[SongFic] If You Leave

Sebelum baca ni fanfic direkomendasikan untuk menyetel lagu Music Soulchild – If You Leave. Itu lo lagunya yang dibuat Sungmin nari striptis di Super Show 3 kemarin ._. baru seneng-senengnya sama ini lagu ^^ dan by the way  ini fiction yang bisa dikategorikan angst dan ini fiction pertama dengan kategori itu, jadi mohon maklumi jika angst nya gagal ._. check it out aja ya🙂 thanks for reading, leave your comment if you love this fiction ^^ happy reading~

P.S : ini pemerannya reader sama biasnya masing-masing ya, jadi sengaja aku buat nggak pake nama ^^ dan ini lagunya dari sudut pandang bias kamu.

You think I’m so full of it, full of it
But I think I’m just fed up, baby

You think I can be so arrogant, arrogant
But I’m just tryna keep my head up, baby

Sekarang kau dan dirinya sedang duduk di balkon apartemenmu yang memang biasa kalian gunakan untuk melepas penat bersama –dulu. Kalian berhadapan namun tidak saling memandang. Terlalu takut untuk menerima bahwa ini adalah kenyataan. Hubungan yang kalian jalin selama 3 tahun haruskah sampai disini? Haruskah perjuangan kalian selama ini berakhir pada titik yang sebenarnya tidak kalian inginkan?

“aku hanya tak ingin membebanimu..” katamu membuka percakapan setelah selama beberapa menit kalian beradu argumen dengan pikiran kalian masing-masing.

“kau berkata seperti itu apa karena kau yang sebenarnya merasakannya? Aku.. apa aku membebanimu?” tanyanya hati-hati. Kamu menggigit bibir bawahmu sehingga bibir bawahmu terlihat memucat. Bukan! Bukan.. Kau tidak perbah merasa terbebani oleh siapapun terhadap hubungan ini. Apa lagi terbebani olehnya, itu konyol! Untuk apa kau lalui 3 tahun bersamanya jika kau memang terbebani.

“katakan saja.. aku tau, inilah resiko dari pekerjaanku.” Lanjutnya. Itu semakin membuat hatimu seperti tertindih batu besar, bukan masalah pekerjaannya. Kau tahu betul bagaimana resiko yang harus kau pikul. Hanya saja selama satu bulan ini ada yang mengganjal.

“bukan begitu.. aku berfikir kau terlalu jenuh dengan hubungan kita..” katamu berusaha meyakinkannya bahwa dirimu memang tidak berniat sama sekali meninggalkannya.

“satu bulan terakhir kau tak ada kabar.. aku sudah berusaha memakluminya, mungkin kau memang benar-benar tak ada waktu untuk sekedar berkirim pesan denganku.” Kata-katamu tertahan, mengingat kejadian yang menyadarkanmu bahwa memang dirimu sudah tak pantas berada disampingnya lagi. Menyadarkanmu bahwa semua memang sudah berbeda. Dia tetap memandang kosong ke arah luar, bukan memandang matamu.

“aku – hanya ingin kau berkata yang sesungguhnya. Aku tak butuh kepura-puraanmu, hanya agar aku tak berrsedih.” Kau menghela nafas, menghirup lagi sehingga paru-parumu terisi oksigen yang memang saat ini benar-benar kau butuhkan.

“jika memang kau sudah lelah. Mari kita akhiri saja..” katamu dengan berat. Sedetik kemudian dia sudah menatapmu dalam, seakan tak percaya dengan yang kau katakan.

“aku – hanya merasa sedikit bosan..” jawabnya terbata.

“bukan jenuh. Hanya butuh waktu sesaat untuk menjernihkan pikiran sejenak..” lanjutanya.

 

 

You think I procrastinate baby
But I think I’m taking my time

You think you need to leave
But I think I disagre

“dengan bersenang-senang dengan gadis-gadis di club malam? Mabuk?” akhirnya kau mengatakannya. Dia terkejut lagi, merasa tak percaya. Bagaimana kau bisa mengetahui itu semua?

“ini sudah tiga tahun..” katamu sambil memandang ke langit-langit balkon. Menahan laju air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matamu.

“bukannya aku terburu-buru. Hanya saja waktu 3 tahun itu sudah cukup..” air matamu akhirnya keluar, kau sudah tidak bisa menahannya. Kau lihat tangannya sudah mau menyeka air matamu namun kau menolaknya dengan menyekanya dengan tanganmu sendiri. Dengan sedikit kecewa ditariknya kembali tangannya. Tampak wajah lelah itu.

“kalau kau memang tidak bisa melakukannya katakan sekarang..” jawabmu memberanikan diri.

“aku pikir kau bisa mengerti..” jawabannya membuatmu terenyak, dari sisi mana kau tidak mengerti dia? Dengan pekerjaannya sebagai public figure kau rela hubungan kalian tidak dipublikasikan. Kau juga tau rasanya bagaimana, melihat kekasihmu diteriaki ribuan gadis. Tak jarang kau harus melihatnya ber akting mesra dengan rekan kerjanya. Belum lagi tarian-tarian erotis itu, dengan dancer-dancer untuk menjaga keprofesionalitasannya. Bahkan kadang kalian tidak bisa berhubungan satu sama lain dalam kurun waktu yang belum bisa diprediksi. Ketika dia pulang ke Seoul dan kau menghampirinya namun dia tidak sedang di mood-nya yang baik lalu kau diacuhkan. Kau tetap menerimananya, mencoba mengerti bahwa dia mungkin lelah. Apa itu yang dia bilang tidak bisa mengerti? Emosimu sudah memuncak, namun kau tahan. Karena kau tau, masalah seperti ini tidak akan bisa selesai dengan emosi. Butuh kedewasaan diantara kalian berdua. Terutama kau, karena memang watakmu lebih dewasa darinya.

“jika kau pikir aku memang tak bisa mengerti kau, lalu apa yang harus kulakukan?” akhirnya kau menjawab.

“aku tak mungkin mempublikasikan hubungan kita..” jelasnya lagi.

“kau tak mengerti apa yang kuinginkan?” kau memandang tak percaya ke arahnya, namun yang kau temui hanya wajah tanpa dosanya. Sedikit kesal namun wajahnya benar-benar polos saat ini, dan dia benar-benar butuh penjelasan darimu.

“kau tak perlu mempublikasikan hubungan kita. Cukup yakinkan aku bahwa kau serius..” alisnya terangkat sepertinya dia masih agak bingung.

“terserah kau saja..” kau beranjak dari dudukmu namun tangannya menahanmu.

“aku hanya ingin membuat suasana ini agak sedikit mencair, aku tau semua maksudmu..” kau kembali duduk memandnagnya dengan tatapan meminta jawaban.

“aku tidak lelah dengan hubungan kita. Hanya sedikit merasa bosan, bukan bosan denganmu. Kau harus tau bahwa semua orang memiliki titik jenuh pada sebuah hubungan. Dan aku sedang berada di titik jenuhku..”

“berikan aku waktu..” katanya.

If you believe you’ll do best without me
I’ll let it go girl, it’s over
But before we say goodbye
Let’s give it a try
If you leave, then baby I’ll leave
I’ll let it go girl, it’s over
But I have no doubt
We can work it out

“aku bisa memberimu waktu, bahkan aku juga bisa memberimu waktu untuk mencari penggantiku..” jawaban itu meluncur begitu saja dari bibirmu. Kalau dia sedang berada di titik bosannya, kau juga sedang berada di titik dimana kau sudah tidak bisa mempertahankan hubungan kalian. Dimana memang ada sesuatu yang harus diubah dari hubungan kalian, dan sepertinya cara satu-satunya dengan berpisah.

“kenapa kau begitu sih?” dia menghela nafas menjambak rambutnya frustasi.

“aku hanya ingin mengerti dirimu, aku ingin kau benar-benar mendapatkan yang terbaik. Lebih baik dari pada aku..” dia mengacak rambutnya gusar, wajahnya tampak benar-benar frustasi.

“kalau aku menganggap ada yang lebih baik darimu bagaimana aku bisa bertahan?!” kau mengalihkan pandanganmu darinya menatap ke bawah, sebenarnya kau juga tak kuat mengatakan ini semua. kau juga tak menginginkannya, yang kau inginkan adalah kau dan dia hidup bahagia selamanya seperti cerita-cerita di negri dongeng. Namun hidup tidak seindah negri dongeng, dan mungkin ini meman takdirmu.

“sekarang aku tanya, apa kau menginginkan ini semua?” kau tak menjawab – tak berani.

“kalau kau yang menginginkannya katakan padaku..” dia menggenggam kedua tanganmu, itu membuatmu semakin sakit.

“aku tidak akan memaksamu.. jika itu maumu aku tidak akan pernah memaksamu. Apapun akan kulakukan – asal kau bahagia..” genggamannya tambah erat, dan air matamu pun jatuh.

“aku tak bisa memaksamu lagi, karena jika dipaksakan dan kau tak bahagia buat apa aku melakukan itu? aku hanya ingin melihat orang yang aku cintai bahagia..” dia mengusap wajahm yang sudah basah karena air mata.

“walaupun aku yakin, jika kita berusaha sedikit lagi. berusaha lebih dewasa dan saling mengerti. Berusaha menemukan titik yang kita rasa ‘pas’ untuk meneruskan hubungan kita dengan komitmen yang baru. Aku yakin kita bisa melewatinya tanpa harus berakhir seperti ini..” sekarang dia melepas genggamannya dari tanganmu. Bangkit berdiri mengatur nafasnya yang terlihat seakan-akan benar-benar ada lubang dihatinya.

“namun sekali lagi aku tidak bisa memaksamu. Dengan memaksamu sama saja itu membuatmu semakin sakit berada disampingku. Jika memang ini yang kau pilih aku bisa menerima..” kau bangkit berdiri mendekap tubuh jangkungnya. Kau tenggelam dalam dekapan posesif itu – dia juga memelukmu. Mengelus rambutmu, mengecup puncak kepalamu. Kau melepas pelukanmu kembali memandang kedua mata sayu yang terpancar rasa lelah. Kau menggeleng, berusaha menolak. Mungkin aneh, bisa dibilang kau plin-plan namun jujur saja itu juga menyiksamu. Tidak bisa memilikinya lagi adalah penyiksaan yang tidak pernah kau bayangkan sama sekali. Dia tersenyum ramah sambil mengusap pipimu.

“kau, aku, kita butuh introspeksi diri masing-masing. Aku rasa ini benar, mari berpisah. Namun berpisah bukan dalam artian benar-benar berakhir. Mari kita pikirkan baik-baik keputusan mana yang akan kita ambil. Apakah kita harus meneruskannya, ataukah harus berhenti sampai disini.” Tak ada respon darimu, kau berusaha mencerna kata-katanya.

“satu minggu, mari introspeksi diri kita masing-masing dalam waktu seminggu ini. aku tidak akan menghubungimu, begitu juga sebaliknya. Kita butuh menjernihkan pikiran. Tetapi aku tetap percaya, bahwa kita bisa melewati ini semua. kita bisa – dan kita akan menjalani ini sampai aku bersaksi didepan pendeta bahwa aku selamanya akan menjadi milikmu..” kau mengangguk setuju.

“tapi pikirkan ini baik-baik. Jangan gegabah, ambilah keputusan yang benar-benar cocok untukmu. Aku percaya padamu, dan aku akan terus mendukung apapun jawabanmu..” dia kembali mencium keningmu “selamat tinggal~”

20 thoughts on “[SongFic] If You Leave

  1. owowow aku malah bingung ini ngebayanginnya siapa sm siapa
    tpi pikirannya ke eunhyuk

    aku malah blm liat bang umin joget striptis -,-

  2. hiks. kata-katanya sedalam samudera , gmn bisa bikin kata-kata sebagus itu .
    sedih bgt tp semakin mereka berkomunikasi lbh banyak hubungan keduanya akan lebih dalam lg .
    cerita cinta nya mengharukan ~

  3. :(((((((((((
    Hueeeee, sedih😦
    Ngebayangin Ryeowook oppa, tapi pas ada tulisan “dengan bersenang-senang dengan gadis di club malam?”

    Dueeengg!

    Bayangan Ryeowook oppa hilang sudah :p soalnya kan Ryeowook oppa nggak mungkin ke club malam, beungeutna oge polos jiga bayi =))))

    Hebat Onnie hebat! Padahal baru sekali buat ini, tapi sedihnya kerasa~

  4. Eonnieee…
    Ini siapa yg buatt??
    Sakit banget bacanya eon😥
    Nyesek eh, ending nya pisah jga😥
    Ya walaupun bukan pisah beneran…
    Tpiiiiii nyesekk bgt (⌣́_⌣̀)
    Ini eon yg buat kh??

  5. Gilaa..
    Nyesek banget ni songfic..
    Aku bacanya seolah-olah aku yang mengalami ini semua..
    Huuuaaa..
    pengen nangis tapi gak bisa nangis..

  6. Sumpah ini daebak!!
    Kereennn banget sumpah, suka banget sma kata2nya itu
    Ini nyesek! Pas, feel nya dapet banget onn..
    Kereeenn sumpah *gbisa ngomong

    Trnyata ini yg sudut pandang nya aku dan dia. Kukura yg separuh bintang *sotoy
    Kerenn sumpanh onn aku mrinding *acung jempol

  7. Hueeee *nangis* nyentuh bget laah in…. Jd inget sm si mantan TT____TT yaaakk! Tanggung jwb donk Huwaaaaa ƪ‎​​‎​(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ

  8. Eh aku..kebayang si abang sama kakak ipar masaan.. huweee amit amit jangan sampe.. kebayang banget mukanya umin yg sok sedih sama itu dancer iyuuuh banget abang -_- ini awalnya aku bingung tapi selanjutnya sesek yg terasa.. knapa kudu gini? Emang suka ngerasa gtu sih tapi yaaaaaah kasian aja..uhuhu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s