JinHae ~ H.O.P.E (Diary of You And Me) ~

Halo, Please welcome semuanya ini author baru di JinHaeXy, namanya Eris… akun Twitternya @erissomnia ^^

Banyak hal yang buat Nisya yakin untuk angkat Eris jadi author disini. Pertama, Nisya main ke blognya Eris, dan tulisan Eris itu bagus-bagus. Eris pernah nulis FF untuk @ccl_ririn juga…

Aku memang pernah bilang sama readers mau ngangkat author tetap untuk jinhaexy.wordpress.com dan tersanjung sama banyak readers yang bilang kalau JinHae gak dapat feelnya kalau bukan aku yang tulis, aku berterima kasih banget. Tapi, pertimbangan aku disini adalah, aku gak mau berhenti di satu zona aman itu aja, karena kita harus berinovasi dan mencoba segala sesuatu hal yang baru kan? ^^ Nisya juga kepengen sekali-sekali melihat JinHae dalam paket dan karakter berbeda, bukan cuma muter-muter disitu-situ aja. Tapi pegang omongan Nisya, kalau Nisya akan terus melanjutan JINHAEXY dan cerita JinHae lainnya yang Nisya punya.

Jadi ini keputusan Nisya, Nisya bawa adik baru lagi, setelah Kimmy Yoonri. Tolong apresiasinya atas tulisan Eris juga ya ^^ 

Nisya ^^

Author        : @erissomnia

Title           : H.O.P.E (Diary of You And Me)

Length        : Tripleshot with 7.487 words

Genre(s)      : Romance, Angst

Cast(s)        : Lee Donghae, Lee Haejin, Choi Siwon, Park Ririn and other additional casts.

Pairing        : JinHae (MOST!!!), RinWon (nyelip)

Disclaimer(s)        : The banner isn’t mine. I just edited as I need. I own nothing except the plot and storyline. And Kim Ryeowook, definitely. *wink*

Rating                 : All Ages

Warning     : FULL OOC, ERIS UNIVERSE

Copyright   : It’s not a right thing to do some copy paste on all posts in this blog w/o permitt. This story belongs to me and Lee Haejin. Only us who have a right to copy this post.

A/N           : Boleh timpukin saya pake batu setelah selesai baca ini. Wkwkwkwk~ such a fail author gitu deh aneeee… Awalnya sih ide nya keren gelaaa melintas di otak saya *PDDEWA*. Tapi, emang dasar saya babonya kelewatan. Hasilnya malah kaya gini. Tapi, karena menurut saya ini udah maksimal, jadi, yah, mohon dimaafkan yah.. Biar sesuatu~.. #apadah

Summary     : Saat kau berani berharap, saat itu juga kau tahu kalau kau harus berusaha. Cerita ini tentang dua orang yang memperlakukan harapan dengan begitu berbeda. Yang satu berani berharap pada harapannya. Berusaha menggapainya walau bagaimanapun caranya. Sedangkan yang lain menyerah pada harapannya. Merasa bahwa itu mustahil dan tidak akan pernah berhasil. Andai saja mereka tahu, harapan hanya akan terwujud jika hati benar-benar mengharapkannya.

~ H.O.P.E (Diary of You And Me) ~

 

Aku tidak pernah berani menggantung tinggi harapanku.

Karena saat tali harapan itu putus, jatuh yang kurasakan akan menjadi beribu-ribu kali lebih sakit.

Seoul International Medical Centre, Choi Siwon (Cancer Development) – February 4th, 2011 (13:45 KST)

Siwon menatap berkas di tangannya dengan pandangan muram. Jari-jari putihnya gemetar sementara matanya terus menelusuri baris demi baris di kertas yang digenggamnya. Bibirnya terasa kaku. Pikirannya melayang kemana-mana. Tidak fokus.

Dan keadaan itu disadari oleh orang yang tengah duduk dihadapannya sekarang. Lee Donghae.

“Bagaimana? Apa aku masih bisa bertahan?”

Siwon menghela nafasnya dan meletakkan berkas itu diatas meja. Jarinya saling bertaut didepan perutnya. Ia bersandar pada kursi tingginya dan menatap Donghae lekat.

“Bisa,” Siwon memajukan dirinya hingga jarak 5 cm dari wajah Donghae dengan bertumpu pada tangannya. “Operasi, Hae.”

Gantian Donghae yang bersandar di kursinya. Ia mendecih pelan. “Untuk kesekian ratus kalinya aku akan memberitahumu, Siwon-ssi. Aku-tidak-akan-operasi.”

“Wae?”

Donghae membalas tatapan Siwon dan menatap mata hitam dihadapannya tak kalah lekat. “Aku ingin semuanya terjadi secara alami. Kalau memang sudah saatnya aku mati, maka matilah.”

“Aku tidak mengerti jalan pikiranmu,” Siwon mendesah dan memalingkan pandangannya dari mata Donghae. Memutus adu mata itu secara sepihak.

Donghae tersenyum. “Tidak ada keharusan bagimu untuk mengerti jalan pikiranku, Ma Siwon.”

“Jangan sebut nama itu!” Siwon memutar bola matanya. Ia meraih secarik kertas dari dalam map kuning diatas mejanya dan menyodorkannya kepada Donghae. Surat Persetujuan Operasi. “Kau hanya boleh mengucapkannya jika kau setuju untuk tanda tangani kertas ini.”

Kertas yang langsung didorong mundur oleh Donghae. “Kau bayar aku dengan semua saham di Hyundai Corp-mu juga aku tidak akan tanda tangani surat mengerikan ini. Lagipula, aku tetap bisa memanggilmu dengan panggilan itu kapanpun aku mau.”

“Ini sama sekali tidak mengerikan, kalau kau tanya pendapatku. Justru surat ini yang dapat membuatmu terus bertahan,” Siwon mendorong kembali surat itu.

“Apa sudah pasti kalau aku tetap bisa hidup setelah menandatangani surat ini? Berapa persen kemungkinannya? Kau berani jamin 100 persen?”

“Tidak. Tapi…”

“Jadi, berhenti membujukku,” Donghae mengambil kertas dihadapannya dan memasukkannya kembali kedalam map kuning milik Siwon, dimana kertas itu awalnya berada.

Siwon kembali mendesah. Ini sudah usaha kesekian kalinya untuk membujuk Donghae agar bersedia untuk di operasi. Dan ini juga kesekian kalinya ia mendapati kertas itu tetap kosong tanpa tanda tangan Donghae.

“Baiklah, sepertinya sudah saatnya aku pergi,” Donghae bangkit dari kursinya dan menepuk bahu Siwon pelan. “Sudah, jangan cemberut begitu. Kau semakin mirip kuda, tahu.”

Donghae terkekeh kemudian berjalan menuju pintu lalu membukanya. “Aku pergi, ya.”

“Waktumu kurang dari dua bulan, Hae.”

“Aku tahu,” kata Donghae sebelum menutup pintu ruangan dokter muda itu. “Bye.”

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, Park Ririn (Specialize of Transplantation Development) – February 4th, 2011 (13:50 KST)

“Nah, dengan begini, kau bisa berharap akan ada yang mendonorkan kornea padamu!” ujar Ririn dengan nada ceria. Ia memasukkan kertas yang baru saja ditandatangani orang didepannya kedalam map kuning beserta berkas-berkas lainnya.

“Yeah, ini semua karenamu. Kalau bukan karena kau yang terus-terusan bawel padaku, aku mungkin tidak akan repot-repot periksa mata dan mendaftarkannya sebagai orang yang butuh kornea.”

Ririn terkikik geli. Ia ingat betapa cerewet dirinya untuk memaksa gadis dihadapannya ini pergi ke Seoul International Medical Centre untuk mendaftar sebagai resipien kornea. “Jangan sungkan. Kau kan sahabatku!”

“Cih~, aku ragu aku hanya jadi kelinci percobaan bagi karirmu,” sindir Haejin. “Aku sudah cukup nyaman dengan keadaanku sekarang. Kau tahu itu, Park Ririn-ssi?”

“Ssshh!! Mata indahmu itu akan percuma jika hanya terbuka tanpa bisa melihat keindahan aslinya,” Ririn memutari mejanya dan berdiri disamping Haejin. “Kau berhak melihat dunia dengan sejelas-jelasnya, Lee Haejin-ssi.”

Haejin tertawa. “Ya, ya, ya. Sesukamulah. Asal kau berjanji tidak menghilangkan nyawaku jika suatu saat nanti aku harus menjalani operasi kornea mata. Oke?”

“Tidak akan ada yang mati,” tawa Ririn berderai. “Paling-paling hanya dahimu yang akan mendapatkan bekas luka sambaran petir. Itu juga kalau tanganku terlalu berkeringat sehingga membuat pisau operasiku terpeleset.”

“Omo! Aku akan senang sekali mendapat bekas luka seperti itu!” Haejin mendadak antusias. “Tapi, sebelum gambar petir itu benar-benar tercipta di dahiku, bisakah kau memastikan J. K Rowling tidak keberatan jika karakter fiksinya berubah nama menjadi Haejin Potter?”

“Mwoya?? Haejin Potter?! Konyol sekali!!” tawa Ririn semakin kencang. “Tapi, yeah. Aku akan memberitahunya sebelum dahimu benar-benar kugores pisau operasi.”

“Stop! Kita harus menghentikan obrolan ini sekarang juga sebelum topiknya berganti lagi ke hal yang tidak jelas lainnya,” Haejin menghentikan tawanya. “Aku harus pulang.”

Ririn mengambil tongkat Haejin dan menyerahkannya kepada gadis disebelahnya. “Aku akan memberitahumu jika aku berhasil menemukan kornea yang cocok untukmu. Stand By-kan saja terus ponselmu.”

“Siap, Kapten Park Ririn!” ujar Haejin sambil meletakkan kelima jari kirinya di pelipis, tanda hormat. Ia mengambil tongkatnya dari tangan Ririn dan segera berbalik ke arah pintu. “Aku pergi, ya!”

“Kau yakin tidak mau kuantar?” Ririn mengikuti langkah Haejin.

“Tidak usah,” Haejin menolak. “Aku memang buta tapi aku tidak manja. Aku masih bisa menemukan rumahku sendiri. Bye!”

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, 8th Floor Elevator – February 4th, 2011 (14:15 KST)

Donghae memasuki lift yang baru berdenting terbuka dihadapannya. Ia memencet tombol GF – Ground Floor, untuk menuju lantai dasar dan kemudian ke arah parkiran. Ia memarkirkan Nissan March-nya disana.

TREK!

Donghae terkejut. Pintu lift baru saja akan tertutup sampai sebuah tongkat mengganjalnya hingga pintu besi itu kembali terbuka. Seorang gadis dengan terusan selutut yang berimple di bawahnya plus kardigan putih, masuk kedalam lift. Ia meraba tombol lift dan berhenti saat jari telunjuknya menemukan tombol L – Lobby. Satu lantai diatas lantai tujuan Donghae.

Suasana hening tercipta. Donghae memperhatikan gadis disebelahnya dengan lekat. Gadis yang manis, kalau menurut Donghae. Rambutnya panjang, hitam dan terlihat sangat halus. Hidungnya mancung. Kulitnya agak sedikit gelap untuk ukuran orang Korea. Kulit yang Donghae pikir mirip dengan kulit teman-teman perempuannya saat kecil di Mokpo dulu. Khas gadis pantai. Eksotis!

Gadis itu juga memakai kacamata. Cokelat gelap warnanya. Donghae bisa melihat kalau kacamata itu asli buatan Dolce & Gabbana. Bukannya Donghae berprofesi sebagai ahli fashion atau apa. Tapi, ibunya memiliki satu model kacamata seperti yang gadis disebelahnya ini kenakan.

Mata Donghae kemudian jatuh ke tongkat yang digenggam erat oleh gadis itu. Tongkat dengan bantalan biru muda dan gagang terbuat dari stainless steel. Dengan tambahan kacamata D&G itu, seharusnya Donghae tidak memutar otak lebih lanjut hanya untuk mengetahui kalau gadis itu buta.

“Apa sebentar lagi kau akan menanyakan namaku, atau kau hanya penasaran dengan tongkatku?” gadis itu kembali membuat Donghae terkejut. Perasaan orang yang tidak bisa melihat terhadap lingkungan sekitarnya memang lebih peka seperti yang telah ia baca di beberapa buku kesehatan dan psikologi. Tapi kenapa ia masih saja melakukan perbuatan memalukan itu? Memperhatikan dengan intens seorang gadis buta didalam lift.

“Ah, mianhamnida,” Donghae agak mundur kebelakang. Wajahnya merona merah kepergok sedang menatap lekat seorang gadis buta. Benar-benar tidak sopan!

“Gwaenchana,” gadis itu tetap dalam posisinya. “Aku sudah terbiasa dengan tatapan orang-orang yang penasaran, sepertimu.”

Donghae tertohok. Ia sangat sangat sangat merasa malu pada gadis itu dan dirinya sendiri. Apa sih yang ia pikirkan?? Memperhatikan orang yang tidak bisa balik memperhatikannya.

TTING!

Pintu lift terbuka. Donghae melihat ke layar LCD kecil diatas pintu yang menunjukkan lantai L.

“L Floor,” suara mesin otomatis penunjuk lantai membuat gadis dihadapannya beranjak. Meninggalkan Donghae sendirian didalam lift yang segera menutup seiring tangan Donghae yang bergerak ke arah kepalanya.

Donghae memukul kepalanya pelan seraya berkata, “Nan babboya!”

*        *        *        *

Brittany & Co’ (Cafe n’ Resto) – February 15th, 2011 (16:47 KST)

“Iya! Aku baru saja tiba didepan kafe yang kau bilang. Sabar sedikit kenapa sih,” Donghae menggerutu di ponselnya.

“Aku kira kau lupa. Aku kan sudah janji untuk mentraktirmu kopi di kafe favoritku. Aku hanya tidak ingin janjiku ini menjadi utangku seumur hidup ketika kau mati nanti,” kata Siwon sarkastik.

“Cih~, kau sudah berani menekanku dengan ejekan ya?” Donghae berjalan cepat dan membuka pintu kafe dihadapannya. Ia berhenti sejenak untuk mencari sosok Siwon diantara para pengunjung kafe lainnya. “Apapun cara yang kau lakukan, tanda tanganku tidak akan tergores di kertas itu, dr. Choi.”

“Aku sedang tidak membujukmu, tahu! Aku hanya mengingatkanmu tentang apa yang akan terjadi jika kau mengabaikan Surat Persetujuan Operasi itu,” Siwon mendecak sebal. Usahanya gagal lagi. “Arah jam 2.”

Donghae menoleh ke arah yang Siwon instuksikan dan mendapati Siwon sedang melambaikan tangan pada dirinya. Ia menurunkan ponselnya dan segera menekan tombol merah untuk mengakhiri panggilan teleponnya dari Siwon. Donghae berjalan ke arah lelaki kekar berhati lembut itu.

“Pesankan aku jus mangga,” Donghae menarik kursi dihadapan Siwon dan segera menghempaskan tubuhnya disana.

“Mwoya?? Ini kedai kopi, Lee Donghae-ssi,” Siwon mengerutkan alisnya. “Brittany & Co’. Dan tidak ada jus mangga disini.”

“Baiklah, sesukamu saja,” Donghae memutar bola matanya. “Asal tidak berwarna hitam pekat dengan aroma yang tajam seperti milikmu itu.”

“Espresso itu nikmat jika kau tahu cara menikmatinya,” Siwon terkekeh. “Tapi Vanilla Latte tidak terlalu pahit seperti punyaku, kok.”

Siwon segera memanggil seorang pelayan pria bertubuh mungil ber-name tag Kim Ryeowook, yang segera pergi begitu ia selesai mencatat pesanan Siwon.

“Jadi,” Siwon memulai. “Apa operasi itu seburuk esspreso-ku bagimu?”

Donghae kembali memutar bola matanya. Ia bosan dengan topik pembicaraan yang diangkat oleh sahabatnya ini sejak kanker otak ketahuan secara resmi menggerogotinya 3 bulan lalu. Baru seminggu sejak kedatangannya di ruangan Siwon di Seoul International Medical Centre, dan sampai hari ini sudah 35 kali Siwon mengucapkan kata O-PE-RA-SI. Jadi, bisa kau hitung sendiri sudah berapa ribu kali Siwon mengucapakannya dalam jangka waktu 3 bulan ini.

“Ucapkan kata itu sekali lagi maka kuhancurkan Mazda Zoom barumu,” kata Donghae dengan nada sok serius.

“Woah! Tenang dong,” Siwon bersandar di kursinya. “Kau kan tidak harus… Park Ririn?”

Donghae menoleh begitu mata Siwon beralih fokus ke arah belakang bahunya. Ia melihat dua orang gadis yang baru saja akan duduk di kursi belakang mereka. Donghae melihat gadis yang memakai kardigan putih itu yang terkejut karena suara Siwon. Sementara gadis yang satunya lagi diam saja sambil meraba-raba meja kayu dihadapannya dan menarik kursinya. Gadis yang Donghae kenali sebagai sebagai gadis yang diperhatikannya di lift seminggu yang lalu.

“Choi Siwon?” gadis berkardigan putih itu mengerutkan alisnya sebentar sebelum tersenyum. “Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu disini.”

Siwon balas tersenyum padanya. “Justru aku yang harusnya heran. Tidak kusangka dokter teladan sepertimu juga suka ngopi. Kukira, kau hanya berteman dengan diktat-diktat tebalmu saja.”

“Apa kau tidak tahu kalau teman baik dari sejilid buku adalah secangkir kopi?” Ririn membalas dan keduanya tertawa.

“Ah, bolehkah kami bergabung denganmu? Sepertinya duduk berempat lebih ramai dibanding duduk berdua dengan sejuta kemuraman,” Siwon kembali tersenyum hingga sederet gigi putihnya terlihat. Donghae sempat menangkap lirikan sindiran dari Siwon saat mengucap kata ‘kemuraman’ tadi.

“Ye. Tentu saja boleh,” gadis bernama Ririn itu mempersilakan dengan mata berbinar. Donghae sampai berani bertaruh kalau setelah keluar dari kafe ini, Ririn akan menjadi wanita pertama yang duduk di kursi penumpang Mazda Zoom milik dokter spesialis kanker itu. “Atau, bagaimana kalau kami yang bergabung disana?”

“Dengan senang hati,” gumam Siwon riang. Tidak perlu waktu lama bagi meja tempat Donghae dan Siwon bertukar argumen berubah fungsi menjadi meja tempat Siwon dan Ririn bercengkerama. Pendekatan, maksudnya.

“Ah, kenalkan. Ini Lee Haejin, dia sahabatku,” ujar Ririn. “Haejin-ah, ini Choi Siwon. Dokter spesialis kanker di SIMC.”

“Salam kenal.”

“Salam kenal. Oh iya, ini Lee Donghae, sahabatku juga,” kata Siwon.

“O? Kau si Musky yang di lift waktu itu, kan?” Haejin berbicara. Matanya kini tertutup dengan kacamata hitam gelap dengan logo Louis Vuitton di gagangnya. Donghae meringis.

“Yeah. Kau si gadis lantai L, kan?”

“Mwoya? Apa kalian sudah saling kenal sebelumnya?” tanya Ririn bingung. “Si Musky? Gadis Lantai L? Apa ini??”

“Bukan begitu,” Donghae tersenyum malu berusaha menyembunyikan kisah pertemuannya dengan gadis bernama Haejin ini untuk melindungi image perfect-nya.

“Dia kusebut Musky karena aroma parfumnya,” Haejin tersenyum. “Kami bertemu di lift seminggu lalu…”

Dan mengalirlah cerita saat kedua anak adam dan hawa itu bertemu untuk pertama kalinya. Sesekali terselip tawa saat gaya bercerita Haejin membuat ketiganya tergelak.

*        *        *        *

Lee Donghae’s Nissan March – February 15th, 2011 (18:36 KST)

“Dasar si Ririn itu,” Haejin menggerutu dengan lengan terlipat. “Bukannya bertanggung jawab mengembalikanku ke rumah malah asik sendiri dengan teman kudamu. Benar-benar teman yang tidak bisa diandalkan!”

Donghae terkekeh. Sesekali ia mengalihkan pandangannya dari jalanan untuk menatap gadis manis disebelahnya. “Sudahlah. Kurasa mereka berdua berhak diberikan sedikit waktu untuk privasi mereka. Toh aku masih mampu mengantarmu pulang.”

“Iya, sih. Aku juga senang kalau akhirnya Ririn menemukan tambatan hatinya. Masa jomblo-nya sudah terlalu lama,” Haejin menatap lurus ke arah jalan didepannya walau ia tidak benar-benar menatap jalanan itu. “Kuharap teman kudamu adalah lelaki yang berkepribadian baik.”

“Oh, tenang saja. Choi Siwon adalah seorang tuan muda penurut dari kerajaan Hyundai. Kecuali tingkahnya yang agak bodoh di beberapa kesempatan, semua sikapnya patut kuberikan nilai A+. Asal kau tahu, Ririn adalah gadis kedua yang resmi didekatinya,” Donghae mengganti perseneling saat ia melihat lampu lalu lintas didepannya berganti warna.

“Syukurlah kalau begitu. Ririn pantas mendapat pria yang baik dan sempurna. Tak bisa kubayangkan jika ia mendapat pria yang licik dan jahat seperti di drama Temptation of Wife.”

“Yeah, kurasa begitu. Tapi, eehhm, sepertinya aku lupa sesuatu,” Donghae melirik spion untuk melihat arah belakangnya sebelum membelokkan mobil. “Ririn mungkin gadis kedua yang resmi didekatinya. Tapi yang tidak resmi….”

*        *        *        *

Sunrise Florist – February 17th, 2011 (08:45 KST)

Donghae masuk kedalam toko bunga yang terletak di samping taman di jalan Apgujeong. Ia melihat-lihat sebentar sebelum akhirnya menemukan apa yang ia cari. Krisan kuning.

“Ada yang bisa ku bantu, Tuan Musky??”

Donghae menoleh dan terkejut. Si gadis lantai L?? “Ah, iya. Aku ingin krisan ini di buket dengan cantik.”

“Apa kau ingin menyertakan kartu ucapan? Gadismu pasti senang jika mendapatkan buket krisan dengan ucapan I Love You didalamnya,” Haejin tersenyum sambil mengambil beberapa tangkai krisan lainnya. Kemudian ia menolehkan kepalanya kebelakang sebelum memanggil seseorang. “Yejin??”

Donghae terkekeh. “Tidak. Bukan seperti itu…”

Seorang gadis dengan apron putih dan rambut yang digelung rapi keluar dari dalam toko. Ia menghampiri Haejin, “Ada apa onnie?”

“Buketkan bunga ini. Beri pita oranye, ya!” Haejin menyerahkan krisan itu pada si pegawai.

“Ehmm, putih saja.”

“Ne?”

Donghae tersenyum. “Kalau bisa, beri pita putih saja. Ayahku kurang suka warna oranye.”

Haejin tampak mengerti. “Aah~. Jadi, ini untuk ayahmu ya? Anak baik.”

“Yeah, semasa hidup dulu, ayahku memang sangat menyukai krisan,” Donghae memasukkan kedua tangannya kedalam saku jeans-nya sambil melihat-lihat tanaman lain di toko bunga itu.

“Ummh, maafkan aku. Kau pasti… sangat menyayanginya kan?” wajah Haejin berubah muram. Ia sangat merasa tidak enak karena telah menyinggung orang yang sudah meninggal.

“Sangat,” Donghae berganti menatap Haejin. “Omong-omong, apa aku mendapat diskon?”

Haejin tertawa. Lelaki ini selalu berhasil membuatnya berganti mood dengan cepat. “Tentu saja! Karena ini kali pertamamu masuk kedalam toko bunga milikku, maka krisan itu diskon 100 %!”

“Jinjjayo? Tidak bisa begitu. Nanti toko bungamu rugi,” ujar Donghae menggoda. “Tapi karena kau memaksa, baiklah. Kurasa diskon 100 % itu bukan hal yang buruk.”

“Haha, sebenarnya aku menunggu kau mengatakan ‘paling tidak diskon 50 % saja!’. Biasanya kan, pria selalu mengutamakan gengsinya. Masa mendapatkan bunga gratisan saja senang?? Kalau begini toko bungaku bisa bangkrut!”

“Tapi, itulah aku. Si penyuka barang gratis!” Donghae tertawa. “Ada hikmahnya juga toko bunga milik Yunho hyung sedang tutup. Aku jadi mampir kesini dan mendapat krisan gatis darimu.”

“Ya, ya, ya. Si Musky pecinta barang gratis. Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan itu?” Haejin berjalan ke rak tanaman lainnya. Ia memindahkan beberapa pot kecil yang kosong dan mengisinya dengan beberapa pot yang sudah berisi tanaman mawar dengan bunga yang hampir mekar.

“Sebenarnya, Donghae saja sudah cukup. Kecuali kau bersedia untuk kupanggil Si Gadis lantai L pemilik toko bunga,” Donghae menyeringai. “Tapi, bolehkah aku bertanya satu hal padamu?”

“Tanyakan saja,” Haejin meraba troli datar disampingnya dan meraih sebuah penyemprot tanaman.

“Ini bunganya, tuan,” pegawai Haejin yang tadi datang dan mengagetkan Donghae. Jantung Donghae berdebar keras yang ia yakin, tidak ada hubungannya dengan rasa terkejutnya karena kedatangan Yejin.

“Ah, ye. Kamsahamnida,” ujar Donghae mengambil bunga yang sudah dipercantik pesanannya. Pegawai bernama Yejin itu kemudian masuk kembali kedalam toko. “Haejin-ssi…”

“Haejin saja.”

“Emmh, Haejin. Tokomu tutup jam berapa?” Donghae akhirnya bertanya dengan jantung yang melompat-lompat hendak keluar dari tempatnya.

Haejin tersenyum sedikit sebelum menjawab. “Biasanya sih, tutup jam 6. Tapi sepertinya hari ini akan tutup jam 5 sore. Yejin bilang, ini hari ulang tahun pacarnya. Dan aku tidak bisa menangani semua bunga ini sendirian tanpa bantuannya.”

“Kalau begitu, apa kau mau makan malam bersamaku?”

Haejin meletakkan penyemprotnya dan berjalan ke arah rak yang lain. “Kurasa itu lebih dari satu pertanyaan.”

Hati Donghae mencelos. Ia meringis pedih melihat tanda-tanda penolakan yang akan keluar dari bibir Haejin.

“Tapi kalau kau memaksaku untuk menjawab, kurasa jawabanku adalah ‘Ya’.”

Donghae mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meninju udara seraya bergumam tanpa suara, “Yes!”

*        *        *        *

Sunrise Florist – February 17th, 2011 (16:52 KST)

“Minum obatmu, tuan muda Lee Donghae. Kalau tidak kau akan collapse nanti,” suara Siwon terdengar tajam dari ujung telepon sana. Sementara Donghae hanya memutar matanya sambil menarik rem tangan dimobilnya.

“Bukankah aku harus meminumnya setelah makan? Sekarang bahkan belum waktunya makan malam,” Donghae mematikan mesin meobilnya dan beranjak keluar. Ia melongok kedalam kaca toko bunga milik Haejin.

“Sudahlah. Aku hanya mengingatkanmu saja,” kata Siwon lalu memutus sambungan teleponnya. Donghae hanya mendengus dan memasukkan ponselnya ke saku jeans-nya. Ia sempat melirik jam tangannya sebentar. Masih ada sepuluh menit sebelum jam lima.

Donghae menatap ke arah toko. Dilihatnya gadis bernama Yejin sedang memasukkan beberapa pot bunga terakhir kedalam toko. Tak lama kemudian, Haejin keluar sambil menggenggam serenceng kunci. Donghae memperhatikan gadis buta itu dengan seksama.

Gadis itu tidak cantik. Tapi manis. Atau itu hanya penglihatan sementara Donghae karena gadis itu selalu memakai kacamata dimanapun ia berada? Dan entah karena apa, Donghae justru terpikat. Keriangan yang dimiliki gadis itu. Keceriaannya. Kedewasaannya. Kemandiriannya. Membuat Donghae terjerat dalam lingkaran pesona seorang Lee Haejin.

“Onnie, aku pergi dulu,” Donghae melihat Yejin membungkuk kepada Haejin sebelum gadis itu pergi dengan tas mungilnya. Donghae segera menghampiri Haejin.

“Halo, Tuan Musky?”

“Hei, aku selalu bertanya-tanya. Kenapa kau selalu mengenaliku?? Bahkan di pertemuan pertama kita di kafe waktu itu,” Donghae mengerutkan keningnya.

“Entahlah. Wangimu sangat khas. Mungkin itu yang membuatku selalu mengenalimu,” Haejin tertawa. Ia memutar kunci di pintu tokonya lalu mencabutnya setelah terdengar bunyi ‘klik’. “Dan pertemuan pertama kita itu di lift, kalau boleh kuingatkan.”

Donghae terkekeh. “Kau benar.”

“Jadi, apa kita akan pergi sekarang?”

“Ya, ayo kita perg… uurrgghh!!” Donghae menekan kepalanya. Rasa pusing datang melandanya disaat yang tidak tepat. Ia sama sekali tidak ingin terlihat lemah dihadapan seorang wanita. “Aaarrgghh!!”

“Donghae-ssi, apa kau baik-baik saja??” Haejin terdengar panik. Ia meraba-raba hingga tangannya menemukan bahu Donghae. Donghae hanya meringis tertahan agar ia tidak terdengar sangat kesakitan. Walau ia merasa ribuan jarum tertajam didunia sedang menusuk-nusuk kepalanya.

“Donghae-ssi??” Haejin semakin panik. Ia meraba-raba hingga meneukan wajah Donghae dan mengangkatnya dengan kedua tangannya. “Kau kenapa?”

Rasa sakit dikepala Donghae perlahan menghilang. Ia membuka matanya dan melihat wajah Haejin yang sangat cemas. “Anniyeo. Aku baik-baik saja. Hanya saja, tadi banyak burung kecil dikepalaku.”

Wajah Haejin masih terlihat cemas. “Apa kau sakit? Bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja?”

“Tidak, tidak. Sungguh, aku baik-baik saja. Ayo, kita cari tempat makan yang enak!” ajak Donghae. Haejin hanya menggigit ujung bibirnya.

*        *        *        *

Healthy Veg’ n’ Fruit Resto – February 24th, 2011 (13:02 KST)

Donghae menatap makanannya ngeri. Salad segar dengan roti gandum. Siang ini, Siwon mengajaknya makan siang di salah satu restoran vegetarian yang terkenal di Seoul. Tempat yang sangat bagus bagi para vegetarian dan para pelaku diet. Tapi, tempat yang mengerikan untuk Donghae.

“Yang benar saja! Sapi saja masih mendapat makanan yang jauh lebih layak daripada ini,” keluh Donghae menunjuk pasrah hidangan makan siangnya.

“Diam dan habiskan saja! Lama-lama kau terdengar seperti Jiwon. Cerewet dan pengeluh,” tandas Siwon. “Ngomong-ngomong, Ririn bilang padaku kalau kau dan Haejin sering jalan bersama. Benarkah?”

“Aku hanya kebetulan bertemu di toko bunga miliknya. Lalu, kami pergi makan malam.”

“Hanya itu?” Siwon mengangkat alis kanannya. “Bagaimana dengan jalan pagi di taman minggu lalu?”

Ingatan Donghae melintas ke hari minggu lalu. Ia memang mengajak Haejin untuk berjalan-jalan menikmati pagi pertama musim semi yang datang lebih awal. Melihat bunga-bunga bermekaran dan merasakan angin segar yang berhembus. “Kurasa itu bukan urusanmu.”

Siwon tersenyum menggoda. “Eiiyyy, sudahlah. Aku bahkan sudah tidak perlu lagi bertanya padamu. Wajahmu sudah menunjukkan bahwa kau menyukainya.”

“Diam kau!”

Siwon terkekeh. “Apa ini benar-benar Donghae yang kukenal? Jangankan wanita, tubuhmu saja tidak pernah kau perhatikan. Kenapa tiba-tiba? Seorang gadis buta, lagi.”

“Apa itu masalah? Kalau kau benar-benar menyukai seseorang, maka kondisi apapun, tak akan pernah kau pedulikan, kan?”

Siwon menarik ujung bibirnya dan mengangkat kedua tangannya ke atas. “Baiklah. Kurasa kekuatan cinta sedang menunjukkan kemampuannya disini.”

Donghae meneguk jus wortelnya lalu mengernyit. “Kau sendiri? Apakah Ririn itu benar-benar tipemu?”

“Entahlah. Dia sangat sulit kudekati. Terlalu perfeksionis tapi… penakut. Bayangkan! Aku mengajaknya kencan minggu ini dan dia malah bertanya, “Apa aku boleh mengajak Haejin?”. Maksudku, ayolah. Kencan itu antara satu pria dan satu wanita, kan? Kenapa dia bertingkah seperti anak yang membutuhkan perawatnya kapan saja??”

Donghae tersenyum mengejek. “Tingkatkan terus usahamu!”

“Pastinya! Aku tidak akan membiarkannya lepas begitu saja. Dia wanita yang unik,” Siwon menusuk rotinya. “Kau tidak akan menyangka kalau dia itu gadis yang… LEE DONGHAE!!”

Donghae memegang kepalanya yang kembali berdenyut kencang kuat-kuat. Rasanya seakan sisi kanan dan kiri kepalanya sedang ditekan dengan mesin press besar. Menghimpit seluruh rongga otaknya dan nyaris menghancurkan tengkoraknya.

“AAARRGGHHH!!!” Donghae mengerang. Siwon panik bukan kepalang. Ia segera menghampiri Donghae dan berusaha melakukan pertolongan pertama.

PRAAANNGG!!!

“AARRGGHH!!”

Piring salad Donghae jatuh beserta garpu dan sendoknya. Tangannya menyenggol piring itu sehingga pecah berkeping-keping. Sementara Siwon mengobrak-abrik kantong jas Donghae untuk mencari obat.

“MANA OBATMU??!!” teriak Siwon panik. Seluruh pengunjung restoran kini menatap mereka berdua dengan pandangan heran. Beberapa bahkan sedang mempertimbangkan untuk memanggil ambulan karena melihat Donghae yang terlihat amat kesakitan.

Siwon mengambil kunci Nissan Donghae dan langsung berlari ke luar restoran. Sementara Donghae tetap memegangi kepalanya dengan kuat sambil mengerang menyedihkan. Pandanganya kabur. Nafasnya tersengal. Dadanya terasa terhimpit dan kepalanya terasa sedang dibuka paksa.

Tak lama, Siwon datang dengan bungkusan putih berisi obat-obatan milik Donghae. Ia segera mengeluarkan kotak kecil berisi pil berwarna merah dan beberapa tablet berwarna hijau muda dan putih. Siwon membuka mulut Donghae dan segera memasukkan semua obat itu kedalamnya.

Keheningan terjadi seketika didalam restoran. Mereka menatap Donghae yang berusaha menelan semua obatnya dengan susah payah.

Perlahan, pusing di kepala Donghae menghilang. Ia bisa melihat semuanya dengan jelas lagi sekarang. Nafasnya perlahan kembali normal. Ia menatap Siwon dengan pandangan menyesal. “Gomawo. Mianhae.”

Siwon meletakkan kedua tangannya di pinggang dan memejamkan matanya sesaat. Berusaha menghilangkan rasa kalutnya ketika melihat langsung sahabatnya didera rasa sakit.

“Sudahlah,” Siwon meraih tangan Donghae yang langsung disambut oleh lelaki berusia 25 tahun itu. “Ayo, kita pulang.”

*        *        *        *

Heundae Beach – March 13th, 2011 (20:22 KST)

Donghae menatap hamparan laut dihadapannya dengan pandangan kosong. Angin kencang yang meniupkan anak-anak rambutnya tida dihiraukannya sama sekali. Otaknya terus memutarkan percakapannya dengan Siwon beberapa waktu lalu.

“Mungkin kematian bukanlah sesuatu yang menakutkan bagimu. Tapi, apa kau tidak pernah memikirkan perasaan orang-orang yang akan kau tinggalkan? Ibumu? Hyung-mu? Aku?” Siwon menatap Donghae dengan pandangan putus asa.

 

“Maka mereka harus menerima kepergianku dengan lapang dada. Iya, kan?”

 

“Bukan itu poinnya, Hae! Paling tidak, jika kau melakukan operasi, kau masih bisa bertahan hingga beberapa tahun lagi.”

 

Donghae menatap Siwon tajam. “Dan kalau gagal?”

 

“Tidak akan gagal!”

 

Donghae menarik nafasnya. Ia melipat tangannya di dada. “Kau memiliki kepercayaan diri yang tinggi.”

 

“Bukan kepercayaan diri. Tapi keyakinan,” Siwon balas menatapnya. “Aku yakin kalau kau akan mampu bertahan melalui semua ini.”

“Adakah hal yang mengganggumu?” Haejin memecah lamunan Donghae. Ia berjalan dengan tongkatnya sementara tangannya yang lain membawa kantong berisi soda dan beberapa cemilan.

Donghae tersenyum menatap kehadiran gadis itu disampingnya. Entah sejak kapan, Donghae yakin akan perasaannya kepada gadis ini. Walau ia tak tahu, apakah Haejin juga memiliki perasaan yang smaa terhadapnya.

“Tidak ada,” Donghae mengelak. “Kau bawa apa?”

Haejin menyerahkan kantung itu kepada Donghae. “Hanya beberapa hal yang akan menemani kita menatap hamparan laut hitam disana. Kalau Siwon dan Ririn punya kopi untuk menemani mereka membaca buku, maka kita punya ini.”

Donghae terkekeh. Ia menggeser badannya dan mengajak Haejin untuk ikut bersandar didepan kap mobil bersamanya. Melihat laut. Dan mendengarkan ombak.

“Anginnya segar sekali,” gumam Haejin sambil merentangkan kedua tangannya. Berusaha meraup semua angin yang menerpa tubuhnya sekaligus.

Donghae menyerahkan sekaleng soda yang sudah dibukanya kepada Haejin. “Jangan begitu. Nanti kau masuk angin.”

“Wuahh, bintangnya banyak ya?”

“Hah? Darimana kau tahu kalau malam ini langitnya berbintang?” goda Donghae. Topik penglihatan ternyata bukan sesuatu hal yang sensitif bagi Haejin. Gadis ini malah berpikir kalau hidupnya masih sama normal dengan orang-orang yang bisa melihat lainnya. Kebutaan bukan sesuatu hal yang akan menghalangi hidup, begitu katanya.

“Ya! Kau mengejekku, ya? Tanpa melihat langsung pun aku tahu kalau langit di atas sana penuh bintang. Karena bagiku, langit itu selalu berbintang. Biar bagaimanapun gelapnya malam itu,” Haejin bertumpu pada tongkatnya. Ia menatap ke langit dan tersenyum. “Karena bintang-bintangku akan selalu ada disana.”

Donghae mengerutkan alisnya. “Bintang-bintangmu?”

“O! Ayah dan ibuku. Harabojiku bilang, mereka selalu menjagaku dari langit. Menyinari jalanku, dan menuntunku.”

Donghae menganggukkan kepalanya. Ia menatap Haejin yang masih asik tersenyum ke arah langit.

“Apa aku sudah pernah bilang kalau aku sempat melihat sebelumnya?” kata Haejin pelan. Donghae makin melebarkan matanya tanda penasaran.

“Aku kehilangan penglihatan saat usiaku 15 tahun. Itu berarti, tepat 7 tahun yang lalu. Saat itu, aku dan keluargaku baru saja selesai menghadiri pesta ulang tahun harabojiku di Busan. Sebenarnya kami dilarang pulang oleh haraboji karena saat itu sedang ada badai. Tapi ayahku harus segera pulang karena ada rapat yang harus dihadirinya untuk esok pagi.

“Yah, saperti yang kita tahu. “Jangan abaikan kata-kata orang tua”, begitu kata orang-orang. Baru satu jam kami bertolak ke Seoul, angin kencang menghempas mobil kami hingga terseret jauh. Dan naas, dibelakang kami ada truk besar yang langsung menghantam mobil sedan kecil kami. Orang tuaku meninggal ditempat sementara aku luka parah. Begitu dibawa ke rumah sakit, ternyata kedua mataku tidak dapat diselamatkan.”

Donghae menatap Haejin. Gadis ini bercerita dengan suara yang berat namun lancar. Donghae mengira-ngira berapa liter air mata yang harus di tahan seorang Lee Haejin untuk menahan semua kepedihan mengenai keluarganya?

“Aku sempat menyerah pada awalnya. Berpikir bahwa kematian adalah jalan paling tepat untukku saat itu. Maksudku, untuk apa tetap hidup kalau tidak ada lagi yang kumiliki di dunia ini? Dua orang yang paling berarti dalam hidupku telah pergi jauh ketempat yang hanya bisa kuraih melalui kematian. Tapi ternyata, aku salah.

“Berbagai cara kucoba untuk memutuskan tali kehidupanku. Tapi semua cara itu gagal karena memang belum saatnya untukku pergi dari kehidupan fana ini. Sampai akhirnya Ririn datang. Sahabatku sedari kecil itu kembali dari sekolahnya di luar negeri dan memutuskan untuk mengambil kuliah kedokteran di Seoul. Ia selalu menemaniku. Meyakinkanku bahwa masih ada secercah harapan yang kumiliki untuk tetap bertahan di dunia ini. Ia juga berjanji bahwa aku akan menjadi pasien pertamanya untuk transplantasi kornea mata saat dia menjadi dokter nanti. Dan dia juga yang terus-terusan mengingatkanku tentang siapa-siapa saja yang akan merasakan kehilangan yang kurasakan jika aku juga pergi dari kehidupan mereka. Pertama kakekku, kedua dirinya, ketiga dan seterusnya, ia terus saja menyebutkan orang-orang yang akan merasakan keputusasaanku kehilangan seseorang.”

Entah sejak kapan, likuid bening di pelupuk mata Donghae jatuh meluncur turun menganak sungai di pipi mulusnya. Tanpa isak, tanpa suara. Donghae membiarkan air matanya mengalir deras. Membiarkan setiap pundi-pundi kebodohannya merasuk jauh kedalam pori-porinya.

“Maka itu, aku mencoba bertahan. Dengan bantuan Ririn, aku bisa menjalani hidupku sebagaimana kehidupan orang normal lainnya. Aku belajar lebih mensyukuri hidupku. Aku belajar bagaimana menghargai orang lain. Teruatama sesama penyandang cacat sepertiku.” Haejin menoleh ke arah Donghae. Berusaha melihat pria itu dengan mata hatinya. Kemudian tersenyum, “Nah, itu ceritaku. Apa ceritamu?”

Donghae mengulurkan tangannya dan memegang gagang kacamata Haejin. Ia menariknya ke atas kepala Haejin dan melekatkannya di rambut Haejin. Segera saja sepasang mata indah menyeruak tertangkap mata Donghae. Mata yang Donghae kira baik-baik saja selama kalimat demi kalimat itu terucap. Mata yang Donghae kira tidak akan tergenang air mata seperti sekarang. Mata yang berusaha segenap rasa untuk menahan hujan air mata dari hati pemiliknya. Mata yang cantik.

Tanpa ba-bi-bu lagi, Donghae merengkuh kepala Haejin kedalam pelukannya. Mencoba menyalurkan semua rasa yang ia rasakan untuk Haejin. Ia merasa bodoh. Dan merasa dipermainkan. Kenapa ia harus bertemu Haejin di ujung benang hidupnya? Kenapa Tuhan seakan menahan kepergiannya dengan membuatnya menyayangi Haejin? Kenapa Tuhan seakan sengaja membuatnya mendengar kisah Haejin?

“Ehm, Tuan Musky, apa kau baik-baik saja?” tanya Haejin dari dalam pelukkan Donghae. Ia sempat merasa tercengang dengan perlakuan lelaki ini. Sampai ia merasa sesuatu membasahi pundaknya. Siapa yang menangis? Langit, atau ‘langit’nya?

“Lee Donghae-ssi, gwenchanayo?”

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, Park Ririn (Specialize of Transplantation Development) – March 15th 2011 (11:21 KST)

“Dia memelukmu?? Benarkah??” Ririn tampak histeris. Jubah dokternya terkibas saking bersemangatnya dia mendengar cerita Haejin.

“O! Tapi, dia juga menangis. Kukira sedang hujan saat itu. Tapi ternyata, bahuku basah karena air matanya,” Haejin membuka kacamatanya dan meletakkannya diatas meja Ririn. “Menurutmu, kenapa dia menangis?”

Ririn tertawa. “Siapa yang tahu? Bisa saja ia menangis karena tersentuh mendengar ceritamu. Atau, dia teringat akan ayahnya yang juga sudah meninggal. Kau kan pernah bilang kalau ayahnya Donghae sudah tiada. Atau,” Ririn menggantung kalimatnya. Ia mengetukkan jari telunjuknya ke dau dengan lagak berpikir. “Siapa tahu dia kelilipan pasir sampai nangis?”

“Bodoh!” Haejin terkekeh. “Kurasa alasan kedua lebih tepat.”

“Hei, kemarin ada dua keluarga yang ingin mendonorkan kornea mata. Yang pertama, seorang wanita. Keluarganya bilang, wanita itu adalah anak ketiga mereka yang meninggal karena kasus pembunuhan,” Ririn duduk di kursinya dan mengambil beberapa lembar kertas dari dalam lacinya. “Yang kedua, laki-laki. Ia meninggal karena stroke.”

“Kenapa pilihanya mengerikan semua?” Haejin meringis.

“Itu juga belum tentu,” Ririn membaca kertas-kertas itu dengan seksama. “Kami masih harus mengetesnya sebelum memutuskan kornea mana yang cocok untukmu.”

“Hei, Park Ririn,” panggil Haejin.

“Hmm?” jawab Ririn sambil masih menekuri berkas-berkasnya.

“Mungkin ini terdengar aneh. Kau tahu kan, aku tidak begitu mempedulikan tentang penglihatanku sebelumnya?” tanya Haejin. Ririn mendengar suatu topik menarik yang akan diangkat Haejin dibalik nada suara gadis itu, jadi dia ikut mengangkat kepalanya dan menatap sahabatnya itu lekat-lekat.

“Uh ah. Lalu?”

“Sepertinya, sekarang malah aku yang tidak sabar untuk bisa segera melihat,” kata Haejin dengan wajah berseri. “Entahlah. Ada hal-hal yang sangat ingin sekali kulihat beberapa waktu terakhir ini.”

Ririn memicingkan matanya. “Apa ini tentang si Tuan Musky-mu itu??”

Wajah Haejin merona merah. Bibirnya menarik ulur senyumnya dengan salah tingkah.

*        *        *        *

Lee Donghae’s Nissan March & Parking Lot SIMC – March 15th, 2011 (15:46 KST)

Donghae menginjak pedal gas-nya perlahan. Dengan kekhawatiran dan kecemasan yang membuncah, ia tetap mengarahkan Nissan March-nya ke Seoul International Medical Centre. Ia telah membulatkan tekadnya. Ia akan menandatangani Surat Persetujuan Operasi.

Setelah mendengar penuturan kisah hidup Haejin beberapa waktu lalu, ia jadi berpikir tentang seberapa egoisnya dia. Ia tak pernah berpikir tentang perasaan orang-orang yang akan ditinggalkannya. Perasaan hampa dan kehilangan. Seperti yang pernah ia rasakan saat ayahnya meninggalkannya.

Ia sadar kalau ia belum menjadi seorang anak dan adik yang baik bagi ibu dan hyung-nya. Ia juga belum membalas semua kebaikkan Siwon. Jadi, atas dasar apa ia berhak meninggalkan kehidupan ini? Menyerahkan semuanya pada takdir tanpa ia berusaha merubahnya barang satu detik pun.

Dan Haejin. Gadis yang selama satu setengah bulan ini selalu menghiasi harinya mendadak menjadi satu sosok yang tak bisa ia lepaskan. Ada rasa tanggung jawab yang keluar dari dalam diri Donghae untuk selalu bisa menjaganya. Melindunginya. Menemaninya. Dan Donghae merasa tidak siap meninggalkan Haejin.

Donghae memarkir mobilnya di pelataran parkir depan rumah sakit. Setelah mengambil ponselnya, ia keluar dari Nissan-nya dan berjalan masuk kedalam rumah sakit. Ia membuka phonebook di ponselnya dan menekan nomor Siwon begitu deretan angka familiar itu muncul di layarnya.

“Siwon-ah,” Donghae bicara saat panggilannya tersambung ke nomor Siwon. “Aku akan menandatanganinya.”

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, Lobby – March 15th, 2011 (16:00 KST)

Haejin keluar dari ruangan Park Ririn dan berjalan menyusuri lorong menuju lift. Ia segera masuk saat lift itu terbuka dan memencet tombol L seperti biasanya.

Haejin kembali teringat saat pertemuan pertamanya dengan Donghae satu setengah bulan lalu di dalam lift ini. Ia mencium wangi musky yang sangat kuat menguar di udara. Untuk beberapa alasan tertentu, Haejin sangat menyukai wangi musk. Dan betapa terkejutnya ia bahwa ia semakin menyukai aroma maskulin itu sejak pertemuannya dengan Donghae saat itu.

TTING!

Lift berdenting terbuka dan mesin otomatis menyuarakan, “L Floor.”

Haejin melangkah keluar dari dalam lift. Ia meraba sekelilingnya dengan ujung tongkatnya. Entah kenapa akhir-akhir ini SIMC begitu ramai. Beberapa kali Haejin menabrak orang-orang didepannya.

Tiba-tiba Haejin menangkap suatu aroma yang familiar di hidungnya. Ia mengendus agak lebih keras untuk memastikannya. “Tuan Musky, kaukah itu?”

Donghae diam. Ia memang berada dihadapan Haejin sekarang. Menghalangi langkah gadis itu agar tidak berjalan lebih jauh. Ia menatap wajah Haejin dengan pandangan muram.

“Kau tidak bisa menipuku, kau tahu? Aku sudah sangat hafal aroma tubuhmu itu,” Haejin lagi-lagi bisa mengenali keberadaan Donghae dengan tepat. Namun Donghae masih diam saja. Seakan sedang menikmati momennya menatap wajah Haejin.

“Hei, apa kau benar-benar disana, Tuan Musky?” suara Haejin mulai terdengar ragu. “Apa ini hanya perasaanku saja, ya? Pria yang memakai aroma parfum seperti itu kan tidak hanya Donghae. Apa otakku sudah begitu terkontaminasinya oleh aroma Donghae? Masa aku bisa menciumnya dimana saja? Memangnya aku ini apa? Gumiho??”

Donghae menyeringai kecil. Ia begitu menyukai gadis polos dihadapannya ini. Seakan tak rela meninggalkannya atau membiarkannya jatuh kedalam pelukan pria lain. Posesif? Mungkin saja. Waktu hidupnya kan kurang dari dua minggu lagi. Setelah dia meninggal, masa ia rela membiarkan Haejin melajang seumur hidupnya?

Kalau kau setuju untuk dioperasi, mungkin kau bisa bertukar cincin dengan Haejin didepan altar suatu saat nanti, kata Siwon.

Bisakah? Bisakah ia membawa Haejin ke pelaminan? Beranikah ia berharap akan mengalami hal sakral seperti pernikahan dengan jatah waktunya yang sudah sangat sempit itu?? melanjutkan kehidupan manis berdua dengan.. Haejin?

“Ahh~, sepertinya memang hanya persaanku saja,” gumam Haejin sambil berjalan melewati Donghae. Dan sebelum Haejin berjalan semakin jauh, Donghae menahan tangan Haejin dan membuat gadis itu membeku ditempatnya.

“Temani aku jalan-jalan,” kata Donghae. Haejin hanya tersenyum dan berbalik.

“Aku tahu kalau indera penciumanku tidak pernah mengkhianatiku.”

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, Backyard – March 15th, 2011 (16:15 KST)

Langit mungkin cerah. Bagi mata Donghae dan hati Haejin. Tapi langit itu gelap. Bagi mata Haejin dan hati Donghae. Untuk alasan yang berbeda, kedua anak adam dan hawa itu mendongakkan kepalanya ke atas langit.

“Hae-ya, kau tahu? Ririn bilang aku akan segera bisa melihat lagi,” Haejin bicara dengan nada riang gembira.

“Baguslah. Itu berarti kau bisa kembali menatap langit dengan kedua matamu. Mata hatimu dan matamu sendiri,” Donghae meremas tangan Haejin yang berada dalam genggamannya.

“Sebelumnya, aku tidak begitu mempermasalahkan mengenai penglihatanku ini,” Haejin kembali bercerita. “Bagiku, tidak bisa melihat itu bukanlah sesuatu yang buruk. Karena aku bisa lebih menghargai setiap detik hidupku dengan merasakan mereka tanpa melihat mereka. Membiarkan imajinasiku bekerja dan berkelana dengan membiarkannya membayangkan apa yang orang lain lihat.”

Donghae berpaling menatap Haejin. Seakan tiada bosannya menelusuri lekuk wajah gadis buta disebelahnya.

“Tapi, setelah aku bertemu denganmu, hal-hal itu berubah,” aku Haejin. “Aku tidak berani membayangkan bagaimana rupa wajahmu. Aku hanya ingin melihatmu langsung dengan kedua mataku.”

Donghae menelan ludahnya. Perkataan Haejin bagaikan tamparan keras yang menyadarkannya bahwa ia memang harus segera menandatangani kertas itu.

Donghae merasakan cairan hangat merembes keluar dari hidungnya. Ia tidak berani mengusapnya karena takut dengan apa yang mungkin akan ia lihat. Tapi ternyata, saking banyaknya, cairan merah pekat itu toh tetap saja menetes dan membasahi kemeja putihnya.

“Jika suatu saat nanti aku berkesempatan operasi transplantasi kornea,” Haejin memutar kepalanya hingga menghadap wajah Donghae. Tanpa tahu apa yang tengah terjadi pada lelaki disebelahnya itu, ia tersenyum. “Maukah kau menjadi orang pertama yang kulihat begitu aku membuka mataku?”

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, VVIP Room 218 – March 18th, 2011 (10:45 KST)

“Ririn baru saja menelponku,” Siwon menghampiri ranjang Donghae dan duduk di pinggirnya. Tersisa beberapa menit lagi sebelum Donghae didorong menuju kamar operasi. “Katanya, Haejin terus-terusan menanyakan keberadaanmu. Dia mengkhawatirkanmu.”

Donghae memalingkan wajahnya dari tatapan Siwon. Memori saat ia sedang duduk ditaman SIMC berdua dengan Haejin memandang cerahnya langit sore kembali terlintas di benaknya. Saat itu, Haejin menyatakan keinginannya untuk bisa melihat wajah Donghae. Sementara saat itu Donghae sedang berjuang untuk melawan penyakitnya agar ia tetap bisa bertahan hidup dan mewujudkan keinginan Haejin.

“Maukah kau menjadi orang pertama yang kulihat begitu aku membuka mataku?”

 

Donghae tidak menjawab. Ia berusaha menahan kucuran deras darah yang mengalir dari hidungnya dengan kemejanya. Kemeja putihnya sudah bebercak darah disana-sini. Tapi ia tidak mau merusak momennya. Momen yang mungkin adalah momen terakhirnya bersama Haejin.

 

“Hae? Apa kau mendengarku?” Haejin membuka kacamatanya. Ia mengendus sebentar sebelum rentetan pertanyaan panik darinya terucap. “Apa itu bau darah? Kau berdarah? Hae, apa kau baik-baik saja?”

 

Dengan suara sengau, Donghae berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit yang menyerang kepalanya dan menjawab Haejin. “Ya, aku baik-baik saja. Kurasa aku harus segera ke kantor Siwon. Ada yang harus kubicarakan dengannya. Kau, apa perlu kuminta Ririn untuk mengantarmu pulang?”

 

Haejin mengerutkan dahinya, bingung. “Tidak usah. Aku bisa pulang sendiri.”

 

Donghae segera bangkit dari duduknya dengan tangan memencet hidungnya, menahan agar tidak lebih banyak darah yang mengucur. “Baiklah. Maaf, aku tidak bisa mengantarmu.”

 

Dan dengan susah payah, Donghae berusaha mencapai kantor Siwon yang terletak di lantai 8 dalam keadaan sadar.

“Kau harus yakin dengan kemampuanmu sendiri, Hae,” Siwon menatap kosong jendela di kamar rawat Donghae. “Operasi itu akan berhasil jika kau benar-benar menginginkannya berhasil. Hanya kemauan keras dari dalam dirilah yang membuat keajaiban-keajaiban terjadi.”

Donghae mendengus. “Kau tahu, kenapa aku sangat menolak operasi ini pada awalnya?”

Siwon menggeleng.

“Karena aku tidak berani menggantung tinggi sebuah harapan. Karena begitu tali harapan itu putus, jatuh yang kurasakan akan terasa beribu-ribu kali lebih sakit.”

Siwon terdiam. Ia menoleh ke arah Donghae yang ternyata juga sedang menatapnya.

“Siwon-ah, maukah kau melakukan sesuatu untukku?”

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, Park Ririn (Specialize of Transplantation Development) – March 20th, 2011 (16:22 KST)

“Masuk,” Ririn berkata pada orang yang mengetuk pintunya. Segera saja pintu itu terbuka lebar dan sosok tinggi kekar itu masuk.”Woah! Kehormatan besar bagiku. Apa yang membuatmu mengunjungi kantorku, dr. Choi?”

Siwon hanya tersenyum kecil. Tangannya sibuk menggenggam berkas kuning dan beberapa amplop surat. “Kita sudah bekerja di rumah sakit yang sama selama beberapa tahun. Masa saling mengunjungi kantor masing-masing saja tidak pernah? Kau juga harus mampir ke kantorku, sesekali.”

“Kurasa itu ide yang bagus,” Ririn terkekeh dan menatap Siwon. “Silakan duduk.”

Siwon menuruti ucapan Ririn. Ririn memutari mejanya dan duduk di kursinya. “Ada apa?”

Siwon mendesah. Ia terlihat siap-tidak-siap untuk mengatakan hal ini pada Ririn. “Haejin.”

Ririn mengernyit. “Ada apa dengan Haejin?”

“Apa dia…,” Siwon membuka map kuningnya. “Membutuhkan donor kornea?”

“Bagaimana kau tahu?” Ririn heran dan kemudian mengangguk. “Tapi, ya. Ada yang salah?”

“Tidak. Sama sekali tidak,” ujar Siwon pelan. “Apa sudah kau temukan donor yang tepat untuknya?”

Ririn menggeleng. “Belum. Beberapa calon pendonor sudah dites hingga beberapa level dan ternyata mereka tidak cocok dengan apa yang mata Haejin butuhkan.”

Siwon menyodorkan map kuning itu kepada Ririn. Ririn menerimanya dan segera membaca isinya dengan seksama. “Bagaimana kalau kau coba donor yang kurekomendasikan?”

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, VVIP Room 187 – March 22th, 2011 (11:28 KST)

Haejin memencet tombol reject di ponselnya untuk entah yang keberapa kalinya. Wajahnya mulai cemas lagi sekarang. Beberapa kali ia menghela nafas berat dan menggerutu tidak jelas.

“Apa Donghae masih belum mengangkat teleponmu, onnie?” Yejin, pegawainya di toko bunga membuka pintu kamar rawatnya. Ia membawa sesuatu seperti sekeranjang buah yang besar. “Kau harus mulai berhenti memikirkannya. Mungkin saja dia memang benar-benar sibuk jadi tidak bisa menghubungimu. Kau harus istirahat, onnie. Kau tidak boleh sakit lagi seperti seminggu kemarin.”

“Tapi ini sudah seminggu, Yejin-ah. Kesibukkan apa yang membuatnya mengacuhkanku selama seminggu??”

“Mungkin dia harus ke luar kota atau bahkan ke luar negeri??” Yejin merapikan selimut Haejin dan duduk di kursi disebelah atasannya itu. “Yang perlu kau lakukan hanya istirahat saja. Tiga jam lagi, mereka mendorongmu ke ruang operasi.”

“Aku takut terjadi sesuatu padanya. Hatiku tidak pernah berhenti mencemaskannya sejak seminggu lalu. Itu kenapa aku jatuh sakit,” Haejin meletakkan ponselnya.

“Kau hanya ketakutan berlebihan, onnie,” Yejin mengelus punggung tangan Haejin. Berusaha menangkannya.

“Dia benar. Kau harus mengurangi rasa khawatirmu itu,”seorang dokter paruh baya muncul dengan beberapa perawat dibelakangnya dan juga Ririn. “Apa kau merasa gugup, Nona Lee?”

Haejin hanya tersenyum miris. “Yeah. Sepertinya begitu.”

Ririn menghampirinya dan menggenggam tangan Haejin yang tadi ditinggalkan Yejin. “Tenang saja. aku disini.”

Haejin menyuarakan pikirannya. Ia meraih tangan Ririn dan meremasnya kuat. “Donghae? Apa yang terjadi padanya? Apa dia baik-baik saja?”

Ririn tercekat. Haejin harus tenang sekarang. Karena beberapa jam lagi gadis ini akan masuk ruang operasi. Tapi, apa yang harus dikatakannya?

“Jawab, Rin!”

Ririn pasrah. Ia menghembuskan nafasnya dengan sedikit keras. “Ya. Dia baik-baik saja.”

Haejin menghela nafas lega. Dokter paruh baya dengan name tag ‘Park Jungsoo’ itu kembali mendekati Haejin dengan beberapa alat medis ditangannya. “Baiklah. Jadi, kau sudah siap untuk melakukan pemeriksaan sebelum operasi?”

Haejin hanya mengangguk.

*        *        *        *

Seoul International Medical Centre, VVIP Room 187 – April 1st, 2011 (09:58 KST)

Haejin membuka kedua matanya secara perlahan. Hal yang pertama didapatinya adalah terang yang sangat menyilaukan matanya. Ia mengerjap beberapa kali untuk bisa beradaptasi dengan cahaya-cahaya yang kini dapat dilihatnya.

“Haejin-ah, kau bisa lihat aku?” sapa seorang gadis yang suaranya sudah Haejin hapal bahkan diluar kepala. Ia menoleh ke arah kirinya dan menemukan gadis dengan jubah dokter dan rambut panjang hitam sedang menatapnya dengan antusias. Name tag di jubah dokternya bertuliskan, Park Ririn.

Haejin tersenyum. “Tidak kusangka ternyata kau bisa berubah menjadi secantik ini. Apa kau membujuk dokter bedah untuk mengoperasimu secara gratis?”

Ririn menggembungkan kedua pipinya. “Sial, kau. Tahu begini, aku tidak mau menjadi orang pertama yang kau lihat, deh!”

Semua orang di dalam ruangan putih itu tertawa mendengar ucapan Ririn.

“Haejinnie, cucukuuuu… Akhirnya kau bisa kembali menatap dunia yang indah ini!” kata satu-satunya sosok paruh baya di dalam ruangan itu. Haejin beringsut mendekatinya dan memeluknya dengan erat.

“Harabojiiii… Akhirnya aku bisa melihat dan menghitung dengan pasti berapa banyak keriput di wajahmu!!” kata Haejin dengan antusias.

“Dasar kau cucu kurang ajar!” kata kakek Haejin sambil memukulkan topinya ke kepala Haejin. “Jangan bahas tentang keriputku didepan suster-suster cantik ini, dong!”

Ruangan itu kembali berderai tawa. Namun Haejin hanya terdiam. Ia mencari-cari sosok yang sangat ingin di lihatnya.

“Dia tidak datang,” sesosok pria tinggi dengan jubah dokter yang sama seperti milik Ririn dan suara berat yang sudah sangat Haejin kenal menyeruak diantara orang-orang didalam ruangan. Choi Siwon. “Donghae tidak akan datang.”

Hati Haejin mencelos. Air mata menggenang seketika di kedua pelupuk matanya. “Wae?”

“Sebagai gantinya, ia menitipkan surat ini padamu.”

*        *        *        *

Graveyard – April 10th, 2011 (15:58 KST)

Haejin terduduk lemas didepan gundukan tanah dihadapannya. Dipandanginya nisan yang mencetak nama lelaki yang paling dicintainya.

Lee Donghae

1986 – 10 – 15

2011 – 03 – 18

Lee Donghae. Lelaki ‘dua bulan’ itu telah pergi untuk selamanya. Tanpa Selamat Tinggal. Tanpa pernyataan cinta. Tapi, bagi Haejin, itu bukanlah suatu masalah besar. Ia yakin Donghae telah bergabung bersama ayah dan ibunya untuk menjadi bintang di langit sana.

Haejin mengelus nisan itu dengan tangan gemetar. Air matanya tak pernah berhenti mengalir sejak ia diberitahu bahwa Donghae telah tiada. Dan kini, air mata itu semakin membanjir dihadapan jasad Donghae yang telah terkubur beberapa meter dibawah duduknya.

Hei, Gadis Lantai L! ^^

 

Terima kasih,

Kau telah membuat akhir hidupku sedikit berwarna.

Kau telah membuatku berani berharap.

Kau telah membuatku berani mencoba.

Kau telah memberiku alasan untuk mencintaimu.

 

Maaf,

Untuk semua hal yang tidak pernah kubagi denganmu.

Untuk semua kesalahan yang telah kulakukan padamu.

Untuk tidak bisa lagi menjagamu.

Karena telah jatuh cinta padamu.

 

Haejin,

Kau mungkin hanyalah tetesan tinta di halaman terakhirku.

Samar. Dan tak berbayang.

Tapi siapapun yang melihat akhir bukuku,

Dia akan melihat guratan halus diatas kertasku.

Hampir tak terlihat. Namun nyata.

Dan itu adalah kau, yang telah bersedia menemaniku di dua bulan terakhirku.

 

Dan aku, sangat berterima kasih untuk itu.

 

–         Musky Man, LDH –

 

p.s : Cobalah melihat dunia sejauh-jauhnya dengan mata dan mata hatimu. Lakukan itu untukku, oke?

Haejin mengusap pelan pipinya. Ia bangkit dari duduknya dan menatap nisan itu sekali lagi sebelum kembali pulang. Setelah puas menatapnya, Haejin berbalik dan berjalan pelan. Desau angin meniup anak-anak rambutnya hingga membuatnya berantakan. Tapi Haejin tidak peduli. Ia sedang berkonsentrasi. Berhenti sesaat dan menjamakan telinganya. Mendengarkan angin.

Lee Haejin, saranghae

Dan Haejin tersenyum.

*        *        *        *

– EPILOG –

Donghae menatap Siwon dari ranjangnya. Otaknya sedang menyusun sederet kalimat yang akan dikatakannya pada sahabat setianya ini.

“Siwon-ah, maukah kau melakukan sesuatu untukku?”

“Apa?” tanya Siwon, sedikit waspada.

“Berhasil atau tidaknya operasi ini,” Donghae menghela nafasnya. Tekadnya sudah bulat. “Berikan kornea ku pada Haejin. Jika cocok.”

Siwon membeku. “Tapi, operasi ini pasti akan berhasil! Bagaimana kau bisa mendonorkan korneamu jika kau masih harus melihat dunia?”

“Tidak masalah. Haejin toh akan tetap melihat semuanya untukku,” Donghae tersenyum.

Siwon memalingkan wajahnya. Frustasi. “Kau tidak berpikir kalau operasi ini akan berhasil, kan? Lee Donghae?”

“Memang tidak,” Donghae mendengus. “Dan kau tidak perlu menyangkal hal itu, Choi Siwon. Kau juga meragukan tingkat keberhasilan operasiku kali ini, kan?”

Beberapa perawat masuk kedalam ruang rawat Donghae. Mempersiapkannya untuk masuk ke meja operasi. Setelah mereka memindahkan Donghae ke ranjang dorong, mereka langsung membawanya keluar.

“Semoga Tuhan memberkatimu,” Siwon bergumam. Air matanya menetes.

*        *        *        *

93 thoughts on “JinHae ~ H.O.P.E (Diary of You And Me) ~

  1. Hueeee~~
    Kemaren gak ngeliat ff ini di publish.. Dan sekarang pas aku baca.. Ceritanya miris sekaliiiii (-̩̩̩-͡ ̗–̩̩̩͡ )
    Kasian Hae nyaaa (⌣́_⌣̀)
    Aisstt.. Wassalam gtuh endingnyaa.. Yaampun…
    Author yg buaik hatiii (´⌣`ʃƪ)
    Bikin lagi dong yg kyak ginian😄

  2. Aduh, sedih..sedih..sedih…hiks:(, so sweet n nyesek bgt cerita.a.:)dr awal bjumpa, sampai maut memisahkan. aq ga nyangka, hae bakal meninggal. n dia donorin mata.a ke haejin. hae, knapa kau pergi sblm haejin melihatmu langsung? hiks:( nyerek bgt pas haejin ngobrol ma hae, trus hae mengeluarlan darah dr hidung.a:( huhu…poko.a kasih jempol deh, buat author baru, n nisya onnie.:) n sering2 ya onnie eris bkin ff.a:)#ngarep #plakk ok onnie hwaithing !!🙂

  3. huaaaa,,,,,g rela dunia ahirat donghae hrus mati,,,!!!
    tp crtx bgus bgt,,,bda,,,!!!
    Jinhaexy story yg biasax sll bkin panas dingin gr skinship mrk,eh nie malah bkin nangis2,,,!!!
    keren lah,,,,^^

  4. *speechless*
    OMO, I’m so touched.
    Bener2 mengaduk perasaan.
    Bahasa yang sederhana dan menarik, mampu membuat pembaca tersedot ke dalamnya.
    This story is so daebak!
    Keep writing, author!

  5. menderita banget itu donghaenya -…-
    woah, jadi ini author baru? asyik ya blognya jadi lebih bervariasi \(^v^)/
    bagus, beneran! dapet banget feelnya, jalan ceritanya bagus, cara nulisnya juga enak dibaca, terus bahasanya ga ribet ^^ suka deh hihi

  6. Hueee sedih banget😥 pas baca genrenya angst brrti äϑä yg meninggal, taunya hae T_T
    Nangis deh bacanya tuh pas endingnya, sad ending huhuhu (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_______________-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩ )

    Keren banget ceritanya eris onnie #sokenal
    Daebak lah!

    Welcome untuk eris onnie, betah ya onn disni #plaak #siapague
    Suka deh gaya nulisnya itu, rapihhhh😀 trus bahasanya juga lumayan lah gak trlalu tinggi bahahaa..

    Mian onnie bru koment (‾_‾)♉ #telatbanget 😀😀

  7. ya ampuuuun..
    nyesek banget sumpah..
    feel sedihnya dapet banget..

    jadi haejin ga sempet liat donghae atuh.. T_____T
    atuh iih, kasian donghae.. T.T
    kasian haejin juga.. T.T

  8. huwaaaaa haeppa mati TT
    author daebak,ceritany simple tapi sarat makna* bahasadewa*

    annyong nai imnida,baru akhir2 ini mampir k blog ini,tapi sukses dbwt jatuh cinta ma ff nya (>_<)

  9. bete baca yg begini deh … pengen jinhae gak begini T-T btw itu menurut aku end nya masih gantung. soalnya itukan dijelasin mau operasi kan trus didorong keluar ranjangnya si hae. nah itu tuh dalam arti apa nih…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s