-JinHae- Tribute For You

Cerita ini Nisya buat, pure berdasarkan kisah cinta asli Marco Simoncelli dan Kate, kekasihnya, hanya diedit-edit dikit aja, tapi cerita ini aku dedikasikan untuk cinta Marco-Kate

Title : Tribute For You

Author : Nisya a.k.a pacardonghae & Donghae’s Wife

Genre : Romance, Angst, Alternative Universe

Rate : PG13

Main Cast :

  • Super Junior Donghae as Aiden Lynch “Marco Simoncelli”
  • Lee Haejin aka Nisya as Nadine “Kate”
Supporting Cast :
  • Super Junior Eunhyuk as Spencer (Nadine’s Brother)
  • Grace Putri aka Kim Yoonri as Kimmy (Aiden’s sister)
  • MotoGP Racer
Disclaimer :
Pas kemaren baca-baca soal upacara pemakaman pebalap MotoGP yang meninggal di Sepang, Malaysia. Disitu juga diceritain kisah cinta mendiang Marco Simoncelli dan kekasihnya, Kate yang menurutku manis banget.

Tribute For You

Sudah empat tahun sejak pertemuan pertama kami di sebuah restoran pasta kecil milik kedua orangtuaku. Aku kenal dia. Ya, siapa yang tidak mengenal dia? Dia Aiden Lynch. Pebalap MotoGP 250CC, yang tengah naik daun. Hampir kukira dia masuk ke restoranku karena salah mengira ini toilet umum.

Bagaimana mungkin? Pria seterkenal itu masuk ke kedai pasta keluargaku yang kecil, dan terpencil ini? Meski kudengar dari banyak orang, rasa pasta keluarga kami sungguh enak.

Aku masih ingat dengan jelas detil-detil pertemuan kami.

 

*Flashback 2007*

”Nad, ada yang baru datang! Kau tanyakan apa pesanannya, Mama dan Papa masih sibuk disini, begitu juga dengan Spencer. Hanya kau yang menganggur.” Mama berkata padaku yang sedang memeriksa paper kuliahku di atas konter.

Aku mendongak dan melihat keriuhan di dalam kedai kecil kami.

”Astaga! Itu kan Aiden Lynch!”

”Benar! Itu dia! Juara MotoGP 250 CC!”

”Dia kan akan menjadi pengganti Valentino Rossi!”

”Gaya balap mereka sama! Sedikit kasar, tapi penuh nyali!”

”Ya Tuhan! Apa yang dilakukan Aiden Lynch disini?!”

”Aku harus minta tanda tangannya! Harus! Harus!”

”Dia tampan~”

Aku kebingungan. Memang siapa yang datang sampai banyak orang yang masuk ke kedaiku ini? Aku berjinjit-jinjit untuk melihat, tapi apa daya, tinggi tak sampai. Mama menegurku lagi, akhirnya aku membawa nota pesanan dengan pensil berusaha menerobos kerumunan.

Dan mataku seketika terbelalak melihat ada fan meeting dadakan di dalam kedai pastaku. Aiden Lynch! Tak salah lagi, mataku dan telingaku tak mungkin salah. Karena beberapa pengunjung berkata bahwa dia adalah Aiden Lynch! Dia duduk dengan sopan di meja bundar cokelat sederhana yang terletak di tengah kedai, namun sudah banyak orang mengelilingnya. Dia menyalami anak-anak, remaja, dewasa, tua, yang hendak bersalaman dengannya.

Aku langsung kagum padanya. Dia bahkan tersenyum ramah, dan mengucapkan terima kasih berulangkali atas dukungan mereka padanya selama kompetisi balap tahun ini.

Setelah para penggemar menyingkir karena hendak memberikan Aiden Lynch privasi, barulah aku bisa mendekat. Aku tersenyum formil, tata krama yang diajarkan kedua orangtuaku kepadaku dan kakakku, Spencer dalam menjalankan usaha kedai pasta kami.

”Selamat siang, dengan saya Nadine, ada yang bisa saya bantu?” tanyaku sopan.

Dia membuka buku menu kami tanpa menatap wajahku, tapi dia tersenyum ramah. ”Ya, aku dengar pasta disini sungguh enak. Apakah kau bisa merekomendasikan padaku, pasta apa yang paling enak?” barulah ia mendongak menatap wajahku.

Mata kami bertemu.

Itu adalah mata paling indah yang pernah kulihat.

”Oh,” aku berusaha fokus. ”Menu andalan kami, spaghetti bolognese… tapi kalau pendapat saya pribadi, saya suka fetuccini carbonara.”

Dia tersenyum padaku. ”Aku mau yang kau suka saja, Fetuccini Carbonara.”

”Baik.” Aku mencatat pesanannya. ”Minumnya, Signore Lynch?”

Dia mengeluarkan senyum miringnya sambil terus menatap buku menu. ”Apa yang kau suka disini?”

”Eh? Disini minuman andalannya espresso, Signore Lynch.” Jawabku.

Dia menggeleng. ”Minuman apa yang kau suka disini?”

”Aku? Oh, aku suka Frappucino. Freeze capuccino.” Kataku bingung.

Dia mengangguk lagi sambil tersenyum dan menutup buku menu tersebut, dan menyerahkannya padaku. ”Itu saja. Grazie, Signorina Nadine.” Dan melemparkan senyuman yang amat kusuka.

Aku membungkuk dan kembali ke dapur. Papa langsung menyiapkan apa yang dipesan oleh Aiden Lynch. Dan saudaraku, Spencer dengan heboh mendekati Aiden Lynch diluar. Aku mengintip dari pantry dengan perasaan iri. Entah mengapa aku ingin seperti Spencer pada saat ini. Begitu supel, dan bisa dengan kasualnya menyapa Aiden Lynch tanpa perlu perasaan berdebar-debar seperti yang kurasakan saat ini.

Tapi, Spencer kan laki-laki! Wajar saja dia tidak berdebar-debar melihat Aiden Lynch yang tampan itu. Aku kembali mengintip, tapi mataku terbelalak melihat pemandangan di depanku!

Kini, Aiden Lynch tengah berbisik kepada kakakku, Spencer.

Apa yang mereka bicarakan?

”Nadine~ ini Fetuccini Carbonara dan Frappucino Caramel untuk meja lima.” Papa meletakkan sepiring pasta dan segelas tinggi kopi tersebut. Aku meraih keduanya di atas nampan dan menekan bel. Isyarat bagi Spencer untuk datang dan membawakan pesanan.

Spencer melangkah ringan mendekatiku.

”Ini.”

”Tidak, kau yang antar sana.”

”Kenapa?! Ini kan tugasmu, Spencer!”

”Oh ayolah, aku harus membereskan meja yang terkena noda disana,” dan buru-buru Spencer pergi.

Apa maksudnya?! Kalau memang dia sibuk kenapa dia masih dengan santainya berjalan menghampiriku setelah berbincang dengan pebalap itu?! Bilang saja kalau dia malas. Aku menghela napas berat dan mengangkat nampan tersebut. Ya sudahlah, tak berat ini.

Kuhampiri lagi meja pria itu, dia masih duduk sambil tersenyum.

”Ini pesananmu, Signore Lynch.”

Grazie.” Dia balas tersenyum.

Aku membungkuk dan kembali ke pantry. Cucian piring sudah bertumpuk, dan aku harus kuliah. Kulirik jam dinding, masih ada waktu. Setelah mencuci piring selama lima belas menit, aku pamit pada kedua orangtuaku dan keluar dari kedai yang mulai sepi karena hari telah beranjak sore, dan sudah lewat waktu makan siang.

Aku kuliah sebentar, dan malamnya ketika waktu makan malam tiba, aku bisa membantu kedua orangtuaku dan kakakku lagi. Kulangkahkan kakiku menuju jalan kecil Corini, provinsi Rumini, Italia. Kampung halamanku. Kampusku terletak di jantung kota Corini.

Sambil terus berjalan, kudengar deru motor yang cukup halus di belakangku. Tapi dari bunyinya, kuyakin ini bukan motor scooter seperti yang biasa warga Italia miliki, dan Spencer miliki.

Aku menoleh dan melihat motor hitam besar berjalan pelan di belakangku, aku berhenti. Perasaanku mulai tidak enak! Apakah aku diikuti?! Tapi, kemudian si pemilik motor melepaskan helm hitamnya juga.

”Nadine.” Sapanya.

Mataku membelalak dengan kaget. ”Signore Lynch?!” tanyaku terbata-bata.

”Hai! Kau mau ke kampus ya?”

”I…i…iya…” sahutku terbata-bata.

”Mau kuantar?” tanyanya ramah.

”Eh?!”

”Yuk, kuantar… tak begitu jauh, kan?” tawarnya lagi.

*Flashback End*

Setelah pertemuan pertama kami empat tahun lalu, Aiden semakin sering makan di kedai. Dan selama dia datang, Spencer selalu pura-pura tidak mau mengantar pesanan, dan membuatku yang terus mengantarkannya. Aku senang sih. Lama kelamaan dia mulai dekat dengan kedua orangtuaku, dan tentunya padaku.

Entah sejak kapan kami menjadi sepasang kekasih, semuanya terjadi begitu saja. Aku mencintainya di saat pertama kali aku melihatnya, dan dia bilang dia pun langsung jatuh cinta padaku saat melihatku bekerja di kedai. Awalnya aku ragu menerima cintanya. Bagaimana tidak? Dia adalah pebalap MotoGP kelas 250CC yang begitu terkenal.

Rata-rata pacar para pebalap adalah model yang cantik. Tapi aku? Gadis biasa, dari keluarga dengan ekonomi kelas menengah yang hidup dari kedai pasta.

”Apa yang kau lihat dariku, Aiden?”

”Apa maksudmu?”

”Aku kan hanya gadis biasa.”

”Lalu? Aku juga bukan manusia luar biasa kok,” dia melempar senyum hangatnya yang kusukai itu.

Aku menggeleng. ”Kau kan orang terkenal,” aku menggigit bibirku cemas. ”Kau bisa mendapatkan model Italia cantik lainnya. Kau bisa cari ribuan gadis cantik lainnya diluar sana. Banyak yang mau jadi kekasihmu, Aiden.”

Dia nampak berpikir, kemudian menjawab. ”Memang, diluar sana banyak gadis cantik. Diluar sana banyak yang mau jadi kekasihku. Tapi yang aku tahu…” dia tersenyum dan membelai pipiku dengan jemarinya. ”Aku mencintaimu. Aku laki-laki biasa kok, Nadine. Aku juga tidak tahu kenapa Tuhan menancapkan panah cintamu padaku, bukan pada orang lain.” Dia terkekeh.

Aku masih menatapnya.

”Aku juga bukan siapa-siapa kalau bukan karena dukungan tim, sponsor, penggemarku. Aku hanya pria biasa. Jadi jangan anggap aku Aiden Lynch yang ada di sirkuit. Bagimu, aku hanya laki-laki biasa saja, yang beruntung karena bisa mencintaimu.”

Aku nyaris menangis mendengar kata-katanya, akhirnya aku luluh. Dia begitu berkeras ingin aku menjadi kekasihnya, dan dia membuktikan kata-katanya dengan membawaku kepada kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya menerimaku dengan ramah, seperti anaknya. Kini aku tahu darimana sifat rendah hati Aiden.

Keluarga Aiden tergolong keluarga berkecukupan. Tapi Mama-Papa Aiden, dan adik Aiden, Kimmy, sangat rendah hati dan sopan. Aku langsung diterima sebagai bagian keluarga mereka. Bukan hanya aku, bahkan keluargaku, Mama-Papa, dan Spencer juga dianggap bagian keluarga mereka.

Setelah satu tahun menjalin kasih, aku semakin yakin akan cinta Aiden padaku, dan cintaku padanya. Di usiaku yang ke duapuluh satu, aku diizinkan kedua orangtuaku pindah ke rumah yang dibeli oleh Aiden untuk kami berdua. Kami tinggal bersama di daerah Roma, agar dekat dengan sirkuit Motegi, tempat Aiden berlatih.

Dan setelah bersamanya kehidupanku dan pekerjaanku berubah. Kini aku bahkan diterima bekerja sebagai staff dari tim moto Aiden, dan mendapatkan gaji secara profesional. Aku bisa mengirimkan penghasilanku pada kedua orangtuaku untuk membantu mereka di kedai dalam mempekerjakan lebih banyak orang dan merenovasi kedai.

Aku selalu mendampingi Aiden sebagai umbrella girl-nya sebelum ia akan mulai balap. Memayunginya dengan payung sewarna dengan kostum timnya, sekaligus memberikannya semangat secara langsung.

Pada tahun 2010, akhirnya Aiden memutuskan untuk masuk ke kelas tertinggi di MotoGP, yaitu kelas 1000CC bersama timnya, Gresini Honda. Sejak Aiden melakukan debut di kelas 1000CC, namanya begitu menarik perhatian karena dia sangat kompetitif. Sebagai seorang rookie, dia berhasil menarik perhatian dengan finish di posisi keempat pada GP di Portugal, dan pada klasemen akhir, Aiden berhasil mendapatkan posisi delapan.

Jujur aku sedikit takut melihat gayanya dalam balap. Aiden yang berada di sirkuit, dan Aiden yang bersamaku seperti berbeda. Jika tengah bersamaku, dia akan menjadi pribadi lembut yang penuh kasih, bahkan romantis. Tapi jika sudah di arena balap, dia menjadi Aiden yang ’liar’ dengan tekad kuat dan kompetitif. Tak jarang Aidenku mendapatkan kritikan pedas karena gaya balapnya.

Ia memang jarang mendapatkan posisi pertama, sebagian ya karena salahnya sendiri terlalu ’kasar’. Bukan hanya sekali ia cedera, dan membuatku khawatir pada keadaannya. Dia bahkan pernah membuat cedera Daniel Pedrossa, hingga ia mendapatkan penalty. Jorge Lorenzo pun pernah memarahiki kekasihku itu di depan mataku karena marah akan gaya balapannya.

”Jangan terlalu kasar dong mainnya,” pintaku cemas.

Dia tersenyum dan terkekeh, lalu mengacak rambutnya dan malah menggodaku. ”Kau cemas ya?”

”Apa aku terlihat sedang bahagia melihatmu penalty dan jatuh?!” omelku. Tawanya malah semakin keras. Aku meraih tangannya. ”Aiden aku serius! Aku memang ingin kau berdiri di podium dan mengangkat piala itu, tapi aku tidak mau karena keinginan itu kau menjadi sembrono.”

Dia meraihku dalam dekapannya, dia mengecup bibirku singkat. ”Ternyata Nadine-ku sangat mengkhawatirkanku. Maaf membuatmu cemas, aku memang suka kompetisi, dan aku suka tantangan.”

”Tidak di sirkuit, Aiden!” mataku melotot. ”Kau boleh menantangku bermain Winning Eleven sesukamu asal tidak sirkuit yang kau jadikan tantangan.”

”Iya iya iya…” katanya bosan.

Toh akhirnya dia berhasil mempersembahkan untukku piala pertamanya di kelas 1000CC. Saat itu GP di Praha, Ceko. Dan kemudian minggu lalu dia mempersembah-kanku podium kedua di GP Australia.

Setelah ia berhasil membawa piala ketiga dan kedua, targetnya kini podium pertama, dan targetnya ingin ia laksanakan di GP akhir pekan besok, di Sepang, Malaysia. Kini ia mulai latihan intensif, baik fisik maupun motornya.

Kualifikasi menempatkan Dani Pedrossa sebagai pole position, disusul Casey Stoner, Davisiozo, Edwards, dan barulah Aiden. Dia cukup puas akan tempatnya di nomor lima.

Malam sebelum race, kami sempat berjalan-jalan di depan hotel kami menginap. Entah ada angin apa, Aiden menggendongku di punggungnya. Kami berjalan-jalan menikmati angin malam kota Malaysia yang cukup panas.

”Nadine.”

”Eum?” tanyaku.

”Aku sungguh ingin mendapatkan posisi pertama besok,” katanya.

”Siapa yang tidak mau dapat posisi pertama?” aku memeluk lehernya semakin erat sementara dia terus berjalan pelan, tidak terlihat kelelahan menggendong tubuhku.

”Tapi, aku benar-benar ingin! Kau tahu kenapa?”

”Kenapa?”

”Karena podium Sepang itu indah, aku bisa melihat semua orang diatas podium pertama.”

Aku tertawa. ”Kau ada-ada saja,”

Kami kemudian tiba di taman kecil di pekarangan hotel mewah ini, dia menurunkanku perlahan-lahan dan mendudukkan di atas bangku semen yang dibentuk cukup indah. Kemudian dia memintaku menunggunya sebentar sementara ia berlari ke arah semak bunga.

”Hei, kau sedang apa?” tanyaku penasaran.

”Sebentar, Sayang.”

Aku menggoyang-goyangkan kakiku menatap punggungnya. Ia sedang menghadapi semak bunga dan kedua tangannya seperti mengambil sesuatu. Dia tidak mengambil jangkrik atau sebangsanya, kan?

Kemudian dia kembali dengan kedua tangannya disimpan di belakang punggungnya. Dan berlutut di depan kakiku, menatapku intens dengan kedua mata indahnya.

”Nadine,” katanya pelan. ”Kita tidak akan berpisah kan?”

Aku mengernyit. ”Kenapa bertanya begitu?”

”Tidak, aku hanya ingin kita tidak pernah berpisah, karena…” dia menarik tangan kiriku keluar dan memasangkan sesuatu pada jari manisku. Aku terbelalak, cicin yang dibuat dari bunga?!

Aku menatap bunga itu kaget.

”Kalau aku mendapatkan podium pertama besok, akan segera kuganti cincin ini menjadi cincin berlian.”

Mataku mengabur, perasaan bahagia muncul, meluap-luap, hingga membuat suaraku tercekat di kerongkongan. Cincin ini dari bunga yang ia petik, dan ia rangkai sendiri. Aidenku…

”Itu berarti…” lambat-lambat ia meneruskan. ”Kau harus menikah denganku.”

Dan air mataku sukses turun.

Mi vuoi sposare? Maukah mau menikah denganku?” tanya Aiden sambil tersenyum.

Tangisku semakin merebak, dan aku mengangguk-angguk, saat dia meraih wajahku dan mengecup bibirku. Aku mengalungkan kedua lenganku padanya. Aku bahagia, memilikimu, jagoanku, Aiden.

 

*23 Oktober 2011, 15.00, Sepang, Malaysia*

Aku berdiri di sebelah motor putihnya, dengan nomor kebanggaanya 58. Dia belum mengenakan helmnya. Dia masih menyelubungi kepalanya dengan handuk, sambil memegang papan besar dengan tulisan : New Website : aidenlych.it website barunya. Dan aku berdiri disampingnya sambil memayunginya.

”Aku kan memenangkan race ini untukmu, Nadine.” Katanya sambil mengerling padaku. ”Bukti lamaranku padamu. Aku mau berdiri di atas podium itu dan bisa memandang semua orang, lalu berkata bahwa akulah pria paling beruntung karena memiliki seseorang sepertimu.”

Wajahku memerah. ”Kau ini! Pokoknya jangan sembarangan ya balapannya,” pesanku.

”Oke!”

”Ah, sudah waktunya warming lap,”

Kuambil papan website-nya dan handuknya. ”Lotta!”–fighting.

Grazie.” Dia mengedip dan mengenakan helmnya, kudengar bunyi klik saat dia sudah benar-benar mengenakannya. Aku minggir bersama anggota staff yang lain. Aku kembali ke dalam pitstop, untuk duduk bersama staff tim. Di ruangan itu disediakan televisi untuk menonton balapan di sirkuit.

Aku bisa melihat motor putih Aiden di posisi kelima bersama dengan motor-motor lainnya yang menyemut di setiap tikungan sirkuit Sepang tersebut, sebelum akhirnya kembali ke posisi start untuk memulai race.

Bendera dikibarkan, dan lampu hijau menyala, race dimulai. Aku bisa memerhatikan semua pebalap berusaha menyalip atau mempertahankan posisi mereka, termasuk Pedrossa.

Aiden berhasil mempertahan posisinya di urutan kelima setelah melalui lap pertama. Dan aku hapal gaya bermainnya, dia akan mulai menyerang pada lap kedua. Gaya permainan Aiden memang mirip dengan sahabat karibnya, Valentino Rossi, pebalap paling spektakuler yang pernah kutemui.

Dan karena gayanya sama, aku bisa melihat Rossi juga takkan diam dan pasrah, meski baru putaran kedua. Aku tersenyum melihat televisi, sementara ayah Aiden bersama tim Gresini Honda berdiri di sisi pit untuk memonitor pergerakan Aiden di sirkuit.

Masuk lap kedua, Aiden semakin terlihat ingin maju, apalagi Rossi sudah berhasil melewatinya, padahal Rossi berada di posisi kedelapan. Kulihat Aiden semakin berusaha mempertahankan posisinya, dan berhasil karena pada tikungan ke delapan ia kembali berada di posisi kelima. Motornya terus stabil di tikungan sembilan dan tikungan kesepuluh.

Kejadian yang terjadi di hadapanku begitu cepat. Masuk ke tikungan sebelas, kulihat dia berbelok begitu tajam. Diluar kebiasaan para pebalap, dalam setiap tikungan, biasanya hanya lutut mereka yang menyentuh aspal, kulihat siku Aiden pun ikut menyentuh aspal, dan dia kehilangan grip depan, dan berusaha untuk mendapatkan grip lagi! Aiden berusaha mempertahan diri agar tetap berada di lintasan meski motornya sudah terseret di aspal. Aiden terguling ke sisi kanan jalan, dan aku bisa mendengar deru nyaring dan suara berderak kencang saat Valentino Rossi dan Colin Edwards datang.

Rossi berhasil menghindar ke tepi sirkuit dan kelihatan panik sambil terus membuat tanda salib pada dirinya sendiri, sementara Edwards ikut terguling! Aku menekap mulutku saat melihat motor-motor itu terpelanting-pelanting. Air mataku tumpah, dan seketika lututku lemas.

(Keterangan Gambar : Rosi – Simocelli “Aiden” – Edwards)

Aiden sudah terkapar di aspal, dan ia tidak bergerak, helmnya bahkan terlepas.

”AIDEN!” teriakku histeris.

 

*           *           *

Aku membuka mataku perlahan-lahan, rasanya masih sama pedas. Sesakku tak kunjung mereda. Aku tahu ini telah lewat tengah malam, tapi aku gelisah. Dan rekaman kejadian tadi sore kembali menghantamku, membuatku kembali terisak-isak dalam tangis.

Pukul lima sore tadi, empat puluh lima menit setelah kecelakaan itu, Aidenku… Aidenku telah pergi selama-lamanya. Dia memang tidak memenangkan race ini, tapi dia tak membiarkan siapa pun meraih tempatnya di podium pertama Sepang, karena race dihentikan.

Aiden dibawa ke rumah sakit segera setelah ia tak sadarkan diri, dan aku histeris terus memanggil namanya dalam pelukan ayahnya yang berusaha menenangkanku. Tapi takdir ini begitu menyiksa. Aiden tidak tertolong karena cedera pada bagian kepala, leher, dan dada. Bagian vital tubuhnya.

Lehernya sempat tergilas motor Valentino Rossi dan dadanya terkena motor Edwards! Aku menjerit-jerit histeris, tidak mau percaya, meski bukti konkret terjadi depan mataku.

Aidenku…

”Kau bilang kita akan menikah?” isakku. ”Kenapa kau pergi duluan?!” aku tersedu-sedu dalam tangisku di dalam kamar hotel yang berantakan ini. Koper Aiden tergeletak terbuka, dengan baju-baju santainya, barang-barangnya yang masih ada di dalam kamar kami.

”Aiden…” aku melihat jari tangan kiriku, cincin dari bunga yang dibuatkan Aiden padaku semalam. ”Aiden…” isakku sambil mendekap cincin ini, meski layu. ”Aiden…” panggil yang tak ada jawab.

 

*27 Oktober 2011, Coriano, Rimini, Italia*

Hari ini cerah, tidak mendung meski cuaca pada musim gugur. Cuaca seperti ingin mengiringi kepergian kekasihku yang telah dipeluk bumi, Aiden Lynch. Yah, aku mulai harus bisa menerima segalanya. Setelah kami kembali, aku pulang ke rumah kami, dan terus menangis.

Tapi pada satu titik, aku yakin memang kami belum ditakdirkan bersatu sekarang. Dia mencintaiku hingga akhir hayatnya, dan aku pun akan berbuat demikian padanya. Dan kini, kami melangsungkan upacara pemakamannya di Gereja Santa Maria Coriano. Yang membuatku terharu adalah betapa banyaknya orang yang mencintai Aiden, banyak yang mengantarkan kepergian Aiden dengan duka. Termasuk teman-temannya di sirkuit, bahkan Lorenzo terisak mengatakan dia menyesal pernah memarahi Aidenku.

Aku tak berhenti mengelus peti abu-abunya yang masih terbuka. Tuhan, wajahnya masih tampan. Dia nampak tertidur saja meski dengan luka di pelipisnya, dan bibirnya yang membiru. Kami dari pihak keluarganya memakaikan ia kaus dan celana jins saja. Lambang kerendahatiannya.

Setelah upacara selesai, peti ditutup. Aku merekam dengan baik bayang-bayang wajahnya untuk terakhir kali. Helmnya diletakkan di atas petinya, dan petinya dibawa keluar gereja. Diluar, semua menangis melihat peti Aidenku dibawa. Di depan gereja, peti diletakkan di atas lantai, agar para penggemar yang ingin mengirimkannya doa, bisa merasakan kehadirannya untuk terakhir kali.

Dari pihak keluarga kami dipersilakan memberikan kata-kata perpisahan pada Aiden dengan pengeras suara. Mulai dari Papa Aiden, Mama Aiden, Kimmy, dan akhirnya aku.

Aku cuma bisa diam sebentar menekap mulutku, sementara kerumunan semakin menangis melihatku, iba kepadaku. ”Aiden, adalah seorang yang sempurna.” Tuturku sambil meneteskan air mata dan berusaha mengatur suaraku agar tetap jelas terdengar. ”Dan seseorang yang sempurna, tidak akan bersama kita. Kita akan menyusulnya kemudian.” Tutupku.

Akhirnya peti Aiden di bawa ke tempat peristirahatannya yang terkhir, yang hanya dihadiri oleh kami para keluarga. Akhirnya dia kini benar-benar telah dipeluk bumi. Aku hanya bisa berkata, Riposa in pace, Aiden, ti amo per sempre.

Beristirahatlah dengan tenang Aiden, aku mencintaimu selamanya.

-Completito-
Akhirnya… jujur, minggu lalu aku bener-bener ada di sudut pandang Nadine. Aku nonton MotoGP, dan aku lihat langsung kejadiannya meski lewat TV, dan itu ngenes banget😥 aku masih nggak percaya…
Semalem baca-baca tentang upacara pemakaman Marco, dan baca tentang kisah cinta Marco – Kate, langsung kepikiran bikin ff ini. Riposa in pace, Marco. Maaf kalo typo~ ini bener-bener bentuk belasungkawa aku buat Simoncelli😥

77 thoughts on “-JinHae- Tribute For You

  1. yaAllah sedih banget ;A;
    pngn nangis tp gbs,si kaka nyetel lagu the boys nanananana~ wkwkw
    gbs byngn gmn si hae bgtu, aduh yaampun psti gntng bangeeeeeeeeeet kyaaaaaaaaa. BAGUS BANGET EON!😀

  2. Oeni. . .merinding bgt bacanya. .
    Biarpun nggk lhat saat tnding tpi aku lhat di info jdi merinding gtu wktu tau kejadian itu😥
    Trut belasungkawa . ,

  3. you know, actually I’m afraid to read it. Karena aku udah tau endingnya…😥
    Tapi maaf nis, karakter Simoncelli itu kuat bgt. Jadi aku baca ini sama skali g ada aiden-nadine. Sorry… But this is such a good story… And you are a good writer. Km bs nuangin ni semua dlm tulisan :’)
    Satu lagi. Valentino Rossi bukan sahabat karibnya. Tapi idola dan kakak yg baik :’)
    Race in peace Simoncelli….

  4. onn, padahal perasaan baru seminggu yang lalu aku baru tau marco simoncelli dari tr*ns7 di berita motogp dan ngeliat gaya balapan nya yang memang liar. aku gak nyangka kalo sekarang.. sekarang dia udh pergi. aku masih shock dengarnya. dia itu, keren. sama kerennya dengan rossi ama pedrosa.
    rest in peace marco simoncelli. buat keluarga ama pacarnya, kate, semoga diberi kesabaran.
    dia cowok yang paling romantis abis aku baca ff ini.😥

  5. Crta ny smpe bkin ak nangis.
    Gk nyngka bngt trnyta ksah cnta mrka kyak gni..
    Pngen bngt pnya cwok kyak simoncelli yg trknal tp ttep rmah & stia.
    RIP marco simoncelli T_T

  6. Selalu sedih klo denger berita ttg meninggalnya pembalap
    Pdhl bbrp bulan lalu pembalap 250 cc dr jepang meninggal😥

    Sedih baca ff ini (˘̩̩̩.˘̩ƪ) ngebayangin jd kate pst bnr2 terpukul,,
    Lbh baik meninggal krn penyakit krn kita bs nyiapin hati buat ngadepinnya drpd meninggal tiba2 krn kecelakaan

  7. eonni…hebat banget bisa dapet feel.ny kate …
    bner2 serasa kayak betulan….
    waahhhh….
    kisah cinta yang sangat romatise antara marco n simoncelli …
    masih gag percaya , dia bneran udh kembali ke hadirat tuhan yang maha esa

    ckckc…..selamat jalan simoncelli

  8. T^T
    Too sweet. . .
    Walo gak liat dan nyari2 tntg kisah cinta mereka. .
    Ff yg onnie buat sukses juga buat merinding plus nangis😥

    Ya allah, , emg umurnya udah abis yah. .
    Gada yang tau kpan giliran kita😥

    Makasih onnie ff nya. .

    Rest in peace marco simoncelli :’)

  9. uda baca, tapi yang terbayang itu sama sekali bukan Aiden-nadine, tapi marco-kate.. mian unn
    mungkin karena uda nyaksiin sendiri kali ya..
    meskipun aku bukan pencita GP, tapi sedih banget pas liat kecelakaannya..
    rest in place marco :’)

  10. huwee~ aku nangis baca ini !! pdhl pas liat di TV aku miris aja liat simon smpe kaya gitu . tapi pas diganti dan ngebayangin ini donghae huweeee~ *banjir*
    ini ngingetin sama FF unnie yg oneshot ituu . yg haejin orang kaya mau nikah sama changmin ituu . terus donghae-nya pelayan . trus ngasih haejin cincin dari bunga liar jugaaa .
    huwee~ romantiiiiiisnyaa si ikaaan~ :*

  11. Baru bisa baca sekaraaaang :((((
    Sedihnyaaaa😦 nangis beneran aku baca ini😦
    Bener-bener ngebayangin kalau aku jadi nadine… Ya ampun…
    Nadine (Kate) harus tegar ya :’)
    Ayo pasti bisaaa🙂 :’) masih kebayang-bayang atulaaah
    Ini ff beneran kisah cintanya mereka? So sweet banget :’)))

  12. telat komen lepi sekarat,,

    baca #ff ini sampe merinding, keren nis…

    tetep ya cast utama Donghae sm Haejin kekeke…

    udah komen itu aja…pokokek DAEBAK Lah sih nisya🙂

  13. Pertama-tama (walau udah telat bgt) aku mo ngucapin turut berduka cita atas kepergiannya Marco Simoncelli, RIP for U. Walo aku bukan pengikut setia Moto GP (palingan cuma tau Valentino Rosi n skali” nonton jga), tpi pas denger beritanya (tau awalnya jga dari FB-nya Nisya lo) trenyuh juga, tragis bgt gitu……

    Nisya-sshi emang daebak…. Baca ini nyentuh bgt, kisah cintanya JinHae (gak tau ya seberapa mirip dgn kisah pasangan aslinya) sweet bgt…. Setia mendampingi sampai ajal memisahkan. Gak berani ngebayangin, kalo itu bener” Donghae Oppa #hiks….bisa nagis 7 hari 7 malam tuh#

    Terus berkarya ya Nisya-sshi, aku selalu nunggu FF” mu. Baik yg JinHaeXy maupun cerita JinHae yg lainnya….. JinHae jjang….

  14. Nangis bacanya (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩_______________-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩ )
    Sedihhhh banget, feelnya dapet banget😥
    Seumpah sedih, merinding dan deg2an juga yaampun marco😦
    gapercaya bgt pas denger britanya itu, wluwpun aku gak suka motor GP gitu sih, tp ttp lah denger brita kaya bgtu sedih ;(

    Kate smoga diberi ketabahan amiinnn🙂
    Trus ia benr, Marco cinta sma Kate smpai akhir hayatnya, waahh daebak banget🙂 Rest In Peace Marco Simoncelli🙂

  15. baru baca T~T
    ya ampun ..
    sedih banget eon.. T-T
    eonni nggambarin ceritanya tu bagus bgt,jd bs bygin kisah cinta marco-kate yg sbenarnya.. feelnya juga dapet bgt..
    rest in peace, marco..

  16. 😦 TT__TT
    Awalnya udah sweet bgt tp semakin kebawah semakin sedih !!! Aq merinding baca’a !!! Semoga simoncolli #benergaktulisannya tenang disana

    Jd inget guru aku yg kecelakaan dada’a kelindes ban bus !!!
    Gak ada yg tau bgmna takdir seseorg !!!
    Udah bngung mau nulis apa lg !!!

    Salam mesum ._.v #plak🙂

  17. so sweeeeeeeeeeeeeet
    keren BGT
    haejin eonni daebaaaak
    keren kta2nya romantis
    keren keren keren
    pkoknya daebaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak

  18. nah, aku nangis lah..
    aku sempet liat sekilas2 beritanya..
    trus yang kate itu..
    sedih banget emang.. T.T

    ini ff juga feelnya kerasa, tapi aku malah jadi bayangin aiden itu rossi(?)..

  19. Hiks.,, bener2 sedih., n bkin aku nangis., aku nontn GP ini, ngarepin supersic menang, aku suka marco., tp kelewatan pas kejadiannya., hiks., dan setelah itu aku trus nontn GP gak mw lewat lg,, ksian rossi apalagi pacarnya marco.,
    Huaaaaa T.T
    Skrg aku ska baby alien, yg gantiin marco, smoga sukses marquez n RIP to marco simoncelli🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s