My Soul in Seoul ~Chapter 1~

Title : My Soul In Seoul

Author : Aveeka Mauri (Makasih Onnie Sayang :*)

Genre : Romance, Angst

Rate : PG-13

Length : Chapter

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Haejin
Supporting Cast :
  • Find it by yourself ^^

~…KESATU…~

Daun gugur….

Malam sepi….

Sudut kota Seoul terlihat indah dengan temaramnya lampu seolah menyambut pergantian musim dengan senyum. Tidak dengannya…

“Hallo… Ya, baru saja keluar kantor… Emm, baiklah… Iya, aku mengerti…” Nadine menutup ponselnya setengah hati ia menjawab panggilan itu.

“Pervert…. Untuk apa masih memperdulikanku…” Gerutunya sambil terus menyusuri dingin kota Seoul.

Penat seharian mendengarkan teriakan juga suara gaduh Mr. Hong juga repotnya bolak balik mengurus para model dan beberapa model pakaian terbaru yang harus masuk ke butik. Nadine menekan kepalanya dan berhenti sejenak dibawah lampu jalan, migrainnya kumat bila stress melanda.

Langkahnya tertuju pada sebuah toko kecil 24 jam, ia langsung mengambil keranjang dan mengisinya dengan beberapa keripik kentang, minuman kaleng dan mie instant.

“Baru pulang bekerja…?”

“Begitulah Ajumma… Migrainku kumat pula.”

“Mata pandamu terlihat jelas… Keripik kentang dan jus kaleng… Soju..?” Mata Ajumma itu mendelik ketika mengeluarkan 2 botol soju dari dalam keranjang.

“Hanya 2 botol Ajumma… Setidaknya sedikit melupakan penat hari ini…”

“Gadis nakal… Awas jangan sampai mabuk…”

“Berapa semuanya Ajumma…?”

” 7800 won….”

Terlihat ia merogoh tasnya dalam, ia meletakkan ponselnya dimeja kasir. “Dimana sich…? Sebentar Ajumma….”

Tiba2 suara ponsel berdering dan gadis itu langsung mengangkat sementara ada laki2 disebelahnya terdengar menjawab panggilan ponselnya..

“Hallo… Ya Hyung, aku kesana tunggu sebentar…”

“Haejin-ah.. Bisa geser dulu, biar kulayani anak muda dibelakangmu…”

“Maaf…. ” Ucap gadis itu membungkuk pada Ajumma juga laki2 dibelakangnya.

Tiba2 dering ponsel kembali terdengar saat gadis itu mengeluarkan seluruh isi tasnya mencari dompetnya. Migrainnya makin terasa karena nyaringnya bunyi ponsel.

Nadine kembali melirik laki2 itu yang mengeluarkan ponsel lain sementara ponsel yang sebelumnya diletakkan dimeja kasir karena tangannya mengeluarkan dompet untuk membayar belanjaannya.

Bukannya dijawab tapi laki2 itu membiarkan ponselnya berbunyi. “Tuan… Bisakah kau angkat atau kau buang saja ponsel itu bila enggan mengangkatnya. Kepalaku pusing mendengar teriakan ponsel itu!” Ucap Nadine memarahi laki-laki yang hanya diam dan bingung.

“Ini uangnya Ajumma… Entah dimana dompetku, untunglah masih ada beberapa recehan… Komawo Ajumma…” pamit Nadine yang mengambil kantong belanjaannya juga ponselnya lalu pergi berlalu sambil membuka salah satu minuman kalengnya.

***

Dua bungkus keripik kentang dan sebuah minuman kaleng juga sebotol soju sudah habis dilahap Nadine malam itu. Tumpukan tugas kuliah dan tugas akhir serta beberapa lembar kertas design percobaannya terserak diatas meja. Nandine memeluk kedua kakinya erat, migran dikepalanya masih saja terasa hingga ponselnya berdering.

“Hallo….. Apa? Salah sambung…!!! Yak, kubilang ini bukan ponsel Lee Donghae!!!”

“Bodoh, bagaimana bisa menghubungiku dengan mengotot kalau itu ponsel orang lain…”

Nadine tiba2 melirik pada ponsel dihadapannya.

“Tadi….. Ponselku ada di…… Ponselnya….”

Nadine mengecek nomor2 yang ada didaftar ponsel itu. Tidak ada satupun yang dikenalnya. Nadine pun kemudian memeriksa daftar panggilan terakhir.

“Hallo….”

“Kim Jung Hoon-ssi…”

“Ne.. Nuguseyo… Ini….”

“Ya ini bukan ponselku dan ponselku tertukar dengan pemilik ponsel ini….”

“Jadi.. Apa yang bisa kubantu…”

“Bertanya atau mengejek… Jelas aku perlu ponselku kembali…”

“Baiklah… Dia sedang perjalanan kemari, catat alamatku….”

“Hei, mengapa tidak menghubungi ponselmu saja… Kenapa harus menghubungiku..” Ucap Kim Jung Hoon sekali lagi.

“Kalau aktif, aku juga sudah janjian dengannya tidak perlu menghubungimu….” Jawab Nadine ketus.

“Baiklah Nona… Tidak perlu menaikkan oktaf seperti itu…”

“Dasar laki2….” Gerutu Nadine melempar ponsel yang bukan miliknya kesofa.

***

Di tempat lain…

“Siapa ini…??” Tanya seorang laki-laki diujung telepon sana.

“Siapa ini..? Kau mau menghubungi siapa…?” Jawabnya dengan nada tinggi.

“Dimana Lee Haejin…. Apa hubunganmu dengan Lee Haejin..?”

“Oh, aku Lee Donghae… Lee Haejin?? Kau sendiri apa hubunganmu dengan Lee Haejin…?”

“Jangan macam-macam…. Dimana dia…?” teriaknya makin penasaran.

“Sedang tidur dikamarku… Kelihatannya lelah…”

Tut tut tut tut…….

“Baguslah dia menutup ponselnya…. Menguasai… Memang siapa dia…. Tunggu, Lee Haejin…?? Sejak kapan Lee Donghae berubah menjadi Lee Haejin…” Hae memeriksa nomer kontak didaftar telefon.

Dan benar, tidak ada satupun nama yang dikenalinya, ponselnya memang sama, tapi isinya…

Tak lama ponsel itu kembali berdering…

“Hallo, cepat katakan dimana anda? Ponsel kita tertukar…..”

“Mwo…?? Tidak bisakah bicara sopan dengan nada halus yang membuatku…..”

“Aku sedang tidak ingin becanda…. Katakan cepat….!!”

***

“Hallo….”

“Hallo, dimana sebenarnya dirimu?” tanya wanita itu frustasi.

“Hei Nona… Jangan berteriak seperti itu… Perhatikan jalanmu dan lihatlah laki2 tampan yang menyesap kopi ini…” Ucap laki-laki itu mengangkat cangkir kopinya sambil tersenyum.

“Aku tidak ada waktu berbasa basi… Jadi… Ini dan kembalikan itu…”

“Duduklah… Setidaknya secangkir kopi kutraktir untukmu sebagai upah mengantarkan ponselku…”

“Jangan mencoba bersikap manis Tuan… Ini sudah malam dan aku harus bangun pagi karena pekerjaanku masih banyak…”

“Nanti kuantar pulang….. Setidaknya mungkin kita bisa membuat kisah baru disini….”

“Maksudnya….?”

“Ajussi…. Coffee cream 1…” Teriaknya laki2 itu tanpa bertanya apa yang disukai gadis itu.

“Jangan terlalu banyak basa basi Tuan…. Aku sedang tidak dalam mood yang baik…..”

“Kalau begitu minum dulu biar sedikit tenang…” Ucap Hae sambil tersenyum.

“Ponselku…..” Ucap Nadine dingin.

“Minum dulu kopinya…. Aku rasa usiamu denganku tidak terpaut jauh tapi dengan muka seperti itu kau terlihat seperti ibuku…”

Nadine membulatkan matanya mendengar penuturan Hae. “Jadi panggil aku Eomma kalau seperti itu….”

Hae tertawa lebar lalu kemudian menutup mulutnya menyadari kening Nadine membuat kerutan dan menyipitkan kedua matanya.

“Eomma…. Apa kabarmu? Tidakkah merindukan puteramu yang tampan ini….?”

“Dasar gila…. Terima kasih untuk kopinya, selamat malam…..” Ucap Nadine lalu melangkah pergi namun Hae berhasil menahannya dan menarik tangannya.

“Kuantar pulang… Ini sudah malam dan lihat pakaianmu… Seperti habis menghadiri pajama party…” Ucap Hae dan Nadine baru menyadari kalau ia masih mengenakan piyama tidur dan hanya jaket saja yang menjadi luarannya.

“Mari….. ” Hae membimbing Nadine melangkah kemobilnya, Nadine mengikuti sementara kedua tangannya dimasukkan kedalam saku jaket untuk mengusir dingin.

“Bisa mengenakan seatbelt atau perlu kubantu memasangkannya…” Tanya Hae tersenyum sementara Nadine melirik tajam.

“Okay, tidak usah menatapku seperti itu Nona… ” Jawab Hae mengangkat kedua tangannya lalu mulai menyalakan mobil.

***

“Hallo… Ya Hyung… Oh, sudah… Kami sudah bertemu… Belum lihat… APA..?? SECEPAT ITU… Bagaimana mereka bisa… Aish, gila… Iya, aku akan ketempatmu segera….” Hae menutup ponselnya, ia menghela nafas panjang sambil terus berkonsentrasi pada jalan malam kota Seoul.

“Ada masalah? Kalau begitu turunkan aku disana, biar aku naik taksi saja….”

“Apa bedanya, anggap saja sedang naik taksi dengan pangeran tampan seperti aku ini…”

Nadine menghela nafas lalu memalingkan wajahnya ke jendela menatap toko2 yang sudah tutup hanya beberapa kafe yang masih buka.

“Kau tidak mengenalku…?” Tanya Hae kembali.

“Molla…. Apa begitu penting untuk aku mengenalmu…?” Hae tertawa kencang melirik pada Nadine yang menjawab tanpa melihat padanya.

“Memang kau putera seorang presiden..?”

“Bukan…”

“Masih keturunan kaisar dan akan menjadi putera mahkota..?”

“Tidak juga….”

“Sedang masa kampanye untuk pencalonan sebagai anggota senat…?”

“Aku tidak akan pernah melakukan itu….”

Nadine memutar posisi duduknya lalu menatap Hae. “Jadi… Apa kepentinganku untuk mengenalmu…?”

Hae melirik dan memberi senyum pada Nadine yang masih menatapnya.

Mengapa harus tersenyum seperti itu…

Pikiran dan mata Nadine jadi terfokus pada senyum dan bentuk garis wajah laki2 yang baru ditemuinya itu.

Seperti sering bertemu, tapi dimana…

“Depan sana belok kiri….” ucap Nadine.

“Baik Agashi….” jawab Hae lembut dengan sedikit menundukkan kepala dan tersenyum.

“Yaps, cukup berhenti disini saja….” ucap Nadine menghentikan laju mobil Hae.

“Tinggal diapartemen yang mana….” Tanya Hae melihat ada 2 bangunan apartemen sejajar dan satu lagi disebrangnya.

Nadine hanya melirik tajam menatap Donghae yang pura2 tidak melihat. “Apa kepentinganku untuk mengetahui dimana kau tinggal…?” Gumam Hae seorang diri meniru jawaban Nadine sambil mengetuk2 jari telunjuknya pada stir.

“Selamat tinggal…..” ucap Nadine menutup pintu.

“Hei, harusnya ‘sampai jumpa lagi…‘ bukan selamat tinggal…” teriak Hae keluar dari mobilnya namun tidak dihiraukan Nadine.

***

“Kapan mereka mengambilnya….? Aish gila…. cepat betul, saat kau menghubungiku… Kami baru keluar dari kafe pinggir jalan ini…” gerutu Hae melihat foto2nya bertebaran didunia maya dan bersama dengan… Nadine.

“Siapa Namanya…?” Tanya Kim Jung Hoon yang menjadi manager Hae sejak beberapa tahun lalu.

“Lee Haejin, saat laki-laki yang tadi menghubungi ponselnya ia bertanya dimana Lee Haejin…”

“Lalu… Ingin bagaimana sekarang, setidaknya kau cukup sadar dan tahu kalau ELF masih tetap memburu berita kalian…”

“Tapi kami sudah nyaris hilang Hyung…. Dan nyaris dilupakan… Ketakutan kami ketika selepas wamil lalu karir akan terpuruk ternyata benar dan jadi nyata… Entahlah, sekarang kami sibuk dengan urusan masing2 dan sulit sekali bertemu karena jadwal wamil yang berbeda…”

“Semua proses… Kita sedang menghadapi proses…. Pulanglah, istirahat… Akan ada pemotretan untuk produk SPAO terbaru… Jangan sampai ada mata panda diwajahmu….”

“Printermu ada tintanya….??” tanya Hae tiba-tiba.

“Wae…? Masih ada sepertinya… Mau apa..?”

“Gadis ini terlihat menarik bila sedang melirik angkuh dan begitu sinis padaku…” Ucap Hae menunjuk gambar Nadine yang sedang melirik tajam padanya saat dikafe tadi.

“Jangan bilang…..”

“Cinta pada pandangan pertama…. Emm, sepertinya begitu…. Makin ia terlihat angkuh dan memasang wajah sinis juga ucapan2 yang begitu ketus… Aku makin ingin terus bersamanya dan menggodanya… Sosok lain dirinya…”

“Maksudmu… Ah! Lee Donghae…. Jangan tebar pesona dengan gadis yang baru kau temui beberapa jam lalu, siapa tahu dia sudah memiliki kekasih…” ucap Jung Hoon mengingatkan.

“Masih bisa putus kan..? Kalaupun sudah menikah, dia juga bisa bercerai kan? Jadi masih banyak peluang untukku…” Jawab Hae santai dengan terus menatap gambar Nadine dilayar notebook Jung Hoon.

“Namja Gila… Artis Stress… Kertas fotonya ada dilaci nomer 2… cetaklah sesukamu…”

Donghae tersenyum dengan konsentrasi pada gambar-gambar Nadine yang beredar didunia maya, bersamanya.

***

Kantor Nadine…

“Mr. Hong, akhir minggu ini aku izin untuk tidak masuk….?” Ucap Nadine pada atasannya yang sedang bermain dengan pola dan bahan pakaian.

“IZIN…. Yak, Nona Lee…. Kau tinggalkan aku dengan pola dan bahan-bahan ini seorang diri…? Benar-benar kelewatan…”

“Aku ada pekerjaan sebagai penata gaya…”

“SPAO lagi…. Apa tidak bisa mereka meminta izin padaku?” Jawab Mr. Hong berjalan kesana kemari berkutat dan mengelilingi manekin sambil… Melenggang.

“Ini kan kontrak pribadi Mr. Hong…”

“Iya, tapi mengganggu jam kerjamu… Sudahlah, kuizinkan daripada kau terus ribut dan merengek… Tapi ingat, keluarkan seluruh kemampuanmu dan buktikan apa yang sudah kau pelajari dariku… Mengerti…?”

“Aku mengerti… Terima kasih Mr. Hong,….”

“Basa basi…. Dasar para gadis, begitu permintaannya dituruti lantas saja bersikap manis….” gerutu Mr. Hong dan Nadine kembali meneruskan memotong pola dari design Mr. Hong.

“Aku lihat designmu…. Lusa bisa tunjukkan padaku, sepertinya aku suka designmu…”

“Benarkah…. Hwaa, baiklah…. Tapi Mr. Hong, tidak ada maksud lain dari melihat designku kan…?”

“Gadis gila… Baru bisa mendesign pakaian saja sudah sombong… ” jawab Mr. Hong melemparkan sepotong pakaian pada Nadine yang tersenyum.

***

“Hallo…..”

“Yak…. Lee Haejin, kerumahku sekarang juga… Jangan pakai alasan apapun… Sekarang….”

“Yoon Ri… Ada apa sebenarnya… Mengapa menjerit? Aish memekakkan telinga saja….”

“Jangan banyak komentar…. Cepat kemari…”

“Iya, aku sedang menunggu bus… Segera aku kesana, sediakan keripik kentang…”

“Keripik kentang dan satu krat soju kusediakan untukmu….” Ucap Yoon Ri terakhir kalinya kemudian menutup ponselnya.

Kim Yoon Ri, setidaknya dia yang menjadi sahabat Nadine dua tahun belakangan ini sekembalinya ia dari London. Pertemanan didunia maya menghantarkan mereka menjadi sahabat karib setibanya Nadine dari pemberontakannya atas sang Kakek yang tidak mengizinkannya menginjakkan kaki di Korea. Korea, tempat dimana ibunya dilahirkan begitu juga dirinya. Darah ayah yang keturunan Inggris – Korea yang membuatnya memiliki dua nama. Kisah cinta sang ibu yang tidak disetujui sang Kakek yang membuat Nadine dibesarkan di London setelah kedua orang tuanya membawanya pergi dari pengusiran sang Kakek. Dan entah mengapa disaat remaja ia dibawa kembali oleh sang Kakek ke Korea dan mengubah namanya dengan marga sang Kakek menjadi Lee Haejin.

“Ayahmu itu hanya memiliki darah Korea dari nenekmu disana… Jadi karenanya ia tidak memberikanmu nama Korea.. Kau cucuku jadi kau harus mengikuti margaku karena kau adalah cucu satu-satunya milikku dan akan meneruskan keturunanku…. Bila mereka tidak suka, suruh mereka datang padaku dan protes padaku… Surat2mu untuk nama barumu sudah kubereskan dan kau resmi menyandang marga Lee mulai saat ini…

Setidaknya Nadine menyukai nama pemberian ayahnya ‘NADINE ALLURA ADAM = Dari Nada Peri Adam’. Kini menghormati sang kakek yang begitu overprotect padanya sebagai dampak kekecewaan pada ibu Nadine, ia menggunakan nama Nadine Lee bila berkenalan dengan orang lain diluar Korea. Ia tidak lagi peduli dengan pertikaian antara orangtuanya dan sang kakek, namun entah mengapa tiba-tiba sang kakek membawanya ke London dan menetap disana selama hampir 5 tahun dengan alasan Nadine harus mendapatkan pendidikan yang baik dan mengenal keluarganya di Inggris. Membingungkan….

Upaya melarikan diri dari sang kakek akhirnya berhasil dan Kim Yoon Ri orang pertama yang dihubunginya saat ia menjejakkan kakinya kembali di Korea ini.

***

Rumah Yoonri

“Katakan… Apa hubunganmu dengan Lee Donghae….?” Tanya Yoon Ri tiba-tiba saat Nadine tiba dirumahnya.

“Maksudnya….? Siapa Lee Donghae…??” Tanya Nadine balik.

“Jangan pura-pura… Kapan, Dimana, dan apa saja yang telah kalian lakukan…?”

“Maksudnya apa… Aku… Lee Donghae… Siapa dia..? Apa aku mengenalnya..?” Tanya Nadine bingung sambil mencekik botol air mineral pelepas dahaganya.

“Jadi…. Kau benar-benar tidak mengenalnya….???” Tanya Yoon Ri yang dijawab gelengan oleh Nadine sambil meneguk air mineral.

“FOTO KALIAN DIKAFE BERDUAAN BEREDAR DIDUNIA MAYA DAN KAU TIDAK TAHU LEE DONGHAE…. LEE HAEJIN, KALAUPUN KAU TIDAK BERGAUL DAN DIMASUKKAN KEKERANGKENG LALU DISEMBUNYIKAN DIBAWAH TANAH OLEH KAKEKMU SETIDAKNYA KAU BERTANYA, SIAPA ORANG YANG BERFOTO DENGANMU….” Jerit Yoon Ri naik pitam.

Brrrrruuuuurrrr….

“LEE HAEJIN, KURANG AJAR… TIDAK SOPAN… Bagaimana bisa air dalam mulutmu kau semburkan padaku….”

“Maaf… Ini…. Ini aku…. Kapan…?? Dengan…. DIA… JADI INI LEE DONGHAE YANG KAU MAKSUD…” Mata Haejin terbuka lebar dan ia mencoba mengingat sosok dalam gambar itu. Sementara Yoon Ri mencibir sambil mengelap mukanya yang basah karena air semburan dari mulut Nadine.

“Dia yang membawa ponselku….” teriak Nadine.

“Mwo… Apa kau bilang, dia membawa ponselmu…? Mencuri maksudnya… Aish, yeoja gila… Dia itu artis, untuk apa mencuri ponselmu… Dia pasti punya ponsel keluaran terbaru… Babo… Otakmu sudah rusak karena terlalu sering mendengar teriakan Mr. Hong itu…”

“Bukan dicuri, tapi tertukar dan ini… Kami semalam ketempat ini… Ia benar semalam…” Ucap Nadine masih menatap fotonya didunia maya.

“Jadi benar… Kau berhubungan dengan Lee Donghae… Sudah berapa lama, kenapa tidak cerita padaku…?” Selidik Yoon Ri pada Nadine yang bingung.

“Berhubungan… Maksudmu itu kata lain dari ‘menjalin cinta’… Aku… Dengannya…. ??”

“Hei, agashi…. Lihat, Donghae sudah buat pengakuan kalau kau adalah yeojacingunya…”

“MWOOO…???” Mata Nadine kembali melebar dan mulutnya terbuka lebar melihat gambar yang diunduh Donghae di account twitter juga cyworld pribadinya.

“Tunggu Elfish menelanmu hidup-hidup….” Ucap Yoon Ri mengancam.

“Memangnya dia siapa…?? Elfish itu apa…?”

“Babo…. Ternyata jarak antara Lugu dan Bodoh itu hanya selembar rambut kalau kulihat dirimu…”

***

Studio Pemotretan SPAO

Mata Donghae terus mengikuti gerak lincah gadis itu sejak ia datang dan selesai didandani. Terkadang senyumnya sekilas mengukir diwajahnya saat melihat gadis itu susah payah meletakkan sesuatu yang tidak dapat dijangkaunya karena tubuhnya yang mungil.

“Haejin-ah…. Semua sudah siap…” teriak seorang kru dan disudut sana Donghae terlihat mengetik sesuatu diponselnya. Menyimpan nomer ponsel Nadine saat menghubungi malam itu dengan membubuhkan nama ‘HAEJIN’.

“Lee Donghae-ssi… Kita coba pencahayaan dulu ya… Sambil menunggu yang lain…” teriak Photografer sambil menyiapkan kameranya sebelum masuk ke sesi pemotretan yang sebenarnya.

Donghae mengiyakan dengan sebelumnya membisikkan sesuatu lalu berjalan mendekati Nadine yang masih sibuk menata stage. “Aku sudah siap, Haejin-ssi….” ucap Donghae sedikit membungkuk untuk mendekati telinga Haejin yang tidak menyadari kehadirannya.

“Baiklah… Buat ekspresi dingin dan kaku diwajahmu… Bisa kan…?” ucap Nadine sebagai penata gaya.

“Seperti apa…. Seperti laki2 yang ditolak cintanya atau laki2 yang sedang tidak ingin didekati wanita…?” kerling Donghae nakal.

“Wajah bajingan….” Jawab Nadine cepat dan Donghae tersenyum.

Nadine mendekati Donghae merapikan tatanannya dan membenarkan posisinya sementara mata Donghae hanya tertuju padanya. Tampilan segar dengan berdandan ala gypsi dimana rambut panjangnya dikepang longgar dan beberapa anak rambut dijepit keatas membuat Donghae tergoda untuk mengecup kening Nadine yang begitu luas. Kaos tanpa lengan yang menempel rapat ditubuh gadis itu membuat lekuk tubuhnya telihat nyaris sempurna. Rok panjang ini tidak terlihat membuatnya tenggelam namun karena kaos tanpa lengan itulah yang membuat kesan Nadine terlihat tinggi karena memamerkan pinggangnya yang terlihat panjang.

“Haejin-ssi… Coba kalau anda merapat pada Donghae-ssi… Aku ingin menemukan sudut yang pas untuk kameraku…” teriak Photografer pada Nadine yang kemudian tanpa ragu merapat pada Donghae, demi sesi percobaan sebelum pemotretan.

“Donghae-ssi, letakkan tanganmu dipinggang Haejin-ssi… Ya, benar begitu… Pandang terus seolah kau sedang jatuh cinta padanya… Dan Haejin-ssi… bisa letakkan tanganmu sedikit lebih naik kedada Donghae-ssi… Yaps, sempurna… Pandang dia Haejin-ssi… Keluarkan aura cantikmu dan seolah mengangkuhkan diri kalau Donghae-ssi tidak mudah menaklukkanmu… ” sang photografer terus mengarahkan mereka berdua dan berulang kali mengambil gambar itu sambil berdecak ‘sempurna’.

“Ganti posisi, Haejin-ssi… Biarkan punggungmu menempel didada Donghae-ssi, miringkan kepalamu kearah pundak kanan turunkan sedikit wajahmu…  Ya ya, benar seperti itu teruslah melirik kepundak kananmu dan berikan aku senyummu yang terkesan malu… Donghae-ssi, lingkarkan tanganmu diperut Haejin-ssi dan biarkan Haejin-ssi mengeratkan lingkaranmu… Tolong tundukkan kepalamu melihat pada wajah Haejin-ssi…. Kalian Sempurna….!!”

“Kita seperti foto pre wedding bukan…?” Bisik Donghae pada Nadine.

“Begitulah… Apa menyenangkan dan memuaskan hatimu….? Jangan lupa tuliskan namaku saat kau mengapload foto kita…” Jawab Nadine berbisik dengan sedikit melirik pada Donghae.

“Kutulis dengan apa… Lee Haejin…??” Bisik Donghae kembali yang masih diposisi yang sama.

“Bukan… Nadine Lee…. Namaku Nadine Lee, Tuan Lee Donghae….” Nadine mengangkat wajahnya kemudian menatap Donghae.

“Ini bagus… Teruskan, buat cerita seolah kalian adalah pasangan yang saling merindu….” Teriak photografer sambil terus mengambil gambar mereka antusias.

Nadine memutar tubuhnya dan mengalungkan tangan kanannya keleher Donghae sementara tangan kirinya melekat didada laki2 itu yang masih melingkarkan lengannya dipinggang Nadine. Donghe membuat guratan senyum yang sulit diartikan sementara Nadine lekat menatapnya, hingga…. Bibir Donghae mengecup kening Nadine yang memejamkan matanya.

…TBC…

From Veeka Onnie  :

Annyeong….

Salam kenal semuanya walau beberapa pasti udah ada yang kenal… *Sok tenar, digamparreader*

Ini hanya memenuhi permintaan Nisya, dan ada stock ide sebenarnya tuk MinHae couple

Tapi ketika Nisya tanya “Mau cari cast lain ga Eon….?”

Okelah IDE ini tuk JinHae Couple aja, tapi ada kendala….

Otak terbiasa dengan karater Kang Minna dan skrg harus berubah jadi Lee Haejin yang ceria, keras kepala… Pfuh…

Kalau ada beberapa yang tau gambaran prolog dari mana…. IYA, Eon ambil beberapa scene dari novel dan kebetulan ingetnya novel Ilana Tan ‘Summer in Seoul’ mungkin dipakai untuk dipart2 awal…. Judul awalnya sebenernya “PAIR A MOMENT” cm AGST bgt yack… *alamad Nisya kejer nti*

Jadi langsung diubah dengan sebelumnya ngajuin pertanyaan ke Nisya… “Klo ga sama Ikan, maunya sama siapa..?”

engingeng, Nisya jwb “Mendingan mati eon daripada ga sama Ikan…” *gubrag dipelukan Jongwoon*

Ada gabungan Komik, Korama, Novel juga cerpen… Cuma mau buat nguatin karakter Haejin juga tuk ubah cerita diawal karena klo ga diubah kok berasa Minna yang pairing *Pendapat Saya pribadi ketika mulai mencoba buat negetik*

berikutnya sudah masuk ke Ide n Imajinasi Eon pribadi…. Jadi klo ada yang mirip Mian, sebisa mungkin Eon terus bermain sama kata2 biar tetap terlihat beda…

Sekilas Cerita buat Petunjuk Reader,

Ini ceritanya dibuat ketika Super Junior Vacuum karena Wamil dan dampak dari apa yang ditakutin para Artis dari PASCA MEREKA WAMIL, jadi ga akan diterangin lagi ya… Profesi Donghae apa dan kenapa…? Tapi tetep kok, Prince Manager nemenin… ekekekekek…

Maaf kalau bahasanya berat n bingungin… Maaf juga kalau yang tidak terbiasa…

Maaf ya Nisya klo nantinya hasilnya kurang muasin n ngerubah image Lee Haejin dari yang udah ada…

Plus,

Kyaknya nti Eon bakalan ambil sedikit dari FF Nisya yang udah ada kayak “It’s Fine, Donghae’s Dauhgter & Son, WIF, SAIPAN, n FF lain..”

jadi klo kesannya seolah lanjutan, ya.. udah dkasih tau yack asalnya gimana, comot sana sini…

Semoga SAIA Sukses tidak membuat kesan itu… wkwkwkwk…. *kbnykn ngoceh dech.. Dijitak Nisya*

PS : Prolog kemarin, yang benar Donghae POV

58 thoughts on “My Soul in Seoul ~Chapter 1~

  1. Pas baca akhir2 yg lagi di pemotretan SPAO, deg2an sendiri bacanya wkwk
    aigoo hae seneng banget gangguin si nadine ckck
    ditunggu kelanjutannya eon ^^

  2. ah pantas.. ngerasa kyk ga asing. ternyata dari summer in seoul…tapi diubah..memang sich karakternya Nadine alias Haejin di sini ada kesan jutek n angkuh… tapi lucu banget ikh… bagus banget.. Hae kenapa suka gangguin Nadine… mau lanjut part berikutnya dah

  3. Ko aku ngerasa alurnya serba cepat ato gmana yah? Ato mungkin karena ini haejin bawaannya emosi banget dari awal kali yah jadi berasa menggebu-gebu. Pas bagian yoonri juga rada cepet berasanya. Aku baru bisa ngikutin pas merek tuker ponsel di cafe itu ._.v ehehe *nyengir ke enyakk*
    Ihihi haejin galak bener dan dung dung seperti biasa #plakk~ poppa tetep deh ga dmana ga dmana deh selalu tebar pesona yah.. daaaan~ paling suka pas haejin bilang “wajah bajingan” haduuuh donghae dibikin bajingan kaga nih nyaak #plakk~ dan itu pas pose pose itu aigooo deket yeee >.<

  4. ini ff gayanya beda banget dari yg biasa eonni tulis😀 tapi aku suka kok malah banget haha karna di pikiran aku ini bakalan menjadi sesuatu yg wow haha.. pantesan pas baca awal” itu kay apernah baca dimana gitu wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s