[FF Contest] Sekeping Harapan

Sekeping Harapan

Aku berdiri di depan sebuah pintu putih yang tertutup rapat. Di muka pintu terpampang tulisan “CHAMOMILE 2”. Aku menarik udara yang beraroma alkohol menyengat dengan perlahan, memantapkan hati sembari membetulkan kacamata yang sedikit merosot.

“Aish, Eomma, sudah kukatakan, aku tak ingin melakukannya. Waeyo? Dia bisa mencari orang lain, tidak harus aku.”

Samar-samar aku mendengar tekanan demi tekanan yang keluar dari mulut seseorang yang berada di dalam ruangan itu. Seseorang yang lain menimpali ucapannya dengan lembut dan pelan, berusaha meyakinkan namun sepertinya gagal. Langkah kaki perlahan mendekat dan pintu pun terbuka.

“Lee Hyukjae,” wanita berumur 40-an yang masih terlihat cantik di depanku menggelengkan kepala setelah sebelumnya menyuguhkan senyum lemahnya.

“Gwenchanayo, Ahjumma. Aku sudah sering mengalami hal seperti ini. Tapi, sekali lagi aku tidak punya maksud lain selain membantunya mengutarakan semua yang ia rasakan selama ini. Ini bisa menjadi sesuatu yang berharga kelak.”

Wanita itu mengangguk, “Ne, arasseo. Tapi, dia tidak mau melakukannya. Ngg, Hyukkie mau mencoba untuk membujuknya? Mungkin jika sudah berbicara denganmu, dia akan berubah pikiran.”

Aku mengangguk mantap dan mulai memasuki ruangan besar bernuansa putih itu.

Dua buah sofa berwarna salem teronggok di pojok ruangan dengan sebuah meja persegi yang dipenuhi buah-buahan dan beberapa macam botol minuman di depannya. Di sampingnya, sebuah ranjang berisi sesosok makhluk cantik tengah duduk sambil melipat tangannya di dada. Selang infus menghiasi punggung tangan kirinya.

“Annyeong.” ujarku dengan senyum yang mengembang dan segera mengambil posisi untuk duduk di tepi ranjangnya.

Ia tak menjawab sapaanku, malah membuang muka dengan tatapan sinis.

“Bagaimana kabarmu?”

Ia masih tak bergeming.

“Jagiya, bicaralah sebentar dengannya. Eomma keluar dulu.” Wanita itu pun menutup pintu rapat setelah meninggalkan bekas senyum di kening anaknya.

Aku melepas tas selempangku dan meletakkannya di kursi terdekat. Kamera SLR yang menggantung di leher sengaja aku biarkan.

“Sepertinya keadaanmu cukup baik dilihat dari caramu membuang energi. Melipat tangan, mengerutkan kening, mengerucutkan bibir, sampai menahan kesal padaku.” Aku menyunggingkan senyum mengejek.

Wajahnya menatapku dengan mata yang membulat, aku berhasil mengambil perhatiannya.

“Kau betah di sini? Aku sih tidak akan betah. Aroma alkohol selalu merusak penciumanku.”

“Aish, sudah tahu alkohol merusak penciumanmu, jadi untuk apa kau di sini, hah?” ucapnya lantang sembari mengangkat sedikit dagunya, menantang.

Aku sedikit tertawa sebelum menjawab pertanyaannya, “Karena aku ingin. Wae? Tidak boleh?”

“Cih, tidak! Dasar pengganggu.”

Aku kembali tertawa dan langsung mengangkat kameraku dan membidiknya.

“Yak! Apa yang kau lakukan!? Berhenti memotretku!” katanya sembari menutup wajahnya dengan kedua belah tangannya.

Aku melepas kameraku dan menjulurkan tangan, menyelipkan rambutnya yang tergerai ke balik telinga, “Kamu itu cantik dan kecantikanmu pantas diabadikan.”

“Mworago? Tak usah menyentuhku. Pergi dari kamarku.” Ia membetulkan topi rajut berwarna ungu muda yang menempel di kepalanya.

“Kamarmu? Apa aku tak salah dengar? Ini kamar milik rumah sakit.”

“Sepertinya ada yang minta kupukuli hingga babak belur.” Gadis itu mengepalkan tangannya ke depan wajahku.

“Dan sepertinya ada yang sedang tidak mood sekarang.”

“Cih, cepat keluar! Aku tidak ingin berbicara dengan siapa pun.”

“Termasuk  Eomma-mu?”

“CE-PAT KE-LU-AR!”

Bersamaan dengan teriakannya yang memekakkan telinga seorang dokter dan dua orang perawat yang mengapitnya masuk ke kamar rawat gadis itu.

“Waktunya pemerikasaan.” ucap seorang perawat yang berdiri di sisi kiri sang dokter.

Aku mengangguk kecil pada sang dokter dan menoleh kembali padanya, “Baiklah, aku akan keluar tetapi dengan satu syarat.”

“Mwo? Cepat katakan dan pergi dari sini.”

“Kau harus mau melakukannya. Kau tahu apa maksudku kan?” Aku mendekatkan wajahku dan menguntai senyum termanis yang bisa kubuat.

Keningnya berkerut, berpikir, “Ok, tapi tidak hari ini. Cepat keluar sekarang!”

Aku berdiri dan meraih tasku, “Bagus, anak pintar. Baiklah, Rabu depan aku akan kembali dan kuharap mood-mu sedang baik.” Aku pun menjauh meninggalkannya namun masih dapat kudengar dengan jelas ia menimpali ucapanku, “You wish!”

***

Hari ini aku datang sekitar pukul 11 siang. Beberapa sanak keluarganya memenuhi ruangan.

“Annyeonghaseyo.” sapaku singkat dan membuat semua yang berada di sana menengok, termasuk sang pasien. Wajahnya yang semula sumringah berganti masam ketika melihat kedatanganku.

“Ok, semuanya. Ini Lee Hyukjae yang yang pernah aku ceritakan.” Orang tua gadis itu memperkenalkanku pada yang lainnya dan aku hanya dapat mengangguk serta membungkuk dalam.

“Baik, semuanya, kita keluar. Mereka butuh waktu berdua.” Satu per satu dari mereka keluar meninggalkanku bersamanya yang hanya berjarak tiga meter.

“Sepertinya kedatanganku hari ini sangat tepat. Kelihatannya kau senang sekali tadi.”

“Itu tadi, bukan sekarang.” Tangannya yang kurus mengulur, mengambil gelas tinggi yang berisi air putih dan meminumnya pelan.

Aku melepas tas dan kameraku, sudah duduk di tepi ranjangnya, “Tapi, kau sudah berjanji padaku untuk melakukannya.”

“Aku tidak bilang janji. Aku hanya bilang ok.”

“Sama saja, Cantik.”

“Jangan panggil aku Cantik. Namaku Yoonri, ara?”

Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku padanya, meminta jabat tangan, “dan aku Hyukjae, kau bisa memanggilku Eunhyuk. Salam kenal.”

Yoonri yang hari ini mengenakan kupluk berwarna putih hanya membuang muka dan membiarkan tanganku menggantung di udara tanpa menyambutnya.

“Kurasa cukup perkenalannya.”

“Ya, lakukan dengan cepat dan selesai.” ujarnya sembari membenarkan posisi duduknya.

Aku segera mengambil sesuatu dari tas. Sesuatu berbentuk persegi warna hitam dengan beberapa tombol yang berjajar di atasnya.

“Baiklah, kita mulai.” ucapku diiringi tekanan jariku pada salah satu tombol yang ada.

“Tunggu,” cegahnya sembari menutup tombol-tombol itu dengan jemari pucatnya.

Aku mengerutkan kening, “Wae? Kau tak merubah pikiranmu kan?”

Yoonri tampak ragu membuka mulutnya, “Ngg, apa saja yang perlu aku ceritakan?”

Aku tersenyum, “Ceritakan apa pun yang kamu mau. Biarkan semuanya apa adanya, aku tidak akan banyak memotong ceritamu.” Aku pun menekan tombol tadi yang sempat tertunda.

Yoonri menarik nafasnya pelan dan ia pun mulai bertutur.

Annyeong, naneun Kim Yoonri imnida,” Ia terdiam cukup lama dan berucap lagi, “Bagaimana kalau ditanya? Aku bingung.”

“Ngg, basa-basinya nanti saja. Itu bisa nanti di bagian perkenalan lebih lanjut kita,” Aku sedikit terkekeh melihat reaksinya mendengar ucapanku, ia mengangkat sebelah alisnya, “Ngg, bagaimana kehidupan keluargamu?”

Keluarga ya? Ngg, aku bukan berasal dari keluarga sempurna. Sempurna di sini dalam artian, keluargaku tidak utuh. Appa meninggal ketika aku belum mengerti apa-apa, bahkan sebelum aku bisa mengingat wajahnya. Ia meninggal karena sebuah kecelakaan…

Yoonri terus berbicara tanpa menatapku. Sesekali ia membuang pandangannya keluar jendela. Jika dilihat ke dalam matanya, Yoonri bukanlah sosok yang tidak punya sopan santun atau keras kepala seperti kemarin. Dapat aku terka dia hanya kesepian dan ia menutupi semuanya.

…terkadang aku iri mendengar cerita teman-temanku tentang Appa mereka. Bahkan ketika aku pergi ke taman, aku cemburu dengan beberapa anak kecil di sana. Mereka bisa dengan bebasnya bermain bersama Appa-nya. Dari mengajarkan mereka berjalan, naik sepeda, membuat tenda di halaman rumah, memanjat pohon, atau sekedar duduk di pundaknya ketika pergi ke kebun binatang. Aku tidak pernah merasakannya…

Aku tersenyum ketika ia berhenti dari ceritanya. Buliran bening perlahan mengalir dari sudut-sudut matanya. Ia merindu, merindukan sosok tegap berwibawa dengan sedikit humor dan hukuman yang bisa menjaga dan melindunginya.

Aku menarik selembar tissue dari tempatnya dan memberikan padanya, “Mungkin kita akan istirahat sebentar?”

Yoonri hanya mengangguk sebagai pertanda setuju.

“Mau aku kupasin apel? Aku dengar kau menyukai apel.”

“Ngg, boleh.”

Aku mulai mengupas salah satu apel yang menumpuk di meja sebelah ranjangnya dan segera memberikan hasil karya pertamaku padanya.

“Kenapa kau selalu memakai kupluk?” tanyaku tiba-tiba tanpa melepaskan pandangan dari apel yang tinggal separuh lagi kukupas.

Yoonri tersedak mendengar perkataanku, dengan cepat ia mengambil air putih yang masih terlihat penuh di samping tumpukan apel tadi lalu meneguknya pelan.

Setelah menaruh gelasnya, ia kembali membenarkan kupluknya, “Rambutku menipis.”

“Lalu?”

Yoonri mengerutkan hidungnya, “Ya aku malu, aish.”

“Itu saja? Ngg, kau pernah menonton film My Sister’s Keeper?” Aku meletakkan pisau dan meraih tissue basah, me-lap jari-jariku yang terasa lengket.

Yoonri menggeleng.

“Kau harus menontonnya. Di film itu, seorang gadis botak berani tak mengenakan kupluk di kepalanya, ia tidak malu. Kodrat wanita itu cantik, kau harus tahu itu.”

Ia diam mendengar ucapanku, kepalanya tertunduk, “Bisa kita lanjutkan pembicaraan tadi?”

Aku hanya mengangguk sembari tersenyum, kembali menekan salah satu tombol yang berjajar di kotak hitam.

“Ngg, sampai mana tadi? Aku lupa.” Yoonri menerawang ke atap rumah sakit, berusaha mengingat sesuatu. “Sampai kau iri melihat orang lain bersama Appa-nya,”

“Ah ya, benar.” Yoonri kembali menceritakan kehidupannya atau lebih tepatnya menceritakan sosok Appa-nya yang hanya ia tahu dari Eomma-nya yang sudah membesarkannya seorang diri selama 18 tahun ini.

…Eomma pernah berkata, Appa memiliki suara yang indah. Ketika masih remaja, ia tergabung dalam sebuah band dan menjadi seorang gitaris, hebat bukan Appa-ku? Kadang, aku ingin mendengar suaranya bernyanyi sembari bermain gitar di depanku. Mungkin jika ia bisa menyanyikan lagu It Has To Be You aku akan lebih senang. Ah seandainya saja mesin waktu itu ada. Tapi, ketika dewasa, ia malah bekerja menjadi seorang konsultan…

Yoonri diam, sedikit berpikir seakan teringat sesuatu, “Aku manggilmu apa?”

“Aku lebih tua empat tahun darimu, kau bisa memanggilku Oppa, mungkin?” Tiara mengangguk mantap.

…ngomong-ngomong soal Oppa, aku sangat ingin mempunyai seorang Oppa, ya mungkin karena aku tak punya sosok Appa jadi aku ingin memiliki Oppa yang bisa jahil padaku sekaligus melindungiku…

“Aku bisa menjadi Oppa untukmu,” mata Yoonri membesar seketika, “aku jahil kan waktu itu? Sangat membuatmu kesal pasti. Dan aku akan melindungimu sebagai dongsaeng-ku yang keras kepala,” Aku langsung mengusap kepalanya hingga kupluknya berantakan, “dan cantik.” Tanganku beralih ke pipinya yang sedikit gembil dan mencubitnya sembari menahan tawa.

“Kamsahamnida.” Itu yang aku dengar dari bibir tipisnya, “Ah ya, kau tahu tidak?”

“Mwo? Tahu kalau kau tidur itu ‘ngiler’? Tahu kalau kau itu pelor, bahkan di bis saja kau bisa tidur?” Aku tertawa ketika mendapat hadiah cubitan di pinggangku.

“Menyebalkan.”

“Ingat, aku ‘Oppa-mu yang jahil’ dan kau harus manggil aku Oppa, arasseo?”

Mata Yoonri menyipit, “Bagaimana kalau aku panggil Eonnie?”

Kini giliran mataku yang membulat, “Apa aku terlihat seperti seorang gadis? Cih.”

“Hahaha Oppa-ku bisa marah juga.” Ia tertawa, tawa yang paling merdu yang pernah aku dengar. Aku sempat tercenung beberapa saat dan tidak akan sadar jika ia tidak mengibaskan tangannya di depan wajahku.

“Dasar kau, ya tahu apa? Aku tak tahu.”

…aku itu manusia yang hampir tidak ada. Eomma hampir ‘merelakanku pergi’ sebelum aku lahir. Ketika Eomma mengandungku, ia sakit-sakitan dan terkadang ia tidak kuat menahannya. Namun, dokter bilang bahwa aku, si janin yang menyusahkan itu, sangatlah kuat dan dapat bertahan hingga waktunya. Maka dari itu, aku tak mau menyusahkan Eomma-ku lagi, Oppa. Tapi, sayang keadaanku malah seperti ini sekarang…

Yoonri tersenyum. Mungkinkah ia seorang malaikat? Keindahan senyumnya tidak terlukiskan hingga membuatku tidak fokus mendengarkan ia berbicara apa selanjutnya. Dapatkah Kau memberikan malaikat ini waktu yang lebih lama untuk hidup, Tuhan?

***

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong yang ramai. Sesekali salah dua atau tiga orang dari mereka menyapaku, seperti temanku satu ini.

“Unyuuuuuk!!” sebuah teriakan bariton memekakkan telinga membuatku menoleh.

“Wae, Wookie? Kau membuatku malu dengan memanggilku Unyuk.” cibirku sembari menyenggol lengannya.

Ryeowook terkekeh dan langsung menggelayut manja di tangan kiriku yang sibuk memeluk buku-buku tebal, “Makan yuk, Hyuk.” pintanya dengan memasang doggy eyes.

“Untuk apa mengajakku? Kalau kau mau makan ya sudah sana ke kantin, jangan datang padaku. Kau pikir aku Park Ahjusshi, penjual ramen di kantin?” umpatku memberondong sambil melanjutkan perjalanan.

Ia tak meresponku, aku pun meliriknya dan kulihat mata Ryeowook mengerjap cepat seolah ada efek air mata yang jatuh slow motion dari sudut-sudut matanya, aku tahu maksudnya kalau sudah seperti ini.

“Lama-lama aku bangkrut kalau seperti ini caranya, Wookie.” ucapku menahan kesal.

“Tapi, kau juga belum makan kan, Hyuk? Kurang baik aku mengajakmu makan? Kau kan suka lupa makan. Yuk kita ke kantin.”

“Iya, kau hanya mengajakku dan yang bayar makanannya selalu aku.” Aku pasrah mengikutinya ke kantin, tersadar dengan betapa lemahnya lambungku.

Laki-laki bersuara bariton yang kini sedang memesan ramen, nasi goreng, dan minuman itu adalah Ryeowook, teman seperjuanganku ketika memasuki dunia perkuliahan. Kami tidak satu jurusan ataupun satu fakultas. Aku mengambil Manajemen Bisnis sedangkan dia mengambil jurusan Biologi, ingin menjadi biologyst katanya. Tak habis pikir olehku jika dia akan menjadi ahli biologi, apa jadinya Korea Selatan memiliki ‘aset’ seperti dia.

“Kau masih mendatangi gadis itu?” tanya Ryeowook ketika ia selesai menyeruput minumannya.

Aku berhenti dari proses makan, memandangnya bingung, “Gadis yang mana?”

Ryeowook memutar bola matanya, “Seperti mengenal sejuta gadis saja kau, Hyuk. Ya gadis yang sedang kau dekati itu.” Ryeowook kembali menghabiskan sisa makanannya yang tinggal separuh.

“Aku dekati? Sepertinya aku sedang tidak mendekati siapapun.” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, sangat bingung.

“Aish jinja. Itu, gadis yang sakit itu.”

“Oh, Yoonri?”  jawabku sembari mengangkat telunjuk ke udara seakan menjawab sebuah pertanyaan dari guru SD.

Ryeowook hanya mengangguk antusias karena mulutnya penuh dengan makanan.

“Lalu ada apa dengan Yoonri?”

Ryeowook me-lap mulutnya cepat, “Kau sedang tidak connect ya hari ini? Maksudku, kau masih sering mendatangi dia untuk mendengarkan curhatannya?”

Aku mengangguk sembari menegak air mineral hingga habis.

“Kau tidak bosan melakukan hal seperti itu sejak dua tahun lalu? Sebenarnya untuk apa kau melakukan itu semua?” Ryeowook menatapku serius.

Di antara riuh suara di kantin, aku tersenyum memandang langit luas, mengingat kejadian beberapa tahun silam yang membuatku melakukan ini semua.

Flashback begin

April 2008

“Bagaimana, Hyukkie-ah? Kau mau kan?” tanya seorang laki-laki di seberang sana.

“Aish, molla, Hae-ya. Aku baru memulai semester awal kuliah, sibuk. Lagipula, aku tak mengerti hal semacam itu.”

“Mudah, kau tinggal tanya dia lalu kau rekam. Mudah, bukan?”

“Seenaknya kau bicara. Mudah sekali.”

Aku masam mendengar permintaan sahabatku, Donghae, yang kini kuliah di Prancis. Tidak tanggung-tanggung permintaannya adalah menyuruhku mendekati yeojachingu super bawelnya itu. Bukan, bukan dengan mengecaninya untuk mengetes kesetiaan seperti yang ada di kebanyakan variety show, Donghae hanya memintaku mencari tahu sebanyak-banyaknya tentang kehidupan kekasihnya itu. Mulai dari ia lahir hingga kini dan aku merekamnya tanpa sepengetahuan si target karena Donghae ingin membuatkan sebuah dokumentasi sebagai hadiah ulang tahun Haera -pacarnya- tiga bulan lagi.

Romantis? Aku tidak peduli. Tapi, apa ini yang disebut mudah? Tidak.

“Ne, ne.” ucapku lemah dan sedikit tidak rela pada akhirnya setelah kurang lebih setengah jam Donghae menelepon hanya untuk membujukku.

Bukan tanpa alasan akhirnya aku menyanggupi permintaan Donghae. Ia memberiku imbalan. Satu album penuh foto keindahan Prancis! Entah mengapa mendengar satu kata itu bisa membuatku melakukan apapun. Aku mencintai Prancis lebih dari segalanya.

Kurang lebih dua bulan lamanya aku ‘mewawancarai’ Haera. Sudah tiga kaset yang terkumpul dan aku pun sempat beberapa kali me-shoot perkataannya lewat handycam-ku. Tidak, bukan hanya perkataannya, tapi tawanya, air matanya, dan tingkah konyolnya. Semua tanpa sepengetahuan Haera! Dan kemarin aku sudah mengirim semua data tersebut pada Donghae.

Sekitar pukul 8 malam, aku ber-skype ria dengan Donghae, melaporkan padanya bahwa ‘barang’ sudah dikirim dan tanpa disangka, ia langsung bersujud -lebih tepatnya menyembah- di depan komputernya sebagai bentuk uang muka dari rasa terima kasihnya karena apa yang kulakukan lebih dari perkiraannya.

Hari demi hari berlalu, tiba saatnya ulang tahun Haera. Donghae sudah mengatur sedemikian rupa bagaimana caranya agar paket yang ia kirim dari ujung dunia sana, sampai tepat di hari ulang tahun Haera di Seoul.

“Eunhyuk-ah, mengapa Haera belum menghubungiku hingga kini? Seharusnya paket itu sudah sampai pukul 9 pagi.” Ada rasa sesal yang mendalam dari nada suara Donghae ketika ber-skype denganku.

“Mungkin macet.” jawabku asal dengan mata tinggal satu garis. Sekarang pukul dua pagi padahal pukul tujuh aku ada ujian Dasar Manajemen dan aku belum belajar sama sekali malah menemani Donghae yang curhat pagi-pagi buta begini.

“Aku menelponnya tapi nihil. Coba kau yang menghubunginya, Hyuk.”

“Aish, aniyo. Tugasku sudah selesai.” suaraku berubah agak parau.

“Aish,” Donghae mengacak rambutnya gusar, “Kapan kalian – “ Aku tidak bisa mendengar apa-apa lagi. Kepalaku sudah terlanjur nyaman dengan bersandar pada guling yang sedari tadi kupeluk.

Entah mengapa aku merasa kedinginan, lebih tepatnya aku nyaris membeku sampai tak bisa berkata-kata. Sayup-sayup suara yang familiar berteriak memanggilku.

“Hyukkie-ah, Prancis! Kau sudah tiba di Prancis! Ireonaaaa!!” teriakan yang begitu nyata membangunkan dari tidur singkatku dan kudapati layar komputerku dihiasi dengan wajah sangar Donghae yang sedang memegang sebilah pisau dapur.

“Kau ingin ke Prancis, Hyukkie? Mari sini.” ujar Adit layaknya psikopat.

Mataku membulat seketika dan berakhir dengan menggaruk kepala yang tidak gatal, kebiasaanku jika merasa bersalah, “Hehehe mianhae, aku sangat mengantuk. Apa yang kau tanyakan barusan?”

“Kapan terakhir kau bertemu Haera?”

“Ngg, sebulan lalu sepertinya. Selesai melaksanakan tugas darimu, aku sudah tidak mengontaknya lagi.”

Tak ada jawaban dari Donghae, terlihat sekali ia berpikir keras.

“Kau mau aku mendatangi rumahnya untuk mengecek?”

“Ani.”

Aku mengernyitkan dahi, “Lalu?”

“Lusa aku akan kembali ke Seoul.”

Benar saja, beberapa hari kemudian Donghae menampakkan batang hidungnya di rumah ketika aku sedang menonton televisi. Tak banyak basa-basi, ia memintaku untuk menemaninya ke rumah Haera, itung-itung sebagai saksi mata bagaimana trik meluluhkan hati perempuan, begitu katanya.

Sesampainya di rumah Haera, Donghae sedikit tersentak ketika melihat pagar rumah Haera digembok.

“Annyeong.. Haera.. Haera, buka pintunya, Jagi. Ini aku, Donghae.”

Tak henti-hentinya Donghae meneriakkan nama Haera sembari mengetukkan gemboknya ke pagar sedangkan aku hanya bisa melongo melihat tingkah kesetanannya. Aku tahu dia khawatir, tapi tidak dengan cara seperti orang gila juga.

“Jangan bercanda dong, Jagi. Mian kalau aku tidak datang ketika hari ulang tahunmu.”

Aku hanya menggelengkan kepala melihatnya.

“Annyeong.” Seorang ibu muda yang tengah lewat bersama balitanya menyapa kami berdua.

“Ah ne. Annyeonghaseyo, Ahjumma.” salamku sembari nyengir.

“Cari siapa? Orang di rumah itu sudah pindah dari seminggu yang lalu.”

Wajah terkejut Donghae sungguh tak bisa ditutupi, “Pindah kemana, Jumma?”

“Molla, tapi yang saya tahu Tuan dan Nyonya Kim pindah sejak kepergian Haera.”

Donghae terdiam, ia masih sulit mencerna kata-kata ibu muda tersebut.

“Kepergian Haera? Maksudnya?” tanyaku.

“Haera meninggal sekitar dua minggu lalu karena kecelakaan.”

Mungkin ungkapan bagai petir di siang bolong cocok untuk Donghae saat ini. Ia terpaku tanpa merespon banyak. Perlahan kaki dan tangannya bergetar dan akhirnya ia jatuh terduduk di aspal dengan air mata yang turun perlahan.

“Ah ne, beberapa hari yang lalu ada paket untuk Haera, tapi karena tidak ada orangnya jadi dititip pada saya, padahal saya juga bingung bagaimana memberikan pada keluarganya.”

“Paket?”

Ahjumma itu mengangguk pelan, “Iya, masih ada di rumah saya. Chakkaman, saya ambil dulu.” Ahjumma tersebut segera menggendong anaknya dan masuk ke rumahnya yang bersebelahan dengan rumah Haera.

Aku menghampiri Donghae yang belum menyelesaikan rasa shock-nya. Aku tahu ini tidak mudah baginya yang sangat mencintai gadis periang seperti Haera.

Ahjumma itu datang sambil berlari kecil menghampiri kami. Sebuah paket kecil tipis bersampul coklat di tangannya. Ahjumma itu pamit setelah menyerahkan paket itu padaku.

Tertera jelas di bagian belakang paket itu, Lee Donghae – France. Sudah kuduga.

Aku memberikan paket itu pada Donghae. Ia menerimanya dengan tangan gemetar dan tangisnya pun pecah ketika mengusap nama lengkap kekasihnya di bagian depan paket.

Flashback end

“Aku melakukan ini bukan tanpa alasan, Wookie.” ucapku tiba-tiba setelah sekian lama terdiam, “Aku hanya ingin membuat semacam kenang-kenangan untuk orang-orang yang ditinggalkan.”

Ryeowook mengangguk paham, “Mulia sekali niat temanku yang satu ini. Ckck.” Ryeowook berdecak layaknya memanggil cicak.

“Sudah berapa novel yang berhasil kau terbitkan, Hyukkie?”

“Bukan novel, babo.” Aku menepuk kepala Ryeowook dengan buku, “Aku membuat semacam biografi plus CD dokumentasi. Baru dua dalam dua tahun ini.”

“Daebak! Pantas saja bisa metraktirku, uangmu banyak. Hahaha.” Aku menepuk lagi kepalanya dengan lebih keras, agar kapok.

“Tapi, aku hanya melakukan ini dengan orang yang seperti sudah ‘tidak ada harapan’ hidup, sakit-lah, seperti Yoonri contohnya,” Aku memberi tanda kutip menggunakan jari-jariku untuk lebih menekankan kata tersebut, “agar si target semangat, lega sudah mengungkapkan apa yang mungkin tidak diketahui orang lain dan pastinya agar orang-orang yang mengenalnya bisa mengenang dia dengan baik.”

***

“Dasar ikan!” itu suara Yoonri. Jauh terdengar lebih ringan hari ini, ia tertawa.

“Dan kau ubur-ubur!” singgung sebuah suara yang agak terdengar serak yang kudengar dari dalam ruangan Yoonri. Seketika tawa membahana dari dalam sana.

Aku hanya berdiri di depan pintunya, menunggu giliran masuk. Eomma Yoonri mengatakan bahwa Yoonri sedang kedatangan teman-temannya hari ini dan mungkin kedatanganku yang mendadak di tengah-tengah mereka bisa merusak suasana hati Yoonri lagi. Jadi, aku memilih mengikuti saran Eomma Yoonri untuk menunggu hingga selesai.

Ini sudah kunjungan ke sekian dalam beberapa bulan ini sejak aku mewawancarainya dan tebakanku tepat sasaran. Sebenarnya Yoonri adalah tipe anak yang periang dan menyenangkan. Tapi, yang tak kusangka, ternyata dia itu cerewet bukan main. Dasar wanita.

“Ya sudah, kami pulang dulu ya, Yoonri. Cepet sembuh, nanti kita karokean lagi.” ucap si suara serak tadi.

“Iya, nanti kita naik gunung. Kau ingin  camping, bukan?” timpa sebuah suara perempuan.

Tak lama, suara langkah kaki yang saling berdentum ke lantai semakin mendekat.

CEKREK!

Dua laki-laki dan tiga perempuan, satu per satu keluar dari ruang rawat Yoonri “Permisi,” ucap salah seorang perempuan berkacamata di antara mereka. Aku melongokkan kepalaku sebentar sebelum masuk.

“Annyeong, apa kabar, adikku?” Aku mengusap kepalanya yang hari ini tidak berkupluk.

Yoonri tersenyum gembira, “Sangat baik!” jawabnya antusias.

“Bahagianya yang baru bertemu teman-teman,” Yoonri menggeleng.

Aku duduk sambil mengernyitkan dahi dan beberapa detik kemudian mataku menyipit penuh tanda tanya, “Kau menyukai salah satu cowok tadi? Ayo mengaku sama pada Oppa.” ucapku sembari mendekatkan wajahku.

Yoonri menahan senyumnya lalu menutup wajahnya yang kelewat merah. Ia mengangguk.

“Ah adikku sedang jatuh cinta, haha. Dengan siapa?” Tanganku merayap mengambil tape recorder.

“Namja yang tidak memakai kacamata.” Aku mulai menekan tombol record dan segera menyiapkan handycam-ku.

“Bisa kau ceritakan tentang perasaanmu padanya?”

Yoonri berpikir sambil mengetukkan jarinya ke dagu, “Bisa.”

“Aku rekam dengan handycam juga ya. Mulai.”

Yoonri merapikan poninya dengan jemari, “Ah Oppa, aku belum dandan. Nanti aku terlihat pucat.”

“Ani, adikku sudah cantik. Ayo mulai.” kataku dari balik lensa.

Ok. Ngg, namanya Kyuhyun. Cho Kyuhyun. Dia temanku ketika SMA. Dia pribadi yang baik sekaligus jahil. Aku menyukinya sejak empat tahun lalu….

“AH?? 4 TAHUN? Kau gila?” mataku membulat tak percaya dan handycam sudah tak berada di titik keseimbangan, jatuh ke ranjang.

“Hahaha gila, Oppa? Ya begitulah.”

Aku hanya mampu menelan ludah dan kembali memposisikan handycam ke tanganku dengan benar, “Oppa, boleh aku minta sesuatu?”

“Mwo?”

“Aku ingin membuat pengakuan untuknya, Oppa bisa bantu aku? Rekam saja biasa seperti ini.”

Aku terlanjur paham maksudnya untuk apa, aku pun mengangguk mantap dan mulai merekamnya yang kini berubah serius.

Ngg, Annyeong Kyu,” Yoonri tersenyum kaku. Aku melihat ia sedang berusaha menyusun kata-kata di kepalanya.

…Mianhae sebelumnya karena aku membuat hal semacam ini. Tidak etis memang, tapi mau apa lagi, aku ingin membuat pengakuan ini sudah dari lama, tapi tidak pernah ada kesempatan kita untuk duduk berdua. Sebelum saatnya aku pergi, aku mau ungkapin semuanya…

Yoonri memejamkan matanya sesaat dan menarik nafas dalam-dalam. Sedetik kemudian, ia mengangguk, lebih kepada dirinya sendiri.

…Kyu, joayo. Ah ani, sebenernya aku sendiri tidak tahu aku suka, sayang, cinta, atau sekedar obsesi padamu. Aku juga tidak tahu perasaan aku ini ada di tempat yang benar atau salah, secara sehat atau tidak. Sudah hampir empat tahun, Kyu. Selama empat tahun aku menyukaimu, selama empat tahun juga aku berusahauntuk melupakanmu karena aku sadar tidak mungkin bisa jadi seseorang dalam hidupmu…

Yoonri menggigit bibir bawahnya, berkali-kali ia menelan paksa ludah.

…Tapi, kau seperti rumah untukku. Kemanapun aku pergi, aku tetap pulang ke rumah. Sama sepertimu. Kemanapun aku berusaha menyukai orang lain, hati aku kembali lagi padamu…

Sebentar lagi pertahanannya runtuh. Ia mulai menatap langit-langit, menahan air-air asin itu menyeruak keluar.

…Selama ini juga, aku hanya membiarkan perasaanku. Entah membiarkan perasaan itu hilang dengan sendirinya atau malah membiarkan perasaan itu semakin kuat…

Ia menyeka air mata dari sudut matanya yang belum sempat menetes lalu mengerjapkan cepat matanya dan mencoba kembali fokus, namun nihil. Air mata itu seperti air dalam genggaman, semakin ia disembunyikan keberadaannya, maka air itu akan semakin membuncah.

…Aku mengatakan ini semua bukan berarti aku minta jawaban darimu atas pernyataan aku ini karena mungkin ketika kau melihat rekaman ini aku sudah tidak ada. Mau sampai kapan aku seperti ini, Kyu? Bertahan? Aku sendiri tak tahu sedang mempertahankan apa atau bahkan sebenernya aku tidak sedang mempertahankan apa-apa dan hanya menyakiti perasaaku sendiri? Sepertinya, ya.

Sudah cukup, Kyu. Cukup empat tahun ini. Cukup empat tahun ini aku menyiksa perasaanku. Aku ingin merasa lega dengan perasaan yang sudah aku sembunyikan darimu. Sekarang waktunya untuk merapikan hati aku yang berantakan.

Mian, untuk semua kelancanganku bersikap padamu selama ini dan terima kasih banyak untuk segalanya…

Yoonri menarik nafasnya pelan.

…Mungkin suaraku tidak seindah suaramu, tapi aku ingin mencoba memberi sesuatu untukmu, untuk yang terakhir kalinya. Dengarkan, Kyu.” Yoonri mengusap cepat air matanya dan mencoba tersenyum. Samar-samar mulai terdengar sebuah lantunan yang syahdu.

You’re smile brings light into my days

The thought of you warms my night

To hold you in my arms even in my dreams

It feel so right, loving you

You never see the way I look into your eyes

You never realize the love I feel inside

Pain and sorrow that haunted me

Cause words I’ve left unsaid to you

Now you found someone else to love

Deep in my heart my love won’t fade away

To hold you in my arms even  in my dreams

It feel so right, loving you

You never see the way I look into your eyes

You never realize the love I feel inside

Pain and sorrow that haunted me

Cause words I’ve left unsaid to you

 

…Kyu, saranghae…” Yoonri menenggelamkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata ke dalam tangannya yang bergetar hebat. Aku segera mematikan handycam dan memeluknya hangat.

“Tangisi dia sepuasmu kalau itu adalah untuk yang terakhir kalinya.” Yoonri meraung-raung di dadaku. Sekarang tubuhnya ikut bergetar, seakan belum semua tangisnya pecah. Ia masih memilah sebagian tangis dan menahannya. Masih mencoba untuk tidak terlalu larut.

Kurang lebih setengah jam ia menangis dan yang bisa kulakukan hanyalah mengusap punggung serta rambut panjangnya. Perlahan ia mendongak, memperlihatkan matanya yang kelewat bengkak.

Ibu jariku menyisir sisa-sisa air mata yang masih ada, “Sudah?” ia hanya mengangguk pelan.

Segera aku menyambut air mineral di meja samping ranjangnya dan meminumkannya. Ia masih mengatur nafas dan menghapus air matanya ketika aku mengecek tape recorder-ku.

“Tolong, beri rekaman itu ke dia pas aku sudah tidak ada, Oppa.”

Aku menggeleng, “Kau pasti sembuh,”

“Jangan coba menghiburku. Aku tahu kapasitas penyakit ini dalam diriku sejauh apa.” Yoonri benar-benar berusaha menjadi gadis yang kuat.

“Aku ingin tidur.”

“Baik, tidurlah. Aku akan di sini sampai kau tertidur.” Aku tersenyum menyakinkannya.

Yoonri sudah berbaring dan menarik selimutnya, “Oppa, bisa usap-usap kepala aku?”

“Seorang Oppa bisa melakukan apapun yang adikknya inginkan.” Aku pun mengusap kepalanya pelan.

Baru beberapa usap, matanya sudah terpejam rapat. Aku memandanginya sambil tanganku masih sibuk mengusap kepalanya.

“Kyu, maafkan perasaan aku.” Yoonri mengigau pelan.

Aku menoleh ketika sebuah erangan kecil terdengar dan kudapati Eomma Yoonri tengah terisak di dekat pintu. Ia menangis sambil tersenyum dan mengangguk padaku.

Aku hanya dapat balas mengangguk padanya, sama-sama.

***

  Aku berlari tanpa memerdulikan orang-orang yang bertabrakan dengan tubuhku. Mata, telinga, seluruh alat gerak, bahkan pikiranku, hanya tertuju pada satu hal, Yoonri.

Ia kumat lagi. Entah untuk ke sekian kalinya dalam dua minggu ini ia sering pingsan setelah mengeluh kesakitan di kepalanya dan kali ini Eomma Yoonri memintaku untuk datang secepat mungkin.

Aku sampai di depan ruangan Yoonri. Pintunya tertutup rapat, memberiku sedikit waktu untuk mengatur nafas yang tidak beraturan.

Aku membuka pintunya pelan, menimbulkan sedikit decitan. Dapat kulihat sanak saudaranya memenuhi ruangan dan beberapa di antaranya menangis, termasuk Eomma Yoonri yang sibuk mengusap rambut anaknya yang rapuh.

Aku hanya berdiri di ambang pintu melihatnya. Melihat Yoonri yang sesekali mengigit bibir bawahnya, menahan kesakitan.

“Eomma,” lirih suara Yoonri, “mana Oppa?” Eomma Yoonri tidak menjawab, beliau hanya membekap mulutnya sendiri, menahan erangan yang lebih keras terdengar.

“Mengapa Oppa belum datang?”

Aku mengigit bibir bawahku dan melangkahkan kakiku pelan menuju ranjang Yoonri dengan sedikit mengangkat sudut bibirku, “Oppa di sini, Yoonri-ah.”

Yoonri menolehkan kepalanya dan tersenyum, “Oppa~”

“Annyeong,” Aku membelai rambutnya, “Apa kabarmu hari ini?” Susah payah aku menahan kristal cair dari mataku.

“Sakit, Oppa.” Biasanya Yoonri akan bilang ‘Gwenchanayo’ sekalipun dokter mengatakan ia tidak dalam kondisi baik, tapi tidak kali ini. Pasti ia sangat kesakitan sekarang.

Jemari Yoonri yang dingin, merayap ke tanganku, “Oppa,”

“Ne, Yoonri-ah?” Sebelah tanganku yang lain balas menggenggam tangnnya, berusaha mengahangatkan semampuku.

“Temani aku tidur.”

Aku tidak langsung menjawab. Beberapa orang yang melihat kami langsung beranjak keluar ruangan dan terisak sekeras mungkin, aku bisa mendengarnya.

Aku melirik Eomma Yoonri sekilas dan beliau mengangguk sembari lagi-lagi membekap mulutnya.

“Oppa akan di sini sampai kau tertidur. Tidurlah, Yoonri-ah.” Tak terasa buliran itu mengalir dari sudut mataku, aku mengahapusnya cepat.

“Ani,” Yoonri sedikit mengerucutkan bibirnya, “Tidurlah bersamaku, di sini.”

“Tapi,” Aku menengok ke belakang sebentar, melihat sesosok gadis yang sedari tadi mengikutiku dari belakang, yeojachingu-ku. Ia mengangguk, mengijinkanku.

Sesaat kemudian aku menatap Eomma Yoonri dan beliau lagi-lagi mengangguk.

“Ayo, Oppa. Tidur di sampingku.”

Yoonri menggeser posisi tidurnya sedikit, memberiku ruang. Aku naik ke ranjangnya perlahan, tak ingin membuat segala macam alat dekat tubuhnya jadi terganggu.

Tangan kami bergenggaman.

“Akh – “ Yoonri memegang kepalanya. Aku hendak bangkit lagi saat tangan Yoonri menahan tanganku, “Waktuku tidak banyak, Oppa. Diamlah di sini.”

Mataku berkeliling, melihat satu per satu wajah mereka yang mengelilingi kami. Eomma Yoonri, beberapa dokter dan perawat, dan sebagian saudaranya yang masih bertahan di ruangan ini. Yeojachingu-ku masih di ambang pintu.

“Oppa, jangan lupa berikan ‘itu’ pada Kyu.” Aku mengangguk pelan sambil menyingkirkan poni yang menghalangi matanya.

“Aku harap bukumu tentang kehidupanku mendapat respon yang baik.”

“Sudah, Yoonri. Jangan banyak bicara, istirahatlah.”

Yoonri menggeleng, “Oppa, boleh aku titip Eomma?”

Jujur, aku tidak bisa menjawabnya. Aku hanya menangis sejadi-jadinya mendengar permintaan Yoonri kali ini.

“Tuhan, Appa-mu, kau, saudara-saudaramu, dan Oppa, akan menjaga Eomma-mu, Jagi.”

Yoonri tersenyum sembari mengigit bibirnya, serangan itu datang lagi.

Yoonri menggenggam tanganku lebih kencang, “Oppa, joayo.”

Hening. Tak ada suara lagi selain isak yangis yang masih terdengar. Aku masih bisa mendengar helaan nafas Yoonri yang semakin beraturan.

Semuanya diam, mendengarkan detak kehidupan Yoonri yang perlahan… menghilang.

***

15 thoughts on “[FF Contest] Sekeping Harapan

  1. hwa…..
    sedih…
    ;(😥

    ffnya ddaebak…

    btw, sebelumnya Na mau minta maaf ke eonn yg punya blog..
    Sebenernya Na udah sering bongkar2 ini blog buat nyari ff..
    Tapi baru x ni ninggalin jejak..
    Cheoseonghamnida..

  2. huwaaaaaaaaaa, T__T, ini sedih banget… kayak cerita “one litters of tears”, cuma ja gak pake buku harian melainkan dibantu oleh Eunhyuk…
    huwaaaaaaaaaaa

  3. pas awal awal aku sempet ngantuk bacanya,ehehe.. Mianhae,,bukan apa apa,cuma..entah ya..agak gimana gitu.. Piss^^

    tapi pas sampe tigaperempat jalan cerita,,ceritanya aku nikmati banget..

    hampir Gak tega baca yang pas yoonrinya sekarat,,tapi karena penasaran,aku lanjutin baca.. Nyesek pas baca ‘Oppa johaeyo’..eh lgsung meninggal yoonri nya😦
    saking menghayatinya,tau tau mataku udah kabur,pipiku basah,,udah terlanjur mewek,eh malah ending.. Aku gimana ini? Euheuheuheu,😀

  4. help meeeee…. aq sesak nafasss….. axxxx… aq nangiz mpe idung q mqmpet.. huhu
    udah lama gx bc ff yg kyk gini. nyesek banget… daebak.. mungkin klo dilnjutin bakal bikin + mewek ni… T.T

  5. aaah~ sedih bgt ceritanya
    kirain yoonri bakal sembuh
    T____________T
    tp penasaran sama reaksi kyu wkt terima videonya
    hrsnya dicertain jg hehe

  6. Sedih banget..
    Aku pikir ff ini bakal membuat yoonri dan Eunhyuk mennajdi pasangan, tapi ternyata sebagai dongsaeng-oppa..
    Tapi ff ini tetap bagus dimataku..
    Selain itu juga ff ini benar2 menyentuh..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s