{JinHaeXy} If I’m Pregnant ~Part 1~ NC17

If I’m Pregnant….

RATE : NC-17

Author : Aveeka Mauri

Cast :

Lee Donghae

Lee Haejin

Pesanku :

Hati2 bacanya karena ini pembicaraan tentang ilmu biologi dan anak IPS semoga bisa tetep mencerna dan dapat menghayati #Plaaak…

Ide dadakan gara2 makan siang ma temen, tiba2 nyeletuk dia mw punya anak… Hahahaha, pas jalan pulang otak dah langsung keluar ide tuk ni Couple…. *ketauan bnr gw author nista*

Eniwe baswe, Klo ga suka jangan baca *pasti baca eon, kan eon ga tau.. soalnya kita kan SR tetap… Grrrr* dan ni FICTION, TIDAK REALITA, INI MASALAH IDE DAN ISI KEPALA EON YANG BEJAD, BUKAN NIATAN TUK MENJATUHKAN ATAU MEMBUAT SESEORANG MENJADI RENDAH HANYA KARENA CERITA INI… *capslok keinjek kkoming*

Py Reading…. Jangan Lupa Mandi yack….

Spekulasi Komen :

“Gantung…. Bikin Sekuel… “ *aku kan author kejam jd seneng klo cast susah*

“Kentaaaang Nyaaaak…..” *Aish, yg kentang bikin nagih tau.. wkwkwkwk*

RCL… RCL… RCL…. *Bawa spanduk ma Bada, Kkoming, Choco, Heebum Didepan gerbang JinHaeXy*

From Nisya : Ini bakalan ada benang merahnya sama JinHaeXy Honeymoon in Saipan ^^ Jadi mohon di baca dan di perhatikan baik-baik ya…

~*0*^-^b_d~

 

“Aku ingin memiliki bayi… Kembar, bayi kembar…..”

Bruuuuuurrrrrr………

Aish, sial….. Harus kusembur air dalam mulutku karena ucapannya. Dormnya sepi karena dua manusia kecil itu sedang dibawa pergi Kyuhyun dan Sungmin juga Wookie karenanya kini hanya tinggal kami berdua. “Sayang, bagaimana bisa memiliki bayi? Kita belum menikah…” Selorohku mulai mengendalikan diri.

Ia melangkah masuk kedalam kamarnya dan aku mengikuti, didepan lemari pakaian ia menatap isinya kemudian mengambil baju berwarna pink dan kuhafal itu adalah tanktop  kesayangannya. “Siapa yang bilang mau menikah? Aku kan hanya bilang ingin memiliki bayi, lagipula kau tau aku tidak mau menikah…” Jawabnya santai sambil membuka kaus sabrina ditubuhnya.

Demi Tuhan gadis ini…

“Lalu… Bagaimana bisa memiliki bayi kalau tidak menikah dulu?” Tanyaku dimana leherku mulai tercekat melihat liuk tubuhnya yang menarik keatas kaus yang dikenakannya.

Ia santai membuka atasan itu tanpa memperdulikanku, baiklah aku memang pernah menyentuh area itu tapi belum sempurna melihatnya dan kini ia hanya dengan penutup dada lalu melempar kaos sabrinanya keatas tempat tidur lalu… Tunggu dulu, oke dia memunggungiku, tapi tangannya pelan meraba punggungnya. Jangan bilang ia mencari kait itu lalu melepaskannya dihadapanku???‼!

“Ya melakukan ‘hubungan’ itu… Ada yang dimuntahkan seorang laki-laki dalam tubuhku dan kemudian akan berkembang… Tapi aku ingin anak kembar…” Ujarnya sambil melepaskan dengan mudah pengait itu dan masih juga memunggungiku.

Aku menelan ludah bulat-bulat dan mulai merasakan ada desiran hangat mengalir ditubuhku dan kini pusat sensitifku mulai berdenyut. Dugaanku benar, dia naked sekarang…

“Tapi jangan seperti itu Sayang… Kasihan bayi itu…” Susah payah kukeluarkan kata – kata, pemandangan didepan terlalu membuat tenggorokanku sakit karena terus tertelan tanpa sempat membasahi rongga mulutku.

Aku hanya menatap punggung bersih yang sering kuraba itu, dan itu sudah membuatku berulangkali harus menelan ludah dan mengontrol diri. Aku memang pernah menyentuh bukit sensitive itu namun tetap dalam kurungan rajutan kain berenda. Sedangkan kini tanpa penutup! Setidaknya itu membuatku penasaran, gila aku jadi gila bila berdekatan dengannya. Bagian belakang saja aku sudah seperti ini bagaimana kalau ia berbalik kemudian menghadapku??? Jangan lakukan Haejin, jadilah gadisku yang baik untuk kali ini. Ia mulai mengenakan tanktopnya tanpa pembungkus dada. Uh, dia selalu memancing dan berdandan seenaknya. Untunglah hanya aku yang melihat, awas kalau sampai berbuat seperti ini depan orang lain, akan kubutakan mata laki-laki itu.

“Inseminasi… Dalam waktu dekat aku akan kebeberapa rumah sakit untuk berkonsultasi dan mencari sperma terbaik dimana kuat mengandung gen untuk anak kembar…” Tidak berdosa ia berkata itu. Hei, setidaknya aku bisa membusungkan dada dan menyombongkan diri kalau aku memiliki sperma terbaik untuknya. Aish! Apa yang kupikirkan membahas sperma setelah melihatnya naked? Kuatkan imanku untuk tidak melahapnya hidup-hidup.

“Tidak bisa! Tidak boleh, tidak akan kuizinkan! Aku tidak setuju, sama sekali tidak akan kuizinkan! Kalau perlu aku akan mengurung diri bersamamu sampai kau tidak akan pergi melakukan inseminasi itu!!!” Ucapku lantang dan meradang. Ia membalikkan tubuhnya menatapku lalu melangkah mendekatiku. Harus kuapakan agar tegangan ini dapat kuatasi, harus berbuat apa deburan ombak atas darahku setelah melihatnya ‘terbuka’ tadi hingga membuat hormon-hormonku kini dalam kesiapan yang benar-benar siap untuk melahapnya hidup–hidup.

“Kalau kau melarang… memangnya kau mau memberikan milikmu untuk berkembang didalam tubuhku?” Dadaku bergemuruh saat telapak tangannya melekat didadaku dimana aku yakin ia pasti bisa merasakan gemuruh itu dan makin tidak terkontrol saat jari lentiknya mulai membuka satu persatu kancing kemejaku hingga benar–benar terbuka.

“Sayang… Jangan memancing seperti ini…” Lirihku dengan tarikan nafas yang tidak teratur. Bagaimana bisa teratur bila balutan tanktop pink itu ada sesuatu yang menonjol walau kecil dan belahan itu terlihat sempurna dari atas sini karena tinggi tubuhnya yang sebatas telingaku. Kuatkan imanku karena bukan hanya belahan juga tonjolan mungil itu, tapi sumbulan gundukan kenyal itu begitu bulat bersih, apa rasanya bila kusentuh langsung tanpa helai benang. Argh… Sial, kenapa aku jadi seperti Eunhyuk harus berpikiran liar seperti ini???‼!

“Jin-ah…” Desahku saat bibirnya mendarat sempurna didadaku dan jari–jarinya bagai kuas mengusap guratan kotak perutku.

Ada yang salah, ini salah…

Jelas kurasa ini salah skenario, penulis salah membuat alur cerita. Mengapa aku yang terpojok dan merapat pada dinding kamarnya? Mengapa aku yang begitu gugup dimana dada ini menjadi jajahannya? Mengapa nafasku yang tersengal menahan semua godaan ini? Ini benar – benar salah cerita! Mengapa dia yang membuka kemejaku semantara aku yang pasrah?

“Jadi…. Aku boleh meminta sedikit darimu kan?” Bisiknya mencium leherku dan cuping telinga lalu refleks desahku keluar dari bibirku.

“Sayang… Sayaaang, aah… Tunggu dulu…” Aku menahan pundaknya menjaga jarak agar tubuhku tidak jadi bulan–bulanannya, walau tahap pembukaan tapi ini sudah terlalu menggoda. Tatapannya membuatku membuatku bergidik kaku dan sedikit bersalah karena tatapan itu seolah terkandung marah karena aku mengganggu aktifitasnya atas diriku.

“Maaf… Tidak bisa, ini tidak boleh… Aku takut kita lepas kendali…”

Bruug!

Ia mendorong kuat dadaku hingga membentur keras kedinding. “Pergilah! Disini sepi, kuyakin terlalu banyak setan yang akan menggugah imanmu!” ia membanting tubuhnya keatas ranjang membuat rambutnya terserak dan gundukan itu makin terlihat dari balik kaosnya.

“Bukan begitu… Dengar dulu…” Aku melemah menghampirinya, ini bukan pertama kalinya aku merusak moodnya, ini bukan pertama kalinya aku membuatnya kecewa atas godaannya yang tidak berbalas.

“Kubilang pergi! Aku mau istirahat… Moodku sedang tidak bagus mulai beberapa detik ini, aku takut akan memutilasi orang!” Ia memasang wajah angkuh sambil meremas kasar boneka gurita merah mudanya mengungkapkan kesal.

“Ungkapkan kesalmu padaku… Jangan pada bonekamu…” Dan benar saja, ia melakukannya. Dengan sekuat tenaga melepar bonekanya kearahku dan mengenai dadaku keras. Dia kemudian menelungkup dan ada guncangan dibadannya, menangis. “Sayang, jangan seperti ini… Jangan menangis, maafkan aku… Sayang, kumohon berhenti menangis…” bisikku duduk disampingnya mengusap rambutnya dan mencoba membalikkan tubuhnya agar menatapku dan ia menepis semuanya.

Ia bangkit dan mengusap kasar cairan bening diwajahnya, “Kubilang pergi! Jangan datang lagi kemari, aku tidak ingin melihatmu! Cepat pergi!!!” Ia meradang dan melempar segala benda yang terjangkau tangannya kearahku, aku diam.

“Aku tidak akan pergi… Sayang, jangan seperti ini… Maaf, aku benar – benar minta maaf…”

“Kau terlalu sering membuatku bagai perempuan liar Hae! Membuatku seperti perempuan yang haus belaian laki–laki, puas sekarang?? Sudah puas menyiksaku?!”

“Sayang…”

“Jangan panggil lagi aku dengan kata–kata itu!!!” Aku sontak terkejut dengan jeritannya. Mungkin bukan pertama kalinya ia marah karena aku bagai mengabaikan keinginannya, tapi bentakan kali ini… Ia benar – benar kecewa padaku.

“Sayang itu adalah ungkapa rasa Hae, tapi kau tidak punya rasa itu dan jangan pernah memanggilku dengan kata itu… Namaku Lee Haejin, panggil aku dengan Haejin‼!” Kembali cairan bening mengalir dari sudut matanya. Dadaku bagai ditikam belati tajam yang baru saja keluar dari api karena itu begitu nyeri dan panas menusuk. Dia tidak lagi menginginkan panggilan itu.

“Kita tidak bisa melakukan itu! Kalau kau mau menikah denganku malam ini juga, aku akan mewujudkan semua keinginanmu! Menggaulimu bahkan memberimu bayi, anak kita…” Perlahan kudekati dirinya yang duduk disudut menekuk kaki berurai airmata dengan badan terguncang karena marah dan kecewa juga kesedihan mendalam.

“Jangan mendekat dan jangan sentuh aku!!!” Desisnya penuh amarah tanpa menatapku saat tanganku ingin menyentuhnya. Aku berjongkok tepat dihadapannya, aku hanya diam tanpa bisa berbuat apa–apa atas kekecewaan dan penolakan yang kulakukan padanya.

“Aku akan mendapatkan bayiku sendiri tanpa bantuanmu, pria suci!!!”

Deg!

Ada tonjokkan besar mengarah kedadaku, seolah menembus masuk mencari jantungku lalu meremasnya hingga hancur. Airmataku kini mengalir untuknya, terlalu meyesakkan, hanya karena sebuah penolakan atas pergumulan terbungkus nafsu birahi kini dia benar–benar membenciku.

“Apa hanya sebatas hubungan badan yang kau inginkan atas hubungan kita ini Jin-ah…? Apa hanya sebatas itu…? Apa tidak ada ketulusan dan kemurnian atas cinta kita…? Aku bersedia menikahimu! Berulangkali kuminta dirimu untuk menikah denganku, tapi kau tidak pernah mau…” Suaraku kini serak karena tangis ini, namun sekuat tenaga kutahan dan mencoba membuatnya mengerti.

“Kau tau alasanku tidak ingin terikat status pernikahan!” Desisnya menatap nanar padaku.

“Tapi aku bukan ayahmu!!! Aku laki-laki yang mencintaimu Haejin-ssi… Jangan menghukum semua laki-laki didunia ini sama seperti ayahmu!” balasku.

“Aku bukan Tuhan yang harus menghukum seseorang! Aku hanya enggan terikat dengan status pernikahan, jadi tenanglah jangan gusar dan memikirkan nasibku… Aku hanya menginginkan bayi untuk saat ini, aku hanya ingin merasakan ada yang tumbuh dalam tubuhku itu saja… Dan aku akan melakukannya tanpa bantuanmu Lee Donghae!”

“Aku tidak akan pernah mengizinkannya!”

“Aaah, pervert! Kau ingin menguasaiku, tunjukkan padaku dengan apa caramu menguasaiku… Katakan Donghae-ssi… Hanya menawarkan cinta dan pernikahan?! Dan dengan bertepuk tangan kau menertawaiku karena aku begitu bernafsu padamu?!” Kini aku duduk menutup telingaku agar tidak terbawa suasana dalam amarah.

“Kita menjalin ini sudah terlalu lama Haejin… Tidakkah harus hancur hanya karena keinginanmu…?” lirihku putus asa.

“Mwo?! Keinginanku?! Oke, sekarang kau menciptakan karakter seolah aku perempuan murahan yang datang melenggok padamu dengan menawarkan tubuhku secara gratis? Begitukah pikiranmu selama ini Tuan Lee… Hohoho, daebak! Aku tidak mengira kalau aku begitu rendah dihadapanmu…” Dia mulai bangkit dan terus merancau, baiklah kata–kataku memang terlalu melecehkannya.

“Bukan begitu Sayang… Bukan begitu maksudku… Dengar dulu, Sayang… Maaf, aku tidak pernah bermaksud mengucapkan itu…” Kucoba menyentuhnya walau semua ditepisnya.

“Cukup! Aku tidak mau dengar… Kau setuju atau tidak, aku akan tetap mencari benih agar aku memiliki bayi, entah harus bercinta dengan puluhan laki–lakipun tidak masalah, setidaknya dia mengerti keinginanku!” Ia berdiri dan terus menjauh dariku bahkan tanganku yang berhasil merangkul pinggangnyapun ditepisnya.

“Lee Haejin! Sayang… Jangan berbuat nekat seperti itu! HAEJIN!” Kini tubuh mungilnya dalam pelukanku sementara ia berontak, aku makin merapatkan pelukanku. Ukuran tubuhnya memang terlihat kecil namun amarah yang merasuk di dalam dirinya membuatnya memiliki tenaga ekstra untuk berontak dari pelukanku. Aku menyudutkannya didinding dan benar–benar membuatnya tidak bisa berpaling dariku.

“Aku benci selalu kau tolak Hae… Apa begitu jijik padaku…?” Suaranya mengerang mengungkapnya semua dengan membuka sedikit mulutnya.

“Bukan begitu, Sayang… Aku mengerti, aku juga mau… Hanya setidaknya dengan suatu ikatan resmi itu membuat kita benar–benar saling memiliki dan memang ditakdirkan bersama… Aku laki – laki normal…” Aku menyentuh wajahnya dan ia kini diam walau buru nafasnya masih terasa karena amarahnya meledak.

“Aku tetap hilang konsentrasi saat kau berdandan begitu sexy dan menggoda, aku ingin melahapmu hidup-hidup seperti saat tadi dengan santainya kau beraksi naked dihadapanku… Aku normal! Aku juga merasakan kebutuhan itu, aku juga menginginkannya, cuma tidak seperti ini… Aku ingin memilikimu utuh bukan hanya sekedar karena nafsu atau penasaran saja… Aku menginginkanmu Lee Haejin…” Lirihku dimana kini kedua kening kami bersentuhan dan ia mulai sedikit tenang saat kedua tanganku merengkuh wajahnya. Ia memejamkan mata, begitu pula aku.

“Kau membuatku seperti pecundang karena penolakan ini…” isaknya.

“Sayang, aku sama sekali tidak berpikir seperti itu… Aku mencintaimu, wajar kalau terkadang kita terbawa suasana…”

“Kalau kau normal, buktikan!” Gadis ini benar–benar membuatku gila, semua ucapan yang keluar dari mulutku dengan cepat ia minta pembuktiannya.

“Tidak bisa Sayang… Jangan lagi memancingku, aku benar–benar tidak bisa… Ini belum saatnya…” Lirihku mencoba mengatur nafas dan emosi agar tidak terpancing olehnya.

Ia memejamkan mata saat mengelus pipinya ditelapak tangan kananku seperti seekor kucing yang manja dan butuh belaian. “Jangan ditahan bila kau menginginkannya Hae… Lakukan, ungkapkan semua yang menari dipikiranmu… Buktikan dan tunjukkan padaku…” Suara berbisik lembut penuh iba, ia benar–benar mengeluarkan semua jurusnya untuk menggodaku.

Tangan kanannya meraih tangan kiriku lalu meletakkannya dipuncak daging kenyal itu dan aku benar–benar bisa merasakan sesuatu yang menojol dan tercetak sempurna tadi. Susah payah kunetralisir semuanya, kenapa kini malah dia mengodaku kembali dan membangkitkan segala sesuatu dalam tubuhku yang tadinya sudah terkulai lemas.

“Apa tidak penasaran merasakan bagaimana bentuk ini bila tanpa helai benang, Hae?” tanyanya lirih dan penuh damba.

Sial! Bagaimana bisa ia membaca pikiranku tadi dimana ia berganti pakaian?

“Sayang… Kumohon…” Bisikku dimana liurku mulai bergerak naik turun dibatang tenggorokanku. Ia membimbing tanganku untuk memberi sentuhan dipuncak bukitnya.

“Apa tidak merasakannya Hae…? Aku sudah merasakan, kalau tanganku sedikit bergetar dan jantungmu begitu cepat berdetak… Tidakkah ada sesuatu yang berdenyut…?” tanyanya lagi, dengan segala daya tarik sensual yang ia punya.

Tidak perlu ditanya, syarafku masih kuat merespon dan menangkap sinyal atas godaannya, tidak hanya berdenyut, ketegangan juga sudah terjadi ditubuhku. Ia menggeserkan tanganku naik kepundaknya dan dengan santai mengusap telapak tanganku pada tali tanktopnya hingga turun. Kini sengaja ia membuat desah dan membuai dirinya dengan mengusapkan kedua tanganku atas leher jenjang dan turun kedada. Semula ia hanya menatapku lekat kini bibirnya mulai menyentuh permukaan bibirku, dimana aku menahan untuk tidak merespon. Namun lidahnya sempurna membasahi bibirku dan sebuah gigitan kecil diberikannya pada bibir bawahku, dan tangan yang tadinya hanya menempel pada dadanya kini sudah menyentuh tanpa penghalang atas payudaranya. Aku normal dan aku pun terpancing! Kini aku mulai terbawa suasana dan sudah tidak lagi dalam bimbingan tangannya namun tanganku yang bergerak dengan sendirinya memijat dan meremas payudaranya.

“Akh… Hae… Jangan dihentikan…” pintanya dengan lirih yang mengundang dimana mulutnya tepat ditelingaku. Dia mencium dan menjilati bagian telingaku juga leher, dan kurasa ada hisapan dan gigitan kecil dileherku.

“Mengapa selalu memancing dan menggodaku seperti ini…?” Bisikku dengan nafas tersengal saat menciumi lehernya.

“Aku tau sebenarnya kau mau… Tapi sok munafik menolaknya, iya kan?” Racaunya diiringi desah juga remasan dirambutku. Bibirku menjelajahi leher dan dadanya, dimana kini kukunya mulai terasa menancap dipunggungku yang menahan semua hasrat ini.

Tanganku meraih kepalanya agar menghadap padaku dan langsung kulumat bibirnya, dia meladeni ya dia meladeni permainan bibirku. Tanganku kini memegang pinggangnya dimana lumatan dan kecupanku masih diladeninya dengan tangan yang meraba dan mengusap dada juga bagian perutku. Kini aku merasakan sesuatu, sesuatu yang mulai menjadi penyusup di celana jeansku. Jelas tangannya kurasa mulai mengusap dan meraba pelvisku, aku melepaskan ciuman dan menatapnya sementara ia makin memasukkan tangannya kedalam jeansku.

“Sekali saja saat kita hanya berdua kau bersikap menjadi gadis baik Sayang… Tidak menggodaku seperti ini, keluarkan tanganmu!” Ia hanya diam membalas tatapanku, kukira tangannya akan keluar namun justru makin berjalan melingkari pinggangku hingga sampai dibagian depan.

Gadis ini, bagaimana caraku untuk meredam keinginannya, ia menuruti keinginanku mengeluarkan tangannya tapi selanjutnya ia malah membuka ikat pinggang dan kancing celana jeansku. Aku masih menatapnya dan tanganku refleks menggenggam tangannya. “Jangan nakal Sayang…” Cegahku namun ia memasang wajah aegyo dan memelas.

“Aku mauuuu…. Reaksi tubuhmu juga menginginkannya Poppa….” Rengeknya manja.

 “Ini akan berbahaya nantinya…” erangku.

“Kalau memang tidak mau kenapa meladeniku…?” Kembali ia merajuk dengan menggembungkan pipinya. “Poppa… Aku mau…” rengeknya lagi.

“Aku juga Sayang, tapi kumohon tidak sekarang…”

“Kenapa jahat padaku, apa kau tidak mencintaiku? Apa sudah bosan padaku atau jijik padaku?“ Rengeknya manja dengan wajah memohon dan tangannya tetap memegang ujung celana jeansku dimana reslitingnya mulai terbuka.

“Kenapa menjadi ragu hanya karena keinginan seperti ini? Aku tulus mencintaimu, tapi tidak diwujudkan dengan cara ini Sayang…” Bisikku melemah mencoba mendapatkan pengertian darinya.

“Kau selalu senang kalau aku menjadi pecundang kan? Begitu mengiba mengharapkan tubuhmu tapi tidak kudapatkan!”

“Bukan begitu Sayang… Aku tidak bisa, aku tidak munafik kalau aku juga menginginkannya, kalau aku tergoda, tapi belum saatnya… Kumohon, hari ini jadi gadis yang baik jangan menggodaku seperti ini!”

“Apa kau memang tidak bisa melakukannya atau tidak tau caranya? Akh, Poppa… Aku mau sekarang… Aku mau punya bayi darimu… Ya, lakukan padaku ya? Poppa, Ya… Kalau Poppa belum pernah, kita pelajari bersama, aku juga belum pernah kok, ya Poppa ya…”

Demi Tuhan rengekkannya melebihi anak kecil minta dibelikan permen sementara dadaku bagai ada badai bergemuruh tidak karuan. Dadaku dijamah tangannya itu sudah biasa, walau aku masih belum dapat menemukan cara untuk tidak terpancing saat ia mengirimkan sinyal hasrat mengusap dan menciumi permukaan tubuhku. Tapi sekarang, dari pelvis hingga kini ada ditahap pembuka bagian yang memang harus kusembunyikan, dan ia terus merengek memintaku melakukannya, sungguh aku tidak sanggup menahan. Pikiranku sudah jelas–jelas mengirimkan pesan agar aku melakukan ini padanya. “Ough… Sayang, jangan…. Haejin, jebal…” Kapan genggamanku lepas hingga ia bisa menyentuh bagian itu.

“Jangan bohong Poppa… Poppa juga mau kan, dia sudah mengeras! Tunjukkan padaku Poppa… Kenalkan aku padanya, Poppa aku akan menerimanya dengan baik sebagai tamu ditubuhku… Poppa, aku mau… Poppa juga mau kan?!” Aku menggigit bibir bawah menahan sentuhannya dibagian sana. Tanganku sudah ada dipunggungnya dan mulai mengusap disana.

“Lepaskan Sayang… Jangan buat aku melakukan hal yang belum saatnya kulakukan padamu…” Bisikku menutup mata melekatkan kening dan ujung hidungku padanya.

“Aku mau! Reaksi tubuhmu juga menginginkannya… Jangan ditahan Poppa! Kita lakukan sekarang ya…” Ia berbisik sambil menyentuh bibirku dan mengecup berulang kali. Tangannya terus mengusap dari luar jeans, dan itu membuat ketegangan teramat sangat ditubuhku. Bagaimana menghentikan gadis in, Bagaimana menolak semua sinyal yang begitu kuat darinya, bagaimana membuat ‘dia’ tidak merespon usapan tangannya…

Sial, dia mulai masuk kedalam jeans dan menyentuh diluar boxerku!

Kulumat habis bibirnya mendorong lidahku kedalam mulutnya, membasahi bibirnya, menggigit dan kembali melumat lalu mencium juga menghisap lidahnya masuk kedalam mulutku. Kini reaksinya makin gila, bukan lagi usapan tapi juga remasan dan resliting jeansku sudah turun terbuka.

“Hae, tolong lakukan untukku… Ini sudah mengeras… Maukan memberikannya untukku?” Ia terus merayu sambil mengusap dan kini jeans yang kukenakan sudah berada dimata kakiku. Dia terlalu lihai sampai aku tidak menyadarinya kalau kini aku tinggal menggunakan boxer. Lembut kuusap lengannya sambil mencetak senyum penuh arti walau sesungguhnya aku sedang menahan pergolakan larva dibagian bawahku yang dalam status siaga.

“Sayang…” Tercekat benar – benar tercekat tenggorokanku menahan semuanya. “Jangan yah…. Akh, sudah berkenalannya… To… Pfuh, tolong dilepas Sayang… Sekarang belum waktunya…” Bisikku mencoba mencari wajahnya yang tertunduk dimana tetap memainkan jari – jarinya diluar boxerku yang makin membuat denyut didalam sana.

“Buka ya..? Aku yang bukain kalau kamu malu…” ujarnya keras kepala.

Ya ampun, apa dia tidak mengerti ucapanku? Jujur kuakui kalau aku sudah tidak tahan dengan semua ini. Ketegangan sudah meradang disekujur tubuhku yang masih berusaha untuk memberi pengertian padanya. Perlahan, kedua ibu jarinya disangkutkan sengaja kedalam boxerku sementara jari–jari lain masih berada diluar boxer. Refleks kujambak rambutnya dan membuatnya mendangak lalu kulumat habis bibir dan lidahnya dalam satu hisapan. Otot pipiku kini mengeras namun terus bergerak bebas mencium dan melumatnya untuk beberapa saat ini tanpa melepaskannya sedikitpun.

Ia nyaris kewalahan dan hampir kehabisan nafas kerenanya, nafasnya tersengal karena oksigen mulai berkurang, ia menatapku penuh arti. “Mau balas dendam karena tarian jariku atau benar–benar rela ingin melayaniku?” Bisiknya dengan dada yang turun naik macam habis berlari bertanya tentang maksud lumatanku padanya.

“Aku hanya akan memberikan yang terbaik untuk kita… Semoga apa yang kau mau bisa kuwujudkan…” Aura evil kini keluar dari tubuhku dan kembali menyesap bibirnya kemudian melepaskannya dan tanganku mencari ujung tanktopnya lalu kugerakkan keatas dan melemparnya entah kemana.

Indah!

Ternyata rasa untuk meraba dan melihat langsung itu amat berbeda! Jauh berbeda. Buah itu tergantung indah dihadapanku, buah yang selama ini hanya kuraba saat masih dikemas sempurna olehnya, kini terpampang begitu jelas dan begitu terbuka sedang menatapku angkuh, menantikan sebuah penghargaan dariku atas ciptaanNya diatas tubuh gadis yang kucintai.

Ia mundur menjauh dariku dan aku kini maju setelah meninggalkan celana jeans yang tadi menyangkut dikakiku. Ia terus mundur dengan kedua tangannya menutupi kedua dadanya namun ia membuat wajah erotis menggoda dengan menggigit bibir bawahnya. Kini jarakku kian dekat dan tanganku pun sudah bisa menjangkaunya, menarik tangan yang menutupi kenikmatan pandangan mataku.

Kuangkat kedua tangannya agar diatas kepala. Ya Tuhan, ini terlalu menggoda bahkan denyut dibagian bawah tubuhku kian terasa dan seolah mulai berontak mengharapkan kencan pertama dengan gadisku ini.

Tangannya masih diatas kepala. Kini ia bagai sebuah karya seni yang memang untuk dinikmati. Tanganku menyusuri sisi tubuhnya perlahan, mulai dari mengusap kedua tangannya yang bertaut diatas kepala lalu turun ke bagian dada dan ibu jariku memainkan kedua aerola tersebut, dan itu membuatnya mendesah dan makin menggigit bibir bawahnya.

Tanganku akhirnya penuh menutup dadanya lalu kembali menggerayanginya turun hingga keperut. Ada sedikit geliat dari tubuhnya saat aku duduk bertopang lutut lalu menciumi perutnya, dan tangannya langsung menjambak rambutku. Bibirku turus menghujani ciuman dipermukaan kulitnya juga membasahi pusarnya, ia makin mendesah dan kakinya bagai menginjak bara tidak berpijak sempurna dilantai kamarnya.

Ini dalam suhu berapa ia mengatur temperatur AC? Mengapa begitu panas?

Dari bawah aku lekat menatapnya yang tertunduk dengan geraian rambut berantakan. Ia melumas bibirnya dan lidahnya dan tersenyum nakal ketika jari–jariku membuka pengait hotpantnya. Aku membebaskan tanganku dari tubuhnya saat tangannya membantuku menurunkan hotpant dengan sedikit menggoyangkan pinggulnya. Aku hilang akal dan mulai mengabaikan penolakanku…

Gemas kudorong tubuhnya keatas tempat tidur dan membiarkan ia sebagai alas tubuhku dimana kembali kucium bibirnya yang mendapat balasan setimpal darinya. Tangannya bergayut manja dileherku dan kaki kanannya mulai menggesek dipahaku. Dia dalam kurungan birahi yang sudah tidak bisa dikendalikannya. Ia melemparkan kepalanya kekanan dan kekiri membiarkanku mengeksplor leher putih dan membasahi telinganya. Dadanya begitu lekat pada dadaku dan aktifitasnya menekan kepala membuat dada itu terangkat dan menekan didadaku.

Biar ia terus berhasrat, mendesah mengiba memintaku untuk menyatukan tubuh kami, tapi wajah melasnya, bisikan memohon dan mimi wajahnya saat menahan pergerakan libido yang terus mendaki, justru membuatku menikmatinya dan mempermainkannya. Balas dendam mungkin, tapi jujur ia begitu bergairah dan justru terlihat semakin menggoda dalam naungan kekuasaanku, dan itu pula yang membuatku bermain dalam tempo berbentuk kurva, kadang mendaki kadang menurun. Dalam pikiranku saat ini adalah menghilangkan rasa penasaranku dan mengambil tawarannya yang tadi menyuruhku untuk merasakan buah itu langsung tanpa pembungkus.

Banyak hisapan yang kubuat dileher dan dadanya untuk mencapai targetku pada dadanya. Dan kini dengan rakusnya aku melumat salah satu buah itu bagai seorang musafir yang begitu kehausan menghisapnya hingga erangan dan remasannya dipundak dan jambakan dirambut mengiringi penjelahanku. Kini pindah ke sebelah satunya lagi dan kurasakan dadanya mengeras, ia benar–benar terangsang saat ini, kakinya kini sudah naik dan berada dipinggangku, aku mengusap pahanya. Ini gila benar–benar gila, ini pergumulan terliar yang kami lakukan selama kami menjadi kekasih.

Flashback On,

“Kalian hanya bercumbu?! Tanpa aktifitas yang lain?!” Tanya Hyukjae padaku saat kami berada dikamar Jongwoon Hyung.

“Hyuk, jangan dibahas… Lihat, wajah Mokpo mulai pucat… Tapi entah pucat karena malu karena sering ketahuan Jungsoo Hyung atau pucat karena…” Jongwoon Hyung tidak melanjutkan namun mataku sudah tajam melihat padanya yang sibuk merapikan koleksi dvdnya.

“Pasti pucat karena tak tersalurkan Hyung! Hahahaha…” Hyuk terlihat puas menertawaiku.

“Aku akan melakukannya bila kami menikah…” Jawabku tanpa keraguan.

“Hahahaha, Hyung kau dengar… Aigoo, kekasihku ini memang salah memilih rekan sekamar… Kau terlalu lugu dan bahkan macam orang yang hidup dijaman Goguryeo… Aish, apa ‘dia’ tidak pernah berontak untuk keluar dari dalam sana? Yaaa, secara aku saja harus menelan ludah kalau melihat cara berpakaian kekasihmu itu… Pfuh, malangnya dongsaengmu disana Mokpo….” Hyuk menatap ia kearah selangkanganku.

“Sial kau Monyet!” omelku.

“Ini… Coba kau lihat ini…“ Tiba–tiba Cinderella kami masuk dan ikut bergabung dengan menyodorkan I-Pad kepadaku.

“Ini… Cerita fiksi? Maksudnya Hyung…?”

“Lihat siapa castnya… EunHae… KyuMin… Juga HanChull… Tapi coba lihat, pairing kalian yang paling banyak dan dalam dunia Yaoi, kau dan Kyuhyunlah yang paling menguasai permainan itu…” Terang Heechul Hyung sambil menghadap cermin melihat wajahnya yang kini berpenampilan rambut pendek karena persiapan wamil.

“Jadi… Aku selalu menyerah dalam permainannya Hyung….?” Tanya Monyet ini sepertinya merasa dikalahkan olehku, bukannya jijik karena membayangkan laki-laki dan laki-laki melakukan ’itu’ bersama.

“Kau itu bukan seorang pria seperti sekarang ini Donghae-ah… Pria baik – baik diantara kita itu dari dulu sang pastur itu walau sekarang wajahnya begitu mesum dan bernafsu saat menatap Jongwoon…” Heechul Hyung duduk bersebelahan dengan Jongwoon sambil memeluk bantal besar.

“Lalu maksud semua ini?” Tanyaku masih tidak mengerti dengan pikiran mereka.

“LAKUKANLAH!!!” Kompak ketiganya bersuara dan aku tidak menyangka kalau Hyukjae begitu kompak dengan AB Couple ini.

“Membahagiakan seseorang yang kita cintai itu tidak dosa Donghae-ah…” Jongwoon bicara tetap dalam aktifitasnya menyusun koleksi filmnya.

“Tapi bergumul tanpa ikatan itu dosa Hyung!” Jawabku yang tetap dalam pendirianku.

“Aaaah, salah asuhan anak ini… Kenapa harus dititipkan pada Jungsoo? Terserah padamu, tapi kalau kau digoda Haejin dan tetap tidak ingin melakukannya… Hubungi aku, aku bisa mengobati Haejin… Yah, relaksasi untuk meregangkan otot sebelum wamil rasanya tidak masalah….” Ledek Heechul santai dengan menggeliatkan tubuhnya melangkah keluar dimana Heebum sudah menghampirinya.

“Andweeeee! Tidak akan pernah orang lain menyentuh Haejin selain aku!!!” Teriakku gusar dan kudengar tawa kesenangan dari Jongwoon dan Hyukjae.

“Kalau begitu, bercintalah dengannya… Bukan hanya tidur bersama, berciuman, bergulat tanpa jelas yang membuat pusing kepala karena tetap tidak kau salurkan hasrat itu… Ramuan apa yang diberikan Jungsoo sampai dia begitu bodoh seperti ini, malangnya nasib dongsaengmu itu hanya tersentuh oleh sabun mandi…” Desah Heechul dan melakukan hal yang sama seperti Hyuk, menatap daerah pahaku. Tawa puas kembali menggelegar dari mulut Hyukjae juga Jongwoon Hyung didalam kamar ini.

Flashback Off.

Tanganku kembali menyisiri sisi tubuhnya dan kini posisiku menurun mencium perut lalu mengarah kepaha mulusnya. Kami hanya dengan pakaian dalam yang menutupi organ intim kami. Kembali aku beranjak naik sementara tanganku tertinggal diantara kedua pahanya. Ia sudah lembab, ia benar – benar terangsang dan kini ia bangkit menautkan bibirnya pada bibirku. Tangannya tertuju pada boxerku yang membuatku benar–benar shock, ia ingin membukanya. Bukan ingin lagi, tapi sudah mulai turun, dan didalam sana sedang bersorak gembira seolah bahagia karena akan terlepas dari kurungan.

Tanganku mendorong pundaknya untuk kembali terbaring dan lalu makin memantapkan posisi terbaring diatasnya kembali melumat  bibirnya. Tidak sadar, aku benar-benar tidak mengetahui sejak kapan ia sudah tanpa sehelai benang pun, dan bagian bawah itu kini begitu terbuka, dan begitu pula dengan milikku walau boxer itu masih berada ditengah  pahaku.

Tekanan saat posisi kami pas dan gerakan gesekannya benar–benar menghadirkan sensasi lain dan membuat aliran darahku bergerak cepat. Ia mendesah dan mengaitkan kedua kakinya dipinggangku sementara kami terus bergerak. Berulang kali bagian tubuhku yang mengeras itu terpeleset dan nyaris menjadi penghuni tubuhnya, namun aku tetap meletakkannya diluar, diluar daerah sensitifnya. Ia mengerang dan setengah jengkel karena aku tidak membuatnya menyatu sempurna namun ia terus menggeliat dan mengangkat pinggulnya agar makin menekan padaku.

“Hae… Jangan begini! Lakukan yang seharusnya, masukkan… Okh… Hae aku sampai…“ Desahnya dan begitu pula aku langsung berpindah dari tubuhnya saat merasakan golakan larva dari tubuhku.

“ARGHHHHH! Donghae, Kau benar–benar‼!” Keras ia memukul dadaku yang masih mencoba mengatur nafas hingga aku terbatuk menelungkupkan wajah pada bantal. Dia lari telanjang menuju kamar mandi dengan membanting pintu kamar mandi. “Keluar dari kamarku sekarang!!!”

Aku masih terbatuk dan begitu sesak karena pukulannya saat berjalan mengumpulkan serakan pakaianku. Kukenakan kemeja lalu menuju kamar mandi diluar untuk membersihkan diriku yang begitu lengket. Lima belas menit berselang, saat aku keluar kamar mandi, tidak kudapati dia dan tempat tidurnya masih berantakan. Ia pergi entah kemana, aku duduk lemas bersandar dipembaringannya. Nyaris kulakukan itu… Nyaris, mengapa aku melakukannya?

Dua minggu kemudian…

“Donghae Oppa…” Kyorin membuka pintu dorm dan terkejut melihat kedatanganku.

Ini  sudah berhari – hari setelah kejadian dorm kosong waktu itu dan dia sama sekali tidak ingin bicara padaku. Minggu lalu hanya pesan terakhir yang kuterima saat latihan untuk persiapan Super Show, rasanya langit runtuh saat itu. Andai jadwal latihan tidak padat, pastinya aku berlari saat itu untuk menemuinya. Tapi semua itu sulit, Manajer Hyung, Jungsoo Hyung, mereka lengkap dan aku terpaksa harus mengabaikan masalah pribadiku demi untuk kesuksesan kami. Dan isitirahat ini kuputuskan menemuinya, karena seminggu setelah pesan itu aku makin sulit menghubunginya dan juga jadi hilang konsentrasi karena teringat pesan itu.

“Aku akan memiliki bayi! Apapun dan bagaimanapun caranya dan aku tidak perlu bantuanmu! Baiknya kau berkonsultasi dengan psikiater, apa ‘kelaki – lakianmu’ itu masih masuk dalam KENORMALAN? Bernafsu pada Hyuk tapi tidak padaku!”

“Dia ada?” Aku tau mereka pasti mengetahui kalau kami memiliki masalah. Mungkin detail permasalahan itu apa Haejin tidak mungkin bercerita.

“Eonni?? Dia…” Ragu Kyorin menjawab hingga Chihoon datang juga terkejut melihatku.

“Donghae Oppa?? Kenapa kemari, tidak pergi dengan Haejin Eonni?! Lalum tadi Eonni menelpon siapa dong? Kupikir menghubungi Oppa…. Habis bicaranya mes… Aah, Appo… Ada apa sih?!” Aku lihat Kyorin mencubit lengan Chihoon menghentikan ucapan maknae mereka.

“Pergi?? Kemana?? Dia tidak menghubungiku… Dia… Dia…” Aku mengusap tengkukku dan memunggungi mereka.

“Ada apa sih???” Tanya Chihoon penasaran melihatku, dan Kyorin berulang kali menyenggol gadis itu gemas. Kentara meminta maknae mereka untuk tutup mulut.

“Oppa bertengkar lagi dengan Eonni ya?! Eh, Eonni bukan hari ini mau ke rumah sakit!” Bibir mungil Chihoon mengeluarkan kata – kata yang membuatku kaku.

“Chihoon!!!” desis Kyorin gemas.

“Lho, memangnya Donghae Oppa tidak tahu kalo Eonni ke rumah sakit?” Tanya Chihoon tanpa dosa. Aku memegang pundak maknae ini dan menatapnya lekat, ia berulang kali mengedipkan mata bingung dengan ulahku, kulirik Kyorin yang tampak cemas melihat adiknya itu.

“Haejin ke Rumah Sakit?? Sejak kapan?” tanyaku panik.

“Sejak Rabu kemarin, lalu Kamis malam Eonni bilang sakit diperutnya. Kupikir Eonni datang bulan tapi kulihat tampon yang dibelinya waktu kami berbelanja bulanan belum dipakai, besoknya pergi lagi dan sekarang Eonni bilang mau control…” Kyorin menarik nafas panjang dan gemas dengan mulut adiknya itu yang terus berbicara tanpa henti padaku.

“Dia pergi seorang diri??” tanyaku memastikan, cemas.

“Emm, Jumat kemarin sepertinya diantar Seulong Oppa…” gumam Chihoon dan disikut oleh Kyorin.

Apa dia… Apa Haejin benar–benar melakukan apa yang dia mau? Apa Seulong yang dipilihnya untuk mendapatkan benih bayi itu?

“Ini ada apa sih? Oppa kok pucat? Kyorin Eonni kenapa melotot padaku? Memang ada yang salah? Aah, lupa! Oppa, apa yang Oppa perbuat pada Eonni?! Jangan–jangan Eonni hamil?! Tapi, kalau hamil dengan Oppa kenapa kontrolnya dengan Seulong Oppa? Memang bisa diwakilkan begitu ya?” Celoteh Chihoon membuat kepalaku makin pusing dan Kyorin sepertinya menangkap hal itu.

“Chihoon, sudah cukup! Belum waktunya kau mengetahuinya!” seru Kyorin.

Mata Chihoon memandang ragu dan tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Kyorin dan aku mulai gelisah.

“Aku pergi dulu… Jangan katakan pada Haejin kalau aku kemari.” Aku berlalu dalam gelisah dan sangat pusing memikirkan semua ini. Gila, bila Haejin menginginkan sesuatu, pasti ada ide gila yang akan diperbuatnya untuk mewujudkan hal itu! Tapi ini benar-benar membuatku cemas setengah mati.

Malam Hari…

“Hallo… Ne Oppa…”

“Haejin sudah kembali?” tanyaku gelisah.

“Belum, memang ponselnya masih tidak diaktifkan?”

“Kalau diaktifkan aku tidak seputus asa ini dan menghubungimu Kyorin!” Ucapku gemas diujung telfon.

“Maaf Oppa… Aku hanya bertanya… Oppa, apa benar Eonni ingin punya bayi…?”

“Dia bicara itu tapi saat kubilang akan menikahinya dia tidak mau…” keluhku frustasi, aku nyaris menangis lagi.

“APA?! JADI EONNI SUDAH HAMIL KARENAMU??? Kenapa Oppa tidak memaksa dan menemani Eonni?! Kenapa jadi Seulong Oppa yang menemani Eonni?! Yak, Oppa harusnya memaksa, kalau perlu culik Eonni agar ia mau menikah denganmu‼! Bagaimana nasib bayi itu, apa harus ia terlahir tanpa ayah?! Oppa, kau ini laki – laki bukan?! Masa menaklukkan Eonni saja tak bisa‼!”

“Bukan seperti itu… Hallo?! Kyorin! Kyorin! Yak, Dengar aku dulu!” Aku melempar ponselku ketempat tidur karena gadis itu memutuskan hubungan teleponku. Bagaimana bisa dia berfikir kalau aku…

Tunggu, apa benar Haejin hamil? Karena siapa? Waktu itu kami melakukannya….

…CUUUUUT… ENJI… KAAAT… STOOOOP…

139 thoughts on “{JinHaeXy} If I’m Pregnant ~Part 1~ NC17

  1. Jd masih meleset??? Kga sampe masuk???
    Hadeeeeeehhhh… Fix buang2 waktu gw yg indah ini,, cma buat baca beginian yg kga sampe jebol!! Buahahahahahaaaa

    Masaoloh ikaaaaaaannnnn,,,, paham deh haejin rata, tp kga sah smpe sgtunya jg kali!! Dimasukin barang secelup dua celup gtu, kasian kan,, akakakakaaa
    *diremove ma hajin dr bbm

    Fix yeeeee haejin masih perawan,, hadeeeeehhh,,,
    Lee donghae,, jd lo udah buta jalan skrg??
    Berarti butuh peta n guide kan?? Akakakakaaa

  2. gretan gw sm hae, udh sama2 neked udh nempel tingal ngelup msh az than napsu. Klo gw jd cwex ny udh gw pgang junior ngek msukin lngsung. Klo g lbh gmpang women on top. Klo udh nyelup jg eungek pasti ketagihan. #gw in ngomong ap sih# wakakak

  3. DEMI APAPUN ENDINGNYA…. –aaaaaaaa histeris. Eonni aurhor, kok nggak dilanjutin :((( padahal lagi bagus & seru. Kenapa nggak diterusin kyaaaaa T.T Penasaran haejin kenapa u,u

  4. annyeong haseyo eonn ^^
    perkenalkan aku reader baru disini.
    waaah hebat donghae imannya kuat yaaa
    digoda pun nggak mempan.
    yang dikandung haejin itu anaknya siapa eonn?
    waaaaaaaaaah jadi penasaran
    semangat eonn ^^

  5. Huwaaaa jadi engga jadi lagi itu nya? Udah tarik napas pas baca ini. Wakakak
    ya ampun Hae, masih aja bisa nahan, masih aja berpegang pd prinsip. Wkwk
    itu Haejin hamil apa siapa jadinya? *bingung😀

  6. Omo! *tarik nafas, buang* huft
    deg2an aku bacanya ckck
    hm belom masuk kenapa haejin check up? #gakngerti
    itu kyorin lucu ya ngomongnya nyerocos aja wkwk gak pake titik koma wkwk udah gitu telfonnya main di tutup😄 wkwk
    ada lanjutannya kan yaa?? Heheh😀

  7. kirain yg pas honeymoon itu udah jebol..
    taunya belom???
    bukannya hae udah liah haejin gak pake baju???
    qo ini dia pucet sendiri liat haejin dr belakang??
    abline+hyuk ajaran sesaattt nihhh!! hahahaa😀
    haejin nafsu bener yak? *iyalah siapa jg yg gak nafsu sm hae* hahahaha😀

  8. Ini ff bkinan enyaaaak? Huweee enyaaak >.<
    Gue deg degan banget yee pas scene kedemenan gue..ihihi #plakk *balik normal* dialognya nyess nyess gmana gtu nyakk..
    Poppa masaolooooh.. tega banget ih sama momma aku ih T_T udah sampe segitu tapi masih juga ga ngabulin keinginannya momma.. tau ga itu tuh perihnya lebih lebih tau.. egue jadi inget babydoll.. sialan ah lu poppa!! Gausah PHP kali yah!! Pengen gue mutilasi tau ga lu ikan jelek *siapin golok dan bensin*

  9. jadi.. ini bikinan veeka unni…. aheeeem baru saadaar… ~
    pgn baca version komplit ‘begitunya’.
    =w=

    daebak,so HEwt
    eventhough just only17-rated
    *elap dahi

    fyuuuh

  10. Anyeong new readers, young hee imnida.
    Omonaaa haejinnya sumpah agresif banget dan aku bangga padamu hae oppa kau begitu kuat imannya wkwk sumpah itu ngeselin banget padahal tinggal dikit lagi kenapa gak jadi -_-“)9

  11. Whoaahh~ Haejin yang nafsu banget, nah si Dong Hae masih kuat iman, padahal sedikiiiiit lagi. Udah naked pula. 1000 jempol deh kalau ada namja kayak gini.

  12. sumpah ini ff bikin deg deg an dan ketawa ketiwi sndri,ini hampir NC21 mah menurutku.hahahaha
    tahan banget hae oppa yah,salut ama hae oppa.
    Annyeong,aku sider lama yg bru ngekoment,tp trkdg aku juga ninggalin koment kok. Lama gak mampir kemari ternyata banyak ff bru dan blm kubc.hehe
    keep writing.hwaiting

  13. aisshhh,kan waktu itu blm sampe masuk mana mungkin hamil..ck
    Hae teguh bgt imanya….haha berarti ajaran Teukie oppa berhasil..wkwk

  14. Momma~
    Kau sungguh penggoda iman.
    Wkwkwk

    Poppa kentang yak..
    Iya iya nggak nggak, bikin momma gundah gulana.
    “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮ ƗƗɐƗƗɐƗƗɐ “̮

    Lanjut kan chingu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s