JinHae – Minty Mint, KISS!!

Jadi begini, FF kali ini genre-nya Alternate Universe. Ceritanya, yang nulis adalah Kim Yejin. Identitas asli Kim Yejin ini sebenarnya Flyers, terutama Electra. Dia punya blog dan suka nulis FF dengan tokoh idolanya seperti kita-kita gini. Tapi Haejin gak tau kalo selama ini, FF JinHae yang sering dia baca ditulis oleh Yejin. ^^

Awalnya, Yejin itu JinTaec shipper. Tapi setelah Felidis Haejin tampil di Strong Heart dan bilang kalau mereka sudah putus dan semacamnya, plus ngasi spoiler soal orang yang ‘sekarang’ dicintainya, Yejin akhirnya berhenti jadi JinTaec Shipper karena kecewa sama Ok Taecyeon yang udah mutusin Haejin seenaknya. Ada berbagai analisa dan spekulasi yang beredar diantara Netizen mengenai si ‘Namja Idol’ yang Haejin bicarakan itu. Salah satunya Super Junior Donghae. Dan akhirnya, Yejin pun milih untuk menjadi JinHaeternal (sebutan untuk fans yang menshipper antara Felidis Haejin dan Super Junior Donghae). So, enjoy reading, yaaa~

P.S : Ini cerita adaptasi dari Kiss Me With Mint-nya Watase Yuu. Tau kan, cerita adaptasi kaya gimana?

JinHae

Author : KYJinhaeternal
Title : Minty Mint, KISS!!
Adapted from : Kiss Me With Mint by Watase Yuu
Genre(s) : Fantasy, Comedy, Romance, Failed Angst
Cast(s) : Felidis Haejin as Misono Kari, Super Junior Donghae as Shindou Wataru, Super Junior Siwon as Mr. To Ono, and other idol as additional cast.
Pairing : JinWon –failed–, WonHae –failed–, JinHae
Disclaimer(s)
: If I own them, I’ll bring JinHae to the church immediately and let them marry. Sorry, but I’m JinHae *hard* shipper LOL~
Rating : PG – 13 (maybe? Or more? Oh, c’mon! This is JinHae fanfic, right??😄 *drownedbyelectra&elfishy* )
Warning : Modification Story, Full OOC, Author Universe
A/N : This is such a fail adapted story. Just read the comic then you’ll know why the title is being like that!😄 And, sorry Siwonnest, I’m not an hater. I just need a cast and Siwon is the PERFECT one. :3

J*I*N*H*A*E

Lee Haejin berlari sepanjang jalan menuju sekolahnya. Peluh terlihat membanjir di sekitar dahinya. Tanpa perduli dengan pejalan kaki yang lain, ia terus menerobos keramaian pagi kota Seoul dengan brutal. Berkali-kali ia melirik jam Gucci KW2 berwarna pink-nya dengan pandangan ngeri. Waktunya tinggal 5 menit lagi sebelum gerbang ditutup!

“Aaahh~ sial! Aku bahkan belum sempat merapal mantranya!! Alsksjdhfgff!!!!” gadis berambut panjang itu ngedumel sendiri sepanjang perjalanannya. Meski terengah, meski lelah, meski susah, toh ia akhirnya bisa melihat gedung sekolahnya sudah menjulang didepan matanya. Masih ada tiga menit lagi.

Haejin mengeluarkan secarik kertas dari saku bajunya dan membukanya. Ia berkomat-kamit membaca kalimat yang tertulis di kertas itu sebanyak-banyaknya hingga akhirnya ia merasa cukup dan kembali mengantonginya. Well, sebenarnya tidak benar-benar cukup. Ia ingin sekali merapal mantra itu lebih dari sebanyak-banyaknya agar bisa lebih mudah mendapatkan tujuannya.

GREEEEKKK!!

Haejin terlonjak. Gerbang sekolahnya nyaris ditutup!

“HEEEEEEEEIIIIIII!!! TUNGGUUUUUUUU~,” dan dia lari sekencang-kencangnya menuju gerbang yang tinggal lima meter dari tempatnya berdiri. Dan saat gerbang besi besar itu tinggal setengah terbuka, dewi fortuna masih mengizinkannya sekolah hari ini. Tapi….

GUSSRRAAAKKK!!

Ia sukses mendarat dengan posisi tersungkur karena menginjak tali sepatunya sendiri yang lepas karena tidak diikat kencang sempurna. Ia meringis. Dan bersyukur. Paling tidak ia sudah berada didalam sekolah. Hehe…

“Haejin! Apa kau tidak apa-apa?”

Jantung Haejin nyaris lepas. Benarkah itu suaranya? Suara yang selalu berhasil meluluhkan hatinya? Suara yang membuatnya rindu setengah mati tiap weekend datang? Suara yang selalu mendatangi Haejin di setiap mimpinya?

Ia bangkit dari posisi (buruk)nya dan tersenyum dengan ceria. “I…iya!”

“Lee Haejin anak kelas 2-C! Lagi-lagi kau terlambat!!” Haejin tidak perlu melihat wajah orang yang baru saja menyemprotnya ini. Ia sudah hafal suara berat tapi cempreng itu hingga ke sumsum tulangnya.

“Sabar Hyukjae ssaem. Haejin kan sudah tiba sebelum gerbang ditutup.”

Dan senyum konyol terpampang saat itu juga di bibir mungil milik Haejin. Ia menatap pahlawan yang kini sedang membelanya dengan pandangan kagum mendewakan.

“Segera ke kelasmu. Biar ssaem yang bicara pada Hyukjae ssaem.”

“Ah? I..iya!” Haejin kembali berlari meninggalkan kedua orang guru itu dengan senyum bahagia. Tapi, sepertinya ia melupakan sesuatu…

GUSSRRAAAKKK!!

Sementara Siwon ssaem hanya menggelengkan kepala melihat murid perempuannya itu. “Jatuh lagi…”

J*I*N*H*A*E

“KYYAAAA!! Aku tadi ngobrol dengan Siwon ssaem!!” Haejin histeris di pintu kelas dengan mata berbinar dan pipi merona. “Ini pasti karena mantra yang tadi pagi itu manjur! Ada gunanya juga kuucapkan banyak-banyak! Kyaaa~ senangnya….”

Kyorin dan Chihoon hanya memandang malas ke arah Haejin. Sudah rahasia umum kalau gadis satu ini terobsesi dengan segala jenis mantra cinta sejak kehadiran guru baru itu. Guru muda bernama Choi Siwon. Yang baru berusia 24 tahun dan keluaran Cambridge University jurusan English Literature. Sosok yang menjadi incaran baik diantara siswi ataupun guru wanita lainnya. Apalagi kalau bukan karena wajah tampan dan sikap sopannya itu? Belum lagi, status lajangnya makin membuat kaum hawa di sekolah mereka bertekad mendapatkannya. Seperti Haejin.

“Jadi, kali ini kau terlambat gara-gara apa?” Chihoon menopang wajahnya dengan satu tangan dan menatap Haejin dengan ogah.

Haejin melirik ke arah dua sahabatnya itu dan tersenyum lebar. Ia menunjukkan sebuah buku usang dengan mimik bahagia seakan baru menang lotere. “Aku mempraktekkan salah satu mantra cinta di buku ini. Begitu bangun pagi, aku menyebutkan nama Siwon ssaem sebagai orang yang kusukai sebanyak 100 kali!”

Kyorin dan Chihoon mengalihkan pandangan mereka dari Haejin dan buku mantra cinta bodohnya. Seraya bergumam kompak, “Ada-ada saja…”

BRAAKK!! Sebuah skateboard menabrak kaki Haejin tepat di tulang mata kakinya.

“UMMMAAA!!! APPPOOOOO~” Haejin mengangkat kaki kirinya dan mengelus-elus mata kakinya. “YA!! Skateboard-mu memakan korban, tahu!!!”

“Minggir. Aku mau lewat.”

Haejin mendelik ke arah Donghae yang berdiri disampingnya. Pandangannya penuh dendam! Muahahahaha~ (?)…

“Minta maaf dulu!” Haejin memukul bahu Donghae dengan buku mantra-nya. Donghae meringis lalu mendengus setelah melihat judul buku yang barusan dipakai Haejin untuk memukulnya.

“Kau ini apa… 1001 Mantra Cinta??” Donghae melempar pandangan mengejek ke arah Haejin. “Hahh!! Mantra cinta apanya? Mana ada namja yang mau sama yeoja kekanakkan sepertimu. Omong kosong!”

Haejin tercengang. “YA! Kau kira menggeret skateboard dekil kemana-mana seperti itu tidak kekanakkan, apa?!”

“Skateboard-ku keren!”

“Bukuku manjur!!”

Kyorin dan Chihoon menepuk dahi mereka, gemas. “Hentikan kalian berdua!”

“Ririn ssaem akan segera datang. Donghae, cepat masuk!” perintah Chihoon sembari menarik Haejin agar menjauh dari pintu. Donghae berjalan santai dengan kedua tangan di saku jaket dan bersiul pelan. Kakinya mendorong skateboard kesayangannya ikut masuk kedalam kelas.

“Cih~ lihat gayanya! Sok sekali dia!!” Haejin mencibir.

“Sudah, sudah! Ayo kita duduk,” ajak Kyorin. Haejin dan Chihoon mengikutinya dari belakang.

“Lee Donghae! Dia selalu mengejekku! Apa dia belum tahu kekuatan gadis yang sedang kasmaran itu seperti apa??”

J*I*N*H*A*E

“Ehh? Permen mint? Cemilan untuk pulang sekolah, ya?” Chihoon memperhatikan sekantong permen mint yang baru Haejin keluarkan dari dalam tasnya. Haejin sengaja mengeluarkan permennya di jam istirahat begini. Kelas begitu sepi karena semua murid pergi ke kantin. Haejin yakin, kalau ia mengeluarkan permen ini ketika jam pelajaran, permen itu pasti langsung ludes di mulut semua teman sekelasnya. Yeah, biasanya sih begitu…

“Loh? Memang kita ada janji main setelah pulang sekolah??” Kyorin bertanya dengan dua kaleng air soda ditangannya dan menyerahkannya satu kepada Chihoon. “Hanya ini yang kudapatkan. Kantin penuh sekali…”

“Bukan untuk cemilan! Tapi permen mint ini akan membantuku dekat dengan Siwon ssaem!” kembali binar bahagia memancar dari wajah Haejin.

“Konyol!” desis seseorang di samping meja Haejin. Orang itu bangkit dari kursinya dengan mendorong skateboard dengan kakinya. Donghae berjalan keluar kelas.

“Yeee~ siriiikk!!” Haejin berteriak kesal ke punggung Donghae sambil menjulurkan lidahnya.

“Kenapa sih, si Donghae itu? Ketus sekali dia. Padahal dia kan lumayan kiyuuuttt~” ujar Chihoon ikut menatap kepergian Donghae dari kelas mereka.

“Padahal waktu SD, dia sangat periang loh~,” ujar Kyorin, yang notabene teman Donghae sedari SD hingga SMA.

Haejin memajukan bibirnya kesal. Kenapa jadi ngomongin Donghae, sih?

“Aaiisshh! Aku tidak peduli! Dengar nih,” Haejin mencoba mendapatkan kembali perhatian kedua sahabatnya. “Permen mint ini akan membuatku bersatu dengan Siwon ssaem!”

Krik… Krik…

“Aku serius! Buku ini punya mantra untuk Menjadi Satu Dengan Orang Yang Disukai!” Haejin mengangsurkan buku mantra cintanya ke arah Kyorin dan Chihoon. Sementara kedua sahabatnya itu malah menatap Haejin dengan pandangan prihatin.

“Haejin-ah, dengarkan aku,” Chihoon meraih bahu Haejin dan mengarahkan kedua matanya ke kedua mata Haejin. “Kau tahu tidak ada pribahasa yang bilang, “Jangan terlalu cinta jika tidak ingin membenci dkemudian hari. Jangan terlalu benci jika tidak ingin mencintai sampai mati”?”

Haejin mengerutkan keningnya. “Aku tidak pernah dengar ada pribahasa seperti itu. Itu pribahasa dari zaman kapan sih? Dinasti Juseon?”

Chihoon melebarkan matanya dan menatap Haejin tidak percaya. “Kau tidak pernah mendengarnya? Jinjja??”

Haejin menggeleng. Chihoon menarik nafas. “Ya sudah kalau tidak pernah dengar. Memang baru aku yang menciptakannya tadi.”

“Ya! Kukira itu benar-benar pribahasa! Aku sibuk mengingatnya dari tadi, tauk!” omel Kyorin. Chihoon hanya terkekeh.

“Peduli Heechul dengan pribahasa! Kali ini mantra yang kupilih benar-benar mantra yang hebat nihh,” Haejin membuka halaman-halaman tua dari buku mantranya dan menyodorkannya kepada Kyorin dan Chihoon.

Kyorin mengambil buku yang sudah uzur itu dan membacanya. Entah darimana sahabatnya, Haejin, mendapatkan buku macam ini. Isinya sangat tidak masuk diakal!

“HEH?! Itu berarti kau harus mencium Siwon ssaem, Haejin-ah?? Kau gila???” Kyorin menghempaskan buku itu ke atas meja. Sementara Haejin hanya tersenyum semanis madu. Chihoon yang penasaran mengambil buku itu dari tangan Kyorin dan mulai membacanya.

“Coba lihat! “Kulumlah perment mint dalam mulutmu lalu cium si namja yang kau sukai tepat di bibir. Maka kau akan menjadi satu dengannya!” Aigooo~ Lee Haejin, kau gila!”

“Ya, aku memang sudah gila! Kenapa? Kalian keberatan memiliki sahabat yang gila akan cinta sepertiku??” Haejin berpura-pura menantang kedua sahabatnya. “Tenang saja! Setelah aku mengikuti mantra kali ini, kalian tidak perlu lagi mendengarku mengoceh tentang Siwon ssaem. Karena dia sudah menjadi milikku! Fufufufu~”

Kyorin menatap Haejin speechless. Chihoon apalagi. Keduanya memiliki pemikiran yang sama. Apa Haejin benar-benar akan mencium Siwon ssaem? Bagaimana caranya??

“Tunggu, Haejin-ah! Ada tambahan note kecil di ujung halaman ini! Coba dengar, “Mantra yang buruk! Kau hanya akan kerepotan kalau benar-benar melakukannya!”” Chihoon membaca sebuah baris tulisan kecil diujung halaman itu.

“Aku tahu,” ujar Haejin masih tetap tersenyum. “Tapi aku tidak akan terpengaruh semudah itu.”

Mulut Kyorin menganga sempurna. “Kau tahu tapi kau mengabaikannya?? Mantra itu berbahaya, Haejin-ah!”

“Tidak, Kyo! Orang yang menulis note itu pasti hanya tidak ingin orang lain menjadi seberuntung dirinya perihal asmara. Cihh~, bisa kutebak yang menulis itu adalah perawan tua judes yang sangat licik!”

Kyorin dan Chihoon hanya berpandangan lemas. “Sepertinya ini mustahil, Haejin-ah.”

“Apanya yang mustahil??! Aku kan sudah bukan anak-anak lagi!! Aku sudah pantas menjadi pendamping seumur hidupnya Siwon ssaem!!”

“Kan Donghae yang bilang kau kekanakkan, bukan kami!” Chihoon menudingkan telunjuknya ke arah Haejin yang langsung ditepis oleh gadis cantik itu.

“Sudahlah, aku akan baik-baik saja! Aku akan melancarkan aksiku sepulang sekolah nanti,” Haejin mengepalkan kedua tangannya seolah benar-benar bertekad. Yeah, benar-benar bertekad sebenarnya. “Ayo kembali ke tempat duduk kalian, waktu istirahat hampir habis.”

J*I*N*H*A*E

Loker milik siswa di sekolah Haejin berada di sepanjang koridor lorong utama. Sementara loker milik siswi berada di koridor lorong ruang guru dan jejeran lab. Jadi para siswi dan guru harus melewati lorong loker milik para siswa jika ingin ke loker dan ruang kantor mereka.

Dan disanalah Haejin sekarang. Bersembunyi ditempat paling strategis untuk bersembunyi dan mengintip yaitu dibalik loker siswa persis di samping kantor guru. Jadi, begini rencananya : Kelas terakhir akan selesai sekitar 10 menit lagi. Haejin sudah bersiaga ditempatnya sejak 15 menit yang lalu. (Well, dia bersyukur menjadi wanita. Alasan PMS itu benar-benar menguntungkannya!) Kelas terakhir Siwon ssaem adalah kelas 3-D. Itu berarti, Siwon ssaem hanya memerlukan waktu sekitar 3 menit untuk sampai di ruang guru. Haejin akan stay di tempatnya hingga kira-kira 13 menit kedepan. Begitu Siwon ssaem sudah berada sekitar 5 langkah dari tempatnya, saat itulah Haejin akan mengambil ancang-ancang dan menghitung hingga 5 hitungan. Saat hitungan kelima selesai, Haejin akan muncul dari samping loker dan langsung menarik kerah kemeja Siwon saaem lalu…. chu~

KYAAAAA!!! Membayangakannya saja sudah membuat Haejin nge-fly~!!

Haejin menghembuskan nafasnya guna menenangkan dirinya sendiri. Beberapa kali ia melirik jam tangannya untuk memastikan waktu kedatangan Siwon ssaem tepat seperti yang telah diperkirakannya. Jantungnya berdegup kencang.

KRRIIIIIIIIIINNNNNGGGG!!!!!

Haejin membeku ditempatnya. Omona!! Jantungnya dugeun-dugeun(?)!!

“Selamat siang, ssaem..” sapa beberapa siswa. Haejin mengintip dan melihat beberapa murid dari kelas 3-D membungkuk kepada Siwon ssaem. Haejin mencengkeram kedua tangannya yang berkeringat.

“Tenang, Jin-ah. kau pasti bisa! Ingat, kau akan menjadi satu dengan Siwon ssaem sebentar lagi.”

“Siang, ssaem..”

“Ya, siang.. Hey, jangan bermain di koridor! Itu berbahaya!” suara Siwon ssaem kira-kira hanya tinggal lima langkah lagi. Haejin menarik nafasnya dalam-dalam dan memakan permen mint-nya.

“Berjuanglah, Lee Haejin!” Haejin mulai menghitung dalam hati. Hana…. Dul… Set… Net…

J*I*N*H*A*E

KRRIIIIIIIIIINNNNNGGGG!!!!!!

Murid-murid berhamburan keluar dari kelas. Seakan mereka baru saja dibebaskan dari penjara. Begitu juga dengan kelas 2-C. Donghae menaiki skateboardnya dan segera berjalan menuju lokernya.

“Siang, ssaem..” ujar Donghae kepada Siwon yang sedang menenteng Jurnal kelas dan kamus Inggris-nya.

“Ya, siang.. Hey, jangan bermain di koridor! Itu berbahaya!”

“Ya, ssaem,” Donghae pun menarik skateboardnya dan menentengnya dengan tangan kanan. Ia baru akan membuka kunci lokernya saat sebuah tangan menarik bajunya dan menciumnya. MENCIUMNYA????!!!!

BRRAAKK!! Donghae terbelalak. Skateboardnya lepas dari genggaman tangannya. Dan ia terlalu terkejut untuk langsung bertindak menyingkirkan orang yang sedang menempelkan bibirnya pada bibir Donghae. Sampai sebuah suara menyadarkan mereka…

“Hae.. Haejin??”

Haejin membuka matanya dan melihat Siwon ssaem berdiri tak jauh dari tempatnya.

Si..Siwon ssaem?? Terus, aku ciuman sama siapaaa??!!

BRUK!!!

“Haejin!!” Siwon ssaem terlonjak. Ia segera berlari dan menghampiri tubuh Haejin yang ambruk ke lantai. “Haejin, kau kenapa??”

Loh? Aku… pingsan? Lalu, aku yang ada disini…

“Panggil ambulan!! Jangan bengong saja!!” Siwon berteriak pada Haejin. Haejin hanya terdiam menatap telapak tangannya dan Siwon bergantian. “Donghae, cepat!! Ambulannya!!”

EEEEEHHHHHHHH??? DONGHAE??

“Ada apa Siwon ssaem??” Hyukjae ssaem menghampiri Siwon yang sedang ribut-ribut mengguncang tubuh Haejin.

“Lee Haejin, anak 2-C pingsan! Cepat panggil ambulan!!” ujar Siwon sambil mengangkat tubuh Haejin dari lantai. Ia menggendongnya masuk kedalam ruang guru.

“TUNGGU!!” teriak Haejin. Ia beringsut ke arah Siwon dan tubuhnya. Tapi, entah kenapa kakinya malah diam tak bergerak.

Lho? Kok rasanya ada yang narik??

“KENAPA BEGINI??!!” teriak seseorang. “HAEJIN!! KENAPA KAU ADA DALAM TUBUHKU??”

“Tunggu sebentar, Donghae…”

“DIAM! JANGAN BICARA DENGAN MULUTKU!! MENDADAK MAIN TABRAK CIUM LANGSUNG!! APA MAUMU, HAH??!”

Tunggu! Ciuman, tadi…. Aku ingin mencium Siwon ssaem tapi malah salah cium jadi cium Donghae.

“Kulumlah perment mint dalam mulutmu lalu cium si namja yang kau sukai tepat di bibir. Maka kau akan menjadi satu dengannya!”

Jadi, ini yang dimaksud mantra itu dengan Menjadi Satu?? Berarti, aku jadi satu dengan… Donghae??

“BUKAN!! HARUSNYA BUKAN SEPERTI INI!!”

“Jangan teriak-teriak dulu! Kita pasti bisa kembali seperti semula.”

“Tapi aku tidak tahu caranya!! Pokoknya aku mau keluar dari tubuhmu, Donghae Jelek!!”

“Iissshh!!!”

Donghae mengangkat skateboard miliknya dan segera berlari keluar sekolah. Tidak memedulikan teriakan beberapa murid lain yang protes karena ditabrak olehnya.

“Tunggu! Kita mau kemana??”

“Pulang! Tidak ada gunanya kita tetap di sekolah.”

“Ta.. tapi, tubuhku kan sedang dibawa ke rumah sakit??!”

Donghae berdecak. Ia menaikki skateboardnya dan meluncur di aspal rata. “Salahmu sendiri! Aku kan tidak minta kau pindah ke dalam tubuhku!!”

“YA! Kau ini menyebalkan sekali sih??! Cepat kembali ke sekolah!!”

“Shireo! Memang apa gunanya?? Hanya memperkeruh suasana saja!”

“Aduuuuhh!! Kok jadi begini siihhh??!”

“Diam! Orang-orang mulai berpikir aku gila karena bicara sendiri, tahu!!”

Haejin mendengus. Ia memutar otaknya untuk memikirkan bagaimana cara kembali ke tubuhnya semula. Ia tidak menyangka kalau peringatan di buku mantra itu benar-benar serius. Dan sekarang ia jadi benar-benar repot.

Tunggu, buku… mantra??

“Hei, kita kembali ke sekolah!”

“Apa??! Jangan bicara dengan mulutku, kau gadis aneh!” kata Donghae sambil masih tetap meluncur dengan skateboardnya.

“Aku sedang tidak minat adu mulut denganmu! Lekas kembali ke sekolah! Kita harus mencari mantra lain untuk mengembalikan rohku kedalam tubuhku sendiri!!”

Donghae menghentikan skateboardnya. “Mantra?? Maksudmu, buku mantra yang tadi pagi??”

“Iya! Ayo cepat!! Kalau tidak nanti gerbangnya keburu dikunci!!”

“Jadi ini semua karena buku mantra bodoh itu?! Astaga!! Berapa sih IQ-mu?? Kenapa bisa percaya saja dengan buku tua macam begitu??!”

“Jangan cerewet! Kembali saja ke sekolah dan temukan buku bodoh tapi manjur itu!!”

Donghae berputar arah dan kembali menaikki skateboardnya. Ia kembali menyusuri jalan untuk kembali ke sekolah. “Cih, bahkan disaat seperti ini kau masih membela buku itu?? Benar-benar Gadis Bodoh Luar Biasa!”

PLAK! Haejin memukulkan tangan Donghae ke kepalanya.

“Jaga bicaramu! Kalau buku itu tidak manjur, kita tidak akan terjebak dalam posisi seperti ini!”

“Jangan seenaknya saja memukulku! Tubuhku ini berharga, tauk!”

“Berharga apanya?? Bahkan skateboard dekilmu saja masih jauh lebih wangi dibanding dirimu!”

J*I*N*H*A*E

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi lampu di kelas 2-C masih menyala dengan terang. Donghae, salah satu murid pembangkang yang pendiam di sekolah itu masih serius menekuri sebuah buku tua yang sedari tadi dibolak-baliknya saja.

“AARRGGHH!! Tidak ada! Bagaimana ini??” Donghae mengacak-acak rambutnya. Raut wajahnya frustasi dan kelelahan.

“Jigeum ottokhae?? Aku tidak mau selamanya terkurung didalam tubuh jelekmu,” raut wajah Donghae berubah cemas. Genangan air mata menumpuk di matanya.

“Dasar gadis tidak tahu terima kasih! Sudah untung menumpang, masih saja mengeluh!”

“Tapi harusnya kan aku Menjadi Satu dengan Siwon ssaem. Bukannya denganmu!!”

“Sudahlah! Kita pulang saja,” Donghae melangkah keluar kelas.

“Eehh, tunggu! Kau harus membawa seluruh barangku,” Haejin menghentikan langkah Donghae dan kembali masuk kedalam kelas. Ia merapikan tasnya dan memasukkan buku mantranya.

“Eh? Permen mint? Ternyata masih utuh,” gumam Haejin. Ia juga memasukkan permennya kedalam tas lalu keluar dari kelasnya.

“Kau? Benar-benar merepotkan!”

J*I*N*H*A*E

Sementara Donghae dan Haejin terus berdebat sepanjang jalan menuju rumah Donghae, keadaan tubuh Haejin yang berada di rumah sakit terus mengalami kondisi yang semakin memburuk. Kyorin dan Chihoon serta beberapa teman Haejin yang lain terus menangis di luar kamar rawat Haejin. Sementara itu, orang tua Haejin yang sekarang sedang berada di Malaysia untuk liburan bulan madu kedua mereka sedang dalam perjalanan menuju Korea.

“Haejin-ah, bertahanlah!” Chihoon tersedu di pelukan Kyorin. Ia tak menyangka temannya yang biasanya aktif dan ceria itu bisa tiba-tiba terbaring lemah di rumah sakit. Beberapa teman yang lain juga terisak. Membuat koridor rumah sakit itu terlihat mengharukan.

“Ini kejadian yang aneh, tuan Choi. Tubuh dan organ dalam pasien baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda kerusakan permanen atau serangan jantung atau sebagainya tapi…,” dokter yang merawat tubuh Haejin berbicara dengan wajah cemas dihadapan Siwon tak jauh dari Kyorin dkk.

“Tapi apa, dok?”

“Detak jantungnya makin melemah. Kalau begini terus, pasien bisa-bisa…”

J*I*N*H*A*E

“Astaga!! Kamarmu jorok sekali sih?!” Haejin tercengang melihat berbagai bungkus makanan ringan yang berserakan di lantai kamar Donghae. Sementara cup bekas ramyun dan kaleng-kaleng soda bertebaran di atas meja di tengah kamar.

“Bawel! Kalau tidak suka, keluar dari tubuhku sana!”

“Apa boleh buat? Aku belum tahu caranya,” Haejin mengedarkan matanya melihat-lihat kamar Donghae. Kamar yang menurut Haejin cukup luas. Paling-paling, hanya berbeda satu atau dua meter dari kamarnya sendiri. Televisi plasma terpasang di dinding dengan home theatre simpel dan beberapa stik PS. Di pojok ruangan, terdapat rak buku yang menempel langsung dengan meja belajar. Sementara tempat tidurnya terletak di seberang meja belajarnya. Semua orang tahu kalau Donghae memang berasal dari keluarga kaya. Tapi tidak ada satu orang pun dari teman sekolah mereka yang pernah tahu bahkan masuk kedalam rumah Donghae.

“Cih, mimpi apa aku semalam?” Donghae menghentikan kegiatan Haejin melihat-lihat isi kamar yang sudah dihapalnya diluar kepala. Ia membuka kemeja sekolahnya dan melemparkannya ke atas kasur. Donghae baru mengangkat kaus dalamnya saat Haejin menjerit keras.

“Kyaa!! PORNO!!” kata Haejin sembari menggerakkan tangan Donghae kembali menutup tubuhnya.

“Kau ini kenapa, sih? Aku kan mau ganti baju!!” Tangan Donghae kembali meraih kausnya dan mengangkatnya.

Haejin kembali berteriak dan menurunkan kembali kaus Donghae. “Jangan asal! Sekarang kan badanmu juga badanku!!”

“Sial! Kau ini membuatku repot saja!”

Haejin terpaku. Matanya tak lepas menatap pigura kecil yang terpajang terbalik di atas meja belajar Donghae. Ia berjalan mendekati pigura itu dan mengambilnya.

“Ini… orang tuamu, ya?” Haejin mengelus pigura itu yang berisi foto empat orang. Seorang lelaki tampan dengan mata cokelat terang seperti mata Donghae, seorang wanita cantik dengan lekuk senyum seperti senyum Donghae (walau Haejin baru satu kali melihat Donghae tersenyum saat namja ini berhasil menjahili Hyukjae ssaem saat pelajaran olahraga), dan dua orang anak lelaki yang terlihat ceria dengan senyumnya.

“Kau.. yang mana?” tanya Haejin menunjuk kedua anak di foto itu.

“Aku yang sebelah kanan. Yang sebelah kiri itu Donghwa, kakak lelakiku,” Donghae menatap malas pigura tersebut. “Sudahlah! Tidak ada urusannya juga denganmu.”

Donghae melemparkan pigura itu ke dalam tempat sampah di ujung kamarnya. Membuat Haejin terbelalak.

“EH? Kenapa dibuang??”

Donghae hanya diam. Ia menghela nafasnya berat lalu memejamkan mata. Sesaat kemudian, ia membuka matanya dan berkata, “Mereka, sudah bercerai.”

Haejin termangu. Kyorin juga bilang kalau Donghae berasal dari keluarga broken home. Kedua orang tuanya bercerai saat Donghae kelas 5 SD. Kyorin menyangka, karena hal itulah Donghae menjadi dingin dan pemberontak seperti sekarang.

“Saat aku kelas 5 SD, umma-ku ada main dengan lelaki lain. Setelah berselisih beberapa bulan, akhirnya appa-ku resmi menceraikannya. Appa mendapat hak asuh atas diriku sementara Donghwa hyung diasuh oleh umma.”

Haejin diam. Ia sungguh tidak menyangka kalau kehidupan keluarga Donghae sebegini menyedihkan. Ia bersyukur mempunyai kedua orang tua yang selalu harmonis sampai sekarang. Walau kadang kelakuan mereka membuat Haejin malu. Bayangkan! Sekarang saja mereka sedang travelling mengelilingi Asia Tenggara untuk bulan madu kedua. Bulan madu kedua, katanya!!

“Tapi, sekarang appa-ku sangat sibuk dan jarang berada dirumah. Meninggalkanku berdua saja dengan beberapa pengurus rumah.”

“Karena itukah, kau menjadi pendiam? Kau merasa kau selalu sendiri dan tidak punya teman??”

“Tidak juga. Aku hanya…,” Donghae menghela nafasnya. “Tidak mau merasakan kehilangan lagi. Aku menghindari segala bentuk hubungan dengan orang lain. Teman, sahabat, bahkan kekasih.”

“Waeguraeyo?”

“Bagiku, sahabat terbaikku hanya Donghwa hyung. Ia selalu mengerti keadaanku. Selalu tahu apa yang kubutuhkan. Selalu manjagaku. Dia juga yang mengajariku bermain skateboard. Tapi sekarang, dia berada ditempat yang sangat jauh dariku.”

Haejin nyaris saja meneteskan air matanya. Ia tak menyangka bahwa Donghae menderita semacam trauma masa lalu.

“Memang kakakmu itu, sekarang dimana?”

“Dia di Jepang. Bersama umma-ku dan suami barunya. Aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya karena suami baru umma tidak mengizinkannya mengakses apapun tentang Korea. Termasuk aku, adik kandungnya.”

“Kau…”

“Sudahlah… Toh, tidak ada hubungannya denganmu. Kenapa aku harus menceritakan kisah pahit ini kepada seseorang yang asing sepertimu?” Donghae tersenyum miris.

Ternyata, Donghae tidak semenyebalkan yang kukira. Aneh… Mungkin karena berada didalam tubuh yang sama, aku jadi bisa merasakan perasaanya. Kesedihan yang tak terungkapkan dengan kata-kata. Donghae… kesepian.

KRUYUUKK!

“Hei, kau kelaparan ya? Sepertinya masih ada beberapa ramyun instan di lemari dapur. Kau mau ramyun?” tanya Donghae.

“Jangan! Biar aku yang memasakkan makanan enak untukmu!” Haejin bangkit berdiri dan berjalan keluar kamar. Donghae membawanya kedalam dapur dan Haejin segera membuka-buka lemari persediaan bahan makanan.

“Sudahlah, tidak usah repot-repot,” Donghae merasa segan dengan perlakuan Haejin. Ia memang terbiasa diurus oleh para pembantu di rumahnya. Tapi, ia tidak terbiasa diperhatikan oleh orang lain seperti haejin memperhatikannya.

“Tidak usah sungkan. Kau kan sudah bersedia meminjamkan tubuhmu untukku, jadi, aku harus membalas jasamu!” katanya sambil membuka keran air. Ia menampung air di sebuah panci stainless dan meletakkannya di atas kompor.

“Ehmm, Haejin-ah. Aku mau..tanya,” Donghae menyalakan kompor.

“Ya? Mau tanya apa? Tanyakan saja…,” Haejin membuka bungkus plastik di depannya dan mengeluarkan isi plastik tersebut dan merebusnya dengan air di panci yang tadi. Ia menabur beberapa sendok garam ke dalam air rebusan itu.

“Memangnya…, kau bisa masak??”

DOEEENNNGGG!! Harga diri Haejin meluncur mulus ke dasar bumi. Ia tergagap. “Tidak bisa. Itu kenapa aku memasak spaghetti untukmu. Yang kukuasai hanya membuat pasta.”

(Well, I have to say sorry to Lee Haejin, uri electric leader. Felidis Kyorin and Felidis Chihoon said that you cant cook with well but you made some perfect pasta. *slapped)

J*I*N*H*A*E

Donghae menaikki skateboard kesayangannya dengan kecepatan penuh. Wajahnya terlihat kesal bercampur panik. Ia menulikan telinga dari protes para pejalan kaki yang tak sengaja ditabraknya sepanjang perjalanan. Dan ini semua terjadi karena gadis menyebalkan yang rohnya sedang bersarang (?) di tubuh Donghae.

“Ya ampun! Aku terlambat!!”

“Ki-Ta terlambat! Bukan hanya kau!” Donghae emosi. “Ini semua salahmu, Lee Haejin! Sudah kupanggil ratusan kali tapi kau tetap tidak bangun juga!! Pokoknya, kau harus cari cara supaya kau bisa kembali ke tubuhmu sepatnya!!”

“Iya, aku ngerti! Dasar kau menyebalkan!”

Haejin melengos sementara Donghae masih menaikki skateboardnya dengan kalap.

Huh!! Kalau begini, aku juga tersiksa. Aku jadi tidak bisa mendekati Siwon ssaem dengan tubuh Donghae begini. Belum lagi, tubuhku yang tanpa roh juga masih dirawat di rumah sakit.

“TUNGGUUUUU!! JANGAN TUTUP GERBANGNYAAAA!!!” Donghae mempercepat laju skateboardnya dan meluncur mulus masuk kedalam sekolah. Hyukjae ssaem mengutuk-ngutuk sambil meneriaki nama Donghae yang langsung diacuhkan oleh murid itu.

Donghae menghela nafasnya yang terengah dan bersandar pada lokernya. Setelah ia memasukkan barang-barangnya kedalam loker, ia segera berjalan menuju kelasnya dengan skateboard birunya.

“YA! LEE DONGHAE!!” seseorang meneriakki nama Donghae membuat telinganya nyaris berdenging. Namja itupun berbalik dan mendapati kedua teman Haejin, Lee Kyorin dan Cho Chihoon, sedang berkacak pinggang seolah menantangnya.

“Kyo? Chi? Annyeong~,” Donghae mengangkat tangan kanannya dan melambai kepada kedua gadis itu.

“Cih, tidak usah sok ramah!” Chihoon maju dan berdiri tepat dihadapan Donghae. “Kemarin kau menabrak Haejin, kan??”

“A.. akuu…”

“Kenapa kau sehat-sehat saja sedangkan Haejin jadi koma di rumah sakit?? Apa sih yang kau lakukan padanya??” Kyorin ikut menyemprot Donghae. Yang disembur malah mengerutkan dahinya dengan bingung.

“Apa?! Koma? Memangnya, aku.. ehm.. maksudku, Haejin, dia dirawat dimana sih??”

“Di rumah sakit pusat depan stasiun. Sejak kemarin Siwon ssaem menunggui Haejin di rumah sakit sampai-sampai dia tidak pulang. Ehh, kau, si pelakunya malah ongkang-ongkang kaki sok tidak tahu apa-apa.”

Jadi, Siwon ssaem mendampingiku terus sejak kemarin??

“Kyaaa!! Siwon ssaem begitu mencemaskan diriku!!” wajah Donghae berbinar. Matanya menyiratkan perasaan gembira luar biasa. Serta nada bicaranya…

“Kenapa dia jadi terdengar seperti Haejin? Apa lebih baik dia dirawat juga??” Chihoon bergumam kepada Kyorin melihat tingkah laku Donghae.

“Baiklah! Aku akan menjenguk diriku.. maksudku, Haejin, di rumah sakit. Kalian berdua tolong urus izinku dengan Hyukjae ssaem, ya!” kata Donghae sembari meninggalkan Kyorin dan Chihoon yang terpaku menatap ulah Donghae. “Siwon ssaem, I’m comiiinnngg!!!”

J*I*N*H*A*E

Donghae berdiri didepan sebuah rumah sakit besar kebanggan Seoul. Ia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit mewah itu dan langsung naik lift menuju ruang tempat Haejin dirawat.

Ia segera keluar dari lift begitu pintu terbuka dan celingukan mencari kamar Haejin. Ia baru saja akan berbelok kiri saat ia melihat kedua orang tua Haejin yang masuk ke salah satu kamar di sayap kanan rumah sakit itu. Donghae dan Haejin pun menghampiri ruang kamar tersebut.

Jadi, aku dirawat disini?

Hei, kita kan belum menemukan cara untuk mengembalikanmu kedalam tubuhmu??

Iya, aku tahu!

“Donghae?” panggil seseorang. Donghae menoleh dan mendapati Siwon berdiri di belakangnya. “Kau tidak sekolah??”

“Si.. Siwon ssaem?” Haejin nyaris membuat tubuh Donghae terlonjak ke udara saking girangnya dia bertemu namja yang disukainya. “Apa bapak selalu menunggui Haejin??”

Siwon tersenyum lemah dan mengangguk. “Ya. Aku mengkhawatirkan Haejin.”

Ja.. jadi, demi aku Siwon ssaem rela bergadang semalaman untuk menunggui tubuhku?? Bagaimana ini? Aku ingin bilang suka pada Siwon ssaem tapi, sepertinya ini bukan saat yang tepat…

“Siwon ssaem,” Haejin menatap Siwon dengan pandangan superserius. Membuat guru muda itu mengerutkan dahinya. “Aku… Aku… Aku suka padamu!!”

SSIIIINNNGGG!!!

Eh?? Yah.. terlanjur bilang…

“Brengsek! Aku ini bukan homo, tauk!!”

“Astaga! Iya! Aku lupa kalau aku berada didalam tubuhmu!!”

“Donghae,” Siwon maju dan mendekati Donghae. Ia menatap Donghae tepat di manik mata. Tangan besarnya merengkuh wajah Donghae dan mengelus pipinya.

EEEEEEHHHH???!! Apa Siwon saaem ….

“Aku sangat bahagia. Sejak dulu, aku merasa kalau kau ini maniiiss sekali. Tapi, aku tidak berani mengusik muridku sendiri,” Siwon mendekatkan tubuhnya dan memeluk erat tubuh Donghae. Ia mengelus punggung Donghae naik turun. Membuat namja itu bergidik merinding. “Tapi kalau kau memang memendam perasaan yang sama terhadapku, mulai sekarang kita bisa hidup bersama untuk menyongsong masa depan yang lebih indah..”

HOMOOO??????????!!!!!!!!!!!!!

“ANDWAEEEEEEE…………….!!!!!”

PLAAAAKKK!! Donghae menjauhkan dirinya dan menampar keras pipi Siwon hingga guru itu terlempar kebelakang beberapa senti. Donghae segera berlari dan masuk kedalam salah satu lift yang terbuka. Ia harus segera keluar dari rumah sakit ini!!

“Donghae!! LEE DONGHAE!!!” Siwon berlari mengejar Donghae namun langkahnya harus terhenti saat Donghae masuk kedalam lift. Ia segera berbalik dan kembali ke dalam kamar Haejin.

Sementara itu, dokter yang menangani tubuh haejin baru saja selesai memeriksa kondisi Haejin pagi itu. Dan kabar duka langsung didapatkan oleh kedua orang tua Haejin dan Siwon.

“Saya turut berduka cita. Kami telah mengusahakan segalanya semampu kami tapi, jantungnya memang berhenti berdetak sejak setengah jam yang lalu.”

Dan teriakan dari Ny. Lee memenuhi ruangan kamar tempat tubuh Haejin dirawat. “HAAEEEJJIIIINNNN!!!!”

J*I*N*H*A*E

Donghae terduduk lemas di kamarnya. Pandangannya kosong dan rambutnya berantakan. Ia menolak semua makanan yang disodorkan pengurus rumahnya. Ia juga tidak menjawab semua pertanyaan pengurus rumahnya. Ia terlihat sangat terpukul. Well, sebenarnya bukan Donghae yang terpukul. Tapi Haejin.

“Ya! Jangan sedih begitu.. Aku juga syok, tahu!”

“Aku ini konyol sekali, ya? Berusaha mengejar cinta yang hampa,” Haejin berkata sambil tertawa miris. “Aku tahu kalau aku tidak pantas untuknya. Tapi kalau begini kenyataanya…”

“Haejin-ah, uljjima. Jangan nangis lagi. Lihat! Aku jadi ikutan nangis, nih..,” Donghae mengelap air mata di wajahnya. Ia terisak beberapa kali yang sebenarnya adalah isakkan Haejin. “Tapi, sudahlah. Aku juga sudah lama tidak terlibat urusan orang lain.”

Donghae menyandarkan kepalanya ke sandaran ranjangnya. Ia memejamkan matanya dan air mata itu kembali deras mengalir.

“Sejak orang tuaku berpisah, aku berjanji untuk tidak pernah peduli pada urusan orang lain terutama urusan yeoja. Karena hanya mengingatkanku pada sosok ibuku. Tapi…,” Donghae tersenyum kecil disela isakkannya. “Tak apa. Menangislah sepuasmu. Aku akan menemanimu menangis…”

J*I*N*H*A*E

Vallet parking puttakhaeyo! Hey~ Mr. Simple!

Donghae terlonjak dan membuka matanya dengan terkejut. Ia mencari ponselnya dan menemukannya di saku jeans-nya. Ia melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan angka 4. Ia tidak sadar kalau ia dan Haejin sudah tertidur selama 4 jam.

“Yeoboseyo?” sapa Donghae akhirnya.

“Donghae-ya, ini Ryeowook! Apa kau sudah dikabari oleh Ririn ssaem??” Oh. Namja ceking si kutu buku yang pintar bermusik itu, kan?

“Ririn ssaem? Sepertinya tidak. Memang ada apa?” tanya Donghae sambil mengucek matanya. Ia tak menyangka kalau menangis itu bisa membuat matanya berat seperti ini.

“Lee Haejin, meninggal jam 10 pagi tadi. Jenazahnya akan dikremasi besok pagi jam 9. Dan malam ini, jasadnya akan disemayamkan di sekolah.”

“Mwo.. IGEEE MWOOYYAA??!!!”

Donghae terduduk lemas di lantai. Matanya nyalang menatap tembok putih dihadapannya.

Ti… tidak mungkin! Masa.. aku sudah mati??!!

“Ini bukan saatnya patah hati! Masa tubuhku benar-benar kehilangan fungsinya setelah rohku berpindah tempat??”

“Kalau kita tak cepat kembali, tubuhmu akan dikremasi jadi abu!”

“IYA AKU TAHU!! TAPI GIMANA CARANYA??!!”

Donghae terdiam. Ia mengingat kejadian demi kejadian pindahnya roh Haejin kedalam dirinya. “Kau masuk ke tubuhku setelah menciumku dengan permen itu, kan? Bagaimana kalau dicoba sekali lagi??”

Haejin terperangah. Kenapa cara itu tidak terpikir olehnya sejak tadi??

AAAHH!! Benar! Siapa tahu aku bisa kembali ke tubuhku semula!!

“Eehh? Maksudmu…” -_______- “Jadi kau menyuruhku menciummu lagi, begitu?? Jangan bercanda!! Bibirku masih perjaka, tauk!!”

“Aku juga jijik!! Tapi apa boleh buat?? Hanya itu cara yang kita punya sekarang, kan??”

“Hoo~ jijik yaa??”

“Sudahlah! Kita harus bergegas!!”

J*I*N*H*A*E

Donghae melempar skateboardnya begitu saja di pojokkan pekarangan sekolah. Ia meremas sekantung permen mint dan berjalan dengan langkah berani menuju aula sekolah. Tampak orang-orang berpakaian hitam berlalu lalang keluar masuk ruang aula. Terdengar isakkan disana-sini mengiringi kepergian Lee Haejin, seorang murid yang terkenal karena keceriaanya di seantero sekolah.

Donghae berlari dan menerobos orang-orang yang sedang berduka. “UMMAAA!!!”

Semua orang menoleh. Beberapa tampak terkejut melihat Donghae. “APPA! UMMA! INI AKU, HAEJIN! AKU HARUS MENCIUM DIRIKU DULU!!!”

Orang-orang di dalam aula itu mengeryitkan dahinya. Sementara Ny. Lee bangkit dan menatap Donghae kesal. “Siapa anak itu?! Lancang sekali berteriak-teriak di acara persemayaman anakku!”

“Aku tidak tahu apa maksudnya, tapi dia sudah mengacau disini! Cepat urus anak itu!” Tn. Lee terlhat gusar melihat kehadiran Donghae.

“Tunggu! Aku masih hiduuupp! Haejin masih hiduuupp!!” Donghae berontak dibawah kekangan beberapa guru dan temannya. “Tunggu!! Dengarkan aku!”

“Pak polisi! Tolong amankan berandalan ini! Jangan sampai dia muncul hingga pemakaman Haejin besok!” perintah Tn. Lee kepada beberapa polisi yang ada di tempat itu. Maklum, ayah haejin adalah seorang diplomat yang selalu mendapatkan pengawalan khusus.

J*I*N*H*A*E

“Begini pak…”

“Sudah jangan banyak alasan! Cepat berikan aku nama orang tua dan telepon rumahmu! Kau belum boleh pulang sebelum mereka datang menjemput!”

Donghae mengacak rambutnya frustasi. Ia menoleh ke arah jam dinding dan melihat bahwa jamnya sudah bergerak di angka 8. Itu artinya, tinggal satu jam lagi sebelum jasad Haejin dikremasi. Ia menggebrak meja di depannya dan mengepalkan tangannya.

Astaga, bagaimana ini?? Kita sudah terjebak 15 jam disini. Kalau begini terus, tubuhku terlanjur dikremasi!!

“Hei, Jongwoon, saatnya ganti shift!” perintah seorang polisi dengan tubuh tambun dan nametag Shin DH di dadanya. Ia menepuk bahu rekannya yang tadi membentak Donghae. Donghae melihat kesempatan untuk melarikan diri karena kebetulan kantor polisi itu juga masih sepi karena sekarang baru jam 8 pagi.

DUAAAKK!! Donghae menendang bokong polisi gendut itu dan segera berlari keluar. Ia terhadang oleh polisi bername-tag Kim JW yang tadi sangat menikmati membentak dirinya. Donghae segera menyikut pelipis polisi kurus itu dan melarikan diri sebelum ada yang melihat.

“Cepat Donghae! Kita dikejar waktu!!”

“Iya!! Ini juga sudah kecepatan maksimum! Coba saja kalau ada skateboard,” keluh Donghae.

“Lagian kenapa semalam kau tidak membawanya sekalian ke kantor polisi??”

“Mana aku ingat soal skateboard, sih!! Dasar bodoh!!” Donghae menggerutu. Ia berhenti saat melihat dua anak perempuan yang sedang berjalan sambil menuntun sepedanya karena sambil mengobrol satu sama lain. “Aku pinjam ini, ya! Kamsahamnida!!”

Dan Donghae pun meluncur di aspal rata dengan berbekal sepeda rampasan. Ia berusaha secepat mungkin sampai di sekolah agar tidak terlambat.

“Semoga masih sempat!!” gumam Donghae sambil membuka permen mint-nya dan mengunyahnya. Ia lega saat pintu gerbang sekolahnya sudah tampak di pelupuk mata.

“Mobil Jenazah sudah tiba!” Jungsoo ssaem datang tergesa memasuki aula persemayaman. Kedua orang tua Haejin berdiri dan menatap putri mereka untuk terakhir kalinya.

“Kami turut berbela sungkawa,” Siwon ssaem menunduk hormat kepada kedua orang tua Haejin.

“Haejiiiinnn,” Kyorin, Chihoon, dan beberapa teman Haejin yang lain terisak menngiringi kepergian Haejin.

“TUNGGUUUUUUUUUU!!!!!!!!!!!!!” Donghae melempar sepedanya lalu menerobos masuk dan langsung memposisikan dirinya disamping peti Haejin. Ia tidak menghiraukan ucapan-ucapan kasar. Matanya hanya terfokus kepada wajah Haejin yang sedang terlelap dihadapannya.

“Berandalan kemarin!!” ujar Tn. Lee. Dan sebelum semuanya bisa bertindak, Donghae telah mendekatkan bibirnya pada bibir Haejin. Merasakan sentuhan hangat antara dua bibir itu saat mereka bertemu. Menumpahkan segala do’a agar cara mereka berhasil. Donghae memejamkan matanya dan memohon dalam hati.

Kumohon!! Kembalilah seperti semula!!

Haejin membuka matanya perlahan. Ia melihat wajah Donghae sebagai wajah pertama yang dilihatnya. “Donghae…”

Donghae terkekeh dan tersenyum pada Haejin. “Meski semua ini terasa konyol, ternyata cara ini berhasil juga.”

Haejin tersenyum gembira. Ia memeluk leher Donghae dan menariknya kedalam peti.”A.. Aku hidup kembali!!!”

“KYYAAAA!! HAEJIIINN!!” dan semua orang yang ada di aula berhamburan keluar tak terkecuali kedua orang tua Haejin dan kedua sahabat Haejin, Kyorin dan Chihoon.

J*I*N*H*A*E

Sudah satu minggu sejak insiden ‘bangkit’nya Haejin. Sampai sekarangpun, tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu kecuali Donghae dan Haejin sendiri. Termasuk Kyorin dan Chihoon. Beberapa anak masih menatap Haejin dengan pandangan takut. Tapi Haejin tidak peduli.

“Hae-ya! Coba lihat ini! Bulan ini, Libra lagi bagus untuk perihal asmara loh!!” Haejin berdiri disamping kursi Donghae sambil membuka majalah astronominya. Ia sudah berjanji agar tidak bergantung lagi kepada mantra-mantra.

“Kau ini, zaman sekarang masih saja percaya dengan ramalan bintang macam begitu..” Donghae bersandar pada kursinya sambil memainkan PSP milik Kyuhyun, anak kelas 2-A.

“Tapi ada benarnya juga loh! Kudengar, Min Sunye dari kelas 3-B menyukaimu! Waahh, sekarang kau terkenal yah,” kata Haejin dengan sedikit menyindir.

Donghae berdiri dari kursinya dan mengantongi PSP putih itu. Ia membuka bungkusan kecil dan segera melahap isinya. “Kau ini bicara apa sih?? Sudah ahh, aku mau ke kelas Kyuhyun dulu.”

“Eeh? Permen mint?? Memangnya masih ada??” Haejin mengikuti langkah Donghae. Ia menarik lengan Donghae saat mereka berdua mencapai pintu kelas. “Ya! Itu kan punyaku!!”

“Ya!! Jangan dorong-dorong!! Aku jatuh nihh…”

“Kembalikan permenkkuu!!”

GUBRAAKK!!

Chu~

“Yah, jadi satu lagi…”

F. I. N

“Ommonnaa!!! Kenapa endingnya begini sihh?? Gantung sekali,” Haejin men-scroll bolak-balik salah satu halaman wordpress yang sedari tadi dibacanya. Ia memang hobi membaca fanfiction tentang dirinya yang dibuat oleh para Flyers. Dan kali ini, ia mendapatkan fanfict yang memuat cast diriya bersama Donghae. Jarang-jarang ia di pair dengan Donghae menjadi cast utama. Biasanya, ia hanya akan jadi adik Donghae atau Donghae akan jadi kakaknya dan salah satu dari mereka akan menjadi peran pembantu. Yeah, kau tahulah. Mokpo’s Sibblings. Dan fanfict yang bertebaran selama ini biasanya berputar pada JinTaec atau JinKwang. Karena itu, ia sangat senang saat ada Flyers yang membuatkannya fanfict dengan pair kekasihnya sendiri. Tapi ternyata, ceritanya malah seperti ini.

“Dan apa itu?? Bawa-bawa nama Min Sunye segala??”celoteh Haejin.

“Ada apa sih onnie? Ribut sekali,” Chihoon datang dari dapur sambil membawa sekaleng soda dan sebungkus besar cemilan ringan.

“Ini. Aku menemukan fanfict JinHae yang diadaptasi dari komik jepang. Dan genre ceritanya fantasi gitu. Yang buat JinHaeternal. Kau juga jadi salah satu cast disini. Tapi tidak ada Sungmin oppa,” Haejin menekankan kata oppa yang langsung disambut oleh lemparan bantal oleh magnae evil Felidis itu.

“Aku mau baca dong, onnie,” kata Chihoon setelah gagal menimpuk E(vi)LECTRIC LEADER-nya tersebut.

“Sebentar ya, aku ketik komen dulu. Rasanya tidak sopan sekali sudah ngobrak-ngabrik rumah orang tanpa meninggalkan jejak.”

– CUT –

68 thoughts on “JinHae – Minty Mint, KISS!!

  1. wkwkwk..aku ngakak baca.ny eonniii
    kerennn..coba ada recommend song

    aku penasran gmna tuh rsa.ny terperangkap dlm tubuh seseorg dlm tbuh cowok lg
    wahooooooo..mau

  2. Wah… Baru baca… Ahahaha
    bentar2…
    Aku jd bgg. Jd ni yg nulis aslinya siapa?? *garuk2 pala*
    Tapi aku uda prnh baca komiknya!! Kocak…!!!😄
    Keren deh adaptasi dr situ. Watase Yuu kan critanya oke2… =P

  3. LOL LOL LOL . Gak berenti ngakak baca ff ini. Huahahaha sampe disangka gak waras ngakak sendirian XDD
    syok banget ternyata siwon homoooo .. Aigooo ckcckck
    keren bgt ff.a😀

  4. ya ampun kocak amat ya… ketawaaaaaaaaaa aja… jadi satu eh,, tapi kisahnya si WOn2 gimna itu? terus kisah cintanya JinHae kok ga ada… huwe.. keeren2

  5. Lol yang terakhir nyindir😄
    Nyindir siderrrrr~
    hahahahaha gaul deh ini ff
    Tapi kenapa nggak pacaran?!
    Paling lucu waktu haejin nge geret donghae ke peti mati😄
    Lucuuuu

  6. aduh ngakak aku bacanya, serasa baca komik di novelin..😀
    kalo ff ini pake karakter asli haejin, itu haejin bukannya nyetop donghae buka baju, hhe..😀

    seru, sering2 bikin adaptasi ya..😀

  7. =Dkώk=˚°kώk==Dώkψkkώk˚°
    Mantranya ga ilang ya?? Balik lagi tiap mreka makan permen mint n kissing…
    Kalo gtu permen mint mulai skrg dilarang bagi JinHae couple ya.. Ntr gbs kisseu-kisseu lagi mreka😀

  8. wkwkwk lucu banget dah pas Jinhae bersatu gitu wkwk berantem mulu😄
    oya di sini siwon itu ehm… tidak bisa diungkapkan dgn kata2 #plaak wkwk
    nice ff onnie!!😀

  9. WHAT IS THAT?!?!?!?!?! MICHEOSOOOO.. getek banget baca ini. dan out of my imagination banget endnya…. masa nyatuu lagii gilaa hihi😄 but, no way!! uri abang kuda kenapa homoooo T_T

  10. Hai aku reader baru
    Baru mampir eh malah langsung baca yg bergenre fantasy. Hehe
    Bagus ceritanya walaupun ini cerita adaptasi yg sebenernya aku engga tau cerita yg aslinya kaya gimana. Ending nyaa emang rada gantung nih.. hehe *reader yg cerewet..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s