{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan ~3/?~

Title : Honeymoon in Saipan

Author : Nisya aka Donghae’s Wife & pacardonghae

Genre : Romance, Humor, Unrated

Rated : PG-17 (Sometimes will get higher)

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin
  • Park Jungsoo aka Leeteuk

Support Cast :

  • Donghae’s Mom
  • Leeteuk’s Mom

Part 3

 

Apa maksudnya? Kata-kata Leeteuk Oppa tadi, ke Saipan? Dimana pula Saipan itu? Meski begitu, jika hanya aku berdua dengan Donghae yang kesana. Kenapa pula harus aku mendengar Leeteuk Oppa datang dan berkata, bahwa Eommonim mengajak ibunya Leeteuk Oppa untuk ikut dengan Donghae.

   ”Hyung, pergilah dulu,” kudengar Donghae berkata dengan nada tegas.

   ”Ah baiklah, maaf menganggu. Haejin-ah, selamat malam.” Teriak Leeteuk dari luar dan kudengar pintu di tutup.

   Donghae berbalik dan aku menatapnya dan tajam.

   ”Ige mwoya?!” tanyaku.

   ”Nan molla.”

   ”Bagaimana bisa nan molla?!” tanyaku dengan suara tinggi, kemudian kulirik amplop cokelat di atas meja. ”Itu apa?”

   Donghae menghela napas. ”Tiket.”

   Aku menghampiri meja dan merobek isi amplop cokelat tersebut. Isinya paspor kami berdua, pasporku dan Donghae, yang telah diberikan visa menuju Jepang. Kemudian kulihat dua lembar tiket, dan kubuka isi tiketnya. Memang benar, tujuan tiket ini untuk pergi ke Jepang.

   ”Jepang?!” lengkingku. ”Aku baru dari Jepang dan kau akan mengajakku liburan kembali ke Jepang?!”

   Dia membuka matanya lelah. ”Rencananya begitu, tapi entah kenapa semua jadi kacau. Aku tidak tahu tiba-tiba Leeteuk Hyung memutuskan untuk ikut ke Saipan, dia mengajak Eomma, dan Eomma mengajak Eommanya.” Desahnya berat. ”Itu semua rencananya, bukan rencanaku, Sayang, sumpah.”

   Aku mengeluh dan duduk di sofa panjang. ”Jadi maksudnya kita tidak akan berlibur hanya berdua saja?!” tanyaku, berharap dia akan menjawab tidak.

   ”Diluar kendaliku.”

   ”Bagus sekali!” desisku. ”Keurae. Itu akan jadi alasan yang baik untukmu dalam menghindariku, kan?!” tanpa bisa kucegah, ada perasaan marah, malu, dan sakit hati membuncah di dalam dadaku. Donghae pastilah melakukan ini, karena dia memang tidak mau pergi bersamaku hanya berdua.

   ”Tidak seperti itu!” Donghae meloncat berdiri dengan panik, matanya melebar ngeri. ”Aku tidak berpikir begitu sama sekali, sumpah. Aku tidak tahu kenapa Leeteuk Hyung melakukan ini pada kita.” Donghae kelihatan cemas. ”Aku sudah mempersiapkan segalanya, tapi aku tidak memperkirakan bahwa Leeteuk Hyung akan ikut disini, bahkan dia menipu Junghoon Hyung.”

   Aku menggeram kesal. Ahjussi satu itu, kenapa sih dia tidak bisa melihatku dan Donghae senang? Aku mengembuskan napasku kesal. ”Jadi memang Leeteuk Oppa sengaja mengikuti kita?”

   ”Oh.” Donghae mengangguk.

   ”Membawa Eommonim?”

   ”Ne.”

   ”Ya sudah, kalian berliburlah berdua, bersama orangtua kalian, ada baiknya aku pulang saja.”

   Donghae buru-buru meloncat duduk di sampingku, menahan tanganku. ”Jangan! Tidak bisa begitu, Sayang. Jangan pulang, kumohon.” Dia benar-benar memohon. ”Aku sudah menunggu saat-saat kita bisa berlibur bersama.”

   ”Tapi nyatanya kita tidak berlibur bersama, kita berlibur beramai-ramai,”

   ”Aku tahu kau keberatan, tapi aku lebih keberatan lagi kalau kau tak ikut. Sayang, kita sama-sama sibuk. Setelah ini aku akan mulai persiapan Super Show 4, dan kau pasti akan sibuk lagi.” Dia memegang kedua bahuku agar terus menatapnya. Matanya benar-benar memohon dengan sangat. ”Meski ini berantakan, meski ini tidak seperti yang kita harapkan. Setidaknya, kita tetap bersama-sama. Aku mohon jangan pulang.” Dia memelukku erat-erat. Aku jadi tidak tega. Ah~ kenapa aku selalu tidak tega padanya sementara dia tidak mau mengabulkan keinginanku. Dia melepaskanku lagi dan masih menatapku memohon. ”Jebal.”

   ”Aku mau bersamamu,” kuangkat tanganku, dan kubeli rambutnya. ”Aku mau hanya ada kau dan aku.”

   ”Aku juga mau, tapi ini diluar perkiraan kita. Aku pun baru tahu.”

   ”Bagaimana kita bisa…” aku menghela napas frustasi. ”Atau jangan-jangan kau malah senang kita tidak pergi berdua?” tanyaku kesal. ”Artinya aku tidak lagi bisa merayumu?!”

   ”Ya ampun, kenapa kau berpikir seperti itu?! Aku tidak pernah merasa begitu,” dia menggeleng. ”Aku tahu jalan pikir kita berbeda, tapi aku tidak masalah dengan pendapatmu.”

   ”Tapi kalau kita pergi bersama-sama, kecil kemungkinan kita akan tidur di dalam satu kamar yang sama!” selaku. ”Dengan begitu semakin kecil kemungkinan kita akan melakukan hubungan seks, iya kan?!” tudingku.

   Donghae kehabisan kata-kata. ”Memang kita bulan madu?” dia terkekeh.

   ”Oh, anggap saja begitu, aku berharap begitu.” Aku melipat tanganku dan membuang pandanganku.

   ”Kalau aku berjanji untuk terus berusaha meski ada Eomma dan Leeteuk Hyung, bagaimana?” tanyanya sambil mengerling nakal padaku. Wajahku merah. Benarkah?! Dia akan mencobanya? Di Saipan sana?

*Bandara Saipan*

”Jja! Kita sampai~” tanpa rasa bersalah, tanpa rasa berdosa sama sekali, Leeteuk Oppa meregangkan tubuhnya. Ini Saipan, dan sedikit sekali yang tahu selebritis disini. Dan Saipan juga masih bagian dari negara Jepang. Yang kukenal dari Jepang adalah, fansnya yang sangat fanatik, namun sangat bisa menghargai dan menghormati privasi idola mereka.

   Jadi aku sedikit terhibur meski harus melakukan sedikit penyamaran. Mungkin orang tidak akan mengenali bahwa Felidis Haejin mengekori Super Junior Leeteuk dan Donghae, karena aku memakai celana jins panjang, sepatu flat, dan cardigan wol tebal. Jelas style yang tidak mungkin kupakai, jika belum musim dingin. Donghae meyakinkanku jika kami sudah tiba di resor, aku boleh berpakaian sesukaku lagi, demi meminimalisir kemungkinan aku dikenali.

   ”Hyung senang sekali!” semprot Donghae.

   ”Keureom, kapan lagi kita berlibur, ya kan, Jin-ah?”

   Aku memutar mataku sebal, dan bersedekap.

    ”Kita ke Starbucks saja, masih empat puluh lima menit lagi sebelum Eommadeul datang, kajja!” dan Leeteuk memimpin kelewat ceria mendahuluiku dan Donghae. Aku masih saja cemberut, dan mendelik ke balik kepala Leeteuk Oppa, tapi kemudian Donghae merangkulku dan mengikutinya.

   Kami duduk di meja bundar paling sudut, dan aku bersyukur Leeteuk Oppa yang mentraktir kami. Mungkinkah dia merasa bersalah dan hendak menebusnya dengan mentraktir kami kopi? Oh, yang benar saja~

   Aku duduk di pojok dekat jendela, sementara Donghae di sebelahku. Aku terus menatap ke luar jendela. Pemandangan parkir bandara, yang sebetulnya tidak terlalu menarik. Kurasakan Donghae menggenggam tanganku di bawah meja, dan mengerling ke arahku.

   Dia pasti bisa merasakan suasana hatiku.

   ”Sayang,” panggilnya.

   Aku bergumam malas. ”Hmm?”

   ”Jangan diam begitu, aku jadi tidak enak.”

   ”Harusnya kau membiarkanku pulang!”

   Dia mendesah berat. ”Kenapa sih kau berkeras tetap mau pulang? Waktu kita bersama itu tidak begitu banyak, apalagi kita tidak bebas berkencan berkeliaran di luar.” Dari nadanya kudengar ia juga gusar.

   Tapi aku lebih gusar lagi! Ini liburan yang kudamba-dambakan, tapi mendadak ada Om-om tua yang ikut, yang memang sengaja mau menghancurkan liburan indah yang kuimpikan.

   Tega!

   ”Do you like Cofee? Ddarawa…” dan Om-om tua yang kubicarakan itu muncul, membawa nampan berisi tiga minuman racikan Starbucks, dan tiga piring berisi tiramisu. Dia membawanya dengan santai, bahkan sambil menyanyikan lagu Oops pula!

   Leeteuk Oppa duduk di depan kami, lalu membagikan sedotan, bahkan menyiapkannya untukku. ”Wajahmu jangan ditekuk terus dong, Jin-ah Sayang, Oops!” dia mengatupkan tangannya. ”Iba, Jin-ah, pacarmu sudah melotot, padahal aku cuma bercanda.” Dia mendorong gelas berisi Caramel Frappucinoku.

   Donghae tidak menjawab apa-apa.

   Aku melirik minuman itu, dan kuambil gelasnya, dan mulai menyesap isinya perlahan-lahan. Memang enak. Tapi, suasana hatiku masih saja tidak enak, dan kurasa Donghae juga.

   ”Kalian murung sekali.” Komentar Leeteuk Oppa sambil membelah tiramisunya dengan garpu kecil tanpa tahu suasana.

   Aku menatapnya tajam.

   Dan garpunya melayang di udara, tidak jadi ditelan. Leeteuk Oppa menelan ludah melihat tatapan tajamku, lalu menunduk. ”Pantas saja 2PM dan 2AM yang besar-besar takut padamu. Matamu menyeramkan, Haejin-ah, aku minta maaf sudah merusak liburan kalian berdua.”

   Aku dan Donghae mendengus kompak.

   ”Hei, damai… kita kesini kan mau liburan.”

   ”Oppa, tadinya kami yang mau liburan kesini, sampai akhirnya Oppa ikut datang!” seruku sambil meletakkan gelasku dengan kasar.

   Leeteuk Oppa sedikit mundur ke belakang.

   ”Haejin-ah,” Donghae menahan tanganku pelan.

   ”Apa?!” bentakku.

   ”Ini kan tempat umum, lagipula Hyung juga kan…” belum selesai dia bicara aku sudah ikut menyemprotnya.

   ”Oh, dia Hyungmu, begitu?! Lalu kalau dia Hyungmu aku akan takut?! Aku tidak minta ikut kesini setelah tau dia kesini.” Aku menunjuk Leeteuk Oppa emosi.

   ”Bukan begitu maksudku…”

   ”Sudah, sudah, kalian… ini kan tempat umum.” Leeteuk Oppa memutuskan melerai kami dengan pandangan serius. Hah~ kenapa jadi dia yang melerai kami? Jelas-jelas dia sumber perkara dari semua ini!

   Dan kemudian waktu-waktu menunggu kedua ibu mereka menjadi waktu yang dingin. Aku menolak bicara, dan Donghae diam menunduk saja, sementara Leeteuk Oppa sepertinya menyerah membuat kami berdua menikmati liburan ini.

   ”Sepertinya sudah waktunya pesawat mendarat, ayo kita kesana,” ajak Leeteuk Oppa memecah keheningan.

   Mau tak mau, aku bangkit berdiri, membawa tasku, sementara koper-koper kami sudah diantar oleh petugas travel ke resor tempat kami akan menginap nanti. Aku berjalan paling belakang, sementara Donghae sesekali menoleh melihat apakah aku mengikuti mereka. Dan Om-om jelek itu paling bersemangat sepertinya menyambut orangtuanya.

   ”Pesawatnya sudah landing kok,” Leeteuk Oppa bergumam sambil mengecek arlojinya. ”Dan sudah lewat tiga puluh menit, seharusnya Eomma dan Eommonim sudah menyelesaikan administrasinya.”

   Donghae hanya diam saja tidak berkomentar, dan aku menunduk, bermain-main dengan marmer bandara Saipan yang cukup keren itu. Kemudian Leeteuk Oppa bersorak, mau tak mau aku mendongak.

   ”Eomma! Eommonim!” sapanya.

   Dan benar saja, aku melihat kedua wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik, memakai mantel, dan nampak lembut. Donghae berlari menyongsong ibunya, bersama Leeteuk Oppa, dan aku mau tak mau ikut tersenyum.

   Tak ada yang lebih menyenangkan dari kasih sayang seorang ibu, kan?

   Eomma Leeteuk Oppa sedang memeluk anaknya dan memperhatikan kondisi fisik putra sematawayangnya itu. Aku tahu, Leeteuk Oppa kan satu-satunya laki-laki di keluarganya. Kakaknya, Inyoung Onnie, dan adiknya Ririn Onnie, keduanya perempuan.

   Lalu Donghae. Meski dia bukan satu-satunya laki-laki, ada Donghwa Oppa, Hyungnya Donghae, tapi aku tahu betul bahwa Eommonim sangat menyayangi kedua putranya yang tampan luar biasa.

   ”Bagaimana keadaan uri adeul?” tanya Eommonim pada Donghae sambil membelai lembut pipi putra bungsunya, setelah melepaskan pelukannya. ”Semakin kurus saja, makan dengan baik?”

   Donghae mengangguk.

   ”Sedang sedih?” tebak Eommonim.

   Donghae buru-buru menggeleng. ”Bertemu Eomma mana mungkin aku sedih!” katanya.

   Lalu kulihat Eommonim berpaling darinya mencari-cari, lalu dia menatapku. ”Aigooo, uri ddal, Haejinnie.” Sapanya ramah sekali. ”Tidak mau peluk Eomma?” tanyanya membuka pelukannya.

   Aku tersenyum penuh haru, lalu mendekat ke arah Eommonim, dan memeluknya. ”Eommonim.” Kataku. Aku mulai merasakan mataku memanas, siapa yang tidak menangis? Melihat Eommonim, dan bagaimana Eommonim memperlakukanku, sungguh mengingatkanku pada mendiang Eomma. Mereka sama-sama lembut dan penuh kasih.

   Eommonim tidak memiliki seorang putri. Eommonim memiliki dua orang putra yang sangat tampan. Dulu, ketika pertama kali aku dibawa Donghae ke Mokpo, Eommonim bahagia sekali. Eommonim bilang kalau dia ingin memiliki seorang putri, dan dia bersyukur karena Donghae memiliki kekasih sepertiku.

   ”Eommonim, sehat?” tanyaku.

   ”Sehat.” Eommonim mencium keningku.

   ”Eomma~” Donghae di belakangku mulai merengek protes.

   ”Apa?” tanya Eommonim berpaling ke arahnya dengan penuh sayang, seolah menghadapi anak nakal. ”Eomma kangen pada Haejin, jangan cemburu ah! Haejin toh calon putri Eomma juga!” omelnya penuh nada sayang.

   Wajahku memanas, malu dan bangga akan kata-katanya barusan.

   ”Aigo, Jin-ah…” Eommonim kembali menatapku dan membelai pipiku, lalu menepuk-nepuk punggungku. ”Kenapa kau jadi kurusan sekarang? Ya ampun, kalian berdua ini, semakin lama semakin kurus saja! Apakah kalian makan dengan baik?” tanya Eommonim cemas.

   Aku dan Donghae menyahut. ”Kami makan dengan baik, kok.”

   ”Jinjja?! Makanan itu, adalah sumber tenaga kalian, kalau kalian makan tidak teratur, kalian tidak akan kuat untuk menghadapi jadwal gila-gilaan kalian, oke?” pesan Eommonim sambil merangkul kami berdua. ”Kalian harus makan teratur ya. Dan Jinnie, Eomma tidak mau kau kurus seperti yeoja idol lainnya. Eomma suka tubuhmu yang berisi dan sehat. Jangan diet-diet, ya.”

   Aku menggeleng. ”Aniyo, Eommonim, aku tidak diet, dia turun sendiri.”

   ”Dia sering sakit, Eomma, membuatku pusing,” Donghae mengadu. ”Perutnya sering mengalami infeksi di bagian lambung. Apalagi ketika di Jepang sini, dia tidak makan dengan benar Eomma.” Dan sekarang Donghae malah lebih mirip anak kecil pengadu pada Eommonim.

   ”Aniyo, Eommonim!” aku menggeleng-geleng menyangkal, tapi wajahku memerah.

   ”Tuh kan, bandel ya, Jinnie,” Eommonim kini menatapku marah penuh sayang, dia benar-benar mengingatkanku pada sorot mata Eomma. ”Perlu nanti Eomma datang ke perusahaanmu dan marah-marah disana?”

   ”Ah, Eommonim,” aku malah malu-malu dan memeluk lengannya. ”Tidak perlu. Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, aku akan menjaga kesahatanku dengan baik. Aku mulai jarang sakit sekarang.”

   ”Pintar.” Eommonim mengecup pipiku lagi.

   ”Eomma!” Donghae merengek lagi protes.

   ”Apa sih, Donghae?” tanya Eommonim, sementara aku tertawa terbahak-bahak karena geli melihat tingkah kekasihku itu. Entah dia cemburu karena aku memonopoli Eommanya, atau cemburu karena Eommanya menciumku tapi dia tidak dicium juga, entahlah… manusia itu tubuhnya terdiri dari kecemburuan saja.

   Kemudian aku berbalik menyapa Eommanya Leeteuk Oppa. Ia juga baik dan lembut seperti Eommonim. Hanya saja baru kali ini aku bertemu dengannya, dan diperkenalkan oleh Leeteuk Oppa, sebagai calon adik iparnya. Dan Eommanya Leeteuk Oppa langsung meledek Eommonim.

   ”Kau beruntung bisa memiliki calon menantu Haejinnie.” Katanya, dan Eommonim tertawa, begitu juga dengan Donghae, sementara wajahku memerah karena malu. ”Kudengar dari Ririn, Haejin ini sahabat baiknya. Multitalenta dalam bidang seni, dia pandai menari.”

   Eommonim merangkulku bangga. ”Ne, itulah kenapa dia cocok dengan Donghae.”

   Aaah, Eomma aku melayang saja rasanya~

*           *           *

Kemarahanku seketika surut melihat Eommonim dan Eomma Leeteuk Oppa. Mereka berdua benar-benar mengembalikan sosok Eommaku yang sudah meninggalkanku selamanya ketika aku debut bersama Felidis.

   Kami akhirnya tiba di resor satu jam kemudian. Resor itu merupakan resor paling terkenal di Pulau Saipan. Bangunannya indah, dengan perabotan yang serasi, dan membuat mata teduh memandangnya. Begitu juga dengan tata ruangnya, serta halaman belakangnya yang menyajikan kolam renang yang langsung berhadapan dengan pantai lepas.

   Dan sepertinya kamar kami mendapatkan view paling bagus menuju pantai.

   ”Oke, karena aku mau liburan kita semua nyaman, aku pesan tiga kamar. Kamar satu, untuk Eomma, dan Eommonim,” Leeteuk Oppa memberkan kunci kepada Eommanya. ”Kamar dua untukku dan Donghae, dan kamar tiga untuk Haejin.” Dia menyodorkan kunci padaku.

   Aku melotot. Aku? Tidur sendiri?! Aaaah tidak!

   ”Kenapa Haejin tidak tidur bersama kami saja?” tanya Eommonim cemas. ”Apa tidak apa-apa dia tidur sendirian?”

   ”Ah, gwenchana, Eommonim, Haejin bukan penakut.” Jawab Leeteuk Oppa cepat. ”Lagipula, Haejin kan punya ritual tertentu pastinya sebagai idol, nanti Eomma dan Eommonim tidak akan terbiasa dengannya.”

   Aku mengernyit padanya, protes.

   ”Sudahlah, ayo kita ke kamar!” Leeteuk Oppa pergi duluan membawa kopernya, tidak menerima penolakan.

   Aku mendesah kecewa.

   ”Jinnie Sayang, tidur sama kami aja, bagaimana?” tanya Eommanya Leeteuk Oppa ikut cemas.

   ”Ne, jangan sendirian begitu.” Eommonim menambahkan.

   Baru aku hendak menjawab, suara Leeteuk Oppa kembali terdengar. ”Kamar Haejin sudah booking selama beberapa hari, sudah dibayar lunas pula. Sayang kalau tidak di pakai, kan?”

   Dan alhasil kini aku berada di dalam kamar resor yang luas dan besar dan indah. Tapi ruangan sebesar ini, kutempati sendirian?! Aku menendang koperku sampai kakiku sakit sendiri.

   ”Leeteuk Oppa!” geramku sebal, sambil menjatuhkan diriku di atas tempat tidur. ”Donghae~” panggilku, yang kutahu takkan ia jawab.

   Donghae. Tidakkah dia mencemaskanku? Aku memang biasa tidur sendiri, tapi tidak di negara orang, atau di tempat yang baru kukenal. Oke, memang itu terdengar manja, mungkin karena terbiasa selalu bersamanya. Aku merasa kecewa, harus tidur sendirian. Akan lebih baik jika Leeteuk Oppa menyuruhku tidur bersama ibunya atau ibunya Donghae.

   Kamar ini terlalu besar untuk kutempati sendiri. Aku menatap sedih sekeliling kamar resor ini. Jendela kaca besar menggantikan dinding, dan jendela itu langsung menghadap ke laut. Perabotan di dalam sini didominasi dengan kayu, yang di pelitur dengan warna muda. Kesannya elegan dan mewah. Begitu pula dengan televisi layar datar, dan fasilitas lainnya.

   Aku berguling dan memeluk guling yang dilapisi sarung putih, yang cukup wangi. ”Liburan ini, kenapa begini?” aku cemberut, lalu menghela napas.

   ”Ah, keurae, ini pantai!” aku mendadak duduk. ”Seperti pulang ke Mokpo atau Busan.” Aku berpikir keras, bagaimana caranya menyelamatkan liburanku, dan membalas si tua Leeteuk Oppa.

   Aku harus berbuat sesuatu, bukan mengurung diri di dalam kamar. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak boleh membiarkan Leeteuk Oppa mengatur segala sesuatunya, aku akan membuat Leeteuk Oppa menyesal telah mengganggu liburan Lee Haejin.

   ”Leeteuk Oppa, awas kau!” desisku.

   Aku menatap arlojiku, dan ternyata waktu menunjukkan pukul tiga sore waktu setempat. Kami sudah makan siang tadi, jadi aman kalau aku berenang sekarang. Ah, aku harus mengajak Donghae berenang. Kami tidak pernah berenang bersama sebelumnya, kecuali ketika di Mokpo dan di pantai Busan itu dihitung dengan kategori berenang juga.

   Kali ini berenang yang sebenarnya, dan aku menyunggingkan senyuman super manisku. ”Park Jungsoo, kau tidak tahu berhadapan dengan siapa! Takkan kubiarkan kau hancurkan bulan maduku!” aku bangkit dari tempat tidur dan membuka koper pink besarku, dan mencari-cari sesuatu di dalamnya.

   Beberapa menit kemudian aku sudah mengikat tali bathrobe putihku. Aku juga sudah mengenakan flip flop cantik bunga-bunga, dan rambutku kubiarkan tergerai. Aku keluar dari dalam kamar, dengan membawa kantung berisi handuk dan juga sunblock. Aku suka kulit cokelatku, tapi kalau terbakar kan sayang juga, bisa berhari-hari mengembalikannya di dokter kulit.

   ”Haejin-ah,” panggil seseorang di belakangku.

   Aku menoleh dan mataku melebar gembira. ”Eommonim,” aku menghampirinya. ”Eommonim mau kemana?”

   ”Eomma mencemaskanmu, kau tidak apa-apa tidur sendirian?”

   ”Gwenchana, Eommonim,” aku mengangguk dan memeluk lengan calon mertuaku ini, aduh, memikirkannya aku malu sendiri.

   ”Kau mau kemana? Berenang?” Eommonim memperhatikan penampilanku.

   Aku mengangguk. ”Ayo, Eommonim ikut berenang!”

   ”Ah, tidak, Eomma lelah, tenaga Eomma tidak sekuat dulu. Dulu Eomma bisa berenang di laut Mokpo,” candanya, membuatku tertawa. ”Eomma mau kembali ke kamar, Leeteuk Eommonim sedang istirahat juga.”

   ”Eomma lelah? Mau aku pijat?”

   ”Aniyo tidak usah, kau juga pasti lelah, sudah sana main air. Kau dan Donghae sama ya, suka sekali main air,” tawa Eommonim berderai. ”Makanya nama kalian mengandung unsur Hae. Padahal kalian belum kenal ya waktu lahir,” Eommonim mencubit pipiku gemas. ”Baru tiba sudah main air semua.”

   ”Oh?” alisku terangkat tinggi. ”Donghae sudah main air?”

   Eommonim nampak terkejut. ”Memangnya Donghae tidak bilang padamu?”

   Aku menggeleng terkejut.

   ”Oh,” Eommonim nampak bingung dan tidak enak. ”Barusan saja Leeteuk dan Donghae pergi untuk scuba, kukira kau tidak ikut karena lelah, karena Leeteuk dan Donghae tidak bilang apa-apa.”

   Sial aku kalah cepat!

   ”Eh, Jinnie Sayang,” Eommonim memanggilku lembut, menyadari perubahan suasana hatiku.

   ”Ah gwenchana, Eommonim,” aku menggeleng.

   Eommonim tersenyum lembut, membuat segala emosiku yang tadinya sudah berputar di kepala, sedikit surut. Dia membelai lembut rambutku, sorot matanya yang teduh, dan belaiannya yang menenangkan, mengingatkanku pada putranya.

   ”Maafkan Donghae ya, Haejin,” ujarnya. ”Mungkin kau merasa tersisih oleh Jungsoo. Donghae Appa, menitipkan Donghae pada Jungsoo, jadi Donghae mungkin melihat ayahnya ada dalam diri Jungsoo.”

   Aku terdiam. Ayah?

   ”Mungkin Donghae salah dia tidak bilang padamu,” Eommonim berusaha menjelaskan. ”Tapi percayalah, itu bukan berarti dia lebih menyayangi Jungsoo daripada kau, Jin-ah. Bentuk kasih sayangnya saja yang berbeda.”

   Aku tidak punya pendapat lain selain menyetujui kata-kata Eommonim. Kelembutannya dan kata-katanya, selalu bisa menenangkanku. Berbeda sekali dengan kata-kata putranya yang selalu membuatku naik darah, pikirku geli.

   ”Ne, Eommonim.” Aku mengangguk sambil tersenyum.

   ”Begitu,” Eommonim tersenyum bangga, dan mengelus pipiku. ”Sudah, kau berenang saja, mau Eomma temani?”

   ”Gwenchanayo, Eommonim, Eommonim istirahat saja.”

   ”Jinjjayo?”

   ”Ne, Eommonim, nanti pulang scuba Donghae pasti menyusulku.”

   ”Baiklah, Eomma istirahat dulu. Jin-ah jangan terlalu lelah juga, kalian kalau main air suka lupa waktu, oke?”

   Aku mengangguk. ”Ne, Eommonim.” Setelah Eommonim masuk kembali ke dalam kamar aku mendesah panjang. ”Donghae itu~” keluhku. Akhirnya aku berjalan sendiri menuju kolam renang.

   Di kolam renang, hanya ada beberapa orang. Dua diantaranya orang asing, dan tiga lainnya sepertinya warga Jepang sendiri, sedang bergerombol di sudut kolam. Aku memutuskan untuk duduk di kursi berjemur yang dipayungi oleh payung tenda besar berwarna merah.

   Aku membuka tas kecilku dan menarik keluar sebuah botol berisi sunblock, dan mulai mengaplikasikannya pada kakiku, satu-satunya bagian tubuhku yang tidak tertutup oleh bathrobe.

   ”Tapi percuma saja, tak ada Donghae sekarang,” gumamku. ”Untuk apa aku berenang,” keluhku. ”Ish! Leeteuk Oppa itu, apa sih sebetulnya tujuannya?!” aku kesal. ”Ish!” desisku sebal. ”Oke plan A gagal, tapi aku tidak akan kehabisan ide! Uuugh! Leeteuk Oppa awas kau!”

   Otakku berpikir keras. Apa yang harus aku lakukan?

   ”Aku kan cuma mau Donghae,” ucapku lirih. ”Ah, otokhe?!” keluhku putus asa. ”Apa aku ke pantai saja, ya? Tidak perlu berenang, tapi kolam ini begitu sayang jika tidak dipakai renang. Tapi tak ada Donghae juga percuma aku berenang dan ke pantai, siapa yang mau melihatku?”

*           *           *

BEL kamarku berdering.

   Aku membuka mataku yang sudah kelewat berat, setelah tadi aku tidak jadi berenang, dan dengan perasaan dongkol, aku kembali ke kamar hingga akhirnya tertidur pulas. Baiklah, memang Eommonim menenangkanku agar tidak marah pada anaknya. Kuakui aku tidak akan marah, tapi aku kecewa! Aku memutuskan aku kecewa padanya.

   Pria macam apa, mengajak kekasihnya berlibur, tidak pamit, tidak izin, tiba-tiba melakukan scuba diving bersama orang lain, dan kekasihnya dibiarkan sendirian seperti orang bodoh!

   Aku mengangkat tubuhku malas, lalu pelan-pelan menginjakkan kakiku ke lantai dan mencari-cari sandal kamar. Kuikat tambutku lalu berjalan sempoyongan ke arah pintu, dan melihat siapa yang datang.

   Ternyata dia!

   Kubuka pintu kamarku dengan malas. ”Masih ingat ternyata ada pacarnya ikut kesini.” Desisku.

   Dia buru-buru mendorongku masuk dan mengunci pintu, seperti maling yang ketahuan mencuri saja. ”Aku ingat kok padamu,” dia berbalik dengan suara lirih dan penuh dengan nada menyesal. ”Aku benar-benar tidak tahu. Tadi Teukie Hyung yang bilang kalau kau sudah ada di tempat scuba.” Dia menatapku sambil menggenggam tanganku erat-erat, sorot matanya cemas. ”Tapi begitu tiba disana kau tidak ada, aku panik, Sayang. Aku tahu kalau Teuk Hyung ternyata membohongiku.”

   Aku mendengus sambil menarik tanganku, dan melipatnya di dada, mataku tajam menatapnya. ”Sekali lagi seperti itu, aku akan benar-benar pulang terlebih dahulu!” acamku.

   ”Maaf,” dia memelukku buru-buru. ”Aku pun baru kembali dan sudah mau mencarimu, Eomma juga tadi memarahiku, mengapa aku tidak mengajakmu. Maaf, maaf, maaf.” Dia benar-benar terdengar menyesal. ”Aku sama sekali tidak punya pikiran kalau Teukie Hyung akan berbohong.”

   Aku menghela napas dan melepaskannya. ”Sudahlah, sudah terjadi. Yang jelas aku tidak mau ditinggal seperti itu lagi. Aku sudah tidak tidur denganmu, sekarang dia mau membawamu pergi tanpa aku, huh!”

   ”Maaf, aku benar-benar tidak tahu.” Dia bersungguh-sungguh.

   ”Ya sudahlah,” sahutku malas sambil berjalan ke dalam.

   ”Kita makan yuk, pukul delapan nanti, kita harus bersiap-siap.” Donghae mengikutiku ke arah tempat tidur. Dia duduk di ranjang, sementara aku membuka koperku, mencari-cari.

   Aku mendongak. ”Kita makan dimana?”

   ”Molla, semuanya Leeteuk Hyung yang mengatur,” dia memutar matanya.

   ”Sekarang dia sedang sibuk, jadi tidak memperhatikanku yang kabur,” Donghae terkekeh.

   Aku menegakkan tubuhku dan menyipit menatapnya. ”Kabur?! Kau seperti diawasi saja.”

   ”Ah molla,” Donghae merebahkan diri. ”Setiap aku kelihatan menganggur, dia akan menyuruhku melakukan ini-itu.” Tiba-tiba dia bangun. ”Momma, menurutmu dia tidak sedang mencoba memisahkan kita, kan?”

   Aku memutar mata. ”Itu dugaanku sejak kemarin. Kau saja yang tidak mau mendengarkanku!” sungutku menarik keluar sebuah kantung yang sudah kupersiapkan sejak berencana berlibur.

   ”Aku tidak percaya dia punya pikiran begitu.”

   ”Oh, jadi Poppa tidak percaya padaku?”

   ”Tidak begitu juga,” elaknya. ”Hanya saja, untuk apa Teukie Hyung mau memisahkan kita, coba?” lalu tiba-tiba wajah Donghae yang penasaran berubah pias. ”Momma, dia tidak jatuh cinta padamu, kan?”

   Aku memutar mataku. ”Keajaiban jika itu terjadi.”

   ”Bisa saja!” keluhnya.

   ”Hae, dia kakakmu! Bagaimana kau bisa mencurigainya begitu?”

   ”Ya barangkali…” dia tetap mau berargumen.

   ”Sudahlah aku mau mandi!” aku buru-buru masuk ke dalam kamar mandi, dan mengunci pintunya. Perlahan-lahan kudekati cermin dengan bufet panjang, juga perangkat wastafel diatasnya.

   Aku melirik handuk-handuk kecil yang tersedia di situ, lalu memerhatikan wajahku yang sedikit kusam karena baru bangun tidur. Aku menghela napas dalam-dalam. ”Rencana A tidak berhasil, aku harus pakai rencana B. Aku punya waktu kira-kira satu jam sampai pukul delapan, makan malam.

   Aku harus bisa memanfaatkan kesempatan, dalam waktu yang sempit ini. Aku berlari ke arah shower box, mengatur krannya agar air yang cukup hangat mengalir dari sana. Begitu juga saat aku mulai meracik aromaterapi, sehingga freesia dan greentea berpadu satu, dan memberikan wangi sejuk yang nyaman. Kuambil pula shampoo beraroma raspberry kesayanganku, dan mulai kuaplikasikan dengan cepat.

  Aku berhasil melakukan ritual sabunan dan keramas dalam waktu lima belas menit. Dan kini aku sudah membalut rambutku dengan handuk putih, sementara tubuhku kulilitkan handuk, yang hanya menutupi sebatas dada hingga setengah paha. Kuputar-putar tubuhku sambil menyeringai.

   ”Lee Donghae, gotcha!” kikikku.

   Aku perlahan-lahan membuka pintu kamar mandi dengan perasaan tegang. Aku membayangkan bagaimana reaksinya jika melihatku seperti ini? Kulirik dari pintu, dia sedang berbaring sambil menatap ke langit-langit.

   Aku menarik napas dalam-dalam lagi dan mengembuskannya perlahan, aku tegang. Lalu akhirnya aku memberanikan diriku keluar dari dalam kamar mandi dan menutup pintunya sedikit keras, agar ia menyadari bahwa aku kini keluar dari dalam kamar mandi. Dan memang benar, dia menoleh, lalu matanya melebar melihatku yang berdiri di atas keset bulu kamar mandi.

   ”Momma!” pekiknya, buru-buru duduk dan menelan ludah. Dia memaksa matanya menatap wajahku. Aku bersorak dalam hati, hahaha rencanaku berhasil! ”Neo…” dia kehabisan kata-kata.

   Aku cuma tersenyum.

   Dia perlahan-lahan berdiri, berusaha mengendalikan suaranya, dia berdeham-deham, dan sedikit mundur, ketika aku perlahan-lahan berjalan mendekatinya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali diam, dan matanya terus menatap kedua bola mataku.

   ”Aku merindukanmu hari ini,” ucapku pelan, ketika aku benar-benar sudah berdiri tepat di hadapannya. Jarak kami tinggal sedikit, dan aku bisa merasakan napasnya yang menderu di dahiku. Kuangkat tanganku menyentuh permukaan dadanya yang bidang. ”Kenapa Leeteuk Oppa begitu jahat membawamu pergi seharian ini?” tanyaku lirih. ”Kenapa pula Leeteuk Oppa membuatku harus tidur sendirian disini? Tak ada pacarku yang biasa memelukku erat, dan mengelus rambutku agar aku cepat tertidur?” tanyaku pelan, sambil terus mengelus permukaan dadanya yang bidang.

   Kurasakan napasnya di dahiku memburu, kurasakan dia mengecup keningku lembut, dan kedua tangannya mencengkram kedua lenganku sekarang. ”Maaf, aku tidak akan meninggalkanmu lagi.”

   Aku mendongak. ”Hae… aku menginginkanmu…” lirihku sedih. ”Kenapa untuk yang satu itu sulit sekali?”

   Dia diam dan tangannya naik membelai-belai pipiku hingga ke leher, tapi tetap tidak berbuat jauh dari itu. Aku mendongak menatapnya, dan dia balas menatapku. Matanya, yang sayu dan indah itu, menyimpan permohonan, dan pengendalian diri yang kuat. Aku semakin mendekat ke arahnya, dan dia memejamkan matanya kuat-kuat, berusaha menolak.

   ”Hae…” panggilku, kuarahkan kedua tanganku ke arah wajahnya, dan mengelus permukaan wajahnya, hidungnya, kembali turun ke dadanya yang bidang. Lalu satu jariku yang lain mengelus permukaan bibirnya, dia mengembuskan napasnya yang menderu, dan ketika tanganku masih melingkari bentuk bibirnya yang tipis dan menggoda itu, dia membuka matanya dan mengisap telunjukku, sambil matanya terus menatap kedua mataku.

   Kami bertatapan tajam, tatkala dia terus mengisap telunjukku dan mencengkram tanganku kuat. Rasanya~ aku tak sanggup menggambarkannya, itu jariku, baru jariku yang kini tengah dihisapnya pelan. Kutarik jariku turun, dan aku menangkup wajahnya, lalu membiarkannya melumat bibirku, kini kami berputar di samping tempat tidur. Dia menciumku dalam, tangannya melingkari pinggangku, dan tangan satunya sudah menarik turun lilitan handuk di atas kepalaku, sehingga kini dia meremas rambutku yang masih basah.

   Kami berputar untuk yang kesekian kalinya, tatkala aku merasakan kakiku sudah tidak berpijak di lantai, dia menggendongku. Kakiku sudah melingkar sempurna di pinggangnya.

   Bibir kami terlepas-lepas, tapi dia segera mengecup bibirku lagi, lama, dan panas. Aku melepaskan diriku untuk menarik napas, aku tersengal-sengal, dan menatapnya mohon ampun, tapi dia sudah menarik kepalaku untuk mendekat lagi, dan dia kembali mencium bibirku dalam, tangannya meremas handukku di belakang, sesekali naik ke atas punggungku yang telanjang dan mengusapnya perlahan, sementara aku gemetar dan menjambak rambutnya, menahan sensasi tangannya yang menyentuh kulitku hangat.

   ”Hae…” isakku seperti orang kehausan, dia terus mencari dan mencari, digodanya bibir atasku, dilumatnya pelan, ketika aku mencari-cari dia ganti menggoda bibir bawahku, ketika aku tersesat juga, gantian lidahnya menggoda lidahku. Aku benar-benar terlena, dan entah bagaimana kami sudah terjatuh di atas tempat tidur.

   Apakah aku berhasil? Kulihat Donghae tidak bisa mengendalikan dirinya sekarang manakala dia terus menciumiku, kuangkat tanganku untuk bermain-main dengan rambutnya, dan memaksanya untuk tidak melepaskanku. Kudengar napasnya terengah saat melepaskanku.

   ”Kau jahat sekali.” Katanya terbata-bata, matanya nampak seperti mau menangis. ”Kau tega sekali menggodaku seperti ini,” suaranya seperti orang hendak menangis.

   ”Wae? Kalau kau menginginkanku, lakukanlah!”

   ”Tapi tidak di waktu sempit begini! Kita harus makan malam!”

   ”Ayolah!” aku memaksanya terus menatapku dan tanganku bergerilya di atas kemejanya, kurasakan aku menarik kasar kemeja birunya. Tiga hingga empat kancing terlepas dan dia terkesiap. ”Hae… jebal.” Kueratkakan pelukanku, dan dia langsung mengerang.

   ”Sayang… ah!” dia memejamkan matanya kuat-kuat saat tanganku masuk ke dalam kemejanya. Dia kemudian menatapku tidak terima, dia menghela napasnya dalam-dalam, dan menatapku intens. Aku balas menatapnya, mata kami terus bertatapan, dan tatapannya tidak lepas dariku manakala satu tangannya mulai naik, dari pinggangku merambah ke atas, dan kini tepat berada diantara kedua belahan dadaku

   Aku memekik pelan tertahan.

   Kini dia mulai mengelus belahan itu dari atas hingga ke perutku, dan membuatku semakin mengisak menginginkannya. Kepalaku terlempar ke kanan dan kekiri, dia mencium leherku pelan, dan kini menghisapnya kuat-kuat. Kuremas rambutnya, dan kuarahkan kepalanya turun, dan aku bersorak girang, ketika dia menurutiku, atau entah menuruti naluriku, bibirnya mulai mengecup lekuk leherku, kemudian semakin turun di rusukku, dan kini tepat di antara kedua dadaku yang masih terbungkus handuk putih tebal itu.

   Dia menelan ludah dalam-dalam, sementara aku mengelus kedua pipinya, dan dia mengecup belahan itu, mengirimkan sensasi listrik keseluruh permukaan tubuh dan kulitku. Aku ingin menjerit, dan ketika kurasakan tangannya mulai naik, kutarik robek kemeja birunya hingga terlepas.

   Napas kami mulai tersengal-sengal karena gairah. Dia menemukan lipatan handuk yang kuselipkan, dan dengan giginya, ditariknya lipatan itu dengan gemetaran sambil mengecup permukaan kulitku.

   Handuk itu melonggar, dapat kurasakan mulai terlepas di bagian belakang. Jika handuk ini benar-benar tersingkap, maka tak ada lagi sehelai benang yang menutupi tubuhku. Kutarik lagi wajahnya untuk mengecup bibirku, dan dia meremas rambutku.

   Tapi, lagi-lagi, seperti memiliki sinyal jika kami hendak melakukan sesuatu yang penting. Bel kembali berbunyi dan Donghae menarik dirinya, lalu memisahkan dirinya dari tubuhku.

   ”Teuk Hyung, itu pasti Teuk Hyung!” Donghae buru-buru merapikan kemejanya, dan melotot melihat kancingnya yang hilang empat. ”Kau apakan kancingku, Sayang?!”

   ”Memang tadi kau tidak sadar?” tanyaku heran.

   ”Cepat pakai handukmu!” dia nampak panik dan berdiri. ”Apakah ada pintu keluar dari dalam sini?! Aku tidak boleh ada disini saat Teuk Hyung masuk, dia akan melaporkannya pada Eomma!” Donghae panik berlari.

   Aku ikut panik dan mengencangkan handukku. ”Itu, ada pintu disitu, kau lari keluar ke arah kolam.”

   ”Nanti malam kalau Teuk Hyung tidur aku akan coba kesini, maaf ya Sayang,” dia mengecup bibirku lalu benar-benar kabur melewati pintu belakang yang menuju kolam renang.

   ”YIPEEE!” aku melonjak saat kulihat Donghae benar-benar sudah kabur. Tapi kemudian kudengar suara bel yang membahana itu, dan dengan menghentakkan kaki buru-buru kuhampiri pintu dan membukanya dengan kasar.

   ”Hai.” Sapa Teukie Oppa sok manis. ”Ayo makan malam.”

   Aku hanya melongok dari balik pintu, sambil menatapnya tak suka. ”Iya! Aku baru selesai mandi, Oppa! Sudah sana, hush!” usirku.

   ”Tidak ada Donghae di dalam?” tanyanya curiga.

   ”Tidak ada! Aku sedang mandi!” dan kututup pintunya. Lalu aku bersorak, ”YAY! Malam ini aku tidak perawan lagi nanti!”

-To Be Continued-

Yeah #plakk 

Terima dilemparin apa pun sama kalian nyahahahaha, ini masalah feel dan mood yang naik-turun, heuuu… jadi nggak bisa posting setiap seminggu sekali seperti yang dijadwalkan.

Jika masih banyak pertanyaan dan keheranan, hahahaha, ditunggu aja, ingat semua ada jawabannya pada waktunya, kenapa Nisya bikin cerita begini dan begitu. 

138 thoughts on “{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan ~3/?~

  1. kyaaaaa. . . .panas dingin mbacanya+gemetaran jga ><
    Si haejin nepsong sangattt. . .
    Haejin seneng bgt kalo nggk perawan -_-

  2. baru sempet baca dan OMG cenat cenut bacanya yg mau bulan madu malah gajadi teukie bener2 ganggu euuuii nanti malem lanjut ye? seneng amat haejin yg udh ga bakal perawan lg, haha ampe segitunya -,-

  3. yeahhh.. bacamya dag dig ser ._. tangan, kaki sampe dingin #plaak
    ini ff nya sangat menggoda untuk dibaca #gakingetumur
    penasaran sumpah kelanjutannya, akhirnya pertahanan donghae runtuh.. nyahahahah #hula2

    mian kaka galau baru baca😀 ditunggu kelanjutannya ya ^^

  4. uwwaaa…knp siy tiap jinhae lg mesra ber2an slalu aj diganggu ma teukppa?*brbtarikteukppa* Hmm..suka bgt deh baca pas moment haejin sama oemma haeppa,krasa feelnya.. nisya daebak😀

  5. hahaha om-om tua yang nggak sirik sama Jin-hae. Teukie kenapa seeh? kesetrum atau sirik stadium 4?? kasian Hae. jadi kayak buronan diawasin! tersentuh saat Haejin ketemu eommonim & Teuk eomma. berasa banget ada yang masih sayang sama dia. Hhm tapi dasar Haejin “licik” ada aja akalnya buat ngelabuin si bujang tua. hahaha rasain lho Teuk. ganggu kencan orang aja seeh. sana mendingan kabur sm Sora!!!

  6. Yaampun si haejin seneng banget kyknya mau “digituin” sama hae kkkkkkkk~ …

    Teuk oppa ganggu nih yah, si haejin jdi kesel sendiri sama teuk oppa. Lucu bgt jadinya hahahahaha ..

    Seneng nih ff begini😀 , jangan lama-lama yah onn lanjutannya hehehe😀.. Aku tunggu lanjutannya

  7. Yeiy ! Part depan haejin gk perawan kan #plak

    ngeselin bgt dh teuki oppa . ganggu aj . donge ug dijauh2in dr haejin ..

    Next part jgn lama2 Y onnie ^o^

  8. Keringet dingin baca part ini..😄
    Haejin pantang menyerah, eh udah mau sukses rencana.a, leeteuk dateng.. Ganggu aja nih. Haha
    ga sabar nunggu part malem.a *plaaak
    lanjuuut eonn🙂

  9. itu haejin girang banget ya kayaknya? -____- sampe2 ntar malem udah ga perawan lagi malah kesenengan #plakk ^_^;

    part selanjutnya jangan lama2 ^^ aku ga sabar… tapi eon jangan diprotect yaaa😦 aku ntar ga bisa liat #deritalo

  10. lanjutannya jangan lama2 dan nanti jangan di protect yaa PLEASE BANGETTTT HAAA penasaran setengah mampus deh jadi kebawa nepsong bacanya *? #PLAKKK
    L A N J U T K A N ! ! ! ! !

  11. OMO…… haejin, pengen bget gk perawan lgi….. hehehe………
    pertahanan donghae mulai runtuhhh, iman x mulai goyah…… ingat dosa2 #ajaran MA SIWON …. hahahaaha…..
    onnie lanjut2, penasaran tingkat akut……
    t om jungsoo npa hobi bget ganggu org yg lgi bermesraan…….ckckckck, haejin x ampe sewot gtu…….
    HWAITING chingu-ya……^^# maaph bru comment skrg, kmrin keluppaan bwt ngoment…..

  12. yippee saipannya muncul lg
    huaaa semakin suka dh
    gakkgakkgakk
    salut ma haejin gentar smangat 45 g ptus asa
    ok dh pokokny jiayoo…
    fighting ak dukung
    wuahahaha

  13. arrgghhhh itu teuki ngganggu ajah >< padahal dikit lagi,,, *reader sarap*
    hae pabo!!! tinggal tarik anduk haejin abis itu tadaaaa,,,, tp jadi gatot gara" tetua pengganggu *dikubur eeteuk oppa*
    hae gak ngrasain apa" wktu kaki haejing nglingkar di pinggang'a ?? kan haejin cma pk anduk,, *pengalaman bca ff nc* :DDD

    Cuma haejin yg senng klo bsa jd gak prawan gara" donghae🙂
    Lanjut" ratenya naiking dong #plak *gak mungkin*

    Salam yadong dari bini chul pling seksi nan bohay :DDDD

  14. Kyaaaa……#lapkeringat hot hot summer#eh?
    ngakak pas akhir haejin teriak! Apa maksudmu haejin ssi #plakkkk
    eommanya donghae baik banget deh. .
    Leeteuk niat banget ya jdi pengganggu. . Hahahah

  15. Wah kluarga ikan ngmpul,iri ma haejin,pngen dsyang ma camer ky dy….hae ja mpe cmburu liat eomma’a syng bgt ma haejin
    So oppa sneng bgt ngrecokin jinhae,kan kasian jinhae…
    Ayo haejin jgn mw klah ma so oppa

  16. Kya…hae roboh jg pertahanan.a:) Haejin gigih bgt merayu..huhuy..teuki kau pengganggu.huh –” ok onn, d tunggu part selanjut.a🙂 hwaithing.

  17. ya ampuun jinhae.. panas dingin aku bacanya, o.o”
    bener2 haejin banget godain donghaenya..
    eh, malah girang pula mau ga perawan lagi, o.o”
    tapi aku suka momen haejin sama donghae eomma.. jarang2 kan haejin interaksi ma orang tua,🙂

  18. next part yoo next part hohoho penasaran Teukkie bakalan ganggu apa lagi ntar -_-
    Feelnya Haejin sama Eommanya Donghae kerasa banget kak, sipp ^^b
    Panas dingin deh bacanya wkwkwk

  19. Hoaaaaa 4!4!4!
    Akankah Haejin tidak perawan lagi d part 4???
    Hoaaaa gemes gemes gemesssss

    Teukie oppa!!! (” `з´ )_,/”(>_<'!)
    Nakal yaaaa… Minta dijitak!!!

    Nisya Nisya Nisyaaaaaa demi apapun, sesuai perkataanmu di WA tadi, slesaikan ff honeymoon ini!!!
    ♪ Ayo ayo ayo, Lee Haejin bisa!!!*singing*

    Kyaaaaaaaaa…

    Nisya : c eyang, udah baca telat, banyak maunya…
    ( •˘.˘•)-c<ˇ_ˇ" )
    Me : gpplah, yg penting tetep tetep ngeksis(?)
    *oke, abaikan!!!*

  20. Omo omo!! Aku deg2an bacanya heheh
    ckck gak nyangka haejin manggil leeteuk itu om-om wkwk
    haejin seneng banget yak ckck
    aku tunggu kelanjutannya ^^

  21. teuk kayak gapunya dosa sama sekali deh yah .. najong -_-
    ihihi adegan keluarganya ngena banget.. suka suka momma😄
    uhukkk!! Adegan mandi itu..errr~ banget >.< *engaph* padahal tinggal dikit lagi.. hadeeeh scene kesukaan itu kenapa harus gagal lagi garagara itu ahjussi setan sialan..ish menyebalkan .. padahal susah poppa sampe lepas kendali sampe segitu..ckck
    bagus haejin jangan mau kalah sama itu ahjussi tua.. buang aja dia kelaut sana..wkwk

  22. Aigoò tuh ahjussi .. Radar yadong nya tajam bgt ya?
    Aish – acak2 rambut – .. Knp sih selalu Aja … Lg hot hot nya … YAK .. Ikat Aja teukkie di tiang listrik paling atas … Ơ̴̴̴̴̴̴͡.̮Ơ̴̴͡»:Dђέђέђέ. … Dong hae almost jebol tuh pertahanannya .. Haejin .. Ayo fighting .. Dikit lagi berhasil tuh .. Sebelumnya ” ikat ” dulu si teukie ahjussi nya

  23. Buakakak, haejin haejin.. *geleng2* ada2 aja deh..
    Dan lagi2 yg gangguin tak lain dan tak bukan adl uri ahjussi -__-
    Aigooo, kykx teuki oppa yg mnt dilempar nih…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s