My Soul in Seoul ~Chapter 2~

Title : My Soul In Seoul

Author : Aveeka Mauri (Makasih Onnie Sayang :*)

Genre : Romance, Angst

Rate : PG-15

Length : Chapter

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin
Supporting Cast :
  • Kim YoonRi
  • Ok Taecyeon
  • Kim Jung Hoon

….KEDUA….

“Sudah puas….? Kapan mau diposting di account pribadimu….?” Tanya Nadine.

“Jadi sudah tau…. ”

“Tolong jaga privacyku… Jangan karena kau artis lalu bertindak sesukamu… Ingin menaikkan nama agar semua orang tahu kalau member Super Junior masih ada yang eksis….” Ketus Nadine menatap tajam pada Donghae.

“Ooh, sudah tau siapa aku sebenarnya jadi sekarang….” Lirik Hae mencari tatapan Nadine yang sedang merapikan beberapa keperluan background.

“Jessica-ssi, anda siap…. Donghae-ssi hampir lelah menunggumu… Kita mulai sekarang…” Teriak Nadine berdiri disisi photografer.

Mata Hae tetap pada Nadine yang terkadang bergerak cepat membenarkan atau mengarahkan gaya keduanya. Hae dan Jessica. Terkadang merapikan posisi atau pakaian namun sikapnya tetap dingin hingga pemotretan usai.

Donghae POV,

“Kenapa tidak marah atas perbuatanku itu…” Tanyaku duduk pada kursi dekat dengannya saat ia merapikan beberapa peralatan.

“Aku marah… Tidakkah kau merasa..?” Jawabnya melihat padaku lalu bekerja kembali.

“Aku hanya melihatmu diam walau terkadang mendekat padaku… Apa harus itu kuartikan marah..?” Selidikku. Bukan menggoda lebih tepat karena aku menyukai sikap dingin dan ketusnya.

“Aku tidak perlu menghabiskan suara juga liurku untuk berteriak atau memukulmu sebagai wujud ekspresi marahku…” Ada beberapa lembar rambut jatuh saat ia tertunduk. Dan sialnya…..

Kenapa Tuhan menciptakan keindahan pada seorang yeoja dalam bentuk yang…. Membuatku menelan ludah. Pfuh, apa kata halus dari hasrat, aku tidak pasti mengungkapkannya. Setidaknya belahan itu.. Bukan, buah tergantung itu… Aish mengapa harus terbentuk dan terlihat jelas..

“Bisa jauhkan pandanganmu dariku Donghae-ssi?!” Baiklah ini perintah dan itu membuat jantungku juga sedikit terkejut, sepertinya dia memiliki mata lain dipuncak kepalanya.

“Baiklah…. Aku sudah mengalihkan pandanganku, tapi sangat sayang dan terkesan tidak mensyukuri keindahan Tuhan dihadapanku bila aku mengalihkan pandanganku….”

Ia mendongak dan bola matanya yang berwarna coklat itu sepertinya nyaris keluar.

“Maaf…. Aku hanya….”

“Jangan berfikir berdasarkan persepsimu padahal itu merugikan orang lain Donghae-ssi…”

“Merugikan orang lain..?? Maksudnya… Aah, tentang foto dan status barumu itu…”

“Iya….” Jawabnya pasti dan kini berdiri tegak menatapku hingga aku sadari kami hanya tinggal berdua ditempat ini.

Seperti aura setan mulai terasa disaat sepi, dimana lampu ruangan hanya beberapa yang menyala dan semoga mereka tidak menggodaku karena karya seni Tuhan dihadapanku ini teramat menggoda terlebih saat memasang wajah angkuh dan judes seperti ini.

“Jadi…. Baiknya kita mulai bersikap layaknya sepasang kekasih bukan…?” tanyaku nakal.

“Apa pernah terfikir olehmu Donghae-ssi saat kau memindai gambar juga status… Apa kau yakin aku tidak memiliki kekasih bahkan suami…?”

“Eem, namja yang mencarimu waktu itu maksudnya….?”

“Begitulah….” Mengapa kutangkap ragu dan bernada berat saat menjawab pertanyaanku.

“Kalian bisa putuskan..?? Kalau kalian menikah, bahkan bisa bercerai….”

“Lee Donghae-ssi….. Jangan berulah ala cassanova yang seolah bisa menaklukkan dan memperdayai gadis2 dengan wajahmu itu!”

“Memang ada masalah apa dengan wajahku… Apa maksudnya, kau ingin mengakui ketampananku… Apa benar begitu Nona Lee…?” alisku terangkat dengan senang.

“Menyebalkan….!!” Ucapnya berlalu keluar ruangan dan aku mengikutinya.

“Tidakkah seharusnya kita menjalankan saja hubungan ini…?” kejarku.

“Aku sedang tidak ingin berhubungan dengan laki-laki….” jawabnya malas.

“Jadi… Sedang ingin berhubungan dengan perempuan…?” Aku terus mengikutinya saat kami menunggu lift. Tidak ada jawaban hanya sebatas mengangkat pundak. “Tapi menarik juga kalau kita tetap menjalankan… Aku belum pernah berhubungan dengan seorang yuri, dan juga belum pernah merasakan dicemburui oleh pasangan yuri….”

“Tapi setidaknya pernah merasakan hubungan sesama jenis bukan…?” Ucapnya saat melangkah masuk kedalam lift.

“Maksudmu….”

“EunHae couple?” tanyanya jijik.

“Aah, jadi sudah tau tentang kami…? Jangan katakan kalau dirimu itu shipper kami…”

“Maaf, aku tidak mengenal kalian…. Aku hanya tau dari kicauan sahabatku yang ELF selama bertahun-tahun… ”

“Yah, setidaknya kami sudah pernah menjelajahi Eropa dan rasanya kami juga memiliki penggemar disana, di Inggris juga mungkin ada…” Jawabku santai dan ia hanya melirik sebentar.

Diam….

“Jadi kita sepasang kekasih sekarang…?” Ledekku memandang angka demi angka dari lantai yang kami lalui dengan lift.

“Dalam pemikiranmu….”

“Hei, jadi setuju…. Nanti malam boleh kubuat status ‘Neui Yeoja’ dengan memasang fotomu sebagai display profile…”

Ia melirikku tajam dan lagi-lagi aku menyukainya. “Perlu kau tau Donghae-ssi… Kakekku tidak menyukai laki-laki Korea….”

“Tapi kau sendiri Korea, dengan marga Lee pula…”

“Hanya kebetulan aku berkembang menjadi janin didalam rahim wanita Korea dan dilahikannya pula…”

“Apa maksud dari ini semua sebagai bentuk penolakan untuk menjadi kekasihku…?”

“Tuan Lee…. Aku tidak pernah mengiyakan dan menyetujui semua tindakan juga ucapanmu!”

“Tapi kau juga tidak mengucapkan TIDAK Nona Lee… Jadi apa yang salah disini… Tidak ada bukan…?”

“Memang tidak ada… Tapi….”

“Ikuti saja, biarkan semua mengalir seperti air dan biarlah mereka semua menonton drama genre romance yang sedang kita mainkan…”

Ia menyipitkan mata dan melihatku kemudian berjalan mendekat… Bukan tapi merapat lebih tepatnya. Tapi jantungku berdetak dan gugup melihatnya seperti ini.

“Aku tidak pernah mengakui hubungan ini… Aku sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan seseorang, hubungan cinta kupertegas!” ucapnya berapi-api.

“Nona Lee… Aku belum mengatakan ‘aku mencintaimu‘, aku hanya bilang kalau kita kekasih dan tentang kakekmu… Aku tidak pedulikan beliau karena aku tidak bermaksud menikahimu… Aku hanya ingin menjadikanmu kekasih…. Coba ingat kembali, AKU HANYA INGIN DIRIMU MENJADI KEKASIHKU…” Ucapku begitu dekat dengan wajahnya dan ia terlihat kaget atau apa aku tidak tau.

“Maksudmu….. Tunggu dulu, kau hanya inginkan status…. Dasar gila!”

“Eemm, jangan-jangan kau menginginkan aku menyatakan lalu membuatmu menjadi tambatan hatiku….?”

“Jangan pernah menghubungkan kehidupanku dengan kehidupanmu Tuan Lee… Bila hanya ingin mencari status bahwa kau memiliki kekasih, cari orang lain… Dan kupastikan bukan aku.” Jawabnya kemudian pergi meninggalkanku sementara diluar gedung….

“DONGHAE OPPA…… DONGHAE OPPA….!!” Teriakan riuh itu membuatnya masuk kembali dengan menutup wajahnya.

“Kau lihat ulahmu! Menyebalkan.” Gerutunya kemudian berjalan kearah belakang gedung dan aku menyusulnya.

“Kita hadapi mereka, kalau berlari seperti ini mereka akan terus mengejarmu….” Ucapku memegang tangannya dan ia melirik tajam bagian pegangan itu namun kuacuhkan tidak memperdulikan tatapan matanya yang bisa dibilang marah karena aku menyentuhnya.

“Kemari.” Dan kali ini dia menegang terasa kalau tangannya kaku tertahan. “Ayo cepat…. Haejin-ssi!”

“Namaku Nadine.”

“Baiklah… Apapun, cepatlah kemari….” Dan dia kembali kaku setelah menjawab ajakanku dengan ketus.

“Yak… Yak… Kau mau apa… Turunkan aku….!!”

“Diam sebentar saja, ini akan menyelamatkanmu…”

“Jangan kurang ajar menyentuh dan berbuat apapun tanpa izin….” Teriaknya.

“Lalu… Kalau aku mengatakannya apa kau akan mengizinkannya…?”

“Tidak!”

“Jadi lebih suka dipaksa kan…? Nikmatilah….” Jawabku dimana tubuhnya masih berontak dan berkali-kali memukulku.

“Tubuhmu terlalu kaku… Karenanya aku gendong, jangan berontak! Walau dirimu kecil tetap saja berat saat berontak seperti ini… Kalau mau berontak nanti saja saat dikamar…. ” Teriakku tetap membawanya dalam gendongan sementara kilatan beberapa kamera terlihat memantul pada kaca. “Eugh…….!! Dengar Nona, aku bisa sesak napas karena sikutanmu tadi…. Pfuh… Kejamnya…” Sekalipun kecil, kenapa tenaganya seperti laki-laki, sesaknya.

“Kalau begitu aku perlu menyikut otakmu agar tidak berpikiran liar! Turunkan aku!”

“Diam… Setidaknya lain waktu kau akan berterima kasih karena ini Nona Lee….”

Aku berhasil menuju basement kemudian menuju taksi yang terparkir, ide gila menurutku bila aku harus naik mobilku karena mereka pasti mengenalinya, tapi….

“Kita mau kemana….?” Teriaknya dalam gendonganku yang ala pengantin ini.

“Kemobilku….”

“Bukannya… Tunggu biarkan aku naik taksi saja, tidak perlu mengantarku….”

“Baiklah Nona Lee, kita pulang…. Aku bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab dimana harus membiarkanmu diburu mereka…” Ucapku melepaskan jaket kemudian mengenakan padanya dan, ini jarak terdekat dan nyaris menyentuh kulitnya, terlebih saat aku mengenakan seatbelt padanya.

“Ini…..” Kuulurkan kacamata hitam padanya.

“Untuk apa…?? Aku tidak sedang sakit mata…”

“Baiklah…. Kuletakkan disini dan kuharap di 5 menit kemudian kau akan tau untuk apa… Keras kepala…” Dengusku mulai keluar dari basement.

“DONGHAE OPPA….. DIAKAH KEKASIHMU…. OPPA….!!!”

“DONGHAE-SSI, BISA MENGKONFIRMASI SEBENTAR….”

Dan ucapanku benar, ia langsung mengenakan kacamata itu tertunduk dan menyembunyikan setengah wajahnya masuk kedalam kerah jaket yang ditinggikannya.

“Lihat! Semua karena ulahmu, aku tidak akan memiliki privacy lagi. Dan kau…. Hanya tersenyum tanpa dosa dan seolah menikmatinya!”

“Sudah kubilang kita jalani saja….” jawabku enteng.

“Apa yang kau mau sebenarnya…? Aku tidak mengenalmu dengan jelas diluar dari cerita temanku bahwa kau seorang member band ternama yang bandnya vakum dalam jangka waktu lama… Kita hanya bertemu karena…..” dia mulai terlihat bingung, tapi kemudian ia menghentikan ucapannya saat ponselnya berbunyi dimana setengah hati untuk mengangkatnya.

“Ne…? Sedang bersama teman… Belum aku belum lihat… Teman, apa harus kau mengenal semua temanku..?” jawabnya.

“Nadine-ssi…. Tunggu sebentar, aku belikan hadiah untukmu sebagai tanda dari hubungan kita….” kukeraskan suaraku agar terdengar oleh si penelepon, kulihat ia melebarkan matanya dan kupastikan penelpon itu meminta konfirmasi darinya.

Aku hanya melihatnya dari dalam toko dimana raut wajahnya terlihat begitu kesal dan malas meladeni penelpon itu. Pasti laki-laki kemarin….

“Komawo….” Ucapku menerima barang pilihanku.

Aku melangkah menuju mobilku kemudian membuka pintu dimana ia masih menerima teleponnya. “Kubantu berganti pakaian…” Ucapku sengaja saat membuka seatbeltnya dan matanya makin melotot dan gerak bibirnya berucap Donghae-ssi sepetinya wujud protes karena samar kudengar laki-lki itu bertanya suara siapa itu.

“Apa yang kalian lakukan…? Untuk apa ia mengganti pakaianmu….?” ucap seseorang yang entah siapa dengan nada berdesis, aku menyeringai senang.

“Taecyeon-ssi…. Salah faham dia sedang bicara dengan…..” Nadine mulai merepet menjelaskan.

“Nadine-ssi, ternyata pilihanku cocok untuk tubuhmu…. Terima kasih untuk cantik malam ini…” Ucapku merapatkan diri padanya setelah mengenakan bolero sebagai pengganti jaketku.

Dan kembali matanya melebar dengan sebuah sikutan mengarah kedadaku.

“Katakan padaku… Apa dia laki-laki yang diberitakan itu…? Apa dia member Super Junior itu..?”

“Taecyeon-ssi, siapapun dia… Bukan jadi urusanmu karena kita tidak ada hubungan apapun…. Maaf….” Ia menutup ponselnya menghela nafas dengan berat kemudian menatapku tajam dan aku langsung kembali menjalankan mobilku.

“Apa maksud semua ini…? Sudah cukup puas dengan permainanmu!?” serunya.

“Setidaknya aku membantumu untuk terbebas darinya…” Jawabku santai.

“Maksudnya…? Kau tidak mengenalnya dan jangan menduga-duga tentang kami… Jadi aku tidak butuh bantuanmu…”

“Memang aku tidak mengenalnya Nadine-ssi…. Tapi suaramu dan ekspresi mukamu menggambarkan kalau kau sebenarnya tidak ingin bersentuhan dengannya….”

“Baiklah kali ini benar dan terima kasih…” Jawabnya menghela nafas.

Aku tersenyum kecil, dan tak lama kemudian, kami tiba di apartemennya. Sekilas aku melihat seorang laki-laki sedang bolak-balik berjalan didepan apartemen. Tinggi besar, kupastikan bukan petugas keamanan tentunya.

Dia belum melihat laki-laki itu, aku segera membuka pintu kemudian membantu membukakan pintunya dimana ia sedang melepaskan seatbelt. Baiklah, laki-laki itu melihat kesini.

“Maaf untuk hari ini… ” Ucapku saat ia keluar dari mobil.

“Tolong konfirmasikan segera! Karena aku tidak ingin privacyku terganggu….”

Makin ketus jawabannya, mengapa aku makin senang menggodanya. “Bagaimana kalau kita jalani saja dulu?”

“Donghae-ssi… Status pura-pura yang Anda buat sudah membuatku menghadapi semua ini dalam waktu seminggu… Dan sekarang….”

“Janji, aku akan mengkonfirmasi segera… Setidaknya….”

“Setelah syuting dramamu selesai.”Ucapnya, sarkastis.

“Aah, sudah tau rupanya… Aish, benar-benar memiliki kekasih sungguhan…” Ledekku dan ia hendak bergerak pergi namun tanganku menahannya dengan meletakkan pada body mobil disisi kirinya.

“Becanda…. Benar, setidak selesai penayangan drama itu….”

“Jangan memanfaatkan… Syutingmu belum dimulai lalu masa penayangan… Setidaknya itu butuh waktu….” Menarik, ia bicara begitu cepat dalam sekali tarikan nafas.

“Satu tahun…. Diluar mundur atau dipercepat jadwal syuting atau penayangan drama… Cukup satu tahun…. ”

“Pemaksaan…. Aku seperti bertransaksi dengan mafia, baru melihat lalu memiliki status sebagai buronan….” Aku hanya tertawa mendengar omelannya.

“Jadi sekarang statusmu pacarku… Dan bila nanti ada pertanyaan dari para juru tinta itu, kau hanya mengiyakan saja… Mudahkan…”

“Menurutmu….? Ah sudahlah, terserah apa maumu… Aku capek!”

“Baik, istirahat tidur yang nyenyak dan sebisa mungkin mimpikan aku….” Ucapku memegang pundaknya dan kali ini dia tidak melirik atau menampik.

“Bahkan mimpipun harus ikut kemauanmu….” sungutnya.

“Wajar bila sepasang kekasih saling memimpikan satu sama lain bukan….?”

“Terserah, aku masuk dulu…. Terima kasih untuk boleronya… Aku menyukainya….”

“Kalau suka… Berikan aku senyum dong….”

“Dasar perayu…. “Jawabnya dan memberikan senyum, mungkin bukan senyum terbaik yang dimilikinya tapi ini senyum terbaik yang kudapat untuk malam ini.

***

Author POV,

“Taecyeon-ssi… Sejak kapan disini…..?” Tanya Nadine pada sosok laki-laki bertubuh besar dan kekar saat ia memasuki area apartemennya.

“Sejak tadi…. Siapa laki-laki itu….?” Tanya Taecyeon.

“Oh, apa tidak mengenalinya… Dia member terkenal bukan…?” Ucap Nadine sekenanya.

“Lee Donghae… Benar kalian berhubungan..?”

“Taecyeon-ssi, aku berhubungan dengan siapapun.. Tidak seharusnya aku melapor padamu kan? Lagipula… Kita….”

“Haejin… Aku minta maaf untuk itu… Tapi bagaimana bisa kau bersedia jadi kekasihnya hanya demi popularitasnya….?”

“Taecyeon-ssi, tidak ada yang salah dari semua alasan untuk menjalin suatu hubungan… Sama halnya tidak ada yang perlu diperdebatkan ketika 3 bulan lalu kau mengatakan jatuh cinta pada seseorang lalu meminta kita untuk berpisah…. Jadi, apapun alasan darinya dimana ia bisa memberiku kenyamanan aku bersedia mendampinginya…. Apa salahnya aku berhubungan dengannya….?” Jawab Nadine yang begitu menohok pada Taecyeon yang hanya diam tertunduk dengan wajah yang dipenuhi rasa bersalah.

“Haejin-ah! Aish gadis ini…. Tidak tau aku hampir berbuah karena menunggumu… Untungnya musim panas, kalau musim hujan mungkin aku sudah berjamur dan berlumut….” Teriak Yoon Ri keluar dari kompleks apartemen Nadine.

“Maaf, temanku menunggu…. Selamat malam Taecyeon-ssi.. Terima kasih sudah menungguku…” Ucap Nadine berpamitan lalu menghampiri Yoon Ri.

“Mau apa dia mencarimu…? Mengajakmu berpacaran lagi? Dasar tidak tahu malu, sudah meninggalkan sekarang masih saja mengharapkanmu….” gerutunya.

“Seperti Nenek-nenek terus menggerutu dan menduga-duga agar cucunya tidak apa-apa…. Sudah ayo masuk… Sejak kapan datang, kenapa tidak menghubungiku….?” Ucap Nadine saat masuk kedalam lift bersama Yoon Ri.

“Apa kau ingat akan sekitarmu saat bersama member Super Junior yang sekarang menjadi kekasihmu…?”

“Eh, memangnya menghubungiku….?”

“Tidak….”

“Lalu kenapa marah…?” Jawab Nadine melangkah keluar lift sambil mencari ponselnya memeriksa kotak masuk juga daftar panggil.

“Setidaknya……” Ucapan Yoon Ri terhenti ketika memasuki apartemen Nadine dan mengganti sepatu dengan sendal rumah.

“Setidaknya kau pertemukan aku dengan…. Lee Hyuk Jae…..” Rengek Yoon Ri dengan nada manja dan wajah memelas.

“Lee Hyuk Jae…. Siapa lagi? Aku tidak mengenalnya… Aku hanya tau dia bersama orang lain namun bermarga Kim… ”

“KIM JONG WOON…?? KIM YOUNG WOON… KIM KI BUM… Kim siapa…? Yang mana…? Kau sudah bertemu dengan berapa orang member… Aish, Haejin… Baru dua tahun menginjakkan kaki di Korea kau sudah bertemu dan mengenal Super Junior, sementara aku….”

“Harus aku mensyukuri atau menyesali pelarianku dari Kakek…? Aku tidak mengenal mereka, dan nama-nama yang kau sebut. Kupikir banyak orang Korea yang memiliki nama itu… Lalu, Lee Hyuk Jae…. Memusingkan menghafal mereka dengan jumlah member begitu banyak…” Ucap Nadine melepaskan boleronya kemudian mengganti roknya dengan pant berbahan kaos lalu mengangkat rambutnya tinggi menuju kamar mandi untuk berbasuh.

“Dasar kampungan. Lee Hyuk Jae itu Eunhyuk… Couplenya Lee Dong Hae…. Yak, apa kakekmu mengurungmu dalam bunker hingga tidak bisa melihat televisi, membaca majalah atau berkelana didunia maya…? Mereka sudah menjelajah eropa….”

“Apa kebiasaan orang Korea memiliki dua nama? Sama halnya seperti Kakek yang mengganti namaku dengan marganya…? Lalu apa kepentingan juga keuntunganku untuk mengenal mereka… Toh, lebih baik seperti aku kan… Tidak mengenalnya tapi tiba-tiba diminta sebagai kekasih dari member band ternama… Daripada dirimu… Hanya berteriak tidak pasti di depan televisi dan komputer hanya mengharapkan bisa bertemu dengan.. Siapa, Lee Hyuk Jae….? Mengapa marga Lee juga Kim begitu pasaran diKorea ini….”

“LEE HAEJIN….!!!! DASAR EROPA TIDAK JELAS, KUBILANG PADA KAKEKKU KALAU KAU MENGHINA MARGANYA DAN KULAPORKAN PADA KAKEKMU AGAR IA SEGERA MENJEMPUT DAN MEMASUKKANMU KEMBALI DALAM BUNKER….” Teriak Yoon Ri yang meleparkan beberapa boneka dari tempat tidur kearah Nadine yang hanya tersenyum puas melihat temannya marah dan kesal.

“Sombongnya, baru bisa diminta menjadi kekasih Lee Donghae…. Awas nanti, kalau sampai Hyuk Jae melamarku… Kau berhutang untuk memberiku hadiah bulan madu ke kampung ayahmu itu di London….” Lanjut Yoon Ri yang masih kesal.

Tawa Nadine makin kencang dari balik meja pantry dengan membawa panci yang berisi ramen untuk mereka makan bersama.

“Sudah jangan terlalu percaya diri dan bermimpi… Buktikan saja, nanti kusewakan salah satu kamar di istana Buckingham untuk kalian bulan madu…. Ayo makan, aku lapar…”

Yoon Ri turun dari tempat tidur kemudian mendekati meja dimana aroma dari uap panas ramen buatan Nadine menggodanya.

“Hei… Jangan cemberut seperti itu…. Lihat bibirmu seperti pengait yang siap untuk kugantungkan bra-ku…” Ledek Nadine mengetuk pelan bibir Yoon Ri dengan sumpit.

“Memangnya kalian tidak makan malam bersama….?” tanya YoonRi, Nadine menggeleng karena mulutnya penuh terisi.

“Lalu…. Slruuuup, haaa… Kalian kabur kemana dari kejaran wartawan itu…?” Tanya Yoon Ri kembali sambil menghisap kuat ramen disumpitnya.

“Memang sudah ada beritanya soal kejadian itu…?” Tanya Nadine berjalan menuju lemari es mengambil sebotol air mineral dingin dan sebuah gelas lalu kembali keposisi semula.

“Sudah… Hampir semua berita terselip berita kalian walau mereka belum tau namamu… Memang apa yang diperbuatnya…?”

“Menggendongku hingga ke basement lalu membawaku pergi dengan mobilnya….”

“Uhuk uhuk uhuk… Mwoo..?? Menggendongmu…? Jinca…?” Nadine mengangguk menjawab ucapan Yoon Ri yang dengan mata melebar seolah memaksa tenggorokannya untuk dilalui air mineral.

“Aku berontak teriak minta turun tapi dia tidak mengabulkannya..” Ucap Nadine kemudian.

“Bodoh… Mengapa berontak…? Sudah diam pasrah saja dalam gendongannya… Apa benar dadanya begitu bidang Jin-ah….? Kau menyentuh ABSnya tidak…?” tanya YoonRi penasaran.

“Dasar yadong! Aku tidak melakukan dan memastikan hal itu… Hanya berharap dia melepaskanku dan jangan sampai ada wartawan yang melihat…. Sudah rapikan, kemudian tidur… Aku capek.”

“Haejin-ah… Mereka, EunHae couple itu dulu terkenal dengan kesexy-an kotak-kotak diperut mereka juga dada bidangnya… Apalagi kolaborasi dance mereka yang begitu menggoda saat melenturkan tubuh dengan dada terbuka…” Cerita Yoon Ri saat mencuci bekas makan mereka.

“Begitu murah tubuh mereka sampai dipamerkan seperti itu…?” Jawab Nadine santai sambil menarik selimut diatas pembaringan.

“Itu hanya bagian dari pertunjukkan… Bila ada kesempatan, coba raba ABSnya… Kemudian ceritakan padaku, nanti aku juga akan menceritakan padamu bila aku bisa menyentuh ABS Hyuk Jae….” Ujar Yoon Ri yang membaringkan tubuhnya disisi Nadine.

“Lusa akan kuhubungi Dokter pribadi ayahku di London…”

“Untuk apa…?” Tanya Yoon Ri penasaran.

“Bertanya, apakah ada therapy pencucian otak manusia… Agar otakmu bersih dari yadong itu….”

Yoon Ri tertawa kencang lalu memeluk tubuh Nadine yang juga tersenyum. “Nanti kalau sudah mengenal apa itu yadong bahkan sampai merasakannya… Kau pasti akan ketagihan Nona Eropa…” ujarnya yakin.

Argh…..

“Haejin… Apa yang kau lakukan tengah malam begini….?” Teriak Yoon Ri dikejutkan dengan jatuhnya beberapa barang dan erangan Nadine.

“Migrainku…. Aku tidak menemukan obat itu…. Yoon Ri, tolong carikan… Aku tidak tahan….” suara Nadine seperti terjepit pintu, menahan nyeri.

“Baiklah… Demi Tuhan Haejin, baru setengah jam kau tidur… Mengapa bisa kambuh seperti ini….” Gerutu Yoon Ri saat melihat jam dinding dimana kedua jarum jam itu sedang berpelukan mesra menunjuk angka 12.

“Dimana obatnya…..?” Ucap Yoon Ri panik dan makin panik saat ponsel Haejin berdering.

“Hallo…. ”

“Hallo……., ini bukan Nadine…? Siapa Ini…?”

“Anda mencari siapa Tuan….?” Yoon Ri berhenti sejenak dan melihat pada layar ponsel Nadine dimana tertera 3 huruf yang membuatnya melebarkan mata dan menganga lebar.

“Aku Lee Donghae… Dimana Nadine….?”

“A-a-aku…. Sahabat Nadine namaku Kim Yoon Ri… A-a-apa… Khkabar Donghae-ssi….?” Ucap Yoon Ri gugup.

“Oh, kau yang menceritakan tentang Super Junior pada Nadine… Hallo, apa kabar…? Senang bisa berbincang dengan seorang ELF… Dimana Nadine….?”

“Ddia… Haejin… Sedang sakit… Migrainnya kambuh… Obatnya tidak kutemukan…”

“SAKIT….?! KENAPA TIDAK KEDOKTER… AKU KESANA, TUNGGU AKU KESANA… KATAKAN DIMANA APARTEMENNYA…”

“Apartemen D, lantai 5 no. 1015….”

Yoon Ri menutup ponsel Nadine, ia berjalan bolak balik sambil menghela nafas dan mengibaskan tangannya kewajahnya.

“Aku bicara dengan Lee Donghae…. My Godness, omo…. Lee Donghae…. Aaaah, hampir habis nafasku…. Gadis curang, tau nomer Lee Donghae tapi tidak memberitahukan padaku…” Omelnya seorang diri dan melupakan sahabatnya yang masih mengerang ditempat tidur.

” Astaga, Haejin…. Aku lupa…..!!!!”

***

Yoon Ri berjalan menuju pintu dimana suara bel itu memekakkan telinga untuk jam malam seperti ini.

“Hallo…. Kim Yoon Ri, dimana Nadine….?” Ucap Donghae khawatir.

“Hhallo… Aku Kim Yoon Ri teman Haejin… Dia… Dia ditempat tidur masih mengerang terus menarik rambutnya….”

Donghae menyeruak masuk sementara Yoon Ri kembali menganga melihat sosok yang dibawa Donghae ke apartemen Nadine.

“Prince Manager….? Kim Jung Hoon….” Tenggorokannya tercekat untuk mengeluarkan udara dimana membantunya mengeluarkan susunan kata hingga berbentuk nama dari manager Donghae.

“Hallo… Apa kabar, aku Kim Jung Hoon… Kau mengenalku…? Senang bertemu denganmu Nona Kim…” Ucap Sang Manager dengan tersenyum.

“Hhallo…. Aku Kim Yyoon Ri…. ”

Haejin, katakan dimana kau konsultasi feng shui… Kenapa bisa dua manusia… Ehem, tampan ini datang ke apartemenmu…. Kau bukan ELF bahkan nama Super Junior saja kau tidak tau, dan komplain saat aku menerangkan siapa saja nama-nama mereka…. Kapan mereka berdua membawa Hyuk Jae kemari…? Ani…. Jangan kemari tapi ke rumahku…

Yoon Ri terus menggerutu dalam hati mengungkapkan iri hatinya pada Nadine akan kejadian beberapa waktu ini.

“Jangan tarik rambutnya….” Ucap Hae yang duduk ditempat tidur memangku Nadine dan mencoba menenangkan gadis itu.

“Ini sakit sekali…. Argh, aku benci bila sakit seperti ini….” Keluh Nadine menggigit bibir bawahnya menahan sakit dimana airmatanyapun sudah mengalir disudut matanya.

“Bisa tolong air putih….” Teriak Hae dan Yoon Ri datang memberikan segelas air mineral padanya.

“Minum obatnya…. Nadine-ssi, tahan dulu sakitnya… Sekarang minum obatnya…” Pinta Hae menyuapi sebutir obat kemulut Nadine lalu menyodorkan gelas membantu gadis itu minum.

“Tidakkah kita membawanya ke rumah sakit….?” Tanya Jung Hoon pada Hae sedang mata Yoon Ri tak lepas dari kedua orang itu yang seolah datang dari negeri impian dengan berwajah putih bersih bagai malaikat namun penuh titik pandang dari ujung rambut hingga kaki yang begitu menggoda dan membuat mulut terus terbuka juga produksi liur yang terjun bebas sederas niagara. *maap Kimmy, jgn dibunuh dah.. Piss ya…*

“Kita lihat reaksi obatnya baru nanti kita putuskan perlu atau tidaknya membawanya ke Rumah Sakit….” Jawab Hae menyingkirkan rambut yang jatuh diwajah Nadine dan begitu lekat karena keringat dan airmata.

Tubuh mungil ini ternyata begitu rapuh karena migrain, bila dia sadar tidak akan mungkin ia mau bersandar padaku dan tergeletak pasrah dengan wajah begitu damai melekat didada, seolah detak jantungku begitu merdu membuai tidurnya… Untunglah tubuh ini sudah kututup dengan selimut, bagaimana mungkin rela aku membagi bentuk tubuh yang banyak terbuka ini pada Jung Hoon Hyung… Apa saat tidur kau harus berpakaian sexy seperti ini..? Bohong kalau aku tidak tergoda… Aku sedang bersusah payah mengontrol diri agar tidak ada perubahan dalam diriku karena melihat betapa cokelat dan mulus pahamu juga belahan itu…. Tidurlah, istirahatlah….. Aku menemanimu…

Donghae berkelana dengan pikirannya, kekhawatiran juga mencoba menekan desiran darah yang mulai panas karena pemandangan dihadapannya.

Nadine POV,

Mengapa aroma ini begitu membuatku nyaman..?
Mengapa detak ini begitu mengalun merdu..?
Mengapa tempatku mendaratkan kepala begitu lapang…?

Inikah wujud sempurna seorang laki-laki, memberi kehangatan dalam peluknya, aku menyukainya… Aku menyukai ruang bidang tempatku mendaratkan kepala ini… Aroma maskulin tidak menusuk hidung namun membuat imajinasiku menari indah…

“Tidurlah, istirahatlah….. Aku menemanimu…”

“Donghae-ssi…. Kapan kau datang, kenapa bisa kita satu tempat tidur…?”

“Migrainmu kambuh, sekarang istirahatlah… Aku temani… Tapi sudah tidak pusing kan?”

“Sudah reda… Migrain ini selalu menyiksa… Komawo, kau bersikap seolah benar-bemar kekasih…”

“Bukankah kita sudah jadi kekasih sekarang..? Jadi aku akan datang untuk menemanimu disaat apapun…”

“Perayu… Berapa gadis yang kau janjikan seperti itu….?”

“Baru dirimu… Hyuk tidak pernah mempan untuk dirayu seperti itu… ” Aku tertawa mendengar sirat nada sedih dalam ucapannya, seolah mereka memang kekasih.

“Begitu nyamankah…??” tanyanya.

“Maksudnya…?” aku bingung.

“Bersandar didadaku… Bukankah kau tidak suka berdekatan denganku…?”

“Maaf, ini pasti karena migrainku… Oh, mau kubuatkan kopi atau teh…?” Aku bangkit dari memarkirkan diri didadanya berjalan menuju pantry sambil menggulung rambutku.

“Tidak perlu repot….” Jawabnya lembut kali ini tanpa godaan atau kejahilannya seperti biasanya.

“Kopi krimm ya… Temani aku minum…” Tawarku saat mulai meletakkan ceret diatas kompor.

Seharusnya aroma kopi yang kucium saat kubuka wadah penyimpanan kopi, tapi mengapa aku mencium aroma tubuhnya…

Ada lingkar hangat menyentuh perutku begitu rapat, begitu hangat bahkan panas, dan kini mulai menjalar menaikkan suhu tubuhku. Hembusan halus udara yang keluar dari lubang hidungnya begitu terasa menyentuh pori-pori tengkukku.

Dia mau apa? Mengapa sentuhan basah dikulitku…? Tunggu, ini ciuman… Dia mencium tungkuk dan pundakku… Begitu bebas karena tank top ini, juga… Begitu menggoda dan sensasi permulaan ini mengapa mulai merayapi tubuhku…

Jantungku berdetak cepat saat ia memutar tubuhku lalu membelai wajahku. Menyentuh kedua alis, membiarkan bibirnya menyapa kedua mataku, telunjuknya bergerak mengikuti tulang hidungku, hingga ibu jarinya mengusap bibirku. “Jangan bilang kau menginginkannya…?” Bisikku dimana jari-jarinya terus berputar mengikuti pola bibirku. Lututku lemas bila ia terus melakukan ini dengan tatapan seperti itu.

“Menginginkan apa… Bisa jelaskan padaku dari pertanyaanmu soal menginginkan itu..?”

“Jangan menggodaku Donghae-ssi.. Setidaknya aku tau apa yang dipikirkan laki-laki saat ia sedang bersama wanita cantik.. Terlebih pakaianku yang sangat minim ini…”

“Pikiran apa itu Nona Lee…?” Suaranya, hembusan nafas yang keluar dari mulutnya mengapa membuatku….

“Nona Lee… Boleh aku mencari daerah sensitif dari dirimu… Apa area belakang telinga ini termasuk bagian sensitif bila aku menciumnya…?” Aku belum menjawab, aku belum mengijinkan, tapi mengapa ia sudah menciumnya.

Dengusan nafasku sepertinya didengarnya, apa bibirnya memiliki voltage yang begitu besar sampai mengalirkan kejutan-kejutan listrik yang mulai memanaskan hormon dalam tubuhku. “Boleh kutahu, apa kelembutan kulitku saat kusentuh atau… Jujur aku menginginkan mencicipi manis bibirmu yang begitu membuatku gemas bila kau sedang cemberut padaku…” bisiknya pada permukaan kulitku.

“Hanya ada satu cara dimana kau dapat menemukan jawabannya atas pertanyaanmu…” Ia sedikit terkejut dengan jawabanku dan tarian tangannya yang sedang mengusap lenganku terhenti.

Matanya berbinar sepertinya pengharapannya bagai gayung bersambut. Tidak menyiakan undanganku, ia menunduk dan meletakkan kedua tangannya lembut dipipiku.

Ini terlalu ahli, ciumannya mengapa begitu ahli, ia seperti seorang master bercinta. Kuakui ciumannya begitu jago dan makin membuat nilainya bertambah selain ketampanan yang dimilikinya juga tatapan matanya yang berunsur magis karena aku terpedaya dan terhipnotis. Mulutnya begitu lembut menciumku,  dan kini tanganku menyentuh lengannya dan ia makin memperdalam ciumannya. Ada sensasi merayap ditubuhku membuat tarikan nafasku tidak beraturan, irama jantungku begitu menggebu.

Aku terbawa sensasi, aku terikat gerak bibirnya hingga tanganku terletak didadanya. Yoon Ri benar, ia memiliki permukaan bidang yang membuatku penasaran untuk menyentuh langsung tanpa penghalang anyaman kapas ini. Ciumanmu berefek Lee Donghae, inilah efeknya. Kucari ujung kausnya, kemudian tanganku menyusup masuk tanpa permisi dan…

Inikah wujud sexy yang dikatakan Yoon Ri, aku menyentuhnya aku merabanya, begitu terbentuk kotak-kotak diperutnya. Mengapa aku menjadi liar seperti ini, mengapa ia pasrah saat aku membuka kaosnya hingga…. Sepertinya semua nilai untuk dirinya nyaris sempurna, 9 untuk ketampanannya, 9 untuk ciumannya dan 9 untuk bentuk badannya. Rangkaian otot dibagian depan tubuhnya bagai tembok kokoh yang kini menekan dadaku. Haruskah kita menaikkan level dari permainan ini, ciumannya sudah berubah menjadi lumatan dan lidahnya sudah masuk mendorong dimana menyisipkan kehangatan yang luar biasa. Aku ingin menghentikannya, namun jangan…. Jaringan syarafku sudah mengubah merestart seluruh koneksi dalam otakku untuk terus melanjutkan permainan ini bahkan memintanya untuk bermain lebih menggoda. “Donghae-ssi… Jangan buat jejak apapun… Eough…. Pada leherku…”

“Tapi ini terlanjur terbuka… Biarkan aku memberi tanda, bahwa leher ini sudah kumiliki…. ” Sela jariku kini terisi rambut hitamnya, aku mengangkat kepala sepertinya membiarkan dan mempermudah dirinya untuk menjelajahi leher ini hingga dadaku. Aku tidak bisa lagi mengatur nafas, ini  makin panas , sensasinya membuat suhu ditubuhku naik juga tingkat hormonku terus beranjak…

Kopi kream itu terlupakan dan mengapa ceret itu tidak menjerit saat titik panas membuat didih air hingga menguap yang seharusnya menjadi jeritan yang mungkinmenghentikan kami. Yoon Ri, dimana dia… Bukankah dia bersamaku tadi, mengapa dia menghilang….?

“Haejin…. Haejin-ah, Nona Eropa…. Bangunlah… Sudah pagi, apa kau tidak bekerja….?”

“Yoon Ri….?? Dia….?”

“Kenapa nafasmu…? Mimpi apa…? Kenapa berkeringat…? Haejin, apa nyawamu sudah terkumpul semua… Atau dibawa sebagaian oleh Lee Donghae…?”

“Lee Donghae…?? Apa dia kemari..? Bagaimana bisa, dia tidak tau dimana apartemenku…?”

“Aku yang memberitahu, semalam dia menghubungimu saat migrainmu kambuh… Dan ia datang kemari bersama Managernya… Yak, Bagaimana bisa kau memiliki nomer ponselnya tanpa memberitahu aku…”

“YAK, Kim Yoon Ri…. Kenapa kau biarkan dia kemari dan masuk….? Bersama Managernya..? Dan pakaianku…. KIM YOON RI, KAU CARI MATI…. !!!”

“Mengapa menyalahkanku…. Dia mendekapmu erat dan kau malah pulas tertidur didadanya sambil tersenyum…” Bantahnya berlari menjauh dariku.

Jadi dada bidang itu… Aroma tubuh itu benar dia memelukku namun tidak bertindak jauh… Itu hanya mimpi… Mengapa aku bisa berpikiran liar dan membayangkan nyaris menyerahkan semuanya padanya… Untung hanya mimpi…. Pasti karena pembicaraan yadong gadis itu yang membuatku menjadi liar seperti ini.

“Kenapa kau menatapku seperti itu…. Hei, harusnya berterima kasih padaku….”

Bruuuuug…..

“Jangan ulangi lagi membawa laki2 masuk kedalam rumahku….” Ucapku penuh ancaman setelah melemparkan bantal padanya yang berhasil ditangkisnya.

***

“Nona Lee…. Katakan ada apa sebenarnya…? Butik kita setiap hari ramai dengan wartawan… Bisa kau jelaskan…?”

Wajah Nadine tampak begitu lelah dan ia menghela nafas panjang mendengar pertanyaan Mr. Hong.

“Maaf biar aku atasi…. Aku juga sudah bosan seminggu ini diburu kilat lampu dan dipaksa memakan mikrofon….”

“Baiklah, aku tidak mau peduli dengan urusan cintamu Nona Lee… Tapi, luar biasa menurutku.. Dulu mereka pernah beberapa kali memakai pakaian rancanganku dan belakangan ini Donghae-ssi juga sering sekali memakai rancanganku… Ternyata dia jatuh cinta pada asistenku…”

Nadine tersenyum kecut lalu menghela nafas sambil berjalan keluar ruangan Mr. Hong. Wajahnya memandang kearah kaca dimana terlihat beberapa kuli tinta juga beberapa siswi yang masih berseragam sekolah mencari keberadaannya.

“Sejak kapan ia menyimpan nomer ponselnya disini… LDH, jadi dia benar-benar mengincarku rupanya…” Gumam Nadine seorang diri menatap ponselnya lalu menekan nomer yang tertera dilayar.

“Hallo… ” Suara diujung telepon yang selama hampir seminggumenghilang setelah kejadian diapartemennya waktu lalu karena ia ke Hongkong untuk memulai syuting.

“Apa kabar…? Sudah kembali…?”

“Baik… Sudah, baru semalam… Apa kau merindukanku hingga menghubungiku..?”

“Datang kemari jemput aku…. Aku butuh bantuanmu…”

“Baik Sayangku, aku akan datang menjemputmu… Tunggu aku kita makan malam bersama oke…?”

“Aku ada di butik….”

“Aku tahu, aku segera kesana….”

15 Menit Kemudian,

“Donghae-ssi, apa kau datang menjemputnya…? Apa benar wanita itu kekasihmu…?”

Nadine hanya diam menatap Donghae menerobos masuk kedalam butik melewati para wartawan juga beberapa penggemarnya.

“Jadi maksudmua membutuhkan bantuan adalah… Itu..?” Tanya Donghae menunjuk kearah luar.

“Iya, inikan terjadi karenamu… Sekarang, katakan pada mereka konfirmasikan semuanya… Kami jadi sulit bekerja dan para pelanggan sudah seminggu ini enggan datang kemari karena tidak bisa masuk…”

“Kemari….” Tubuh Nadine menegang mendengar ucapan Hae dimana laki-laki itu sudah menjulurkan tangannya berharap uluran tangan Nadine membalasnya.

Donghae langsung mendekap Nadine saat tangan kanan gadis itu terulur menyentuh tangannya kemudia mereka melangkah keluar bersama dimana Nadine menyembunyikan wajahnya didada Hae.

Aroma ini tercium lagi… Ini pasti bukan berasal dari cologne, apa mungkin ia menumpang mandi ditempat permandian dewa hingga aroma maskulinnya begitu menyegarkan…. Mengapa pikiranku berkelana kembali pada mimpi seminggu lalu… Mengapa aku seolah terbiasa bersandar didadanya… Mengapa seolah aku benar2 merasakan sentuhan bibirnya, Mengapa aku masih terbayang bagaimana otot tubuh itu begitu menggodaku untuk menyentuhnya… Benar, tanganku menyentuh ABSnya walau tertutup rapi dalam kemeja namun ini benar2 terasa terbentuk….

.T.B.C.

Maaf Nisya, kali ini agak panjang… Keasyikan mengetik….

Emm, kesekian kalinya Saya bilang sama Reader, Ide awal tuk ngebentuk karakter Haejin memang diambil dari SUMMER IN SEOUL Ilana Tan Sesudah itu ini murni ide saya…

Maaf untuk yang ga ngerti sama bahasanya, mungkin terlalu kaku dan berat… Tapi ini sudah ciri khas saya…

Dan saya suka mainin alur, jadi klo nanti bingung… Coba rerunan dari part sebelumnya…. Mungkin, sekarang2 ini masih bisa blum jelas konfliknya….

Maaf ya… Plus, makasih juga tuk yang udah mampir n ninggalin Jejak…

Maaf Sementara waktu Blog pribadi saya tutup, pastinya banyak yang udah tau alasannya….

Nisya, ini kepanjangan, fix kepanjangan…. Hehehe, keasyikan dan kebiasaan dengan FF yang diatas 5000 word count… Hehehehehehe…..


71 thoughts on “My Soul in Seoul ~Chapter 2~

  1. aigoo.. aku kira itu beneran..
    ternyata itu mimpi..😀
    aku suka ceritanya.. bahasanya juga, sedikit mikir jadinya baca ini ff.. hehe..
    nah, kalo yang ini aku ngerti alurnya, ga terlalu menclak menclok kayak part sebelumnya,🙂
    daebak deh,🙂

  2. Wow wow wow…
    Makin seru bacanya
    Untuk alur, aq msih bingung… Mgkn bkn alur, tapi perpindahan waktu atau scenenya ya? Blm terbiasa
    Tapi klo aq bacanya pelan”, lama” mulai ngeh😀

    Hehhee😀

  3. astaga si donghae sih tengil abis loh disini bwahaha.. suka ama karakternya, cassanova abissss >.< haejin-nya jg, ada yg beda dr haejin versi nisya, tp ga kalah keren.. *thumbs up* ehm, ini si taecyeon ceritanya bkn artis ya?

  4. Aigoo nadine, mimpimu sungguh yadong ckck jgn sampe ketularan yoonri yaa *tabok yoonri* hehe
    part ini seru bangeettt
    aku tunggu next partnyaa

  5. Makin suka mommaaa >.< Bgus ceritany, jd ga sabar baca next part ny.. Dan yg d daputuu sooo sexy momma ahahah aq smpe bs bayangin.. Ooh sh^t otak ku mulei trserang virus yadong

  6. Setuju~ emang ffnya enyak selalu panjang dan butuh konsentrasi bacanya..wkwk😄
    Ihh donghae pervert deh ah ><
    Ihihi taec kasianan yah masih aja ngejar haejin.. makanya jangan selingkuh..ihihi bagus yoonri nyeletuk aja..wkwk~ err..itu omongannya haejin berasa ngejlebb banget banget ih ._.v
    Pasti enak yee ketemu idolanya yoonri..ihihi tungguin hyukjae yah di kamar #plakk~ haejin jangan sok polos, yadong itu enak tau😄 ihihi dan coba liat~ mimpinya haejin udah menjurus banget deh itu sama donghae.. hadeeeeh~ pokoknya aku demen deh klo udah sekinsipan begitu..wkwk😄

  7. sumpah glek banget bacanyaaa… suka banget. bahasanya gak terlalu menonton tapi feelnya kena banget. aduh aku juga jadi pengen ikutan nyender didadanya hae dong kok kayaknya enak banget sih :3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s