{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan 1/? ~PG17~

Title : {JinHaeXy} Honeymoon in Saipan

Length : Chaptered 1/?

Rate : PG-17 Adult Romance

 

{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan

 3 Hari Sebelum SMTOWN New York

”Jadi,” Donghae bersandar pada kepala tempat tidurku. Aku sudah hapal gerak-geriknya jika seperti ini. Pertanyaannya akan serius. Dia bersandar, tidak menatapku yang sedang merias diri, sambil memainkan boneka guritaku.

   Semalam dia mengantarku pulang ke dorm setelah beberapa hari kemarin aku menginap di dorm-nya. Kali ini dia mengalah demi profesionalitas pekerjaanku. Hari ini aku harus recording Invicible Youth, jadilah aku harus pulang ke dorm mempersiapkan diri. Semalam dia menginap, karena aku masih ’dihukum’ untuk menurut.

   ”Apa?” tanyaku mengoleskan krim pagi.

   Dia bergumam sedikit, sambil menarik-narik salah satu dari kaki-kaki boneka guritaku itu. ”Kau benar akan pergi, kan?”

   Ya ampun, pertanyaan itu lagi. Mau bertanya sampai kapan dia? Aku berdecak dan membalik tubuhku menatap tempat tidurku, dia menatapku dengan wajah polosnya yang selalu minta dicium. ”Mau tanya berapa kali, Poppa?”

   ”Kenapa tidak satu pesawat saja?”

   Satu lagi pertanyaan membosankan.

   ”Perlu kujawab berapa kali, Poppa?”

   Dia menggerutu, bibirnya mengerucut kecil, dan lucu. Aku menghela napas, meletakkan krim pagiku, lalu melangkah mendekatinya dengan gerakan seduktif, dia menegakkan tubuhnya. Aku membungkuk rendah agar menatap wajahnya, kuraih dagunya yang lancip dan tegas dengan jari telunjukku agar menatap mataku intens.

   Kurendahkan suaraku menyerupai bisikan, atau desahan hangat. ”Poppa, kau cinta padaku kan?”

   ”Oh.” Dia balas berbisik.

   ”Kau mau aku selalu bersamamu kan?”

   ”Oh.” Dia mengiyakan.

   ”Lalu, kau mau aku dibunuh fansmu?” cubitku gemas pada pipinya. ”Aigo! Mereka saja sudah gerah melihat Twitter kita! Untung image-mu memang Cassanova, jadi mereka sedikit kurang percaya! Aish!” aku naik darah melihat sifatnya yang satu ini. Sudah dijelaskan berulang kali, kok ya masih juga ditanya kenapa aku tidak bisa satu pesawat dengannya?

   Kemudian aku membuka pintu lemariku dengan tidak sabar karena sebal, meraih cardigan putihku dan langsung kukenakan di atas backless shirt hitamku dan celana pinsil hitam. Sementara ia masih cemberut dan menyiksa Octavy, nama guritaku, boneka yang lucu, hadiah dari seluruh member 2PM untuk ulang tahunku yang ke duapuluh satu kemarin.

    ”Ah, aku siap.” Ujarku cuek pada sikap protesnya. ”Ayo, Poppa mau antar tidak? Kalau tidak mau, aku pergi sendiri.”

   ”Aku antar, aku antar…” dia mendongak dan terbelalak lebar menatapku. Dia langsung berdiri dan menyentak-nyentak cardigan-ku. ”Pakai apa ini? Ini cuaca mulai dingin, Momma~”

   Aku memutar mataku. ”Makanya aku pakai cardigan, karena mulai dingin.”

   ”Ganti!”

   ”Ah, Poppa… panas~”

   ”Ganti!”

   ”Ini tangan panjang Poppa!”

   ”Itu jaring-jaring, Momma!”

   ”Seksi kan?”

   ”Dingin!” dia menjitak kepalaku. ”Musim panas boleh, tapi tidak musim hujan! Lagipula kau mau ke daerah pedesaan, apa-apaan pakai pakaian seperti ini? Dengar ya, orang pedesaan itu, jarang melihat gadis berpakaian minim. Kalau mereka melihatmu dan mereka nafsu padamu bagaimana?”

   .____.

   ”Pokoknya ganti‼!”

   ”Aku pakai apa? Aku tidak mau pakai yang terlalu panas~”

   ”Tapi ini jaring-jaring,” dia membongkar lemariku dan aku mengikutinya frustasi, dia memilihkanku jaket. ”Bagaimana mungkin semua pakaianmu tipis-tipis seperti ini?! Aarrggghh! Ini pakai ini!”

   Aku membelalakkan mataku. ”Jaket baseball?!”

   ”Ne~ pakai ini!”

   ”Ah, Poppa yang lain saja… sweater atau apa…”

   ”Pakai ini!” matanya tajam.

   Akhirnya aku menurut! Uuugggh, belakangan ini dia jadi otoriter. Sepuluh menit kemudian kami sudah berada di dalam Audi A5 putih miliknya. Dia mengenakan topinya dan sunglass Ray Ban pemberianku untuk kado ulang tahunnya, tahun lalu. Sementara aku mulai memundurkan sedikit bangkunya.

   Salah satu keanehan pada diriku. Tak bisa naik mobil sedan! Pasti sebentar lagi aku mual-mual. Mana jauh pula lokasi recording hari ini. Donghae tahu sebetulnya penyakit anehku ini, tangan kiriku diraihnya dan diletakkannya di tongkat persneling bersama tangannya. Aku diam saja dan memjamkan mata.

   ”Mual ya?”

   ”Hmm.” Gumamku.

   Dia tetap konsentrasi menatap jalanan di hadapannya. ”Sayang,” panggilnya. Kubuka mataku sedikit, dengan tangan kami masih bertautan di atas tongkat persneling. ”Kau mau libur kemana memang?”

   ”Molla.” Aku menegakkan kursi lagi. Pembicaraan liburan ini membuatku bersemangat dan bergairah. Baru kali ini kami punya jadwal libur yang bersamaan! Dan aku mau pergi berdua saja dengannya setelah SM Town New York. ”Othe? Kemana enaknya?”

   Dia diam, berpikir. ”Kau mau kemana?”

   ”Aku belum pernah ke Eropa,” kataku lagi.

   ”Mau ke Eropa?” mata Donghae melebar. ”Ke negara mana?”

   ”Kemana sajalah,”

   ”Lalu mau kemana lagi?”

   ”Eropa saja deh, negaranya kan banyak. Italia, Inggris, Austria, Swiss, Jerman, Belanda! Belanda, ada Ririn Onnie…”

   ”Katanya mau liburan berdua saja?!” ingat Donghae.

   ”Ah iya lupa!” aku terkekeh.

   Kulirik dia, dan wajahnya tersenyum-senyum. Aku menatap ke depan lagi berusaha berpikir. ”Terserah Poppa deh.”

   ”Kok terserah aku?”

   ”Kalau berdua sama Poppa, rasanya kan surga.” Aku mengedip-ngedipkan mataku, dia tertawa.

   ”Berdua bersamamu rasanya seperti neraka.”

   ”Mwo?!” pekikku.

   Dia mengerling nakal. ”Panas.”

   Aku memalingkan wajahku malu, tapi aku tersenyum kecil, tanpa sepengetahuannya. Kurasa, liburan kami akan indah nanti.

*Few Days Later*

”Begitu aku berangkat, kau harus langsung berangkat. Arasseo?!”

   ”Ne, arasseo.” Aku mengangguk.

   Dia mengenakan jaketnya diatas kaus tipis putihnya dengan wajah enggan. ”Andai kau bisa naik pesawat yang sama denganku.”

   Aku mengangkat alis. ”Aku sudah ambil risiko mengambil penerbangan tepat setelahmu ya. Dan aku yakin banyak ELF masih ada disana. Mereka curiga aku pergi bersamamu, lho.”

   ”Ne~ aku kan hanya bilang. Disana ada recording setelah aku tiba, dan setelah kau tiba mau kujemput?”

   ”Tak usah, aku langsung ke hotel saja.” Tolakku halus. ”Lagipula kita pasti lelah.”

   ”Arasseo.” Dia menghela napas. ”Sampai ketemu di New York, Momma.” Dia menghampiriku yang sedang duduk di atas tempat tidurnya di dorm Super Junior, dan membungkukkan wajahnya menatapku, dia memejamkan matanya. Mengikutinya, dengan feeling, aku ikut memejamkan mataku, dan tak lama bibir tipisnya sudah melumat bibirku.

   Kuangkat kedua tanganku untuk memeluk lengannya, dan membawanya kembali berbaring di atas tempat tidur. Bibirnya terus menghisap bibir atas dan bawahku, sampai lidahnya mulai menggelitik pintu bibirku, kubuka kedua bibirku, dan lidah kami bertemu. Kepala kami terus bergerak mengiringi kecupan demi kecupan yang terjadi, tanganku mulai mengacak kepalanya, kulepaskan topinya dan telusupkan jemariku diantara rambut cokelatnya, dan dia mendesah, lalu semakin memperdalam ciuman kami.

   Ganti aku yang kewalahan. Memang aku memejamkan mataku, dan tidak melihat apa yang tengah ia lakukan padaku, tapi kan indera perasaku masih berfungsi baik! Dan rasanya banyak sekali kupu-kupu terbang di dalam perutku, tubuhku panas, dan aku mengingkan lebih di saat-saat ia justru mau pergi ke New York! Aaahh kenapa kutarik ia berbaring tadi?!

   Dia melepaskan pangutannya padaku, dan mulai memainkan leherku, ditariknya minggir tali bajuku, dan dibenamkannya wajahnya disitu, dimulainya eksplorasinya pada leherku yang mulai berkeringat, pelan di kecupnya, dan mulai dihisapnya keras. Aku mengernyit, dan menggigit bibirku keras-keras, suaraku tidak boleh keluar! Atau Eunhyuk akan mulai merekam kami lagi!

   Tapi tidak tahan! Ya ampun, kenapa dia jadi ikut nakal sepertiku? Biasanya dia cuma mencium leherku, tidak sampai menghisap begini! Jujur, aku memang lebih ’liar’ darinya, sementara dia sabar dan menerima dengan pasrah apa yang biasa kulakukan padanya. Kenapa sekarang dia jadi begini?

   ”Eumph… Hae…” suaraku jadi aneh, sedikit melengking dan tercekat.

   Dia tetap terus melakukannya.

   Sementara tanganku tidak mau diam, menyuruhnya berhenti? Oh, aku tidak munafik! Ini nikmat, super nikmat! Ini pertama kali dia melakukannya padaku, dan aku tidak berhenti mengerjapkan mataku. Akhirnya tanganku yang nakal mulai melepaskan jaketnya dan melemparnya entah kemana. Dia hanya memakai kaus putih tipis, dan aku mulai menggulung kaus itu ke atas. Aku butuh abs-nya.

   Tapi rupanya sentuhanku disana membuatnya menggila, dia kembali memangut bibirku ganas, dan menekan tengkukku ganas juga. Suara desah dan kecapan kami semakin keras, dan kami seperti lupa, terlebih ketika dia mulai menurunkan tangannya ke sisi tubuhku. Demi Eomma di surga, dia belum pernah sejauh ini! Ya ampun, Eomma… lembutnya dia.

   BRAK!

   ”YA TUHAN! LEE DONGHAE! LEE HAEJIN!”

   Dan seperi déjà vu tahun lalu, kami berdua terguling jatuh ke lantai mendengar teriakan menggelegar itu. Tapi kali ini aku benar-benar malu! Ya Tuhan, apa yang kami berdua hampir lakukan tadi? Dan aku lihat wajah Donghae juga horror. Aku tahu dia laki-laki baik, yang polos. Yang tercemar karenaku dan Eunhyuk. Dia nampak linglung sementara ’Ahjussi’ itu nampak shock melihat kami.

   ”Kalian ini‼!” omel Leeteuk. ”Apa yang terjadi kalau aku tidak masuk?! Kelewatan!” omelnya.

   Aku menggaruk kepalaku.

   ”Mianhae, Hyung,” Donghae menunduk dalam-dalam wajahnya merah sekali, dan dari panas yang menguar dari tubuhnya, aku tahu dia sama malunya seperti aku yang malu padanya.

      ”Kenapa, Hyung?” dan Eunhyuk muncul melihat kami sedang duduk di lantai, lalu dia terkekeh nakal. ”Ahahahaha, ada yang kena razia ya?” tanyanya nakal. ”Mereka mesum lagi, Hyung?”

   Aku menatap Eunhyuk tajam.

   ”Sori, Haejin-ah,” dia buru-buru diam.

   ”Sudah! Hae, kita sudah mau berangkat, dan… Ryeowook-ah, bawa Haejin ke dapur sekarang! Mereka harus dipisahkan dulu… kalau tidak kita tidak jadi ke New York hari ini!”

   Dan aku menurut ketika Ryeowook mengajakku menyiapkan sarapan. Dan ketika berangkat, aku dan Donghae tidak berani berdekatan sedikitpun, tanpa disuruh. Kami hanya melambai dan dia pergi bersam yang lainnya. Aku menghela napas di dalam mobilku sendiri ketika mereka sudah pergi ke Incheon, kunyalakan mesin mobilku untuk segera kembali ke dorm mengambil koperku yang sudah kusiapkan, tapi pikiranku masih melayang pada peristiwa tadi.

   TING!

   Kuraih si Putih dan kubuka isi pesannya.

From : Poppa❤

            Maaf yang tadi, aku tidak bisa mengendalikan diri

Aku tersenyum tipis.

To : Poppa❤

            Mwohae? Memang apa yang kau lakukan? :p

Segera kumatikan ponselku dengan riang, sambil menekan pedal gas dalam-dalam. Ford Escape hitamku kini keluar dari basement Sky City Apartement menembus udara pagi kota Seoul. Aku menyetir dengan kecepatan sedang menuju apartemen Felidis yang letaknya kurang lebih tiga puluh menit dari apartemen Super Junior. Setelah tiba disana kuparkir mobilku di basement yang memang sudah menjadi tempatku parkir dan aku langsung melangkah masuk lift.

   Begitu tiba di dorm, sepi! Kyorin dan Chihoon pasti sudah berangkat sekolah. Mereka mendapatkan jatah liburan juga, tapi tetap tidak bisa kemana-mana karena kedua orangtua mereka menuntut mereka memaksimalkan waktu senggang mereka untuk pendidikan mereka. Berbeda denganku!

   Eomma ingin aku jadi idol yang disukai banyak orang, dan kini setidaknya aku sudah melangkah mendekati keinginan Eomma, meski kedua adikku mengatakan bahwa aku telah mengabulkannya. Sementara keinginan Appa? Hah~ what the hell?! Appaku siapa dan yang mana saja aku tidak tahu.

   Aku memasuki kamarku dan melihat koper hitam besarku sudah berdiri tegak, sementara di atas meja kerjaku, tergeletak paspor dan tiket Korean Air jurusan Incheon – New York.

   ”New York here I come!”

*New York*

Oke, kukira begitu tiba di New York, dan sampai di hotel, aku akan berada dalam keadaan segar, fit, dan dalam bayanganku, tanpa di jemput oleh Donghae pun, aku akan menemuinya dan ia akan berseri-seri melihatku, dan kami mungkin bisa menikmati malam di kota New York bersama-sama.

   Tapi aku salah.

   Aku belum pernah berpergian sejauh ini. Tahun lalu ketika 2PM dan 2AM berlibur kesini, aku dan Felidis hanya di Korea dengan promo debut kami. Paling jauh aku berpergian hanya ke Indonesia, yang makan waktu lima sampai enam jam. Selebihnya ke Jepang, Taiwan, dan negara Asia lainnya tidak pernah memakan waktu belasan jam seperti ini, dan aku jet lag.

   Badanku pegal, tubuhku lengket, mataku berat, dan moodku hancur, rencanaku gagal total, sebal sekali! Udara disini tidak beda jauh dengan di Seoul, tapi perjalanan tadi benar-benar membuat tenagaku habis, meski aku sudah mencoba tidur, tapi apa daya, perjalanan memang terlalu panjang!

   Kunyalakan ponselku dan langsung kucari nomor ponsel Donghae, aku tidak peduli dengan tagihan teleponku yang membengkak nanti jika menghubunginya. Tapi, ternyata dia juga tidak mengangkat panggilanku, maka moodku semakin hancur saja.

   Dengan langkah kesal aku masuk ke dalam taksi dan meminta supirnya mengantarku menuju hotel tempat Donghae menginap. Di perjalanan menuju hotel aku kembali bersandar. Badanku benar-benar kelelahan. Syukurlah lalu lintas tidak terlalu padat, dan dalam waktu setengah jam aku tiba di hotel. Kututupi wajahku dengan balaclava, sunglass hitam pekat, dan fedora hitam, badanku pun terbungkus mantel yang sudah membuat tubuhku lengket!

   Begitu sampai di lobi seseorang menepuk bahuku, dan aku menoleh, melihat ada ZhouMi yang tersenyum. ”Hai, Nona.” Sapanya sambil nyengir lebar, lega. ”Tahukah kau aku menunggumu lebih dari dua jam?”

   ”Hohoho, memang kenapa?” tanyaku heran.

   ”Ehem!” dia berdeham dan mendekatkan mulutnya pada telingaku agar tak ada yang menyadap kata-katanya. ”Hae Hyung sedang recording di Times Square sekarang, dan ini kunci kamarnya.” Disorongkannya sebuah card padaku.

   Aku terkekeh. ”Ah, pantas dia tidak mengangkat teleponku. Syukurlah, badanku sudah mau remuk! Setengah hari aku di dalam pesawat. Dan Donghae belum kembali juga?”

   ”Mungkin dua jam lagi baru dia kembali, kau istirahatlah, aku juga mau tidur, capek!”

   ”Xie Xie, Gege.” Ledekku.

   ”Oh kau akan memanggilku begitu kalau aku berbuat baik padamu,” ucapnya paham dan meninggalkanku.

   Ahahaha, semua sudah paham sifatku ya? Aku akhirnya masuk ke lift bersama ZhouMi, dia menekan dua angka berbeda. Itu artinya kamar kami berbeda lantai, dan dia menyuruhku turun duluan. Aku melambai padanya sambil menyeret koper hitamku dan mencari-cari kamar Donghae.

   Akhirnya kutemukan, dan segera kugesekkan kartu kamarnya di pintu, dan pintu terbuka, aku menarik koperku masuk dan melihat isi kamar yang cukup besar itu. Tempat tidur king size dan jendelanya menampilkan view kota New York malam hari yang indah.

   Tapi aku tidak sempat menikmatinya lagi, kulempar tasku begitu saja, dan kutarik lepas sepatu boot hitamku, berikut mantel hitamku yang membuat tubuhku lengket ini, menyisakan gaun hitam tipis, dan aku langsung merasakan embusan dingin pendingin ruangan.

   Kulempar tubuhku ke ranjang yang rapi, dan melihat koper Donghae yang terbuka, tapi ranjang ini masih rapi. Pastilah ia belum sempat istirahat, aku melingkarkan kakiku, memeluk guling empuk ini dan tak lama kemudian aku sudah terlelap, tanpa mandi!

*           *           *

Aku menggeliat pelan karena dadaku terasa sesak. Aduh, sama sekali tidak lucu kalau asmaku harus kumat, padahal sudah lama tidak kumat? Jangan-jangan gara-gara jet lag tadi? Aku buka mataku perlahan, dan aku merasa dadaku terhimpit, dan napasku susah keluar.

   Aku berusaha membuka mataku pelan-pelan, dan kesadaranku mulai terkumpul. Aku sesak karena sesuatu menindihku! Bukan karena asmaku. Kubuka mataku dan kulihat lengan besar tengah memelukku yang tidur terlentang menghadap langit-langit. Pantas saja aku sesak!

   Kusingkirkan tangan itu dan aku menoleh sambil mengatur napasku, kulihat wajah malaikat yang tengah tertidur damai. Donghae berbaring miring di atas bantal, satu tangannya terjuntai ke bawah tempat tidur, dan satu tangannya lagi, berhasil kusingkirkan dari dadaku yang sesak, di atas perutku. Kulihat wajahnya yang imut-imut itu, siapa yang sangka tangannya sebesar itu dan bisa membuatku sesak napas?

   Aku memiringkan tubuhku menghadapnya yang mendengkur halus, rambut cokelatnya berantakan. Dia memakai kaus putih tidurnya yang biasa, dan setengah badannya tertutup selimut tebal, begitu pula aku. Aku duduk dan meregangkan tubuhku, kini tubuhku sudah lebih segar dibandingkan ketika tadi baru mendarat di New York.

   Aku melangkah turun dari tempat tidur, dan mendekati meja kecil untuk mengambil minum, karena diatasnya tersedia dua botol air mineral dan dua buah gelas. Setelah memuaskan dahagaku, aku mendekati jendela, dan mengintip melalui gordennya. Memang New York, the city that never sleep. Ramai saja.

   Aku kembali mendekati tempat tidur sambil mengecek ponsel Donghae yang diletakkannya di atas meja. Dua pagi waktu New York, sementara tadi aku tiba di New York sekitar pukul delapan malam. Aku kembali masuk ke dalam selimut dan berbaring miring menatap wajah damai kekasihku yang masih tertidur itu.

   Wajahnya tampan! Beberapa jerawat pada wajahnya tidak mengurangi ketampanannya sama sekali. Rahangnya kaku dan tegas, berbanding terbalik dengan sifatnya yang lembut dan kekanakkan, meski jika emosinya tersulut, dia akan berubah mengerikan, hehehe. Tapi secara keseluruhan, dia sempurna di mataku.

   Kupandangi wajahnya, tak bosan-bosan. Sepertinya dia benar kelelahan sekali, setelah melalui perjalanan panjang, dia langsung recording. Perlahan kuangkat tanganku untuk mengusap sedikit dari rambutnya yang jatuh ke dahinya, dan mulai kubelai halus wajahnya yang sempurna. Hidungnya, tulang pipinya, dagunya, dan terakhir bibirnya yang tipis, yang paling kusukai. Bibirnya yang manis, lembut, panas, pada saat bersamaan.

   ”Jangan menggodaku kalau tak mau kau menyesal, Momma.” Gumamnya sambil menarikku dalam pelukannya, matanya tetap terpejam.

   Aku tergelak. ”Tidak tidur rupanya,” kusentil pelan dahinya.

   Dia tetap tidak membuka matanya.

   ”Aku serius mengira kau sedang tidur, Sayang,” kuusap rambutnya.

   ”Aku memang tidur, aku lelah sekali.” Gumamnya.

   ”Tapi kau bicara.”

   ”Aku sensitif kalau merasakan kehadiranmu.”

   ”Masa?”

   ”Oh.”

   Aku jadi tidak tega. ”Ya sudahlah, aku hanya membelai-belai rambutmu, kau tidurlah lagi.”

   ”Kau juga.”

   ”Aku sudah mengisi tenagaku sepertinya,” kukerjapkan mataku. ”Lelahku rasanya hilang. Gwenchana, Poppa, tidurlah.” Kataku lagi sambil terus membelai-belai kepalanya.

   Dia membuka matanya. ”Aniyo, aku juga sudah tidur cukup lama kok.”

   ”Tapi kau masih lelah.” Ingatku.

   Dia menopang kepalanya dengan sebelah tangan menatapku. ”Aku tidak apa-apa, sekarang memang jam berapa?”

   ”Dua.”

   ”Aku sudah tidur empat jam, jadi sekarang Momma mau kemana?” tanyanya.

   Aku menggeleng. ”Tidak mau kemana-mana, disini saja, besok kan kau tampil, kau butuh tenaga. Jadi simpan tenagamu untuk besok, oke anak baik?”

   ”Poppo dulu!”

   ”Kalau di poppo mau tidur?” tanyaku memastikan.

   ”Hmm.” Dia mengangguk dengan kedua mata polosnya menatapku penuh harap.

   Aku terkekeh, ”Arasseo.” Kudekati wajahnya, dan dia memejamkan matanya. Entah kenapa aku ingin sekali menggodanya. Kukecup saja pipinya, nyaris mendekati bibirnya.

   ”Mwo?!” protesnya sambil membuka mata lagi.

   ”Wae?” tanyaku sok polos.

   ”Poppo~” rengeknya.

   ”Barusan di poppo!” sahutku lagi. ”Poppo kan? Bukan kisseu?”

   ”Ah ya sudah!” dia berbalik memunggungiku dengan sebal dan mengerucutkan bibirnya seperti biasa jika dia tengah merajuk, aku tertawa terpingkal-pingkal dan masih ingin mengganggunya. Aku merayap mendekati tubuh kekarnya dan kupeluk dari belakang. ”Aaah, Poppa kok marah?!” tanyaku dengan nada manja yang kubuat-buat. ”Minta poppo atau kisseu? Tadi Poppa kan bilangnya poppo… yah yah yah,” aku masih merengek.

   Dia masih diam saja.

   ”Poppa~” panggilku. Akhirnya kuangkat kesepuluh jariku membentuk cakar tajam, dan kuterjang dia dengan jurus gelitik. Sebetulnya kami sama-sama ticklish, tapi aku benar-benar suka menggodanya, dia jadi seratus kali lebih imut jika sedang merajuk seperti ini.

   Dia mulai meronta dan tergelak, berusaha melepaskan kedua cakarku yang kini bersarang di perutnya. ”Sudah! Haejin-ah, geli!” teriaknya sambil berusaha mendorongku mundur. Tapi tenagaku sudah terkumpul penuh, makanya bukan aku yang terguling, justru aku berhasil duduk di atas tubuhnya dan kini sibuk menggelitiki perutnya.

   ”AMPUN!” dia berteriak.

  Aku semakin tergelak dan terus menggelitik perutnya, dia berontak hebat, sampai kasur tempat kami berbaring bergetar hebat, dan selimut tebal kami jatuh ke lantai karena Donghae terus meronta minta dilepaskan dari siksaan gelitikku.

   Ternyata tenaga pria, tetaplah tenaga pria, dia membalikkan kedudukan! Aku berteriak ketika dia melihatku lengah, dan ganti menyerang perutku dengan jari-jarinya, aku oleng dan ganti terbaring di kasur, sementara dia duduk di kedua pahaku, dan ganti air mataku keluar dan aku tertawa kehabisan napas. Sementara ia nampak bernafsu untuk membalas siksaan gelitikku.

   ”Ampuuuun,” rintihku tak kuat tertawa lagi, sambil mengatur napasku. ”Poppa kau berat tahu! Minggir ah…” aku berusaha keras melawan.

   ”Siapa suruh?! Tadi kubilang apa? Jangan memancing, aku ini nemo beracun,” katanya bangga.

   ”Racun mwoya?”

   ”Racun cinta.”

   ”Wuek!”

   ”Oooh, Momma masih berani menantang ya?” dan dia mengangkat kedua tangannya lagi dengan pandangan mengancam yang nakal, aku terkekeh kekeh dan mengacungkan dua V sign.

   ”Ampun.”

   Dia turun dari tubuhku dan kembali berbaring di sampingku, seprai putih ini sudah acak-acakkan karena perbuatan kami tadi. Dan sekarang dada kami naik turun mengatur napas kami atas serangan gelitik tadi.

   ”Aaah, gerah!” keluhku.

   Donghae tertawa-tawa dan berbalik menghadapku yang mulai mengipas-ngipasi leherku sebal! Aku belum mandi, belum ganti baju, dan sekarang sudah berkeringat banyak! Aaah, tubuhku sama sekali tidak enak.

   ”Yeppeoda.” Pujinya tulus.

   Aku membelalak kaget menatapnya yang berbaring miring dengan satu tangan menyangga kepalanya. ”Jinja?” tanyaku heran. ”Aku kan belum mandi,” gerutuku. ”Belum ganti baju pula.”

   ”Jinja,” dia mengangguk serius. ”Aku paling suka melihatmu berkeringat begini,” dia mengelus leherku pelan, dan rasanya seluruh darahku langsung naik ke kepala. ”Apalagi kalau setelah menari.” Dia tersenyum.

   Aku diam, dan menggigit bibirku.

   ”Ah iya,” dia tiba-tiba mengalihkan pandangannya dariku. ”Aku mengerti kok, kau tidak mau menciumku.”

   Pikiranku yang tengah melayang-layang, mendadak turun ke bumi, menukik, dan menghantam aspal dengan keras. Aku kan cuma menggodanya tadi, kenapa dia berpikir aku tidak mau menciumnya?

   ”Tadi pagi,” dia tiba-tiba bicara lagi, masih tidak menatapku, diletakkan kedua tangannya di belakang kepala, dan kini dia menengadah menatap langit-langit. ”Aku… memang kelewatan. Maaf.”

   ”Mwo?!” bisikku kaget.

   Dia menoleh padaku dengan pandangan tidak enak. ”Aku… melanggar janjiku sendiri.”

   ”Janji?” tanyaku masih berupa bisikkan.

   ”Oh,” dia mengangguk. ”Untuk tidak menyakitimu. Maaf ya, Momma, aku janji tidak akan kelewatan seperti tadi pagi lagi. Aku hanya…” dia menghela napas dalam-dalam. ”Jujur, bagaimana pun juga aku pria normal, dan kau…” dia menatapku dalam-dalam sekarang. ”Kau membiarkan dirimu terlalu lemah tanpa pertahanan, aku kerap kau buat lupa diri, tapi aku menilai terlalu tinggi pengendalian diriku sendiri, sehingga tadi pagi aku kelepasan.”

   Aku masih tercengang berusaha mencerna kata-katanya, jantungku berdegup kencang mendengarkan penjelasannya. Apakah kini pembicaraan kami menuju…

   ”Untunglah Leeteuk Hyung tadi masuk, kalau tidak…” dia menggeleng nampak takut. ”Aku tidak bisa menjamin yang terjadi kepadamu.” Sesalnya, dengan suara lirih, tetap tak berani menatap mataku.

   Aku masih diam, di kepalaku berpusing kejadian tadi pagi, dan kata-kata jujurnya tentang hubungan kami selama ini. Aku memang sempat terpikir ke arah sana, apalagi adik-adikku, dan sahabat-sahabatku secara bercanda pernah bertanya pada kami, sudah sejauh apa kami berhubungan, karena kami terlihat begitu ’dekat’. Meski begitu, kami tidak pernah mendiskusikan soal ini, tentu saja. Dan baru kali ini, Donghae mengatakan terus terang soal bagaimana hubungan ini.

   ”Kau marah, ya?” dia mendadak cemas melihatku diam.

   Aku masih diam.

   ”Aku tidak… aku tidak akan berbuat seperti itu lagi…” lirihnya.

   Dia tidak akan memperlakukanku seperti ’itu’ lagi? Aku mendadak merasakan sesuatu. Entah apa, yang jelas aku tidak menyukainya. Aku mencintainya, dan aku… aku… jujur, aku suka diperlakukan olehnya seperti ’tadi’ dan membayangkan dia takkan pernah melakukan itu lagi padaku, membuatku sedih. Apa yang salah? Apakah dia tidak mencintaiku seperti aku mencintainya? Apakah dia tidak mau memilikiku? Seperti aku ingin memilikinya?

   ”Jadi,” setelah akhirnya aku mencari suaraku, aku menemukannya. Aku berdeham beberapa kali. ”Kau… ehem menyesal?”

   Dia mengangguk sungguh-sungguh. ”Aku janji tidak akan begitu lagi.”

   ”Kenapa?” tanyaku.

   ”Kenapa?!” dia membelalak. ”Haejin-ah, kita belum menikah…” ujarnya, dan kini aku mengerti apa maksudnya dan kemana arah pembicaraan ini. ”Aku tidak mau terjdi sesuatu padamu, pada kita kalau kita sampai berbuat hal-hal yang diluar akal sehat kita.”

   ”Jadi menurutmu hal tadi itu diluar akal sehat?!” mendadak darahku naik.

   ”Ya tentu saja itu diluar akal sehat, Haejin-ah! Mana mungkin kita bisa melakukan hal itu?! Ah, bukan kita, aku! Bagaimana bisa aku hampir melakukan itu kepadamu?!” dan kini dia menjambak rambutnya sendiri frustasi sambil duduk, terlihat galau. Aku ikut duduk.

   Aku emosi!

   ”Kau melakukan itu karena kau mencintaiku, kan?!”

   ”Cinta dan nafsu itu berbeda, Haejin-ah,”

   ”Memang berbeda!” aku berseru. ”Tapi tak ada cinta yang tidak diikuti nafsu! Itu bullshit kalau memang ada!”

   Dan Donghae menoleh padaku dan mengernyit. ”Aku tidak mengerti arah pembicaraanmu.”

   ”Kenapa kau tidak berusaha mencari pembenaran atas apa yang kau lakukan padaku?”

   ”Karena hal itu tidak benar!”

   ”Lalu apa yang bisa membenarkannya? Lembaga pernikahan, begitu?” dengusku.

   Dia nampak tidak mengerti. ”Bukankah, harusnya begitu?”

   ”Donghae-ya,” desahku frustasi sambil menatapnya lekat-lekat. ”Aku marah sekarang! Aku kecewa, tapi bukan karena perbuatan sembrono kita tadi pagi! Aku akui itu memang perbuatan sembrono karena dalam senano detik kau harus berangkat naik pesawat dan sempat-sempatnya aku merayumu!”

   ”Kau tidak merayuku!” potong Donghae berang. ”Kendali diriku yang kurang!”

   ”Karena memang aku yang memancingmu, ingat?!”

   ”Ah, pembicaraan kita ini semakin runyam!” seru Donghae frustasi. ”Pokoknya kita putuskan malam ini, kita tidak boleh seperti itu lagi!” ujarnya tegas sambil menarik selimut dari bawah. ”Kita tidak boleh melanggar batas-batas yang sudah diajarkan, oke.”

   Aku menggeleng tidak mengerti. ”Kau bicara soal norma sekarang?!”

   ”Aku akui aku memang tidak pantas bicara begitu, tapi aku bersalah, dan aku bersedia mengikuti norma yang berlaku mulai sekarang.”

   ”Dengan cara?!”

   ”Perlu aku tidur di sofa?!”

   Akhirnya aku tidak kuat dan kini aku menangis. Aku menangkup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Aku merasa ditolak sekarang, entah kenapa tapi aku langsung terisak-isak. Dia panik dan dengan hati-hati dia menyentuh bahuku, dan mengguncang tubuhku pelan.

   ”Haejin-ah, Momma, maaf…”

   Aku masih terisak.

   ”Aku tidak akan melakukan itu lagi, kalau itu menyakitimu.”

   Aku hempaskan tangannya. ”Bodoh! Bukan itu!” kesalku. ”Kenapa sih kau masih tidak bisa mengerti keinginanku?! Kenapa sih kau selalu salah sangka? Kenapa kau tidak bisa mengerti apa yang kukatakan? Kenapa aku marah, dan kenapa aku menangis begini, tapi malah menyalahkan dirimu sendiri?!”

   ”Memang kau marah karena apa?” tanyanya kaget. Donghae nampak terpukul lagi, dia mengira telah melakukan sesuatu yang melecehkanku lagi, pasti! Dia nampak takut.

   ”Aku tidak mau kau begini,” aku berusaha menjelaskan. ”Aku tidak suka kau menyalahkan dirimu. Aku sedih… karena menyentuhku kau anggap sebagai… sebagai kesalahan.”

   Dan kini kedua bola matanya membelalak lebar, kaget.

   ”Apa yang salah dari hubungan itu?” isakku. ”Apa yang salah karena menginginkannya?” tanyaku entah kepada siapa. ”Tapi kenapa justru ini dianggap kesalahan, aku tidak mengerti. Apakah itu hanya alasan, karena kau tidak mau…” ucapanku terhenti.

   Donghae gelagapan menjawab. ”Tidak! Aa…bukan seperti itu, Haejin-ah.”

   ”Tapi kau membuatku berpikir begitu!” sinisku sambil mengisak. ”Aku… aku tadi cuma menggodamu, aku… aku tidak berpikir sama sekali bahwa kau melecehkanku atau apa! Kau kekasihku, aku mencintaimu, kau mencintaiku, sudah. Apa lagi yang salah?”

   ”Haejin-ah,” dia tak percaya mendengar kata-kataku.

   ”Kau tidak mau, menjadikan aku milikmu?” tanyaku padanya tepat pada matanya, dengan air mata. Kulihat kini pupil matanya melebar kaget. Kedua tangannya mencengkram pergelangan tanganku kuat. ”Atau, kau berpikir aku bukan gadis baik-baik karena menginginkan ini?”

   ”Tunggu dulu, Haejin-ah,” potongnya. ”Kau… mau…?”

   Aku mengangguk, dan tanpa dicegah air mataku turun lagi. ”Aku tidak keberatan, karena memang… aku menunggumu melakukannya.” Isakku. ”Ternyata kau tidak mau, kan? Kau pasti menganggapku gadis murahan sekarang.” Aku berusaha melepaskan kedua tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku.

   ”Aniyo!” bantahnya keras.

   ”Sudahlah, tak apa…” aku menunduk lesu. ”Aku memang bodoh.” Akuku. ”Aku memang jujur berusaha merobohkan pertahananmu selama ini, tapi tak kusangka kau semenderita itu menahannya.” Aku mengusap mataku. ”Sudahlah, aku lelah.” Aku berbaring memunggunginya.

   Dia masih menatapku nanar, kaget, terlebih ketika aku memunggunginya. ”Harusnya aku yang bilang aku takkan menyentuhmu lagi.” Ujarku. ”Aku akan berusaha, Hae. Aku akan berusaha.”

   ”Andwe!” dia membalik tubuhku.

   Kulihat matanya lagi.

   ”Bukan seperti itu, Haejin-ah,” dia menarikku bangun lagi dan duduk bersamanya di atas tempat tidur kami. Diusapnya perlahan-lahan air mataku, dia kelihatan terluka. ”Aku tidak berpikir kau gadis murahan, jebal berhenti bicara seperti itu, itu menyakitiku.” Lirihnya. ”Tapi, hubungan yang kita bicarakan ini… bukan hubungan yang bisa kita bangun tanpa tanggung jawab. Kita harus siap akan segala resikonya ke depan, Haejin-ah.” Dia membelai-belai pipiku. ”Aku mencintaimu, aku ingin kau jadi milikku utuh, tak tersentuh yang lainnya… tapi, aku harus menunggu sampai kau siap.”

   Aku berusaha mencerna kata-katanya. ”Apa maksudmu?” tanyaku tetap tak mengerti. ”Sampai aku siap?” tanyaku lagi. ”Siapa yang siap sebenarnya disini? Kau atau aku?”

   ”Kau, tentu saja!”

   ”Kalau aku siap, kau mau melakukannya?”

   ”Keurom.”

   ”Kalau begitu, aku siap!” jawabku mantap, dan dia terbelalak. ”Tak ada orang lain yang kuinginkan untuk memilikiku kecuali kau. Aku mencintaimu, Hae, sampai kapan kau ragukan itu?” isakku.

   Dia kemudian menyentuh pipiku dan menciumku dalam.

   Inikah jawabannya?

-To Be Continued-

169 thoughts on “{JinHaeXy} Honeymoon in Saipan 1/? ~PG17~

  1. waw jinhae hampir aja kelepasan
    wkwkwk
    kereeeeen eon
    ya ampun haejin eon kasian bgt
    sabar ya eon hae oppa baek kok sbnarnya

    daebak

  2. udah lama nggak mampir ke blognya Nisya onn. Baru dateng eh aku langsung baca pemberitahuan kalo FF ini dan WIF nggak jadi dilanjutin.
    Aku belum pernah baca dua FF itu sih ._.v
    Dan ini aku baru mulai baca HIS.
    Menurutku ceritanya baguuuuuusss~
    Emang rada vulgar gitu sih, tapi kan JinHae emang begitu -.-
    Itu romantis banget haha walopun haejinnya kasian.
    Lanjut ke part berikutnya nih~

  3. haiiiii aku datang…mumpung bisa ol pc (padahal harusnya ngerjain tugas)😄

    SEXY JINHAE as always…. udah jadi ciri khasnya JinHae siiih…

    itu untung eeteuk datang!!! kalau tidak……….

    aduh aduh kenapa haejin jadi mikir macem macem gitu ==”

    dan endingnyaaa….. huuuaaaaaaaa *_*

    oke aku lanjut ke part 2 dulu… hehehehe

  4. Wooaaaaaaah~ JinHae mau liburan yaaaaa~ ikut dooooooooong~ #dor *dilempar ke laut*

    Aduh aduh itu……Astaghfirullah, Subhanallah, *baca ayat kursi, Yasin, Al-Baqarah deh sekalian* itu dua ikan kalo ditinggal berdua dikamer bahaya ya ~~ *baca Yasin lagi*

    Hmmm~ berasa baca Eclipse hahahaha persis, cuma beda tokoh, beda latar ~ *iyalah!* ah Nisya Onnie doyan Stephanie Mayer ya? Eh novelnya maksudnya~ hehehe
    Persis loh kaya Eclipse ~

    Oke karena mau rapel bacanya segitu dulu komennya~ *go to honeymoon in saipan part 2*

  5. aaaah baru sempet baca ff yg inii >< feelnya dapet eon kkk~ btw haejn penbet disentuh hae yaww wkwk. oke lanjut baca~~~

  6. Wuiihhh nc pun dmulai… Tp pst pass kn ya? N momma masi blm mw ngasi pass nya… Oke, sabaaaaarrr aj daah nunggu momma bagi2 pass.. Aq ngantriii aj ntar…

  7. Huweeeee.. esumpah deh ah baru segini aja udah deg deg serr aja rasanya.. aigooo~ poppa lembut yah,, jadi enak ngebayanginnya #plakk
    Err itu.. aku setuju sama pendapat haejin klo samasama cinta, why not? *ditampar* tapi emang juga sih itu dosa karena belom terikat pernikahan. Tapi helloooo ini udah jaman kapan yah? Orang hidup kebanyakan udah bebas juga.. jadi saya dukung haejin..ahaha *ketawa setan*

  8. Yak leeteuk … Menggangu Aja … Aish … Rusak deh tuh pintu di dobrak … (˘_˘)čĸ! (˘_˘)čĸ! (˘_˘)čĸ!
    Wkwk .. Mereka panik sampe jatuh … Aigoo hae ga bs nahan ya …?? …waa zhou min keke baikkk loh .. Nungguin buat ksh kunci .. Haejin nakallll ya .. Tar kalo dong hae lepas kontrol gmn ? Kan ga ada teeukie ahjussi hehehe

  9. Anyeong eon, new readers yg jelas fansnya abang fishyyy hahah.. Young hee imnida.
    —-:—–
    Ihh wow banget, gaya pacaran mereka ala barat” bangetttt :3 karakter hae di blog ini berbeda banget sama ff yg biasa aku baca ._. Tp ttp memukauu kok.. Zzz

  10. Anyeong , aku reader baru disini jd aku kurang begitu ngerti tentang wL mula hub donghae dan haejin , tapi aku suka panggilan sayang mreka b2 moomaa sama pooopaaa , so sweet ,, wahhh , donghae ??*?u
    Ngapain ? , ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s