{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan ~2 From ?~

Warning!!!

FF ini berisi percakapan dewasa yang cukup vulgar, jadi disarankan bagi yang di bawah umur, inget Papa-Mama ya ^^

Rate : PG-17

Genre : Adult Romance, Humor

It’s Donghae POV by the way

*

”Aku tidak bisa!”

   Haejin menatapku dengan kaget, aku bisa melihat semburat merah jambu di pipinya yang berisi itu. Aku berusaha menahan diriku sekuat tenaga, aku tidak boleh dikuasai oleh iblis manapun, yang nantinya justru akan semakin mencelakakan diriku dan tetunya kekasihku.

   Posisi kami sudah sangat ’nyaris’ jika itu adalah kata paling sopan yang bisa kupikirkan. Aku tahu dia tidak pernah ’seterbuka’ ini di panggung, dan dia juga tahu aku tidak pernah ’seterbuka’ ini sebelumnya. Terbuka dalam arti, tentu saja, helai demi helai pakaian kami. Aku nyaris melanggar sumpahku, atau batasanku sendiri.

   Jarak kami sudah terlampau dekat, penghalang kami sudah tipis, hanya perlu selangkah lagi, dan terjadilah sudah semuanya. Tapi terima kasih, Tuhan, kau masih bisa menyadarkan aku.

   ”Wae?”

   Aku menangkap nada kecewa, dan yang lebih parahnya, terluka. Sial! Aku paling benci ini. Keinginan setiap pria sejati di dunia ini adalah memenuhi segala keinginan wanita yang mereka cintai! Tapi aku tidak bisa! Tidak sekarang… aku mundur menjauh darinya dan merapikan pakaianku.

   ”Hae, waeyo?!” dia bertanya.

   Aku memejamkan mataku rapat-rapat sebelum akhirnya menoleh padanya. ”Sayang, ini tidak mungkin! Kita tidak boleh melakukan itu, sebelum ada ikatan suami-istri yang sah! Dan lagipula, itu dilarang oleh agama…”

   Dia memutar matanya. Aku tahu apa yang ia pikirkan, menjadi gadis yang harus berjuang sendirian sejak kecil, diterpa cobaan hidup yang berat, membuatnya tidak lantas percaya pada adanya Tuhan.

   ”Terlepas dari semua itu, aku tidak mau kita menyesali perbuatan gegabah ini.”

   Dia diam. Kemudian dia merangkak ke sisi kasur sebelah sana dan berbaring. Diam memunggungiku. Aku tahu dia marah padaku! Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi! Apa pun, asal bukan dia marah padaku dan mendiamiku. Aku mendekatinya lagi dari belakang.

   ”Jangan sentuh aku kalau pada akhirnya kau hanya akan meninggalkanku!”

   ”Aku tidak bermaksud begitu…” erangku frustasi.

   ”Aku perempuan, Hae!” dia menjerit keras dan berbalik, dan oh… ya Tuhan! Kenapa harus ada kristal-kristal bening yang muncul dari kedua matanya. Bibirku kelu, dan dadaku seakan-akan diremas mengingat bahwa akulah, penyebab tangisnya kali ini. ”Aku merendahkan diriku berulangkali di hadapanmu hanya karena aku meminta diriku dimiliki seutuhnya olehmu! Hadapi saja kenyataan dan bilang saja lurus pada wajahku kalau kau memang tidak mau!” teriaknya.

   ”Ya ampun! Aku pria normal! Mana ada yang mau menolakmu?!” balasku tak sabar. ”Tapi ini bukan hanya sekedar nafsu.”

   ”Apa?! Cinta?! Kau bilang kau cinta padaku! Kau sering bertanya-tanya padaku, apa bukti cintaku padamu! Kau sering kali meragukan cintaku padamu, dan apa yang kuberikan padamu untuk membuktikan cintaku padamu justru kau tampik!” dengan histeris Haejin mengeluarkan semua yang ada dalam pikirannya.

   Aku merasakan sebuah tonjokkan pada dadaku. Karena kebodohanku juga ini terjadi. Aku yang tidak pernah bisa merasa yakin bahwa dia mencintaiku seperti aku mencintainya, yang membuat hal ini terjadi.

   ”Percayalah, aku mau…” kupeluk dia.

   Dia mendorongku menjauh. ”Diam! Lepas!” sifat keras kepalanya yang sudah kukenal kembali muncul. ”Jangan sentuh aku!” ucapnya histeris.

   ”Salahkulah kau jadi begini, tapi aku benar-benar tidak berpikir untuk…”

   ”Aku tidak mau dengar!” dia menutup telinganya dengan aliran air mata yang tak terbendung. ”Kau menolakku, dan itu sudah cukup bagiku, Lee Donghae-ssi! Sekarang kau diam!” aku tidak bisa aku terus berusaha meraihnya yang tetap memukuliku dengan kasar.

   ”Maaf, maaf… tapi…”

   ”Kau tidak mau!”

   ”Demi Tuhan, Haejin-ah, aku mau!” erangku frustasi. ”Tapi ini tidak semudah dan sesimpel yang kau bayangkan! Hidup bukan hanya sekedar berakhir bahagia, setelah kita saling memiliki. Banyak masalah yang masih harus kita pikirkan, perusahaanmu, kontrak kerjamu…”

   ”Kalau aku memikirkan itu semua maka aku takkan mau jadi kekasihmu, Lee Donghae! Aku sudah melupakan segala kontrak itu sejak kau memintaku menjadi kekasihmu!” balasnya.

   Aku mengerang frustasi dan menjambak rambutku, aku tidak berharap justru akan melakukannya dalam keadaan seperti ini, tapi apa boleh buat, toh aku juga sudah yakin. ”Kalau begitu kita menikah!” sergahku.

   ”Mwo?!” matanya melebar kaget, dan… ngeri?!

   Aku memandangnya bingung, dan menyesal! Tak seharusnya memang aku melamarnya dalam kondisi terburu-buru seperti ini. Bahkan hadiah itu tidak kubawa, meski memang tak mungkin kubawa-bawa, tapi setidaknya simbolisnya saja tidak kubawa. Tapi biarlah, jika Haejin setuju, aku akan mencarikannya cincin disini, segera. Dan kami akan menikah di Las Vegas, pikirku pendek. Drive thru wedding, aku pernah mendengarnya.

   Tapi mempelajari reaksinya, kurasa aku salah. Dia memang menginginkan aku begitu inginnya, tapi… menikah?

   ”Kau jangan bercanda untuk hal seperti itu…” ucapnya lirih.

   Aku tidak mengerti! Sebetulnya yang mana yang bisa jadi bahan bercandaan untuk saat ini? Pernikahan atau seks?

   ”Aku tidak bercanda!”

   ”Tapi pernikahan itu sesuatu yang serius,” dan kulihat Haejin mulai turun dari tempat tidur dan mencari piyamanya, tubuhnya memang hampir polos, dan aku bisa mati lemas melihat lekukan tubuhnya yang berwarna cokelat menantang itu. Tapi kemudian dia sudah menyampirkan piyamanya, dan mengambil gaun hitam tipisnya yang tadi kubuang ke lantai di tengah-tengah mabuk cintaku. ”Aku… aku… belum berpikir sampai kesana.” Dia nampak gugup, dan tidak mau menatap mataku.

   Seharusnya aku lega, karena pada akhirnya dia berhenti memaksaku untuk melakukan hubungan seks, tapi… ketika dia menolak lamaranku, tak kupungkiri sedih melandaku. Apakah ini balasannya karena aku menolaknya?

   ”Sayang,” aku memelankan suaraku, aku tidak mau kami memakai emosi. Seharusnya ini adalah awal dari liburan indah kami, aku tidak mau begini! Yah, aku lupa pada tabiat Haejin, yang mungkin memang menelan bulat-bulat saran dari Kwan Nara, kekasih Cho Kyuhyun.

   Mata dibalas dengan mata. Seorang gadis evil macam Nara, pastinya memakai prinsip ini dalam hubungan, dan dia mengajarkan Haejin untuk itu. Selama ini aku yakin bahwa itu hanya pengaruh Nara, tapi setelah ulang tahunku kemarin, aku tahu bahwa Haejin sebetulnya sama seperti Nara, hanya saja lebih memabukkan, menurutku. Karena dia bisa membuatku tersesat, dan menghujamku pada saat aku lengah.

   Gadisku ini berbahaya.

   ”Aku tidak bermaksud untuk itu,” aku membalik tubuhnya menghadapku. Matanya yang bulat dan cokelat kelam, bulu matanya yang lentik, pipinya yang berisi, dan bibirnya yang… aku tidak sanggup melukiskannya dengan kata-kata. Aku mengelus pipinya. ”Kau tahu aku sama besarnya menginginkanmu seperti kau menginginkanku. Aku ingin…” aku mendekatkan wajahnya padaku, dengan kedua tanganku pada kedua pipinya. ”Aku mau meledak menahan itu.”

   Dia menatapku sayu. ”Lakukanlah kalau begitu… kenapa harus kau tahan?” pintanya nyaris memohon, dia mengiba! Dia mulai lagi, tangannya mulai diletakkan lemah di atas dadaku dan dia mulai mengelusnya perlahan. ”Hae… aku hampir mati menginginkanmu saat ini.” Suaranya tercekat.

   Aku mengecup bibirnya cepat, karena ingin meredakan sakit yang dipendamnya, sakitnya yang harusnya bisa ia luapkan, dia mencakar dada telanjangku dan mencoba menggodaku, ya Tuhan anak ini!

   ”Haejin!” aku mulai melepaskan diri darinya, dan dia mengerang frustasi lagi lalu mulai menangis.

   ”Apa pun asal jangan ini!” aku mencengkram kuat kedua pergelangan tangannya, dan kutundukkan wajahku dalam-dalam berusaha menguasai diriku. Aliran darah menuju kepalaku sudah sangat deras, dan seluruh bagian tubuhku sudah tegang hanya dengan gerakan tangannya!

   Haejin masih menangis. Tangis mendamba yang indah, aku tersanjung melihatnya begitu menginginkanku sampai sebesar ini. Ya Tuhan, aku goyah, aku benar-benar ingin mengabulkannya. Kugigit bibirku kuat-kuat untuk menahan desiran hasrat yang mengalir.

   ”Ya sudahlah, lepaskan aku.” Haejin mendorongku.

   ”Haejin-ah,” keluhku.

   ”Kau tidak mau!”

   ”Aku mau! Tapi tidak bisa!”

   ”Itu sama saja!”

   ”Itu berbeda!”

   ”Terserah!” dia bangkit dan mengambil bantal dan guling.

   Aku panik dan berdiri. ”Kau mau kemana?”

   ”Aku tidur di sofa!”

   ”Haejin-ah, jebal jangan seperti ini, alasanku sudah jelas! Aku tidak mau hubungan ini dilakukan atas ketergesaan dan ketidaksiapan kita! Kalau nanti kita menyesalinya bagaimana?!”

   Tapi Haejin tidak menggubrisku, dia meletakkan bantalnya di sofa, berikut guling, lalu merebahkan tubuhnya disana. Aku berjalan ke arah sofa, dan dia sudah memejamkan matanya.

   ”Aku yang tidur disini!”

   ”Nah!” dia membuka matanya menatapku tajam. ”Pada intinya memang kau tidak mau bersamaku!”

   Aku salah langkah!

   ”Kalau kau memang tidak menginginkanku ya sudah, kenapa harus menjadi pacarku?!” rajuknya. ”Sudahlah, Hae… aku lelah… HAE!” tak kupedulikan teriakannya dan pukulannya lagi, kugendong dia dan kubawa bantal dan gulingnya lagi, dan kuhempaskan ia ke tempat tidur. ”Apa yang membuatmu bisa memaksaku disini?! Aku tidak mau disini!”

   ”Sudahlah,” kukunci tubuhnya dengan pelukanku. ”Sudahlah, kita bicarakan soal ini besok lagi, oke?” bujukku. ”Aku… aku… akan memikirkan keputusanku lagi… tapi kumohon jangan pergi, ya?” mohonku.

   Aku tidak bisa jamin apakah bisa memegang janjiku, tapi apa pun asal dia tidak lepas dari pelukanku. Aku sudah kacau, dan tak mungkin menjadikannya pelampiasan, karena otakku bekerja waras. Setidaknya aku butuh dia, butuh panas tubuhnya. Kukecup bibirnya, namun dengan sengaja kukunci tangan dan kakinya agar tidak bergerak.

   Aku menyesap bibirnya lambat, intens, memberikannya cinta, bahwa aku menginginkanya sebanyak ia menginginkanku, namun tidak sekarang. Akan indah pada saatnya, Sayangku…

   ”Kau menyiksaku…” engahnya.

   ”Apa yang bisa kulakukan untuk menguranginya?” tanyaku sungguh-sungguh, semakin kudekatkan jarak kami, dan dia terkesiap merasakan perubahan dari tubuhku. Dia menatapku kaget. ”Kau tahu aku tidak berbohong, kan? Aku juga mau… tapi ini jelas belum boleh, Sayang… maka katakan apa yang harus kulakukan agar kau tidak sesak?”

   Dan Haejin mengisak memelukku erat-erat.

*22 Oktober 2011, Madison Square Garden, SMTOWN Concert*

Rehearsal sudah selesai kami lakukan, kami total akan membawakan delapan lagu sebagai Super Junior, dan banyak dari kami yang akan berpisah-pisah untuk kolaborasi dengan anggota SMTOWN lainnya. Aku dan Eunhyuk akan tampil bersama banyak main dancer SMTOWN untuk kolaborasi dance. Eunhyuk dan Shindong Hyung juga akan bergabung dengan Key dan Minho dalam lagu A-Yo. Lalu Kyuhyun juga akan duet dengan Seohyun dengan lagu Way Back Into Love.

   Kulihat Haejin sudah mulai terbiasa dengan SMTOWN Family. Terutama dengan gadis-gadisnya. Jujur, awalnya sedikit kesal pada kekasihku itu, mengingat dia gampang dekat dengan namja, namun sukar dekat dengan yeoja! Dengan SHINee dalam sekejap mata mereka nampak akrab semenjak pertemuan mereka dulu di Star Golden Bell, juga fakta bahwa adiknya, Kyorin, adalah teman satu sekolah Taemin.

   Dengan Yunho Hyung dan Changmin saja dia langsung akrab, mengingat Yunho Hyung juga berasal dari daerah yang sama dengan kami berdua, meski tidak persis di Mokpo. Dan Changmin hanya karena drama mereka. Aku mengesampingkan ingatanku melihatnya pernah beradegan mesra, bahkan kiss dengan Changmin.

   Tapi agak sulit bagi Haejin untuk berteman dekat dengan adik-adik SNSD dan f(x)-ku. Tapi, setelah dua konser SMTOWN terakhir, kulihat keadaan mulai berubah. Haejin mulai dekat dengan member SNSD dan f(x), terutama Amber! Dia getol sekali mendekati Amber, yang membuat akhirnya SNSD dan f(x) menjadi dekat padanya, karena dia diledek melihat bayanganku pada Amber.

   ”Jangan salah cium, Jin-ah, itu Amber, bukan Hae Oppa!” ledek member SNSD.

   Aku cuma nyengir memungginya, lama-lama aku memang cemburu pada Amber. Haejin lengket sekali dengannya, sebentar-sebentar sudah menggelayut manja, dan sebentar-sebentar sudah mencium pipinya gemas. Member SNSD dan f(x) lainnya malah menikmati tingkah pacarku itu.

   ”Onnie, nanti Hae Oppa marah padaku,” kekeh Amber meledek.

   ”Ah biar saja~” ujar Haejin cuek. ”Dia toh tidak menyukaiku sebesar itu, masih banyaaaaaak tugas dunia dan tugas negara yang dia emban, ya kan?” Haejin lagi dan lagi menyindirku.

   Sudah sejak bangun tidur dia begini. Aku cuma bisa menatapnya nanar dari sini, dia mengacuhkanku. Tidak benar-benar mengacuhkanku sih, tapi yang jelas, dia masih kesal karena aku menolaknya semalam. Huh, padahal aku sudah menawarinya menikah, tapi dia tidak mau. Memang sih aku juga gegabah memikirkan itu, hanya karena ingin melakukan hubungan intim. Tapi kurasa Eomma, dan Super Junior tidak akan melarang.

   Mungkin perusahaannya yang melarang, tapi tak apa, kami bisa menikah diam-diam kan sebetulnya? Sejak sarapan, dia duduk disampingku, tapi tingkahnya kelewat ceria, dia menyapa teman-temanku yang lain dengan ceria, kelewat ceria malahan. Dan begitu Amber datang, dia malah duduk bersama Amber tanpa bisa kucegah.

   Sekarang pun ketika kami siap tampil setelah rehearsal dia masih bersama Amber. Dia tidak ke kamar ganti Super Junior bahkan untuk sebentar saja. Bolak-balik dia di ruang ganti SNSD, f(x), CSJH, dan BoA. Ketika kami berkumpul di ruang makan, saat f(x) tampil pun, Haejin memonitoring penampilan mereka melalui televisi yang disambungkan oleh kamera di depan, sementara aku makan di sampingnya.

   Akhirnya kami, Super Junior tampil, dan aku kecewa Haejin justru muncul pada saat-saat terakhir, itu pun dia hanya di depan kamar ganti, dan kami yang sedang keluar dari kamar ganti. Dia menyemangati seluruh member, tapi denganku dia tidak berkomentar apa pun, tak juga menolak sih ketika kucium, tapi jelas semakin meyakinkanku kalau dia masih ngambek. Tapi, bukti bahwa dia masih menyemangatiku dalam keadaan marah pun membuatku optimis bisa menyelesaikan penampilan kami dengan brilian.

   Begitu selesai tampil sebagai Super Junior, apa yang kudapat? Haejin menonton televisi, terlihat jelas dia juga melihat penampilan kami, tapi dia diapit oleh Minho dan Key, serta Changmin dan Yunho Hyung juga. Dikelilingi empat pria, meski aku tidak cemburu pada Key! Hanya pada Key.

   Mereka tertawa-tawa senang mendengar entah apa yang diucapkan oleh Minho, tapi keempat lainnya begitu terhibur. Aku memutuskan untuk mengacuhkan hal itu dan dengan terburu masuk ke dalam kamar ganti dengan sebal, kubuka jas dan kemeja hitamku tergesa-gesa dalam kecemburuan.

   ”Ya ampun, Hae, mereka cuma ngobrol, tidak melakukan apa-apa, kan? Aish! Kau ini…” Sungmin Hyung menyenggolku tak sabar. Aku cuma menggerutu sedikit dan membuka kemejaku, hingga menyisakan kaus tanpa lengan ketat berwarna putih.

   Aku balik badan padanya, yang tengah melakukan hal yang sama padaku. ”Apa yang terjadi padamu Hyung kalau Chihoon berbicara dengan pria lain?”

   ”Ya ampun, memangnya Chihoon hanya bisa bicara dengan perempuan saja? Tidak, kan?”

   ”Kang Minhyuk?!” tembakku, masa bodoh dengan rasa cemburunya.

   Sungmin Hyung menyipitkan matanya, aku tahu dari Haejin kalau Chihoon sangat mengagumi penggebuk drum dari band CN Blue itu, dan hanya itu yang bisa membuat Sungmin Hyung mendadak malas makan, meski tidak pernah mau mengaku.

   ”Setidaknya jika mereka melakukan itu di hadapanku aku tak punya alasan untuk marah, mereka kan tidak melakukan pertemuan rahasia atau sebangsanya.” Kilah Sungmin Hyung lagi. ”Kalau kau menekannya, justru dia akan diam-diam, bodoh!”

   Aku cuma mendengus.

   ”Tapi kalian memang aneh,” Eunhyuk si bodoh itu berlagak sok polos sekarang.

   Leeteuk Hyung terbatuk.

   Aku cuma diam saja! Ini semua gara-gara mereka berdua! Andai saja mereka berdua tidak mengintip kami kemarin, mungkin kejadian ini tidak akan berlanjut berkepanjangan seperti ini. Kuputuskan untuk mengacuhkan mereka.

   ”Kalian bertengkar ya?” tanya Eunhyuk sok polos setelah memakai kaus pink SMTOWN, dia mengedip-ngedipkan matanya padaku.

   Kudorong kepalanya dengan dua jari. ”Jangan sok manis! Takkan kucium!”

   ”Eiiiy!” dia mengernyit jijik. ”Bibirmu sudah terkontaminasi, aku tidak mau dicium lagi, kau sudah tidak suci lagi.” Kekehnya bahagia, ingin kutonjok wajah monyetnya itu.

   ”Diam kau!” omelku.

   ”Aaaah! Tak sabar mau berlibur,” Ryeowook di sudut ruangan meregangkan otot-ototnya. ”Meski memang masih seminggu lagi, barulah jatah berliburku datang. Tapi aku tidak sabar, Eomma dan Appa, serta aku akan pergi ke Jejudo.”

   ”Ah, envy you!” Yesung meninju bahunya dengan penuh gaya, padahal wajahnya sama sekali tidak kelihatan menyesal. ”Orangtua dan adikku ada di Seoul, jadilah aku harus liburan bersama mereka di Seoul.”

   ”Cih~ katamu kau akan melakukan wisata kesehatan?” ledek Shindong.

   ”Oh, keureom! Aku harus membuat trend baru dikalangan anak muda jaman sekarang yang kerjanya menghabiskan uang untuk berpetualang di luar negeri, dengan melakukan wisata lintas laboratorium.”

   ”Terima kasih banyak, Hyung, meski bahasamu menarik, kesimpulan yang bisa kutarik dari bahasamu adalah kau penyakitan!” sergah Kyuhyun. ”Dan kurasa karena acara KBS Vitamin kemarin kau memutuskan untuk berobat.”

   ”Jangan mentang-mentang kualitas spermamu bagus, Cho Kyuhyun…”

   Leeteuk, Shindong, Sungmin, Eunhyuk, aku, Ryeowook, dan Kyuhyun langsung tersedak mendengar penuturan lugas dari Yesung.

   ”Ya ampun, Hyung, aku tidak menyangka! Kau ternyata mau periksa kesehatan bukan karena rhinitis melainkan memperbaiki kesuburanmu?! Makan tauge yang banyak, Hyung!” saran Eunhyuk bodoh.

   Aku menggelengkan kepalaku stress. Kenapa topik disekitarku belakangan ini hanya seputar seks, sih?!

   ”Ne, padahal dia paling sering minum, bahkan Eunhyuk yang tidak pernah minum pun tingkat kesuburannya kalah,” tiba-tiba justru Sungmin Hyung ikut membahas hal ini.

   Aku berusaha menatap ke segala arah, asal bukan mereka.

   ”Apa tergantung usia?” celetuk Kyuhyun sok penasaran. ”Jangan-jangan semakin uzur kita, kesuburan semakin menurun?”

   ”Kalau begitu Leeteuk Hyung harus segera menikah!”

   ”Ah, jebal! Bisa tidak berhenti membicarakan hal ini?!” teriakku pada mereka. ”Kita sedang konser! Dan ini bukan Super Show! Diluar banyak member SMTOWN lainnya. Apa yang mereka bicarakan tentang kita jika kita membicarakan masalah semacam ini?”

   Mereka bertujuh menatapku kaget, aduh! Apakah aku terlalu histeris tadi ya?

   ”Donghae sensitif sekarang kalau masalah ini ya?” celetuk Eunhyuk dengan cengiran tak berdosa.

   Dan kali ini sepatuku berhasil melayang pada rambut kuningnya.

   Konser kami berlangsung dengan sukses. Aku terharu melihat hampir seluruh arena Madison Square diisi oleh nyala lampu biru safir itu, aku merinding ketika melihat lampu-lampu itu menyala tadi. Akhirnya acara benar-benar berakhir setelah persembahan kami SMTOWN.

   Kami kembali ke hotel setelahnya. Haejin terlebih dahulu, demi menghindari fans yang jelas akan mengikuti kami. Di lobi, Manajer Hyung, memanggilku untuk mengikutinya ke dalam kamarnya.

   ”Ini yang kau pesan, Donghae-ya,” di dalam kamar dia memberikanku sebuah amplop cokelat besar, yang langsung kuambil dengan tatapan bingung. ”Dua buah tiket ke Saipan, paspormu dan Haejin sudah kami urus tadi. Tiket lainnya sudah kukirimkan ke Mokpo.”

   Aku mengangguk, tapi… aku mendongak kaget. ”Mokpo?!” tanyaku bingung. ”Ini tiket ke Saipan kan, Hyung?” tanyaku heran.

   ”Iya, tiket ke Saipan. Kau kan minta ke Saipan, setelah bingung kendala bahasa jika berlibur ke Eropa.”

   Aku memberengut, jangan diingatkan masalah bahasa! Ini masalah harga diri, bagaimana mungkin aku dan Haejin ke Eropa, jika hanya Haejin yang bisa bahasa Inggris? Memalukan harkat dan martabatku sebagai laki-laki saja.

   ”Lalu kenapa ada yang dikirim ke Mokpo maksudmu?” tanya Junghoon Hyung lagi.

   Aku mengangguk.

   ”Untuk Ibumu, kan?” tanyanya ikut bingung.

   ”Eomma?!” tanyaku bingung.

   ”Oh.” Junghoon Hyung mengangguk. ”Jungsoo bilang kau minta tambahan satu tiket untuk ibumu ke Saipan, dan memintaku menyiapkannya karena dia meminta tolong padamu. Sudah kukirimkan, kurasa ibumu akan segera menerimanya. Lengkap dengan paket tiket Incheon-Tokyo, dan Tokyo-Saipan.”

   Mataku membelalak lebar. Kenapa jadi ada Eomma disini?! Omo! Leeteuk Hyung yang memesan?! Aaaah~apa yang harus kukatakan pada Haejin dan rencana liburan kami yang hanya berdua?! Aish! Leeteuk Hyung itu… aku menghentakkan kakiku saat pergi dari kamar Junghoon Hyung dan pergi menuju kamarku sendiri.

   Kedengarannya Haejin sedang mandi, dan aku melempar begitu saja amplop berisi tiket kami, dan langsung berbaring dengan gusar. Tak lama kudengar pintu kamar mandi terbuka dan aku melirik sedikit, Haejin keluar dengan wajah segar. Kepalanya di tutup handuk, dan dia mengenakan kaus putih super longgar, sabrina kalau tak salah namanya. Dan di dalamnya dia memakai dalaman hitam, yang kontras ketika tercetak dengan kaus putinya. Dia memakai celana piyama bermotif Tweety dan mengacuhkanku. Dia berjalan menuju pantry lalu menuangkan botol air mineral ke dalam gelas.

   Dia kemudian minum dan berjalan lagi menuju sofa, lalu menyalakan televisi, dia berbaring di sofa sambil melepaskan handuknya. Rambutnya basah, dan aroma raspberry segar mulai menguar. Aku berbaring miring agar melihat ke arahnya, dia tidak mengacuhkanku.

   ”Momma~” panggilku.

   Dia masih diam saja.

   ”Momma,” panggilku lagi, tak menyerah.

   Dan dia juga masih cuek.

   ”Mau sampai kapan kau mengacuhkanku?” tanyaku putus asa masih berbaring miring dari atas ranjang. ”Ayolah, jangan marah.” Bujukku. ”Kau tahu kan apa yang terjadi?”

   Dia masih diam saja.

   ”Ah, Momma… jebal!” rengekku lagi.

   Dia mendesah berat, tak menatapku tapi menjawab malas. ”Apa sih? Aku sedang menonton.” Keluhnya.

   Kuputuskan untuk menghampirinya, aku memaksa berbaring di pangkuannya, dia tidak menolak, untunglah. Tapi dia tidak menatapku, tangannya pun yang biasanya mengelus rambutku, tidak bergerak. ”Ayolah, Sayang, jangan marah begini… Sayang, Momma.”

   ”Aku tidak marah.”

   ”Kau cemberut terus.”

   Dia cuma berdecak, lalu menjawab. ”Aku tidak cemberut terus, kok.”

   ”Ini apa?” kutunjuk wajahnya dari pangkuannya.

   ”Aku lelah.”

   ”Kalau hanya lelah harusnya kau tidur, tidak menonton televisi lagi,” sungutku.

   Dia akhirnya menunduk menatapku, oke, memelototiku, wajahnya kesal sekali, tapi pipinya tetap merona merah, dan bibirnya yang angkuh itu mengerucut. Aku selalu suka menatapnya, dalam ekspresi apa pun, bahkan meski sedang marah. Mahakarya Tuhan. Dewi Aprhodite hidup, bagiku sih.

   ”Sejak kapan sih kau cerewet begini?!” tanyanya tak sabar.

   ”Aku kan cerewet hanya padamu,” kuangkat tanganku untuk mengelus pipinya, dia tidak menampik.

   ”Sudahlah, Hae…” dia mendorongku, dan aku terpaksa bangkit duduk bersila di sofa, begitu pula dia, kami bertatapan. Saling cemberut. ”Aku masih harus menerima fakta kau tidak mau bercinta denganku.”

   ”Ya ampun!” aku menepuk dahiku gusar. ”Kenapa masih saja masalah itu, sih?!”

   ”Kau bilang kau akan memikirkannya?” Haejin tidak menggubris keluhanku. ”Kau bilang begitu, kan?”

   Tak ada pilihan bagiku, kecuali jawaban ya. ”Ne.”

   Dia meringis. ”Kenapa sepertinya cerita ini terbalik, sih?! Aku nampak seperti penjahat mesum yang berusaha merenggut kehormatan gadis baik-baik.” Sungutnya sebal.

   Mau tak mau aku tertawa mendengar perumpamaannya, dan dia semakin merajuk, memeluk kedua kakinya, dan mau menangis. Jadilah aku mengontrol tawaku dan mendekatinya.

   ”Maaf, kelepasan… hanya saja, Sayang, bahasamu tadi…”

   ”Apa?! Memang kenyataannya begitu, aku yang meminta-minta, tapi kau ngotot menolak!”

   Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. ”Kenapa sih kita tidak bisa bersikap seolah-olah ini tidak pernah terjadi? Sayang, aku mau kok… tapi tidak sekarang, aku kan bilang akan mencoba.” Aku mengeluh dalam hati, aku kan tidak mungkin memenuhi keinginannya.

   Dan ada Eomma pula di Saipan nanti, aaaaaahhh~

   ”Kau janji?” dia benar-benar menatapku dengan pandangan Bada yang minta dikasihani. Aku tidak tega menolaknya, akhirnya aku cuma mengangguk. Ah~ apa ini? Tidak mungkin dikabulkan pula.

   Tapi akhirnya dia tersenyum, maniiiiiis sekali. Ya Tuhan, melihat senyumnya membuat jantungku berdegup tidak beraturan. Air mata bening di bulu matanya yang indah, pipinya yang merona dan montok, dan semua itu. Senyum itu, dia tersenyum padaku.

   ”Ash! Boleh kucium?” tanyaku putus asa.

   Dia tertawa, nakal sekali suaranya, lalu dia menggeser tubuhnya ke arahku, dan berbisik di telingaku. ”Sejak kapan menciumku pun kau meminta izin?” tanyanya. Suaranya terdengar khas. Serak-serak, basah, dan seksi. Memang suara khas kekasihku ini. Dia menatapku dengan mata bulatnya, dan aku mencium bibirnya setelah memberinya senyum.

   Dia sepertinya senang sekali akan kontak fisik kami ini. Seharian setelah bangun tidur, dia sendiri yang menolakku. Hanya sesaat sebelum tampil tadi saja aku menciumnya sekilas, dan sekarang dia seperti bayi kecil yang kehausan. Dia meremas kepalaku, dan mengacak rambutku, jemarinya pun ditelusupkannya di sela-sela rambut, dan tak lupa menggoda telingaku.

   Dan seperti biasa, jika aku berciuman dengannya dalam keadaan dia memakai baju longgar begini, yang terjadi adalah baju longgarnya akan turun, dan menyisakan tank top hitamnya saja. Jika sebatas ini, aku masih bisa menahan diriku, bahkan ketika dia menarikku berbaring di sofa lagi.

   Tangannya terus membelai punggungku, dan perlahan, samar bisa kurasakan dia mencari ujung kausku. Kalau masih sekedar memegang absku, aku masih bisa tahan, aku akan berusaha bertahan. Karena memang dia suka merabanya, itu juga jarang, dia juga kerap kali menahan dirinya sepertinya. Kami melepaskan ciuman kami, setelah sadar posisi berbaring kami sangat tidak natural. Kugendong saja dia ke tempat tidur, dan di tempat tidur, sambil berbaring berhadapan, dia mulai menciumi wajahku lagi, yang kudiamkan saja, yang penting aku bisa menahan diri.

   ”Kau nakal sekali sih?” cubitku pada pipinya saat tangannya mulai nakal, dan kutahan.

   ”Biar!” potongnya cuek, dan meraih bibirku lagi seperti musafir yang menemukan oase-nya. Aku balas mengecup dan mengulum lidahnya, dan tanganku meraih pinggangnya, tubuh kami bertemu.

   Dan api panas itu kembali menguar, kudorong tubuhnya menjauh. ”Ya! Sudah, kau ini…”

   ”Ah, Hae‼!” gerutunya, dia menendang-nendang hingga selimut kami kembali berantakan. ”Kenapa sih kau merusak suasana terus sejak kemarin?!” omelnya. ”Seperti kau akan membunuhku saja?!”

   ”Aku tidak akan membunuhmu, tapi aku tidak mau kelepasan!”

   ”Tapi kau berniat melakukan itu katanya!”

   Aku mendesah berat. ”Aku akan berusaha, tapi mentalku masih belum siap sama sekali, Sayang!” aku berusaha mengalihkan perhatiannya. ”Kita harus melakukannya secara dewasa, dan tidak terburu-buru.”

   ”Tapi, Hae…”

   ”Ayolah, aku juga belum pernah melakukan itu sebelumnya, aku harus punya persiapan.” Kilahku sambil menggaruk kepalaku.

  ”Kau mau membeli kondom dulu?” tanyanya polos.

   Tapi sukses membuat wajahku merah, dia masih menatapku bingung. Bagaimana sih dia ini? Dia mengajakku melakukan hubungan dewasa, tapi nampaknya dia sendiri juga masih awam akan ini semua? Membuatku gemas saja.

   Kucium lagi bibirnya gemas, sambil menggigit-gigit kecil permukan bibirnya, dan menyesap wangi tubuhnya, saat aku beralih pada lehernya, dia terkekeh senang. Padahal ruam biru kemarin pun belum hilang. Akhirnya sedikit ke bagian dagunya, mulai menyesap kulitnya lagi, dan dia terengah.

   TING TONG.

   ”AAARRRRGGGHH!” kami menggerutu pada saat yang sama.

   ”Siapa sih?!” omelnya kesal.

   Aku beranjak ke pintu dan membukanya. Terbelalak lebar, Leeteuk Hyung?! Kenapa dia selalu jadi orang pertama yang mengganggu momen-momen romantis kami berdua?!

   ”Oh, hai…” sapanya tanpa dosa.

   ”Apa, Hyung?” tanyaku lelah. ”Ini sudah malam, sudah waktunya istirahat…” keluhku.

   Leeteuk Hyung cuma tersenyum. ”Maaf kalau mengganggu, aku baru mendapat telepon dari Eommamu, Hae.” Aku membelalak. ”Nampaknya Eommamu mengajak Eommaku untuk ikut berlibur, jadilah kuputuskan kita akan bersama-sama pergi ke Saipan.”

   ”MWO?!” kudengar teriakan dari dalam.

   Aduh, sepertinya Haejin sudah mendengar hal ini. Aku menunduk dalam-dalam, apalagi yang akan terjadi di Saipan esok?! Liburanku… keluhku.

-To Be Continued-

132 thoughts on “{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan ~2 From ?~

  1. asik skinshipnya dapet bener. aduh leeteuk suka konyol deh HAHA. sexy,hot,apalagi ya buat menggambarkan FF ini,pkknya begitulah.
    tapi sbnrnya semakin bnyk adegan “iya2” nya makin asik bacanya #loh
    lanjutin onn!!! huuaaaaa!

  2. Demi apa malah ngakak bacanya LOL, mulai dri itu tu yg bahas sperma2 #plaak trus itu kondom.. Astagfirullah –”
    Aduhh ini menjurunya asik nih mama maafkan aku baca ini #jiahh
    Tp udh ckup umur aku lah kaka galau udh 14 taun (~˘.˘)~ ~(˘.˘~)

    Dan eteuk emg suka ganggung banget yah, konyol ia sumpah mending teuki sm aku aja yuk ke saipan, kita kaya JinHae juga #lho
    Mian ya bru koment, bru baca soalnya ._.
    Lanjut lanjuuuuuttt😀

  3. jiakakakakakak..baru bca yg ini. perumpamaan yg ngakak dan tepat sasaran…haaha sutressss deh jadi hae, nahan diri mulu *haejin: gw apalagi, kesiksa!!!* HAHA
    Hae ada benernya sih, mendingan abis menikah aja baru ‘itu’ tp haejin jg kayaknya udah kepalang kebelet..haha ga pa2 sih hae, asal kalian udah pasti nikah mah lakuin aja #PLAK *saran ga bner* #ABAIKAN!!!!
    hmmm…udah mah ada eomma hae, + teuki’s famz juga…mantaaaaaaaaaappppphhhhh haejin gmna tuh !!! haha teuki perhatian sekaligus mengganggu yak #ditepokteuki
    hayooooooooo…lanjuuuuuttttt saipan-nya nih…haejin psti manyun2 terussss :p

  4. mianha unnie baru sempet komen…
    soalnya kmarin pas baca ffnya di hp appa,ehhh hpnya malah ngga bisa buat komen..*suerrr! beneran ngga boong!*

    langsung ajadeh yaaa.
    tuhkan bener dinghae ngga bakal kayak gitu…
    salut bgt deh ama hae disini,DoNGHAE lelaki sejati!!!!
    bisa nahan diri (y) HAHA
    tp haejinnya kok ngotot bgt yahhh?? wkwk
    sabar bu,makanya merit dulu aja🙂
    hehehehehe

    Omona! omona! gmn liburan mereka tuh??
    masa umma hae ,leeteuk dan umma teuk ikuttt???
    yahhhh…
    kasian JinHae ,trutama Haejin ! haha

    okeoke, part slanjutnya trus d tunngu yaaaa ^^

  5. aigoooo lucu deh ama jinhae
    aduh pnasran ama blan madunya
    kyknya haejin msi ttep kekeuh ya pgn itu
    ayoo eon lanjutkan
    daebaaaak

  6. wahhhhh om tuuuuki perusak suasanaaaaaaa. .iri tuh pasti om tuki*diinjek
    omo omo omo. .bulan madu sama eommanya Hae????? what the. .
    Haejin onnie sabar ya wkakakaka. .

  7. Ehm..annyeooongg nisya….

    iseng2 baca sbnrnya aku ini, krn tertarik dgn kata WARNING diatas. dan aku blm bc part 1 nya.

    PG-17 , klo aku pikir2 sih, paling masi seputar2 skinship jinhae yg kyk di WIF itu. nah terus pmbcaraan yg vulgar..aku jd tmbah penasaran… akhir nya aku baca…lama2 kok rasa nya kagak enak ya…. khususnya utk haejin. jujur..aku ngerasa haejin itu sperti wanita murahan *maaf bgt kalo aku ngomong gitu*

    aku sbg yeoja seperti nggak ada hrga nya di hdpn cwok itu. aku yg ngemis2 ke dia. pas hae ngajak nikah, kenapa haejin gak mau? kalo haejin bneran cnta ma hae… pas diajak nikah pasti mau dongg.. jadi nya kan bisa mengurangi dosa. kalo kyk gitu kesannya haejin cinta ma donghae hnya utk bercnta doank. tp gk mau terikat pernikahan.

    maaf ya nis, kalo aku ngomong begitu. beneran maaf.

    terus masalah yg di bawah umur… mskipun kmu bikin WARNING, toh tetep aja psti ada yg baca kan???? justru ada warning, orang makin penasaran dan semangat baca nyas. *contoh nya aku ini tadi* wkwkwkkwkwkw

    mending protek aja deh, klo mmg crta brikutnya masi omongan2 vulgar dn skinship dmn2…

    dn utk haejin , jgn kyk gitu donkk… mski kita cnta sm seseorang tp kita hrus bisa tahan nafsu. untung aja donghae imannya kuat, walaupun NYARIS menyerah.
    AYO, HAE!!!!! KAMU PASTI BISA!!! kasi haejin pengertian ttg melakukan hbungan seks di luar nikah itu dosa.

    dan moga2 aja, haejin ngerti *ngarep* ^^

  8. Pingback: JinHaeXy Honeymoon in Saipan & When I Fall « JinHaeXy

  9. Ini FF nya aaaaaa hot banget wkwk aku bacanya sampek deg2an -.-
    Itu Daddy kece ku si Teuki konyol amat hahaha.
    Sayang banget FF bagus gini nggak dilanjutin, padahal aku suka sama ceritanya T.T

  10. ngakak pas baca “Dia meringis. ”Kenapa sepertinya cerita ini terbalik, sih?! Aku nampak seperti penjahat mesum yang berusaha merenggut kehormatan gadis baik-baik.” Sungutnya sebal.”

    ahahaahahahaha…. haejin bener2 deehhh aku kalo jadi donghae ud ga bisa tahan tuh #eh😄

    aahhhhh gag sabar nunggu lanjutannya… mau liat haejin berhadapan eomma’a donghae XD…

  11. aku pembaca baru Jinhae tapi langsung baca yang bagian ini eheheheh. Sumpah kereeeeen!
    Mau baca story jinhae dulu dari awal deh hehehe

  12. Wealaaaah Haejin ngambek ~ awas loh jangan ngambek-ngambek nanti ga dicium ~~

    Astaga ini beneran berasa baca Eclipse, plus Breaking Dawn part awal. Haejin is Bella, and Donghae is Edward. You really got ur inspiration from those books? I think yes. It’s really similar.

    Leeteuk. Oh God that old Uncle! Cant he just stay in his room without disturbing JinHae’s skinship?!😄

    Ok! Bye *go to honeymoon in saipan part 3*

  13. wkwkwk..
    aduh, ntah demi apa malah ngakak baca dialog SJ pas di kamar ganti itu, liburan.. wisata laboratorium, penyakitan, kualitas sperma, memperbaiki kesuburan..😄😄😄

    itu haejin nakal deh ya bener2..😀
    pas mau tbc, kebayang deh itu wajah sok polosnya eteuk.. hhe..

  14. Hae imannya masih kuat ituu ckck
    Tahan hae! Hwaiting😀
    skinshipnya jinhae gak nahan banget dah ya wkwk
    nice ff eon ^^

  15. Hahahahaha.. Haejin nepsong gt yaaa…skwkwkwkwk donghae jd salting mau tp mikir dl,wkwkwkwkwk.. Eeteuk top markotop lah ngeganggu liburan mrk. Teuki tkt kl plg liburan ad haejin n donghae junior, ahaha ;p

  16. Out of nowhere aku mau tanya.. Golongan darah poppa itu apa yah? Ribet banget deh ih. Udahlah jangan kebanyakan mikir, do more aja #plakk~ hidup ko dibawa ribet yah..
    Etapi yah pernikahan sama seks, dua2nya itu pembahasan serisu jin-ah~ diajak nikah gamau tapi seks mau.. lucu deh kamu ..wkwk~
    Ahjussii sialan!! Gue lemparin bee eon baru nyaho lu yeee!! #plakk~ ganggu aja deh -_-

  17. Tuh kan … Si ahjussi muncul lg … Suasana lg lumayan hot .. Jg .. Eh … Ahjussi nongol ..
    – gubrak – teeukie mau ikut dong hae – hae jin? Komplit dah liburan mrk .. Kik kik ..
    (˘_˘)čĸ! (˘_˘)čĸ! (˘_˘)čĸ! Hae hebat ya bs “tahan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s