapi, aku masih berpendapat bahwa hal ini bukan hal yang benar.

Pergumulan tanpa dasar pernikahan itu salah, dan merugikan pihak perempuan! Aku tidak mau, aku sangat mencintai Haejin, dan aku tidak mau merugikan atau apa pun istilahnya. Dia hanya diam selama kami di kolam renang. Dia mengambil gambarku dan Teuk Hyung saat bermain-main, sambil sesekali tersenyum, tapi dia berbeda, dia diam.

 

*           *           *

”Sayang, ayo makan malam…” aku membuka pintu kamarnya yang tidak dikunci. Aku melongok ke dalam, lampu menyala, karena ini memang sudah malam, tapi… kopernya terbuka, dan rapi?!

Aku berlari masuk ke dalam dan menemukan Haejin di sudut sedang membereskan tas kecilnya. ”Sayang,” panggilku.

Dia menoleh, wajahnya datar, kini aku tahu ada yang tidak beres disini.

”Apa?” tanyanya datar.

”Makan, yuk.” Jawabku sekenanya.

Dia berpaling dan terus memasukkan baju-bajunya ke dalam tas ranselnya, lalu dia mengecek ponselnya. ”Aku tidak lapar.”

”Jangan tidak makan, nanti perutmu infeksi lambung lagi.” Aku duduk bersila di belakangnya.

”Masa bodoh!” jawabnya ketus.

Aku menghela napas. Benar kan dia marah. ”Kali ini karena apa lagi?” tanyaku lelah. ”Karena tadi siang?”

Dia diam saja.

Aku balik tubuhnya paksa untuk menatapku, dia menunduk, wajahnya datar, dan nampak sedikit kesal. ”Kita berbeda prinsip, Sayang.”

”Itulah yang kupikirkan,” dia menarik lepas tangannya dan menatapku. ”Aku hanya mau kau! Tapi kau mau pernikahan!” serunya tertahan. Aku terhenyak. Memang apa yang salah? Tiba-tiba air matanya meremang. ”Dan aku tidak bisa!” isaknya.

Hatiku mencelos. Tidak bisa? Apa maksudnya?! Aku tercengang menatap air matanya yang perlahan-lahan tumpah. Dia menggeleng, ”Aku sadar…” dia meneruskan. ”Kau takkan pernah mau melakukannya denganku sebelum aku setuju menikah denganmu.”

Aku masih diam, secara garis besar ia mengerti keinginanku.

”Tapi…” dia melanjutkan. ”Aku tidak akan pernah menikah denganmu.”

Seperti sebuah batu yang dihantamkan keras tepat di atas kepalaku. Apa maksud kata-katanya barusan?! Dia tidak sedang… dia menangis, dan aku yakin dia tidak sedang bercanda. Tapi kata-katanya barusan menusukku, seperti belati pipih yang tajam, tepat ke dalam jantungku.

”Apa maksudmu?!” suaraku tercekat di kerongkongan, aku meraih tangannya. Jangan bilang ia mau meninggalkanku, Tuhan!

Dia menggeleng. ”Aku tidak akan pernah menikah denganmu.”

”Wae?!” seruku dengan air mata tertahan.

Dia menggeleng lagi, ketakutan.

”Kau tidak mencintaiku lagi?”

”Aniyo, aku cinta padamu!”

”Lalu?! Kau mencintai orang lain lagi?”

”Tidak, tidak pernah! Hanya ada kau dalam hatiku, Hae…”

”Lalu kenapa?!” tanya frustasi. ”Kenapa kau tidak mau menikah denganku?! Aku cinta padamu, kau cinta padaku!”

Dia berdiri dan mengusap matanya. ”Tidak sesederhana itu.”

”Lalu apa?!” bentakku.

”Bagaimana mungkin kau mengharapkan pernikahan dariku!” balasnya membentakku lagi.

”Karena memang itu yang ingin kubangun bersamamu!”

”Tapi aku tidak mau!”

”Kenapa?!”

”Aku benci pernikahan!” teriaknya histeris dan menutup telinganya. ”Aku tidak mau kau pergi begitu saja saat nanti aku mengandung anakmu!” histerisnya sambil berjongkok dan menutup telinganya. Aku limbung. Bicara apa dia?

Dia menggeleng. ”Aku tidak mau! Aku tidak mau dibuang! Aku tidak mau sendirian bersama anakmu! Aku tidak mau melihat anak-anakku tumbuh dan ditanya siapakah ayahnya, dan yang lebih menyedihkan aku tidak akan pernah mau melihat anak-anakku tidak tahu siapa ayahnya!”

Kutarik tubuhnya ke dalam dekapanku, kupeluk dia erat-erat, sampai kurasa sekujur tubuhku sakit saat dia meronta-ronta, diiringi isak tangis memilukan. Aku ikut menangis. Tapi, air mataku kali ini, adalah air matanya. Kukeluarkan isakanku demi dirinya, sakitnya, hancurnya dia.

Gadisku. Aku tidak pernah tahu begitu rapuhnya dia di dalam. Kini, akhirnya aku mengerti, kenapa dia selalu menghindar setiap topik pernikahan disinggung diantara kami. Aku hanya sedikit memperhatikan kalau setiap topik itu disinggung diantara kami, meski hanya sebatas lelucon, Haejin tidak pernah menjawab apa-apa, dia hanya diam, atau dia hanya tersenyum menanggapi. Bahkan, ketika pesan terakhir Heechul Hyung bahwa dia ingin keponakan dari kami, Haejin hanya tertawa malu saja.

Jadi inilah, luka hatinya yang sebenarnya, inilah dirinya yang sebenarnya, inilah tembok besar yang tadinya tak kasatmata, yang kusadari kabur, samar, tapi ternyata cukup tinggi dan kokoh sebagai pertahanannya. Inilah dia, satu-satunya sisi hatinya yang tidak pernah kusentuh.

Mengapa dia begitu hancur saat Taecyeon dulu meninggalkannya? Mengapa dia begitu sulit menerimaku ketika aku menawarkan hatiku padanya? Mengapa dia sukar melupakan kisah cinta kami saat kami berpikir sudah tidak ada jalan lagi untuk menyatukan semuanya?

Itu karena sisi hatinya yang ini. Sisi hatinya yang begitu sensitif, begitu terluka basah, dan tidak mungkin diobati. Ayahnya, sosok ayahnya yang telah menyakiti hidup ibunya, dan tentunya dirinya. Aku tidak pernah membayangkan bagaimana dia melewati masa kecilnya. Ketika semua orang bersama kedua orangtua mereka lengkap, dia pasti hanya bisa menatap iri.

Ketika semua ayah mengajari anak-anaknya bermain sepeda, mengajari anak-anak berenang. Lalu menjaga dan mengintai anak gadisnya berkencan, hingga akhirnya mengantarkan sang putri ke altar.

Itu takkan pernah Haejin miliki.

Dan aku sadari, aku tidak pernah berusaha mengerti hatinya ini. Kudekap erat tubuhnya, kubelai rembut rambutnya. Aku, mungkin masih lebih beruntung darinya. Meski ayahku pun sudah tidak ada, aku merasakan kasih sayang lengkap dari kedua orangtuaku, aku bahkan memiliki seorang kakak untuk berbagi. Sedangkan Haejin? Dia sejak kecil harus bekerja demi meringankan beban ibunya, dipertanyakan status biologisnya, dan tidak mempunyai tempat bersandar lain selain ibunya pada waktu itu. Akhirnya ibunya tiada pula.

”Maaf.” Aku melepaskan pelukanku dan mulai menghapus setiap tetes air mata yang turun pada wajahnya. Dia nampak begitu tersiksa. ”Maaf, maaf…” aku tidak bisa mengatakan apa pun, kudekap erat kembali tubuhnya. ”Aku takkan pernah melakukannya padamu, Sayang.”

Dia mengisak. ”Dia juga bilang begitu pada Eomma!”

”Ayahmu… pasti punya alasan mengapa dia melakukan itu pada kalian,” aku melepaskannya dan menatapnya. ”Jika dia memang tidak menginginkanmu dan Eomammu, maka masih banyak yang menyayangimu. Kau diberikan keluarga baru, yang bersedia menjaga dan menyayangimu.”

Dia masih mengisak.

”Tapi, Haejin-ah, ini aku, Lee Donghae… bukan ayahmu, jangan hukum aku seperti kau menghukum ayahmu.” Lirihku.

”Kau pernah meninggalkanku.” Isaknya.

”Kau pun pernah meninggalkanku.” Balasku pelan.

”Aku tidak bisa meninggalkanmu.” Sahutnya lagi.

”Begitupun aku.” Akuku. ”Aku menawarkan pernikahan bagimu, karena aku mau kita terikat selamanya, suci, atas nama Tuhan, aku berjanji akan selalu berada di sisimu.”
Haejin mengggeleng. ”Appa juga dulu melakukannya pada Eomma.”

”Itu Appamu, tapi ini aku.”

Dia masih menggeleng.

”Aku tahu sulit untuk menerima itu semua,” aku menelan ludah tak tahu harus bagaimana, tapi tak mungkin meyakinkannya sekarang. ”Tapi cobalah kau melihat, aku tidak akan seperti Ayahmu.”

Dia masih menunduk.

”Aku akan membuatmu percaya kalau aku takkan meninggalkanmu.” Kuangkat dagunya, dan kini mata kami bertemu. Kedua mata kami merah, basah. Kami sama-sama menangis karena tidak tahu lagi harus bagaimana. Perlahan kuarahkan tanganku membelai pipinya, air matanya mengalir lagi. Kubelai air mata itu dengan ibu jariku, dan kuhirup air mata itu dengan bibirku. Dia mengangkat kedua tangannya dan memelukku.

Dia rapuh sekali. Di saat seperti ini, dia begitu bingung, dia begitu ketakutan, dia begitu halus, dan dia sendiri di dunia ini. Dia tidak memiliki siapa pun, dia tidak berani percaya pada apa pun.

”Aku mencintaimu,” katanya pelan, dan takut. ”Dan aku hanya mau kau yang menjadikan aku milikmu, utuh. Dan jika nanti kau pergi, setidaknya aku akan seperti Eomma. Tidak menyesal meski Appa menyakitinya, karena Eomma begitu mencintai Appa. Eomma tidak pernah menyesal telah menjadi milik Appa, dan memiliku. Aku mau seperti Eomma.”

Bulu kudukku meremang, kuangkat wajahnya dan kukecup bibirnya dalam. Awalnya dia diam, tidak bereaksi apa-apa. Tapi kemudian tangannya terangkat, dan jemarinya mulai menelusup ke dalam rambutku, diremasnya rambutku, sedangkan aku melepaskan segalanya, segala pikiran tentang prinsip dan apa pun setelah mendengar kata-katanya.

Dia hanya ingin mencintaiku, dan tidak akan pernah menyesal telah menjadi milikku. Betapa tidak egoisnya dia dalam hal ini, hingga aku merasa nyeri. Seharusnya aku yang mencintainya sebesar itu, dan kini dia harus tahu, kalau aku mencintainya lebih besar daripada cintanya kepadaku.

Aku mulai berdiri, dan dia mengikutiku berdiri, tanpa melepaskan pangutanku padanya. Aku membawa tubuhnya mundur, dia mengejarku, sampai punggungku menutup pintu kamarnya, kuulurkan tanganku ke belakang, dan kutemukan kuncinya, kuputar.

Kini kami hanya berdua!

Kulepaskan ciuman kami dan kami tersengal bersama-sama, dia membelai rambutku galau, dan aku resah meremas rambutnya. Dalam sepersekian detik kemudian kedua bibir kami sudah kembali bertemu dan mengalirkan gelombang elektromagnetik lagi. Sensasi menggelanyari seluruh tubuhku, tak henti kuputar kepalaku dan menyesuaikan diri dengan bibirnya yang penuh, seksi, dan mendamba, terus kudorong dia kembali ke dalam, dan dia mulai mengerang.

Kami terjatuh di sofa, ciuman kami terlepas. Dia terengah-engah dan masih merangkul leherku, kucium dia lagi, dan kali ini kuberanikan diriku mengelus sisi tubuhnya. Tubuh Haejin terangkat dan semakin dalam menciumku, dia menggigit bibirku cukup kencang saat ibu jariku menemukan gundukan kecil dari sisi tubuhnya. Kulepaskan ciumanku, dan mulai kukecup dagunya, dan menemukan lehernya. Wangi pinus tajam menusukku, parfum kesukaannya.

Tidak terlalu mencolok, namun memberi efek menenangkan. Aku menyesap lehernya, dan dia meremas rambutku cukup kasar. Aku kini tiba di pangkal lehernya. Aku sedikit bimbang, haruskah kuteruskan, tapi akhirnya isak kering Haejin yang menang. Kukecup dadanya, hingga akhirnya kutemukan ujung kausnya. Dengan sedikit, gerakan pelan dan menggoda, kuusapkan tanganku pada perut ratanya, dan memainkan anting yang tertanam dalam pusarnya, sementara bibir kami kembali bertaut.

Tangan Haejin sudah tidak bisa diam, dia menarik kaus santaiku, dan menggulungnya ke atas. Kini, aku diam dan menurutinya saat dia melepaskan kausku. Kuangkat tubuhnya dari sofa dan kumatikan semua lampu, kecuali satu lampu di samping tempat tidur, sambil membaringkannya. Kami saling bertatapan, dan perlahan-lahan pandanganku mulai turun pada tubuhnya. Tubuhnya bergetar, panas, menanti sentuhanku, kedua matanya yang habis menangis sudah amat pasrah, tidak berani meminta lagi.

Perlahan kuturunkan tanganku lagi di sisi tubuhnya sampai tiba di ujung kausnya, dan perlahan-lahan akhirnya setelah meneguk ludahku, kuangkat ke atas. Dia mengangkat kedua tangannya lembut mengikuti gerakan tanganku saat melepaskan kausnya.

Aku polos tapi dia tidak.

Kain berenda, berwarna hitam, berpotongan rendah, dan super ketat kini memenuhi tatapanku. Aku tidak bisa berhenti menatap itu semua dengan pandangan memuja. Dia begitu indah, Tuhan, dan ini diberikan untukku, Tuhan. Aku perlahan, membungkuk dan mendekat ke arah dua buah mahakarya Tuhan yang begitu indah pada diri seorang wanita.

Perlahan, kukecup belahan dada itu penuh pemujaan, dan Haejin mengeluarkan suara tercekat. Kuangkat kepalaku, dan kini aku menindihnya, kulit kami kembali bertemu dan mengirimkan gelombang listrik lagi, kami sama-sama terkesiap, dan gemetaran, tak berhenti menatapku.

”Kau sungguh indah, sayang…” kataku serak, tak mampu melukiskan betapa bahagianya aku.

Makhluk indah ini, menyerahkan diri, hanya untukku, ingin hidupnya mencintaiku.

”Kau juga,” lirihnya sambil membelai wajahku.

Kutarik dia bangun, dan kini kami sama-sama berdiri tanpa kaus. Dia menunduk malu, lalu aku memeluknya perlahan, dia balas memelukku sambil meraba perutku, dan aku kembali berusaha mengumpulkan konsentrasiku, kususuri seluruh inci punggung cokelatnya dengan kedua tanganku, sampai akhirnya aku menemukan kait hitam itu dan dengan berani kulepaskan.

Dia kembali mengeluarkan suara tercekat, perlahan, masih dalam pelukanku, dan wajahnya tersembunyi dalam dada bidangku, kedua tanganku naik ke bahunya, dan mulai menurunkan tali dengan renda hitam itu ke sisi tubuhnya, dia mengulurkan tangannya agar tali itu mudah dilepaskan.

Kedua dadanya yang penuh itu, bertemu langsung dengan dadaku saat ini. Aku ingin mengerang, seluruh bagian tubuhku sudah tegang, dan arus bawah itu mulai mengalir deras. Haejin memang selalu bisa membuatku hilang akal. Aku tetap belum berani menatap langsung kedua persembahan Haejin untukku, aku masih merasakannya.

Dan kini, kurasakan tangan Haejin yang mulai bergerak. Membuat ukiran di punggungku dengan lemah lembut, lalu turun ke pinggangku, dia membelai perutku, lalu sedikit menyenggolnya, menyenggol sesuatu yang paling berharga pula dalam hidupku.

Haejin mulai mencari ikat pinggangku dan pelan, dia menarik lepas ikat pinggang itu, dan melepaskan kancing celanaku, dan dengan gerakan pelan, menurunkan risleting celana jins pendekku. Dan celana ini turun hingga sebatas kakiku. Ketegangan sudah mulai mencapai puncak di bawah sana, dan aku mulai mencari kait celana pendek Haejin, masih dalam posisi berpelukan.

Kami belum mau melihat, kami hanya memejamkan mata dan merasakan belahan jiwa kami ada dalam dekapan kami.

Kutemukan kait itu, kulepaskan, dan kini celana soft pink itu telah jatuh ke kakinya. Kami semakin mendekat, dan napas kami sama-sama semakin tercekat merasakan semakin banyaknya kontak fisik yang kami lakukan. Tubuhnya panas, dan aku yakin kalau tubuhku sama panasnya seperti dia. Kami masih menyembunyikan wajah kami, aku pada kepalanya, dan dia dalam dadaku.

Hanya tinggal satu penghalang lagi, dan kami akan sama-sama polos seperti bayi yang baru dilahirkan ke dunia.

Aku tidak tahu apakah begitu kuatnya ikatan kami sampai tangan kami bergerak bersamaan dan yang kami lakukan pun sama. Dia mengelus punggung telanjangku lurus di tulang punggung, sama sepertiku, hingga kini tangan kami sama-sama tiba di pangkal kain terakhir, lapisan terakhir.

Dan setelah sama-sama menelan ludah, kami menarik kain turun pada saat yang bersamaan, hingga kini kain tersebut jatuh ke bawah pada saat yang bersamaan. Dan kedua pusat tubuh kami untuk pertama kalinya, bertegur sapa, melakukan kontak fisik untuk pertama kalinya, kami sama-sama terkesiap.

Aku tersentak, dan meremas bahu Haejin untuk menahan gejolak yang timbul tepat di pusat tubuhku dan Haejin mencengkram pinggangku sama kuatnya.

Lee Donghae, kau tidak boleh menjadi seorang pengecut! Lihat gadismu sekarang, lihat betapa polosnya dan betapa sucinya ia di hadapanmu kini! Aku menguatkan diri dan memejamkan mata melepaskannya dari pelukanku. Mataku masih terpejam, dan dia pun perlahan-lahan melepaskan kedua tangannya dari pinggangku.

Kedua tanganku masih di bahunya, ketika jarak yang terentang diantara kami kurasa cukup, akhirnya aku menguatkan diri untuk membuka kedua mataku. Pertama, hal yang aku lihat adalah kedua mata cokelatnya yang juga tengah menatap mataku, akhirnya kuberanikan diri menatapnya, dan kini dia menatapku.

Sungguh indah ciptaan Tuhan di hadapanku ini. Dia benar-benar milikku. Kulihat dia pun demikian, menatapku penuh, dari ujung rambut hingga ujung kaki, tanpa ada apa pun yang menghalangi.

”Kau sungguh indah,” ucapnya.

”Kau amat indah, amat sangat indah,” lirihku.

”Aku mencintaimu.”

”Begitu pula aku.”

Dia tersenyum dan kembali menatapku. ”Aku milikmu, Hae.”

Aku tersenyum dan perlahan aku mulai mendekat lagi, dan dengan berani kuulurkan tanganku dan menyentuh bukit indah dengan puncak keras yang menantang di sebelah kanan itu, kusentuh dengan pelan.

”Hae!” engahnya sambil meremas kedua lenganku.

Aku terus menatap, dan kedua tanganku bergerak menyentuh kedua dadanya, dan kini dia menggigit bibir menahan pedih dan nikmat pada saat yang bersamaan. Pelan, kudorong ia kembali agar berbaring di atas ranjang putih empuk yang akan menjadi saksi hari paling bersejarah dalam hubungan kami. Kami kembali saling bersinggungan, pusat tubuh kami melakukan kontak, seolah tak sabar akan penyatuan kami.

Aku mengerang dan mulai melakukan kenikmatan pertama tatkala menjadi manusia di dunia, hanya pada dua orang wanita yang paling kucintai di dunia, dulu pada Eomma, dan kini pada dirinya.

Aku menyesap puncak bukit nan indah yang kini tegak mengacung ke atas, sementara tanganku yang satunya membelai di sebelahnya, dan ia mendesah lirih, pasrah, dan mengisak nikmat sambil meremas rambutku. Aku kembali menangkup wajahnya, dan mengecup bibirnya, aku tidak mau dia tersesat sendirian, aku mau dia tahu, kalau kami bersama-sama akan mendaki, dan terbang pada saat yang sama, berdua.

”Poppa!” isaknya sambil mengecupku penuh-penuh.

Aku kembali turun mengecup lehernya, perlahan kukecup seluruh dadanya, dan kini tiba pula di perutnya. Kubuat gerakan memutar di sekitar pusarnya dengan lidahku, dan Haejin menjerit dan sedikit mengangkat tubuhnya sambil terus meremas rambutku.

Kecupanku kembali turun ke bawah. Dan aku menemukan pusat tubuhnya, tempat dimana, pintu anak-anakku akan hadir kelak, dimana aku akan segera mengantarkannya benih, untuk ia jaga dan ia semai.

Anak-anak kami.

Kusentuh pusat tubuhnya dan dia menjerit. ”Hae!”

Kembali kuangkat tubuhku, dia menyentuh seluruh permukaan tubuhku, dan menyusurkan tangannya pada seluruh tubuhku. Kami terus saling mengagumi keindahan tubuh masing-masing. Ia kembali menarik wajahku dan bibir kami kembali bertemu.

Lidah kami saling silang dan memberi kenikmatan, sementara tangan kami sudah tidak bisa diam. Pusat tubuhku semakin berdenyut dan kepalaku mulai pusing. Ini waktunya.

Aku melepaskan diri, dan menatap matanya sambil menarik tubuhnya berputar dia atas tempat tidur, dia tersengal dan membelai wajahku. ”Ini waktunya, Sayang…” aku menelan ludahku.

Dia mengangguk.

Aku memejamkan mataku, dan bersiap, kutekan tubuhnya, mengetuk pusat tubuhnya, dan dia menjerit, aku membuka mataku, dan tanganku mencengkram pinggangnya, mencari-cari.

Kedua matanya menatapku, membelalak, ngeri, dan mengcengkram kedua bahuku dengan kuku panjangnya, mulutnya terbuka memberi erangan panjang ketika kedua pusat tubuh kami sama-sama bertemu.

-END-

152 thoughts on “{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan 4/4 ENDING

  1. Aigoo. . .teuk oppa benar” dah, gangguin anak muda(?) terus. Makanya bawa istrimu aja biar ga kesepian #dibakarangels
    akhirnya masuk(?) ga thu#plakkk
    huwaa. . . Kami menantimu sea n sky. .
    Hahah

  2. wkwkwkwkwkwk,,,wajar aja teukppa buntutin donghae terus…lagian haeppa sabunny pake diabisin sih…wkwkwkkwk

    sumpah,,kocak abis bagian kejar2an pas malem2 itu…
    apalagi pas pesen2 makan malam…emang haeppa polos yah ga tw manfaat makanan yang dipesen…

    wah,,akhrnya mereka ml juga..

  3. ehem ehem itu knapa bw2 kang sora ya #kipas2
    mending sm mihee deh, sm mihee pasti teuk tunduk #plaak
    gak banget gitu ya teuk gangguin orang aja, jewer aja gitu mah kaka galau ._.

    oh itu alasan knp haejin gak mau nikah, krna anggepnya smua laki2 tkutnya sm kaya ayahnya ya? sabar ya😀
    tp hae jgn putus asa dong, buat haejin biar mau nikah sama dirimu bang #tsaah

    aaa… jadinya udh ‘itu’ nih? udh jadi? yeayy yeahh *teriak2 bw pompom*
    alhamdulillah yah sesuatu #plakplaak

    tapi tapi kurang tuh pas ending nya, pas ‘itu’ nya bertmeu #yadong
    tpi ya cukup woah lah menggambarkannya itu lho #cengo #tepuktangan

    yeahh… selamat ya haejin nyahha xD

    • kok komen nya kepotong sih??

      eonni daebak!
      aku suka bahasanyaa..
      soft bgt. jadinya gak terlalu berkesan vulgar.
      aku sukkaaaaa…

      akhirnya haejin jebol juga..
      hhhehe..

      tapitapi eonn,endingnya agak gantung…

      aku suka bagian jinhae kejar2an sama teuki oppa..
      berasa nonton titanic versi jinhae..
      >___<

      eonni fighting!😀

  4. #pasang tampang aneh
    itu..si haejin dah jdi miliknya hae ‘seutuhnya’ atau hae mundur lagi ??

    author ni ah plg bisa bikin readers penasaran xD

    kasian si haejin mohon2 trs ma hae yg sdh tdk bsa menahn hasratnya *?*
    #plak

    nice ff🙂

  5. masih ga ngerti, kan ayah haejin pergi setelah ibunya punya anak bukannya setelah nikah.. harusnya haejin benci punya anak dong ya? bukannya benci pernikahan..

    sedikit kecewa karena mereka akhirnya melakukan itu..
    gimana nasib felidis kalau haejin hamil coba? bukankah sebagai leader harusnya haejin sadar itu? apa jinhae juga ga mikirin gimana perasaan sang ibu.. apa ibu hae ga kecewa? kan beliau sayang banget sama haejin..

    nisya maaf ya, maaf banget.. tulisan nisya bagus banget seperti biasa..
    tapi kalau boleh jujur, saya kecewa karena ekspektasi saya terhadap karakter haejin udah jauh berbeda dari yang dulu (menurut saya).. haejin kan digambarkan sebagai gadis kuat yang berjuang meraih mimpinya jadi penyanyi.. tapi kenapa cuman gara2 cowok jadi lupa sama mimpi yang susah payah dia bangun?

    saya suka cerita ini, tapi saya berharap main castnya bukan felidis haejin dan super junior donghae.. saya tetep mau jinhae tapi bukan pas mereka jadi member gb atau bb.. soalnya kalau pas cerita jinhae sbg artis, saya suka mbayangin di dunia nyata.. dan saya pengen mereka mengalami kehidupan normal seperti pacaran, menikah, punya anak, dst.. lah kalau jinhae yang bener2 fiksi saya suka soalnya ceritanya bisa lebih variatif.. aduh, saya kok jadi belibet sendiri mau ngomong apa -.- intinya saya pengen jinhae sbg artis jadi orang baik2 gitu pokoknya.. semoga aja nisya ngerti bacotan ga jelas saya..

    tapi gimanapun, emang yang kayak gini mungkin banget terjadi.. kehidupan artis mana kita tahu.. mungkin aja hae yang polos lebih yadong daripada hyuk.. dan mungkin ini yang pengen nisya angkat ke dalam ff..

    saya ngomong gini bukan berarti saya mau nisya bikin ff sesuai sama keinginan saya.. itu hak nisya, saya cuman pembaca.. kalau nisya ga suka komen saya, anggap aja ini hasil kuesioner yang hasilnya (mungkin) agak outlier.. semoga nisya ga menyalahartikan komen saya ini.. jujur saya takut kalau kata2 saya ada yang menyinggung trus saya diblok ga bisa baca ff disini lagi.. =(

    • oke aku jawab pertanyaan kamu…
      pertama-tama :

      1. masih ga ngerti, kan ayah haejin pergi setelah ibunya punya anak bukannya setelah nikah.. harusnya haejin benci punya anak dong ya? bukannya benci pernikahan..

      jawabannya : seperti yang nisya tulis di atas, kalau ada yg ambigu, mohon maaf tunggu aja deh tulisan selanjutnya…

      2.gimana nasib felidis kalau haejin hamil coba? bukankah sebagai leader harusnya haejin sadar itu? apa jinhae juga ga mikirin gimana perasaan sang ibu.. apa ibu hae ga kecewa? kan beliau sayang banget sama haejin..

      jawabannya : sekali lagi seperti yang aku tulis di atas, kalau ada yg ambigu, mohon maaf tunggu aja postingan selanjutnya, itu juga kalo kamu masih mau baca ya…

      3. nisya maaf ya, maaf banget.. tulisan nisya bagus banget seperti biasa..
      tapi kalau boleh jujur, saya kecewa karena ekspektasi saya terhadap karakter haejin udah jauh berbeda dari yang dulu (menurut saya).. haejin kan digambarkan sebagai gadis kuat yang berjuang meraih mimpinya jadi penyanyi.. tapi kenapa cuman gara2 cowok jadi lupa sama mimpi yang susah payah dia bangun?

      jawabannya : haejin itu memang karakter yang kompleks chingu, kalau kamu kecewa, aku sebagai author cuma bisa mohon maaf nggak bisa memuaskan seluruh readers… tapi jujur, dan aku sedikit kecewa juga karena akhirnya aku harus bongkar ini disini, bahwa ini adalah rencana aku sejak awal JinHaeXy dibangun ^^

      4.saya suka cerita ini, tapi saya berharap main castnya bukan felidis haejin dan super junior donghae.. saya tetep mau jinhae tapi bukan pas mereka jadi member gb atau bb.. soalnya kalau pas cerita jinhae sbg artis, saya suka mbayangin di dunia nyata.. dan saya pengen mereka mengalami kehidupan normal seperti pacaran, menikah, punya anak, dst.. lah kalau jinhae yang bener2 fiksi saya suka soalnya ceritanya bisa lebih variatif.. aduh, saya kok jadi belibet sendiri mau ngomong apa -.- intinya saya pengen jinhae sbg artis jadi orang baik2 gitu pokoknya.. semoga aja nisya ngerti bacotan ga jelas saya..

      jawabannya : kalau nggak mau Felidis Haejin dan Super Junior Donghae, maka anda salah buka cerita, judulnya aja udah jelas JinHaeXy (Haejin-Donghae Sexy Galaxy), cerita JinHaeXy akan selalu berfokus pada Felidis Haejin dan Super Junior Donghae, kalau yang diluar itu, aku ada ff lain seperti Blurred Sign ^^ trus kalau yang aslinya pengen jadi orang baik-baik, sekali lagi prinsip kita berbeda chingu… mohon maaf, saya menulis dari sudut pandang artis, yang mungkin nggak diketahui aslinya oleh masyarakat, itu aja sih… kebenarannya saya juga gak tau

      5.saya ngomong gini bukan berarti saya mau nisya bikin ff sesuai sama keinginan saya.. itu hak nisya, saya cuman pembaca.. kalau nisya ga suka komen saya, anggap aja ini hasil kuesioner yang hasilnya (mungkin) agak outlier.. semoga nisya ga menyalahartikan komen saya ini.. jujur saya takut kalau kata2 saya ada yang menyinggung trus saya diblok ga bisa baca ff disini lagi.. =(

      jawabannya : ah gwenchana chingu, disini saya melihat jelas kalau nggak semua readers sejalan pikirannya sama saya… tapi jujur aja, kita dah beda prinsip banget, dan mulai dari cerita ini, mungkin akan semakin banyak cerita saya yg gak akan nyambung sama kamu… kalau kamu mau cerita dengan cast bukan Felidis Haejin sebagai artis, bisa baca Blurred Sign, tapi aku jujur lebih akan fokus di JinHaeXy, karena mengikuti berita Donghae diluar sana… dan cerita dengan pemeran selalu baik-baik terus, aku malah jujur nggak pernah sepaham, biar bagaimana pun, seidola-idolanya kita sama mereka, mereka juga pasti punya sisi gelap, itu aja sih yang mau aku tonjolin,

      makasih banyak chingu ^^

  6. Pusing…!! sya nahan napas sdri baca ff nc donghae… uhuhuuu… *nangis di pojokan…

    Andwe!!! Oppa, blok pertahananmu kok runtuh!! aku maunya kamu baik2 aja ga pake ginian,,, padhl ni cm fiksi, nii crtanya super junior lee donghae, jd berasa nyata. mami… oppa andwe!! huhu…

  7. adegan kejar2an wktu mlem it yg plg seru onn.
    bner2 kyk jack n rose dtitanic.
    Pegel2 dh tuh org ber3.
    ngebayangin ekspresi leeteuk oppa wktu donghae udah nyampek kamar, wah bner2 blank kykna leeteuk oppa.
    udh ku kira onn npa haejin g mau nikah m donghae, satu2ny alasan ya cuma krna ayahny haejin.
    g bsa bygin dh gmana haejin kalo donghae bner2 kyk ayahny haejin.
    Udh pasti ff jinhaexy g bkal ada lgi, soalny castny pda menghilang wkwk
    n ffny nice onn, tp bgian bwah aku skip bcany hahaha
    dtunggu sea n skyny onn.

    mengutip dr komen diatas : oh trnyta jaln crita jinhaexy yg spt ini udah drencanain dri awal ya onn.
    Brarti jaln crita udah terstrukur, dri awal ktmu smpai endingny ntar.
    N jaln critany udah pasti g bsa d ubh2kn onn.
    Onnie keren^^.

    • Tp onn aku g pernh nyangka loh kalo donghae bakal nurutin kemauanny haejin.
      Kirain smpai akhr donghae bkal nahan keinginanny haejin smpai haejin mau nikah m dia.
      N akhrnya mreka nikah, media tau n lhirlah sea n sky.
      Wah bner2 berbanding terbalik m perkiraan aku onn.
      Bhkan g pernh terpikir kalo onnie akan nonjolin sisi gelap mereka.
      Aku mlah cman mkirin yg baik2 aja onn spti pernikahan antara idol yg harmonis n diimpikn byk org tp onnie berpikran bner2 luas n jauh bget.
      Salut dh ma onnie, fighting!!

  8. aaaaw berarti yg kali ini sukses kan ya?
    finally!!
    sea and sky~ i’m waiting for you babies ♥ ♥
    kkkk~ jeongmal daebakida!!😄
    suka bgt endingnya saipan
    walopun sempet sebel sama teuk gara2 ganggu terus
    drpd gangguin org mending sini sama saya aja ahjussie *eh?* *dipelototin umin* *dirajam angels*
    wkwkwk
    eommanya hae disini keren abis
    bikin tunangan dadakan di toko org, kyaa~ so sweet >.<

  9. YaTuhan unniiii……
    Aku baca ini nanggunggggggg bgt #plak
    Oiy unn, ini dari sudut pandang Hae ya?
    Buat dari sudut pandang haejin nya juga dong unn, tp dilanjutin… Kkkkkkk
    Jd intinya haejin dsini udah ga prawan ye !! *dicap*
    Hahahahhahaa,,,

    Brarti sekarang tinggal hae nya yg berusaha buat ngeyakinin haejin supaya bisa nikah ntar…. Supaya haejin nya percaya😄

    Oiy, itu pas hae sama haejin nya dikamar itu jamin dah, pasti leeteuk dah kayak org kebakaran jenggot!
    Wkwkwkwwkkw….
    Makanya om, cari pacar #plak

  10. Annyeong eonni^^
    Aku reader baru nih, baru berani komen sekarang😀
    Aku selalu suka ceritanya eonni!! Terus berkarya ya eonn fighting!
    Aku suka ff ini. Akhirnya end juga. Masih ada lanjutannya kah?

  11. satu hal yg baru aku sadari dan telat banget. Saipan tu d jepang yah?? *melongo* #plak
    Hmm…. Oke. I see I see…. Hayo yg belom 17, segini uda cukup!! Jgn pada protes2…!! *usir2 pake sapu lidi*
    Hmm… Apa lagi yah?? Hmm… Pusing ah… Haha

  12. Je… Jebol😮
    Astaga jebolnya di saipan!!
    OmyGod OmyGod!!! *lari keliling kampung*
    akhirnya akhirnya akhirnya jebol😮 astaga.. *masih kaget*
    duh kasian banget sama Teuki ._. berasa kesepian sekali ._.
    BEBEKKKKKK~~

  13. Udh komen belum ya? Wkwkwk suka lupa soalnya, biasa baca mlem2 gt trus ktiduran. *gak ada yg nanya….
    Itu haejin kok jd agresif bnget ya, mana ada yg part pngen punya anak tp gk mau nikah. Huh mana boleh gt haejin, ksian anak km nanti.
    Ok dtunggu story jinhaeXy selanjutnya Nisyaaa…

  14. woooww…
    keren bahasa eon,,,,
    bisa ditangkap dngan jelas, tanpa mengurangi maknanya…
    hehehehe

    teruus akk suka bahsanya sopan, dan kita yang bacanya enakk.. hehehe
    apalagii y,,,

    jadii teukpa ngerusuhin Jinhae gara2 kesepian ceritanya,,, haha kasiian, bsok bwa istrinya oppa, biar gha kesepiian :p
    teruuss2…
    hwaiting bwat haejin, semoga cepet kering luka dihatinya, langgeng trus sama hae oppa…

    keep writing eon..😀

  15. oke saya komen…
    donge donge donge~ akhirnya kau luluh juga nak! haejin emang terlalu menggoda kah?
    dear abang teuk: noh, biar kamu ngejaganya segimana juga mereka tetep berhasil kan bang? wkwk, donge udah ga polos lagiiii… kkkk

  16. kasian banget leeteuk ke jepang tdk membawa pacarnya , jd kerjaannya gangguin donghae sm haejin terus kan , coba bawa pacar pst lbh seru hehehe

  17. d awal ff ngakak sumpah….
    ya ampun itu ahjussi rese betullll…..
    eissstttttt….. *kubur teuki d pasir
    heran sinyal teuki bsa sllu pas gtu..
    sllu pas d saat2 yg pas(?)
    akakakakkkkkkk

    akhirnyaaaaa….. kejadian jg *lol
    ngerti deh knp haejin nolak bgt d ajak nikah..
    kesian jg yah haejin ampe segtux ga prcaya ma laki2..
    donghae~yaa mati kau klo ninggalin haejin!!!!
    hahahahhaaa
    asli ini manis bgt lo ncx.. suka.. kesanx jd ga nc malah…
    halahh komen apa saia ini..
    yah pkox suka deh endingx… ^o^

  18. Leeteuk ganggu aja ya, seru pas kejar2 an di pantai, adegan titanic ver JinHae. Hehe
    oh gitu toh, trnyata JinHae gak mau nikah karna takut seperti ibunya, tapi kan Hae ga bakal gitu *sotoy
    aku suka bahasanya pas mau ml, gimana ya, enggak vulgar aja gitu, ending.a knapa gak diterusin aja *plaak xD
    keren ff.a :))

  19. yaaaaaahhhh akhirnya bisa koment,,, ^^
    kipas2,,,, panas euy,,,,
    bingung mau koment apa,,,
    itu teuki ganggu melulu,,, tp akhirnya jinhae bebas,,, eh itu udah masuk belum sih,,, (?),,,, #plak *reader yadong*
    haejin udag jebol belom ?????
    drpda gak jelas mending nunggu kelanjutan jinhaexy ajah deh…..🙂
    buruan yah nisya *tarik2 BH haejin* xDDDDDD

    salam yadong dr bini chulpaling bohai… ^^

  20. Bagian terakhirnya bikin mupeng parah O___O
    Nisya onn bisa banget ngegambarin detilnya… Hahaha, terus pilihan kata buat sensor bagian-bagian itu juga keren hehe

  21. Widiiih endingnya kurang siip neh. meskipun detail banget. Fiuuuh mupeng berats boleh nggak? hahaha. Masih aja si ahjussi itu ganggu2.. bawa Sora sekalian haaah ada ajaaaaah.. Hae pake jealous lagi sm eomma sendiri. kikikiiik lucu..akhirnya selesai dengan akhir yang bikin semua pada merem melek.. hihi daebak Jinnie!!

  22. telat commentnya -..-

    yak ahjussi !! Hobi bgt sih ya ganggu orang kasmaran, cari pacar makanya wkwkw

    bener2 sangat menggoda haejin, gmn hae kuat klo gitu

    haha sabunnya dihabisin sm hae *LOL

  23. Teuki oppa gangguin org mulu dah yak ckck
    wkwk itu eommanya donghae sama leeteuk kompakan banget dah yak ckck
    oya aku mulai sedikit ngerti kalo dihubungin sama if i’m pregnant itu semoga tebakkan di otakku gak salah heheh😀

  24. Kya… akhir.a, pertahanan hae runtuh, dan haejin bersorak.. *?*😀 … woah aku suka bgt bahasa.a sopan, n lembut bgt, ga tkesan vulgar g2.🙂 hehe… poko.a tulisan onnie makin daebak lah poko.a … yg semangat trus yah onn, nulis.a !! slalu d tunggu lanjutan.a🙂 . eh, mian onn, telat komen ane d sini, baru komen d page aja . . okey deh… slalu d tunggu..🙂

  25. Onnie mianhae. Tapi pokok’a aku ga baca ff ini (Honeymoon in Saipan) ama JinHae2 yang PG-17 kesana ya!!! *bow*
    Why? Bkan krena sok alim atau apa, tapi ga sanggup bayangin Nan Yeobo, Lee Donghae, begitu2an ama HaeJin onnie. Hahaha.. *ngabur*

  26. mwoyaaa~

    unni nakal >///< *blushing

    astaga aku patah hatiii, tapi tak apalah, hae oppa + jinnie unni keliatan cocok satu sama lain kok,😀

    unni jangan galau lagi dong, masa ceritanya udah bahagia(?) begini, terus galau lagi.. tapi galau juga gapapa sih, aku juga seneng bacanya *lho?

    oke, aku ubek2 yang lain lagi ah, bahkan yang part sebelum yg ini aku belom baca, muahahaha *reader abal #plak

  27. huuwwaaa…baru dapat part ini ><

    akhirnya Hae tau alasan Haejin gg mao nikah, adn finally they do 'it'
    penggambarannya matap banget, romantis, tidak terburu-buru
    LIKE SO MUCH

  28. Omaga omaga omaga jd ini masuk apa engga intinya??? Itu ajah sih pertanyaan gw????
    Wakwkwkwkwkwkwkwkwk

    Masuk ga masuk cara maennya si ikan lembut coooonnnkkk,,, mupeng guweeeeeehhh,,,
    Masyaallaaaaaahhh,,, lembut tp pasti bgt satu2 dibuka sama dia, pake ngerasaan buah dada tnpa liat dlu!!! Ah otak gw rusak ini,,,,
    Ikaaaaaaaaaannnn gw jg mauuuuuuuuuu…

  29. nisya onn!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    astaga ff ini… *speechless* hahaha
    akhirnya keinginan haejin tercapai juga😄
    longlast deh yah mwuahahaha

  30. Eh ahjussi gila dasar -_- rasanya pengen banget gue lemparin bee eon kesana biar mengalihkan perhatiannya teuk.. donghae mau jadi anak nakal dikit aja diawasin sampe segitunya.. dasar rese -_-
    Kasian haejin masa lalunyaaaa T_T
    Eh itu itu maksudnya makanan panas semua apaan yah momma? Aku ga ngerti #Plakk
    Ahh itu adengan di pantai itu engaph sangat.. dan adegan di kamar itu hadeeeehh itu lebih engaaph lagi..wkwk~ akhirnya jebol juga nih yee.. okeh sekian *efek engaph*

  31. Aduh -_- si teukppa gangguin mulu nih. Aku pengen nangis pas baca bagian haejin cerita tentang keluarganya😥 ciee …. abang donghae jadi juga kan? Tapi endnya kenapa begitu .-. Tapi kerenlah thor !

  32. Yessss .. Fuih finally .. They doing that …
    Wah .. Baca nya dr awal – akhir … Tegang .. Was Was .. Takut lg seru2 nya si ahjussi muncul …tapiiii
    Save … Wkwkk .. Hae jin .. Pst happy tuh hehe ..
    DAEBAK… Deh

  33. Finally! They did it! *elap keringat*
    Hot banget dah ah.. Tp bahasa yg digunakan bnr2 halus😀
    Eh, tumben si om ga muncul ㅋㅋㅋ

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s