My Soul in Seoul ~Chapter 4~

Title : My Soul In Seoul

Author : Aveeka Mauri (Makasih Onnie Sayang :*)

Genre : Romance, Humor, Family

Rate : PG-17

Length : Chapter

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin “Nadine”
Supporting Cast :
  • Kim Junghoon
  • Jung Dae Ri
  • Ok Taecyeon
  • Jung Jessica
  • Nadine’s Parents
~Chapter 4~

Tidak berbalas….

Aku terus memutar I-Phone ditanganku, berharap ada balasan atau panggilan telefon. Namun sekian lama tetap tidak ada juga. Tidak lagi kupedulikan mereka yang menggambil gambarku, yang kupikirkan hanya kedatangannya. Aku melangkahkan kaki menuju sebuah coffee shop. Saat mengantri pesanan, pandanganku tertuju pada sosok gadis dengan long coat berwarna beige dengan rambut digulung keatas dan berkacamata hitam.

Dia, kuyakini itu dia.

Aku berjalan mendekat dari arah belakangnya dimana dia sedang mencari seseorang. Namun tidak lama ada seorang laki-laki yang menghampirinya dan… ternyata bukan dia. Aku tetap menunggu, hingga kopiku menjadi dingin, bahkan habis tak bersisa. Jarum jam pun sudah menjelang tengah malam, aku masih menunggu.

Kusandarkan tubuhku pada kursi diruang tunggu dengan kemudian melipat kedua tangan didada dan memejamkan mata. Baiklah Lee Haejin, kau ingin menguji kesabaranku… Akan kubuktikan, walau petugas bandara mengusirku, aku akan tetap berada disekitar sini agar kau mudah menemukanku.

 

Author,

“Hae… Bangun! Donghae-ssi… Ayo bangun, mengapa menunggu terlalu lama bila tubuhmu sudah lelah…? Lee Donghae, cepat bangun… Hae, kita pulang… Ayo bangun, jangan buat mereka memotretmu saat sedang tidur seperti ini… Donghae-ssi… Donghae-ssi… Lee Donghae…. Hae… Donghae Oppa…”

“LEE HAEJIN…!!!” Donghae sontak terbangun, ia mengucek matanya kemudian menoleh kekanan dan kekiri sambil mengumpulkan nyawanya.

“Argh, Demi Tuhan Haejin… Ini mimpi….” Lirih Donghae mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Ia melangkah menuju rest room untuk membasuh wajahnya. Pukul 3 dini hari, dan dia benar tidak datang. Donghae melangkah keluar bandara menuju keparkiran dan ia menemukan supirnya sedang tertidur pulas. Donghae hanya meninggalkan sebuah pesan yang diletakkan dibawah wiper mobil lalu melangkah pergi mencari taksi.

 

Kediaman Donghae,

Donghae melempar tas pundaknya juga jaketnya kesembarang tempat, kemudian dia berdiri mematung didepan meja makan. Semua persiapan makan malam sudah tersaji atas bantuan managernya, tapi percuma sudah.

Ia merogoh saku celana jeansnya lalu sekali sentuh, ia menghubungi seseorang.

“Hallo….”Suara serak karena tertidur begitu jelas ditelinganya

“Sedang tidur…?” tanya Donghae datar.

  “Tidak, karena aku bisa menjawab panggilan ini…” Suara itu masih serak dan juga terdengar suaranya menguap.

“Apa ada masalah…?”

“Tidak ada… Kenapa..? Oh, Donghae-ssi… Maaf, aku tidak melihat siapa yang menghubungiku…” Oke, ia baru sadar dan sedang berupaya mengumpulkan kesadarannya dimana terdengar suara air dan tegukan yang berasal dari tenggorokannya.

“Sudah tau siapa aku…? Harus aku bertanya kenapa aku menghubungimu??? Apa pesanku tidak kau terima…???” tanya Donghae bertubi-tubi.

“Kau sudah kembali… Jam berapa sekarang? Jam 3 pagi, bukankah pesawatmu kau bilang mendarat jam 3 sore di Incheon…” Donghae menghela nafas panjang mendengar ucapan gadis ini yang tanpa berdosa sedikitpun.

“Aku baru sampai rumah… Terlambat karena tidak ada yang menjemputku… Tidurlah kembali, aku hanya memberitahu kalau aku sudah datang…” Jawab Donghae dengan nada berat menahan kecewa.

“Kau marah… Kenapa baru kembali sekarang, kenapa tidak dari sore tadi…?”

“Aku menunggu seseorang… Tapi sepertinya dia lupa kalau aku menunggu… Sudahlah, aku mau beristirahat… Lanjutkan tidurmu, maaf mengganggu mimpi indahmu…”

“Donghae-ssi… Lee Donghae, kau masih mendengarku…? Katakan mengapa menunggu..? Setidaknya satu dua jam aku tidak datang harusnya kau pulang… Apa sudah makan…?”

“Belum! Tidak apa, sebenarnya aku masih ingin menunggu hingga sampai petugas bandara menyeretku keluar dari tempat itu… Tapi aku bermimpi kalau orang yang kutunggu membangunkanku dan itu membuatku tersadar kalau dia tidak ingin menjemputku… Selamat malam Lee Haejin, teruskan tidurmu… Semoga bermimpi indah…” Donghae mematikan ponselnya dan matanya masih menatap hidangan diatas meja.

Donghae duduk menutup wajahnya dengan kedua tangannya, entah ada sesuatu yang membuat matanya dilapisi kristal bening yang tertahan. Ada rasa kecewa juga rasa sakit dan kesendirian yang rasanya mulai menggerogoti dirinya. “Memang seharusnya seperti ini agar aku tahu rasanya kecewa dan tidak diperhatikan… Ini memang seharusnya terjadi, walau ingin rasanya aku tidak melalu bagian dari drama ini…. Ini yang seharusnya terjadi…” Lirih Donghae memutar permukaan gelas wine yang masih kosong.

Tring….

Mata Donghae menatap pada layar ponselnya, pesan dari Nadine.

 

From : Neui Yeoja

Belum tidur kan..? Katakan, sudah makan atau belum..?

 

Donghae meletakkan ponselnya lalu membuka satu persatu pakaiannya. Sedikit gerak ia buat untuk meregangkan ototnya yang terasa kaku. Ia kembali menuju meja makan dan membala pesan Nadine.

 

To : Neui Yeoja

Baru mau tidur… Sudah tidak lapar, walau seharian belum makan apapun.. Harusnya makanan dipesawat tadi kumakan, tapi aku ingin makan bersama seseorang karenanya kutolak… Tidurlah, bye…

 

   Pagi hari Donghae sempat terjaga dari tidurnya karena dehidrasi, saat ia turun dari kamarnya, “Pagi Bi… Apa kabar..?” sapanya, saat melihat Bibi pengurus rumah sudah ada sedang bersih-bersih di bawah.

   “Pagi Donghae-ssi…. Kapan pulang..?”

   “Semalam… Bukan, dini hari tadi…“ Jawabnya membuka lemari es kemudian mengeluarkan sebotol air mineral.

  “Oh iya Bi… Makanan itu dibuang saja, rapikan mejanya…” Ucap Donghae menunjuk meja makan dengan pandangannya dan wanita paruh baya itu terlihat bingung.

   “Baiklah… Apa semalam ada acara yang dibatalkan…? Kau tidak mau makan..?”

   “Aku tidak lapar… Tidak ada acara, hanya Jung Hoon Hyung yang menyiapkannya namun aku telat pulang… Aku istirahat dulu Bi. Kalau ada panggilan telepon dari siapapun katakan aku belum kembali, dan tamu juga katakan hal yang sama… Bila pergi nanti, kunci saja pintunya…”

   “Baiklah, istirahatlah… “ Bibir pengurus rumah mengangguk, menatap Donghae yang kembali naik ke atas.

 

***

Libur yang diberikan Mr. Hong tidak digunakan Nadine dengan alasan akan digunakannya saat libur tahun baru nanti. Seminggu sudah tidak ada satupun kata dari Donghae, baik pesan singkat, email juga panggilan telepon. Dan Nadine juga tidak menghubunginya setelah pesan singkat terakhirnya malam itu.

   “Nadine-ssi!” Teriak seseorang saat Nadine sedang memeriksa contoh bahan yang diminta Mr. Hong.

“Oh, Paman Manager…. Apa kabar..? Kemari, ada apa..?” Nadine mendongak dan tersenyum melihat Kim Junghoon.

   “Aish, Paman Manager? Apa aku begitu tua mengalahkan atasanmu itu?” Komplain Jung Hoon dan Nadine hanya tersenyum sambil mengangkat pundaknya. “Hanya ada transaksi sedikit dengan atasanmu itu. Apa kabarmu? Sudah lama tidak bertemu… Bagaimana makan malam waktu itu? Kau apakan dia sampai harus menjadi Pangeran tidur selama dua hari berturut-turut tanpa mau menerima panggilanku… daebak!” Lanjut Jung Hoon sambil mengangkat alisnya menggoda.

   “Makan malam yang mana?” Kening Nadine berkerut mendengar ucapan dari Manager kekasih pura-puranya.

   “Waktu Donghae baru saja sampai dari Hongkong… Apa dua minggu ini ada makan malam lain? Kalian ini, kencan tanpa memberitahuku…” gerutu Junghoon.

   “Oh… Yang waktu itu! Maaf lupa. Apa dia selalu memberitahumu tentang apapun?” Ada rasa bersalah terselip dalam hati Nadine, dan ia membayangkan bagaimana Donghae menunggunya hari itu dibandara dengan perut kosong hanya karena ingin makan malam dengannya.

   “Tidak juga, Donghae tertutup untuk masalah hati, pikiran dan masa lalunya… Tidak mau membagi itu. Hei! Jangan bilang kalian…” Telunjuk Jung Hoon menunjuk pada Nadine mencoba menerka apa yang mereka berdua perbuat hingga Nadine panik tidak ingin Donghae cerita apa pun padanya.

   “Kami tidak melakukan apapun… Mengapa semua orang selalu menduga hal itu, tidak ada yang terjadi?” Nadine menggerutu sekaligus membela diri.

   “Baiklah. Terserah kalian melakukan apa tidak…” Jawab Jung Hoon mengangkat kedua tangannya dengan senyum menggoda.

   “Apa dia baik-baik saja?” Ini yang seharusnya ditanyakan Nadine sedari tadi.

   “Dia? Siapa dia? Dia yang mana?” Ledek JungHoon memastikan kekhawatiran gadis dihadapannya itu.

  “Paman! Kupastikan kalau kau tau dengan apa yang kutanyakan!” Nadine menggeram kesal,  Jung Hoon tertawa melihat wajah dingin dari Nadine.

   “Donghae benar… Kalau kau memasang wajah bengis dan menyeramkan seperti ini, kau memang terlihat menggemaskan Nona…” Namun, tatapan sarkastis Nadine membuat Jung Hoon terpaksa menahan kembali tawanya.

   “Kenapa tidak menemuinya bila ingin tau keadaannya?“ Ucap Jung Hoon menarik kertas dan pena ditangan Nadine kemudian menuliskan sesuatu disana lalu menyerahkannya kembali pada gadis itu. “Itu alamatnya… Langsung masuk saja, seorang kekasih tidak harus menekan intercom saat datang mengunjungi kekasihnya kan?”

Nadine menatap bingung pada lembaran kertas itu, dia merasa hanya sekedar ingin tahu keadaan laki-laki itu tapi tidak meminta alamat rumahnya.

   “Bukan ini maksudku Paman Manager…” keluh Nadine.

   “Sudahlah, kalau aku dipanggil paman, berarti kau harus menurut apa yang diucapkan adik ayahmu ini. Pergilah, eem sekalian aku titip belikan dia roti bagel blueberry dan strawberry cheese cake tadi dia menitipkannya padaku untuk teman minum kopi… Dan satu lagi, tolong bawakan jas ini untuknya ya… Semangat! Semoga sukses keponakanku…” Jung Hoon menepuk pundak Nadine sambil tersenyum sementara gadis itu termangu dalam kebingungan dan ketidakjelasan atas semua ini, hingga sadar kalau sang manager sudah hilang entah kemana, dan tangannya menggenggam paper bag.

“Mengapa aku yang membelikan juga mengantarkan pakaiannya? Tidakkah dia yang menjadi managernya, lalu aku? Memangnya aku ini istrinya apa? Lalu juga ikut mengurusnya… Benar-benar gila, apa mereka dulu hidup dalam satu rahim hingga berkelakuan sama-sama mengesalkan dan suka memaksa seperti ini?” Gerutu Nadine memandang paper bag yang berisi jas milik Donghae.

Nadine hilang konsentrasi dibalik meja kerjanya, berulang kali matanya melirik pada paper bag juga secarik kertas tulisan tangan Jung Hoon. “Apa aku harus melakukannya?” tanyanya.

Toh kemudian akhirnya Nadine meraih longcoat-nya dari sandaran kursi, ia memakainya sambil terus memandang paper bag. Nadine mengeratkan coat-nya lalu menyambar tasnya, berikut paper bag dan tidak ketinggalan alamat Donghae.

Tak lupa ia singgah disebuah toko kue.

“Dua Bagel Blueberry dan dua slice strawberry cheese cake… Dibawa pulang.” Pesan Nadine sesuai dengan ucapan dari Jung Hoon tadi.

 

***

Nadine berdiri kaku dalam ragu didepan sebuah rumah hingga seorang wanita paruh baya membuka gerbang. Terburu-buru dia membungkuk. “Selamat sore Bi… Apa benar ini kediamannya Lee Donghae-ssi?” tanyanya ragu.

“Sore, benar Nona… Aa! Anda Nona Lee bukan? Silahkan masuk, Jung Hoon-ssi sudah memberitahuku kalau anda akan datang… Aku pamit pulang dulu…” Bibi itu tersenyum lembut, dan berjalan melewati Nadine begitu saja.

“Bi, maksudnya… Aku hanya mengantar ini… Bi! Bibi‼!” Teriakan Nadine percuma karena wanita itu terus pergi menjauh, Nadine yakin kalau wanita paruh baya itu hanya pura-pura tidak mendengarnya saja.

Ini hanya lima jenjang anak tangga saat langkah Nadine tertuju pada pintu rumah Donghae, namun ia serasa menaiki ratusan jenjang anak tangga. Tangan Nadine berulang kali ragu menekan bel rumah Donghae.

“Langsung masuk saja, seorang kekasih tidak harus menekan intercon saat datang mengunjungi kekasihnya kan…”

Nadine menggelengkan kepalanya menghapus ucapan Jung Hoon, hingga tidak sengaja….

Ting Tong Ting Tong….

Nadine terkejut dengan apa yang dilakukannya dan dirinya makin terkejut saat sang penghuni membukakan pintu. Donghae muncul dibalik pintu dengan kaos abu-abu gelap dan celana panjang, itu mungkin wajar dan biasa dalam pandangan Nadine, tapi yang membuat gadis itu diam tercekat dan merasakan tenggorokannya tercekat adalah, laki-laki itu keluar dengan mengibaskan rambutnya yang basah menggunakan handuk, ada beberapa tetes air masih mengalir dileher dan keningnya. Wajah segar dengan aroma sabun juga shampoo melengkapi pesona yang sepertinya dilewatkan oleh mata Nadine. Maskulin juga kesan seksi tersirat jelas dihadapannya kini.

Donghae sedikit terkejut dengan tamu dihadapannya, dua minggu tanpa melihat wajahnya dan dua minggu kemudian tanpa suara juga wajah Eropa yang menggugah hatinya.

“Oh… Apa kabar? Maaf mengganggu… Aku hanya mengantar…” Ucap Nadine mengumpulkan kata-kata untuk mencairkan suasana sekaligus menghilangkan rasa gugupnya.

“Masuklah.” Jawab Donghae santai membuka lebar pintu rumahnya. Langkah kaki Nadine sejenak ragu untuk masuk kedalam rumah itu, namun tatapan Donghae membuatnya luluh dan menuruti tawarannya.

Donghae berjalan mendahului Nadine setelah menutup pintu rumahnya. Pandangan Nadine menjelajah setiap sudut ruang yang baru dimasukinya. “Aku hanya mengantarkan ini…” Nadine meletakkan kotak kue dan paper bag dimeja makan saat Donghae menyiapkan dua cangkir teh ginseng.

“Ini pinggannya, bisa bantu bawakan keatas…?” Dia menyodorkan dua pinggan kecil untuk kue sementara ditangannya terletak nampan lengkap berisi tea set.

Donghae sama sekali tidak bertanya apakah Nadine akan tinggal atau tidak, ia hanya langsung membuat gadis itu untuk tinggal dan menghabiskan sore bersamanya. Akhirnya langkah Donghae menuju lantai atas mezzanine diikuti pula oleh Nadine setelah membuka long coat-nya.

Hanya ada kamar tidur dimana lantai atas berbentuk cangkang siput. Tempat tidur besar berwarna putih, dan terdapat sofa panjang di sudut beserta LCD tv yang menempel di dinding. Lalu ada sebuah ruang lain yang ditebak Nadine itu adalah kamar mandi melihat pintu geser dengan kaca buram menyertainya, lalu ada juga lemari besar yang tertanam didinding.

Ruangan tidur ini terkesan luas dengan penataan interior yang sederhana. Donghae mendorong pintu beranda lantai atas tersebut dan meletakkan teh juga kotak kue ditangan Nadine diatas meja kecil bundar. Keduanya tetap diam tanpa ada yang berniat membuka suara terlebih dahulu satu sama lain setelah duduk di sisi meja. Nadine berulang kali melirik kearah Donghae yang hanya diam tertunduk memainkan jarinya dimana terkadang pandangan mereka bertemu.

“Aku sepertinya berbasa basi untuk menanyakan kabarmu… Apa tidurmu nyenyak?” Nadine membuka suara akhirnya.

Donghae tersenyum tipis menundukkan wajahnya. “Oh….” Jawabnya singkat disertai anggukan.

Kesekian kalinya Nadine menatap laki-laki disebelahnya yang masih tidak banyak bicara juga. “Bagaimana syutingnya… Apa berjalan lancar?”

“Begitulah, sudah tiga episode yang rampung… Setidaknya mungkin kurang dari setahun semua sudah bisa tayang.” Ada banyak kesan yang tersirat dari jawaban Donghae yang membuat tatapan Nadine tidak berpaling darinya.

“Ah… Aku mengerti…” Jawab Nadine sambil menghela nafas dan kali ini Donghae yang menatapnya lekat. “Hari itu…. Aku minta maaf karena tidak menjemputmu…” Nadine kini benar-benar menyesal.

“Oh… Tidak apa, toh aku juga tetap kembali…”

“Apakah kau marah? Setelah malam itu tidak ada kontak darimu…”

“Lalu mau mengharapkan apa? Aku menghubungi setiap saat namun diacuhkan… Syuting itu menyita tenaga, jadi aku takut mengganggu bila menghubungi dimalam hari.”

“Alibi… Sudahlah, aku kemari hanya mengantarkan itu… Aku pamit pulang…” Ucap Nadine beranjak dari duduknya kemudian melangkah menuju pintu lalu masuk ke kamar Donghae yang memang harus dilaluinya bila menuju kebagian bawah rumah Donghae.

Tiba-tiba langkahnya terhenti saat sebuah tangan meraih pinggangnya dan menyudutkannya pada dinding dengan keras, punggungnya sedikit menghantam dinding, dan Nadine sedikit meringis.

Nadine kehilangan kata-kata saat laki-laki itu sudah menatap dan memenjarakannya, jantungnya berdetak cepat sambil berharap kalau Donghae tidak mengdengarnya. Kedua tangan Nadine masih tergantung bebas saat salah satu tangan Donghae mengelus punggungnya.

“Hanya itu? Hanya itu alasanmu kemari tidak untuk hal lain?” Bisik Donghae dengan suara dalam, buru nafasnya yang hangat menghembus kewajah Nadine dengan tercium aroma segar dari pasta gigi.

“Aku harus punya alasan apa untuk kemari? Apa harus berkata aku merindukanmu karenanya aku kemari?” Lirih Nadine mengontrol gemuruh jantungnya. Gadis itu masih belum bisa menemukan cara bagaimana untuk tidak terbuai dan tergoda akan pesona laki-laki dihadapannya ini bila mereka begitu dekat.

Setidaknya, tiga bulan mengenalnya dan sekian kalinya kontak tubuh terjadi, Nadine sulit untuk menolaknya, bahkan tak dipungkiri kini ia mulai menikmatinya.

“Begitu lebih baik, karena itu memang seperti pasangan kekasih pada umumnya.” Sahut Donghae.

“Tapi hingga saat ini, kau juga masih belum menjawab pertanyaanku… Dimana hubungan antara status sementara dan kontak tubuh…” Suara Nadine kini bergetar karena keningnya mulai terekat pada kening Donghae dan ia merasakan halusnya hembusan nafas yang keluar dari hidung laki-laki itu, Nadine meneguk ludahnya dalam-dalam, tak dapat melanjutkan kalimatnya.

“Semua berhubungan… Status kekasih, entah pura-pura atau nyata, harus ada kontak tubuh yang terjalin untuk lebih mendekatkan dan menyakini hati atas apa yang kita rasakan…” Donghae menjawabnya, satu kecupan kini mendarat mulus dikening Nadine, dan tangannya yang tadi bebas kini sudah berpijak sempurna didada Donghae. “Terserah kau akan menghujat atau memarahiku bahkan membenciku setelah ini, terserah…. Tapi yang jelas, malam ini aku lebih memilih menjadi laki-laki bajingan dan tidak sopan juga kurang ajar dihadapanmu dan terhadap dirimu… Aku terlalu merindukanmu.” Lanjut Donghae dengan menatap mata Nadine dengan tatapan bagai lidah api yang begitu mengobarkan panas dimana kini mulai merasuki tubuh gadis itu.

Tidak menunggu jawaban penolakan, komplain bahkan izin dari Nadine, Donghae langsung menguasai bibir gadis itu.  Dan inilah yang menjadi keraguan Nadine saat akan mendatangi rumah Donghae tadi.

Disaat mereka hanya berdua, ia takut kalau mereka akan terbuai dan terlena hingga hilang kendali. Mimpinya yang dulu saja masih belum bisa dilupakannya, lalu ciuman pertama mereka, itu masih lekat diingatannya. Jadi ketika laki-laki dihadapannya ini menyentuhnya, memeluknya erat, menghantarkan getaran panas yang membakar dirinya, Nadine sadar dirinya tidak mempunyai kekuatan untuk menolak hasrat laki-laki itu, atau bahkan ia juga tidak bisa mengontrol pergolakan hasratnya sendiri untuk menikmati sentuhan bibir dari Donghae.

Entah berapa kali perubahan alur tautan bibir ini terjadi, dari kecupan, lumatan hingga kecupan lagi atau bahkan hanya sekedar bibir yang menempel untuk mengisi oksigen dalam paru-paru kemudian kembali melumat dalam.

“Donghae-ssi…. aaah, eumph… Apa arti ini…? Aku akan mencoba menjauh bila saat kita berdua selalu terjadi hal seperti ini…” Lirih Nadine dengan nafas tersengal dimana kening dan hidung mereka bertemu.

“Kau tidak menyukainya? Kalau aku menginginkannya malam ini?” Bisik Donghae mengusap pipi Nadine sambil membuka lilitan syal dileher Nadine.

“Tidakkah terlalu cepat…? Kita belum mengenal lama…” Nadine tersengal lirih.

“Apakah kau tidak menyukainya?” sama lirihnya Donghae menjawab.

“Aku…. Aaku…” Nadine bahkan terbata-bata saat harus menjawab, akal sehat dan perasaannya sudah tercampur baur menjadi satu.

“Aku mengenalmu… Karenanya memilihmu menjadi kekasihku, sekarang… Aku ingin lebih mengenalmu… Mengenal wujud dirimu luar dalam… Maukah…?” Bisik Donghae tepat ditelinga Nadine sambil mengecup cuping telinga dan menyibak rambut gadis itu agar bebas mengecup lehernya. Tangan Nadine mengusap punggung Donghae dan kepalanya sedikit mengadah saat merasakan desiran hangat dari bibir Donghae dilehernya.

Donghae kembali tidak menunggu jawaban dan izin dari Nadine. Sentuhan bibir Donghae kini bukan hanya transaksi pertukaran saliva, aransemen desah dan decak juga lumatan dan pijatan lidah yang menimbulkan kehangatan yang nikmat. Nadine mulai terbawa suasana, dan buaian ini sudah terlalu panas menjalas dalam tubuhnya, ia bagai menelan matahari sore agar malam segera datang dan membiarkan mereka terus bersama.

Nadine berharap buaian ini tidak membuatnya jatuh cinta. Tapi sikap seenak jidat, bualan juga semua hal yang menyebalkan dari laki-laki ini kadang dirindukannya, setidaknya selama 3 bulan belakangan ini. Tangan Donghae mengusap punggung Nadine membuat gadis itu seakan–akan tenggelam dalam ciuman juga larut dalam pelukan Donghae. Hati kecil Nadine terus berteriak mengingatkannya untuk menghentikan semuanya, tapi teriakan itu seolah hilang tenggelam dalam desahnya.

Nadine tidak lagi berpijak bumi ketika Donghae membawanya kepembaringan dan mendarat sempurna. Tubuh Donghae diatas tubuh gadis itu, ia menatap dalam pada Nadine yang entah harus berbuat apa. Tangan Nadine masih bergayut dipundak Donghae saat wajah laki-laki itu makin mendekat dan mencium keningnya. Usapan lembut dirambut panjang Nadine menambah kesan dalam dari tatapan laki-laki itu.

“Apa jeratan seperti ini yang selalu kau pergunakan untuk membuai gadis-gadis?”

“Aku tidak menjerat! Dan perlu kau ketahui, wanita yang masuk kemari hanya dirimu dan Bibi Jung… Ibu juga Nenekku pun belum pernah kemari… Kau berfikir aku selalu membawa wanita kemari lalu melakukannya?”

“Mungkin saja… Sepertinya kau terlihat biasa melakukannya…”

“Aku mulai terbiasa denganmu… Amat sangat terbiasa denganmu, suaramu juga gerak tubuhmu…” Bisik Donghae kembali menyambangi bibir Nadine, beberapa kali kecupan lembut kemudian berlanjut dengan lumatan yang menghantarkan sensasi lain. Hati kecil Nadine berteriak untuk berhenti namun pikirannya berkata untuk tetap dalam pelukan laki-laki itu, setidaknya Nadine berpikir kalau ciuman itu hanya kenikmatan sesaat, mengapa harus dihentikan?

Nadine menengadahkan kepala mengikuti permainan Donghae yang kini mulai menyentuh lehernya. Dan dua kancing kemeja pink yang sudah terbuka, kini tersentuh jari-jari Donghae yang menambahnya agar terbuka bebas. Sempat Nadine mencengkram tangang Donghae menghentikan jari laki-laki itu meneruskan membuka kancing keempatnya.

“Donghae-ssi!” Tenggorokan Nadine rasa tercekat namun ia harus membiarkan gelembung udara itu berubah menjadi lirih getar menyebut namanya.

 

Nadine POV,

“Donghae-ssi!” Getarku menyebut namanya karena sentuhan dileher ini begitu menggoda.

Wajahnya terangkat dan mata itu menatapku, kilatannya bagai pisau yang menembus pertahananku dalam penolakan, pandangan itu memiliki medan magnet yang membuatku tertarik kedalamnya.

“Apa harus dihentikan?” Bisiknya pelan, tapi ada ketidakrelaan yang terundang dalam hatiku. Kata-kata yang terucap dari bibirnya disertai sorot mata itu, mengapa bagi candu yang membuatku tidak kuasa menolak dan makin berharap makin menginginkan.

“Haruskah?” Sekarang aku tidak bisa berpikir, berharap dia tidak menghentikan ini. Yang kulihat dari sorot matanya ini tidak hanya hasrat yang menyala tapi ada kemesraan juga kelembutan yang setidaknya kini mengisi kekosongan hatiku yang nyaris tidak lagi mempercayai laki-laki.

Jangan terus menatap seperti itu karena aku akan pasrah menyerahkan segalanya.

“Lekuk leher yang begitu bersih ini yang menggodaku untuk menyentuhnya… Sepanjang diizinkan, tolong biarkan bibirku menyentuhnya dan menyusuri permukaan putih didadamu…” Jujur kuakui kalau suara lembutnya dan hembusan nafas yang hangat menerpa pori-poriku, mengandung morfin yang membuatku menyerah diam dan pasrah hanya mengikuti dan mengizinkannya berbuat semaunya. Jarinya kembali mengeluarkan satu kancing lagi dari lubang kemejaku dan tanganku kini melepaskan pegangan pada tangannya membiarkan dia bebas melepaskan semua kancingku.

Harusnya ada sentuhan dingin yang kurasakan karena basah bibirnya menjejaki leherku, tapi entah mengapa justru panas yang meradang dalam tubuhku karena sentuhan dan hisapannya. Sudah tanpa irama kepalaku bergerak ke kiri dan kekanan, terkadang menengadah, adakah jejak yang ditinggalkan disana?

Sela jariku penuh dengan rambut hitamnya manakala langkah bibirnya kini berkonsentrasi didadaku. Haruskah bidang kenyal yang menyumbul itu juga jadi santapannya? Uuuh…

Kuartikan apa semua ini? Nafsukah, atau rasa penasaran yang terobati karena gairah yang membakar diri akibat ulahnya? Jaringan syarafku tidak lagi fokus, tanganku pun juga tidak lagi bergayut disatu titik dimana semula meremas rambutnya kini sudah bergantian meremas seprai dan terkadang mencengkram pundaknya. Kakiku pun juga sudah tidak lagi berpijak diatas pembaringannya, berulang kali aku menggesek kakinya, kadang pula mengunci pinggangnya. Aku menggeliat dan mencoba bangkit dari pasrahku karena aksinya dan menarik paksa kaos yang dikenakan dan itu membuatnya bangkit dari atas tubuhku seolah tau kalau aku juga menginginkannya terbuka.

Dada bidang itu, garis nyata karena abs diperutnya, gerak otot saat ia membuka kausnya. Aku tidak ingin menghentikannya, apapun yang terjadi malam ini tidak akan kupedulikan, ini terlalu sempurna untuk kuabaikan.

Kini tangannya menumpu disisi kepalaku, sorot matanya yang teduh….

Kakek, mungkin aku jatuh cinta pada pria Korea ini, entah kau setuju atau tidak.. Rasanya aku akan menyerahkan seluruh hidupku padanya Kek…

Wajahnya kembali tertunduk dan mencium bibirku kembali, singkat. Kupalingkan wajah saat ia mencium kembali telinga dan tengkukku. Lalu kembali turun kedadaku dan jari-jarinya begitu lembut menyusuri belahan dadaku kemudian membuat goresan disumbulan dada yang mengintip padanya dari balutan penutup berenda putih.

 

Flashback On,

“Aku mencintaimu… Kita menikah…”

“Apa tidak terlalu cepat…?”

“Sepanjang kau percaya dan selalu disisiku dengan mencintaiku… Aku akan menjagamu… Mau menikah denganku…?”

“Aku mau… Aku juga mencintaimu….”

Flashback Off.

 

“Donghae-ssi! Donghae-ssi! Kumohon hentikan! Hentikan! Lee Donghae!!!”

 

Donghae POV,

“Donghae-ssi! Donghae-ssi! Kumohon hentikan! Hentikan! Lee Donghae!!!” Ada ketegangan ditubuhnya saat bibirku melekat diantara kedua belahan dada itu, hingga akhirnya dia berteriak mencengkram pundakku. Aku masih diatas tubuhnya memandangnya yang tidak fokus dan gelisah dengan dada naik turun tidak beraturan karena buru nafasnya. Kuusap wajahnya yang berkeringat mencoba menenangkannya yang masih begitu tegang. Kenapa dia…?

“Adakah yang salah?” Tanyaku pelan, tangannya yang mencengkram kuat sedikit mengendur dan kini memegang lenganku.

“Aku tidak bisa… Aku tidak bisa… Mengapa ada bisikan itu? Mengapa ada suara itu? Mengapa ada bayangan itu?” Racaunya makin gelisah dengan kristal bening yang turun disudut matanya.

Aku berbaring disisinya menutup dadanya yang terbuka karenaku dan membiarkan lengan kananku menjadi alas kepalanya. “Tenanglah… Kita tidak akan melakukannya… Maaf, aku terlalu memaksa….” Kubiarkan wajahnya bersembunyi didadaku dalam dekapanku.

 

***

“Morning….” Kecupku dikeningnya saat ia terjaga dipagi hari.

“Donghae-ssi?! Apa yang kau lakukan?!” tanyanya membelalak, matanya terbuka lebar karena kaget, dia benar-benar bingung, aduh… itu justru membangkitkan jiwa isengku.

“Aku? Apa yang aku lakukan? Tidak lihat keadaan kita?” Matanya terbelalak melihat pemandangan dadaku, yang tidak memakai apa-apa, dan kemejanya yang sudah terbuka semua. Sial! Aku benar-benar ingin memangsanya pagi ini… Bagaimana bisa kuacuhan pemandang indah ini?! Buah dada yang menyumbul berwarna cokelat menantang itu, ditambah ekspresi wajahnya yang ah… membuatku…

“Donghae-ssi… Kita… Kita tidak melakukan apa-apa kan?” Ia mengeratkan kemejanya dan duduk disebelahku dengan menatapku penuh selidik, tapi dia nampak tidak yakin juga. Aduh, dia ini polos sekali…

“Bagaimana tidak melakukan apapun? Lihat kaosku kau paksa lepas dan dibuang entah kemana? Dan lihat, bagaimana bisa aku tidak terpancing kalau dirimu membiarkan dadamu terbuka…” Ucapku bangkit sambil memijat tangan kananku yang mati rasa karena menjadi alas kepalanya, menahan tawa melihatnya nampak panik.

Ia terus memandangku tidak percaya, kemudian menatap kondisi dirinya yang membuatku mendadak ingin berolahraga. Kurentangkan kedua tanganku memamerkan dadaku yang tanpa pakaian. “Aaaah, semalaman tanganku mati rasa karena menjadi bantalmu… Apa begitu lelah setelah melakukan itu sampai tidak sadar kalau aku tersiksa?” Rutukku sambil memukul pundak kanan kemudian memijitnya dan ia hanya diam melihat dengan mulut sedikit terbuka dan tak lama ia menekuk kedua kakinya lalu menyembunyikan wajahnya disana.

“Ada apa…? Hei, kenapa menangis…?” tanyaku sok polos.

“Aku tidak menangis! Hanya saja, Donghae-ssi, benar semalam kita…?” Aku menganggukkan kepala dengan wajah aegyo, jujur dalam hati ingin tertawa, wajah dingin dan angkuh kini terlihat begitu memelas.

“Aku mau mandi… Bisa pinjamkan handuk?” tanyanya bergerak dari tempat tidur, pasrah dengan bualanku, dan lagi-lagi, dia tidak menutupi dadanya yang terlihat kenyal itu, aduh! Dia ini… apa dia berpikir kami benar-benar sudah melakukannya, maka ia tidak menutupinya lagi saking paniknya?

“Ini…“ kuberikannya handukku, aku mau wanginya melingkupiku nanti.

“Donghae-ssi…. Benarkah kita melakukannya…?” dia masih saja bertanya-tanya sambil menggenggam handukku.

“Apa kau tidak mengingatnya Nona Lee? Padahal semalam sudah kucoba untuk bertahan, tapi saat satu persatu kancing kemejamu kau buka…. Aaaah, aku laki-laki dan aku pasti akan menuruti kemauanmu…” jawabku mengusap kepala seolah menyesal dan wajahnya kini, benar-benar menggemaskan dan aku ingin mencubit pipinya yang nampak merona merah mendengar penuturanku.

“Mengapa bisa aku seperti itu? Bagaimana mungkin…? Aku tidak mabuk, kan?” Tanyanya lebih pada diri sendiri sembari melangkah ke kamar mandi.

“Apa dia benar-benar tidak mengingatnya?” Aku bingung sendiri dengan kejahilanku yang ternyata dipercayainya? Ah, pesonaku memang terlalu kuat, sampai dia lupa apa yang kulakukan padanya semalam.

Dua puluh menit kemudian…

“Donghae-ssi‼! Kenapa kau lakukan ini?! Aku ingat samar-samar sekarang! Bukan aku yang memulainya! Tapi dirimu… Lihat banyaknya noda‼! Gyaaaaa benar-benar pervert!” Ia berteriak keluar dari kamar mandi dengan hanya lilitan handuk dan rambut yang digulung tinggi, basah. Aku menelan ludah menahan aliran darah yang mulai deras melihat tubuh montoknya ini.

“Tapi kau menikmatinya Nona… Jadi jangan buat tuduhan semua mengarah padaku.” Aku membela diri dan sebuah bantal melayang kearahku.

“DONGHAE-SSI‼! Benar-benar menyebalkan! Kita bukan sepasang kekasih‼!” Geramnya dan ini menyeramkan walau dalam tampilan half naked, tapi sekaligus menggemaskan, dan menggairahkan.

“Hei, kita kekasih… Diluar sana semua orang sudah tahu dan mengenalmu sebagai kekasihku. Kenapa masih bilang kalau kita bukan kekasih?” Aku melangkah mendekat dengannya yang memasang wajah menyeramkan itu. Aku meneliti tubuhnya yang tidak tertutup handuk, baik leher, dan belahan dadanya yang sintal, lalu berdecak puas melihat mahakarya bibirku disana. “Aaah, tanda itu begitu indah dileher dan didadamu ya… Setidaknya kalau ada laki-laki lain yang mendekatimu, dia akan melihat tanda itu, dan mundur, karena itu berarti  dirimu ini sudah ada yang punya…”

“Benar-benar! Argh! Jangan pernah berharap bisa melakukannya lagi Donghae-ssi!” ancamnya menggemaskan.

“Kalau tidak sengaja atau kau sendiri yang menginginkan… Aku harus berbuat apa selain menuruti dan terbawa suasana?” tanyaku. Ia mengangkat tangannya kuyakin akan memukulku, namun kugapai cepat tanganku dan cepat juga kuberikan ciuman dibibirnya lalu berlari menuju kamar mandi.

“Aku mandi dulu! Olahraga malam itu benar-benar melelahkan ya… Kalau mau ganti pakaian cari saja dilemari, sudah kusiapkan kok.”

***

Author POV,

Nadine memandang lemari pakaian Donghae dimana memang tersedia beberapa pakaian wanita dengan ukurannya.

”Dia benar-benar menyiapkannya… Atau benar-benar berniat aku akan tinggal bersamanya? Dasar pria aneh!” Gerutu Nadine mengambil sebuah atasan bermodel kimono tanpa lengan dan berkerah V rendah berwarna biru pastel. Dan memang benar-benar pas ukurannya. ”Tapi mengapa model bajunya terbuka semua? Pria itu…” dengus Nadine sebal.

Aktivitas Nadine merias diri terhenti karena suara dering telepon rumah Donghae, langkah dan mengangkat telepon itu. “Hallo…”

“Kau! Kau gadis itu…? Dimana Donghae…?!”

“Oh, sedang mandi… Maaf, ini darimana?”

“Apa kalian hanya berdua dirumah itu…?!”

“Iya, maaf aku bicara dengan siapa?”

“Kau bermalam atau tinggal disana Nona?! Tidakkah tahu kalau disana hanya ada seorang laki-laki, bagaimana bisa kau berada disana sepagi ini?”

“Maaf… Aku tidak akan menjawab pertanyaan anda sebelum anda mengatakan siapa anda sebenarnya.”

“Aku Nenek Lee…. Nenek dari Lee Donghae… Katakan cucuku agar menghubungiku Nona Lee!”

“Oh… Maafkan aku Nek… Tapi tunggu sebentar, Donghae sudah selesai mandi…” Nadine menyerahkan wireless phone itu pada Donghae yang terlihat bingung, menatapnya saat keluar dari kamar mandi.

“Hallo… Ya Nek? Oh, dia menginap semalam…” Ucap Donghae sambil melangkah menuju beranda kamarnya dengan menutup pintu, hingga Nadine tidak dapat mendengar percakapan mereka.

“Ternyata tidak hanya Kakek yang overprotect. Apa semua orang Korea seperti ini? Setidaknya kalau kulihat dari drama mereka sudah hidup bebas seperti kehidupan dibarat sana… Pria dan wanita seatap tidak menjadi masalah…” gumam Nadine mengikat rambutnya lalu merapikan tempat tidur Donghae.

Mata Nadine tertuju pada Donghae yang dilihatnya dengan jelas dari balik pintu kaca, wajah laki-laki itu berulang kali tertunduk dengan kerutan dikeningnya. Sedikit tegang dan kadang, menghela nafas panjang. Rasanya pembicaraan itu benar-benar sebuah interogasi yang menyudutkannya atas sebuah dakwaan.

Nadine menuruni anak tangga menuju pantry lalu membuat sarapan saat ia melihat Donghae menurunkan teleponnya dari telingannya. Laki-laki itu bersandar pada besi pembatas dan menatap lurus pemandangan dari balkon kamarnya, beberapa lama ia berdiri diam kadang tertunduk sampai akhirnya ia kembali kedalam kamar yang sudah rapi kemudian mencari kekasihnya yang sudah berada diruang bawah.

“Harus dioles selai apa? Ini kopimu…” Sodor Nadine saat Donghae sudah duduk dimeja makan.

“Nenek bertanya apa?”

“Tidak ada, hanya klarifikasi mengapa aku berada dirumahmu dan hanya berdua denganmu…”

“Lalu?”

“Apa ada yang salah? Atau beliau tidak suka? Kalau begitu aku pergi… Terima kasih atas penginapan juga sarapannya…” Nadine melangkah mengambil coatnya namun lingkaran tangan Donghae sudah mengikat tubuhnya.

“Tetap disini! Ada banyak acara kita yang tertunda, jadi kali ini harus terlaksana semua… Aku juga belum puas tidur disisimu…” godanya.

“Ingin menghukumku?” Nadine mengangkat alis.

“Begitulah, terserah kau beranggapan apa… Tapi aku masih mau bersamamu… Malam ini kita makan malam pastinya dan sekarang… Emm, habiskan waktu sehari ini… Tidur bersamaku…” Bisik Donghae lalu membopong tubuh Nadine ala bridal.

“Gya‼! Donghae-ssi, ini… Turunkan aku‼! Orang ini benar-benar semaunya sendiri…” Nadine memukul bahu Donghae, tapi Donghae tetap memasang wajah polos menggoda.

KLIK.

Wajah keduanya mengarah pada pintu saat terdengar unlock password.

“OMO! Ya Tuhan… Maafkan aku, aku tidak tahu kalau kalian sedang…” Bibi pengurus rumah yang baru masuk, nampak terkejut melihat pemandangan di hadapannya.

“Tidak apa Bi… Kamarku tidak usah dirapikan ya… Sudah ada yang merapikan, Bibi rapikan ruang bawah saja ya… ” Donghae mengedipkan sebelah matanya pada wanita paruh baya itu yang hanya tersenyum menggeleng-gelengkan melihat kelakuannya.

Nadine memukul-mukul bahu Donghae malu, tapi hanya dibalas senyum lalu membawa gadis itu menaiki anak tangga menuju kamarnya.

 

Sorenya…

   “Cantik…” Seloroh Donghae saat Nadine keluar kamar mandi dengan off shoulder one piece dress berwarna Beige.

   “Darimana mendapatkan ini? Kapan membelinya?” Nadine penasaran sendiri menatap gaunnya.

   “Memang mau mengganti uang yang kukeluarkan untuk membelinya? Sudahlah yang penting cantik, dan sesuai ukuran tubuhmu Nona Eropa…” Bisik Donghae merapatkan tubuhnya dipunggung Nadine menghadap cermin. Donghae sesaat mencium pundak Nadine, “Dandan yang cantik ya… Aku tunggu dibawah…”

   “Ini merepotkan!” Teriak Nadine sambil duduk di meja rias.

“Merepotkan apanya…? Apa hanya berdandan benar-benar merepotkan?” tanya Donghae sambil memakai jasnya.

   “Menghilangkan noda ini!” Omel Nadine menunjuk bercak merah dileher juga tanda berwarna sedikit ungu didadanya.

   Donghae terkekeh geli, lalu berbalik menatap Nadine yang cemberut sambil memeriksa leher dan dadanya. “Aku tidak pernah punya tanda itu sebelumnya… Aku hanya bisa membuat saja, jadi tidak tahu bagaimana cara mengatasi tanda itu…” Jawab Donghae santai namun sebuah kotak tissue melayang kearahnya dari meja rias.

   “Ya Tuhan… Kalau marah benar-benar menyeramkan semua barang akan beterbangan.” Lirih Donghae melarikan diri kelantai bawah sambil terkekeh-kekeh, dia paling menikmati reaksi Nadine jika sedang digoda.

   “Ada apa?” Tanya sang Bibi melihat Donghae terkekeh-kekeh sambil geleng-geleng sok ngeri.

“Ada yang ngamuk…” Jawab Donghae membuka lemari es dan mengambil air mineral.

   “Lagipula kenapa kau ganggu dia? Anak nakal…” Sang Bibi geleng-geleng.

Tiba Direstaurant

“Ini terlalu mahal sepertinya…” gumam Nadine memandang sekeliling restoran.

“Hei, jangan kira karena kami vakum, lalu aku tidak punya cukup uang untuk membawamu kemari…” kata Donghae dengan tersinggung.

“Baiklah… Aku pesan menu yang mahal dan sebotol wine!” tantang Nadine.

“Terserah, makan sepuasmu dan pilih menu kesukaanmu…” Bisik Donghae menggandeng pinggang Nadine dan membawanya masuk dimana seorang pelayan mengantarkan mereka ke tempat yang sudah dipesan Donghae. Setelah memesan makanan yang diinginkan, Nadine pamit menuju rest room meninggalkan Donghae seorang diri.

“Lee Haejin? Ah, masih di Seoul rupanya… Apa kabar?” Panggil seseorang pada Nadine saat keluar dari rest room.

“Baik… Apa kabar Jung Dae Ri? Seorang diri atau bersama Taecyeon?” Sapa Nadine yang mengenali wanita itu, yap Jung Dae Ri, perebut kekasihnya, Ok Taecyeon.

“Tentunya bersama kekasihku… Kau sendiri, seorang diri atau…. Sedang ada blind date?” Ucap Dae Ri meledek.

“Emm, Sama sepertimu dengan kekasihku… Ada hal lain yang ingin disampaikan? aku harus menemani kekasihku…” Nadine mulai jengah menghadapi percakapan ini dengan seseorang yang telah merebut kekasihnya dulu.

“Melarikan diri atau hanya mengarang cerita tentang seorang kekasih? Gadis pemberontak yang melarikan diri dari Kakekmu, siapa yang kau kenal selain Taecyeon dan sahabatmu itu di Seoul ini…?” tanyanya mengejek.

“Haejin?” Suara laki-laki terdengar diantara perang kata-kata yang nyaris dimulai.

“Oh, Taecyeon-ssi?” Nadine menoleh menatap Taecyeon yang kelihatan kaget bertemu dengannya disini.

“Kau… Disini, sedang apa? Bersama siapa? Apa kabarmu?” tanya laki-laki itu menatap Nadine dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Dia baik-baik saja… Sepertinya sedang ada Blind date, entah laki-laki kaya mana yang menjadi kekasihnya…” Seloroh Dae Ri sambil mengaitkan tangannya dilengan Taecyeon.

“Setidaknya aku tidak merebut milik orang lain… Apa yang datang kerestaurant ini hanya untuk orang kaya? Ah… aku baru tau kalau kekasihku itu termasuk chaebol rupanya… Baiklah, baiknya kuterima pinangannya dan memastikan hatiku untuk mencintainya… Permisi, selamat bersenang-senang…” Pamit Nadine meninggalkan mereka.

”Dae Ri-ah… Sudahlah….” Ucap Taecyeon menarik tangan Dae Ri menghentikannya yang berniat mengikuti Nadine.

“Aku ingin tau, laki-laki mana yang meminangnya!” Ujar Dae Ri penuh penekanan.

“Kalau sudah tau… Lalu mau apa? Mau merebutnya lagi?”

“Maksudmu? Aaah, kau masih menyukainya! Sekarang menyesal meninggalkannya atau sudah bosan denganku? Bajingan!” Omel Dae Ri menghempaskan tangan Taecyeon dengan kasar.

“Dae Ri-ah! Jung Dae Ri!”

“L-lee Donghae…? Dia… Gadis itu dengan Lee Donghae…? Bagaimana dia bisa mengenalnya? Aaah, kukira dia gadis kura-kura yang hanya diam dalam tempurung agar tidak diketahui Kakeknya kalau ia sedang melarikan diri… Ternyata, seleramu bagus juga Lee Haejin…” Lirih Dae Ri menatap kearah Nadine yang sedang berjalan menuju meja Donghae.

“Emm, Nona… Bisa kami pindah tempat duduk disini? Tadi mejaku nomer 4, sekarang aku ingin duduk dimeja nomer 10 ini…” Pinta Dae Ri pada seorang pelayan.

“Kau mau apa? Mau memata-matainya?!” Protes Taecyeon.

“Iya… Mau tau, bagaimana dia bisa mendapatkan seorang member group band terkenal seperti Lee Donghae!”

 

*           *           *

“Pesanannya sudah datang, makanlah…” Ucap Donghae menarik kursi dimana Nadine akan duduk.

“Terima kasih…”

Hanya ada denting suara pisau dan garpu yang terdengar mengiringi makan malam mereka hingga seorang gadis datang dan langsung memegang pundak Donghae. “Donghae Oppa? Ah, senang bisa bertemu denganmu disini!” Sapanya lalu mencium kedua pipi Donghae.

Nadine hanya diam meneruskan makannnya.

“Jessica? Dengan siapa? Sudah makan?” Tanya Donghae kembali sesaat melirik pada Nadine yang mengacuhkannya.

“Apa boleh aku bergabung? Sedang janji dengan seseorang sebenarnya, tapi terlambat datang…” Donghae membantu Jessica dengan menarik sebuah kursi. Jessica menggeser kursi itu untuk sedikit merapat pada Donghae, Nadine meneguk winenya lagi tanpa memperdulikan sekitarnya yang juga seolah tidak menganggapnya ada.

Mata Nadine kini tertuju pada pasangan yang agak jauh dihadapannya, Taecyeon dan Dae Ri yang terlihat begitu mesra. “High Class Prostitution….” Desah Nadine menghabiskan winenya yang kemudian diisi kembali oleh seorang waiter.

“Sudah habis? Apa Ingin sesuatu lagi?” Tanya Donghae pada Nadine melihat piringnya sudah bersih.

“Akhirnya ingat kalau aku ada…” Lirih Nadine pelan. “Boleh bawakan dessertnya untukku?” Pinta Nadine pada waiter mengabaikan pertanyaan Donghae dan kembali menghabiskan winenya. Dirinya sudah gerah dengan pemandangan dihadapannya, cepat ia menghabiskan dessert juga wine yang entah ini gelas keberapa.

“Donghae Oppa, SPAO untuk edisi winter… Minggu depan kan?” Ucap Jessica pada Donghae.

“Iya… Mungkin pulang syuting aku langsung ke studio…”

“Apa syutingmu berjalan lancar? Emm, lain kali aku akan datang untuk melihat syutingmu…” tanya Jessica.

Mata Donghae tertuju pada Nadine yang sudah meminum bergelas-gelas wine walau telinganya mendengarkan pertanyaan Jessica, tapi tiba–tiba Jessica berdiri, “Oppa… Aku permisi dulu, temanku sudah datang… Jaga kesehatan ya, nanti aku akan menghubungimu…” Pamit Jessica yang tidak lama juga diikuti Nadine yang berdiri meletakkan serbet diatas meja.

“Aku juga sudah selesai… Terima kasih untuk makan malamnya…”

“Tunggu, apa kau marah? Dia hanya rekan satu manajemen, sudah kuanggap adik…”

“Aku tidak bertanya. Nona, meja nomer 15…” Ucap Nadine didepan kasir dengan Donghae yang membuntutinya.

“Aku yang membayar….” Donghae mengeluarkan dompetnya namun Nadine mendahulinya dengan menyodorkan kartu dan menandatangi bon dihadapannya.

“Sayang… Tadi itu hanya… Tunggu dulu, aku ambil mobil!“

“Aku naik bis saja, atau naik taksi saja….”

Donghae menarik paksa tangan Nadine dan membawanya kearah mobil yang sudah terparkir didepan restaurant. “Jangan curiga atau cemburu… Dia hanya adik kami… Kami satu manajemen, tidak ada hubungan apapun…”

“Aku tidak bertanya dan tidak mau tahu… Hanya muak melihat restaurant yang terlihat mewah ternyata hanya sebuah prostitusi…” lirih Nadine kesal, mengingat apa yang ia dengar, dan terlebih apa yang ia lihat hari ini.

“Lee Haejin!!!”

“Nadine! Namaku Nadine!” Nadine juga menjerit pada Donghae. Ia benar-benar muak dengan apa yang dilihatnya, mungkin ini yang dimaksud Kakeknya agar tidak menjalin hubungan dengan pria Korea. Matanya tajam, dan berkaca-kaca marah.

“Baiklah… Tidak usah dibahas.” Donghae mengalah membiarkan Nadine dengan wajahnya yang mengeras menahan marah. “Lusa… Natal nanti… Aku akan pulang ke Mokpo…”

“Emm…. Pergilah, tidak perlu pamit padaku…” sahut Nadine datar.

“Sayang, jangan seperti ini! Apa yang kau kesalkan?” desah Donghae gusar.

“Tidak ada… Apa yang perlu kukesalkan? Hanya sedikit mempercayai ucapan Kakekku dulu agar aku tidak menjalin hubungan dengan laki–laki Korea dan ternyata aku sudah menemukan alasan mengapa kakek melarang itu… Ternyata tidak ada yang bisa dipercaya dari laki-laki Korea!” ujarnya getas.

“Kau berubah…” lirih Donghae bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Kau bicara apa?” Tanya Nadine.

Donghae menggeleng cepat tidak menjawab pertanyaan Nadine, sama-sama tercekat. Mereka hanya diam hingga tiba di komplek apartemen Nadine. “Selamat Natal dan bersenang-senanglah….” Ucap Nadine lalu melangkah pergi meninggalkan Donghae yang berdiri didepan mobilnya.

 

*           *           *

Natal dilalui Donghae tanpa satupun balasan pesan dan panggilan telpon dari Nadine, berjuta pertanyaan penuh selidik dan dakwaan juga masih tertuju padanya dari  keluarganya saat ia berada di Mokpo.

Akhirnya, sore ini, saat menjelang detik-detik pergantian tahun dan  setelah pemotretan SPAO Donghae mendatangi butik Mr. Hong untuk menemui Nadine, dia tidak bisa menahan rindunya lagi, dia harus menemui gadis itu.

“Lee Donghae-ssi? Aaah, ada angin apa datang kemari, pastinya tidak untuk bertemu denganku bukan?” Sapa Mr. Hong menyambut Donghae yang tersenyum karena maksudnya sudah diketahui oleh laki-laki setengah wanita dihadapannya ini.

“Apa dia ada? Aku boleh meminjamnya darimu kan?” tanya Donghae percaya diri.

“Ada didalam… Sedang persiapan karena sketsanya kukirimkan untuk lomba design di Milan. Gadis itu kalau tidak dipaksa, ia tidak mau keluar dari tempurungnya. Pergilah, dia ada diruangannya. Hei! jangan berbuat macam-macam…” Pesan Mr. Hong memperingatkan.

“Baiklah… Hanya ciuman di bibir rasanya tidak akan menggetarkan butikmu…” seloroh Donghae sambil berjalan masuk ke dalam kantor di belakang butik.

“Dasar nakal! Penggoda wanita…” decak Mr Hong melihat langkah riang Donghae masuk ke dalam ruang kerja Nadine.

 

Ruang Kerja Nadine,

“Hallo… Bisa bertemu dengan Nona Lee…?”

Nadine yang sedang berkutat dengan bahan dan lembaran design hanya melirik saat mendengar pintuu terbuka dan sosok yang dikenalnyalah yang masuk, sosok yang, menghantui pikirannya belakangan ini.

“Apa mengganggu?” Tanya Donghae kembali dan bersandar disisi meja berlawanan dengan Nadine agar bisa melihatnya.

“Begitulah. Apa kabar? Bagaimana liburanmu?” Ucap Nadine tanpa melihat pada Donghae.

“Hmmm, tidak menyenangkan…” Donghae menghela nafas panjang sambil memainkan ujung syal milik Nadine.

“Kenapa? Apa terjadi persidangan disana?” Kembali Nadine bicara tanpa melihat pada laki-laki itu, dia hanya terfokus pada kertas pola dan design dihadapannya.

“Tidak ada persidangan… Hanya kesepian…” Lirih Donghae manja sambil terus menatap memuja pada gadis yang masih sibuk di hadapannya.

“Sepi? Memang mereka semua kemana? Bukankah kalian semua berkumpul?” Jari Donghae kini memainkan ujung rambut Nadine dan gadis itu hanya melirik saat ia melakukannya.

“Tidak ada dirimu…” Bisik Donghae dan memeluk Nadine dari belakang, menyibak gerai rambut gadis itu lalu mencium lehernya.

“Aaaaah, mulai lagi membual!” Desah Nadine menghela nafas panjang.

“Ini jujur Sayang… Aku tidak membual! Hampir dua minggu dan kau sama sekali tidak membalas pesan dan panggilanku.” Donghae mengeratkan pelukan pada Nadine dan meletakkan kepalanya dipundak gadis itu. Donghae kemudian mengeluarkan sebuah kado kecil. “Ini hadiah natal untukmu….”

“Terima kasih. Harusnya tidak perlu repot-repot.”

“Siapa yang repot? Untuk kekasih tidak ada yang repot. Aku kangen…” Donghae memutar tubuh Nadine menghadapnya. Jari-jarinya membersihkan beberapa rambut yang jatuh diwajah gadis itu lalu punggung tangannya mengusap lembut pipi Nadine.

Nadine hanya menatap Donghae sedikit memiringkan kepalanya untuk menikmati usapan laki-laki itu pada pipinya.

“Tidak merindukanku? Atau memberiku hadiah?” Tangan kiri Donghae makin merapatkan tubuh gadis itu sementara tangannya masih mengusap wajah Nadine.

“Hadiah harus dibalas hadiah? Emm, mau apa dariku? Biar nanti kuusahakan.” Jawab Nadine mengalah, Donghae nakal-nakal, tapi tetap saja seperti anak kecil yang ingin hadiah.

“Aku mau dirimu! Bolehkan?” Jari Donghae menyentuh permukaan bibir Nadine.

“Kalau bilang tidak, tetap paksa untuk iya kan?” Jawab Nadine mengangkat kedua alisnya dan Donghae hanya tersenyum menunduk sambil membasahi bibirnya.

“Kalau begitu… Maafkan aku Nona Lee….” Bibir Donghae mencium bibir Nadine seperti biasa tanpa menunggu jawaban Nadine. Ada sentuhan lembut dan dalam sekejap berubah menjadi lumatan dalam, tangan Nadine yang awalnya bebas kini bergayut manja dileher Donghae.

“Makin cepat bereaksi sekarang…” Lirih Donghae melepaskan ciuman mereka, namun kening dan ujung hidungnya masih menempel pada Nadine.

“Jadi… Maunya aku tidak usah bereaksi? Kalau begitu baiklah, sekarang pulang aku masih banyak pekerjaan…” Nadine melepaskan rangkulan tangannya dipundak Donghae, namun secepat itu juga Donghae kembali merapatkan tubuh gadis itu kepadanya, semakin rapatnya hingga setidaknya ada benturan antara buah dadanya dengan dada bidang Donghae.

“Tidak kuizinkan! Karena sesuai katamu kalau aku adalah tipe pemaksa…” Kembali Donghae menyesap bibir Nadine lembut, intens, menyampaikan getar rindu pada kekasihnya. Tangan Nadine menyusup masuk kedalam jas Donghae mengusap pinggangnya, Sejenak Donghae melepaskan ciumannya membelai wajah Nadine dan diam saling menatap.

“Kau menggangguku kalau seperti ini terus…” Seloroh Nadine dengan suara pelan.

“Mengganggu dibagian mananya? Mengganggu konsentrasi atau mengganggu perasaanmu yang mulai merindukanku?” bisik Donghae sambil memainkan ibu jarinya pada bibir bawah Nadine.

“Keduanya…” Jawab Nadine jujur.

“Benarkah? Kalau begitu buktikan!” Bisik Donghae kembali menautkan jari-jari tangannya yang merangkul pinggang Nadine.

“Buktikan apa?”

“Buktikan kalau aku sudah mengisi kehidupanmu sampai mengganggu konsentrasimu.”

“Harus begitu memangnya?”

“Aigoo, jangan lugu seperti itu… Nanti aku makin gemas padamu…” Donghae berkata gemas sendiri, sementara Nadine menggembungkan pipinya tanpa mengalihkan pandangan pada Donghae.

Ia mengeluarkan tangannya yang memeluk pinggang Donghae dari balik jas, kedua tangannya membuat guratan lembut pada alis lalu turun ke bibir Donghae. Kini Nadine sedikit berjinjit ia mengecup bibir Donghae namun tidak ada balasan dari laki-laki itu.
Nadine mulai mengerucutkan bibir dan untuk ketiga kalinya ia mendekatkan wajahnya lalu bibirnya menyentuh bibir Donghae dan kali ini, Donghae langsung menyambutnya, membuka mulutnya lalu meyesap dalam bibir tipis Nadine, kepala mereka berputar berlawanan arah.

Saliva mulai tertukar dan kini lidah Donghae mulai masuk hingga lumatan kian dalam. Tangan Nadine menarik kerah jas Donghae agar terus merapat dan mendalamkan ciumannya. Entah laki-laki akan berfikir apa tentangnya, Nadine tidak peduli, kini yang ia tau, ia hanya mengikuti suasana dan kata hatinya yang sudah terlalu nyaman didekat laki-laki ini.

Lumatan itu kini melambat walau tetap intens, sejenak mengisi oksigen yang tersita mereka mengubahnya menjadi kecupan-kecupan ringan hingga kemudian remasan Nadine pada kerah jas Donghae membuat laki-laki itu kembali membuai dirinya dengan  ciuman lembut, menyesap lapisan atas dan bawah bibir Nadine hingga keluhan dan desah lembut keluar dari mulut Nadine.

“Nona Lee…” Tiba-tiba saja pintu dibuka oleh atasan Nadine yang membuat mereka terkejut melepaskan pergumulan mereka.

Nadine melepaskan rangkulan tangan Donghae dipinggangnya kemudian berbalik badan menatap pada Mr. Hong namun ia menepuk dahinya dan kembali membalikkan badannya lalu menyeka lipstik diujung bibir Donghae.

“Ya Tuhan… Lee Donghae, kau benar-benar bajingan tampan… Aah, dasar penggoda! Bisa-bisanya kau mengganggu asistenku!” Omel Mr. Hong dan Nadine hanya tertunduk sementara Donghae hanya tersenyum, sama sekali tidak merasa bersalah, malah terlihat sedikit bangga berhasil memamerkan kemesraannya dan Nadine di depan orang lain.

“Tadi kan aku sudah bilang kalau hanya tautan bibir! Aah, benar-benar merusak suasana Anda ini.”

“Tapi dia asistenku! Dan kau mengganggu waktu kerjanya…”

“Dia juga istriku! Jadi aku juga punya hak atasnya… Ough!” Sebuah sikutan mengarah keperutnya. “Sayang, ini benar-benar sakit….” Rintihnya pada Nadine yang melotot padanya.

“Siapa yang menyuruhmu asal bicara?!” desis Nadine.

“Lihat dia saja complain! Cepat pergi, jangan ganggu konsentrasinya… Mudahnya mengakui setiap perempuan yang dekat denganmu sebagai istrimu!” Usir Mr. Hong pada Donghae yang memasang wajah kesal.

“Aku pergi dengan membawa dia…”

“Kalian hanya kekasih, jadi kau belum ada hak apapun!” Kelit Mr. Hong.

“Dia tunanganku!” Bela Donghae.

“Donghae-ssi….” Ucap Nadine mulai pusing dengan situasi ini.

Tiba-tiba Donghae mengambil kotak hadiah yang tadi diberikan pada Nadine lalu mengeluarkan isinya. Donghae memasangkan sebuah kalung dileher Nadine dimana gadis itu terkejut dan membuka matanya lebar tanpa bisa berbuat apapun karena setelah memasang lengan Donghae melingkar juga dilehernya.

“Dia tunanganku Mr. Hong… Jadi sekarang aku membawanya pulang! Sayang, kita pergi.”

Nadine bingung dengan ulah Donghae, sementara Atasannya hanya menghela nafas panjang dan bertolak pinggang melihat kelakuan Donghae yang membawa paksa Nadine pergi tepat didepan matanya.

Mereka berdua berjalan menyusuri kota Seoul menjelang detik-detik pergantian tahun, Donghae meraih tangan kiri Nadine lalu memasukkannya kedalam saku jaketnya dan Nadine hanya tersenyum.

“Terima Kasih untuk kalungnya…” Ucap Nadine melirik pada Donghae.

“Kau menyukainya?”

“Emm, Sederhana tapi tetap indah… Dan, terima kasih juga karena sudah membawaku lari dari istana neraka Mr. Hong. Ulahnya yang mengikut lombakan designku membuatku nyaris tidak menghabiskan malam pergantian tahun… Untung ada dirimu, malaikat penyelamatku…” Nadine berbisik saat dikalimat terakhirnya dan Donghae kembali tersenyum lalu mengacak rambut depan Nadine dengan tangan kirinya.

“Maukah memberiku hadiah tahun baru?” tanya Donghae.

“Bukankah tadi sudah mendapatkan bibirku?” seloroh Nadine.

“Masih kurang! Kubilang aku menginginkanmu…”

“Lalu, apa lagi yang kau mau sekarang?”

“Mengubah status pura-puraa menjadi nyata… Aku ingin dirimu menjadi kekasihku Nona Lee.”

“Selama berstatuskan pura-pura aku malah merasa kau sudah membuatku menjadi nyata Donghae-ssi… Menjadi nyata sebagai kekasih sesungguhnya.”

“Kita bertunangan… Aku akan mengumumkannya, setidaknya ini menyakinkan atasanmu itu agar tidak terlalu mengikatmu…” Donghae melanjutkan kata-katanya.

“Jangan lagi membuat masalah…” geleng Nadine.

“Masalah itu akan selalu ada, Sayang… Aku punya atau tidak seorang kekasih, masalah itu akan tetap ada.”

Nadine diam memandang temaram lampu dan tidak lama, salju pertamapun turun. “Salju turun! Hwaaa, indahnya!!!” Pekik Nadine sambil mengeluarkan tangannya dari saku Donghae.

“Mengalihkan pembicaraan…” ucap Donghae merajuk.

“Eh… Bicara sesuatu…?” tanya Nadine balik.

“Lupakan!”

“Marah padaku?” Goda Nadine menyenggol pundak Donghae dengan pundaknya.

“Begitulah… Nikmati saja saljunya.” Gerutunya.

“Tapi tadi bicara apa?” tanya Nadine lagi.

“Tidak ada, aku tidak membicarakan apapun… Saljunya indah, masih putih seperti tahun-tahun kemarin.” Donghae melanjutkan dengan nada tidak niat.

“Hei, kau ini benar-benar merajuk rupanya… Baiklah, katakan yang sebelumnya tadi.”

“Kubilang lupakan! Aku tidak bicara apapun…”

“Status pura2 ini jadi nyata? Oh, padahal aku sudah ingin menjawab iya sebenarnya… Baiklah, kita lupakan. Kalau bertunangan pun aku belum mau… Karena aku masih belum mengenalmu lebih jauh, tapi untuk saat ini… Aku sudah merasa begitu bergantung dengan kehadiranmu.” Nadine meneruskan kata-katanya dengan jujur.

“Apa?! Kau mau jawab apa?!” mendadak Donghae menatap Nadine lagi.

“Lupakan, saljunya putih ya… Sama seperti tahun-tahun kemarin.” Nadine menggoda Donghae dengan meniru kata-katanya tadi.

“Hei! Jadi kita kekasih sebenarnya?! Katakan kalau mencintaiku!” ucap Donghae memaksa Nadine sambil menatap wajahnya dengan bersemangat.

“Bagaimana bisa?! Aku perempuan… Mana ada perempuan yang harus mengung-kapkannya terlebih dahulu? Eiy…” Nadine geleng-geleng.

“Aku mencintamu Nona Lee… Nona Eropa, mulai hari ini kau hanya milikku sepenuhnya.” Bisik Donghae memegang pundak Nadine. Hembusan udara hangat dari mulut Donghae menyapu wajah Nadine. Donghae mengangkat dagu Nadine untuk menciumnya, lumatan lembut namun bagi Nadine mulut Donghae seolah terkandung bara yang menjalarkan panas mengusir dingin dari salju yang mulai berjatuhan. Ciuman keduanya terlepaskan, tanpa bicara kini hanya saling menatap. Tangan Donghae mendekap hangat pipi Nadine dan gadis itu hanya seperti kucing Persia yang begitu manja mengharap sentuhan lain.

Dreet Dreet.

“Ponselku.“ Nadine merogoh tasnya dengan diiringi tatapan dari Donghae. “Ibuku!” pekiknya. “Hallo… Ibu, apa kabar? Apa, kapan kalian datang? Sekarang dimana…? Oh, aku tau aku akan kesana! Tunggu aku!” Nadine terlihat senang dan Donghae bingung menatapnya.

“Siapa?”

“Orangtuaku… Mereka disini, aku harus kesana menemui mereka!” ujar Nadine bersemangat.

“Aku antar!” Donghae refleks menarik tangan Nadine.

“Tunggu… Kau mau ikut, bertemu mereka?”

“Ya! Seharusnya kau mengajakku karena aku kekasihmu… Bagaimana bisa aku begitu kurang ajar tidak menemui calon mertuaku?” Tarik Donghae pada tangan Nadine sambil menghentikan taksi.

“Maksudnya? Tunggu, calon mertua? Yak! Siapa yang akan menikah denganmu…?” gerutu Nadine diabaikan oleh Donghae.

 

*           *           *

“Ibuuuu‼!” Teriak Nadine saat bertemu dengan seorang wanita paruh baya dan ia langsung berlari memeluknya.

“Apa kabarmu Nak?” Lirihnya mengusap wajah putrinya.

“Baik! Mengapa baru memberitahu kalau akan datang?”

“Ayahmu hanya ingin melihat makam Nenek dan Kakekmu… Itu Ayahmu, sapalah…” Ibu Nadine menunjuk pada seorang laki-laki paruh baya yang sedang membersihkan jasnya dari salju.

“Ayah!!!”

“Ya Tuhan Putriku… Sehat, Nak? Makan dan tidurmu cukup? Bagaimana bisa liburan musim dingin tidak pulang menjenguk Ayah tertampanmu ini?” Sapanya sambil memeluk putrinya erat.

“Aish, genitnya Mr. Adam ini… Aku kangen Ayah.” Peluk Nadine kembali. Mata tua itu kini terpaku pada sosok laki-laki muda dihadapannya begitu juga sang ibu.

“Apa kabar Paman, Bibi… Aku Lee Donghae…” Ucap Donghae mengenalkan diri sambil membungkuk.

“Haejin-ah… Anak ini, kenapa temanmu di abaikan?!” Omel sang Ibu mengingatkan Nadine pada seseorang yang dibawanya.

“Maaf… Aku terlalu kangen sama kalian… Toh, dia juga sudah memperkenalkan diri…” sanggah Nadine.

“Kita duduk dan minum kopi atau teh disana.” Ajak Ayah Nadine yang masih digayut manja puteri satu-satunya.

Lima Belas Menit kemudian

“Ehem! Anak Muda…. Bisa kita berpisah dari para wanita cantik ini? Baiknya kita bicara berdua, khusus pembicaraan laki-laki.” ucap Ayah Nadine mengajak Donghae berpindah tempat duduk.

“Ayah… Ada apa? Mau kemana?” Nadine bingung karena mereka hendak memisahkan diri dan tangannya refleks menggenggam tangan Donghae yang sudah beranjak dari kursinya.

“Tidak ada apa-apa, hanya obrolan sesama lelaki… Mari anak muda!”

“Aku tinggal sebentar…” ucap Donghae mengusap tangan Nadine yang masih erat menggenggamnya. Sesaat Donghae sedikit membungkukkan badan berpamitan pada Ibu Nadine lalu kemudian melangkah duduk dihadapan Ayah Nadine, jarak tempat duduk dimana Nadine dan Ibunya berada memang sedikit jauh namun Nadine masih jelas melihat kedua laki-laki beda generasi itu.

“Apa yang mereka bicarakan Bu? Mengapa Ayah harus bicara empat mata dengannya? Mereka kan baru bertemu.” Tanya Nadine penuh rasa penasaran.

“Biarlah… Ayahmu tadi bilang hanya pembicaraan laki-laki, mengapa harus pusing? Oh ya, Nak, sudah berapa lama kalian berhubungan?” Tanya Ibu Nadine kemudian.

“Baru Empat bulan…” Nadine menghitung kebersamaan mereka, bukan berapa lama status pacaran asli mereka.

“Apa kau mencintainya?” Tanya Ibu Nadine kembali.

“Entahlah Bu, tapi selama ini aku nyaman disisinya… Rasanya seperti empat tahun sudah mengenalnya… Walau sikapnya terkadang menyebalkan, namun dia lebih banyak perhatian dan penuh rasa sayang.” Nadine tertunduk mengakui dengan jujur sambil memutar cangkir kopinya.

“Apa yang membuatmu ragu? Apa karena Kakekmu?”

“Aku tidak tau Bu. Bu, apa Kakek sehat? Apa Kakek memarahi kalian karena aku pergi?”

“Beliau sehat, dia hanya memarahi Ibu, dan itu biasa. Sekarang Kakek sudah tau kalau kau ada di Seoul… Semoga Kakek tidak berbuat apa-apa padamu, terlebih kalau dia mendengar kau berhubungan dengan Pria Korea.” Ibunya menambahkan dengan cemas.

“Bu, Kakek sudah tau?!” Nadine menggeleng panik. ”Ibu, apa Kakek juga sudah tau dimana aku tinggal?“

Ibu Nadine menganggukkan kepala menjawab pertanyaan puterinya.

“Ibu, Aku tidak mau kembali ke London… Bu, bantu aku jangan sampai Kakek kemari. Bu, Aku tidak mau Kakek mengurungku lagi! Bu, Ibu mau menolongku kan? Bu, aku baru ingin mengenalnya! Tolong jangan katakan pada Kakek tentang dia Bu!” cairan bening mengalir dipipi Nadine tanpa ia sadari sambil menggenggam erat tangan Ibunya dan Ibunya mencoba menenangkan putrinya.

 

…T.B.C…

77 thoughts on “My Soul in Seoul ~Chapter 4~

  1. wow, byk banget kisseu’y..
    donghae bener2 jago yak, jd pengen jg.. *plak* haha

    masalah mulai tercium nih..
    smg aja kakek’y haejin gak jahat2 amat, walaupun scr tersirat jahat..
    trus pst da alasan knp kakek’y haejin gak suka cwo korea…

  2. wuuuaaahhhhh SO HOT..
    kerenn kereeennnn..aku suka jalan ceritaa nyaa..
    makin menariikkkkk..
    ternyata donghae ngambek juga krn haejin ga jemput dy d banadara..
    aku kirain haejin beneran jemput donghae d bandara yg pasa bagian donghae ketiduran itu,,
    tau ny cuma mimpi doaangg..
    sayang banget makanan nyaa..masa d buang..kkkkkk..
    junghoon oppa di panggil paman..
    poor you oppaaa…brasa makin tua dehh yaa…kkkkkkkkkkk…
    aku tunggu banget lanjutan FF nyaaaa..
    HWAITINGGGGG!!! ^^

  3. Semenyeramkan itukah kakeknya Nadine???

    Aiiihhh jd tambah gemes sama sifat pemaksanya Donghae di sini… TOP!!! Knows how to treat a girl… *peluk hae* djitak Nisya*

    Kakekny pny alasan apa sih smpe Nadine ktakutan gtu?
    Dtunggu next partnya yaaaa \(´▽`)/

  4. ini 18+ oenn haha😀
    bagus banget, tp kok bisa tahan di cuekin gt ya?
    tapi ya itu, bayaran akibat dicuekinnya bikin mandi besar #plakk

  5. kissing scene nyaaaaa..
    skinship nyaaaaaaa…..
    semua sukaaaaa….*plak
    >,<

    aduh,aduh..
    hae udah ketemu sama calon mertua nii..
    asekk..asekk*joget*

  6. Whoaaaaaaa….
    Lee donghae sudah mulai ganas dan haejin pun sudah mulai jatuh hati.
    Ya sudah tinggal nikah beneran sajalah,sepertinya orang tua nadine juga menyetujui*di rajam ama kakek nadine.
    Wkwkwkwj

  7. baru bacaaaaa *plaakkk
    jadi beneran pacaran nih ??? ckckkcckkc

    nadine sih sok jual mahal . hehehehehehe

    itu rate nya harus lebih ditingkatkan deh kayanya , hehehhehe :p

  8. uwooooo…. udah sampe tahap bobo’ bareng (?) ya~
    peningkatan pesat tuh~ XDD
    ciyeeehhhh… yang udah resmi pacaran… makin langgeng yah…
    yang sabar ya ngadepin rintangan yang menghadang suatu hari *apaan deh bahasanya -.-*

    makin seneng deh ma ceritanya… lanjutkan!!!
    fighting yah buat authornya😀

  9. omo! omo! progress couple ini cepet bgt, ky ikan pesut dikejar kamtib (?) #plaaak haha ampe panas dingin klo baca skinshipnya jinhae >.< asik dah skrg udh bkn pura2 lg berarti yaa.. chukkahaeyo!!❤ aiih jd ga sabar nunggu next part-nya kkkk~ btw itu prince manajer asoy bnr dipanggil paman.. prince, paman.. sama2 "P" sih, tp ya boleh lah biar dia inget umur😄 *dilempar bakiak* wkwkwk

  10. ah jadi ikut sedih pas akhir2 itu, kasian nadine😦
    yg sabar ya, jodoh ga kemana #plaak

    gyaaa~ banyak kisseunya wkwkwk #mupeng
    nadine dongha seswathu banget gituh ._. ciumannya itu bikin iri lho, apalgi pas di rumah donghae itu #plakplak

    paman manager? waduh itu kan temennya mihee itu dipanggil paman? sabar ya junghoon-ssi #apasih

    lanjut ya veeka onnie😀

  11. aigoo~~ makin suka sama ff ini…
    karakternya sama2 aku suka, donghae yang playboy(?) sama haejin yang judes2 pasrah..
    aku tunggu part. 5 nya ya~~

    oia, aku penasaran sama nadine, pas malemnya kan nolak, tapi kenapa paginya ga inget sama sekali…
    jawabannya aku tunggu di part2 selanjutnya…^^

  12. gabung aja ye komen dr prolog,chap 1- 4
    hehehhe

    pas liad nama author: Veeka oenni!!
    OMG,She’s my fav author!!!hehehe

    awal cerita nya(read:chap 1) ni brasa kyk prnh baca,,trnya dijelasin ma Veeka oenn klo mmg rada2 ke novel Summer in Seoul,,fiuhhh untuung,,,hehehehe

    smkn nambah chapter,,udh ga ngikutin ke novel itu kok,,brasa ada sentuhan brbeda dr ff ini,,lbh fresh ^^

    ini karakter Haejin mirip Minna kn,,,hehehehe..rada2 jutek gtu tp mau sama abang ikan ku sayang >..<
    bener2 seperti Cassanova!!!!!

    heuuum~~apalagi y,,bashing ga da sh,krn ff karya Veeka oenni daebak semua ^^
    hehehhe..
    ditunggu chapter selanjutny deh…

  13. annyeoongggg author epep ini *lupa namax* *ditendangsiAuthor*
    arthy imnida, bangapsumnida. . .
    mian bru bida comment skrng. . . .
    aku mau comment dari part 1-4 di sini aja yah thor???? bleh yahhh???kkkk

    anyway, klo di When I Fall na si Nisya, tokoh Haejin dibuat lebih agresif. . .
    nah klo di neh epep, malah kebalikkanx. .
    seneng deh liat tokoh Hae dri sudut pandang yg lain. . .
    apalgi bagian NC na. . .wkwkwkwk *muncultanduk*

    itu, papa Haejin mau ngomong apaan seh sma Hae???
    Ikan gag di tabok kan??? kan kasian. ..😦

    oh iya, neh setting waktunya pas oppadeul abis wamil yah . .???
    kyakx mereka vakum gituh klo di liat dari alurnya. .

    untuk alur, gaya bahasa, penulisan dan lainnya, udah sngat bgus. . heheheh *sotoy*
    penasaran sma part lanjutannya. . .
    apa yg terjadi slanjutnya??? bgmana sam harabojinya Haejin???
    tanda tanya besar muncul di atas kepala ku????
    kkkk
    mian yah kebnyakkkan. . .

  14. annyeong veeka onnie *ikut2an yg lain panggil onnie*
    sebelumnya maaf kalo aku baru koment di part 4, krna aku bacanya telat jd mo drangkum disini ajah,,,,

    past baca prolog, hal pertama yg aku inget langsung summer in seoul, tdinya aku udah mau bilang, tapi ternyata pas baca part 1 awal2nya juga sma, dan ternyata oenni udah bilang sendiri klo ada sebagian di ambil dr summer in seoul,,,
    mulai part 2 crta udah beda, aku suka skinshipnya,,,, *otak yadong*
    tapi klo bisa onnie jgn ambil part/certa di summer in seoul lg deh, kan klo kbanyakan takutnya jatuhnya plagiat, aku yakin onnie bsa bikin yg lebih keren,,,
    aku tunggu kelanjutannya yah,,,,🙂

    oia blognya jgn diprotect dong aku mo main ke blog oenni, aku suka bahasa yg onnie pake di ff, keren2,,,,, yah,,,yah,,,, dibuka ayo,,,,

  15. Ckck adegan mesranya banyak aja yaah heheh
    akhirnya donghaejin pacaran beneran *loncat2*😀 langgeng yaah semoga kakeknya nadine gak ganggu hehe
    ditunggu lanjutannya yaa ^^

  16. Pingback: My Soul In Seoul ~Chapter 5~ « JinHaeXy

  17. hiaaaaa lupa baca ni ff ampe part mana yax??? *amnesia kumat

    ‘Mengenal wujud dirimu luar dalam’
    eiii c abang paling bsa cari alasan.. *toel dagu hae
    pengen liat tanda yg d bikin hae ampe haejin bingung nutupinx gimana
    sebesar apa? sebanyak apa? sekentara apa? dan se se yg laen.. *otak liar
    akakakakkk *sodorin leher k hae #plakk

    ‘ .. saljunya
    indah, masih putih seperti tahun-tahun kemarin.. ‘
    eaaaaa krik krik krik krik
    buakakakkkk ikannnnnn *gigit gemes
    nyakkkk.. sering bner ini d mari cipok2 basah *acak rambut
    lanjuttttt pngen tw ntu c ikan ngomong apa ma haejin appa..
    btw ngebayangin jd mr hong yg mergokin jinhae lg pergumulan.. hmmm..

  18. Ih sedih banget yah pas donghae nungguin itu sampe ga makan pulang dini hari eh haejinnya malah kyak ga punya dosa lagi. udah gtu dateng ke apartemen bilang alibi segala lah, jelas donghae marah dong.. haduuuh -__-
    Egue engaph ah enyak penjabarannya makjleb gila bkin deg deg sendiri dan kenapa harus Cuma sampe dada doang #plakk~ katanya udah ga peduli malem itu mau haduh donghae.. baiknya sih gamau maksa haejin >///<
    Itu taec sama pasangannya apabanget yah -_- bkin haejin badmood aja deh .. etapi untung deh kn udah saling nyatain perasaan.. sumpah cheesynya berasa banget deh ah nyaaak XD~ etapi itu ko kakeknya gtu banget yah.. duh bapak tua bangka ._. #plakk😄

  19. oh god so sweet banget ini😥 suka banget ff nya kaya gini. haejinnya bener” kena banget feelnya.. ih kalau udh jauh sampe sini tuh rasanya jangan dipisahin deh mereka T-T dannnnnnnnn suka banget karna ff nya panjang hoho😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s