[Repost] Donghae & Haejin’s Love Story

Pernah di publish di SJFF, hehehe…

Aku duduk sambil menyilangkan kaki di atas kursi panjang, menatap aliran sungai Han yang tenang di hadapanku, dan menatap seorang wanita yang sedang duduk juga di seberangku. Wanita tersebut mengeluarkan barang-barangnya, rajutan, berikut dengan jarumnya, kemudian dia akan mulai merajut dengan senyumannya, dia nampak senang sekali.

Aku cuma tersenyum kecil melihatnya, sudah berhari-hari aku disini, hanya memandangi gadis itu dari jauh! Dia Putri kaya, semua orang di kota kenal siapa dia, dia begitu cantik, pintar, dan pandai. Tapi hatinya begitu baik, dia senang sekali membuat rajutan-rajutan tersebut untuk diberikan kepada anak-anak kecil yang tinggal di panti asuhan milik keluarganya yang terkenal dan darmawan.

Mengagumi dari jauh… mencintai dari jauh… hanya bisa kulakukan jika jatuh cinta pada gadis sempurna seperti dia… siapalah aku? Anak nelayan dari Mokpo, tidak pantas jatuh cinta pada gadis kaya sepertinya.

Sebetulnya bisa saja aku mengenalnya, aku ke Seoul karena keluarga gadis yang kaya raya itu ternyata berasal dari kota asalku, Mokpo, keluarga mereka sengaja mencari anak-anak muda yang putus sekolah, untuk dipekerjakan dan disekolahkan di Seoul. Dan aku termasuk yang beruntung, karena aku pintar aku berhasil mendapatkan beasiswa dan pekerjaan itu. Sekarang aku bekerja sebagai pelayan di salah satu hotel milik keluarganya, dan memendam kekaguman pada gadis itu semenjak pertama kali melihatnya menolong anak kecil yang menangis di taman.

Gadis itu memang suka berjalan-jalan sendiri, dan aku suka mengikutinya jika aku sedang jam bebas, aku memerhatikannya dari jauh, dan rasa cinta itu muncul dengan sendirinya. Tapi, aku tidak pernah berharap begitu banyak kepadanya karena dia telah bertunangan dengan pemuda kaya raya yang amat sangat tampan, bernama Shim Changmin.

Pesta pertunangan mereka berlangsung dengan sangat meriah di hotel tempatku bekerja, aku hanya bisa menatap iri pada Changmin yang bisa memberikan cincin bertatahkan berlian di jari manisnya, gadis itu tersenyum pada siapa pun yang hadir dalam pesta tersebut, dan tinggal menunggu saja kapan waktu mereka berdua akan mengikat janji suci pernikahan mereka.

Dan aku akan tetap begini, Lee Haejin adalah angin, bisa kurasakan hadirnya, tapi tak pernah bisa kugenggam. Aku hanya memalingkan wajahku dari pemandangan menyedihkan itu dan kembali mengerjakan seluruh pekerjaanku, demi masa depan yang lebih baik!

*Haejin’s POV*

Bisa tidak sekali saja Changmin itu memberikan perhatian yang benar? Sebagai wanita, aku mau diperlakukan layaknya benar-benar seorang kekasih! Aku tidak keberatan Appa-Eomma menjodohkanku dengan putra relasi bisnisnya, yang notabene Putra orang kaya, Changmin. Tapi, aku wanita yang masih muda, aku juga mau merasakan nikmatnya berpacaran, bukan hubungan yang segalanya sudah di atur, dan bergelimangkan harta.

Aku mau berjalan bersama seseorang yang kucintai dibawah hujan, kami berlari bersama, berteduh, dan tidak ada yang mengganggu kami berdua dengan telepon-telepon yang mengingatkan akan rapat inilah, atau rapat itulah… aku juga mau dia bertindak romantis, di depan semua orang, memamerkan jemari tangannya yang bertaut di tanganku, dengan bangga mengatakan bahwa dia cinta padaku, dan tidak akan berubah hingga akhir waktu!

Aku benci diberikan hadiah-hadiah mahal seperti cincin berlian, tapi aku lebih suka cincin yang ia buat sendiri dari setangkai bunga liar di taman, dan disematkannya di jariku! Tapi rasanya Changmin tidak seperti itu, dia sangat kaya, dan dia menikmati bagaimana dia menggunakan seluruh hartanya untuk menyenangkanku. Kalau hanya itu, aku juga bisa minta belikan kepada Appa! Yang kuinginkan bukan itu, tapi cinta, benar-benar cinta, perhatian, dan kasih sayang!

Kira-kira apa yang akan Changmin lakukan jika aku pergi, dan tidak pernah menghubunginya?! Apakah dia akan minta maaf dan memberikanku barang-barang mahal? Atau menangis, karena dia khawatir? Kurasa opsi pertama yang lebih masuk akal, tapi aku juga mau melihatnya menangis karena khawatir padaku, karena itu berarti dia cinta padaku!

Setelah memutuskan rencana tersebut, aku memutuskan memakai semua mantelku, dan syalku, beserta kacamata hitamku untuk segera kabur dari hotel megah dimana aku tinggal, dengan membawa uang yang cukup, tapi tidak membawa ponselku! Biar mereka tahu, materi bukan segala-galanya!

”Nona… mau kemana?” tanya suara dibelakangku.

Dengan kaget aku menoleh, aku melihat seorang pria muda, berambut kecokelatan dengan seragam hotel sedang menatapku keheranan. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, mana mungkin dia mengenaliku?

”Nona Lee, kan?” tanya pelan. ”Nona mau kemana berpakaian seperti itu? Nona mau kabur?”

Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, kemudian menarik tangannya, dan mengajaknya berlari ke arah taman, yang sepi. Sesampainya di taman, aku melepaskan semua syal yang menutupi wajahku dan menatapnya kesal. ”Kenapa kau bisa mengenaliku, sih?!”

”Mianhae, Nona… kalau Nona lebih suka aku tidak mengenali Nona…” dia menunduk.

”Aish! Aku mau kabur…” ujarku putus asa.

Dia mendongak, kaget. ”Kenapa, Nona?”

Aku meregangkan badanku, ”Aku bosan! Sebentar lagi pernikahanku, tapi Changmin tidak pernah bisa memperlakukanku layaknya kekasih… aku iri pada orang lain yang bisa berpacaran dengan tenangnya di taman seperti ini. Tapi sudah terlanjur ketahuan kau… kurasa kau pasti akan melaporkannya pada Appa kan, kalau mereka mulai mencariku…”

Dia hanya diam, kemudian tersenyum manis. ”Kalau Nona lebih suka aku tidak bilang, aku tidak akan bilang…”

”Jinja?” tanyaku heran.

Pria itu mengangguk, ”Tapi memangnya Nona akan kemana kalau kabur? Nona tidak berniat bertindak aneh-aneh, kan?”

”Nado, molla…” aku baru sadar, kemudian wajahku murung. ”Aku hanya ingin… seperti orang lainnya… aku tidak mau tinggal di tempat yang mewah, aku tidak mau naik mobil, aku mau biasa saja… ngomong-ngomong kau siapa?”

Dia membungkuk. ”Donghae-imnida…”

”Ah, hai… Haejin-imnida…”

”Aku tahu kok, Nona…” katanya sambil terkekeh. ”Hmm… sebagai bawahanmu, tentu aku tidak bisa membiarkanmu sendirian, kalau kau kenapa-napa bagaimana? Dunia luar kan tidak seindah yang Nona bayangkan…”

Aku menunduk. ”Jadi maksudmu aku harus kembali lagi ke hotel itu? Aku tidak mau…” rengekku. ”Aku mau membuat Changmin sadar! Aku mau diperlakukan seperti kekasih pada umumnya!” seruku.

”Memang kekasih pada umumnya seperti apa, Nona?”

”Seperti di drama lah pokoknya!” sahutku, dia ini polos betulan atau pura-pura polos, sih? Pikirku.

*Donghae’s POV*

Entah setan apa yang merasukiku, tiba-tiba aku berkata. ”Nona mau, kutunjukan bagaimana pasangan kekasih pada umumnya?” dia nampak terkejut akan pertanyaanku, ah! Donghae memang babo, rutukku… dia pasti akan menolakku mentah-mentah, aku kan hanya pelayan!

”Mau!” jawabnya cepat.

Ganti aku yang melongo! Dia mengiyakan jawabanku, dia ini gila ya? Tapi kemudian aku berpikir, kapan lagi aku bisa merasakan menjadi kekasihnya? Biarkanlah hal ini terjadi…

”Nona yakin?” tanyaku.

Dia mengangguk mantap. ”Aku yakin! Kau harus menunjukkannya kepadaku, karena aku… setidaknya sebelum aku menikah, aku ingin merasakan rasanya pacaran seperti orang-orang lain!”

”Tidak masalah, aku pasti bisa menunjukkannya…”

”Kalau begitu, panggil saja aku Haejin… itu akan memudahkanku merasakan pacaran yang sebenarnya…”

”Oke…” aku mengangguk, baru saja hendak kupanggil namanya, hujan turun, refleks aku menggandengnya dan mengajaknya pergi ke halte.

Dia terkikik, entah apa yang membuatnya senang, yang pasti bukan genggaman tanganku padanya.

”Donghae… kita mau kemana?” tanyanya.

”Pertama, aku tidak mungkin mengajakmu jalan-jalan dengan seragam ini, jadi sebaiknya ke rumahku dulu, aku mau ganti baju…”

Dia mengangguk-angguk, tak lama kemudian bus tiba, aku menariknya naik. Di dalam bus orang sudah penuh dan berdesak-desakkan, biar bagaimana pun, aku harus melindunginya, dia kubiarkan berpegangan pada tiang sementara aku di hadapannya menjaganya dari kemungkinan tergencet-gencet orang.

Jujur aku gugup, wanita yang kusukai berada dalam rangkulanku, Tuhan memang baik, dia memberikanku kesempatan untuk merasakan sekali saja menjadi kekasihnya meski berpura-pura, aku harus bersyukur. Setelah beberapa halte, kami turun, aku berusaha menjaganya semaksimal mungkin, dan aku senang bisa menggenggam jemarinya yang dingin, dia tidak keberatan sama sekali.

”Ini rumahku…” aku menunjuk flat sempit dengan wajah tidak enak. ”Flat ini sempit…”

Dia tersenyum, ”Gwenchana, flat ini nampak hangat…” jawabnya baik hati. Ya Tuhan, betapa baiknya gadis ini, aku tersenyum dan membuka pintu flatku, kemudian mengajaknya masuk. Flatku memang sempit, terdiri dari ruangan tamu, kamar, dan dapur kecil beserta kamar mandi.

”Woah, daebak!” gumamnya nampak senang melihat isi flatku.

Aku tersenyum, ”Aku ganti baju dulu, habis itu… kita cari makan, bagaimana?” gadis itu mengangguk setuju.

Akhirnya aku mengganti pakaianku dengan kaus biasa, dan celana jins biasa, kemudian aku memakai sepatu kedsku. Aku tidak bisa berdandan lebih di hadapan wanita itu, aku mau ia melihatku apa adanya, karena dibandingkan dengan tunangannya, aku tidak punya apa-apa.

”Kau tampan!” katanya manis.

Aku tersenyum wajahku memanas, ”Masa? Woah, baru kali ini ada yang menyebutku tampan…”

”Hihihi…” gadis itu terkikik.

”Ayo… kau mau makan, kan?” aku mengulurkan tanganku lagi, dia meraihnya, dan aku menggandengnya lagi, menyusuri jalan yang gerimis dengan bergandengan tangan.

Entah apa yang terjadi padanya, dia selalu tersenyum, dia menikmati setiap langkah kami, yang terkena gerimis halus ini. Kami tiba di sebuah jalan yang menjual makanan-makanan kaki lima, dia sempat terdiam dan mematung memandang jalanan yang ramai dengan orang-orang yang berbelanja tersebut.

”Kenapa? Ah, kau tidak mau makan disini ya…?” tanyaku. ”Aku ada uang sedikit, kita ke restoran saja yuk…” ajakku.

Baru mau aku melangkah, dia sudah menahan tanganku, dia menatapku penuh air mata haru. ”Gomawo… sumpah! Aku sungguh ingin merasakan hal-hal seperti ini, aku suka sekali…”

”Jinja?!” tanyaku kaget.

Haejin mengangguk, kemudian saking terkesimanya melihat wajahnya, aku mengelus pipinya pelan, dia justru semakin tersenyum, aku mengajaknya berjalan menyusuri jalanan itu.

”Kau mau makan apa?” tanyaku.

”Kau saja yang pilihkan…” jawabnya.

Akhirnya aku memesan ddokbokki dan sate ikan, kemudian mencari bangku kosong, kami duduk berhadapan, dan aku meletakkan makanan itu diantara kami. Dia memandang makanan itu dengan takjub.

”Mau yang mana?” tawarku.

Dia memandang dua piring dengan kebingungan, ah! Dia pasti belum pernah makan, akhirnya aku memutuskan menusukkan ddokbokki dengan tusuk gigi, lalu menyorongkannya ke mulutnya. ”Aaah…” kataku memancingnya.

Dia tersenyum dan membuka mulutnya, aku menyuapkan dokbokkinya, dia mengunyahnya dan menelannya kemudian tersenyum lagi. Tuhan, aku sungguh suka senyumnya. ”Mashida…” katanya penuh senyum.

”Jinja? Kalau begitu coba yang ini…” aku mengulurkan sate ikan, dia memakannya dengan lahap.

Lalu hati-hati dia menusukkan ddokbokkinya, ternyata dia mulai suka dengan makanan itu sementara aku menikmati sate ikan, tapi yang mengejutkan ternyata dia menyorongkannya ke arahku. Aku tersenyum dan membuka mulutku, lalu mengunyahnya, dan mengelus pipinya pelan lagi.

”Terima kasih…”

”Hihihi…” lagi-lagi dia terkikik senang. ”Donghae-ya, suapi aku, dan aku akan menyuapimu…”

Aku mengangguk setuju, akhirnya kami saling menyuapi sepanjang malam itu. Sekitar pukul sembilan kami berjalan bersama, menyusuri trotoar.

”Kuantar pulang ya…” kataku padanya.

Dia menggeleng. ”Tidak mau! Aku tidak mau pulang…”

”Nanti keluargamu cemas, lho…” kataku.

”Aku hanya mau membuat Changmin cemas!”

Aku merasakan nyeri di dadaku ketika dia menyebut nama Changmin, ”Bagaimana kalau kau beritahu kedua orangtuamu, tapi kau tidak perlu beritahu Changmin… ajak orangtuamu bekerja sama?” saranku.

”Ara… tapi aku tidak bawa ponsel!”

”Kita ke telepon umum, di taman ada box telepon… bagaimana?”

”Oke…”

Kami kembali bergandengan menuju taman kecil, yang di dalamnya terdapat sebuah boks telepon, Haejin masuk ke dalamnya, sementara aku menunggu diluar. Tak lama dia menelepon, hujan turun, awalnya rintik, tapi lama kelamaan deras, aku merapat ke boks telepon, tapi kemudian pintu boks terbuka, Haejin menjulurkan kepalanya, ”Ayo masuk!”

Aku masuk ke dalam boks yang sempit itu. ”Sudah meneleponnya?” tanyaku.

Dia mengangguk, ”Eomma dan Appa tidak apa-apa, mereka bersedia membantuku. Jadi sudah enak… Changmin biar pusing sendiri!”

”Ya! Jangan bicarakan Changmin…” kataku pelan. ”Pada saat ini kan kau pacarku…”

Dia terdiam, kemudian menatapku lekat-lekat. ”Ah, keurae… aku… kan… pacarmu saat ini…”

Aku tersenyum dan mengelus pipinya lagi, aku suka sekali melakukan hal itu, tapi tak kusangka, dia malah menahan tanganku di pipinya, dia menatapku lembut sekali, tangannya menggenggam tanganku yang ada di pipinya, dan perlahan dia mengecup tanganku itu.

Guyuran hujan membuat suasana semakin romantis, aku mendekatkan tubuhku yang memang sudah dekat padanya, perlahan dia mengelus pipiku juga, dan aku mendekatkan wajahku padanya, bisa kurasakan napasnya pada hidungku, dan hidung kami sudah bersentuhan, kami masih saling bertatapan. Dan naluriah, kedua mata kami terpejam pada saat yang sama, jantungku menggila, dan akhirnya mimpiku jadi kenyataan.

Kami berciuman di dalam boks telepon, dalam guyuran hujan. Dia menyandarkan kepalanya ke dinding boks, memudahkanku menciumnya, dan menjelajahi setiap inci bibirnya, agar dia tahu bagaimana sebetulnya perasaanku kepadanya, bukan hanya sekedar membantunya, melainkan cintaku memang tulus kepadanya, dia membelai tengkukku, dan tangan satunya meremas rambutku, memaksaku terus menciumnya. Kami terus berciuman, lembut.

Setelah entah cukup waktu berapa lama, kami akhirnya memisahkan diri, menarik napas, kulihat dia masih memejamkan matanya, dan tangannya masih berada di tengkuk dan rambutku, dia masih bernapas memburu, dan ketika dia membuka matanya dan menatapku sendu.

*Haejin’s POV*

Jantungku menggila setiap kali dia melakukan hal yang membuatku surprise dan tersentuh. Dia melindungiku di bus, dia menggandengku kemana saja, dan dia menyuapiku dengan ddokbokki, dan sekarang dia menciumku di dalam boks telepon dalam guyuran hujan diluar sana.

Hatiku berdebar tiap dia menyentuhku, aku suka… berbeda rasanya ketika Changmin memperlakukanku seperti itu! Tidak ada sensasi kupu-kupu terbang di perutku, padahal aku baru mengenalnya!

Kami bergandengan lagi ketika pulang, aku kedinginan, dan dia minta maaf padaku, karena di rumahnya dia hanya memiliki satu buah selimut, aku tidak apa-apa. Aku suka orang yang apa adanya, dia memberikan perhatian, bukan materi. Ini yang kuharapkan, ini yang kudambakan!

”Selimutnya pakai berdua saja…” kataku.

Dia menatapku kaget. ”He?”

”Kita tidak usah tidur di kasur… kita tidur sambil duduk saja, jadi selimutnya muat menyelimuti kita berdua…”

Donghae mengangguk setuju, dia duduk di atas karpet kecil, dan menyuruhku duduk di sebelahnya, baru duduk di sebelahnya saja, aku sudah merasa nyaman dan hangat, tangannya merangkulku, lalu dia menyampirkan selimut ini keseluruh tubuh kami, sehingga kami seperti kepompong. Rasanya sungguh hangat, aku menyandarkan kepalaku di bahunya, dan dia menyandarkan kepalanya lagi di atas kepalaku. Kami tertidur.

Esoknya setelah menunggunya pulang, dia mengajakku ke taman lagi, dia membelikanku gulali, dan aku makan dengan sangat senang, sambil melihatnya yang bermain bola dengan anak-anak kecil yang bermain di taman.

”Hyung… itu yeojachingunya ya?” tunjuk seorag anak kecil padaku.

Donghae tersenyum dan mengacak rambut anak itu, ”Ne… dia yeojachinguku, cantik, kan?” tanyanya bangga.

Aku nyaris menangis terharu, bahkan hanya dalam waktu singkat, pria ini sudah bisa mengabulkan banyak harapanku. Kami berjalan pulang bersama lagi, dan lagi-lagi Donghae menggandeng tanganku.

”Kau banyak diam hari ini…” gumamnya. ”Ada apa? Apakah aku ada berbuat sesuatu yang membuatmu sedih?”

”Ani…” aku menggeleng. ”Aku justru sangaaaaaaat bahagia,” kataku dengan jujur, siapa yang tidak bahagia?

Dia tersenyum lagi, dan mengajakku masuk ke dalam flat kecilnya, kami sama-sama memasak. Meski hanya masak bulgogi, tapi kami cukup bersenang-senang, dengan saling menyuapi satu sama lain, dia sangat alami saat memperlakukanku sebagai kekasihnya, dia sangat lembut. Yang jadi kekasih aslinya pasti sangat bahagia… lalu aku terdiam, dan sumpit yang kupegang jatuh.

Kekasih aslinya… memikirkannya ada rasa tidak rela, dan air mataku tiba-tiba muncul begitu saja, aku tidak suka memikirkannya, aku tidak rela tangan hangatnya membelai wajah wanita lain, aku tidak suka memikirkannya mencium gadis lain.

”Haejin… ada apa?” tanyanya cemas. ”Kenapa menangis?”

Aku meraih wajahnya, dan menciumnya lagi, dia nampak kaget setengah mati! Aku tidak peduli, ini baru namanya cinta! Meski baru sebentar… aku telah jatuh cinta pada pria bernama Lee Donghae.

”Ada apa?” tanyanya kaget setelah aku melepaskan ciumanku.

Aku memeluknya dan menangis disana. Dia bingung, tapi dia tidak memaksaku bercerita, dia hanya mengelus kepalaku lembut, dan menenangkanku dengan pelukannya.

*Donghae’s POV*

Sudah dua minggu Haejin tinggal bersamaku, setiap hari kami berlaku seperti pasangan kekasih. Bergandengan tangan, berpelukan, dan berciuman, aku semakin terlena dengan hubunganku yang hanya berstatus ’percobaan’ bagi Haejin. Aku tidak boleh terlalu membawa perasaanku, karena jika suatu saat nanti Haejin berkata terima kasih, aku tidak perlu hancur!

Tapi kenyataannya tidak bisa! Kenapa tidak ada orang yang bilang padaku cinta itu seperti heroin? Membuat ketagihan, siapa yang bisa menjauhi orang yang dicintainya? Aku nyaman ketika dia dipelukanku, digenggamanku.

”Besok…” katanya ketika kami ke Namsan Tower berdua malam ini. ”Aku pulang.”

Aku menoleh dengan kaget, dia menatapku, wajahnya menggenang air mata. Tapi aku tahu, ini pasti terjadi. Aku menatapnya dan tersenyum, lalu mengecup pipinya dan menghapus air matanya.

”Ne… bagaimana, kau senang selama ini?”

Dia mengangguk. ”Aku senang… sangat senang… tapi, Donghae-ya… apakah kau bisa mengabulkan permintaanku untuk terakhir kalinya sebelum kita berpisah?” tanyanya dengan sedih.

”Ne… apa saja…”

”Tulis nama kita di kertas ini, dan ikat di tiang itu…”

Aku terkejut! Itu kan hanya dilakukan pasangan kekasih yang asli, agar cinta mereka abadi? Kenapa dia justru memintaku… tapi dia menatapku penuh permohonan, dan aku melakukannya.

Lee Donghae & Lee Haejin

Yeongwohni, Haengbokhae…❤

Haejin mengambil kertasnya dariku dan menuliskan sesuatu, kemudian dia melipatnya, dan menyuruhku mengikatnya, akhirnya kuikat kertas itu, begitu aku berbalik dia memelukku.

”Gomawo…” bisiknya.

”Cheonmane…”

”Tak adakah permintaanmu untukku?” tanyanya.

”Bahagialah…” sahutku ringan, meski aku sudah ingin menangis.

”Ne…”

Aku melepasnya, ”Terima kasih telah mengizinkanku menjadi kekasihmu selama dua minggu ini…”

”Sama-sama…” senyum lembutnya keluar lagi.

Aku kembali mengelus pipinya, dan kejadian itu terulang lagi, dia menyentuh tanganku yang mengelus pipinya, dan aku menciumnya lagi tanpa bisa menahan diriku. Kami berciuman sambil saling merengkuh erat tubuh masing-masing, tanpa peduli dingin yang menusuk tulang.

Berbahagialah, Lee Haejin, selamanya aku akan mencintaimu.

*Haejin’s POV*

Aku dan Donghae berjalan bersama menuju hotel tempatku tinggal, dan tempat Donghae bekerja, aku akan pulang, dan kami berdua akan kembali seperti dulu, tidak saling kenal satu sama lain.

”Haejin-ah, tunggu sebentar…” tahan Donghae.

Aku menoleh, kemudian dia menggenggam tanganku, dan sesuatu menyeruak diantara jari tengah dan jari manis kananku. ”Aku tidak bisa memberimu apa-apa… tapi aku ingin sekali memberimu hadiah, aku percaya kau bukan wanita yang melihat materi… jadi ini yang bisa kuberikan… hihihi, suatu saat akan layu sih…”

Aku melirik jariku, dan aku terperangah, cincin idamanku yang terbuat dari bunga liar. Donghae yang membuatkannya, aku menatap Donghae. ”Gomawo, akan kujaga baik-baik.”

”Terima kasih… aku pamit.” Donghae membungkuk, dan langsung masuk ke dalam hotel meninggalkanku.

Aku berlari ke dalam lobi hotel, lalu terus ke lift, di dalam lift aku menangis sejadi-jadinya. Aku begitu mencintai pria itu, Lee Donghae, hanya dia yang bisa membuatku merasa spesial, sebagai wanita, sebagai kekasih! Aku tahu apa yang kuinginkan sekarang, aku mau Donghae, aku tidak butuh yang lain! Pintu lift terbuka, dan aku mendongak, terperangah.

”Haejin… kau kemana saja? Kau membuatku panik!” belum aku menjawab, Changmin sudah memelukku.

Aku meronta meminta dia melepaskan pelukanku. Di lantai itu, ada orangtuaku dan orangtua Changmin, juga beberapa pelayan, termasuk Donghae!

”Maafkan aku, aku tahu semuanya sekarang… aku janji aku akan berubah…” kata Changmin sungguh-sungguh.

Aku menggeleng.

*Donghae’s POV*

Aku mulai bekerja di lantai dua belas, lantai khusus pemilik hotel ini, Lee Hyukjae dan Choi JooEun, beserta putrinya, yakni gadis yang kucintai, Lee Haejin. Aku membersihkan lantai ini bersama beberapa orang lainnya, dan melihat keluarga Changmin, beserta Changmin datang.

Changmin memohon maaf kepada orangtua Haejin, dan dia minta diberi kesempatan.

”Kami akan menyerahkannya kepada Haejin,” kata JooEun bijaksana. ”Jika Haejin mau meneruskan pernikahan, kami akan meneruskannya… kami tidak pernah mau memaksa putri kami.”

Hyukjae mengangguk.

Aku terus menyapu ruangan, ketika pintu lift berdentang terbuka, dan Changmin berseru panik, ”Haejin… kau kemana saja? Kau membuatku panik!” aku mendongak dan melihat mereka berpelukan. Hati ini sakit sekali, tapi aku harus tau diri. Dia putri kaya, boneka mahal, yang tidak mungkin bisa kujadikan milikku.

”Maafkan aku, aku tahu semuanya sekarang… aku janji aku akan berubah…” kata Changmin sungguh-sungguh.

”Mianhae, Changmin-ah…” isak Haejin.

Aku menoleh, Haejin menangis lagi.

Haejin membungkuk pada orangtua Changmin, orangtuanya sendiri, dan pada Changmin. ”Mianhae, aku tidak… aku tidak bisa…” isaknya. ”Aku tidak pernah mencintaimu…”

”Kau mencintaiku!” seru Changmin.

Haejin menggeleng. ”Aku tidak mencintaimu… ternyata aku salah dalam mengartikan cinta, cinta itu bukan seperti itu… cinta itu saling melengkapi, cinta itu adalah candu, membutuhkan… dimana tak ada dia, kita tidak bisa hidup! Dan aku sudah tahu aku cinta pada siapa…”

”Maksudmu?” tanya Ibunya kaget.

”Eomma… aku jatuh cinta pada orang lain, bukan pada Changmin… jika diteruskan, aku tidak sanggup! Aku tidak mau hidup tanpa orang ini…”

Changmin nampak shock.

Aku mendongak melihat gadis itu, gadis itu tersenyum pada semua orang yang menatapnya meski dengan air mata. ”Dia pria hebat! Dia tidak punya apa-apa memang, tapi dia membuatku bahagia selama dua minggu ini… aku tidak perlu barang mahal atau apa pun, selama ada dia cukup!”

”Lee Donghae…” dia menoleh padaku, membuat semua orang menatapku. ”Saranghae…”

Aku melepaskan vacuum cleaner di tanganku, lalu berjalan ke arahnya. ”Kau serius?”

”Aku serius… aku jatuh cinta padamu…”

Aku kemudian menatap kedua orangtuanya. ”Sajangnim… mohon maafkan aku… karena telah berani jatuh cinta pada putri kalian… aku cinta padanya… sungguh…”

”Jadi selama ini Haejin bersamamu?!” tanya Hyukjae.

Haejin menggandeng tanganku. ”Ne, Appa… aku mencintainya…”

”Selama kalian saling mencintai… aku tidak akan melarang…” sahut JooEun, yang diamini Hyukjae.

Kemudian Haejin menatap Changmin, ”Maafkan aku… kurasa suatu saat nanti, akan ada wanita yang lebih baik, dan mencintaimu dengan tulus. Ahjumma, Ahjussi… maafkan aku.”

Changmin tersenyum miris. ”Maaf…” katanya.

Akhirnya Changmin dan kedua orangtuanya pergi, sementara aku menatap kedua orangtua Haejin.

”Sajangnim, aku memang tidak punya apa-apa… tapi aku cinta pada putrimu dengan tulus…” kataku sungguh-sungguh. ”Bolehkah… bolehkah aku menikahinya?”

Haejin terkejut, tapi senang. ”Ne… dia melamarku dengan ini…” dengan bangga Haejin menunjukkan cincinnya. ”Dia membuatnya sendiri, dan ini sangat indah… Appa, Eomma…” mohonnya.

”Kalau kalian memang yakin dan bisa bertanggung jawab, kenapa tidak?”

*Author’s POV*

Atas permintaan Haejin, pernikahan keduanya dilangsungkan di sebuah gereja kecil di Mokpo, tempat asal keduanya. Tanpa banyak tamu yang hadir, kecuali dari keluarga dekat saja. Haejin melepaskan status sosialnya, dan memilih bersama Donghae untuk berjuang bersama-sama dalam kehidupan mereka. Karena materi bukanlah segalanya!

But my love is all I have to give…

Without you I don’t think I can live…

I wish I could give the world to you…

But love is all I have to give… (Donghae to Haejin)

Even if you’re not have a wings

I’ll believe, you can take me fly

Without fear and doubt…

Even if you’re not a God

I’ll never dissapointed…

Because you made me a Goddess…

In a Paradise… (Haejin to Donghae)

ENDING

yeeey, ini FF oneshoot yang entahlah berhasil atau tidak… saking kangennya sama Donghae #plakk oiya itu yang kata-kata terakhir dari Donghae & Haejin itu tebak deh, kutipan dari lagu apa? Yang jawabannya bener bakalan dapet jempol… #plakk


44 thoughts on “[Repost] Donghae & Haejin’s Love Story

  1. Nisya selalu berhasil bikin scene romantiissss…….

    Sayang bang yes gak romantisss kaya donghaee… ;(

    itu si om changmin nganggur khan? *toeltoelnisya*

    Oia saran buat FF iniii.. Gak ada wkwkw feelnya dapeetttt…

    Kritik? Kurang..kurang..kurang panjangg.. Hehehe
    mau lagi donk cerita romantis Jinhae lagiii…😀

  2. Baca ulang… Ehm… Aku merasa menjadi Haejin,, perut penuh kupu2 brterbngan… Ah.. Aku mau punya cwo sprt itu… Stress ga nemu2… Hahaha

  3. Hiyy epep yg ini bkin merinding~
    Ahh envy,envy,envy,!Sumpah pengen jdi HaeJin biar bisa diperlakukan dgan baik ama Bang Donge~
    Abang!kamu kok pinter bget sie bkin orang klepek2,.Hhaha so sweet mamen~

  4. asli suka bgt ff ini ^^ dlu smpet baca di superjuniorff2010 . iseng2 cari disni dan nemu ^^
    bner2 sukkkkaaaaaaa…..ga tw knpa. hae bner2 tau gmna cara memperlakukan seorang wanita, ga perlu harta tapi perhatian ~^^ so sweet bgt <3333333

  5. aiyaa~ baca lg ff iniii~~ :DD
    sumpaah~ aku padamu onn ! soswit banget si ikan~ :*******
    sederhana banget donghae, tp sesederhananya donghae yaaa tetep aja ga nahan #apadeh

  6. baru aja semalem komen ni ff, paginya repost =p
    baca lagi deh…sukaaaaaa banget ga tw knpa, hae bikin aku senyam senyum mulu, yakin klo aku di posisi haejin pasti terharuuuuuuuuuuuuuuuuu birrrruuuuuuuuuuuu bangeeeettttzzzzzz
    ah hae makin cinta #plak #ditebashaejin XDD

  7. huaaaa,,,,so sweet,,,!!!
    yeah wlopun g kaya tp slama tu Donghae oppa,,,ky’x bkal indah2 aj de,,,,!!!
    tu orang mang pling bs bkin cwe klepek2 m kt2x,,,!!!
    tu mulut manis bgt ce ky’x,,,(taxa Haejin gmn rsx bi2r dongahe,,,manis g?)hehehe*plak
    dtnggu karya2 slanjutx,,,!!!^^

  8. Udah prnh baca. Berarti aq pembaca lama JinHae yah😀
    Klo disini endingnya agak gk masuk akal, masa Changmin terima ja Tunangannya diambil orang lain, apa kata dunia.. He..
    Tp aq suka cerita JinHae lepas dari Real. Critanya bs lbh berkembang. ^^

  9. *bangga*
    Aku udah pernah baca ini loh dulu di SJFF😀
    Tp aku dlu ga tau klo ini punyanya unni…
    Tp bner kata commentt2 yg diatas.
    Mau dibaca brapa kali juga… Ttep aja aku sukaa….
    Ahh… Makna cinta yg sesungguhnya itu memang sangat indah…
    *kenapa aku jd puitis gni???*
    #plak

  10. AAAH! AKU INGET! aku pernah baca ini di SJFF *nod nod*
    btw itu yang from haejin to donghae itu dari lagu ya? lagunya Titi DJ yang Sang Dewi? cuman di translate ke inggris?

  11. AJIEEEE IKAN OPPA AMA IKAN ONNIE ROMANTISSS!! #plakk heuheu, suka deh ama scene d boks telepon. Unyuuuu~ bener neh. Dibaca brapa kalipun g bosen! Sweet banget ceritanya! Jd ngebayangin gmana kalo itu aq ama… ama… ama…
    Kyaaaa~ ><

  12. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!

    keren,romantis abis…. akusukaakusukaakusuka 🙂
    perasaan aku juga udah pernah baca ff ini,tp g’ tau dimana….

    donghae emang paling bisa deh bikin cewek klepek2… 🙂

  13. Hae disini jd org miskin ya..
    Miskin2 ttp aja pesona na ada.
    Haejin ttp bertekuk lutut.. Wkkk..

    Hari ini skip beat maen yaa..
    Mari kita liad peran hae disana.. Hahahha

  14. Ya ampuuuuun ini baru JinHaeXy bgt!!!!!
    Romantis dan mengungkapkan perasaan bukan dari kata2, tapi dari skinship! Wkwkwkwk
    Aaaahh terharu bacanya :’D
    Ayolaaah nisya yg baik perbanyak lg ff JinHaeXy nya, ak kangen berat nih huhu
    Nisya jjang! JinHaeXy JJANG!!!

  15. okelah ucapan Jooeun yg berarti keinginan Haejin diamini Hyukjae🙂
    Aaaaaa ya ampun sumpah romantis bgt. Eerrrr~ mau dong punya cowo kaya gitu
    Nice ff, kebetulan aku belum pernah baca

  16. ini.. SUMPAH MANIS BANGET!
    Aaaaaah aku juga mau kencan romantis kayak gt ama ecuuuung… Ih unnie bisa aja bikin scene2 yg manis begono. Endingnya agak datar sih, terutama menyangkut changmin. Tapi tetep bagus kok.

    TEEEEEEEETTTTT!! TITI DJ, SANG DEWI!! Hahaha, awalnya ga ngeh. Tapi nyadar juga, salah satu lagu favorit sih.. Liriknya juara banget!!😄
    yg satunya kayaknya lagunya backstreet boys, tapi gatau jg :p

  17. romantissssss…..
    bayanginnya dah ky’ fairy tale gt,happy ending lg.bakalan senyum2 trs nii….
    btw,brarti hyuk jd mertuanya hae dong,hehe..

  18. aku penah baca, tapi aku lupa waktu itu koemn ga ya? o.oa
    aku kan masih belom lama insyaf dari SR, hehehe…

    itu lagu akhir judulnya all I have to gie nya BSB,😀
    aku suka deh sama cerita ini beneran, mau dibaca berapa kalipun tetep suka, ^^

  19. romantis amat…..
    jd pengen spt haejin, d’perlakukan amat sngat baek ma donghae..
    feel’y berasa banget, tersentuh..
    pkok’y daebak!!

  20. aku pernah baca ini di SJFF, karna pas pertama kali nemu JinHaeXy emg lgsung suka, dan nyari2 yg cast nya Haejin-Donghae #curhat

    lalu, emg ff ini sweeeettt bangeeeeeeeeett >.<
    yg di box telpon itulho, mauuu *lirik teuk #plakplak
    donghae nya romantis banget ya, mau deh punya pacar kaya bgtu #jiahh

    kangenn ff ini!! *cium2
    yeayy yeayy😀

  21. annyeooonnngggg Nisyaaaa. . . .🙂
    hahh, akhirnya bisa juga OL via PC. . kkk

    now, start the comment. . .
    ini ff udahh lama bnget aku bca, . . bhkan msih ada di save pages hpKu. . .kkk
    ni epep sumpah yeee, pngen bnget aku jdi Haejin…
    love story na emang umum, tp gregetnya itu lhooo. .. dapettt bngetttt. . .
    terharu bnget. . pa’lagi dngan smua perlakuan Hae…
    beuuuhhh, kagak nahan euyyy. ..

    keep writting Nisya. . . Figthingg!!!!

  22. OMONa…. aku nangis!! Ga tau kenapa alasan apa aku air mata aku keluar gtu aja?? aku ngebayangin haeppa jd org susah ga pnya apa2, rasanya… bnr2 woww… FF nii daebak, sederhana tp menyentuh!! feel nya dpt bgt… aku sukaaa… DAEBAKKKKK!!!

  23. wuuah,,, happie endiing…

    chukaae dulu bwat JInhae,, moga langgeng yooh,, :))
    untung banget ortunya haejin orang nya demokratis n fleksibel sama anakk…
    changmin samaa akk ajj y.. heeh*di ceraiin junsu
    kkkk

  24. Iya tuh, kalo ungkapan kasih sayang ala jinhae tu skinship yg banyak.
    Tapi sumpah,,,aku ga bisa bayangin donghae pake seragam pelayan hotel trs lagi bersihin lantai pake vacum cleaner,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s