[REMAKE] ESC Namja ~Chapter 1~


Title : ESC Namja

Author : The Felidis (Nisya – Dita – Carin)

Genre : Friendship, Romance, Alternative Universe

Rate : PG-13

Main Cast :

  • Lee Donghae
  • Lee Sungmin
  • Kim Ryeowook
  • Lee Haejin
  • Cho Chihoon
  • Lee Kyorin
Supporting Cast
  • Cho Kyuhyun
  • You Can Find By Yourselves
Mungkin, kalian beruangkali berpikir, dapatkah tiga orang dengan tiga kepribadian berbeda menjadi satu dalam ikatan persahabatan. Hal inilah yang dialami tiga sekawan, Haejin, Chihoon, dan Kyorin. Mereka sendiri tidak mengerti, entah apa yang bisa menyatukan mereka menjadi tiga sekawan sahabat. Mereka tak pernah mencari tahu sama sekali, karena yang ada dalam pikiran mereka hanyalah semakin berbedanya mereka, maka mereka semakin melengkapi dan menyempurnakan satu sama lain.

Awal pertemuan mereka sederhana, dan singkat. Kenaikan kelas dan penjurusan kelas yang mempertemukan mereka bertiga di bangku kelas dua sekolah menengah atas. Perkenalan singkat, merasa cocok satu sama lain, dan mereka mulai menjalin persahabatan.

Meski mereka seiya sekata, seiring sejalan, namun tetap kisah diantara mereka berbeda. Baik takdir, dan juga kisah cinta… bagaimana reaksi ketiga sahabat yang belum pernah mengenal cinta ini ketika dihadapkan pada tiga pria berbeda yang mulai mengetuk hati mereka?

*

Senin, 15.00, SMA Neul Paran

Bel berbunyi dengan nyaringnya, tak lama, di depan bangunan sekolah yang asri itu, satu persatu murid mulai keluar dari gerbang putih tinggi kokoh tersebut. Termasuk ketiga sahabat Haejin, Chihoon, dan Kyorin. Haejin, gadis keras yang sebetulnya cukup baik hati ini, melambai sambil menggosokkan kedua tangannya yang mulai kedinginan. Cuaca musim gugur di Seoul memang dingin.

“Haejin-ah, hati-hati…” pesan Kyorin dan Chihoon bersamaan.

”Oke, kalian juga…” Haejin melambai, dan langsung berlari menuju halte bus dekat sekolahnya. Setelah menunggu beberapa menit, bus yang ditunggu akhirnya datang juga. Haejin melangkahkan kakinya masuk ke dalam bus, dan duduk di salah satu bangkunya. Tak lama, tempat yang dituju pun sampai. Salah satu toko baju dengan merk luar negeri, di salah satu pusat perbelanjaan mewah di Seoul, bahkan Korea Selatan.

Apa yang akan Haejin lakukan disana? Berbelanja? Jelas tidak. Haejin bekerja sebagai pelayan toko, sekaligus kasir, disana. Setelah mengganti seragamnya dengan seragam kerja, Haejin mulai bekerja. Merapikan baju-baju di gantungan-gantungan, dan melayani pembeli. Biasanya tidak ada yang spesial di pekerjaannya, namun hari ini, tanpa dia sadari, sesuatu dalam hidupnya mulai berubah.

”Haejin-ssi, tolong antar pelanggan yang baru datang itu… aku harus menelepon gudang…” kata Taeyeon Onnie, dia Sunbae-nya Haejin disini.

”Ne, Onnie…” Haejin mengangguk dan mendongak, melihat seorang cowok yang sedang lirik-lirik kanan kiri di depan pintu masuk. Haejin menghampirinya, dan membungkuk. ”Annyeong hasimnika, Sunsangnim… ada yang bisa saya bantu?”

Cowok itu menatap Haejin, kemudian melepas kaca mata hitamnya. Rambutnya cokelat bergelombang acak-acakan tapi teratur. Wajahnya tampan dan cool, dia menatap Haejin dalam. ”Aku mau cari jas lengkap buatan langsung desainernya, koleksi musim dingin, yang terbaru.” Dengan Suara dingin dan angkuh.

Haejin paling benci pada pelanggan seperti ini, tapi demi biaya hidup, maka dia membungkuk dan mempersilakan cowok yang kira-kira sepantaran atau lebih tua beberapa tahun darinya, yang jelas tidak jauh itu, untuk mengikutinya ke bagian etalase paling belakang, yang semua bajunya di pajang manekin.

”Silahkan…”

Cowok itu melipat tangannya, dan mengamati baju-baju tersebut dengan wajah masam, sama sekali tidak ada antusiasnya sama sekali. ”Ini koleksi musim dinginnya?” dengan suara menyebalkan.

”Ne…” Haejin mengangguk.

”Apanya yang koleksi musim dingin?!” tanyanya sinis. ”Bukan seperti ini! Bahannya saja sudah terlihat tidak berkualitas begini! Aku mau yang benar-benar asli dari desainernya! Ini pasti buatan pabrik!”

Haejin ternganga, kemudian menggeleng. ”Aniyo, ini memang koleksi musim dingin langsung dari tangan desainernya, Sunsangnim…” kata Haejin mencoba sabar dalam menjelaskan.

”Aku tidak mencari yang seperti ini!” balasnya menyebalkan. ”Ini murahan! Carikan aku yang lain lagi!”

Di etalase lain pun, tetap sama. ”Bukan yang seperti ini! Ini sih pasaran, bahannya juga bahan progal! Kau ini bisa tidak sih melayani pelanggan dengan benar?!”

Etalase lain lagi. ”Bukan yang ini! Aku mau yang elegan, dan keluaran musim dingin! Langsung dari desainernya!”

Etalase lain lagi. Kali ini Haejin yang berbicara, karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. “Joeseohamnida, Sunsangnim… jika memang tidak ada yang bisa dipenuhi…” wajahnya sudah lelah.

”Aish! Toko ini memang benar-benar… katanya ini franchise dari brand luar negeri! Kualitasnya dan pegawainya sama saja!” dan dia langsung pergi, tanpa membeli satu barangpun, meninggalkan Haejin ternganga!

Apa salah dan dosaku hari ini? Pelanggan tadi itu benar-benar menyebalkan, sudah tau yang dicari tidak ada, kenapa masih saja ngotot putar-putar toko, dan tetap ngedumel bilang yang dia cari tidak ada, barang-barang disini tidak berkualitas, dan pegawainya tidak becus?! Apa mau cowok gila itu? Dia juga bukan orang tua dewasa, yang seperti ibu-ibu pejabat yang memang rewel banget kalo belanja?

Hari ini aku sial sekali! Manajer toko memarahiku, karena menurutnya yang datang tadi itu tamu penting? Aish, tamu penting apanya? Tamu sok penting iya, akhirnya aku pulang dalam keadaan berantakan, saking lelahnya.

Esok harinya, pada jam makan siang, Haejin yang biasanya jarang bercerita, kali ini menceritakan pengalamannya kemarin. Dan memang ketiga sahabat ini memiliki tipikal yang berbeda. Kyorin mendengarkan cerita Haejin dengan sungguh-sungguh, sementara Chihoon justru menguap lebar mendengarnya.

“Sssttt! Menguap tahu aturan sedikit, kenapa?!” sikut Kyorin pada sahabatnya itu dengan nada tajam. “Kau kan wanita.”

“Apa?! Memang apa yang kulakukan? Masa menguap saja pakai aturan?!” balas Chihoon bandel.

“Bukan pakai aturan, setidaknya mulutnya ditutup!” tambah Haejin.

“Ara, ara… menguap saja dibahas.” Celeteuk Chihoon cuek.

Mereka bertiga meneruskan obrolan mereka, atau lebih tepatnya Haejin dan Kyorin, Chihoon hanya mendengarkan saja, sampai suara keras yang sudah sangat familiar di belakang mereka memanggil.

“Haejin-ah!”

Ketiganya berbalik. Dan Cho Kyuhyun, Sunbae, sekaligus kakak kandung Cho Chihoon sedang berlari ke arah ketiganya, atau mungkin, lebih tepatnya berlari ke arah Haejin?

Kyuhyun mengatur napasnya yang tersengal. Matanya yang bulat nampak begitu bersemangat menatap gadis berambut panjang yang berdiri paling tengah diantara kedua sahabatnya ini.

“Hah… hah…” Kyuhyun masih menepuk dadanya keras. “Siang ini…” engahnya pada Haejin. “Kau ada acara?”

Haejin nampak berpikir. “Makan siang ini? Sepertinya sih tidak…”

“Ah, ani…” Kyuhyun nampak malu-malu dan menggaruk kepalanya salah tingkah, sementara gadis di depannya datar saja. “Aku hanya… ingin, ehm… mengajakmu makan siang bersama saja.”

“APA?!!!! MAKAN SIANG?!!? Aku hampir mati kelaparan di rumah kau tidak mau membuatkanku jajangmyeon instant sekalipun! dan sekarang kau mengajak Haejin makan siang?!!? KAU PELIT!!!”

“Ya! Soal makananmu kan itu urusanmu. Lagipula, aku ada urusan sendiri dengan Haejin. Tidak usah ikut campur…” kata Kyuhyun sambil membuang wajah dari Chihoon.

“Iikkhhh…” Chihoon hampir saja menjitak kepala kakaknya kalau ia tidak ditahan Kyorin.

“Jadi,bagaimana Haejin? Kau mau tidak?” Tanya Kyuhyun bersemangat, tak peduli adik kandungnya sendiri sudah sebal sekali melihat gayanya yang biasanya cuek, mendadak lembut sekali pada sahabatnya ini.

Haejin nampak berpikir. “Kalau hanya makan di kantin aku ada waktu, tapi kalau makan siang maksudmu adalah makan diluar setelah sepulang sekolah, kurasa aku tidak ada waktu, Oppa. Aku ada kerja sambilan. Kalau makannya, jadi makan malam sih bisa.”

“OPPA!” teriak Chihoon lagi.

“Jangan berisik!” omel Kyuhyun. “Kau tak punya kerjaan lain ya, selain menggangguku, Cho Chihoon?!”

“Ya sudah! Bye Kakak Brengsek! Jangan kau apa-apakan temanku!” dia mengancam Kyuhyun sambil balik badan, diikuti Kyorin yang terkikik melihat polah sahabatnya ini, dan Haejin yang juga terkikik.

“Tenang saja, setidaknya Haejin tidak seliar dirimu!” balas Kyuhyun pada tubuh Chihoon yang menjauh. “Ya kan?” dia menatap Haejin yang meringis dan menggeleng.

BUK!!!

Sebuah bola melayang indah pada kepala Kyuhyun. Kyuhyun meringis kesakitan ketika melihat bola baseball yang menggelinding menjauh darinya, dan dia bisa menebak siapa oknum yang tak bertanggung jawab, yang berani-beraninya melemparkan bola tersebut padanya.

“Rasakan! Jangan suka menghinaku!” Chihoon memberikan kakaknya mehrong yang cukup manis, dan berlalu.

Haejin tertawa cukup terbahak melihat pemandangan kedua kakak-adik yang terlihat tidak akur ini. Haejin tahu betul keduanya, meski kerap bertengkar, mereka saling menyayangi satu sama lain.

Tapi bagi Kyuhyun, melihat Haejin yang tertawa lepas, merupakan pemandangan langka. Kyuhyun tahu kisah hidup Haejin dari adiknya sendiri. Kepergian sang ayah sejak ia masih belia, dan kondisi ibu yang sakit-sakitan, membuat hatinya mengeras. Terutama terhadap kaum pria. Tanpa ia sadari, ia sudah mendekati pipi tembam gadis itu, dan mengecupnya.

“Kujemput di tempat kerjamu besok malam,” ucap Kyuhyun lembut, sebelum meninggalkan Haejin yang wajahnya merona merah dan suaranya yang mendadak menghilang di tenggorokan.

Haejin menyusul kedua sahabatnya ke kelas, tepat ketika bel masuk berdering kencang. Pelajaran Fisika akan segera dimulai. Tapi Chihoon, yang mood belajarnya sedang tidak bagus, kini menguap lebar dan justru berdiri dari tempat duduknya dan melangkah menuju pintu keluar, diiringi tatapan heran dari Kyorin.

“Kau mau kemana?”

“Aku mau bersenang-senang,” kedip Chihoon dan langsung pergi begitu saja membawa tasnya diiringi tatapan iri dari teman-teman sekelasnya, kecuali Kyorin dan Haejin. Kyorin menggeleng tak percaya, sementara Haejin cuma mendecak tak acuh.

Cho Chihoon. Si manis yang menyimpan sejuta akal usil dan dapat bertindak semaunya, sesuka hatinya, kapan saja, dimana saja, tanpa ada yang bisa menghalanginya sedikitpun!

Sesampainya di taman belakang. Ia melemparnya tasnya terlebih dahulu, kemudian mundur kebelakang beberapa langkah. Setelah siap mengambil ancang-ancang, Chihoon berlari dan meloncat dengan indahnya, sampai kemudian seharusnya ia mendarat dengan mulus dan cantik di aspal belakang sekolah. Namun kenyataannya bukan aspal yang menyambutnya.

Ia menubruk seseorang, dan yang lebih parahnya, posisi Chihoon menindih orang itu, dan bibir Chihoon menempel manis di bibir pria itu. Begitu sadar akan posisinya. Chihoon mundur. ”ANDWEEEE…” kedua mata cherry-nya melebar ngeri.

Dan pria itu juga sontak terkejut juga menatap Chihoon, serta apa yang baru saja mereka berdua lakukan. Chihoon dengan panik merayap mengambil tasnya dan bersiap untuk kabur, tapi ternyata pria itu menahan tangannya.

“Kau mau kemana?” tanyanya sinis.

*

“Aduhhh.. bagaimana bisa aku tertidur di perpustakaan sampai jam 8 malam seperti ini?” Lee Kyorin menggerutu. Tadi, sepulang sekolah ia hendak mencari buku di perpustakaan untuk membantunya menyelesaikan tugas sekolahnya. Ia terpaksa ke perpustakan sendiri karna kedua temannya mempunyai urusan masing-masing. Lee Haejin harus ketempat kerjanya sedangkan Cho Chihoon menghilang pada pelajaran Fisika di jam terakhir.

Keadaan sekolah saat ini benar-benar sepi dan menakutkan, lampu yang menyala juga remang-remang sehingga membuat bulu kuduk Kyorin berdiri. Ia sempat mendengar cerita hantu dari temannya beberapa hari lalu. Kata temanya, penjaga sekolah mereka pernah melihat sesosok hantu laki-laki berusia remaja di ruang music. Katanya hantu itu gemar menggangu murid-murid yang penakut seperti diri kyorin.

Dan saat Kyorin berjalan melewati ruang kesenian, ia mendengar alunan piano yang sangat merdu juga membuat bulu kuduk kyorin merinding lagi.

“Siapa yang memainkan piano dengan nada seperti itu malam-malam begini? Mungkin kah…..???” batin Kyorin sibuk menanyakan sejuta kemungkinan.

Namun tiba-tiba suara piano itu terhenti dan membuat kyorin tambah penasaran. Saat ia berjalan mendekati pintu tuang kesenian, detak jantungnya berjalan seakan 10 kali lebih cepat dari biasanya. Dan saat ia ingin memegang gagang pintu, tiba –tiba pintu itu terbuka.

Kreeeeeeeeeeeeekkkkkk…….. terdengar suara pintu terbuka.

Saat itu keringat dingin Kyorin sudah bercucuran di pelipisnya, nafasnya sudah tak teratur dan jantungnya seakan ingin meledak.

Ia melihat seoarang laki-laki memakai seragam sekolahnya dengan wajah sangat sangat pucat dan bagian bawah matanya terlihat agak sedikit hitam 1… 2… 3… detik mereka terpaku saling melihat, lalu pada saat detik berikutnya.

“Aaaaaaaarrrrrgggggggggghhhhhh.” teriak mereka bersamaan.

“Han… hann… hantuuuuuuuuuuu!” jerit Kyorin seraya meninggalkan laki-laki itu dan berlari keluar sekolah.

Sesampainya di apartemennya, ia mengatur nafasnya. Ia memang tinggal sendiri di dalam apartemennya. Dan saat tengah malam, ia tak bisa tertidur karena bermimpi mendengar suara piano yang sama dengan suara piano yang ia dengar di sekolahnya.

Namun saat ia terjaga, suara piano itu terdengar nyata dan semakin menyeramkan. Kyorin langsug menutupi dirinya dengan selimutnya dan memejamkan matanya erat-erat…

*

Keesokan harinya…

Hati Chihoon dirundung perasaan gelisah, dia mengingat kejadian yang menimpanya kemarin. Maksud hati hendak bersenang-senang, apa daya, malang yang datang! Chihoon menendang kerikil dalam perjalanan menuju sekolah dengan langkah dan hati yang berat. Bahkan ia tidak bisa tidur memikirkan kejadian kemarin sore. Tepat setelah insiden… eum… berciuman itu! Pikiran Chihoon berkelana mengingat kejadian kemarin…

Flashback

”KAU!” seru laki-laki itu sinis, ketika dipastikan Chihoon tak akan kabur lagi.

Chihoon buru-buru merangkak mundur, wajahnya merah padam. Tangannya terus menutup mulutnya. Sementara cowok itu sudah berdiri, dan memandangnya dengan wajah sama merahnya.

”Apa yang kau lakukan sih?!” teriak cowok itu.

”Mianhae, maafkan aku… aku benar-benar tidak tahu kalau ada orang yang lewat…” Chihoon menunduk dalam-dalam.

”Kau itu ya! Manusia apa monyet sih?! Perempuan pula, main loncat-loncat aja! Udah loncat, nibanin orang! Nyium orang seenaknya lagi! Kau tau tidak aku itu belum pernah dicium oleh siapa pun di dunia ini! Kau seenak-enaknya saja muncul dari angkasa!”

”Mianhae, mianhae… maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja…”

”Kau!” cowok itu menunjuk Chihoon yang masih menunduk. ”Aku paling benci kalau orang bicara tidak melihat mata lawan bicaranya!”

Chihoon mendongak.

”Sepertinya kau murid sekolah ini juga.” Pria itu mengedikkan kepalanya ke arah gedung. ”Aku bisa masuk dan melaporkanmu…”

”Jangan, jangan!” Chihoon panik, langsung berdiri, dan menggenggam tangan orang itu. ”Aku akan menebus kesalahanku, tapi kumohon jangan laporkan pihak sekolah, aku benar-benar memohon…” dengan puppy eyes-nya ditatapnya cowok itu.

Cowok itu mengangguk, ”Baik. Kau harus menuruti satu saja permintaanku.”

”Apa saja… apa saja…”

Cowok itu melepaskan tangannya yang di genggam oleh Chihoon. ”Kutunggu kau besok di bawah pohon arbei di sebelah gerbang, waktu makan siang.”

”Baik, baik.”

”Namamu? Cho Chihoon…” cowok itu memerhatikan name tag Chihoon. ”Kelas XI IPA-1, oke… aku Lee Sungmin.” Dan ia berlalu tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi pada Chihoon.

*End Of Flashback*

Maka siangnya, tepat ketika jam makan siang, hanya Haejin dan Kyorinlah yang pergi ke kantin bersama-sama. Chihoon sudah pergi mencari Lee Sungmin di bawah pohon arbei, tanpa memberitahu kedua temannya itu.

Ooooh, you’re my, you’re my baby girl…

“Jamkaman!” Haejin berhenti dan mengeluarkan ponselnya dari dalam saku seragamnya, sementara Kyorin ikut berhenti. Haejin melihat caller id-nya dan mengernyit. “Yeoboseyo.”

‘Haejin-ah, bisa ke kelasku sekarang? Aku tunggu ya…’ dan tanpa tedeng aling-aling dia memutuskan sambungan teleponnya begitu saja.

“Kyuhyun Oppa?” tebak Kyorin.

“Oh,” Haejin kembali menyimpan ponselnya di dalam saku seragamnya. “Dia memintaku ke kelasnya sekarang. Ada apa ya?” tanyanya heran.

“Mm, mungkin mengajakmu makan?”

“Ah yang benar saja, dia kan mengajakku makan malam, untuk apa dia mengajakku makan lagi?”

Kyorin tersenyum. “Bukankah jika menyukai seseorang, selalu dan selalu ingin bersama kapan pun dan dimana pun?”

Haejin tersenyum skeptis. “Playboy seperti Kyu Oppa? Oh, yang benar saja…” kekehnya dingin. “Jangan suka salah mengartikan perhatian seseorang, Kyorin-ah.”

“Bukan salah mengartikan, tapi kau terlalu tidak peka.”

“Aku mengartikannya dengan benar.”

“Kalau begitu pergilah temui dia,” Kyorin memutar matanya.

“Bagaimana denganmu?” tanya Haejin heran.

“Sejujurnya aku mencari partitur musik untuk pagelaran kita,” wajah Kyorin nampak cemas mengingat kejadian melihat ‘hantu’ semalam. Apa jangan-jangan saking kagetnya, ia jadi meninggalkan partitur musiknya. “Aku harus menemukannya sebelum ada yang melihat.”

“Kau mau aku membantumu mencari?”

“Tak perlu,” senyum Kyorin tulus. “Kyuhyun Oppa mungkin kini sudah menunggumu.”

“Baiklah, kalau begitu aku ke kelasnya, semoga segera ketemu. Kalau kau butuh bantuan hubungi saja aku.” Haejin melambai pada Kyorin, Kyorin balas melambai dan pergi.

Haejin menghela napas berat. Kyuhyun memintanya ke kelasnya, itu berarti ia harus naik satu lantai lagi, menuju lantai empat. Dan di lantai empat, dihuni oleh senior-seniornya semua. Haejin sedikit segan, namun biarlah. Toh, dia tidak membuat masalah.

Haejin berjalan pelan menyusuri koridor, diiringi tatapan dari banyak siswa-siswi yang berdiri di depan kelas mereka. Pastilah mereka bisa menebak, Haejin bukan murid kelas tiga. Untunglah, akhirnya ia tiba di kelas paling ujung. 3 IPA-4. Kelas Kyuhyun. Unggulan pertama IPA di sekolah ini.

Haejin memandang ke dalam kelasnya dengan takut-takut.

Tapi kemudian Kyuhyun muncul dari belakangnya dan menepuk bahunya, ”Haejin-ah…”

”Oppa…” senyum Haejin.

”Terima kasih sudah mau kesini, apa aku merepotkanmu?”

Haejin menggeleng. ”Ani, Oppa… oh iya, apa Oppa perlu bantuan?”

”Sebetulnya hari ini aku membawakan dua kotak makan siang, satu untuk Chihoon karna dia sering marah kalau aku tidak membawakannya makanan. Namun, anak itu sudah kabur untuk membolos lagi…”

Haejin mengangguk. ”Jadi Oppa mau aku memberikannya pada Chihoon?”

”Mana mungkin, dia sudah tak ada… kalau nunggu dia akan sayang, kau saja yang makan ya, temani aku…”

”Jinja? Oppa yakin?”

Kyuhyun mengangguk, sambil tersenyum. ”Ayo, ke dalam… sudah, jangan malu! Tak akan ada yang mengganggumu, ayo…” dan Kyuhyun menariknya ke dalam kelasnya.

Di dalam kelas, ada beberapa anak-anak, yang jelas teman sekelasnya Kyuhyun, menatap mereka berdua dengan pandangan ingin tahu. Kyuhyun kemudian mengeluarkan kotak makanannya, dan memberikannya pada Haejin.

”Gomawo, Oppa…”

”Oppa?! Pacar barumu?” suara seseorang dari belakang terdengar kaget.

Kyuhyun tertawa menatap melewati bahu Haejin yang duduk memunggungi lawan biacarnya. ”Ani, ini teman adikku… Haejin-ah, perkenalkan… ini sahabatku, sekaligus teman sebangkuku… Lee Donghae.”

Haejin mendongak ketika pria yang disebut sebagai temannya Kyuhyun sampai di samping mejanya. ”Annyeongseyo…” kemudian dia terperanjat, begitu juga dengan pria yang berdiri di hadapannya ini.

Haejin membelalak. Pria ini, adalah pria yang kemarin, habis membuatnya dimarahi bossnya, dan membuatnya capek setengah mati melayani permintaannya yang aneh-aneh di butiknya. Pria menyebalkan kemarin! Batin Haejin kaget.

Bukan hanya Haejin yang kaget, tapi Donghae juga kaget melihatnya! Donghae memang sengaja kemarin. Itu sudah merupakan tabiat dan kebiasaan Donghae. Mendatangi butik-butik dan mengerjai pramuniaga tiap butik tersebut. Biasanya, hanya dalam waktu singkat, pramuniaga yang ia kerjai, akan menangis dan memohonnya. Tapi tidak dengan gadis ini…

Gadis tangguh… batin Donghae menilai Haejin kemarin. Baru hari ini Donghae berencana mematahkan ketangguhan Haejin lagi di butik nanti, tapi kejutan! Haejin ada disini, bersama Cho Kyuhyun?! Teman sebangkunya, yang terkenal playboy karena terlalu baik pada banyak wanita!

“Kyuhyun-ah, dia teman adikmu?!” tanya Donghae tak percaya.

Kyuhyun mengangguk, Donghae dapat melihat sinar antusias di mata teman sebangkunya ini. “Oh, kalian sudah saling kenal sepertinya…” Kyuhyun menatap Donghae dan Haejin bergantian.

“Keurae,” Donghae mengangguk. “Dia yang mengantarku berkeliling Giordano kemarin, kubilang padamu kan, aku mau membeli mantel musim dingin, mengingat sebentar lagi salju turun.”

Kyuhyun menyipitkan matanya menatap Donghae, dia sudah terlalu tahu bagaimana tabiat sahabatnya yang satu ini. “Kau mengerjainya, ya?” tanyanya pelan.

“Aniyo.” Tanpa disangka-sangka Donghae, justru gadis bernama Haejin itulah yang menjawabnya, dengan nada sambil lalu, tanpa menatapnya dan Kyuhyun sama sekali. Hanya nampak tertarik pada kotak makan di hadapannya.

“Jinja?!” Kyuhyun memastikan dengan raut khawatir. Donghae mendengus dalam hati. Sejak kapan Cho Kyuhyun bisa begitu peduli pada seorang gadis? Dia memang baik, dan usil, sehingga banyak wanita yang merasa nyaman, dan salah mengartikan perhatian yang Kyuhyun berikan, hingga Kyuhyun di cap sebagai playboy, tapi Donghae tahu betul, bahwa Kyuhyun memang belum pernah memperlakukan seorang gadis seperti ini.

Dan entah kenapa, Donghae tidak suka…

“Benar.” Haejin tersenyum pada Kyuhyun.

Donghae langsung duduk diantara mereka berdua yang tengah duduk berhadapan. “Aku tidak menyangka ada murid disini yang bekerja sambilan disana! Aku sama sekali belum pernah mengenalmu, oh iya… siapa tadi namamu?” tanya Donghae pada Haejin, meski sebetulnya ia bisa merekam dengan jelas setiap kata-kata yang dikeluarkan gadis ini.

“Lee Haejin-imnida.” Haejin menjawab sambil menatap Donghae sekilas dan membungkuk. Sopan, dan tetap… cool? Donghae tidak bisa mengerti akan sikap gadis ini. Bukankah harusnya gadis ini jengkel setengah mati padanya?

Donghae kemudian menyeringai. “Oke, Haejin… kalau begitu bagaimana jika ini untukku saja?” Donghae mengambil kotak makan di hadapan Haejin dengan gerakan tiba-tiba.

“Yah! Itu untuk Haejin, aku khusus memasakkan itu untuknya! Kenapa malah kau yang ambil?!” omelnya.

Haejin tersenyum singkat pada Kyuhyun. “Oppa bilang itu tadi untuk Chihoon?” dia mengangkat alisnya.

Kyuhyun nampak seperti maling jemuran yang tertangkap basah. Wajahnya memerah luar biasa, dan dia nampak salah tingkah, dan menjawab terbata-bata. “A…a…niyo, keurae! Memang itu sebetulnya…” wajahnya semerah tas Donghae sekarang. “Kubuat khusus untukmu.”

Haejin tertawa. “Kenapa sih Oppa harus berbohong?” tanyanya lembut, lalu kemudian menatap Donghae. “Tapi kasihan juga Donghae-ssi, sepertinya dia mau makan juga.”

Entah kenapa Donghae tidak suka cara Haejin menyapanya barusan. “-Ssi?! Kau panggil aku Donghae-ssi, sementara Kyuhyun Oppa?!” tanya Donghae tak percaya. Dia jatuh dalam perangkap Kyuhyun, tapi tidak jatuh dalam perangkap Donghae.

Selama ini, yang ia tahu, jika seorang gadis menyukainya, maka akan berakhir patah hati, karena sikapnya yang dingin pada wanita, dan barulah wanita-wanita itu beralih pada Kyuhyun! Tapi kali ini… gadis ini, tidak bergeming pada pesonanya, melainkan langsung pada Kyuhyun?!

Tapi Haejin menatap Donghae dengan tatapan datar, matanya tidak menunjukkan emosi apa-apa. “Bukankah –ssi itu sapaan hormat?” tanyanya tak mengerti.

“Akan kukembalikan kotak makan ini jika kau memanggilku Oppa!” kata Donghae berkeras.

“Tidak perlu.” Jawab Haejin enteng.

“Kau sama sekali tidak sopan!” sentak Donghae emosi. Pada Kyuhyun, gadis ini begitu lembut dan manisnya, tapi padanya, dingin, datar, tanpa emosi apa-apa. Kalem sekali. “Kau harus memanggilku dengan sebutan Oppa!” Donghae berkeras.

Tapi, Haejin tersenyum dingin, tenang. “Shireo.” Jawabnya.

Kyuhyun menarik Donghae mundur dan mulai mengomel. “Apa-apaan kau ini?! Jauhi dia! Ya, Haejin-ah, jangan pedulikan dia! Manusia ini nyaris autis karena terlalu lama hidup dalam kesendirian. Kita makan dibawah saja, agar dia tidak mengganggu.” Dan Kyuhyun menarik tangan Haejin, lalu membawanya pergi dari hadapan Donghae.

Donghae tersenyum tipis memerhatikan keduanya pergi. Gadis itu memang dingin tanpa emosi, karena meski dia bersikap baik pada Kyuhyun, Donghae tahu bahwa sikapnya memang hanya baik, tanpa hidden agend seperti yang Kyuhyun rasakan pada gadis itu, Haejin. Memang Donghae tak banyak bicara, tapi Donghae bukan seorang pria bodoh yang tidak peka.

Tatapan mata Haejin, itu yang mengusiknya. Dingin, datar, tenang, dan… bisa membuat siapa saja hanyut di dalam kelamnya mata itu. Apa yang terjadi? Pikirnya. Cho Kyuhyun dan dirinya, Lee Donghae! Bahkan tidak menarik perhatian gadis itu? Pasti ada alasan lain, dan tidak mungkin gadis itu penyuka sesama jenis.

Dan alasan apa pun itu, bukan Lee Donghae kalau tidak bisa menemukan dan mengungkapnya.

Sementara itu, setelah makan siang bersama di halaman sekolah. Kyuhyun dan Haejin tetap duduk bersama-sama di undakan yang menghadap ke lapangan sepak bola, dimana banyak anak yang tengah bermain disana. Keduanya menonton dalam diam.

“Kau tak perlu pedulikan dia Haejin-ah,” Kyuhyun memecah keheningan. “Aku tahu dia pasti mengganggumu kemarin, di toko. Tak perlu jenius untuk menebak apa yang dilakukan bocah nakal itu.” Dengusnya.

Haejin terkekeh. “Dia tidak mengangguku,” menurut Haejin memang Donghae tidak menganggunya, hanya saja, baginya Donghae memang gila! “Dia mencari mantel atau entah apa, tapi tak ada satupun barang di toko kami yang sesuai dengan yang ia cari.”

“Oh, bukannya tak sesuai, memang ia takkan pernah menemukan yang sesuai,” suara Kyuhyun yang tadinya tinggi mendadak menukik rendah, Haejin bisa mencium simpati dari nada suaranya. Haejin menoleh menatap Kyuhyun. “Dia memang sengaja melakukan itu, dari satu toko ke toko lainnya, di Seoul, di seluruh toko di Korea Selatan, bahkan di luar negeri. Mungkin banyak pekerja toko membencinya dan mengenalnya.” Kekeh Kyuhyun, tapi kemudian dia menghela napas. “Ada alasannya mengapa ia berbuat demikian, Haejin-ah.”

Haejin hanya mengangkat alisnya.

“Donghae. Mungkin sahabatnya satu-satunya di sekolah ini hanya aku. Kalau diluar aku tidak tahu, dia bukan tipe bersahabat. Kurasa dia sebetulnya pribadi yang hangat jika saja ibunya masih ada…”

Kedua mata Haejin melebar kaget. “Ibu?”

“Oh,” Kyuhyun mengangguk. “Ibunya meninggal sekitar enam tahun lalu. Ibunya suka mengajaknya berbelanja, dan sebelum ibunya meninggal, ada mantel yang ingin dibeli olehnya. Entah mantel itu seperti apa, Donghae sendiri tak tahu, dan itulah yang ia lakukan selama ini. Kebetulan kau kena getahnya saja…” Kyuhyun tergelak. “Andai ayahnya memberikannya perhatian yang sama seperti sebelum ibunya meninggal, mungkin dia takkan dingin begitu.” Kyuhyun menghela napas. “Ayahnya pindah ke Los Angeles sejak ibunya meninggal, tak terbersit sedikit pun di kepala ayahnya untuk mengajaknya pindah kesana. Dan beginilah… meski tegar diluar, Donghae rapuh di dalam.”

Haejin tetap memasang topeng tenang pada wajahnya, tapi matanya yang dingin tidak dapat membohongi Kyuhyun. Kurang lebih, Kyuhyun membatin, Haejin sama. Haejin ditinggalkan ayahnya, dan kini ibunya sakit-sakitan.

“Dia sama sepertimu.” Kyuhyun membelai lembut pipi Haejin. “Keras diluar, rapuh di dalam.”

Haejin tak tahu harus menjawab apa.

*

Kyorin dengan jantung berdegup kencang berjalan menuju ruang musik, tempat semalam ia melihat ‘hantu’ tersebut. Dengan seluruh badan gemetar, dan kedua tangan yang dingin, Kyorin akhirnya berbelok di koridor panjang menuju ruang musik, ketika ia akhirnya mendengar suara piano itu lagi.

Saking tegangnya, perut Kyorin mendadak perih. “Aduh! Aku belum makan siang…” keluhnya sambil mengelus perutnya khawatir. “Jangan-jangan maag,” tapi sebetulnya dia ketakutan sendiri. “Partitur, tapi partiturku…” sementara Fur Elise mengalun semakin kencang dari dalam ruangan itu. Bulu kuduk Kyorin berdiri semua.

Kyorin kini berdiri tepat di depan ruang musik, dan setelah menguatkan hati dan pikirannya, didorongnya pintu tersebut hingga terbuka. Tapi bulu kuduknya semakin meremang tatkala melihat tak ada seorang pun di dalam ruang musik kini. “Omona…” rintihnya ketakutan. “Tapi aku harus mencari partiturku…” keluhnya dan terus memaksa kakinya maju dan mulai mencari-cari sambil memandang berkeliling panik.

Piano itu tutupnya terbuka! Jelas ada yang memainkannya tadi, Kyorin memandang kesana-kemari dengan panik, tapi kemudian sesuatu atau seseorang menepuk bahunya. Kyorin berbalik, dan melihat ‘hantu’ pria yang sama seperti kemarin! Pucat dan menatap kosong, namun kali ini terkena berkas atau sinar cahaya!

“GYAAAAA!” teriak Kyorin ketakutan.

“Hei, tenang…” ucapnya.

“GYAAAA! HANTUNYA BICARA!” jerit Kyorin histeris.

“Aniyo! Tenang, tenang!” pria itu memegang bahu Kyorin, dan Kyorin kembali pada kesadarannya. Padat… pria ini tidak tembus seperti hantu. “Tenanglah, nanti aku dikira melakukan sesuatu padamu…”

Kyorin masih nampak shock. “Kau siapa?!” cicitnya.

“Aku, Kim Ryeowook,” jawabnya.

“Oooh… dan kau adalah manusia?!”

Ryeowook terkekeh pelan. “Aku manusia.” Dia meyakinka Kyorin. “Aku kaget sekali ketika semalam kau berteriak hantu, kukira aku hantu betulan, ternyata kau menganggapku hantu.” Dia menunduk malu.

Kyorin ikut menunduk. “Mianhae.”

“Ah tak apa.” Ryeowook balas tersenyum.

“Oh ya, tapi… tapi… kenapa kau begitu pucat?” tanya Kyorin takut-takut.

Ryeowook nampak malu, tapi dia memutuskan untuk jujur. “Aku… ehem, anemia. Ini pun aku belum makan, dan saat tadi membereskan barang-barangku kau masuk. Kuputuskan menyapamu lagi sebelum kau salah paham. Oh ya, namamu?”

“Kyorin. Lee Kyorin.” Kyorin tersenyum.

“Kyorin-ssi bangapta.”

Bangapta.” Kyorin membungkuk.

Keduanya menunduk malu-malu. Kyorin tahu dia adalah tipe pemalu yang jarang berbicara pada pria-pria. Dan Ryeowook pun begitu. Ini adalah pengalaman pertama keduanya, bisa begitu cepat akrab dengan lawan jenis, satu sama lain.

*

Chihoon merasakan matanya mulai masuk sinar matahari lagi. Dia menguap lebar, dan meregangkan seluruh badannya, lalu duduk. Dan betapa kagetnya dia, Lee Sungmin sudah duduk disisinya. Ya ampun, dia kan kesini mau menemui Sungmin! Tapi kenapa dia malah ketiduran?!

”Yah, kenapa kau tidak membangunkanku?!”

Sungmin kemudian tertawa terpingkal-pingkal. Chihoon langsung kebingungan melihat tingkah laku Sungmin. ”Yah, neo michyeoso?” tanyanya, bukannya berhenti, Sungmin malah terus tertawa.

Akhirnya setelah beberapa saat, Sungmin pun berusaha mengendalikan diri, meski terlihat amat sangat susah payah. ”Wajahmu lucu.” Katanya pelan sambil menunjuk Chihoon.

Chihoon kaget, dan buru-buru mengambil ponsel Anycall Bodyguardnya, dan langsung berkaca. Astaga! Wajahnya penuh lumpur. Buru-buru Chihoon lari ke keran terdekat, dan mencuci seluruh wajahnya. Kemudian melihat Sungmin yang masih terpingkal-pingkal, Chihoon jadi memasang wajah galaknya, dan bertolak pinggang. Ini pasti ulah pria bernama Sungmin ini.

”Lee Sungmin-ssi, jadi katakan apa maumu!”

Sungmin tersenyum dan mendongak. ”Santai saja, tak perlu buru-buru.”

”Waktuku tidak banyak, jadi katakan apa maumu dan aku akan segera melaksanakannya.”

Sungmin berhenti senyum. Dia menatap Chihoon lekat-lekat, hati Chihoon berdesir-desir, bukan wanita namanya kalau ditatap seperti itu oleh pria setampan Sungmin tidak gugup. Chihoon mencoba berkonsentrasi, kenapa dia harus gugup?!

”Begini,” Sungmin mulai bicara. ”Karena kau yang telah merebut ciuman pertamaku kemarin…” wajah Chihoon memerah. ”Aku mau minta ganti rugi!” Chihoon hendak protes, tapi Sungmin sudah meneruskan kalimatnya. ”Kau harus jadi pacarku.”

”Mwo?!” pekik Chihoon. ”Yah, jangan bercanda! Cepat katakan apa maumu!”

”Aku tidak bercanda.”

”Shiruh!”

Sungmin tersenyum tipis. Gadis ini tipe pemberontak, lucu sekali. ”Oke, kalau begitu akan kuberitahu pihak seko…”

”Aaaaah, jjamkaman, jjamkaman! Ne, ne, ara… aku mau jadi pacarmu!” Chihoon menjerit panik. Reputasinya memang cukup baik, nilainya tak pernah di bawah rata-rata, tapi nilai absen dan kaburnya pun sudah sampai pada ambang batas. Kalau sekali lagi dia ketahuan kabur, tamat riwayatnya!

”Bagus.” Sungmin tersenyum puas, sementara Chihoon nelangsa.

Andai kemarin aku tidak menciumnya, sudah kuhajar sekarang dia, batin Chihoon, hatinya teriris-iris, astaga, kebebasanku direnggut, aku tidak merdeka, aku dijajah! 

Sungmin tersenyum. ”Berikan aku nomor ponsel, rumah, alamatmu, dan emailmu sekarang.”

”Untuk apa?” tanya Chihoon heran.

”Sekarang aku namja-chingumu Jagiya…”

”Mwo?!” kuping Chihoon panas mendengar kata ’Jagiya’ itu. Wajahnya juga sedikit memanas. ”Haruskah?”

Sungmin menatapnya tajam. Akhirnya Chihoon mengeluarkan ponselnya dan menyerahkannya kepada Sungmin. Sungmin menyimpan nomornya ke dalam ponsel Chihoon, dan menyimpan nomor Chihoon di ponselnya sendiri. Berikut alamat email dan alamat rumah.

”Mulai besok, pulang sekolah bersamaku. Makan siang juga.”

”Mwo?! Andweeee…”

Sungmin menatap Chihoon tajam lagi, dan Chihoon langsung menunduk pasrah. ”Jangan coba-coba kabur lagi ya… aku masuk dulu, Jagiya…” dan Sungmin mengacak rambut Chihoon, kemudian pergi.

Mendadak, dada Chihoon berdebar keras. Apa ini? Kenapa dia malah gugup seperti ini?!

-To Be Continued-

Annyeong!!!

Hahahaha, kagetkah ada FF baru lagi? Wkwkwkwkwk, ini FF lama kok. Readers yang udah ngikutin dari Felidis, dan Nisya di SJFF pasti tau kali ini FF debut Felidis! Atau debut Nisya juga disini… kalo Dita (Kyorin) udah duluan jadi author freelance di SJFF pada waktu itu.

Bermula dengan iseng-iseng kita kolaborasi bikin FF ini, dan dibantu sama @ccl_ririn yang baik hati wkwkwkwk, yang waktu itu mau bantu publishin ff ini, karena aku masih author freelance yang baru nyoba nulis. 

Aku buka-buka lagi ff lama, dan kangen sama ff debut aku, Dita, sama Carin (Chihoon) lagi. Dan dulu bahasanya hancur dan belum rapi, akhirnya aku mutusin untuk nge-remake ff ini lagi. Semoga pada suka ya ^^ oh iya, FF ini bakalan beda sama cetakan pertamanya, buat yang udah pernah baca… hehehehe, yang belum ernah, enjoy aja ya ^^

51 thoughts on “[REMAKE] ESC Namja ~Chapter 1~

  1. Err.. tanpa niat menyinggung siapapun. Aku mau bilang, biasanya aku klo udah baca ff pasti kebawa suasana ._.v
    Menyebalkan banget yah dapet customer yg model begitu, ngerjain aja itumah kerjaannya.. haejin sabar yah, pekerja keras pula.. awal nasibnya haejin tuh kyaknya jarang bahagia ._.v
    Chihooon aku suka kamuuuuu #plakk~ anak ini sembarangan banget sih, pinter tapi bandelnya yaoloooo sampe nubruk bibir abang aku kan tuh..ahaha abaaaaang jaga chihonie yah, jangan diapa2in..dia masih kecil *apaini😄
    Errr…kyuyun suka haejin? Lalu haejin datar ke donghae? Donghae penasaran? Ini kayaknya sahabatannya bakalan berasa dingin gegara cwe deh yah #plakk~ tapi kyu ko kasian yah,, donghae songong banget yah walaupun dia rapuh di dalem tapi kesannya kyu dapet yg bekas dia terus ._.v
    Ahaha kyooo~ ini cwe paling kalem tapi dodol juga, masa ketiduran sampe malem di sekolah sumpah ga kebayang deh mana denger piano itu lalu tinggal sendirian, mimpi buruk banget yah..ckck dan ternyata yg disangka hantu itu ukkie.. yaolooo kasian banget kamu yah ukkie..wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s